<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss'><id>tag:blogger.com,1999:blog-17631250</id><updated>2009-11-15T22:03:29.936-08:00</updated><title type='text'>[HALAMAN GANJIL]</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://halamanganjil.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://halamanganjil.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default?start-index=26&amp;max-results=25'/><author><name>[HALAMAN GANJIL] &amp;amp; TEXTOUR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08821802693843388343</uri><email>wartaxfenfen@gmail.com</email></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>198</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17631250.post-2305804320275866222</id><published>2009-11-10T11:23:00.000-08:00</published><updated>2009-11-10T11:34:44.673-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Alfathri Adlin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keep Your Mind Thinking'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kepenulisan.'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Svm-xnFSNEI/AAAAAAAAAsQ/J2ZG0xemVsM/s1600-h/buat+ilustrasi+al_gadis+nulis.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 315px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Svm-xnFSNEI/AAAAAAAAAsQ/J2ZG0xemVsM/s400/buat+ilustrasi+al_gadis+nulis.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402558987521635394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255); font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:180%;" &gt;&lt;br /&gt;Keep Your Mind Thinking&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Yang Bisa Saya Rumuskan Per Hari ini Tentang Menulis Ilmiah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;---Alfathri Adlin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat bahwa sejak awal belajar menulis, saya sudah memulainya dengan nekad menuliskan ‘analisis sok ilmiah’. Tulisan utuh pertama saya adalah tentang jilbab yang dikaitkan dengan semiotika dan budaya populer. Tulisan tersebut sangat emosional dan buruk sekali. Dengan percaya dirinya saya kirim tulisan itu ke Republika. Hasilnya? Ditolak mutlak. Namun tulisan ini kemudian berevolusi terus-menerus setiap tahun hingga akhirnya memanjang menjadi tiga puluhan halaman dan di muat di Jurnal IIIT. Kemudian saya revisi lagi dan masuk dalam antologi "Menggeledah Hasrat." Hanya itu saja dari tulisan awal saya yang berevolusi terus menerus, tulisan-tulisan awal lainnya pada umumnya sudah hilang entah ke mana. (Lagi pula kalau membacanya lagi pastilah memalukan.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain emosional, tulisan-tulisan saya di fase awal sangatlah divergen. Panjang sekian puluh halaman, penuh kutipan dan saduran, namun tidak ada fokus dan kesatuan tema. Selama bertahun-tahun saya selalu menulis dengan cara seperti itu. Namun, karena bantuan dan masukan dari sekian banyak teman yang cerdas dan berbakat dengan mengedit dan memberi saran tentang bagaimana sebaiknya saya menulis, sedikit demi sedikit mulai ada perbaikan. Ketertarikan terhadap ‘yang sok ilmiah’ itu juga terlihat pada saat menerjemahkan buku di Mizan. Saya lebih memilih buku yang membahas suatu topik ilmiah (Posmodernisme dan Cultural Studies) sekalipun disajikan secara populer. Dan saat ini, saya bekerja sebagai editor yang salah satu tugasnya menangani naskah penulis lokal khusus kajian&lt;br /&gt;humaniora. Nah, dengan sepenggal pengalaman menulis itu, dan beberapa pengamatan pribadi saat mengedit buku penulis lokal, saya mencoba memberanikan diri memaparkan apa yang saya mengerti per hari ini tentang menulis ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat pada judul"tulisan ini bahwa saya memang memplesetkan slogan yang sangat sering dipakai oleh Anwar Holid: Keep Your Hand Moving. Plesetan ini selain buat lucu-lucuan, sebenarnya juga untuk menekankan aspek yang berbeda dari menulis ilmiah. Slogan Keep Your Hand Moving mengisyaratkan suatu keproduktifan membuat tulisan, bahkan kalau bisa dilakuken setiap hari. Istilah kerennya`prolifik. Apakah menulis ilmiah pun harus dilakukan saban hari (mengikuti nasihat Mas Hernowo)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis tumisan itu bermacam-macam. Ada tulisan personal, wastrawi, ilmiah, dan lain sebagainya. Tulisan personal adalah salah satu tulisan yang bisa dilakukan setiap hari. Namun keprolifikan serupa tidak bisa dituntut dalam menulis ilmiah. Untuk menulis ilmiah yang"baik, orang perlu membaca, merenung"panjang dan$menyusun argumen yang sistematik dan tajam. (Belum lagi kalau mau menulis kajian filsafat, untuk memahami buku rujukan yang dipakai sebagai bahan menulis membutuhkan waktu yang tidak sebentar.) Kesemua proses menulis ilmiah itulah yang saya rumuskan menjadi "keep your mind thinking."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dunia ilmiah banyak pemikir besar yang sepanjang hidupnya hanya menghasilkan sedikit buku atau tulisan, namun meskipun terbilang tidak prolifik, pemikiran mereka mengubah paradigma pada masa berikutnya. Contoh paling ekstrem ialah Ferdinand de Saussure yang dinobatkan menjadi bapak linguistik modern dan pencetus semiologi (sekarang lebih dikenal dengan istilah semiotika) justru melalui buku yang tidak pernah ditulisnya. Pengantar Linguistik Umum yang monumental serta mengubah wajah filsafat dan linguistik abad ke-20 itu "hanyalah" catatan kuliah dari para murid yang kemudian mereka kumpulkan dan rangkai menjadi sebuah buku legendaris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat sebuah cerita. Suatu ketika Einstein tengah berada di sebuah pesta dan dia melihat seorang fisikawan yang selalu sibuk mencatat dengan membawa notes. Einstein bertanya kepada fisikawan itu tentang kebiasaannya. Sang fisikawan menjelaskan bahwa itu membantunya untuk bisa selalu sigap mencatat setiap lintasan ide yang melintas di benaknya, sehingga bisa dia catat dan tuliskan nantinya. Sang fisikawan menganjurkan Einstein untuk mencobanya juga. Einstein berkata: "Entahlah apa itu berguna buat saya, karena saya hanya punya satu ide sepanjang hidup saya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia ilmiah, biasanya pemikir besar memang "hanya" memiliki satu ide besar yang kemudian dia kembangkan dan beranak-pinak menjadi sekian buku atau tulisan. Tak jarang dalam perjalanan karirnya, sang pemikir bisa merevisi pemikiran-pemikiran terdahulunya---itulah pentingnya mencantumkan tanggal dalam setiap tulisan agar para kritikus mengetahui dan memahami evolusi pemikiran sang penulis ilmiah tersebut. Jadi, dalam menulis ilmiah, keprolifikan bukanlah hal yang "didewakan." Ketajaman tawaran pemikiran dalam tulisan itulah yang lebih "didewakan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Anda ingin menulis yang sastrawi---juga termasuk esai personal---kemampuan memikat melalui "craft" (keahlian merangkai) kata-kata mutlak diperlukan. Sementara dalam dunia menulis ilmiah, "craft" kata-kata untuk membuat tulisan yang memikat bukanlah hal utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh paling ekstrem dari hal ini adalah Max Weber. Melalui bukunya yang membahas tentang Kapitalisme dan Etika Protestan, Max Weber menancapkan pengaruhnya yang panjang hingga hari ini dalam dunia sosiologi dan bidang humaniora lainnya. Namun, ada satu hal yang memprihatinkan dari Max Weber: tulisannya buruk sekali. Aneh bukan? Seseorang bisa mempengaruhi dunia pemikiran justru melalui tulisan yang kualitasnya nyaris dodol. Tapi itulah dunia menulis ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau boleh saya menganalogikannya, menulis ilmiah itu menyerupai percakapan William Wallace dengan pamannya dalam film Brave Heart. Dalam suatu upacara peringatan para pahlawan perang Skotlandia di malam hari, Wallace kecil tampak tertarik pada pedang pamannya. Mengetahui hal itu, pamannya berkata kepada Wallace kecil: "Kamu bisa membaca?" Wallace menggeleng. Kemudian pamannya berkata: "Pertama-tama aku akan melatih kamu menggunakan ini (sambil sang paman menyentuhkan telunjuknya ke jidat Wallace), setelah itu baru aku akan melatih menggunakan ini (sambil sang paman mengacungkan pedangnya)."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, dalam menulis ilmiah itu yang paling utama ialah Anda melatih kemampuan berpikir analitis-teoretik terlebih dahulu, soal "skill" menulis itu bisa dilatih belakangan. Dan tidak perlu "ngotot" untuk prolifik, dahulukanlah ketajaman analisis-teoretik.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Alfathri Adlin bekerja sebagai editor (nonfiksi) penerbit Jalasutra. Dia bisa dikontak lewat Facebook.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17631250-2305804320275866222?l=halamanganjil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://halamanganjil.blogspot.com/feeds/2305804320275866222/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=17631250&amp;postID=2305804320275866222' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/2305804320275866222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/2305804320275866222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://halamanganjil.blogspot.com/2009/11/keep-your-mind-thinking-yang-bisa-saya.html' title=''/><author><name>[HALAMAN GANJIL] &amp;amp; TEXTOUR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08821802693843388343</uri><email>wartaxfenfen@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='10817234696267325743'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Svm-xnFSNEI/AAAAAAAAAsQ/J2ZG0xemVsM/s72-c/buat+ilustrasi+al_gadis+nulis.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17631250.post-1644752958100376675</id><published>2009-11-10T11:06:00.000-08:00</published><updated>2009-11-10T11:22:57.864-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hetih Rusli'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bagaimana Cara Supaya Novel Saya Bisa Tembus ke GPU?'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ke'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Svm81cQyCcI/AAAAAAAAAsI/ZeTqj9hYAnU/s1600-h/ilustrasi+buat+hetih+rusli.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 360px; height: 312px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Svm81cQyCcI/AAAAAAAAAsI/ZeTqj9hYAnU/s400/ilustrasi+buat+hetih+rusli.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402556854313290178" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);font-family:georgia;font-size:130%;"  &gt;Bagaimana Cara Supaya Novel Saya Bisa Tembus ke GPU?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;---Hetih Rusli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul di atas adalah jawaban dari pertanyaan, "Mbak, gimana sih caranya supaya novel saya bisa nembus ke GPU? Seperti apa naskah yang Mbak sukai?" Ah, mari saya tuliskan tipsnya di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;1. Tokoh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Novel-novel laris biasanya memiliki tokoh-tokoh yang melekat di benak pembaca. Sebut saja tokoh seperti Harry Potter, Scarlett O'Hara, Holden Caulfield, atau Edward Cullen. Buat tokoh dengan karakter kuat, nama yang khas bisa membantu. Tapi yang terpenting ialah meniupkan nyawa ke dalam diri si tokoh. Tokoh tersebut harus hidup, bergerak, dan bernapas pada saat kita membacanya. Si tokoh harus hidup dalam bentuk tiga dimensi di benak pembaca, bukan cuma tertulis di atas kertas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan-keputusan yang diambil si tokoh dalam perjalanannya di sepanjang novel itu harus sesuai dengan karakter si tokoh. Seorang Edward Cullen akan melemparkan dirinya di depan mobil demi menyelamatkan gadis yang dia cintai, sementara Holden Caulfield akan memutar bola matanya lalu menganalisis kejadian tersebut dengan sinis. Scarlett O'Hara akan membunuh orang lebih dulu dibanding harus mengorbankan nyawanya sendiri untuk menyelamatkan keluarganya, sementara Harry Potter tidak ragu mengorbankan nyawanya demi sahabat-sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tolong deh, enggak perlu menyebutkan semua karakteristik tokoh lengkap dengan sifat-sifatnya pada halaman 2, paragraf pertama sehabis si tokoh datang terlambat ke sekolah. Misalnya, "Len adalah gadis berusia 16 tahun berambut pendek berponi dan hobi main basket. Dia sedikit tomboy tapi baik hati, makanya dia punya banyak teman. Len anak tunggal konglomerat yang setiap hari diantar jemput ke sekolah dengan Jaguar. Dia berbintang Libra, makanya dia sering plin-plan mengambil keputusan. Len naksir Leo, anak basket yang juga ketua OSIS. Len paling suka pelajaran seni di sekolahnya, mungkin karena ibunya pelukis. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dijamin pada halaman 20, Len sudah tidak menarik lagi karena saya nyaris sudah tahu "segalanya" tentang Len dalam satu paragraf, dan pada halaman 30 saya sudah malas bacanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;2. Alur Cerita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kadang-kadang pengarang sering mengajak pembacanya muter-muter enggak keruan hanya karena si penulis kepingin saja memasukkan jalinan peristiwa atau dialog yang kalau ditanya kenapa dia melakukannya, jawabannya adalah, "Because I like it."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alur cerita seharusnya dibuat untuk menghasilkan efek tertentu. Ada hubungan sebab akibat yang terjadi di dalam alur. Kejadian A menghasilkan peristiwa B, yang berlanjut ke C, dan seterusnya. Bahkan dialog pun harus ada tujuannya. Bukan cuma, "Hm, lucu nih kalo gue masukin adegan tokohnya nongkrong kongkow-kongkow di Starbucks lalu ngobrol-ngobrol seperti yang suka gue lakuin sama temen-temen gue."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih menyebalkan adalah pengarang-pengarang yang suka banget pamer pengetahuan padahal enggak nyambung sama alur cerita, hanya untuk menunjukkan, "Nihhh... gue ceritain ya... Gue kasih tau nih tentang gimana membuat roket." Hanya karena dia tahu caranya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;3. Tema Cerita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tidak perlu membuat cerita yang harus BEDA dan ORISINAL yang TIDAK ADA DUANYA, walaupun beda, orisinal, dan tak ada duanya memang menarik perhatian pada pandangan pertama. Daur ulang adalah hal biasa, dan tambahkan bumbumu sendiri. Baca saja "Twilight Saga", Shakespeare akan menari dalam kuburnya melihat bagaimana konsep kisah cinta terlarang yang tak kesampaian dan hanya bisa dipisahkan maut yang ditulisnya 400 tahun lalu diramu sedemikian rupa oleh Stephenie Meyer. Sementara Joss Whedon akan nyengir mendengar konsep "vampire with a soul." "Ke mane aja, Mbak Steph?" mungkin itu kata Anne Rice. Dan yeah, sedikit cinta segitiga tidak pernah merugikan untuk dijadikan tema atau subtema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pengarang memulai cerita dengan membawa kegelisahan dan gagasan, tapi melupakan fakta bahwa tulang punggung fiksi adalah cerita. Sehingga cerita dipaksakan masuk untuk memuat gagasan dan kegelisahan tersebut. Jangan melemparkan kegelisahanmu bulat-bulat kepada pembaca. Mulailah dengan cerita, selipkan kegelisahan dan gagasan itu dalam bab demi bab dalam novel. Selain membuat pembaca jadi penasaran setiap membalik halaman, efek cuci otaknya dijamin akan lebih dahsyat.[] Friday, March 20, 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:85%;" &gt;Hetih Rusli bekerja sebagai editor di Gramedia Pustaka Utama. Halaman Facebooknya ialah http://www.facebook.com/hetih.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17631250-1644752958100376675?l=halamanganjil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://halamanganjil.blogspot.com/feeds/1644752958100376675/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=17631250&amp;postID=1644752958100376675' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/1644752958100376675'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/1644752958100376675'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://halamanganjil.blogspot.com/2009/11/bagaimana-cara-supaya-novel-saya-bisa.html' title=''/><author><name>[HALAMAN GANJIL] &amp;amp; TEXTOUR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08821802693843388343</uri><email>wartaxfenfen@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='10817234696267325743'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Svm81cQyCcI/AAAAAAAAAsI/ZeTqj9hYAnU/s72-c/ilustrasi+buat+hetih+rusli.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17631250.post-5660790149185758804</id><published>2009-11-03T13:02:00.000-08:00</published><updated>2009-11-06T22:12:38.686-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anwar Holid'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pink Floyd'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='You Shone Like the Sun'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Crazy Diamonds'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Halaman Ganjil'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SvCcx4GIC-I/AAAAAAAAAr4/yCJm8NqHxtg/s1600-h/Pink+Floyd+belima.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 260px; height: 297px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SvCcx4GIC-I/AAAAAAAAAr4/yCJm8NqHxtg/s400/Pink+Floyd+belima.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5399988333902826466" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 51, 204);font-size:85%;" &gt;Pink Floyd ketika masih berlima.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 153);font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:arial;" &gt;Crazy Diamonds, You Shone Like the Sun&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;---Anwar Holid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada edisi Oktober 2008, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;UNCUT&lt;/span&gt; menerbitkan cover story berjudul "&lt;span style="color: rgb(255, 153, 255);"&gt;Pink Floyd&lt;/span&gt; 30 Greatest Songs" yang antara lain dipilih sendiri oleh Dave Gilmour, Nick Mason, dan puluhan insan musik lain, terutama kalangan dekat mereka, seperti manajer, desainer cover, produser, sound engineer, konduktor, musisi junior yang amat terpengaruh oleh mereka, fotografer sezaman mereka, dan lain-lain. Secara menyesakkan Roger Waters terpaksa diabaikan sebagai pemilih, karena dia secara hukum dilarang menggunakan nama Pink Floyd; sementara Richard Wright dan Syd Barrett sudah meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke-30 lagu itu ialah:&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;01. Shine on your crazy diamond&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;02. See emily play &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;03. Interstellar overdrive&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;04. Arnold layne&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;05. Another brick in the wall (part 2)&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;06. Wish you were here&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;07. Set controls for the heart of the sun&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;08. Astronomy domine&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;09. Jugband blues&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;10. Fearless &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;11. Lucifer&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;12. Careful with that axe, eugene&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;13. Atom heart mother (suite)&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;14. Is there anybody out there?&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;15. Breathe&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;16. Goodbye bluesky&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;17. Apples and oranges &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;18. Comfortably numb&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;19. Have a cigar&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;20. See-saw&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;21. One of these days&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;22. High hopes &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;23. Brain damage&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;24. Chapter 24 &lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;25. Fat old sun&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;26. Time&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;27. If&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;28. Green is the colour&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;29. Money&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 102, 0);"&gt;&lt;br /&gt;30. Echoes&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat aku sendiri, daftar ini lebih memuaskan dibandingkan seleksi dalam Echoes - The Best of Pink Floyd (2001). Entahlah, urutan tersebut merupakan hierarki atau acak. Tapi kalau sekilas diperhatikan, boleh jadi alasannya kesetimbangan. Daftar itu diawali dengan lagu yang amat panjang (25 menit), ditopang lagi di tengah-tengah (23 menit), dan ujungnya (23 menit). Echoes kekurangan aspek itu, bahkan sengaja memberikan edisi potongan untuk lagu-lagu panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mungkin cukup seru, tak ada lagu terpilih dari album The Final Cut dan A Momentary Lapse of Reason. Sementara lagu dari The Dark Side of the Moon dan The Wall mendominasi. Sebagian kritikus maupun penggemar Pink Floyd menilai bahwa The Final Cut merupakan album solo Roger Waters yang harus dikerjakan anggota Pink Floyd, dan sebaliknya, A Momentary Lapse of Reason kerap dinilai sebagai album solo Dave Gilmour yang dikemas atas nama Pink Floyd, minus Roger Waters. Namun lebih dari semua itu, ke-30 lagu itu memperlihatkan rentang karir dan karya Pink Floyd secara seimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan karir Pink Floyd terbagi dalam tiga fase utama. Pertama di awal terbentuknya band itu, di bawah kepemimpinan Syd Barrett. Kedua setelah Barrett meninggalkan band itu karena emosinya labil dan sakit mental, dan kepemimpinan segera diambil alih oleh Roger Waters. Ketiga setelah ketiga anggotanya berseteru dan bermusuhan dengan Roger Waters, dan akhirnya ganti David Gilmour memimpin Pink Floyd. Periode pertama dan ketiga berlangsung relatif sebentar bila dibandingkan periode ketika mereka menghasilkan sejumlah master piece dengan arahan artistik di bawah Roger Waters.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut statistik, Roger Waters punya andil 70 % dari semua karya Pink Floyd. Meski begitu, harus diakui statistik itu tidak berarti mengesampingkan kualitas sumbangsih keempat anggota lainnya. Ada banyak lagu Pink Floyd yang dengan mudah memperlihatkan virtuositas masing-masing anggota. Contoh peran Richard Wright dalam The Great Gig in the Sky; Dave Gilmour dalam One of These Days, dan Nick Mason dalam Echoes. Jadi meskipun Syd Barrett sudah lama sekali inaktif dan Roger Waters secara menyakitkan kalah di pengadilan, ruh keduanya masih begitu terasa dalam karya Pink Floyd. Bahkan boleh dibilang kedua orang itu senantiasa menghantui Pink Floyd dan menjadi patokan bagi setiap karya mereka. Karya, reputasi, dan sosok mereka mustahil tumbang hanya oleh kegilaan maupun arogansi dan egoisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengarkan ke-30 lagu itu membuat aku seakan-akan menyaksikan layar lebar berisi perjalanan sebuah band yang sarat drama, kegilaan, kreativitas, sekaligus ironi, kesedihan, dan perseteruan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami tak pernah berhasrat ingin jadi terkenal ataupun bintang rock 'n' roll," kata Richard Wright. Di awal formasi sebagai band kampus Regent Street Polytechnic, bisa jadi niat itu jujur. "Kami lebih ingin jadi seniman daripada musisi rock," kata Nick Mason dalam BBC 7 Ages of Rock bagian 2. Dari latar belakang keluarga, semua anggota Pink Floyd berasal dari golongan kelas terdidik-mapan. Kemakmuran sudah menjadi bagian mereka sejak orok. Jadi mereka lebih butuh aktualitas atau keinginan mencapai status baru yang prestisius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Richard Wright sendiri, misalnya, jauh lebih terpengaruh Miles Davis (pemain trumpet &amp;amp; komposer jazz terkemuka) dibanding pemain piano/keyboard dari ranah rock. Album debut mereka, The Piper at the Gates of Dawn (Agustus 1967), juga tampak merupakan album rock yang nyeleneh daripada mudah didengar dan didendangkan. Apalagi mereka sejak awal menampilkan instrumental rumit berdurasi cukup panjang, Interstellar Overdrive (9,41 menit), dan nanti ditradisikan di album ke-2, dengan A Saucerful of Secrets (12 menit.) Mana ada grup rock biasa berani melakukan terobosan seperti itu? Kecenderungan itu sudah agak lain bila dibandingkan dengan pendekatan The Beatles yang tengah sedang populer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami memainkan musik yang sulit dipahami perusahaan rekaman," papar Wright. Tapi lepas dari itu, eksperimen dan jangkauan musik mereka sungguh luar biasa. Bila mula-mula mereka main di klub underground, lama mereka mengemuka, jadi pionir, dan sangat berpengaruh. Merekalah bapak dari genre psychedelic rock, art rock maupun progresif rock. Dan lebih dari itu semua, keberhasilan mereka secara komersial nyaris tak tertandingi oleh grup mana pun yang sealiran mereka. Gabungan musik mereka---blues, rock, jazz, bunyi-bunyi "aneh"---kerap bernuansa depresif, bahkan disisipi oleh jeritan atau lolongan orang, belum lagi raungan gitar, timpalan bebunyian dari keyboard, dentuman bass, juga suara-suara kehancuran dari simbal dan tempo yang bikin gelisah dari drum. Lagu seperti "Shine on your crazy diamond", "Echoes", "Interstellar overdrive" merupakan contoh sempurna dari musik Pink Floyd yang kompleks, namun terasa dalam, seakan membawa pendengarnya ke lorong jauh atau melesak ke dalam bawah laut nan mencekam. Tapi sejumlah lagu normal Pink Floyd juga sangat mudah diingat, enak didengar dan didendangkan, misalnya Goodbye bluesky, Wish you were here, dan If (balada), Comfortably numb (bernuansa slow rock yang anthemic), dan yang paling legendaris: Another brick in the wall (part 2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajar ketika EMI pertama kali mengontrak mereka, Pink Floyd digadang-gadang akan mengubah perjalanan musik. Tapi yang pertama-tama terjadi bukanlah sukses gila-gilaan, melainkan kegilaan dalam arti harfiah. Sakit itu menyerang motor mereka, Syd Barrett, mahasiswa seni yang kreatif dan eksentrik. Perilakunya yang aneh dan labil, konon terutama disebabkan oleh kecanduan narkotika jenis LSD yang membuat orang berhalusinasi, membuat riwayat seninya benar-benar tamat. Dalam keadaan labil, misalnya ketika di panggung, Barrett hanya bisa mondar-mandir, membuat bingung teman-temannya yang main musik dengan serius. Sementara massa penonton, yang kerap terpesona oleh mitos dan salah anggap, malah mengira itu bagian dari pertunjukan, senang melihatnya. Antik. Di studio, kadang-kadang Barrett mencoba menawarkan lagu baru kepada teman-temannya, tapi setiap kali latihan, iramanya selalu ganti-ganti, dan lama-lama membuat mereka frustrasi. Klimaksnya, Barrett dipecat dan ditinggalkan oleh teman-temannya, terutama atas inisiatif Roger Waters. Untuk menopang gitar dan vokal atas absennya Barrett, mereka meminta teman main gitar Barrett untuk bergabung, namanya David Gilmour.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu Barrett inaktif, Waters mengambil peran sebagai pengendali utama musik Pink Floyd. Bahkan segera menjadi motor penggerak paling utama. Tapi dia pun rupanya punya trauma dan sifat arogan dan egois berlebihan, yang di puncak pertentangan justru membuatnya jadi seorang desertir. Pink Floyd masa Roger Waters merupakan periode emas. Mereka menghasilkan sejumlah album legendaris yang luar biasa, terutama Meddle, Dark Side of the Moon, Wish You Were Here, Animals, dan The Wall. Namun dominasi Waters akhirnya keterlaluan sampai membuat semua orang di sekelilingnya bermasalah, dan akibatnya memusuhi dia. Waters bahkan pernah memecat Richard Wright usai pembuatan The Wall.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada pertentangan pribadi yang amat besar antara aku dan Roger, sampai pada titik aku mustahil bisa bekerja sama lagi dengan orang itu. Jadi aku cabut," kata Wright.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan saudara perempuan Barrett saja bisa bersaksi betapa Waters jadi menyebalkan. Konon, salah satu sebab Waters jadi selfish ialah karena dia kehilangan ayah sejak kecil. Di puncak ketegangan itu, Waters membubarkan Pink Floyd setelah merilis The Final Cut. Tapi rupanya Mason dan Wright---sebagai sesama founding member---menolak prakarsa itu, apalagi David Gilmour dan produser juga ada di belakang mereka. Gilmour sudah bukan anak bawang lagi. Dia telah menjelma sebagai salah satu gitaris rock terhormat sedunia dan lagu ciptaannya maut. Maka peranglah mantan empat sekawan itu di pengadilan, memperebutkan nama Pink Floyd dan harta gono-gininya. Keputusan pengadilan mungkin lebih menyakitkan lagi buat Waters, sebab Mason dan Gilmour memenangi perkara, berhak atas mayoritas lagu band itu, dan lebih penting lagi: mereka yang berhak menggunakan nama Pink Floyd. Waters memboyong semua isi hak cipta album The Wall---hanya berbagi sedikit dengan Gilmour yang ikut menciptakan 1-2 lagu di sana, dan seluruh isi The Final Cut, dan maskot &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Pink_Floyd_Pig"&gt;balon babi Pink Floyd&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi keputusan itu fatal bagi Waters. Sebagai brand, Pink Floyd merupakan nama besar. Trio ini terus mentas dan berkarya. Pertunjukan Pink Floyd konon sulit sekali ditandingi karena begitu spektakuler, terutama dari segi visualisasi, efek, teknologi, dan cahaya. Mereka menghasilkan dua album studio A Momentary Lapse of Reason (1987) dan Division Bell (1994)---album terakhir mereka sejauh ini. Di sela-sela itu mereka merilis dobel album live, A Delicate Sound of Thunder dan P*U*L*S*E*, ditambah kompilasi the best, Echoes: The Best of Pink Floyd (2001.)  Konser Pink Floyd senantiasa penuh sesak, dan pada 1997 mereka mencatat rekor sebagai salah satu band dengan pendapatan konser terbesar di dunia; puncaknya pada 1994 ketika mereka mencatat rekor mendapat 193,6 juta dolar AS dari 59 kali show.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, pertunjukan paling kolosal Roger Waters bisa jadi waktu dia menggelar konser The Wall - Live in Berlin (1990) di Jerman, untuk memperingati runtuhnya Tembok Berlin delapan bulan sebelumnya. Tapi meski ditonton sekitar 250.000 orang, secara finansial harapan dia gagal---boleh jadi karena awalnya ini merupakan konser amal, sementara penjualan albumnya enggak balik modal. Waters sendiri tetap konsisten mengusung konsep album dalam album solonya, tapi suksesnya hanya biasa saja, jelas sulit bila dibandingkan dengan Pink Floyd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perseteruan satu lawan tiga itu ternyata ada akhirnya. Pada 2 Juli 2005 Pink Floyd ikut dalam konser amal Live 8 yang diinisiasi oleh Bob Geldof. Reuni itu sangat bersejarah, dinanti-nantikan semua penggemar Pink Floyd nyaris seperempat abad lamanya, sebab kuatir batal, terutama takut bahwa kebencian Waters pada Gilmour mengemuka dan merusakkan momen itu. Tapi syukurlah, walau di bawah tekanan, mereka sukses reuni untuk membawakan "Breathe", "Money", "Wish You Were Here" dan "Comfortably Numb." Setelah konser para penggemar berharap lebih jauh dari itu; tapi itu agak mustahil. Positifnya, reuni itu memperbaiki hubungan mereka. Nick Mason kembali akur dengan Rogers dan diajak untuk main drum di konser Roger Waters, termasuk ketika dia membawakan seluruh isi album The Dark Side of the Moon di Hyde Park, London.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SvUPno0cL-I/AAAAAAAAAsA/FlpVf0-B3PE/s1600-h/Pink+Floyd+ini+Live+8+concert.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 300px; height: 232px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SvUPno0cL-I/AAAAAAAAAsA/FlpVf0-B3PE/s400/Pink+Floyd+ini+Live+8+concert.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5401240501747462114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas karena renta dimakan usia, setelah konser Live 8 itu Richard Wright sakit-sakitan, bahkan batal menghadiri pelantikan Pink Floyd terpilih masuk dalam UK Music Hall of Fame, pada 16 November 2005. Dan kira-kira dua tahun setelah ikut dalam konser David Gilmour Live in Gdansk (Polandia), Wright meninggal dunia pada 26 Agustus 2008. Itulah penampilan terakhirnya di panggung. Dua tahun sebelumnya, pada 7 Juli 2006, Syd Barrett diberitakan meninggal dunia pada umur 60 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang Pink Floyd telah jadi jimat dan reruntuhan. Mereka menyisakan warisan yang besar. Tiga anggotanya yang masih hidup sudah pada tua, gemuk, lamban, tapi juga lebih bijak, dan mau mengakhiri karir dengan cara lebih baik. Selain pernah menampilkan sisi gelap kehidupan dalam diri masing-masing, toh berlian-berlian ini tetap bersinar.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anwar Holid, penggemar Pink Floyd yang belum pernah merasakan LSD. Dia bekerja sebagai editor dan penulis, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KONTAK: wartax@yahoo.com | Tel.: (022) 2037348 | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situs terkait:&lt;br /&gt;http://zine.rukukineruku.com/?p=331 (esai tentang kreativitas dan kegilaan Syd Barrett oleh Budi Warsito)&lt;br /&gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Category:Pink_Floyd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lagu Pink Floyd:&lt;br /&gt;http://www.mediafire.com/?jjjtdmrnmxw (The Great Gig In The Sky)&lt;br /&gt;http://www.mediafire.com/?bzithh3g1nz (Is There Anybody Out There?)&lt;br /&gt;http://www.mediafire.com/?x21qjtmyu25 (Jugband Blues)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17631250-5660790149185758804?l=halamanganjil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://halamanganjil.blogspot.com/feeds/5660790149185758804/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=17631250&amp;postID=5660790149185758804' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/5660790149185758804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/5660790149185758804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://halamanganjil.blogspot.com/2009/11/pink-floyd-ketika-masih-berlima.html' title=''/><author><name>[HALAMAN GANJIL] &amp;amp; TEXTOUR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08821802693843388343</uri><email>wartaxfenfen@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='10817234696267325743'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SvCcx4GIC-I/AAAAAAAAAr4/yCJm8NqHxtg/s72-c/Pink+Floyd+belima.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17631250.post-7325582685876120580</id><published>2009-11-03T11:05:00.000-08:00</published><updated>2009-11-03T11:13:16.637-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anwar Holid'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nasi Goreng à la Wartax atau Upaya Jadi Ayah yang Baik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Halaman Ganjil'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(51, 0, 51);"&gt;&lt;br /&gt;[HALAMAN GANJIL]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 51);font-size:130%;" &gt;Nasi Goreng à la Wartax atau Upaya Jadi Ayah yang Baik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;---Anwar Holid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap anak normal pastilah punya kenang-kenangan mengesankan dengan orangtuanya. Aku, kini berumur 36 tahun, masih ingat ibuku yang kadang-kadang suka membuatkan pisang goreng kalau aku habis hujan-hujanan waktu aku masih SD. Rasanya, itulah pisang goreng paling nikmat yang pernah aku makan. Ayahku juga suka membakarkan singkong atau ubi jalar di tungku kami. Ya, sampai di zaman Facebook sekarang orangtuaku masih memasak dengan kayu bakar atau kompor minyak tanah. "Takut meledak," kata ibuku waktu aku tanya kenapa dia tak punya kompor gas. Lagian, seingatku di kampung dia belum ada subsidi pemberian kompor gas gratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahku juga biasanya selalu mau bila aku minta diambilkan kelapa muda. Aku memang kurang lancar memanjat pohon kelapa, apalagi setelah jadi "anak kota" yang tinggal di Bandung. Aku sudah lupa kapan terakhir kali benar-benar memanjat untuk mengambil kelapa sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku punya dua anak. Sang sulung kelahiran tahun 2000, adiknya kelahiran 2006. Tinggal di Bandung yang kini dianggap sudah tercemar, membuat ibu mereka melarang hujan-hujanan. Takut pilek atau sakit. Menurutku ketakutan itu berlebihan, tapi mungkin beralasan. Memang, kalau hujan lebat dan air meluap-luap sampai ke jalan, baru terasa betapa busuk dan kotor air umum di Bandung. Itu lain sekali waktu aku masih kecil dan justru terbiasa hujan-hujanan di kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si sulung kini sudah kelas 4 SD. Kadang-kadang, kami enggak punya makanan yang siap dia santap buat sarapan sebelum berangkat sekolah. Roti, yang sesekali kami beli, sudah habis, sementara makanan kemarin juga sudah ludes malamnya. Yang tersisa hanya sedikit nasi di rice cooker. Ilalang---anak sulung kami---suka berinisiatif bikin telur ceplok sebagai lauk. Dia sudah cukup lancar bikin telur ceplok atau dadar. Kadang-kadang bumbunya suka aneh-aneh, pokoknya yang dia anggap menarik, suka dia gunakan, padahal bisa jadi malah bikin enek. Misalnya dia pernah pakai kecap asin buat telur ceplok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau lagi rajin, biasanya aku suka segera membuatkan nasi goreng buat sarapan Ilalang dan Shanti. Aku sudah lama terbiasa bikin nasi goreng, mungkin sejak SMA. Biasanya aku paling suka mencampur resepnya dengan teri, tapi ternyata tidak setiap saat kami punya teri. Dulu aku bikin semacam resep yang dijadikan sambal dulu sebelum aku goreng dan akhirnya dicampur nasi. Resep ini menurutku agak merepotkan, karena aku harus mengulek bumbu-bumbunya dulu sampai jadi saus. Ada resep yang jauh lebih sederhana, dengan hasil masih cukup mantap---setidaknya menurut anak-anakku. Resep ini aku dapat dari Fenfen, setelah kami nikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 153);"&gt;Aku cukup mengiris-iris setipis mungkin bawang merah sesuai banyaknya nasi yang akan digoreng. Sementara bawang putih dimemarkan dulu sampai hancur, lantas dicacah-cacah sekecil mungkin. Setelah itu digoreng dan diaduk-aduk sampai harum dan kelihatan menguning. Begitu siap, campur ia dengan garam, penyedap (favorit Fenfen ialah Knorr), dan kecap Bango, terus diaduk-aduk sampai menyatu. Terakhir, masukkan nasi, lantas digoreng sampai bumbu itu merata ke seluruh nasi. Bila sukses, semuanya akan berwarna merah tua. Dengan begitu, perut kedua anakku cukup terisi sampai siang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SvCATKpZkgI/AAAAAAAAArY/8Y7Qojnqt-Y/s1600-h/nasi-goreng.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 380px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SvCATKpZkgI/AAAAAAAAArY/8Y7Qojnqt-Y/s400/nasi-goreng.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5399957019981091330" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Ini foto nasi goreng, ngambil dari internet, via Google.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilalang suka rada pedas, sementara Shanti jangan terasa cabai sedikit pun. Jadi buat Shanti didahulukan, baru dicampur cabai buat Ilalang. Satu hal, aku tak pernah lagi mencampur telur untuk nasi goreng. Ini jelas ajaran Fenfen. Kata dia, telur itu bikin anyir nasi goreng. Bikin selera makan hilang. Kalau mau bikin harus dipisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa harus &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;kecap Bango&lt;/span&gt;? Yah, ini kelihatannya seperti iklan yang dipaksakan. Menurut Fenfen, itulah satu-satunya kecap yang dia yakini rasa dan kualitasnya. Keyakinan itu dia dapat dari ibunya. Jadi lidahnya lidah kecap Bango. Bahkan dia punya cerita lucu tentang itu. Ceritanya, dulu suatu hari ibunya minta ayahnya beli kecap. Ayahnya ternyata malah beli kecap ABC. Ibu mertuaku itu langsung menyergah, "Ceuk enong geh kecap Bango, Aa..." (Kata aku juga kecap Bango, Aa...) dengan gerakan tertentu. Bagi dia, selain kecap Bango itu bukan kecap. Jadi, sejak nikah, merek itulah yang tersedia di rumah kami sekarang. Saking fanatik, Fenfen bisa minta bumbu sate pesanannya jangan dikasih kecap. Biar nanti saja di rumah dicampur dengan kecap Bango.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri enggak punya fanatisme, apalagi bila cuma soal kecap. Kecap adalah kecap, mau ia Bango, ABC, Noni, Merak, atau merek lain. Tapi diingat-ingat, memang iklan kecap Bango yang paling aku ingat di radio dulu, ketika mereka mengklaim jangan khawatir ada perang dunia, selama ada kecap Bango. Waktu itu memang zaman perang dingin antara Amerika Serikat dan Uni Sovyet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku cukup menikmati bikin nasi goreng sederhana itu. Pamrihnya ialah semoga di hati mereka aku cukup melekat jadi ayah yang baik dan menyenangkan buat anak-anakku. Biar mereka nanti bisa mengenang aku sebagai ayah yang baik, lepas dari segala kekurangan dan ketidaksabaranku setiap kali terdesak. Aku terharu setiap kali Shanti menghabiskan sepiring nasi goreng buatanku itu. Berbeda dengan Ilalang yang cukup bisa makan semua, Shanti pilih-pilih banget. Kadang-kadang agak lama setelah bangun, pagi-pagi dia sudah teriak, "&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(153, 51, 153);"&gt;Ayaaah, Kati minta nasyi goweng...&lt;/span&gt;" Dia masih cadel. Tapi aku yakin dia cukup antusias dengan masakanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan-pelan aku menghidupkan lagi kenangan mesra masa kecil, ketika aku dibikinkan makanan oleh orangtuaku. Mungkin, itulah berkah jadi anak dan orangtua sekaligus.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anwar Holid, suami beristri satu, ayah beranak dua. Bekerja sebagai editor dan penulis, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KONTAK: wartax@yahoo.com | Tel.: (022) 2037348 | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17631250-7325582685876120580?l=halamanganjil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://halamanganjil.blogspot.com/feeds/7325582685876120580/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=17631250&amp;postID=7325582685876120580' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/7325582685876120580'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/7325582685876120580'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://halamanganjil.blogspot.com/2009/11/halaman-ganjil-nasi-goreng-la-wartax.html' title=''/><author><name>[HALAMAN GANJIL] &amp;amp; TEXTOUR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08821802693843388343</uri><email>wartaxfenfen@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='10817234696267325743'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SvCATKpZkgI/AAAAAAAAArY/8Y7Qojnqt-Y/s72-c/nasi-goreng.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17631250.post-1250907100588846057</id><published>2009-11-03T10:48:00.000-08:00</published><updated>2009-11-03T13:19:04.888-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anwar Holid'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Review'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP)'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BUKU INCARAN'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ignatius Haryanto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sebundel Karya Jurnalistik Bermutu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menuju Jurnalisme Berkualitas'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SvB8dEfFkZI/AAAAAAAAArQ/gTqBovDKCXE/s1600-h/menuju+jurnalisme+berkualitas_cover_detail.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 302px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SvB8dEfFkZI/AAAAAAAAArQ/gTqBovDKCXE/s400/menuju+jurnalisme+berkualitas_cover_detail.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5399952792079405458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;[BUKU INCARAN]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);font-size:130%;" &gt;Sebundel Karya Jurnalistik Bermutu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menuju Jurnalisme Berkualitas, Kumpulan Karya Finalis &amp;amp; Pemenang Mochtar Lubis Award 2008&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Penyunting: Ignatius Haryanto&lt;br /&gt;Penerbit: KPG, 2009&lt;br /&gt;Halaman: 424 + xv&lt;br /&gt;ISBN 13: 978-979-91-0174-7&lt;br /&gt;Harga: Rp.55.000,-&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menuju Jurnalisme Berkualitas&lt;/span&gt; merupakan buku kumpulan karya finalis dan pemenang &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 204, 255);"&gt;Mochtar Lubis Award&lt;/span&gt; 2008. Anugerah tersebut merupakan program penghargaan jurnalistik yang bertujuan memberi apresiasi dan menumbuhkan semangat kompetisi di kalangan wartawan Indonesia untuk menghasilkan karya unggul. Saya pertama kali dengar rencana acara anugerah bagi karya jurnalistik ini pada akhir 2006, ketika bertemu dengan Ignatius Haryanto, salah satu pendiri Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (&lt;a href="http://lspp.org/"&gt;LSPP&lt;/a&gt;), juga seorang penulis prolifik---telah menghasilkan kira-kira lima belas buku populer dan banyak menulis di media massa. Ternyata dia sekaligus menjadi Direktur Program Mochtar Lubis Award 2008.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SvB8cmx9LJI/AAAAAAAAArA/fSio_6CNLws/s1600-h/Ignatius+Haryanto_2.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 270px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SvB8cmx9LJI/AAAAAAAAArA/fSio_6CNLws/s400/Ignatius+Haryanto_2.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5399952784105483410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 153);font-size:85%;" &gt;Ignatius Haryanto waktu diskusi di toko buku Ultimus, Bandung.&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 153);font-size:85%;" &gt; (Foto: Anwar Holid)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolok ukur Mochtar Lubis Award ialah Pulitzer Prize di Amerika Serikat. Di awal inisiasinya, anugerah tersebut terdiri dari lima kategori, yaitu pelayanan publik, tulisan feature, pelaporan investigasi, foto jurnalistik, dan liputan mendalam jurnalisme televisi. Ada lima finalis untuk masing-masing kategori, hal tersebut membuat buku ini jadi cukup tebal. Dewan juri terdiri dari para macan jurnalistik dengan reputasi terkemuka, antara lain Farid Gaban, Sori Siregar, Yusi Avianto Pareanom, Arya Gunawan Usis, Maria Hartiningsih, Dwi Setyo Irawanto. Setelah menampilkan karya para finalis, di ujung setiap kategori dewan juri mengajukan alasan kenapa mereka memenangkan suatu karya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Hal paling berharga dari buku ini ialah kita bisa membaca dan belajar tentang tulisan bermutu, sekaligus tahu alasan kenapa karya tersebut memang benar-benar mantap. Penilaian para dewan juri sangat tegas dan jernih. Ini memberi kepastian bahwa karya yang bagus itu memang bisa diukur, ada faktor dan kriterianya.&lt;/span&gt; Menurut Ignatius Haryanto sendiri: aneka contoh (karya ini) akan sangat berguna bagi para pembaca dan membuat mereka bisa mencecap langsung seperti apa karya jurnalistik yang baik tersebut. (Hal. ix).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi buku ini terutama berharga sekali bagi mahasiswa jurnalistik dan siapapun yang tertarik dengan kepenulisan, orang yang ingin jadi citizen journalist, termasuk blogger. Kita bisa membaca baik tulisan pendek yang berisi, maupun tulisan (amat) panjang yang benar-benar memikat. Contohnya &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;The Lost Generation&lt;/span&gt; (Muhlis Suhaeri), pemenang kategori pelaporan investigasi. Karya sepanjang seratus halaman tentang pembersihan etnik Tionghoa di Kalimantan Barat sekitar tahun 1967 oleh konspirasi TNI dan suku Dayak ini betul-betul memikat, menegangkan, membuat miris, hebat, dan memiliki unsur kemanusiaan yang dalam sekali. Komentar juri: juri terkesan pada gairah penulis untuk mencari data, menelusuri dokumen tua, dan hasil riset para peneliti, menelusuri fakta, dan menjumpai mereka yang terlbiat dengan mengandalkan ingatan. Tulisan ini memberikan pemahaman sejarah tentang praktik militerisme, politik pecah belah, operasi intelijen, kisah tragis manusia yuang terjebak di antara situasi pergantian politik negara, dan akar perdagangan perempuan, serta konflik komunal di daerah Kalimantan Barat (terutama daerah Pontianak, Singkawang, dan sekitarnya.)&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SvB8c19TTQI/AAAAAAAAArI/4TupW1keMOI/s1600-h/menuju+jurnalisme+berkualitas_cover.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 293px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SvB8c19TTQI/AAAAAAAAArI/4TupW1keMOI/s400/menuju+jurnalisme+berkualitas_cover.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5399952788179602690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Buku ini secara tersirat menguatkan kaitan antara industri pers yang sehat, berkembang baik, dengan kualitas karya jurnalistik yang juga hebat---meskipun ini bukan sesuatu yang mutlak. Mayoritas finalis awalnya dipublikasi media besar dan terkemuka, seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kompas, Pikiran Rakyat&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tempo&lt;/span&gt;, merupakan karya wartawan yang bekerja di sana atau sumbangan dari kontributor. Tapi itu bukan berarti media daerah, kecil, atau spesifik, kehilangan kesempatan untuk menghasilkan karya gemilang. The Lost Generation awalnya dimuat harian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Borneo Tribune&lt;/span&gt; (Pontianak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau benar-benar mengharapkan kualitas, bisa jadi ada dua kekurangan dalam buku ini. Pertama dari tampilan kategori foto jurnalistik, yang hanya diwakili oleh sebuah foto untuk setiap finalis, alih-alih misalnya berupa esai foto yang terdiri dari rangkaian sejumlah foto untuk suatu peristiwa. Apalagi foto tersebut juga tak dicetak khusus pada plat art paper, melainkan kertas biasa yang kurang memadai untuk menampilkan kualitas karya foto. Kedua, untuk kategori liputan mendalam jurnalisme televisi, yang malah memilih menampilkan script alih-alih membungkus tayangan videonya dalam sekeping cd sebagai sisipan. Betul-betul sulit membayangkan kesuksesan kualitas sebuah liputan acara televisi sekadar dari script tanpa ada tayangannya. Zaman sekarang apa sulitnya menyelipkan cd untuk hal seperti itu? Ini patut disayangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anugerah yang menggunakan nama seorang wartawan legendaris Indonesia ini patut kita hargai dan dukung. Mochtar Lubis bukan hanya seorang wartawan hebat, ia juga seorang penulis yang lengkap, tokoh politik, aktif dan berani menyadarkan warga. Warisan intelektual dan karyanya banyak. Semoga Mochtar Lubis Award terus berkembang dan di masa depan mampu menambah kategori, termasuk merambah ke karya sastra, penerbitan, dan musik.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anwar Holid, bekerja sebagai editor dan penulis, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KONTAK: wartax@yahoo.com | Tel.: (022) 2037348 | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17631250-1250907100588846057?l=halamanganjil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://halamanganjil.blogspot.com/feeds/1250907100588846057/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=17631250&amp;postID=1250907100588846057' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/1250907100588846057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/1250907100588846057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://halamanganjil.blogspot.com/2009/11/buku-incaran-sebundel-karya-jurnalistik.html' title=''/><author><name>[HALAMAN GANJIL] &amp;amp; TEXTOUR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08821802693843388343</uri><email>wartaxfenfen@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='10817234696267325743'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SvB8dEfFkZI/AAAAAAAAArQ/gTqBovDKCXE/s72-c/menuju+jurnalisme+berkualitas_cover_detail.JPG' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17631250.post-3705885038809080438</id><published>2009-10-29T14:37:00.000-07:00</published><updated>2009-11-03T11:25:21.993-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Meluangkan Waktu dan Mencurahkan Energi untuk Menulis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anwar Holid'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='penulisan'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SvCDZ4uYXeI/AAAAAAAAArg/RKEue6_K4rM/s1600-h/typewriterA008blog-754097.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SvCDZ4uYXeI/AAAAAAAAArg/RKEue6_K4rM/s400/typewriterA008blog-754097.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5399960433964113378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 153);font-size:130%;" &gt;&lt;br /&gt;Meluangkan Waktu dan Mencurahkan Energi untuk Menulis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;--Anwar Holid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;em&gt;Some readers write. All writers read. &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari interaksi dengan sejumlah orang yang tertarik dunia tulis-menulis, ada satu hal yang sungguh bisa membedakan apa seseorang itu benar-benar menulis atau baru sekadar membicarakannya. Ketika menjadi instruktur menulis di visikata.com, saya kenalan dengan peserta dari Banda Aceh. Dia bekerja di sebuah LSM. Setiap kali kami mengadakan pertemuan rutin (chatting di ruang virtual situs itu), dia selalu sulit hadir. Dia terlalu sibuk bekerja dan menyelesaikan tugas kantor---yang sebenarnya positif juga. Yang buruk buat kemampuan menulisnya ialah dia tetap kesulitan dan mengaku bahwa tugas menulis selalu membuatnya tertekan dan degdegan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan saya: orang seperti dia kehabisan waktu buat menulis dan mencurahkan pikiran dan energi untuk benar-benar menyelesaikan tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengalokasikan waktu, mencurahkan pikiran dan energi akan benar-benar bisa membuat perbedaan dalam menulis. Setiap tulisan memang merupakan kerja (keras). Penulis harus duduk untuk menuangkan isi kepala pada kertas atau file di komputer. (Seperti saya sekarang saat menulis tentang topik ini. Saya duduk, meluangkan waktu, mengumpulkan energi, berkonsentrasi untuk menghasilkan tulisan yang berusaha fokus pada topik ini.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi itu cukup mirip dengan pengakuan Bagus Takwin---dosen Jurusan Psikologi Universitas Indonesia yang telah menghasilkan sejumlah buku. Saya bertanya kepadanya: "Persiapan apa yang paling penting dalam menulis?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab dia, "Kalau dari pengalamanku secara umum banyak baca. Lalu, secara khusus penting untuk meningkatkan sensitivitas." Bagus Takwin memang sudah melampaui tahap "bingung mau menulis apa." Meski begitu dia tetap butuh persiapan khusus ketika akan menulis. "Dari segi teknis, sangat penting tersedia rokok dan kopi serta air putih supaya tetap bisa menulis sambil mendapat kenikmatan kopi dan rokok serta terus minum air agar ginjal tidak rusak," tambahnya mengenai kebiasaan bacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang punya kebiasaan tertentu ketika akan menulis. Semua penulis butuh waktu dan energi untuk betul-betul menghasilkan tulisan. Natalie Goldberg terus berseru: &lt;strong&gt;"Keep your hand moving!"&lt;/strong&gt; (Terus gerakkan tanganmu!) untuk meyakinkan peserta workshop penulisannya benar-benar menulis, bukan berpikir mengenai isi tulisan atau khawatir soal bagus dan jelek tulisannya nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip menulis Natalie Goldberg sangat sederhana:&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;(1) Keep your hand moving!&lt;br /&gt;(2) Jangan mencoret, jangan mengedit waktu menulis.&lt;br /&gt;(3) Jangan khawatir soal ejaan, tanda baca, tata bahasa.&lt;br /&gt;(4) Lepaskan kontrol.&lt;br /&gt;(5) Jangan berpikir, tidak mesti logis.&lt;br /&gt;(6) Carilah urat nadinya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Prinsip itu dia ulang-ulang secara konsisten. Soal baik dan buruk, itu soal nanti. Lagi pula ada proses editing (menyunting). Yang paling utama ialah menyempatkan diri untuk menulis dulu, sampai selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tulisan yang bisa cepat selesai baik karena pendek atau benar-benar sudah matang dalam isi kepala penulis, jadi tinggal menuangkan dalam tulisan. Bila begitu, penulis hanya butuh waktu sebentar untuk menulis. Tapi ada juga tulisan yang butuh waktu lama untuk menyelesaikannya, baik karena sulit maupun banyak bahan yang harus ditulis. (Bayangkan novel atau buku nonfiksi tebal yang butuh waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun untuk menyelesaikannya.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Bagus Takwin, meski sekarang alokasi waktu untuk menulisnya berubah-ubah, minimal dalam sehari pasti ada yang dia baca dan tulis. Dia membutuhkan kira-kira 2 - 3 jam untuk membaca dan menulis. Dia juga membiasakan diri menulis hal-hal yang menurutnya menarik sehabis baca buku, termasuk membuat catatan atau ide-ide yang terlintas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya lihat pola menulis Fenfen, biasanya dia menulis topik yang menarik minatnya. Terus meluangkan waktu, pikiran, dan energi untuk menuntaskannya dalam sekali waktu. Sepertinya ide dan isi kepalanya sudah merupakan tempat yang bagus untuk merancang tulisan. Sampai tulisan itu benar-benar tuntas (terpoles), dan siap untuk dikirim ke media massa atau diposting di Internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola menulis saya agak lain. Biasanya saya mulai dengan pointer yang akan ditulis, terus menjelajahinya sesuai pointer itu. Meski begitu, saya suka menuliskan segala lintasan pikiran, meskipun bisa jadi hal itu tak tertulis dalam pointer. Bila sudah merasa tuntas atau materinya cukup, tulisan itu dibaca ulang, saya perhatikan kepaduannya, lantas diedit. Mungkin karena percaya pada fase editing, saya cukup yakin bahwa setiap tulisan pada dasarnya bisa diubah-ubah komposisinya, diperbaiki, dan dinegosiasikan kembali oleh penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kasusnya penulis butuh waktu lama (bisa berhari-hari, berbulan-bulan, atau bertahun-tahun) untuk menyelesaikan tulisan, kebiasaan dan rutinitas menulis jadi penting, atau dia harus menciptakan waktu khusus untuk menulis. Misal penulis paling punya waktu ideal sehabis subuh atau ketika anak-anaknya sudah ke sekolah semua. Manfaatkan waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk penulis pemula, menulis 10 - 25 menit setiap hari sudah sangat bagus untuk membangun kebiasaan menulis atau menyempurnakan tulisan yang tertunda hari kemarin. Untuk lebih memudahkan mulai menulis, Patricia L. Fry----yang telah menerbitkan 25 buku---memberi &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;tips dari mana saja kita bisa memulai sebuah tulisan&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1/ Tulislah hal yang kamu tahu.&lt;br /&gt;Ini nasihat paling prinsipil. Tulislah hal yang merupakan keahlian atau keunggulan kamu. Tulisan itu akan berisi dan penting. Perhatikan keterampilan yang kamu kuasai, apa ketertarikan dan hobi kamu, bakat kamu, termasuk pengalaman yang menurut kamu menarik untuk dibagikan kepada pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua tulisan saya pasti mengenai hal yang saya tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2/ Tulis tentang hal yang ingin kamu ketahui.&lt;br /&gt;Menulis tentang hal ini biasanya akan membawa kita pada pengetahuan baru, menjelajahi topik serupa, bahkan melakukan riset kecil-kecilan. Misal tentang "home schooling"; apa benar ini bisa dilakukan, bagaimana melakukannya, bagaimana dengan sertifikasi (bila anak benar-benar tidak sekolah formal), dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3/ Berbagi pengalaman.&lt;br /&gt;Orang itu suka berbagi, suka cerita, suka hal-hal yang tidak mereka miliki. Tulisan mengenai pengalaman yang bisa jadi unik biasanya bisa memudahkan penulis, karena dia benar-benar mengalaminya, juga menarik buat orang lain karena pembaca bisa jadi penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4/ Ceritakan/tulis pengalaman orang lain.&lt;br /&gt;Sebagian orang lain suka bila namanya masuk dalam tulisan, koran, jadi pembicaraan, termasuk diwawancarai untuk media massa. Saya juga menulis tentang penulis lain atau sastrawan, orang yang bergerak di industri buku, baik sebagai narasumber maupun profil dalam artikel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5/ Diam, perhatikan, dan dengarkan.&lt;br /&gt;Perhatikan dunia sekitar kita. Ada banyak yang bisa ditulis. Orang lain merupakan sumber menakjubkan buat ide tulisan kita. Misal ketika saya mengajak Ilalang ke museum Siliwangi, sepulang dari sana saya terdorong menulis tentang nasionalisme, perjuangan, pelajaran PSPB, perang kemerdekaan, dan sejenis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6/ Akrab dengan berita.&lt;br /&gt;Berita selalu bisa merangsang kita untuk berkomentar dan mengembangkan pikiran. Apalagi bila berita itu mengenaskan, sensasional, sulit dipercaya, atau dramatik. Berita seperti itu sering bisa mendorong orang menulis. Berita tentang Prita, Dede si 'Manusia Pohon,' orang yang kesulitan ekonomi sampai tak bisa menguburkan anaknya... semua bisa jadi rangsang menulis yang hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7/ Gunakan Internet.&lt;br /&gt;Internet merupakan sumber subur bagi penulisan. Saya biasanya browse dulu sebelum menulis, baik untuk memperkaya wawasan atau mencari rujukan. Media massa juga berlangganan berita dari kantor berita lain untuk diberitakan kembali kepada pembca mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8/ Tulislah dengan jujur.&lt;br /&gt;Menulislah seperti kita bicara kepada teman. Alamiah. Apa yang benar-benar membuat kamu semangat? Memasak? Tulislah sesuatu tentang memasak. Apa kamu benar-benar ingin membuat perubahan? Kamu benar-benar bertentangan ide dengan pendapat orang lain? Tulislah ide dan keyakinanmu. Utarakan pendapat kamu. Kuatkan argumen kamu. Biasanya keyakinan yang kuat bisa menghasilkan tulisan yang berbeda dan mengesankan.[]12/09/09&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anwar Holid, bekerja sebagai editor dan penulis. Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KONTAK: wartax@yahoo.com  Tel.: (022) 2037348  HP: 085721511193  Panorama II No. 26 B Bandung 40141&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17631250-3705885038809080438?l=halamanganjil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://halamanganjil.blogspot.com/feeds/3705885038809080438/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=17631250&amp;postID=3705885038809080438' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/3705885038809080438'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/3705885038809080438'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://halamanganjil.blogspot.com/2009/10/meluangkan-waktu-dan-mencurahkan-energi.html' title=''/><author><name>[HALAMAN GANJIL] &amp;amp; TEXTOUR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08821802693843388343</uri><email>wartaxfenfen@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='10817234696267325743'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SvCDZ4uYXeI/AAAAAAAAArg/RKEue6_K4rM/s72-c/typewriterA008blog-754097.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17631250.post-6578358405884902116</id><published>2009-10-29T14:16:00.000-07:00</published><updated>2009-10-29T14:24:56.124-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anwar Holid'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Upaya Editor Menghindari Frustrasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Editan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='penulisan'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SuoHnsvbF7I/AAAAAAAAAq4/jn5peFEV8mQ/s1600-h/open-book11_edit_kecil.jpg"&gt;&lt;img style="WIDTH: 400px; HEIGHT: 256px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5398135481963321266" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SuoHnsvbF7I/AAAAAAAAAq4/jn5peFEV8mQ/s400/open-book11_edit_kecil.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:verdana;color:#6600cc;"&gt;Upaya Editor Menghindari Frustrasi &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;---Anwar Holid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir dua bulan ini aku menangani dua naskah yang mirip. Secara prinsip, terjemahan naskah itu sudah benar. Setidaknya itulah klaim penerbit. Penerjemah naskah itu orang terkemuka dan ahli di bidangnya. Jadi secara keilmuan dia bisa diandalkan dan wawasannya mumpuni. Untuk sementara, aku sulit membantah klaim itu dan percaya omongan penerbit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ruang kerja sederhanaku, ketika siap-siap membedah naskah itu, barulah aku merasakan sulitnya menangani terjemahan itu. Memang tugas editor ialah meluweskan penuturan, memadukan inkoherensi paragraf, membuat keterbacaan naskah tinggi. Itu mirip tugas utama dokter ialah menyembuhkan pasien atau petugas kebersihan kota menyingkirkan sampah. Begitulah adanya. Tapi kalau kamu mendapati tugas kamu ternyata begitu bikin suntuk, terlalu sulit atau menggunung, wajar bila ia bikin stres atau frustrasi. Seorang striker bisa frustrasi dan kalap kalau terus-menerus gagal mencetak gol dan kesulitan mendobrak pertahanan lawan, atau kiper lawan terlalu tangguh. Kalau sifat ksatrianya cedera, dia bisa gelap mata dan akhirnya bertindak curang dengan melakukan diving. Tantangan setiap pekerjaan itu sama. Namun menyebalkan bila faktanya beban kamu terlalu berat. Ada yang salah, dan itu bukan salah kamu, melainkan proses sebelumnya atau kasusnya memang berat. Untuk itu kamu hanya harus tabah dan bertahan. Lakukan inovasi dan istirahat secukupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu menghadapi baris kalimat sulit, aku yakin ada yang salah dari penanganannya. Aku kerap kesulitan menangkap maksud kalimat itu sebenarnya apa. Bahasanya ribet. Banyak banget kalimat panjang melelahkan, bahkan bisa terdiri dari satu paragraf! Yang terdiri dari tiga - empat baris juga banyak. Polanya pun masih dalam bahasa sumber, dan kerap berbentuk negatif. Dalam kalimat panjang itu selalu ada sisipan anak kalimat berisi tambahan informasi, termasuk hal-hal trivial yang bahkan sering berulang di bagian sebelumnya. Ini jelas gaya sang penulis, dan penerjemah membiarkannya. Bikin capek baca, dan energiku terkuras dengan cepat. Penerbit suka menggampangkan kondisi ini, bilang bahwa beban editor ringan. Padahal meluweskan bahasa, dengan penyampaian yang enak itu penting sekali dalam sebuah buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat pendeknya saja suka membingungkan. Contoh: &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;"Pidatonya merupakan yang tidak lazim antara kepalsuan dan sifat agresif yang terang-terangan."&lt;/span&gt; Maaf, ini apa maksudnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat panjangnya antara lain begini: &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;"Al-Quran menjasadkan di depan mata kita suatu gambaran yang hidup, dan menggerakkannya pada lebih dari satu arah, untuk mengimbau orang-orang yang merasa tidak berdaya itu untuk membebaskan diri dari tekanan, sejak sekarang, agar kelak mereka tidak menghadapi konsekuensinya sesudah mereka mati, dengan sikap menyerah pada kelemahan diri, sebagai suatu unsur yang sangat diperingatkan untuk dijauhi."&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;"Kekuatan-kekuatan hegemonis itu, yang menganggap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi bangsa merdeka dan mandiri sebagai ancaman terhadap monopoli mereka dalam instrumen kekuasaan yang penting ini dan yang tidak ingin melihat keberhasilan yang sama di negara-negara lain, telah salah mengartikan teknologi nuklir Iran yang terjaga dan aman sebagai usaha untuk membuat senjata nuklir."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;"Bagaimanapun, kalau ada kebebasan pribadi yang akan dipertahankan mati-matian oleh seseorang di dunia modern, itu adalah haknya yang tidak boleh diingkari untuk menyaksikan pertandingan sepakbola di televisi, dan kuatnya dorongan pandangan umum, bahkan di kalangan Islam fundamentalis dengan kepala yang penuh dengan dalih-dalih teologis untuk menentangnya, pemerintah terpaksa menayangkan pertandingan sepakbola di televisi." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halo... rasanya aku menerima sandi dari alien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seberapa besar usaha seorang editor menyunting kalimat itu, berapa lama waktu yang dia butuhkan? Atau sebaliknya, seberapa toleran dia boleh bilang bahwa kalimat itu sudah jernih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi itu membuat tugasku mengubah penyampaian agar luwes, lincah, mudah dicerna, dan lancar justru bakal paling besar menyita energi. Memoles dan melenturkan kalimat itu kerap butuh coba-coba dan mengutak-atik dulu sebelum akhirnya menemukan penyampaian yang paling pas. Butuh waktu dan energi besar. Bayangkanlah pekerja furnitur kayu jati yang mengamplas ukiran kasar menjadi halus. Dia melakukannya berhari-hari, terpaksa harus menghirup hamburan serbuknya, dengan tenaga yang hebat. Itulah kerja keras. Itulah yang juga harus dihadapi penyunting bila menemukan kalimat-kalimat kasar, penuh gerinjul, menyulitkan makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking sebal, aku berprasangka penerjemah ini mungkin awalnya berpikir bahwa pekerjaannya sudah keren, jadi dia serahkan ke penerbit. Coba kalimat-kalimat berlepotan dan penuh lumpur itu dibiarkan, lantas langsung dibungkus dan ditawarkan ke publik. Aku yakin seminggu kemudian pembacanya pada sakit kepala. Atau mereka langsung melemparkannya ke tong sampah. Aku jadi ingat pelajaran pertama seorang penyunting dari dosenku, ibu Sofia Mansoor, yang mengenalkan istilah "&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;keterbacaan&lt;/span&gt;"---yaitu tingkat suatu naskah mudah atau sulit dipahami.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SuoHndjAOdI/AAAAAAAAAqw/vOQ7-ry6QTg/s1600-h/equat-big.jpg"&gt;&lt;img style="WIDTH: 154px; HEIGHT: 115px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5398135477884697042" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SuoHndjAOdI/AAAAAAAAAqw/vOQ7-ry6QTg/s400/equat-big.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Penulis, penerjemah, penyunting bahu-membahu untuk menghasilkan naskah dengan keterbacaan tinggi. Bila rendah, harus diubah, atau minimal membuatnya lebih mudah. Tapi itu pun bukan harga mati. Keterbacaan sebagian karya memang rendah. Misal &lt;em&gt;Finnegan's Wake&lt;/em&gt; (James Joyce) atau puisi Afrizal Malna dan Nirwan Dewanto. Mau apa kita dengan naskah seperti itu? Mau berkompromi? Di ranah nonfiksi juga sama. Aku pernah berusaha baca &lt;em&gt;The Uses of Literacy&lt;/em&gt; (Richard Hoggart) yang konon penting, tapi hanya sedikit sekali yang aku paham dari pemaparannya. Kemungkinannya ialah otakku terlalu tebal terhalang kabut. Susah memahami membuat orang jadi mudah frustrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penyunting lain mendapat kasus serupa, mengeluhkan buruknya bahasa yang dia garap, sampai merasa bahwa tawaran honornya terlalu kecil untuk menangani naskah menyebalkan seperti itu. Aku setuju. Karena menyita energi, emosi, bikin frustrasi, kompensasi menggarapnya harus sepadan. Penerbit bagus biasanya bisa diajak bicara tentang seberapa jauh tingkat kesulitan editing yang dilakukan editornya, terutama editor outsource. Mereka biasanya minta bukti (sampel). Kalau sepakat bahwa naskah itu memang sulit, mereka setuju menaikkan honor---sesedikit apa pun itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau setiap hari menemukan kalimat kacau, manusia akan jadi cepat lapuk. Ada yang salah bila kita gagal menangani kesulitan berbahasa, menangkap pesan dengan jernih, atau mengungkapkan dengan baik. Di dalam &lt;em&gt;Writing Tools&lt;/em&gt; (2006), Roy Peter Clark mensinyalir malapetaka dari konsekuensi tulisan buruk, baik untuk bisnis, profesi, pendidik, konsumen, dan warga negara. Buruknya tulisan dalam laporan, memo, pengumunan, dan pesan menguras biaya dan waktu. Itu merupakan gumpalan darah di lembaga politik dan pemerintahan. Membuat arus informasi mampat. Masalah penting terus mengendap dan tertutup. Kesempatan untuk perbaikan dan efisiensi tetap terkubur (hal. 7-8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan sulit membuat pembaca kepayahan. Padahal tujuan membaca dan menulis ialah kefasihan, mengungkapkan maksud secara jernih dan lancar. "Tulisan juga harus mengalir dengan lancar dari penulis. Idealnya memang seperti itu," tegas Clark.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bukan hendak memuliakan editor atau memberat-beratkan tugasnya. Seperti aku bilang, profesi ini sama dengan profesi lain. Ia memiliki tantangan dan kesulitan sendiri. Jadi editor mungkin mustahil membuat kamu mati luka-luka seperti tentara tertembak di medan perang. Tapi kamu bisa gila kalau gagal menangani kalimat kacrut yang bikin akal dan logika jadi putus asa.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anwar Holid, bekerja sebagai editor dan penulis. Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KONTAK: wartax@yahoo.com Tel.: (022) 2037348 HP: 085721511193 Panorama II No. 26 B Bandung 40141&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17631250-6578358405884902116?l=halamanganjil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://halamanganjil.blogspot.com/feeds/6578358405884902116/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=17631250&amp;postID=6578358405884902116' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/6578358405884902116'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/6578358405884902116'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://halamanganjil.blogspot.com/2009/10/upaya-editor-menghindari-frustrasi.html' title=''/><author><name>[HALAMAN GANJIL] &amp;amp; TEXTOUR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08821802693843388343</uri><email>wartaxfenfen@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='10817234696267325743'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SuoHnsvbF7I/AAAAAAAAAq4/jn5peFEV8mQ/s72-c/open-book11_edit_kecil.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17631250.post-1619388494207446018</id><published>2009-10-25T12:02:00.000-07:00</published><updated>2009-10-25T12:09:36.167-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='The Diving Bell and the Butterfly'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anwar Holid'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Review'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jean-Dominique Bauby'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sisa Pikiran dan Imajinasi Mantan Lelaki Sempurna'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SuShiOhMZ5I/AAAAAAAAAqg/MVLeFL-e8Ss/s1600-h/theDivingBellButterflyMP.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 271px; height: 399px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SuShiOhMZ5I/AAAAAAAAAqg/MVLeFL-e8Ss/s400/theDivingBellButterflyMP.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5396615862881642386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;Sisa Pikiran dan Imajinasi Mantan Lelaki Sempurna&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;---Anwar Holid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;The Diving Bell and the Butterfly&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Sutradara: Julian Schnabel&lt;br /&gt;Produksi: Kathleen Kennedy, Jon Kilik&lt;br /&gt;Penulis: Jean-Dominique Bauby&lt;br /&gt;Screenplay: Ronald Harwood&lt;br /&gt;Pemain: Mathieu Amalric, Emmanuelle Seigner, Marie-Josée Croze, Max Von Sydow&lt;br /&gt;Sinematografi: Janusz Kaminski&lt;br /&gt;Editing: Juliette Welfling&lt;br /&gt;Musik: Paul Cantelon&lt;br /&gt;Distribusi: Pathé Renn Productions, Miramax Films&lt;br /&gt;Rilis: 23 Mei 2007&lt;br /&gt;Durasi: 112 minutes&lt;br /&gt;Bahasa: Prancis; subtitle Inggris&lt;br /&gt;Rating: ****&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penderita locked-in syndrome hidup seperti dalam kepompong mahaberat, membungkus tubuhnya begitu ketat, sampai ia merasa dirinya disemen pada tembok. Dia hanya bisa diam di tempat, seluruh tubuhnya mengalami stroke, lumpuh total, tapi pikiran dan perasaannya normal. Dia gagal memerintahkan saraf dalam tubuhnya agar bergerak. Dengan pikiran dan imajinasi itu dia masih bisa mengembara ke manapun mau. Dia mengomentari segala yang dia lihat dengan mata kirinya---satu-satunya organ masih berfungsi, bersama kedipannya. Penyakit ini merupakan kondisi yang luar biasa jarang terjadi. Salah satu penderitanya ialah Jean-Dominique Bauby, orang Prancis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutradara Julian Schnabel memfilmkan kehidupan dan pikiran Bauby berdasarkan skenario karya Ronald Harwood, dengan Mathieu Amalric berperan sebagai Bauby. Film itu sepenuhnya berbahasa Prancis, dengan subtitle Inggris. Film itu langsung mengingatkan aku pada film My Left Foot (Str. Jim Sheridan, 1989), ketika Daniel Day-Lewis berperan sebagai Christy Brown, seorang penyair-pelukis-penulis penderita cerebral palsy, yang hanya bisa menggerakkan kaki kirinya. Upaya keras Bauby sebagai penderita stroke parah yang menuliskan pikiran dan perasaan dalam sisa hidupnya menjadikan kisah itu luar biasa. Schnabel cukup mengeksploitasi sisi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Bauby menulis buku, padahal dia hanya bisa mengedip? Dia cuma bisa memberi dua kode kepada orang lain: satu kedip untuk "ya", dua kedip untuk "tidak." Lelaki kelahiran 1952 ini menggunakan cara berkomunikasi yang diajarkan pihak rumah sakit, terutama oleh Henriette Durand. Durand mula-mula melatih Bauby untuk terbiasa dengan huruf yang paling sering digunakan dalam percakapan Prancis, lantas satu demi satu huruf diucapkan sambil bertatapan, untuk memastikan bahwa huruf itu yang ingin didiktekan Bauby. Segera setelah Bauby terbiasa dengan cara itu, orang-orang di dekatnya, terutama dokter, perawat, pembaca buku untuknya, juga ibu dari anak-anaknya menggunakan cara berkomunikasi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara harfiah Bauby mengetik dengan mengedip, sehuruf demi sehuruf. Dalam proses penulisannya, dia berutang besar kepada Claude Mendibil, seorang pegawai penerbit Robert Laffont yang dipekerjakan untuk menuliskan imajinasi dan pikiran Bauby. Sebelum sakit, Bauby memang punya kontrak dengan penerbit tersebut. Awalnya pihak penerbit juga ragu, "Bukankah dia tidak bisa bicara?" "Tapi bukan berarti dia tidak bisa berkomunikasi," yakin Durand. Dulu dia ingin menulis kisah tentang balas dendam berdasarkan novel The Count of Monte Cristo (Alexandre Dumas, père) dengan tokoh utama seorang wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulisan dalam kasus Bauby merupakan proses yang betul-betul menguras energi, kesabaran, dan waktu. Mereka harus mengulang setiap awal huruf, seperti kita harus mengucapkan ABCD sampai Z sebelum memastikan memilih awalan huruf dan memulai kata. Mereka sring bekerja lima jam per hari. Selama masa perawatan itu mereka mengerjakan buku itu, mengedit, dan merevisi, dua tahun lebih lamanya. Akhirnya buku tersebut terbit berjudul Le scaphandre et le papillon, setebal kira-kira 130-an halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SuShhy2-jlI/AAAAAAAAAqY/oP6nI7YfKSQ/s1600-h/scaphandre-papillon-jean-dominique-bauby-L-1.2jpeg.jpeg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 269px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SuShhy2-jlI/AAAAAAAAAqY/oP6nI7YfKSQ/s400/scaphandre-papillon-jean-dominique-bauby-L-1.2jpeg.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5396615855456816722" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bauby seorang pembaca sastra yang kuat. Dia membaca karya Honore Balzac, dan terutama The Count of Monte Cristo. Dia hedonis, suka keindahan dan kenikmatan, suka berimajinasi tentang segala hal, kecuali yang berbau agama. Dalam kehidupan mudanya yang cemerlang, dia jurnalis di majalah fashion perempuan Elle, sampai menjadi editor-in-chief. Elle bukan saja populer, ia merupakan majalah terkemuka, franchisenya ada di mana-mana, termasuk Indonesia. Alih-alih menulis tentang balas dendam, Le scaphandre et le papillon lebih merupakan memoar, berisi tentang pengalamannya sebagai penderita locked-in syndrome yang dirawat di rumah sakit di pinggir pantai, hubungan dengan ibu dari ketiga anaknya, anak-anaknya, kawan-kawan baiknya, sekelumit kerjanya di Elle, makanan favoritnya, dan upaya memahami wanita. Meski sukses, dia tampak kurang terkesan dengan karirnya selama di Elle atau bagaimana dia dahulu menulis secara normal. Tapi minimal, di sana dia memperoleh kemewahan dan sosialita kelas satu. Dia lebih suka bercerita tentang orang-orang yang dia sayangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Buku itu tiada kecuali ia dibaca," demikian kata Bauby. Maka Bauby memilih mengutarakan pikirannya, perasaannya, alih-alih membicarakan atau mengeluh soal sakitnya. Untuk ukuran orang sakit mengerikan, dia cukup humoris. Bagaimanapun, yang tersisa dari dirinya hanyalah pikiran dan kenang-kenangan. Itulah yang dia ceritakan. Menjadi penderita stroke yang sia-sia mau melakukan apa-apa, bergantung sepenuhnya pada pertolongan orang lain, dia merasa dirinya sebagai bayi berumur 42 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film The Diving Bell and the Butterfly mula-mula bercerita dan bersudut pandang kamera dari Bauby. Jadi penonton melihat dari matanya, mendengar suara dan pikirannya, merasakan penderitaannya. Tapi lama-lama sudut pandang film meluas, dan akhirnya penonton menyaksikan kisah tentang kehidupan dan keluarganya. Dia punya ayah yang sama-sama merasa sakit locked-in syndrome, hanya saja dia terkurung di apartemen. Bauby punya tiga anak dari seorang perempuan yang tidak dia cintai, karena itu tidak dia nikahi. ("Dia bukan istriku, dia ibu dari anak-anakku," tegasnya.) Memang agak aneh seseorang sampai bisa punya tiga anak dari seorang wanita yang tidak dicintai, meskipun perempuan itu tampak perhatian, tetap tampak intim merayakan Hari Ayah, dan bila bertemu dengan anak-anaknya, dia jadi ayah yang ramah. Seorang perempuan lain juga mencintai Bauby, tapi dia tak tega melihat Bauby dalam keadaan sakit. Menurut Wikipedia, film ini menyisakan kontroversi soal akurasi tentang perempuan dalam hidup Bauby. Schnabel tampak sengaja mengubah untuk alur drama, atau mungkin dia ingin menunjukkan kasih sayang keluarga yang lebih utuh dan mengharukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ujung film Bauby ingat kembali bagaimana saat dirinya terkena stroke. Pada Jumat, 8 Januari 1995, ia berangkat ke bioskop dengan anak sulungnya, mengendarai mobil super mewahnya, sambil bicara sebagai sesama lelaki. Di tengah jalan, dia merasa ada yang salah dengan tubuhnya, membuatnya segera berhenti di pinggir jalan. Anaknya panik menyaksikan serangan mendadak itu, sebab Bauby bukan perokok dan peminum. Dia bukan lelaki dengan ciri-ciri kemungkinan terkena penyakit mengerikan seperti itu. Dia koma sekitar dua puluh hari, dan setelah bangun mendapati dirinya gagal mengucapkan sepatah kata pun. Pada dua puluh minggu pertamanya setelah stroke, dia kehilangan bobot 27 kg.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SuShicghQ8I/AAAAAAAAAqo/6tbftXjGla8/s1600-h/BAUBY-MODEL.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 365px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SuShicghQ8I/AAAAAAAAAqo/6tbftXjGla8/s400/BAUBY-MODEL.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5396615866636911554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita mengabaikan Bauby yang menderita, isi film ini mungkin biasa saja. Pada dasarnya cerita dia seperti mengawang-awang, dia banyak membicarakan mimpi, imajinasi, mengomentari ini-itu, meluapkan perasaan. Schnabel memvisualisasikan imajinasi Bauby dengan bagus sekali. Di Festival Film Cannes dan Golden Globe Award dia memenangi sutradara terbaik, sementara di Academy Award dia mendapat nominasi untuk kategori itu. Dua film terkemuka lain karya Schnabel ialah Basquiat dan Before Night Falls. Mathieu Amalric juga bermain bagus. Tapi karena perannya, gerak tubuhnya minim. Ini membuatnya jadi kurang eksploratif bila dibandingkan Daniel Day-Lewis yang tampak kepayahan berusaha menggerakkan kaki kiri atau badan lain dalam My Left Foot. Bedanya lagi, dulu Bauby sempurna, dia pencinta perempuan, kenyang dengan pengalaman itu; sementara Christy Brown cacat sejak awal, dia ditertawakan ketika akan mengucapkan perasaan pada perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan seseorang mengatasi rintangan hidupnya bisa jadi merupakan hal klise. Budi Warsito, seorang script-writer, berkomentar, "Tapi seberat atau seringan apa pun perjuangan orang, membuat kita sering salut. Kita sulit menghakimi mereka. Karena kadang-kadang yang ringan menurut kita, mungkin berat buat orang lain. Begitu sebaliknya. Bisa jadi, semangatlah penyebabnya." Jelas semangat Bauby bisa membuat orang lain malu, apalagi bagi penulis normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bauby meninggal sepuluh hari setelah Le scaphandre et le papillon terbit pada 1997 dan mendapat pujian di mana-mana.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anwar Holid, suami beristri satu, ayah beranak dua. Bekerja sebagai editor dan penulis, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KONTAK: wartax@yahoo.com | Tel.: (022) 2037348 | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situs terkait:&lt;br /&gt;http://www.thedivingbellandthebutterfly-themovie.com/&lt;br /&gt;http://www.salon.com/ent/feature/2008/02/23/diving_bell/index.html (fakta tentang The Diving Bell and the Butterfly)&lt;br /&gt;http://fr.wikipedia.org/wiki/Jean-Dominique_Bauby&lt;br /&gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Locked-In_syndrome&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17631250-1619388494207446018?l=halamanganjil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://halamanganjil.blogspot.com/feeds/1619388494207446018/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=17631250&amp;postID=1619388494207446018' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/1619388494207446018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/1619388494207446018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://halamanganjil.blogspot.com/2009/10/sisa-pikiran-dan-imajinasi-mantan.html' title=''/><author><name>[HALAMAN GANJIL] &amp;amp; TEXTOUR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08821802693843388343</uri><email>wartaxfenfen@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='10817234696267325743'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SuShiOhMZ5I/AAAAAAAAAqg/MVLeFL-e8Ss/s72-c/theDivingBellButterflyMP.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17631250.post-5968777626632058527</id><published>2009-10-21T14:31:00.000-07:00</published><updated>2009-10-21T14:40:05.086-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jurnal Ilmiah Arsitektur'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anwar Holid'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Small Houses'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Review'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rumah Kecil nan Memikat'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BUKU INCARAN'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/St9-yCL8CSI/AAAAAAAAAqQ/5kFEl3V1vTI/s1600-h/small_houses_taschen.jpg"&gt;&lt;img style="WIDTH: 327px; HEIGHT: 400px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5395170276658645282" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/St9-yCL8CSI/AAAAAAAAAqQ/5kFEl3V1vTI/s400/small_houses_taschen.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;[BUKU INCARAN]&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Rumah Kecil nan Memikat&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;---Anwar Holid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Small Houses/Petites Maisons/Keline Hauser&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Editor: Simone Schleifer&lt;br /&gt;Penerbit: Evergreen/Taschen, 2005&lt;br /&gt;Halaman: 192 hal.&lt;br /&gt;ISBN: 3-8228-4176-5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah kecil memenuhi kebutuhan manusia akan ruang (tempat) yang dapat dimanfaatkan secara lebih berdaya guna karena sederhana, mudah dipelihara, lebih mudah dibangun, dan berbiaya relatif lebih terjangkau dibandingkan bangunan besar. Di kota yang padat dan lahannya terbatas, rumah kecil bisa menjadi pilihan yang menarik karena memberi solusi bagi persoalan tempat tinggal secara signifikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RUMAH berukuran kecil bisa kita saksikan di mana-mana. Boleh jadi ia merupakan paviliun yang terpisah dari gedung utama. Gubuk di sawah atau kebun, saung, dangau, juga merupakan contoh rumah berukuran kecil. Di kota-kota, karena berbagai faktor persoalan, muncul "rumah petak," dan berbagai rumah berukuran kecil. Bahkan kini mulai banyak pengembang yang menawarkan apartemen dengan ukuran ruang boleh dibilang lebih kecil dari biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, pilihan rumah kecil berada di tanah nan lapang mengingatkan pada saung yang kerap ada di tengah sawah dan kebun atau rumah penjaga perkebunan, sementara di luar negeri kerap rumah di tempat jauh merupakan tempat istirahat dan berjarak dari kehidupan sehari-hari di kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri paling khas dari rumah kecil jelas pada kemungilan bentuk, keakraban yang ditawarkan, dan efektivitas ruang yang digunakannya. Persoalan sangat bisa muncul bila kecil malah melahirkan kesan sempit---persoalan yang memang harus pintar-pintar disiasati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagasan mengenai rumah kecil kemungkinan muncul dari kebutuhan manusia akan ruang seperlunya saja. Bila tidak membutuhkan ruang besar, kenapa harus punya rumah berukuran besar? Bila seseorang hanya membutuhkan ruang untuk dirinya sendiri, kenapa harus membangun rumah untuk lima orang? Bila seseorang hanya butuh satu ruang kerja, mestinya dia bisa memanfaatkan semaksimal mungkin keperluan untuk aktivitasnya di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang besar besar memang menawarkan rasa lapang, megah, mewah; namun ia pun memberi kesan menakutkan, menguasai, dan butuh energi besar baik untuk memelihara dan mengisinya. Ruang yang kecil sebaliknya; ia jelas lebih mudah dijelajahi, hanya butuh energi secukupnya untuk mengisi dan mengurusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, persoalannya ialah pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Desain rumah minimal dipilih untuk menanggapi berbagai macam persoalan, menyesuaikan antara bentuk dan fungsi terhadap sistem struktural dan keterbatasan teknis," demikian pengantar buku ini menjelaskan. Buku ini mengambil semangat penemuan microchip dalam teknologi informasi. Chip yang kecil itu mampu menyimpan data begitu banyak, rumah yang kecil pun harusnya tetap bisa nyaman dan efisien, karena berbagai keperluan penghuni sudah tersedia di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk berhasil membangun rumah kecil yang cukup memenuhi standar tempat tinggal memang butuh pemikiran dan upaya ekstra, karena sang arsitek harus pintar mengolah sistem bangunan dasar yang ringan, termasuk kerangka bangunan dan mendapatkan bahan tipis yang kuat agar bangunan mudah didirikan meski di lahan yang sulit dijangkau. Begitu pula unsur lain, misalnya tempat penyimpanan tersembunyi yang efisien, perabot lipat, ventilasi dan sistem pencahayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMALL HOUSES memuat dua puluh lima proyek rumah hasil rancangan arsitek dari berbagai negara, terutama Eropa dan Amerika Serikat; sisanya dari Australia, Asia (Jepang) dan Amerika Latin (Brasil). Ukuran terkecil rumah itu ialah 355 kaki persegi, yang terbesar 2044 kaki persegi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rentang luas bangunan ini menimbulkan pertanyaan, sebenarnya berapa meter sebuah bangunan bisa masuk kategori kecil? Yang jelas, persamaannya ialah bangunan tersebut cukup sederhana, memaksimalkan segala kemungkinan ruang dan bangunan, sementara untuk penyimpanan---misalnya gudang---ditiadakan. Yang menonjol ialah simplisitas dan minimalitas. Hal-hal yang dinilai sia-sia (tak diperlukan) ditinggalkan. Baik arsitek dan penghuni mesti sejak awal menimbang dengan persis, untuk apa bangunan itu ada, dengan begitu mereka bisa dengan akurat pula memperhitungkan segala keperluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi bangunan bisa di mana saja: ada yang di tengah kota, pinggir kota, kaki bukit, pinggir hutan, tengah perkebunan, puncak gunung, persis di tepi sungai (kanal saluran air), maupun di bibir tebing pantai. Arsitek menghadapi berbagai macam tantangan, sesuai masing-masing peruntukan bangunan tersebut. Tantangan bisa berupa lahan yang cukup sempit, tanah berundak-undak, teknik memaksimalkan manfaat ruang yang terbatas, dan yang paling standar ialah mengantisipasi agar ruang tersebut tak terkesan menjadi sempit maupun membuat penghuninya merasa tersekap. Hasilnya mayoritas merupakan bangunan independen (berdiri sendiri), tapi ada juga yang merupakan sambungan dari bangunan utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peruntukan bangunan tersebut juga lain-lain, sesuai kebutuhan pemilik. Sebagian besar bangunan itu merupakan tempat rumah tinggal---mayoritas untuk lajang atau pasangan tanpa anak. Namun ada juga rumah yang dihuni keluarga berempat orang (Rumah Stein-Fleischmann), berfungsi sebagai studio maupun kantor (Studio 3773), rumah-kantor (Rumah Kecil), maupun istirahat (Rumah Liburan di Furx) yang hanya didatangi kala berlibur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi mengutamakan kesederhanaan, bentuk bangunan hampir semua persegi panjang atau kubus (kotak), dengan atap dirancang seefektif mungkin. Sedangkan untuk mempertahankan kesan lapang, penyekatan ruang oleh dinding dihindari. Dengan memaksimalkan bahan bangunan, efektivitas, dan penggunaan ruang, hasil rancangan bangunan benar-benar memperlihatkan upaya bahwa tempat kecil pun bisa tetap asyik dan nyaman untuk dihuni/digunakan. Di beberapa rumah, tempat penyimpanan seperti rak dan laci dirancang tersembunyi sehingga tak menyita ruang sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa rancangan menghasilkan bangunan kecil di luar dugaan. Misalnya Black Box karya Andreas Henrikson, Swedia. Dia mendapat inspirasi dari kotak pesulap yang bisa berisi banyak hal mengejutkan. Black Box merupakan bangunan dua lantai yang fleksibel dipindah-pindah karena gampang dibongkar-pasang. Atapnya menggunakan tutup dari lapisan karet berkualitas tinggi yang melindungi rumah dari air (hujan dan embun) dan perubahan cuaca; sementara bagian depan (pintu) dilengkapi dengan kanopi yang bisa ditutup-buka, sehingga berfungsi baik sebagai teras bila dibuka dan aksen bangunan bila tertutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tree House karya Dawson Brown (Australia) juga mampu mencuri perhatian karena persis mengingatkan orang pada rumah pohon yang kerap dibangun sebagai tempat bermain maupun istirahat; hanya saja Tree House berdiri persis di tebing pantai, sehingga harus disangga oleh silang kayu yang kukuh. Hasilnya rumah itu jadi mirip sarang burung yang nyaman dihuni, tempat penghuninya bisa menikmati laut dan hutan yang mengelilinginya. Dry Design (Amerika Serikat), perancang Studio 3773 menghasilkan semacam kotak berisi tempat tidur yang menggantung dari atap, menggantikan peran langit-langit, berada persis di atas ruang kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang agak kontradiktif dengan gagasan "rumah kecil" itu sendiri ialah ternyata hampir semua bangunan tersebut terdiri dari dua lantai, bahkan tiga lantai (termasuk ground floor); hanya beberapa yang satu lantai. Ini menunjukkan bahwa seorang penghuni pun pada dasarnya membutuhkan ruang yang cukup lapang untuk berbagai keperluan hidupnya, terlebih-lebih bila bangunan tersebut merupakan satu-satunya tempat tinggal, bukan tempat pelarian bila bosan dari tempat utama. Ia butuh lebih dari satu lantai untuk seluruh kegiatan dirinya. Selain itu, banyak sekali bangunan tersebut ternyata berdiri di lahan yang sangat lapang, baik dengan halaman/pekarangan luas, atau berada di lahan yang nyaris kosong. Beberapa memang berada di lahan terbatas, bahkan salah satunya di gang (Rumah di Senzoku, Tokyo.) Luas lahan tersebut seakan-akan memberi kesan boleh saja bangunan utama kecil, asal secara keseluruhan tempatnya lapang dan memberi kebebasan ruang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di situ, sebenarnya "rumah kecil" tetap sulit memenuhi idealitas terhadap efektivitas ruang; manusia masih membutuhkan banyak ruang untuk berbagai hal. Namun kelebihannya, dalam mewujudkan proyek tersebut para arsitek sungguh-sungguh berusaha dalam menghasilkan rumah kecil yang bukan saja efektif-efisien, melainkan juga "cerdas", misalnya dalan hal pemilihan bahan, bahan siap pakai, mudah dibongkar pasang, agar bangunan mudah didirikan di tempat yang sukar dijangkau maupun terpencil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERBEDA dengan fenomena di negara berkembang seperti Indonesia ketika rumah kecil jadi pilihan karena alasan kekurangan biaya maupun keterbatasan lahan, sehingga hasilnya pun kerap berupa Rumah Sangat Sederhana yang kurang nyaman dihuni; di negara-negara maju rumah kecil menjadi pilihan karena alasan personal (privat), mobilitas, dan memaksimalkan ruang, sehingga biaya bukan merupakan faktor yang terlalu berpengaruh untuk mendapatkan rumah kecil yang benar-benar cantik sekaligus kukuh dan memenuhi standar hunian tingkat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah poin perbedaan "rumah kecil" di Indonesia, terutama yang ada di perkotaan padat. Betapa rumah kecil menjadi pilihan lebih karena persoalan ekonomi yang sulit dipecahkan. Meski kebutuhan dasar akan tempat tinggal terpenuhi, pengorbanannya cukup besar, misalnya mengabaikan faktor kenyamanan, kelayakan, bahkan pilihan bahan-bahannya pun kerap berkualitas rendah. Di sini, sering kita saksikan rumah petak ataupun penambahan pada bangunan kecil lain yang didirikan secara menyedihkan dan asal-asalan, bahkan tanpa pertimbangan estetika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculnya konsep rumah kecil yang dirancang secara maksimal dan memikat seperti dalam buku ini sangat mungkin mampu memberi inspirasi untuk mengembangkan dan memicu pemikiran serupa, terlebih mendapatkan solusi bagi rumah kecil yang pantas dihuni, dibangun dengan standar bangunan yang memenuhi syarat.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anwar Holid, bekerja sebagai editor dan penulis; eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KONTAK: wartax@yahoo.com  Tel.: (022) 2037348  HP: 085721511193  Panorama II No. 26 B Bandung 40141&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya resensi ini muncul di &lt;em&gt;Jurnal Ilmiah Arsitektur&lt;/em&gt; Universitas Pelita Harapan, Vol. 5, No. 2, Juli 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Copyright © 2008 BUKU INCARAN oleh Anwar Holid &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17631250-5968777626632058527?l=halamanganjil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://halamanganjil.blogspot.com/feeds/5968777626632058527/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=17631250&amp;postID=5968777626632058527' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/5968777626632058527'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/5968777626632058527'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://halamanganjil.blogspot.com/2009/10/buku-incaran-rumah-kecil-nan-memikat.html' title=''/><author><name>[HALAMAN GANJIL] &amp;amp; TEXTOUR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08821802693843388343</uri><email>wartaxfenfen@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='10817234696267325743'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/St9-yCL8CSI/AAAAAAAAAqQ/5kFEl3V1vTI/s72-c/small_houses_taschen.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17631250.post-4867111295412031675</id><published>2009-10-21T14:14:00.000-07:00</published><updated>2009-11-10T12:01:55.019-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anwar Holid'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Review'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Barack Obama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BUKU INCARAN'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dreams from My Father'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Impian akan Seorang Ayah'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SvnGHORYPbI/AAAAAAAAAsY/8oeswYQYZkk/s1600-h/Obama,+Dreams+from+my+father_1.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 264px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SvnGHORYPbI/AAAAAAAAAsY/8oeswYQYZkk/s400/Obama,+Dreams+from+my+father_1.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402567055399992754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 153);"&gt;Foto cover oleh Anwar Holid.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 153);"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;Impian akan Seorang Ayah&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;---Anwar Holid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BILA jalan hidup Barack Obama biasa saja, tanpa terobosan, tidak menatah sejarah sebagai presiden Amerika Serikat pertama keturunan Afrika, Dreams from My Father bisa jadi terlupakan dan terkubur. Bagaimana tidak? Buku ini baru terbit ulang setelah out of print begitu Obama terpilih sebagai salah satu pembicara utama di Konvensi Nasional Demokratik (DNC) 2004 yang melejitkannya sebagai rising star politik Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini aslinya terbit pada 18 Juli 1995, ketika usia Obama 33, beberapa tahun sebelum Obama menjadi politisi, melainkan seorang aktivis masyarakat. Cikal-bakalnya lahir setelah dia terpilih sebagai Presiden Harvard Law Review pada 1990. Dia merupakan orang African-American pertama yang terpilih sebagai presiden jurnal hukum terkemuka tersebut. Kejadian itu bersejarah, membuat New York Times memuat profil Obama. Isi berita tersebut menarik perhatian seorang literary agent muda bernama Jane Dystel. Dia lantas merancang proposal penulisan buku oleh Obama berisi kisah kehidupannya, dikirim ke berbagai penerbit sampai akhirnya menemukan kesepakatan dengan Poseidon---sebuah imprint kecil dari konglomerasi penerbit Simon &amp;amp; Schuster.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang setelah beberapa tahun lewat ternyata Obama tetap gagal menuntaskan buku tersebut. Dia hendak menyelesaikan studi dan mulai merintis karir lebih dahulu. Akibatnya Simon &amp;amp; Schuster membatalkan kontrak. Dystel mendekati Henry Ferris, editor senior Times Book dari kelompok Random House, dan Peter Osnos, wakil penerbit tersebut. Setelah bertemu dan mendengar cerita Obama, Times Book merasa bahwa kisah itu menarik, dan Obama yakin bisa menyelesaikan penulisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cetakan pertama buku ini laku 10 ribu kopi, menerima kritik bagus, di antaranya dari Publishers Weekly, dengan komentar ”mengharukan, memoar yang menggali kisah kehidupan langka---buku yang menggetarkan, dalam, dan kaya.” Setelah itu peredarannya habis. Namun, begitu Obama menjadi bintang Partai Demokrat, Crown Books segera menerbitkan ulang buku tesebut, ditambah pengantar baru Barack Obama dan lampiran pidato di DNC. Edisi itu menjelma sebagai sukses besar, terjual lebih dari 500.000 kopi dalam semester pertama. Edisi audio book-nya memenangi Grammy Award untuk kategori Best Spoken Word Album 2006. Sementara itu edisi pertama terbitan Times Book jadi barang buruan langka di kalangan kolektor, sebab hanya satu-dua yang bertanda tangan Obama. Harga satuannya bisa mencapai 13.000 dolar AS. Lebih dari satu dekade kemudian, penulis terkemuka macam Toni Morrison maupun Joe Klein baru tergerak membaca dan memuji-mujinya pada tahun 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OBAMA menulis dengan gaya jurnalisme sastrawi (literary journalism), dan itu membuat kisah dalam bukunya sangat enak dinikmati. Penuturannya lentur, bahasanya ekspresif, dan eksplorasi terhadap identitas dirinya begitu emosional. Judul buku ini menyiratkan obsesi Obama akan ayah yang meninggalkannya sejak umur dua tahun, berusaha mereka-reka bayangannya berdasar cerita ibu dan keluarganya yang berkulit putih. Ayah jadi bayang-bayang idealisasi yang melahirkan perasaan rindu-dendam, apalagi selama masa pertumbuhan itu Obama menghadapai masalah identitas dan rasialisme. Sebenarnya subjek buku ini lebih menekankan pada pencarian akar budaya, pembentukan karakter, perjuangaan akan idealisme, dan penerimaan takdir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena warna kulitnya, Obama mengidentifikasi diri sebagai keturunan Afrika. Ketika remaja, mula-mula dia sadar dirinya merupakan minoritas di tengah dominasi siswa keturunan Asia, sementara ketika kuliah dan dewasa, kaum kulit putih mendominasi segala bidang kehidupan sosial-politik AS. Namun identifikasi ini pun tetap bermasalah, sebab dalam kehidupan sosial-politik di AS tahun 1980-an rasisme masih merupakan persoalan sensitif. Di sinilah subjudul asli buku ini "kisah mengenai ras dan keturunan" menemukan signifikansi. Ketegangan menemukan identitas itu membuat Obama bertanya-tanya. Bila dalam lingkungan keluarganya menerima warisan banyak budaya---Amerika Serikat, Kenya, Indonesia, Kristen, dan Islam---kenapa dalam kehidupan sosial hal itu mudah menimbulkan prasangka dan sukar sekali diwujudkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah Obama berasal dari Kenya, datang ke Amerika Serikat untuk belajar dan kelak kembali ke kampung halamannya untuk ikut serta memajukan negerinya. Dari cerita ibu dan kakek-neneknya, Obama tahu bahwa ayahnya brilian, cerdas, dan hebat, meskipun temperamental dan dominan. Karena tak terjangkau dalam kehidupan sehari-hari, lama-lama ayahnya berubah lebih merupakan mitos. Obama baru sadar akan sejarah marga ayahnya dari mulut nenek dan saudara-saudaranya, ketika menjelang kuliah dia mengunjungi kampung halaman ayahnya di pedalaman Kenya, itu pun setelah ayahnya meninggal.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/St97rylX8xI/AAAAAAAAAqI/uwaNjkJvL7U/s1600-h/Dreams_From_My_Father,+cover+leutik.jpg"&gt;&lt;img style="width: 263px; height: 400px;" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5395166870856266514" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/St97rylX8xI/AAAAAAAAAqI/uwaNjkJvL7U/s400/Dreams_From_My_Father,+cover+leutik.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Obama habis-habisan menelusuri kegelisahannya sebagai anak berkulit hitam di negeri kulit putih. Dalam pengembaraan yang emosional itu, dia berusaha mengerti apa artinya menerima warisan budaya bukan saja dari ayah dan ibunya, melainkan juga Indonesia dan agama. Ketika akhirnya memutuskan jadi jemaah gereja Trinity, dia menyatakan keberserahan diri kepada sang Mahakuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masa transisi pembentukan karakter itu dia kerap frustrasi. Obama mulai mencoba-coba pengalaman pemuda yang lebih ekstrem, memiliki gang, menggugat takdir, merokok, minum alkohol, termasuk marijuana dan kokain. Dia mengakui masa ini merupakan kompensasi dari perjuangan kebingungan menghadapi kondisi sosial dan pencarian identitas karena warisan multirasialnya. Tujuannya, “Untuk menekan agar pertanyaan 'siapa aku' ke luar dari kepala.” Meski sebagian orang memuji karena jujur, pengakuan seperti ini selalu mengejutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah jadi best-seller, buku ini cukup banyak menuai kritik karena para analis sering menemukan inakurasi ingatan Obama dengan fakta. Yang cukup fatal ialah ketika dia menulis ada artikel di Life tentang laki-laki kulit hitam yang berusaha mencuci dan mengelupas kulitnya sampai putih dengan cairan kimia. Chicago Tribune melaporkan bahwa sejarahwan majalah itu menyatakan tak ada artikel seperti itu. Sebagian orang menilai bahwa Obama terlalu menonjolkan perannya sebagai aktivis masyarakat di Altgeld Gardens, sampai terkesan meremehkan sumbangsih orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi sosial, buku ini merupakan refleksi tentang ras dan dinamika persoalan sosial, sementara dari segi personal tampak sebagai pembentukan perkembangan jiwa. Bila orang gagal mengatasinya hakikat ras, keturunan, juga warisan budaya, persoalan fisik bisa melahirkan persoalan psikologis mengerikan, seperti tampak dari fenomena rasisme dan tribalisme. Di Indonesia fenomenanya mirip. Persoalan SARA bisa kapan saja meledak bila tak disikapi dengan baik, bahkan di beberapa tempat menimbulkan konflik berkepanjangan. Di sinilah pentingnya penerbitan buku ini bagi publik Indonesia yang juga multikultur dan bersuku-suku. Kita bisa belajar soal toleransi dari sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CETAKAN edisi Indonesia ini agak buruk, banyak huruf tampak pecah dan tinta blobor; ini patut disayangkan mengingat kualitas penerjemahan dan penyuntingannya bagus.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Anwar Holid bekerja sebagai editor dan penulis, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;KONTAK: wartax@yahoo.com  Tel.: (022) 2037348  HP: 085721511193  Panorama II No. 26 B Bandung 40141&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17631250-4867111295412031675?l=halamanganjil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://halamanganjil.blogspot.com/feeds/4867111295412031675/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=17631250&amp;postID=4867111295412031675' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/4867111295412031675'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/4867111295412031675'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://halamanganjil.blogspot.com/2009/10/impian-akan-seorang-ayah-anwar-holid.html' title=''/><author><name>[HALAMAN GANJIL] &amp;amp; TEXTOUR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08821802693843388343</uri><email>wartaxfenfen@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='10817234696267325743'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SvnGHORYPbI/AAAAAAAAAsY/8oeswYQYZkk/s72-c/Obama,+Dreams+from+my+father_1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17631250.post-727041084078207398</id><published>2009-10-13T15:24:00.000-07:00</published><updated>2009-10-21T14:14:53.295-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anwar Holid'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Review'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dee'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BUKU INCARAN'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Katakanlah Sejujurnya'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/St95NxzB4hI/AAAAAAAAAp4/3QduZ3Dfubs/s1600-h/perahu+kertas_alt2.jpg"&gt;&lt;img style="WIDTH: 295px; HEIGHT: 400px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5395164156225774098" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/St95NxzB4hI/AAAAAAAAAp4/3QduZ3Dfubs/s400/perahu+kertas_alt2.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;color:#330099;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:verdana;color:#330099;"&gt;&lt;strong&gt;Katakanlah Sejujurnya&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;---Anwar Holid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Perahu Kertas&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Dee&lt;br /&gt;Penerbit: Bentang Pustaka &amp;amp; Truedee, 2009&lt;br /&gt;Tebal: 444 hal.&lt;br /&gt;ISBN: 978-979-1227-78-0&lt;br /&gt;Harga: Rp.69,000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang tahu pepatah usang ini: &lt;em&gt;honesty is the best policy&lt;/em&gt;. Kejujuran itu tindakan terbaik. Perlu berapa lama untuk menunggu seseorang jujur? Butuh berapa halaman untuk mengungkapkannya? Dalam kasus Dee: empat tahun, 444 halaman. Persisnya 434 halaman bila kita mengabaikan endorsement, awalan, dan akhiran novel Perahu Kertas (Bentang &amp;amp; Truedee, 2009, Rp.69,000,-). Halaman setebal itu dia bentangkan besar-besaran untuk mengisahkan betapa berharga kejujuran, meskipun awalnya semua orang tampak bermasalah dengan kejujuran. Alasannya sederhana: takut menyakitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi "takut menyakitkan" ini akibatnya benar-benar fatal dan membuat semua orang menderita, kehilangan momen berharga, menambah-nambah masalah, dan menyiksa pembaca sampai harus membuka halaman terakhir, sebenarnya ada apa dengan kisah cinta dua orang bernama Kugy dan Keenan. Mungkin di situlah Dee mempertaruhkan keterampilannya bercerita: dia menaruh sehamparan misteri dan rintangan sebelum sepasang kekasih ini menyerah dan mengakui kejujuran masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misteri dan rintangan terbesar dari kedua orang itu justru keinginan untuk menyenangkan orang-orang terdekat yang berhubungan secara emosional dengan mereka, orang yang secara alamiah tumbuh bersama mereka. Karena berhasil menyembunyikan kata hati dan mampu membungkusnya secara melegakan, secara permukaan hubungan itu baik-baik, meski pada dasarnya mereka sesak. Apa manusia-manusia kota ini memiliki problem komunikasi atau malah amat sukses mengembangkannya jadi semacam "etiket" pergaulan dalam kehidupan? Mungkin kadar EQ (Emotional Quotient) mereka rendah, jadi kesulitan melampiaskan perasaan dan maksud dengan jelas. Semua jadi tampak bersayap. Soalnya kalau tidak, Dee sebenarnya bisa lebih cepat menamatkan novelnya, mungkin lebih dari separo jumlahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa sisi, drama menunggu kejujuran antara Kugy dan Keenan ini terasa ngayayay---istilah Sunda untuk bertele-tele. Tapi untung, Perahu Kertas merupakan page-turner, novel dengan alur cerita memikat, dan karena itu hanya butuh waktu sebentar untuk menamatkannya. Bisa jadi karena itu, seorang editor dari Jogja bilang, "Biarpun tebal, novel Dee ini mantap." Formulanya bikin pembaca terpana. Pengakuan para pembaca awal novel ini merupakan bukti bahwa Dee memang seorang penutur kisah hebat dan ia mampu menciptakan plot memikat. Kita boleh bertaruh apa para pemberi endorsement itu jujur dengan pernyataannya atau berusaha membungkus ungkapan dengan pujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indah Darmastuti, seorang penulis dari Solo berkomentar: "Novel itu sangat menghibur aku. Aku suka kosakata yang cair khas Dee. Lucu dan plot yang mendebarkan. Dan ending sesuai harapanku." Kisah cinta rata-rata memang mudah ditebak. Tinggal bagaimana penutur menceritakannya, karena kunci buku yang sukses ada pada susunan kerangka cerita yang menarik. Meski subjek sebuah cerita bisa saja klise, karena memang nyaris tiada yang baru di dunia ini, seorang tukang cerita mesti mencari cara terbaik agar memenangi penikmatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perahu Kertas merupakan kisah sejenis itu. Bertindak sebagai dalang atau Tuhan serba tahu (omniscient narrator), Dee mengombang-ambingkan perasaan Kugy di balik lipatan perahu kertas yang dia luncurkan dari selokan atau anak sungai yang dia temui. Di situlah kejujurannya tertera dan mengalir. Sementara Keenan menenggelamkan diri pada lukisan, melampiaskan emosi tertahan pada seseorang yang dia anggap pasangan jiwanya. Mereka berputar-putar dulu menjadi sesuatu yang bukan diri mereka demi kelak menjadi diri masing-masing lagi. Saling menghancurkan dahulu sebelum akhirnya menyusun ulang agar utuh kembali? Seperti ungkapan Goenawan Mohamad, "sesuatu yang kelak retak dan kita membikinnya abadi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dee membuat drama Kugy dan Keenan terlalu lama. Maka pertama-tama Kugy harus mengecewakan pacarnya, lantas sahabat terbaiknya, juga pria pemberi cincin permata lapis lazuli. Sementara Keenan harus jadian dulu dengan Wanda yang penuh pamrih, Luhde yang inosens, berkonflik dengan ayahnya sampai dia stroke, dan sebentar melemparkannya pada kehinaan dan kemiskinan. Tapi orang-orang di sekitar merekan pun bermasalah serupa. Agaknya di novel ini kejujuran jadi semacam penyakit endemik. Mereka menyangka serangkaian pilihan itu bisa membebaskan perasaan. Ternyata tidak. Mereka betul-betul kesulitan menunggu momen kapan hati dan impian bersama itu bertemu. Keduanya terus mencari dalih, berusaha menutup-nutupi kejujuran. Misal dengan bersikap defensif, cemburu, kabur dari masalah, atau marah. Masing-masing mengenakan topeng untuk menyembunyikan kejujuran. Sebab kuncinya terselip pada ungkapan ini: Carilah orang yang enggak perlu meminta apa-apa, tapi kamu mau&lt;br /&gt;memberikan segala-galanya (hal. 427).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari satu sisi, Perahu Kertas merupakan tipikal novel chicklit yang ringan, menghibur, menyenangkan. Dee bercerita secara kronologik, lengkap dengan bulan dan tahun, bahkan kerap sekaligus menampilkan Kugy dan Keenan secara bersisian. Mungkin karena dia merombak kisah ini dari arsip draft lamanya, yang dia tulis sejak tahun 1996, lantas dia revisi total pada 2007 untuk mula-mula muncul sebagai novel digital. Kini, ketika muncul edisi kertasnya, sebentar lagi kisah ini pun akan muncul lewat layar lebar. Sebagian orang mungkin berharap labirin kisah romantis ini bisa menguras emosi dan menggemaskan, karena membayangkan Kugy yang cute dan Keenan yang tampak misterius dengan daya pikat seperti magnet.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/St95OFUj-EI/AAAAAAAAAqA/EfkbaWcE_zs/s1600-h/perahu-kertas_cover+merah_alt.jpg"&gt;&lt;img style="WIDTH: 274px; HEIGHT: 400px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5395164161466693698" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/St95OFUj-EI/AAAAAAAAAqA/EfkbaWcE_zs/s400/perahu-kertas_cover+merah_alt.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#3333ff;"&gt;Cover alternatif dari Internet.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Jujur saja: saya lebih suka berharap Dee menggunakan keunggulan mendongengnya untuk meneruskan proyek penulisan Supernova. Untuk menceritakan kisah dengan idealisme tertentu, yang berkarakter, kuat. Janganlah Dee menyia-nyiakan kejujurannya untuk berputar-putar dulu mengisahkan sesuatu yang klise. Pengalaman menyatakan betapa kejujuran terlalu berharga untuk ditutupi bila sekadar untuk menyembunyikan rasa sakit.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anwar Holid, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung; bekerja sebagai penulis, editor, dan publisis. Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KONTAK: wartax@yahoo.com Tel.: (022) 2037348 HP: 085721511193 Panorama II No. 26 B Bandung 40141&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS: Rasanya judul resensi ini berasal dari lagu pop lama, tapi saya lupa apa persisnya. Ada yang tahu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situs terkait:&lt;br /&gt;http://dee-idea.blogspot.com&lt;br /&gt;http://www.dee-55days.blogspot.com&lt;br /&gt;www.mizan.com&lt;br /&gt;www.klub-sastra-bentang.blogspot.com&lt;br /&gt;Facebook: Dewi Lestari&lt;br /&gt;Twitter: deelestari&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17631250-727041084078207398?l=halamanganjil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://halamanganjil.blogspot.com/feeds/727041084078207398/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=17631250&amp;postID=727041084078207398' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/727041084078207398'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/727041084078207398'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://halamanganjil.blogspot.com/2009/10/katakanlah-sejujurnya-anwar-holid.html' title=''/><author><name>[HALAMAN GANJIL] &amp;amp; TEXTOUR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08821802693843388343</uri><email>wartaxfenfen@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='10817234696267325743'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/St95NxzB4hI/AAAAAAAAAp4/3QduZ3Dfubs/s72-c/perahu+kertas_alt2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17631250.post-5100456272807317883</id><published>2009-08-17T11:35:00.000-07:00</published><updated>2009-08-17T11:51:49.430-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anwar Holid'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Review'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bobbi DePorter'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Quantum Writer'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menginstall Kemampuan Menulis'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SommVxzhOBI/AAAAAAAAApw/KRCXD5Fuin8/s1600-h/Quantum+Writer.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 202px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SommVxzhOBI/AAAAAAAAApw/KRCXD5Fuin8/s320/Quantum+Writer.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371006923692914706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);font-family:arial;font-size:130%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menginstall Kemampuan Menulis&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;---Anwar Holid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Quantum Writer: Menulis dengan Mudah, Fun, dan Hasil Memuaskan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Judul Asli: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Quantum Writer: Write Easily, Less Stress, Better Results&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Bobbi DePorter&lt;br /&gt;Penerjemah: Lovely&lt;br /&gt;Penerbit: Kaifa (Mizan Grup), 2009&lt;br /&gt;Jumlah Halaman: 84&lt;br /&gt;ISBN:  978-979-1284-25-7&lt;br /&gt;Harga: Rp23.000.00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua penulis dan orang yang tertarik pada dunia penulisan selalu terpicu untuk menghasilkan karya terbaik. Mereka kerap berani mempertaruhkan apa pun agar hasrat menciptakan karya terbaik itu terwujud. Ada kala, mereka bahkan mau merangsang kreativitas secara ekstrem lewat cara yang justru membahayakan keselamatan jiwa. Dalam masa pencarian kreativitas itu energi dan pikiran mereka kerap terkuras, melakukan banyak coba-coba, gelisah, sekaligus merasa terancam karena tahu ada target yang harus selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa "pengeraman" seperti itu, polah penulis bisa berubah jadi aneh. Bila merasa gagal menggerakkan jemari demi mendapatkan kata dan kalimat yang tepat, mereka berusaha terus memburunya. Entah dengan mondar-mandir, merokok, melamun, corat-coret, atau juga minum kopi dan mengobrol. Mereka seakan-akan sedang ada dalam panci mendidih, penuh bahaya, siap meledak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bobbi DePorter mengajukan cara yang lebih kreatif, masuk akal sekaligus bebas stres dan menyenangkan untuk menghasilkan tulisan yang mengesankan. Dia menggagas metode Quantum Writing (Menulis Kuantum); orang yang mempraktikkannya disebut Quantum Writer (Penulis Kuantum).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Quantum Writer menggunakan metode bernama PAK!, singkatan dari Pusatkan Pikiran, Atur, Karang, dan Hebat (berupa tanda seru.) Keempat metode ini memiliki rincian lagi yang bila sudah dipahami justru akan memudahkan penulis dalam menyelesaikan pekerjaan. Dalam Pusatkan Pikiran, tugas utama penulis ialah melakukan curah gagasan atas ide yang hendak ditulis. Intinya penulis mengumpulkan ide, gambar, dan perasaan yang terlintas. Hasil dari tahap ini ialah berupa gugusan bintang pointer yang harus segera disusun menjadi draft.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Draft merupakan tulisan awal yang selesai cepat, kuncinya tentu saja menulis cepat. Di sini Bobbi membangkitkan semangat dan keberanian agar penulis terus jalan secara mengalir apa saja yang dianggap relevan, mengabaikan aturan menulis, bahkan melupakan kira-kira hasil akhirnya akan seperti apa. Begitu draft sudah jadi, langkah berikutnya ialah mengatur. Saran utama Bobbi untuk mengatur tulisan ialah menggunakan Peta Pikiran yang nanti akan mengelompokkan draft sebagai ide utama, detail pendukung, contoh, kesimpulan, maupun usulan dan argumen penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai tahap atur, penulis kemungkinan besar sudah mampu menemukan bayang-bayang isi tulisannya akan seperti apa. Draft tersebut sudah jauh lebih tertata dari corat-coret, sebab penulis sudah tahu subjek utamanya ataupun kaitan antar paragraf. Di sini, mulailah penulis belajar untuk memoles draft, tujuannya menghasilkan tulisan yang tertib, alamiah, kuat, akurat, memiliki keterbacaan tinggi. Nah, begitu penulis selesai memoles karya sendiri, tinggal selangkah lagi untuk menghasilkan tulisan yang hebat, yaitu mengoptimalkannya secara kreatif dan kritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru pada tahap terakhir ini Bobbi malah menyemangati penulis agar jangan puas dengan hasil kerja pertama. Ada berbagai cara agar tulisan semakin memuaskan maksud penulis sekaligus memenuhi keinginan pembaca. Secara langsung dia menyebut berbagai elemen kenapa tulisan bisa hebat, bagaimana penulis pada tahap akhir ini harus sangat kritis dan cermat pada pekerjaannya sendiri. Sebelum menyerahkan kepada pembaca (baik publik secara keseluruhan atau untuk keperluan tertentu), penulis wajib memeriksa kembali tulisannya secara detail, kali ini memeriksa apakah ejaan, tanda baca, kata sambung, tata bahasa, juga akurasi pada tulisan itu ada yang salah. Ini serupa dengan kontrol kualitas terhadap karya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai teknik menulis, Quantum Writer rasanya sempurna. Teknik ini bukan saja menyemangati orang untuk berani mengeluarkan ide segila apa pun, melainkan juga menawarkan cara tertentu yang unik, misalnya membaca dari belakang untuk menemukan salah tulis, persis karena penulis bisa memperhatikan setiap kata tanpa mengaitkan maknanya. Sekali lagi, di ujung pemeriksaan Bobbi menegaskan pentingnya menguasai tata bahasa, mengakrabi rujukan, dan benar-benar memaksimalkan pemeriksaan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desain yang menarik juga menjadi keunggulan tersendiri buku ini. Bobbi merancang tahap Quantum Writer ini seperti sedang menginstall program, jadi proses kemajuannya terasa. Meski pembaca sasaran utama buku ini ialah remaja dan orang yang baru akan mau mempelajari kepenulisan, ia inspiratif dan memancarkan semangat positif. Buku ini tipis, fokus, mudah dibaca, dan berdaya dobrak tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Kelemahan Quantum Writer&lt;/span&gt; justru terletak pada aturan dan istilah penerapan metodenya sendiri. Ia menggunakan banyak jembatan keledai---terutama singkatan---yang malah suka bikin ribet. Selain PAK!, pembaca nanti akan menemukan istilah Ge La, UPAK, AMBak, juga TARGET yang boleh jadi mula-mula terdengar aneh dan lucu, sebelum akhirnya terbiasa dan menyenangkan. Bila sudah paham, lama-lama pembaca akan terbiasa pada istilah tersebut dan akan teringat dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Quantum Writer merupakan satu dari empat Quantum Series yang diterbitkan Kaifa (edisi Inggrisnya terdiri dari enam jilid). Tiga judul lainnya ialah Quantum Learner, Quantum Thinker, dan Quantum Note-Taker. Semuanya merupakan "anak-anak" baru karya Bobbi DePorter, yang di Indonesia sejak 1999 sukses menerbitkan buku Quantum Learning, Quantum Business, dan Quantum Teaching. Di Indonesia, setidaknya Hernowo dan Farid Gaban yang telah menguasai dan mempraktikkan teknik ini. Hernowo menulis buku berjudul Quantum Writing, sementara Farid Gaban mengenalkan metode ini dalam kelas pelatihan jurnalistiknya.&lt;/span&gt;[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anwar Holid, bekerja sebagai editor, penulis, &amp;amp; publisis; eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alamat:  Jalan Kapten Abdul Hamid,  Panorama II No. 26 B  Bandung 40141&lt;br /&gt;Telepon: 2037348 | 085721511193 | E-mail: wartax@yahoo.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17631250-5100456272807317883?l=halamanganjil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://halamanganjil.blogspot.com/feeds/5100456272807317883/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=17631250&amp;postID=5100456272807317883' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/5100456272807317883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/5100456272807317883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://halamanganjil.blogspot.com/2009/08/menginstall-kemampuan-menulis-anwar.html' title=''/><author><name>[HALAMAN GANJIL] &amp;amp; TEXTOUR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08821802693843388343</uri><email>wartaxfenfen@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='10817234696267325743'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SommVxzhOBI/AAAAAAAAApw/KRCXD5Fuin8/s72-c/Quantum+Writer.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17631250.post-5031152982273780673</id><published>2009-08-17T11:17:00.000-07:00</published><updated>2009-08-17T11:30:26.179-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anwar Holid'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mahadewa Gitar yang Pernah Ada'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Musik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pat Metheny'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SomgBmha8EI/AAAAAAAAApY/70QdXQB8bvI/s1600-h/pat+methenyMetheny.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 255px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SomgBmha8EI/AAAAAAAAApY/70QdXQB8bvI/s320/pat+methenyMetheny.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370999979997065282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SomgB4pOf0I/AAAAAAAAApg/yO8cXp_OVE4/s1600-h/pat+metheny+group_thewayup_big.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SomgB4pOf0I/AAAAAAAAApg/yO8cXp_OVE4/s320/pat+metheny+group_thewayup_big.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370999984861642562" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;Pat Metheny, Mahadewa Gitar yang Pernah Ada&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;---Anwar Holid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KARENA TERBIASA DENGAR MUSIK ROCK DAN SEJENISNYA, dulu aku cukup yakin bahwa Brian May, Eddie van Halen, Joe Satriani, atau Steve Vai merupakan gitaris paling hebat sedunia. Tapi semakin banyak jenis musik yang aku dengar, tambah yakinlah bahwa keyakinan itu bisa dibantah, dan akhirnya rontok perlahan-lahan. Perubahan itu semakin drastik ketika makin banyak album Pat Metheny yang aku dengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pertama kali dengar Pat Metheny dari KLCBS, stasiun radio jazz di kotaku, Bandung. Tentu awalnya aku belum tahu bahwa itu karya gitaris berambut bak surai singa itu. KLCBS menggunakan satu atau dua karya Metheny sebagai musik latar untuk informasi mereka, sampai sekarang. Sebagian lagi mereka putar per lagu. Penyiar KLCBS, entah karena kebijakan apa, jarang menyebut musisi atau judul lagu yang mereka putar. Tapi kadang-kadang mereka menyebutkannya juga. Lama-lama aku tahu bahwa lagu yang mereka gunakan ialah "Last Train Home" dan "Phase Dance."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minatku pada Pat Metheny tambah besar ketika aku makin sering dan intens dengar jazz. Suatu hari seorang temanku meminjami aku vcd konser Pat Metheny, Secret Story, yang menurutku jauh lebih subtil daripada konser gitaris rock atau heavy metal. Tampaknya gitaris rock cenderung heboh sendiri atau narsis bila sedang manggung, apalagi ketika sedang melakukan solo gitar; sementara gitaris jazz justru cenderung lebih mementingkan musik apalagi bila sedang melakukan solo. Mereka mungkin jarang kelihatan bergaya, tapi malah memperlihatkan performa hebat secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kita tahun 1996, aku beli album Pat Metheny yang terdengar sangat ajaib dari Yuliani Liputo, judulnya Zero Tolerance for Silence. Album itu sepertinya terdengar hanya berisi distorsi gitar. Selama mendengar, keherananku hanya begini: "Kok kepikiran sih bikin album seperti ini?" Album itu membuyarkan bayanganku bahwa karya-karya dia senantiasa agung dan diciptakan dengan ketelitian hebat. Tapi rupanya album itu menyimpan kontroversi dengan cerita sendiri. Setelah itu dengar Beyond the Missouri Sky (Short Stories) yang nuansanya mengawang-awang, seakan-akan mengetengahkan semesta nan luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru waktu Rumah Buku menyediakan sejumlah album Pat Metheny, kepenasaranku pada musik dia makin terpenuhi. Di sana tersedia Still Life (Talking), Letter from Home, The Road to You, We Live Here, Imaginary Day, juga Beyond the Missouri Sky, Pat Metheny Trio, I Can See Your House from Here, dan One Quiet Night, album solo terbarunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I Can See Your House from Here merupakan album duet bersama John Scofield, seorang dewa gitar lain yang mungkin juga terabaikan dari scene gitaris umum---yang biasanya memang lebih peduli pada gitaris rock. Album ini ternyata sangat hebat. Judulnya saja sangat kena, seakan-akan bilang mereka tahu rahasia dapur masing-masing. &lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;HIGHLY RECOMENDED&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerja sama Metheny/Scofield bukan sekadar pertemuan dua mahadewa gitar atau datang untuk bersahut-sahutan, melainkan saling isi dan menjalin. Seakan-akan berusaha saling paham, berkomunikasi. Rasanya belum pernah aku dengar album gitar sehebat ini, bahkan hasil pertemuan gitaris rock sekalipun. Terlintas nama Cacophony (Marty Friedman &amp;amp; Jason Becker) untuk diadukan, tapi menurutku Cacophony monoton dan lebih ngotot untuk kebut-kebutan. Mungkin lebih menarik membayangkan Tom Morello dan Steve Vai bikin album yang betul-betul senyawa, bukan sekadar pamer aksi memainkan efek dan kecepatan. Menurutku, nuansa I Can See Your House from Here ini lebih condong ke rock daripada jazz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PATRICK BRUCE METHENY lahir pada 12 Agustus 1954 di Lee's Summit, Missouri, Amerika Serikat. Dia memutuskan total main musik setelah ke luar dari University of Miami, yang hanya dia masuki satu semester. Namanya mulai muncul di ranah jazz pada 1975, ketika dia gabung dengan band Gary Burton dan merekam sebuah album trio bersama Jaco Pastorius (bass) and Bob Moses (drum) berjudul Bright Size Life. Pada 1977 Metheny merilis Watercolors, yang menampilkan Lyle Mays (piano, keyboards). Kerja sama dengan Mays ini secara resmi dia kukuhkan sebagai Pat Metheny Group (PMG), yang pada 1978 menghasilkan album perdana menggunakan nama tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan PMG boleh dibilang Metheny mencapai puncak kreativitas dan popularitas, meski dia terus bertualang mencari berbagai alternatif terhadap batasan-batasan musik. Dia bisa berkolaborasi baik sebagai duet, trio, pemain tamu, menghasilkan album etnik, belum lagi solo. Maka gayanya sulit dijelaskan, tapi yang jelas merupakan unsur dari progressive jazz dan jazz kontemporer, post-Bop, jazz-rock fusion, and folk-jazz. Salah satu contohnya ialah pada tahun 1998 PMG memenangi dua Grammy Award kategori Rock Instrumental Performance untuk "The Roots Of Coincidence" dari album Imaginary Day, sekaligus Contemporary Jazz Performance untuk album tersebut. Ke mana saja tuh gitaris rock pada tahun itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di album Pat Metheny Trio--&gt;Live (2000), aku berspekulasi, kalau penggemar rock/metal dengar, mereka mungkin akan malu bilang bahwa John Petrucci, Yngwie J. Malmsteen, atau Vernon Reid sebagai dewa gitar. Ini tentu pendapat berlebihan untuk menonjolkan betapa gila daya jelajah Metheny. Di album itu ada lagu "Faith Healer" (19 menit), yang mungkin tak pernah terbayang bakal tercipta bahkan oleh gitaris metal terhebat yang pernah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PMG juga termasuk band jazz besar yang awet. Selain dua pendirinya, anggota lain yang paling bertahan ialah Steve Rodby (Bass) dan Paul Wertico (drums). Meski begitu mereka kerap menampilkan musisi tamu, yang lama-lama jadi bagian utuh grup tersebut, terutama ketika tur, misalnya Mark Ledford (vocals, trumpet, gitar), Armando Marçal (perkusi), dan Nana Vasconcelos (perkusi dan suara mulut). Dengan PMG juga Metheny memenangi belasan Grammy Award. Tapi entah kenapa, setelah menghasilkan The Way Up (2005) yang ambisius, grup ini istirahat. Metheny kemudian malah terlibat dengan Brad Mehldau, sesama pianis seperti Mays, untuk menghasilkan dua album. Hanya saja Mehldau lebih tampak sebagai pianis tradisional daripada Mays yang memberi nuansa begitu kaya dalam latar musik mereka.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SomgCeWQ7nI/AAAAAAAAApo/XrDF1JE5o_s/s1600-h/pat+metheny+group_thewayup1.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 240px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SomgCeWQ7nI/AAAAAAAAApo/XrDF1JE5o_s/s320/pat+metheny+group_thewayup1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5370999994982657650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Way Up&lt;/span&gt; merupakan album konsep yang terdiri dari satu lagu sepanjang 68 menit, namun dipecah jadi empat bagian, semata-mata untuk kepentingan navigasi cd dan keperluan komersial. Pembukanya (Opening) merupakan intro sepanjang lima menit yang amat luar biasa dan sempurna sebelum masuk ke wilayah musik yang kompleks, meliuk-liuk, mengawang-awang, menegangkan, namun juga amat terampil, dinamik, dan memperlihatkan improviasasi dan permaian solo hebat. Metheny menyatakan bahwa album itu merupakan reaksi terhadap kecenderungan musik sekarang yang biasanya menuntut perhatian singkat-singkat namun kekurangan nuansa dan detail. Argumen yang sangat wajar. Ganjarannya, pada 2006 album ini memenangi Grammy Award untuk Best Contemporary Jazz Album.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan puluhan album yang telah dia hasilkan, mendengarkan Pat Metheny seperti merupakan petualangan menjelajahi musik yang tiada habis. Aku sendiri belum mendengar SEMUA karya dia. Namun, apalagi yang ingin aku dengar dari karyanya, kecuali sejumlah album yang mungkin sulit aku dapat, misalnya Upojenie (2002) albumnya bersama Anna Maria Jopek dan The Falcon and the Snowman (1985), sebuah soundtrack dari film berjudul sama, di sana mereka bekerja sama dengan David Bowie---teman main Setiawan Djody. Aku sendiri bergantung pada Rumah Buku dan Satia Nugraha untuk mendapatkan banyak diskografi Metheny.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moral utama yang aku dapat dari mendengar karya-karya Metheny ialah totalitas dan kualitas. Jika kamu seorang gitaris, jadilah gitaris hebat, produktif, inovatif, membuka seluruh kemungkinan. Jika kamu penulis, tulislah sebaik-baiknya, sebanyak mungkin, totallah di sana. Semangat seperti itu tentu baru sedikit saja bisa aku lakoni, itu pun dengan kualitas yang boleh dipertanyakan. Tapi seperti daya dobrak Metheny yang hebat, inspirasinya selalu kuat. Bukankah hebat ketika kita dengar musik, ternyata di sana juga ada semangat dan dinamika hidup?[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anwar Holid, sayangnya, tidak bisa main gitar. Apa ini termasuk ganjil? Dia bekerja sebagai editor dan penulis, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KONTAK: wartax@yahoo.com | Tel.: (022) 2037348 | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pinjam CD album Pat Metheny, silakan hubungi http://www.rukukineruku.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17631250-5031152982273780673?l=halamanganjil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://halamanganjil.blogspot.com/feeds/5031152982273780673/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=17631250&amp;postID=5031152982273780673' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/5031152982273780673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/5031152982273780673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://halamanganjil.blogspot.com/2009/08/pat-metheny-mahadewa-gitar-yang-pernah.html' title=''/><author><name>[HALAMAN GANJIL] &amp;amp; TEXTOUR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08821802693843388343</uri><email>wartaxfenfen@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='10817234696267325743'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SomgBmha8EI/AAAAAAAAApY/70QdXQB8bvI/s72-c/pat+methenyMetheny.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17631250.post-69268685646914282</id><published>2009-07-27T14:37:00.000-07:00</published><updated>2009-07-27T14:50:19.652-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Vinondini Indriati'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anwar Holid'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Review'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BUKU INCARAN'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nyi Vinon'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Sm4fajnclGI/AAAAAAAAApQ/_ZDsyF0LJ2o/s1600-h/Nyi+Vinondini_cover_edit.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 234px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Sm4fajnclGI/AAAAAAAAApQ/_ZDsyF0LJ2o/s320/Nyi+Vinondini_cover_edit.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5363258747342591074" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[BUKU INCARAN]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;font-size:130%;"  &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Orang Biasa Menulis Kehidupan Langka&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;---Anwar Holid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vinondini Indriati pernah menulis di muka Facebook saya: "Ordinary people write unordinary life."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan itu cukup pas mewadahi kesan umum atas autobiografinya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nyi Vinon&lt;/span&gt; (Daun Buku, 398 hal., Rp.60.000), yang terbit dalam kemasan cantik-mungil, sehingga sangat enak untuk dibawa-bawa sepanjang waktu sampai habis dibaca. Saya membolak-balik buku itu, menandai bagian yang asyik dan mengesankan, akhirnya berani bilang betapa seorang individu yang tampak biasa-biasa saja, ternyata memiliki isi kepala, pandangan hidup, dan komentar terhadap dunia beserta segala halnya, yang begitu ramai, unik, bahkan kadang-kadang aneh dan mencengangkan. Seperti keberaniannya menulis "unordinary", dan bukan memilih "unorthodox", "extraordinary", atau "uncommon" meski artinya serumpun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dalam beberapa minggu agak tekun membaca-baca autobiografi tersebut, terasa betapa buku ini asyik, lucu, jujur, lancar, sederhana, sekaligus mendasar. Memang ada kala tulisannya merembet ke mana-mana, akibat ingin mengomentari banyak hal, tapi dia terus berusaha fokus dari bagian ke bagian. Karakter dirinya nyata dan jelas-jelas tampak di setiap fase kehidupan dan pemikiran. Dari segi penuturan, buku itu melesat berhasil menghindari klise autobiografi yang membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Publik yang skeptik mungkin akan bertanya-tanya, siapakah Vinon sampai berani-berani bikin autobiografi di usia awal tiga puluhan? Apa dia membuat terobosan sejarah? Mengalami drama kemanusiaan begitu hebat? Bila itu pijakannya, orang akan kecewa. Karena menulis tentang kehidupan "biasa" itu, yang terasa pada bukunya bukan heroisme, menghebatkan diri,  atau mencela orang lain, melainkan mengamat-amati dan berketapan hati. Meski ada-ada saja, perjalanan hidup Vinon pada dasarnya masih terbilang biasa untuk ukuran orang kebanyakan. Dia menghabiskan sekolah dengan ikut Pramuka, ekstrakurikuler, aktif di banyak kegiatan, atau membentuk peer group yang solid. Bagi sebagian anak SMA, terpilih sebagai peserta AFS mungkin terbilang istimewa. Tapi bukan itu poinnya. Yang paling berharga dari bukunya ialah proses penemuan diri, bahwa hidup merupakan serangkaian pilihan dan tanggung jawab, dan itu akan berlangsung terus memasuki periode baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai anak dari keluarga pengelola pabrik gula di Cirebon, masa kecil Vinon berlangsung menyenangkan, penuh permainan dan kegiatan, sebagian mengandung balutan mitos agama Islam setempat. Meski mengakui bahwa lingkungan pabrik gula merupakan subkultur, Vinon bukan tipe anak sok atau pertentangan kelasnya meruncing jadi permusuhan. Keluarganya memperlihatkan moral dan toleransi tinggi. Di sebelah rumahnya ada asrama zending, tempat kawan-kawan ayahnya main catur, sementara Vinon bersama kakak dan adik main ketangkasan bernama "jembatan sirotol mustakim" untuk menentukan apa mereka akan masuk neraka atau surga.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Sm4faTwYAqI/AAAAAAAAApI/BG_47DHdgdo/s1600-h/nyi+vinon+cover.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Sm4faTwYAqI/AAAAAAAAApI/BG_47DHdgdo/s320/nyi+vinon+cover.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5363258743085073058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dia mengutip sebuah hadis Qudsi, salah satu teks suci dalam agama Islam: &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Barangsiapa mengetahui dirinya, sesungguhnya ia mengetahui Tuhan yang menjadikannya&lt;/span&gt;. Itulah tujuan besar dari autobiografi tersebut: dia ingin memahami diri sendiri. Kehidupan Vinon banyak cerita, penuh interaksi dengan orang lain, dan karena itu membuat buku ini berharga. Dia cukup utuh menceritakan perkembangan kesadaran pemikiran dan emosional dirinya. Berkisah dari masa kecil bersama keluarga, sekolah, kuliah, aktivitas, keyakinan, tempat tinggal, kawan, dan pekerjaan dengan bahasa riang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab paling menarik dalam buku ini ialah mengenai kepercayaan. Komentarnya tentang keyakinan, agama, sisi spiritualitas manusia, pandangannya tentang Tuhan, jangan-jangan bisa membuat orang yang beriman secara dogmatis jadi tambah putus asa. Mengherankan betapa orang awam bisa menemukan keyakinan pribadi yang begitu lain dengan orang kebanyakan. "Penemuan" seperti itu sungguh luar biasa, apalagi bila kita bandingkan dengan ajaran maupun mitos yang dia terima sejak kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, sebelum terbit seperti sekarang, autobiografi ini sudah beredar dari tangan ke tangan (bukan tertangkap tangan) di kalangan teman-teman dan keluarga dekatnya. Namun rupanya aspek dalam buku ini---mulai dari kekayaan budaya, perkembangan pemikiran, hingga uraian psikoanalisis terhadap dirinya---melebarkan distribusinya hingga sampai ke tangan dosen antropologi maupun psikologi untuk dijadikan bahan kajian. Atas desakan kakaknya, akhirnya buku ini terbit dengan pantas, mendapat sentuhan editing dan desain yang bagus. Vinon sendiri terinspirasi menulis biografi setelah membaca autobiografi karya seorang kerabat tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah buku pertama ini, bila nanti berniat dan berhasil menuntaskan, Vinon akan menulis pengalamannya memasuki periode pernikahan, membentuk keluarga, menjadi orangtua. Subjudul "sastra pranikah" mengindikasikan hal itu. Buku ini berakhir dengan pertanyaan: "Dengan siapa saya menikah nanti?" Buku ini menunjukkan betapa untuk mengetahui diri sendiri individu belajar banyak kepada keluarga, warisan budaya, sekolah, teman, dan mempelajari diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Autobiografi ialah buku yang mempertaruhkan kejujuran kepada publik. Vinon telah memilih dalam hal apa saja dia jujur mengungkapkan dirinya dengan cara yang sangat langka.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anwar Holid, bekerja sebagai editor dan penulis; eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Copyright © 2008 BUKU INCARAN oleh Anwar Holid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vinondini Indriati maupun sebagai Nyi Vinon bisa ditemui di http://www.facebook.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17631250-69268685646914282?l=halamanganjil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://halamanganjil.blogspot.com/feeds/69268685646914282/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=17631250&amp;postID=69268685646914282' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/69268685646914282'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/69268685646914282'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://halamanganjil.blogspot.com/2009/07/buku-incaran-orang-biasa-menulis.html' title=''/><author><name>[HALAMAN GANJIL] &amp;amp; TEXTOUR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08821802693843388343</uri><email>wartaxfenfen@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='10817234696267325743'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Sm4fajnclGI/AAAAAAAAApQ/_ZDsyF0LJ2o/s72-c/Nyi+Vinondini_cover_edit.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17631250.post-8597181906543891094</id><published>2009-07-21T12:09:00.000-07:00</published><updated>2009-07-21T12:21:52.093-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anwar Holid'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='The Cosmos Rocks'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Review'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Queen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Queen + Paul Rodgers'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SmYT5tAUi5I/AAAAAAAAAo4/_Z0wbC2uOiY/s1600-h/queen+%26+paul+rodgers,+the+cosmos+rocks.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SmYT5tAUi5I/AAAAAAAAAo4/_Z0wbC2uOiY/s320/queen+%26+paul+rodgers,+the+cosmos+rocks.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5360994288485567378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;[review album]&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);font-size:130%;" &gt;Half Queen atau Sekalian Queer&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;The Cosmos Rocks&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Band: Queen + Paul Rodgers&lt;br /&gt;Rilis: 15 September 2008&lt;br /&gt;Genre: Hard rock, Pop Rock&lt;br /&gt;Durasi: 58:46  (14 track)&lt;br /&gt;Label: Parlophone [UK], Hollywood [dunia]&lt;br /&gt;Produser: Queen + Paul Rodgers&lt;br /&gt;Rating: **&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas kebaikan Budi Warsito, aku akhirnya bisa mendapatkan The Cosmos Rocks, album Queen bareng vokalis Paul Rodgers. Beberapa bulan sebelumnya, dia juga meminjami aku majalah Mojo dengan edisi utama membahas Queen setelah Freddie Mercury meninggal, sekalian membahas meluncurnya The Cosmos Rocks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Queen + Paul Rodgers merupakan pilihan aman namun mungkin penuh beban. Apalagi "Queen" sekarang hanya terdiri dari Brian May (gitar) dan Roger Taylor (drum), sebab John Deacon (bass) telah memilih pensiun. Rasanya aneh grup tanpa Freddie Mercury dan John Deacon masih nekat bernama Queen. Mungkin lebih tepat kalau namanya "Half Queen" atau sekalian "Queer." Di studio, saat menggarap The Cosmos Rocks, May dan Taylor juga yang gonta-ganti mengisi seksi bass. Sementara Danny Miranda bertanggung jawab saat tur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tambah" Paul Rodgers menjelaskan bahwa dia bukanlah anggota Queen dan suatu saat posisinya bisa diganti siapa saja, misalnya oleh Mbah Surip. Rodgers juga tidak digadang-gadang sebagai pengganti Freddie. Jadi di album ini dua pihak membawa diri sendiri untuk menghasilkan sebuah album. Ini seperti dulu Queen bekerja sama dengan David Bowie dan mau mengundang Michael Jackson. Jadi ada duet vokal, sementara sekarang mereka kehilangan dua pilar utama. Kini, bayangkanlah pita suara Freddie putus sama sekali dan gagal berfungsi kembali, lantas Queen mengundang Paul Rodgers untuk menyanyikan lagu Queen, sementara Freddie menonton dan mengawasi pertunjukan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya kita seperti dihantui sesuatu. Album ini lumayan asyik, tapi rasanya ada yang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin sebagian orang berpendapat lebih baik Queen pensiun begitu Freddie mati, biar mereka jadi fosil dengan jejak masa lalu gemilang. Dulu penggemar Queen sudah cukup sangat kecewa dengan Hot Space (1982), The Cosmos Rocks lebih mengerikan lagi bila dibandingkan album itu. Atau sebagian orang seperti aku akan bilang: carilah pengganti Freddie yang pantas. Usulku cuma satu: hanya George Michael. Waktu menyanyikan "Somebody to Love," dia membuktikan bahwa dirinya pantas. Biar nanti Queen tak perlu lagi repot mencantumkan tanda "tambah" di cover albumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajar bila kemudian rata-rata review memberi 2 bintang dari skala 5. Yang memberi nilai bagus hanya Classic Rock dan Record Collector. Blender dan The Observer memberi nilai satu; Rolling Stone, The Guardian, dan Allmusic.com memberi dua. Metacritic memberi skor The Cosmos Rocks 42/100, ada di urutan ke 24 album terburuk yang paling sering diulas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar album ini seperti "gampangan", langsung kena, seperti kita dengar Bad English atau Firehouse, grup pop rock kebanyakan, namun kita akan lekas kehilangan semangat untuk memperhatikan lebih lanjut. Habis sudah kompleksitas khas Queen yang terakhir kita dengar di album Innuendo. Queen sebenarnya tidak rumit-rumit amat, katakanlah dibandingkan Led Zeppelin, tapi jelas mereka termasuk grup yang inovatif, menggebu-gebu, dan suka menawarkan penemuan. The Cosmos Rocks kekurangan semangat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling berharga dari The Cosmos Rocks mungkin gitar Brian May. Inilah satu-satunya yang bisa meyakinkan kita bahwa ini memang asli Queen. Kita masih bisa dengar betapa gitarnya mengisi hampir semua kekosongan, menjelajah dari track ke track. Sulitnya, beberapa lagu terdengar klise karena seperti ingin mengulang kesuksesan We Will Rock You, Crazy Little Thing Called Love, We Are The Champions, atau Who Wants to Live Forever, dan itu membuat secara keseluruhan upaya May jadi kepayahan. Analis Queen bilang, andai Deacon masih mau berpartisipasi, mungkin Queen tertolong, karena Deacon suka melahirkan hits yang sangat orisinal, seperti Another Ones Bites the Dust.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu paling kuat di album ini ialah C-lebrity, lagu tentang betapa orang kini makin mudah mendapat popularitas, dan Say It's Not True, yang emosional. Cosmos Rockin', track pertama album ini, bersemangat, nendang, dan catchy, ingin membuktikan bahwa rocker gaek ini masih berusaha keras menggoyang dunia dan musik membuat mereka hidup. Still Burnin' awalnya hebat, tapi di ujung, hentakan nada ulangan mirip We Will Rock You membuat aku patah semangat.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SmYT5z7xzII/AAAAAAAAApA/apv6Y95LR8I/s1600-h/queen_%26+paul+rodgers.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 250px; height: 250px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SmYT5z7xzII/AAAAAAAAApA/apv6Y95LR8I/s320/queen_%26+paul+rodgers.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5360994290345561218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tentu menyedihkan bahwa grup yang pernah sangat hebat dan grandeur, kini jatuh ke jebakan klise. May dan Taylor ada baiknya ikut jalan Robert Plant dan Jimmy Page, yaitu berhenti menggunakan nama Led Zeppelin setelah Bonham meninggal, apalagi bila tidak ditemani John Paul Jones. Kalau pakai nama May, Taylor, &amp;amp; Rodgers, mungkin orang masih tetap perhatian, mengingat riwayat masing-masing di ranah rock. Paul Rodgers, terutama di Inggris, juga merupakan rocker yang sangat dihormati karena pernah gabung dengan empat grup hebat. Tapi di The Cosmos Rocks, vokalnya hanya mengingatkan aku pada Doug Pinnick dari King's X.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dengar The Cosmos Rocks, aku menaruh list album ini jauh di bawah Mbah Surip. Walau sama-sama sudah tua, Mbah Surip lebih bisa bikin aku tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keep on rockin'![]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;font-size:85%;" &gt;Anwar Holid, penggemar Queen sejak SMP. Bekerja sebagai editor, penulis, &amp;amp; publisis. Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Situs terkait:&lt;br /&gt;http://www.queenonline.com&lt;br /&gt;http://www.queenpluspaulrodgers.com&lt;br /&gt;http://www.queenarchives.com/index.php?title=The_Cosmos_Rocks_Press&lt;br /&gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Queen_%2B_Paul_Rodgers&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-family: verdana; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Catatan: Di Facebookku, posting ini mendapat respons yang sangat berharga dari Akmal Nasery Basral, wartawan dengan pengetahuan musik mumpuni.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17631250-8597181906543891094?l=halamanganjil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://halamanganjil.blogspot.com/feeds/8597181906543891094/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=17631250&amp;postID=8597181906543891094' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/8597181906543891094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/8597181906543891094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://halamanganjil.blogspot.com/2009/07/review-album-half-queen-atau-sekalian.html' title=''/><author><name>[HALAMAN GANJIL] &amp;amp; TEXTOUR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08821802693843388343</uri><email>wartaxfenfen@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='10817234696267325743'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SmYT5tAUi5I/AAAAAAAAAo4/_Z0wbC2uOiY/s72-c/queen+%26+paul+rodgers,+the+cosmos+rocks.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17631250.post-57422497575041083</id><published>2009-07-08T14:40:00.000-07:00</published><updated>2009-07-08T14:53:36.287-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bicara Filsafat Dalam Bahasa Semua Orang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='The Story of Philosophy (Bryan Magee)'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kanisius'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BUKU INCARAN'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SlUUdElbB7I/AAAAAAAAAog/KPp6CthmQnU/s1600-h/The+story+of+philosophy_dedy_jalal_Bolo_edit1.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 126px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SlUUdElbB7I/AAAAAAAAAog/KPp6CthmQnU/s320/The+story+of+philosophy_dedy_jalal_Bolo_edit1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356209821506537394" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Bicara Filsafat Dalam Bahasa Semua Orang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;--Anwar Holid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari seratus orang hadir menyimak diskusi bertajuk "pemurnian pikiran melalui filsafat," menghadirkan Jalaluddin Rakhmat dan Yosef Dedy Pradipto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANDUNG - Penerbit Kanisius mengadakan diskusi buku filsafat yang berhasil menyita perhatian banyak orang. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Story of Philosophy&lt;/span&gt; karya Bryan Magee (Kanisius, 240 h.) mampu menarik banyak massa, terutama kalangan muda. Aula Gedung Pasca Sarjana Universitas Parahyangan, Bandung pada Senin, 6 Juli 2009 penuh. Banyak hadirin mesti menyiapkan kursi sendiri karena yang disediakan panitia sudah penuh terduduki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawaran panitia memang menarik. Dalam acara itu peserta bisa mendapat buku pengantar filsafat dengan kemasan mewah itu seharga Rp.250.000,- sekaligus mendengar komentar kedua sarjana mengenai relevansi filsafat bagi manusia. Jalaluddin Rakhmat menyoroti salah satu detail buku tersebut, yaitu fragmen pencerahan filsafat Boethius ketika ia menyelesaikan buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;De Consolatione Philosophiae&lt;/span&gt; (Penghiburan Filsafat) sambil menunggu hukuman mati atas tuduhan makar. Sedangkan Dedy Pradipto memancing penasaran dengan melontarkan pernyataan retorik, "Apa filsafat masih berguna sekarang ini?" Menurut dia, filsafat kerap jadi anak tiri dalam aspek kehidupan manusia, padahal sebenarnya ia merupakan fondasi bagi pembentukan karakter manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Story of Philosophy&lt;/span&gt; merupakan buku pengantar filsafat yang istimewa. Ia merupakan karya seorang sarjana filsafat yang juga ahli di bidang media dan jurnalistik. Hal ini membuat bukunya berhasil memaparkan kajian filsafat menjadi sesuatu yang bisa dinikmati pembaca manapun, dengan segala ciri khas filsafat tetap melekat padanya. "Buku ini membuat filsafat jadi segar," kata Jalaluddin Rakhmat. Dedy Pradipto yang mengajar filsafat di beberapa universitas menyatakan, "Penerbitan buku ini upaya yang sangat berani. Sangat bagus jadi buku wajib mahasiswa saya." Secara berseloroh dia bilang, "Kalau yang meringkas tidak paham filsafat, bisa-bisa pembaca kena stroke."&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SlUUdfRucnI/AAAAAAAAAoo/C-gC7wCuzMg/s1600-h/The+story+of+philosophy_backdrop_kecil.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 242px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SlUUdfRucnI/AAAAAAAAAoo/C-gC7wCuzMg/s320/The+story+of+philosophy_backdrop_kecil.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356209828671681138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Magee menyajikan filsafat dalam bahasa semua orang, dari sudut pandang "kita." Ia bicara dalam tataran sehari-hari, berhasil melenturkan yang sulit menjadi sederhana, dari rumit menjadi simpel. Beragam buku pengantar filsafat memang telah hadir di toko buku, termasuk di antaranya berupa komik, meski efektivitasnya mengantarkan filsafat masih bisa dipertanyakan. Tampak ada upaya memopulerkan filsafat oleh berbagai pihak. Magee termasuk yang paling berhasil. Sebagai penggugah selera terhadap filsafat, buku dia penuh oleh ilustrasi yang relevan, baik para filosof maupun objek terkait topik pembicaraan. Dia menyajikan peristiwa apa yang melahirkan pemikiran filsafat dari zaman ke zaman, sejak pra-Socrates sampai gegap gempita kemunculan posstrukturalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filsafat berfungsi sebagai semacam alat bantu fleksibilitas manusia selama mengarungi arus kehidupan. "Ia juga menghindarkan kita dari fundamentalisme," tegas Dedy.&lt;br /&gt;Selain mengajarkan kebajikan, Jalaluddin menyebut bahwa filsafat mampu mempertemukan nilai-nilai universal yang ada dalam semua agama. Kaitan antara filsafat dan agama termasuk sangat dekat, meskipun pertentangan terus terjadi hingga saat kini. Jalaluddin menyebut bahwa sekarang ateisme terasa begitu digjaya mengadapi agama, apalagi pemikiran tokoh seperti Richard Dawkins sangat berpengaruh dan diminati.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SlUUdts9uXI/AAAAAAAAAow/94N5cP-suMg/s1600-h/The+story+of+philosophy_dedy_baca_kecil.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 190px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SlUUdts9uXI/AAAAAAAAAow/94N5cP-suMg/s320/The+story+of+philosophy_dedy_baca_kecil.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356209832544024946" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Antusiasme publik terhadap diskusi buku filsafat ini memunculkan optimisme, meskipun konsumerisme, propaganda politik, godaan popularitas, juga budaya instan terus menggerus hidup manusia, keinginan untuk menjernihkan pikiran dan condong pada kebajikan tetap muncul.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anwar Holid, bekerja sebagai editor dan penulis; eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Copyright © 2008 BUKU INCARAN oleh Anwar Holid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situs terkait:&lt;br /&gt;http://www.kanisiusmedia.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17631250-57422497575041083?l=halamanganjil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://halamanganjil.blogspot.com/feeds/57422497575041083/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=17631250&amp;postID=57422497575041083' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/57422497575041083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/57422497575041083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://halamanganjil.blogspot.com/2009/07/bicara-filsafat-dalam-bahasa-semua.html' title=''/><author><name>[HALAMAN GANJIL] &amp;amp; TEXTOUR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08821802693843388343</uri><email>wartaxfenfen@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='10817234696267325743'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SlUUdElbB7I/AAAAAAAAAog/KPp6CthmQnU/s72-c/The+story+of+philosophy_dedy_jalal_Bolo_edit1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17631250.post-2764915935324635737</id><published>2009-07-08T14:20:00.000-07:00</published><updated>2009-07-08T14:35:34.535-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anwar Holid'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Review'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='John McCain'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menjalani Karakter Sesuai Takdir'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mark Salter'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Biografi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='GPU'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SlUQNue1sFI/AAAAAAAAAoI/L3YaK25hpIA/s1600-h/mccain+cover.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 161px; height: 250px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SlUQNue1sFI/AAAAAAAAAoI/L3YaK25hpIA/s320/mccain+cover.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356205159828795474" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Menjalani Karakter Sesuai Takdir&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;---Anwar Holid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Karakter-Karakter yang Menggugah Dunia&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;br /&gt;Judul asli: &lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Character is Destiny&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;br /&gt;Penulis: John McCain bersama Mark Salter&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;br /&gt;Penerjemah: T. Hermaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Penerbit: GPU, 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Halaman: xix  + 435 h.&lt;/span&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;&lt;br /&gt;ISBN: 978-979-22-4359-8&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JOHN McCAIN, Senator senior dan politisi terkemuka Amerika Serikat, ketika masih berdinas di Angkatan Laut pada 1967 pernah ditembak dan ditangkap tentara Vietnam Utara. Di penjara, dia bukan saja mendapat siksaan mematikan, melainkan juga meninggalkan cacat permanen pada tangan, kini menyebabkan gerakan tubuhnya jadi terbatas. Tapi itu semua tetap membuatnya semangat beraktivitas, berusaha, berpolitik, terlibat aktif dalam kehidupan bangsanya, hingga pada Pemilu AS 2008 lalu menjadi kandidat presiden dari Partai Republik. Apa rahasia kekuatan dan keteguhannya? Karakter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika jadi tawanan perang, menjalani berbagai siksaan dan hinaan yang mencoba meruntuhkan kemanusiaannya, diam-diam ada seorang sipir yang bersimpati atas nasibnya dan memberi dia sedikit kebaikan moral. Kebaikan dari seorang musuh itu menggugah kesadaran McCain, memberi kekuatan pada dirinya untuk menjadi orang yang lebih baik, lebih beriman, dan lebih dahsyat lagi: membuatnya bisa mencintai musuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sipir baik tak dikenal di "Hotel Hanoi Hilton" itu dikenang McCain sebagai salah satu dari 34 orang dengan karakter luar biasa. McCain dan Mark Salter---partner terbaiknya di bidang penulisan---memilih orang-orang itu bukan saja karena mereka menggetarkan dunia, generasi, politik dan pemerintahan, maupun orang-orang dan lingkungan terdekatnya, bahkan ada yang nyaris sulit dipercayai akal sehat, kalau bukan hanya mungkin terjadi berkat mukjizat yang melahirkan keajaiban. Menurut pandangan penulis, semua itu terwujud karena masing-masing figur nyata dalam buku ini memiliki karakter utuh. Mereka bukan saja pantas diteladani, merupakan role model, melainkan juga meninggalkan jejak yang pantas dikenang dan jelas bagi setiap orang. Siapapun mereka, apa pun latar belakangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang teladan itu bisa jadi seorang wanita tukang cuci pakaian gagal sekolah yang di hari tuanya malah mampu mewariskan kekayaan untuk dijadikan beasiswa bagi mahasiswa miskin di kotanya. Itulah yang dilakukan Oseola McCarthy. Bagaimana mungkin ada seorang gadis berkulit hitam yang ketika kecil sakit polio, sepanjang waktu sakit-sakitan, kala tumbuh remaja akhirnya berhasil mengalahkan segala halangan untuk kemudian meraih tiga emas dalam Olimpiade sekaligus memecahkan rekor atletik? Wilma Rudolph melakukannya dengan perjuangan lebih dari hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh ajaib ketika ada seseorang kini menjadi pusat kontroversi ilmu pengetahuan dan sains ternyata itu semua berkat kecenderungan serta ketelatenan masa muda yang nyaris dinilai sia-sia oleh ayahnya. Ketika menyebut sosok itu ialah Charles Darwin, semua orang akan merasa maklum. Bahkan ada anak yang pernah buta total selama delapan tahun, untuk kemudian menjadi penulis produktif dan kritikus sosial terkemuka di zamannya, dan itu dia lakukan secara otodidak. Masihkah kita mau mengingat nama Eric Hoffer yang menulis buku berpengaruh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The True Believer&lt;/span&gt;? Bagaimana pula kisah seorang bintang muda American football yang memutuskan lebih memilih negara daripada liga olahraga sampai panggilan itu merenggut nyawa di luar tanah airnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh jadi pribadi-pribadi yang dikisahkan McCain dan Salter itu akhirnya terkenal dan menciptakan sensasi besar bagi orang lain. Ada kalanya mereka tetap tidak terkenal, bahkan tanpa nama, dan baru kali ini diungkapkan dengan detail menarik, betapa  kisah hidup dan keunggulan mereka menakjubknan. Mereka semua hadir seakan-akan untuk membuat keajaiban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter orang-orang terpilih mampu mengguncang keyakinan sempit banyak kalangan yang suka menghakimi atau menghina orang lain yang sedang tumbuh, bahwa orang berkarakter kuat bukan saja unggul melawan gertak, ancaman, krisis kemanusiaan, pengkhianatan, kegagalan, perang, maupun hukuman mati, melainkan juga memperlihatkan betapa karakter memang harus ditumbuhkan, dirawat, dan dijalani sesuai takdirnya.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SlUQNymv1II/AAAAAAAAAoQ/el0DqKXqy8M/s1600-h/Character+Is+Destiny_cover_alternate_1.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 291px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SlUQNymv1II/AAAAAAAAAoQ/el0DqKXqy8M/s320/Character+Is+Destiny_cover_alternate_1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356205160935707778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;MCCAIN DAN SALTER yakin betul bahwa orang berkarakter kerap lebih mengesankan dan mengundang rasa ingin tahu daripada ulasan sejarah maupun setumpuk buku. Mereka mampu mengguncangkan dunia, menggetarkan hati, mengubah jalan kehidupan peradaban manusia, memperlihatkan bahwa dengan menjadi manusia seseorang bisa memunculkan kualitas terbaiknya. Aksi individu seperti itu membuat kehidupan manusia jadi dramatik, penuh petualangan, berani, bahkan nyaris tanpa kompromi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis tak pandang bulu dalam memilih orang dengan karakter benar-benar mengesankan. Patokannya bukan waktu, tempat, dan periodisasi, melainkan lebih pada konteks sosial dikaitkan dengan tujuh aspek terpenting bagi pembentukan kepribadian manusia, yaitu kehormatan, tujuan hidup, kekuatan, pengertian, penilaian, kreativitas, dan cinta. Sungguh terasa setiap pilihan itu diambil dengan jeli. Orang tersebut bisa siapa saja, berasal dari segala zaman, dari tempat manapun, dan kejadiannya bisa berlangsung di sudut Bumi paling terpencil sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memberi contoh rata-rata enam peribadi untuk keenam aspek, penulis menyuguhkan kisah yang mampu membuat nafas pembacanya tertahan. Namun agak janggal bahwa aspek terakhir, yaitu cinta, malah hanya diberi satu contoh, yaitu Bunda Teresa. Beruntung, kejanggalan itu dibayar dengan mengeksplorasi habis-habisan profil dan moral Santa dari Calcutta tersebut sampai menghabiskan jumlah halaman paling panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek pembentuk karakter tersebut dalam pendewasaan hidup akan melahirkan sifat, semangat, vitalitas, profesi, pilihan, bergumul dengan keberanian, risiko, keteguhan, siksaan, bahkan dalam banyak kasus, bertaruh dengan keputusasaan, kehancuran reputasi, bahkan nyawa. Benar, sebagian orang yang diceritakan di sini tidak mendapat nama besar atau jadi pahlawan ketika mereka menjalani keyakinannya; mereka bahkan ada yang jadi korban politik, pengkhianatan, juga dikalahkan oleh kekuatan alam. Buku ini seakan-akan menjadi pembela bahwa niat baik bila dilaksanakan dengan serius ujung-ujungnya membuahkan isi yang manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditulis oleh dua orang senior, buku ini seolah-olah merupakan testamen generasi tua kepada generasi muda yang akan menggantikannya. McCain dan Salter sangat menekankan kekuatan moral, yaitu kekuatan untuk berkorban demi cita-cita luhur (hal. 427). Itulah bekal awal untuk menjalani karakter yang telah digariskan untuk seseorang. Dalam kehidupan pribadi, John McCain membuktikan sendiri moral tersebut. Terkenal sebagai sosok temperamental dan pantang menyerah, ada kalanya dia berlaku buruk, sampai membuat orang lain terluka atau tersinggung. Bila sudah begitu, ibunya akan tak segan-segan memarahinya.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SlUQOIKeIqI/AAAAAAAAAoY/tW5BIqb5vLk/s1600-h/mccain+senyum.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 291px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SlUQOIKeIqI/AAAAAAAAAoY/tW5BIqb5vLk/s320/mccain+senyum.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356205166722687650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bagi kedua penulis, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Karakter-Karakter yang Menggugah Dunia&lt;/span&gt; merupakan buku hasil kerja sama yang keempat. Buku mereka sebelumnya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Faith of My Fathers&lt;/span&gt; (1999), di Amerika Serikat lebih dulu meledak dan pada 2005 diadaptasi menjadi film televisi. Di sela-sela berbagai kesibukannya, John McCain telah menerbitkan lebih dari sepuluh buku atas namanya, meskipun hampir selalu menggandeng penulis lain; sementara Mark Salter telah bekerja lebih dari empat belas tahun sebagai staf Senator McCain.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anwar Holid, bekerja sebagai editor dan penulis; eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KONTAK: wartax@yahoo.com | Tel.: (022) 2037348 | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Copyright © 2008 BUKU INCARAN oleh Anwar Holid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situs terkait:&lt;br /&gt;http://www.gramedia.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17631250-2764915935324635737?l=halamanganjil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://halamanganjil.blogspot.com/feeds/2764915935324635737/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=17631250&amp;postID=2764915935324635737' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/2764915935324635737'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/2764915935324635737'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://halamanganjil.blogspot.com/2009/07/menjalani-karakter-sesuai-takdir-anwar.html' title=''/><author><name>[HALAMAN GANJIL] &amp;amp; TEXTOUR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08821802693843388343</uri><email>wartaxfenfen@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='10817234696267325743'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SlUQNue1sFI/AAAAAAAAAoI/L3YaK25hpIA/s72-c/mccain+cover.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17631250.post-6747001495940783219</id><published>2009-07-04T13:26:00.000-07:00</published><updated>2009-07-04T13:34:56.761-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='The Story of Philosophy (Bryan Magee)'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kanisius'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Publisitas'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Sk-8GgG_XVI/AAAAAAAAAnw/0fmUeVVFaFo/s1600-h/Leaflet_Bedah+buku+TSP+-+UNPAR_posting.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 226px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Sk-8GgG_XVI/AAAAAAAAAnw/0fmUeVVFaFo/s320/Leaflet_Bedah+buku+TSP+-+UNPAR_posting.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5354705301851299154" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:180%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;Takhayul Membakar Dunia, Filsafat Memadamkannya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;--Anwar Holid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Story of Philosophy &lt;/span&gt;karya Bryan Magee (Kanisius, 240 h.) menyediakan banyak bahan bakar untuk perbincangan seru. Buku ini bukan saja membahas berbagai kecenderungan filsafat dari zaman ke zaman, melainkan juga memantik rasa penasaran, sebenarnya filsafat itu apa guna bagi manusia. Lebih dari itu, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Story of Philosophy&lt;/span&gt; terbit luks dengan desain mewah dan kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggunakan art paper, hard cover, ilustrasi berwarna, buku ini memadukan kekuatan visual art dan keluwesan Bryan Magee mengisahkan sejarah panjang filsafat dari  zaman pra-Socrates hingga zaman posmodern. Unsur visual art yang amat kaya dan relevan dengan setiap subjek pembahasan dalam buku ini terutama diambil dari lukisan, fotografi, patung, etsa, juga arsip-arsip berupa poster, ilustrasi surat kabar dan majalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Di Bandung, Kanisius mengundang KH Prof. Dr. Jalaluddin Rakhmat, M. Sc. dan Rm. Dr. Yosef Dedy Pradipto, Pr. L.Th., M.Hum. untuk membangkitkan semangat publik terhadap pemikiran. Keduanya akan bertemu pada Senin, 6 Juli 2009, mulai pukul 18.30 di Aula Gedung Pasca Sarjana Unpar, Jalan Merdeka No. 30.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Sk-8HKpPIMI/AAAAAAAAAoA/gV5A0zt3MAY/s1600-h/The+story+of+philosophy_frontcover_kecil.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 262px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Sk-8HKpPIMI/AAAAAAAAAoA/gV5A0zt3MAY/s320/The+story+of+philosophy_frontcover_kecil.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5354705313269227714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Peminat bisa mendapat buku + tiket seharga Rp.250.000,- dalam acara ini, sementara bila ingin hadir dan terlibat dalam pertemuan, tiket masuk Rp.25.000,- Panitia menyediakan sertifikat dan snack.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiket box:&lt;br /&gt;* Kanisius Cabang Bandung, Jalan Parakan Resik No. 10, Batununggal, Bandung. Tel. (022) 7512444&lt;br /&gt;* Andi: 08172328361&lt;br /&gt;* Yunanto: (022) 70371434&lt;br /&gt;* Masmuni Mahatma: 08172322278&lt;br /&gt;* Anwar Holid: (022) 2037348, 085721511193&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah diskusi filsafat bisa jadi hanya berlansung kurang dari dua jam. Tapi setelah diskusi resmi bubar, justru pertanyaan-pertanyaan berhamburan dengan semangat. Para peserta yang penasaran atau orang yang masih haus jawaban lantas mencari-cari sumber pengetahuan tiap kali ada kesempatan. Lantas ia kembali mengolah pemikiran, mengungkapkan lagi, mengkritik, menawarkan kepada publik, bertaruh baik dengan keyakinan sendiri maupun gagasan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergumulan itu membuat diskusi filsafat sebenarnya terus berlangsung sepanjang waktu. Ia terjadi dalam buku, di ruang kelas, industri, bahkan obrolan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Sk-8G2kvheI/AAAAAAAAAn4/tgUNEvxiHmg/s1600-h/the+story+of+philosophy_2_posting.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 210px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Sk-8G2kvheI/AAAAAAAAAn4/tgUNEvxiHmg/s320/the+story+of+philosophy_2_posting.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5354705307881670114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"Barangkali memang tidak akan pernah ada jawaban akhir," tulis Bryan Magee pada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ending &lt;/span&gt;buku ini. "Tetapi ada banyak hal bagus di depan untuk kita  pelajari."[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Anwar Holid, bekerja sebagai editor dan penulis; eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17631250-6747001495940783219?l=halamanganjil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://halamanganjil.blogspot.com/feeds/6747001495940783219/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=17631250&amp;postID=6747001495940783219' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/6747001495940783219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/6747001495940783219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://halamanganjil.blogspot.com/2009/07/takhayul-membakar-dunia-filsafat.html' title=''/><author><name>[HALAMAN GANJIL] &amp;amp; TEXTOUR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08821802693843388343</uri><email>wartaxfenfen@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='10817234696267325743'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Sk-8GgG_XVI/AAAAAAAAAnw/0fmUeVVFaFo/s72-c/Leaflet_Bedah+buku+TSP+-+UNPAR_posting.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17631250.post-1520981319313060722</id><published>2009-06-22T14:32:00.000-07:00</published><updated>2009-06-22T14:41:58.223-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jurnal Harian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jendela Ide'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pessoa'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Sj_5O312yAI/AAAAAAAAAmw/_OTlXnaXCjY/s1600-h/Anak+jendela+ide+pertunjukan+di+rumah+marintan,+kecil.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Sj_5O312yAI/AAAAAAAAAmw/_OTlXnaXCjY/s320/Anak+jendela+ide+pertunjukan+di+rumah+marintan,+kecil.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5350268916242761730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;[jurnal harian]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;13_06_2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata aku masih sempat buka-buka The Book of Disquiet (Fernando Pessoa) selama main ke rumah mas Andar Manik &amp;amp; mbak Marintan Sirait di daerah Dalem Wangi, Dago Bengkok (Jajaway), komplek PPR ITB, pada Sabtu, 13 Juni, dari siang sampai magrib. Buku itu menurutku tambah menarik, karena ternyata memuat segala kegelisahan penulisnya---yang bernama Bernardo Soares. Dia seorang asisten perbukuan di sebuah perusahaan pajak yang pendiam; tapi ternyata diarinya betul-betul penuh berisi unek-unek dan berat dengan beragam kedalaman hati yang menakjubkan. Aku yakin, kalau orang punya kesempatan mengungkapkan isi hatinya, kira-kira seperti itulah yang akan mereka omongkan. Rasanya aku pun demikian. Kita jadi benar-benar merasa bicara dengan diri sendiri---yang menurutku lebih sehat daripada mengurusi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Sj_5PDwrhEI/AAAAAAAAAm4/Qn8pTYS22YQ/s1600-h/Logo+Jendela+Ide_kecil.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 318px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Sj_5PDwrhEI/AAAAAAAAAm4/Qn8pTYS22YQ/s320/Logo+Jendela+Ide_kecil.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5350268919442277442" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sambil duduk-duduk di halaman luas yang hijau, di samping hutan di rumah Bintang itu, kepalaku bilang: sudah lama sekali aku enggak menulis diari. Memang aku terus menulis, tapi hampir semua ingin aku jual--yang sebenarnya seret juga, sebagian enggak jelas nasibnya. Aku berharap besar pada awalnya, tapi ternyata enggak laku-laku. Meskipun puas, dalam hati aku bilang bahwa menulis seperti itu terlalu banyak pamrihnya. Tapi gimana lagi, aku ingin dapat sesuatu dari sana.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Sj_6BkFRktI/AAAAAAAAAnY/Sbq_8V5PEgM/s1600-h/The+Book+of+Disquiet,+Pessoa_leutik.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 215px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Sj_6BkFRktI/AAAAAAAAAnY/Sbq_8V5PEgM/s320/The+Book+of+Disquiet,+Pessoa_leutik.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5350269787112051410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Membaca The Book of Disquiet membuat aku merasa seperti itulah harus bila aku menulis: jujur, berani bilang apa saja, tegas, tulus. Antara hati dan kepala sepakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membatin, andai aku lepas tanggung jawab dari kewajiban untuk cari nafkah, mungkin seperti inilah yang ingin aku lakukan. Menulis tanpa pamrih, santai, menikmati sore yang cerah (atau hujan sekalipun), ngopi, abai pada persoalan-persoalan luar dari diriku. Keluarga jelas merupakan persoalan dalam diriku, sebab ia bagian dalam diriku.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Sj_5PEMz2_I/AAAAAAAAAnA/P4AdguvYOtc/s1600-h/Orangtua+JI,+kecil.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Sj_5PEMz2_I/AAAAAAAAAnA/P4AdguvYOtc/s320/Orangtua+JI,+kecil.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5350268919560264690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya hari ini anak-anak Jendela Ide mengadakan shooting untuk acara Cita-citaku di Trans 7; Ilalang ikut ke sana. Para orangtua juga pada datang seperti biasa. Tapi kali ini mbak Marintan meminta kami semua jadi bagian dari pertunjukan, bersorak-sorai, tepuk tangan, bersuit-suit, menyemangati anak-anak yang main. Suasana jadi gembira, banyak tawa, ceria. Selama anak-anak dengan semangat main musik, bergerak, meloncat-loncat, mengadakan pertunjukan, orangtua jadi penonton yang bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Sj_5PsmX4yI/AAAAAAAAAnQ/t7vjhotnZtg/s1600-h/Rumah+Marintan,+detail+pintu+utama.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 129px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Sj_5PsmX4yI/AAAAAAAAAnQ/t7vjhotnZtg/s320/Rumah+Marintan,+detail+pintu+utama.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5350268930404901666" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Acara di rumah mbak Marintan ini katanya merupakan ujung dari cerita shooting mereka. Kalau menurut kang Mehonk, dalam kisah itu ceritanya Digun, Hilmy, dan Gilang bercita-cita jadi pemain perkusi yang bagus. Mereka main ke beberapa tempat komunitas musik perkusi, lantas ujungnya mengadakan pertunjukan dengan teman-teman satu kelompoknya, Jendela Ide Kids Percussions.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Sj_6B1TPAlI/AAAAAAAAAng/4NuwDdNQhDs/s1600-h/Senja+di+Dalem+Wangi,+kecil.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Sj_6B1TPAlI/AAAAAAAAAng/4NuwDdNQhDs/s320/Senja+di+Dalem+Wangi,+kecil.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5350269791734006354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Sj_5PeVHZMI/AAAAAAAAAnI/qEInwieeQzY/s1600-h/Rumah+Marintan,+balkon+kiri,+kecil.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 244px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Sj_5PeVHZMI/AAAAAAAAAnI/qEInwieeQzY/s320/Rumah+Marintan,+balkon+kiri,+kecil.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5350268926574421186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Rumah mas Andar Manik &amp;amp; mbak Marintan Sirait dari segi penampilan menurutku sederhana, unsur kayunya begitu banyak---mirip rumah Erwinthon-Vinon di Buka Tanah, yang sebenarnya enggak jauh-jauh amat dari situ. Rumah ini berlantai dua, dengan balkon kembar. Bahkan genteng depannya juga tanpa plafon. Yang mencolok juga ialah ia dirancang begitu terbuka, pintu lebar dan orang bisa masuk baik dari tengah (gerbang utama), kanan, dan kiri. Praktis yang tertutup yang kamar penghuninya---tempat privasi. Dinding dominan tersusun dari batu kali bulat telanjang, jadi tampak seperti telur yang ditempel rapi. Rumah ini jadi sangat kontras dengan rumah-rumah sekitarnya karena bentuknya yang alamiah dan sederhana, beda dengan kebanyakan rumah di sana yang rata-rata megah, kukuh, bergaya modern. Halaman yang luas memberi kelapangan tersendiri. Dalam hati aku bilang: seperti inilah halaman impian Ubing.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Sj_6B_R0pxI/AAAAAAAAAno/RZWSRtuIRu4/s1600-h/Rumah+Marintan,+pintu+utama_kecil.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 235px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Sj_6B_R0pxI/AAAAAAAAAno/RZWSRtuIRu4/s320/Rumah+Marintan,+pintu+utama_kecil.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5350269794412439314" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri rasanya sudah lama sekali nggak pernah ke daerah ini. Mungkin terakhir kali aku ke sini yang waktu ke rumah paman Ilham atau lebih lama lagi, ke rumah mas Taufik Rahzen, persis di bagian atas daerah mbak Marintan. Tadinya juga Ubing dan Shanti mau ikut; tapi hujan. Sejujurnya, repotnya pergi bareng sekeluarga ialah soal ongkos angkot yang terasa mahal. Sebenarnya, ongkos itu murah; tapi kalau enggak terjangkau, ya tetaplah mahal. Segala yang tidak terbeli itu artinya mahal. Ah, Wartax, berhenti merusak hari kamu yang sebenarnya menyenangkan.[]19:51&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17631250-1520981319313060722?l=halamanganjil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://halamanganjil.blogspot.com/feeds/1520981319313060722/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=17631250&amp;postID=1520981319313060722' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/1520981319313060722'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/1520981319313060722'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://halamanganjil.blogspot.com/2009/06/jurnal-harian-13062009-ternyata-aku.html' title=''/><author><name>[HALAMAN GANJIL] &amp;amp; TEXTOUR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08821802693843388343</uri><email>wartaxfenfen@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='10817234696267325743'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Sj_5O312yAI/AAAAAAAAAmw/_OTlXnaXCjY/s72-c/Anak+jendela+ide+pertunjukan+di+rumah+marintan,+kecil.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17631250.post-2640353974816729526</id><published>2009-06-22T14:26:00.000-07:00</published><updated>2009-06-22T14:30:53.040-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anwar Holid'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='LEBIH CEPAT'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='KALAU KAMU INGIN MELANJUTKAN'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ATAU MEMBERI KEJUTAN'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Halaman Ganjil'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Sj_3ie29VwI/AAAAAAAAAmo/_VokL-l_HSE/s1600-h/SBY,+JK,+Mega,+Prabowo.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 113px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Sj_3ie29VwI/AAAAAAAAAmo/_VokL-l_HSE/s320/SBY,+JK,+Mega,+Prabowo.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5350267054110627586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-weight: bold;"&gt;KALAU KAMU INGIN MELANJUTKAN, LEBIH CEPAT, ATAU MEMBERI KEJUTAN&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;---Anwar Holid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dua kali Jumatan ini, tukang khotbah di depanku selalu bicara tentang pemilihan presiden 2009 yang akan datang. Entah kenapa selama khotbah itu aku juga tidak ngantuk dan mendengarkan pesan mereka. Tentu saja pesan mereka moralistik dan nyaris absurd, sebab menginginkan pemimpin yang tidak tersedia dalam pilihan. Mereka bilang, pilihlah pemimpin yang adil bijaksana, bertakwa kepada Tuhan, menolong orang miskin, meneladani moral dan tindakan Muhammad Saw. Pesan itu membuat hatiku tertawa sebelum akhirnya ikut shalat Jumat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumus pemilihan presiden tahun 2009 ini sebenarnya sederhana. Kalau kamu ingin MELANJUTKAN semua yang terjadi di Indonesia selama ini, pilihlah SBY-Boediono. Kalau kamu yakin bahwa LEBIH CEPAT LEBIH BAIK, pilihlah JK-WIRANTO. Kalau kamu ingin MEMBERI KEJUTAN kepada negerimu, tinggal pilih MEGA-PRABOWO. Kalau kamu malas dengan tiga pilihan itu, tidurlah pada hari pemilihan umum atau sibuk ikut Facebook. Setel musik, putar film, lihat gosip, baca tabloid. Ada banyak pilihan menarik juga di hari itu, dan sisanya kemungkinan tetap akan baik-baik saja sampai lima tahun ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagi sebagian orang, pemilihan presiden itu penting. Budi Warsito, temanku yang tinggal di Ujung Berung bilang, "Pemilihan presiden itu penting lho mas. Kan menentukan kepala negara. Mau apa kita kalau salah pilih? Jadi aku akan milih satu di antara dua. Satu lainnya itu mah sudah jelas bukan pilihan. Enggak mau saya milih itu." Urip Herdiman Kambali, penyair tinggal di Jakarta, dalam posting "Isu Pertahanan Dalam Kampanye Pilpres 2009" membahas betapa memprihatinkannya wawasan pertahanan ketiga calon pasangan kepala negara itu---meskipun tiga-tiganya punya unsur militer. Dua orang tukang khotbah barusan jelas akan ikut mencontreng, meski dia tentu bakal bingung sendiri menentukan siapa pasangan yang sesuai dengan pesannya. Pendapat itu akan menghantui dirinya, karena ternyata suaranya mirip gaung kosong. Sejumlah ilmuwan bayaran, tim sukses, pemeran beserta rombongan dalam iklan politik, sudah pasti akan memilih patron masing-masing. Seorang saudaraku malah lebih tegas lagi: dia akan cabut ke luar negeri kalau jagoannya kalah. Dia menolak bila harus dipimpin oleh orang bukan pilihannya. Keputusan berani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga sudah berkali-kali menerima email baik berupa dukungan dan hujatan atas ketiga pasangan itu, tapi semua langsung aku delete. Aku menganggap itu sama dengan email ajakan bisnis internet dengan pendapatan lima milyar sebulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri hidup tanpa patron politik, sementara iklan politik hanya membuat bibirku bergerak sedikit, dan boleh dibilang sudah kehabisan patriotisme. Jadi kemungkinan aku akan sekadar jadi komentator. Negara dan politik kerap hanya membuat aku sedih. Ia sama dengan komoditas. Berguna kalau ada maksudnya. Ia digunakan untuk kepentingan tertentu. Aku nangis nonton Letters from Iwo Jima dan Flag of Our Fathers (karya Clint Eastwood), juga film-film pendek dalam 9/11, baca Angsa-Angsa Liar (Jung Chang), tapi entah kenapa itu hanya mengeraskan pendapat bahwa manusia adalah korban situasi politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking nihil, aku bahkan berspekulasi, meski penderita paranoid mengepalai negeri ini pun sebenarnya kita tetap bisa baik-baik saja. Bahkan mungkin hal itu bisa memberi peluang terjadinya kejutan. Lihatlah pengalaman sejarah. Bukankah sebagian kepala negara, kaisar, atau raja itu menderita sakit tertentu? Zaman perang dan sengsara yang hebat malah bisa membentuk manusia hebat. Sartre besar setelah dia melewati zaman perang yang fatal. Zaman penjajahan yang menakutkan memberi bekas pada karya-karya Budi Darma yang legendaris. Krisis identitas dan rasialisme di Amerika Serikat mewujudkan sosok yang berpengaruh dalam diri Barack Obama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaman hedonistik seperti sekarang melahirkan filsuf dekaden seperti Michel Foucault. Kemajuan teknologi informasi memungkinkan Anwar Holid merasa perlu sibuk mengurusi soal yang dia anggap penting. Membuat setiap orang kalau mau bisa tampil sesuai gambaran yang dia inginkan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayo kita awas sebentar. Rezim Suharto yang konon represif toh masih menyisakan banyak pemuja fanatik. Presiden Gus Dur yang konon pahlawan HAM, suka ceplas-ceplos, dan egaliter ternyata malah diberhentikan dengan paksa. Apa SBY-JK berhasil membuat kehidupan sosial dan ekonomi kita semua lebih baik? Apa kebijakan politik, campur tangan mereka, benar-benar merupakan wujud kemurahhatian sebagai kepala negara?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada banyak orang selamat dan baik-baik saja ketika Hitler memimpin Jerman secara mengerikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaib. Meskipun skeptis pada politik, ternyata aku masih bisa menulis soal ini dengan gembira, seakan-akan harapan tetap ada, bahwa dengan menuliskannya aku akan bahagia. Sekilas aku perhatikan, iklan politik tiga calon presiden dan wakilnya itu hanya terdiri dari tiga jenis, yaitu (1) mengusung mitos megalomaniak, (2) dukungan-sokongan, (3) pamrih nama. Di Bandung, walikota Dada Rosada mendukung JK-Wiranto, sejumlah kaum petani ada di belakang Prabowo, dan intelektual bayaran memasang spanduk untuk mendukung SBY. Aku pilih mendukung diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sekarang bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapanku sederhana. Semoga Jumat depan aku enggak mendengar lagi omong kosong tentang pemilihan presiden, apalagi dengan kriteria pemimpin ideal untuk bangsa ini. Atau kalau tukang khotbah tetap ngotot, semoga aku sudah tertidur, dan bangun-bangun tinggal shalat. Setelah itu, aku ingin melanjutkan, lebih cepat, dan memberi kejutan atas kerja-kerja yang jadi tanggung jawabku.[]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17631250-2640353974816729526?l=halamanganjil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://halamanganjil.blogspot.com/feeds/2640353974816729526/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=17631250&amp;postID=2640353974816729526' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/2640353974816729526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/2640353974816729526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://halamanganjil.blogspot.com/2009/06/kalau-kamu-ingin-melanjutkan-lebih.html' title=''/><author><name>[HALAMAN GANJIL] &amp;amp; TEXTOUR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08821802693843388343</uri><email>wartaxfenfen@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='10817234696267325743'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Sj_3ie29VwI/AAAAAAAAAmo/_VokL-l_HSE/s72-c/SBY,+JK,+Mega,+Prabowo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17631250.post-2684453471594421079</id><published>2009-06-10T11:49:00.000-07:00</published><updated>2009-06-22T14:23:46.224-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Warisan Literer Bernama Tetralogi Laskar Pelangi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tetralogi Laskar Pelangi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='BUKU INCARAN'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Publisitas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Andrea Hirata'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SjADBmZIJGI/AAAAAAAAAmA/rmw6PXTMaIE/s1600-h/Maryamah+Karpov+images+%40+IBF3.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 202px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SjADBmZIJGI/AAAAAAAAAmA/rmw6PXTMaIE/s320/Maryamah+Karpov+images+%40+IBF3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5345776083709469794" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;font-family:verdana;font-size:130%;"  &gt;Warisan Literer Bernama&lt;br /&gt;Tetralogi Laskar Pelangi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;---Anwar Holid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja saya menemukan kartu voucher isi ulang seri Laskar Pelangi keluaran sebuah operator telepon selular. Gambarnya sama dengan versi poster film tersebut. Begitu melihat kartu itu, angan-angan saya mencari tahu, produk apa saja yang sudah memanfaatkan merchandise dari turunan karya ini? Apa sudah ada cangkir dan handuk bergambar Laskar Pelangi? Mendadak saya membatin, "Kalau sudah begitu berhasil menyelusup ke banyak celah kehidupan, apa buku itu pantas disebut sebagai warisan literer bangsa Indonesia?"&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Sj_2M9EJcyI/AAAAAAAAAmg/TFvZZDswpbg/s1600-h/laskar+pelangi+kartu+flexi.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 203px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Sj_2M9EJcyI/AAAAAAAAAmg/TFvZZDswpbg/s320/laskar+pelangi+kartu+flexi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5350265584750261026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan ini seakan-akan terasa "grandeur", tapi entah kenapa saya tergoda untuk menemukan jawabannya. Boleh jadi karena meledaknya tetralogi Laskar Pelangi membuat saya mengira bahwa novel ini merupakan contoh sempurna dari teori "Black Swan" (Angsa Hitam), yakni sesuatu yang muncul secara mendadak, kebetulan, namun pengaruhnya mampu meruntuhkan pandangan dunia sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengeksplorasi sejumlah komentar terhadap tetralogi tersebut. Cukup banyak komentar tersedia, bahkan sebuah situs mencuplik pendapat saya sendiri terhadap Laskar Pelangi, yakni berasal dari kolom Selisik (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Republika&lt;/span&gt;), pada 30 Januari 2006: "Laskar Pelangi nyata-nyata mampu menarik perhatian publik dan membuat banyak orang merasa terlibat." Waktu itu saya menghadiri talkshow di Galeri Soemardja, ITB beberapa minggu setelah novel itu terbit. Orang-orang membahas isu pendidikan di dalamnya. Salah satu aspek menonjol yang lahir dari fenomena Laskar Pelangi ialah betapa tetralogi ini mampu menjadi bahan pembicaraan banyak orang terutama dalam hal pendidikan dan berhasil memenuhi selera massa yang begitu besar---meski golongan yang resisten juga terus-menerus mempertanyakan ada apa di balik fenomena tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya butuh pendapat yang relevan dan cukup menguatkan bahwa tetralogi ini memang pantas untuk dinisbatkan sebagai warisan literer Indonesia, kira-kira setara bila kita dengan bangga menyebut-nyebut bahwa sebuah buku tertentu pantas masuk dalam kategori masterpiece (adikarya)? Adakah syarat tertentu yang membuat sebuah buku bisa dianggap sebagai warisan literer? Atau boleh semata-mata dilihat dari penerimaan publik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misal pada kasus gambar kartu voucher isi ulang tadi. Operator telepon selular memilih mengeluarkan kartu voucher seri para pesohor jelas karena alasan dan sasaran khusus, di antaranya ialah mempertimbangkan faktor popularitas. Seperti dulu saya pun pernah mengambil kartu voucher bergambar Coldplay, grup rock asal Inggris yang mendunia. Karena image mereka sudah begitu familiar, operator berharap massa bisa dengan mudah menyerap komoditas tersebut. Di sisi lain, produser merasa telah mengeluarkan sesuatu yang berharga, collectible (pantas dikoleksi dan dicari-cari), dan membanggakan buat pangsa pasarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga halnya dengan Laskar Pelangi. Sebagai komoditas, dikemas lewat berbagai media Laskar Pelangi tetap mampu menarik minat banyak orang. Berbagai produk turunan dari sana pun tetap diserbu pembeli, bahkan berpotensi menjadi fetish. Itu menunjukkan mereka sama-sama merasa ikut memiliki atas sebuah produk. Ingin menjadi bagian dari budaya massa.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SjADBpwm4iI/AAAAAAAAAmI/kgT1uCw5kfE/s1600-h/Maryamah+Karpov+images+%40+IBF1_edit.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 257px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SjADBpwm4iI/AAAAAAAAAmI/kgT1uCw5kfE/s320/Maryamah+Karpov+images+%40+IBF1_edit.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5345776084613259810" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Komentar Riri Riza (sutradara) dan Mula Harahap (pelaku penerbitan) terhadap novel tersebut mungkin cukup bisa menggambarkan kekuatan kandungan sosio-kultur di dalamnya. Kata Riri, "Andrea Hirata memberi kisah indah tentang keragaman dan kekayaan tanah air, sekaligus memberi pernyataan keras tentang realita politik, ekonomi, dan situasi pendidikan kita. Tokoh-tokoh dalam novel ini membawa saya pada kerinduan menjadi orang Indonesia." Sementara Mula berkomentar, "Cerita-cerita yang dituturkan oleh Andrea Hirata ini menjadi menarik karena ia diletakkan dalam setting Magai yang terpencil itu, tempat budaya Melayu berinteraksi dengan budaya Cina Khek, dimana ekonomi nelayan berinteraksi dengan ekonomi perusahaan tambang timah, dan nilai moral Islami berinteraksi dengan nilai modern yang dekaden."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari sejumlah bocel yang diperlihatkan oleh para pengkritik untuk membuktikan kelemahan kisah tersebut, tetralogi Laskar Pelangi menyimpan banyak daya tarik. Begitu kuat dayanya, hingga bisa mempengaruhi keluarga-keluarga yang awalnya boro-boro mau belanja buku selain buku wajib untuk sekolah anaknya, akhirnya rela membelikan novel itu dengan harapan agar anaknya terinspirasi oleh Ikal dan kawan-kawan.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SjADCLjkOnI/AAAAAAAAAmY/-_lM2jLVa-Y/s1600-h/Maryamah+Karpov+images+%40+IBF2_edit.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 195px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SjADCLjkOnI/AAAAAAAAAmY/-_lM2jLVa-Y/s320/Maryamah+Karpov+images+%40+IBF2_edit.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5345776093685365362" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kritik yang paling menarik minat saya terhadap tetralogi tersebut ialah kajian sisi poskolonialisme di dalamnya. Topik ini mula-mula muncul dari esai Heru Hikayat---yang lebih terkenal sebagai kurator seni rupa daripada kritikus buku---untuk diskusi lain Laskar Pelangi di sebuah universitas. Persoalan itu muncul lagi dari esai "Mengantar dari Luar" (Puthut E.A.) dan buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;LASKAR PEMIMPI; Andrea Hirata, Pembacanya dan Modernisasi&lt;/span&gt; (Nurhadi Sirimorok). Ketiga orang ini penasaran, kenapa Ikal begitu terpikat pada Jakarta, sementara masyarakat kaumnya menganggap bahwa Jawa merupakan simbol peradaban, kemudian saat dewasa menilai Eropa sebagai jantung kemajuan umat manusia. Mereka menemukan ternyata Ikal inferior terhadap budaya sendiri, dan kerap menjadikannya sebagai bahan olok-olok. Ironi yang menghibur. Kritik Puthut E.A. masuk akal: "Semoga akan ada banyak karya yang mengkritisi isi produk sastra kita; semoga ada yang punya waktu luang, kesabaran dan keberanian untuk membeberkan dimensi politik dan ekonomi sastra kita. Tanpa pengetahuan soal itu, para pelaku sastra ibarat bermain pedang di lanskap gelap."&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SjADB8RpvlI/AAAAAAAAAmQ/i4wfwrZXAME/s1600-h/Maryamah+Karpov+images+%40+IBF4.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 218px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SjADB8RpvlI/AAAAAAAAAmQ/i4wfwrZXAME/s320/Maryamah+Karpov+images+%40+IBF4.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5345776089583697490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Maryamah Karpov&lt;/span&gt; (Bentang, 2009)---novel terakhir tetralogi Laskar Pelangi---olok-olok itu sangat terasa, sampai menghabiskan hampir seperempat bagian isi buku. Meski begitu, Ikal kembali pada akarnya, menggali dan mengagungkan kekuatan budaya setempat, menggunakan warisan leluhurnya. Dia berani menanggalkan atribut kebanggaan setelah merantau amat jauh dari luar pulau untuk menyadari betapa kaumnya sendiri memiliki sesuatu yang pantas dibanggakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai produk budaya, tetralogi Laskar Pelangi cukup universal, ia bisa dinikmati baik oleh orang dewasa dan anak-anak. Isu utama yang muncul dari komoditas produk tersebut ialah soal pendidikan, warisan budaya, identitas, dan penghormatan pada orangtua. Rupanya, publik juga menerima strategi tersebut dengan antusias. Ini terlihat dari reaksi para guru, orangtua, murid-murid, pembaca buku, juga penonton film. Produk turunannya boleh dibilang selalu mereka tunggu. Seperti sekarang, ketika film Sang Pemimpi sedang dalam tahap proses produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, apakah publik akan benar-benar menganggap rangkaian buku Laskar Pelangi ini sebagai warisan budaya atau semata-mata komoditas, bisa jadi bergantung pada penilaian masing-masing orang, terutama seberapa berharga makna buku tersebut buat dirinya.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANWAR HOLID, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung. Bekerja sebagai editor &amp;amp; penulis freelance. Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KONTAK: wartax@yahoo.com | Tel.: (022) 2037348 | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Copyright © 2008 oleh Anwar Holid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi lebih banyak di:&lt;br /&gt;http://www.klub-sastra-bentang.blogspot.com&lt;br /&gt;http://www.mizan.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17631250-2684453471594421079?l=halamanganjil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://halamanganjil.blogspot.com/feeds/2684453471594421079/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=17631250&amp;postID=2684453471594421079' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/2684453471594421079'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/2684453471594421079'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://halamanganjil.blogspot.com/2009/06/warisan-literer-bernama-tetralogi.html' title=''/><author><name>[HALAMAN GANJIL] &amp;amp; TEXTOUR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08821802693843388343</uri><email>wartaxfenfen@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='10817234696267325743'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/SjADBmZIJGI/AAAAAAAAAmA/rmw6PXTMaIE/s72-c/Maryamah+Karpov+images+%40+IBF3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17631250.post-8999166968523830529</id><published>2009-06-08T12:51:00.000-07:00</published><updated>2009-06-08T13:12:35.398-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Foto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Efek Rumah Kaca'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Foto-foto konser Efek Rumah Kaca di Rumah Buku dalam program "Rukustik"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Si1vexbrYMI/AAAAAAAAAlg/S4ne-ex4cMA/s1600-h/Efek+Rumah+Kaca+%40+Ruku9.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Si1vexbrYMI/AAAAAAAAAlg/S4ne-ex4cMA/s320/Efek+Rumah+Kaca+%40+Ruku9.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5345050907214831810" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Efek Rumah Kaca jadi band pertama yang tampil di Rukustik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Si1vew9XKNI/AAAAAAAAAlY/aG1C37BBIjs/s1600-h/Efek+Rumah+Kaca+%40+Ruku_adrian_cholil.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Si1vew9XKNI/AAAAAAAAAlY/aG1C37BBIjs/s320/Efek+Rumah+Kaca+%40+Ruku_adrian_cholil.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5345050907087677650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Adrian dan Cholil sedang cek sound&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Si1u0C-7X_I/AAAAAAAAAlQ/CvvkUuVHIfo/s1600-h/Efek+Rumah+Kaca+%40+Ruku3.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Si1u0C-7X_I/AAAAAAAAAlQ/CvvkUuVHIfo/s320/Efek+Rumah+Kaca+%40+Ruku3.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5345050173191708658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Rani di belakang terus bekerja merekam acara ini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Si1uzgkhA4I/AAAAAAAAAk4/c5No-7FNbV0/s1600-h/Efek+Rumah+Kaca+%40+Ruku_cholil1.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 229px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Si1uzgkhA4I/AAAAAAAAAk4/c5No-7FNbV0/s320/Efek+Rumah+Kaca+%40+Ruku_cholil1.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5345050163954123650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Cholil nyanyi Hallelujah versi Jeff Buckley&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS: Kalau butuh foto ERK di Rukustik dengan resolusi besar, silakan hubungi aku atau langsung ke Rumah Buku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17631250-8999166968523830529?l=halamanganjil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://halamanganjil.blogspot.com/feeds/8999166968523830529/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=17631250&amp;postID=8999166968523830529' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/8999166968523830529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/8999166968523830529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://halamanganjil.blogspot.com/2009/06/foto-foto-konser-efek-rumah-kaca-di.html' title=''/><author><name>[HALAMAN GANJIL] &amp;amp; TEXTOUR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08821802693843388343</uri><email>wartaxfenfen@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='10817234696267325743'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Si1vexbrYMI/AAAAAAAAAlg/S4ne-ex4cMA/s72-c/Efek+Rumah+Kaca+%40+Ruku9.JPG' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17631250.post-5383576812589763379</id><published>2009-06-08T12:33:00.000-07:00</published><updated>2009-06-08T12:45:31.209-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anwar Holid'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seeking Truth Finding Islam'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Publisitas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seeking Truth Finding Islam di Kamisan FLP Bandung'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Si1pVKuB-FI/AAAAAAAAAko/E0ElxvxCptY/s1600-h/kamisan_4_juni_2009+Seeking+Truth+Finding+Islam.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 189px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Si1pVKuB-FI/AAAAAAAAAko/E0ElxvxCptY/s320/kamisan_4_juni_2009+Seeking+Truth+Finding+Islam.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5345044145134237778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Seeking Truth Finding Islam di Kamisan FLP Bandung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;--Anwar Holid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara kebetulan, bertepatan saya menerima bukti dua kopi cetakan ke dua buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Seeking Truth Finding Islam&lt;/span&gt; (Mizania, 184 hal.), anggota FLP (Forum Lingkar Pena) Bandung membicarakan buku tersebut pada forum Kamisan, 4 Juni 2009 di teras Masjid Salman ITB, pukul 16.00-18.00 WIB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang biasa hadir memang tidak banyak. Tapi Kang, kalau luang, pasti akan menyenangkan kalau Akang bisa datang dan membagi pengalaman menulis buku itu," demikian email dari Wildan Nugraha, ketua FLP Bandung, pada akhir Mei lalu mengabarkan rencana acara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertulis, yang akan membahas buku tipis tersebut ialah Jaka Arya Pradana, anggota FLP Bandung mahasiswa ITTelkom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya datang ke masjid itu dengan antusias, namun sayang lupa bawa kamera untuk dokumentasi. Begitu sampai, saya berkeliling mencari-cari Wildan, karena dialah anggota FLP yang wajahnya benar-benar saya hafal. Sayang tidak ketemu. Dulu, kami berdua pernah sama-sama jadi juri lomba mengarang anak-anak yang diadakan masjid ini. Saya lihat sejumlah anak SMU duduk berkelompok membahas pelajaran sekolah didampingi seorang mentor. Mereka itu anak bimbingan belajar dari Karisma (Keluarga Remaja Islam Salman). Akhirnya, saya mampir dulu ke Aksara, sebuah unit bidang jurnalistik yang menggantikan SKAU (Salman Komunikasi Aspirasi Ummat), tempat saya dulu waktu mahasiswa bergabung cukup lama. Saya bertemu Salim, Okky, dan seorang temannya. Mereka sedang rapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ketemu Wildan enggak ya?" tanya saya sebentar membuyarkan konsentrasi mereka.&lt;br /&gt;"Enggak, mau ke bedah buku ya?" tanya Salim.&lt;br /&gt;"Iya. Biasanya mereka ngumpul di belah mana?" tanya saya.&lt;br /&gt;"Tuh di sebelah kiri. Kelihatan kok dari sini. Belum pada datang kali," tambah Okky.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghabiskan waktu, saya lihat Koran Tempo hari itu. Headlinenya tentang Prita, seorang ibu rumah tangga yang mendadak jadi pusat berita gara-gara ditangkap dan di penjara dengan tuduhan pencemaran nama baik terhadap RS Omni International, Tangerang. Waktu pertama kali dengar kasus itu dari Fenfen, saya bilang, "Keterlaluan." Saya justru barusan saja selesai menyunting memoar seorang istri dalam merawat suaminya yang terkena stroke lebih dari satu tahun dan berhubungan sangat baik dengan pihak dua rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai browsing berita koran, saya mendapati teras kiri masjid sudah terisi sejumlah orang duduku melingkar. Mereka sudah mulai beberapa waktu. Wildan ada di sana. Seorang gadis berjilbab lamat-lamat terdengar mengomentari buku berisi profil panjang empat orang Barat yang masuk Islam (convert, atau mualaf dalam konsep Islam). Keempat orang itu ialah Yusuf Islam (Cat Stevens), Ingrid Mattson, Keith Ellison, dan Hamza Yusuf Hanson. Ternyata Jaka Arya Pradana urung datang, dia sakit. Kira-kira hadir dua puluh orang. Salah satu di antaranya ialah Hendra Veejay, seorang penulis yang masuk Islam sejak SMP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun kerap merupakan pengalaman hidup yang emosional, dramatik, dan drastik, konversi pada dasarnya sesuatu yang biasa dalam ranah agama. Orang ke luar dan masuk agama tertentu, atau menyatakan antipati, bahkan ateis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut William James dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Perjumpaan dengan Tuhan&lt;/span&gt; (terjemahan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The Varieties of Religious Experience&lt;/span&gt;, Mizan, 2004), konversi tidak identik sebagai perpindahan formal seseorang dari agama lama ke agama baru disertai semangat menggebu-gebu. Menurut dia, pemeluk agama yang terpanggil lagi, merasakan kelahiran baru beragama, bersemangat lagi menjalani kehidupan beragama, orang tersebut mengalami konversi. Konversi serupa dengan perubahan seketika seseorang yang awalnya mungkin biasa saja bersikap terhadap agama menjadi lebih patuh maupun taat (devosi). Konversi merupakan salah satu ragam pengalaman agama yang sangat kental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks Islam, menjadi mualaf betul-betul merupakan persoalah hidayah (petunjuk) Allah kepada seseorang, ditambah merupakan konsekuensi logis dari pencarian iman. Bukti sederhana dari ini ialah ada banyak sarjana Islam yang begitu dekat dengan Islam, mereka pun dihormati kalangan Muslim, namun toh tetap bukan seorang Muslim pada akhir hayatnya. Dia tidak pernah secara eksplisit terdengar menyatakan diri masuk Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks hubungan antaragama, konversi justru sensitif. Cap "Kristenisasi" di kalangan Islam menurut saya merupakan istilah yang amat berbahaya dan mematikan bagi dialog keterbukaan. Persoalannya, terutama di zaman media dan komoditas sekarang, semua agama memiliki lembaga dakwah (syiar) yang tujuannya memperkenalkan diri mereka. Saya mendapati bahwa pengetahuan seseorang terhadap agama lain biasanya minim. Saya sendiri boleh dikatakan buta terhadap agama-agama Abrahamik (Abrahamic religions) yang sebenarnya satu muara dan punya banyak pertalian, misalnya dalam hal kitab suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bersyukur dan senang teman-teman FLP Bandung membicarakan Seeking Truth Finding Islam. Dulu saya sempat mengusahakan agar isyu dalam buku itu dibahas di Masjid Laotze, Bandung. Mungkin menarik buat menguji dialog antaragama. Sayang respons Mizan negatif. Wildan menyatakan bahwa ruang di gedung Rabbani--toko baju dan asesoris Muslim--bisa digunakan untuk acara seperti bedah buku atau talkshow. Saya janji akan kembali mengontak orang Mizan, siapa tahu kesempatan itu bisa terbuka kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai acara, saya membicarakan lebih banyak hal lagi dengan Salim, Okky, dan Irvan di Aksara. Mungkin sampai pukul 21.00.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Copyright © 2008 BUKU INCARAN oleh Anwar Holid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANWAR HOLID, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung. Bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KONTAK: wartax@yahoo.com | Tel.: (022) 2037348 | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situs terkait:&lt;br /&gt;http://www.mizan.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17631250-5383576812589763379?l=halamanganjil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://halamanganjil.blogspot.com/feeds/5383576812589763379/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=17631250&amp;postID=5383576812589763379' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/5383576812589763379'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/5383576812589763379'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://halamanganjil.blogspot.com/2009/06/seeking-truth-finding-islam-di-kamisan.html' title=''/><author><name>[HALAMAN GANJIL] &amp;amp; TEXTOUR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08821802693843388343</uri><email>wartaxfenfen@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='10817234696267325743'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Si1pVKuB-FI/AAAAAAAAAko/E0ElxvxCptY/s72-c/kamisan_4_juni_2009+Seeking+Truth+Finding+Islam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17631250.post-1906053194305818042</id><published>2009-06-08T12:21:00.000-07:00</published><updated>2009-06-10T11:48:39.629-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Konser Diam-diam Efek Rumah Kaca'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anwar Holid'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rumah Buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Efek Rumah Kaca'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Si1lvrhpxKI/AAAAAAAAAkY/yLy0Q2yMsN8/s1600-h/Efek+Rumah+Kaca+%40+Ruku3.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Si1lvrhpxKI/AAAAAAAAAkY/yLy0Q2yMsN8/s320/Efek+Rumah+Kaca+%40+Ruku3.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5345040202570777762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0); font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Konser Diam-diam Efek Rumah Kaca&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;---Anwar Holid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Band Efek Rumah Kaca (ERK) manggung tanpa disertai publisitas di Rumah Buku, Bandung. Main secara akustik, membawakan lagu-lagu dari dua album mereka, diselingi kejutan menyanyikan beberapa cover version, dalam konser yang berlangsung intim dan dirancang bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANDUNG - Masih dalam suasana agak murung karena kemarin Shanti panas demam dan kondisi finansial masih melarat, aku sekeluarga datang ke Rumah Buku untuk nonton band Efek Rumah Kaca pada Sabtu, 6 Juni 2009. Seminggu lalu tersiar kabar dari mulut ke mulut bahwa band indie yang lagi hip ini akan manggung di tempat yang asri ini. "Tapi jangan bilang-bilang orang lain ya, soalnya mereka ingin bikin kejutan kayak konser rahasia, gitu," kata orang waktu aku terakhir ke sana untuk pinjam buku The Book of Disquiet (Fernando Pessoa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh Shanti sudah normal sejak pagi tadi, dan keceriaannya juga pulih. Itu membuat kami berani membawanya. Rumah Buku sudah lebih ramai dari biasanya waktu kami datang. Teras belakang mereka sedang disetting menjadi "ruang keluarga" untuk persiapan main Efek Rumah Kaca. Fenfen dan Ilalang kangen-kangenan dengan menyapa orang-orang yang mereka kenal. Rani dan Budi dari Rumah Buku menyambut dengan ramah dan lucu-lucuan. Dalam suasana seperti itu, kesenangan menghampiri dan aku merasa mudah penuh terisi oleh kelegaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf ya, mulai mainnya jadi jam setengah lima. Soalnya kita ingin dapat suasana sore yang bagus," entah kata Rani atau Budi yang bilang waktu jam sudah menunjukkan pukul 15.30, jadwal mereka manggung. Wah, makin malam kami pulang, makin kuatir kami pada kondisi Shanti. Orang demam bisa balik panas lagi kalau belum-belum pulih. Bandung hari itu panas, meski sempat turun gerimis sebentar. Menjelang konser cuaca cerah sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang datang ternyata cukup banyak juga ya. Tadinya kami khawatir nggak akan ada yang datang karena sok-sok bikin konser diam-diam, gitu," kata Cholil menyapa penonton yang pada duduk memenuhi taman beralaskan koran dan berbekal losion antinyamuk. Konser tanpa pemberitahuan ini mengingatkan aku pada Heima, film karya grup Sigur Ros tentang mudik mereka di Islandia setelah sekitar setahunan tur keliling dunia. Film kebanyakan berisi scene alam terbuka dan suasana lingkungan yang dramatik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku baru pertama kali ini lihat Efek Rumah Kaca. Sound gaya unplugged mereka menurutku keren. Cholil memainkan gitar akustik yang setting suaranya mengeluarkan bunyi begitu kuat dan penuh, hingga melodi-melodi yang tinggi dan nyaring dari album mereka tersalin dengan sempurna. Adrian main bass dengan kalem, mengiringi sebagai backing vokal. Akbar menurutku tampak sangat santai dan paling enak dilihat. Gerakan tubuhnya di tengah set drum terlihat ritmik, sambil tangan dan kakinya bekerja. Hentakan drumnya asyik; tidak terdengar sebagai pukulan drum nada pop, tetapi malah seperti dalam band jazz atau progresif rock.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan nada mereka mengingatkan aku pada grup seperti Pink Floyd dan Coldplay. Secara musikalitas, gaya akustik ini terdengar mirip dengan pilihan Damien Rice. Gitar dan bass dibuat seakan-akan bergema, iringan pukulan drum atraktik, jadi meskipun mereka trio, musiknya penuh. Tak ada ruang kosong yang terdengar karena mereka sedikitan. Lagu-lagu mereka yang kurang akrab bagi telinga yang tiap hari mendengar nada pop juga menguatkan mitos pada grup ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek Rumah Kaca bilang bahwa mereka grup pop, tapi pilihan nada, aksi, juga pernyataan mereka justru bertentangan sebagai band pop yang haus publisitas atau menciptakan lagu yang mudah didengar. Mungkin mereka mau memudahkan. Mereka tidak menyiratkan sebagai band pop. Langkah mereka tidak populer; aku pernah lihat foto mereka bertiga mengenakan t-shirt bertuliskan: Pasar Bisa Diciptakan. Menurutku mereka grup alternatif atau postrock. Banyak orang bilang grup ini politis, seperti terbukti dari beberapa lagunya. Mereka juga justru mengkritik budaya pop dan konsumerisme. Mau mengubah dari dalam?&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Si1lvuUhF1I/AAAAAAAAAkQ/waTd2ZkU80s/s1600-h/Efek+Rumah+Kaca+%40+Ruku_adrian.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Si1lvuUhF1I/AAAAAAAAAkQ/waTd2ZkU80s/s320/Efek+Rumah+Kaca+%40+Ruku_adrian.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5345040203320989522" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Adrian menyanyikan "Laki-laki Pemalu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin itu yang membuat lagu-lagu mereka agak susah dihafal. Aku beberapa bulan ini dengar album ke dua mereka, Kamar Gelap, dengan hanya mudah ingat Mosi Tidak Percaya (lagu yang sangat politis), Kenakalan Remaja di Era Informatika (singel dari album ini), dan Laki-laki Pemalu. Dari album pertama, yang teringat mudah ialah Cinta Melulu, Terus Belanja Sampai Mati, dan tentu saja lagu yang membuat mereka bisa memikat banyak orang: Di Udara---sebuah lagu yang konon tentang Munir, karena memang didedikasikan buat dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu Efek Rumah Kaca main dua sesi. Sesi pertama berlangsung sampai menjelang magrib. Aku ikut berdendang tapi terkadang lupa judulnya. Sesi kedua Cholil main dengan mengenakan sweater, mungkin kedinginan oleh hawa yang mulai dingin. Dia mula-mula menyanyikan dua cover sendirian, lantas memanggil Adrian dan Akbar untuk memainkan Hallelujah dari versi Jeff Buckley. Ini mungkin kejutan buat para pengunjung. Adrian juga nyanyi Laki-laki Pemalu. Selama konser berlangsung, Rani terus melakukan shooting. Budi bilang pada penonton bahwa konser ini direkam. Aku berharap agar acara bernama "Rukustik" rekaman ini nanti dirilis sebagai live album.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Si1lv7HNMEI/AAAAAAAAAkg/7sA6wXpXYRI/s1600-h/Efek+Rumah+Kaca+%40+Ruku1_talkshow.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Si1lv7HNMEI/AAAAAAAAAkg/7sA6wXpXYRI/s320/Efek+Rumah+Kaca+%40+Ruku1_talkshow.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5345040206754820162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Budi Warsito ngajak ERK ngobrol seputar dunia band.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami terpaksa pulang lebih awal, setelah Budi mengajak trio ini ngobrol dengan lucu. Tubuh Shanti kembali lebih hangat, jadi Fenfen dan aku khawatir. Gerimis juga sudah turun agak sering. Entah bagaimana konser itu berakhir, apa mereka jalan terus meski gerimis, atau harus berhenti karena penonton tentu mulai basah. Aku senang bisa nonton acara musik yang bagus dan beli pin ERK gambar pohon meranggas. Ilalang dan Shanti juga gembira. Fenfen banyak ngobrol dengan teman-temannya. Sabtu sore yang memuaskan, sebelum aku harus antusias untuk kembali berhadap-hadapan dengan wajah kehidupan yang menyeringai mengancam.[]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Copyright © 2008 oleh Anwar Holid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KONTAK: wartax@yahoo.com | Tel.: (022) 2037348 | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situs terkait:&lt;br /&gt;http://www.rukukineruku.com&lt;br /&gt;http://halamanganjil.blogspot.com (foto-foto konser)&lt;br /&gt;http://efekrumahkaca.multiply.com&lt;br /&gt;http://www.myspace.com/efekrumahkaca&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17631250-1906053194305818042?l=halamanganjil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://halamanganjil.blogspot.com/feeds/1906053194305818042/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=17631250&amp;postID=1906053194305818042' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/1906053194305818042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/1906053194305818042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://halamanganjil.blogspot.com/2009/06/konser-diam-diam-efek-rumah-kaca-anwar.html' title=''/><author><name>[HALAMAN GANJIL] &amp;amp; TEXTOUR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08821802693843388343</uri><email>wartaxfenfen@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='10817234696267325743'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Si1lvrhpxKI/AAAAAAAAAkY/yLy0Q2yMsN8/s72-c/Efek+Rumah+Kaca+%40+Ruku3.JPG' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-17631250.post-5811934517358191478</id><published>2009-06-08T12:12:00.000-07:00</published><updated>2009-06-08T12:18:56.380-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mengajarkan (Kembali) Pancasila'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sidik Nugroho'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Indonesia'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Si1jzk-GUYI/AAAAAAAAAjs/brFe57a4kH8/s1600-h/garuda+pancasila.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 272px; height: 297px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Si1jzk-GUYI/AAAAAAAAAjs/brFe57a4kH8/s320/garuda+pancasila.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5345038070507262338" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;Mengajarkan (Kembali) Pancasila&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;---Sidik Nugroho*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pancasila di Zaman Presiden Soekarno&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setelah terhimpit akibat kalah pada Perang Dunia II, kita tahu Jepang membentuk BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Dalam sebuah sidang yang berlangsung pada 29 Mei hingga 1 Juni 1945, pertanyaan besar yang muncul ke permukaan dalam sidang adalah, "Bila merdeka, apa yang akan menjadi dasar negara Indonesia?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mr. Muhammad Yamin, pada sidang Selasa, 29 Mei 1945 mengemukakan lima dasar negara, yaitu: Peri Kebangsaan, Peri Kemanusiaan, Peri Ketuhanan, Peri Kerakyatan, dan Kesejahteraan Rakyat. Dua hari berikutnya, 31 Mei 1945, Dr. Supomo mengajukan lima dasar lain yang mirip, yaitu Persatuan, Kekeluargaan, Mufakat dan Demokrasi, Musyawarah, dan Keadilan Sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segenap peserta sidang kemudian mendapat pencerahan setelah Ir. Soekarno maju untuk berpidato tentang dasar negara yang digagasnya pada tanggal 1 Juni 1945. Lima dasar yang dikemukan oleh Sukarno adalah Kebangsaan, Kemanusiaan, Kerakyatan, Keadilan Sosial, dan Ketuhanan. Dasar-dasar itu diberi istilah sebagai Pancasila. Soekarno kemudian juga meringkas lagi lima hal itu menjadi tiga, atau disebut Trisila, yaitu Sosio-Nasionalisme, Sosio-Demokrasi, dan Ketuhanan. Terakhir, ia memaktubkan kelima hal itu dalam Ekasila, yaitu Gotong Royong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi pidato Soekarno itu sebenarnya merupakan kristalisasi pemikiran yang ia gagas dalam buku Nasionalisme, Islam dan Marxisme (1926). Pidato Soekarno ini amat bersejarah. Hadirin antusias, mereka bertepuk tangan dan bersorak riuh-rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah merdeka, tantangan Indonesia berikutnya ialah adanya ideologi yang memang sejak awal telah disinyalir oleh Soekarno sebagai kekuatan cukup besar dalam pidatonya, yaitu Islamisme. Bahkan antara tahun 1957 hingga 1959 berkembang pemikiran di Dewan Konstituante untuk merumuskan kembali dasar negara, yaitu memilih di antara tiga: Pancasila, Islam, atau Sosio-Demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Indonesia tetap menjunjung Pancasila sebagai dasar negara. Ini mengingatkan isi pidato Soekarno, "Baik saudara-saudara yang bernama kaum kebangsaan yang di sini, mau pun saudara-saudara yang dinamakan kaum Islam, semuanya telah mufakat ... kita hendak mendirikan suatu negara 'semua buat semua'."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pancasila di Zaman Orde Baru dan Reformasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di zaman Orde Baru, kita tahu ada kenyataan pahit nan membosankan tentang P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Alih-alih menjunjung Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara, pemerintah malah menjadikan Pancasila sebagai dogma dengan cara yang begitu kaku. Posisi Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi mulai luntur sebab betapa datar dan membosankan sesi-sesi tentang Pancasila yang dikemas dalam P4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Orde Baru tumbang oleh mahasiswa, bangsa Indonesia mencari-cari lagi ideologi yang pas di era Reformasi. Buku-buku "haluan kiri" banyak terbit, meski pemerintah menganggap isinya mengancam keutuhan berbangsa dan bernegara, dan sebagian isinya memuat wacana filosofis dan ideologis liberal. Liberalisme membuat kita berpikir ulang: apakah Pancasila tetap (dan akan terus) menjadi dasar negara?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pancasila faktanya tetap menjadi ideologi bangsa dan dasar negara, walau kita mungkin masih samar bagaimana kedudukan itu bisa mewujud nyata dalam keseharian berbangsa dan bernegara. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dalam pidato tiga tahun silam menghimbau agar kita hendaknya "... meletakkan Pancasila sebagai rujukan, sumber inspirasi dan jendela solusi untuk menjawab tantangan nasional.... Sebab Pancasila adalah falsafah, dasar negara dan ideologi terbuka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan ini amat sesuai dengan ucapan Roeslan Abdulgani bahwa Pancasila yang kita miliki bukan sekadar berisikan nilai-nilai statis, tetapi juga jiwa dinamis. Kini, ketika pengaruh kebudayaan asing semakin kuat akibat globalisasi, perlu ada upaya untuk kembali menghadirkan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa. Kedinamisan jiwa Pancasila dapat diwujudkan lewat pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tantangan bagi Dunia Pendidikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dr. Anhar Gonggong, seorang sejarahwan, menyatakan pendidikan Pancasila berperan penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai Pancasila dapat ditanamkan secara memadai "... lewat ilmu sejarah, dengan menerangkan secara benar proses kelahiran dan perumusannya. Atau lewat ilmu kenegaraan, bagaimana kita bernegara secara Pancasilais. Jadi, Pancasila bisa berkembang dan tidak sekadar dikunyah-kunyah sebagai alat verbalistik. Pancasila harus menjadi ide realistik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga dalam peringatan hari lahir Pancasila setiap 1 Juni, guru dapat merenungi lagi sejarah panjang kelahiran dan eksistensi Pancasila. Sebagai salah satu ujung tombak kemajuan bangsa, guru perlu mentransfer jiwa Pancasila yang dinamis dalam diri anak didik di setiap jenjang pendidikan demi menghindarkan generasi penerus bangsa makin parah digerogoti budaya serba instan a la Barat. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Sidik Nugroho ialah alumnus Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang. Berprofesi sebagai guru IPS dan Kewarganegaraan SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo. Pengelola blog http://tuanmalam.blogspot.com.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/17631250-5811934517358191478?l=halamanganjil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://halamanganjil.blogspot.com/feeds/5811934517358191478/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='https://www.blogger.com/comment.g?blogID=17631250&amp;postID=5811934517358191478' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/5811934517358191478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/17631250/posts/default/5811934517358191478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://halamanganjil.blogspot.com/2009/06/mengajarkan-kembali-pancasila-sidik.html' title=''/><author><name>[HALAMAN GANJIL] &amp;amp; TEXTOUR</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08821802693843388343</uri><email>wartaxfenfen@gmail.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='10817234696267325743'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_AZmQpYmqrKA/Si1jzk-GUYI/AAAAAAAAAjs/brFe57a4kH8/s72-c/garuda+pancasila.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry></feed>