Sunday, March 02, 2008
---Anwar Holid
Pada hari Senin, 28 Januari 2008 ketika semua koran dan televisi menyatakan selamat jalan kepada pak Harto, aku mengucapkan selamat jalan kepada 36 kaset favorit yang aku jual ke toko musik second. Honor-honor yang aku nanti datang dari beberapa pihak ternyata belum ngalir juga, sementara kami sekeluarga sudah kehabisan beras, harus beli sayur mayur, dan bayar pembantu setiap Senin. Di antara koleksi itu ialah sejumlah album Peter Gabriel, Pink Floyd, Joe Satriani, The Cult, Steve Vai, Counting Crows, Matchbox Twenty, Fates Warning, Lokua Kanza, dan album musik klasik: Wagner, Sibelius, dan lagu-lagu adagio aransemen Herbert von Karajan. Uang yang aku dapat memang di bawah harapan (sudah aku duga sejak awal), tapi alhamdulillah setidaknya aku bisa beli beras, biskuit, dan di hari-hari ke depan kami bisa makan dengan pantas.
Aku beli koran murah (Rp.1.000,-), Tribun Jabar, untuk mendapat informasi tentang kematian pak Harto. Tertulis headline: The End: 13.10 WIB. Aku membatin, ingat ungkapan sebuah lagu The Doors: This the end, my only friend. The end. Aku rasanya juga ingat sebuah lagu tentang perpisahan, tapi entah apa itu. Atau sebenarnya aku hendak bilang begini: Good bye Mr. Former President and my cassettes---sambil teringat sebuah judul cerpen Gabriel García Márquez. Kematian pak Harto hanya berdampak dua hal saja buatku, yaitu (1) berhasil membuat aku beli koran, dan (2) bisa menggerakkan aku menulis esai. Kematian pak Harto kalah menghenyakkan dibandingkan berita kematian Freddie Mercury yang dulu aku dengar via TVRI malam-malam. Ini menyiratkan betapa aku memang boleh dibilang bersih dari pengaruh maupun ketertarikan terhadap negara, presiden, dan politik.
Berita kematian pak Harto pertama kali aku simak pada hari Minggu, 27 Januari 2007, kira-kira jam 14.30-an, waktu kami sekeluarga makan siang di warung makan serba ada yang kurang enak, sehabis menemani Ilalang dapat tambahan les main perkusi di Jendela Ide. "Wah... pak Harto sudah mati tuh," kataku, langsung terpaku pada tv yang juga tengah dikerubungi semua pengunjung dan pegawai warung. Waktu itu siaran sedang meliput sekitar rumah beliau di jalan Cendana (entah di mana letak persisnya di Jakarta) yang ricuh oleh pengunjung dan petugas. Setelah beberapa menit perhatian ke tv, aku mengasuh Shanti biar istriku bisa makan dengan tenang. Setelah itu aku makan nasi + ayam goreng dengan sambal terlalu pedas. Samar-samar terdengar berita kematian dia terus disiarkan tv sampai kami pulang. Sehabis magrib, di sela-sela ngobrol segala hal, istriku tanya, "Kamu percaya nggak sih kalau Soeharto itu korupsi?" Aku rada bingung dengan pertanyaan itu, apa juntrungannya dengan kami sekeluarga. Rupanya dia ingat laporan khusus majalah Tempo tentang hal itu. "Kalau aku baca dari media, berdasar pada investigasi mereka, aku percaya dia korupsi," kataku. "Tapi kalau ditanya apa buktinya dan siapa saksinya, aku nggak tahu. Aku nggak pernah lihat dia melakukannya." Beberapa menit kemudian aku menyergah, "Eh, apa sih hubungannya ini dengan kita semua?" Rasanya lebih suka kalau kami beralih ke topik lain. Malamnya, aku tegang menyaksikan pertandingan penyisihan Piala FA antara Manchester United vs Tottenham Hotspurs; 3-1 buat MU.
Bagi orang Indonesia kelahiran 1973-an seperti aku, Soeharto jelas bakal tertatah kuat dalam memori kami. Ketika tumbuh, langit kami cuma satu, penuh berisi Soeharto. Dia Bapak Pembangunan, perancang Pelita, yang sudah jalan memasuki periode ke-5, sudah mencapai tahap 'tinggal landas', namun akhirnya ternyata kandas. Setelah itu cuaca langit kami berganti-ganti begitu drastik, mulai dari Habibie, Gus Dur, Megawati, dan sekarang Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang di foto Tribun Jabar terlihat memberi hormat dengan gaya resmi di depan keranda jenazah pak Soeharto. Wah... sinismeku langsung mendidih. Bagaimana mungkin presiden seperti itu, yang jelas kelihatan inferior bahkan di depan mayat seniornya, bakal punya iktikad mengadili kontroversi seputar status hukum Soeharto. Aku yakin harapan M. Fadjroel Rachman dan kawan-kawan agar keadilan tetap hidup bakal seperti pepesan kosong.
Aku ingat, dulu waktu SD kami bahkan sampai hapal semua menteri yang jadi pembantu Soeharto, habis bakal masuk ulangan. Apa nggak gila tuh? Kami ingat TVRI menyiarkan laporan khusus berisi kunjungan Soeharto ke daerah atau ladang pertanian dan sawah, Kelompencapir (yang namanya selalu dikritik oleh Pusat Bahasa), sidang-sidang beliau dengan para menteri, sampai akhirnya bisa meniadakan jadwal tayang film. Baru pada 1998 era itu tamat, dan siapa sangka, jelas di luar dugaanku, betapa begitu lama beliau mewarnai sebuah kanvas bernama Indonesia, sampai akhirnya boyak-boyak, sebagian rombeng dan kusam di sana-sini. Sisanya ialah sekarang; 'pembangunan' jelas ada jejaknya, dan berlanjut, dengan pola mirip... mungkin dikerjakan sembarangan, karena entah kenapa mudah sekali memicu prasangka dan sinisme. Sebagian orang yang bertentangan dengan Soeharto atau pihak yang tak punya kaitan dengan dia berani lantang bilang bahwa dia diktator, misalnya para demonstran pro demokrasi atau media massa seperti CNN dan Time. Aku sendiri takut dan tak punya dasar untuk bilang bahwa dia seorang diktator. Faktanya ialah dia mantan presiden Indonesia, negeri tempat aku terdaftar sebagai warga negara. Dulu, aku sesekali ikut demo bareng teman menuntut keadilan atau keterbukaan; tapi keadilan harus diupayakan sendiri dan keterbukaan ternyata datang sendiri. Yang paling mengasyikkan ialah jadi bagian massa waktu kami demo besar-besaran selama masa awal-awal menegakkan Reformasi di Gasibu (sebagian kawanku demo di gedung MPR/DPR), sampai akhirnya rezim dia tumbang, dan sejak itu reputasi pak Harto beserta kroni dan keluarganya melorot ke kubang terendah dan penuh masalah, namun tetap saja tetap menarik diberitakan. Yang paling akhir tentu saja skandal yang muncul dari para anak-anaknya, rebutan harta dan kuasa antara istri pertama dan madu salah satu anaknya, perempuan yang sampai rela-rela ngaku dihamili anaknya---entah dengan motif apa, atau artis yang kawin dengan cucunya. Wah... sebenarnya aku cukup sibuk dengan diri sendiri, bertahan hidup atau meningkatkan standar, dan tak peduli dengan peristiwa terkait Soeharto... toh nyatanya aku selalu samar-samar mendengar atau mendadak punya kesempatan baca informasi tentang mereka. Tadi saja, waktu menuju toko kaset bekas itu, tiga gadis mahasiswa aku dengar bicara, "Kamu sedih nggak pak Harto meninggal?" "Enggak, lebih sedih waktu kakek gue meninggal tuch." "Iyalah, coba kamu bakal dapat warisannya. Pasti sedih." Salah satu gadis itu langsung menyergah, "Dapat warisan mah senang, bukannya sedih..." Serentak mereka tertawa. "Aku mah pengen lihat upacara pemakamannya euy. Yang pakai tembak-tembakan itu." (Namanya salvo, neng, kataku dalam hati.)
Aku bukan PNS dan ketertarikan atau kepedulianku pada negara boleh dibilang nol. Aku lebih pusing memikirkan bagaimana meningkatkan karir dan pendapatan di tahun ini daripada sibuk mendengar analisis politik bila The Smiling General (ini kayaknya bukan oksimoron) meninggal dunia dan mewariskan banyak buntut persoalan. Aku lebih merasa dekat dengan kaset-kasetku daripada dengan pria berusia 87 tahun itu, meski dia pernah jadi presidenku. Begitu kondisi dia kritis di rumah sakit minggu-minggu lalu, aku dengar analisis politik bahwa Indonesia bisa-bisa bakal makar begitu dia meninggal. Wah... aku malas dengar gosip keterlaluan itu. Satu-satunya berita yang aku sukai ialah analisis ini: Bila status hukum dia ditetapkan salah, maka itu kesempatan menyeret persoalan hukum yang dilakukan keluarga, kroni, dan orang-orang sekelilingnya akan terbuka. Keadilan jadi ditegakkan. Frasa yang menarik; "Keadilan jadi ditegakkan." Keadilan seperti apa? Apa bakal berdampak buat aku? Wah... aku ragu. Apa bila "Keadilan jadi ditegakkan" aku bisa optimistik tak perlu jual kaset favorit buat beli beras? Wah Wartax, kamu jadi kekanak-kanakan! Mungkin ini akibat aku buta politik dan nggak kritis sejak remaja. Lebih baik aku menghindari persoalan yang aku sendiri nggak tahu. Biarkan itu jadi urusan orang yang memperkarakan dia, terutama bekas lawan politik dia yang masih hidup dan bersemangat menyeret dia ke pengadilan dan ingin agar harta hasil korupsi itu dikembalikan ke negara. Aku jelas lebih suka andai tetap punya kaset dan kondisi keuanganku baik-baik saja. Tapi faktanya aku harus kehilangan mereka.
Aku sangat setia pada kaset-kaset itu. Aku rawat dengan baik, menjaga jangan sampai kusut, tetap sempurna bila disetel, meski itu semua gagal menaikkan harga jual. Aku selalu suka melihat-lihat sleeve, membaca-baca segala info yang ada di sana. Mereka berisi pemusik yang aku sukai karya-karyanya. Kini kotak kasetku berisi pemusik yang jauh kurang populer dibanding album yang aku jual sekarang. Di sana masih ada Chroma, Jaduk Ferianto, Bidjeh, Ravi Shankar, Youssou N'Dour, Sinead O'Connor, The Stage Bus... Entah berapa lama aku akan tetap bisa bertahan dengan mereka; entah berapa harga jual mereka di toko kaset bekas, lepas dari betapapun mereka bagus atau legendaris. Di tangan penjual loak, semua barang pasti direndah-rendahkan. Melankoli dan legenda cuma jadi cerita. Kalah oleh kebutuhan akan uang.
Aku rela dan senang-senang saja kehilangan kaset itu, akhirnya. Apalagi dari situ aku merasa memberi bakti pada keluarga. Aku kehilangan mereka tepat di saatnya. Sudah waktunya. Bisa jadi begitu juga Indonesia terhadap pak Harto. Dia sudah tua dan sakit-sakitan. Wajar dia meninggal dunia. Jelas keterlaluan berharap dia bakal sehat wal afiat seperti sedia kala ketika masa jaya atau bisa bertahan lebih dari lima belas tahun ke depan. Nyawa bisa dicabut izin penggunaannya kapan saja, datang begitu saja tanpa perlu perjanjian lebih dulu. Sebagian orang, banyak orang, terisak-isak oleh kepergian beliau; sebagian orang mungkin bingung apalagi agenda hukum yang bisa dijalankan; orang seperti aku, yang tak terkait dengan semua itu, heran, kenapa mereka semua heboh dengan kematian satu jiwa. Mendadak aku ingat dulu ada orang di Jakarta yang menyeret-nyeret mayat karena tak punya biaya kubur. Kematian seorang mantan kepala negara sudah disiapkan dengan sempurna, mulai dari kepergian dan upacara. Dia merepotkan banyak sekali orang; dan orang entah rela, pura-pura, atau terpaksa dan karena tata krama, hirau dengan kepergiannya. Kematian ini lebih heboh dan seru dibandingkan delapan besar Liga Indonesia yang ricuh. Apa ini tanda kehebatan seseorang, bahkan dalam kematiannya pun dia bikin guncang, tetap dihormati banyak sekali orang, dihadiri sosialita paling terkemuka? Wah, entah ya.
Dari dulu aku membayangkan kematian yang sederhana. Aku ingin nanti nisanku tak ditandai apa-apa, biar lama-lama hilang dan rata dengan tanah. Aku ingat ayahku membiarkan patok tanda kuburan kakakku lama-lama hancur oleh waktu dan sebagian habis dimakan rayap. Dibersihkan bila berziarah saja. Terakhir kali kami ke sana, gundukan tanahnya sudah nyaris rata. Aku agak yakin sekarang tentu sudah rata. Aku sulit membayangkan ada semacam kompleks istana untuk mayat-mayat bekas manusia yang sudah selesai berurusan dengan dunia. Untuk apa ya semua itu dibangun?
Hari ini aku kehilangan kaset; esok hari siap-siap aku kehilangan nyawa. Dalam beberapa hari ke depan aku masih bisa menyelamatkan keluarga; pasti suatu hari nanti aku yang malah repot menyelamatkan jiwa sendiri.[]0:11 30/01/08
ANWAR HOLID, penulis & penyunting, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung.
Thursday, February 21, 2008
Perhatian Penerbit Pada Penulis
---Anwar Holid
SELISIK saya di awal tahun 2008 ini agak murung. Bukan karena di bulan Januari ini kita hampir tiap hari diguyur hujan, tapi karena saya mendengar kabar buruk buat penulis. Kabar itu ialah minimnya perhatian penerbit pada judul atau penulis tertentu.
Dalam pertemuan penerbit-penulis-peresensi di acara Kompas-Gramedia Fair (KGF) 2007 di Sabuga, saya mendapati fakta bahwa penerbit besar seperti Elexmedia saja tak menyediakan dana untuk launching setiap buku. Yang dianggarkan ialah dana promosi untuk keseluruhan buku, terutama dalam setiap acara yang diikuti penerbit. Jelas ini membuat setiap judul sulit menonjol, minimal sekali saja persis begitu terbit. Memang kesempatan sebuah buku bisa menonjol masih terbuka, misalnya terpilih ikut disertakan dalam iklan ramai-ramai di koran, atau karena pertimbangan tertentu, judul tersebut dipajang poster X-bannernya. Contoh Cherish Every Moment karya Arvan Pradiansyah (Elex, 2007), yang X-bannernya dipasang persis di gerbang ruang utama pameran KGF. Baik Arvan dan bukunya tak muncul dalam rangkaian acara KGF, tapi bisa jadi karena dua buku dia sebelumnya (Life is Beautiful dan You Are a Leader!) termasuk bestseller, Elex memutuskan mengiklankan buku ke-3 dia.
Harus diakui penerbit memang penuh pertimbangan dalam mengiklankan buku. Baru ketika sebuah judul mampu mengangkat reputasi penerbit dan jelas mendatangkan keuntungan, mereka mau berisiko mempromosikan buku.
Ada alasan tertentu kenapa penerbit cenderung hanya mau mendukung 1 - 2 judul bestseller dalam anggaran mereka, yaitu masalah posisi tawar penerbit terhadap toko buku. Makin bestseller, makin banyak diperbincangkan sebuah judul, akan membuat penerbit punya daya tawar bahwa produknya laku dan menguntungkan toko. Harapannya penerbit bisa menegaskan dan berharap lantas produk mereka lainnya bisa ikut terangkat dan terdisplay dengan pantas. Hukum pasar berlaku. Wajar bila penerbit berhitung atas setiap rupiah pengeluaran. Memang penerbit hingga sekarang masih penasaran apa bedah buku dan sejenisnya beriringan dengan larisnya sebuah judul.
Salah satu aspek yang juga patut diperhatikan ialah ada baiknya seorang penulis memiliki event organiser atau 'publisis' yang mau fokus terus-menerus mengusahakan promosi bukunya. Kondisi ini sebenarnya kurang ideal bagi penulis, sebab secara finansial keuntungan penulis rata-rata hanya 10 per sen dari harga buku. Coba bayangkan kerepotan penulis harus mencari rekan kerja yang mau menggulirkan terus ide-ide penerbitan bukunya, belum soal biaya. Penulis lain, terutama dari kalangan motivator dan manajemen, menyertakan penjualan bukunya dalam paket training atau seminar yang dia adakan. Perimbangan keuntungan dengan cara seperti ini lebih masuk akal; penerbit dan penulis mendapat bagian masing-masing, sedangkan angka penjualan bisa terus bertambah. Tapi memang sudah ada banyak contoh betapa buku yang dipromosikan dengan gegap gempitan (istilahnya 'hype') dengan pantas berbuah jadi bestseller.
PROMOSI pasti berhubungan dengan anggaran, harapan keuntungan, dan tujuan yang ingin dicapai penerbit; tapi kesan bahwa penerbit pilih kasih dan kurang perhatian pada terbitan mereka jadi sulit dihindari. Penulis yang punya energi dan dana lebih kadang-kadang mesti rela merogoh kantong sendiri untuk berbagai keperluan, baik diskusi, imbalan resensi, bahkan sejenis promosi dari satu tempat ke tempat lain. Terbayang betapa 'pengorbanan' penulis yang amat besar buat bukunya, bahkan akhirnya jadi terasa berlebihan karena kurang didukung sungguh-sungguh oleh penerbit. Pernah saya dengar pengakuan tentang penulis yang sampai mesti mengeluarkan uang untuk pembicara agar mau mengkritik karyanya atau tambahan biaya konsumsi diskusi bukunya, sementara meminta penerbit serius menyediakan buku untuk komplimen bagi para rekanan media atau orang yang relevan saja agak sulit.
Kira-kira setahun lalu saya pernah ketemu penulis muda yang berambisi agar bukunya mesti disokong promosi, iklan, training, dan sebagainya, agar idenya bisa massif di ruang publik dan mempengaruhi pembaca sebanyak mungkin---mirip yang terjadi pada 'ESQ' karya Ary Ginanjar. Jelas sulit mencari penerbit yang mau setuju dengan klausulnya. Mendengar itu, saya sengaja mendukung dia dengan bilang begini, “Terbitkan sendiri saja mas, kan Anda yakin betul dengan rencana untuk buku itu, apalagi perangkat pendukungnya juga lengkap, termasuk klik yang siap membantu Anda. Biar semua yang Anda impikan terwujud dan porsi terbesar keuntungan dari penerbitan itu persis jatuh ke tangan Anda.” Rupanya buku dia akhirnya diterbitkan sebuah penerbit besar. Tapi barangkali anggaraan promosi untuk buku itu tetap minim, buku dia terbit begitu saja, tanpa iklan atau rencana-rencana besar sebagaimana dia impikan. Jelas keinginannya buyar. Saya berharap, apa pun yang terjadi pada bukunya, semoga buku itu masih bisa merebut perhatian pembaca, terutama ide-ide orisinal yang keluar dari kesungguhannya mencerap pemikiran.
Barangkali ada porsi yang patut dilakukan penerbit terhadap judul dan penulis tertentu. Memang ada penerbit yang agak menolak anggapan bahwa penerbit adalah pihak yang paling besar mendapat porsi keuntungan sebuah buku, dengan bilang bahwa pihak yang paling besar mendapat porsi keuntungan ialah toko buku.
Wah, lepas dari kondisi yang tampak kurang ideal itu, saya berharap perhatian penerbit terhadap penulis terus meningkat, setidaknya kerja sama kedua belah pihak itu lebih berimbang. Bila begitu, barangkali nada murung dalam Selisik bisa sedikit lebih berkurang.[]
Note: Kolom ini awalnya dipublikasi harian Republika Minggu, rubrik Selisik.
ANWAR HOLID, penulis & penyunting, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung.
Kontak: Jalan Kapten Abdul Hamid, Panorama II No. 26 B Bandung 40141 Telepon: (022) 2037348 HP: 08156-140621 Email: wartax@yahoo.com
-----------------------------------------
>> Anwar Holid
ORANG bisa bilang apa saja tentang buku yang laris atau seret, dan mungkin pendapat kontradiktif itu sama-sama benar dari sudut pandang masing-masing. Segi positif buku laris ialah ia menggairahkan pasar dan menjanjikan kesuksesan bagi setiap orang yang terlibat menggarapnya. Buku bisa laris dengan caranya sendiri, dan terkadang tetap seret meski seratus satu cara sudah dilakukan untuk membuatnya laku.
Orang perbukuan sering terheran-heran kenapa sebuah judul bisa laku tapi juga kerap takjub kenapa usaha membuat buku laris gagal. Bila sudah sulit cari alasan kenapa buku laris, mereka baru menganggap buku itu sebagai "berkah penulis" atau "rezeki penulis", biar pembicaraan selesai.
Simak ucapan Curtis Sittenfeld, novel debutnya Prep versi hardcover secara mengejutkan terjual lebih dari 133.000 kopi di AS per Mei 2007, sedangkan versi paperback laku 329.000 kopi. Novel itu berkisah tentang perkembangan jiwa remaja yang tumbuh di sekolah asrama. Waktu belum selesai menulis, teman-teman dia meledek. "Buku tentang sekolah asrama sudah banyak, kenapa kamu menulis itu lagi?" Tapi setelah bukunya jadi best seller, dia dengar orang meremehkan buku itu. "Jelas saja buku itu laris, itu kan buku tentang sekolah asrama!" Dia hanya mesem menyimak itu. Faktanya, buku kedua dia (The Man of My Dreams) penjualannya lebih seret, meski diterbitkan dengan mengandalkan kesuksesan yang sudah barusan dia raih. Prakiraan dan rencana untuk buku kedua itu meleset jauh dibandingkan uang muka yang dia terima.
Penerbit mencintai buku, tapi mereka juga melihat buku sebagai komoditas. Penerbit dituntut bisa menjual dan mereka suka buku yang punya pesan pemasaran jelas. Karena itu penerbit senang dengan segala bentuk jaminan yang bisa membuat terbitan mereka laku, baik judul tersebut baru menang sayembara penulisan, diangkat sebagai film, masuk dalam berbagai daftar "buku terbaik", dipuji-puji oleh kritikus yang disegani atau diulas media terkemuka, jadi topik hangat di berbagai milis dan blog.
Penerbit terus berusaha seakurasi mungkin mengetahui selera pasar, tujuannya agar mereka secara persis bisa menyediakan buku yang dibutuhkan calon pembeli, memproduksi buku sebanyak-banyaknya karena tahu bahwa pasar bakal menyerapnya. Mereka memperhatikan dinamika pasar, bertanya pada pemerhati buku, mendeteksi sedini mungkin ke ceruk dan kelompok pasar khusus, bahkan kalau perlu melakukan gebrakan pasar dan melontarkan isu kontroversial. Penerbit berusaha mengetahui selera konsumen, yang kerap merupakan misteri besar yang menarik namun sulit dan pelik untuk dipecahkan, sebab pertaruhan penerbit memang di penjualan. Begitu gagal memancing dengan umpan judul yang mereka lempar, bisnis segera bermasalah. Begitu penjualan turun, imbasnya bisa terasa sampai ke bawah-bawah.
Menjadikan buku laris memang persoalan yang patut dipecahkan. Kalau satu judul bisa laku ratusan ribu kopi, kenapa judul lain perlu menunggu satu tahun untuk terjual seribu kopi? Semua orang akan girang bila dagangannya laris, dan bakal manyun menghadapi barang yang menumpuk di gudang. Demi melempangkan jalan agar laris, penerbit menempuh berbagai cara, mulai dari yang biasa hingga mengejutkan. Mereka tahu bahwa buku laris itu dipengaruhi banyak faktor. Tapi kalau diselisik, penerbit yang bisa mendayakan berbagai faktor itu hanya sedikit; itu jelas dipengaruhi oleh kemampuan penerbit. Misal, sejauh ini hanya satu-dua penerbit Indonesia yang mampu beriklan secara rutin di media massa, antara lain GPU bareng sesama kawan di KKG, mengiklankan "Book of the Month." Meski begitu kini semua penerbit bisa beriklan lebih murah, ialah lewat milis ataupun blog.
Ahmad Taufiq dari Ufuk Press menyatakan setidaknya ada tiga faktor yang bisa membuat sebuah judul laku, pertama, reference's group; kedua, word of mouth (getok tular); ketiga, buku yang "menggedor" pembaca. Begitu satu judul memenuhi salah satu faktor---idealnya memenuhi semua, bisa dijamin buku tersebut bakal dicari-cari orang.
Sayang kita sering dengar berita penerbit bisa malas-malasan mendukung buku bila mereka kehilangan feeling bahwa judul tersebut bakal laris. Kejadian menjengkelkan itu bisa menimpa siapa saja. Penerbit sering membiarkan satu judul bertarung sendirian di toko, melepaskan mereka menjalani tes pasar. Kalau sukses akan dicetak ulang, kalau gagal tinggal ditunggu pulang. Padahal fakta porsi terbesar keuntungan finansial buku jatuh ke penerbit, bukan penulis; wajar bila penerbit yang mestinya mau mengusahakan agar produknya laku. Mau berhasil menjual seribu atau sepuluh ribu, jelas bergantung banyak pada keputusan penerbit bersangkutan.
ORANG bisa mereka-reka jawaban apa pun untuk setiap keberhasilan dan kegagalan sebuah buku. Sebagian orang mengaku kepalanya mau pecah kebingungan menjual tiga ribu kopi dalam setengah tahun, namun sebagian lagi ternyata bisa cetak ulang tiga ribu kopi dalam seminggu. Mana lebih menyenangkan bagi insan perbukuan? Saya berani jamin, semua penerbit mau bukunya selaris jajanan pasar. Caranya bagaimana? Bikin buku terbaik yang bisa memenuhi kebutuhan publik sebanyak mungkin. Apa rahasia buku seperti itu?
"Sebagian dari buku terbaik dan paling menarik punya hal bertentangan yang menarik dan mengejutkan," begitu kata Susan Weinberg dari PublicAffairs. Hal menarik dan mengejutkan itu sering jadi misteri yang baru ketahuan setelah buku beredar, berhadap-hadapan dengan selera publik. Orang industri percaya memang selera massa bisa diperkenalkan dan akhirnya dibentuk, tapi mereka bingung bila menyaksikan sebuah kebetulan meledak jadi booming, lantas jadi mode yang massif gila-gilaan.[]
Note: Kolom ini awalnya dipublikasi harian Republika Minggu, rubrik Selisik, Desember 2007.
ANWAR HOLID, penulis & penyunting, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung.
KONTAK: 08156140621 - (022) 2037348 wartax@yahoo.com Panorama II No. 26 B, Bandung 40141