Juned, Rubin,
dan Filter Informasi
Oleh: Anwar
Holid
Juned berdiri
di depan rak sebuah toko buku impor di mal dekat tempat tinggalnya. Dia sengaja
ke sana karena sudah beberapa bulan tidak mampir ke toko buku, tempat
favoritnya, meski sangat selektif sebelum memutuskan beli. Matanya melongo
waktu melihat sebuah buku di area yang dikasih tanda 'Non-Fiction - Best
Seller.' Hard cover. Desain sampulnya simpel, tapi sangat kuat. Berwarna putih
pudar, hanya ada lingkaran dengan titik di tengah. Di kanan atas tertulis: The
Creative Act: A Way of Being. Di kanan bawah tertulis: Rick Rubin. Gambar
itu langsung mengingatkannya pada CD atau piringan hitam. Pada target atau
fokus. Sementara di sampul belakang hanya ada lingkaran tanpa titik, tanpa
sinopsis, tanpa endorsement.
Ia ambil buku itu. Dipegang-pegang. Perasaannya meronta-ronta. Segera ia tertarik. Kebetulan sudah tidak dibungkus plastik. Lembar-lembar halaman ia buka-buka dan matanya berusaha mencerap isi dalam sekejap. Juned terpaku sejenak, bibirnya seperti senyum-senyum tanpa ada yang meminta. Waktu di toko buku itu seakan melambat. Istri Juned yang ada di sampingnya memperhatikan tingkahnya. Ia ikut melirik buku yang dibuka-buka Juned. Ia penasaran apa yang membuat suaminya langsung tertarik pada buku itu. Lantas beberapa saat kemudian waktu pecah. Mereka bertatapan. Juned menoleh pada istrinya.
"Apa??" kata dia sambil tersenyum, "kamu tahu Rick Rubin enggak?" Telunjuknya mengarah pada tulisan nama yang tertera di sampul.
"Enggak.
Emang siapa dia?" tanya istrinya dengan nada polos.
Juned tertawa
kecil, lalu berkata, "Sayang kan lagi tahu banyak banget tentang Ammar
Zoni, dari A sampai Z. Sementara aku cuma dengar namanya, tahu sekilas soal
skandalnya. Nah, aku tahu jauh lebih banyak tentang Rick Rubin daripada
kamu." Suara Juned terdengar puas.
Istrinya mesem sambil tertawa kecil. Ucapan Juned tambah bikin ia penasaran.
"Memang
siapa Rick Rubin?" tanyanya lagi.
Juned tertawa
lebar. Istrinya makin aneh melihat Juned. Juned gembira ada sesuatu yang dia
ketahui cukup banyak, tapi istrinya tidak tahu apa-apa tentang hal itu. Lantas
Juned menyadari betapa topik yang menarik perhatian mereka berdua ternyata bisa
sangat berbeda, meskipun mereka hidup bersama.
Juned pertama kali tahu nama Rick Rubin lebih dari 30 tahun lalu, saat ia baru dewasa dan suka membaca kredit informasi di sampul album-album musik favoritnya. Rubin adalah produser musik legendaris dengan reputasi luar biasa di industri musik dunia. Ia dikenal karena pendekatan produksinya inovatif. Ia membantu menciptakan album-album ikonik dan hebat dari berbagai genre, mulai dari rock, hip-hop, hingga heavy metal. Banyak musisi/band yang pernah bekerja sama dengan Rubin ialah favorit Juned, seperti The Cult, Slayer, Red Hot Chili Peppers, Audioslave, Metallica, Linkin Park, dan lain-lain. Daftar panjangnya silakan cek di Wikipedia. Rubin bahkan memproduksi album Adelle, penyanyi pop yang lagunya sering tak sengaja didengar Juned meski dia tak menginginkannya. Album terakhir Black Sabbath juga diproduseri Rubin.
Bagi Juned, Rubin adalah sosok yang merevolusi cara musik diciptakan. Karena itu begitu melihat The Creative Act, Juned langsung merasa terikat. Bisa dibilang Rubin identik dengan album berkelas. Grammy Award dan ulasan critically acclaimed adalah buktinya. Meski tidak lepas dari kritik atau kontroversi, Rubin bersih dari skandal murahan. Trivia yang pernah Juned dengar tentang Rubin cuma ketika dia menahan Dave Lombardo agar tidak ke luar dari Slayer dengan memberinya bonus mobil dan melunasi kebutuhan hidupnya.
Juned heran bila seseorang jadi berita viral karena skandal, entah cekcok perkawinan, seks, kriminalitas, atau narkoba. Lebih aneh lagi ada banyak orang mengonsumsi berita itu seperti pil yang harus diminum tiga kali sehari. Padahal seseorang lain berada di luar radar perhatian berkat kerja hebat di belakang layar. Apa orang seperti Rubin sembunyi di balik studio dan membiarkan agar karyanya saja yang bicara?
Istrinya merasa penting untuk terus mengikuti berita dan komentar netizen tentang kasus yang dialami selebrita, sehingga membentuk pengetahuan 'secara utuh' dari berbagai sudut pandang. Tapi, bagi Juned itu adalah sampah, tak lebih dari informasi liar tanpa ada validasi antara yang jelas dan prasangka. Sebaliknya, pengetahuan tentang peran dan idealisme seseorang seperti Rick Rubin dinilai berharga bagi Juned, tapi tak berarti apa-apa bagi istrinya. Juned membatasi diri dari berita selebrita, sementara istrinya justru menelisik lebih dalam. Istrinya lebih suka menyerap info tentang resep, cara memasak dan membuat kerajinan, sementara Juned lebih suka membaca tulisan-tulisan panjang di WAG yang diikutinya.
Fenomena Juned dan istrinya membuktikan bahwa setiap orang memiliki minat pada informasi yang berbeda, meski mereka hidup bersama dan berbagi rutinitas. Ada informasi yang tidak beririsan dalam kehidupan mereka. Informasi yang dinilai berharga bagi seseorang bisa tidak berarti bahkan bagi orang terdekat sekalipun. Setiap individu memiliki filter informasi sendiri, memilih apa yang ingin diserap berdasarkan minat, pengalaman, atau sesuatu yang sedang dicari. Peluang inilah yang diolah dan terus diproduksi oleh penulis atau konten kreator, sementara platform berita dan media sosial memancing selera dan pilihan berdasarkan algoritma sampai muncul di beranda. Keputusan terakhir ada di tangan pemirsa.[]



