Inilah Hidup yang Aku Hadapi
-----------------------------------------------------------------
>> Anwar Holid
Stones taught me to fly
Love taught me to cry
Life taught me to die
-- Damien Rice, Cannonball
Aku sadar cukup yakin termasuk orang yang skeptik (ragu-ragu) terhadap banyak hal. Dari dulu, misalnya, aku ragu ada orang yang bisa cukup jujur mengungkapkan diri seratus persen, tanpa sedikit pun yang ditutupi. Aku merasa masing-masing orang punya motif, dan itu membuat mereka punya alasan bisa menyembunyikan sesuatu dari orang lain. Keragu-raguan itu membuat aku memandang banyak hal dengan datar, termasuk terhadap hal-hal yang buat orang lain masuk kategori sakral. Contoh, aku sudah lama ragu bahwa orang yang menikah benar-benar berniat ingin menciptakan rumah tangga yang baik atau sejahtera atau dipenuhi harapan muluk lain. Aku menuduh, kalau orang jujur, tentu dia mestinya berani bilang bahwa salah satu motif dia menikah ialah ingin bersetubuh secara halal (legal) dan baik, tanpa mesti khawatir takut dosa, bersalah, maupun dilarang. Pada orang tertentu, aku kadang-kadang mengaku bahwa salah satu tujuanku menikah adalah ingin bersenang-senang, dan aku pikir tujuan seperti itu masih dalam kategori baik, tepatnya: bukan dalam kategori berdosa. Aku merasa banyak orang bersembunyi di balik alasan-alasan yang dicari begitu rupa untuk menyembunyikan keinginan terdalamnya.
Aku jarang berpandangan terlalu tinggi/agung terhadap sesuatu. Terhadap negara dan perannya, misalnya, sudah lama sekali aku merasa sinis. Memang aku juga mesti mengakui arti penting peran institusi semacam itu terhadap kehidupan individu atau masyarakat; tapi begitu negara juga berperan dalam penyengsaraan masyarakat atau malah sama sekali mengabaikan terhadap nasib warga negaranya, termasuk melakukan penghancuran terhadap penduduknya, seketika itu juga pendapatku tentang negara bisa sangat negatif.
Dari hal semacam itu aku sadar bahwa orang berpendapat sesuai dengan sudut pandang atau kepentingan masing-masing. Setiap orang punya alasan untuk perbuatannya; segala sesuatu punya posisi kenapa akhirnya terjadi. Aku sudah sering menyadari hal seperti itu, akibatnya aku kerap membiarkan sesuatu berjalan sesuai adatnya, atau kalau perlu memberi tahu pandangan sesuai pengalamanku. Memang perbedaan pendapat atau pandangan ini pada satu titik pasti menimbulkan konflik, tapi mau bagaimana lagi? Ada kalanya konflik juga memang mesti terjadi. Dan bila sudah terjadi, yang dibutuhkan orang kadang-kadang hanya kesabaran dan keikhlasan.
Dengan mental seperti itu aku menjalani hidup sehari-hari dan mengalami peristiwa sepanjang hidup. Kadang-kadang aku merasa mudah tergugah/trenyuh oleh hal-hal kecil seperti ketika melihat tukang angkut sampah menarik gerobaknya yang terlalu penuh dan berat. Tapi ketika hendak memberi pertolongan, aku sendiri langsung ragu, 'Apa itu termasuk urusanku?' Aku misalnya bisa bersimpati kepada tukang pulung sampah kanak-kanak yang bisa ditemui kapan saja, tapi dalam hati aku kerap membela diri: setiap orang dilahirkan untuk menghadapi realitasnya masing-masing. Dengan begitu aku bisa langsung cuek.
Menghadapi realitas yang mesti aku alami memang menghabiskan banyak energi. Dari peristiwa itu aku berusaha mengambil pelajaran, tapi kadang-kadang begitu sulit dilakukan, atau pada akhirnya peristiwa tersebut kehilangan pengaruh pada hidup. Tapi barangkali peristiwa itu jadi sejenis artifak di dalam diri, baik menjadi trauma ataupun peringatan.
Tentu saja ada banyak peristiwa yang kuanggap penting dalam kehidupanku; atau apa semua peristiwa pada hidup seseorang adalah penting? Harus diakui, ada peristiwa yang memang dianggap lebih penting dari peristiwa lain, dan itu membuat kejadian tersebut jadi lebih mengesankan. Tapi seberapa penting dan mengesankan?
Salah satu peristiwa yang kuanggap penting ialah ketika aku pertama kali diterima bekerja di sebuah penerbit, Mizan. Aku menganggap itu adalah bukti bahwa 'keinginan' (doa, harapan) diberikan oleh Allah. Rasanya aku hanya butuh beberapa hal di dunia ini, dan ternyata salah satunya benar-benar dianugerahkan oleh Allah. Tapi justru ketika aku menganggap diterima bekerja di sana merupakan sebuah peristiwa penting (berkah besar), aku akhirnya diguncang oleh kejadian lain, yaitu ternyata aku gagal menjadi karyawan yang baik, akibatnya aku terpaksa di-PHK. Dari situ aku tahu, peristiwa selalu punya dua unsur, dan keduanya mesti dihadapi dengan sabar.
Menikah juga merupakan peristiwa penting dan momen berkesan (bahkan berharga), tapi justru pernikahan juga merupakan sebuah 'pergulatan' yang harus dihadapi setiap saat---yaitu selama lelaki dan perempuan masih rela jadi suami dan istri. Menikah membuat aku mendirikan keluarga, mengenal persetubuhan, mengetahui dimensi orang lain yang hidup sebagai istri, punya anak, mesti senantiasa punya pendapatan (nafkah), mengenal mazhab Syi'ah (sesedikit apa pun), dan seterusnya. Faktanya ialah pernikahan mengayakan pengetahuanku dan terus menerus jadi semacam ujian. Tapi dari pernikahan juga aku menghadapi sejumlah peristiwa gawat yang memperlihatkan betapa rentan aku terhadap ujian.
Aku sejak lama bilang bahwa kesabaran itu tiada batas; tapi justru dengan keyakinan itu aku gagal menghayatinya. Akibatnya, aku pernah menampar istri. Ketika peristiwa itu terjadi, aku menyalahkan istri yang aku anggap 'terus-menerus' menggoda kesabaran, dan akhirnya membuat kesabaranku bobol. Tapi intinya adalah: pada satu titik tertentu, titik didihku tercapai dan akhirnya meledak. Ketika itulah aku kalah menghadapi orang lain ataupun kesabaran itu sendiri. Aku tahu ada banyak hal yang merupakan 'tombol emosi' dalam hidupku, dan barangkali tinggal menunggu saat saja semua itu akhirnya meledak satu demi satu. Pernikahan, mendirikan keluarga, punya anak, adalah hal paling berat yang pernah aku tanggung dalam hidup; tapi dari sana aku belajar banyak hal, salah satunya ialah mengendalikan diri dan emosi.
'Tanggung jawab' dalam keluarga membuat aku menisbatkan hampir semua yang aku lakukan sebagai ibadah, dengan itu pula aku berusaha melakukan yang terbaik demi mendapat yang paling bagus. Tapi pada saat bersamaan aku juga penuh kekurangan, dan itu membuat yang aku lakukan masih banyak kurang. Kenyataan berumah tangga membuat aku sadar betapa banyak kekurangan yang aku punya. Istriku malah sinis dengan kondisi yang aku rasakan itu; tapi harus aku akui barangkali kekurangan itu yang membuat aku terus bertahan, berbuat, atau menghasilkan karya. Aku juga mempersembahkan karir dan pekerjaan untuk keperluan keluarga. Dari sana pun aku masih bisa mendapat sisa-sisa kesenangan. Yang harus aku akui juga ialah bahwa aku ternyata masih buruk menjadi orangtua. Ketakutan menjadi orangtua itu barangkali bersumber bahwa aku pun kurang maksimal meningkatkan kualitas kemanusiaan. Aku tahu pada taraf tertentu, lepas bahwa aku berniat lebih berbakti jadi manusia, aku masih terlampau condong menuruti hawa nafsu. Anak yang lahir dari perkawinan kami tampaknya standar saja menjalani kehidupan sebagai manusia. Di satu sisi aku merasa baru bisa berbuat sekadarnya sebagai orangtua---itu pun dipenuhi keraguan dan kurang pengetahuan.
Hidup ternyata hanya harus dijalani (dihadapi), bahkan ketika ada dalam kondisi paling gawat. Kejadian dalam hidup yang aku alami betul-betul mengajarkan aku pada banyak hal, bahwa hidup jalan terus meski ia berusaha dihindari. Keputusan hanya akan membawa pada konsekuensi; dan konsekuensi yang gagal dijalani hanya akan membuat hidup berantakan.
Hal lain yang mengantarkan aku pada banyak hal adalah pengalaman punya utang terbanyak dalam hidup gara-gara merenovasi rumah. Renovasi itu membuat aku menghadapi kenyataan mesti berutang ke sana-sini, termasuk ke teman-teman. Rasanya malu merasa punya kekurangan sebanyak itu; kondisi itu membuat aku harus menghadapi orang lain, menyela keperluan mereka sendiri, membuat aku tersudut oleh kenyataan buruk demi memperoleh sesuatu. Sekali lagi aku sadar peristiwa itu menggiring aku untuk berpendapat bahwa berbagai kemungkinan siap terpampang di hadapanku, asal aku mau menghadapinya cukup baik-baik.
Pengajian di Paramartha pada banyak hal mengantarkan aku pada khazanah Islam yang lebih dalam dan luas. Rasanya aku cukup konsisten menjalani proses dan berusaha mencerap sungguh-sungguh. Hanya saja aku malas berharap. Harapan sudah sering membuat aku kecewa atau malas, karena itu membiarkan segalanya berjalan sesuai kehendak kejadian, apa pun kemungkinannya. Di pengajian itu aku mendapat banyak sekali pelajaran, meski beberapa unsurnya aku tanggapi dengan 'dingin.' Untuk menjelaskan ini, aku sepakat dengan ucapan Nu'aim bahwa aku tidak punya instrumen pengetahuan yang membuat aku paham atau terkesan pada sejumlah cerita yang diutarakan oleh mentor. Bagaimanapun, aku bersyukur mendapat pelajaran yang sangat mengayakan batin maupun kemanusiaan itu. Meski ada yang membuat aku kurang antusias atas sejumlah hal yang dianggap orang-orang 'luar biasa', toh aku bisa cukup berdamai dengan itu, atau bertanya. Orang punya pengalaman atau realitas tertentu, dan itulah yang membentuk hidup dan keyakinannya.
Hidup membuat aku mengalami banyak hal. Aku mendapat berbagai hal, bergulat, atau berselisih. Tapi di sisi lain aku berusaha belajar menghadapi persoalan secara proporsional atau berdamai dengan keadaan. Satu keyakinan yang tertanam betul ialah bahwa bantuan (berkah, pertolongan) akan senantiasa ada, entah bagaimanapun caranya. Persoalannya ialah aku, sebagai manusia, kerap kurang sabar menanti bahwa semua akan baik-baik saja. Kalau bisa berjarak dengan peristiwa tersebut, faktornya ialah aku masih gagal melihat di balik peristiwa tersebut. Aku terbukti kerap kurang sabar atau mudah tergoda oleh hasutan yang membuat aku lepas kendali. Ketergesa-gesaan itu sebenarnya hanya membuat kemanusiaanku erosi (luntur); tapi entah bagaimana lagi aku berusaha memperbaiki diri. Pengetahuan kerap sia-sia setiap kali gagal terejawantahkan atau digunakan pada saat diperlukan.[]09 Oktober 2006, 0:23:04
Monday, April 02, 2007
Wednesday, July 05, 2006
Romo Ong
--------
>> Anwar Holid
DE MORTUIS nil nisi bonum, begitu kata sebuah ungkapan Latin. Artinya: Katakan hanya yang baik saja bagi mereka yang mati. Mengikuti ini, saya niat menulis yang baik-baik tentang seseorang yang ingin saya kenal lebih baik dulu sebelum diperkenalkan pada Anda, sebab dia sudah almarhum. Kenapa juga harus kenal dia? Jawabannya sederhana: karena kita belum mengenalnya, sementara sumbangsihnya buat humaniora ternyata sangat nyata.
'Kalau kamu mau tahu makna literasi, kamu harus tahu tentang Walter J. Ong. Studinya tentang literasi luar biasa dan senantiasa jadi bahan rujukan,' demikian saya dengar seorang senior berkata. Karena perkembangan industri buku makin bagus, istilah 'literasi' jadi begitu menantang, meski mungkin masih sulit dipahami dengan maksimal. Dalam sebuah diskusi, ada yang usul 'literasi' sebenarnya sepadan dengan 'celik' atau 'melek.' Menarik sebenarnya usul itu, tapi siapa yang mau konsisten menggunakannya bila dalam bawah sadar merasa 'literasi' jadi hina bila diganti dengan istilah asli Indonesia? Atau orang mungkin jadi malu bila harus mengucapkannya.
Peran paling penting Walter J. Ong dalam dunia literasi menurut Wikipedia adalah membangun model yang multidimensional terhadap budaya Barat dari dasar lisan sebelum mampu baca-tulis berlanjut ke perkembangan tulisan alfabetik dalam tradisi Yahudi dan Yunani ke perkembangan mesin cetak Gutenberg hingga sampai pada perkembangan terbaru media komunikasi terbaru yang mengutamakan bunyi. Tentu bukan hanya dia yang mengeksplorasi berbagai aspek perkembangan buku, salah satu yang sangat terkemuka tak pelak lagi Marshall McLuhan, yang ternyata adalah guru Ong sendiri.
WALTER Jackson Ong, Jr. lahir di Missouri, Amerika Serikat pada 30 November 1912 dari keluarga Nasrani taat. Ayahnya penganut Protestan dan ibunya seorang Katolik Roma. Setelah meraih sarjana muda bahasa Latin, dia masuk Serikat Jesuit (SJ) pada 1935 dan menjadi pendeta sejak 1946. Wajar bila Thomas J. Farrell, editor An Ong Reader, penulis Walter Ong's Contributions to Cultural Studies, menyatakan, 'Pertama-tama dan yang paling penting, Ong adalah seorang pendeta. Dia mengadakan misa harian pada pukul 5.30 pagi, rutin mendengarkan pengakuan, dan mengenakan pakaian khusus pendeta ke manapun pergi.'
Studinya dilanjutkan di Saint Louis University, tempat dia pada 1941 meraih gelar master sastra Inggris sekaligus mendapat kualifikasi mengajar filsafat dan teologi; di sana pula dia mengajar sejak 1954 hingga tiga puluh tahun kemudian. Ong meraih Ph.D. pada 1955 dari Harvard University. Dalam rentang karir di dunia akademik dan penulisan yang sangat panjang, Ong meninggal karena pneumonia pada 12 Agustus 2003 setelah lama berjuang melawan penyakit Parkinson.
Ong setidaknya telah menghasilkan 16 judul buku, memberi rangkaian kuliah khusus di berbagai universitas, ratusan artikel, termasuk buku kritik tentang pemikiran dan sumbangsih dia terhadap budaya cetak dan cultural studies. Subjek yang terus-terusan jadi perhatiannya adalah bagaimana peralihan dari oralitas primer ('primary orality', kelisanan utama) ke literasi secara dramatik mengubah cara berpikir manusia. Oralitas primer misalnya terjadi di zaman ketika retorika (bicara di depan publik) jadi suatu keunggulan. Mulai abad ke-20 ini, radio, televisi, rekaman suara, dan teknologi elektronik lain menandai lahirnya zaman baru yang disebut sebagai 'secondary orality' (oralitas kedua).
SEJARAH manusia memang memperlihatkan adanya evolusi dari kelisanan primer ke permulaan literasi dengan naskah tertulis. Wajar bila dia sangat luas menganalisis beda kelisanan, literasi, budaya lisan (‘oral culture’) dan budaya tulis (‘written culture’). Penyelidikannya membuktikan transisi dari budaya lisan ke tulisan merupakan awal dimulainya penggunaan teknologi kata tertulis untuk berkomunikasi. Menulis adalah teknologi yang harus dipelajari dengan usaha keras, namun efeknya menjadi transformasi pertama pemikiran manusia dari dunia bunyi ke dunia pandang. Bicara itu mudah, dikuasai manusia bahkan nyaris tanpa kesulitan; sebaliknya, menulis harus dikuasai dengan konsentrasi dan ketekunan, termasuk sulit menjadi sesuatu yang begitu spontan sebagaimana bicara.
Tapi apakah lisan, tidak menulis (dalam konotasi merendahkan disebut sebagai 'pra-literasi') terbukti lebih mulia daripada menulis? Sebuah studi menunjukkan orang seperti Socrates, Buddha, Homer, Bediuzzaman Said Nursi, tentu orang yang paham dan terpelajar, meski tak pernah mau repot menuliskan namanya pada manuskrip. Bagi mereka, cara terbaik berkomunikasi adalah langsung bertemu orang dan memulai percakapan. Tugas merekam kebajikan diserahkan pada pengikut dan murid.
Ong menciptakan istilah 'orality' (kelisanan) dalam bukunya yang paling terkenal, Orality and Literacy: The Technologizing of the Word (1982). Namun, meski telah diterjemahkan dalam lebih dari selusin bahasa, menurut kritik itu bukan buku dia yang paling penting. Buku dia yang paling penting adalah Ramus, Method, and the Decay of Dialogue: From the Art of Discourse to the Art of Reason (1958) dan The Presence of the Word: Some Prolegomena for Cultural and Religious History (1967). Dua buku ini dia bukan saja merintis ranah yang hari ini dikenal sebagai budaya cetak (print culture), melainkan juga cultural studies dan ekologi media (media ecology).
'Orality' dimaksudkan untuk menerangkan istilah 'literasi oral' agar tidak mengalami bias tipografi dan cirografi, yaitu bias terhadap kata tertulis atau tercetak sebagai satu-satunya cara yang dianggap paling canggih untuk mengulang maksud, bahasa, maupun cerita. Ong menyatakan unit pemahaman dalam budaya kelisanan primer tidak kalah kaya dibandingkan dalam budaya tulis. Contoh, dalam budaya lisan kata akan menambah kekuatan aksi---ini tidak terjadi dalam budaya tulis.
Pengakuan ini tentu mengejutkan kalangan tertentu yang kerap menyepelekan atau menganggap rendah orang yang hanya pandai bicara tapi kemampuan menulisnya rendah. Padahal sejarah manusia menyediakan banyak sekali contoh orang terpelajar, cerdas dan bijak yang tidak menulis. Orang tetap tidak boleh meremehkan sesama manusia, sebab manusia itu suci bagi sesamanya.[]
>> Anwar Holid, eksponen TEXTOUR Rumah Buku Bandung.
--------
>> Anwar Holid
DE MORTUIS nil nisi bonum, begitu kata sebuah ungkapan Latin. Artinya: Katakan hanya yang baik saja bagi mereka yang mati. Mengikuti ini, saya niat menulis yang baik-baik tentang seseorang yang ingin saya kenal lebih baik dulu sebelum diperkenalkan pada Anda, sebab dia sudah almarhum. Kenapa juga harus kenal dia? Jawabannya sederhana: karena kita belum mengenalnya, sementara sumbangsihnya buat humaniora ternyata sangat nyata.
'Kalau kamu mau tahu makna literasi, kamu harus tahu tentang Walter J. Ong. Studinya tentang literasi luar biasa dan senantiasa jadi bahan rujukan,' demikian saya dengar seorang senior berkata. Karena perkembangan industri buku makin bagus, istilah 'literasi' jadi begitu menantang, meski mungkin masih sulit dipahami dengan maksimal. Dalam sebuah diskusi, ada yang usul 'literasi' sebenarnya sepadan dengan 'celik' atau 'melek.' Menarik sebenarnya usul itu, tapi siapa yang mau konsisten menggunakannya bila dalam bawah sadar merasa 'literasi' jadi hina bila diganti dengan istilah asli Indonesia? Atau orang mungkin jadi malu bila harus mengucapkannya.
Peran paling penting Walter J. Ong dalam dunia literasi menurut Wikipedia adalah membangun model yang multidimensional terhadap budaya Barat dari dasar lisan sebelum mampu baca-tulis berlanjut ke perkembangan tulisan alfabetik dalam tradisi Yahudi dan Yunani ke perkembangan mesin cetak Gutenberg hingga sampai pada perkembangan terbaru media komunikasi terbaru yang mengutamakan bunyi. Tentu bukan hanya dia yang mengeksplorasi berbagai aspek perkembangan buku, salah satu yang sangat terkemuka tak pelak lagi Marshall McLuhan, yang ternyata adalah guru Ong sendiri.
WALTER Jackson Ong, Jr. lahir di Missouri, Amerika Serikat pada 30 November 1912 dari keluarga Nasrani taat. Ayahnya penganut Protestan dan ibunya seorang Katolik Roma. Setelah meraih sarjana muda bahasa Latin, dia masuk Serikat Jesuit (SJ) pada 1935 dan menjadi pendeta sejak 1946. Wajar bila Thomas J. Farrell, editor An Ong Reader, penulis Walter Ong's Contributions to Cultural Studies, menyatakan, 'Pertama-tama dan yang paling penting, Ong adalah seorang pendeta. Dia mengadakan misa harian pada pukul 5.30 pagi, rutin mendengarkan pengakuan, dan mengenakan pakaian khusus pendeta ke manapun pergi.'
Studinya dilanjutkan di Saint Louis University, tempat dia pada 1941 meraih gelar master sastra Inggris sekaligus mendapat kualifikasi mengajar filsafat dan teologi; di sana pula dia mengajar sejak 1954 hingga tiga puluh tahun kemudian. Ong meraih Ph.D. pada 1955 dari Harvard University. Dalam rentang karir di dunia akademik dan penulisan yang sangat panjang, Ong meninggal karena pneumonia pada 12 Agustus 2003 setelah lama berjuang melawan penyakit Parkinson.
Ong setidaknya telah menghasilkan 16 judul buku, memberi rangkaian kuliah khusus di berbagai universitas, ratusan artikel, termasuk buku kritik tentang pemikiran dan sumbangsih dia terhadap budaya cetak dan cultural studies. Subjek yang terus-terusan jadi perhatiannya adalah bagaimana peralihan dari oralitas primer ('primary orality', kelisanan utama) ke literasi secara dramatik mengubah cara berpikir manusia. Oralitas primer misalnya terjadi di zaman ketika retorika (bicara di depan publik) jadi suatu keunggulan. Mulai abad ke-20 ini, radio, televisi, rekaman suara, dan teknologi elektronik lain menandai lahirnya zaman baru yang disebut sebagai 'secondary orality' (oralitas kedua).
SEJARAH manusia memang memperlihatkan adanya evolusi dari kelisanan primer ke permulaan literasi dengan naskah tertulis. Wajar bila dia sangat luas menganalisis beda kelisanan, literasi, budaya lisan (‘oral culture’) dan budaya tulis (‘written culture’). Penyelidikannya membuktikan transisi dari budaya lisan ke tulisan merupakan awal dimulainya penggunaan teknologi kata tertulis untuk berkomunikasi. Menulis adalah teknologi yang harus dipelajari dengan usaha keras, namun efeknya menjadi transformasi pertama pemikiran manusia dari dunia bunyi ke dunia pandang. Bicara itu mudah, dikuasai manusia bahkan nyaris tanpa kesulitan; sebaliknya, menulis harus dikuasai dengan konsentrasi dan ketekunan, termasuk sulit menjadi sesuatu yang begitu spontan sebagaimana bicara.
Tapi apakah lisan, tidak menulis (dalam konotasi merendahkan disebut sebagai 'pra-literasi') terbukti lebih mulia daripada menulis? Sebuah studi menunjukkan orang seperti Socrates, Buddha, Homer, Bediuzzaman Said Nursi, tentu orang yang paham dan terpelajar, meski tak pernah mau repot menuliskan namanya pada manuskrip. Bagi mereka, cara terbaik berkomunikasi adalah langsung bertemu orang dan memulai percakapan. Tugas merekam kebajikan diserahkan pada pengikut dan murid.
Ong menciptakan istilah 'orality' (kelisanan) dalam bukunya yang paling terkenal, Orality and Literacy: The Technologizing of the Word (1982). Namun, meski telah diterjemahkan dalam lebih dari selusin bahasa, menurut kritik itu bukan buku dia yang paling penting. Buku dia yang paling penting adalah Ramus, Method, and the Decay of Dialogue: From the Art of Discourse to the Art of Reason (1958) dan The Presence of the Word: Some Prolegomena for Cultural and Religious History (1967). Dua buku ini dia bukan saja merintis ranah yang hari ini dikenal sebagai budaya cetak (print culture), melainkan juga cultural studies dan ekologi media (media ecology).
'Orality' dimaksudkan untuk menerangkan istilah 'literasi oral' agar tidak mengalami bias tipografi dan cirografi, yaitu bias terhadap kata tertulis atau tercetak sebagai satu-satunya cara yang dianggap paling canggih untuk mengulang maksud, bahasa, maupun cerita. Ong menyatakan unit pemahaman dalam budaya kelisanan primer tidak kalah kaya dibandingkan dalam budaya tulis. Contoh, dalam budaya lisan kata akan menambah kekuatan aksi---ini tidak terjadi dalam budaya tulis.
Pengakuan ini tentu mengejutkan kalangan tertentu yang kerap menyepelekan atau menganggap rendah orang yang hanya pandai bicara tapi kemampuan menulisnya rendah. Padahal sejarah manusia menyediakan banyak sekali contoh orang terpelajar, cerdas dan bijak yang tidak menulis. Orang tetap tidak boleh meremehkan sesama manusia, sebab manusia itu suci bagi sesamanya.[]
>> Anwar Holid, eksponen TEXTOUR Rumah Buku Bandung.
Waktu adalah Jiwa Dunia
-----------------------
>> Anwar Holid
RENUNGKANLAH pada saat kita bahagia, renungkanlah pada saat kita sedih; apa yang terjadi dalam hidup kita? Ketika bahagia, waktu begitu cepat berlalu; sementara ketika sedih, waktu terasa begitu lama bergulir, seolah-olah tak mau berakhir, sampai suatu saat ada sesuatu, atau seseorang, mengingatkan diri kita lagi: semua itu akan berlalu.
Katakanlah kita sakit hati, baik oleh seseorang atau keadaan. Pada saat kejadian kita sulit menerima kenyataan itu, menyalahkan diri dan orang lain, termasuk keadaan. Tapi seiring waktu berlalu, suasana jiwa yang berubah, kondisi yang berlainan, tanpa terasa disembuhkan oleh waktu. Kita jadi maklum, bisa menerima peristiwa tersebut, berusaha mengambil pelajaran dari sana, atau bahkan menertawakan kebodohan saat itu. Benar yang ditulis Seneca (5 SM-65 M): Waktu menyembuhkan hal yang tidak dapat dilakukan oleh akal.
Waktu mengubah keadaan: mulai dari cuaca, kehidupan sosial, politik, ekonomi, mode, semangat zaman, seluruh peristiwa baik yang telah diperkirakan maupun mustahil terjadi, termasuk jiwa orang. Kalau kecewa melakukan atau gagal mendapat sesuatu, kita kerap dinasihati begini: Barangkali memang belum waktunya; terimalah dengan tabah. Kalau sudah waktunya, kita tak kuasa melakukan apa-apa.
Waktu dipersepsi berbeda-beda dari zaman ke zaman. Jika dahulu orangtua menasihati agar kita sabar menunggu sesuatu sampai saatnya tiba, jangan tergesa-gesa; di zaman kapitalisme mutakhir ini kita tahu bahwa waktu adalah uang. Kalau bisa segala-galanya berlangsung cepat, agar dalam waktu singkat bisa dapat sebanyak-banyaknya. Prinsip ini terus-menerus dilawan oleh mereka yang ingin menghargai waktu apa adanya, bahwa segala sesuatu harus terjadi bila memang dikehendaki oleh takdir, diizinkan oleh keadaan. Mereka khawatir bila individu sampai tercerabut dari waktu maupun keadaan, sampai akhirnya terasing atau teralienasi dari realitas maupun lingkungan sosial.
Di stiker mobil angkutan kota, kerap terbaca versi parodinya: ‘Anda butuh waktu, kami butuh uang.’ Maka sopir angkot sering ugal-ugalan dan tergesa-gesa, karena mereka mengejar setoran, sementara penumpangnya sejak awal telah merasa terdesak oleh sempitnya waktu. Orang jadi merasa wajar bila menjalankan segala sesuatu dengan tergesa-gesa, padahal sebenarnya semua orang tahu: waktu tak menunggu siapa pun, waktu tak menunggu seorang pun.
KITA HANYA bisa memaknai waktu sekarang (persis saat kini), bukan masa lalu sebab telah ada dalam kenangan, bukan pula masa depan karena masih dalam angan-angan. Yang sedang terjadi selalu ada dalam masa kini, tak peduli berapa lama. Itu sebabnya kita selalu bilang masa lalu tak perlu jadi ancaman, sementara masa depan jangan sampai dikhawatirkan.
Konsep waktu memungkinkan kita memberi tanda pada kehidupan: peringatan, janji, rutinitas, prioritas, sejarah, revolusi, evolusi, cita-cita, kematian, kehidupan. Peringatan, misalnya memperingati peristiwa tertentu atau ulang tahun, memberi kesadaran bahwa manusia telah melakukan sesuatu dalam jangka waktu tertentu: mencapai apa dia, telah melakukan apa saja dalam hidupnya, apa yang dia dapat dari sana.
Waktu melahirkan kesadaran akan hidup: ada sesuatu yang terus bertambah tua, sampai suatu ketika akhirnya mati. Tapi waktu tetap ada, entah kapan akan berhenti. Barangkali dia abadi. Karena mungkin abadi itulah, sudah ada (diciptakan) sebelum manusia sadar atas kehadirannya, manusia---baik fisikawan, filosof, astronom---masih terus berdebat tentang apa sebenarnya waktu. Namun satu hal pasti, waktu terus bergerak; andai dia berhenti, sesaat saja, segalanya akan berhenti dan setelah itu tak akan ada waktu lagi.
Apakah waktu itu mengalir, hilang, atau berlalu? Yang sesungguhnya terjadi malah manusia tambah tua, anak-anak tumbuh jadi remaja, orang dewasa beruban dan keriput; keadaan terus berubah, segala sesuatu justru berlalu, Bumi terus berputar, sementara waktu terus ada. Dia satu-satunya yang tetap, bertahan, ada. Seluruh peristiwa terjadi dalam ruang dan waktu, mau yang besar-besaran, melibatkan banyak sekali orang dan faktor, maupun yang dilakukan diam-diam tanpa ketahuan seorang pun.
Meski kadang-kadang berulang---makanya ada sejarah, evolusi, masa lalu, masa depan, orang terkenang kejayaan masa silam atau berhasrat menyelamatkan masa depan---fenomena waktu berbeda dan berubah secara konstan. Pagi ini, meski terasa sama dengan pagi kemarin, kejadiannya berbeda, keadaannya telah ganti, peristiwa-peristiwa yang dihadapi lain lagi, bahkan tanggal definitifnya pun telah berubah. Meski dalam periode tertentu waktu berulang---hari, minggu, bulan, musim---kita tahu dia tidaklah berulang persis seperti prasangka kita.
Satu hal pasti, kita yakin, selama ada waktu, segalanya masih mungkin terjadi; hanya saja kita sendiri yang bisa merasakan apa kesempatan tersebut masih terbuka lebar atau sudah sempit dan nyaris tertutup.
ADANYA waktu memungkinkan manusia memikirkan segala hal relevan: merencanakan, memprediksi, menangguhkan, mendahulukan; pada saat bersamaan tahu kemungkinan berhasil dan bisa menerima kegagalan. Karena berencana, manusia belajar menentukan prioritas; apa yang penting, mendesak, harus didahulukan, atau ditunda.
Sebenarnya manusia diajari agar benar-benar awas terhadap keadaan, hati-hati terhadap setiap peristiwa, agar mereka bisa maksimal menikmatinya; tujuannya agar manusia senantiasa sadar bahwa yang paling penting dalam hidup adalah menghargai saat kini, apa pun kondisinya. Pepatah Cina dengan tepat menjelaskan itu: Anggur hari ini aku minum hari ini; derita esok aku tanggung besok. Tegas Seneca: hiduplah sekarang, sebab segala yang akan terjadi adalah milik wilayah tak menentu.
Manusia memang belajar dari waktu; ironiknya, mereka kerap alpa, suka mengulang-ulang kesalahan, persis pernyataan Hegel (1837): Yang diajarkan oleh pengalaman dan sejarah adalah bahwa orang dan pemerintahan tidak pernah belajar apa pun dari sejarah, atau bertindak berdasar pada pelajaran yang mungkin diambil dari sana. Kebenaran atas pernyataan ini jelas: bila di sisi ideal manusia berusaha mencapai peradaban setinggi-tingginya, menciptakan tanda kemanusiaan seagung mungkin, di sisi lain manusia masih gagal meninggalkan sifat barbarnya: perang, mencaplok milik orang lain, tiran, egoistik. Sangat sulit menemukan seorang individu genius yang mampu melampaui massa yang cenderung bodoh, bermental lemah, pengecut, beraninya keroyokan.
Barangkali itu sebabnya kenapa waktu diberikan nyaris tanpa batas kepada manusia, sejak manusia perlahan-lahan berusaha memaknai dan mendefinisikan 'waktu' sesuai argumen masing-masing, hingga kini dia belum berhenti---setidak-tidaknya masa berakhirnya masih ditunda, ditangguhkan, dipelihara menjadi misteri.
APA di awal tahun ini kamu bikin resolusi? Mencanangkan janji-janji? Kamu yakin akan mampu melaksanakan salah satunya? Jawabannya mungkin tidak. Kalau tidak ditepati, kenapa harus bikin janji? Janji amat mudah dilanggar. Tapi kalau yakin bahwa dengan melaksanakannya hidup bakal lebih baik, lebih berarti, setiap saat, dengan segala perubahannya, barangkali memang saatnya dilakukan, semampu kamu.
>> Anwar Holid, eksponen TEXTOUR Rumah Buku Bandung.
Alamat:Jalan Kapten Abdul Hamid, Panorama II No. 26 B Bandung 40141 Telepon: (022) 2502261 - HP: 08156-140621 Email: wartax@yahoo.com
-----------------------
>> Anwar Holid
RENUNGKANLAH pada saat kita bahagia, renungkanlah pada saat kita sedih; apa yang terjadi dalam hidup kita? Ketika bahagia, waktu begitu cepat berlalu; sementara ketika sedih, waktu terasa begitu lama bergulir, seolah-olah tak mau berakhir, sampai suatu saat ada sesuatu, atau seseorang, mengingatkan diri kita lagi: semua itu akan berlalu.
Katakanlah kita sakit hati, baik oleh seseorang atau keadaan. Pada saat kejadian kita sulit menerima kenyataan itu, menyalahkan diri dan orang lain, termasuk keadaan. Tapi seiring waktu berlalu, suasana jiwa yang berubah, kondisi yang berlainan, tanpa terasa disembuhkan oleh waktu. Kita jadi maklum, bisa menerima peristiwa tersebut, berusaha mengambil pelajaran dari sana, atau bahkan menertawakan kebodohan saat itu. Benar yang ditulis Seneca (5 SM-65 M): Waktu menyembuhkan hal yang tidak dapat dilakukan oleh akal.
Waktu mengubah keadaan: mulai dari cuaca, kehidupan sosial, politik, ekonomi, mode, semangat zaman, seluruh peristiwa baik yang telah diperkirakan maupun mustahil terjadi, termasuk jiwa orang. Kalau kecewa melakukan atau gagal mendapat sesuatu, kita kerap dinasihati begini: Barangkali memang belum waktunya; terimalah dengan tabah. Kalau sudah waktunya, kita tak kuasa melakukan apa-apa.
Waktu dipersepsi berbeda-beda dari zaman ke zaman. Jika dahulu orangtua menasihati agar kita sabar menunggu sesuatu sampai saatnya tiba, jangan tergesa-gesa; di zaman kapitalisme mutakhir ini kita tahu bahwa waktu adalah uang. Kalau bisa segala-galanya berlangsung cepat, agar dalam waktu singkat bisa dapat sebanyak-banyaknya. Prinsip ini terus-menerus dilawan oleh mereka yang ingin menghargai waktu apa adanya, bahwa segala sesuatu harus terjadi bila memang dikehendaki oleh takdir, diizinkan oleh keadaan. Mereka khawatir bila individu sampai tercerabut dari waktu maupun keadaan, sampai akhirnya terasing atau teralienasi dari realitas maupun lingkungan sosial.
Di stiker mobil angkutan kota, kerap terbaca versi parodinya: ‘Anda butuh waktu, kami butuh uang.’ Maka sopir angkot sering ugal-ugalan dan tergesa-gesa, karena mereka mengejar setoran, sementara penumpangnya sejak awal telah merasa terdesak oleh sempitnya waktu. Orang jadi merasa wajar bila menjalankan segala sesuatu dengan tergesa-gesa, padahal sebenarnya semua orang tahu: waktu tak menunggu siapa pun, waktu tak menunggu seorang pun.
KITA HANYA bisa memaknai waktu sekarang (persis saat kini), bukan masa lalu sebab telah ada dalam kenangan, bukan pula masa depan karena masih dalam angan-angan. Yang sedang terjadi selalu ada dalam masa kini, tak peduli berapa lama. Itu sebabnya kita selalu bilang masa lalu tak perlu jadi ancaman, sementara masa depan jangan sampai dikhawatirkan.
Konsep waktu memungkinkan kita memberi tanda pada kehidupan: peringatan, janji, rutinitas, prioritas, sejarah, revolusi, evolusi, cita-cita, kematian, kehidupan. Peringatan, misalnya memperingati peristiwa tertentu atau ulang tahun, memberi kesadaran bahwa manusia telah melakukan sesuatu dalam jangka waktu tertentu: mencapai apa dia, telah melakukan apa saja dalam hidupnya, apa yang dia dapat dari sana.
Waktu melahirkan kesadaran akan hidup: ada sesuatu yang terus bertambah tua, sampai suatu ketika akhirnya mati. Tapi waktu tetap ada, entah kapan akan berhenti. Barangkali dia abadi. Karena mungkin abadi itulah, sudah ada (diciptakan) sebelum manusia sadar atas kehadirannya, manusia---baik fisikawan, filosof, astronom---masih terus berdebat tentang apa sebenarnya waktu. Namun satu hal pasti, waktu terus bergerak; andai dia berhenti, sesaat saja, segalanya akan berhenti dan setelah itu tak akan ada waktu lagi.
Apakah waktu itu mengalir, hilang, atau berlalu? Yang sesungguhnya terjadi malah manusia tambah tua, anak-anak tumbuh jadi remaja, orang dewasa beruban dan keriput; keadaan terus berubah, segala sesuatu justru berlalu, Bumi terus berputar, sementara waktu terus ada. Dia satu-satunya yang tetap, bertahan, ada. Seluruh peristiwa terjadi dalam ruang dan waktu, mau yang besar-besaran, melibatkan banyak sekali orang dan faktor, maupun yang dilakukan diam-diam tanpa ketahuan seorang pun.
Meski kadang-kadang berulang---makanya ada sejarah, evolusi, masa lalu, masa depan, orang terkenang kejayaan masa silam atau berhasrat menyelamatkan masa depan---fenomena waktu berbeda dan berubah secara konstan. Pagi ini, meski terasa sama dengan pagi kemarin, kejadiannya berbeda, keadaannya telah ganti, peristiwa-peristiwa yang dihadapi lain lagi, bahkan tanggal definitifnya pun telah berubah. Meski dalam periode tertentu waktu berulang---hari, minggu, bulan, musim---kita tahu dia tidaklah berulang persis seperti prasangka kita.
Satu hal pasti, kita yakin, selama ada waktu, segalanya masih mungkin terjadi; hanya saja kita sendiri yang bisa merasakan apa kesempatan tersebut masih terbuka lebar atau sudah sempit dan nyaris tertutup.
ADANYA waktu memungkinkan manusia memikirkan segala hal relevan: merencanakan, memprediksi, menangguhkan, mendahulukan; pada saat bersamaan tahu kemungkinan berhasil dan bisa menerima kegagalan. Karena berencana, manusia belajar menentukan prioritas; apa yang penting, mendesak, harus didahulukan, atau ditunda.
Sebenarnya manusia diajari agar benar-benar awas terhadap keadaan, hati-hati terhadap setiap peristiwa, agar mereka bisa maksimal menikmatinya; tujuannya agar manusia senantiasa sadar bahwa yang paling penting dalam hidup adalah menghargai saat kini, apa pun kondisinya. Pepatah Cina dengan tepat menjelaskan itu: Anggur hari ini aku minum hari ini; derita esok aku tanggung besok. Tegas Seneca: hiduplah sekarang, sebab segala yang akan terjadi adalah milik wilayah tak menentu.
Manusia memang belajar dari waktu; ironiknya, mereka kerap alpa, suka mengulang-ulang kesalahan, persis pernyataan Hegel (1837): Yang diajarkan oleh pengalaman dan sejarah adalah bahwa orang dan pemerintahan tidak pernah belajar apa pun dari sejarah, atau bertindak berdasar pada pelajaran yang mungkin diambil dari sana. Kebenaran atas pernyataan ini jelas: bila di sisi ideal manusia berusaha mencapai peradaban setinggi-tingginya, menciptakan tanda kemanusiaan seagung mungkin, di sisi lain manusia masih gagal meninggalkan sifat barbarnya: perang, mencaplok milik orang lain, tiran, egoistik. Sangat sulit menemukan seorang individu genius yang mampu melampaui massa yang cenderung bodoh, bermental lemah, pengecut, beraninya keroyokan.
Barangkali itu sebabnya kenapa waktu diberikan nyaris tanpa batas kepada manusia, sejak manusia perlahan-lahan berusaha memaknai dan mendefinisikan 'waktu' sesuai argumen masing-masing, hingga kini dia belum berhenti---setidak-tidaknya masa berakhirnya masih ditunda, ditangguhkan, dipelihara menjadi misteri.
APA di awal tahun ini kamu bikin resolusi? Mencanangkan janji-janji? Kamu yakin akan mampu melaksanakan salah satunya? Jawabannya mungkin tidak. Kalau tidak ditepati, kenapa harus bikin janji? Janji amat mudah dilanggar. Tapi kalau yakin bahwa dengan melaksanakannya hidup bakal lebih baik, lebih berarti, setiap saat, dengan segala perubahannya, barangkali memang saatnya dilakukan, semampu kamu.
>> Anwar Holid, eksponen TEXTOUR Rumah Buku Bandung.
Alamat:Jalan Kapten Abdul Hamid, Panorama II No. 26 B Bandung 40141 Telepon: (022) 2502261 - HP: 08156-140621 Email: wartax@yahoo.com
Subscribe to:
Posts (Atom)