Friday, April 27, 2007

SURAT ANGGORO
------------------------------------
>> Indah Darmastuti


Gemuruh ombak terdengar dari kejauhan. Membentur karang menghempas di bibir pantai. Angin laut bertiup membawa kabar bahwa kemarau masih panjang. Hembusannya menerpa wajah dan rambut bocah lelaki tengah tekun memintal benang layang-layang. Mata coklat itu mengamati lilitan yang dihasilkan. Berkali ia menimbang, cukupkah untuk menerbangkan layang-layang di ketinggian. Bibir mungil mengatup rapat namun pikirannya sibuk merencanakan apa yang hendak ia tulis. Tepatnya sepucuk surat buat Tuhan yang akan ia kirim lewat layang-layang. Kata ibu,
“Anggoro, jika kita mempunyai keinginan besar atau kecil, kita harus meminta kepada Tuhan. Ia berada di tempat tinggi, di Surga. Tetapi tetap mau ditemui.”
Semalaman ia terus terjaga. Sibuk memikirkan cara menyampaikan keinginan-nya, yaitu bertemu bapak. Ia sungguh merindukan. Bapak memang tidak pulang lagi sejak malam itu, yaitu saat ada tamu datang ke rumah, lalu bapak pergi bersama tamu-tamu itu hingga kini. Ia tidak mengerti mengapa sejak kejadian itu, sering terlihat ibu menangis diam-diam. Kehilangan dirasakan jika sore datang lalu beranjak malam. Kesedihan kian sempurna ketika ia pernah memergoki orang-orang kampung berkumpul seperti sedang membicarakan sesuatu yang penting. Ternyata benar, ada yang mengatakan bahwa bapak pergi bersama tamu-tamunya karena tulisan bapak di koran buruk, sebagai seorang wartawan seharusnya bapak bisa menulis bagus tetapi ternyata tidak. Ia berpikir, mungkinkah hanya karena tulisan yang tidak bagus itu bapak tidak pulang sehingga ibu menjadi murung? Sering menangis? Tidak lagi memeluk dirinya?
Hari-hari panjang terlewati dengan kerinduan semakin besar pada bapak. Hingga akhirnya ibu memutuskan pindah ke rumah Mbah Kakung dan Mbah Putri yang bekerja sebagai nelayan, tinggal dekat pantai di Gunung Kidul. Barangkali karena ibu sudah jemu menunggu kepulangan bapak atau karena ibu bosan melihat orang-orang asing sering melintas di depan rumah sambil mengamati, seakan menyelidik setiap kegiatan di rumah. Tetapi jelas keputusan ibu untuk pindah membuat bocah itu sedih karena harus berpisah dengan teman-teman sekolah dan teman bermain bola di kampungnya. Ia kelelahan oleh rasa bingung dan tidak mengerti akan semua kejadian itu. Itulah yang sering mengganggu tidurnya. Tak terkecuali tadi malam. Terpetik dari hatinya sebuah pertanyaan “Bapak, di manakah engkau sekarang?”
Namun akhirnya ia terlelap oleh kelelahan yang mendera. Waktu menunjuk pukul 00.10 BBWI. Di kejauhan suara ombak gemuruh mengirim buih-buih putih ke tepi. Mengetuk-ketuk pintu khayal si Bocah. Namun semua indra terlalu lemah untuk mendengar hingga fajar menyingsing. Pagi hadir memenuhi janji.
Kaki telanjang si Bocah terayun, berlari kecil menuju pantai. Menyusuri setiap tepian hingga ombak menyentuh jari-jarinya. Tatapan menyipit, lurus memandang ke depan menembus batas cakrawala. Kian merona oleh sinar matari yang menimpa. Selalu begitu yang ia lakukan jika Minggu tiba. Saat sekolah libur. Ia akan datang ke tepi pantai menunggu bapak pulang. Melabuhkan seikat pertanyaan “Kapan kau akan pulang bapak?” Pertanyaan itu terlahir karena ibu pernah bilang:
“Bapak pergi berlayar di lautan yang sangat jauh dari daratan.” Ketika ia bertanya:
“Ibu, pergi kemanakah bapak, mengapa sampai sekarang belum pulang? Tidak kangenkah dengan kita?” Ia selalu membayangkan ada kapal mendarat di pantai tempat ia berdiri menunggu mengantar bapak kembali padanya dengan membawa banyak oleh-oleh. Tetapi selalu saja hanya ombak penyambut kedatangannya. Ia tak tahu bahwa pantai tempatnya berdiri bukan tempat perhentian atau singgahnya kapal layar.
Seperti pagi ini. Ia berdiri memandang laut. Di tangan kiri menggenggam pintalan benang, di tangan kanan sepotong layang-layang. Terhela napas, lalu berbalik memunggungi laut berjalan menjauh. Duduk menimbang, membaca kembali tulisan pada kertas layang-layang. Sepucuk surat buat Tuhan.

Kepada Tuhan yang baik.
Tuhan, saya tidak bisa menulis banyak-banyak. Saya hanya mau mengatakan kepadaMu, saya ingin bapak segera pulang karena saya merindukannya. Saya ingin seperti Aji yang selalu dipeluk bapaknya sepulang sekolah. Saya menulis ini karena ibu bilang saya harus meminta kepada-Mu. Tetapi saya tidak tahu caranya, jadi saya menerbangkan surat ini bersama layang-layang. Saya tahu pasti Tuhan segera menangkapnya saat melintasi mega-mega lalu segera membacanya. Saya mengucapkan terimakasih karena Tuhan mau membacanya meskipun saya masih kanak-kanak.


Salam dari saya
Anggoro

Bocah itu membaca lagi berulang. Memikirkan tentang apa yang telah ia tulis. Ketika dirasa puas, ia bangit. Dia buka lilitan benang dan mulai berusaha mener-bangkan layang-layang. Angin menggerakkan layang-layang, juga mengacak rambut si Bocah yang berwarna kemerahan. Beberapa menit, layang-layang itu mulai meninggi serupa bersayap ia terbang tinggi......menyentuh mega, bersaing dengan camar. Kini lehernya mulai pegal karena lama mendongak, bibirnya sedikit terbuka. Mata kanak-kanak itu membelah awan memastikan layang-layangnya sudah sampai ke Surga tempat Tuhan tinggal. Lilitan benang lepas senti demi senti hingga tinggal ujung benang yang ia pegang. Ia menunduk menimbang untuk mengambil keputusan akankah benang ini dilepas, atau menunggu Tuhan mengambil dan menjawab dengan menulis balasan pada layang-layangnya. Akhirnya ujung benang dilepas. Kini hanya tinggal kaleng bekas benang ada di tangannya. Sekali lagi ia mendongak, terharu. Hatinya bahagia, air mata bening menitik membelah pipi gembul. Sebutir demi sebutir jatuh ke pasir seiring keyakinan bahwa Tuhan menjawab. Mungkin tidak secepat bayangannya, sebab ia tahu bahwa tentu bukan hanya dirinya yang memiliki permintaan. Ia tahu harus mengantri dulu hingga tiba giliran. Seperti ada bongkahan karang terangkat terbuang dari hatinya, ia pulang. Ia akan menunggu bapaknya pulang.
“Ibu, saya sudah mengirimkan permintaan kepada Tuhan di Surga. Saya menitipkan surat itu pada layang-layang.” Katanya sesampai di rumah.
“Permintaan apa Nak?”
“Aku ingin bapak segera pulang.”

***

Hari-hari pergi dan sambut menyambut seperti ombak pantai tanpa putus. Sekarang sudah memasuki bulan ke tiga si Bocah menunggu bapaknya pulang. Ia mulai diserang gelisah. Apalagi jika melihat ibu sering melamun jika sore merambat petang. Ia sedih mengapa Tuhan tak kunjung menjawab suratnya. Mungkinkah Tuhan masih sibuk, banyak pekerjaan sehingga belum sempat menjawab suratnya atau bahkan membacanya saja juga belum sempat? Atau Tuhan mengabaikan karena ia hanya kanak-kanak? Ia kecewa. Merasa dibohongi oleh ibu, oleh Tuhan, juga oleh harapannya sendiri. Jika pagi tiba, ia melangkah mencetak bekas telapak kaki di bibir pantai. Mata itu mencari kalau-kalau ada layang-layang tergolek di pasir atau ada suara dari ketinggian yang memberi tahu tentang bapaknya berada. Nihil.
Si Bocah putus asa. Ia bertekad menerbangkan lagi sepotong layang-layang dengan sebaris kalimat: Tuhan, mengapa Engkau tak mau menjawabku?

***

Pagi cerah. Burung-burung camar melintas angkasa dengan damai. Angin laut menerpa paras bocah lelaki yang mulai jengkel karena layang-layang itu tak juga beranjak naik. Benang hanya membawa layang-layang berputar-putar horizontal. Kesabaran tinggal setipis garis. Ia mulai menangis dalam hati. Menjerit tanpa suara. Lengan sudah terasa panas. Ia hentak lagi benang layang-layang, tak juga terbang. Akhirnya ia putuskan untuk membuang, melempar semua ke laut. Lunglai ia duduk mengemas kejengkelan. Tujuh menit berlalu. Kepala yang diletakkan pada kedua lutut yang tertekuk terasa penat. Ia menghela napas seraya bangkit hendak meraih layang-layang yang tadi dihempas. Namun ia terkejut karena layang-layang itu dipegang sepasang tangan dewasa. Terasa tak percaya ia menyaksikan bahwa tangan itu adalah milik seseorang yang selama ini dirindukan. Seorang laki-laki yang ia panggil bapak berdiri sedikit jauh dari ibu. Secepat ia berlari menghambur dalam dekap. Melarutkan segala harapan dan rasa kangen yang selama ini terpendam. Terasa cukup, ia melepaskan diri turun dari gendongan. Mata kanak-kanaknya mencari sesuatu sambil ia bertanya,
“Ibu, di mana Dia?”
“Siapa yang kau cari Nak?” heran bapak bertanya.
“Aku mencari Tuhan.”[]

Indah Darmastuti tinggal di Solo, di sana sehari-hari ia bekerja sebagai karyawati ssebuah perusahaan batik. Novelnya pertamanya, Kepompong (2007) diterbitkan Jalasutra.

Thursday, April 26, 2007

PETER RIPKEN & LITPROM
------------------------------
>> Anwar Holid


'KENAPA sedikit sekali karya penulis Indonesia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman?' tanya Peter Ripken dalam pertemuan Forum Buku di Goethe-Institut Jakarta (GI Jakarta), pada Jumat, 13 April 2007. Peter Ripken saat ini menjadi Direktur Society for the Promotion of African, Asian and Latin American Literature (www.litprom.de). Ia bertugas mencari penerbit atau sastrawan yang karyanya bisa diterjemahkan dan dipasarkan pada publik berbahasa Jerman. Pertemuan diselenggarakan GI Jakarta, diawali perkenalan situs Forum-Buku, layanan informasi di internet milik Goethe-Institut Jakarta.

Untuk fiksi Indonesia, sejak 1984 Litprom baru menerjemahkan lima belas judul dari total kira-kira 560 judul di seluruh dunia yang mereka dukung untuk diterjemahkan. Menurut Ripken, dibandingkan fiksi Korea, Indonesia kalah jauh. Ia bahkan berani berasumsi bahwa Indonesia dan karya sastranya nyaris tak dikenal atau ada dalam pikiran pembaca Jerman. Dari daftar keluaran Litprom, fiksi Asia yang paling banyak diterjemahkan berasal dari India, menyusul Iran, Cina, dan negara Asia Selatan lain. Fiksi Indonesia yang sudah mereka terjemahkan cukup mudah ditebak, yaitu yang masuk dalam kategori sastra mapan, antara lain Armijn Pane, Ahmad Tohari, Mochtar Lubis, Oka Rusmini, dan Leila S. Chudori.

Hendarto Setiadi, seorang penerjemah, menyatakan buku Indonesia jarang diterjemahkan karena bangsa kita kurang berpromosi dan mengenalkan karya sendiri pada bangsa lain; Ripken pun menyayangkan kurangnya promosi dari para penerbit Indonesia. Sebab lain karena kemampuan berbahasa asing penulis Indonesia kurang, dan tak ada lembaga khusus yang bertugas menerjemahkan karya bangsa Indonesia. Rasanya, di Indonesia memang tak ada lembaga khusus yang berkepentingan/bertanggung jawab memperkenalkan fiksi Indonesia ke luar negeri. Lembaga yang suka menerjemahkan karya Indonesia justru berasal dari luar, didanai oleh negara bersangkutan atau lembaga donor tertentu.

Sebagian hadirin keberatan dengan dalih itu. Donny Gahral Adian, filsuf-penulis pemilik Penerbit Koekoesan, menyatakan semua tema sudah digarap penulis Barat dengan cara canggih; sudut pandang dan upaya apalagi yang bisa ditawarkan penulis kita agar bisa memikat publik Barat? Alasan ini diamini sebagian orang, yakni harus diakui mutu karya penulis Indonesia memang sering kalah dibandingkan karya penulis Barat, meski dalam beberapa aspek soal tema masih bisa dibicarakan lebih lanjut. Rani Ambyo, book packager dari Allegra Publishing, menyatakan persoalan yang kerap ia temui ialah banyak isi buku sebenarnya masih mentah, belum disiapkan dengan matang, sebenarnya bisa digarap lebih saksama daripada buru-buru diterbitkan. Akibatnya ketika terbit buku tersebut mengecewakan, sebab banyak aspek isi dan penyuntingan diabaikan.

'Ini memang PR bagi semua penerbit Indonesia,' kata Kartini Nurdin dari YOI dan Ikapi Pusat, mengakui betapa upaya peningkatan kualitas penerbitan Indonesia mesti jadi perhatian semua pihak berkepentingan. Ucapan itu pesimistik, tapi memang begitu keadaan kita. Semua penerbit menghadapi persoalan dengan kadar rupa-rupa, mulai aspek penyuntingan yang kerap terabaikan hingga pekerja atau penerjemah yang dibayar terlalu murah. Penerjemahan fiksi Indonesia ke bahasa asing tentu saja pernah dan terus-menerus dilakukan sejumlah penerbit, dengan tingkat keberhasilan berbeda-beda, termasuk pertaruhan: seberapa banyak terjemahan itu bisa diserap oleh publik bahasa target? Peluang keuntungannya ialah standar jumlah cetakan pertama yang lebih besar dibandingkan Indonesia. Meski penerjemahan selalu merupakan proyek prestisius, ternyata kendala ke arah sana sangat banyak.

Dalam Forum-Buku kemarin juga masih kabur faktor apa yang paling berpengaruh dalam upaya penerjemahan itu, entah tiada penyandang dana, pasar yang sangat kabur, hingga kekhawatiran untuk apa buku tersebut diterjemahan.

KEHADIRAN Peter Ripken ke Indonesia membuka peluang agar fiksi Indonesia makin banyak diterjemahkan, terutama Jerman. Litprom bisa memfasilitasi hal tersebut. Penerbit dan lembaga berkepentingan bisa langsung kontak; di Indonesia dia bisa dihubungi via Goethe-Institut Jakarta. Litprom sangat erat berhubungan dengan Frankfurt Book Fair, memajang buku yang sudah mereka dukung penerjemahannya atau dinilai bagus. Dari Litprom penerbit juga bisa belajar banyak soal bagaimana mempresentasikan diri di ajang pameran internasional atau memasarkan diri dengan lebih baik. Peluang itu terbuka bagi penerbit dan lembaga sejenis, bisa dicapai dengan mengajukan proposal lebih dahulu. Dengan begitu peluang penulis berbahasa Indonesia maupun daerah sama besar. Wajar bila kita usul agar Litprom segera meluaskan kategori fiksi yang hendak mereka terjemahkan, misalnya fiksi Islam, yang dalam industri buku Indonesia memberi sumbangan penting; kemudian fiksi kanak-kanak, yang tentu berlatar belakang budaya dan alam sangat berbeda dengan khazanah literatur kanak-kanak Barat; bahkan bila waktunya merambah komik dan novel grafis.

Tertarik? Jangan sungkan, Peter Ripken dan Litprom sangat kooperatif dan terbuka untuk segala bentuk kerja sama.[]

Kontak: Jalan Kapten Abdul Hamid, Panorama II No. 26 B Bandung 40141 Telepon: (022) 2037348 HP: 08156-140621 Email: wartax@yahoo.com
Menemukan Spirit Menulis
>> Anwar Holid


Harga Sebuah Impian dan Kisah-Kisah Nyata Lainnya
Judul asli: Chicken Soup for the Writer's Soul
Penyusun: Jack Canfield, Mark Victor Hansen, Bud Gardner
Penerjemah: Rina Buntaran
Penerbit: GPU, 2007
Tebal: 201 hal.
ISBN: 979-22-2546-3


Chicken Soup for the Soul merupakan salah satu serial buku paling fenomenal yang pernah terbit di Amerika Serikat (AS) pada awal 1990-an. Kesuksesannya terus bertahan dan berkembang hingga sekarang, bahkan kini menawarkan tema yang amat luas demi menjangkau kalangan tertentu sebanyak-banyaknya, termasuk remaja, ibu-ibu, wanita karir, kakek-nenek, bahkan narapidana. Per Januari 2006, seri Chicken Soup sudah mencapai 105 judul, terjual lebih dari 100 juta kopi, diterjemahkan ke lebih 50 bahasa. Semua di luar bayangan Jack Canfield dan Mark Victor Hansen, pencipta serial tersebut.

Chicken Soup secara khas terdiri dari kisah nyata pendek inspirasional dan motivasional, baik berupa cerita maupun esai. Biasanya satu judul memuat 101 kisah, rata-rata 4-5 halaman, hanya butuh beberapa menit untuk menuntaskannya. Pembaca bisa memulai dari mana saja, sebab kualitas cerita dan tujuannya sama, yaitu menyentuh, mengharukan, memberi semangat. Kisah tersebut sarat pelajaran, wawasan, dan kebijaksanaan, hingga selesai membaca salah satu kisah, pembaca sering terhenyak oleh betapa hidup seseorang bisa berubah oleh peristiwa tertentu yang sangat mengesankan; ketika itulah seseorang mendapat pelajaran seumur hidup yang tiada terkira mahal, melekat terus dalam benak, sulit dilupakan.

Menggandeng Bud Gardner, kali ini Jack Canfield dan Mark Victor Hansen menghidangkan ‘sup ayam’ spesial ditujukan bagi dunia yang selama ini melambungkan reputasi mereka ke tingkat sangat tinggi, yaitu dunia tulis-menulis dan perbukuan. Chicken Soup for the Writer's Soul edisi Indonesia ini terdiri dari 42 kisah dari ranah penulisan yang ladangnya luas. Di samping profesi yang sudah lekat dengan dunia kepenulisan, seperti novelis dan wartawan (jurnalis), mereka di antaranya menjadi kolumnis, penulis rubrik konsultasi, naskah lawakan, script-writer (skenario), tips rumah tangga, ibu rumah tangga freelance. Kesamaan utamanya, semua kontributor sudah pernah menerbitkan buku, laris (best seller), hingga akhirnya bisa hidup sejahtera dari menulis dan tinggal konsisten menghasilkan karya. Bisa dipastikan pemberi semangat tersebut bukan jenis penulis atau 'sastrawan' lusuh, kere, hidup dalam ketegangan mencari ide orisinal dan ingin menelurkan karya fenomenal. Mereka jenis penulis sukses yang mau belajar dari kesalahan dan hati-hati menjalani karir. Meski bukan tipe penulis kelas pemenang hadiah Nobel dan anugerah sastra terkemuka, teladan dari mereka ialah disiplin, berdedikasi, dan profesional.

Kisah Richard Paul Evans (h. 101-108) ketika menerbitkan sendiri The Christmas Box tentu bisa memotivasi dan menginspirasi, bagaimana optimisme mengalahkan kekhawatiran akan masa depan. Dia menulis novel 87 halaman itu sebagai hadiah Natal untuk kedua putrinya. Ternyata sebuah ilham memberinya keberanian membuat salinan sebanyak dua puluh kopi, dihadiahkan kepada keluarga dan teman. Dari sana sesuatu terjadi. Tanpa dia duga banyak orang meneleponnya dan bilang betapa buku tersebut menyembuhkan. Karena banyak dicari, seorang manajer toko buku menyarankan agar naskah itu ditawarkan ke penerbit. Ternyata semua menolak. Natal tahun berikutnya dia dan istrinya mencetak 20.000 kopi, menjual sendiri, dan sukses di negara bagiannya.

Sampai 1994 The Christmas Box belum punya penerbit, tapi suami-istri itu yakin bahwa Tuhan sengaja memberi misi dengan buku tersebut. Meninggalkan karir, menggunakan tabungan keluarga, dan meminta bantuan investasi seorang teman, mereka mengorbankan segala-galanya demi menerbitkan buku itu secara nasional. Ketika hendak mengambil risiko besar itulah tanda-tanda kegagalan segera ada di ambang mata. Di Pantai Timur dan Selatan, buku itu terkubur di antara ribuan judul lain. Bila tak laku sesudah Natal, buku itu pasti akan kembali dan mengonggok di gudang, menghabiskan uang yang ditanam, dan toko tak akan pernah memesan lagi. Ketika butuh publisitas media massa dan televisi untuk mendongkrak bukunya, Paul Evans sudah nyaris bangkrut. Rencana talkshow bukunya di televisi gagal diganti oleh acara tentang mendengkur, wawancara dengan People batal. Di saat bersamaan istrinya mengalami komplikasi kehamilan serius. Dia di ujung putus asa. Meski begitu ilham tetap menguatkannya. Ketika hendak menata ulang pemasaran buku itu, People memutuskan memuat artikel tentang buku tersebut. Keadaan segera berbalik. Sebentar kemudian dia ditelepon NBC agar menghadiri talkshow. Tiga minggu kemudian bukunya mencapai #2 di daftar best seller New York Times Book Review. Penerbit dan pembuat film berdatangan menawar bukunya. Simon & Schuster membeli hak penerbitan buku itu seharga US$4,2 juta. Akhirnya buku itu mencatat sejarah sebagai satu-satunya judul yang edisi hardcover dan paperback bersamaan menempati posisi pertama daftar best seller New York Times Book Review, diterjemahkan dalam 18 bahasa, dan sekitar 60 juta orang menonton filmnya.

Kisah penyemangat dari 41 penulis lain terungkap satu demi satu. Hanya nuansa dan penekanannya berbeda-beda. Kisah itu ditulis jujur, tulus, dengan tujuan berbagi gairah, kebahagiaan, pelajaran, dedikasi, profesionalisme, disiplin, ilham, dan wawasan. Wajar bila di setiap halaman selalu ada pernyataan, kalimat, adagium, parafrase, ungkapan, yang bisa dijadikan penggugah, kutipan favorit, pengikat semangat bagi pembaca, terlebih-lebih bila mereka sedang mencari peneguh memasuki dunia tulis-menulis. Sesama kontributor pun ternyata saling belajar, apalagi dari penulis atau guru menulis legendaris yang jadi favorit mereka ketika masih muda dan perlahan-lahan meniti karir di dunia penulisan. Mereka rendah hati, mau bekerja sama, mudah membantu.

Karena para penyumbang adalah 'penulis yang diterbitkan', kehidupan dan karirnya mempertaruhkan kemampuan menulis, sikap menghadapi penolakan, bersabar dengan kegagalan jadi topik yang sering dibahas. Pada saatnya mereka menemukan kemampuan terbaik sebagai kekuatan terbesar. Uang, kesuksesan materi dan karir, sekilas menjadi motif dan ukuran puncak seorang penulis. Meski pernah silau oleh itu semua, yang akhirnya disadari paling berharga dan bernilai tiada terkira ialah niat menemukan kebahagiaan, bahwa di atas kejayaan duniawi, mereka mengejar kepuasan batin dan hanya ingin berhasil menulis sebaik-baiknya. Tulis Dan Millman: Yang bisa kita lakukan sebagai penulis hanyalah mencoba, mengerahkan usaha, menabur benih, dan menuai panen yang diberikan dengan penuh sukacita dan syukur (h. 75).


HARUS dimaklumi buku ini terbit sesuai konteks industri penerbitan AS yang sudah mapan, seluruh unsur pendukungnya pun tumbuh semarak. Kondisi itu memungkinkan penulis bisa bekerja sama secara fleksibel dan menguntungkan dengan editor, agen naskah (literary agent), asosiasi penulis, penerbit, publisitas, agen film, sindikasi media, termasuk penerbitan ulang dan lembaga pajak. Semua memudahkan penulis menggandakan keberhasilan dan bisa mendapat bagian penghasilan dari berbagai jalur. Namun, di luar kemapanan maupun sistem yang sudah rapi, selalu saja lahir keajaiban yang kehadirannya senantiasa mengejutkan. Sejumlah keajaiban itu banyak hadir dalam buku ini.

Tampaknya ada perbedaan jumlah kisah dalam edisi Indonesia dibandingkan edisi asli. Dugaan ini bisa ditengarai di pendahuluan. Di situ dijanjikan pembaca bisa mengetahui kisah Steve Allen, Ernest J. Gaines, dan Hugh Prather, padahal tidak ada. Rupanya editor lupa mengganti nama mereka dengan penulis lain yang kisahnya disertakan. Kecerobohan ini sedikit mengherankan; apalagi bagi pembaca yang tahu bahwa edisi Inggrisnya memuat tulisan Dave Barry, Art Linkletter, dan Agatha Christie---yang juga tidak dipilih dalam edisi Indonesia.

Bila boleh disebut sebagai 'kekurangan' lain, kontributor tidak diberi biodata singkat sedikitpun, akibatnya---dibaca dalam konteks perbukuan Indonesia---mereka seolah-olah 'bukan siapa-siapa' yang pernah memberi kejutan maupun riak dalam khazanah industri penerbitan dan pers di AS. Ada baiknya editor mau menambah materi tersebut, toh bahan profil bisa dilacak cukup mudah melalui Internet. Misalnya tentang Dan Poynter, yang di bidang perbukuan dikenal sebagai pelopor 'self-publishing' (menerbitkan sendiri), sampai-sampai dijuluki 'ayah baptis ribuan buku' (h. 173).

Tapi barangkali Chicken Soup justru ingin mempertahankan kekhasannya, yaitu memberi kebajikan tanpa menggurui, bahwa pelajaran hidup bisa didapat dari siapa pun, apa pun reputasi penceritanya. Penyusun seri ini sudah kenal betul watak orang yang sering malas bila seolah-olah membaca ceramah sosok terkenal yang mesti didengar pengalamannya. Pembaca sekarang malah sering terkesiap oleh cerita mengesankan dari manapun, meski spam, namun setelah dibaca ternyata membangkitkan spirit, langsung 'nendang' ke hati.[]

Anwar Holid, eksponen komunitas TEXTOUR, Rumah Buku Bandung.

FYI: Resensi ini dimuat di Kompas, Minggu, 15 April 2003

Kontak: Jalan Kapten Abdul Hamid, Panorama II No. 26 B Bandung 40141 Telepon: (022) 2037348 HP: 08156-140621 Email: wartax@yahoo.com