Matabaca, Vol. 4/no.9/Mei 2006
Bestseller: Kemunculan dan Beragam Versi
----------------------------------------
>> Anwar Holid
Anthony Lane, kritikus di The New Yorker sejak 1993, pernah menulis dua esai tentang sepuluh besar buku daftar bestseller versi New York Times Book Review (TBR) dari dua periode. Kesimpulan dia: Kebanyakan dari sepuluh besar itu sudah lenyap ditelan laut. Salah satu faktanya A Lion Is in The Street (Adria Locke Langley), bestseller no. 1 pada 1 Juli 1945 diketahui tak pernah dipinjam orang dari sebuah perpustakaan di New York sejak 1948. Temuan ini tampak makin menguatkan konotasi negatif bahwa buku yang masuk daftar bestseller menandakan sekadar menarik minat banyak orang dan berkualitas sastra lebih rendah. Kondisi seperti ini sebenarnya sangat dilematik buat banyak pihak. Kebanyakan penerbit besar mempertaruhkan segala-galanya demi mampu mencetak bestseller, tapi setelah berhasil reputasi buku itu bisa merosot dengan cepat, dan orang tetap cenderung kembali memfavoritkan buku bagus sesuai selera pribadi.
Ada buku bestseller yang dengan segera jadi sampah, dan ada judul yang awalnya asing namun perlahan-lahan jadi kecintaan ribuan pembaca, kemudian jadi sebuah karya yang abadi. Contoh untuk kasus seperti ini misalnya Tuesdays with Morrie (Mitch Albom). Dia nyaris putus asa karena novel pertama dia ini hampir-hampir tidak dikenal orang ketika pertama kali terbit, tapi musim-musim selanjutnya merajai daftar bestseller beberapa tahun ke depan, sampai kenyataan itu membuat dirinya terguncang.
Menurut Merriam-Webster's Encyclopedia of Literature, daftar bestseller dimulai pada 1895, ketika Bookman---sebuah majalah sastra Amerika---memulai penerbitannya; daftar dihimpun dari laporan penjualan di toko buku dari penjuru negeri itu. Tradisi itu terus berlanjut, berkembang, dan kriterianya berbeda-beda. Versi bestseller yang diakui paling terkemuka hingga kini ialah TBR, yang pertama kali keluar pada 9 April 1942, dipuncaki oleh The Last Time I Saw Paris (Elliot Paul). Di Inggris, daftar paling otoritatif ialah keluaran The Sunday Times. Kini saingan TBR banyak, baik dikeluarkan oleh media massa ataupun toko buku, antara lain versi Publisher's Weekly, Kirkus Reviews, Powell's City of Books (Powell.com), dan Amazon.com.
Semua versi berusaha memperlihatkan keunggulan dan keakurasian. Powells.com dan Associated Press misalnya, mengeluarkan daftar tanpa membedakan jenis buku (fiksi atau nonfiksi), melainkan berdasar jumlah penjualan, padahal lazimnya daftar dikategorikan berdasar jenis buku. Kategori klasik terdiri dari (1) hardcover fiksi, (2) hardcover nonfiksi, (3) paperback fiksi, dan (4) paperback nonfiksi. Kategori ini berkembang, berlain-lainan, dinamik, sesuai maksud penyusun. TBR misalnya, pada 2001 menciptakan kategori penjualan buku kanak-kanak; ternyata hal itu dibuat guna menyingkirkan serial Harry Potter (J.K. Rowling) agar pindah ke bagian lain, dan dengan demikian judul lain mampu masuk ke dalam daftar. Seiring perkembangan teknologi informasi, pendataan, dan kalkulasi, gencarnya penjualan dan promosi, masing-masing kategori tersebut punya keunggulan, kekhususan, sekaligus kelemahan. Bestseller biasanya mengabaikan penjualan direct-mail dan klub buku.
Kalangan industri penerbitan kerap obsesif menciptakan bestseller; mereka mengerahkan editor, promosi, pemasaran, penjualan, dan produksi agar mampu mengendus kehadirannya seawal mungkin. Faktor penentu biasanya saling berkaitan, mulai dari reputasi penulis, kegencaran promosi, strategi marketing, dan isi naskah sendiri. Tapi keajaiban senantiasa terjadi; kemudian melahirkan anggapan bahwa fenomena bestseller senantiasa unik karena ada faktor X yang di luar kemampuan siapa pun untuk mengontrolnya, antara lain kekuatan saran dari mulut ke mulut. Bestseller kerap kondisional, dan kejadiannya hanya terjadi sekali saja.
Sekilas mari perhatikan kondisi bestseller Amerika pada 2004-6. Era ini dikejutkan oleh The Kite Runner (Khaled Hosseini) yang berhasil dua kali memuncaki TBR pada 2004 dan seluruh 2005, bertahan lebih dari 75 minggu (kira-kira 1,5 tahun), dan kini terjual lebih dari 3 juta kopi. Padahal ketika pertama terbit, novel itu 'hanya' dicetak 50 ribu kopi---standar bagi penulis bukan siapa-siapa. Menurut prasangka banyak orang, buku tersebut jadi bestseller karena keberuntungan, yaitu persis ketika sentimen warga AS terhadap Afghanistan---yang dibombardir AS demi mencari Osama Bin Laden---sedang sangat tinggi. Novel itu hadir sempurna sesuai waktu, dan kini demamnya sedikit menjalar ke Indonesia, karena ada edisi terbitan Qanita. Tapi bisakah di sini sampai mampu mengalahkan minat pembaca pada The Da Vinci Code (Dan Brown) tentu harus dibuktikan.[]
Kontak: Jalan Kapten Abdul Hamid, Panorama II No. 26 B Bandung 40141 Telepon: (022) 2037348 HP: 08156-140621 Email: wartax@yahoo.com
Sunday, July 02, 2006
Cinta dalam Bingkai Tunggal
---------------------------
Stories of Love, dari Cinta Klasik sampai Cinta Unik
Penulis: Yoli Hemdi
Penerbit: DAR!Mizan, 2006
Tebal: 190 h.
ISBN: 979-752-339-X
APA YANG dibicarakan saat kita bicara tentang cinta? Demikian tulis Raymond Carver dalam salah satu cerpennya yang paling monumental, 'What We Talk About When We Talk About Love? Ketika bicara tentang cinta, ternyata kita juga membicarakan hal esensial lain dalam diri dan hidup. Cinta adalah drama hidup dan manusia itu sendiri. Khazanah yang dihasilkan manusia tentang cinta juga sudah begitu kaya, sampai-sampai barangkali semua ruang dalam diri manusia sebenarnya dipenuhi cinta, tak ada sisa lagi. Bahkan siapa pun kini rasanya begitu akrab dengan ungkapan-ingkapan tipikal seperti 'atas nama cinta'; 'disebabkan oleh cinta'; termasuk yang konyol, seperti ‘cinta ditolak dukun bertindak.’
Bila Bagus Takwin, dosen fakultas psikologi Universitas Indonesia melahirkan Bermain-main dengan Cinta, Yoli Hemdi, penulis produktif asal Pekanbaru, menempuh cara lain untuk merenungkan dan merasakan hal itu, yaitu lewat Stories of Love, dari Cinta Klasik sampai Cinta Unik, yang mengeksplorasi cinta dari sudut keyakinannya dibandingkan dengan pandangan klise maupun dangkal masyarakat awam terhadap cinta yang selama ini terasa diterima begitu saja tanpa diselisik lagi baik keterangan maupun isinya. Dia memetik enam kisah cinta dari Al-Qur'an, menceritakan ulang dengan santai dan banyak bumbu, kemudian mengelaborasi sebagai sumber untuk mempraktikkan cinta yang benar. Enam kisah itu adalah (1) Adam dan Hawa; (2) Persaingan cinta Habil dan Kabil (Cain dan Abel); (3) Cinta 'segitiga' Ibrahim, Sarah, dan Hajar; (4) Yusuf dan Zulaikha; (5) Musa dan Shafura; (6) Muhammad dan Aisyah.
Keenam kisah ini sengaja dipetik karena masing-masing memiliki kontras yang mudah dibedakan oleh pembaca muda, khususnya remaja Muslim, sebagai bahan renungan maupun sumber kebajikan. Pendekatan, logika, maupun tafsir yang digunakan pun sederhana, membuat pembaca umum bisa merasakan bahwa buku ini sengaja dikemas demi tujuan tersebut. Kisah cinta itu memang sudah begitu tua, namun juga sudah dikenal, karena disampaikan terus dari generasi ke generasi.
Buku ini merupakan bagian dari 'Seri Pop Culture' yang dikeluarkan DAR!Mizan guna memperluas khazanah pengetahuan para pembaca muda atas perkembangan ilmu, kemajuan teknologi, trend budaya, fashion, mode, maupun isu-isu aktual. Sudah banyak judul terbit dari seri ini; yang mencolok, demi menggaet pembaca sasaran (target pasar) buku-buku tersebut diperkenalkan dan disokong (endorse) langsung pada ikon dunia pop, baik dari kalangan entertainment (dunia hiburan) sampai agama, misalnya Titi Kamal, Ahmad Dhani, dan Jefri Al Buchori. Di seri ini budaya pop langsung berhadap-hadapan dengan religiositas; sebaliknya religiositas juga berusaha liat dan tangguh menghadapi perubahan maupun kondisi yang bisa membuat para pemeluk teguh kerap gamang.
CINTA adalah unsur yang sudah ada dalam diri dan hidup manusia, karena itu manusia memang bisa bersenang-senang, menikmati, bahagia, termasuk sesekali berjarak dan memandang cinta secara lebih kompleks, luas, utuh. Bila seseorang terlalu mengabaikan atau menganggap remeh cinta, mungkin buku ini mampu membuat anggapan tersebut patah. Bila seseorang patah hati karena cinta, mungkin buku ini mampu membuat dirinya bersemangat lagi, karena ternyata cakupan/jangkauan cinta lebih luas dari yang dia sangka selama ini. Ia akan paham kenapa cinta di satu sisi bisa mematikan namun di sisi lain mampu membuat kehidupan terasa lebih bermakna, lebih menggairahkan.
Berdasar teks suci itu Hemdi ingin menjadikan keenam kisah itu sebagai model cinta ideal agar jadi teladan manusia, setidak-tidaknya para pembaca. Kisah Adam dan Hawa adalah cinta pertama yang muncul di dalam diri manusia; orisinal, sekaligus rentan karena tanpa pengalaman, namun akhirnya mewariskan banyak pengetahuan dan nilai pada kita keturunannya. Persaingan cinta Habil dan Kabil, meskipun tragik, justru melahirkan sejarah yang begitu jelas, antara lain pada periode ini untuk pertama kalinya seorang manusia bersaing, membunuh dan mengubur dengan sesama. Cinta 'segitiga' Ibrahim, Sarah, dan Hajar mengajarkan para kekasih untuk tulus; sementara kisah Yusuf dan Zulaikha mengajari manusia agar bisa dengan jernih membedakan mana cinta dan mana nafsu (seks, syahwat). Musa dan Shafura membuktikan bahwa cinta butuh heroisme; sedangkan hubungan Muhammad dan Aisyah menjelaskan betapa cinta harus dirawat dengan ketelatenan, peka, termasuk teguran yang dilakukan dengan baik dan pantas.
Cinta dalam buku ini terkesan tunggal, sederhana, bisa dibilang hitam-putih. Hemdi dengan tegas mengategorikan cinta dalam bingkai agama Islam, yaitu cinta kepada Allah (mahabbah ilallah) dan cinta karena Allah (mahabbah billah/mahabbah ma'allah) (hal. 184). Bila dibenturkan dengan konsep cinta menurut pandangan filsafat, realitas hidup kontemporer, atau ranah pengetahuan dan budaya lain, keyakinan tersebut sebenarnya ganjil, naif, menafikan jenis cinta yang lain.
Cinta kepada Allah (Tuhan) baru satu di antara begitu banyak kategori dan definisi cinta, yang sering perbedaan satu sama lain begitu tipis atau bahkan kadang-kadang sulit dikenal dan dipahami gejalanya. Cinta karena Tuhan dalam filsafat masuk kategori agape, cinta altrusitik tanpa pamrih, spiritual. Selain agape ada banyak jenis cinta lain; yang umum dikenal adalah eros dan philia, namun ternyata masih ada ludus, storge, pragma, mania, juga xenia---semuanya butuh penjelasan mendalam dan jelas. Itu baru dari satu ranah. Khazanah sufisme melahirkan ishq (cinta bergelora pada Allah).
Jenis lain, misalnya cinta seseorang pada sahabat, sesama manusia, negara, benda tertentu, aktivitas, suasana, atau peristiwa, termasuk bagaimana cinta bisa tumbuh dan mati---semua itu belum terjelaskan. Kategori cinta tunggal itu tentu saja aneh bagi seorang lulusan pascasarjana IAIN Imam Bonjol, Padang.
ANDRÉ COMTE-SPONVILLE, seorang filosof kontemporer Prancis, di dalam bukunya yang bersahaja, The Little Book of Philosophy (2004) menegaskan, 'Cinta adalah subjek yang paling menarik.' Niscaya. Tak perlu dibantah lagi. Cinta bisa membuat seseorang hidup, sengsara, atau mati; menyebabkan legenda dan mitos terus bertahan, diinterpretasi, dimaknai kembali. Semua orang boleh membicarakan cinta, dengan versi masing-masing.
Dalam buku ini Yoli Hemdi mengambil posisi tertentu untuk menerangkan cinta, menggali sejumput khazanah Islam, bilang, mengutip Ibn Qayyim Al-Jauziyah: 'Siapa yang tidak mau mencicipi manisnya cinta tidak akan bisa menikmati kehidupan.'[] 11 Februari 2006 21:35:04
Anwar Holid, eksponen komunitas TEXTOUR, Rumah Buku Bandung.
Alamat:Jalan Kapten Abdul Hamid, Panorama II No. 26 B Bandung 40141 Telepon: (022) 2037348HP: 08156-140621 Email: wartax@yahoo.com
---------------------------
Stories of Love, dari Cinta Klasik sampai Cinta Unik
Penulis: Yoli Hemdi
Penerbit: DAR!Mizan, 2006
Tebal: 190 h.
ISBN: 979-752-339-X
APA YANG dibicarakan saat kita bicara tentang cinta? Demikian tulis Raymond Carver dalam salah satu cerpennya yang paling monumental, 'What We Talk About When We Talk About Love? Ketika bicara tentang cinta, ternyata kita juga membicarakan hal esensial lain dalam diri dan hidup. Cinta adalah drama hidup dan manusia itu sendiri. Khazanah yang dihasilkan manusia tentang cinta juga sudah begitu kaya, sampai-sampai barangkali semua ruang dalam diri manusia sebenarnya dipenuhi cinta, tak ada sisa lagi. Bahkan siapa pun kini rasanya begitu akrab dengan ungkapan-ingkapan tipikal seperti 'atas nama cinta'; 'disebabkan oleh cinta'; termasuk yang konyol, seperti ‘cinta ditolak dukun bertindak.’
Bila Bagus Takwin, dosen fakultas psikologi Universitas Indonesia melahirkan Bermain-main dengan Cinta, Yoli Hemdi, penulis produktif asal Pekanbaru, menempuh cara lain untuk merenungkan dan merasakan hal itu, yaitu lewat Stories of Love, dari Cinta Klasik sampai Cinta Unik, yang mengeksplorasi cinta dari sudut keyakinannya dibandingkan dengan pandangan klise maupun dangkal masyarakat awam terhadap cinta yang selama ini terasa diterima begitu saja tanpa diselisik lagi baik keterangan maupun isinya. Dia memetik enam kisah cinta dari Al-Qur'an, menceritakan ulang dengan santai dan banyak bumbu, kemudian mengelaborasi sebagai sumber untuk mempraktikkan cinta yang benar. Enam kisah itu adalah (1) Adam dan Hawa; (2) Persaingan cinta Habil dan Kabil (Cain dan Abel); (3) Cinta 'segitiga' Ibrahim, Sarah, dan Hajar; (4) Yusuf dan Zulaikha; (5) Musa dan Shafura; (6) Muhammad dan Aisyah.
Keenam kisah ini sengaja dipetik karena masing-masing memiliki kontras yang mudah dibedakan oleh pembaca muda, khususnya remaja Muslim, sebagai bahan renungan maupun sumber kebajikan. Pendekatan, logika, maupun tafsir yang digunakan pun sederhana, membuat pembaca umum bisa merasakan bahwa buku ini sengaja dikemas demi tujuan tersebut. Kisah cinta itu memang sudah begitu tua, namun juga sudah dikenal, karena disampaikan terus dari generasi ke generasi.
Buku ini merupakan bagian dari 'Seri Pop Culture' yang dikeluarkan DAR!Mizan guna memperluas khazanah pengetahuan para pembaca muda atas perkembangan ilmu, kemajuan teknologi, trend budaya, fashion, mode, maupun isu-isu aktual. Sudah banyak judul terbit dari seri ini; yang mencolok, demi menggaet pembaca sasaran (target pasar) buku-buku tersebut diperkenalkan dan disokong (endorse) langsung pada ikon dunia pop, baik dari kalangan entertainment (dunia hiburan) sampai agama, misalnya Titi Kamal, Ahmad Dhani, dan Jefri Al Buchori. Di seri ini budaya pop langsung berhadap-hadapan dengan religiositas; sebaliknya religiositas juga berusaha liat dan tangguh menghadapi perubahan maupun kondisi yang bisa membuat para pemeluk teguh kerap gamang.
CINTA adalah unsur yang sudah ada dalam diri dan hidup manusia, karena itu manusia memang bisa bersenang-senang, menikmati, bahagia, termasuk sesekali berjarak dan memandang cinta secara lebih kompleks, luas, utuh. Bila seseorang terlalu mengabaikan atau menganggap remeh cinta, mungkin buku ini mampu membuat anggapan tersebut patah. Bila seseorang patah hati karena cinta, mungkin buku ini mampu membuat dirinya bersemangat lagi, karena ternyata cakupan/jangkauan cinta lebih luas dari yang dia sangka selama ini. Ia akan paham kenapa cinta di satu sisi bisa mematikan namun di sisi lain mampu membuat kehidupan terasa lebih bermakna, lebih menggairahkan.
Berdasar teks suci itu Hemdi ingin menjadikan keenam kisah itu sebagai model cinta ideal agar jadi teladan manusia, setidak-tidaknya para pembaca. Kisah Adam dan Hawa adalah cinta pertama yang muncul di dalam diri manusia; orisinal, sekaligus rentan karena tanpa pengalaman, namun akhirnya mewariskan banyak pengetahuan dan nilai pada kita keturunannya. Persaingan cinta Habil dan Kabil, meskipun tragik, justru melahirkan sejarah yang begitu jelas, antara lain pada periode ini untuk pertama kalinya seorang manusia bersaing, membunuh dan mengubur dengan sesama. Cinta 'segitiga' Ibrahim, Sarah, dan Hajar mengajarkan para kekasih untuk tulus; sementara kisah Yusuf dan Zulaikha mengajari manusia agar bisa dengan jernih membedakan mana cinta dan mana nafsu (seks, syahwat). Musa dan Shafura membuktikan bahwa cinta butuh heroisme; sedangkan hubungan Muhammad dan Aisyah menjelaskan betapa cinta harus dirawat dengan ketelatenan, peka, termasuk teguran yang dilakukan dengan baik dan pantas.
Cinta dalam buku ini terkesan tunggal, sederhana, bisa dibilang hitam-putih. Hemdi dengan tegas mengategorikan cinta dalam bingkai agama Islam, yaitu cinta kepada Allah (mahabbah ilallah) dan cinta karena Allah (mahabbah billah/mahabbah ma'allah) (hal. 184). Bila dibenturkan dengan konsep cinta menurut pandangan filsafat, realitas hidup kontemporer, atau ranah pengetahuan dan budaya lain, keyakinan tersebut sebenarnya ganjil, naif, menafikan jenis cinta yang lain.
Cinta kepada Allah (Tuhan) baru satu di antara begitu banyak kategori dan definisi cinta, yang sering perbedaan satu sama lain begitu tipis atau bahkan kadang-kadang sulit dikenal dan dipahami gejalanya. Cinta karena Tuhan dalam filsafat masuk kategori agape, cinta altrusitik tanpa pamrih, spiritual. Selain agape ada banyak jenis cinta lain; yang umum dikenal adalah eros dan philia, namun ternyata masih ada ludus, storge, pragma, mania, juga xenia---semuanya butuh penjelasan mendalam dan jelas. Itu baru dari satu ranah. Khazanah sufisme melahirkan ishq (cinta bergelora pada Allah).
Jenis lain, misalnya cinta seseorang pada sahabat, sesama manusia, negara, benda tertentu, aktivitas, suasana, atau peristiwa, termasuk bagaimana cinta bisa tumbuh dan mati---semua itu belum terjelaskan. Kategori cinta tunggal itu tentu saja aneh bagi seorang lulusan pascasarjana IAIN Imam Bonjol, Padang.
ANDRÉ COMTE-SPONVILLE, seorang filosof kontemporer Prancis, di dalam bukunya yang bersahaja, The Little Book of Philosophy (2004) menegaskan, 'Cinta adalah subjek yang paling menarik.' Niscaya. Tak perlu dibantah lagi. Cinta bisa membuat seseorang hidup, sengsara, atau mati; menyebabkan legenda dan mitos terus bertahan, diinterpretasi, dimaknai kembali. Semua orang boleh membicarakan cinta, dengan versi masing-masing.
Dalam buku ini Yoli Hemdi mengambil posisi tertentu untuk menerangkan cinta, menggali sejumput khazanah Islam, bilang, mengutip Ibn Qayyim Al-Jauziyah: 'Siapa yang tidak mau mencicipi manisnya cinta tidak akan bisa menikmati kehidupan.'[] 11 Februari 2006 21:35:04
Anwar Holid, eksponen komunitas TEXTOUR, Rumah Buku Bandung.
Alamat:Jalan Kapten Abdul Hamid, Panorama II No. 26 B Bandung 40141 Telepon: (022) 2037348HP: 08156-140621 Email: wartax@yahoo.com
Republika, 28 Mei 2006
[SELISIK]
Jamal: Menulis untuk Menyenangkan Orang
---------------------------------------
>> Anwar Holid
BERDASAR pemberitahuan Jamal, Epigram, novel ke-4 dia diterbitkan GPU pada 23 Mei 2006. Waktu terakhir bertemu, dia tengah mencari orang yang mau meresensi novel itu; aku langsung bilang ingin baca dan meresensi. Aku sudah baca tiga novel dia sebelumnya---Louisiana Louisiana, Rakkaustarina, Fetussaga. Ada banyak kalangan yang telah merespons karyanya.
Atas kebaikan GPU dan Jamal, pada 20 Mei 2006 aku malah sudah menerima kiriman satu kopi Epigram. Hal pertama yang mengesankan ialah: covernya cantik. Aku senyum, ini justru novel dia yang covernya ditangani orang lain; cover tiga novel sebelumnya dia desain sendiri. Aku bukan bilang bahwa cover desain dia buruk, tapi harus diakui ternyata orang lain punya interpretasi tertentu atas sebuah karya, dan itu wewujud sebagai cover yang sangat cantik; itu dia akui sendiri, bahwa cover karya Marcel A.W. memang keren. Epigram adalah novel pertama Jamal terbitan GPU, sebelumnya tiga buku dia diterbitkan Grasindo.
Sejujurnya aku lebih terkesan oleh pribadi, keramahan, dan kerendahhatian Jamal, lebih dari ketertarikanku pada novelnya. Ada sesuatu dalam novelnya yang mungkin bukan seleraku. Sementara menurut peribahasa Latin: de gustibus non est disputandum---soal selera tak bisa diperdebatkan. Aku suka humor dalam novelnya, keceriaan dan optimisme, atau tanpa pretensi dalam tulisannya; tapi ternyata aku kurang terkesan misalnya oleh setting luar negeri yang dia ajukan, termasuk penggunaan kosakata asing dasar dalam dialog.
Harus diamini dia penulis mahir. Dalam bingkai pop, Jamal mengemas persoalan disorientasi budaya, moralitas, kejujuran, bagaimana tetap mempertahankan idealisme di tengah situasi atau godaan sulit dan tidak sesuai. Jakob Sumardjo pernah komentar, '[Jamal] bermain di wilayah global, lebih terbuka dalam membicarakan seksualitas, sarat pengetahuan dan filosofi mutakhir, berbumbu humor cerdas.'
Mungkin karena lebih tertarik mengedepankan niat 'menghibur', barangkali itu menghalangi dia mengeksplorasi sesuatu sedalam-dalamnya, misal tentang bahasa, cara bertutur, atau gaya menulis. Bahasa yang dia gunakan dan caranya menulis rumpang bila dibandingkan kedalaman tema yang coba dia masuki. Dia suka menjelajahi tema estetika, gegar budaya, kosmologi, juga kehidupan urban dan politik-sosial. Aku kerap merasa bahwa plot dalam novelnya datar, kurang riak, sulit membangkitkan emosi, konfliknya gagal membuat aku tercekat, mudah diselesaikan.
Pasti cukup sulit hendak mengubah cara bertutur bila seseorang nyaman dengan gaya tertentu, apalagi bila sudah diterima dengan baik dan tidak dianggap sebagai keanehan yang patut diubah. Tapi mungkin berusaha mengubah cara bercerita yang lebih matang patut dipertimbangkan. Sejumlah penulis melakukan hal itu. Tepatnya, setiap kali menulis merupakan eksperimen baru, dinamika.
JAMAL berdedikasi pada sosial dan budaya Sunda, dan itu aku hargai penuh. Dia ikut mendirikan Yayasan Perceka yang dibikin anggota milis urangsunda, mengirimkan buku ke desa-desa di Jawa Barat, ikut menumbuhkan minat baca supaya generasi muda jauh lebih pintar. Bersama yayasan ini, Jamal pernah menyunting buku humor Sunda yang membuat aku ger-geran. Kata dia, "Memperkuat suku atau etnis bangsa pada gilirannya akan otomatis memperkuat bangsa." Setiap kali bersua, Jamal langsung membuat sadar bahwa aku ini Sunda juga. Maka aku selalu ingin bicara Sunda padanya, termasuk 'ngabodor.' Hanya aku selalu khawatir kasar. Ternyata kekhawatiran itu dia jawab, 'Ah, ngomong Sunda itu yang penting merenah (cocok).' Kekhawatiranku jadi lenyap. Sebagai orang Sunda, aku makin jarang menggunakannya, apalagi pada kenalan baru, bahkan tidak pada istri dan anak.
Menyenangkan setiap kali bertemu Jamal; dia kocak banget, ramah, produktif---lebih dari itu: baik. Dulu waktu pertama kali bertemu, di Pesta Buku Jakarta 2002, dia juga selalu ingin bikin dunia tersenyum. Ternyata kebaikan dia terus berlanjut, nyaris setiap kali bertemu, sampai aku sungkan berhadapan dengan dia. Tapi dia sendiri terus-menerus bilang, 'Aku senang bikin orang lain bahagia.' Aku tambah tak enak, meski ujungnya senang. Siapa yang menolak diberi kesenangan? Kesenangan itu kan saudaranya kebahagiaan; kalau bukan, tentu sepupunya.
Jamal tampak ikhlas menjalani karir kepenulisan; dia menganggap kemampuan menulis itu hal biasa yang tak patut dibangga-banggakan secara berlebihan, malah kerap menganggap sebagai keahlian 'ngibul', persis dia bilang Itenas (Institut Teknologi Nasional) adalah tempat dia 'main'---sebagai ganti bahwa dia adalah dosen desain di sana.
Dia santai saja menulis, bahkan setelah berhasil menerbitkan empat novel. Dia bilang, ‘Aku menulis untuk menghibur, menyenangkan orang, melakukan yang terbaik bagi orang lain.’ Di sisi materi dia memperoleh royalti yang rutin dia berikan untuk bayaran SPP kuliah adiknya; di sisi nonmateri, dia berhasil menghibur pembaca. Bayaran untuk keikhlasan justru dua: penghiburan dan kekayaan. Tapi meski begitu aku kerap sedih atas respons kurang pantas beberapa orang atas yang telah dicapainya, seolah-olah itu sama sekali tak layak dilirik.
BAGAIMANA dengan Epigram? Dari sajiannya, novel ini menggugah selera. Minimal dia mengalami perubahan: naskah ini mesti ditangani cukup berbeda dibandingkan penerbit sebelumnya, jangkauan pembaca sasaran pun mungkin berubah, bahkan desainer cover. Yang pasti: Epigram tentu sulit masuk toko buku (alternatif) yang tidak menjual terbitan GPU.
Epigram kini sudah di tangan. Mikihiro Moriyama, salah satu pembaca awal novel ini, berkomentar, ‘Suatu novel yang ambisius.’ Aku terkenang Jamal lagi, berharap niat baik dia menulis terus terpelihara, didukung sepantasnya. Ini novel harus dibaca, minimal sekali saja.[]
Kontak: Jalan Kapten Abdul Hamid, Panorama II No. 26 B Bandung 40141 Telepon: (022) 2037348 HP: 08156-140621 Email: wartax@yahoo.com
[SELISIK]
Jamal: Menulis untuk Menyenangkan Orang
---------------------------------------
>> Anwar Holid
BERDASAR pemberitahuan Jamal, Epigram, novel ke-4 dia diterbitkan GPU pada 23 Mei 2006. Waktu terakhir bertemu, dia tengah mencari orang yang mau meresensi novel itu; aku langsung bilang ingin baca dan meresensi. Aku sudah baca tiga novel dia sebelumnya---Louisiana Louisiana, Rakkaustarina, Fetussaga. Ada banyak kalangan yang telah merespons karyanya.
Atas kebaikan GPU dan Jamal, pada 20 Mei 2006 aku malah sudah menerima kiriman satu kopi Epigram. Hal pertama yang mengesankan ialah: covernya cantik. Aku senyum, ini justru novel dia yang covernya ditangani orang lain; cover tiga novel sebelumnya dia desain sendiri. Aku bukan bilang bahwa cover desain dia buruk, tapi harus diakui ternyata orang lain punya interpretasi tertentu atas sebuah karya, dan itu wewujud sebagai cover yang sangat cantik; itu dia akui sendiri, bahwa cover karya Marcel A.W. memang keren. Epigram adalah novel pertama Jamal terbitan GPU, sebelumnya tiga buku dia diterbitkan Grasindo.
Sejujurnya aku lebih terkesan oleh pribadi, keramahan, dan kerendahhatian Jamal, lebih dari ketertarikanku pada novelnya. Ada sesuatu dalam novelnya yang mungkin bukan seleraku. Sementara menurut peribahasa Latin: de gustibus non est disputandum---soal selera tak bisa diperdebatkan. Aku suka humor dalam novelnya, keceriaan dan optimisme, atau tanpa pretensi dalam tulisannya; tapi ternyata aku kurang terkesan misalnya oleh setting luar negeri yang dia ajukan, termasuk penggunaan kosakata asing dasar dalam dialog.
Harus diamini dia penulis mahir. Dalam bingkai pop, Jamal mengemas persoalan disorientasi budaya, moralitas, kejujuran, bagaimana tetap mempertahankan idealisme di tengah situasi atau godaan sulit dan tidak sesuai. Jakob Sumardjo pernah komentar, '[Jamal] bermain di wilayah global, lebih terbuka dalam membicarakan seksualitas, sarat pengetahuan dan filosofi mutakhir, berbumbu humor cerdas.'
Mungkin karena lebih tertarik mengedepankan niat 'menghibur', barangkali itu menghalangi dia mengeksplorasi sesuatu sedalam-dalamnya, misal tentang bahasa, cara bertutur, atau gaya menulis. Bahasa yang dia gunakan dan caranya menulis rumpang bila dibandingkan kedalaman tema yang coba dia masuki. Dia suka menjelajahi tema estetika, gegar budaya, kosmologi, juga kehidupan urban dan politik-sosial. Aku kerap merasa bahwa plot dalam novelnya datar, kurang riak, sulit membangkitkan emosi, konfliknya gagal membuat aku tercekat, mudah diselesaikan.
Pasti cukup sulit hendak mengubah cara bertutur bila seseorang nyaman dengan gaya tertentu, apalagi bila sudah diterima dengan baik dan tidak dianggap sebagai keanehan yang patut diubah. Tapi mungkin berusaha mengubah cara bercerita yang lebih matang patut dipertimbangkan. Sejumlah penulis melakukan hal itu. Tepatnya, setiap kali menulis merupakan eksperimen baru, dinamika.
JAMAL berdedikasi pada sosial dan budaya Sunda, dan itu aku hargai penuh. Dia ikut mendirikan Yayasan Perceka yang dibikin anggota milis urangsunda, mengirimkan buku ke desa-desa di Jawa Barat, ikut menumbuhkan minat baca supaya generasi muda jauh lebih pintar. Bersama yayasan ini, Jamal pernah menyunting buku humor Sunda yang membuat aku ger-geran. Kata dia, "Memperkuat suku atau etnis bangsa pada gilirannya akan otomatis memperkuat bangsa." Setiap kali bersua, Jamal langsung membuat sadar bahwa aku ini Sunda juga. Maka aku selalu ingin bicara Sunda padanya, termasuk 'ngabodor.' Hanya aku selalu khawatir kasar. Ternyata kekhawatiran itu dia jawab, 'Ah, ngomong Sunda itu yang penting merenah (cocok).' Kekhawatiranku jadi lenyap. Sebagai orang Sunda, aku makin jarang menggunakannya, apalagi pada kenalan baru, bahkan tidak pada istri dan anak.
Menyenangkan setiap kali bertemu Jamal; dia kocak banget, ramah, produktif---lebih dari itu: baik. Dulu waktu pertama kali bertemu, di Pesta Buku Jakarta 2002, dia juga selalu ingin bikin dunia tersenyum. Ternyata kebaikan dia terus berlanjut, nyaris setiap kali bertemu, sampai aku sungkan berhadapan dengan dia. Tapi dia sendiri terus-menerus bilang, 'Aku senang bikin orang lain bahagia.' Aku tambah tak enak, meski ujungnya senang. Siapa yang menolak diberi kesenangan? Kesenangan itu kan saudaranya kebahagiaan; kalau bukan, tentu sepupunya.
Jamal tampak ikhlas menjalani karir kepenulisan; dia menganggap kemampuan menulis itu hal biasa yang tak patut dibangga-banggakan secara berlebihan, malah kerap menganggap sebagai keahlian 'ngibul', persis dia bilang Itenas (Institut Teknologi Nasional) adalah tempat dia 'main'---sebagai ganti bahwa dia adalah dosen desain di sana.
Dia santai saja menulis, bahkan setelah berhasil menerbitkan empat novel. Dia bilang, ‘Aku menulis untuk menghibur, menyenangkan orang, melakukan yang terbaik bagi orang lain.’ Di sisi materi dia memperoleh royalti yang rutin dia berikan untuk bayaran SPP kuliah adiknya; di sisi nonmateri, dia berhasil menghibur pembaca. Bayaran untuk keikhlasan justru dua: penghiburan dan kekayaan. Tapi meski begitu aku kerap sedih atas respons kurang pantas beberapa orang atas yang telah dicapainya, seolah-olah itu sama sekali tak layak dilirik.
BAGAIMANA dengan Epigram? Dari sajiannya, novel ini menggugah selera. Minimal dia mengalami perubahan: naskah ini mesti ditangani cukup berbeda dibandingkan penerbit sebelumnya, jangkauan pembaca sasaran pun mungkin berubah, bahkan desainer cover. Yang pasti: Epigram tentu sulit masuk toko buku (alternatif) yang tidak menjual terbitan GPU.
Epigram kini sudah di tangan. Mikihiro Moriyama, salah satu pembaca awal novel ini, berkomentar, ‘Suatu novel yang ambisius.’ Aku terkenang Jamal lagi, berharap niat baik dia menulis terus terpelihara, didukung sepantasnya. Ini novel harus dibaca, minimal sekali saja.[]
Kontak: Jalan Kapten Abdul Hamid, Panorama II No. 26 B Bandung 40141 Telepon: (022) 2037348 HP: 08156-140621 Email: wartax@yahoo.com
Subscribe to:
Posts (Atom)