Thursday, July 12, 2007

PERESENSI BERBAGI RAHASIA
---------------------------------------------------
>> Anwar Holid


Pertemuan Peresensi Pustakaloka-Kompas yang berlangsung pada Jumat, 4 Mei 2007 di Ruang Kenanga I, Istora Senayan Jakarta, persis seperti harapanku berlangsung menarik dan menyenangkan. Semua kursi tampak penuh, meski beberapa orang yang aku harapkan ternyata mangkir. Ignatius Haryanto (IGNH), J. Sumardianta, tak tampak, padahal aku ingin ketemu lagi setelah lama nggak kontak. Kang Hernadi Tanzil bahkan sejak awal sudah bilang nggak bisa datang karena ada tugas kantor yang harus dia selesaikan. Dia bilang, 'Nanti cerita-cerita tentang hasil gathering ya mas...'

Yang juga mengejutkanku, di antara hadirin ternyata ada Endah Sulwesi, seorang peresensi yang juga sangat produktif, terutama untuk fiksi. 'Yang mana orangnya?' tanyaku pada Chus, waktu kami dengan teman-teman dari Penerbit Koekoesan mampir makan di Nando's Cilandak Town Square. 'Itu, cewek kecil-kecil yang duduk di depan.' O, baru ingat. Sosoknya pernah muncul di Koran Tempo, Femina, dan Tempo. 'Coba tadi ada yang ngenalin aku ke dia,' kataku. 'Oh, belum kenal toh?' 'Sudah sih, lewat email. Tapi kan belum pernah ketemu.' Aku juga bertemu dengan Mumu_Aloha, penulis dan editor, yang bertahun-tahun lalu sempat chat dengan aku. 'Mereka-mereka' ini teman main sekomunitas yang relatif sering ketemu, meski kalau bertemu bareng sekaligus malah jarang dan relatif sulit karena terhalang aktivitas masing-masing. 'Jadi kita mesti berterima kasih pada gahtering ini karena bisa membuat kita ketemu bareng,' begitu aku dengar salah seorang bilang di belakang mobil, entah Chus atau Mumu. Muhidin M. Dahlan, kawan lama dari Jogja juga datang. Dia kini justru sering tinggal di Jakarta.

Dalam perjalanan ke Nando's yang tersendat-sendat karena macet Damhuri Muhammad terus-menerus ngomong soal sumbangan dan pengaruh Sriti.com bagi perkembangan karir penulis muda. 'Aduh, hati gue rasanya berpasir deh denger komentar seperti ini,' begitu balas Chus. Ternyata Chus, Sjaiful, dan Win dari Salju Bogor (Salbo), yang menggerakkan Sriti.com, ialah alumni IPB. 'Wah, aku beberapa bulan lalu kenalan sama mas Siba (Dwi Setyo Irawanto). Dia keluaran Kehutanan loh.' Ternyata dia senior Sjaiful.

H. Witdarmono sebelum menyampaikan topik standar cara meresensi dan hakikat meresensi, dia membaca langsung contoh resensi dia atas To Kill a Mocking Bird (Harper Lee), yang dia tulis bertahun-tahun lalu sebelum novel itu barusan diterjemahkan Femmy Syahrani dan diterbitkan Qanita. Waktu mendengar resensi itu dibacakan, aku langsung bisa merasakan bahwa itu contoh resensi yang bagus. 'Saya berani bilang bahwa meresensi itu mungkin puncak dari menulis,' begitu yang aku ingat dari salah satu ucapannya. Di antara standar resensi yang dia tetapkan ialah sejarah penulis, latar situasi sosial-budaya, relevansi penerbitan, dan cara menyajikan, di samping tentu saja menceritakan tentang isi buku tersebut. Terasa pertimbangannya sebelum meresensi mencakup banyak hal. Dia mengaku rata-rata menghabiskan sepuluh hari untuk menuntaskan resensi yang betul-betul siap dipublikasi. Pernah waktu tinggal di New York (?), dia ingin sekali menulis tentang The Satanic Verses (Salman Rushdie) yang persis sedang heboh karena penulisnya difatwa mati oleh Imam Khomeini. 'Tapi kalau saya meresensi buku ini, mungkin justru Kompas yang kena hujat di Indonesia,' kata dia. Alternatifnya, dia menulis esai tentang realisme magis (magic realism) dengan menyebut novel itu sebagai contoh utama. Peresensi juga mesti punya strategi tertentu untuk membaca situasi yang sedang berkembang, termasuk pada sensitivitas publik.

Mungkin karena H. Witdarmono menyampaikan materi dengan berdiri di depan forum, tidak duduk di podium, suasana jadi santai. Ketika bicara, aku pun akhirnya memutuskan berdiri di depan forum juga, setelah ikut menyimak penuturan H. Witdarmono di barisan paling depan. Yang paling aku fokuskan dalam pertemuan itu ialah harapan agar resensi di Indonesia terus berkembang, mengalami kemajuan, seiring industri buku yang tengah pasang naik. Fungsi resensi bagi perkembangan industri buku pastilah signifikan, perkembangannya mesti dicermati bukan saja di media massa biasa, melainkan juga termasuk resensi yang ada di blog dan milis (mailing list). Resensi di media itu justru berseliweran dan perkembangannya mungkin di luar dugaan banyak pihak. Aku termasuk yang suka membaca banyak posting resensi dari milis, dan selalu salut betapa mereka bisa mencerap buku dengan cepat begitu terbit/beredar di pasar. Kata Tanzil, 'Mereka umumnya rajin memposting resensi baru, biasanya seminggu sekali, namun ada juga yang seminggu bisa dua atau tiga buku! Mereka memang tak pernah masuk media cetak tapi bagi para pecinta buku dan punya akses internet, blog mereka selalu menjadi blog yang wajib dikunjungi.'

Sebagian orang yang hadir dalam pertemuan itu termasuk mereka yang rajin meresensi, meski belum pernah dimuat di media seperti Kompas. Baik-baik saja sebenarnya. Cuma memang redaksi punya standar tertentu yang harus dipenuhi agar sebuah artikel layak muat. H. Witdarmono menegaskan kriteria ini dengan sangat tepat, yaitu 'Setiap surat kabar adalah sebuah pribadi.' Tarik-menarik antara kontributor dan media ini merupakan ranah yang amat lentur dan dipengaruhi banyak faktor, dan kita bisa bisa belajar banyak dari situ. Dari resensi yang dimuat, kita bisa belajar tentang keluasan dan ketajaman analisis, kelenturan berbahasa, kelincahan menulis, diksi yang sangat banyak, juga ketulusan dan idealisme. Resensi di blog dan milis juga punya kekuatan sendiri. Posting mereka bisa mengundang komentar puluhan orang sehari dan langsung bisa memancing reaksi banyak orang. 'Kadang-kadang mereka juga suka janjian membaca dan mereseni buku yang sama,' tambah Tanzil.

Meresensi di media massa dan blog/milis punya daya tarik dan kekhasan masing-masing. Yang paling penting barangkali kesungguhan menulis. Aku sendiri sadar kelemahanku yang paling besar justru kurang produktif meresensi, bahkan suka gagal menemukan inti buku setelah baca, atau kesulitan menentukan akan berangkat dari mana resensi itu. 'Betul, meresensi itu kan nggak bisa dipaksa,' kata Damhuri Muhammad. Aku setuju poin itu, tapi sebenarnya aku juga yakin bahwa usahaku kurang keras untuk menghasilkan resensi atas buku tertentu, apalagi bila buku itu benar-benar bagus dan punya keunggulan. Aku sampai sekarang selalu menyesal setiap kali gagal meresensi.

Selain bisa silaturahim dan saling kenal, di pertemuan itu kami sekaligus bisa berbagi banyak hal, baik tentang buku dan penulis favorit, jenis yang sama-sama disukai, dan tentu saja: cara menulis resensi sebaik dan seantusias mungkin. Para hadirin sama-sama mau saling membagi rahasia. Bahkan Aria (?), yang sering meresensi buku ekonomi mengaku tak bisa menerangkan cara meresensi; dia hanya melakukannya, dengan berusaha fokus pada buku yang dikritik. Kecenderungan ini agak lain dengan saran pendekatan resensi umum yang suka membandingkan dengan buku lain yang relevan. Sementara Kasiyanto, sejarahwan dari UI, jelas sekali keunggulannya mengulas buku kuno. Memperhatikan kekhasan, kekuatan, gairah, dan kemampuan peresensi sendiri tampaknya jadi faktor penting agar bisa menghasilkan tulisan yang bagus, bernunsa, kuat. Donny Gahral Adian menyatakan, biasanya dia berangkat meresensi justru dari adanya perasaan gelisah, gelo, bahkan jijik terhadap buku yang dia baca. Dia yakin dari situ akan lahir dialog antara pembaca dengan penulis yang kritik, sebab ada sesuatu yang dipertanyakan, digugat, dipertentangkan dengan pendapat peresensi. 'Kalau ingin memuja buku itu, mendingan Anda menulis endorsement saja.' Wah, keras juga pendapatnya tentang resensi.

Di pertemuan itu peresensi berbagi rahasia, dari yang meresensi secara tertib, kesulitan mengungkapkan cara menulis, hingga tiada lelah berusaha mencari strategi agar dimuat media massa. Poin dari situ ialah: yang paling penting justru menulis, meningkatkan produktivitas, dan ketangguhan mengetuk tuts keyboard. Mode orang menulis beda-beda, khas, saling mengayakan.

Di pertemuan itu aku menyinggung sedikit perbandingan kondisi peresensi di luar negeri dengan Indonesia, meski mungkin kurang relevan dan di luar konteks. Tapi sekadar mengungkap dan mungkin bisa jadi obrolan menarik, ternyata jadi peresensi enak dan menjanjikan juga. Di Indonesia, jadi peresensi sudah cukup enak dan menyenangkan, tapi mungkin masih jauh dari menjanjikan---terutama sebagai pilihan karir. Kalau kita sebut nama peresensi (kritik buku) ternama di luar negeri, seperti Michiko Kakutani, Martin Amis (dia juga seorang novelis sangat terkemuka di Inggris), Sara Nelson, Anthony Lane, ternyata menjadi peresensi selain merupakan pilihan yang prestisus, juga menjanjikan secara finansial. Memang kita di sini punya kekurangan yang membuat meresensi masih merupakan semacam hobi atau demi memenuhi idealisme, tapi ternyata perkembangan akhir-akhir ini menarik juga kita perhatikan, terutama resensi di blog atau yang diposting di milis. Resensi di situ ternyata berpengaruh besar juga bagi komunitas maya, dan kini kiprah mereka juga sangat diperhatikan penerbit.

Isu sindikasi media yang cukup ramai di milis jurnalisme@yahoogroups.com juga sempat aku lontarkan. Terbayang kan bila seorang peresensi mendapat bayaran berlipat-lipat dari setiap media yang bersedia membeli tulisannya. Tapi isu ini pasti berat, mengingat sistem sindikasi belum diterima di Indonesia. Di milis jurnalisme@yahoogroups.com sejumlah penulis freelance sedang berencana membangun daya tawar agar bisa menjalankan sistem ini.

Demi menjaring pasar lebih luas, sejumlah penerbit kini juga makin terbiasa mengadakan lomba resensi, terutama untuk buku yang diperkirakan bakal laku dan promosinya dianggarkan. Hadiahnya kira-kira sebesar honor pemuatan artikel opini/essay di media massa. Peserta lomba sering banyak, dan yang menang resensinya disebar ke milis atau diposting. Dampak dari lomba ini tentu saja buku tersebut mesti dibeli dulu oleh para peserta.

Pulangnya dong... semua peserta dibekali 'berkat' pertemuan, yaitu sekantong buku dari penerbit KKG. Isinya beda-beda, bergantung rezeki masing-masing. Ada yang senang dengan kebetulan itu, ada juga yang jadi ledek-ledekan. 'Wah, buku ini bukan gue banget gitu...' kata Chus waktu memeriksa sebuah judul dari kantongnya. Waktu aku periksa, tasku berisi enam judul, salah satunya kumpulan cerpen Emha Ainun Nadjib dan buku tentang kesehatan gigi (yang amat menarik minatku). Sementara Damhuri bilang, 'Wah, nyesel gue beli buku tadi...' Pertemuan peresensi itu memang diadakan dalam acara Kompas-Gramedia Fair. Pastilah ada di antara buku yang dibagi-bagi itu suatu saat akan diresensi. Aku yakin.

Wah... sudahlah. Sekarang ambil buku, baca, selami, tulis resensinya. Kirim atau bagikan ke khalayak; dari situ semoga ada yang tumbuh, baik pro dan kontra, termasuk penghargaan, atau setidak-tidaknya rasa syukur bahwa kita telah menikmati pengetahuan, buah kehidupan.[] 17:55 07/05/2007
Republika, [Selisik], Minggu 17 Juni 2007

SIHIR PEMULUNG KATA
------------------------------
>> Anwar Holid



Kepada Cium (Kumpulan Puisi)

Penulis: Joko Pinurbo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU), 2007
Tebal: 44 hlm; 13.5x20 cm
Harga: Rp20.000,-
ISBN: 979-22-2716-4





Nyaris semua kritik menyatakan salah satu puncak puisi Indonesia era 2000-an ada di pundak Joko Pinurbo (Jokpin). Bahkan blurb buku puisi ini dengan bersemangat menyatakan: masa depan puisi Indonesia terletak pada tangannya. Bukti pengakuan itu tentu sejumlah prestasi: memenangi Khatulistiwa Literary Award berkat Kekasihku (2004); buku-bukunya laris, padahal hampir semua penerbit pikir panjang bila hendak menerbitkan buku puisi saking trauma betapa sulit menjual buku puisi. Menurut seorang editor GPU, Kepada Cium terjual 800 kopi dalam tiga minggu pertama masuk ke toko pada awal April 2007. Pencapaian itu sulit disamai penyair lain.

Kepada Cium, kumpulan puisi kedelapan dia, amat lain dari segi materi dibandingkan buku dia sebelumnya. Beda paling signifikan yaitu hilangnya tradisi tambahan esai terhadap puisi dalam edisi tersebut, termasuk tak ada endorsement sastrawan lain maupun pujian dari kritik terkemuka. Keputusan penulis dan penerbit ini bisa jadi semacam keyakinan makin besar bahwa Jokpin berani menyerahkan puisi kepada pembaca tanpa harus ditemani pendapat kritik maupun disuguhi komentar yang biasanya cenderung dingin, serius, dan bahkan sampai tahap tertentu membatasi kebebasan pembaca yang ingin menikmati puisi seenak-enaknya.

Buku ini sangat tipis, hanya terdiri dari 33 puisi, puisinya pun relatif pendek semua. Kesan tipis ini disiasati dengan menambah sejumlah drawing karya Mirna Yulistianti, editor buku tersebut. Hasilnya, buku tampil tambah manis. Karena tipis, Kepada Cium bisa selesai dalam sekali baca, mungkin hanya butuh waktu kurang dari satu jam untuk menamatkan. Tapi, juga justru karena tipis, pembaca akan mudah sekali terpikat oleh puisi-puisi itu, akibatnya mereka akan mengulang-ulang membaca. Jokpin tak menerangkan kenapa memutuskan hanya memuat 33 puisi, padahal dalam periode 2005-2006 dia produktif dan karyanya terus bermunculan di media massa. Barangkali dia ingin memastikan pilihan tersebut bakal menyihir publik, sesuai ucapannya: 'Puisi yang baik adalah yang bisa menyihir.'

Setelah bolak-balik membaca Kepada Cium, yang paling terasa ialah Jokpin mengurangi kadar main-main yang mencapai puncaknya dalam Telepon Genggam (2003). Dia mengembara, memain-mainkan imajinasi dan logika, namun semua disampaikan hati-hati, lebih tenang, dan bilapun lucu, efeknya hanya menimbulkan senyum simpul, atau nyengir getir saking sangat menyindir. Di buku ini dia jelas berusaha mengekang hasrat mengembangkan puisi jadi flash fiction agar betul-betul tetap merupakan puisi asli. Dari sana kita bisa yakin atas komentar Dr. Okke Kusuma Sumantri Zaimar bahwa keahlian Joko Pinurbo mengemukakan pisau bermata dua bukan bualan untuk meyakin-yakinkan publik maupun demi menyenang-nyenangkan penyair.

TAHUN 2005 - 2006 merupakan periode perih bagi Indonesia; pada awal 2005 terjadi tsunami di Aceh dan Sumatera Utara, kemudian menyusul berbagai bencana alam, banjir bandang, kebocoran lumpur panas Lapindo, termasuk gempa di Jogjakarta, yang sempat merusakkan rumah Jokpin dan meruntuhkan rumah dua adiknya. Adakah peristiwa dalam periode itu tertatah di buku ini? Dia menulis puisi tentang tsunami dan gempa, juga terpukul oleh kejadian fatal yang menimpa anak-anak karena kalah oleh kemiskinan. Wajar bila beberapa puisi bernuansa sedih, sekaligus religius dan peka sosial. Yang terbaik melampiaskan perasaannya terhadap keperihan antara lain 'Kepada Uang', 'Harga Duit Turun Lagi', dan 'Sehabis Sembahyang.'

Menilik subjek yang muncul, Jokpin justru banyak mengulang atau makin mengulik tema yang dulu dia perkenalkan dalam Telepon Genggam. Kepada Cium banyak menggunakan citra telepon genggam, kesulitan komunikasi, kondisi sosial, dan tentu saja terus mencari sisi baru citra lama yang membuat penyair ini legendaris: celana, celana dalam, kasih sayang, kenangan masa kecil, perihal tubuh dan benda-benda rumah. Sisanya macam-macam: menafakuri waktu, harapan, absurditas menghadapi kenyataan hidup, mengejek kepura-puraan, dan eksplorasi terhadap puisi dan bahasa itu sendiri. Dengan begitu Kepada Cium menghasilkan dua jenis puisi: yang langsung bisa dinikmati, bermakna jelas, menyinggung perasaan---jenis mata pisau pertama, karena langsung mengarah, menusuk ego manusia yang profan, ragawi, senantiasa kurang puas dan sulit sekali bersyukur. Lainnya kabur, unik, mengedepankan naluri, menarik-narik pembaca ke batas samar antara makna tersirat dan harfiah---jenis mata pisau kedua, yang mengarah lebih pada permainan tafsir dan berbagai kemungkinan.

Membahas 'pisau bermata dua', bisa diperdebatkan apakah itu suatu keunggulan atau justru merupakan tanda ambiguitas dan ciri kelemahan? Bila merujuk pada Saini KM dalam Puisi dan Beberapa Masalahnya, ambiguitas di antaranya disebabkan oleh kegagalan penyair dalam menemukan lambang yang tepat untuk pikiran dan perasaannya, atau penyair sendiri ragu-ragu serta belum memutuskan apa sebenarnya yang menjadi pokok renungannya, sikap dan perasaan apa yang dialami dalam hubungannya dengan pokok tersebut (hal. 213). Puisi sangat pendek Jokpin sangat potensial menghadirkan ambiguitas, misalnya 'Ranjang Kecil', 'Magrib', 'Seperti Apa Terbebas dari Dendam Derita'; barangkali disebabkan ketersediaan ruang penafsiran dari teks itu pun sangat sempit. Pembaca awam pasti kesulitan menentukan maksud persis sang penyair sebenarnya apa. Ambiguitas sering sengaja disisakan penyair agar melahirkan polemik, macam-macam tafsir, bahkan mistifikasi.

Kepada Cium tampaknya merupakan kado tanda ulang tahun ke-44 Jokpin. Dalam bingkisan itu dia memasukkan banyak isi, dari yang universal, menyangkut perhatian semua insan hingga ke detil batin individu, yang intim, hanya bisa diresapi khusyuk sendirian.[]
MENEMUKAN INTI PENULISAN
----------------------------------------------------
ANWAR HOLID


Para pengulas buku telah mengajariku bukan saja tentang caraku menulis, tapi juga mengapa aku menulis.
>> Amy Tan, Lawan dari Takdir (h. 320)


BERKAH seorang peresensi ialah mendapat kesempatan menulis buku yang dia cintai, yang setelah selesai baca berhasil menginformasikan kepada publik betapa berharga buku tersebut, sehingga patut direkomendasikan, dimiliki. Resensi, baik eksplisit maupun implisit, biasanya menyebut bahwa buku tersebut layak dibeli. 'Niat saya hanya ingin membantu pembaca buku menentukan pilihan. Untuk itulah saya mencoba menulis resensi agar calon pembaca/pembeli terbantu,' demikian aku Hernadi Tanzil, seorang peresensi produktif, yang resensinya tersebar ke sejumlah media massa, milis, dan blog.

Peresensi selalu mendapat kepuasan setiap kali berhasil menulis tentang buku yang sudah dia baca. Pada dasarnya peresensi menyesal bila sudah tamat membaca tapi akhirnya gagal menulis tentang buku tersebut, apalagi bila buku tersebut faktanya bagus, layak direkomendasikan, pantas disarankan kepada publik. Tapi harus diakui bahwa menulis resensi pun ternyata bisa cukup sulit. Sama dengan jenis tulisan jurnalistik lain, resensi punya kesulitan tertentu yang harus bisa diatasi oleh peresensi. Salah satu halangan menulis resensi bisa jadi kegagalan menentukan subjek atau fokus atas resensi tersebut.

Bila resensi hanya berupa otak-atik comotan salinan pengantar penulis dan penerbit, pemberi kata pengantar, termasuk sinopsis beserta blurb, tentu saja jauh lebih berharga memahami buku daripada sekadar meresensi semata-mata demi dimuat di media massa. Kemalasan peresensi membaca biasanya akan terbukti oleh orang yang tahu persis kandungan tersebut, atau pembaca lain yang sungguh-sungguh menyelami isinya, dan paling fatal, biasanya resensi tersebut dangkal. Pembaca tentu sulit berharap banyak pada resensi dangkal, selain info ada buku baru. Tapi, lepas dari itu semua, ada adagium ternyata penerbit pasti senang setiap kali ada resensi atas buku yang mereka terbitkan, bahkan resensi yang buruk sekalipun. Ini juga menunjukkan peran penting resensi, apa pun media penerbitannya. Kini kita tahu resensi bisa muncul di mana saja, tapi resensi di media massa umum seperti koran, majalah, tetap memiliki standar yang kuat dan punya reputasi yang sulit diganti. Carol Meyer, mantan editor Random House dan HBJ, penulis The Writer's Survival Manual, menyatakan: Tanpa resensi sulit bagi sebuah buku mencolok dari kerumunan buku lain yang diterbitkan berbarengan, terutama jika buku itu tak punya budget iklan. Intinya, buku Anda butuh perhatian media.

RESENSI yang baik berupaya melampaui hasil pembacaan; ia berhasrat menemukan inti kedalaman subjek buku, yang sudah berhasil dijabarkan penulis. Taruhan terbesar resensi bisa jadi kejujuran menilai, ditambah kejelian memposisikan seberapa penting (berhasil) buku tersebut memberi sumbangan kepada khalayak. Menilai dan memposisikan buku mesti ditentukan baik-baik. Komentar positif saja masih kurang. Amy Tan, penulis Amerika Serikat, juga menghendaki agar resensi jangan sampai mengeluarkan buku dari segi hakikat penulisannya; bila itu buku sastra, timbanglah kadar sastranya, jangan justru menekankan kritik pada aspek sosial atau politik. Di sini pentingnya peresensi menghargai pencapaian penulis, berhenti menyerang dari sudut yang bukan sasaran penulis.

Dari resensi yang bagus kita bisa belajar bahwa resensi selalu berisi komentar berimbang antara kritik dan pujian, disertai pendapat yang jelas kenapa peresensi berpendapat demikian. Sementara peresensi yang sungguh-sungguh (berdedikasi), membuktikan ternyata menulis resensi bisa didekati dari mana saja. Antara menyajikan resensi yang menarik, bahasanya lincah, asyik dibaca, jernih, sebanding dengan berkomentar secara wajar, mengolah lagi hasil pembacaan, menghargai upaya penulis, memberi pertimbangan yang dibutuhkan (bisa dengan menunjukkan kelemahan atau membandingkan dengan buku & penulis lain, memberi tahu manfaat buku tersebut pada khalayak.

Dari resensi bagus kita bisa belajar bahwa resensi tersebut pasti sudah beres dari seluruh aspek penulisan, ia memenuhi standar publikasi, bahkan mungkin bisa dibilang sempurna; ia berisi informasi berharga yang layak diketahui publik, kedalaman pendapat, berhasil menutupi kejanggalan mungkin ada pada buku (dan resensi itu sendiri), dan terutama sekali: fokus. Fokus ini akan memberi permata pada pembaca, membimbing pembaca persis kenapa perlu memperhatikan buku tersebut.

Salah satu upaya fokus dalam meresensi ialah mutlak membaca buku tersebut seluruhnya, utuh, sebaik mungkin, dan pada saat bersamaan di pinggir halaman tandailah kalimat atau pasase yang penting, butuh perhatian, mengundang pertanyaan, atau harus diberi penjelasan. Membaca memang memakan waktu, butuh energi, menyita tenaga, tapi bayarannya pun sepadan: kita akan punya pandangan utuh terhadap buku tersebut, mudah menentukan fokus, dan alternatif menentukan pendekatan.

Sebelum hendak mengirimkan resensi ke media massa, pastikan peresensi berhasil menutupi kejanggalan (lubang) dalam artikel tersebut, dan jangan segan menyunting dan merevisi tulisan bila perlu dilakukan. Biasanya menyunting dan merevisi terkait dengan subjek tulisan dan ruang yang tersedia. Menyiasati ruang bukan sekadar bisa menulis panjang atau pendek, melainkan tetap harus memperhatikan apa yang berharga disampaikan, mesti dibuang (karena berpeluang mengaburkan fokus), termasuk struktur (alur tulisan) pun mesti enak dinikmati.

SALAH satu alternatif yang mungkin menarik diobrolkan ialah keleluasaan berkarir sebagai peresensi. Di Indonesia jarang sekali ada media yang khusus mempekerjakan peresensi atau kritikus buku, yang bisa menjadi pilihan karir dan dijalani bertahun-tahun; yang sering ialah penjaga rubrik (desk) buku, dengan tugas utama menyunting resensi dari para kontributor. Di sisi lain, sistem sindikasi media belum diterima di Indonesia. Farid Gaban, jurnalis dari Pena Indonesia, berpendapat sistem sindikasi sebenarnya membuka peluang penulis freelance (termasuk peresensi) mendapatkan honor dari beberapa media atas sebuah tulisannya. Dalam Harga Sebuah Impian (Chicken Soup for the Writer's Soul edisi Indonesia) beberapa penulis sukses karena tulisannya dijual memanfaatkan sistem sindikasi. Selama ada media yang membeli tulisan tersebut, peluang mendapat honor tetap ada; sementara media selalu bersedia membeli tulisan yang bagus, bahkan yang pernah terbit bertahun-tahun lalu. Artinya, peresensi senantiasa boleh menganggap tulisannya sebagai investasi yang sewaktu-waktu bisa mendatangkan penghasilan.

Bila kita perhatikan, hampir semua media massa memiliki rubrik resensi dan buku; itu semua merupakan peluang bagi peresensi. Semakin rajin peresensi dan matang tulisannya, makin besar peluang dia menembus media. Pada saat bersamaan, penerbit pun pasti akan suka cita mengirim buku terbaiknya, berharap salah satu menarik minat peresensi dan mampu membangkitkan antusiasme menulis. Bukan itu saja, sebagian penerbit bahkan menyemangati peresensi dengan memberi tambahan honor setiap kali resensi atas buku terbitan mereka berhasil dipublikasi media massa terkemuka. Tahu sebabnya? Karena resensi yang dimuat terbukti meningkatkan pesanan dari toko buku. Bila sudah begitu, tinggal peresensi sungguh-sungguh mencurahkan energi dan waktu untuk membereskan tulisan.[]