Showing posts with label GPU. Show all posts
Showing posts with label GPU. Show all posts

Monday, December 24, 2012

Kisah yang Akan Membuat Orang Percaya pada Tuhan
---Anwar Holid

Kisah Pi

Judul asli: Life of Pi
Penulis: Yann Martel
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: GPU, 2004 (cetak ulang 2012)
Tebal: 448 halaman
Harga: Rp.55.000,-
ISBN: 979-22-1106-3

'SAYA punya cerita yang bakal membuat Anda percaya pada Tuhan,' kata seorang tua pada Yann Martel saat sedang di India mencari sesuatu untuk dijadikan bahan novel. Dia sedang berharap mendapat hal hebat untuk ditulis. Kisah dengan orangtua itu membuatnya bertemu dengan Piscine Molitor Patel, yang sepenggal hidupnya terkatung-katung di Samudra Pasifik selama 227 hari di sebuah sekoci bersama seekor harimau Royal Bengal seberat 225 kg. Waktu itu Pi Patel berusia 16 tahun. Dia bersama keluarganya sedang dalam pelayaran pindah dari India ke Kanada. Samudra Pasifik adalah lautan terluas di dunia, sekitar 165.000.000 km persegi, alamnya ganas, cuaca, gelombangnya tak bisa ditebak; dan 'petualangan' di sana bersama binatang buas tentu sebuah kisah sulit dipercaya.

Bagaimana bila kisah Pi semata-mata kebetulan dan tidak ada bukti Tuhan pernah ikut campur tangan? Barangkali kita masih ingat film Life is Beautiful; seorang ayah harus memandang bahwa kamp Nazi tempatnya disekap kerja paksa tak lebih merupakan lapangan main petak umpet bersama anaknya, tempat mereka bersenang-senang. Bagaimana orang harus mau menjungkir-balikkan realitas dan idealitas itulah yang dibutuhkan ketika menghadapi situasi absurd yang mustahil bisa dicerap nalar normal. Pi---dalam kekalutan menghadapi situasi terburuk, semangat mencintai Tuhan, mengasihi sesama makhluk dan mempertahankan nyawa---menganggap hidup dengan harimau di tengah lautan adalah pertunjukan sirkus paling hebat sedunia, tempat seorang pawang disoraki seluruh penonton karena berhasil mengalahkan segala rintangan, meski berdebar-debar takut tiba-tiba diserang.

Di situlah taruhannya. Orang diuji oleh keyakinannya. Orang religius seperti Pi diuji sepanjang waktu akan keyakinannya, apa Tuhan betul-betul sebagaimana diimaninya: Dia penuh kasih seperti Yesus, perkasa seperti dewa Hindu, personal seperti kata imam. Di puncak putus asa Pi pernah ragu, benarkah Tuhan bersama dia yang terkena bencana, diancam kematian, ketakutan, ketika harapan dan keyakinan nyaris tak ada gunanya. Saat berteriak-teriak minta tolong, kehabisan energi, tak seorang pun pernah mendengarnya, masihkah iman pantas dipertahankan atau Tuhan layak diseru? Dalam keadaan seperti itu rasanya Tuhan bukan merupakan hal penting.

Terlunta-lunta di lautan mahaluas, nyaris tanpa kemungkinan selamat sudah merupakan bencana mengerikan yang tak akan berani dibayangkan siapa pun; apalagi ditambah binatang buas yang kapan pun bisa memangsa, tak peduli orang bermaksud menyelamatkannya; sebab binatang tak punya akal, dan keduanya tak punya cara berkomunikasi. Satu yang sangat alamiah dalam buku ini ialah interaksi lama dengan binatang buas tidak membuatnya jadi manusiawi. Binatang tetap liar, berbahaya, memiliki dunia dan nasibnya sendiri---termasuk tak tahu cara berterima kasih. Wajar saat digesek perlahan-lahan oleh penderitaan, cobaan, tanpa harapan, di tepi kematian, keyakinan orang beriman melemah sedikit; tapi begitu muncul harapan, iman kembali menguat, dan Tuhan hadir sebagai cahaya yang bersinar di dalam hati. Sangat wajar bila dalam keadaan tanpa harapan dan putus asa, diterjang penderitaan terus-menerus, seseorang berpaling pada Tuhan.

Di samudra inilah Pi mengalami peristiwa paling buruk yang bisa dibayangkan orang, menghadapi titik terendah kehidupan. Dia bukan saja dicabut dari kenyamanan sebagai anak keluarga kaya, terpelajar, harmonis, terkemuka; kemudian dihempaskan pada kenyataan seluruh keluarganya lenyap, yang tersisa dia sendiri, bersama kenangan, pikiran, ketakutan. Tanpa aba-aba dia diceburkan pada bahaya dan kepapaan sekaligus; bahaya di tengah alam yang tak tahu apa-apa selain instink dan keseimbangan; kepapaan bahwa satu-satunya hal tersisa yang layak diberikan seseorang kepada makhluk di dekatnya adalah kasih sayang.

'KITA TAK TAHU apakah Tuhan ada,' begitu tulis André Comte-Sponville, filsuf kontemporer Prancis dalam bukunya, The Little Book of Philosophy. 'Itu sebabnya kita harus bertanya apakah percaya Dia ada atau tidak. Tuhan lebih merupakan misteri daripada konsep, lebih merupakan pertanyaan daripada fakta, lebih merupakan taruhan daripada pengalaman, lebih merupakan harapan daripada pikiran.' Tegasnya: Seseorang yang bilang 'Aku tahu bahwa Tuhan tidak ada' adalah orang bodoh, bukan ateis; tapi yang bilang 'Aku tahu bahwa Tuhan ada' adalah orang bodoh yang beriman.

Religiositas dan Tuhan adalah ‘kawan lama’ sastra; pertemuan keduanya kadang-kadang merupakan pergumulan tak terhindarkan. Confessions karya St. Augustine, misalnya, merupakan salah satu karya klasik sumber khazanah agama dan sastra sekaligus. Indonesia juga terus-menerus melahirkan penulis religius dan pada saat bersamaan mampu mencapai titik estetika mumpuni. Amir Hamzah, Y.B. Mangunwijaya, Kuntowijoyo, A.A. Navis, adalah satu-dua contoh penulis yang sama sekali tak membedakan apa mereka sedang berekspresi dalam ketaatannya sebagai pemeluk teguh atau tengah mencurahkan ekspresi sastra. Cerpen 'Robohnya Surau Kami' (A.A. Navis) merupakan contoh bagaimana agama, religiositas, ketuhanan, diungkap dalam karya sastra dengan cara yang sangat bagus.

Bila merupakan kelebihan, dalam sastra subjek Tuhan atau religiositas biasanya lebih mungkin diungkapkan secara indah, ekspresif, sering personal. Tuhan yang agung, sempurna, kadang-kadang terasa tiada bila dihadapkan kemalangan, dengan doa-doa tak terjawab. Tuhan kadang-kadang begitu jauh, tak terjangkau, namun pada saatnya dia begitu dekat, tak berjarak dengan jiwa seseorang. Di situlah ketika manusia terombang-ambing antara harapan dan keputusasaan Tuhan kerap mengambil peran sebagaimana dipahami kaum beriman. Kata Ludwig Wittgenstein, 'Percaya pada Tuhan artinya sadar bahwa hidup memiliki makna.'

MARTEL menceritakan kisah Pi ini dengan mempesona, tampaknya bahkan berpotensi memaksa pembaca tak mampu menutup buku kecuali bila halaman berakhir. Dia bertutur lugas, memikat, detail luar biasa, studi zoologinya kaya, sisi humornya mengejutkan; semua unsur itu membuat keterbacaan buku ini tinggi, bisa dinikmati siapa saja, tak terkecuali pembaca remaja pecinta Harry Potter. Martel nyaris habis-habisan mengeksplorasi genre realisme magis yang kerap dinisbatkan menjadi ciri utama sastra poskolonial. Dia menggunakan banyak sekali unsur poskolonial, mulai dari tokoh, seting, subject matter, konflik, dan sudut pandang. Realisme magis---genre sastra yang memadukan unsur fantastik dengan narasi realistik, dan secara bersamaan mengabstraksi akar persoalan sosial---memungkinkan Martel menghadirkan peristiwa supranatural dan mampu menyediakan beragam interpretasi multifaset. Bagaimana kesalehan yang aneh membuat Pi pernah mengalami beberapa kali 'penglihatan' (visions), disalami seluruh isi alam sebagai manifestasi kesatuan kosmos; di saat lain karena ditindas putus asa berkepanjangan dia pun mengalami halusinasi, delusi, berkali-kali panik, hingga nyaris kehilangan akal sehat, termasuk 'berbincang-bincang' dengan harimau menjelang dirinya sama sekali tak bisa berbuat apa-apa.

Di bagian pertama pembaca berkenalan dengan Pi yang mengesankan, saleh, luar biasa. Pi beda sendiri dalam keluarganya. Melakukan ritual tiga agama sekaligus pasti menimbulkan kontroversi dan kebingungan. Berseting di India, yang sangat tepat dipilih karena memiliki akar agama begitu tua, dalam kepolosan seorang remaja mempertanyakan keagungan Tuhan, Pi membentur-benturkan pandangan tentang absolutisme agama. Jika Tuhan yang menciptakan agama, kenapa kita tak boleh mengambil semua jalan-Nya? Dengan komentar terkesan sembarangan, tapi sukar disanggah, dia bicara toleransi agama, bahkan terhadap kaum ateis. Dia minta dibaptis, tapi juga minta sajadah untuk shalat, tetap melakukan puja. Semua itu membuat bingung keluarga, apalagi ketiga guru agamanya. Ditanya kenapa tidak memilih salah satunya, Pi menjawab: 'Semua agama itu baik adanya. Aku cuma ingin mengasihi Tuhan.' Dia mengutip diktum Gandhi, dengan begitu para otoritas agama pun terdiam.

Kemampuan Martel menggali psikologi terdalam manusia, pada saat bersamaan terus mempertahankan ketegangan upaya penyelamatan, cara bertahan di lautan, relasi paksaan dua makhluk di tempat tak sempurna, ternyata menghasilkan efek dramatik luar biasa. Demikian dramatik hingga orang kerap hanya mampu terkesan oleh unsur kegilaan fantastiknya, namun sangat sulit mau percaya. Bagi Pi sendiri pengalaman itu adalah semacam penggenapan kasih Tuhan untuknya. Kata dia, 'Tuhan juga sulit dipercaya, coba tanyakan pada siapa pun yang mempercayainya. Kenapa Anda tidak bisa menerima hal-hal yang sulit dipercaya?'  (hal.417). Pi rupanya tahu Tuhan bekerja secara rahasia.

Menamatkan bagian keduanya adalah membaca sebuah cerita tentang keberanian dan ketabahan yang sangat menakjubkan dalam menghadapi situasi yang luar biasa sulit dan tragis---demikian komentar salah satu pendengarnya. Apa kisah itu benar-benar bisa membuat seseorang percaya pada Tuhan? Tidak selinear itu; tapi setidaknya pembaca dijamin akan mendapat banyak hal berharga dari peristiwa yang menghancurkan ego manusia, kemudian bangkit lagi, hadir lebih utuh dan sadar.

KARIR kepenulisan Yann Martel sendiri berubah cukup drastik karena buku ini. Dulu dia masih termasuk obscure writer yang tak diperhatikan kritik atau pembaca manapun. Namanya bahkan tidak masuk di antara 225 penulis dalam daftar The Salon.Com Reader's Guide to Contemporary Authors yang otoritatif. Berbeda dengan dua buku awalnya---kumpulan cerita Facts Behind the Helsinki Roccamatios (1993) dan novel Self (1996)---yang cepat kandas di pasar, Life of Pi merupakan bestseller di negara-negara Persemakmuran, mendapat beragam penghargaan, yang paling terkemuka ialah The Man Booker Prize pada 2002. Novel ini menyebabkan namanya segera menyeruak sebagai penulis utama, diwawancarai media literer terkemuka, hidup nomadennya disingkap banyak orang, ditanya dari mana pandangan Pi berasal.

Pada akhir November 2012 20th Century Fox merilis film berdasarkan novel ini disutradarai Ang Lee; sementara penulis Kanada kelahiran 25 Juni 1963 tersebut menghasilkan tiga buku baru setelah menelurkan novel yang sangat sulit dilupakan ini.[]

Anwar Holid, penulis dan editor.

Resensi ini awalnya dimuat Kompas, Minggu, 06 Februari 2005.

Link terkait:
http://www.gramediapustakautama.com/buku-detail/86399/Kisah-Pi
http://en.wikipedia.org/wiki/Yann_Martel

Monday, September 06, 2010

[BUKU INCARAN]

Percayalah Padaku, Aku Seorang Detektif Ekonomi
---Norman Satya

Detektif Ekonomi - Kisah Tersembunyi di Balik Harga Produk, Pasar Saham, Perdagangan Bebas, dan Ekonomi Sehari-hari
Penulis: Tim Harford
Penerjemah: Alex Tri Kantjono Widodo
Penerbit: GPU, Juli 2009 
Tebal: 416 hal.; 13.5 x 20 cm 
ISBN : 978-979-22-4784-8
Kategori: Nonfiksi; Bisnis-Ekonomi, Manajemen, dan Investasi
Harga: Rp 60.000,-


Mari menjelajahi dunia ekonomi yang biasa kita sentuh sehari-hari. Tim Harford mengajak kita untuk menemukan jawaban atas sejumlah pertanyaan yang ada di dalam benak. Bahkan sangat mungkin Anda pun akan mengajukan beberapa pertanyaan kritis setelah membaca buku ini. Sang penulis buku ini akan membawa Anda bepergian masuk ke pedesaan hingga perkotaan modern. Dari negara paling miskin menuju negara yang saat ini berpeluang melangkahi Amerika Serikat di bidang keberdayaan ekonomi.

Mari kita mulai dari pertanyaan: mengapa harga cabai yang Anda beli pada minggu-minggu awal menuju bulan puasa bisa menjadi begitu mahal? Mengapa harga sebidang tanah di kota bisa lebih mahal daripada harga satu hektar tanah di desa? Atau mungkin juga mengapa orang-orang berotak brilian dihargai dengan gaji selangit?

Satu hal yang dapat kita temukan dari penjelasan Tim ialah bahwa kelangkaan memiliki kuasa - the power of scarcity. Semakin langka suatu barang, maka semakin mahal harga barang tersebut. Apakah selalu seperti itu? Tidak. Harus kita lihat dulu apa barang tersebut berharga, dan untuk siapa barang tersebut dianggap berharga. Contoh sebidang tanah yang subur.  Bagi sebagian orang sebidang tanah subur mungkin hanya tampak seperti kotak, tetapi bagi seorang petani sebidang tanah itu selayaknya emas.

Lalu berapa harga yang pas untuk tanah tersebut? Menentukan harga bisa menjadi faktor paling krusial yang bisa mendatangkan kerugian apabila harganya gagal bersaing dengan harga pasaran. Saat seorang memiliki kekuasaan atas kelangkaan suatu komoditas, bolehlah dia bebas menentukan harga. Orang-orang akan rebutan merayu sang pemilik untuk mendapatkan barang langka tersebut. Hei, tapi tunggu, pestanya tak akan bertahan lama karena orang lain ternyata meniru tindakan orang pertama. Kemudian diikuti orang kedua, ketiga, dan seterusnya hingga kejadiannya ialah barang yang awalnya langka sekarang jumlahnya menjadi terlalu banyak. Harganya? Tentu akan mengalami depresiasi hingga ke tingkat yang dapat diterima pasar. Saat inilah persaingan dimulai.

Sekarang mari kita pergi menuju kota metropolitian yang padat. Silakan mampir ke salah satu kedai kopi dan menikmati secangkir kopi di sana. Tim menganalogikan pikiran melalui kebiasaan membeli kopi di stasiun kereta bawah tanah di London. Kebiasaan ini melahirkan pertanyaan: mengapa harga kopi di satu stasiun dan stasiun lainnya berbeda? Kasus serupa terjadi pada convenience store (warung serba ada) yang terletak di dekat stasiun dan satunya lagi berada agak jauh dari stasiun.

Hasil investigasi dari sang ekonom yang sedang menyamar (the undercover economist) ini ternyata membuktikan bahwa lokasi pun memiliki nilai sendiri. Apa semata-mata tergantung lokasi? Tidak. Produk yang dijual pun harus memiliki daya saing. Sang ekonom menemukan fakta bawah harga secangkir kopi dengan rasa sama dari penjual yang berbeda di lokasi tertentu sanggup membuat Anda berpikir dua atau tiga kali sebelum membelinya. Tetapi gerai kopi itu nyatanya tetap bertahan dengan harga yang selangit itu. Mengapa? Sekali lagi, dia memiliki kuasa atas kelangkaan.

Jadi suatu kelangkaan akan menjadi kekuatan Anda dalam menjalankan usaha? Tidak juga. Konsumen saat ini sudah sadar atau lebih tepatnya disadarkan. Mereka kini bisa menolak membeli produk dari sebuah pabrik yang tidak membayar tenaga kerja (buruh) sesuai ketentuan atau kedapatan mempekerjakan anak-anak di bawah umur. Kejadian ini nyata, sudah menimpa salah satu produsen aparel (baju dan asesoris) olahraga ternama. Jadi apalagi yang penting? Kejujuran.

Tim kemudian mengajak kita merasakan kemacetan di kota besar. Kita di Indonesia dapat merasakan juga di Jakarta, Bandung, atau kota-kota besar lainnya. Cara Tim membeberkan masalah kemacetan ini agaknya sudah menyinggung kemacetan yang terjadi di mana sana. Berapa kerugian yang harus kita tanggung dari suatu kemacetan? Anda yang mengalami dapat menghitung. Namun siapa yang harus bertanggung jawab? Entahlah. Ada baiknya kita mengamati diri sendiri. Bagi orang-orang yang rutin setiap hari harus menempuh berkilometer aspal menuju tempat kerja dan kembali lagi, masalah ini sangat sensitif. Tapi apa kita tetap mau peduli bila kenyataannya ternyata kita sendiri yang menyebabkan kemacetan itu? Hanya Anda dan juga saya yang dapat menjawabnya. Dengan jujur.

Penulis yang jadi anggota dewan editor Financial Times ini menyodorkan solusi untuk mengatasi kemacetan sebagaimana pernah diterapkan pemerintah Inggris, yaitu dengan membebankan pajak amat tinggi terhadap kendaraan bermotor, hingga hanya sejumlah orang kaya yang dapat membayarnya. Kemudian menerapkan tarif harga bahan bakar yang mahal. Apa kebijakan ini efektif? Tidak juga. Hingga pada satu saat dunia disadarkan tentang pentingnya mengelola efek negatif dari kemajuan industrialisasi, yaitu emisi karbon.

Dari masalah kuasa kelangkaan, persaingan, penentuan harga, kejujuran, dan kemacetan yang entah itu tanggung jawab siapa, kita berlanjut ke masalah kemiskinan. Kita juga akan membahas lawan dari kemiskinan. Kamerun dijadikan contoh sebagai negara miskin yang hingga saat ini masih berenang dalam kemiskinan. Sebaliknya Republik Rakyat Cina sudah mampu melewati arus dan berenang ke daratan untuk dapat mendaki hingga ke puncak gunung tertinggi.

Membandingkan Kamerun dan Cina sungguh tepat mengingat kondisi Kamerun ternyata tetap begitu-begitu saja selama tiga dasawarsa terakhir, sedangkan Cina sudah jauh meninggalkan Kamerun dalam hal kemiskinan. Cina mampu memanfaatkan kondisi tertutup negara itu. Selayaknya sebuah dam, akhirnya tampungan air itu mendobrak dan menguasai dataran kering di sekelilingnya. Kesejahteraan rakyat Cina di bawah pemerintahan Ketua Mao tidak lebih baik dari kondisi rakyat di Kamerun. Pemerintahan pun bertransisi saat Deng Xiao Ping mulai memimpin. Melalui evolusi dan perbaikan sistem, Cina secara bertahap akhirnya mampu mengentaskan korupsi yang menggerogoti negaranya dan menciptakan sistem produksi dan administrasi yang jauh lebih efisien dari sebelumnya. Dari hanya ber-evolusi, Cina mampu membawa dirinya dan dunia ke tingkat revolusi. Agaknya wajar bila sejak dulu ada ungkapan, "belajarlah hingga ke negeri Cina."

Detektif Ekonomi mampu mengungkap dan menyajikan berbagai informasi penting yang selama ini tertutup bagi banyak orang demi kejujuran dan tanggung jawab sosial perusahaan. Tim Harford tidak hanya menyajikan pandangan dari kacamata ekonom, tetapi juga pandangan pebisnis. Pebisnis ialah pelaku perekonomian. Para ekonom dapat dikatakan mengelola situasi makro perekonomian. Pemerintah memainkan peran sesuai kebijakan sistem ekonomi yang diterapkan di negaranya masing-masing. Pemerintah pun mustahil melepaskan tanggung jawab demi menyejahterakan rakyat, memberlakukan tata cara untuk membatasi bisnis dari praktik yang dapat merugikan warga negaranya.

Mungkin setelah membaca buku ini Anda akan bertanya-tanya penasaran, mengapa sebuah negara yang kaya sumber daya alam malah gagal memperkaya diri sendiri untuk kesejahteraan masyarakatnya. Mengapa sebuah negara yang mampu menghasilkan kopi dan tembakau terbaik di dunia tidak mengatur harga kopi dan tembakaunya sendiri? Kemudian secara kritis Anda akan bertekad: apa yang dapat saya perbuat untuk negara saya.[]

Norman Satya ialah mahasiswa Jurusan Manajemen Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.

Situs terkait:
http://www.gramedia.com

Friday, August 13, 2010


Kreatiflah dengan Alasan Kuat
---Anwar Holid

Oh My Goodness, Buku Pintar Seorang Creative Junkies
Penulis: Yoris Sebastian
Penerbit: GPU, 2010
Ukuran: 14 x 21 cm
Harga: Rp 68.000,-
ISBN: 978-979-22-5526-3


Yoris Sebastian menggabungkan pengetahuan dan pengalaman kreatifnya dengan berbagai contoh bahwa kreativitas bisa berupa apa saja yang memungkinkan; baik berupa pengembangan dari hal yang sudah ada maupun berawal dari sesuatu yang dianggap mustahil karena aneh dan menentang arus---antara lain berupa penemuan, buah dari penelitian. Kita bisa belajar banyak tentang berpikir dan bertindak kreatif maupun menemukan ide-ide segar baik untuk bekerja dan menambah wawasan dari buku ini.

Landasan isi buku ialah pengalaman kerja dan kehidupan penulisnya sebagai orang kreatif. Yoris menerima penghargaan tahunan International Young Creative Entrepreneur of the Year (2006) dari British Council. Dia menjadi berita karena merupakan General Manager Hard Rock Cafe termuda di Asia saat berusia 26 tahun (GM termuda kedua di Dunia). Di sini dia sukses menyelenggarakan acara yang secara umum diakui sebagai mahakaryanya, yaitu I Like Monday. Yoris menerima berbagai penghargaan terutama di bidang advertising dan entertainment. Kini dia adalah CEO OMG Consulting, yang kerap mampu memaksa mulut para klien menganga dan berkata 'oh my goodness' atas usulan-usulan mereka.

Buku ini mula-mula menerangkan kreativitas itu apa, seperti apa, bagaimana ia berperan dalam kehidupan maupun karir seseorang, cara menggali dan memanfaatkannya, mengasah maupun menambahnya, mengadopsi kreativitas pihak lain dan mengolah untuk kepentingan sendiri, lantas mengambil keputusan kreatif secara terkontrol tanpa lupa mempertimbangkan risiko. Dia banyak mengajukan contoh betapa kreativitas itu sangat luas dan mengejutkan, mulai dari pesulap hingga pebisnis sukses kelas nasional dan dunia.

Yoris menyebut dirinya sebagai 'creative junkie' (kecanduan oleh hal kreatif). Dia menerapkan kreativitas dalam banyak detail kehidupan, misal sengaja mengenakan arloji di tangan kanan, berlawanan dengan kebiasaan umum yang mengenakan di tangan kiri. Buku ini pun menanggung akibat salah satu keputusan kreatifnya, yaitu sengaja tanpa nomor halaman. Kalau tanpa nomor halaman, lantas kenapa buku ini sampai perlu dibagi tiga 'part' dalam sembilan 'chapter'? Bukankah pembaca bakal kesulitan langsung menuju masing-masing topik? Ini memberi peluang bahwa pembaca bisa membaca buku dari mana saja tanpa perlu khawatir akan kehilangan keutuhan dan kepaduan akan pemikirannya.

Yoris merupakan contoh sempurna orang Indonesia yang gemar mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris secara bersamaan baik lewat kosakata, istilah, maupun kalimat. Jangankan untuk ekspresi, dia sengaja menggunakan or untuk ganti atau. Isi buku ini pun sepenuhnya menggunakan bahasa Inggris, begitu juga babnya. Dia menggunakan 'chapter' alih-alih bab. Atau menulis begini: as easy as follow someone kreatif di twitter! Kenapa dia tidak sekalian menulis dengan ungkapan inggris? Oh my goodness, what a decision! Jadi jangan berharap banyak pada mode penyuntingan buku ini, terutama menyangkut copyediting. Buku ini sembarangan dan inkonsisten menggunakannya, misal penggunaan huruf kapital, italic, dan bold yang suka-suka. Dia menulis “Singapore” dan “tau” alih-alih “Singapura” dan “tahu.” Ada poin-poin yang ditulis italic, tapi di tempat lain normal. Di satu tempat nama majalah italic, di lain tempat tegak, sementara judul film dibiarkan tegak. Di halaman tertentu waffle ditulis tegak, di halaman lain italic---meski hanya penulis yang tahu apa itu artinya. Sementara sejumlah kosakata asing yang rasanya telah biasa kita dengar dan tahu artinya malah dicetak italic, seperti workshop, style, fresh, skill. Namun toh dia masih selip menulis "Project Manhattan" dan "Dead Poet's Society", bukan "Manhattan Project" atau "Dead Poets Society." Salah eja di halaman copyright buku ini pasti terjadi karena teledor dan tetap sulit diterima bila dinilai sebagai keputusan kreatif.

Dengan tegas Yoris mengesankan bahwa kreativitas merupakan alat untuk mencapai keberhasilan. Kreatif idealnya berbanding lurus dengan kesuksesan dan kemakmuran. Semakin kreatif seseorang, akan semakin sukses dia. Anggapan ini jelas merupakan buah dari pandangan umum bahwa semua orang sekarang memang ingin tambah sukses dan makmur. Yoris mengingatkan jangan sampai kreatif semata-mata karena ingin beda. Kreatiflah dengan alasan kuat. Jangan sampai kita rugi hanya karena ingin disebut kreatif. Maka menurut Yoris kreatif yang gagal dijual itu sia-sia. Di sinilah pentingnya memperhatikan pemikiran dia mengenai thinking outside the box, execute inside the box---yakni agar orang tidak semata-mata aneh dan nyeleneh, tapi juga sungguh-sungguh mengantisipasi dan memperkirakan risiko seteliti mungkin dari kreativitasnya. Itu pentingnya memulai kreativitas dari hal kecil. Bila hanya bikin heboh tapi tak berdampak pada penjualan dan pendapatan, itu kreativitas yang buruk dan merugikan. Dia pernah mengalami hal semacam itu. Karena itu dia berprinsip execute inside the box, artinya bertindak sesuai keterbatasan di dalam ruang kreatif yang relevan. Intinya, bermain aman. Tapi kalau yakin berani ambil risiko lebih besar dengan harapan ledakan hasil yang jauh lebih besar lagi, dia mengajukan prinsip perbandingan 70:20:10 sebagai landasan untuk memaksimalkan hasil.

Kita bisa salut dan bertanya tentang kreativitas pada Yoris. Misal apa yang akan terjadi bila kreativitas sama sekali tak didukung dana, perusahaan, atau lingkaran terdekat pencetusnya. Akan sia-siakah kreativitas itu? Kasus Vincent van Gogh mungkin menarik kita renungkan. Semasa hidup, dia melukis terutama menggunakan warna-warna cerah dan sapuan kuas yang tebal, kuat, dan kasar. Ini bertentangan dengan kebiasaan perupa di zamannya, meski jelas inovatif dan berani. Hasilnya? Karyanya gagal total menarik perhatian masyarakat umum semasa dirinya hidup---terutama kalangan patron seniman. Lukisannya hanya laku 1-2. Hidupnya hina dina, disepelekan, ricuh dengan teman, dan karyanya diabaikan. Karya kreatifnya gagal memberi efek positif baik pada dirinya, kesuksesan, maupun masyarakat di zaman itu. Kondisi itu membuatnya frustrasi. Namun bertahun-tahun kemudian setelah kematiannya yang tragis, karyanya baru dinilai hebat dan dunia mengakui dirinya sebagai pelopor aliran ekspresionisme. Karya-karyanya kemudian bernilai luar biasa mahal dan diburu banyak orang. Tapi semua sudah terlalu terlambat bermanfaat untuk dirinya sendiri. Ini paradoks mengerikan.

Orang seperti van Gogh lebih mudah dianggap sebagai misfit (salah tempat) daripada kreatif. Ini membuktikan bahwa sebagian dari kreativitas gagal dan berpotensi merugi secara besar-besaran. Fakta tersingkirnya laserdisk, kamera Polaroid, disket, video Betamax, juga Netscape Navigator yang awalnya dinilai lebih inovatif dan berkualitas namun akhirnya tersingkir baik karena ketinggalan zaman, ribet, atau kalah oleh penemuan baru yang lebih massif dan diterima orang kebanyakan menunjukkan ada sejumlah faktor kenapa suatu produk kreativitas bisa sukses dan lainnya gagal, selain semata-mata soal persaingan bisnis yang kejam. Sayang aspek ini tak dibahas Yoris.

Lepas dari itu, Oh My Goodness tetap menarik karena bisa membangkitkan saraf kreatif pembacanya. Penyajiannya yang informal, berbagai teknik mewujudkan kreativitas, juga ajakan untuk tetap semangat belajar menimba ilmu pengetahuan dari berbagai sumber agar lebih menyuburkan kreativitas merupakan sisi menarik buku ini yang pantas dihargai, apalagi Indonesia sekarang tengah menggalakkan jargon “industri kreatif.”[]

Anwar Holid, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung. Buku barunya ialah Keep Your Hand Moving (GPU, 2010). Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@yahoo.com | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141.

Saturday, August 07, 2010

[BUKU INCARAN]

Bertaruh Nyawa untuk Menerbitkan Memoar
---Anwar Holid

The Ghost Writer (Sang Penulis Bayangan)
Penulis: Robert Harris
Penerjemah: Siska Yuanita
Penerbit: GPU, 2010 
Tebal: 320 halaman; format: 15 x 23 cm 
ISBN: 978-979-22-5562-1
Harga: Rp.50.000,- (Soft Cover)


The Ghost Writer perlahan-lahan tamat juga di sela-sela deadline kerja penulisan yang sempat bikin aku blank, karena harus menjelajahi subjek sulit. Tadinya aku pesimis bisa menamatkan novel ini karena perasaan bersalah lebih baik memburu target kerja dan berusaha keras terserap ke dalam tugas, tapi rupanya kadang-kadang aku tenggelam sebentar ke dalam novel ini. Novel ini aku baca dengan rasa gelisah karena kerja belum selesai, sementara deadline tambah dekat, dan seorang klien menghentikan kerja sama---entah untuk sampai kapan. Buku ini aku bawa-bawa ke Jakarta, sesekali aku baca di tengah angkot atau mobil dinas yang membawaku ke para narasumber yang mau diwawancarai, hendak aku serap pengalaman dan ilmunya.

Pada dasarnya The Ghost Writer bercerita tentang dua orang. Orang pertama itu ialah penulis bayangan (ghost writer) yang disewa untuk merevisi dan menulis ulang memoar mantan perdana menteri Inggris bernama Adam Lang. Orang kedua ialah Adam Lang sendiri. Ketika itu Adam Lang tengah diajukan ke Mahkamah Internasional oleh mantan menteri luar negerinya yang kini bekerja di PBB. Menteri luar negeri ini dulu dipecat Lang dari kabinetnya; dia seorang politisi senior, berpengaruh, dan integritasnya tampak terjaga.

Lang dituntut atas kejahatan perang. Dia diduga memberi perintah penangkapan dan penginterogasian empat warga negara Inggris keturunan Pakistan atas desakan CIA, yang lantas dibawa paksa ke penjara Guantanamo. Lang juga diduga memerintahkan sebuah operasi rahasia yang dilaksanakan tanpa persetujuan parlemen. Meski dicintai warga negara Inggris dan politik luar negerinya berhasil, Lang tampak terlalu menjadi kolaborator Amerika Serikat dengan mendukung semua kebijakan perang melawan terorisme. Tuduhan kejahatan inilah yang membuatnya nyaris digelandang ke pengadilan internasional di Amsterdam. Beruntung dia tengah berada di Martha's Vineyard, sebuah pulau kecil di Massachusetts, Amerika Serikat, yang terkenal sebagai tempat liburan orang Amerika Serikat kala musim panas. Amerika Serikat tidak ikut mengakui pengadilan internasional. Jadi selama ada di sana, untuk sementara Lang aman. Sayangnya dia di sana kala musim dingin, di pulau terpencil pula; jadi suasananya benar-benar sepi, sebab hanya berisi segelintir penduduk setempat yang berprofesi sebagai nelayan, dan sehari-hari diterpa hujan deras dan badai. Istrinya terang-terangan bilang sebenarnya Adam Lang sudah bernasib seperti Napoleon Bonaparte yang diasingkan di pulau Elba. Sebenarnya, niat awal Lang ada di sana ialah menyelesaikan memoar politik pasca dirinya selesai menjadi perdana menteri. Memoar ini bukan saja bernilai jutaan dolar karena sudah terikat kontrak dengan penerbit raksasa, namun juga merupakan satu-satunya cara dirinya membela diri dan berpeluang menimbulkan pengakuan kontroversial. Sayangnya, sekretaris setianya, seorang staf politikus tiada tara, ghost writer pertama yang sudah menulis draft awal memoar itu, ditemukan tewas ketika hendak menyerahkan manuskrip ke penerbit. Maka disewalah ghost writer kedua, narator dalam novel ini.

Ghost writer kedua ini seorang oportunis. Dia satu almamater dengan Adam Lang, hanya beberapa tahun di bawahnya, apolitis, hidup melajang, dan tampak egois. Meski terbilang sukses berkarir sebagai ghost writer dan tahu posisinya dalam industri buku, dia berharap bisa meningkatkan karir karena selama ini kliennya rata-rata orang "kelas dua", misalnya rockstar uzur dan karirnya sudah tenggelam tapi tetap merasa jadi mesiah, atau pemain sepak bola kasar yang merasa ucapan-ucapannya sekelas dengan Shakespeare. Mungkin dengan mendapat klien mantan perdana menteri, karirnya jadi melesat luar biasa.

Memang benar. Begitu sepakat mengerjakan proyek itu dan mendapat panjer (uang muka) besar, suatu hari dia dihajar orang asing yang hendak merebut manuskrip memoar sang mantan perdana menteri. Tapi halangan itu tak menyurutkan niatnya. Ketika benar-benar mulai mengerjakan proyek bersama Adam Lang, harapannya tampak semakin nyata. Sebagai pribadi, Adam Lang sangat mempesona. Dia seorang komunikator andal, pandai meyakinkan, sekaligus tegas dalam mengambil keputusan. Tapi dalam jalinan politik, kita sulit memastikan sebenarnya seperti apa pengaruh kebijakan-kebijakannya. Apa keputusannya membuat Inggris makin signifikan berperan di dunia internasional, kondisi ekonomi dan isu-isu keadilan bertambah baik atau terpuruk. Kita tahu bahwa sebagian dari politik ialah kompromi, baik dengan partai, kolaborator, bahkan dengan kekuatan musuh sekalipun.

Sikap apolitis sang ghost writer pada satu sisi menyulitkannya bekerja dan menyelami ada apa sesungguhnya di dalam dan luar politik Inggris, namun di sisi lain membuatnya bebas sekaligus tega berpendapat apa pun tentang Adam Lang. Karena berjarak sangat jauh dengan politik dan tetek bengeknya, sang ghost writer sebenarnya tepat mengerjakan order ini. Dengan kemampuannya, dia mampu mengubah naskah memoar Adam Lang sebagai politisi dan kering tanpa drama menjadi manusia utuh yang patut mendapat simpati. Dia jadi tahu sisi pribadi Lang yang mungkin kurang disadari publik, misal betapa Adam selalu minta input dari siapapun sebelum mengambil keputusan, atau ternyata kehidupan rumah tangga mereka sudah runtuh. Tapi demi nama baik dan citra internasional, mereka belum bisa cerai, meskipun sudah pisah ranjang. Fakta ini makin seksi karena hidup Adam diatur oleh sekretaris perempuan gesit sebagai bagian dari protokoler resmi dan aturan partai. Kita rasanya mendapat suguhan plot sempurna: politik, kekuasaan, perempuan, dan konspirasi. Robert Harris mengolahnya menjadi kepenasaran yang amat berisiko, terutama bagi sang narator. Tentu dia ingin menguak siapa sesungguhnya Lang, bagaimana lingkaran kekuasaan memainkan peran melalui lembaga studi di universitas maupun korporasi multinasional, tindakan politik yang mengerikan, sampai mendapati tanda-tanda di luar prakiraannya sendiri. The Ghost Writer sampai ujung setia pada peran ganda itu: Di satu sisi, buku ini memberi gambaran hebat bagaimana seorang penulis bekerja, baik menggunakan nurani, insting, maupun profesionalitasnya. Di lain sisi ia menuturkan kehidupan sang perdana menteri sejak awal menapaki karir politik hingga caranya merebut kekuasaan.

"Dalam banyak level, The Ghost Writer adalah novel yang hebat," demikian pendapat USA Today. Menurut mereka, Harris membuat novel ini sarat godaan, kekuasaan, dan manipulasi. Bahkan Roman Polanski tak tahan untuk mengadaptasinya menjadi film. Sementara itu nyaris seluruh resensi di media massa internasional lain tergoda untuk mengaitkan novel ini dengan kejadian nyata politik di Inggris. Robert Harris tampak mau menampilkan suasana lebih muram lagi, mulai dari musim dingin, London yang jadi mirip Jakarta karena kerap ada dalam situasi bahaya baik oleh teror bom atau demonstrasi, sampai kehidupan pribadi sang ghost writer yang kelihatan kekurangan cinta dan simpati.[]

Anwar Holid pernah menjadi penulis bayangan. Buku barunya ialah Keep Your Hand Moving (GPU, 2010). Blogger @  http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@yahoo.com | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141.

Link terkait:
http://www.gramedia.com/buku_detail.asp?id=KCQN1516&kat=4
http://en.wikipedia.org/wiki/The_Ghost_(novel)
http://en.wikipedia.org/wiki/Robert_Harris_(novelist)

Sunday, May 30, 2010



Malcolm Gladwell yang Penasaran
---Anwar Holid

What the Dog Saw, dan Petualangan-Petualangan Lainnya
Judul asli: What the Dog Saw and Other Adventures
Penulis: Malcolm Gladwell
Penerjemah: Zia Anshor
Penerbit: GPU, 2010
Tebal: 480 hal.; Ukuran: 13.5 x 20 cm
ISBN: 978-979-22-5249-1
Harga: Rp.80.000,-

"Keingintahuan mengenai apa yang ada di balik pekerjaan harian orang lain adalah salah satu dorongan paling mendasar pada manusia, dan dorongan itulah yang menyebabkan buku yang sekarang Anda pegang ini ditulis," demikian kata Malcolm Gladwell di pengantar What the Dog Saw (GPU, 2010, 461 hal.) Dia terus memelihara dan mengembangkan rasa ingin tahu terhadap sembilan belas macam kepenasaran dengan matang. Rata-rata menghasilkan esai yang sangat panjang untuk ukuran artikel bernada investigatif demi mengorek suatu subjek, kemudian menuliskannya dengan sangat lincah dan menggigit. Semua pembaca buku Gladwell sudah tahu betapa kuat ciri khas tulisannya, dan betapa tulisan itu membuat ketagihan.

Petualangan Gladwell demi menelusuri suatu fenomena di dalam What the Dog Saw bisa dibaca dari mana saja. Kita akan segera tahu betapa rasa penasaran manusia itu memang meluap-luap, tak terbendung bahkan oleh teka-teki atau misteri paling gelap sekalipun. Buku ini menyajikan lebih banyak lagi menu tentang betapa manusia dan drama kehidupannya bisa melahirkan peristiwa yang kerap terlalu sulit untuk saling diprediksi. Manusia bergerak lebih cepat dari prasangka ataupun prakiraan orang lain; mereka suka membuat kecele orang yang mencoba menangkap gelagatnya. Betul manusia bisa menganalisis, menebak, dan memprediksi, tapi hasrat dan antisipasi lebih cepat lagi bergerak menanggapi analisis.

Rasa penasaran ada yang sederhana dan rumit. Kalau perempuan ingin mengecat rambut dengan warna tertentu, bisa jadi itu teka-teki sederhana; sementara kalau kita ingin tahu bagaimana polisi dan detasemen khusus menentukan target operasi terorisme, mungkin itu misteri yang hebat dan mendebarkan. Tapi sama saja: keduanya butuh jawaban, dan orang seperti Gladwell dengan segala cara berusaha menjelaskannya. Upayanya jelas telah sukses membuat jutaan orang suka, meski tidak semua. Sebagian orang menilai Gladwell terlalu simplisistik (menggampangkan) dan mengabaikan faktor penting lain dalam berbagai fenomena yang rumit; dan itu membuat mereka menilai tulisannya sebagai pseudosains. Tapi yang jelas kehebatannya meyakinkan orang banyak sulit ditandingi. Wajar bila media massa seperti Time, Newsweek, juga GQ menobatkan Gladwell sebagai penulis yang dewasa ini paling mempengaruhi cara orang berpikir.

Gladwell memilah What the Dog Saw dalam tiga bagian. Urutan paling menariknya justru dari belakang. Di bagian ketiga dia membahas tentang kepribadian, sifat, dan kecerdasan manusia. Dia membicarakan kenapa sebagian orang sudah genius sejak muda, namun sebagian lain justru baru panas setelah berusia matang? Apa beda kesuksesan teori relativitas dan keberhasilan perusahaan semacam Microsoft? Bagaimana polisi mengembangkan teori kejahatan dan menangkap tersangka terorisme padahal ciri penjahat sangat kabur dan mudah sekali berubah? Kenapa seseorang bisa panik dan akhirnya kalap? Dan kisah-kisah yang lebih menyangkut indra, emosi, dan pikiran daripada sesuatu yang fisikal.

Di bagian kedua dia mengembangkan teori, prediksi, dan diagnosis. Misal seperti ini: kenapa perusahaan yang sangat terbuka, dikelola dengan baik, diisi orang-orang cerdas kelas satu, berkembang pesat, punya kapital luar biasa, sahamnya diminati investor, punya semua kriteria unggul, memenuhi standar kehebatan macam-macam, toh akhirnya bangkrut dan gagal diselamatkan? Kenapa badan intelijen yang punya analisis tiada terperi tetap gagal menemukan Osama bin Laden? Semuanya paradoks rumit yang bisa melahirkan kisah penelusuran menarik.

Di bagian pertama dia menulis tentang "genius minor", yaitu orang hebat yang perannya dianggap sepele, seperti pawang anjing, produsen pewarna rambut, atau raja saus tomat. Padahal kerja dan temuan mereka hebat juga. Gladwell membuat mereka jadi setara dengan penemu penting kelas dunia. Bayangkanlah bila orang Indonesia tak kenal sambal, bagaimana rasanya. Tapi kenapa kita tidak tergerak untuk menelusuri, siapa yang pertama-tama membuat ramuannya?

Meski begitu, isi ketiga bagian buku ini masih terasa inkonsisten. Sebab di bagian pertama kita bisa menemukan tulisan tentang Nassim Nicholas Thaleb yang terkenal berkat The Black Swan, yaitu teori probabilitas untuk menerangkan falsifikasi. Dia jelas bukan tipe "genius minor." Sementara di bagian kedua dan ketiga kita bisa menemukan topik agak ringan, seperti contek-mencontek karya yang bercampur dengan ilham atau hasil riset dan bagaimana seekor anjing menentukan ada kejahatan di depan matanya.

Keunggulan Gladwell tampaknya berporos pada dua hal: (1) cara berpikirnya unik dan cara dia menarik kesimpulan mengejutkan; (2) cara penulisannya hebat dan lincah sekali. Dalam hal teknik penulisan, bergabungnya dia sebagai staf penulis The New Yorker punya andil besar, sebab majalah ini sudah terkenal berkat gaya dan cita rasa sastranya. Dalam hal cara berpikir, dia cerdas, meskipun bukannya tanpa cela.

Sepintas, isi buku-buku Gladwell tampak klise. Sebagian orang bingung apa beda blink dengan ilham, intuisi, atau wisdom dari pengalaman yang diasah terus hingga membuat orang peka? Dalam Outliers, banyak orang masih bingung apa hubungan tanggal lahir dengan kesuksesan. Tapi toh mereka tetap semangat membaca tulisannya.

Gladwell tahu cara menuliskan petualangan-petualangan pemikirannya. Dia mampu menyabet topik yang awalnya berserakan dan kabur menjadi tajam dan membangkitkan rasa penasaran. Dia bergerak dari satu narasumber ke penyelidikan lain, berusaha langsung mengalami fakta-fakta yang mungkin terbayangkan, lantas melakukan studi literatur dan menemukan pasase yang tepat. Gladwell berkata, "Bila mau menulis buku, Anda perlu punya lebih dari sekadar cerita yang menarik. Anda harus punya hasrat untuk menceritakan kisah itu. Dalam beberapa hal Anda bahkan secara personal perlu mengupayakannya bila memang berguna bagi tulisan."

Banyak buku motivasional atau bisnis sudah membicarakan subjek yang dibahas Gladwell. Tapi kenapa buku dia tetap bisa menonjol dan bestseller gila-gilaan? Bisa jadi karena ini: (1) Argumen Gladwell kuat dan cara berpikirnya menarik; (2) Gladwell bisa merangkai fakta trivial (sepele, sering diabaikan atau dianggap rendah) ke dalam logika besar dengan cara pop-ilmiah menjadi mudah dipahami; (3) Gladwell bisa membuat koneksi antara hal klise dengan teori yang awalnya orang bingung penerapannya bagaimana dalam keseharian atau kasus khusus. Istilah teoretis yang dia munculkan juga catchy.[]

Anwar Holid ialah editor, penulis, dan publisis. Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@yahoo.com | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141

Thursday, April 08, 2010


[RESENSI]

Perayaan Kecil Cerpen Indonesia
---Anwar Holid

BOB MARLEY dan 11 Cerpen Pilihan Sriti.com 0809
Penulis: Hasan Al Banna, et al.
Penerbit: GPU, 2009
Tebal: 152 halaman; ukuran:  13.5 x 20 cm
ISBN: 978-979-22-5215-6
Harga: Rp 35.000,-

Sriti.com merupakan situs berisi data base terbesar cerpen Indonesia. Muncul Agustus 2000, situs yang didirikan sejumlah mahasiswa IPB penggemar sastra ini konsisten tiap minggu mengupdate isinya. Maklum, cerpen merupakan salah satu produk paling banyak yang muncul di koran. Tiap minggu, semua koran memilih cerpen untuk pembaca mereka. Otomatis awak Sriti.com, atau atas inisiatif penulisnya, setiap minggu mendapat cerpen baru yang sudah layak terbit dan pantas dibaca. Terbayang, tentu kini mereka butuh ruang lebih besar lagi untuk menampung muatannya.

Sebagai "tempat pembuangan akhir" cerpen koran, salah satu kekuatan utama Sriti ialah justru kebebasan kepentingan kelompok---dalam hal ini kepentingan editor dan kebijakan media massa bersangkutan. Sriti nonsektarian, bisa menerima berbagai aliran dan bentuk, terlebih lagi cerpen itu telah berhasil memenuhi selera dan kriteria editor desk sastra. Sikap ini tecermin betul dari terpilihnya dua belas cerpen terbaik dalam periode 2008-2009 yang terkumpul dalam buku ini. Kita bisa dengan mudah merasakan perbedaan "Bob Marley" dengan buku sejenis, misalnya buku tahunan Cerpen Terbaik Kompas. Bagaimana awak Sriti menentukan pilihan dan menjelaskan seleranya?

De gustibus non est disputandum, begitu kata pepatah Latin. Soal selera itu mustahil diperdebatkan. Ia hanya bisa dibiarkan; diamini atau ditinggalkan. Di lihat dari sini, kita paham bahwa selera itu kadang-kadang ternyata harus mau kompromi dengan kepentingan pasar atau merupakan kemenangan selera mayoritas---berdasarkan hitungan statistik. Yang terjaring kriteria, itulah yang menang. Maka kita bisa mendapatkan berbagai subjek dalam buku ini, termasuk beragam cara bertutur dalam menulis cerpen.

Ada cerpen realistik, seperti Kematian Bob Marley (Hasan Al Banna), Guru Safedi (Farizal Sikumbang), Aku Bercerita dari Pesawat yang Sedang Terbang (Bamby Cahyadi), juga Induak Tubo (Zelfeni Wimra). Ada yang absurd, antara lain Malam Basilisk (Dinar Rahayu), beraroman realisme magis dengan nuansa gothik, misalnya Satu Kunang-kunang, Seribu Tikus (Intan Paramaditha) dan Malam Kunang-kunang (Rama Dira J.)

Apa yang bisa kita dapat dari buku ini? Pertama-tama ialah cerpen yang baik itu harus bisa memasung perhatian pembaca dari awal hingga akhir tanpa jeda, dalam sekali baca. Cerpen normal koran di Indonesia bisa jadi hanya butuh waktu antara 10-30 menit untuk membacanya, panjangnya rata-rata sekitar 12000 karakter. Kondisi ini memaksa penulis untuk berlatih agar bisa berkisah secara efektif, ekonomis, mengejutkan, dengan nalar tetap terjaga, dan kalau bisa setelahnya membangkitkan rasa penasaran pembaca. Contoh paling sederhana dalam buku ini ialah Cinta pada Sebuah Pagi (Eep Saefulloh Fatah). Kisah cerpen ini mudah ditebak, namun Eep berhasil menghadirkan "twist" (pelintiran) secara mulus. Sisanya pembaca akan bertanya-tanya: Apa Arnando seorang pemalas atau istrinya terlalu terobsesi oleh karir, hingga rumah tangga mereka malah diselingkuhi oleh pembantu yang bisa memanfaatkan kekosongan di antara mereka? Ironik. Begitu juga dengan absurditas: kalau mampu memadukan kenyataan dan ilusi dengan baik, sebuah cerita abdurd juga tetap enak dinikmati.
_____________________________________________________________________
Dua belas cerpen dalam buku ini:

1/ Kematian Bob Marley (Hasan Al Banna)
2/ Induak Tubo (Zelfeni Wimra)
3/ Kandang (Yanusa Nugroho)
4/ Cinta pada Sebuah Pagi (Eep Saefulloh Fatah)
5/ Satu Kunang-kunang, Seribu Tikus (Intan Paramaditha)
6/ Malam Basilisk (Dinar Rahayu)
7/ Guru Safedi (Farizal Sikumbang)
8/ Malam Kunang-kunang (Rama Dira J)
9/ Aku Bercerita dari Pesawat yang Sedang Terbang (Bamby Cahyadi)
10/ Tanah Lalu (Yetti A. KA)
11/ Kunti Tak Berhenti Berlari (Berto Tukan)
12/ Batubujang (Benny Arnas)
_____________________________________________________________________

Dari buku ini kita mendapat bukti bahwa koran terbitan nonibu kota pun bisa bersaing menghasilkan cerpen yang kuat. Karena pilihannya sangat banyak dan beragam, Sriti bisa mendapat karya dari Sabang sampai Merauke. Terpilihlah cerpen dari Singgalang Padang, Padang Ekspres, Suara Merdeka, Batam Pos, dan Jawa Pos---mendampingi cerpen dari koran yang sudah sangat kuat reputasi sastranya, seperti Kompas dan Koran Tempo. Di sinilah sikap nonsektarian Sriti patut dipuji dan menjadi penting nilainya. Karena bersedia menampung sumber dari mana saja, lahirnya buku ini berpotensi menginisiasi tradisi berharga sejenis buku tahunan The Best American Short Stories, yang menyeleksi cerpen karya penulis Amerika Serikat dan Kanada dari semua sumber penerbitan cerpen dalam setahun. Kalau proyek "Bob Marley" berhasil, ia jelas patut dilanjutkan, bahkan bila perlu dengan mengundang "badan" perbukuan agar mendapat meningkatkan kualitas dan masukan berharga.

Di proyek awal ini Akmal Nasery Basral dan Enda Nasution memberi masukan soal sastra elektronik (sastra Internet, cyber literature) berhadap-hadapan dengan sastra koran konvensional. Mereka berdua lebih ingin memperjelas sebenarnya sastra elektronik Indonesia itu seperti apa. Apa makna proyek Sriti.com ini pada konteks sastra Indonesia? Apa penerbitan antologi Bob Marley bisa masuk kategori sastra elektronik karena bahannya berkumpul di server tertentu? Atau malah benar-benar mengekalkan sastra koran, sebab awalnya merupakan bagian dari koran standar. Justru karya-karya yang berasal dari komunitas sastra di Internet diabaikan sama sekali.

Editing buku antologi ini kurang memuaskan. Di sana-sini salah eja dan inkonsistensi tanda baca terjadi berkali-kali. Kalau dilihat bahwa Sriti.com sudah menerima "bahan matang" karena awalnya sudah terbit dahulu dan diperiksa editor media bersangkutan, kesalahan ini mengecewakan, karena tak ada peningkatan kualitas setelah penerbitan pertama. Ini urusan elementer, tapi ini untuk ketiga kalinya saya menemukan buku keluaran GPU yang editingnya mengecewakan. Kita boleh bertanya, apa cerpen-cerpen ini sebenarnya mendapat sentuhan editing atau tidak? Salah satu yang juga ingin saya soroti ialah banyaknya penggunaan "tidak" untuk menyatakan negasi. Dalam hal ini, para penulis betul-betul ingin gampang. Mereka mudah sekali menggunakan "tidak" plus kata kerja, sifat, atau keterangan untuk menyatakan negasi alih-alih mencari diksi yang lebih kuat dan bertenaga. Tentu "tidak" bukan dilarang digunakan bila tepat penggunaannya, misal untuk menegaskan penolakan (sangkalan). Hanya saja penggunaan gampangan seperti itu memperlihatkan bahwa penulis malas mengeksplorasi kosakata. Contoh:
tak henti --> terus-menerus
tak terbelalak --> jadi apa? pandangan biasa, sayu, terpejam, atau tatapan kosong?
tak dikenal --> asing, aneh, ajaib
tak berketentuan --> kacau, sembarangan,
tak terelakkan --> pasti terjadi.
tidak tahan --> menyerah, ampun-ampunan, kalah

Sriti.com kini memasuki usia sepuluh tahun. Komunitas ini bisa diandalkan menjadi pembaca sekaligus pengawal cerpen yang hebat, sebab lingkaran pendukungnya juga bertambah luas. Di masa depan kita boleh berharap akan lahir produk pilihan seleksi yang lebih baik lagi dari sini.[]

ANWAR HOLID bekerja sebagai editor, penulis, publisis. Eksponen TEXTOUR, Rumah Buku, Bandung. Blogger @  http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@yahoo.com | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141

Situs terkait:
http://www.sriti.com
http://www.gramedia.com

Wednesday, March 24, 2010


Stiker "Forever Lupus"
---Anwar Holid

Stiker "Forever Lupus" ini aku dapati di balik tutup lemari baju di Hotel Equator, Bontang, Kalimantan Timur. Hotel ini berada di dalam lingkungan pabrik Pupuk Kaltim, bentuknya berupa kumpulan bungalow mungil dirancang sangat apik. Ia ada di bungalow no. 1010. Di sini, bersama Irfan dan Salim, aku menginap pada 15 - 17 Maret 2010.

Waktu buka lemari dan mendapati stiker ini, aku membatin, emmm, apa karena suka buku maka kebetulan dapat kamar dengan stiker salah satu icon tokoh fiksi di Indonesia? Untuk generasiku---angkatan lima tahun pertama 1970-an---Lupus merupakan tokoh fiksi yang sangat akrab selain Roy. Lupus ciptaaan Hilman Hariwijaya, sedangkan Roy ciptaan Gola Gong. Lupus lebih kocak, modis, santai, urban, suka menggoda gadis, tapi seingaku sering sial juga. Yang paling legendaris dari dia ialah model tasnya. Waktu itu tas dia banyak "ditiru", yaitu tas dengan selempang sangat panjang hingga mencapai lutut. Selain itu namanya antik sekali. Betul-betul ajaib. Sekarang nama ini terkenal sebagai sejenis penyakit yang obatnya belum ditemukan, yaitu lupus erythematosus. Seorang kawanku meninggal karena lupus.

Penggambaran fisik Lupus persis seperti di stiker itu: rambutnya jambul a la John Taylor dari Duran-Duran, suka mengunyah dan membuat balon permen karet, perawakannya kurus. Mungkin dia merasa sebagai cowok paling keren di Jakarta dekade itu. Saking populernya, Lupus pernah adaptasi sebagai film layar lebar. Pemeran utamanya---kalau tidak salah namanya Ryan Hidayat---kedapatan mati muda.

Karena tidak langganan Hai, aku kerap ikut baca gratis majalah itu di toko buku Q*TA, yang sekarang berubah menjadi Riau Junction, sebuah kompleks perbelanjaan mewah. Toko buku itu hanya bersebelahan dengan kompleks sekolah Santo Aloysius, dan masih cukup dekat dengan lokasi sekolahku, SMA 20 Bandung. Biasanya aku ke sana dengan kawan-kawan, sambil sekalian pulang, karena jalur angkot kami bisa lewat sana juga.

Buatku menarik menemukan stiker "Forever Lupus" ini. Ia mengantarkan ingatanku kembali ke masa remaja, sementara sekarang aku sesekali menerima kerjaan dari GPU.[]

Anwar Holid bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis. Blogger @  http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@yahoo.com | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141.

Situs terkait:
http://www.gramedia.com

Tuesday, February 23, 2010


[BUKU INCARAN]

Butuh Berapa Orang untuk Menerbitkan Sebuah Buku?
---Anwar Holid


Sekitar Agustus 2007 Anwar Holid mendapat surat dari Katalin Nagy bahwa dia ingin mengakrabkan sastra Hongaria ke pembaca Indonesia. Dia mencari penerjemah untuk mengerjakan proyek The Ninth (A kilencedik) karya Ferenc BarnĂ¡s, sekaligus mencari penerbit untuk novel tersebut. Ferenc telah memenangi dua anugerah sastra paling terkemuka di tanah airnya: SĂ¡ndor MĂ¡rai Prize (2001) dan Tibor DĂ©ry Prize (2006). Edisi Inggris A kilencedik memenangi grant penerjemahan PEN America, terbit dalam seri Writings from an Unbound Europe. Katalin berkomitmen besar terhadap proyek tersebut. Dia menanggung biaya penerjemahan dan siap membeli sekitar seratus kopi begitu novel itu terbit dalam bahasa Indonesia, sementara Ferenc menggratiskan hak terjemahannya.

Waktu itu Anwar sedang kerja di penerbit J_, jadi dia usul agar penerbit itu menerima tawaran tersebut. Tawaran ini menurutnya cukup menggiurkan, meski bukannya tanpa beban. Dia menilai penerbit bisa mendapat prestise maupun publisitas dengan menerbitkan novel dari bangsa yang jauh. Hongaria---negeri seperti apakah itu, selain konon terkenal berkat Kubus Rubik, Ferenc Puskas, dan para pemenang Hadiah Nobel? Katalin ingin cetakan pertama novel itu minimal antara 3000 - 5000 kopi. Itu cukup berat bagi penerbit J_, apalagi bagian pemasaran ragu bisa menjualnya dengan mudah. Jadi mereka menolak. 

Anwar punya 4-5 kenalan editor di beberapa penerbit lain. Dia menyurati yang kira-kira tertarik proyek tersebut, menceritakan maksud dan kondisinya, berharap bisa mudah mendapat penerbit. Sementara itu Katalin mengontak penerjemah agar mengerjakan bab pertama dari edisi Inggris terjemahan Paul OlchvĂ¡ry. Terpilihlah Saphira Zoelfikar. Tidak langsung menerjemahkan dari bahasa Magyar? Susah mendapat penerjemah Indonesia yang bisa bahasa mayoritas di Hongaria itu.

Ternyata keinginan Katalin dan upaya Anwar agak sulit segera terwujud. Beberapa editor mengabaikan surat itu. Ada editor di penerbit tua menyatakan berminat. Ia mengusahakan menerbitkan novel itu. Beberapa waktu kemudian dia bilang bahwa manajemen mau memproduksi novel itu dengan syarat ada yang menanggung biaya produksi---jadi harus ada pendonor tambahan lagi. Ini sulit buat Katalin, karena di luar pilihannya. "Mau berkomitmen" itu bukannya berarti bahwa penerbit ikut menanggung biaya produksi, sebab mereka juga yang akan menikmati keuntungan---bila buku itu nanti ternyata cukup mudah dijual ke pembaca target, tak sesulit prakiraan awal. Secara implisit kawan ini berhenti berjanji mengusahakan penerbitan di perusahaannya.

Setahun berlalu dan harapan menerbitkan novel itu masih kabur. Pada kesempatan lain, Anwar menulis surat lagi ke editor lain---kali ini termasuk ke kenalan jauh yang kadang-kadang terasa spekulatif. Kawan-kawannya yang kerja di bagian pemasaran atau distribusi pun dia kontak, dengan harapan bisa meneruskan ke editor akuisisi atau para pengambil keputusan. Dia pikir mungkin ada yang salah dengan usaha pertama dulu, hingga proposal ini kurang menggerakkan. Di saat bersamaan, proyek penerjemahan Saphira terus berjalan. Meski belum mendapat kepastian penerbit, komitmen Katalin rupanya mulai benar-benar terwujud. Dia sejak awal secara menyeluruh memeriksa terjemahan itu, meski lebih suka menyebut dirinya sebagai "penyelaras pada naskah asli" alih-alih sebagai "editor."

Usaha kedua ini segera berhasil. Anastasia Mustika, editor GPU, langsung menyanggupi menerbitkan The Ninth, sambil bertanya, "Bagaimana proses selanjutnya?" Proses selanjutnya merupakan detil usaha penerbitan yang lebih merepotkan, banyak urusannya, dan melibatkan orang lain lagi. Siapa akan mendesain covernya? Bagaimana pembayarannya? Bagaimana publisitasnya? Dan seterusnya. Detail ini menambah deretan orang yang terlibat dalam penerbitan sebuah judul buku jadi makin panjang, dan menguak bahwa biaya penerbitan harus dijabarkan lebih pasti. Pilihan pertama desainer covernya ialah Ariani Darmawan, seorang desainer-sutradara, pemilik Rumah Buku. Dia membuat lima alternatif cover, salah satunya menggunakan foto karya Paulo Costa, orang Brasil. Cover ini jadi favorit orang yang terlibat di awal proses penerbitan. Ariani mengontak Paulo menanyakan izin dan copyright foto tersebut, yang di luar dugaan malah dia berikan gratis untuk cover The Ninth. Ini kejutan menyenangkan!
____________________________
ENDORSEMENT

The Ninth adalah novel perenungan pribadi yang lebih memberikan dasar untuk eksplorasi daripada yang muncul di permukaan, dan merupakan novel yang berhasil memunculkan suara anak kecil dengan baik.
---Josh Maday
____________________________

Begitu penyuntingan selesai, muncul rencana publisitas. Makin besar lingkaran orang terlibat untuk mengenalkan novel ini ke publik Indonesia. Siapa mau mengurus? GPU mengajukan Ade Trimarga. Sementara di Jogja Katalin berhubungan dengan Marie Le Sourd (Direktur LIP) membuat Festival Budaya Hongaria untuk meramaikan publisitas, juga mengajak Saphira dan Raudal Tanjung Banua untuk mengisi acara. Dia juga mengundang pianis Michael Asmara yang menciptakan komposisi berdasarkan novel itu.

Di Bandung, Budi Warsito terlibat mengurus publisitas ini. Rencana publisitas merupakan wujud dari obrolan dengan dia. Siapa kira-kira yang bakal cukup asyik membicarakan topik relevan dengan ini? Nama Ari Jogaiswara muncul. Kami pernah 1-2 kali melihat dia jadi host talkshow buku di QB Setiabudi Bandung. Kami menghubungi dua orang agar bisa mengontaknya, dari rekanan dan mantan mahasiswanya. Ahda Imran kami tawari untuk jadi moderator acara nanti, yang baru ia konfirmasi beberapa minggu kemudian. Untuk menggugah kesan pada isi buku, terbetik membacakan cuplikannya. Yopi Setia Umbara bertugas mengisahkannya, bareng kawannya (Riksa) yang akan memberi ilustrasi musik. Anwar menghubungi 3-4 penyiar yang memiliki program buku, dengan respons beda-beda. Sebagian acara ternyata sudah tutup buku atau kini harus bayar. Theoresia Rumthe dari SKY FM antusias siap membicarakan The Ninth, termasuk sekalian dengan mengundang penulisnya.

Ternyata butuh lebih dari selusin orang untuk berpartisipasi dalam penerbitan sebuah judul. Kata Joyce Wycoff, buku merupakan cerminan usaha, cinta, dan dukungan begitu banyak orang. Ada banyak utang budi di setiap upaya penerbitan---sebagiannya langsung lunas dibayar secara profesional. Tanpa pengaruh atau jerih payah bantuan sejumlah pihak, sebuah buku belum tentu bisa terbit. Ini belum melibatkan pembaca lebih luas yang nanti diharapkan merespons, mengkritik, mengomentari, atau menikmati karya itu. Ari Jogaiswara bilang, "Apa arti The Ninth diterbitkan bagi publik Indonesia? Kira-kira harapan penulisnya sendiri seperti apa? Siapa kira-kira pembaca The Ninth? Kalau dia baca The Ninth, buku macam apa lagi yang ada di rak bukunya? Apa masih kurang mendapat pembaca lebih luas dari masyarakat berbahasa Inggris?" Ari berpendapat bahwa diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sudah merupakan 'award' tersendiri bagi penulis nonbahasa Inggris, terutama untuk mendapat perhatian lebih besar.

Di Indonesia, The Ninth terbit 23 Februari 2010. Pada Sabtu, 13 Maret ada acara publisitasnya di Rumah Buku Bandung, dilanjutkan Jumat, 19 Maret di LIP Jogjakarta. Ferenc BarnĂ¡s akan hadir di acara tersebut.[]

Anwar Holid bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis. Blogger @  http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@yahoo.com | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141.

Situs terkait:
http://www.gramedia.com
http://www.ferencbarnas.com
http://www.rukukineruku.com
http://www.nupress.northwestern.edu/ue

Thursday, July 09, 2009



Menjalani Karakter Sesuai Takdir

---Anwar Holid

Karakter-Karakter yang Menggugah Dunia
Judul asli:
Character is Destiny
Penulis: John McCain bersama Mark Salter

Penerjemah: T. Hermaya

Penerbit: GPU, 2009
Halaman: xix + 435 h.
ISBN: 978-979-22-4359-8



JOHN McCAIN, Senator senior dan politisi terkemuka Amerika Serikat, ketika masih berdinas di Angkatan Laut pada 1967 pernah ditembak dan ditangkap tentara Vietnam Utara. Di penjara, dia bukan saja mendapat siksaan mematikan, melainkan juga meninggalkan cacat permanen pada tangan, kini menyebabkan gerakan tubuhnya jadi terbatas. Tapi itu semua tetap membuatnya semangat beraktivitas, berusaha, berpolitik, terlibat aktif dalam kehidupan bangsanya, hingga pada Pemilu AS 2008 lalu menjadi kandidat presiden dari Partai Republik. Apa rahasia kekuatan dan keteguhannya? Karakter.

Ketika jadi tawanan perang, menjalani berbagai siksaan dan hinaan yang mencoba meruntuhkan kemanusiaannya, diam-diam ada seorang sipir yang bersimpati atas nasibnya dan memberi dia sedikit kebaikan moral. Kebaikan dari seorang musuh itu menggugah kesadaran McCain, memberi kekuatan pada dirinya untuk menjadi orang yang lebih baik, lebih beriman, dan lebih dahsyat lagi: membuatnya bisa mencintai musuh.

Sipir baik tak dikenal di "Hotel Hanoi Hilton" itu dikenang McCain sebagai salah satu dari 34 orang dengan karakter luar biasa. McCain dan Mark Salter---partner terbaiknya di bidang penulisan---memilih orang-orang itu bukan saja karena mereka menggetarkan dunia, generasi, politik dan pemerintahan, maupun orang-orang dan lingkungan terdekatnya, bahkan ada yang nyaris sulit dipercayai akal sehat, kalau bukan hanya mungkin terjadi berkat mukjizat yang melahirkan keajaiban. Menurut pandangan penulis, semua itu terwujud karena masing-masing figur nyata dalam buku ini memiliki karakter utuh. Mereka bukan saja pantas diteladani, merupakan role model, melainkan juga meninggalkan jejak yang pantas dikenang dan jelas bagi setiap orang. Siapapun mereka, apa pun latar belakangnya.

Sang teladan itu bisa jadi seorang wanita tukang cuci pakaian gagal sekolah yang di hari tuanya malah mampu mewariskan kekayaan untuk dijadikan beasiswa bagi mahasiswa miskin di kotanya. Itulah yang dilakukan Oseola McCarthy. Bagaimana mungkin ada seorang gadis berkulit hitam yang ketika kecil sakit polio, sepanjang waktu sakit-sakitan, kala tumbuh remaja akhirnya berhasil mengalahkan segala halangan untuk kemudian meraih tiga emas dalam Olimpiade sekaligus memecahkan rekor atletik? Wilma Rudolph melakukannya dengan perjuangan lebih dari hebat.

Sungguh ajaib ketika ada seseorang kini menjadi pusat kontroversi ilmu pengetahuan dan sains ternyata itu semua berkat kecenderungan serta ketelatenan masa muda yang nyaris dinilai sia-sia oleh ayahnya. Ketika menyebut sosok itu ialah Charles Darwin, semua orang akan merasa maklum. Bahkan ada anak yang pernah buta total selama delapan tahun, untuk kemudian menjadi penulis produktif dan kritikus sosial terkemuka di zamannya, dan itu dia lakukan secara otodidak. Masihkah kita mau mengingat nama Eric Hoffer yang menulis buku berpengaruh The True Believer? Bagaimana pula kisah seorang bintang muda American football yang memutuskan lebih memilih negara daripada liga olahraga sampai panggilan itu merenggut nyawa di luar tanah airnya?

Boleh jadi pribadi-pribadi yang dikisahkan McCain dan Salter itu akhirnya terkenal dan menciptakan sensasi besar bagi orang lain. Ada kalanya mereka tetap tidak terkenal, bahkan tanpa nama, dan baru kali ini diungkapkan dengan detail menarik, betapa kisah hidup dan keunggulan mereka menakjubknan. Mereka semua hadir seakan-akan untuk membuat keajaiban.

Karakter orang-orang terpilih mampu mengguncang keyakinan sempit banyak kalangan yang suka menghakimi atau menghina orang lain yang sedang tumbuh, bahwa orang berkarakter kuat bukan saja unggul melawan gertak, ancaman, krisis kemanusiaan, pengkhianatan, kegagalan, perang, maupun hukuman mati, melainkan juga memperlihatkan betapa karakter memang harus ditumbuhkan, dirawat, dan dijalani sesuai takdirnya.

MCCAIN DAN SALTER yakin betul bahwa orang berkarakter kerap lebih mengesankan dan mengundang rasa ingin tahu daripada ulasan sejarah maupun setumpuk buku. Mereka mampu mengguncangkan dunia, menggetarkan hati, mengubah jalan kehidupan peradaban manusia, memperlihatkan bahwa dengan menjadi manusia seseorang bisa memunculkan kualitas terbaiknya. Aksi individu seperti itu membuat kehidupan manusia jadi dramatik, penuh petualangan, berani, bahkan nyaris tanpa kompromi.

Penulis tak pandang bulu dalam memilih orang dengan karakter benar-benar mengesankan. Patokannya bukan waktu, tempat, dan periodisasi, melainkan lebih pada konteks sosial dikaitkan dengan tujuh aspek terpenting bagi pembentukan kepribadian manusia, yaitu kehormatan, tujuan hidup, kekuatan, pengertian, penilaian, kreativitas, dan cinta. Sungguh terasa setiap pilihan itu diambil dengan jeli. Orang tersebut bisa siapa saja, berasal dari segala zaman, dari tempat manapun, dan kejadiannya bisa berlangsung di sudut Bumi paling terpencil sekalipun.

Dengan memberi contoh rata-rata enam peribadi untuk keenam aspek, penulis menyuguhkan kisah yang mampu membuat nafas pembacanya tertahan. Namun agak janggal bahwa aspek terakhir, yaitu cinta, malah hanya diberi satu contoh, yaitu Bunda Teresa. Beruntung, kejanggalan itu dibayar dengan mengeksplorasi habis-habisan profil dan moral Santa dari Calcutta tersebut sampai menghabiskan jumlah halaman paling panjang.

Aspek pembentuk karakter tersebut dalam pendewasaan hidup akan melahirkan sifat, semangat, vitalitas, profesi, pilihan, bergumul dengan keberanian, risiko, keteguhan, siksaan, bahkan dalam banyak kasus, bertaruh dengan keputusasaan, kehancuran reputasi, bahkan nyawa. Benar, sebagian orang yang diceritakan di sini tidak mendapat nama besar atau jadi pahlawan ketika mereka menjalani keyakinannya; mereka bahkan ada yang jadi korban politik, pengkhianatan, juga dikalahkan oleh kekuatan alam. Buku ini seakan-akan menjadi pembela bahwa niat baik bila dilaksanakan dengan serius ujung-ujungnya membuahkan isi yang manis.

Ditulis oleh dua orang senior, buku ini seolah-olah merupakan testamen generasi tua kepada generasi muda yang akan menggantikannya. McCain dan Salter sangat menekankan kekuatan moral, yaitu kekuatan untuk berkorban demi cita-cita luhur (hal. 427). Itulah bekal awal untuk menjalani karakter yang telah digariskan untuk seseorang. Dalam kehidupan pribadi, John McCain membuktikan sendiri moral tersebut. Terkenal sebagai sosok temperamental dan pantang menyerah, ada kalanya dia berlaku buruk, sampai membuat orang lain terluka atau tersinggung. Bila sudah begitu, ibunya akan tak segan-segan memarahinya.

Bagi kedua penulis, Karakter-Karakter yang Menggugah Dunia merupakan buku hasil kerja sama yang keempat. Buku mereka sebelumnya, Faith of My Fathers (1999), di Amerika Serikat lebih dulu meledak dan pada 2005 diadaptasi menjadi film televisi. Di sela-sela berbagai kesibukannya, John McCain telah menerbitkan lebih dari sepuluh buku atas namanya, meskipun hampir selalu menggandeng penulis lain; sementara Mark Salter telah bekerja lebih dari empat belas tahun sebagai staf Senator McCain.[]

Anwar Holid, bekerja sebagai editor dan penulis; eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@yahoo.com | Tel.: (022) 2037348 | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141

Copyright © 2008 BUKU INCARAN oleh Anwar Holid

Situs terkait:
http://www.gramedia.com