Showing posts with label Anwar Holid. Show all posts
Showing posts with label Anwar Holid. Show all posts

Friday, April 17, 2026

Juned, Rubin, dan Filter Informasi 

Oleh: Anwar Holid 



Juned berdiri di depan rak sebuah toko buku impor di mal dekat tempat tinggalnya. Dia sengaja ke sana karena sudah beberapa bulan tidak mampir ke toko buku, tempat favoritnya, meski sangat selektif sebelum memutuskan beli. Matanya melongo waktu melihat sebuah buku di area yang dikasih tanda 'Non-Fiction - Best Seller.' Hard cover. Desain sampulnya simpel, tapi sangat kuat. Berwarna putih pudar, hanya ada lingkaran dengan titik di tengah. Di kanan atas tertulis: The Creative Act: A Way of Being. Di kanan bawah tertulis: Rick Rubin. Gambar itu langsung mengingatkannya pada CD atau piringan hitam. Pada target atau fokus. Sementara di sampul belakang hanya ada lingkaran tanpa titik, tanpa sinopsis, tanpa endorsement.

Ia ambil buku itu. Dipegang-pegang. Perasaannya meronta-ronta. Segera ia tertarik. Kebetulan sudah tidak dibungkus plastik. Lembar-lembar halaman ia buka-buka dan matanya berusaha mencerap isi dalam sekejap. Juned terpaku sejenak, bibirnya seperti senyum-senyum tanpa ada yang meminta. Waktu di toko buku itu seakan melambat. Istri Juned yang ada di sampingnya memperhatikan tingkahnya. Ia ikut melirik buku yang dibuka-buka Juned. Ia penasaran apa yang membuat suaminya langsung tertarik pada buku itu. Lantas beberapa saat kemudian waktu pecah. Mereka bertatapan. Juned menoleh pada istrinya.

"Apa??" kata dia sambil tersenyum, "kamu tahu Rick Rubin enggak?" Telunjuknya mengarah pada tulisan nama yang tertera di sampul.

"Enggak. Emang siapa dia?" tanya istrinya dengan nada polos.

Juned tertawa kecil, lalu berkata, "Sayang kan lagi tahu banyak banget tentang Ammar Zoni, dari A sampai Z. Sementara aku cuma dengar namanya, tahu sekilas soal skandalnya. Nah, aku tahu jauh lebih banyak tentang Rick Rubin daripada kamu."  Suara Juned terdengar puas. Istrinya mesem sambil tertawa kecil. Ucapan Juned tambah bikin ia penasaran.

"Memang siapa Rick Rubin?" tanyanya lagi.

Juned tertawa lebar. Istrinya makin aneh melihat Juned. Juned gembira ada sesuatu yang dia ketahui cukup banyak, tapi istrinya tidak tahu apa-apa tentang hal itu. Lantas Juned menyadari betapa topik yang menarik perhatian mereka berdua ternyata bisa sangat berbeda, meskipun mereka hidup bersama.



Juned pertama kali tahu nama Rick Rubin lebih dari 30 tahun lalu, saat ia baru dewasa dan suka membaca kredit informasi di sampul album-album musik favoritnya. Rubin adalah produser musik legendaris dengan reputasi luar biasa di industri musik dunia. Ia dikenal karena pendekatan produksinya inovatif. Ia membantu menciptakan album-album ikonik dan hebat dari berbagai genre, mulai dari rock, hip-hop, hingga heavy metal. Banyak musisi/band yang pernah bekerja sama dengan Rubin ialah favorit Juned, seperti The Cult, Slayer, Red Hot Chili Peppers, Audioslave, Metallica, Linkin Park, dan lain-lain. Daftar panjangnya silakan cek di Wikipedia. Rubin bahkan memproduksi album Adelle, penyanyi pop yang lagunya sering tak sengaja didengar Juned meski dia tak menginginkannya. Album terakhir Black Sabbath juga diproduseri Rubin.

Bagi Juned, Rubin adalah sosok yang merevolusi cara musik diciptakan. Karena itu begitu melihat
The Creative Act, Juned langsung merasa terikat. Bisa dibilang Rubin identik dengan album berkelas. Grammy Award dan ulasan critically acclaimed adalah buktinya. Meski tidak lepas dari kritik atau kontroversi, Rubin bersih dari skandal murahan. Trivia yang pernah Juned dengar tentang Rubin cuma ketika dia menahan Dave Lombardo agar tidak ke luar dari Slayer dengan memberinya bonus mobil dan melunasi kebutuhan hidupnya.

Juned heran bila seseorang jadi berita viral karena skandal, entah cekcok perkawinan, seks, kriminalitas, atau narkoba. Lebih aneh lagi ada banyak orang mengonsumsi berita itu seperti pil yang harus diminum tiga kali sehari. Padahal seseorang lain berada di luar radar perhatian berkat kerja hebat di belakang layar. Apa orang seperti Rubin sembunyi di balik studio dan membiarkan agar karyanya saja yang bicara?

Istrinya merasa penting untuk terus mengikuti berita dan komentar netizen tentang kasus yang dialami selebrita, sehingga membentuk pengetahuan 'secara utuh' dari berbagai sudut pandang. Tapi, bagi Juned itu adalah sampah, tak lebih dari informasi liar tanpa ada validasi antara yang jelas dan prasangka. Sebaliknya, pengetahuan tentang peran dan idealisme seseorang seperti Rick Rubin dinilai berharga bagi Juned, tapi tak berarti apa-apa bagi istrinya. Juned membatasi diri dari berita selebrita, sementara istrinya justru menelisik lebih dalam. Istrinya lebih suka menyerap info tentang resep, cara memasak dan membuat kerajinan, sementara Juned lebih suka membaca tulisan-tulisan panjang di WAG yang diikutinya.

Fenomena Juned dan istrinya membuktikan bahwa setiap orang memiliki minat pada informasi yang berbeda, meski mereka hidup bersama dan berbagi rutinitas. Ada informasi yang tidak beririsan dalam kehidupan mereka. Informasi yang dinilai berharga bagi seseorang bisa tidak berarti bahkan bagi orang terdekat sekalipun. Setiap individu memiliki filter informasi sendiri, memilih apa yang ingin diserap berdasarkan minat, pengalaman, atau sesuatu yang sedang dicari. Peluang inilah yang diolah dan terus diproduksi oleh penulis atau konten kreator, sementara platform berita dan media sosial memancing selera dan pilihan berdasarkan algoritma sampai muncul di beranda. Keputusan terakhir ada di tangan pemirsa.[]

 

Anwar Holid, bekerja sebagai editor dan penulis. Blog: halamanganjil.blogspot.com. IG: @anwarholid.

 

Tuesday, October 04, 2022

Gowes dan Khatam Al-Qur'an

Oleh: Anwar Holid

 

Pada Desember 2021 aku menargetkan khatam Al-Qur'an pada Mei 2022 (akhir Ramadhan 1443 H). Waktu itu aku indekos di Paseban, Jakarta Pusat. Indekos di situ merupakan pengalaman mengesankan, karena kosan itu memberi layanan sarapan dan makan malam, cuci-setrika, ditambah Wi-Fi (bagi yang mau). Di kosan itu hidupku simpel, tak kerepotan mencuci, setrika, bebersih di luar kamar, cari makanan, masak, dan lain-lain. Aku bisa mengisi waktu luang melakukan yang aku inginkan, seperti olahraga ringan dan baca Al-Qur'an, baik pagi sebelum berangkat kerja atau petang setelah kerja. Di kosan ini aku sempat khatam Al-Qur'an meneruskan daras sebelumnya.

                Baru sebentar ngekos di Paseban tempat kerjaku pindah kantor ke Bintaro, Tangerang Selatan. Di sini aku menempati kamar belakang kantor. Tinggal di kantor yang paling bikin sibuk ialah harus cuci-setrika sendiri dan cari makanan. Kalau mau londri harus ke luar kompleks kantor. Warung paling dekat kantor sekitar 1 km bolak-balik. Tak lama kemudian aku dapat rekomendasi katering. Jadi buat makan siang dan malam tak repot lagi.

                Bintaro adalah kawasan elite. Lingkungannya makmur, maju, tertata rapi, dan nyaman. Jalan-jalan besar beraspal mulus. Pinggiran kawasannya pun bisa dibilang rapi dan bagus, tapi masih banyak sampah berserakan di pinggir jalan dan sebagian ruas jalannya bocel-bocel. Jalan yang bagus dan tidak sangat padat lalu lintas waktu pagi membuat hobi gowesku tersalurkan dengan baik di kawasan ini. Bagi komunitas goweser, Bintaro terkenal dengan Bintaro Loop, yaitu gowes bolak-balik sepanjang Jalan Boulevard Bintaro sekitar 25 km. Rute Bintaro Loop nyambung ke kawasan elite lain di sekitar Tangerang Selatan, seperti Graha Raya, Alam Sutera, BSD, dan Mozia yang memberi kenyamanan lebih bagi pesepeda, terutama pengguna sepeda balap.

                Begitu tinggal di Bintaro hobi gowesku jadi terasa optimal. Hampir setiap pagi aku gowes sekitar satu sampai satu setengah jam. Setelah salat subuh dan beres-beres biasanya aku langsung siap-siap gowes. Aku lebih suka gowes di pinggir kawasan utama Bintaro daripada ke Bintaro Loop. Sebabnya jelas: aku tidak bisa ngebut. Kecepatan rata-rataku di bawah 20 km / jam. Lagi pula gowes ke pinggir kawasan Bintaro lebih berkelok-kelok, variatif, dan jarang berpapasan dengan mobil ngebut. Saking rutin, sejak di Bintaro aku beberapa kali berhasil memenuhi tantangan Strava gowes 800 km atau paling sering 400 km per bulan. Tanpa disadari rutinitas dan disiplin ternyata bisa menghasilkan kejutan.



                Kebiasaan gowes pagi di Bintaro segera menghapus kebiasaanku mengaji habis subuh waktu di Paseban. Akibatnya kemajuan ngajiku tersendat. Memang habis magrib aku berusaha rutin ngaji, tapi biasanya sebentar, hanya sampai menjelang salat isya tiba. Sementara sebelum magrib aku pun kadang-kadang gowes sore setelah kerja atau memilih segera ke Masjid Raya Bintaro Jaya (MRBJ) untuk membaca surat-surat tertentu sesuai keinginan sampai azan berkumandang, tidak meneruskan bacaan sebelumnya. Surat yang suka aku baca di antaranya Ar-Rahman, Al-Mulk, Al-Kahfi, dan Yasin.

                Kebiasaan baru membaca surat-surat tertentu ini mungkin dipengaruhi oleh informasi bahwa surat tersebut memberi berkah, fadhilah atau kemuliaan tertentu bagi pembacanya. Kurang jelas kenapa aku jadi terpengaruh dan tertarik oleh iming-iming berkah. Dari dulu aku kurang tergerak oleh iming-iming semacam itu. Mungkin aku kurang beramal baik, akhirnya jadi ngarep betul pada limpahan berkah. Mungkin ada yang berubah dalam diriku. Mungkin anjuran dari pengajian yang kadang-kadang aku hadiri. Mungkin dari posting wag yang aku ikuti. Mungkin dari lini masa yang melintas di media sosial.

                Karena lebih semangat dan disiplin gowes daripada rutin ngaji, khatam Al-Qur'an baru kelar pada Muharram 1444 H, padahal targetnya akhir Ramadhan 1443 H. Selain gowes, yang bikin aku tersendat melanjutkan baca Al-Qur'an ialah mengerjakan urusan sehari-hari, seperti cuci setrika, cari sarapan, dan beres-beres. Rasanya lama sekali upaya menamatkan Al-Qur'an periode kali ini. Terasa betul gowes lebih prioritas daripada upaya memahami kedalaman Al-Qur'an. Pasti karena gowes lebih mudah dan menyenangkan dilakukan daripada baca Al-Qur'an. Ironik dan mengenaskan. Seorang muslim bisa menjawab tantangan gowes 400 km per bulan, tapi kesulitan menamatkan beberapa juz Al-Qur'an dalam sebulan. Sungguh terlalu. Waktu sampai Juz Amma baru hadir rasa lega dalam diriku. Alhamdulillah, sekarang aku pelan-pelan jalan menyelesaikan juz-juz awal mengulang dan berusaha menamatkan Al-Qur'an.[]

Anwar Holid, tinggal di Bintaro, Tangerang Selatan. Blog: halamanganjil.blogspot.com. Twitter: @nwrhld. IG: @anwarholid.

Thursday, May 12, 2022

Mudik Fisik dan Spiritual

Oleh: Anwar Holid

 

Waktu kecil aku tak tahu apa itu mudik. Yang aku tahu ialah mau ketemu saudara sepupu. Karena tinggal bareng uwak, aku bisa Lebaran di Bandung, Tasik, Kuningan, atau Cijulang, Pangandaran. Tergantung mayoritas keluarga orangtua mau ngumpul di mana. Tak mesti ke Lampung, tempat tinggal orangtuaku. Jadi pas Lebaran aku belum tentu ketemu orangtua. Tergantung mereka mau kumpul bareng keluarga di Jawa atau dengan keluarga ibu di Lampung. Yang pasti, Lebaran = liburan. Suasana menyenangkan karena banyak main, ngabuburit, jalan-jajan, ketemu saudara, baik yang seumuran atau lebih tua. Dikasih hadiah. Puncaknya dapat angpau pas Lebaran.

Lebaran bareng saudara mematrikan bahwa kita merupakan bagian dari keluarga besar. Meski mungkin sebagian saudara tidak akrab, itulah keluarga sedarah kita, yang kita andalkan atau mendampingi di saat tertentu, misalnya saat kawinan, butuh bantuan, dan kematian.

 

Jalan Melaris, Lampung Timur.

Baru setelah dewasa dan (pernah) nikah, aku merasa perlu mudik. Baik ke orangtua atau mertua. Kalau tak mudik dianggap aneh. Padahal menurutku tak mudik sebenarnya baik-baik saja. Kita kan sudah punya keluarga sendiri, ngapain repot kumpul bareng keluarga lain?? Tapi ya jelas mudik punya manfaat, nilai, dan budaya sendiri, termasuk berdampak ekonomi besar. Mudik itu seru dan menyenangkan bagi anak-anak (keturunan baru), sebagaimana dulu aku juga gembira diajak mudik.

Cuma jujur ada yang aku kurang suka dari mudik. Ribet, desak-desakan, bawa gembolan, harga-harga mahal, tuslah — mungkin juga muntah, calo, kecopetan, termasuk kecelakaan mematikan. Orang bisa kelelahan dan tidur di terminal buat mudik. Di masa lalu cerita soal mudik kerap lebih dramatik, ketika moda transportasi masih belum tertata dan maju. Orang bisa berhari-hari di perjalanan sebelum tiba kelelahan sekaligus lega. Tahun lalu ada berita orang rela menyelundup di bagasi bus demi bisa mudik waktu pemerintah melarang mudik di puncak pandemi Covid-19. Apa coba poin dari mudik seperti itu?? Kangen yang membludak ke orang-orang tercinta, hingga tak tertahankan lagi? Atau karena sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi di perantauan, kehilangan usaha dan harapan, jadi lebih baik mudik saja? Aku pernah berdiri di bus ekonomi dari Merak ke Bandung, saking penuh dan malas menunggu lebih lama lagi — itu pun belum tentu dapat kursi. Itu bukan pengalaman menyenangkan waktu mudik dan arus balik. Yang juga ganjil waktu mudik ialah rasa canggung ketemu orang-orang lama yang dulu dekat, tapi karena tak pernah kontak lagi jadinya bingung mau ngobrol apa setelah ketemu, selain sekadar update status.

 

Apa mudik seperti ini yang Anda inginkan?? (Foto  dari internet.)

Dulu sebelum era sosial media tiap mudik aku bawa beberapa buku. Biasanya pilih yang tebal, karena kegiatan selama mudik juga minim. Mudik memberi waktu luang untuk bisa menghabiskan sejumlah buku yang tak sempat didalami karena tersita rutinitas dan kesibukan lain. Kegiatan yang paling sering ialah mengunjungi sanak famili, menguatkan lagi tali silaturahmi. Puncaknya berupa pertemuan keluarga besar satu bani atau arisan.

Mudik terakhir sebelum pandemi (2019) aku hanya bawa satu buku tebal, sisanya banyak baca sosial media dan ikut nyemplung. Yang mengesankan malah aku menyortir biji kopi mentah (green beans) jualan ibuku. Itu biji kopi murahan, banyak yang belah. Menyortir kopi dengan tangan butuh kesabaran dan ketelitian, sementara hasilnya sedikit. Mendapat biji kopi yang baik dan layak konsumsi butuh waktu lama. Harus dipilih, disangray, dibubukkan lebih dulu, baru kita dapat kafein dan aromanya. Kopi butuh proses panjang sebelum akhirnya diseduh atau diolah jadi minuman favorit.

Di era teknologi informasi mudik terasa lebih tergesa-gesa datangnya. Tiket untuk perjalanan masa libur panjang sudah diperebutkan jauh sebelumnya. Bikin harga jadi mahal. Memang orang tidak berdesak-desakan antre di depan loket, tapi keluhan kehabisan tiket tetap ada atau dia terpaksa bayar lebih mahal untuk mendapatkannya. Mirip dengan kondisi lama.

Dari dulu aspek yang kerap muncul saat mudik ialah pamer alias flexing. Mungkin orang pamer dengan harta, bawaan, dan kendaraan. Tapi curiga bahwa seseorang pamer menurutku problematik. Orang bisa bawa banyak barang untuk dibagi-bagi atau disumbangkan ke kerabat dan orang yang berhak. Orang bawa kendaraan mewah karena memang mampu dan demi kenyamanan perjalanan. Ia berhak, layak atas keberhasilannya, dibawa ke kampung tanpa maksud pamer. Mungkin pamer baru terasa kalau sikap orang itu sombong dan terus-menerus membanggakan pencapaiannya.

Rumah Tetangga.
 

Karena berbagai sebab sebagian orang tak bisa mudik. Mungkin dia kena musibah, kurang uang, atau terhalang karena terikat kontrak yang melarang mudik. Tenaga kerja Indonesia ada yang baru boleh mudik setelah dua atau lima tahun kerja di negara-negara Arab. Belum lagi biaya pasti mahal. Bayangkan kita sendiri yang mengalaminya. Mungkin terlalu berat buat ditanggung. 

Sebenarnya makna apa yang kita dapat saat mudik? Apa jeda dan reda dari rutinitas panjang? Apa kerinduan dan kelegaan bisa bareng orang-orang yang tulus kita cintai dan hormati? Atau pengingat betapa seseorang pasti punya tempat asal, meski belum tentu bakal jadi kampung terakhirnya. Waktu Nabi Muhammad mendatangi kota Mekkah setelah meninggalkannya 10 tahun, beliau tidak bermaksud kembali untuk mudik, melainkan 'membebaskan.' Beliau juga tidak memutuskan tinggal lagi di sana, tapi kembali ke Madinah yang telah menerima dengan ramah dan menjadikannya sebagai kampung halaman baru hingga meninggal dunia.

Mudik bisa jadi bermakna ruhaniah (spiritual) yang tak butuh hal-hal fisikal. Mudik seperti ini bertujuan menenangkan diri, mundur dari segala yang bersifat duniawi, upaya mendekatkan diri pada Allah dan mencapai kesempurnaan diri. Saking kangen, teman fowesku Agus Kurniawan bilang begini: 'Aku kadang rindu mudik ke asal ruh-ku. Mungkin luar biasa bisa melakukan perjalanan ruhani kayak Rasulullah, Buddha Gautama, atau Santo Agustinus.' Bernas!!![]

Anwar Holid aka Wartax, tinggal di Tangerang Selatan. Blog: halamanganjil.blogspot.com. Twitter: @nwrhld. IG: @anwarholid.

Monday, October 04, 2021

Kisah Tutupnya Warteg di Tegallega

Oleh: Anwar Holid 


Warteg langgananku di samping lapangan Tegallega, Bandung sudah sekitar dua bulan tutup. Waktu beberapa kali aku datangi sehabis kerja, warung ini tutup terus tanpa ada pengumuman di dindingnya. Biasanya kalau mereka libur ada pengumuman kapan mereka akan buka lagi. Aku tanya juru parkir yang mangkal di situ kenapa warung nasi ini tutup saja, mereka jawab, 'Duka a, teu teurang,' — entah mas, gak tahu.


Karena tutup lama, aku sangka mereka habis kontrak dan tidak memperpanjang, atau kena imbas pandemi Covid-19 — entah pelanggan jadi sangat turun, peraturan yang menyulitkan pedagang dan pembeli, atau amit-amit mereka terpapar penyakit mengerikan ini sampai berhenti beroperasi. Kadang-kadang aku sengaja lewat warteg itu sekadar buat ngecek apa mereka beneran tutup atau buka lagi.


Kadang-kadang pas makan di situ aku ngobrol dengan pemiliknya, sepasang suami-istri. Si istri perhatian sama rasa makanan dan nutrisi, sementara si suami suka mendengarkan khutbah di YouTube — meski mereka tetap mengumandangkan dangdut koplo agar suasana terus ceria. Mereka membolehkan aku bawa nasi, jadi aku cuma beli sayur dan lauk. Aku juga sering makan tanpa nasi — kebiasaan yang suka dianggap aneh oleh pelayannya, namun tidak oleh si istri.


Setahun lalu deretan toko persis di samping warteg itu terbakar ludes. Yang menakjubkan warteg itu tidak terjilat api, meski waktu kejadian mereka pun panik menyelamatkan diri dan mengeluarkan barang-barang. Betapa mereka bersyukur lolos dari kejadian mengerikan itu. 


Pas tadi pagi lewat sana, aku lihat warteg itu ternyata buka. Langsung saja aku mampir. Awalnya aku mau cari keringat mengitari lapangan Tegallega. Tapi pas masuk tak ada wajah yang aku kenal. Apa mereka aplusan?? (Mereka tak pernah melakukannya selama ini.) Aku tanya mbak yang melayani aku.

'Mbak mengganti yang lama??'

'Iya.'

'Memang mas dan mbaknya ke mana??'

'Kecelakaan mas. Masnya patah kaki, pinggangnya hancur.'

Haduhhh... lemas aku dengarnya.

'Kecelakaan apa??' tanyaku prihatin. Aku duga tabrakan dan semacamnya.

'Masnya kan bantu pasang lampu di rumah mertua, gak tau gimana... dia jatooohhh.'

'Aduhhh.... ketimpa tangga juga??'

'Gak tau kalo itu.'

'Mbak ini sodaranya?'

'Iya mas. Keponakannya orangtua si mbak.'

'Sekarang gimana kondisi masnya?'

'Masih belum bisa jalan. Berdiri aja harus dibantu. Dirawat istrinya.'

'Sekarang di Tegal?'

'Iya mas.... tadinya dari sini sempat diobati ke rumah sakit di Solo, terus dibawa pulang ke kampung.'

Foto dari internet.

Aku ngeri membayangkan kecelakaan itu. Musibah dan takdir, siapa yang tahu?? Dulu mereka lolos dari bencana, sekarang harus menerima kenyataan gawat. Aku sarapan di situ tetap tanpa beli nasi. Kepala jadi rada berat dengar musibah itu. Aku lihat stiker paguyuban persatuan pengusaha warteg Bandung. Semboyannya dalam bahasa jawa: _sedulur selawase,_ saudara selamanya. Semoga mereka kompak membantu rekan mereka yang lagi tertimpa musibah. Apa takdir dan peristiwa itu semacam koin yang salah satu sisinya bisa terlempar begitu saja, meski kita begitu hati-hati melakukannya?? Aku kecelakaan sepeda, gaji dikurangi atau telat dibayar, orang di-phk, honor dipotong, kerja keras tak dibayar, dipalak preman, dibohongi calon investor, ditipu orang yang bilang mau nyumbang, atau dirampok dengan kekerasan. Entah dari mana terlintas selarik lagu Ebiet G. Ade: 

anugerah dan bencana adalah kehendak-Nya 

kita mesti tabah menjalani 

hanya cambuk kecil agar kita sadar 

adalah Dia di atas segalanya...


'Apa mbak sering hubungan sama mas dan mbaknya?' tanyaku sambil bayar.

'Kadang-kadang aja mas.' 

'Semoga masnya cepat pulih dan sehat.'

'Iya mas. Makasih. Nanti kalau nanti aku kasih tahu ke mereka, dari siapa ya?'

'Bilang saja dari pelanggan yang bawa nasi sendiri,' jawabku.

Mbaknya Tertawa.[]

Anwar Holid, kerja sebagai editor dan penulis. Blog: http://halamanganjil.blogspot.com. Twitter: @nwrhld. IG: @anwarholid.


Thursday, June 10, 2021


Pindah Klub dan Tempat Kerja
Oleh: Anwar Holid


 

Pindah klub atau tempat kerja kerap tak seoptimis sebagaimana diharapkan dari awal. Yang terjadi suka kompleks dan butuh adaptasi. Cristiano Ronaldo pindah dari Real Madrid ke Juventus dengan harapan bisa membantu klub menjuarai Liga Champions, yang terjadi mereka malah terpuruk baik di liga domestik dan antar-klub negara Eropa. Gianluigi Buffon pindah dari Juventus dan balik lagi ke sana namun tetap tak kunjung mampu meraih ambisi bersama. Antoine Greizmann pindah ke Barcelona dengan harapan jadi tandem maut buat Messi, tapi yang terjadi kerap kekecewaan. Pelatih dan rekan setim seperti ragu atas kemampuannya. Hingga kini dia tidak lebih gahar dari kemampuannya ketika masih di Atletico Madrid. Luis Suarez kecewa berat dicampakkan Barca, namun dapat energi baru begitu bergabung dengan Atletico Madrid dan dapat kepercayaan dari manajer Diego Simeone.

Waktu Manchester United merekrut Teddy Sheringham, banyak orang sangsi atas keyakinan Alex Ferguson karena Teddy seorang striker tua. Tapi Teddy penasaran bagaimana rasanya jadi juara liga. Itu yang membuatnya meninggalkan Tottenham Hotspurs dan menjalani petualangan baru. Di Manchester United Teddy sukses merasakan gelar treble.

Di dalam klub atau perusahaan selalu ada dinamika. Meski tidak selalu fokus pada seseorang yang dinilai paling menonjol, pemain bintang biasanya kerap jadi bahan omongan. Di Atletico Madrid, Joao Felix awalnya dianggap sebagai transfer gagal, tapi di musim 2020/21 perlahan-lahan ia dinilai memuaskan seiring mautnya kerja sama dengan Luis Suarez. Sebagai striker muda dia dianggap mau belajar pada striker berpengalaman. Barangkali tahun depan dia bisa lebih baik menjalani karirnya dan membuat rekor baru, misalnya dengan menjuarai Liga Champions.

Inter Milan menjuarai Liga Serie A musim 2020/21 berkat banyak pemain buangan yang dianggap gagal di klub sebelumnya atau pemain veteran yang ingin mencari petualangan baru. Di sana ada mantan pemain Manchester United: Young, Lukaku, Sanchez, Darmian; mantan Manchester City (Kolarov); Tottenham Hotspurs (Eriksen); Real Madrid (Hakimi); Barca/Juventus (Vidal); juga Bayern Munich (Perisic). Tokoh utama di balik kejayaan Inter Milan musim ini ialah manajer Antonio Conte. Dia dinilai berhasil membangkitkan potensi pemain seperti Romelu Lukaku jadi bermental lebih kuat dan memenangi laga-laga penting.

Motivasi orang pindah klub atau perusahaan sangat beragam. Ada yang karena kecewa sama bosnya, ingin penghasilan lebih besar (biasanya diawali oleh kekecewaan terhadap perusahaan), harapan baru, peran baru, penyegaran karir, kejengkelan tak tertanggungkan, kemarahan... bahkan karena dipecat. Ada yang pindah baik-baik dan memecahkan rekor transfer, ada yang pindah karena terpaksa — seperti David Beckham mendadak pindah ke Real Madrid setelah insiden dilempar sepatu oleh manajer Alex Ferguson.

Ada faktor penerimaan, kecocokan, juga atmosfer di tempat baru. Ada orang yang awalnya sangat optimis pindah, tapi segera menyesal karena mendapati tempat barunya lebih menyedihkan. Justru di tempat lama ia merasa dapat pelajaran mengesankan. Kalau seperti itu, jelas terasa menyesal pindah. Tapi mustahil mau balik lagi. Akibatnya dia berpikir siap-siap pindah ke tempat baru dengan membawa-bawa kemangkelan.

Nicolas Anelka pindah ke Real Madrid dengan harapan besar, namun di klub baru itu dia mengalami kenyataan buruk karena dari awal diperlakukan menjengkelkan, ada penolakan diam-diam sejumlah pemain atas kehadirannya. ‘Real Madrid memperlakukan aku seperti anjing!’ kata dia geram. Akibatnya dia segera sadar betapa mestinya tidak perlu meninggalkan Arsenal, klub yang membentuknya jadi bintang. Di sana dia dapat dukungan dari manajer tepercaya dan teman seklub. Setelah setahun yang sulit di Real Madrid, dengan segera Anelka terus berpindah-pindah klub dalam waktu singkat, namun ia dinilai kehilangan bakat dan kemampuan terbaiknya. Dia sungguh berbeda dibanding Karim Berzema yang betah bertahan dan bisa bersaing terus lebih dari satu dekade di Real Madrid.

Mayoritas orang pindah ke tempat baru karena ingin memperbaiki diri. Memperbaiki diri tidak selalu terkait dengan penghasilan atau uang. Ada orang rela pindah dengan penghasilan lebih rendah, tapi hati dan hidupnya jadi lebih tenang karena bisa berhenti melakukan praktik yang haram dan jahat. Dia merasa lebih berkah. Orang ganti profesi baru dengan pertimbangan bisa lebih baik dan bahagia menjalani hidup pilihannya.

Pindah kerja ke tempat baru mungkin saja merupakan peningkatan karir, pencapaian baru, atau peluang berbuat lebih baik. Tapi tak ada jaminan buat itu. Mungkin segala sesuatunya sudah dipertimbangkan sebelum pindah, tapi hal-hal di luar bayangan tetap bisa terjadi. Sering ada drama, adaptasi, dan risiko di tempat baru. Lepas dari berbagai faktor itu, pindah klub atau tempat kerja baru membuktikan betapa hidup memang terus bergulir dan berganti peran. Bisa jadi peran itu di satu titik berlangsung lama — misalnya jadi pekerja, jadi manajer, jadi petani — lantas berganti dengan cepat, misalnya dipilih sekadar sebagai selingan hidup. Jadi ya terus jalani saja.[]


Anwar Holid — editor dan penulis, tinggal di Bandung. Blog: halamanganjil.blogspot.com. Twitter: @nwrhld. IG: @anwarholid.

Note: foto dari internet.


Friday, June 05, 2020

berjuang membaca quran
~ anwar holid

di pengujung ramadhan 2020 (1441 h) aku tamat baca quran yang aku mulai dari bulan februari 2020. kaum muslim menilai khatam quran merupakan suatu pencapaian, makanya patut disyukuri. tapi bagi orang muslim dewasa, tamat baca quran sebenarnya biasa banget. banyak muslim bisa tamat baca quran berkali-kali dalam setahun, atau bahkan sekali sebulan. aku gak bisa melakukannya.😔 itu artinya baca quranku sangat lelet, kurang banyak, sering mengulang, kurang disiplin dan rutin -- atau lebih tepatnya: masih berjuang membaca quran.

tahun ini aku membarengi baca quran dengan berusaha disiplin baca terjemahan setiap kali selesai baca ayat arabnya. buatku ini istimewa, sebab belum pernah berhasil melakukan sebelumnya. tanpa baca terjemahannya, buatku quran cuma terdengar akrab tapi gak 'bunyi', gak aku pahami, bahkan gak ada artinya. aku ingin ngerti bacaanku, meski niat itu tidak 💯 % berhasil. banyak yang gak aku pahami dari quran, barangkali karena bacaanku sepotong-sepotong dan pengetahuanku tentang quran juga terbatas.

setiap tamat baca quran, aku selalu teringat nenekku dari bapak. dulu aku pernah sampai nangis-nangis belajar baca quran baik dari uwakku atau nenekku. nenekku suka ngageunggeureuhkeun (memperingatkan) aku agar menaruh quran di kepala tiap kali membawanya -- bukan dijinjing atau dipegang begitu saja. baginya, itu adalah bentuk penghormatan terhadap sebuah kitab suci. quran yang aku baca sekarang ialah quran yang dari kecil aku pegang dan baca pelan-pelan atas bimbingan uwak atau nenekku.

baca terjemahan quran itu mencengangkan. aku jadi  bisa merasa tahu dan meraba apa maksud ayat-ayat itu. tapi, baca terjemahan quran juga suka bikin gemetar, terutama soal dosa, ancaman, siksaan, wabah, dan neraka.  sebagian isi quran itu ngeri dan di luar bayangan manusia biasa. orang masuk ke perut ikan raksasa, bapak mau menyembelih anaknya, pejuang keadilan sosial melawan rezim jahanam, praktik sihir, orang saleh miskin, tewas, satu kaum ditelan bumi, seseorang moksa entah bagaimana caranya. gak terbayangkan hal-hal itu bakal terjadi di dunia ini -- bahkan di #onthespot sekalipun. membayangkan betapa ada seseorang yang langsung menerima ayat suci juga merupakan ketakjuban lain.

membaca quran bikin aku sadar ada kosakata yang ternyata terus hadir dalam kehidupan manusia sampai sekarang. contoh quran itu sendiri. 'sihir' membuatku ngebatin: aku gak tau persis itu apa, gak pernah mengalami, gak tahu bentuknya, tapi jelas merupakan hal besar. apa aku alergi pada sesuatu yang asing seperti sihir hingga seumur hidup menghindari, tak pernah mau atau menyelami ilmunya, bahkan secara bawah sadar ketakutan terhadapnya?? kenapa sebagai muslim aku tidak pernah diperkenalkan pada sihir secara pantas?? kalau sihir di zaman dulu bisa dipraktikkan dalam gerakan sosial dan menumbangkan rezim, seperti apakah bentuknya di zaman sekarang???

kosaka-kosakata dalam quran begitu terpelihara. ia hidup, ditafsirkan, ditekankan, disebarkan, dicomot, bahkan kerap menjadi slogan yang menggelorakan. ia bisa misterius. ia menyertai kehidupan manusia. bukan saja kepada orang muslim, melainkan pada siapapun yang membacanya.

puasa ramadhan 2020 berlangsung di tengah wabah global covid-19 yang memaksa banyak perusahaan dan orang mengurangi waktu kerja dan menambah waktu libur. ini membuatku banyak menyempatkan membuka quran. tanpa libur mustahil aku bisa mencicil baca quran selama ramadhan, terutama sebelum buka dan sesudah subuh.

baca quranku masih buruk. atau mungkin malah memprihatinkan.☹️ aku belum belajar meningkatkan kemampuan bacanya, meski sudah dapat saran misalnya di youtube. dengan umur  setua ini sementara bacaan quranku jelek, alangkah malu dan menyesalnya aku jika dibandingkan dengan bocah-bocah yang sedang berlomba menjadi juara hafiz quran.😩😢 aku dulu belajar ngaji di surau dekat rumah, diterangi lampu minyak, dan kami membawa sebotol minyak tanah untuk penerangan surau.

ada fakta menyedihkan, ternyata masih banyak mukallaf  (umat islam yang sudah baligh) yang buta huruf (gak bisa baca) quran. aku pernah menemukan kasusnya di wag khusus muslim. akmal nasery basral bahkan menyatakan jumlahnya secara nasional antara 55 %-60 %. secara garis besar dia bilang dari 5  orang mukallaf  perbandingannya  adalah: 1 bisa baca lancar, 1 bisa baca penuh perjuangan, 3 tidak bisa baca.
😔

sejak beberapa tahun lalu aku niat belajar lebih baik baca quran, tapi belum terlaksana. secara otodidak juga belum.☹️ konpensasinya aku berusaha lebih disiplin membacanya. seorang kenalan yang rajin menamatkan quran bilang begini, 'coba sebelum mulai biasakan berdoa 'ya allah fasihkan aku membaca quran' -- insya allah dilancarkan dan dimudahkan oleh allah.' mungkin dengan begitu kita jadi lebih baik memperhatikan kualitas bacaan sendiri. jujur saja targetku setelah ini sama sekali bukan tergesa-gesa khatam quran, tapi lebih baik meningkatkan kualitas membaca dan memaknainya.[] [halaman ganjil; wartax]

nb: tulisan ini sengaja mengabaikan puebi.

Wednesday, August 14, 2019

[halaman ganjil]

menikmati sakit
~ anwar holid



awal agustus 2019 ini aku dirawat di rumah sakit karena diare. aku sampai lemas, demam, pening, dan dehidrasi. setelah masuk igd, aku ditempatkan di kamar bersebelahan dengan seorang bapak yang sakitnya lebih parah. sepertinya beliau menderita komplikasi penyakit, entah kencing manis dengan kanker prostat atau apa. yang jelas ia kencing pakai selang dan kalau buang air besar pakai pispot. lantai di bawah ranjangnya selalu ada ceceran darah. selama aku dirawat, bapak ini hanya berbaring dan mengeluh atau sering mengerang minta tolong atau minta perhatian ke penunggunya. banyak yang dia keluhkan, terutama sakit yang ia rasakan. bentar-bentar dia meminta anaknya untuk membantu membereskan sesuatu di badannya atau apa saja yang salah dalam dirinya. sementara anaknya gampang tertidur, jadi susah dibangunkan.... dipanggil-panggil gak menyahut atau lekas bangun, sementara erangan si bapak tambah nyaring dan mengenaskan. kalau anaknya susah dibangunkan, dia merepet soal sakitnya, betapa dia dulu sudah mengurus dan membesarkan anak-anaknya... namun sekarang giliran dirinya butuh, anaknya malah malas-malasan menolongnya.
'dalam sakit', puisi sapardi djoko damono
di buku duka-mu abadi. [foto: anwar holid]

aku cuma mendengarkan tiap kali si bapak mengerang atau memanggil butuh sesuatu sambil mengeluhkan sikap anak atau orang yang mendampinginya. kalau kebetulan ke kamar mandi sambil bawa infus, aku lirik bapak ini. dia meringkuk saja. dalam hati aku menyimpulkan, 'sakit si bapak ini jauh lebih parah dari sakitku.'

aku berusaha cepat pulih, menikmati istirahat dan perawatan, menghabiskan semua menu yang disediakan dan obat yang diberikan perawat atau disuntikkan via infus. aku juga menikmati kesendirian, melamun banyak hal... membayangkan hal-hal menyenangkan.😂😂

tiap kali mendengar perepetan atau erangan si bapak, aku membatin dan terkenang perbuatan yang pernah aku lakukan pada anak sendiri. apa aku ini tipe orangtua yang menuntut balas jasa ke anaknya??? aku juga pernah berbuat kasar ke anak-anak.😢 pernah menyakiti badan dan hati mereka, meskipun alasannya demi kebaikan atau pendidikan. mungkin banyak hal yang aku lakukan menyebalkan bagi anak-anak. contohnya kepo soal mereka. ya tentu saja aku kepo, persis karena mereka anak-anakku sendiri. jadi aku ingin memastikan mereka itu seperti apa. untuk urusan kepo saja aku sudah dianggap menyebalkan, apalagi urusan lain.

salah satu yang sering diminta bapak ini ialah dia ingin anaknya menghubungi saudara/orang-orang agar menjenguknya. anaknya terdengar ogah-ogahan tiap kali diminta menelepon saudara atau keluarganya, memberi tahu bahwa ayahnya sedang sakit parah dan mohon agar menjenguknya. mungkin karena dia gak akrab atau kenal dengan orang yang dihubunginya. aku membatin, kenapa ya bapak ini ingin dijenguk banyak orang?? apa sakitnya gak tertanggungkan lagi? apa itu isyarat menjelang akhir hayatnya?? apa dia ingin membagi rasa sakit ke orang-orang terdekatnya?? apa dia mendapat dukungan, penghiburan, dan energi positif dari orang-orang yang menjenguknya???

aku 'menikmati' rasa sakit sendirian. orang kedua yang aku hubungi saat masuk igd ialah kepala hrd tempatku kerja, untuk memastikan bahwa aku beneran sakit dan jangan sampai dipotong gaji karena dianggap mangkir kerja. aku merasa sudah terlalu tua untuk memberi tahu orangtua bahwa aku sedang sakit. aku cukup yakin bisa menghadapi rasa sakit sendirian. sakit itu bagian dari hidup, dan jika kita bisa mengalahkannya, insya allah pasti sembuh. aku kuatir jadi orang menyebalkan saat sakit. aku yakin perawat, dokter, rumah sakit, bpjs, juga satpam rumah sakit sudah melakukan hal sewajarnya untuk membantu kesembuhanku. makanya aku takjub ketika dijenguk teman gowes dan menerima banyak support dari mereka.

ketika sakit sudah pasti kita tak berdaya, pasti butuh pertolongan orang lain. orang-orang baik dan menyayangi kita pasti langsung menolong dan kuatir atas keadaan kita, tak perlu lagi dibebani dengan rengekan yang terdengar mengenaskan atau malah menyebalkan. kata teman gowesku, cara orang menghadapi sakit memang beda-beda. ada yang merengek, meratap, meraung, diam menahan, atau coba mengembalikannya ke tuhan. intinya si pasien ingin mendapat kekuatan menghadapinya.

setelah tiga hari dirawat, dokter bilang aku boleh pulang. aku sungguh semangat. si bapak itu masih rutin dikunjungi perawat dan dokter. mereka terdengar jengkel ke si bapak, karena banyak menyisakan makanan dan obat yang mestinya jangan sampai telat dihabiskan. aku masih sulit melupakan soal beliau.... meskipun beberapa hari berselang sehabis kepulangan dari rumah sakit itu aku ikut gowes bareng kawan-kawan  ke gunung patuha - kawah putih. [wartax, 7/8/19]

Tuesday, January 31, 2017



Kami Memosisikan Diri sebagai Pembaca
yang Butuh Bacaan Bermutu
Wawancara dengan Kun Andyan Anindito, Penerbit Gambang

--Anwar Holid

Penerbit Gambang menyembul ke permukaan industri penerbitan dengan cara yang simpel. Mereka merilis sejumlah buku puisi, berukuran kecil dan tipis, dengan cover eye-catchy, yang bagi banyak calon pembaca seperti merayu ingin disentuh dan dibuka-buka. Penerbit ini seperti hendak membangun brand image yang jelas dan mudah dikenali. Mereka juga kerap mengadakan acara di berbagai toko buku di Yogyakarta, Bandung, Jakarta, dan tempat lain.



Berikut wawancara dengan Kun Andyan Anindito seputar proses penerbitan, bagaimana memilih dan mengelola naskah, juga memelihara kerja sama dengan penulis.

Kun Andyan Anindito.
* Bagaimana awalnya Gambang menerbitkan buku?
Gambang terlahir karena kecintaan kami terhadap buku. Sederhana saja, waktu itu saya dan Rozi Kembara awalnya hanya ingin membaca buku yang ingin kami baca, kebetulan banyak karya yang ingin kami baca belum diterbitkan, terlebih karya luar yang belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Selain itu kami memiliki keinginan memperkenalkan penulis-penulis luar negeri yang namanya jarang didengar di Indonesia. Sementara ini kami memang baru bisa menerbitkan dua terjemahan, Borges dan Rulfo. Borges memang sudah sangat familiar untuk pembaca Indonesia, meski begitu karyanya masih sedikit yang baru diterjemahkan. Sedangkan Rulfo adalah penulis yang banyak mempengaruhi penulis lain padahal seumur hidupnya dia hanya menerbitkan dua buku, satu novel dan satu kumpulan cerpen. Untuk itulah kami menerbitkan novelnya yang berjudul Pedro Paramo beserta 6 cerpennya. Di awal penerbitan kami memang fokus kepada penulis lokal karena salah satu misi kami adalah menerbitkan karya penulis yang belum pernah memiliki buku tunggal, padahal secara kualitas penulis tersebut sudah layak menerbitkannya. Penulis yang kami maksud antara lain Yopi Setia Umbara, Nissa Rengganis, Aprinus Salam, Mira MM Astra, Zulkifli Songyanan, Risda Nur Widia. Nama penulis berikutnya yang segera akan menerbitkan karya pertamanya adalah Indrian Koto, Nermi Silaban, Mutia Sukma, dan Rozi Kembara. Berawal dari hal itulah kami muncul ide untuk membuat sebuah penerbitan.

* Mengapa Gambang seperti mengambil ceruk yang sangat spesifik, yaitu penerbitan buku puisi?
Sebenarnya kami tidak spesifik dalam menerbitkan genre karya sastra, namun kami lebih sering menjumpai naskah puisi dibanding prosa seperti cerpen atau novel. Karena sering berjumpa dengan puisi itulah kami akhirnya memutuskan untuk memberi porsi lebih pada buku puisi.

* Bagaimana Gambang menyeleksi naskah dan memutuskan untuk menerbitkannya?
Gambang menyandarkan sepenuhnya pada kualitas karya tersebut. Pertimbangan lain yang juga sangat diperhitungkan adalah rekam jejak penulis tersebut di media masa.

* Bagaimana cara Gambang menilai/memutuskan bahwa naskah layak diterbitkan?
Tim penyeleksi dari kami ada tiga orang: saya, Yopi Setia Umbara, dan Rozi Kembara. Setiap dari kami memiliki selera masing-masing. Jika dua di antara tiga orang setuju, maka naskah akan diterbitkan.

* Apa yang paling utama dilihat/diperhatikan oleh Gambang dalam menerbitkan buku: keterjualan atau kekuatan naskah? Bagaimana mengukur kedua hal itu?
Kami percaya bahwa kekuatan naskah berbanding lurus dengan terjualnya buku. Kami sudah membuktikannya berkali-kali ketika menerbitkan karya-karya awal penulis yang kami sebutkan di atas. Karya-karya penulis seperti Nissa Rengganis, Mira MM Astra, Yopi Setia Umbara telah masuk cetakan kedua, yang lainnya hanya tinggal menunggu waktu. Buku karya Nissa Rengganis mendapat penghargaan di Hari Puisi Indopos tahun 2015, sedangkan buku kumpulan cerpen Risda Nur Widia, yang juga merupakan buku pertamanya, mendapat penghargaan dari Balai Bahasa Yogyakarta.

* Bagaimana Gambang memperkirakan keterjualan sebuah buku?
Kami mencetaknya dengan dengan oplah terbatas, antara 300 sampai 500. Karena rata-rata buku akan terjual sejumlah itu tiap tahunnya. Jika habis, segera kami cetak ulang dengan oplah kurang-lebih sebanyak itu.

* Apa Gambang sengaja memilih penyair atau penulis tertentu untuk diterbitkan naskahnya?
Tentu saja. Kami akan memprioritaskan karya penulis yang sesuai dengan selera kami bagi penulis yang mengirim naskahnya ke redaksi kami. Untuk penulis yang sangat kami inginkan naskahnya agar berkenan diterbitkan di Gambang, kami berupaya untuk mendapatkannya. Untuk itu kami sangat bersyukur karena Acep Zamzam Noor dan Agus Noor mengizinkan naskahnya diterbitkan di Gambang.

* Tantangan apa saja yang dihadapi Gambang? Bagaimana cara menyiasati dan menanganinya?
Satu-satunya tantangan yang dihadapi Gambang adalah mempertahankan reputasinya sebagai penerbit serius. Cara menyiasatinya dengan menjaga kualitas karya yang diterbitkan. Kami tidak ingin mengecewakan pembaca, karena kami sendiri selalu memposisikan diri sebagai pembaca.
Diskusi Pinara Pitu di GIM Bandung.
* Bagaimana Gambang mendistribusikan dan menjual bukunya?
Kami memiliki reseller yang sangat selektif dalam memilih buku yang ingin mereka beli. Mereka tersebar di berbagai kota. Di Jogja ada JBS, Pocer, Mojok, Stand Buku. Di Jakarta ada Post Santa dan Demabuku. Di Medan ada Umbara Books. Di Bandung ada Toco. Di Malang ada Griya Pelangi. Di Makassar ada Pelangi Ilmu. Di Ambon ada Ksatria Book. Seluruhnya adalah toko buku online.

* Bagaimana hubungan editor dan penulis/penyair di Gambang? Seperti apa kerja sama yang dibangun?
Editor akan rutin menghubungi penulis terutama dalam hal pembahasan naskah. Mulanya penulis mengirim naskah ke redaksi dan langsung dibaca oleh editor, lalu setelahnya mengirimkan balik ke penulis hingga mencapai kesepakatan antara penulis dan penerbit yang diwakili editor.

* Program apa yang dibuat Gambang untuk mempromosikan bukunya?
Kami rutin membuat sistem preorder dengan memberikan diskon hinggal 15% kepada pembeli. Program baru yang awal bulan ini selesai kami kerjakan adalah pemberian workshop secara gratis kepada pembeli buku Rahasia Dapur Bahagia karya Hasta Indriyana, yang sekaligus menjagi pengisi workshop.

* Bagaimana Gambang memandang penerbit mapan yang juga menerbitkan buku puisi?
Kami selalu menganggap penerbit lain, baik indie atau mayor, dalam atau luar negeri, sebagai bahan referensi kami. Kalau buku yang mereka terbitkan baik, maka kami akan mencontohnya. Jika buku yang diterbitkan buruk, maka cukup penerbit itu saja yang menerbitkannya.

* Seperti apa Gambang memperlakukan penulisnya? Mereka dianggap sebagai aset perusahaan atau komoditas? Servis apa yang diberikan Gambang pada mereka?
Kami memperlakukan penulis selayaknya penulis harus diperlakukan, misalnya membayar royalti sebesar 20% dari harga jual secara cash tepat ketika buku selesai cetak. Jika penulis berkenan membantu penjualan bukunya, penerbit akan memberikan 30 % dari harga cetak, sehingga jika ditotal penulis akan mendapatkan pembayaran sebesar 50 % dari harga jual.
Workshop menulis puisi bersama Hasta Indriyana.

* Apa Gambang 'memelihara' penulis? Dalam arti mempertahankan agar terus bisa menerbitkan karya-karya berikutnya dan tidak beralih ke penerbit lain? Apa yang dilakukan Gambang untuk 'mengikat' para penulisnya agar juga mau terus menerbitkan karyanya di Gambang?
Kami tidak pernah memaksa penulis untuk menerbitkan buku di Gambang. Kami hanya bisa mengupayakan, jika memang penulis tersebut tidak berkenan memberikan naskahnya, maka kami juga tidak akan memaksa.

* Jika penulis Gambang kemudian menerbitkan buku di penerbit lain, dengan kemasan produk yang lebih bagus atau garapan yang tak dapat disediakan Gambang, kira-kira apa tanggapan Gambang?
Sandaran kita adalah kualitas naskah tersebut. Jika penulis Gambang kemudian menerbitkan buku di penerbit lain, dengan kemasan produk yang lebih bagus atau garapan yang tak dapat disediakan Gambang, kami akan turut senang, senang karena kemasannya bagus, dan senang karena naskah yang kami cari dari penulis tersebut telah kami terbitkan.

* Seperti apa Gambang menanggapi gerakan literasi yang dikampanyekan pemerintah? Apa gerakan tersebut berpengaruh pada siasat perusahaan?
Kami rasa pemerintah belum menggerakkan literasi dengan serius, jadi kami juga tidak perlu menanggapinya secara serius.

* Tahun 2017 Gambang merencanakan apa? Kira-kira seperti apa kondisi penerbitan buku puisi tahun ini?
Minimal kami akan melakukan apa yang telah kami lakukan di tahun-tahun sebelumnya dengan konsisten menerbitkan buku-buku bermutu. Kami rasa, penerbitan puisi masih akan sama dengan tahun-tahun sebelumnya, beberapa penerbit masih takut menerbitkan buku puisi. Tapi semoga kami keliru, karena sekali lagi, kami juga memposisikan diri sebagai pembaca yang butuh banyak referensi bacaan bermutu.[]

Foto-foto milik Penerbit Gambang.

Link terkait:
Alamat Penerbit Gambang
Perum Mutiara Palagan B5, Sleman, Yogyakarta 55581
Telepon: +6285643039249

*****