Saturday, May 16, 2009



[BUKU INCARAN]

Berubah atau Mati
--Oleh Anwar Holid

Our Iceberg is Melting, Perubahan dan Kesuksesan dalam Berbagai Kondisi
Penulis: John Kotter dan Holger Rathgeber
Penerjemah: Maria Rini
Penerbit: Elex Media Komputindo, 2007
Halaman: xv + 165
ISBN: 978-979-27-1763-1


Our Iceberg is Melting (John Kotter dan Holger Rathgeber, 2007) merupakan buku menarik berisi fabel modern tentang koloni penguin di Antartika dalam mengambil keputusan saat menghadapi krisis karena ancaman perubahan yang terjadi pada gunung es (iceberg) tempat mereka tinggal.

Fred, penguin dengan rasa ingin tahu dan penuh selidik, suatu hari menemukan bukti bahwa gunung es tempat tinggal koloni selama bertahun-tahun ini ternyata berpotensi hancur. Di bagian bawah dan dalam gunung es itu muncul retakan dan tanda-tanda pencairan berupa kanal dan lubang membentuk gua bermuatan air. Karena tahun-tahun ini suhu terus bertambah rendah, air di dalam gua itu juga akan membeku. Karena zat cair yang membeku akan memuai secara dramatis, gunung es itu pun bisa pecah berkeping-keping.

Fred hanya penguin biasa. Dia bukan anggota pemimpin koloni, bukan kerabat mereka, bahkan lebih sering terlihat sendirian untuk mengamati lingkungan sekitar daripada berkerumun sebagaimana kebiasaan umum penguin. Beruntung salah satu anggota pemimpin koloni bernama Alice mudah ditemui. Awalnya Alice pun ragu dengan keterangan Fred, tapi setelah membuktikan temuan Fred, Alice segera mengajak Fred membicarakan masalah dan masa depan mereka bersama pemimpin koloni, Louis.

Louis tipe pemimpin pada umumnya. Dia berpengalaman, pintar, bijaksana, sabar, cukup tegas, sedikit menjaga jarak, agak konservatif, dan jika perlu menggunakan otoritas untuk mengatur anggota koloni. Meski begitu dia jelas tidak bisa segala-galanya. Hanya penguin senior tertentu sesama anggota pemimpin koloni yang kurang menghormatinya, di antaranya ialah NoNo. Begitu tahu yang terjadi, Louis segera bertindak. Dia mengumpulkan penguin terpilih untuk mengatasi masalah dan perubahan besar dalam koloni tersebut. Selain mereka bertiga, bergabung juga Buddy dan Profesor. Keenam penguin ini masing-masing mewakili karakter tertentu.

Setelah memperhatikan masalah genting itu, keputusannya ialah mereka harus pindah ke gunung es baru yang aman. Tapi persoalannya ternyata cukup rumit bagi koloni. Penguin bukanlah jenis burung pengembara, sementara sebagian mereka---terutama penguin yang bertugas di bagian ramalan cuaca dan lingkungan---menganggap masalah itu dibuat-buat dan tampaknya mustahil gunung es besar yang selama ini mereka tempati bakal ambrol.

Awalnya sebagian besar anggota koloni panik mendengar bahwa bencana besar sedang mengancam mereka, sementara waktu untuk bertindak sudah sangat mendesak. Tapi setelah komite koloni berhasil menciptakan visi tentang masa depan koloni mereka, lantas membentuk Tim Pengintai yang bertugas mengawali pencarian gunung es baru, barulah koloni bisa merasa senasib. Louis meyakinkan agar koloni jangan terikat pada tempat tinggal. Dia menyatakan mereka bisa menemukan gunung es lain sebagai tempat tinggal untuk hidup lebih aman. Persiapan pindah harus dimulai.

Komite mendukung visi itu dengan komunikasi dan informasi secara terus-menerus, terarah, sampai mayoritas anggota koloni terpengaruh dan menerima yang harus mereka lakukan. Bahu-membahu itu melahirkan kondisi luar biasa bagi mereka, sekaligus pembelajaran bagi seluruh anggota koloni. Bahkan penguin kanak-kanak pun bisa berperan langsung dengan mengadakan acara amal bagi anggota Tim Pengintai dan mampu membangkitkan moral secara signifikan.

Fabel ini memaparkan betapa perubahan niscaya terjadi di dalam kehidupan, pada situasi apa pun. Boleh jadi awalnya perubahan hanya diketahui atau dirasakan oleh anggota biasa yang tidak populer. Perubahan itu melahirkan krisis, memaksa adanya pengambilan keputusan, butuh tim untuk menjalankannya, dan perlu strategi yang bisa diandalkan. Mula-mula orang butuh keyakinan ia akan berhasil, setelah itu memerlukan kemenangan nyata. Juga mengejutkan betapa ada kala alternatif jalan ke luar bisa berasal dari pihak lain. Pada kasus koloni penguin, mereka mendapat ide mengembara setelah bertemu dengan burung camar laut.

Reaksi orang terhadap perubahan lain-lain; ada yang menolak, melawan, menghadapinya dengan aksi gagah berani, menghancurkan penghalang-penghalang yang awalnya mustahil dihancurkan, juga perlahan-lahan menemukan taktik cerdik untuk menghadapinya.

Our Iceberg is Melting merupakan buku ketiga John Kotter yang fokus membicarakan perubahan dalam suatu organisasi, dalam hal ini organisasi massa. Dua buku terdahulunya ialah Leading Change dan The Heart of Change. Dia mengajukan proses Delapan Langkah Perubahan yang terdiri dari empat bagian. Dua proses pertama ialah mengatur tingkatan perubahan, lantas memutuskan apa yang akan dilakukan, empat proses intinya ialah mewujudkan perubahan menjadi kenyataan, terakhir menciptakan budaya baru sampai cukup kuat untuk menggantikan tradisi lama.

Kotter dan Rathgeber mendongeng dengan cara sederhana disertai plot menarik. Buku ini mudah sekali dicerna, namun tetap mampu memperlihatkan ketegangan cerita betapa NoNo dengan bandel terus melakukan intrik penolakan terhadap perubahan. Membacanya mirip membuka Chicken Soup for The Soul. Tapi kelebihannya, Kotter dan Rathgeber menyediakan halaman untuk tindakan konkret dalam menghadapi perubahan, termasuk bernegosiasi menghadapi krisis. Memang buku ini dibuat berdasar riset perilaku individu dan organisasi terhadap perubahan.

Yang sedikit menggelikan, kira-kira enam kali kata "frustrasi" muncul di buku ini. Sekali dieja tepat sebagai f-r-u-s-t-r-a-s-i, sisanya salah semua, dieja sebagai f-r-u-s-t-a-s-i. Lagian, buku ini juga tidak mencantumkan editor, seolah-olah mau sengaja menghindari tanggung jawab atas keteledoran tersebut. Ternyata sulit juga mengubah kebiasaan agar disiplin menulis ejaan sebagaimana seharusnya.[]

Anwar Holid, bekerja sebagai editor, penulis, & publisis; eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung. Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.

Copyright © 2008 BUKU INCARAN oleh Anwar Holid

Situs terkait:
http://www.elexmedia.co.id

Tag: Dongeng sederhana tentang cara melakukan sesuatu dengan baik di dunia yang terus berubah. (Dari blurb.)

Friday, May 08, 2009

NOTE: Versi lain esai ini dipublikasi Pikiran Rakyat, suplemen Khazanah, Minggu, 3 Mei 2009.

Badabadu dan Martin Amis
--Anwar Holid


WAKTU pertama kali bertemu dan kenalan di Omuniuum---sebuah toko buku dan hobi mungil di depan SMU Aloysius Bandung yang rindang---aku merasa baik-baik saja waktu dia menyebut namanya, 'Badabadu.' Jelas itu panggilan, sangkaku. Orangtua mana mau kasih nama anak dengan nada badut seperti itu?

Aku juga malas mengecek nama dia sebenarnya. Buat apa, tanyaku sendiri; toh mungkin suatu saat tahu sendiri, kalau perkenalan kami berlanjut dan tambah akrab. Lagi pula, di zaman identitas kabur sekarang ini, apa bedanya nama asli dan palsu, kalau kedua-keduanya lain dan nyata? Waktu itu adalah perkenalan biasa sesama pembaca buku. Basa-basi klise. Yang klise biasanya dikuasai semua orang. Pada saatnya berguna.

- Kamu suka baca apa?
- Fiksi, biografi, autobiografi, buku-buku film.
- Siapa penulis favorit kamu?
- Martin Amis.
- Martin Amis? Aku nggak punya teman lain yang suka dia. Kenapa suka dia?
- Wah, sulit dijelaskan. Tapi karya-karya dia asyik loh.
- Paling-paling aku kenal satu orang malah suka ayahnya.
- Ya, ayahnya memang penulis yang terkemuka juga.
- Apa Martin terpengaruh juga sama ayahnya?
- Dalam lingkup keluarga tentu saja. Artinya, dia lahir dari keluarga penulis; seperti beberapa penulis lain, misalnya Virginia Woolf. Tapi tidak dalam karya. Katanya, dia justru sangat terinspirasi oleh Vladimir Nabokov, Saul Bellow, atau Philip Roth.
- Kamu benar-benar suka Martin ya?
- Aku punya semua buku dia, kecuali beberapa, apalagi yang sulit dicari di sini atau karena terlalu mahal.
- Dapat dari mana saja buku-buku itu?
- Banyak. Kebanyakan dari sini juga. (Omuniuum, maksud dia.) Ada yang dapat dari loak, hadiah teman, beli baru. Macam-macam.
- Apa yang paling kamu suka?
- Susah ya... Tapi yang paling asyik kayaknya Night Train dan Visiting Mrs. Nabokov.
- Kenapa?
- Itu karya dia yang paling mudah.
Kami ngakak mendengar alasan itu. Tapi menyenangkan memang mengaku seperti itu. Kalau memang tak mengerti, kenapa juga mengaku-aku paham? Dengan begitu kita terhindar dari menanggung beban sia-sia.
- Apa buku Martin Amis menarik semua?
- Nggak juga. Ada yang isinya kabur atau bikin bingung. Misalnya Koba the Dread.

SAMPAI waktu itu aku belum pernah baca Martin Amis. Aku hanya tahu dia anak Kingsley Amis, penulis Lucky Jim (1954) yang legendaris di Inggris. Sedikit reputasi Martin aku baca dari beberapa informasi kecil, terutama indeks penulis kontemporer. Dia dijuluki "Mick Jagger of Fiction." Apa ini terkait reputasinya terhadap perempuan? Martin juga kontroversial. Sejumlah orang menuduh dia arogan dan punya dendam pada wanita. Orang Islam menuduh dia mengidap Islamofobia. Di Time 2007 edisi "The Most Influential People in the World", Martin Amis menulis tentang Osama bin Laden.

Karena itulah segera aku ingin pinjam buku Martin Amis, sekadar ingin tahu seperti apa karyanya. Badabadu meminjami Night Train; tapi aku kurang terkesan dengan novel itu. Menurutku seperti novel detektif, dengan protagonis polisi wanita. Saking detail, dia memberi tahu novel itu memuat kata "Indonesia" dalam konotasi miring: I guess you can't blame a guy for loving his job, or for being Indonesian, but I have to say that that little slope gives me the creeps. "Aku kira kamu mustahil menyalahkan orang karena mencintai pekerjaannya, atau karena dia orang Indonesia, tapi harus kukatakan justru hal itu yang mengerikan buatku."

Setelah itu aku pinjam Visiting Mrs. Nabokov. Ini buku esai yang menarik, berisi komentar Martin tentang sejumlah selebritas yang pernah dia liput atau sempat bersinggungan dengannya, antara lain Madonna, Ny. Nabokov, Mick Jagger, dan Julian Barnes--kawan sesama penulis, tapi persahabatan mereka sekarang berakhir pahit gara-gara perempuan. Di buku ini juga dia berkomentar sinis terhadap Frankfurt Book Fair, meski semua pencinta buku memuja-muja acara itu.

Kemudian bawa Experience, autobiografinya. Buku itu hanya aku baca bagian awalnya, tapi aku perhatikan betul foto-fotonya. Salah satu yang mencolok: covernya menampilkan ia sedang merokok, padahal masih ABG. Tatapannya tajam. Ngejago sekali. Dengan lagak seperti itu kebengalannya jelas tampak.

Baru setelah pinjam The War Against Cliché: Essays and Reviews, 1971-2000, aku merasakan daya kekuatan Martin Amis: dia blak-blakan, terutama bila sedang sinis. Buku itu membuatku tambah tertarik pada Martin, apalagi Badabadu memberi aku masukan cerpen Martin yang amat saru (aku tegaskan: bukan "seru"), berjudul "Let Me Count the Times". Dari sinilah aku mulai bisa enak menikmati tulisannya.

The War Against Cliché berisi resensi yang pernah ia tulis kala masih bekerja menjadi kritik buku untuk The Times Literary Supplement. Buku itu tebal, membuktikan alangkah panjang kerja dia sebagai peresensi dan kritikus. Cara dia mengkritik apik dan tegas. Salah satunya, karena kurang suka pada novel pop macam The Silence of the Lambs (Thomas Harris), dia hajar novel sejenis itu. Subjek buku Martin Amis memang sangat kena: menulis itu perang melawan klise, perang terhadap basa-basi.

Tapi menghindari klise itu sulit sekali, begitu juga perang melawan yang sia-sia. Berat sekali. Cobalah melawan kebiasaan buruk sendiri. Termasuk ketika berkenalan. Bisa menciptakan perkenalan yang nonklise?

AKU selalu takjub dengan anak-anak muda, apalagi yang wawasan, bacaan, maupun kemampuannya kaya. Bagaimana mereka mencapai itu semua? Selalu begitu pikirku. Tapi rupanya aku luput satu hal: percepatan membuat anak muda ini jauh lebih canggih dari generasi terdahulu. Ada kalanya budaya dalam keluarga atau pencapaian sendiri membuat mereka istimewa. Aku sudah pernah kenalan dengan beberapa anak muda dengan bacaan canggih, up-to-date, sementara sering aku merasa terkurung harus menyelesaikan kewajiban tertentu yang kadang-kadang membuatku aus.

Badabadu sejenis anak muda seperti itu. Dia banyak baca, banyak tahu, banyak dengar, hingga kalau bertemu dengannya, aku seakan-akan segera bakal penuh dengan berbagai informasi yang dia tukarkan.

Badabadu adalah penggemar Martin Amis no. 1 di Indonesia. Bisa jadi satu-satunya.

Setahuku, tak ada orang Indonesia lain yang pernah menyebut Martin Amis, menuliskan, mengenalkan dia pada publik sastra, atau bilang suka karyanya, termasuk penggemar fiksi kontemporer sekalipun. Kalau kita bicara fiksi kontemporer, nama yang paling muncul misalnya Salman Rushdie, Ian McEwan, atau Haruki Murakami. Penulis kontemporer favoritku ialah Raymond Carver--dia pun sudah meninggal. Martin Amis? Terdengar seperti merk minuman keras. Saking takzim, Badabadu suka menyebut Martin Amis dengan, "Tuan Martin Amis yang terhormat."

Setelah pertemuan itu, ditambah interaksi lain, aku merasa cukup akrab dengan Badabadu. Tapi karena sama-sama punya problema, kami hanya bisa sesekali bertemu, itu pun dengan siasat agak sulit. Aku dengan problema sebagai lelaki berumah tangga, dia dengan sejumlah kompleks personalnya.

Salah satu yang aku syukuri dari pertemanan itu ialah aku bisa berhubungan dengan generasi lebih muda. Itu membuatku merasa terkait dengan masa kini dan bisa ikut perkembangan zaman. Misal dalam hal selera. Generasiku terkait dengan grunge/alternatif; generasi dia dengan Britpop.

LAMA kemudian, Omuniuum sudah pindah ke ruko di depan Universitas Parahyangan (Unpar), Ciumbuleuit. Sementara Badabadu pun rutin "menyampah" ke Timbuktu, kerja di dunia film, jadi scriptwriter untuk sebuah variety show televisi yang sempat bikin heboh negeri itu. Kami terpaksa berhubungan via email.

Pertemanan dengan Badabadu menautkan aku pada blog dia yang kini sudah inaktif, http://budibadabadu.blogspot.com. Subjek tulisan di blog itu kadang-kadang aneh, pendek-pendek, tapi juga ada yang tertib-normal, dengan cara bercerita dan sudut pandang kuat. Dia bahkan menghadiahi aku Night Train. Waktu aku tanya kenapa dia memberi buku itu, dia jawab, "Untuk mengenalkan Tuan Martin Amis, aku mau berbuat apa saja."

Siapa tahu, setelah tulisan ini, Anda jadi orang Indonesia ketiga yang tertarik pada Martin Amis. Minimal mengendus baunya.[]

Anwar Holid, bekerja sebagai editor, penulis, & publisis; eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@yahoo.com Tel.: 2037348, 085721511193 Panorama II No. 26 B Bandung 40141

Situs terkait:
http://www.pikiran-rakyat.com
http://itbo.multiply.com/ (blog Omuniuum)

[WORLD BOOK DAY 2009]
Merayakan Keragaman di Hari Buku Dunia
---Anwar Holid


BANDUNG - Saya merayakan Hari Buku Dunia (World Book Day) 2009 dengan datang ke perpustakaan Balepustaka, Bandung. Di sana saya mengembalikan buku, cari-cari buku lain yang mau dipinjam, baca koran, menyapa teman-teman, dan lihat-lihat bazar buku bertema agama dan pluralisme di lantai tiga.

Saya sejak awal naksir berat The Story of Philosophy (Bryan Magee) terbitan Kanisius yang dipajang di bazar. Tapi entah kapan saya bisa beli buku seharga tiga ratus ribu lebih itu. Apalagi keuangan saya sekarang lagi kacau. Saya sudah lihat dan baca-baca edisi Inggris buku itu sekitar dua tahun lalu, pinjam dari teman yang bawa dari Belanda, dan takjub bahwa Kanisius menerbitkan edisi Indonesianya. Dulu, Mizan menerbitkan karya Bryan Magee lain, yaitu Memoar Seorang Filosof yang amat tebal dan entah apa buku itu mendapat perhatian pantas dari pembaca Indonesia.

The Story of Philosophy merupakan edisi luks pengantar menuju alam filsafat. Magee tetap menempuh kekhasan dunia filsafat yang harus diakui memang relatif serius dan lebih menguras pikiran, tetapi dia pandai membuat pembaca senang dan nyaman. Caranya ialah mendesain buku itu secara elegan, membubuhi banyak gambar yang relevan dengan setiap subjek pembahasan, ditambah boks-boks khusus untuk berbagai topik, kutipan yang kuat, dan menyodorkan hal-hal trivial yang informatif. Walhasil, pengantar ini tidak jatuh menjadi komik dan tetap memperlihatkan wajah asli tradisi filsafat, sementara ilustrasinya betul-betul pilihan.

Ada banyak buku pengantar filsafat, baik yang serius-akademik, disajikan secara komik (diterbitkan juga oleh Kanisius dan Erlangga), atau disamarkan dalam fiksi seperti Dunia Sophie (Jostein Gaarder.) Saya mengidam: alangkah senang bila punya The Story of Philosophy. Untuk sementara saya sudah senang dengan melihat-lihat lagi setiap kali ke Balepustaka, karena edisi Indonesia buku itu disimpan di ruang referensi yang hanya bisa dibaca di tempat.

Balepustaka mengusung tema PUSPAWARNA PUSTAKA--Keberagaman untuk Semua selama merayakan WORLD BOOK DAY BANDUNG 2009. Bekerja sama dengan Dipan Senja, mulai Maret-April lalu mereka menyelenggarakan Workshop Buku ‘5 in One’: Basic Writing, yang membahas berbagai aspek dasar penulisan fiksi dan nonfiksi dengan pemateri Adenita, Anjar, Anwar Holid, Evi Sri Rezeki, Hermawan Aksan, Kurniasih, Leo, dan Meldi Rendra. Puncak acara hari ini diisi dengan talkshow tentang film dan toleransi agama, ditambah pemutaran enam film bertema sama.

Perpustakaan Balepustaka berlokasi di Lt. 2 Gedung Pastoral Keuskupan Bandung, Jalan Jawa No.6. Gedung ini ada di kompleks Gereja Katedral. Perpustakaan ini terbuka untuk umum, menyediakan banyak buku dan majalah, termasuk film, musik, dan layanan Internet. Fasilitas di gedung ini juga memadai. Balepustaka bisa memenuhi kebutuhan orang akan bacaan umum yang beredar sekarang. Mereka langganan banyak majalah dan koran umum, misalnya Bobo, Femina, Basis, dan Pikiran Rakyat. Bagi saya, Balepustaka merupakan alternatif terbaik setelah Rumah Buku. Dari Balepustaka saya pinjam banyak buku manajemen, self help, agama, psikologi, dan yang tak disediakan Rumah Buku.[]

Anwar Holid, bekerja sebagai editor, penulis, & publisis; eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung. Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.

Di posting lain, artikel ini berjudul "Ngidam The Story of Philosophy di Hari Buku Dunia."

KONTAK TERKAIT:
Perpustakaan Balepustaka
Lt. 2 Gedung Pastoral Keuskupan Bandung
Jalan Jawa No.6 Bandung

Telp: 022-4207232

Dipan Senja
Jalan Bojong Kaler 37 B
022 - 70990497
http://lawangbuku.multiply.com