Showing posts with label Esai. Show all posts
Showing posts with label Esai. Show all posts

Friday, April 17, 2026

Juned, Rubin, dan Filter Informasi 

Oleh: Anwar Holid 



Juned berdiri di depan rak sebuah toko buku impor di mal dekat tempat tinggalnya. Dia sengaja ke sana karena sudah beberapa bulan tidak mampir ke toko buku, tempat favoritnya, meski sangat selektif sebelum memutuskan beli. Matanya melongo waktu melihat sebuah buku di area yang dikasih tanda 'Non-Fiction - Best Seller.' Hard cover. Desain sampulnya simpel, tapi sangat kuat. Berwarna putih pudar, hanya ada lingkaran dengan titik di tengah. Di kanan atas tertulis: The Creative Act: A Way of Being. Di kanan bawah tertulis: Rick Rubin. Gambar itu langsung mengingatkannya pada CD atau piringan hitam. Pada target atau fokus. Sementara di sampul belakang hanya ada lingkaran tanpa titik, tanpa sinopsis, tanpa endorsement.

Ia ambil buku itu. Dipegang-pegang. Perasaannya meronta-ronta. Segera ia tertarik. Kebetulan sudah tidak dibungkus plastik. Lembar-lembar halaman ia buka-buka dan matanya berusaha mencerap isi dalam sekejap. Juned terpaku sejenak, bibirnya seperti senyum-senyum tanpa ada yang meminta. Waktu di toko buku itu seakan melambat. Istri Juned yang ada di sampingnya memperhatikan tingkahnya. Ia ikut melirik buku yang dibuka-buka Juned. Ia penasaran apa yang membuat suaminya langsung tertarik pada buku itu. Lantas beberapa saat kemudian waktu pecah. Mereka bertatapan. Juned menoleh pada istrinya.

"Apa??" kata dia sambil tersenyum, "kamu tahu Rick Rubin enggak?" Telunjuknya mengarah pada tulisan nama yang tertera di sampul.

"Enggak. Emang siapa dia?" tanya istrinya dengan nada polos.

Juned tertawa kecil, lalu berkata, "Sayang kan lagi tahu banyak banget tentang Ammar Zoni, dari A sampai Z. Sementara aku cuma dengar namanya, tahu sekilas soal skandalnya. Nah, aku tahu jauh lebih banyak tentang Rick Rubin daripada kamu."  Suara Juned terdengar puas. Istrinya mesem sambil tertawa kecil. Ucapan Juned tambah bikin ia penasaran.

"Memang siapa Rick Rubin?" tanyanya lagi.

Juned tertawa lebar. Istrinya makin aneh melihat Juned. Juned gembira ada sesuatu yang dia ketahui cukup banyak, tapi istrinya tidak tahu apa-apa tentang hal itu. Lantas Juned menyadari betapa topik yang menarik perhatian mereka berdua ternyata bisa sangat berbeda, meskipun mereka hidup bersama.



Juned pertama kali tahu nama Rick Rubin lebih dari 30 tahun lalu, saat ia baru dewasa dan suka membaca kredit informasi di sampul album-album musik favoritnya. Rubin adalah produser musik legendaris dengan reputasi luar biasa di industri musik dunia. Ia dikenal karena pendekatan produksinya inovatif. Ia membantu menciptakan album-album ikonik dan hebat dari berbagai genre, mulai dari rock, hip-hop, hingga heavy metal. Banyak musisi/band yang pernah bekerja sama dengan Rubin ialah favorit Juned, seperti The Cult, Slayer, Red Hot Chili Peppers, Audioslave, Metallica, Linkin Park, dan lain-lain. Daftar panjangnya silakan cek di Wikipedia. Rubin bahkan memproduksi album Adelle, penyanyi pop yang lagunya sering tak sengaja didengar Juned meski dia tak menginginkannya. Album terakhir Black Sabbath juga diproduseri Rubin.

Bagi Juned, Rubin adalah sosok yang merevolusi cara musik diciptakan. Karena itu begitu melihat
The Creative Act, Juned langsung merasa terikat. Bisa dibilang Rubin identik dengan album berkelas. Grammy Award dan ulasan critically acclaimed adalah buktinya. Meski tidak lepas dari kritik atau kontroversi, Rubin bersih dari skandal murahan. Trivia yang pernah Juned dengar tentang Rubin cuma ketika dia menahan Dave Lombardo agar tidak ke luar dari Slayer dengan memberinya bonus mobil dan melunasi kebutuhan hidupnya.

Juned heran bila seseorang jadi berita viral karena skandal, entah cekcok perkawinan, seks, kriminalitas, atau narkoba. Lebih aneh lagi ada banyak orang mengonsumsi berita itu seperti pil yang harus diminum tiga kali sehari. Padahal seseorang lain berada di luar radar perhatian berkat kerja hebat di belakang layar. Apa orang seperti Rubin sembunyi di balik studio dan membiarkan agar karyanya saja yang bicara?

Istrinya merasa penting untuk terus mengikuti berita dan komentar netizen tentang kasus yang dialami selebrita, sehingga membentuk pengetahuan 'secara utuh' dari berbagai sudut pandang. Tapi, bagi Juned itu adalah sampah, tak lebih dari informasi liar tanpa ada validasi antara yang jelas dan prasangka. Sebaliknya, pengetahuan tentang peran dan idealisme seseorang seperti Rick Rubin dinilai berharga bagi Juned, tapi tak berarti apa-apa bagi istrinya. Juned membatasi diri dari berita selebrita, sementara istrinya justru menelisik lebih dalam. Istrinya lebih suka menyerap info tentang resep, cara memasak dan membuat kerajinan, sementara Juned lebih suka membaca tulisan-tulisan panjang di WAG yang diikutinya.

Fenomena Juned dan istrinya membuktikan bahwa setiap orang memiliki minat pada informasi yang berbeda, meski mereka hidup bersama dan berbagi rutinitas. Ada informasi yang tidak beririsan dalam kehidupan mereka. Informasi yang dinilai berharga bagi seseorang bisa tidak berarti bahkan bagi orang terdekat sekalipun. Setiap individu memiliki filter informasi sendiri, memilih apa yang ingin diserap berdasarkan minat, pengalaman, atau sesuatu yang sedang dicari. Peluang inilah yang diolah dan terus diproduksi oleh penulis atau konten kreator, sementara platform berita dan media sosial memancing selera dan pilihan berdasarkan algoritma sampai muncul di beranda. Keputusan terakhir ada di tangan pemirsa.[]

 

Anwar Holid, bekerja sebagai editor dan penulis. Blog: halamanganjil.blogspot.com. IG: @anwarholid.

 

Tuesday, February 27, 2024

Keutamaan The Message Of The Quran

Oleh: Anwar Holid

 

Foto: Wartax.


Pada awal Januari 2024 aku baru sempat mulai baca buku The Message Of The Quran karya Muhammad Asad (Leopold Weiss) seiring aku meneruskan ngaji Al-Qur’an masuk ke juz dua puluhan dan kini mulai baca juz 26. The Message Of The Quran merupakan salah satu buku paling tebal (1396 hal.) dan paling mahal yang pernah aku beli — itu pun aku pesan lewat ordal Mizan. Meski dulu waktu menerima semangat membuka-buka dan sempat membaca review Ulil Abshar Abdalla atas buku ini, ternyata buku ini akhirnya cukup lama cuma jadi pajangan yang jarang ditelisik dalam-dalam.

 

Waktu mulai cukup intens membaca The Message Of The Quran, aku langsung kagum dengan kejernihan dan kekuatan makna tafsir Al-Qur’an yang diungkapkan penulis. Terjemahan Al-Qur’an di buku ini memberi dimensi dan pencerahan baru dari pengetahuan yang selama ini aku baca dari terjemahan Al-Qur’an standar Departemen Agama, baik berupa tafsir terjemahan di samping ayat bahasa Arabnya maupun terjemahan kata per kata. Tentu pemahaman baru tersebut muncul berkat kualitas terjemahan yang tersampaikan dengan baik dan memuaskan. Sering Muhammad Asad menggabungkan beberapa ayat jadi satu paragraf, sehingga membuat pesan Al-Qur’an menjadi terasa lebih utuh dan lebih jelas dipahami bagi pembaca awam. Ini berbeda dengan penyajian Al-Qur'an standar Departemen Agama yang menampilkan terjemahan ayat demi ayat, sehingga kadang-kadang muncul pikiran bahwa isi ayat Al-Qur'an bisa sangat sendiri-sendiri dan terpisah dari inti surat secara keseluruhan.

 

Yang sangat menakjubkan dari Muhammad Asad ialah keluasan wawasan ilmu, pengetahuan, pertimbangan (moderasi), termasuk kedalaman bahasanya. Kualitas Asad ini tecermin dengan sempurna dari catatan kaki bukunya. Di catatan kaki ini beliau mengungkapkan secara luas sekali khazanah keilmuan, baik dari segi sejarah, kejelian memilih makna, serta komentar dan memberi  informasi berharga untuk memahami setiap ayat Al-Qur'an. Secara khusus dia melampirkan dan membahas empat hal pelik yang selama ini sangat penting untuk dipahami setiap pembaca Al-Qur'an, yaitu simbolisme dan alegori (majasi) dalam Al-Qur'an, al-muqaththa'at (huruf-huruf terpisah, seperti alif lam mim), istilah dan konsep jin, terakhir mengenai isra' mi'raj.

 

**

Seorang teman di WAG mengomentari The Message Of The Quran: Ini juga terjemahan favorit saya. Tapi, belakangan setelah lebih banyak belajar, saya mulai agak kritis membaca terjemahan Muhammad Asad ini. Yang perlu diingat adalah bahwa Muhammad Asad menafsirkan, bukan sekadar menerjemahkan. Sebagian besar terjemahan ayatnya sudah melalui proses penafsiran.

 

Untuk yang terbiasa dengan bacaan “sekuler”, terjemahan Asad ini sangat nyaman dibaca karena banyak bagian-bagian Al-Qur’an yang sifatnya di luar nalar diterjemahkan menjadi lebih rasional. Misalnya Al-Mulk ayat 5 yang umumnya diterjemahkan sebagai bercerita tentang bintang-bintang sebagai pelempar setan, oleh Asad ditafsirkan sebagai bintang-bintang sebagai bahan tebakan/ramalan oleh pengikut setan (ahli nujum).

 

Sebaliknya, terjemahan Asad ini mungkin tidak cocok bagi pengikut tasawuf. Setelah membaca-baca Futuhat al Makkiyah, saya baru paham bahwa Ibnu Arabi menerjemahkan ayat-ayat Al-Qur'an secara literal, tapi dengan takwil yang masuk entah ke akal atau ke hati.

 

**

Sekadar komentar, banyak pasase di The Message Of The Quran merupakan rangkaian panjang kalimat yang beranak-pinak dan berkoma-koma, sehingga berisiko bisa melelahkan pembacaan. memang dengan pembacaan yang hati-hati kalimat sangat panjang itu tidak membingungkan atau terasa janggal, hanya saja terasa kurang efektif.

 

Mungkin aku tidak akan bisa segera menamatkan buku ini, namun aku merasa bisa menikmatinya secara optimal tiap kali membacanya.

**
Note:

Sekilas tentang Muhammad Asad (Leopold Weiss): Muhammad Asad lahir pada 2 Juli 1900 di Galicia,  sekarang bagian dari kota Lviv, Ukraina — dulu bagian dari Kekaisaran Austro-Hongaria). Dia studi di bidang filsafat dan sejarah seni, sempat menjadi asisten perintis film (Dr. Murnau) dan genius teater (Max Reinhardt), di Berlin. Pada 1922, Asad menjadi reporter harian Frankfurter Allgemeine Zeitung, kemudian menjadi koresponden untuk negara Timur Dekat. Berkat kesan mendalam dari pengembaraannya di negara-negara Islam Timur Tengah dan Asia Tengah, dia memeluk Islam pada usia 26 tahun. Pada 1952, Asad ditunjuk mewakili Republik Islam Pakistan di Markas Besar PBB di New York sebagai Duta Besar Berkuasa Penuh. Asad wafat pada usia 92 tahun di Granada, Spanyol. Ketika menulis The Message of the Quran, dia sampai perlu tinggal bertahun-tahun dengan suku Badui Arabia demi memperoleh wawasan unik tentang semantik bahasa Al-Qur'an. Orang-orang Arab Badui memang masih banyak menggunakan bahasa Arab seperti yang dipergunakan dalam Al-Qur'an. Beberapa karyanya yang lain: The Road to Mecca, Islam at the Crossroads, The Principles of State and Government in Islam, dan Shahih Al-Bukhârî: The Early Years of Islam. Sumber: Mizanstore.[]

Tuesday, October 04, 2022

Gowes dan Khatam Al-Qur'an

Oleh: Anwar Holid

 

Pada Desember 2021 aku menargetkan khatam Al-Qur'an pada Mei 2022 (akhir Ramadhan 1443 H). Waktu itu aku indekos di Paseban, Jakarta Pusat. Indekos di situ merupakan pengalaman mengesankan, karena kosan itu memberi layanan sarapan dan makan malam, cuci-setrika, ditambah Wi-Fi (bagi yang mau). Di kosan itu hidupku simpel, tak kerepotan mencuci, setrika, bebersih di luar kamar, cari makanan, masak, dan lain-lain. Aku bisa mengisi waktu luang melakukan yang aku inginkan, seperti olahraga ringan dan baca Al-Qur'an, baik pagi sebelum berangkat kerja atau petang setelah kerja. Di kosan ini aku sempat khatam Al-Qur'an meneruskan daras sebelumnya.

                Baru sebentar ngekos di Paseban tempat kerjaku pindah kantor ke Bintaro, Tangerang Selatan. Di sini aku menempati kamar belakang kantor. Tinggal di kantor yang paling bikin sibuk ialah harus cuci-setrika sendiri dan cari makanan. Kalau mau londri harus ke luar kompleks kantor. Warung paling dekat kantor sekitar 1 km bolak-balik. Tak lama kemudian aku dapat rekomendasi katering. Jadi buat makan siang dan malam tak repot lagi.

                Bintaro adalah kawasan elite. Lingkungannya makmur, maju, tertata rapi, dan nyaman. Jalan-jalan besar beraspal mulus. Pinggiran kawasannya pun bisa dibilang rapi dan bagus, tapi masih banyak sampah berserakan di pinggir jalan dan sebagian ruas jalannya bocel-bocel. Jalan yang bagus dan tidak sangat padat lalu lintas waktu pagi membuat hobi gowesku tersalurkan dengan baik di kawasan ini. Bagi komunitas goweser, Bintaro terkenal dengan Bintaro Loop, yaitu gowes bolak-balik sepanjang Jalan Boulevard Bintaro sekitar 25 km. Rute Bintaro Loop nyambung ke kawasan elite lain di sekitar Tangerang Selatan, seperti Graha Raya, Alam Sutera, BSD, dan Mozia yang memberi kenyamanan lebih bagi pesepeda, terutama pengguna sepeda balap.

                Begitu tinggal di Bintaro hobi gowesku jadi terasa optimal. Hampir setiap pagi aku gowes sekitar satu sampai satu setengah jam. Setelah salat subuh dan beres-beres biasanya aku langsung siap-siap gowes. Aku lebih suka gowes di pinggir kawasan utama Bintaro daripada ke Bintaro Loop. Sebabnya jelas: aku tidak bisa ngebut. Kecepatan rata-rataku di bawah 20 km / jam. Lagi pula gowes ke pinggir kawasan Bintaro lebih berkelok-kelok, variatif, dan jarang berpapasan dengan mobil ngebut. Saking rutin, sejak di Bintaro aku beberapa kali berhasil memenuhi tantangan Strava gowes 800 km atau paling sering 400 km per bulan. Tanpa disadari rutinitas dan disiplin ternyata bisa menghasilkan kejutan.



                Kebiasaan gowes pagi di Bintaro segera menghapus kebiasaanku mengaji habis subuh waktu di Paseban. Akibatnya kemajuan ngajiku tersendat. Memang habis magrib aku berusaha rutin ngaji, tapi biasanya sebentar, hanya sampai menjelang salat isya tiba. Sementara sebelum magrib aku pun kadang-kadang gowes sore setelah kerja atau memilih segera ke Masjid Raya Bintaro Jaya (MRBJ) untuk membaca surat-surat tertentu sesuai keinginan sampai azan berkumandang, tidak meneruskan bacaan sebelumnya. Surat yang suka aku baca di antaranya Ar-Rahman, Al-Mulk, Al-Kahfi, dan Yasin.

                Kebiasaan baru membaca surat-surat tertentu ini mungkin dipengaruhi oleh informasi bahwa surat tersebut memberi berkah, fadhilah atau kemuliaan tertentu bagi pembacanya. Kurang jelas kenapa aku jadi terpengaruh dan tertarik oleh iming-iming berkah. Dari dulu aku kurang tergerak oleh iming-iming semacam itu. Mungkin aku kurang beramal baik, akhirnya jadi ngarep betul pada limpahan berkah. Mungkin ada yang berubah dalam diriku. Mungkin anjuran dari pengajian yang kadang-kadang aku hadiri. Mungkin dari posting wag yang aku ikuti. Mungkin dari lini masa yang melintas di media sosial.

                Karena lebih semangat dan disiplin gowes daripada rutin ngaji, khatam Al-Qur'an baru kelar pada Muharram 1444 H, padahal targetnya akhir Ramadhan 1443 H. Selain gowes, yang bikin aku tersendat melanjutkan baca Al-Qur'an ialah mengerjakan urusan sehari-hari, seperti cuci setrika, cari sarapan, dan beres-beres. Rasanya lama sekali upaya menamatkan Al-Qur'an periode kali ini. Terasa betul gowes lebih prioritas daripada upaya memahami kedalaman Al-Qur'an. Pasti karena gowes lebih mudah dan menyenangkan dilakukan daripada baca Al-Qur'an. Ironik dan mengenaskan. Seorang muslim bisa menjawab tantangan gowes 400 km per bulan, tapi kesulitan menamatkan beberapa juz Al-Qur'an dalam sebulan. Sungguh terlalu. Waktu sampai Juz Amma baru hadir rasa lega dalam diriku. Alhamdulillah, sekarang aku pelan-pelan jalan menyelesaikan juz-juz awal mengulang dan berusaha menamatkan Al-Qur'an.[]

Anwar Holid, tinggal di Bintaro, Tangerang Selatan. Blog: halamanganjil.blogspot.com. Twitter: @nwrhld. IG: @anwarholid.

Thursday, May 12, 2022

Mudik Fisik dan Spiritual

Oleh: Anwar Holid

 

Waktu kecil aku tak tahu apa itu mudik. Yang aku tahu ialah mau ketemu saudara sepupu. Karena tinggal bareng uwak, aku bisa Lebaran di Bandung, Tasik, Kuningan, atau Cijulang, Pangandaran. Tergantung mayoritas keluarga orangtua mau ngumpul di mana. Tak mesti ke Lampung, tempat tinggal orangtuaku. Jadi pas Lebaran aku belum tentu ketemu orangtua. Tergantung mereka mau kumpul bareng keluarga di Jawa atau dengan keluarga ibu di Lampung. Yang pasti, Lebaran = liburan. Suasana menyenangkan karena banyak main, ngabuburit, jalan-jajan, ketemu saudara, baik yang seumuran atau lebih tua. Dikasih hadiah. Puncaknya dapat angpau pas Lebaran.

Lebaran bareng saudara mematrikan bahwa kita merupakan bagian dari keluarga besar. Meski mungkin sebagian saudara tidak akrab, itulah keluarga sedarah kita, yang kita andalkan atau mendampingi di saat tertentu, misalnya saat kawinan, butuh bantuan, dan kematian.

 

Jalan Melaris, Lampung Timur.

Baru setelah dewasa dan (pernah) nikah, aku merasa perlu mudik. Baik ke orangtua atau mertua. Kalau tak mudik dianggap aneh. Padahal menurutku tak mudik sebenarnya baik-baik saja. Kita kan sudah punya keluarga sendiri, ngapain repot kumpul bareng keluarga lain?? Tapi ya jelas mudik punya manfaat, nilai, dan budaya sendiri, termasuk berdampak ekonomi besar. Mudik itu seru dan menyenangkan bagi anak-anak (keturunan baru), sebagaimana dulu aku juga gembira diajak mudik.

Cuma jujur ada yang aku kurang suka dari mudik. Ribet, desak-desakan, bawa gembolan, harga-harga mahal, tuslah — mungkin juga muntah, calo, kecopetan, termasuk kecelakaan mematikan. Orang bisa kelelahan dan tidur di terminal buat mudik. Di masa lalu cerita soal mudik kerap lebih dramatik, ketika moda transportasi masih belum tertata dan maju. Orang bisa berhari-hari di perjalanan sebelum tiba kelelahan sekaligus lega. Tahun lalu ada berita orang rela menyelundup di bagasi bus demi bisa mudik waktu pemerintah melarang mudik di puncak pandemi Covid-19. Apa coba poin dari mudik seperti itu?? Kangen yang membludak ke orang-orang tercinta, hingga tak tertahankan lagi? Atau karena sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi di perantauan, kehilangan usaha dan harapan, jadi lebih baik mudik saja? Aku pernah berdiri di bus ekonomi dari Merak ke Bandung, saking penuh dan malas menunggu lebih lama lagi — itu pun belum tentu dapat kursi. Itu bukan pengalaman menyenangkan waktu mudik dan arus balik. Yang juga ganjil waktu mudik ialah rasa canggung ketemu orang-orang lama yang dulu dekat, tapi karena tak pernah kontak lagi jadinya bingung mau ngobrol apa setelah ketemu, selain sekadar update status.

 

Apa mudik seperti ini yang Anda inginkan?? (Foto  dari internet.)

Dulu sebelum era sosial media tiap mudik aku bawa beberapa buku. Biasanya pilih yang tebal, karena kegiatan selama mudik juga minim. Mudik memberi waktu luang untuk bisa menghabiskan sejumlah buku yang tak sempat didalami karena tersita rutinitas dan kesibukan lain. Kegiatan yang paling sering ialah mengunjungi sanak famili, menguatkan lagi tali silaturahmi. Puncaknya berupa pertemuan keluarga besar satu bani atau arisan.

Mudik terakhir sebelum pandemi (2019) aku hanya bawa satu buku tebal, sisanya banyak baca sosial media dan ikut nyemplung. Yang mengesankan malah aku menyortir biji kopi mentah (green beans) jualan ibuku. Itu biji kopi murahan, banyak yang belah. Menyortir kopi dengan tangan butuh kesabaran dan ketelitian, sementara hasilnya sedikit. Mendapat biji kopi yang baik dan layak konsumsi butuh waktu lama. Harus dipilih, disangray, dibubukkan lebih dulu, baru kita dapat kafein dan aromanya. Kopi butuh proses panjang sebelum akhirnya diseduh atau diolah jadi minuman favorit.

Di era teknologi informasi mudik terasa lebih tergesa-gesa datangnya. Tiket untuk perjalanan masa libur panjang sudah diperebutkan jauh sebelumnya. Bikin harga jadi mahal. Memang orang tidak berdesak-desakan antre di depan loket, tapi keluhan kehabisan tiket tetap ada atau dia terpaksa bayar lebih mahal untuk mendapatkannya. Mirip dengan kondisi lama.

Dari dulu aspek yang kerap muncul saat mudik ialah pamer alias flexing. Mungkin orang pamer dengan harta, bawaan, dan kendaraan. Tapi curiga bahwa seseorang pamer menurutku problematik. Orang bisa bawa banyak barang untuk dibagi-bagi atau disumbangkan ke kerabat dan orang yang berhak. Orang bawa kendaraan mewah karena memang mampu dan demi kenyamanan perjalanan. Ia berhak, layak atas keberhasilannya, dibawa ke kampung tanpa maksud pamer. Mungkin pamer baru terasa kalau sikap orang itu sombong dan terus-menerus membanggakan pencapaiannya.

Rumah Tetangga.
 

Karena berbagai sebab sebagian orang tak bisa mudik. Mungkin dia kena musibah, kurang uang, atau terhalang karena terikat kontrak yang melarang mudik. Tenaga kerja Indonesia ada yang baru boleh mudik setelah dua atau lima tahun kerja di negara-negara Arab. Belum lagi biaya pasti mahal. Bayangkan kita sendiri yang mengalaminya. Mungkin terlalu berat buat ditanggung. 

Sebenarnya makna apa yang kita dapat saat mudik? Apa jeda dan reda dari rutinitas panjang? Apa kerinduan dan kelegaan bisa bareng orang-orang yang tulus kita cintai dan hormati? Atau pengingat betapa seseorang pasti punya tempat asal, meski belum tentu bakal jadi kampung terakhirnya. Waktu Nabi Muhammad mendatangi kota Mekkah setelah meninggalkannya 10 tahun, beliau tidak bermaksud kembali untuk mudik, melainkan 'membebaskan.' Beliau juga tidak memutuskan tinggal lagi di sana, tapi kembali ke Madinah yang telah menerima dengan ramah dan menjadikannya sebagai kampung halaman baru hingga meninggal dunia.

Mudik bisa jadi bermakna ruhaniah (spiritual) yang tak butuh hal-hal fisikal. Mudik seperti ini bertujuan menenangkan diri, mundur dari segala yang bersifat duniawi, upaya mendekatkan diri pada Allah dan mencapai kesempurnaan diri. Saking kangen, teman fowesku Agus Kurniawan bilang begini: 'Aku kadang rindu mudik ke asal ruh-ku. Mungkin luar biasa bisa melakukan perjalanan ruhani kayak Rasulullah, Buddha Gautama, atau Santo Agustinus.' Bernas!!![]

Anwar Holid aka Wartax, tinggal di Tangerang Selatan. Blog: halamanganjil.blogspot.com. Twitter: @nwrhld. IG: @anwarholid.

Monday, October 04, 2021

Kisah Tutupnya Warteg di Tegallega

Oleh: Anwar Holid 


Warteg langgananku di samping lapangan Tegallega, Bandung sudah sekitar dua bulan tutup. Waktu beberapa kali aku datangi sehabis kerja, warung ini tutup terus tanpa ada pengumuman di dindingnya. Biasanya kalau mereka libur ada pengumuman kapan mereka akan buka lagi. Aku tanya juru parkir yang mangkal di situ kenapa warung nasi ini tutup saja, mereka jawab, 'Duka a, teu teurang,' — entah mas, gak tahu.


Karena tutup lama, aku sangka mereka habis kontrak dan tidak memperpanjang, atau kena imbas pandemi Covid-19 — entah pelanggan jadi sangat turun, peraturan yang menyulitkan pedagang dan pembeli, atau amit-amit mereka terpapar penyakit mengerikan ini sampai berhenti beroperasi. Kadang-kadang aku sengaja lewat warteg itu sekadar buat ngecek apa mereka beneran tutup atau buka lagi.


Kadang-kadang pas makan di situ aku ngobrol dengan pemiliknya, sepasang suami-istri. Si istri perhatian sama rasa makanan dan nutrisi, sementara si suami suka mendengarkan khutbah di YouTube — meski mereka tetap mengumandangkan dangdut koplo agar suasana terus ceria. Mereka membolehkan aku bawa nasi, jadi aku cuma beli sayur dan lauk. Aku juga sering makan tanpa nasi — kebiasaan yang suka dianggap aneh oleh pelayannya, namun tidak oleh si istri.


Setahun lalu deretan toko persis di samping warteg itu terbakar ludes. Yang menakjubkan warteg itu tidak terjilat api, meski waktu kejadian mereka pun panik menyelamatkan diri dan mengeluarkan barang-barang. Betapa mereka bersyukur lolos dari kejadian mengerikan itu. 


Pas tadi pagi lewat sana, aku lihat warteg itu ternyata buka. Langsung saja aku mampir. Awalnya aku mau cari keringat mengitari lapangan Tegallega. Tapi pas masuk tak ada wajah yang aku kenal. Apa mereka aplusan?? (Mereka tak pernah melakukannya selama ini.) Aku tanya mbak yang melayani aku.

'Mbak mengganti yang lama??'

'Iya.'

'Memang mas dan mbaknya ke mana??'

'Kecelakaan mas. Masnya patah kaki, pinggangnya hancur.'

Haduhhh... lemas aku dengarnya.

'Kecelakaan apa??' tanyaku prihatin. Aku duga tabrakan dan semacamnya.

'Masnya kan bantu pasang lampu di rumah mertua, gak tau gimana... dia jatooohhh.'

'Aduhhh.... ketimpa tangga juga??'

'Gak tau kalo itu.'

'Mbak ini sodaranya?'

'Iya mas. Keponakannya orangtua si mbak.'

'Sekarang gimana kondisi masnya?'

'Masih belum bisa jalan. Berdiri aja harus dibantu. Dirawat istrinya.'

'Sekarang di Tegal?'

'Iya mas.... tadinya dari sini sempat diobati ke rumah sakit di Solo, terus dibawa pulang ke kampung.'

Foto dari internet.

Aku ngeri membayangkan kecelakaan itu. Musibah dan takdir, siapa yang tahu?? Dulu mereka lolos dari bencana, sekarang harus menerima kenyataan gawat. Aku sarapan di situ tetap tanpa beli nasi. Kepala jadi rada berat dengar musibah itu. Aku lihat stiker paguyuban persatuan pengusaha warteg Bandung. Semboyannya dalam bahasa jawa: _sedulur selawase,_ saudara selamanya. Semoga mereka kompak membantu rekan mereka yang lagi tertimpa musibah. Apa takdir dan peristiwa itu semacam koin yang salah satu sisinya bisa terlempar begitu saja, meski kita begitu hati-hati melakukannya?? Aku kecelakaan sepeda, gaji dikurangi atau telat dibayar, orang di-phk, honor dipotong, kerja keras tak dibayar, dipalak preman, dibohongi calon investor, ditipu orang yang bilang mau nyumbang, atau dirampok dengan kekerasan. Entah dari mana terlintas selarik lagu Ebiet G. Ade: 

anugerah dan bencana adalah kehendak-Nya 

kita mesti tabah menjalani 

hanya cambuk kecil agar kita sadar 

adalah Dia di atas segalanya...


'Apa mbak sering hubungan sama mas dan mbaknya?' tanyaku sambil bayar.

'Kadang-kadang aja mas.' 

'Semoga masnya cepat pulih dan sehat.'

'Iya mas. Makasih. Nanti kalau nanti aku kasih tahu ke mereka, dari siapa ya?'

'Bilang saja dari pelanggan yang bawa nasi sendiri,' jawabku.

Mbaknya Tertawa.[]

Anwar Holid, kerja sebagai editor dan penulis. Blog: http://halamanganjil.blogspot.com. Twitter: @nwrhld. IG: @anwarholid.


Wednesday, August 14, 2019

[halaman ganjil]

menikmati sakit
~ anwar holid



awal agustus 2019 ini aku dirawat di rumah sakit karena diare. aku sampai lemas, demam, pening, dan dehidrasi. setelah masuk igd, aku ditempatkan di kamar bersebelahan dengan seorang bapak yang sakitnya lebih parah. sepertinya beliau menderita komplikasi penyakit, entah kencing manis dengan kanker prostat atau apa. yang jelas ia kencing pakai selang dan kalau buang air besar pakai pispot. lantai di bawah ranjangnya selalu ada ceceran darah. selama aku dirawat, bapak ini hanya berbaring dan mengeluh atau sering mengerang minta tolong atau minta perhatian ke penunggunya. banyak yang dia keluhkan, terutama sakit yang ia rasakan. bentar-bentar dia meminta anaknya untuk membantu membereskan sesuatu di badannya atau apa saja yang salah dalam dirinya. sementara anaknya gampang tertidur, jadi susah dibangunkan.... dipanggil-panggil gak menyahut atau lekas bangun, sementara erangan si bapak tambah nyaring dan mengenaskan. kalau anaknya susah dibangunkan, dia merepet soal sakitnya, betapa dia dulu sudah mengurus dan membesarkan anak-anaknya... namun sekarang giliran dirinya butuh, anaknya malah malas-malasan menolongnya.
'dalam sakit', puisi sapardi djoko damono
di buku duka-mu abadi. [foto: anwar holid]

aku cuma mendengarkan tiap kali si bapak mengerang atau memanggil butuh sesuatu sambil mengeluhkan sikap anak atau orang yang mendampinginya. kalau kebetulan ke kamar mandi sambil bawa infus, aku lirik bapak ini. dia meringkuk saja. dalam hati aku menyimpulkan, 'sakit si bapak ini jauh lebih parah dari sakitku.'

aku berusaha cepat pulih, menikmati istirahat dan perawatan, menghabiskan semua menu yang disediakan dan obat yang diberikan perawat atau disuntikkan via infus. aku juga menikmati kesendirian, melamun banyak hal... membayangkan hal-hal menyenangkan.😂😂

tiap kali mendengar perepetan atau erangan si bapak, aku membatin dan terkenang perbuatan yang pernah aku lakukan pada anak sendiri. apa aku ini tipe orangtua yang menuntut balas jasa ke anaknya??? aku juga pernah berbuat kasar ke anak-anak.😢 pernah menyakiti badan dan hati mereka, meskipun alasannya demi kebaikan atau pendidikan. mungkin banyak hal yang aku lakukan menyebalkan bagi anak-anak. contohnya kepo soal mereka. ya tentu saja aku kepo, persis karena mereka anak-anakku sendiri. jadi aku ingin memastikan mereka itu seperti apa. untuk urusan kepo saja aku sudah dianggap menyebalkan, apalagi urusan lain.

salah satu yang sering diminta bapak ini ialah dia ingin anaknya menghubungi saudara/orang-orang agar menjenguknya. anaknya terdengar ogah-ogahan tiap kali diminta menelepon saudara atau keluarganya, memberi tahu bahwa ayahnya sedang sakit parah dan mohon agar menjenguknya. mungkin karena dia gak akrab atau kenal dengan orang yang dihubunginya. aku membatin, kenapa ya bapak ini ingin dijenguk banyak orang?? apa sakitnya gak tertanggungkan lagi? apa itu isyarat menjelang akhir hayatnya?? apa dia ingin membagi rasa sakit ke orang-orang terdekatnya?? apa dia mendapat dukungan, penghiburan, dan energi positif dari orang-orang yang menjenguknya???

aku 'menikmati' rasa sakit sendirian. orang kedua yang aku hubungi saat masuk igd ialah kepala hrd tempatku kerja, untuk memastikan bahwa aku beneran sakit dan jangan sampai dipotong gaji karena dianggap mangkir kerja. aku merasa sudah terlalu tua untuk memberi tahu orangtua bahwa aku sedang sakit. aku cukup yakin bisa menghadapi rasa sakit sendirian. sakit itu bagian dari hidup, dan jika kita bisa mengalahkannya, insya allah pasti sembuh. aku kuatir jadi orang menyebalkan saat sakit. aku yakin perawat, dokter, rumah sakit, bpjs, juga satpam rumah sakit sudah melakukan hal sewajarnya untuk membantu kesembuhanku. makanya aku takjub ketika dijenguk teman gowes dan menerima banyak support dari mereka.

ketika sakit sudah pasti kita tak berdaya, pasti butuh pertolongan orang lain. orang-orang baik dan menyayangi kita pasti langsung menolong dan kuatir atas keadaan kita, tak perlu lagi dibebani dengan rengekan yang terdengar mengenaskan atau malah menyebalkan. kata teman gowesku, cara orang menghadapi sakit memang beda-beda. ada yang merengek, meratap, meraung, diam menahan, atau coba mengembalikannya ke tuhan. intinya si pasien ingin mendapat kekuatan menghadapinya.

setelah tiga hari dirawat, dokter bilang aku boleh pulang. aku sungguh semangat. si bapak itu masih rutin dikunjungi perawat dan dokter. mereka terdengar jengkel ke si bapak, karena banyak menyisakan makanan dan obat yang mestinya jangan sampai telat dihabiskan. aku masih sulit melupakan soal beliau.... meskipun beberapa hari berselang sehabis kepulangan dari rumah sakit itu aku ikut gowes bareng kawan-kawan  ke gunung patuha - kawah putih. [wartax, 7/8/19]

Monday, January 23, 2017

Membangun Benda Mati vs Manusia 
Saran Untuk Debat Pilkada DKI 2017
--Ilham D. Sannang


Gara-gara diskusi soal "membangun manusia vs benda mati" dalam debat pilkada DKI Jumat lalu, saya jadi pingin nimbrung. 

Rumah ibadah adalah benda mati. Manusia adalah makhluk hidup. Mana yang lebih penting: membangun rumah ibadah atau membangun manusia?

Celana adalah benda mati. Manusia adalah makhluk hidup. Bersekolah adalah cara membangun manusia. Pilih mana: beli celana tapi gak bersekolah, atau bersekolah tanpa celana?

Gua batu adalah benda mati. Tapi, tanpa benda mati itu, hidup manusia purba akan susah: bisa kehujanan, kedinginan, masuk angin, sakit, lalu mungkin gampang mati. Begitu juga kapak batu adalah benda mati. Dan tanpa kapak batu, manusia purba itu akan susah berburu, bisa kelaparan, dan mungkin mati. Tanpa gua batu dan kapak batu (benda mati), manusia purba mungkin tidak akan pernah menjadi manusia modern.

Tapi, gua batu dan kapak batu---benda-benda mati itu---tentu bukan segalanya bagi manusia purba. Tanpa mempelajari alam, tanpa mempelajari diri sendiri, tanpa mengembangkan diri---singkatnya, tanpa pendidikan dan kebudayaan---tentu manusia purba akan selamanya jadi manusia purba, tidak akan berkembang menjadi manusia modern. Dengan akalnya yang berkembang pelan-pelan, manusia purba akhirnya lama-lama belajar menulis di batu. Batu-batu itu---benda-benda mati itu---menjadi sarana lahirnya kebudayaan dan zaman sejarah.

Jadi, buat apa mempertentangkan benda mati dan makhluk hidup?

Lama-lama, manusia menulis di atas kertas. Kertas adalah benda mati. Tapi, kertas berasal dari benda hidup: pohon. Buku adalah benda mati. Tapi, buku kedokteran bisa jadi alat untuk kehidupan. Begitu juga pisau bedah dan kamar operasi: benda-benda mati yang mendukung kehidupan.

Bangunan rumah, masjid, sekolah, rumah sakit, jalan, jembatan, kantor, bendungan, komputer, handphone, piring, sendok, toilet, pasar, tempat sampah, mobil, kereta, MRT, motor, pulpen, keran, sekrup, kabel, kondom, kacamata, celana, baju, dan lain-lain, semuanya benda-benda mati. Tapi apa jadinya kehidupan kita tanpa benda-benda mati itu?

Di sisi lain, dapatkah benda-benda mati itu (yang sudah jadi bagian penting dari hidup kita sehari-hari) diproduksi tanpa manusia-manusia pintar dan terdidik (tanpa membangun manusia)?
Ilustrasi dari Internet.

Jadi, buat apa mempertentangkan antara membangun benda mati atau membangun manusia?

Tidak ada satu pun calon gubernur yang menafikan pentingnya membangun manusia dan membangun infrastruktur dan benda-benda mati. Itu bukan pilihan A atau B. Sebab, kita butuh A sekaligus B. Kita butuh membangun manusia sekaligus membangun "benda-benda mati."

Jadi, supaya debat selanjutnya lebih berkualitas, lebih baik masuk ke detail dong: berapa yang akan dianggarkan untuk pembangunan infrastruktur transportasi massal, supaya macet Jakarta bisa dikurangi? Dari mana sumber pembiayaannya? Kalau macet berkurang, kan lebih cepat kita bisa pulang ke keluarga tersayang! Dan itu bagian penting dari pembangunan manusia lewat quality time bersama keluarga!

Berapa yang akan dianggarkan untuk gaji guru, bangun sekolah, Kartu Jakarta Pintar, dan lain-lain anggaran sektor pendidikan dan kebudayaan? Darimana duitnya? Bagaimana realisasinya? Kenapa serapannya rendah?

Berapa banyak yang dianggarkan buat perbaikan trotoar (benda mati), lahan parkir dekat stasiun (benda mati), menanam pohon (makhluk hidup), bikin jalur sepeda, zebra cross, lampu lalu-lintas, jembatan (benda mati lagi), supaya makin banyak yang nyaman berjalan kaki atau pakai transportasi umum atau bersepeda? 

Sudahlah, jangan memperdebatkan hal-hal umum yang sudah jelas .... mari masuk ke detail!

Jauuuuh sebelum debat pilkada DKI 2017, lebih dari 1400 tahun lalu, sudah diwahyukan kepada manusia begini: Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Demikianlah Allah... (Al-Quran 6:95).

Jadi, sudah lama kita tahu bahwa makhluk hidup bergantung pada benda mati, dan benda mati bergantung pada makhluk hidup. Benda mati dan makhluk hidup saling bergantung dalam siklus. Demikianlah alam ini dibuat oleh Sang Perancang. Jadi, tak perlulah kedua jenis ciptaan-Nya itu dipertentangkan. Kalau soal ini saja masih diperdebatkan, berarti selama 1400 tahun kita belum belajar apa-apa dooong...

Mari bicara angka, proporsi: apakah 1 unit rumah (benda mati) cukup untuk menampung 10 manusia (makhluk hidup)? Masih banyak orang Jakarta yang belum punya rumah (berapa banyak?) Kenapa unit apartemen masih banyak yang kosong, padahal tunawisma juga banyak? Apakah karena properti dijadikan ajang spekulasi dan investasi kaum berduit? Bagaimana solusinya? Dari mana anggarannya? Apa perlu ada pembatasan pembelian properti, atau pengenaan pajak progresif untuk properti ke-2?

Apakah 1 unit bangunan sekolah (benda mati) cukup untuk menampung 1000 siswa (makhluk hidup)? Masih banyak anak Jakarta yang belum bisa sekolah di gedung sekolah dan ruang kelas yang layak (berapa banyak?) Bagaimana solusinya? Dari mana anggarannya?

Apakah 1 km jalan (benda mati) cukup untuk menampung 1000 mobil yang berisi manusia (makhluk hidup) dengan nyaman? Jakarta masih macet. Bagaimana solusinya? Dari mana anggarannya?

Dan seterusnya, dan seterusnya....

Jadi, tolong berikan tawaran solusi yang konkret dong pak, bu!

Kalau bisa, sama konkretnya seperti lebih dari 1400 tahun lalu, ketika seorang peminta-minta mengemis kepada Sang Nabi, lalu Nabi justru memberinya solusi konkret berupa kapak (benda mati) supaya dia bisa mencari kayu bakar di hutan untuk mencari nafkah. (Di zaman sekarang, bisa bikin inkubator bisnis a la Sandiaga Uno atau budidaya ikan kerapu di pulau Seribu a la Ahok: ayo bandingin mana yang lebih logis).

Atau, berikan solusi yang sama konkretnya ketika para tunawisma diberi atap berteduh di selasar masjid nabawi (benda mati) di Madinah... (ini mungkin analog dengan pemberian BLT ala Agus, kalau memang tunawisma beneran dikasih BLT atau tempat nginep gratis oleh Agus....Gimana supaya BLT-nya gak dikorupsi? Mengingat kader dari partai pendukung zaman dulu terbukti banyak yang terlibat korupsi. Mau sampai kapan dikasih BLT? dan lain-lain, dan seterusnya.)

Ayo dong.....mbok ya debatnya yang konkret gitu lho, supaya nonton dan milihnya juga seru!

Kalau waktu debatnya terlalu sempit buat bicarakan teknis angka, kebijakan, strategi, dan lain-lain, boleh juga cagub-cawagub meng-upload versi panjangnya di Youtube. Jadi, milihnya kan lebih enak....

Yah?! Yah?! Yah?![] 17 Januari 2017

Ilham D. Sannang ialah seorang penduduk Jakarta. Bekerja sebagai editor dan penulis freelance.

Tuesday, January 03, 2017

jangan takut mencari bahagia dengan cara tak biasa
oleh anwar holid

'tau gak, hidup dia sekarang bahagia setelah nikah sama suami keduanya,' kata kawanku tentang seorang kawan perempuan kami.
'bahagia gimana?' tanyaku rada datar.
'yah pokoknya dia kelihatan senang. hidup makmur. rumah besar mentereng. sering liburan ke tempat-tempat impian, indah, dan terkenal. mobil ada. anaknya cantik-cantik. kayaknya gak ada kurangnya...' kawanku berusaha meyakinkan aku.
'emang suaminya kerja di mana sampai mereka bisa kaya begitu?'
'di perusahaan tambang minyak, di laut china selatan.'
'oh... mereka hidup pisah ya?' giliranku menebak.
'iya... ketemuan tiga bulan atau enam bulan sekali.'
'yaaaah... kasihan dong, gak tiap hari dapat pelukan dan ciuman suaminya, gak tiap hari tidur bareng atau minimal dapat senyuman kekasihnya,' aku mencoba meremehkan nasib kawan kami.
'halah... kamu! itu harga yang mereka bayar untuk mendapatkan kebahagiaan, tau!'
'oh, jadi kebahagiaan itu harus dibayar segitunya ya? aku pikir kebahagiaan itu tanpa syarat.'
'ya enggak lah. kamu aja sering bilang there’s no such thing as a free lunch.'
'terus gimana kamu bisa menjamin mereka bahagia? suami-istri hidup terpisah itu berat tau. bahkan bisa jadi menyengsarakan. bikin batin tertekan, interaksi susah, pas lagi dibutuhin gak ada, hubungan emosi dan seks juga lebih jarang. jadinya lebih terhadang. dan itu semua sangat mendasar dalam membangun kebahagiaan!'
'hahaha... barusan kamu bilang kebahagiaan itu tanpa syarat. sekarang kenapa kamu bilang itu semua penting sebagai pembentuk kebahagiaan?'
'loh... itu menurut orang. menurut studi. ada temuannya. aku mah yakin, kebahagiaan seorang presiden dan buruh itu kualitasnya sama, walaupun status sosial dan harta bendanya beda.'
'halah... teori! kebahagiaan seorang presiden pasti lebih tinggi kualitasnya dibanding kebahagiaan seorang buruh!'
'dari mana kamu yakin?'
'dari statusnyalah. keduanya jelas beda. raja mikirin bangsa dan negara, skalanya jauh lebih luas dan rumit; buruh memikirkan diri sendiri, skalanya kecil, mungkin lebih gampang terpenuhi. ada yang bilang... orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu itu beda. jadi aku yakin bahagia seorang presiden pasti beda dari pemulung.'
'apa kamu yakin presiden memikirkan bangsa dan negaranya? bukan kekuasaan, hawa nafsu, syahwat, atau kemasyhuran dan kepentingannya sendiri? kita aja sering kok segitunya mikirin kondisi dan nasib bangsa dan negeri ini, seolah-olah paling tahu cara menyelesaikan masalah bangsa dan masyarakat---padahal itu semua ada di luar kuasa kita.'
'udah, udah... kamu tambah ngelantur. lantas kenapa kamu sangsi bahwa hidup seseorang itu bahagia?'
'yah... karena kamu mengaitkan kebahagiaan dengan kepemilikan materi. padahal bisa jadi kedua hal itu gak nyambung.'
'kamu yakin ngomong gitu? buktinya kita kan sering menyangka bahwa orang berlimpah materi itu gampang kelihatan lebih senang? kebutuhan hidup lebih terpenuhi. lebih makmur. banyak orang bilang kebahagiaan membawa orang pada kemakmutan. kekuatirannya berkurang, gak gampang cemas, dibanding orang yang serba kekurangan. bahkan mungkin saja dia gampang berbagi dengan hartanya, menjadikan sebagian hartanya untuk menyenangkan orang lain. contohnya ya kawan kita itu....'
'yah... tapi kita juga kan gak tau kalo dia mungkin cemas soal utang-utangnya. mungkin dia mikir kenapa hartanya gampang sekali berkurang, padahal susah-payah didapatkan? aku sering lihat ada orang kaya yang dikit-dikit panik bila kekayaannya berkurang, usahanya merugi sedikit saja. jelas mereka gak rela kalo neracanya negatif. apa seperti itu orang bahagia?
sementara orang yang hartanya memang sedikit sudah gak cemas sama sekali soal itu semua, karena dia tak memikirkan yang tak dimilikinya. kebutuhan hidup orang kan lain-lain. sebagian orang mungkin lebih butuh harta; sementara yang lain mungkin saja lebih butuh hal-hal nonmateri, mungkin emosi, perhatian, kasih sayang.'
'itu namanya kamu membanding-bandingkan kebahagiaan seseorang dengan orang lain. padahal untuk bahagia orang harus menerima kondisinya tanpa pamrih. jangan membanding-bandingkan dirimu dengan orang lain.'
'ya memang... kebahagiaan itu soal mindset. cuma aku penasaran. kalo orang sering bilang bahwa kepemilikan materi tidak menjamin kebahagiaan nurani, tapi kenapa yang sering digembar-gemborkan dan duluan dikejar malah selalu kepemilikan materi? padahal kepemilikan materi tak bisa langsung diubah jadi kebahagiaan... apalagi kalo dibandingkan dengan kerja keras cara mendapatkannya. mungkin itu cuma bayaran setimpal. sementara aku rada yakin bahwa kebahagiaan itu sejenis dengan kepuasan batin. kepemilikan itu menurutku gak cenderung seiring dengan kebahagiaan kok... kita sudah sering lihat buktinya.'
'hehehe... mungkin itulah manusia. sering gak konsisten. bilangnya begini padahal maksudnya begitu. apa yang dicari beda dengan yang ditemukan. menyangka dengan punya kekayaan berarti menemukan kebahagiaan.'
'nahhh... itulah yang sering bikin aku sangsi sama orang yang dibilang bahagia. karena kita cuma bisa lihat luarnya. sementara dalam hati orang siapa tahu?'
'tapi gampang sinis atau terus-terusan sangsi sama kebahagiaan orang lain bikin kamu kayak sakit jiwa. kan pasti ada orang yang benar-benar bahagia di dunia ini. gak perlu restu kamu bahwa seseorang bisa bahagia!'
'hahahaha.... segitunya. tega kamu!'
'iyalah... kalo kamu gak bahagia bukan berarti gak ada orang lain yang bener-bener bisa merasakan kebahagiaan.'
'baiklah. aku cuma ingin bilang jangan menyeragamkan kebahagiaan seseorang satu sama lain. seolah-olah dalam kondisi yang sama otomatis melahirkan kebahagiaan yang sama. aku gak yakin kayak begitu.'
'ah dasar kamu ngeyel... pantes kamu kelihatan susah bahagia.'
'wkwkwkwk... bukannya sesuatu yang sulit diperoleh maka kadar bahagianya pun makin besar?'
'jadi kamu mau melecehkan bahwa kebahagiaan karena harta itu kadarnya rendah?'
'ya itu tergantung gimana seseorang menilai harta dan meletakkan kebahagiaan. kalo bagi dia kebahagiaan itu ada dalam setumpukan harta, dia pasti menghargai harta lebih dari segala-galanya... tapi kalau kekayaannya berkurang pasti langsung berkurang pula kebahagiannya. padahal menurutku kebahagiaan juga bisa didapat dari hal-hal kecil yang tak kalah esensial.'
'apa contohnya?'
'banyak. keramahan dengan teman kerja, bebas bilang apa saja ke bos atau klien, gak perlu kuatir mau bikin status apa pun di media sosial, toleran sama perbedaan... itu semua simpel kan? kalo kita cuma menganggap kebahagiaan itu ada dalam hal-hal besar, kasihan sekali aku yang cuma punya hal-hal sepele. '
'hahaha.... sekarang buktiin aja deh bahwa kamu bener-bener bisa bahagia dengan keyakinan itu, bukan sedikit-sedikit nyinyir atau sangsi bahwa kebahagiaan versi orang lain itu palsu atau malah gak ada.'
'yah... itu yang dari dulu ingin aku sampaikan. cuma aku gak bisa dengan gampang meyakinkan orang lain... jatuhnya malah jadi skeptis, atau lebih parah jadi debat dan sangsi. seolah-olah kebahagiaan itu susah dicari. padahal menurutku orang bisa bahagia dengan cara berbeda-beda, tertentu, atau malah gak biasa.'
'nahhh... kalo gitu akuilah bahwa orang memang bisa bahagia meski enggak sesuai dengan standarmu.'
'ah... orang gampang silau dengan nasib orang lain dan menyangka di situlah letak kebahagiaannya. padahal belum tentu. jangan menutup kemungkinan bahwa kebahagiaan bisa muncul dalam situasi yang gak terduga.'
'kalo gitu sering-seringlah bikin surprise sama orang lain biar bisa bahagia!'
'ah...... kalo itu sih namanya kamu ngarep!'

Foto: Wartax
pelan-pelan percakapan merendah. entah apa yang ada dalam pikiran kami masing-masing setelah jeda yang lengang itu. apa bersikukuh dengan kebahagiaan versi masing-masing atau membuka diri dengan kemungkinan baru bahwa bahagia bisa jadi menelusup ke lubang paling sempit di dalam hati seorang insan.[] 3/1/17

Friday, November 18, 2016


Frustrasi Melawan Frustasi
--Anwar Holid

Dulu saya baca Our Iceberg is Melting (John Kotter dan Holger Rathgeber) terbitan Elex Media Komputindo, 2007. Buku menarik ini berisi fabel modern tentang koloni penguin di Antartika dalam mengambil tindakan saat menghadapi krisis karena ancaman perubahan yang terjadi pada gunung es tempat mereka tinggal. Di buku itu saya menemukan kira-kira enam kali kata frustrasi. Sekali dieja tepat sebagai f-r-u-s-t-r-a-s-i, sisanya salah semua, yakni dieja sebagai f-r-u-s-t-a-s-i. Kebetulan sekali, entah kenapa buku terjemahan itu juga tidak mencantumkan editor, jadi tak ada pihak yang langsung harus bertanggung jawab atas keteledoran tersebut.
Contoh lain betapa kita kesulitan mengeja frustrasi ialah Ufuk Press menerbitkan novel berjudul Joey, Si Frustasi yang Beruntung (Mark Robert Bowden) dengan poin huruf mencolok. Ketika seorang editor mengulas buku itu pun, penulisan 'frustasi' ini pun luput dari perhatiannya. Berarti dia menganggap ejaan itu sudah benar. Di bidang musik, Ebiet G. Ade dan band Tipe-X sama-sama menciptakan lagu berjudul "Frustasi." Sementara di milis-milis berisi para penulis dan jurnalis pun anggotanya mudah menulis salah eja persis hal serupa. 

 
Tiap kali menemukan salah eja saat membaca, saya tertawa. Bersama seorang teman yang jeli dan juga mudah terganggu oleh salah eja, kami kerap mengolok-olok salah eja yang dilakukan penerbit, penulis, maupun lembaga pers. Kami menganggap salah eja mampu meruntuhkan kredibilitas, membuktikan bahwa mereka abai terhadap ejaan yang semestinya. "Bagaimana kami bisa percaya terhadap keseluruhan isi wacana itu, bila dalam hal mendasar saja mereka sudah salah?" demikian pikir kami.
Boleh jadi salah eja itu sederhana dan tidak begitu serius. Saya harus lebih santai terhadap kesalahan elementer dalam penulisan. Kadang-kadang kejengkelan atas kesalahan itu saya rasakan sebagai kerewelan atau sikap perfeksionisme berlebihan terhadap penulisan. Salah eja merupakan hal yang sangat umum, bahkan ada kala saya pun terpeleset melakukannya.
Nah, bayangkan bila lembaga penerbitan yang selama ini terkenal menetapkan standar tinggi dalam penerbitan dan berbahasa---misalnya Tempo, Kelompok Kompas-Gramedia (KKG), Mizan, dan Pikiran Rakyat, atau mereka yang terlatih agar berbahasa baik seperti editor, jurnalis, penerjemah, dan penulis---justru berkali-kali melakukan kesalahan. Apa kata dunia? Bukankah mereka memiliki gaya selingkung (house style), terus berusaha menambah wawasan dan mengembangkan bahasa Indonesia, termasuk rutin menyediakan kolom bahasa?
Karena menganggap keterlaluan sebuah penerbit besar melakukan kesalahan fatal, abai terhadap akurasi ejaan, saya terpikir barangkali kesalahan itu terjadi bukan gara-gara ketidaktahuan penerjemah, editor, atau proofreader, melainkan secara bawah sadar para pekerja buku itu menganggap yang benar memang frustasi, bukan frustrasi. Yang selip bukan lagi lidah atau tangan, melainkan pikiran.
Boleh jadi karena pengaruh budaya, aksen (logat), dan dialek, secara alamiah orang Indonesia kesulitan mengucapkan konsonan dobel, dan berkecenderungan menghilangkannya. Seperti orang Sunda terbalik-balik mengucapkan huruf 'p', 'v', dan 'f', orang Indonesia kesulitan mengeja frustrasi. Kata yang juga kerap salah pengejaannya antara lain ekspresi, transfer, transportasi, dan deja vu.
Ada apa dengan lidah dan ejaan kita? Ternyata sulit mendisiplinkan diri agar kita dengan tepat menulis dan mengucapkan frustrasi sesuai sumbernya. Apa ini tanda agar kita menerima "frustasi" sebagai ejaan yang benar (diterima) daripada kita terlalu mudah salah menuliskan maupun melafalkannya? Ini mirip dengan orang Malaysia yang dengan sadar memilih ejaan "moden" karena lidah mereka kesulitan mengucapkan "modern."
Usul menerima 'frustasi' sebagai ejaan yang baku berisiko akan menuai protes para editor, penulis, munsyi, dan penganut teguh EYD. Namun, perhatikan betapa lidah kita sudah terbukti lebih nyaman mengucapkan "potret" daripada ribet mengeja sesuai sumbernya, yaitu "portrait", yang terasa kurang praktis pengucapannya karena mengandung tiga dempet konsonan. "Potret" sudah diadopsi jadi kosakata resmi. Kita juga berhasil memapankan ucapan "buku" yang terdengar lebih luwes karena berakhiran vokal sebagai ganti "boek" atau "book." 
Tiada salahnya menggunakan ejaan yang terasa lebih mudah bagi lidah dan pengucapan kita sendiri. Sah-sah saja menyerap kebiasaan berbahasa yang lebih dulu tumbuh dan digunakan masyarakat, lantas memopulerkan dan membakukannya. Sejumlah kosakata asing diserap sesuai pengucapannya alih-alih penulisannya. Biar setelah ini kita berhenti merasa patut menertawakan salah eja yang sebenarnya bisa tidak fatal. Santai sajalah seperti orang di negara tetangga kita juga melakukannya.[]

Thursday, June 16, 2016



Kehilangan Momen Berbuat Baik 
Anwar Holid

Suatu pagi pas jalan ke pasar inpres, aku ditawari seorang laki-laki berwajah bingung dan memelas untuk membeli sekantung keresek beras. Dia bilang istrinya mau melahirkan dan tak punya cara lain mencari uang buat biaya persalinan, makanya menawari siapa saja yang ada di pinggir jalan. Aku minta maaf menolak membeli berasnya, bilang di rumah masih ada persediaan, dan sedang tidak berencana beli beras. Aku memang mau beli sejumlah kebutuhan keluarga, tapi tidak termasuk beras. Laki-laki itu berusaha terus meyakinkan dan membujuk, tapi aku tetap menolak. Raut wajahnya tampak makin sedih. Aku lihat kilatan matanya makin berair mengalir ke sudut, menggumpal mau jatuh jadi tangis. sambil melengos putus asa, dia bilang, 'Maaf... ini memang salah saya...'

Aku langsung nelangsa dengar itu dan memegang pundaknya sambil berkata, 'Bukan... itu bukan salah akang. Saya hanya enggak niat beli beras. Mungkin nanti ada orang lain yang mau beli beras akang. Maaf ya...' Dia mengangguk dan kami berpisah.

Aku membatin, aku percaya bahwa dia jujur atas kondisinya. Dia tak punya cara lain berusaha, sehingga berharap keberuntungan di pinggir jalan. Sementara aku tidak spontan membantu orang lain dan merasa kurang lapang. Aku pernah dalam situasi sulit serupa, dan tahu persis betapa mencari bantuan memang bisa sangat sulit. Sekarang saja aku tengah butuh biaya untuk renovasi rumah, pengen beli kamera, mau beli road bike, kadang-kadang dituntut beli barang yang lebih mahal lagi, membiayai macam-macam keinginan... tapi masih terlalu malas lebih giat mendulang rezeki. Aku merasa bahwa keperluan itu masih bisa ditunda. Padahal aku tak punya aset selain menawarkan jasa, memaksimalkan kemampuan dan kesempatan. Kejadian itu membuatku membatin, kenapa ya Tuhan mempertemukan aku dengan pria itu?

Kenapa aku tak langsung menolongnya dan terlalu keukeuh dengan rencana yang sudah disusun? Apa kalau aku beli berasnya maka hidupku bisa berantakan atau malah diketawain sebagai orang yang gampang ditipu orang pinggir jalan? Jujur saja aku tidak kuatir oleh komentar orang lain. Cuma aku penasaran. Kenapa aku ditakdirkan menyaksikan detil kehidupan seseorang yang tengah kesulitan? Mungkin itu tanda sebenarnya aku bisa menolongnya sesuai kemampuan. Karena kemampuanku kecil, maka yang dihadapkan kepadaku juga detil kehidupan yang simpel. Kenapa orang seperti itu tak dipertemukan dengan pengusaha sukses, gubernur atau pemimpin partai? Kalo itu terjadi tentu persoalannya bisa langsung beres dan bisa dimaksimalkan untuk pencitraan.

Kenapa pria itu tak ketemu dengan para pemimpin negara-negara yang tengah berunding membicarakan masa depan dunia dan persoalan rumit seperti kemiskinan, krisis ekonomi dunia, ancaman terorisme? Apa hal itu terlalu sepele dibanding persoalan besar dunia, maka terjadi di sudut bumi di luar jangkauan radar kekuatan besar. tampaknya juga mustahil bahwa 'persoalan kecil' seperti kebutuhan pribadi terungkap di acara demikian. Mungkin gak sih dalam pertemuan 'penting' tingkat internasional seseorang minta tolong dirinya butuh biaya persalinan istri, ongkos sunatan, atau biaya nikah anaknya? Orang akan bilang itu irelevan dan di luar konteks. Atau gila. Jadi apa sebenarnya kejadian kecil itu sama bobotnya dengan peristiwa besar yang dianggap penting dan perlu dicatat sejarah?

Ah... mungkin aku terlalu repot mencari-cari alasan atas kemalasanku segera menolong, meski di luar rencana dan irelevan. Jujur saja aku suka menyesal tak bisa menolong karena merasa sempit, padahal kalau mau bersikap lapang mestinya masih bisa menyisihkan kemampuan atau rezeki walau sedikit. Sementara pada saat merasa mampu, kesempatan itu sudah lewat. Kita kehilangan momen berbuat baik, padahal kesempatan itu cuma sekelebat. Waktunya sempit sekali, dan mungkin tak terulang lagi. Seperti tendangan penalti, dalam hitungan detik ia harus segera dieksekusi.

JEDARRRRR!!!!![]


[HALAMAN GANJIL]