25 Buku yang Membuat Yusi Avianto Pareanom Tidak Akan Nelangsa Jika Terdampar di
Sebuah Pulau
Akhir tahun 2012 saya bertemu Yusi Avianto Pareanom, penulis kumpulan
cerpen Rumah Kopi Singa Tertawa dan sejumlah buku lain. Selain sebagai penulis fiksi dan
nonfiksi, Yusi juga dikenal sebagai penerjemah yang kurang ajar, editor yang
tega, guru menulis di sebuah sarekat, selain pendiri Penerbit Banana yang suka
menerbitkan buku-buku mana tahan.
Saya tanya, "Buku yang hebat itu seperti apa? Kalau perlu sebut
judul-judulnya."
"Sebagai penulis, saya akan bilang bilang bahwa buku hebat adalah
yang menantang kepenulisan saya," dia jawab. "Tapi jika bung Anwar
bertanya dua puluh lima tahun lalu, jawabannya akan sangat berbeda. Sebagaimana
remaja atau dewasa muda yang sedang mencari-cari, buku bagus masa itu adalah
yang saya anggap mencerahkan atau menghadirkan semangat perlawanan kepada
penguasa.
Namun, mari bermain-main. Saya akan coba spontan di sini, satu
pengarang maksimal satu judul:
1.
Romeo and Juliet -- William Shakespeare. Ceritanya mungkin sudah
kita kenal, kasih tak sampai. Tapi, coba
simak lagi soneta-sonetanya, bahasa benar-benar dimaksimalkan. Ngeri, bung! Kok
ada orang bisa sepintar ini. Kritikus Harold Bloom pernah berujar kalau Tuhan
itu ya Shakespeare. Kalau Shakespeare bukan Tuhan, ia tak tahu siapa lagi yang
layak disebut sebagai Tuhan.
2.
One Hundred Years of Solitude -- Gabriel Garcia Marquez. Magic realism?
Nah, it's all magical. Macondo, tujuh generasi Buendia, kebun pisang, 17
Aureliano Buendia yang lahir dari tujuh belas perempuan dan berayah
sama-Kolonel Aureliano Buendia, Remedios si Cantik, hasrat kepada gadis jelita
berusia sembilan tahun, dan segala keajaiban yang lain.
3.
Labyrinths -- Jorge Luis Borges. Jika seorang Umberto Eco mendapatkan ilham
menggarap The Name of Rose dari cerita "Library" yang ada di
buku ini, itu sudah alasan yang cukup bukan?
4.
The Savage Detectives -- Roberto Bolano.
Marquez dan Borges jelas-jelas jahanam, dan Bolano mampu menjadi antitesis
mereka. Apa tidak bikin merinding? Bolano dengan 'sastra jerohannya' melucuti
anggapan pembaca dunia bahwa sastra Amerika Latin kalau tidak Marquezian
pastilah Borgesian. Kredonya, yang ia buat ketika sakit keras sebelum ajalnya,
membuat tertegun: sastra + sakit =
sakit.
5.
The Ground Beneath Her Feet
-- Salman Rusdhie. Mengapa bukan Midnight Children? Setelah pilihan buku
Marquez dan Borges yang terlalu jelas jatuhnya, saya ingin mengambil yang
berbeda untuk Rusdhie. Tapi, sesungguhnya menurut saya Rusdhie jauh lebih
matang dalam buku ini ketimbang dalam Midnight. Siapa yang sanggup
menolak tawaran pelintiran sejarah rock'n roll di sini? Novel ini lebih
asyik lagi disimak sembari bung mendengarkan lagu yang melodinya digarap dua
anak muda berbakat dari Irlandia, Bono dan The Edge, dan liriknya oleh Rusdhie
sendiri, di sini: http://www.youtube.com/watch?v=sZfBR5G8FZ8.
6.
Dictionary of the
Khazars -- Milorad Pavic. Bajingan sebajingan-bajingannya. Tobat saya,
takluk negara, kalau ketemu saya pasti cium tangan. Mungkin setiap malam Jumat
kalau ingat saya akan kirim Al-Fatihah untuk Pavic. Setiap alineanya terasa
gurih saat dikunyah.
7.
Prajurit Schweik -- Jaroslav Hasek. Kegembiraan murni, dikunjungi
beberapa kali tetap saja tak luntur rasa senangnya. Buku yang belum selesai
sebetulnya karena Hasek keburu meninggal sebelum bukunya tamat.
8.
Dataran Tortilla -- John Steinbeck. Danny dan kawan-kawan
gembelnya adalah contoh penghayat maksimal carpe diem. Kalau wiski bisa
dihabiskan hari ini, mengapa harus disisakan sampai esok hari? Pula soal anjing
yang dipinjam untuk menghangatkan kaki dan telur bumbu. Seperti Schweik,
saya membaca Dataran versi Indonesia yang diterbitkan Pustaka Jaya,
dua-duanya diterjemahkan dengan gemilang oleh Djoko Lelono.
9.
The Unbearable Lightness of Being -- Milan Kundera. Tentang yang antep
dan yang ceketer dari manusia, disajikan dengan takaran terbaiknya.
10.
Teaching a Stone to Talk -- Annie Dillard. Ini buku nonfiksi. Ketika
Dillard mengajak kita bersamanya bertualang ke Kutub Selatan, Galapagos, lembah
Amazon, ataupun menyambangi seorang laki-laki yang terbakar dua kali, sejatinya
itu adalah tawaran menziarahi ruang batin kita masing-masing. Penerbit Banana
sudah menerbitkan edisi Indonesianya dengan judul Mengajari Batu Bicara.
11.
The Wind Up Bird Chronicle -- Haruki Murakami. Dua bersaudara Kano, Malta
dan Creta, melayanimu dalam mimpi. Bagian-bagian lain boleh terlupakan, tapi
tidak untuk dua kakak-beradik ini.
12.
The Road -- Cormac McCarthy. Buku ini memaksa saya menggunakan kata yang tidak
saya sukai karena terlalu sering muncul di televisi: mencekam. Kengerian dunia post-apocalyptic
begitu pekat dalam setiap lembarnya. Bagaimana kalau hari esok benar-benar tak
menawarkan apa-apa, tak segenggam gandum, sepotong langit biru, ataupun sekadar
tatapan letih dari kawan seperjalanan yang ringkih?
13.
Shah of Shahs (nonfiksi)
-- Ryszard Kapuściński. Salah satu karya jurnalistik terbaik, soal Shah Iran dan revolusi yang
menumbangkannya, ditulis a la novel.
14.
The Moveable Feast (nonfiksi) -- Ernest
Hemingway. Tulisan Papa semasa muda di Paris, disunting lagi pada masa
senjanya, terbit setelah kematiannya. Buku ini secara tak langsung menjelaskan
dengan telak bahwa sarekat yang baik---masa ini Papa berkawan erat dengan Ezra
Pound, F. Scott Fitzgerald, dan masih banyak nama tenar lain---akan mengasah
kepenulisan seseorang. Saya kira film Midnight in Paris karya Woody
Allen banyak mengambil bahan dari buku ini.
15.
The Catcher in the Rye -- J.D. Salinger. Bagi Holden Caulfied, segala
sesuatu yang palsu itu memuakkan. Itu sebabnya sekalipun seseorang beranjak
dewasa dan berumur, kerinduan pada masa-masa ketika pemikiran dan sikap tak
mesti kompromis selalu memanggil-manggil. Penerbit Banana sudah mengeluarkan
edisi Indonesianya beberapa tahun lalu (saya menyimpan tanda tangan asli
Salinger di lembar perjanjian copyright, bersanding dengan tekenan saya
sendiri).
16.
Dari Ave Maria Sampai Jalan
Lain ke Roma -- Idrus. Kegembiraan setiap kali membaca ulang buku ini selalu diiringi
rasa sedih. Jika pada periode '45 Indonesia sudah punya pengarang secekatan
Idrus, mengapa jejaknya tak terasa di karya-karya pengarang sesudahnya?
Pertanyaan barusan tentu generalisasi.
17.
On the Road -- Jack Kerouack. Truman Capote mengejeknya sebagai karya ketik,
bukan tulisan. Tapi, ini karya ketik yang sungguh aduhai, bung.
18.
Million Dollar Baby -- F.X. Toole. Soal dunia boksen, pembaca akan
tertawa lalu nangis sebombay-bombaynya (sudah terbit edisi bahasa Indonesia
oleh Banana).
19.
The Lone Ranger and
Tonto Fist Fight in Heaven -- Sherman Alexie. Membuka mata, menyingkirkan
stereotipe lama tentang Indian yang terbangun karena film Hollywood ataupun
buku-buku Karl May. Sinis, lucu, mengharukan. Banana menerbitkan edisi bahasa
Indonesianya dengan judul Adu Jotos Lone Ranger dan Tonto di Surga.
20.
Contact -- Carl Sagan. Karena semesta di luar sana alangkah luasnya.
21.
Rashomon --Ryūnosuke Akutagawa. Bukan hanya soal ambiguitas moralnya, melainkan juga
permainan sudut pandangnya yang berganti-ganti.
22.
Salvador (nonfiksi) -- Joan Didion.
Sebuah buku yang sangat membantu memahami anatomi teror dan geopolitik,
ditulis dengan hemat dan jernih, buah pengamatan dari dekat.
23.
The Orchied Thief (nonfiksi) -- Susan Orlean. Obsesi (Orlean) atas
obsesi (penggila anggrek), keanekaragaman hayati dan mistisme Florida. Tahu
enggak kalau orang pertama yang dipenjarakan karena penyelundupan anggrek di
Amerika Serikat adalah warga Indonesia? Sudah terbit edisi bahasa Indonesia
dengan judul Pencuri Anggrek oleh Banana. Siapa lagi?
24.
All Over but the Shoutin'
(nonfiksi)
-- Rick Bragg. Soal sejarah keluarga dan kasih ibu
sepanjang masa, mengharukan tetapi sama sekali tidak cengeng. Detail-detailnya
keren, pula soal cerita sampingan semacam lele yang sebesar paha orang dewasa
dan pria yang selalu saja setelah bebas dari penjara berusaha ditahan lagi
dengan cara yang sama seperti sebelumnya, yaitu ngemplang bayar setelah
makan mewah di restoran.
25.
Einstein's Dream -- Alan Lightman.
Imajinatif, sangat serius bermain-main.
Lho, kok sudah 25? Daftarnya diakhiri kalau begitu.
Gila, saya meninggalkan nama Kafka, Chekov, Dostoyevsky,
Arundathi Roy, Jonathan Franzen, Mahbub Junaidi, Joyce, Eco, Calvino, dan masih
banyak lagi. Tapi, ya sudahlah."
Ayo temanan dengan Yusi di sini: http://www.facebook.com/yusipareanom?fref=ts
3 comments:
Akangggg itu kesalahannya fatal sekali!!! kalimat awal baca deh. "Akhir tahun 2013 saya bertemu Yusi Avianto Pareanom..." Sekarang aja baru awal 2013 kang... :))
oh fandy, makasih banget atas perhatian kamu! aku silap tangan dan silap mata. segera aku koreksi. kredit buat kamu ya he he he...
simply stopping by to say hello
Post a Comment