Showing posts with label wawancara. Show all posts
Showing posts with label wawancara. Show all posts

Tuesday, January 31, 2017



Kami Memosisikan Diri sebagai Pembaca
yang Butuh Bacaan Bermutu
Wawancara dengan Kun Andyan Anindito, Penerbit Gambang

--Anwar Holid

Penerbit Gambang menyembul ke permukaan industri penerbitan dengan cara yang simpel. Mereka merilis sejumlah buku puisi, berukuran kecil dan tipis, dengan cover eye-catchy, yang bagi banyak calon pembaca seperti merayu ingin disentuh dan dibuka-buka. Penerbit ini seperti hendak membangun brand image yang jelas dan mudah dikenali. Mereka juga kerap mengadakan acara di berbagai toko buku di Yogyakarta, Bandung, Jakarta, dan tempat lain.



Berikut wawancara dengan Kun Andyan Anindito seputar proses penerbitan, bagaimana memilih dan mengelola naskah, juga memelihara kerja sama dengan penulis.

Kun Andyan Anindito.
* Bagaimana awalnya Gambang menerbitkan buku?
Gambang terlahir karena kecintaan kami terhadap buku. Sederhana saja, waktu itu saya dan Rozi Kembara awalnya hanya ingin membaca buku yang ingin kami baca, kebetulan banyak karya yang ingin kami baca belum diterbitkan, terlebih karya luar yang belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Selain itu kami memiliki keinginan memperkenalkan penulis-penulis luar negeri yang namanya jarang didengar di Indonesia. Sementara ini kami memang baru bisa menerbitkan dua terjemahan, Borges dan Rulfo. Borges memang sudah sangat familiar untuk pembaca Indonesia, meski begitu karyanya masih sedikit yang baru diterjemahkan. Sedangkan Rulfo adalah penulis yang banyak mempengaruhi penulis lain padahal seumur hidupnya dia hanya menerbitkan dua buku, satu novel dan satu kumpulan cerpen. Untuk itulah kami menerbitkan novelnya yang berjudul Pedro Paramo beserta 6 cerpennya. Di awal penerbitan kami memang fokus kepada penulis lokal karena salah satu misi kami adalah menerbitkan karya penulis yang belum pernah memiliki buku tunggal, padahal secara kualitas penulis tersebut sudah layak menerbitkannya. Penulis yang kami maksud antara lain Yopi Setia Umbara, Nissa Rengganis, Aprinus Salam, Mira MM Astra, Zulkifli Songyanan, Risda Nur Widia. Nama penulis berikutnya yang segera akan menerbitkan karya pertamanya adalah Indrian Koto, Nermi Silaban, Mutia Sukma, dan Rozi Kembara. Berawal dari hal itulah kami muncul ide untuk membuat sebuah penerbitan.

* Mengapa Gambang seperti mengambil ceruk yang sangat spesifik, yaitu penerbitan buku puisi?
Sebenarnya kami tidak spesifik dalam menerbitkan genre karya sastra, namun kami lebih sering menjumpai naskah puisi dibanding prosa seperti cerpen atau novel. Karena sering berjumpa dengan puisi itulah kami akhirnya memutuskan untuk memberi porsi lebih pada buku puisi.

* Bagaimana Gambang menyeleksi naskah dan memutuskan untuk menerbitkannya?
Gambang menyandarkan sepenuhnya pada kualitas karya tersebut. Pertimbangan lain yang juga sangat diperhitungkan adalah rekam jejak penulis tersebut di media masa.

* Bagaimana cara Gambang menilai/memutuskan bahwa naskah layak diterbitkan?
Tim penyeleksi dari kami ada tiga orang: saya, Yopi Setia Umbara, dan Rozi Kembara. Setiap dari kami memiliki selera masing-masing. Jika dua di antara tiga orang setuju, maka naskah akan diterbitkan.

* Apa yang paling utama dilihat/diperhatikan oleh Gambang dalam menerbitkan buku: keterjualan atau kekuatan naskah? Bagaimana mengukur kedua hal itu?
Kami percaya bahwa kekuatan naskah berbanding lurus dengan terjualnya buku. Kami sudah membuktikannya berkali-kali ketika menerbitkan karya-karya awal penulis yang kami sebutkan di atas. Karya-karya penulis seperti Nissa Rengganis, Mira MM Astra, Yopi Setia Umbara telah masuk cetakan kedua, yang lainnya hanya tinggal menunggu waktu. Buku karya Nissa Rengganis mendapat penghargaan di Hari Puisi Indopos tahun 2015, sedangkan buku kumpulan cerpen Risda Nur Widia, yang juga merupakan buku pertamanya, mendapat penghargaan dari Balai Bahasa Yogyakarta.

* Bagaimana Gambang memperkirakan keterjualan sebuah buku?
Kami mencetaknya dengan dengan oplah terbatas, antara 300 sampai 500. Karena rata-rata buku akan terjual sejumlah itu tiap tahunnya. Jika habis, segera kami cetak ulang dengan oplah kurang-lebih sebanyak itu.

* Apa Gambang sengaja memilih penyair atau penulis tertentu untuk diterbitkan naskahnya?
Tentu saja. Kami akan memprioritaskan karya penulis yang sesuai dengan selera kami bagi penulis yang mengirim naskahnya ke redaksi kami. Untuk penulis yang sangat kami inginkan naskahnya agar berkenan diterbitkan di Gambang, kami berupaya untuk mendapatkannya. Untuk itu kami sangat bersyukur karena Acep Zamzam Noor dan Agus Noor mengizinkan naskahnya diterbitkan di Gambang.

* Tantangan apa saja yang dihadapi Gambang? Bagaimana cara menyiasati dan menanganinya?
Satu-satunya tantangan yang dihadapi Gambang adalah mempertahankan reputasinya sebagai penerbit serius. Cara menyiasatinya dengan menjaga kualitas karya yang diterbitkan. Kami tidak ingin mengecewakan pembaca, karena kami sendiri selalu memposisikan diri sebagai pembaca.
Diskusi Pinara Pitu di GIM Bandung.
* Bagaimana Gambang mendistribusikan dan menjual bukunya?
Kami memiliki reseller yang sangat selektif dalam memilih buku yang ingin mereka beli. Mereka tersebar di berbagai kota. Di Jogja ada JBS, Pocer, Mojok, Stand Buku. Di Jakarta ada Post Santa dan Demabuku. Di Medan ada Umbara Books. Di Bandung ada Toco. Di Malang ada Griya Pelangi. Di Makassar ada Pelangi Ilmu. Di Ambon ada Ksatria Book. Seluruhnya adalah toko buku online.

* Bagaimana hubungan editor dan penulis/penyair di Gambang? Seperti apa kerja sama yang dibangun?
Editor akan rutin menghubungi penulis terutama dalam hal pembahasan naskah. Mulanya penulis mengirim naskah ke redaksi dan langsung dibaca oleh editor, lalu setelahnya mengirimkan balik ke penulis hingga mencapai kesepakatan antara penulis dan penerbit yang diwakili editor.

* Program apa yang dibuat Gambang untuk mempromosikan bukunya?
Kami rutin membuat sistem preorder dengan memberikan diskon hinggal 15% kepada pembeli. Program baru yang awal bulan ini selesai kami kerjakan adalah pemberian workshop secara gratis kepada pembeli buku Rahasia Dapur Bahagia karya Hasta Indriyana, yang sekaligus menjagi pengisi workshop.

* Bagaimana Gambang memandang penerbit mapan yang juga menerbitkan buku puisi?
Kami selalu menganggap penerbit lain, baik indie atau mayor, dalam atau luar negeri, sebagai bahan referensi kami. Kalau buku yang mereka terbitkan baik, maka kami akan mencontohnya. Jika buku yang diterbitkan buruk, maka cukup penerbit itu saja yang menerbitkannya.

* Seperti apa Gambang memperlakukan penulisnya? Mereka dianggap sebagai aset perusahaan atau komoditas? Servis apa yang diberikan Gambang pada mereka?
Kami memperlakukan penulis selayaknya penulis harus diperlakukan, misalnya membayar royalti sebesar 20% dari harga jual secara cash tepat ketika buku selesai cetak. Jika penulis berkenan membantu penjualan bukunya, penerbit akan memberikan 30 % dari harga cetak, sehingga jika ditotal penulis akan mendapatkan pembayaran sebesar 50 % dari harga jual.
Workshop menulis puisi bersama Hasta Indriyana.

* Apa Gambang 'memelihara' penulis? Dalam arti mempertahankan agar terus bisa menerbitkan karya-karya berikutnya dan tidak beralih ke penerbit lain? Apa yang dilakukan Gambang untuk 'mengikat' para penulisnya agar juga mau terus menerbitkan karyanya di Gambang?
Kami tidak pernah memaksa penulis untuk menerbitkan buku di Gambang. Kami hanya bisa mengupayakan, jika memang penulis tersebut tidak berkenan memberikan naskahnya, maka kami juga tidak akan memaksa.

* Jika penulis Gambang kemudian menerbitkan buku di penerbit lain, dengan kemasan produk yang lebih bagus atau garapan yang tak dapat disediakan Gambang, kira-kira apa tanggapan Gambang?
Sandaran kita adalah kualitas naskah tersebut. Jika penulis Gambang kemudian menerbitkan buku di penerbit lain, dengan kemasan produk yang lebih bagus atau garapan yang tak dapat disediakan Gambang, kami akan turut senang, senang karena kemasannya bagus, dan senang karena naskah yang kami cari dari penulis tersebut telah kami terbitkan.

* Seperti apa Gambang menanggapi gerakan literasi yang dikampanyekan pemerintah? Apa gerakan tersebut berpengaruh pada siasat perusahaan?
Kami rasa pemerintah belum menggerakkan literasi dengan serius, jadi kami juga tidak perlu menanggapinya secara serius.

* Tahun 2017 Gambang merencanakan apa? Kira-kira seperti apa kondisi penerbitan buku puisi tahun ini?
Minimal kami akan melakukan apa yang telah kami lakukan di tahun-tahun sebelumnya dengan konsisten menerbitkan buku-buku bermutu. Kami rasa, penerbitan puisi masih akan sama dengan tahun-tahun sebelumnya, beberapa penerbit masih takut menerbitkan buku puisi. Tapi semoga kami keliru, karena sekali lagi, kami juga memposisikan diri sebagai pembaca yang butuh banyak referensi bacaan bermutu.[]

Foto-foto milik Penerbit Gambang.

Link terkait:
Alamat Penerbit Gambang
Perum Mutiara Palagan B5, Sleman, Yogyakarta 55581
Telepon: +6285643039249

*****


Monday, December 16, 2013

6 Pertanyaan tentang Editor dan Penerbitan
--Anwar Holid


Beberapa minggu lalu aku dapat email dari kawan yang baru lulus kuliah. Dia suka baca buku, terutama fiksi, bacaannya luas, aktif di komunitas menulis, tulisannya pun sudah pernah dipublikasikan. Karena itu ia terpikir berkarir di dunia penerbitan atau berniat bikin penerbit. Dia mengajukan enam pertanyaan, yang aku bilang bagus sekali bila dibagi buat banyak orang.

Saya ingin jadi editor buku fiksi karena senang baca novel. Apa itu merupakan alasan yang salah?
Jelas enggak salah kamu pengen jadi editor fiksi karena suka baca novel. Banyak orang jadi editor semata-mata karena mereka suka buku, apa pun jenis/genrenya. Dulu ada senior (beliau sudah meninggal) jadi editor karena sejak kecil suka baca majalah Si Kuncung, mengirim tulisan ke majalah itu, dan akhirnya bergaul dengan para penulis sampai berkarir di dunia penerbitan seperti keinginannya, aktif di asosiasi penerbitan, sampai akhirnya membuat usaha penerbitan (artinya jadi pengusaha) dengan kesuksesan tertentu.

Seperti apa pekerjaan editor itu?

Sederhananya: kamu menyiapkan naskah hingga siap dilayout dan diproduksi jadi buku.
Editor ialah seorang pengawal buku itu. Dia melayani penerbit dan penulis, menjembatani keduanya. Di perusahaan penerbitan, definisi editor jadi rada kompleks karena ada jenis atau tingkatan, misalnya editor kepala, kepala penerbitan, asisten editor, atau cuma 'editor'. Tugas mereka rada beda satu sama lain. Di Indonesia, editor kepala barangkali semacam acquisition editor; mereka cari naskah, cari dan menghubungi penulis, menyeleksi kelayakan naskah, menawari calon penulis untuk menulis sesuai kebutuhan penerbit, mencari desainer cover atau buku, dan bisa jadi sangat jarang mengedit/menyunting naskah. Mereka mungkin sudah bosan melakukannya atau baru terpaksa menyunting lagi kalau ada target dan bantu target produksi buku. Penerbit Indonesia di akhir dekade pertama tahun 2000-an banyak mengalami transisi semacam ini. Artinya mereka tidak lagi terkungkung menyunting naskah, melainkan merencanakan penerbitan, bahkan bernegosiasi dengan pihak lain untuk menerbitkan buku atau mencari celah agar terbitannya langsung laku.

Asisten editor tugasnya antara lain membantu editor seperti proof reading, buat indeks (yang juga bisa dibuat oleh penulis), menyiapkan detil kelengkapan naskah, sampai diberi kepercayaan penuh menyunting buku (biasanya mereka memang disiapkan jadi editor).

Editor (saja) adalah posisi standar. Ia menyunting naskah dan menanganinya sampai layak terbit; yang diurus biasanya terkait bahasa dan isi naskah. Bisa jadi mereka tidak berhubungan penulis, karena hal semacam itu ditangani editor kepala atau administrasi perusahaan.

Contoh sebagai editor freelance, tugas standarku ialah menyunting naskah, menyiapkannya biar sudah siap dilayout atau didesain jadi buku oleh penerbit. Tugas tambahanku biasanya diminta kasih ide/usul bagaimana cara mendesain calon buku itu jadi lebih punya nilai lebih, menarik, dan bisa memikat calon pembaca/pembeli sekuat mungkin. Misalnya aku kasih ide soal format, keterangan soal higlight naskah, sebaiknya ada ilustrasi di bagian tertentu atau tambahan dan pengurangan lainnya. Ide itu diolah lebih lanjut desainer buku. Editor freelance tidak bisa mengintervensi buku itu nanti akan disajikan/didesain seperti apa; tapi ia bisa memberi saran barangkali naskah itu bagusnya diolah bagaimana biar jadi buku yang menarik.

Bagaimana sifat-sifat orang yang cocok menjadi editor?

Orang yang cocok jadi editor pertama-tama mutlak dia harus suka buku, suka baca, suka bahasa, suka sastra, suka menulis, tertarik seni, kreatif---punya selera tertentu terhadap keindahan, visi bagaimana sebaiknya menyajikan naskah, mengemas buku, juga menggagas proyek perbukuan. Soal ini aku yakin akan berkembang seiring waktu dan pengalaman.

Orang yang terbiasa dengan buku, bergumul dengan penulisan kreatif, peduli bahasa, biasanya bisa menjadi editor yang bagus. Sebagian besar kenalanku yang jadi editor tidak belajar bahasa secara khusus (misalnya sekolah di jurusan editing atau sastra); tapi mereka punya kepekaan yang hebat terhadap bahasa, terbiasa berlatih menulis efektif, suka pada cara sesuatu disampaikan. Latar belakang mereka bisa fisika, astronomi, agama, geologi, apa pun; tapi ketertarikan terhadap buku, sastra, seni akan membuat mereka jadi editor yang punya nilai lebih.

Sifat tambahan buat orang yang cocok jadi editor menurutku harus luwes/fleksibel, rapi, suka detil, tertib. Luwes ini untuk berhadapan dengan orang maupun naskah, untuk bernegosiasi, berkompromi, dan lain-lain. Menurutku sendiri, aku kurang luwes dalam menghadapi orang atau situasi tertentu. Editor, apalagi editor naskah, harus rapi, tertib, dan suka detil, karena ia harus bertanggung jawab mengurus hal-hal kecil, mulai dari salah eja, kelengkapan naskah (yang bisa sangat sepele), dan menatanya hingga rapi dan siap cetak. Tak ada harapan bagi editor yang luput memeriksa bahwa KATA PERTAMA di buku yang disuntingnya sudah salah. Lebih parah lagi kalau judul/subjudulnya salah eja. Gawat. Aku cukup belajar banyak untuk jadi lebih teliti, termasuk dengan diperingatkan bos, diberi tahu sesama editor, atau pembaca buku yang aku edit.
Foto dari Internet.

Saya ingin bekerja di penerbitan karena ingin tahu bagaimana buku terbit, dipasarkan, dan menumpuk di gudang ketika tidak laku. Saya bercita-cita punya penerbitan. Apa ini masih merupakan alasan yang salah? Pekerjaan apa yang cocok bagi saya di penerbitan?

Menurutku memiliki penerbitan dan jadi editor cukup berbeda jauh. Memiliki penerbitan ialah jadi pengusaha di industri buku atau dunia penerbitan; sementara jadi editor ialah salah satu sisi/bidang di dunia penerbitan. Memang sebagian pengusaha penerbitan berawal dari editor, suka buku, atau manajer penerbitan yang beralih dari editor; tapi bisa jadi jalurnya beda. Ada pengusaha/pemilik penerbitan yang tidak bisa menyunting buku, tapi dia jago mencari celah atau proyek buku yang menguntungkan, misalnya cari order dari pemerintah, instansi, atau perusahaan yang mau buat buku. Contoh: Haidar Bagir (salah satu pendiri/pemilik dan CEO Mizan) berawal dari suka nulis/baca sejak mahasiswa, dia jadi editor di penerbit Salman, terus mendirikan Mizan. Di Mizan dia juga masih suka menulis buku.

Menurutku, untuk jadi pengusaha penerbitan modal utamanya ialah keberanian, jiwa enterpreneurship, modal, berisiko untung/rugi besar. Sementara jadi editor adalah karir yang bisa ditempuh berjenjang. Editor lebih merupakan 'profesi.'

Sekadar memberi tahu, sebagian editor setelah beberapa tahun kerja di penerbitan bisa beralih ke bagian marketing, promosi, sales, bahkan distribusi. Bisa jadi karir dan jabatan mereka akan lebih menanjak di sana. Mereka berhenti berhubungan dengan naskah, tapi mereka masih berhubungan dengan buku, atau malah memberi masukan dan bocoran naskah seperti apa yang harus diterbitkan penerbit. Bisa jadi, di perusahaan penerbitan, nanti kamu akan menyaksikan bahwa pegawai yang paling makmur ialah di bagian marketing, distribusi, keuangan, sementara layouter yang menyiapkan buku dari awal terkaget-kaget betapa karir mereka tertinggal. Ada kenalan seniorku yang lebih sukses kerja di bagian marketing, setelah awalnya pindah sebagai editor.

Sebagai bayangan, sebagian editor di penerbit yang berkembang besar setelah jadi kepala editor bisa beralih tugas menangani perusahaan yang lain banget produknya (misalnya film). Harus diakui tidak semua editor yang pernah sukses di penerbitan atau berpengalaman mengelola anak buah (editor junior) dijamin kembali berhasil setelah mendapat mandat mengelola perusahaan baru. Artinya mengembangkan perusahaan itu butuh kemampuan lain.

Kalau niat mau punya penerbitan, mending kamu rajin cari naskah yang potensial di pasar, kontak editor (bisa juga diedit sendiri, atau kalau nekat gak usah diedit), terbitkan. Jual. Banyak pemilik penerbitan basisnya penjual buku, ia tahu ada sebuah buku bisa laris gila-gilaan atau tahu ada channel proyek penerbitan dengan pihak/instansi tertentu. Tapi kalau kamu mau 'punya gengsi' dengan perusahaan atau terbitanmu, ingin image bahwa terbitanmu bermutu, mencerahkan, kamu harus sewa editor atau menjadi editor agar buku itu lebih artistik, punya nilai lebih, bukan sekadar barang kodian. Ha ha ha... aku kayak jago teori dunia penerbitan, padahal belum bisa buat penerbitan---sesuatu yang ada di urutan paling rendah dalam skala prioritasku di dunia penerbitan.

Di penerbitan, entah awalnya jadi editor atau masuk di bagian yang kamu sukai, misalnya promosi atau marketing, kamu bisa pindah ke bagian lain yang lebih prospektif atau cocok sesuai kemampuan dan potensi terbaikmu. Tinggal kamu perhatikan saja kemampuan dan minat utamamu. Contoh, ada kenalan yang sejak awal kerja di penerbit kerja di bagian event (pameran, bazaar, lomba, dan lain-lain). Dia tidak pernah terlibat di dunia editing. Dia sangat sukses di situ; semua event besar di penerbitnya dia urus acaranya. Di penerbit lain ada karyawan yang awalnya sukses di bagian keuangan, pernah jadi karyawan teladan, entah karena restrukturisasi perusahaan atau performa pribadi, lantas pindah-pindah ke bagian lain, termasuk ke bagian editing, sampai akhirnya ke luar. Aku sendiri merasa karirku berjalan biasa saja, tapi aku belum pernah pindah ke bagian marketing, percetakan, atau sales. Paling aku punya sedikit pengalaman di bagian promosi, publisitas, dan literary agent.

Bagaimana suasana kerja di penerbitan? Apa dari bekerja di penerbitan seseorang memperoleh kecakapan yang bisa digunakan di luar bidang penerbitan? Apa dari bekerja di penerbian seseorang punya teman yang bertahan dalam jangka waktu lama?

Pernah mengalami situasi kerja freelance dan tetap sebagai pekerja (karyawan), kesimpulanku ialah kerja pada dasarnya sama dan semua punya tantangan atau keunggulan maupun kekurangan masing-masing. Orang bisa sukses dan gagal baik sebagai karyawan tetap atau pekerja freelance. Aku selalu salut pada orang yang bisa mendirikan perusahaan. Meski aku sering dengar pengusaha itu tega, suka licik, enggak mau rugi sepeser pun, dan aku pernah dengar serta lihat buktinya, satu hal sih mendirikan perusahaan itu susah dan berat. Aku lihat sendiri beberapa kawanku jatuh-bangun mendirikan perusahaan, ditinggalkan ratusan karyawan, termasuk diancam masuk penjara dan pengadilan. Jadi karyawan mungkin lebih simpel; namun risiko dan pendapatannya pun lebih sedikit. Sebagian besar pasti buat pengusaha dan pemodal.

Kerja pada dasarnya soal kepercayaan, kinerja yang bagus, dan tidak mengecewakan orang lain. Ada yang yakin bahwa kerja itu soal melayani, service, memuaskan customer.

Perusahaan dan personal punya tabiat masing-masing, yang penting ialah kompromi atau 'main cantik' selama kerja. Ada motto: What’s best for you is often best for the company in the long run.

Dulu, waktu berhenti kerja pertama kali, di hari terakhir itu aku gemetar dan nangis, karena aku tahu persis kerja di sana adalah a dream come true, satu-satunya penerbit yang ingin aku masuki. Di penerbit, bisa jadi kita bekerja dengan para visioner, cerdas, antusias, dan kita hormati. Tapi jangan bodoh sampai tidak sadar bahwa bekerja di perusahaan itu penuh tekanan, ada target yang harus dipenuhi, kecemburuan profesional, juga kompromi dengan orang lain dalam organisasi. Aku dulu gagal sadar ada apa di balik kejadian kenapa beberapa seniorku pada ke luar setelah aku kerja di sana. Setelah dua tahun, aku baru ketemu batunya, yaitu gagal kompromi dengan perusahaan, persisnya dengan manajer sendiri, yang tentu punya target yang harus beres bareng anak buahnya (yaitu aku dan kawan-kawan). Parahnya aku juga tidak punya loyalitas korps. Lama setelah itu aku merasa bahwa di dunia kerja loyalitas lebih utama daripada kinerja. Kalo kamu setia pada bos apa pun kondisinya, insyaallah secara posisi kamu aman. Aku bahkan pernah lihat seorang karyawan yang jadi tangan kanan sampai dianggap sebagai adik/sodara oleh bosnya.

Kita bisa kerja entah karena rekomendasi, lulus tes, dan punya kualifikasi. Di dunia penerbitan, kita juga bergaul, ada komunitas, punya asosiasi, berkawan. Banyak kawan lama di dunia penerbitan yang bertahan hingga kini dan aku salut dengan kinerjanya. Aku pernah konflik berat dengan kawan dekat, yang malah ribut gara-gara uang dan berbeda pandangan soal cara bekerja---tapi untunglah seiring waktu dan kesadaran hubungan kami baik lagi. Sebagai pekerja freelance, aku pernah nyaris putus asa menagih honor dari kawan lama yang kasih order atau salah paham dengan editor lain yang aku ajak kerja sama. Kerewelan sebagai peresensi membuat aku dimusuhi seorang editor yang bukunya aku kritik sampai mengorbankan pertemanan.

Kekurangan terbesar kerja freelance yang kadang-kadang bikin putus justru rasa sepi karena enggak ada feedback dari orang lain, terutama customer/klien, apa kerja kita bagus atau buruk. Gila, customer itu sibuk semua; parahnya mereka suka kasih order di kala mepet. Reaksi feedback mereka cuma bisa ditebak dari kasih order berikutnya kalau puas atau berhenti kasih order kalau kecewa. Di dunia freelance, aku bisa dapat order sebanyak mungkin, tapi kalau enggak beres juga apa artinya? Nama sendiri yang hancur. Sebaliknya, ada orang memilih kerja freelance karena menawarkan hal yang tidak dimiliki karyawan, misalnya fleksibilitas.

Apa yang menyebabkan seseorang tidak betah bekerja di penerbitan?

Banyak hal bisa bikin seseorang tidak betah kerja di penerbit. Yang pertama ialah gajinya kecil. Sejak dulu semua orang di dunia penerbitan/perbukuan selalu bilang bahwa perputaran uang atau modal di dunia buku itu lambat dan nilainya kecil, misalnya jika dibandingkan industri konstruksi. Coba kamu hitung berapa banyak penulis yang semata-mata mencari nafkah dari menulis. Banyak penulis mengaku mereka mengalami 'split personality' karena harus ngantor atau kerja sampingan lain yang tidak terkait penulisan.

Aku ingat para seniorku ke luar karena bilang gajinya kecil dan kurang buat hidup. Sampai sekarang orang masih berpendapat begitu dan aku masih dengar bahwa gajinya kurang. Orang juga bisa ke luar karena ingin dapat posisi lebih tinggi (misalnya punya anak buah) atau fasilitas lebih, yang sulit mereka dapat dari perusahaan awal. Orang juga bisa pindah kerja karena ingin dianggap penting/berpengaruh atau dipecat dan terpaksa pindah karena wanprestasi. Ada pekerja berhenti kerja karena gagal kompromi dengan bos atau rekan kerja, meski ia masih punya prestasi, kemampuan, atau daya tawar yang mungkin bisa dikembangkan di perusahaan lain.

Tipe perusahaan beda-beda dan itu membuat perilaku, etos, budaya perusahaan, dan karyawan beda. Ada perusahaan yang dikelola terbuka, milik keluarga, atau semau-maunya (situasional). Modalnya juga lain-lain; ada dari investasi seseorang, utang bank, atau pinjaman mertua. Ada orang yang bisa balik lagi setelah mereka berhenti, ada pekerja tipe kutu loncat demi menaikkan karir. Banyak orang bisa betah kerja sangat lama dan membangun karir di perusahaan yang bisa jadi sulit kita bayangkan, lepas bahwa mereka juga memendam ketidaksukaan terhadap sistem yang dibangun pendirinya. Apa pun jenisnya, perusahaan yang baik pasti berusaha mengelola dan mengembangkan dengan berbagai sistem yang dianggap cocok, misalnya menerapkan standar tertentu maupun ISO.

Contoh perusahaan keluarga. Bisa jadi mengelola kepentingan keluarga pemilik dan pendiri malah lebih sulit lagi dibanding mengelola roda bisnis dan perusahaan, karena di situ ada emosi, kekerabatan, share modal, ikatan darah, bahkan status. Bagi yang tidak cocok atau tidak puas, kondisi itu bisa mudah membuat seseorang ke luar. Intinya, semua perusahaan dan pekerja ingin maju dan berkembang. Mereka mencari berbagai cara ke arah sana.

OK, semoga komentarku berguna dan bisa kasih pandangan alasan seseorang untuk jadi editor dan berkarir di industri perbukuan.[]

Anwar Holid, aka Wartax, penulis buku Keep Your Hand Moving.

Thursday, February 28, 2013



Semakin Banyak Penulis Baru, Semakin Seru
Wawancara dengan Fandy Hutari
--Anwar Holid

Barangkali rada aneh, aku jadi cukup akrab dengan Fandy Hutari setelah kematian bang Mula Harahap. Bang Mula adalah senior kami di dunia perbukuan. Ternyata kami sama-sama pernah bersinggungan dengan bang Mula dan itu merupakan pengalaman mengesankan. Ketika baca Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal, aku makin salut pada anak muda ini. Setelah itu beberapa kali kami ngobrol di Kineruku, waktu aku sedang kerja atau dia sedang baca-baca cari rujukan.

Berikut wawancara dengan beliau.

* Bagaimana kamu menjalani karir sebagai penulis selama ini?
Menjalaninya sekarang, mengalir saja. Kalau dulu dalam bayangan saya jadi penulis itu dapat uang banyak, populer, dan lain-lain, sekarang saya tidak pernah merasakan itu. Bagi saya sekarang, uang itu bonus. Layaknya profesi lain, ada suka dan ada pula “kepedihan”. Sukanya, ketika orang mengapresiasi tulisan kita, dengan mengirimkan komentar, walaupun hanya komentar pendek di jejaring sosial atau email. Bertemu dengan orang-orang baru, entah itu sesama penulis atau pembaca tulisan saya. Itu menyenangkan. Dukanya, mungkin saat apa yang kita kerjakan tidak sebanding dengan hasil yang kita peroleh. Misalnya, ketika kerjaan menulis kita, order untuk seseorang, lembaga, atau penerbit, dibayar murah, honor ditahan, atau bahkan tidak dibayar. Tapi, menulis itu proses. Pahit dan manis itu pengalaman. Let it flowSlow done but sure

* Apa kamu cukup puas dengan pencapaian kamu sebagai penulis?
Belum. Saya dulu menargetkan dalam setahun terbit satu buku. Dari buku pertama saya, yang terbit pada 2009, saya memang konsisten menerbitkan satu buku satu tahun secara beruntun: Sandiwara dan Perang (2009), Ingatan Dodol (2010), Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal (2011), dan Manusia dalam Gelas Plastik (2012). Tapi, saya merasakan stuck akhir-akhir ini, dan entah apa saya bisa konsisten dengan terbit buku setiap tahun. Buat saya, tak ada kata puas di dunia ini. Hajar saja selama bisa dihajar.

* Ceritakan kenapa kamu memilih berkarir sebagai penulis.
Terjebak. Hehehe. Enggak juga sih. Dari kecil saya suka berimajinasi. Dulu, waktu SD saya senang menggambar. Semasa kuliah, saya pernah diangkat menjadi koordinator media organisasi Front Mahasiswa Nasional kampus Universias Padjadjaran. Saya, dibantu beberapa kawan, saat itu membuat sebuah buletin kecil, Nah, di buletin itu ada artikel saya yang pertama saya publikasikan. Buletin itu sendiri saya jual 700 rupiah. Semasa kuliah juga saya banyak mencoba menulis artikel soal keadaan sosial, politik, pendidikan, dan lain-lain, entah file-filenya sekarang di mana. Terjun bebas ke dunia menulis yang sesungguhnya baru saya awali ketika lulus dari bangku kuliah. Jujur saja, waktu itu, saya bingung mencari pekerjaan, karena memang ijazah jurusan saya di kampus kurang menjual bagi perusahaan. Lalu, saya yang sudah terbiasa dicekoki buku-buku, membuat makalah, dan skripsi semasa kuliah, mencoba menuangkan apa yang saya tahu dalam bentuk artikel. Saya sempat kaget juga artikel pertama yang saya kirimkan ke Kompas Jawa Barat di tahun 2008 itu dimuat . Dari sana, saya mencoba terus menulis. Menulis bagi saya sudah seperti candu. Kalau tidak menulis, saya merasa pusing, entah kenapa. Dari artikel pertama itu, saya terus mencoba berkarier dalam dunia tulis-menulis. Saya membuat artikel, saya kirim ke koran, majalah, ataupun media online. Dari honor-honornya, hasilnya lumayan. Cukup untuk jajan.:D Timbul keyakinan kalau menulis bisa menghidupi saya, walaupun setelah itu anggapan tersebut mungkin sedikit luntur.

* Apa pengalaman terburuk kamu jadi penulis? Apa kamu melakukan usaha khusus untuk mengatasinya?
Pengalaman terburuk saya adalah ketika buku saya hanya mendapatkan royalti sedikit. Padahal, saya yakin yang membutuhkan buku saya itu banyak. Saya sendiri sering menerima email, message di Facebook, dan lain-lain. Mereka menanyakan buku saya dan ada pula yang memberi tanggapan. Mungkin, kalau dari pihak penerbit mendukung promosi untuk buku itu, hasilnya tidak sedemikian buruk. Untuk hal ini, saya berusaha jalan sendiri untuk mempromosikan buku saya. Contohnya, saya tawarkan untuk dibedah di sebuah radio, menulis resensinya di blog, meng-upload di jejaring sosial, dan lain-lain. Tapi, ya responsnya sedikit. Mungkin saja buku-buku saya terlalu kecil peluang pasarnya dan sulit mencarinya, tidak seperti buku-buku pop yang laku bak kacang goreng. Saya juga pernah mendapatkan proyek menulis yang honornya tidak dibayar-bayar. Walaupun akhirnya dibayar satu tahun kemudian, tapi usaha saya menagih honor itu berbuah “putusnya” tali silaturahim sesama teman.

* Kamu fleksibel menulis nonfiksi dan fiksi. Bisa komentar lebih jauh? Apa yang kamu incar dari kedua genre tulisan yang sangat berbeda itu?
Menulis nonfiksi berangkat dari latar belakang pendidikan saya, yaitu sejarah. Tulisan nonfiksi saya berkisar pada sejarah, seni, dan budaya Indonesia. Setiap membedah fenomena saya selalu berangkat dari latar belakang historisnya. Seperti ketika menulis soal kuda tunggang di Bandung yang sempat dimuat di majalah Basis. Menulis nonfiksi, buat saya kepuasan. Saya bisa berbagi ilmu saya, yakni sejarah, kepada pembaca. Dari tulisan nonfiksi, saya berharap bisa menjadi dokumentasi abadi dan referensi pembaca. Fiksi sendiri saya baru fokuskan di tahun 2010. Waktu itu cerpen saya dimuat di salah satu surat kabar nasional, walaupun honornya tak dibayar. Menulis fiksi, awalnya saya mencari semacam kepuasan baru. Saya berpikir, menulis fiksi di Indonesia lebih laku terjual. Selain itu, saya bisa mengisahkan tingkah laku manusia dalam setiap karakter tokoh yang saya buat. Semacam tuhan kecil. Mungkin itu juga bentuk kepuasan. Memang nonfiksi dan fiksi berbeda, tapi dari segi kerangka tulisan itu hampir mirip, kok.

* Apa tantangan terbesar kamu berkarir sebagai penulis?
Tantangan terbesar saya adalah berusaha meyakinkan keluarga saya kalau dengan menulis kita juga bisa kaya, ha ha ha...J Mungkin jawaban idealnya ialah bagaimana membuat tulisan yang laku dijual, dibaca maupun dibicarakan banyak orang, fenomenal, dan abadi dikenang orang, contohnya tetralogi Pramoedya Ananta Toer, yang hingga kini masih dicari orang itu.

* Bisa ceritakan cara kamu menggarap atau menyelesaikan sebuah tulisan, baik pendek ataupun panjang (berupa buku, misalnya)?
Hmmm…sebentar saya menyulut rokok dulu.:D

Cara saya menggarap tulisan ya dengan membaca, mewawancarai narasumber, melihat peristiwanya, atau mengimajinasikannya sendiri. Buku saya Sandiwara dan Perang (2009) dan Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal (2011) itu nonfiksi. Data-datanya saya dapatkan dari hasil membaca, mewawancarai narasumber, atau terjun melihat peristiwanya. Saya ambil contoh artikel soal seni gotong domba di Jatinangor. Artikel ini dipublikasikan Kompas Jawa Barat dan saya masukkan ke dalam Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal. Ketika ingin menulisnya, saya merangkum segala informasinya dari Internet sebagai studi awal. Lalu saya menghubungi seorang kawan yang kebetulan pernah bersinggungan dengan kesenian rakyat ini. Dari dia, saya memperoleh orang-orang yang bersinggungan langsung dengan seni tradisi tadi. Saya lakukan wawancara, membaca, dan melihatnya langsung. Dari sana semua data saya kumpulkan dan saya bahasakan dalam tulisan, runut secara kronologis. Untuk nonfiksi, saya cukup mengambil realitas sekitar lingkungan saya. Misalnya, fenomena sarjana pengangguran. Itu kan banyak ya di negeri kita yang katanya makmur, sejahtera, aman-tenteram bla bla bla ini. Lalu, saya benturkan dengan keadaan beberapa kawan. Saya lihat juga para pekerja “aneh”, misalnya tukang parkir. Saya imajinasikan. Kemudian, saya tuangkan dalam tulisan. Jadilah cerpen "Kepura-puraan", kisah tentang seorang sarjana cerdas yang akhirnya harus mengadu nasib menjadi seorang tukang parkir di depan sebuah warnet, sementara kawan-kawannya sudah menjadi karyawan kantoran bonafide. Kalau berupa buku, ya tinggal kumpulkan data saja, lalu menulis. Gitu.

* Selain alasan order dan penghasilan, kondisi apa yang bisa membuat kamu langsung tergerak menulis?
Insting dan sifat melankolik saya he he he. Misalnya, kalau saya melihat pengemis yang menggendong seorang anak di lampu merah perempatan jalan, saya langsung ingin menuliskan prototipe pengemis itu ke dalam cerita pendek. Atau, saya terkadang melihat fenomena seni tradisi yang ada di sekitar kita, tapi jarang yang mengangkatnya. Misalnya, kenapa sekarang seni tradisi, semacam ondel-ondel atau kuda lumping berkeliling di pinggiran jalan raya dan mereka seperti terjebak ke dalam lubang “meminta-minta”. Apa tak ada lahan berkreasi? Ya, seperti itulah.

* Apa ada hal baru dan menarik di dunia penulisan maupun penerbitan Indonesia akhir-akhir ini?
Di dunia penulisan, hadir penulis-penulis yang berasal dari dunia maya. Mereka yang awalnya iseng nge-blog atau berkicau di Twitter, mendadak jadi penulis top. Walaupun akhirnya konsistensi mereka dalam dunia menulis patut dipertanyakan. Sebab, yang seperti itu terkadang musiman. Muncul lalu hilang. Tapi, ya bagus juga. Semakin banyak penulis baru, semakin seru. Setiap orang punya rezeki masing-masing, kok.J

Penerbitan di Indonesia sekarang kecenderungannya semakin marak penerbit indie, atau hadir penerbit kecil yang karyawannya cuma dia seorang (dia ngedit, membuat layout, bikin desain cover, di marketing, dia promosi, segala dia...) dan nongkrong di situs gratis, macam Blogspot atau Wordpress. Memang, membuat penerbit itu gampang banget sih, cuma yang saya pertanyakan moralitas ketika sudah menjadi publisher. Tanggung jawab moral itu yang berat. Kita bertanggung jawab pada pembaca dan penulis sekaligus.

Penerbit besar pun sekarang banyak yang menawarkan jasa “indie” atau “print on demand” (POD). Saya bersama beberapa teman juga sedang mengembangkan konsep penerbitan sistem POD ini. Tentu kami menyiapkan konsep tidak asal-asalan, karena kami berpikir soal moralitas sebagai penerbitan tadi. Maraknya penerbit indie, POD, atau penerbit tunggal (penerbit satu orang melakukan banyak hal he he he) di satu sisi memang memudahkan penulis untuk menerbitkan karya mereka, walaupun harus membayar ongkos untuk edit, layout, dan lain-lain. Namun, di sisi lain, ini menjadikan penulis terbiasa “dimanja”. Dengan adanya penerbit-penerbit ini penulis jadi cenderung tidak mau belajar memperbaiki kualitas dan ide tulisannya. Asal dompet tebel, mereka mudah saja terbat-terbit karya, kan?

* Terakhir, apa target tertentu kamu di tahun 2013 ini?
Target saya tahun ini novel saya yang ditolak penerbit-penerbit besar bisa terbit. Sebetulnya novel ini pernah terbit oleh sebuah publishing kecil, tapi lantaran kecewa dengan hasil cetak, sistem royalti, dan pemasarannya, saya tarik lagi. Lalu, saya ingin kembali produktif lagi kayak dulu, menulis artikel, cerpen, buku, dan lain-lain, sewaktu saya bekerja “tanpa kantor”. Bekerja di sebuah perusahaan media atau penerbit besar juga impian saya di tahun ini. Saya juga ingin sekali melanjutkan studi S2 bidang jurnalistik atau cultural studies. Amin.


Bibliografi Fandy Hutari
1. Sandiwara dan Perang; Politisasi Terhadap Aktivitas Sandiwara Modern Masa Jepang (Penerbit Ombak, 2009)
2. Ingatan Dodol; Sebuah Catatan Konyol (Insist Media Utama, 2010)
3. Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal; Kumpulan Esai Seni, Budaya, dan Sejarah Indonesia (Insist Press, 2011)
4. Menulis di Media Massa,  Why Not?! (e-book) http://www.pustaka-ebook.com
5. Be, Strong Indonesia (edisi 4 antologi cerpen) (writer4indonesia, 2010)
6. Manusia dalam Gelas Plastik (Indie Book Corner, 2012)

Link terkait: