Showing posts with label Andrea Hirata. Show all posts
Showing posts with label Andrea Hirata. Show all posts

Thursday, June 11, 2009



Warisan Literer Bernama
Tetralogi Laskar Pelangi

---Anwar Holid


Baru saja saya menemukan kartu voucher isi ulang seri Laskar Pelangi keluaran sebuah operator telepon selular. Gambarnya sama dengan versi poster film tersebut. Begitu melihat kartu itu, angan-angan saya mencari tahu, produk apa saja yang sudah memanfaatkan merchandise dari turunan karya ini? Apa sudah ada cangkir dan handuk bergambar Laskar Pelangi? Mendadak saya membatin, "Kalau sudah begitu berhasil menyelusup ke banyak celah kehidupan, apa buku itu pantas disebut sebagai warisan literer bangsa Indonesia?"

Pertanyaan ini seakan-akan terasa "grandeur", tapi entah kenapa saya tergoda untuk menemukan jawabannya. Boleh jadi karena meledaknya tetralogi Laskar Pelangi membuat saya mengira bahwa novel ini merupakan contoh sempurna dari teori "Black Swan" (Angsa Hitam), yakni sesuatu yang muncul secara mendadak, kebetulan, namun pengaruhnya mampu meruntuhkan pandangan dunia sebelumnya.

Saya mengeksplorasi sejumlah komentar terhadap tetralogi tersebut. Cukup banyak komentar tersedia, bahkan sebuah situs mencuplik pendapat saya sendiri terhadap Laskar Pelangi, yakni berasal dari kolom Selisik (Republika), pada 30 Januari 2006: "Laskar Pelangi nyata-nyata mampu menarik perhatian publik dan membuat banyak orang merasa terlibat." Waktu itu saya menghadiri talkshow di Galeri Soemardja, ITB beberapa minggu setelah novel itu terbit. Orang-orang membahas isu pendidikan di dalamnya. Salah satu aspek menonjol yang lahir dari fenomena Laskar Pelangi ialah betapa tetralogi ini mampu menjadi bahan pembicaraan banyak orang terutama dalam hal pendidikan dan berhasil memenuhi selera massa yang begitu besar---meski golongan yang resisten juga terus-menerus mempertanyakan ada apa di balik fenomena tersebut.

Saya butuh pendapat yang relevan dan cukup menguatkan bahwa tetralogi ini memang pantas untuk dinisbatkan sebagai warisan literer Indonesia, kira-kira setara bila kita dengan bangga menyebut-nyebut bahwa sebuah buku tertentu pantas masuk dalam kategori masterpiece (adikarya)? Adakah syarat tertentu yang membuat sebuah buku bisa dianggap sebagai warisan literer? Atau boleh semata-mata dilihat dari penerimaan publik?

Misal pada kasus gambar kartu voucher isi ulang tadi. Operator telepon selular memilih mengeluarkan kartu voucher seri para pesohor jelas karena alasan dan sasaran khusus, di antaranya ialah mempertimbangkan faktor popularitas. Seperti dulu saya pun pernah mengambil kartu voucher bergambar Coldplay, grup rock asal Inggris yang mendunia. Karena image mereka sudah begitu familiar, operator berharap massa bisa dengan mudah menyerap komoditas tersebut. Di sisi lain, produser merasa telah mengeluarkan sesuatu yang berharga, collectible (pantas dikoleksi dan dicari-cari), dan membanggakan buat pangsa pasarnya.

Begitu juga halnya dengan Laskar Pelangi. Sebagai komoditas, dikemas lewat berbagai media Laskar Pelangi tetap mampu menarik minat banyak orang. Berbagai produk turunan dari sana pun tetap diserbu pembeli, bahkan berpotensi menjadi fetish. Itu menunjukkan mereka sama-sama merasa ikut memiliki atas sebuah produk. Ingin menjadi bagian dari budaya massa.

Komentar Riri Riza (sutradara) dan Mula Harahap (pelaku penerbitan) terhadap novel tersebut mungkin cukup bisa menggambarkan kekuatan kandungan sosio-kultur di dalamnya. Kata Riri, "Andrea Hirata memberi kisah indah tentang keragaman dan kekayaan tanah air, sekaligus memberi pernyataan keras tentang realita politik, ekonomi, dan situasi pendidikan kita. Tokoh-tokoh dalam novel ini membawa saya pada kerinduan menjadi orang Indonesia." Sementara Mula berkomentar, "Cerita-cerita yang dituturkan oleh Andrea Hirata ini menjadi menarik karena ia diletakkan dalam setting Magai yang terpencil itu, tempat budaya Melayu berinteraksi dengan budaya Cina Khek, dimana ekonomi nelayan berinteraksi dengan ekonomi perusahaan tambang timah, dan nilai moral Islami berinteraksi dengan nilai modern yang dekaden."

Lepas dari sejumlah bocel yang diperlihatkan oleh para pengkritik untuk membuktikan kelemahan kisah tersebut, tetralogi Laskar Pelangi menyimpan banyak daya tarik. Begitu kuat dayanya, hingga bisa mempengaruhi keluarga-keluarga yang awalnya boro-boro mau belanja buku selain buku wajib untuk sekolah anaknya, akhirnya rela membelikan novel itu dengan harapan agar anaknya terinspirasi oleh Ikal dan kawan-kawan.

Kritik yang paling menarik minat saya terhadap tetralogi tersebut ialah kajian sisi poskolonialisme di dalamnya. Topik ini mula-mula muncul dari esai Heru Hikayat---yang lebih terkenal sebagai kurator seni rupa daripada kritikus buku---untuk diskusi lain Laskar Pelangi di sebuah universitas. Persoalan itu muncul lagi dari esai "Mengantar dari Luar" (Puthut E.A.) dan buku LASKAR PEMIMPI; Andrea Hirata, Pembacanya dan Modernisasi (Nurhadi Sirimorok). Ketiga orang ini penasaran, kenapa Ikal begitu terpikat pada Jakarta, sementara masyarakat kaumnya menganggap bahwa Jawa merupakan simbol peradaban, kemudian saat dewasa menilai Eropa sebagai jantung kemajuan umat manusia. Mereka menemukan ternyata Ikal inferior terhadap budaya sendiri, dan kerap menjadikannya sebagai bahan olok-olok. Ironi yang menghibur. Kritik Puthut E.A. masuk akal: "Semoga akan ada banyak karya yang mengkritisi isi produk sastra kita; semoga ada yang punya waktu luang, kesabaran dan keberanian untuk membeberkan dimensi politik dan ekonomi sastra kita. Tanpa pengetahuan soal itu, para pelaku sastra ibarat bermain pedang di lanskap gelap."

Di Maryamah Karpov (Bentang, 2009)---novel terakhir tetralogi Laskar Pelangi---olok-olok itu sangat terasa, sampai menghabiskan hampir seperempat bagian isi buku. Meski begitu, Ikal kembali pada akarnya, menggali dan mengagungkan kekuatan budaya setempat, menggunakan warisan leluhurnya. Dia berani menanggalkan atribut kebanggaan setelah merantau amat jauh dari luar pulau untuk menyadari betapa kaumnya sendiri memiliki sesuatu yang pantas dibanggakan.

Sebagai produk budaya, tetralogi Laskar Pelangi cukup universal, ia bisa dinikmati baik oleh orang dewasa dan anak-anak. Isu utama yang muncul dari komoditas produk tersebut ialah soal pendidikan, warisan budaya, identitas, dan penghormatan pada orangtua. Rupanya, publik juga menerima strategi tersebut dengan antusias. Ini terlihat dari reaksi para guru, orangtua, murid-murid, pembaca buku, juga penonton film. Produk turunannya boleh dibilang selalu mereka tunggu. Seperti sekarang, ketika film Sang Pemimpi sedang dalam tahap proses produksi.

Nah, apakah publik akan benar-benar menganggap rangkaian buku Laskar Pelangi ini sebagai warisan budaya atau semata-mata komoditas, bisa jadi bergantung pada penilaian masing-masing orang, terutama seberapa berharga makna buku tersebut buat dirinya.[]


ANWAR HOLID, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung. Bekerja sebagai editor & penulis freelance. Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@yahoo.com | Tel.: (022) 2037348 | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141

Copyright © 2008 oleh Anwar Holid

Informasi lebih banyak di:
http://www.klub-sastra-bentang.blogspot.com
http://www.mizan.com

Tuesday, April 21, 2009


Andrea Hirata bersalaman dengan Walikota Jakarta Pusat Sylviana Murni

Andrea Hirata: Menulis itu Elegan
--Anwar Holid


Hampir dua ribu guru dari sekolah-sekolah di Jakarta Pusat berkumpul di Aula Senayan City untuk mengikuti talkshow Kemuliaan Mengajar (Nobility of Teaching) yang menghadirkan penulis Andrea Hirata dan Arvan Pradiansyah, ditemani host Soraya Haque.

JAKARTA - Sejak mulai menulis tetralogi Laskar Pelangi, Andrea Hirata boleh dibilang menjadi salah satu penulis paling hip di Indonesia saat ini; sementara Arvan Pradiansyah makin memantapkan diri sebagai penulis motivasi dan kepemimpinan setelah menerbitkan The 7 Laws of Happiness.

Penerbit Mizan menyelenggarakan acara itu bekerja sama dengan pemerintah kota Jakarta Pusat, Telkom Divre II, Sampoerna Foundation, ditambah pihak Senayan City yang menyediakan fasilitas aula begitu lega bagi guru-guru yang datang sejak pagi dan terlihat antusias mengikuti acara, meski di awal pembukaan terasa agak banyak basa-basi, membuat acara inti jadi sedikit terlambat. Kondisi ini tampak memaksa Soraya Haque berinisiatif mengubah set acara. Dia langsung menarik kedua pembicara untuk fokus membicarakan apa itu kemuliaan mengajar, mengaitkannya dengan Mukjizat Menulis (Miracle of Writing).

Andrea dan Arvan pada dasarnya menekankan betapa mulia berprofesi sebagai guru. Sebagai mantan murid sekolah, keduanya telah merasakan kemuliaan para guru dan menerima teladan yang mustahil terlupakan. Buktinya, karya Andrea dipersembahkan bagi gurunya, sementara Arvan selalu mencari opsi untuk tetap bisa menjadi dosen di almamaternya, FISIP UI, bila kerja di suatu perusahaan, dan itu berjalan lebih dari 13 tahun.

Laskar Pelangi menguak guru sekolah dasar bernama ibu Muslimah yang selalu berhasil memenuhi kehausan ilmu sepuluh muridnya, dan ini ditunjang oleh kepala sekolah yang begitu rela berkorban, Harfan Effendy Noor. Drama pendidikan di sekolah sederhana di pulau terpencil itulah yang hingga kini menyihir ratusan ribu--bahkan konon jutaan--pembaca Indonesia, dan tampaknya tetap menimbulkan rasa penasaran kecuali ditanyakan langsung kepada saksi mata terdekatnya: Andrea Hirata.

"Menjadi guru di zaman sekarang harus powerful, kreatif, bisa berpikir di luar yang lazim. Itu baru bisa tercapai bila setiap guru punya kecintaan pada profesi, punya karakter. Pendidikan itu mestinya merupakan perayaan, ilmu itu tantangan," kata Andrea mengomentari idealisasi tentang pengajaran. Andrea menyayangkan bahwa sejak dulu terjadi pemarjinalan terhadap profesi guru, ini terbukti dari perlakuan kurang adil terhadap guru maupun prioritas anggaran pendidikan.

Untuk menekankan kemuliaan pengajaran Andrea menyatakan, "Guru yang mulia itu seperti sumur jernih ilmu pengetahuan di ladang yang ditinggalkan." Pengajaran yang berhasil berbekas pada murid yang mencintai guru, terinspirasi oleh teladan yang dia berikan. Pada suatu kesempatan, Andrea pernah berujar, "Yang penting buat saya ialah bagaimana cara agar sekarang dunia pendidikan kembali melihat warisan yang ditinggalkan guru-guru seperti ibu Muslimah dan pak Harfan."

Bagi Andrea sendiri, Laskar Pelangi merupakan kisah tentang guru yang ditangkap oleh seorang muridnya, merekam warisan pendidikan dari satu jenjang ke jenjang berikutnya. Energi itu terus berlangsung sampai pada buku keempat, Maryamah Karpov, ketika Ikal--protagonis tetralogi itu--berhadapan dengan guru-guru asing di Universitas Sorbonne, Paris, Prancis, yang berkarakter lain sekali dibandingkan guru lamanya di kampung.

Sesi tanya jawab menjelaskan seberapa penasaran sebenarnya publik kepada Andrea. Rasanya lebih seperti jumpa fans, bahkan sejumlah guru menyatakan seakan-akan mimpi sampai bisa bertemu dengan penulis yang buku-bukunya telah memberi semangat kepada profesi mereka, membuat dunia pendidikan menjadi begitu penting, harus diperhatikan, dan mendapat prioritas. Pertanyaan yang muncul mulai dari hal sepele, masa-masa sekolahnya, berbagi pengalaman menulis, hingga "bagaimana cara menjemput hikmah?"

"Yang saya harapkan dari tulisan-tulisan saya ialah ia memberi inspirasi, bukan semata menjual," kata Andrea pernah pada suatu kesempatan. Antusiasme publik jelas membuktikan itu. Buku dan kepenulisan telah mengantarkan Andrea ke status yang sulit dibayangkan sebelumnya. Bila dulu di awal Laskar Pelangi terbit sebagian orang menyebutkan dia beruntung, kini semua yang telah dia tulis, lihat, nilai, dan rasakan menjadi "mukjizat" yang menyemangati dan mengilhami banyak orang.

Tentang kemampuan menulisnya, dengan gaya khas dan merendah, Andrea menyatakan bisa jadi dia bisa menulis karena dirinya orang Melayu. "Orang Melayu itu dalam keadaan marah masih bisa berpantun atau menyatakan metafora," kata dia disambut tawa peserta. Tapi lebih dari itu, awalnya ialah dia termotivasi. "Ketika melihat beliau jalan kehujanan hanya berpayung daun pisang menuju sekolah kecil kami, dalam hati saya berjanji akan menulis buku untuk mengenang ibu Muslimah," ucapnya. Janji itu dipenuhi, dan muncul mengejutkan. Kenapa memilih tulisan, bukan lainnya? Jawab Andrea: "Menulis itu elegan."

Talkshow bertema Kemuliaan Mengajar (Nobility of Teaching) pertama kali diusung Mizan pada 2007 lalu, ketika Mizan mengadakan acara tersebut dengan mengundang seribu guru di Bandung dan sekitarnya sekalian membagi gratis buku pertama Laskar Pelangi.[]

Copyright © 2008 BUKU INCARAN oleh Anwar Holid

KONTAK: wartax@yahoo.com (022) 2037348 0857 215 111 93 Panorama II No. 26 B, Bandung 40141

Situs terkait:
http://www.klub-sastra-bentang.blogspot.com
http://www.mizan.com

Saturday, February 28, 2009



[Maryamah Karpov]
NOVEL YANG MEMENANGI SELERA MASSA

Oleh Anwar Holid

Kesuksesan tetralogi Laskar Pelangi menyempilkan istilah yang mengundang tanda tanya: cultural literary nonfiction. Seperti apakah itu?

DESEMBER 2008 lalu, ketika masih membawa-bawa Maryamah Karpov (Bentang, 504 hal.) ke mana pun pergi ingin segera menamatkannya, saya malah bertemu dengan orang yang malah belum selesai membaca Laskar Pelangi. Dia menenteng buku pertama tetralogi itu sambil menunggui anaknya yang latihan main perkusi bareng anak saya. Beberapa minggu sebelumnya, kami sempat membicarakan kehebohan cerita-cerita berlatar pendidikan di pulau terpencil itu.

"Ini baru sempat baca," katanya. "Kebetulan istri saya kemarin beli waktu jalan ke toko buku."

Saya lihat dia sudah lebih dari setengah membuka novel itu. Padahal saya beserta ratusan ribu pembaca lain sudah menamatkannya beberapa hari atau minggu setelah novel itu terbit pada 2005. Apa ada beda signifikan bila seseorang baru sempat membaca karya yang terbit beberapa tahun lalu? Mungkin tidak. Saya sendiri, karena sebuah keperluan, baru-baru ini membaca lagi Laskar Pelangi, dan dampaknya menurut saya berbeda ketika waktu dulu menamatkan untuk pertama kali. Ketika membaca dua atau tiga kali, kita jadi lebih dewasa, ada refleksi dan rujukan yang lebih kaya dari sebelumnya. Tapi, ada juga fakta yang harus saya sebut, bahwa sebagian orang ternyata tetap gagal membaca novel itu. Entah kenapa; mungkin butuh bahasan lebih lanjut.

Setelah melewatkan Sang Pemimpi dan Edensor, saya langsung loncat ke Maryamah Karpov. Beruntung, sebagian orang memberi tahu isi dan mengungkapkan kesan mereka terhadap volume kedua dan ketiga tersebut. Pukul rata, kebanyakan orang lebih terkesan pada Sang Pemimpi daripada Edensor. Bagi saya sendiri, Edensor cukup menyita perhatian karena masuk nominasi KLA 2007. Setidaknya ini membuktikan bahwa para juri memperhitungkan kekuatan sastra novel tersebut---sebab kalangan tertentu meragukan aspek tersebut bisa muncul di sana.

Ketika bicara tentang daya tarik tetralogi itu secara keseluruhan, tampaknya semua orang sependapat bahwa keunggulan kisah itu ialah pada keutuhan aspek fiksinya. Tetralogi itu lucu, romantis, dibumbui petualangan dan kisah fantastik, menjadikannya sangat inspirasional bagi pembaca fanatik, terasa dekat dengan kondisi pendidikan di Indoesia sehari-hari. Keutuhan aspek tersebut membuat tetralogi itu jadi seimbang. Dengan porsi masing-masing, semua muncul satu demi satu, silih berganti, sampai tanpa terasa ia menarik imajinasi pembaca ke sebuah kisah dan kejadian yang lengkap, mulai dari drama yang mengharu-biru, lantas disusul dengan humor, ironi, tragicomedy, juga pengharapan, optimisme, dan tentu saja petualangan-petualangan fantastik. Seorang fanatik Laskar Pelangi manapun bisa cerita kehebatan tetralogi itu lebih detail dan bersemangat daripada saya.

Struktur Laskar Pelangi dan Maryamah Karpov agak mirip sekaligus melingkar, yaitu kembali ke awal. Bila di buku pertama Laskar Pelangi terbentuk, di buku keempat Laskar Pelangi reuni. Di masa kecil, jagoan Laskar Pelangi yang paling disegani ialah Lintang dan Mahar; setelah dewasa kedua orang itu kembali muncul sebagai penyelamat Ikal. Pandu Ganesa, seorang fanatik karya-karya Karl May dengan menarik menilai karakter Lintang dan Mahar sebagai representasi otak kiri dan kanan--yang diharapkan supaya seimbang. "Ini dielaborasi dengan gegap-gempita oleh si penulis." Bedanya, bila di Laskar Pelangi Tuk Bayan Tula mengadali Mahar, kini sebaliknya. Mahar ganti mengerjai Tuk yang gagap teknologi. Petualangan di hutan dan laut kembali terjadi, dengan intensitas lebih serius.

Bila dulu sepuluh anak bermain, berkelana, melakukan banyak kegiatan, menjelajah wilayah-wilayah berbahaya, merambah hutan dan nekat menjadi penyelamat, kini setelah dewasa yang benar-benar mengemuka hanya bertiga. Ini konsekuensi logis dari perjalanan waktu dan peristiwa, sebab orang dewasa punya agenda dan prioritas masing-masing. Perjalanan menguatkan karakter sekaligus mengeraskan trauma seseorang.

Sengaja Mengundang Kontroversi?

Kenangan merupakan salah satu subjek paling penting dalam tetralogi ini. Namun, kali ini Ikal bukan mengenang masa kecilnya, melainkan ketika dia dewasa. Dia mengulang kenangan bersama ayah, mengenang A Ling yang susah-payah ia coba gapai dengan berbagai cara namun masih gagal, termasuk kenangan-kenangan bersama Laskar Pelangi sebelum akhirnya masing-masing menjalani nasibnya. Misal Mahar. Di buku pertama, sebelas tahun setelah mereka berpisah kala SMP, Mahar masih menjadi pendakwah Islam di kawasan terpencil di sekitar pulau Belitong. Tapi kini Mahar sudah sepenuhnya jadi dukun dan mengaktifkan lagi Societeit de Limpai, sebuah organisasi paranormal. Bila dulu Societeit menyewa perahu untuk mengarungi samudera, kini Ikal bikin sendiri!


Apa perubahan-perubahan itu mengurangi daya tarik novel tersebut? Bagi orang yang terlalu kritis dan berkeyakinan bahwa cerita itu terlalu fantastik untuk terjadi sebagai kenyataan, novel itu dinilai terlalu berlebihan. Rollo May, seorang tokoh kreativitas, menyebutkan bahwa imajinasi memungkinkan manusia menimbang-nimbang beragam kemungkinan, membuka kesempatan yang lebih luas lagi, termasuk di antaranya bisa menerima ambiguitas. Sejak awal, Laskar Pelangi memainkan-mainkan anggapan itu. Di satu sisi, karya itu tegas disebut sebagai novel; tapi di sisi lain banyak orang bersemangat mencari jejak-jejak kenyataannya, karena sebagian memang ada. Sedangkan penerbit menyebut itu sebagai "cultural literary nonfiction." Sengaja untuk menciptakan kontroversi?

Menarik kalau ada yang membahas unsur warisan budaya pada tetralogi itu. Boleh jadi di sinilah kritik Nurhady Sirimorok dalam Laskar Pemimpi (Insist Press, 191 hal.) memiliki arti penting. Buku itu menurut Puthut EA “berusaha membersihkan kacamata kita yang telah buram karena terlewat asyik menyimak pandangan yang homogen.”

Maryamah Karpov pun demikian. Banyak pembaca dengan mudah bisa menemukan kabut logika di sana; mereka telah mengungkapkannya di berbagai media dan kesempatan. Tapi satu hal, dan ini boleh jadi mengherankan, novel itu tetap diburu, dan kesan umum pembacanya tetap sama, bahwa kisahnya lucu, romantis, penuh petualangan, inspirasional, dan dekat dengan kehidupan para pembacanya.

Tetralogi Laskar Pelangi minimal membuktikan sesuatu dengan amat nyata, yaitu ia telah memenangi selera massa.[]

Copyright © 2008 BUKU INCARAN oleh Anwar Holid

KONTAK: wartax@yahoo.com (022) 2037348 0857 215 111 93 Panorama II No. 26 B, Bandung 40141

Situs terkait:


Saturday, February 21, 2009





Mimpi dan Harapan dalam Maryamah Karpov
--Anwar Holid


Maryamah Karpov
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: Bentang, 2009
Halaman: 504 hal.
ISBN: 978-979-1227-45-2


Mimpi dan harapan hanya berbeda sedikit saja. Bahkan pada satu titik, keduanya bertemu. Salah satu arti mimpi ialah sesuatu yang diharapkan, diidam-idamkan, atau begitu ambisius dinginkan oleh seseorang, biasanya sesuatu yang sulit dicapai atau dilepaskan dari keadaan sekarang. Ada satu peribahasa Filipina mengenai harapan, bunyinya seperti ini: keberanian merupakan buah dari harapan.


Bahkan sebagian orang beranggapan bahwa hanya orang beranilah yang biasanya bisa mewujudkan harapan. Atau kalaupun dia gagal mendapatkan mimpi dan harapan itu, dia telah mencoba dengan gagah, ksatria, habis-habisan. Bila demikian, orang-orang pun tetap respek pada dirinya. Mereka berhenti melihat kegagalan orang bersangkutan, malah menoleh pada keberanian dan keteguhan dirinya. Itulah buah harapan, buah dari keyakinan orang dalam mewujudkan mimpi-mimpinya.


Maryamah Karpov (Bentang, 504 hal.), pamungkas tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, memiliki subjudul "Mimpi-mimpi Lintang." Sejumlah pembaca Maryamah Karpov, terutama yang begitu fanatik pada tiga novel sebelumnya, menilai subjudul tersebut sebenarnya lebih pantas menjadi judul utama dan justru dengan sangat tepat mewakili semangat novel bungsu itu. Sebab dengan mimpi dan harapan itulah Ikal beserta sejumlah tokoh lain dalam novel ini mengarungi kehidupan, mempertaruhkan keyakinan, berusaha mewujudkannya, satu demi satu. Wajar bila ada seseorang berkomentar, "Semangat, keberanian bermimpi dan mewujudkan mimpi paling gila sekalipun merupakan inti novel ini."


Memang ada banyak harapan dan mimpi dalam Maryamah Karpov. Harapan paling hebat yang muncul di awal-awal novel ini ialah harapan Ketua Karmun untuk memajukan masyarakat dan kampungnya. Caranya sederhana saja: dengan menerima seorang dokter gigi berpraktik di sana. Namun ternyata harapan itu tak semudah dugaannya. Masyarakat, terutama karena masih terhalang oleh berbagai anggapan sempit, menolak usaha itu. Bahkan Ikal, yang nota bene sangat terdidik, karena trauma dan alasan tertentu, sulit memberi contoh betapa penting perubahan itu bagi kampungnya di masa depan. Ketua Karmun membujuk dengan berbagai cara untuk mewujudkan harapannya, tapi berkali-kali dia gagal.


Harapan--yang juga merupakan tema utama Laskar Pelangi--dulu pernah diucapkan Andrea Hirata dalam wawancara dengan harian Pikiran Rakyat, sektiar 3 tahun lalu. Dia bilang, "Agar orang jangan mudah berputus asa. Belajarlah dengan betul. Itu sebenarnya pesan utama saya. Klasik sebenarnya, tapi dengan bercontoh dari Laskar Pelangi, kesulitan apa pun terutama dalam masalah pendidikan, bisa diatasi. Buktinya, anggota Laskar Pelangi bisa survive. Pokoknya don't give up."


Maka di ujung tetralogi ini, Andrea melanjutkan berbagai harapan; harapan Ikal bertemu A Ling, harapan Ketua Karmun meningkatkan taraf kesehatan masyarakat, harapan Kalimut mengubah nasib dengan mau berisiko menyeberangi lautan menuju Singapura. Harapan dan drama yang dibawa dalam petualangan bersama Mimpi-mimpi Lintang.


***


Harapan menghidupkan energi orang-orang, membuat mereka terus aktif, mencari banyak alternatif, pantang menyerah, mengalahkan berbagai energi negatif yang mencoba meruntuhkan moral. Meski mereka juga gelap atas apa yang bakal terjadi di masa depan, mereka enggan mundur, malah terus mencari peluang. Barangkali, dalam kasus ini, optimisme Ketua Karmun sungguh pantas di kedepankan. Dengan berbagai cara dia gagal membujuk Tancap bin Seliman agar beribat ke dokter gigi Budi Ardiaz, namun senantiasa gagal. Namun, di puncak kegagalan upaya yang juga persis di puncak rasa sakit gigi Tancap, Ketua Karmun akhirnya malah menunjukkan belas kasihan demi menolong rakyatnya yang kesakitan.


Mimpi dan harapan itulah yang menjaga sejumlah tokoh dalam Maryamah Karpov berhasil mengatasi kesulitan. Meski bagi Ikal sendiri kisah itu berakhir pilu, toh dia sebelumnya sempat mengalami masa-masa madu. Mungkin inilah kekuatan sebuah novel yang ditingkahi dengan kejadian-kejadian hiperbolik, ironik, dan humor. Pembaca dibuai oleh mimpi-mimpi yang awalnya menghanyutkan, lantas diseret oleh peristiwa dramatik, musykil, namun ujungnya ternyata menghempaskan harapan pembaca itu sendiri. Barangkali, itulah kekhasan sebuah novel yang disebut-sebut sejumlah orang istimewa berkat "cara berceritanya luar biasa."


Mimpi seperti apa yang malah membuat pemimpinya bersemangat dan bisa terus berharap? Itulah mimpi yang membuat pelakunya hidup. Kata sebuah pepatah, "jika ingin mimpimu jadi kenyataan, jangan sampai kamu tidur." Kenapa? Karena dengan begitu orang tersebut akan berusaha dan mencari cara agar mimpinya terwujud, sebab untuk mewujudkan itu perlu dorongan, strategi, energi, dan konsistensi. Ada keyakinan bahwa bila mimpi dilekatkan erat-erat di depan kepala, dipasang persis di depan mata, mimpi itu bakal terwujud.


Maryamah Karpov memperlihatkan bagaimana para karakter di dalamnya mewujudkan impian. Mimpi paling ambisius dalam novel itu tentu mimpi Ikal, protagonis novel ini, yang memanfaatkan peluang atau tanda-tanda sekecil apa pun demi menemukan pujaan hatinya. Dia melakukan apa pun dan mengorbankan segala-galanya demi mempertaruhkan keyakinannya. Ikal bahkan boleh dibilang secara hiperbolik melakukan hal-hal di luar nalar orang normal terpelajar, ketika dia bahkan rela meloakkan jam tangan, tape recorder, kalkulator, koleksi uang kuno dan prangko, jas almamater, baju, celana, sepatu, termasuk plakat penghargaan akademik demi membiayai pembuatan perahu yang dia wujudkan dengan bantuan kawan-kawan Laskar Pelangi.


Mimpi membuai, harapan menghidupkannya. Kita kerap rela membaca dan memperhatikan mimpi yang mempesona, yang memberi kelegaan setelah mendapatkannya. Buktinya ada banyak kisah--baik buku dan film--yang awalnya bermula dari mimpi, atau gabungan antara dunia mimpi dan nyata. Tapi jelas ada beda antara mimpi melenakan yang kerap berserakan jatuh sekadar jadi bunga-bunga kehidupan dengan mimpi yang begitu kuat, menggetarkan, nyata, sampai ia harus berusaha diwujudkan, apa pun bayarannya. Ia pantas menjadi kenyataan. Itulah mimpi yang berharga dan bermanfaat.[]


ANWAR HOLID, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung. Bekerja sebagai editor & penulis freelance.


KONTAK: wartax@yahoo.com (022) 2037348 Panorama II No. 26 B, Bandung 40141


Copyright © 2009 BUKU INCARAN oleh Anwar Holid


Informasi lebih banyak di:
http://www.klub-sastra-bentang.blogspot.com
http://www.mizan.com

Monday, February 02, 2009






[Maryamah Karpov]
Hok Lo Pan dan Lanun Lekat dalam Ingatan
--Oleh Anwar Holid

Maryamah Karpov merupakan novel terakhir yang saya baca di pengujung 2008 dan sensasinya masih terasa ketika memasuki awal 2009. Salah satu hal paling mengesankan ialah saya mendapat kosakata baru: hok lo pan dan lanun.

Apa hok lo pan itu? Itu ialah kosakata lokal yang hanya akrab di telinga penduduk kepulauan Bangka-Belitung (Babel). Begitu mendapati kata itu, saya langsung cari ke rujukan, antara lain Kamus Alan-Schmidgall, Tesaurus Eko Endarmoko, dan KBBI, hasilnya nihil. Saya bertahan untuk berusaha memahami kata eksotik itu dari dalam novel cantik itu sendiri. Tapi ternyata saya masih sulit membayangkan seperti apa kue yang bisa bikin perut orang keroncongan dari uap asapnya saja. Akhirnya saya menyerah dan minta saran Google. Hasilnya? Silakan cek sendiri. Kalau saya kasih tahu, Anda akan berhenti baca esai ini. Bila Anda bertemu dengan orang Babel, mereka bisa cerita lebih menarik dan detail apa itu hok lo pan, serta apa bedanya dengan kue yang begitu biasa dan akrab kita makan.

Bagaimana sang penulis bisa bertahan untuk mencomot kosakata setempat alih-alih menggunakan kata yang jauh lebih populer? Boleh jadi itu akal Andrea Hirata untuk menyarankan agar kosakata itu nanti dimasukkan ke kamus-kamus terkemuka bahasa Indonesia. Dia memetik kekayaan latar belakang budayanya menjadi elemen yang menghidupkan cerita. Dia mengisahkan betapa hok lo pan bikinan Lao Mi rasanya "bisa membuat lupa akan mertua" dan orang sekampung selalu berkerumun di sekitar lapaknya, yang hanya buka sebentar karena persediaannya terlalu cepat habis dan orang-orang miskin rela menabung dulu agar bisa beli.

Lanun juga dimanfaatkan Andrea secara maksimal. Kata ini terdaftar pada KBBI, namun menurut Kamus Alan-Schmidgall, merupakan serapan dari Filipina, yaitu bajak laut dari Filipina selatan, biasanya merajalela pada Juli dan Agustus, mereka bisa berlayar hingga jauh ke arah selatan di kabupaten Berau dan pulau-pulaunya di Kalimantan Timur. Sementara "Berau" sendiri tampak sangat dengan kata "berae"---dagang kelontong keliling ala Belitong.

Hok lo pan, lanun, berae merupakan tiga hal yang sulit dibandingkan dengan hal lain, membuat Maryamah Karpov memiliki sesuatu yang mudah melekat dalam hati pembaca. Agus Ekomadyo mengekspresikan pendapatnya setelah tamat baca novel itu: "Sepertinya Andrea tengah bergumam tentang realita hidup: perjuangan, cita-cita, pengembaraan, tragedi, ironi." Tepat. Memang harus lebih sabar untuk mendapat kesan menentukan seperti itu, sebab inti cerita baru beranjak mengental bila kita sudah melampaui halaman 200 ke atas. Di halaman awal, mungkin banyak pembaca mengira-ngira, apa yang sebenarnya subjek utama novel ini bila ada begitu banyak mozaik tentang kehidupan masyarakat Melayu di pulau Belitong?

Perjuangan memang jadi warna utama novel ini. Ada sejumlah tokoh yang jelas berjuang di sini. Ayah Ikal berjuang mengatasi rasa kecewa meski pengabdiannya diabaikan perusahaan, dan tetap berusaha menjadi ayah yang tegar; dokter gigi Budi Ardiaz berjuang mendapat kepercayaan masyarakat; Arai berjuang mendapatkan istri, Mahar berjuang mempertahankan kewibawaan ilmunya, dan Ikal berjuang dengan masa depan dan berusaha menyelamatkan tambahan hatinya.

Selesai studi di Prancis, Ikal ternyata memilih pulang kampung dulu daripada langsung meniti karir. Kepulangan itu ternyata tak semulus dugaannya. Setelah masa kangen-kangenan berakhir, segera dia harus menghadapi tatapan menuntut ibunya, agar dirinya cepat-cepat menikah atau bekerja. Tapi ternyata dalam kedua hal itu dia bernasib malang. Di kampung itu dia kesulitan mendapat kerja, masih terlalu ingin melepaskan rindu pada suasana kampung, sementara pujaan hatinya, A Ling, entah ke mana. Dia sudah mencari ke segala tempat yang mungkin, tapi gadis itu tetap hilang. Yang dia lakukan akhirnya menikmati keadaan, memperhatikan budaya yang membentuk diri dan masyarakatnya, terlibat dengan seluruh kehidupan. Awalnya tampak ada isyarat bahwa Ikal akan menjadi sarjana pulang kampung, mengabdi pada masyarakat dengan bekal seluruh pengetahuan yang dia bawa dari rantau. Tapi setelah ada satu peristiwa, Ikal lebih menuruti kata hatinya, yakni mengambil risiko untuk menyelamatkan gadis pujaannya.

Mulailah sebuah petualangan fantastik terjadi. Laskar Pelangi reuni sesudah lama masing-masing eksponennya tercerai berai ke sejumlah tempat karena memburu nasib masing-masing untuk membantu Ikal, tergulung ke dalam pengembaraan yang menghidupkan lagi hikayat, mitos, dan kebanggaan sebagai keturunan pelaut dan pejuang Melayu yang dahulu bertempur melawan armada kolonial. Demi mewujudkan persiapan ke laut berbahaya, dia tersiksa kerja serabutan, termasuk jadi pedagang kelontong keliling dan buruh tambang. Dia bahkan sampai lupa sakit giginya yang kambuh.

Upaya Andrea Hirata menghidupkan lagi hikayat kelautan di kepulauan selat Karimata dan bersambung ke laut Cina Selatan ini termasuk menarik, meskipun mudah mengingatkan pembaca kepada para perompak di laut Karibia, terutama berkat trilogi film The Pirates of Caribbean. Sebelum mempertaruhkan keberanian untuk mengalahkan ganasnya musim pasang, dia mengawali dengan keprihatinan bahwa tradisi dan keahlian menjelajah laut makin sirna di kalangan orang Melayu. Kini sisanya ialah cerita-cerita menyeramkan perihal dongeng pelaut sebagai ancaman bagi bocah bandel agar patuh pada orangtua. Laut lepas di kepulauan itu merupakan milik mereka yang ada di luar jangkauan hukum, gerombolan penyamun dan dukun, menjadi jalur tenaga kerja Indonesia ilegal yang akan menyeberang ke Singapura dan Malaysia, termasuk barang-barang selundupan.


Atas bantuan Mahar, dalam petualangan di laut dan antarpulau itu Ikal menghadapi kesulitan dan tantangan dengan menggunakan dunia sihir. Ini siasat dalam menghadapi kondisi yang sebetulnya hanya dengan nekad dia kuasai. Pengorbanan menemukan kekasih ini rupanya awal dari tragedi dan ironi yang tak dia sadari sejak awal. Tapi, kalau toh ending novel ini terlalu sedih bagi banyak orang, minimal Ikal memperlihatkan memenangkan hatinya sendiri, yaitu melakukan pengorbanan terhadap sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Memang pengorbanan dirinya sejak awal terasa tidak sesuai dengan imbalan yang dia dapat. Namun begitu, tetap ada humor, guncangan, dan absurditas yang menggoda--bahkan sampai halaman akhir. Ini membuat sejumlah pembaca bimbang; apakah jilid terakhir Laskar Pelangi ini tetap bagus sekaligus inspirasional atau lebih merupakan kisah romansa.

Keunggulan novel ini terutama ada pada kemampuan menghidupkan lagi hikayat (dongeng) dan kisah keterlibatan seseorang secara utuh baik dengan diri sendiri, dinamika masyarakat, keyakinan, bahkan menghadapi hal-hal yang tampak absurd. Meski agak berlebihan dan terkesan dipaksa, Ikal dengan cara sendiri membuktikan bahwa dirinya bisa bermanfaat. Bukankah setiap manusia ingin mendapat peran maksimal dalam kehidupan yang dia jalani? Ikal telah melakukan itu dengan baik sekaligus memperlihatkan ketabahan dalam menghadapi masa-masa sulit.[]

Copyright © 2008 BUKU INCARAN oleh Anwar Holid

KONTAK: wartax@yahoo.com (022) 2037348 Panorama II No. 26 B, Bandung 40141
Situs terkait:

Wednesday, December 17, 2008



Seru, Kocak, Sedih, Menegangkan
----------------------------------------
--Oleh Anwar Holid


Ada yang senang, terhibur, ikut terharu dan sedih, kocak, terbawa tegang, setelah baca Maryamah Karpov; tapi juga ada yang merasa janggal, bertanya-tanya, dan kecewa. Akankah ada spekulasi baru terhadap Laskar Pelangi?

BANDUNG - Ternyata saya tak segesit banyak pembaca lain dalam menamatkan Maryamah Karpov. Memegang novel itu sejak akhir November, sampai sekarang saya baru membuka Mozaik 55 dari total 73. Ada saja halangan saya untuk segera menamatkannya. Entah sudah waktunya harus menyelesaikan makalah, segera menulis kolom, baca artikel, rencana baru, kalah oleh godaan ingin membalas posting teman, berkejaran dengan jadwal dan prioritas lain, atau energi dan waktu tersita oleh urusan keluarga, pribadi, dan teman-teman. Namun sekarang, saya berharap dalam sehari ini benar-benar bisa tuntas memuaskan kepenasaran terhadap petualangan cerita Ikal tersebut.

Ada saja kejadian yang bikin senyum saya mengembang selama pegang-pegang novel setebal 504 halaman itu. Di antaranya, waktu antri di bank, seorang anak SD, bersama ibunya, sampai meneleng-nelengkan wajahnya mengintip apa yang tengah saya baca. Begitu mata kami berpapasan, saya tanya, "Tahu Laskar Pelangi?" Dia mengangguk. "Sudah baca?" Dia tersenyum. "Lihat filmnya juga?" Bibirnya mengembang. Lantas dia menepuk-nepuk tangan ibunya. "Mah, mah, itu lanjutan Laskar Pelangi," katanya. Ibunya lantas ikut memperhatikan buku yang ada di tangan saya. Dia mengangguk tanda memberi salam. "Mau lihat?" saya menyodorkan buku ke anak itu. Dia ragu-ragu menerimanya. "Ini jilid terakhirnya," kata saya. "Kapan terbitnya?" sela si ibu, sambil buru-buru menambahkan, "dia sudah lama menunggu sejak tamat buku ketiganya." "Hebat," puji saya. "Ini baru terbit akhir November tadi. Saya baru setengahnya baca."

Saya tenteng-tenteng novel itu setiap kali pergi, biar siap membacanya kapan saja, termasuk di dalam angkot. Pernah begitu duduk saya siap menarik novel bersampul violinis wanita itu, di ujung sudut angkot telah duduk dengan manis seorang gadis tengah tenggelam menekuri Maryamah Karpov. Daya perkirakan dia masih sampai puluhan halaman, tangan kirinya baru memegang sedikit bagian buku. Dia tak peduli dengan penumpang lain yang tengah ribut membicarakan seorang dosen yang menurut mereka genit karena suka berusaha merayu. Si gadis pembaca Maryamah itu terus terpekur membuka satu per satu halaman perlahan-lahan, saya memperhatikan dia dari kaca spion. Ternyata perjalanan dia jauh, sepanjang waktu itu wajahnya hanya menatap buku, dan tangannya membuka halaman. Sampai akhirnya saya turun duluan. Saya takjub betapa ada buku yang begitu bisa memaku pembaca. Itulah ciri "page-turner"--buku mengasyikkan, dengan plot yang sulit ditinggalkan.

Di lain waktu, dengan kawan seorang penulis dan editor, kami membicarakan berbagai aspek dalam Laskar Pelangi, intrinsik dan ekstrinsik, termasuk berbagai berita yang berseliweran di sekitar Andrea Hirata. Lepas dari berbagai kritik yang mengepung novel itu, dan kritik itu pun saya amini, posisi saya ialah menyelamati keberhasilan karya tersebut, baik dari sisi kekhasan cara bercerita, tema, dan kesuksesan memenangi selera massa. Bila ada ratusan ribu pembaca berbondong-bondong melahap karya itu, tentu ada sesuatu yang bisa diambil dari sana, baik rasa bahagia, sedih, haru, humor, dan setia kawan.

Sambil terus mencicil, saya memperhatikan sejumlah komentar pembaca yang telah menamatkannya. Sebagian merasa puas, terhibur, memuji, bertanya-tanya, dan ada juga yang kecewa---benar-benar kecewa (menggunakan gaya ungkap khas Andrea Hirata.) Bagaimana merespons beragam reaksi pembaca setelah baca Maryamah Karpov karya Andrea Hirata kali ini? Tentu kurang elok bila kita terus-terusan mengedepankan euforia pembaca terhadap suatu karya tanpa mengindahkan respons negatif terhadapnya. Pembaca punya hak terhadap buku yang dia baca, bahkan mereka bisa dengan jujur bebas mengungkapkan komentar itu dengan berbagai cara. Pembaca merupakan massa anonim, mereka bisa berkomentar apa saja terhadap karya yang mereka baca.

Beragam respons ini mengingatkan saya pada Adenita, penulis 9 Matahari, yang karyanya juga dikomentari beragam oleh sejumlah orang. "Beragam apresiasi itu mirip ruang yang punya banyak sudut. Sah-sah saja menilai buku ini dari sudut pandang masing-masing, karena ini memang hak pembaca."

Salah satu reaksi paling menuntut dari pembaca ialah kenapa novel tersebut berjudul "Maryamah Karpov." Pilihan itu mengingatkan saya pada sejumlah judul album atau lagu musisi Barat yang kerap lain sama sekali dengan isi album, bukan pula merupakan petikan lirik dan tak mewadahi isi keseluruhan cerita. Karena pilihan judul itu terasa begitu misterius, sebagian pembaca mengira-ngira kemungkinan akan ada rencana di masa depan terhadap "Maryamah Karpov." Penyair Nirwan Dewanto melakukan hal serupa terhadap buku puisinya, Jantung Lebah Ratu, yang baru-baru ini memenangi KLA 2008 kategori puisi.

Maryamah Karpov memuaskan dahaga pembaca akan kepiawaian Andrea Hirata bercerita, mengembalikan pada cara bercerita yang khas. Mereka terhibur, tertawa, terharu, juga bertanya-tanya. Pembaca senang oleh humor, lelucon, kesetiakawanan, petualangan, juga kehidupan masyarakat Melayu. Pembaca dibuai oleh berbagai peristiwa fantastik, gaya ungkap hiperbolik, juga kisah cinta, optimisme, dan rasa riang menjalani hidup. Di milis pasarbuku@yahoogroups.com, anggota bernama Samuel berkata, "Saya telah selesai baca, seru, kocak, sedih, menegangkan... tapi bagi saya seperti ada satu bagian yang hilang." Sementara Handita menambah, "Saya menangkap pesan yang ingin disampaikan ialah soal keteguhan hati untuk mengejar cita-cita."

Namun pembaca yang kecewa juga terang-terangan melampiaskan perasaannya, seperti Siska. Komentar dia, "Novel ini mungkin karakternya terilhami dari orang-orang nyata. Tapi Maryamah Karpov seperti ditulis cuma untuk melunasi utang. Alur dipaksakan, gaya bercerita masih satire tapi terlalu banyak halaman terbuang buat cerita-cerita yang bukan inti, kaya fragmen terpisah-pisah, dan tak jelas maunya. (Padahal) tiga novel sebelumnya cool, menambah sesuatu."

Saya juga merasakan di bagian awal novel ini Andrea keasyikan meledek perilaku kaumnya sendiri, hingga baru setelah halaman 200-an pembaca digiring pada misi Ikal sesungguhnya. Apa itu lantas membuat 200 halaman pertama sia-sia? Mungkin tidak, hanya kurang padu terhadap subjek utama. Di halaman awal itu saya masih bisa tertawa menikmati kejenakaan kelakuan orang Melayu Dalam, menikmati suasana, kehidupan, dan alam kampung, juga memasuki penggambaran latar (seting) yang sangat hidup.

Di sisi lain saya menemukan bukti keseriusan penerbit dalam menyiapkan buku. Sejauh 342 halaman ini, saya hanya menemukan satu salah eja, pada halaman 327, yaitu atas ejaan nama Lintang yang tak diawali huruf kapital. Kerapian ini boleh jadi mesti ditujukan berkat kecermatan editor, Imam Risdiyanto.

Baiklah, izinkan saya menuntaskan dulu novel ini, agar di kemudian hari bisa berbagi dan berkomentar lebih banyak. Sehari lagi, saudara-saudara, sebagai syarat agar komentar saya cukup valid dan bertanggung jawab.[]

Copyright © 2008 BUKU INCARAN oleh Anwar Holid

KONTAK: wartax@yahoo.com | (022) 2037348 | Panorama II No. 26 B, Bandung 40141

Informasi lebih banyak di:
http://www.klub-sastra-bentang.blogspot.com
http://www.mizan.com
http://www.sastrabelitong.multiply.com
http://www.renjanaorganizer.multiply.com
http://www.blueorangeimages.com (foto Andrea Hirata)

Tuesday, December 02, 2008




Maryamah Karpov, Pamungkas Tetralogi Laskar Pelangi
--------------------------------------------------
--Oleh Anwar Holid


Bentang Pustaka meluncurkan Maryamah Karpov, buku terakhir dari tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata dalam suasana amat meriah.

JAKARTA - "Andrea Hirata memang fenomenal ya?" kata Aendra H. Medita keras-keras di dekat telinga saya, berusaha mengalahkan riuh suara ratusan orang yang memadati halaman dalam MP Bookpoint. "Kok kamu ada di sini?" tanya saya. "Memang nggak boleh?" tawa dia. Rupanya dia juga akan bertemu dengan Iman Soleh, aktor monolog yang malam itu didaulat membawakan puisi legendaris "Jante Arkidam" secara dramatik dan menukil mozaik dari novel terbaru Andrea Hirata.

Tadi siang saya melihat novel itu sedang dipasang besar-besaran di satu ruang MP Bookpoint. "Baru datang tadi pagi mas," ujar seorang karyawan sambil beres-beres. Ruang itu langsung penuh hanya oleh Maryamah Karpov ditambah tiga novel Andrea yang lain. Buku lain disingkirkan. Hari itu, Jumat, 28/11/08, adalah hari tetralogi Laskar Pelangi.

Meski hari pertama perjualan Maryamah Karpov belum resmi dilakukan, saya dengar dari Gangsar Sukrisno, CEO Bentang Pustaka, bahwa di toko buku Gramedia Citraland, novel itu dalam dua jam sudah terjual lebih dari 500 kopi. Di MP Bookpoint banyak pengunjung tak tahan menunggu lebih lama lagi untuk membeli. Sebagian orang telah membeli via toko buku online. Bentang menyediakan 100 ribu kopi untuk cetakan pertama, boleh jadi itu merupakan rekor untuk cetakan pertama di Indonesia.

Saya bertemu dengan Andrea Hirata di kantor Bentang, hanya beberapa rumah dari MP Bookpoint. Dia sudah tiba di Jakarta sehari sebelumnya, sekalian nonton konser jazz dengan keponakan-keponakannya, ditemani EO dan kuasa hukumnya. Saya baru saja menerima satu kopi novel itu dari Gangsar, dengan ucapan, "Kamu harus resensi buku ini ya." Di meja itu sudah menumpuk lebih dari 100 kopi Maryamah Karpov untuk ditandatangani. Itu buku pesanan. Tangan Andrea terus sibuk menulis nama satu per satu.

Beberapa saat kemudian wartawan Koran Tempo mewawancarai. Wawancara ini cukup intens karena belum ada media lain yang datang. Andrea menyatakan tekad untuk sementara berhenti dari dunia perbukuan. "Untuk sementara, tetralogi ini cukup," katanya. Dia ingin menyepi dan merenungi lagi perjalanan karirnya sebagai penulis, pertemuan mengesankan dengan John Berendt, keinginan menggali lebih serius genre yang disebut pihak Bentang sebagai "cultural literary nonfiction." Juga upaya menghasilkan buku sekelas karya Truman Capote atau Amin Maalouf.


"Dalam batas tertentu, menulis butuh perenungan. Saya punya kapasitas nggak sih? Saya mau menulis dengan benar. Apabila nggak mutu, jangan menulis," ucapnya tegas. Sang wartawan berkali-kali berusaha meyakinkan apa benar Andrea mau mundur dari dunia yang telah memberikan hal mengejutkan pada dirinya.

Tetralogi Laskar Pelangi adalah hip. Anak berusia 7 tahun hingga orang berumur 70 tahun membaca novel-novel itu. Ada anak SD yang terobsesi ingin bertemu dengan Andrea setelah membaca ketiga novelnya kala terbaring sakit. Maryamah Karpov, buku ke-4 seri itu, sudah ditunggu sejak dua tahun lalu, baru resmi diumumkan penerbitannya pada September lalu, ketika Mizan mengadakan ulang tahun ke-25, persis menjelang premiere film Laskar Pelangi. Andrea sendiri terus-terus menjadi pemberitaan, termasuk muncul kontroversi pernikahannya pada awal November ini.

Andrea mengaku berdarah-darah menyelesaikan novel ke-4 ini. Meski bila digabung waktu penulisannya hanya sekitar satu bulan, jeda di antaranya cukup lama. "Dalam beberapa hal, intensitas penulisan Maryamah Karpov mirip Laskar Pelangi," kata dia. "Saya juga ingin novel ini mendapat tanggapan seperti pembaca menanggapi Laskar Pelangi. Saya seperti menulis Laskar Pelangi jilid dua."

Malam itu Andrea mendapatkan yang diharapkannya. Ratusan orang hadir di MP Bookpoint sampai membuat tempat itu sesak buat bergerak sedikitpun. Mereka menunggu sejak sore, berjubel di setiap pojok. Mereka riang menyambut ajakan menyanyi "Bunga Seroja" dan "Englishman in New York". Mereka terkesima oleh penampilan Iman Soleh yang lucu, teatrikal dan menggelegar.

Mereka terus bersorak-sorai sampai akhirnya Andrea Hirata datang dalam kawalan polisi. Apalagi Giring Nidji dan sejumlah pendukung film Laskar Pelangi ternyata mau beramai-ramai menyanyikan theme song itu. Massa, terutama wartawan, tambah heboh begitu ada pernyataan pers tentang status perkawinannya. Sebagian bertanya dengan teriakan. Untung dia segera diselamatkan oleh acara tanda tangan, yang berlangsung sangat padat. Baru kira-kira pukul 10 malam acara itu selesai. Saya melihat display Maryamah Karpov sudah lenyap di ruangan MP Bookpoint, hanya tersisa yang ada di dinding-dinding kacanya.

Putut Widjanarko, VP Operations Mizan Publika yang saya tahu rakus membaca, sulit menyembuyikan pujian pada Maryamah Karpov. Dia telah melahap buku itu sejak awal produksi. "Cara berceritanya luar biasa," kata dia penuh penekanan. "Detail-detail suasana desanya mengingatkan saya pada novel Ahmad Tohari."

"Kamu pernah melihat peluncuran buku seperti ini?" tanya Gangsar pada saya ketika hendak pulang. Saya tersenyum, membatin, "Setiap penulis punya hari keberuntungannya." Ini launching paling heboh yang pernah saya saksikan.

Segera setelah ini akan muncul berbagai komentar atas novel 504 halaman itu, baik di media massa atau Internet. Ribuan pembaca, terutama book blogger dan pecandu buku, akan menuliskan kesan masing-masing, termasuk kritik, bahkan dari kalangan yang mengaku sulit menyelesaikan oleh Laskar Pelangi. Tapi bagi Andrea Hirata, tugas sudah dituntaskan. Jilid terakhir sudah dipersembahkan. Kini tinggal dia melaksanakan rencana-rencana selanjutnya, termasuk menghilang sementara.[]

Copyright © 2008 BUKU INCARAN oleh Anwar Holid

Informasi lebih banyak di:
http://www.mizan.com
http://www.klub-sastra-bentang.blogspot.com
http://www.sastrabelitong.multiply.com
http://www.renjanaorganizer.multiply.com
http://www.blueorangeimages.com (foto Andrea Hirata)