alhamdulillah, selesai meresensi tiga buku ini:
[1]
Tinta Emas di Kanvas Dunia: Jejak Langkah Ahli Bedah Saraf DR. Eka Julianta Wahjoepramono
Penulis: Pitan Daslani
Penerbit: Kompas, 2010
Tebal: 226 + xxi
ISBN: 978-979-709-466-9
[2]
Mantra Maira (Kumpulan Cerita Pendek)
Penulis: Sofie Dewayani
Penerbit: Jalasutra, 2010
Tebal: xxiv + 108 hlm
ISBN: 978-602-8252-27-0
Harga: Rp. 20.000,-
[3]
What the Dog Saw, dan Petualangan-Petualangan Lainnya
Judul asli: What the Dog Saw and Other Adventures
Penerjemah: Zia Anshor
Penerbit: GPU, 2010
Tebal: 480 hal.; Ukuran: 13.5 x 20 cm
ISBN: 978-979-22-5249-1
Harga: Rp.80.000,-
loh, resensinya mana? kok enggak diposting? ya nanti dong kalow ada kepastian resensi yang aku tawarkan ke media massa itu dimuat (mode: berharap) atau ditolak (mode: sedih).
semoga dua buku pertama yang aku resensi mendapat sambutan hangat dari publik pembaca, termasuk ulasan atau kritik yang ramai. soalnya buku ketiganya sih sudah bestseller duluan. he he he...
Showing posts with label publisis. Show all posts
Showing posts with label publisis. Show all posts
Wednesday, April 14, 2010
Monday, April 27, 2009

Pergolakan Spiritual Empat Orang Mualaf
--Anwar Holid
SEEKING TRUTH FINDING ISLAM: Kisah Empat Mualaf yang Menjadi Duta Islam di Barat
Penulis: Anwar Holid
Penerbit: Mizania, 2009
Halaman: 184
Harga: Rp.29.000.00
ISBN: 978-602-8236-30-0
Kategori: Biografi
"Setiap tahun, sekitar 25.000 orang menjadi Muslim di Amerika Serikat. Pasca 11 September, jumlah orang yang bersyahadat 4 kali lipat." Demikian dari New York Times.
Jalan hidup manusia sulit ditebak. Dari awal yang amat jauh dari agama, orang bisa menjadi perindu Tuhan dan mencari jalan untuk menghampiri-Nya. Kisah hidup para mualaf--yakni orang yang masuk Islam--memberi kita banyak pelajaran tentang hal ini.
Buku ini menyajikan empat mualaf di Dunia Barat yang mampu menjadi "duta" Islam melalui pengabdian kepada masyarakat dan teladan tentang sikap hidup Muslim sejati. Dengan demikian, mereka juga "berjihad" memerangi prasangka terhadap Muslim dan agama Islam yang marak di Dunia Barat pada masa sekarang.
Keempat mualaf itu adalah:
* Yusuf Islam (Cat Stevens): mantan superstar rock dunia yang mengundurkan diri dari dunia musik untuk mempelajari Islam, dan kini aktif berdakwah melalui kegiatan pendidikan dan sosial.
* Ingrid Mattson: cendekiawati pemimpin ISNA (Islamic Society of North America)--organisasi Muslim terbesar di Amerika--yang sempat menjadi ateis sebelum akhirnya terpesona oleh Al-Quran.
* Keith Ellison: Aktivis HAM dan Muslim pertama yang menjadi anggota Kongres AS.
* Hamza Yusuf Hanson: ulama asli kelahiran AS yang mendalami khazanah ilmu-ilmu Islam klasik dan kini giat mengampanyekan Islam damai ke publik Barat.

SEEKING TRUTH FINDING ISLAM: Kisah Empat Mualaf yang Menjadi Duta Islam di Barat
Penulis: Anwar Holid
Penerbit: Mizania, 2009
Halaman: 184
Harga: Rp.29.000.00
ISBN: 978-602-8236-30-0
Kategori: Biografi
"Setiap tahun, sekitar 25.000 orang menjadi Muslim di Amerika Serikat. Pasca 11 September, jumlah orang yang bersyahadat 4 kali lipat." Demikian dari New York Times.
Jalan hidup manusia sulit ditebak. Dari awal yang amat jauh dari agama, orang bisa menjadi perindu Tuhan dan mencari jalan untuk menghampiri-Nya. Kisah hidup para mualaf--yakni orang yang masuk Islam--memberi kita banyak pelajaran tentang hal ini.
Buku ini menyajikan empat mualaf di Dunia Barat yang mampu menjadi "duta" Islam melalui pengabdian kepada masyarakat dan teladan tentang sikap hidup Muslim sejati. Dengan demikian, mereka juga "berjihad" memerangi prasangka terhadap Muslim dan agama Islam yang marak di Dunia Barat pada masa sekarang.
Keempat mualaf itu adalah:
* Yusuf Islam (Cat Stevens): mantan superstar rock dunia yang mengundurkan diri dari dunia musik untuk mempelajari Islam, dan kini aktif berdakwah melalui kegiatan pendidikan dan sosial.
* Ingrid Mattson: cendekiawati pemimpin ISNA (Islamic Society of North America)--organisasi Muslim terbesar di Amerika--yang sempat menjadi ateis sebelum akhirnya terpesona oleh Al-Quran.
* Keith Ellison: Aktivis HAM dan Muslim pertama yang menjadi anggota Kongres AS.
* Hamza Yusuf Hanson: ulama asli kelahiran AS yang mendalami khazanah ilmu-ilmu Islam klasik dan kini giat mengampanyekan Islam damai ke publik Barat.

Seeking Truth Finding Islam merupakan buku kedua saya. Sebagaimana Barack Hussein Obama (2008), buku ini lahir atas prakarsa Ahmad Baiquni (aka Ibeq), editor penerbit Mizan. Waktu awal-awal menyusun, kami sempat mendiskusikan banyak nama yang akan dijadikan profil, menimbang bagaimana kiprah mereka, mengira-ngira citra dan pandangan publik terhadap mereka, dengan harapan bisa menyaring sekitar 6-10 orang.
Berbagai pertimbangan, terutama soal akses informasi dan peran mereka, akhirnya memaksa saya hanya bisa menulis empat orang tersebut. Sebenarnya minimal ada dua orang lagi yang sangat ingin saya tulis perjalanan religiositasnya, yaitu Frithjof Schuon dan Charles le Gai Eaton. Tapi saya kehabisan energi dan pikiran, terus menghentikan niat itu. Lagi pula, siapa yang bakal tertarik kepada Schuon dan Gai Eaton, selain sesama orang spooky?
Untuk menaikkan daya tawar isi buku, saya berusaha maksimal memunculkan drama perjalanan hidup keempat orang ini, terutama sekali pertarungan spiritual dan pergolakan batin sebelum memeluk Islam. Sebagai "tambahan" saya menulis esai cukup panjang tentang berbagai aspek convert ke dalam Islam.
Saya juga sempat menghubungi Ingrid Mattson via email tentang niat menulis profil beliau. Yang menjawab ternyata asistennya. Kami sempat email-emailan beberapa kali. Intinya, beliau bersedia bila harus diwawancarai via email. Tapi niat itu pun gagal terlaksana, sebab sang asisten memberi informasi cukup, sementara di Internet kisah perjalanan keyakinan spiritual Ingrid tersedia cukup banyak.
Dari sisi penulisan, sekali lagi saya mendapat pengalaman berharga tentang hubungan antara penulis dan penyunting (editor). Karena melampiaskan keyakinan dan pikiran tentang agama, pada draft awal yang saya berikan, ternyata saya kerap memunculkan sinisme terhadap agama, sampai menurut Ibeq, bahasa saya cenderung kasar dan malah berpotensi bisa menjelek-jelekkan agama. Ini mengkhawatirkan.
"Bagaimana orang bakal tertarik kepada Islam atau agama lain kalau kamu menulisnya seperti ini?" kata dia waktu kami membicarakan draft pertama. Saya tertawa.
Misi buku ini memang berusaha menunjukkan bahwa agama bisa menjadi alternatif jalan kebaikan di tengah kekacauan dunia. Sementara istilah "convert" ternyata tidak selalu identik dengan pindah ke agama lain, tetapi bisa juga berarti menjalani intensitas yang lebih besar terhadap religiositas daripada semula.
Pelajaran dari sana ialah editor yang jeli dan memiliki sense bahasa kuat bisa diandalkan sebagai kawan untuk menghasilkan karya yang cukup bertanggung jawab. Editor bisa jadi "indra pertama" mewakili publik pembaca sekaligus kepentingan penerbit. Sebagai wakil penerbit, dia akan memperhatikan kesantunan, kejernihan isi, cara berargumen, dan menuturkan yang baik dan kena.
Untuk kepentingan promosi buku ini, pada Senin, 30 Maret lalu saya mampir ke Masjid Laotze, Bandung menjajaki kemungkinan mengadakan diskusi atau bedah buku bertopik tentang mualaf. Sambutan mereka ramah. Sementara jauh-jauh hari sebelumnya, saya sudah berharap hal serupa pada bagian promosi Mizan. Mereka malah usul agar acara seperti itu kalau bisa menghadirkan tokoh mualaf terkemuka dan bisa membicarakan dialog antaragama secara adil, proporsional, dan terbuka.
Membicarakan agama memang sensitif. Jangankan antaragama serumpun seperti agama-agama Ibrahimik (Abrahamic religion) yang pelik, satu agama beda aliran saja bisa runyam. Saya berharap Seeking Truth Finding Islam menyumbang sesuatu bagi kedewasaan beragama, sesederhana apa pun bentuknya.[]
Copyright © 2008 BUKU INCARAN oleh Anwar Holid
Anwar Holid, bekerja sebagai editor, penulis, & publisis; eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.
KONTAK: wartax@yahoo.com Tel.: (022) 2037348 HP: 085721511193 Panorama II No. 26 B Bandung 40141
Situs terkait:
http://www.mizan.com
Berbagai pertimbangan, terutama soal akses informasi dan peran mereka, akhirnya memaksa saya hanya bisa menulis empat orang tersebut. Sebenarnya minimal ada dua orang lagi yang sangat ingin saya tulis perjalanan religiositasnya, yaitu Frithjof Schuon dan Charles le Gai Eaton. Tapi saya kehabisan energi dan pikiran, terus menghentikan niat itu. Lagi pula, siapa yang bakal tertarik kepada Schuon dan Gai Eaton, selain sesama orang spooky?
Untuk menaikkan daya tawar isi buku, saya berusaha maksimal memunculkan drama perjalanan hidup keempat orang ini, terutama sekali pertarungan spiritual dan pergolakan batin sebelum memeluk Islam. Sebagai "tambahan" saya menulis esai cukup panjang tentang berbagai aspek convert ke dalam Islam.
Saya juga sempat menghubungi Ingrid Mattson via email tentang niat menulis profil beliau. Yang menjawab ternyata asistennya. Kami sempat email-emailan beberapa kali. Intinya, beliau bersedia bila harus diwawancarai via email. Tapi niat itu pun gagal terlaksana, sebab sang asisten memberi informasi cukup, sementara di Internet kisah perjalanan keyakinan spiritual Ingrid tersedia cukup banyak.
Dari sisi penulisan, sekali lagi saya mendapat pengalaman berharga tentang hubungan antara penulis dan penyunting (editor). Karena melampiaskan keyakinan dan pikiran tentang agama, pada draft awal yang saya berikan, ternyata saya kerap memunculkan sinisme terhadap agama, sampai menurut Ibeq, bahasa saya cenderung kasar dan malah berpotensi bisa menjelek-jelekkan agama. Ini mengkhawatirkan.
"Bagaimana orang bakal tertarik kepada Islam atau agama lain kalau kamu menulisnya seperti ini?" kata dia waktu kami membicarakan draft pertama. Saya tertawa.
Misi buku ini memang berusaha menunjukkan bahwa agama bisa menjadi alternatif jalan kebaikan di tengah kekacauan dunia. Sementara istilah "convert" ternyata tidak selalu identik dengan pindah ke agama lain, tetapi bisa juga berarti menjalani intensitas yang lebih besar terhadap religiositas daripada semula.
Pelajaran dari sana ialah editor yang jeli dan memiliki sense bahasa kuat bisa diandalkan sebagai kawan untuk menghasilkan karya yang cukup bertanggung jawab. Editor bisa jadi "indra pertama" mewakili publik pembaca sekaligus kepentingan penerbit. Sebagai wakil penerbit, dia akan memperhatikan kesantunan, kejernihan isi, cara berargumen, dan menuturkan yang baik dan kena.
Untuk kepentingan promosi buku ini, pada Senin, 30 Maret lalu saya mampir ke Masjid Laotze, Bandung menjajaki kemungkinan mengadakan diskusi atau bedah buku bertopik tentang mualaf. Sambutan mereka ramah. Sementara jauh-jauh hari sebelumnya, saya sudah berharap hal serupa pada bagian promosi Mizan. Mereka malah usul agar acara seperti itu kalau bisa menghadirkan tokoh mualaf terkemuka dan bisa membicarakan dialog antaragama secara adil, proporsional, dan terbuka.
Membicarakan agama memang sensitif. Jangankan antaragama serumpun seperti agama-agama Ibrahimik (Abrahamic religion) yang pelik, satu agama beda aliran saja bisa runyam. Saya berharap Seeking Truth Finding Islam menyumbang sesuatu bagi kedewasaan beragama, sesederhana apa pun bentuknya.[]
Copyright © 2008 BUKU INCARAN oleh Anwar Holid
Anwar Holid, bekerja sebagai editor, penulis, & publisis; eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.
KONTAK: wartax@yahoo.com Tel.: (022) 2037348 HP: 085721511193 Panorama II No. 26 B Bandung 40141
Situs terkait:
http://www.mizan.com
Tuesday, April 21, 2009

Andrea Hirata bersalaman dengan Walikota Jakarta Pusat Sylviana Murni
Andrea Hirata: Menulis itu Elegan
--Anwar Holid
Hampir dua ribu guru dari sekolah-sekolah di Jakarta Pusat berkumpul di Aula Senayan City untuk mengikuti talkshow Kemuliaan Mengajar (Nobility of Teaching) yang menghadirkan penulis Andrea Hirata dan Arvan Pradiansyah, ditemani host Soraya Haque.
JAKARTA - Sejak mulai menulis tetralogi Laskar Pelangi, Andrea Hirata boleh dibilang menjadi salah satu penulis paling hip di Indonesia saat ini; sementara Arvan Pradiansyah makin memantapkan diri sebagai penulis motivasi dan kepemimpinan setelah menerbitkan The 7 Laws of Happiness.
Penerbit Mizan menyelenggarakan acara itu bekerja sama dengan pemerintah kota Jakarta Pusat, Telkom Divre II, Sampoerna Foundation, ditambah pihak Senayan City yang menyediakan fasilitas aula begitu lega bagi guru-guru yang datang sejak pagi dan terlihat antusias mengikuti acara, meski di awal pembukaan terasa agak banyak basa-basi, membuat acara inti jadi sedikit terlambat. Kondisi ini tampak memaksa Soraya Haque berinisiatif mengubah set acara. Dia langsung menarik kedua pembicara untuk fokus membicarakan apa itu kemuliaan mengajar, mengaitkannya dengan Mukjizat Menulis (Miracle of Writing).
Andrea dan Arvan pada dasarnya menekankan betapa mulia berprofesi sebagai guru. Sebagai mantan murid sekolah, keduanya telah merasakan kemuliaan para guru dan menerima teladan yang mustahil terlupakan. Buktinya, karya Andrea dipersembahkan bagi gurunya, sementara Arvan selalu mencari opsi untuk tetap bisa menjadi dosen di almamaternya, FISIP UI, bila kerja di suatu perusahaan, dan itu berjalan lebih dari 13 tahun.
Laskar Pelangi menguak guru sekolah dasar bernama ibu Muslimah yang selalu berhasil memenuhi kehausan ilmu sepuluh muridnya, dan ini ditunjang oleh kepala sekolah yang begitu rela berkorban, Harfan Effendy Noor. Drama pendidikan di sekolah sederhana di pulau terpencil itulah yang hingga kini menyihir ratusan ribu--bahkan konon jutaan--pembaca Indonesia, dan tampaknya tetap menimbulkan rasa penasaran kecuali ditanyakan langsung kepada saksi mata terdekatnya: Andrea Hirata.
"Menjadi guru di zaman sekarang harus powerful, kreatif, bisa berpikir di luar yang lazim. Itu baru bisa tercapai bila setiap guru punya kecintaan pada profesi, punya karakter. Pendidikan itu mestinya merupakan perayaan, ilmu itu tantangan," kata Andrea mengomentari idealisasi tentang pengajaran. Andrea menyayangkan bahwa sejak dulu terjadi pemarjinalan terhadap profesi guru, ini terbukti dari perlakuan kurang adil terhadap guru maupun prioritas anggaran pendidikan.
Untuk menekankan kemuliaan pengajaran Andrea menyatakan, "Guru yang mulia itu seperti sumur jernih ilmu pengetahuan di ladang yang ditinggalkan." Pengajaran yang berhasil berbekas pada murid yang mencintai guru, terinspirasi oleh teladan yang dia berikan. Pada suatu kesempatan, Andrea pernah berujar, "Yang penting buat saya ialah bagaimana cara agar sekarang dunia pendidikan kembali melihat warisan yang ditinggalkan guru-guru seperti ibu Muslimah dan pak Harfan."
Bagi Andrea sendiri, Laskar Pelangi merupakan kisah tentang guru yang ditangkap oleh seorang muridnya, merekam warisan pendidikan dari satu jenjang ke jenjang berikutnya. Energi itu terus berlangsung sampai pada buku keempat, Maryamah Karpov, ketika Ikal--protagonis tetralogi itu--berhadapan dengan guru-guru asing di Universitas Sorbonne, Paris, Prancis, yang berkarakter lain sekali dibandingkan guru lamanya di kampung.
Sesi tanya jawab menjelaskan seberapa penasaran sebenarnya publik kepada Andrea. Rasanya lebih seperti jumpa fans, bahkan sejumlah guru menyatakan seakan-akan mimpi sampai bisa bertemu dengan penulis yang buku-bukunya telah memberi semangat kepada profesi mereka, membuat dunia pendidikan menjadi begitu penting, harus diperhatikan, dan mendapat prioritas. Pertanyaan yang muncul mulai dari hal sepele, masa-masa sekolahnya, berbagi pengalaman menulis, hingga "bagaimana cara menjemput hikmah?"
"Yang saya harapkan dari tulisan-tulisan saya ialah ia memberi inspirasi, bukan semata menjual," kata Andrea pernah pada suatu kesempatan. Antusiasme publik jelas membuktikan itu. Buku dan kepenulisan telah mengantarkan Andrea ke status yang sulit dibayangkan sebelumnya. Bila dulu di awal Laskar Pelangi terbit sebagian orang menyebutkan dia beruntung, kini semua yang telah dia tulis, lihat, nilai, dan rasakan menjadi "mukjizat" yang menyemangati dan mengilhami banyak orang.
Tentang kemampuan menulisnya, dengan gaya khas dan merendah, Andrea menyatakan bisa jadi dia bisa menulis karena dirinya orang Melayu. "Orang Melayu itu dalam keadaan marah masih bisa berpantun atau menyatakan metafora," kata dia disambut tawa peserta. Tapi lebih dari itu, awalnya ialah dia termotivasi. "Ketika melihat beliau jalan kehujanan hanya berpayung daun pisang menuju sekolah kecil kami, dalam hati saya berjanji akan menulis buku untuk mengenang ibu Muslimah," ucapnya. Janji itu dipenuhi, dan muncul mengejutkan. Kenapa memilih tulisan, bukan lainnya? Jawab Andrea: "Menulis itu elegan."
Talkshow bertema Kemuliaan Mengajar (Nobility of Teaching) pertama kali diusung Mizan pada 2007 lalu, ketika Mizan mengadakan acara tersebut dengan mengundang seribu guru di Bandung dan sekitarnya sekalian membagi gratis buku pertama Laskar Pelangi.[]
Copyright © 2008 BUKU INCARAN oleh Anwar Holid
KONTAK: wartax@yahoo.com (022) 2037348 0857 215 111 93 Panorama II No. 26 B, Bandung 40141
Situs terkait:
http://www.klub-sastra-bentang.blogspot.com
http://www.mizan.com

Arvan Pradiansyah: Tujuan Pendidikan itu Kebahagiaan
---Anwar Holid
Arvan Pradiansyah dan Andrea Hirata mengisi talkshow tentang kemuliaan mengajar berdasar pengalaman mereka dalam menempuh pendidikan.
JAKARTA - Atas kebaikan Arvan Pradiansyah, saya bisa menyaksikan talkshow The Nobility of Teaching: Mukjizat Menulis dan Menjadi Guru yang Bahagia di Hall Senayan City, Jakarta. Acara yang dipadati nyaris dua ribu guru dari sekolah-sekolah di Jakarta Pusat ini menghadirkan dua penulis penuh motivasi, Arvan Pradiansyah sendiri, dan Andrea Hirata, penulis tetralogi Laskar Pelangi. Soraya Haque memandu acara tersebut. Saya baru tahu bahwa gedung semegah Senayan City ternyata memiliki aula yang bisa diubah untuk acara-acara edukatif.
Dibanding Andrea Hirata yang rentang pembicaraannya bolak-balik tentang sekolah dan penulisan, Arvan Pradiansyah lebih banyak terarah pada apa itu kebahagiaan dan seperti apa menjadi guru yang bahagia itu. The 7 Laws of Happiness, buku ke empat Arvan, sudah cukup untuk mengantarkannya semakin dikenal sebagai pembicara publik, ahli SDM, dan penulis buku motivasi bertema manajemen kepemimpinan (leadership) dan manajemen kehidupan (life management).
"Tujuan pendidikan itu kebahagiaan. Ia harusnya bisa melahirkan murid yang bermakna," papar Arvan mengomentari kondisi dunia pendidikan zaman sekarang yang penuh tantangan, apalagi bagi guru. Managing Director Institute for Leadership & Life Management (ILM) ini berpendapat bahwa syarat menjadi guru yang bahagia ialah guru tersebut harus mencintai pekerjaannya. Agar bisa seperti itu, dia mesti punya sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Guru pun mesti bisa belajar dari banyak tanda dan berbagai pihak. Baginya, setiap orang itu diutus Tuhan untuk membawa hikmah, pembelajaran. Orang itu bisa hadir baik untuk mengajarkan maupun menyelaraskan emosi seseorang lainnya.
Pengajaran yang mulia juga berarti bahwa guru menikmati proses menjadi guru. Ini merupakan bentuk dari hukum bahagia pertama, yaitu sabar, dalam pengertian menyatukan pikiran dan badan pada di satu tempat. Karena begitu guru bisa mencurahkan jiwa dan raganya demi murid, demi kelangsungan proses pendidikan sebaik mungkin. Konsep ini tampak mudah diucapkan, sebab persoalan dunia pendidikan memang kompleks. Sikap percaya diri dan bermimpi besar menjadi faktor penting dalam karir guru. "Bila mimpi lebih besar, kesulitan biasanya jadi tampak kecil," persuasinya.

Ini tecermin dari sesi tanya jawab. Perubahan zaman berikut orientasi dan kondisi sosial memaksa orang rela berkorban atau berkompromi demi mendapatkan pengajaran sebaik mungkin, namun itu pun bukannya tanpa jebakan. Secara retorik, Arvan ditanya balik: Bagaimana cara dia memotivasi diri sendiri. Arvan menyebut, salah satunya ialah dengan diet pikiran, yaitu menyaring informasi-informasi yang dikehendaki saja yang boleh masuk dalam pikiran, terutama informasi positif, agar dampaknya pun optimis dan menghasilkan kebaikan. Arvan yakin bahwa kebagiaan diawali dari memilih pikiran yang bahagia.
Meski kini tak lagi mengajar di ruang kelas akademik, Arvan malah melebarkan jangkauan pengajarannya, yaitu di ruang publik, di dunia profesional, dalam pelatihan dan konsultasi yang dia adakan. Dahulu dia sempat mengajar di almamaternya, FISIP UI, selama 13 tahun. Menjelang Pemilu 2009 ini dia menerbitkan buku kepemimpinan berjudul cukup provokatif, Kalau Mau Bahagia, Jangan Jadi Politisi! (Mizan, 130 hal.)
Talkshow ini merupakan kerja sama penerbit Mizan bersama Pemerintah Kota Jakarta Pusat, Telkom Divre II, dan Sampoerna Foundation, difasilitasi Senayan City. Acara diawali ceramah kunci oleh Walikota Jakarta Pusat Sylviana Murni, yang juga memberi kenang-kenangan buku karyanya sendiri.[]
Copyright © 2009 oleh Anwar Holid
Copyright © 2009 oleh Anwar Holid
KONTAK: wartax@yahoo.com Tel.: (022) 2037348 HP: 085721511193 Panorama II No. 26 B Bandung 40141
Situs terkait:
Hubungi Arvan Pradiansyah via http://www.facebook.com/
Monday, March 02, 2009
Bersama-sama Mengupayakan Keluarga Bahagia
--Oleh Anwar Holid
Arvan Pradiansyah & Asma Nadia jadi magnet dalam talkshow The 7 Laws of Happiness for Muslim Family di Islamic Book Fair 2009. Kedua penulis setuju bahwa setiap suami-istri bisa mengupayakan keluarga bahagia.
JAKARTA - "Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, kemudian cintailah pasangan Anda," demikian salah satu saran Arvan Pradiansyah terhadap krisis yang kerap terjadi dalam keluarga Indonesia sekarang. Penulis buku The 7 Laws of Happiness ini sengaja dipasangkan dengan Asma Nadia untuk membicarakan topik vital yang merupakan perhatian semua pasangan suami istri. Arvan kali ini menggunakan ketujuh poin dalam The 7 Laws of Happiness untuk membangun kebahagiaan keluarga. Dalam buku itu dia cukup banyak menceritakan kasus rumah tangga, mulai dari hal yang "ringan" seperti cara sederhana mengungkapkan kasih sayang, sampai hal "berat" misalnya perceraian, perselingkuhan, juga kekerasan dalam rumah tangga.
Keluarga merupakan salah satu masalah paling personal yang bisa dialami setiap orang, sekaligus pengalaman paling general bagi umat manusia. Sayangnya, manusia justru kurang mendapat bekal memadai ketika mereka memasuki jenjang pernikahan. Pendidikan pranikah nyaris tidak diperhatikan banyak kalangan, kecuali ceramah singkat orangtua kepada anaknya menjelang mereka nikah. Sementara calon suami-istri menilai menjalani pernikahan itu sesuatu yang mudah.
Asma Nadia lebih menyoroti sisi perempuan, terutama sebagai istri. Ini terkait dengan tema bukunya yang akhir-akhir ini banyak mengolah curahan hati perempuan. Sejumlah orang bilang kepadanya, kenapa buku dia jadi terasa cengeng dan banyak menguras air mata? Asma menegaskan buku-bukunya justru untuk menguatkan kaum perempuan. "Bagaimana setelah luka itu dihikmati agar bisa menjadi cara kita menuju bahagia," katanya.
Problem keluarga dan rumah tangga memang begitu luas. Dari masalah peliknya hubungan suami-istri hingga ekonomi. Menarik, Arvan mengungkapkan data statistik bahwa masalah terbesar keluarga Indonesia justru perceraian yang dipicu oleh perselingkuhan dan ketidakharmonisan pasangan. Sementara ekonomi ada di peringkat bawahnya. "Ini menunjukkan bahwa kebahagiaan itu berawal dari pikiran, bukan dari harta benda," tegasnya. Dia juga menilai bahwa taraf perselingkuhan sekarang sudah gawat, sebab secara bawah sadar pun merasuk deras baik lewat lagu pop, sinetron, dan iklan.
Ketika ada peserta bertanya apa yang paling dasar harus dilakukan agar keluarga bahagia, Arvan menjawab tegas, "Sabar dan syukur." Sabar merupakan dua fondasi paling dasar The 7 Laws. Namun Arvan segera secara retorik bertanya, "Sabar seperti apa yang bisa membuat orang bahagia?" Yaitu sabar dalam pengertian aktif, bukan mengelus dada. Sabar di sini ialah berusaha terus, mengupayakan yang terbaik untuk melakukan perubahan. Misal saat pasangan bermasalah serius. Bila pasangan mau cerai, mereka mestinya mempertahankan pernikahan habis-habisan, apalagi ada faktor keluarga dan anak-anak di sana. Hal seperti ini malah jarang dilakukan. Beda bila orang bermasalah dengan perusahaan. Mereka menempuh berbagai cara agar kerja tetap langgeng dan perusahaan selamat.
"Biasanya, orang yang mau menikah terlalu berlebihan melihat sisi positif pasangannya, sementara kalau mau cerai selalu melihat sisi yang buruk-buruk, sisi positifnya dilupakan," tegas Arvan. Akibatnya perceraian terjadi dengan mudah, keluarga berantakan, dan orang-orang terdekat--terutama anak-anak--jadi trauma dan bermasalah.
Asma Nadia, berkat jaringan pembacanya yang sangat luas, kerap menjadi "keranjang sampah" sesama perempuan. Masalah itu mulai dari istri yang merasa terkungkung oleh beban rutinitas rumah tangga, perubahan peran dari lajang jadi istri, suami dianggap kurang romantis, atau malah abai terhadap perhatian istri. "Kita harus lebih fokus pada kelebihan pasangan, dan mensyukuri setiap keadaan pada diri kita," tuturnya.
Acara di Panggung Utama Islamic Book Fair ini dipadati peserta yang bertahan sampai acara tuntas. Mereka bahkan sudah tumpah di lantai dan mengerumuni batas arena ketika talkshow diawali doorprize oleh penerbit Mizan dan informasi manfaat Internet bagi keluarga oleh layanan Speedy.
Banyak peserta datang karena telah mengenal Arvan Pradiansyah sebagai host talkshow di berbagai radio. Sekarang dia membawakan acara "Smart Happiness" di Smart FM, Jakarta. Sementara Asma Nadia terkenal sebagai penulis prolifik dan salah satu tokoh organisasi penulis terbesar di Indonesia, Forum Lingkar Pena.[]
Copyright © 2008 BUKU INCARAN oleh Anwar Holid
Situs terkait:
Kontak dengan Arvan Pradiansyah dan Asma Nadia di http://www.facebook.com/
Saturday, February 28, 2009

The 7 Laws of Happiness for Muslim Family
=============================
Oleh Anwar Holid
All happy families resemble one another, each unhappy family is unhappy in its own way. Demikian kalimat pertama Tolstoy dalam buku Anna Karenina: Semua keluarga bahagia itu mirip satu sama lain, tiap keluarga yang sengsara menderita dengan caranya masing-masing. Punya keluarga bahagia itu bukan saja penting dan fundamental, melainkan juga hak dan idaman setiap orang. Keluarga merupakan unit persaudaraan terkecil yang bisa menentukan perilaku, adat, dan moral setiap orang. Ia menjadi tempat interaksi intim antara suami-istri, orangtua-anak, saudara kandung-saudara tiri, saudara dekat-saudara jauh.
Lepas bahwa secara alamiah orang ingin membangun keluarga bahagia, selalu saja ada sandungan yang kerap gagal dihadapi baik oleh pasangan paling mesra dan setia sekalipun. Perceraian kadangkala harus terjadi, pertengkaran meledak, sakit hati sulit diobati, anak terlantar, suami meninggalkan istri, istri selingkuh, anak hidup dalam tekanan, anak kabur, orang tua merasa diabaikan, pasangan merasa kurang dukungan, kebutuhan hidup mengejar-ngejar tiada ampun, suami merasa kecapaian mencari nafkah, bantuan istri dianggap kurang. Masalah keluarga ialah masalah kehidupan yang senantiasa perlu dinegosiasikan setiap waktu.
Adakah rahasia menciptakan keluarga bahagia?
Arvan Pradiansyah, penulis The 7 Laws of Happiness (Kaifa, 423 h.) akan mencoba berbagi dan sama-sama mencari formula, adakah syarat di dalam keluarga bahagia. Kali ini pembicara publik dan ahli SDM ini akan ditemani Asma Nadia, salah satu tokoh Forum Lingkar Pena, yang juga telah menghasilkan banyak buku. Mereka akan membahasnya dalam talkshow "The 7 Laws of Happiness for Muslim Family" pada Islamic Book Fair Maret 2009 ini.
Hari, Tanggal: Ahad, 1 Maret 2009
Waktu: 16.00 - 18.00 BBWI
Tempat : Istora Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta, Panggung Utama Islamic Book Fair.
Bagi Arvan acara ini seakan-akan merupakan konsekuensi dari rangkaian roadshow atas bukunya. Tapi boleh jadi talkshow kali ini menawarkan hal istimewa atau pendalaman khusus atas suatu kasus dalam bukunya. Kebahagiaan itu milik semua, meskipun kadang-kadang kita kehilangan hal itu.
"Saya berharap buku ini dapat menjadi sebuah tools yang sederhana namun cukup powerful untuk mempermudah hidup kita (guna meraih kebahagiaan)," kata Arvan pada suatu kesempatan.

The 7 Laws of Happiness sudah berhasil menggugah sejumlah kalangan untuk menerapkannya, termasuk kalangan guru, pekerja, juga pada lingkungan universitas.
Keesokan harinya, pada Senin 2 Maret 2009 Arvan bersama Kaifa akan meneruskan kampanye meraih kebahagiaan di Kantor Divre II TELKOM, Jakarta pukul 10.10 - 12.00 BBWI.
Tertarik membahas bersama? Silakan hadir.[]
Copyright © 2008 BUKU INCARAN oleh Anwar Holid
KONTAK: wartax@yahoo.com Tel.: (022) 2037348 HP: 085721511193 Panorama II No. 26 B Bandung 40141
Copyright © 2009 oleh Anwar Holid
Situs terkait:
Hubungi Arvan Pradiansyah via http://www.facebook.com/
Saturday, February 21, 2009
_cover.jpg)
Model Komprehensif tentang Kebahagiaan
--Anwar Holid
The 7 Laws of Happiness - Tujuh Rahasia Hidup yang Bahagia
Penulis: Arvan Pradiansyah
Penerbit: Kaifa, September 2008
Halaman: 428
ISBN: 978-979-1284-20-2
Harga: Rp 72.500,-
KITA kerap mendengar orang berkata, "Semoga hidupmu bahagia" atau dengan nada emosional mengucapkan, "Saya rela miskin, asal bahagia." Sesungguhnya, bahagia seperti apa yang dia maksud? Apa bahagia itu identik dengan senang? Bagaimana bila dibandingkan dengan perasaan sejenis, misalnya beruntung, sukses, mujur, dan puas?
Penulis: Arvan Pradiansyah
Penerbit: Kaifa, September 2008
Halaman: 428
ISBN: 978-979-1284-20-2
Harga: Rp 72.500,-
KITA kerap mendengar orang berkata, "Semoga hidupmu bahagia" atau dengan nada emosional mengucapkan, "Saya rela miskin, asal bahagia." Sesungguhnya, bahagia seperti apa yang dia maksud? Apa bahagia itu identik dengan senang? Bagaimana bila dibandingkan dengan perasaan sejenis, misalnya beruntung, sukses, mujur, dan puas?
"Bahagia itu rentang waktunya panjang, sementara senang itu berjangka pendek," demikian pernyataan awal Arvan Pradiansyah dalam The 7 Laws of Happiness. Buku ini berusaha secara meyakinkan dan mudah dipahami membahas salah satu aspek terpenting dalam kehidupan manusia, yaitu kebahagiaan. Sebagai seorang ahli sumber daya manusia dan pembicara publik, Arvan telah menghasilkan empat buku bertema manajemen kepemimpinan (leadership) dan manajemen kehidupan (life management.) The 7 Laws of Happiness termasuk kategori manajemen kehidupan, terutama karena ia secara persuasif mengajak agar pembaca menemukan dan membukakan jalan hidup yang bahagia.
Arvan menggunakan pendekatan neurosains dan Psikologi Positif untuk membukakan wawasan tentang meraih kebahagiaan. Neurosains ialah studi saintifik terhadap sistem saraf, terutama sekali sistem jaringan otak. Sebagian ahli otak mengatakan bahwa pusat manusia ada pada akal, yaitu proses berpikir yang terjadi di dalam otak. Arvan yakin bahwa kunci kepribadian dan watak manusia berada pada otaknya (hal. 41.)
Psikologi Positif lahir dari kegalauan Martin E. P. Seligman ketika menjadi presiden American Psychological Association (APA) pada 1998. Dia secara komprehensif menuliskan landasan teori dan praktik cabang psikologi ini dalam bukunya yang sangat berpengaruh dan terkemuka, Authentic Happiness. Beberapa koleganya merasakan kecenderungan serupa, dan akhirnya saling mendukung dan mengisi gagasan tersebut hingga menjadi disiplin yang padu. Psikologi ini lebih berusaha menekankan pada kesehatan mental. Aliran ini merupakan generasi baru Psikologi Humanistik yang berhasil membangun dukungan bukti empirik, menyediakan landasan sainstifik kuat bagi studi tentang kebahagiaan manusia dan fungsi optimal manusia, menambah sisi positif dari psikologi yang terlalu dikuasai sisi negatif manusia.
Sesuai hasil penelitian neurosains, Arvan berpendapat bahwa kunci bahagia manusia itu ada dalam pikirannya. "Kekuatan terbesar manusia ada dalam memilih pikiran," ungkapnya. Dengan pikiran, orang bisa memilih keputusan apa pun untuk hidupnya. Arvan merancang buku ini secara komprehensif agar pembaca bisa cukup terlatih untuk memulai mengambil keputusan demi kebahagiaan hidupnya. Pendekatan penulisannya juga termasuk menarik. Sambil berargumen mengungkapkan bagaimana prinsip-prinsip kebahagiaan bisa berlangsung dalam kehidupan manusia, dia menjabarkan pemikiran dengan bahasa mudah dipahami, ditambah petikan kisah (kebanyakan kisah nyata), dan sejumlah praktik tes psikologi. Lay out buku ini, baik dari pilihan font, desain, dan ilustrasi membuat kenyamanan membaca jadi makin maksimal.
Salah satu prasangka umum terhadap bahagia yang dipatahkan Arvan ialah anggapan bahwa orang bisa bahagia meskipun ia tak punya apa-apa, seakan-akan bahagia tidak butuh materi apa pun. "Anggapan ini terdengar bagus, tapi sangat tidak realistis," tulis Arvan. Bagaimana mungkin kita bisa bahagia tanpa memiliki apa pun padahal kita ini masih merupakan makhluk fisik juga? (hal. 32), demikian ungkap Arvan retorik. Dia menyatakan, meski ada faktor yang dapat mempengaruhi kebahagiaan, penentunya tetap pikiran. Secara faktual, orang sehat dengan pikiran damai akan lebih bahagian daripada orang sakit dengan pikiran damai. "Pikiran itu mirip kebun, bila dipupuk dengan baik, hasilnya tentu kebaikan."
Untuk memupuk dan melatih pikiran agar terbiasa melahirkan kebahagiaan, Arvan mengajukan tujuh syarat. Tiga syarat pertama ialah Intrapersonal Relation, merupakan syarat bahagia untuk diri sendiri, terdiri dari sabar, syukur, dan sederhana (kemampuan menangkap esensi). Tiga syarat kedua ialah Interpersonal Relation, merupakan kebahagiaan terkait dengan orang lain, terdiri dari kasih, memberi, dan memaafkan. Puncaknya ialah Spiritual Relation, berupa kemampuan berserah diri dan percaya seratus persen kepada Tuhan (pasrah.) Arvan memberi contoh dan inspirasi nyata betapa meraih kebahagiaan puncak itu tidaklah hadir sekonyong-konyong, tetapi dengan disiplin, perjuangan, dan pelatihan berat.
SELINTAS The 7 Laws of Happiness tampak sama dengan tipikal buku self-help dan motivasi (pengembangan diri) yang kerap dituduh menyederhanakan masalah serius dengan pendekatan instan, sejenis cara jawaban gampang bagi masalah kehidupan yang terlalu sukar. Pengkritik self-help mengindikasikan bahwa buku seperti itu sejenis pseudosains yang cenderung malah menyesatkan alih-alih memberi jawaban manjur. Mereka terutama kerap menyerang klaim dan buku karya orang yang bergerak di bidang ini.
Arvan Pradiansyah membangun argumen dari sumber nan luas, terutama dari literatur Psikologi Positif, studi perilaku terbaru, neurosains, ditambah dari tradisi agama-agama dan ajaran moral, dan ilmu sosial. Bukunya menawarkan universalitas yang kaya. Audifax Prasetya, peneliti psikologi asal Surabaya telah menguji kadar keilmuan The 7 Laws of Happiness. "Gagasan Arvan memiliki fondasi kuat untuk tumbuh dan berkembang menjadi sebuah pemikiran yang brilian. Saya melihat pemikiran Arvan bisa dikembangkan lebih jauh ke hal-hal yang aplikatif dan berguna bagi banyak orang. Buku ini mengajak orang untuk melihat secara mendalam melalui sebuah kajian teoretis yang dibangun secara serius."
Boleh jadi karena itu, pendengar tertentu yang mengenal maupun terpengaruh oleh Arvan sebagai pembicara publik, fasilitator, dan trainer, mantan dosen FISIP UI ini bukanlah tipe motivator yang gegap gempita dan bombastik dalam menyampaikan pendapatnya. Bersama lembaga pelatihan dan konsultasi sumber daya manusia yang sekarang dia pimpin, Institute for Leadership & Life Management (ILM), dia lebih banyak mengeluarkan issue kemanusiaan---misalnya kejujuran, persahabatan, dan memaafkan. Pada sejumlah pertemuan, dia menekankan rendah hati, menemukan misi hidup bagi diri sendiri, bersikap empatik dan positif, alih-alih semata-mata sukses finansial, kesejahteraan luar biasa, maupun puncak karir. Tanpa kebahagiaan dan kepuasan hakiki, semua itu akan sia-sia.
Tiga buku karya Arvan sebelumnya secara kontinu meneruskan pencarian manusia terhadap kebahagiaan, seiring dinamika pengalaman hidupnya. The 7 Laws of Happiness merupakan puncak pemikirannya; dia mengambil sari-sari berbagai pemikiran dan menggunakannya untuk mengungkap sebuah konsep komprehensif mengenai model kebahagiaan.[]
ANWAR HOLID, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung. Bekerja sebagai editor & penulis freelance.
Jalan Kapten Abdul hamid, Panorama II No. 26 B Bandung 40141
Tel.: (022) 2037348 HP: 08156140621
E-mail: wartax@yahoo.com
Tel.: (022) 2037348 HP: 08156140621
E-mail: wartax@yahoo.com
Wednesday, January 07, 2009

Meraih Kebahagiaan dengan Pikiran
--Oleh Anwar Holid
"Kebahagiaan itu seperti kupu-kupu. Semakin kita kejar, semakin dia berusaha terbang menghindar," kata Arvan Pradiansyah di tengah para penyimak yang memenuhi Function Hall Gramedia Matraman, pada Sabtu, 3 Januari 2009 lalu. Ketika memasuki toko buku itu, karya terbarunya The 7 Laws of Happiness (Kaifa, 423 h.), didisplay secara khusus baik di bagian "buku baru" dan "buku laris." Sementara poster covernya mencolok dalam neon box di beberapa pilar.
Memasuki tahun 2009, penerbit Kaifa mengadakan talkshow mengajak masyarakat untuk melakukan resolusi tahun baru untuk hidup yang lebih bahagia, dengan Arvan Pradiansyah sebagai pembicara. Biasanya resolusi lebih ditujukan untuk meraih sukses maupun memenuhi target yang lebih besar lagi, kenapa kali ini malah untuk mendapatkan bahagia? Apa bahagia merupakan sesuatu yang amat sulit diraih hingga perlu resolusi untuk itu?
Sebagai pembicara publik berpengalaman dan telah menyinggung subjek tersebut sejak lama dalam buku-buku terdahulunya, Arvan membicarakan tentang kebahagiaan dengan lancar. Bila dulu dalam buku-bukunya tema kebahagiaan merupakan salah satu bagian dari pembicaraan mengenai "life management" (manajemen kehidupan), kini tema tersebut menjadi fokus utama. The 7 Laws of Happiness termasuk utuh membicarakan tentang kebahagiaan beserta faktor yang mempengaruhinya, dengan pendekatan yang lebih mudah dibaca misalnya bila dibandingkan dengan The Authentic Happiness (Martin E. P. Seligman), yang jauh lebih serius dan teoretis.
"Kalau punya pikiran yang tenang, berpikir dan berkontemplasi dengan baik, biasanya kebahagiaan lebih mudah kita dapatkan," kata Managing Director Institute for Leadership & Life Management (ILM) yang telah menerbitkan empat buku ini, masing-masing disertai penerimaan pasar yang memuaskan. ILM merupakan lembaga yang bergerak di bidang pelatihan dan konsultasi sumber daya manusia.
Talkshow kemarin berlangsung akrab dan interaktif, bahkan Arvan sempat mengadakan simulasi bersama para peserta. Meski pendengar boleh langsung menanggapi bila mau berkomentar, dia berhasil mengusung semua poin dalam bukunya. Secara garis besar rahasia hidup yang bahagia itu tergambar pada cover, berupa rumah dengan tiga pilar intrapersonal (hubungan seseorang dengan dirinya sendiri), tiga unsur interpersonal (hubungan seseorang orang lain), dan sebuah unsur spiritual, berbentuk rasa berserah diri dan percaya seratus persen kepada Tuhan.
Seperti disangka sebelumnya, kebahagiaan memang mudah dibicarakan, namun sulit dicapai, apalagi bila seseorang tengah kalut, dirundung malang, atau merasa hidup dan perbuatannya sia-sia. Di sinilah pendapat Arvan secara prinsip berbeda dengan pendapat umum. Dia yakin bahwa inti kebahagiaan ialah keberhasilan seseorang dalam memilih pikiran agar hidupnya bahagia.
"Pikiran memang abstrak, tapi memiliki alat yang lebih jelas, yaitu otak," kata dia kepada peserta yang bingung membedakan apakah kebahagiaan itu berada di dalam hati, pikiran, atau jiwa. "Kebahagiaan itu bisa dikontrol," tegasnya. Begitu juga bila dikontraskan dengan penderitaan. "Kebahagiaan itu seiring kedewasaan menerima penderitaan." Meski begitu kebahagiaan juga punya hukum yang tetap, misalnya ia punya syarat minimal. Sering karena perspektif yang terlalu sempit, orang jadi terlalu sukar meraih kebahagiaan.
The 7 Laws of Happiness tampak cukup sukses meraih pembaca, terlihat dari antusiasme mereka mengikuti acara sampai akhir, silih berganti mengajukan komentar kritis, dan disambut dengan tangkas oleh Arvan. Dalam waktu dekat Kaifa akan mengadakan acara serupa di Bandung dan Surabaya.[]
Copyright © 2008 BUKU INCARAN oleh Anwar Holid
Situs terkait:
http://www.mizan.com
http://www.ilm.co.id
http://www.arvanpradiansyah.com (under construction)
Kontak dengan Arvan Pradiansyah di Facebook.com
Tuesday, December 02, 2008

Maryamah Karpov, Pamungkas Tetralogi Laskar Pelangi
--------------------------------------------------
--Oleh Anwar Holid
Bentang Pustaka meluncurkan Maryamah Karpov, buku terakhir dari tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata dalam suasana amat meriah.
JAKARTA - "Andrea Hirata memang fenomenal ya?" kata Aendra H. Medita keras-keras di dekat telinga saya, berusaha mengalahkan riuh suara ratusan orang yang memadati halaman dalam MP Bookpoint. "Kok kamu ada di sini?" tanya saya. "Memang nggak boleh?" tawa dia. Rupanya dia juga akan bertemu dengan Iman Soleh, aktor monolog yang malam itu didaulat membawakan puisi legendaris "Jante Arkidam" secara dramatik dan menukil mozaik dari novel terbaru Andrea Hirata.
Tadi siang saya melihat novel itu sedang dipasang besar-besaran di satu ruang MP Bookpoint. "Baru datang tadi pagi mas," ujar seorang karyawan sambil beres-beres. Ruang itu langsung penuh hanya oleh Maryamah Karpov ditambah tiga novel Andrea yang lain. Buku lain disingkirkan. Hari itu, Jumat, 28/11/08, adalah hari tetralogi Laskar Pelangi.
Meski hari pertama perjualan Maryamah Karpov belum resmi dilakukan, saya dengar dari Gangsar Sukrisno, CEO Bentang Pustaka, bahwa di toko buku Gramedia Citraland, novel itu dalam dua jam sudah terjual lebih dari 500 kopi. Di MP Bookpoint banyak pengunjung tak tahan menunggu lebih lama lagi untuk membeli. Sebagian orang telah membeli via toko buku online. Bentang menyediakan 100 ribu kopi untuk cetakan pertama, boleh jadi itu merupakan rekor untuk cetakan pertama di Indonesia.
Saya bertemu dengan Andrea Hirata di kantor Bentang, hanya beberapa rumah dari MP Bookpoint. Dia sudah tiba di Jakarta sehari sebelumnya, sekalian nonton konser jazz dengan keponakan-keponakannya, ditemani EO dan kuasa hukumnya. Saya baru saja menerima satu kopi novel itu dari Gangsar, dengan ucapan, "Kamu harus resensi buku ini ya." Di meja itu sudah menumpuk lebih dari 100 kopi Maryamah Karpov untuk ditandatangani. Itu buku pesanan. Tangan Andrea terus sibuk menulis nama satu per satu.
Beberapa saat kemudian wartawan Koran Tempo mewawancarai. Wawancara ini cukup intens karena belum ada media lain yang datang. Andrea menyatakan tekad untuk sementara berhenti dari dunia perbukuan. "Untuk sementara, tetralogi ini cukup," katanya. Dia ingin menyepi dan merenungi lagi perjalanan karirnya sebagai penulis, pertemuan mengesankan dengan John Berendt, keinginan menggali lebih serius genre yang disebut pihak Bentang sebagai "cultural literary nonfiction." Juga upaya menghasilkan buku sekelas karya Truman Capote atau Amin Maalouf.
"Dalam batas tertentu, menulis butuh perenungan. Saya punya kapasitas nggak sih? Saya mau menulis dengan benar. Apabila nggak mutu, jangan menulis," ucapnya tegas. Sang wartawan berkali-kali berusaha meyakinkan apa benar Andrea mau mundur dari dunia yang telah memberikan hal mengejutkan pada dirinya.
Tetralogi Laskar Pelangi adalah hip. Anak berusia 7 tahun hingga orang berumur 70 tahun membaca novel-novel itu. Ada anak SD yang terobsesi ingin bertemu dengan Andrea setelah membaca ketiga novelnya kala terbaring sakit. Maryamah Karpov, buku ke-4 seri itu, sudah ditunggu sejak dua tahun lalu, baru resmi diumumkan penerbitannya pada September lalu, ketika Mizan mengadakan ulang tahun ke-25, persis menjelang premiere film Laskar Pelangi. Andrea sendiri terus-terus menjadi pemberitaan, termasuk muncul kontroversi pernikahannya pada awal November ini.
Andrea mengaku berdarah-darah menyelesaikan novel ke-4 ini. Meski bila digabung waktu penulisannya hanya sekitar satu bulan, jeda di antaranya cukup lama. "Dalam beberapa hal, intensitas penulisan Maryamah Karpov mirip Laskar Pelangi," kata dia. "Saya juga ingin novel ini mendapat tanggapan seperti pembaca menanggapi Laskar Pelangi. Saya seperti menulis Laskar Pelangi jilid dua."
Malam itu Andrea mendapatkan yang diharapkannya. Ratusan orang hadir di MP Bookpoint sampai membuat tempat itu sesak buat bergerak sedikitpun. Mereka menunggu sejak sore, berjubel di setiap pojok. Mereka riang menyambut ajakan menyanyi "Bunga Seroja" dan "Englishman in New York". Mereka terkesima oleh penampilan Iman Soleh yang lucu, teatrikal dan menggelegar.
Mereka terus bersorak-sorai sampai akhirnya Andrea Hirata datang dalam kawalan polisi. Apalagi Giring Nidji dan sejumlah pendukung film Laskar Pelangi ternyata mau beramai-ramai menyanyikan theme song itu. Massa, terutama wartawan, tambah heboh begitu ada pernyataan pers tentang status perkawinannya. Sebagian bertanya dengan teriakan. Untung dia segera diselamatkan oleh acara tanda tangan, yang berlangsung sangat padat. Baru kira-kira pukul 10 malam acara itu selesai. Saya melihat display Maryamah Karpov sudah lenyap di ruangan MP Bookpoint, hanya tersisa yang ada di dinding-dinding kacanya.
Putut Widjanarko, VP Operations Mizan Publika yang saya tahu rakus membaca, sulit menyembuyikan pujian pada Maryamah Karpov. Dia telah melahap buku itu sejak awal produksi. "Cara berceritanya luar biasa," kata dia penuh penekanan. "Detail-detail suasana desanya mengingatkan saya pada novel Ahmad Tohari."
"Kamu pernah melihat peluncuran buku seperti ini?" tanya Gangsar pada saya ketika hendak pulang. Saya tersenyum, membatin, "Setiap penulis punya hari keberuntungannya." Ini launching paling heboh yang pernah saya saksikan.
Segera setelah ini akan muncul berbagai komentar atas novel 504 halaman itu, baik di media massa atau Internet. Ribuan pembaca, terutama book blogger dan pecandu buku, akan menuliskan kesan masing-masing, termasuk kritik, bahkan dari kalangan yang mengaku sulit menyelesaikan oleh Laskar Pelangi. Tapi bagi Andrea Hirata, tugas sudah dituntaskan. Jilid terakhir sudah dipersembahkan. Kini tinggal dia melaksanakan rencana-rencana selanjutnya, termasuk menghilang sementara.[]
Copyright © 2008 BUKU INCARAN oleh Anwar Holid
Informasi lebih banyak di:
http://www.mizan.com
http://www.klub-sastra-bentang.blogspot.com
http://www.sastrabelitong.multiply.com
http://www.renjanaorganizer.multiply.com
http://www.blueorangeimages.com (foto Andrea Hirata)
Subscribe to:
Posts (Atom)