Showing posts with label Film. Show all posts
Showing posts with label Film. Show all posts

Wednesday, June 15, 2016



Ketika sang Raja Tak Bisa Pura-Pura
Oleh: Anwar Holid


Aku mendengar kabar kematian Freddie Mercury dari TVRI. Waktu itu hampir tengah malam. Aku sedang sendirian menatap televisi hitam putih. Semua orang sudah tidur. Ketika penyiar memberitakan kematian Freddie, aku langsung terpana. Aku dengar baik-baik sampai selesai. Setelah itu aku terdiam beberapa saat. Rasanya ada yang menghilang dari dalam diriku. Seakan-akan ada yang kosong... tapi setelah itu pikiranku langsung membeberkan album dan lagu Queen favoritku.

Queen adalah band favorit nomor satuku. Aku tumbuh ketika lagu I Want to Break Free atau Radio Ga Ga sering diputar atau diminta agar disetel di radio. Sumber utama informasi Queen berasal dari majalah Hai. Tambahannya dari seperti Vista atau entah dari mana saja. Freddie meninggal setelah Queen merilis Innuendo. Namun spekulasi bahwa Freddie menderita HIV-AIDS sudah terdengar sejak Queen merilis The Miracle. Di beberapa video clip era itu, Freddie terlihat sudah sangat kurus, tulang pipi menonjol, dan matanya cekung. Dia mencukur kumis tebalnya, namun mengganti dengan membiarkan cambang dan kumis tumbuh tipis. Penampilan seperti itu menguatkan dugaan banyak fans, meski dia belum mengakui kepada umum.

Dokumenter Days of Our Lives bahkan mengungkapkan bahwa Freddie merahasiakan dirinya terjangkiti HIV-AIDS dari May, Roger, dan Deacon, dan malah mengutarakan pertama kali pada Jim Beach, manajer Queen. Bisa jadi pilihan tersebut membuktikan betapa dalam hal tertentu Freddie memang seorang tertutup dan pemilih. Tentu saja ini kontradiktif dengan image Freddie di panggung yang kharismatik, memikat, meledak-ledak, dan sangat komunikatif. Di sinilah dirinya sebagai seorang great pretender jadi kentara. Dia seperti bermain peran sesuai tuntutan personanya. Dia suka mengganti-ganti 'topeng' sesuai kebutuhan untuk diperlihatkan dan dilampiaskan semaksimal mungkin, entah sebagai seorang rock star (musisi), teman, makhluk sosial, dan pecinta. Bisa dibilang dia mengeksplorasi berbagai peran itu hingga ujung, berani mendobrak tabu, bahkan melampaui batas, misalnya dalam hal seks.

Apa yang kira-kira ingin dilampiaskan atau disembunyikan seorang rock star jika pada dasarnya dia berkeliaran dari satu puncak ke puncak lain? Apa dia sebenarnya kebingungan dan akhirnya terjebak dalam kepura-puraan akut? Freddie sangat ekspresif, terbuka, banyak ide dalam bermusik dan seni, juga mudah berempati atas nasib manusia. Tapi sebaliknya, dia tampak sengaja menutupi kehidupan pribadinya, yang hanya dibagi pada orang tertentu yang dianggapnya mengerti dan sudah benar-benar dianggap dekat.


Beberapa detil kebiasaan memperlihatkan bahwa secara bawah sadar Freddie tetap tidak bisa berpura-pura atau menyembunyikan diri. Ini terlihat misalnya dari kebiasaan mengusap bibir atas kumis, tidak percaya diri karena gigi tonggosnya, kuatir dengan kulit dan latar belakangnya yang cukup berbeda dari kebanyakan orang di sekitarnya, juga kesukaannya pada wanita tegap berpayudara besar. Soal kecenderungan biseksualnya, bisa jadi itu tidak terlepas dari pengaruh lingkaran gaya hidup sangat bebas. Manajer hebat di awal karir Queen ialah seorang gay, teman-teman dekat Freddie banyak yang homoseksual dan biseksual, asisten pribadinya pun gay, sementara kehidupan asmaranya sering berakhir buruk. Semua itu membuatnya lebih parah. Gaya hidup Freddie memang sangat berisiko, sementara saran ketiga temannya agar meninggalkan dan berhati-hati tak digubris.

Momen paling menyedihkan sekaligus menggugah dalam dokumenter Freddie Mercury: The Great Pretender ialah ketika menyadari dirinya bakal tak tertolong lagi. Kondisi itu mengubah jalan hidupnya sekaligus memaksa orang-orang di dekatnya harus sangat hati-hati berinteraksi dengan dia, dan membuatnya ringkih. Namun justru saat itulah dia berusaha terus berdiri dan total memaksimalkan bakat demi melampiaskan kemampuan terbaiknya. Dari sini lahirlah Barcelona bersama Monserrat Caballe yang ambisius, diteruskan dengan kerja terakhir bersama Queen untuk menghasilkan Innuendo yang pantas dikenang. Freddie seperti memberikan 'perlawanan' terakhir dengan penuh gaya. Dia berusaha mengeluarkan kemampuan terbaiknya sebelum akhirnya kalah oleh HIV-AIDS dan meninggal secara tragis.

Enigma dan magnet terkuat Queen memang Freddie Mercury. Di atas panggung, aksinya sungguh menawan. Dia membuat ribuan penonton terkesima, terperangah, sekaligus mampu menggerakkan orang agar kompak melakukan aba-abanya, entah berdendang dan menyanyi bersama, tepuk tangan, dan lainnya. Namun di balik panggung, ketika hingar-bingar pertunjukan sudah usai, ketika proses kreatif di studio berakhir, dia seperti sengaja memisahkan diri dari sebuah unit bernama Queen. Saat itulah dia sendiri, ada di lingkaran lain yang membuatnya mungkin nyaman atau malah bisa melampiaskan hasratnya yang paling liar. Dalam kondisi seperti itu tentu hanya sedikit orang tahu kepribadian Freddie Mercury sesungguhnya seperti apa. Dan kita sebagai fans Queen barangkali hanya bisa memandang dia dari bangku penonton. Pertama untuk mendengar dan menikmati karyanya; kedua penasaran siapa sesungguhnya Mr. Bad Guy ini. Apa dia memang seorang rock star atau raja berpura-pura?[]

Freddie Mercury - The Great Pretender
Sutradara: Rhys Thomas | Produser: Rhys Thomas, Jim Beach | Editor: Christopher Bird | Rilis:16 Oktober 2012 | Genre: Dokumenter | Asal negara: Inggris | Bahasa: English | Durasi: 87 menit | Produksi: Eagle Rock; Mercury Songs Release



Anwar Holid, fans Queen tinggal di Bandung

Tuesday, April 16, 2013



Gairah Masa Lalu, Dibongkar Sekarang

Possession 
Sutradara: Neil LaBute | Penulis: David Henry Hwang, Laura Jones, Neil LaBute, berdasar novel Possession: a Romance karya A. S. Byatt | Produser: Barry Levinson, Stephen Pevner, Paula Weinstein | Musik: Gabriel Yared | Distribusi: Warner Bros., Vision Entertainment | Rilis: Agustus 2002 | Durasi: 102 menit | VCD dengan subtitle Indonesia

Pemeran: Aaron Eckhart (Roland Michell), Gwyneth Paltrow (Maud Bailey), Jeremy Northam (Randolph Henry Ash), Jennifer Ehle (Christabel LaMotte)


Kategori: drama, roman, film tentang penulis, film LGBT



Meski sudah berkali-kali nonton Possession dan menurutku termasuk film yang bagus dan menarik, entah kenapa aku selalu kesulitan setiap kali berniat menuntaskan komentar setelah menontonnya. Kemarin aku nonton lagi dan sekarang mau memaksakan diri sedikit menulis komentar.

Rata-rata aku selalu tertarik pada film bertema sastra maupun penulis. Tentu tidak semua film tentang sastra istimewa, tapi ada saja sisi yang membuatnya menarik. Possession bukanlah film tentang betapa mencekam hidup seorang sastrawan untuk bisa mencapai kemampuan puitik atau seberapa penting arti menulis bagi seseorang, tapi mengungkap sastrawan sebagai orang yang punya emosi, gairah, bahkan terseret-seret oleh perasaannya. Gejolak maupun kedalaman perasaan itu mungkin sulit terlampiaskan dalam karya-karya yang terpublikasi dan bisa dibaca umum, tapi begitu jujur dan luber di dalam tulisan personal yang ditujukan pada seseorang istimewa.

Berbarengan dengan perayaan satu abad puisi-puisi cinta Randolph Henry Ash, diadakan pula lelang atas manuskrip-manuskrip tulisan tangannya. Beliau adalah nama fiktif seorang penyair resmi dan agung kerajaan Inggris zaman Victoria. Reputasinya dikenal sebagai laki-laki sempurna, suami setia, tidak pernah diberitakan berhubungan dengan perempuan lain. Mungkin hanya satu kekurangan pernikahannya: mereka tidak dikaruniai anak.

Tapi suatu ketika Roland Michell, seorang sarjana sastra, secara kebetulan menemukan surat-surat Ash kepada perempuan tak dikenal di dalam sisipan buku kuno yang tengah ditelitinya. Kepenasarannya menguat apalagi mendapati fakta bahwa arsip maupun manuskrip apa pun dari Ash diburu para kolektor dan berharga sangat mahal di balai lelang. Ketertarikannya pada manuskrip ini membawanya berkenalan dengan Maud Bailey, seorang dosen studi gender yang dikenal dingin pada laki-laki. Maud mau membantu Ash meneliti karena alasan sederhana: dia adalah keluarga jauh Christabel LaMotte, perempuan yang dituju dalam surat Ash. Maud kaget karena sepengetahuannya Christabel hanya sosok minor yang jadi teman lesbian seorang pelukis terkemuka di zaman itu. Mereka berdua menelusuri seberapa jauh kebenaran hubungan Ash dan Christabel, berusaha menemukan bukti dari komunikasi halus lewat surat, memecahkan kode dalam bait-bait puisi, arsip-arsip kuno di perpustakaan, bersaing melawan kolega dan kolektor rakus lain yang juga menghendaki artifak peninggalan Ash.

Kejar-kejaran berburu benda pribadi berharga mahal dan bernilai sejarah, pertukaran kisah dalam lintasan masa lalu dan masa sekarang, seperti apa perselingkuhan Ash dan Christabel, bagaimana gairah cinta itu merusakkan orang-orang terdekatnya---namun kenapa tetap terjaga kerahasiaannya hingga sekarang, juga perubahan emosi hubungan Roland dan Maud menjadi drama yang menarik dinikmati. Film ini bisa jadi tidak sedramatik My Left Foot atau Dead Poets Society, tapi penyajiannya tertata indah. Sebuah review memuji-muji bahwa Possession merupakan film paling romantis setelah The English Patient, tapi tampaknya film ini tidak meledak jadi heboh dan legendaris.

Possession diadaptasi dari novel berjudul sama karya A. S. Byatt yang memenangi dobel anugerah sastra tahun 1990, yaitu Booker Prize dan Irish Times International Fiction. Waktu terbit novel itu jadi bestseller di Inggris dan Negara Persemakmuran, kemudian masuk daftar seratus novel terbaik majalah Time. Di Inggris, A. S. Byatt dikenal ahli memainkan tema hubungan manusia dan seni berbingkai historical fiction.

Di sisi roman, Possession menghadirkan gelora emosi dan nafsu cinta seorang pria terhormat pada wanita yang diabaikan sejarah. Di sisi lain ia memperlihatkan upaya independensi wanita terhadap pilihannya, meski berisiko menghancurkan hidup orang-orang dekat yang tidak rela. Sementara sang narator secara mulus menimpali kisah itu dengan persaingan akademik, upaya memecah kode sastra, dan nilai sejarah di zaman kini.[]

Link terkait:
- Possession (2002 film): http://bit.ly/3a9An
- Possession: A Romance: http://bit.ly/3JC1NF

Saturday, December 22, 2012

Tiga Film Bila Hidupmu Dalam Tekanan 
---Anwar Holid

Mengejutkan banget betapa film yang bisa membuat aku menangis berkali-kali sampai nyeri ke hati bukanlah Life of Pi yang aku tonton bareng Ilalang (12 th) di bioskop keren sambil pakai kacamata 3D dan cemilan gurih, tapi dua film yang aku kopi dari warnet waktu mengirim kerjaan. Film pertama ialah That’s What I Am, ke dua yaitu It's Kind of a Funny Story. Dua film ini aku dapatkan kurang dari satu jam dengan biaya Rp.2.500,- Sementara waktu nonton Life of Pi aku mengeluarkan hampir Rp.100.000,- untuk semua ongkos termasuk menyumbang PMI dan bayar angkot.

Yah, aku harus jujur bilang bahwa Life of Pi juga film yang bagus, keren, dramatik, termasuk sedikit bisa bikin senyum. Tapi ia tidak membuatku menangis atau terharu lebih dalam, meskipun efek-efek visualisasinya menakjubkan. Tiga scene yang paling mengesankan buatku ialah waktu Pi ada di tengah lautan membayangkan bahwa dirinya bersama seluruh alam semesta ini ditelan Krisna, waktu dia di tengah malam ditemani kelap-kelip ubur-ubur dan dilewati ikan-ikan yang pindah, juga perpisahannya yang berakhir antiklimaks dengan Richard Parker padahal tentu saja dia berharap kejadian ini akan berlangsung mengharukan setelah melewati badai hidup bareng sedahsyat dan selama itu. Satu hal, Life of Pi menurutku 'terlalu berusaha' untuk dramatik, sampai aku merasa apa harus segitunya membuat orang agar terpesona oleh efek dan kejutan-kejutan yang tampak artifisial?

Hal itu tidak terjadi pada That’s What I Am dan It's Kind of a Funny Story. Aku mengira, si pendownload awalnya terpesona oleh (500) Days of Summer karena dua film ini juga merupakan drama coming-of-age. Cuma sedikit bedanya ialah kadar komedi di dua film ini lebih kurang dibandingkan film terakhir.




That’s What I Am berkali-kali membuat dadaku nyeri sampai akhirnya memerihkan mata dan membuatku menangis berkali-kali. Dari dulu aku cukup yakin bahwa film yang begitu saja bisa membuatku menangis pasti film hebat. Waktu nangis aku teringat perpisahan dengan guru-guru praktik SD yang entah kenapa bikin aku mewek di akhir acara dan sepanjang jalan pulang. Begitu juga waktu aku berpisah dengan guru praktik di SMP, barangkali menyadari bahwa aku bakal sulit lagi ketemu orang yang aku hormati dan seakan-akan bisa mengerti aku. Perasaan bahwa kita terlibat begitu emosional dengan seseorang, apalagi dia berpengaruh dalam hidup kita.

That’s What I Am terjadi di SMP di California, Amerika Serikat, berlatar pertengahan tahun 1960-an, sebagian warganya percaya takhayul dan prasangka, masih dihantui ancaman komunisme, padahal negara bagian ini baru mencatat sejarah memiliki kepala sekolah perempuan pertama. SMP ini punya guru teladan dan favorit murid, Mr. Simon. Dia mengajar sastra. Mr. Simon memasangkan Andy Nichol dengan Big G untuk mengerjakan tugas menulis akhir semester. Big G adalah salah satu siswa yang dianggap paling aneh, kerap jadi bahan celaan, bahkan serangan fisik, meski badannya paling bongsor.

Masalah jadi tambah rumit ketika Andy mulai tertarik pada Mary Clear, gadis paling cantik sesekolah, yang sayangnya pernah pacaran dengan Ricky Brown, jagoan di sekolah itu. Saat itu muncul isu bahwa Mr. Simon seorang homoseksual, membuat sebagian orangtua siap-siap mengusirnya karena menganggap homoseksual enggak pantas jadi guru, bisa menularkan bahaya, membawa pengaruh buruk. Andy tertekan dan kalut dengan situasi yang dihadapinya. Pertemanannya dengan Big G memunculkan banyak masalah bagi Andy, ketertarikannya pada Mary Clear membuat dia diancam Ricky Brown, kedekatan dan hormatnya pada Mr. Simon membuatnya bertanya homoseksual itu apa.

Masa itu adalah masa ketika masyarakat belum bisa menerima seseorang membuat pengakuan bahwa dirinya seorang homoseksual, lain sama sekali di zaman sekarang ketika orang dengan berani, mudah mengakui orientasi seksualnya, atau dengan percaya diri bilang, 'Aku gay dan aku bangga mengakuinya.' Masyarakat juga belum tahu pasti, tapi mereka berani berprasangka, menghakimi, dan lebih dari itu: siap bertindak atas nama massa. Di masa-masa galau itu Andy dan Big G berhasil menuntaskan tugas karangan berjudul "Toleransi." Berkat Mr. Simon  dan Big G-lah akhirnya Andy menemukan diri dan berani menyatakan siapa dirinya sesungguhnya.


Secara keseluruhan It's Kind of a Funny Story lebih lucu dan segar dibanding That’s What I Am yang bawaannya menekan dan kurang humor, meski mayoritas ceritanya di rumah sakit jiwa. Film ini menceritakan Craig, anak SMU yang stres, depresi, dan hidupnya merasa kacau menghadapi berbagai 'beban' sehari-hari mulai dari tugas sekolah, orang di rumah, ancaman masa depan, seksualitas, ketertarikan pada wanita, bingung terhadap banyak hal yang tidak dimengerti, dan kalut oleh pilihan hidup. Stres ini bisa membuatnya muntah tanpa sebab secara berlebihan, menyebabkannya ingin bunuh diri.

Beruntung dia memenuhi panggilan hot line layanan publik, yang mengantarnya masuk rumah sakit jiwa. Anak SMU masuk rumah sakit jiwa? Padahal dia punya orangtua yang manis, bertanggung jawab, keluarga harmonis. Craig seperti mengidap sindrom sakit "orang biasa." Gejalanya ialah dia merasa dirinya biasa saja, kuatir bila dirinya nanti tersingkir sebagai orang biasa. Orang biasa adalah orang yang menghabiskan hidupnya seperti kebanyakan orang. Dia punya karir, kehidupan sosialnya bagus, hidup normal, tapi dia tidak menonjol dibandingkan orang lain. Craig bingung kenapa dirinya bisa masuk sekolah favorit, padahal siswa-siswa lain punya keistimewaan terhadap bidang tertentu. Dia panik enggak bisa baca peta pada umur 5 tahun, sementara mendapati fakta bahwa pada umur segitu Mozart sudah bisa menciptakan komposisi. Dia kesulitan mengungkapkan minat dan bakat seni pada kedua orangtuanya. Persoalan terbesarnya barangkali karena dia tidak bisa menyatakan dirinya seperti apa dan dunia terdekatnya malah memgaburkan pada pencarian terhada makna.

Dari satu sisi mungkin kita bisa mengecam bahwa Craig tidak pantas sakit jiwa atau dia terlalu manja. Tapi ayolah, siapa yang pantas bilang bahwa satu masalah itu ringan atau terlalu serius bagi seseorang. Orang bisa gila karena cinta, sebagaimana orang bisa stres karena kerja, gagal memahami Tuhan, terlalu ekstrem berpendirian, penghasilan minim, enggak punya jodoh, perannya dilecehkan, menganggur, gagal memahami hidup, disalahpahami orang-orang terdekat, mengalami disfungsi seksual, karir berantakan, ditipu klien, takut mengutarakan kejujuran, merasa sengsara, kesulitan mengekspresikan perasaan, tidak bahagia, tidak bisa membelanjakan uang, atau dihantui agama maupun ideologi, bingung dengan orientasi seks, atau ingin bunuh diri karena enggak dapat perhatian dari orangtua. Masalah orang beda-beda dan tidak setiap orang punya daya tahan maupun keyakinan bahwa dirinya bisa menanggung masalah dan beban dirinya. Poinnya adalah: Jangan menyepelekan masalah orang lain, siapa tahu itu adalah masalah terberat dia dan dia bingung menyelesaikannya.

Di rumah sakit jiwa inilah Craig mendapat terapi hingga stresnya berangsur-angsur berkurang. Dia belajar bahwa sebagian orang punya beban atau kasus jauh lebih berat dan berbahaya. Lebih membahagiakan lagi dia bisa menyalurkan tekanan batinnya lewat seni dan kehadirannya secara signifikan mempengaruhi sesama pasien. Begitu ke luar dari rumah sakit jiwa dia tahu apa yang akan dilakukan dalam hidupnya.

Adegan paling menyenangkan buatku dalam film ini ialah waktu Craig secara lip-synch menyanyikan "Under Pressure" dari Queen dan David Bowie. Pas banget dengan situasi filmnya, meski aku tahu opini ini dipengaruhi bahwa aku seorang #1 fan Queen.

Ke tiga film ini secara halus memperlihatkan sebenarnya masalah dalam hidup seseorang membuat dirinya tumbuh dan dewasa lebih matang. Yang dibutuhkan manusia bisa jadi cuma rasa syukur bahwa dirinya bisa mengambil sesuatu dari masalah, baik lega hidup itu punya makna atau kedekatan dengan Tuhan. Begitu orang lolos dari bencana masalah, jiwanya mengerti. Masalahnya, sebagian orang dilecehkan, tidak punya kesempatan, aksesnya ditutup, tidak punya kepercayaan diri bahwa dirinya pantas menyelesaikan masalah dan bingung mencari solusi dalam menjalani hidup. Masalah seseorang barangkali sangat serius, menguatirkan, membuatnya nyaris putus asa, tapi sedikit keyakinan dan keberanian bisa menyelamatkan hidup.[]

Anwar Holid, bekerja sebagai editor dan penulis.

Link terkait:
Life of Pi  
That’s What I Am
It's Kind of a Funny Story

Thursday, April 12, 2012


Jika Kawan Dekat Menganggap Kamu Hantu

GHOST WORLD
Sutradara: Terry Zwigoff | Penulis: Terry Zwigoff dan Daniel Clowes, berdasar pada serial komik karya Clowes | Produser: Lianne Halfon, John Malkovich, dan Russell Smith | Distribusi: United Artists | Durasi: 111 menit | DVD dengan English subtitle.

Pemain: Thora Birch (Enid), Scarlett Johannson (Rebecca), Steve Buscemi (Seymour)


Berbeda dengan kebanyakan teman-temannya, Enid dan Rebecca memutuskan untuk tidak kuliah setelah lulus SMU. Mereka ingin pisah dari orang tua, tinggal bareng di apartemen, kerja, hidup mandiri. Tapi tanpa pekerjaan dan dukungan finansial, rencana itu sulit terwujud. Apalagi Enid harus menempuh kursus kelas seni terlebih dahulu.

Meski tipe "best friend forever", suka berbagi banyak hal, sering iseng bareng, dan sama-sama tidak populer di kalangan temannya, Enid dan Rebecca berbeda cukup mencolok. Enid eksentrik, suka seni dan musik, dan susah basa-basi. Rebecca cenderung bisa "normal", dan itu membuat Rebecca lebih cepat dapat kerja dan mudah "terarah."

Suatu hari Enid dan Rebecca bermaksud mempermainkan Seymour, seorang pria yang memasang iklan personal mencari kenalan perempuannya. Pria ini ternyata sudah berumur, canggung, jomblo. Setelah diselidiki, dia seorang penjual sekaligus kolektor rekaman (vinyl) dan benda-benda seni. Pengetahuannya di dunia musik luar biasa dan langka, tahu nyaris sedetil-setilnya. Enid segera tertarik pada Seymour dan masuk ke dalam kehidupan pribadinya, sementara Rebecca mulai bisa menikmati hari-hari kerjanya.

Berkat keeksentrikannya, Enid mendorong Seymour agar meraih hidup normal, terutama dalam berhubungan dengan wanita. Tapi usaha itu sering gagal karena Seymour jauh lebih tertarik pada rekaman beserta segala aspeknya, sesuatu yang cukup sulit dibagi apalagi pada perempuan dengan selera kebanyakan. Koleksi seni Seymour yang langka menolong Enid mewujudkan niatnya membuat karya yang berpengaruh, meski ujung-ujungnya proyek seni itu membuatnya kecewa karena terlalu kontroversial dan malah menyebabkannya gagal mendapat beasiswa kuliah. Hubungan dengan Rebecca lama-lama juga mulai retak, apalagi Enid sulit bekerja sehingga mereka berdua gagal menyewa apartemen bareng---kenyataan yang membuat Enid benar-benar marah dan merasa nelangsa.

Kekecewaan, sering disalahpahami membuat Enid putus asa dan ingin kabur dari kondisi itu. Di ujung kecewa, pada suatu sore dia menyaksikan bahwa bus yang setahu dia trayeknya sudah ditutup, ternyata akhirnya mengangkut seorang kakek yang setiap hari menunggu-nunggu kedatangan bus itu. Terdorong oleh ilusi itu, akhirnya secara absurd Enid pun menanti bus itu dan siap-siap pindah.

Meski bergenre drama komedi, Ghost World bukanlah tipe komedi haha, melainkan bisa membuat kita tertegun. Film seperti ini ujung-ujungnya malah mengharukan bukan karena koflik besar dan harus diselesaikan dengan heroik, melainkan karena terbayang kita pun bisa mengalami hal-hal seperti itu. Ia memikat karena berhasil menyajikan situasi misfit (salah sangka/tempat) yang tetap harus dihadapi dalam berhubungan dengan orang-orang dekat. Apalagi di situ ada kesenjangan generasi, baik dengan orang dewasa, orangtua, juga norma masyarakat. Ghost World menghadirkan masalah secara subtil dan kecil-kecil. Orang salah paham terhadap orang lain, dan itu membuat mereka kecewa, padahal dia hanya terlambat sedikit lagi untuk memaklumi yang sebenarnya. Pernah Seymour di satu fase sakit hati karena sadar awalnya dia adalah bahan olok-olok Enid dan Rebecca, dan baru terhenyak ketika melihat di diari Enid bahwa seiring waktu kenyataannya gadis ini justru sayang dan menjadikan dirinya sebagai pahlawan.

Ghost World seperti menguatkan bahwa orang pada akhirnya akan terserap ke dunia masing-masing, menyiratkan betapa masuk ke dalam hati seseorang secara menyeluruh, apa adanya butuh kelapangan hati dan pengorbanan besar, bahkan sangat mungkin harus diuji dengan makan hati lebih dulu.[]

Anwar Holid, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com

DVD dan komik Ghost World tersedia di Kineruku.