Thursday, May 07, 2009


Pay It Forward
Aku nonton film ini dan terkesan sekali oleh moral kebaikan di dalamnya. Tontonlah. Aku merekomendasikannya. Haley Joel Osment bermain cemerlang.

Sunday, May 03, 2009



[SPAMBOT]

AKU MAU BELI WAKTU AYAH
--Anonim


Rudi ialah kepala cabang sebuah perusahaan di Bandung. Seperti biasa, ia tiba di rumah pada pukul sembilan malam. Namun tidak seperti biasa, hari itu justru Leo yang membukakan pintu dengan semangat. Putra pertamanya itu kini duduk di kelas tiga SD. Ia tampak sudah menunggu cukup lama.

"Kok belum tidur?" sapa Rudi sambil mencium anaknya.

Biasanya, Leo memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari. Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga, Leo menjawab, "Aku nunggu ayah pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji ayah?"
"Lho, tumben, kok nanya gaji ayah? Mau minta uang lagi, ya?"
"Ah, enggak. Pengen tahu aja."
"Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari ayah bekerja sekitar sepuluh jam dan dibayar empat ratus ribu. Setiap bulan rata-rata dihitung dua puluh lima hari kerja. Jadi, gaji ayah sebulan berapa, hayo?"

Leo lari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Rudi beranjak menuju kamar untuk ganti pakaian, Leo berlari mengikutinya.

"Kalau satu hari ayah dibayar empat ratus ribu untuk sepuluh jam, berarti satu jam ayah digaji empat puluh ribu dong," katanya.
"Wah, pintar kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, bobo," perintah Rudi.

Tetapi Leo tak beranjak. Sambil menyaksikan ayahnya ganti pakaian, Leo kembali bertanya, "Ayah, boleh nggak aku pinjam uang lima ribu?"
"Sudah, jangan macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Ayah capek. Ayah mau mandi dulu. Tidurlah."
"Tapi, yah..."
Kesabaran Rudi habis. "Ayah bilang tidur!" Hardikan itu mengejutkan Leo.

Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya. Usai mandi, Rudi tampak menyesali hardikannya. Ia pun menengok Leo di kamarnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Leo dia dapati sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang lima belas ribu rupiah.

Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Rudi berkata, "Maafkan ayah, sayang. Ayah sayang sama Leo. Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan lima ribu rupiah, lebih dari itu pun akan ayah kasih."
"Ayah, aku nggak minta uang. Aku mau pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini."
"Iya, iya, tapi buat apa?" tanya Rudi kebingungan.
"Aku mau ajak ayah main ular tangga. Aku sudah menunggu ayah dari jam delapan tadi. Setengah jam saja. Ibu sering bilang waktu ayah itu sangat berharga. Jadi, aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku, ada lima belas ribu. Tapi karena ayah bilang satu jam ayah dibayar empat puluh ribu, maka setengah jam harus dua puluh ribu. Duit tabunganku kurang lima ribu lagi. Makanya aku mau pinjam dari ayah," kata Leo.

Rudi terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah itu erat-erat dengan mata berkaca-kaca.[]

CATATAN: Aku menemukan file ini di warnet, aku beri judul dan edit sekadarnya.

Thursday, April 30, 2009






[TRIVIA]

Mata Staedtler 0.3
--Anwar Holid

Pada Rabu, 29 April 2009, aku menulis begini di buku jurnalku:

Aku menulis ini dengan rapido Staedtler 0.3 seri Marsmatic. Matanya aku beli barusan dari Baca-Baca Bookmart, Sabuga. Kalau nggak salah aku terakhir kali pakai Staedtler pada 2007, waktu Deden tak sengaja menjatuhkan rapidoku dan membuat jarumnya patah. Sejak itulah rapido legendarisku pensiun. Setelah itu aku minta pada Bagas Rotring 0.2-nya yang kelihatan tersia-siakan dan nganggur. Dia beri rapido itu, dan aku membersihkannya. Itulah yang aku pakai selama ini untuk mencatat dan menulis banyak hal.

Sebenarnya aku lebih suka 0.2, tapi karena tulisanku sudah kecil, justru 0.3 menolong membuat tulisanku jadi lebih terlihat dan terbaca. Aku ingat punya Staedtler 0.3 itu sejak SMA, beli di Cihapit, dan aku pakai terus-menerus, untuk menulis diari, surat, draft, jurnal, corat-coret, dan sebagainya, sampai akhirnya patah. Alangkah lama kesetiaanku pada sebuah alat tulisan.

Dibanding-banding, aku lebih suka Rotring daripada Staedtler. Bentuk Rotring lebih ramping dan ringan, sementara Staedtler gempal dan berat. Kelebihan Staedtler ia lebih mudah ditutup-buka, terutama bila akan dibersihkan--dan harganya lebih murah dari Rotring.

Aku pertama kali suka rapido waktu lihat saudaraku yang sudah mahasiswa menggunakannya untuk mengerjakan tugas dan hitung-hitungan rumus kimia dan biologi atau catatan lain. Tulisannya jadi kelihatan rapi dan enak dilihat. Ini tentu efek dari jarum dan tintanya yang amat tajam. Tinta cina Rotring atau Staedtler memang sangat hitam dan tak luntur. Sejak itu aku suka mencoba-cobanya, lama-lama ingin punya. Harga rapido memang relatif lebih mahal dari pulpen biasa, meski jelas ada banyak alat tulis yang jauh lebih mahal dari rapido. Baru ketika di SMA aku punya kesempatan beli rapido second setelah nabung beberapa lama dari menyisakan uang jajan. Gara-gara pakai rapido, ada saja orang yang nyangka bahwa aku anak arsitektur. Memang sulit melepaskan prasangka umum.

Mata Staedtler 0.3 yang aku beli ini benar-benar mengejutkan: harganya Rp.10 ribu! Jelas karena ini barang lama, meski aku yakin bukan second, karena kelihatan masih mengkilap. Yang baru, terakhir aku cek di toko ATK di Balubur, harganya Rp.50 ribu-an. Begitu lihat, aku langsung sulit menahan diri untuk tak membelinya. Seakan-akan tak percaya menyaksikan mata rapido dijual semurah itu.

Ceritanya mulai hari ini Baca-Baca Bookmart bikin garage sale bersamaan dengan pembukaan Kompas-Gramedia Fair 09 di Sabuga. Di antara majalah dan buku bekas, sepatu, rajutan, kaset, kriya, botol minuman keras, topi, cd, vcd, bahkan pupuk cair, aku lihat tumpukan mata rapido Staedtler berbagai ukuran, semua dengan harga Rp.10 ribu. Langsung aku ingat badan rapido 0.3 yang aku simpan di kardus setelah cedera parah itu. Aku simpan siapa tahu bisa beli matanya suatu ketika.

Ternyata inilah harinya. Hari ketika aku rutin mengantar Ilalang main jembe di Jendela Ide, Sabuga. Biasanya, aku nunggu Ilalang main sambil lihat-lihat & baca-baca di Baca-Baca Bookmart, pinjam buku dari perpustakaannya, ngopi, atau ngobrol berbagai hal dengan para penunggunya, tukar-menukar album musik dan mp3. Sekarang, tiap kali ke sana yang paling sering aku temui ialah Ajo, Oleh (Soleh), Nanang, dan seorang anak punk yang aku lupa namanya. Kalau nggak salah dia sering dipanggil "Bule" karena kulitnya putih, hampir selalu memakai jaket belel penuh dengan pin berisi banyak pesan. Dulu Andry & Frino sering aku temui, tapi mereka sekarang sudah punya kesibukan lain sendiri, atau datang ke Sabuga ketika aku tak datang ke sana. Sebagai gantinya, kadang-kadang aku ketemu Wiku Baskoro dari Dipan Senja/Lawang Buku. Musik Sigur Ros mengiringi garage sale kecil-kecilan ini.

"Sudah lihat-lihat ke dalam mas?" tanya Wiku. Maksud dia lihat Kompas-Gramedia Fair.
"Sudah, kayaknya pesertanya lebih banyak dari tahun kemarin ya? Standnya juga lebih rapi."
"Nggak belanja?"
"Enggak euy. Keuanganku lagi kacau. Mana kemarin Fenfen kehilangan dompet waktu pulang dari Serang."
"Gitu? Hilang di mana?"
"Di angkot, di Pasirkoja."
"Kali keselip-selip di kursi?"
"Nggak tahulah."

Waktu ambil satu mata itu, aku bilang ke Ajo, "Kalau nggak berfungsi, ini aku kembaliin ya?"
"Siplah," kata dia santai.
"Dapat dari mana nih barang-barangnya?" aku penasaran.
"Dari teman. Dia nitip."
"Kok bisa punya banyak begitu?"
"Nggak tahu tuh."

Dilihat langsung sih mata rapido itu kelihatannya masih baru. Begitu pulang, setelah ikut beres-beres rumah, aku langsung ambil badan lamanya, dan pasang. Ternyata benar. Jarumnya masih oke punya. Walhasil aku akan segera habiskan tinta di Rotring 0.2, biar bisa diistirahatkan dulu. Rotring ini kelihatan sudah tua. Badan bagian atasnya sudah belah-belah. Untung aku perkuat dengan lem super. Begitu setelah, Staedtler 0.3 ini bisa kembali diaktifkan untuk menulis segala sesuatu.

KEEP YOUR HAND MOVING![]

Anwar Holid kurang-lebih telah menghabiskan empat botol tinta cina untuk menulis dengan rapido. Dia bekerja sebagai editor, penulis, & publisis; eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@yahoo.com (022) 2037348 HP: 085721511193 Panorama II No. 26 B, Bandung 40141