Kami Memburu Naskah Potensial yang Bisa Dijual
---Anwar Holid
Kalau diberi kesempatan, naskah seperti apa yang akan kamu terbitkan? Jawabannya: aku mau menerbitkan semua buku yang aku inginkan.
Mimpi! Kenyataan tak semudah itu. Penerbit merupakan lembaga bisnis yang bertaruh dengan uang. Ia berhitung untung-rugi. Setiap penerbit punya selera dan ketentuan sendiri. Jujur, penerbit manapun lebih suka menerbitkan naskah yang sudah dijamin biaya produksinya---misal oleh penulis sendiri, pemodal, atau pihak lain yang berkepentingan---daripada harus menerbitkan naskah yang pasarnya belum jelas, butuh energi, dan biaya besar untuk balik modal. Kecenderungan ini terbukti dari banyaknya naskah pesanan, padahal editor sudah kerap memberi tahu bahwa naskahnya tidak layak dan teknik penulisannya payah. Tapi karena penerbit pasti mendapat untung tanpa perlu susah-susah menjualnya, naskah itu tetap harus terbit, bahkan kerap dirayakan dengan gegap gempita.
Buku yang terbit kadang-kadang tak ada hubungannya dengan naskah baik atau buruk. Sering penerbit hanya butuh naskah laku, yang langsung bisa meyakinkan bakal mendatangkan uang, menghasilkan bonus, terjual ratusan ribu kopi, dan memasarkannya dengan semangat. Mau naskah sebagus apa pun, semulia apa pun, kalau dinilai tak mendatangkan untung tak bakal diterbitkan. Kalau terpaksa diterbitkan, entah oleh penerbit profesional atau self-publishing, hasilnya sama saja: buku itu menumpuk bertahun-tahun, sebelum akhirnya akan dikilo ke tempat loak. Naskah bagus bisa berbeda dengan naskah laku, dan itu merupakan misteri bagi semua pemain industri perbukuan, meski penerbit terus berusaha menaklukannya.
Banyak buku yang dilecehkan sebagian pembaca ternyata laris di pasar, jadi bestseller, dicetak puluhan kali, mendatangkan untung miliaran rupiah bagi penerbit dan penulis. Penerbit kerap lebih tertarik dengan naskah yang punya potensi jadi bestseller daripada naskah yang dianggap baik. Untuk mendapat naskah bestseller penerbit bahkan berani menyewa penulis dan membayar kontan. Orang boleh saja menghina-hina sebuah buku rendah mutunya, kosong isinya, ditulis biasa saja, bahkan mungkin merupakan pseudosains utak-gatik-gatuk, tapi kalau buku itu laku, silakan gigit jari orang yang menghina-hina itu. Setiap buku laris pasti bakal ada susulannya; penerbit lain sangat ingin mendapat naskah sejenis itu. Penerbit selalu mencari momen bestseller, bagaimanapun caranya.
Kalau begitu, naskah seperti apa yang bisa terbit? Jawabannya jelas naskah yang bakal laku bila jadi buku. Jawaban ini bisa sangat beragam bentuknya, sebab penerbit punya pernyataan bisnis masing-masing---bahkan bisa tak malu-malu mengkhianati pernyataan itu. Contoh: ada penerbit yang berafiliasi dengan Islam malah menerbitkan buku tentang seorang Yahudi yang dianggap menghancurkan dunia Islam. Kenapa penerbit ini mau menerbitkannya? Karena dia ingin memetik keuntungan dari buku itu.
Naskah yang bisa menarik perhatian penerbit biasanya punya ciri sebagai berikut:
1/ Ditulis dengan rapi. Ini syarat mutlak. Selera editor biasanya langsung rusak bila melihat naskah yang terlalu banyak salah eja. Bila seleranya rusak, dia akan lebih kesulitan lagi menemukan permata dalam naskah itu. Wah, bukankah memperbaiki dan memoles kesalahan naskah itu tugas editor? Benar. Tapi penulis harus menolong diri sendiri dulu. Penulis dilarang membebankan persoalan elementer ini pada editor. Di sinilah pentingnya penulis harus berusaha mengetik secara disiplin dan akurat, kalau bisa tanpa kesalahan satu pun.
2/ Subjek (isi) tulisan itu jelas. Penulis mestinya mengusung ide tertentu yang fokus. Ia mau bicara apa? Bagaimana cara dia menyampaikan pemikiran? Kalau bertele-tele, banyak menyertakan hal irelevan, malah membuat kabur persoalan, editor bisa langsung menolak naskah itu atau mencorat-coretnya. Kalau cara penyampaiannya kurang greget, sementara ide ceritanya biasa, naskah itu akan mudah diabaikan. Sebaliknya, meski ide ceritanya biasa, namun disampaikan secara unik, atraktif, dengan sudut pandang menarik, kemungkinan besar naskah itu masih tetap bisa memikat. Isi naskah merupakan perhatian utama editor, sebab pada dasarnya itulah yang akan ia kemas menjadi buku yang bisa dijual, bisa ditawarkan kepada calon pembaca.
Jonathan Karp, seorang editor berpengalaman di Amerika Serikat, menyatakan: "Kami akan mati-matian berusaha menerbitkan buku yang luar biasa, karya penulis yang memiliki perspektif unik, otoritasnya diakui, dan mampu menarik perhatian orang. Karya yang bisa menjelaskan mengenai budaya kita. Ia mesti bisa menerangi, menginspirasi, memancing emosi pembaca, sekaligus menghibur. Pendapat, otoritas, maupun subjek buku itu harus tunggal, istimewa, luar biasa."
Noor H. Dee, editor di LPPH, berpendapat bahwa sebuah naskah pantas diterbitkan bila memiliki nilai kebaruan dan keunikan. Pembaca juga harus bisa mendapatkan manfaat dari naskah tersebut. "Saya lebih memilih naskah yang sedang hip (digemari) di pasaran, sebab trend pasar juga jadi pertimbangan saya," demikian ujarnya.
3/ Punya nilai lebih atau keunggulan yang bisa ditonjolkan. Ini berguna bila subjek bahasan penulis serupa dengan penulis lain, atau topik itu sudah dibahas banyak buku lain. Apa yang ditawarkan naskah ini, misalnya apa rahasia yang belum terungkap penulis lain, temuan baru, efektivitas, bahkan hal-hal sepele yang mungkin bisa diunggulkan sebagai nilai jual.
Contoh kasus: Isi Outliers (Malcolm Gladwell) kalau dilihat-lihat sangat klise, berisi pandangan manusia tentang kesuksesan. Buku motivasional atau how-to sudah membicarakannya dari banyak sisi. Tapi kenapa Outliers tetap bisa menonjol secara luar biasa dan jadi bestseller gila-gilaan? Bisa jadi karena dua hal: (1) teknik penulisannya hebat dan lincah sekali. (2) cara berpikir Gladwell unik dan cara dia menarik kesimpulan mengejutkan.
Carol Meyer dalam The Writer's Survival Manual menyebut ada tujuh faktor yang sering jadi pertimbangan editor dalam meloloskan naskah, yaitu:
1/ Apa naskah ini cocok dengan buku-buku terbitan sebelumnya? Apa penerbit pernah sukses dengan buku seperti ini? Kalau tidak, apa ada celah baru yang masuk akal untuk menerbitkan naskah ini? Bagaimana menjualnya?
2/ Apa subjek buku itu akan bisa dia edit dengan nyaman? Kalau harus outsource, apa biayanya terjangkau?
3/ Apa editor punya waktu untuk mengeditnya?
4/ Apa naskah itu ditulis dengan baik?
5/ Bagaimana kompetisi naskah sejenis di pasar?
6/ Apa subjek naskah itu sedang populer, membuka subjek baru, atau punya kemungkinan melahirkan trend baru?
7/ Apa penerbit sanggup membiayai ongkos produksinya?
****
Tak ada yang suci di dunia penerbitan. Sebuah naskah bisa terbit karena belasan alasan dan kondisinya macam-macam. Apalagi naskah apa pun bisa dipoles dan direvisi. Bahkan kerap terjadi naskah yang sebenarnya belum layak pun bisa dipaksa terbit bila ada pihak yang menginginkan atau mau membiayainya. Ingatlah buku-buku buruk yang pernah kita baca. Standarnya ialah asal naskah itu memenuhi syarat tertentu, masuk kategori cukup (tidak memalukan bila diterbitkan), bisa diupayakan, ada sesuatu yang ingin dikejar, maka naskah itu niscaya bakal terbit.
Sederhananya, bila editor menilai bahwa naskah yang dibacanya sudah cukup bagus, cukup yakin bahwa naskah itu punya nilai jual, ia akan meloloskan dan mengusulkan untuk diterbitkan. Kalau naskah disiapkan dengan baik, itu sudah cukup untuk menjadi bahan buku yang memadai. Perkara bestseller, siapa yang tahu. Banyak buku bestseller kualitas isinya biasa saja. Ada buku yang isinya bermutu tapi tak laku. Secara umum, Dari dulu buku bestseller itu tipikalnya sama: penulisannya populer, isinya mudah dipahami, cukup "ringan" waktu dibaca, menggugah (inspirasional), memberi wawasan yang segar, simpel, berorientasi pasar, bisa memenuhi selera umum seluas mungkin.
Kalau Anda mau menulis buku yang berpeluang jadi bestseller, menulislah secara populer dan informal. Pelajarilah cara menulis yang efektif-efisien. Belajarlah dari buku laris, bergurulah pada penulis, instruktur menulis, atau penerbit yang tergila-gila pada buku bestseller.
Salah satu faktor bestseller ialah karena buku itu ditulis oleh seorang ahli di bidang tertentu dan dia mampu menggunakan keahlian atau wawasannya sebagai basis untuk meyakinkan pembaca, bukan untuk pamer pengetahuan atau justru menonjol-nonjolkan betapa tinggi ilmunya. Alasan ini mungkin masih kabur. Konkretnya: carilah naskah karya seorang ahli di bidang tertentu, ditulis secara populer, banyak memiliki insight, dan segar, mungkin ia bakal mudah jadi buku bestseller.
Fakta ada banyak naskah yang awalnya ditolak puluhan editor, gagal diterbitkan penerbit tertentu, namun begitu diterima dan diterbitkan pihak lain ternyata mendapat pengakuan hebat di mana-mana, dikritik habis-habisan, atau akhirnya jadi bestseller mestinya membuka mata dan menyemangati penulis bahwa naskah yang baik itu pasti layak diterbitkan dan punya nilai jual. Karena itu teruslah menulis dan berkarya.
Keep your hand moving.[]
Anwar Holid bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis. Buku barunya yang akan terbit ialah Keep Your Hand Moving (GPU, Juli 2010). Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.
KONTAK: wartax@yahoo.com | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141
Showing posts with label Editan. Show all posts
Showing posts with label Editan. Show all posts
Saturday, August 07, 2010
Thursday, May 20, 2010
Kompetensi Seorang Editor
---Anwar Holid
Saya memulai karir di dunia perbukuan sebagai 'asisten editor' di Mizan. Editor yang saya layani terutama ialah Hernowo, Yuliani Liputo, Rachmat Taufiq Hidayat, Taufan Hidayat, Sari Meutia, dan Tholib Anis. Tugas utama saya kira-kira mencakup copyediting, proofreading, membuat indeks, mengawasi cetak coba, dan melayani segala kebutuhan editor. Sesekali saya juga mendapat kepercayaan untuk bertugas sebagai editor---sebab itulah niat utama saya bekerja di industri buku. Kadang-kadang saya diminta mendampingi atau menemui penulis, meski belum benar-benar bekerja sama dengan mereka. Tapi minimal kami berinteraksi.
Pada periode itu salah satu yang paling saya ingat ialah Hernowo---manajer kami---tampaknya sedang memasuki masa transisi dalam karirnya. Gejalanya ialah hampir setelah rapat mingguan dia memberi tulisan untuk kami baca, baik berhubungan langsung dengan penerbitan maupun manajemen. Kami suka heran, ada apa nih mas Her kok agak berubah, yaitu sering mengutarakan pikiran-pikirannya agar kami baca. Saya waktu itu masih anak bawang di dunia kantor, jadi meskipun tulisan itu saya baca, ada kalanya langsung saya taruh di laci setelah sekali baca.
Sebenarya hampir semua editor di Mizan juga suka menulis. Yuliani berkali-kali mempublikasikan tulisan di Kompas, bahkan menimbulkan polemik. Sari Meutia, Rachmat Taufiq Hidayat, Taufan Hidayat juga suka menulis di media lain. Tulisan saya pernah dimuat Gatra dan Republika.
Suatu hari ketika datang ke Mizan lagi untuk mengerjakan order, di showroom saya membuka-buka Mengikat Makna (2001) karya Hernowo. Saya kaget dan berteriak dalam hati, "Loh, ini kan tulisan-tulisan mas Her yang dulu dia bagi-bagikan ke kami!" Rupanya dia secara padu dan menarik mampu mengolah perca tulisan yang dulu kami anggap sebagai buah kegelisahan menjadi buku tentang bacaan dan penulisan paling fenomenal di Indonesia. Berani taruhan, sejak itulah namanya menjadi terkemuka tidak hanya sebagai editor sebuah penerbit yang khas, melainkan menjadi diri sendiri. Saya pikir, Mengikat Makna merupakan buah dari pengalaman dan pembelajarannya bertahun-tahun menjadi editor senior di Mizan. Itu menakjubkan.
Karena gagal membangun karir di Mizan, saya berusaha belajar menjadi 'editor sesungguhnya' secara serabutan, baik lewat ngantor maupun dengan menjadi editor freelance, termasuk buat para penulis perorangan. Selalu ada pembelajaran menarik setiap kali berinteraksi dengan sesama penulis dan editor. Saya kembali belajar dari Hernowo waktu naskah saya akan diterbitkan MLC, meskipun akhirnya gagal. MLC ialah imprint Mizan yang dulu banyak menerbitkan buku pembelajaran, penulisan, dan perbukuan.
Inilah rangkaian nasihat selama kami berinteraksi hendak menerbitkan buku:
1/ Yang lebih penting ialah lebih dulu "menemukan" diri sendiri--- penulis mau apa dengan naskahnya, fokus atau kabur subjek yang dia jelajahi, bagaimana cara dia mengungkapkan gagasan, apa harapannya terhadap naskah, dan kelengkapan lainnya.
2/ Yang sebaiknya memberi karakter pada naskah ialah penulis sendiri, bukan orang lain. Idealnya yang memastikan sebuah buku mau diposisikan seperti apa bukan editor, penerbit, atau orang di luar penulis.
3/ Lontarkan saja apa sebenarnya keinginan penulis atau bayangan buku seperti apa yang penulis harapkan? Apakah buku ini misalnya bisa seperti buku Hernowo (Mengikat Makna) atau buku Sofia Mansoor-Niksolihin (Pengantar Penerbitan)?
4/ Jadikan tulisan itu untuk membantu penulis menemukan diri, mulai dari keinginan, harapan, karakter, apa pun. Bila menemukan sesuatu, penulis nanti akan menemukan "konsep", "judul" atau apalah yang mewakili diri penulis berkaitan dengan naskahnya. Ini akan membuat naskah jadi dahsyat.
5/ Selain menyusun naskah secara normatif---Eric Jensen menyebutnya sebagai "makna yang dirumuskan" (reference meaning)---idealnya penulis berusaha menyentuh "makna yang dihayati" (sense meaning). Tujuannya untuk mendapatkan makna terdalam sebuah naskah dan menghindari menangani naskah secara kering dan normatif.
Saya juga mendapat masukan dari Ahmad Baiquni ketika menerbitkan buku di Mizania. Dialah editor kedua buku saya. Dari Baiquni saya belajar tentang cara menyampaikan gagasan secara halus dan persuasif. Ini bisa jadi dipengaruhi oleh kepekaan Baiquni yang hebat terhadap bahasa dan kata. Dia awas terhadap efek bahasa dan kemungkinan penerimaan pembaca terhadap cara ungkap. Apa sebuah kalimat akan membuat telinga orang jadi panas atau membuat hatinya sejuk? Tentu sia-sia bila kita menulis sebuah buku tentang agama, namun efeknya malah membuat orang jadi antipati terhadap agama tersebut. Misinya gagal.
Menyimpulkan dari belajar gaya serabutan itu, menurut saya, kompetensi yang paling dibutuhkan seorang editor antara lain:
1/ Peka bahasa, luwes menulis, jernih mengungkapkan gagasan. Kompetensi ini sangat kualitatif, tapi efeknya gampang dilihat, misal dari enak-tidaknya buku dibaca, jelas-tidaknya gagasan dalam sebuah buku. Kompetensi ini sudah saya saksikan sejak awal meniti karir. Editor yang hebat pastilah pandai menulis---tak peduli apa dia pernah menerbitkan buku atau tidak. Kompetensi ini akan melanggengkan karir seorang editor. Ini otomatis menggugurkan adagium bahwa editor ialah penulis gagal. Bahkan bisa jadi sebaliknya, editor ialah penulis yang sedang mengasah pena kepenulisannya.
2/ Menangkap gagasan terbaik dari penulis dan memberi saran untuk menciptakan visi tentang sebuah buku. Dalam hal ini mari kita belajar dari Jonathan Karp, pendiri sekaligus Editor in Chief di penerbit TWELVE. Yang paling menonjol dari TWELVE ialah cara Karp menangani penulis dan naskah satu demi satu secara eksklusif untuk menghasilkan buku yang benar-benar bermakna dan mengubah masyarakatnya---Amerika Serikat. Kinerja dia membuktikan idealismenya. Dalam perjalanan karirnya, Karp mengaku sangat terkesan pada Kate Medina, editor yang dia asistensi di Random House sebelum mendirikan TWELVE. Inilah yang dia pelajari dari Medina:
Saya memperhatikan cara dia mendekonstruksi novel, atau manuskrip apa pun, dan memandang naskah itu secara menyeluruh (holistically): dari sisi struktural, tematik, dan seterusnya. Dia bisa memandang gambaran besar dan detailnya sekaligus. Dengan cara positif, dia bisa menyetir penulis, untuk menciptakan karya yang lebih baik dan hidup. Yang dia lakukan terutama ialah membuat novel itu jadi lebih jernih. Dan karena telah mengetikkan lusinan memo selama bertahun-tahun, saya mulai belajar disiplin menjadi seorang editor. Saya memperhatikan apa karakter-karakter itu terdengar nyata. Apa cara berceritanya bergerak dengan tepat. Apa bahasa punya dampak tertentu atau tidak. Rasanya seperti mendengar suara seseorang di dalam kepalamu. Saya mengenakan headphone itu dan mendengarkan dia melaksanakan pengobatan editorialnya. Itu betul-betul membentuk diri saya.
Sebenarnya ada banyak alasan kenapa Kate Medina jadi editor hebat. Saya kebetulan bisa menguping semua percakapan dia via telepon, dan saya persis ingat sangat terkesan oleh kenyataan bahwa dia tak pernah menyaringkan suaranya dan selalu ramah pada semua orang. Waktu itu saya masih seorang lelaki pemarah berumur dua puluh limaan. Saya ingat pernah masuk ruangannya dan berkata kepadanya, "Kate, kamu tidak pernah berteriak." Balasnya, "Yah, aku menemukan selalu ada cara yang baik untuk menghadapi sesuatu." Itu betul-betul mengubah saya. Saya menyaksikan profesionalismenya, caranya yang sangat positif dan membangun dalam menghadapi orang. Saya juga memahami visinya.
Sebenarnya ada banyak alasan kenapa Kate Medina jadi editor hebat. Saya kebetulan bisa menguping semua percakapan dia via telepon, dan saya persis ingat sangat terkesan oleh kenyataan bahwa dia tak pernah menyaringkan suaranya dan selalu ramah pada semua orang. Waktu itu saya masih seorang lelaki pemarah berumur dua puluh limaan. Saya ingat pernah masuk ruangannya dan berkata kepadanya, "Kate, kamu tidak pernah berteriak." Balasnya, "Yah, aku menemukan selalu ada cara yang baik untuk menghadapi sesuatu." Itu betul-betul mengubah saya. Saya menyaksikan profesionalismenya, caranya yang sangat positif dan membangun dalam menghadapi orang. Saya juga memahami visinya.
Kita melihat editor memberi manfaat kepada penulis. Perhatikanlah para penulis yang tulus berterima kasih pada editor, itu bukti bahwa sebagai orang luar, editor bisa memberi masukan berharga baik pada naskah dan gagasan penulis. Editor dan penulis merupakan tim; editor idealnya bisa memberi pendapat pada naskah dan memberi masukan untuk keperluan penulis, apalagi demi kepentingan bersama. Dari dulu saya yakin bahwa bila idenya menarik, sebuah naskah sebenarnya bisa dinegosiasikan buat diterbitkan, meski kita tahu pertaruhan penerbit banyak dan mereka menuntut editornya untuk bekerja lebih hebat mendatangkan keuntungan.
3/ Belajar terus dari sesama penulis dan editor. Kemungkinan ini terbuka luas sekali, apalagi interaksi antarindividu sekarang bisa terjadi begitu mudah. Pelajaran bisa dipetik di mana-mana. Kita bisa belajar apa saja, mulai dari penulisan hingga marketing. Saya mendapat manual editing dari Yuliani, tahu Karp dari Sari Meutia, tahu cara editor fiksi menilai naskah dari Hetih Rusli, masih sering membaca tulisan Hernowo, dan tahu makna menciptakan buku beserta proses penulisannya dari sejumlah penulis.
4/ Editor harus berani mengungkapkan apa yang menurut pemikirannya benar, tapi harus mampu menyampaikan pendapatnya dengan baik. Perhatikan cara editor menghadapi penulis dengan baik. Kematangan Kate Medina bisa menjadi teladan. Atau editor harus menguasai EQ dengan baik. Keberanian frontal hanya akan menciptakan musuh dan membuat sebagian orang antipati, ini bisa menjadi bumerang. Sebab sebagian editor lain kurang tahan kritik, begitu juga dengan penulis. Kalau sudah begini, bisa menimbulkan konflik. Pelajarilah cara menyampaikan kritik yang baik, sepahit apa pun itu. Meski maksudnya baik, jangan sampai kritik jadi ajang menjelek-jelekkan.
Contoh: Saya berpendapat ejaan kata untuk pekerjaan itu ialah 'karir', bukan 'karier', sebab 'karier' artinya 'pengangkut' atau dalam konteks biologi ialah gen pembawa sifat cacat.
5/ Berusaha menikmati dan menyelami segala jenis buku. Betul spesialisasi tampaknya penting, tapi saya pikir menikmati segala jenis buku akan memperkaya khazanah dan makin mengasah kemampuan berbahasa seorang editor, ujung-ujungnya akan membuat dirinya awas betapa cara bertutur, menyampaikan, dan mengungkapkan gagasan itu dinamik dan terus berkembang. Setelah sejak awal saya tertarik fiksi dan agama, akhir-akhir ini saya tertarik dengan buku-buku nonfiksi seputar kreativitas dan manajerial. Ternyata banyak sekali buku kreativitas yang sangat bermakna, misal Whatever You Think, Think The Opposite karya Paul Arden. Kita bisa belajar menulis provokatif dari buku seperti itu, membolak-balikkan logika, dan menantang kejumudan berpikir.
Terkait dengan itu semua, editor harus terus melatih kompetensi yang relevan dengan pekerjaannya, baik menguasai perangkat penulis, menganalisis naskah, mulai dari kreativitas hingga referensi, apalagi membaca dan menulis. Karena terus berhubungan dengan teks dan gagasan, editor mestinya menikmati permainan bahasa, mengotak-atik, bereksperimen, mencoba berbagai kemungkinan. Kalau setiap editor punya semangat belajar dan berlatih, saya yakin industri perbukuan akan terus dinamik, dan generasi baru editor hebat akan terus lahir.[]
Anwar Holid kini bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis. Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.
KONTAK: wartax@yahoo.com | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141
PS: Pointer dari esai ini saya presentasikan di pertemuan Writing for Editors, penerbit Mizan, Bandung, 19 Mei 2010.
Friday, April 30, 2010
Cara Cepat Menghakimi Buku
--Anwar Holid
Apa yang harus dilakukan seseorang bila ia ingin segera bisa memperkirakan subjek sebuah buku? Mula-mula orang tersebut mesti memperhatikan anatomi buku. Sofia Mansoor-Niksolihin, mantan direktur Penerbit ITB, berpendapat secara umum anatomi buku terdiri dari tiga bagian:
1. Halaman awal, yaitu segala halaman yang isinya berupa materi non isi naskah karya penulis. Ciri bagian ini antara lain halamannya menggunakan angka romawi kecil. Halaman awal antara lain berisi: halaman copyright, daftar isi buku, halaman persembahan, pengantar, ucapan terima kasih, slogan, dan lain-lain.
2. Halaman isi (nas), yaitu isi utama yang dijelajahi oleh penulis.
3. Halaman penyudah, yaitu sesudah halaman isi selesai. Cirinya antara lain berupa: catatan, lampiran, daftar buku (bibliografi), indeks (penjurus), kredit foto, dan sejenisnya.
Bagaimana cara kita agar bisa lebih cepat menyimpulkan subjek sebuh buku, baik sebelum memutuskan membeli atau membacanya maupun mengategorikan buku itu masuk jenis apa.
Pertama, baca sinopsis (book description) yang ada di cover belakang (back cover). Tentukan kira-kira sinopsis buku itu subjeknya tentang apa? Namun seiring perkembangan komunikasi marketing dan pentingnya posisi back cover, penerbit kini cenderung mengubah book description sebagai cara untuk mempersuasi calon pembaca alih-alih menerangkan isi buku dengan jernih. Mereka bisa membungkus sinopsis sambil membangkitkan penasaran, provokasi, bahkan kalau perlu sekalian menggantinya dengan tumpukan blurb dari orang-orang terkemuka yang dinilai akan mampu menaikkan daya jual.
Kedua, baca cepat pengantar penulis, bab pendahuluan atau pertama, bisa juga pengantar orang lain yang biasanya ada di bagian awal. Tentukan semua pembicaraan mereka kira-kira mengarah pada subjek apa?
Ketiga, kalau masih ragu, cari informasi tambahan lain tentang buku itu, antara lain berupa resensi, informasi dari di internet, atau detail produk buku bersangkutan---biasanya ada di website penerbit masing-masing atau di toko buku online. Penelusuran ini mudah dilakukan berkat adanya search engine seperti Google. Situs ensiklopedia gratis seperti Wikipedia bahkan sering menyediakan informasi lebih lengkap tentang sebuah buku, ditambah link sumber terkait dan penerimaan publik terhadap buku itu.
Perhatian: jangan tertipu oleh judul. Kita harus sensitif dan perhatian terhadap judul. Contoh sebuah buku berjudul: "BOB MARLEY dan 11 Cerpen Pilihan Sriti.com 0809." Di toko buku Gramedia Merdeka, Bandung, buku ini ditaruh di rak "biografi", sementara di toko buku Gramedia Parisj van Java ditaruh di rak "sosial politik." Kecerobohan ini pasti terjadi karena petugas toko buku terkecoh oleh nama "BOB MARLEY"---yang memang lebih terkenal sebagai penyanyi, atau mirip seorang tokoh massa dan pemimpin gerakan sosial, padahal jelas-jelas lanjutan judul itu---yaitu "dan 11 Cerpen Pilihan Sriti.com 0809"---sudah pasti mengacu ke buku cerpen, atau minimal mengarahkan pikiran orang pada sastra dan fiksi. Orang memang suka tergesa-gesa menyimpulkan, dan celakanya salah.
Nah, kalau buku berjudul "Biola Tak Berdawai" kira-kira akan masuk rak mana? Bagian buku musik atau keterampilan?
Kesalahan-kesalahan mendasar seperti itu kini membuat penerbit berusaha sedini mungkin memposisikan klasifikasi buku sejelas mungkin, bahkan mereka menugaskan "checker" agar memantau bahwa buku tersebut masuk ke rak yang tepat. Di cover belakang kini umum ada keterangan seperti NON FIKSI, FIKSI, MEMOAR, CULTURAL STUDIES, BIOGRAFI, PANDUAN, PSIKOLOGI, PUISI, MASAKAN, REFERENSI, HOW TO, SEJARAH, MOTIVASI, FILSAFAT, AGAMA ISLAM, dan lain sebagainya. Ini sebenarnya sudah membantu calon pembaca dan pihak toko buku, walaupun terasa terlalu umum. Perhatikan intensitas penerbit; bisa jadi buku itu memang betul biografi, misalnya biografi seorang tokoh agama. Nah, lantas mau ditaruh di mana buku seperti itu: rak "agama" atau "biografi"? Di sinilah pentingnya keputusan pemilah klasifikasi buku.
Contoh lain bila ada buku berjudul "Humor Gus Dur", kira-kira lebih pas masuk bagian buku humor (kalau ada), ke bagian sosial-politik, atau malah biografi? Di sini pentingnya menentukan isi buku minimal dari sinopsis dan pengantar.
Semoga Anda tepat mengambil buku sesuai keinginan, tidak terkecoh dan salah pilih.[]
Anwar Holid bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis. Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.
KONTAK: wartax@yahoo.com | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141.
Monday, April 05, 2010
[HALAMAN GANJIL]
Editor itu ialah Diplomat yang Ramah
---Anwar Holid
Suatu hari aku jalan-jalan ke sebuah kuil yang dilengkapi fasilitas tembok ratapan. Di dinding itu orang bisa menempelkan apa pun, baik tulisan pengharapan, doa, luapan emosi, segala macam perasaan, atau ajakan untuk bertindak. Karena sedang santai, aku perhatikan tempelan itu satu per satu dengan agak saksama, sampai mataku tertuju pada sebuah kertas Post-it bertuliskan: "menolak naskah".
Emm, pasti seorang editor yang menulis hal itu. Meski sama-sama editor, sekarang ini aku mustahil bisa menulis "menolak naskah", karena aku kini tidak ngantor di sebuah penerbit. Dulu sesekali aku melakukan hal serupa, walaupun aku agak yakin bahwa bila idenya menarik, sebuah naskah itu sebenarnya bisa dinegosiasikan buat diterbitkan. Tapi kita tahu pertaruhan penerbit macam-macam dan mereka menuntut editornya untuk bekerja lebih menghasilkan. Beberapa bulan lalu aku pernah melihat pernyataan serupa di dinding sebelah lain. Seorang editor kenalanku menulis: "menolak 12 naskah seharian ini." Hebat banget.
Walah, ada apa dengan para penulis kita? Kenapa usahanya sia-sia, sampai para wakil penerbit itu menolak kerja kerasnya?
Di bawah ratapan sang editor tadi muncul tanggapan dari para koleganya. Entah rekan seperusahaan atau sesama editor yang sama-sama berkunjung ke kuil itu.
"Naskah apa mbak? Kalau jelek dan bikin pusing editor, tolak saja."
"Ini naskah dari penulis yang enggak kooperatif. Padahal isinya biasa aja. Kalau diusahakan bagus perlu banyak sekali upaya, dan kalau sukses toh tetap akan merepotkan dengan kemunculan kritik atau resensi yang tidak menyentuh esensi, belum lagi sms, telepon, kayak enggak kenal waktu, enggak ngerti mana editor, mana bagian marketing. Belum emotional costnya. Siapa kamu gitu? YUP. TOLAK SAJA!"
"Setuju. Apalagi pengarang yang belum apa-apa sudah merasa karyanya bagus. Ditalak saja, eh, ditolak saja!"
"Wah, persis pengalamanku tuh. Sudah naskahnya kacau banget, dibetulkan perlu waktu lama, sampai aku rewriting 156 halaman. (Helo.. aku kan 'cuma' editor), pengarangnya bilang aku lelet dan menelantarkan naskah, bilang it's so unfair-lah dan lain-lain... terus dia menentukan tanggal launching sebagai cara ngasih tahu deadline ke aku. Edan... banyak tuh yang enggak tahu diri kayak gini. Tolak saja ya penulis yang tidak akomodatif itu. Setelah mereka kita tolong dengan segala kemudahan, toh yang dapat nama juga mereka, sementara yang repot dan nanggung risiko dicaci maki kan kita."
Emm, aku membatin baca komentar agak panjang ini. Kayaknya ada yang tumpang tindih di sini. Kalau naskahnya kacau banget, kenapa diterima? Apa kualitas isinya sebanding dengan kekacauan penulisannya? Apa itu naskah pesanan? Kenapa juga seorang editor sampai harus melakukan rewriting atas sebuah naskah? Bukankah tugas editor itu memberi saran perbaikan pada naskah, sementara yang harus melakukan rewriting penulis bersangkutan? Lagi pula, tugas editor itu MEMANG menolong penulis. Kenapa harus pamrih nama? Editor dan penulis itu karir yang berbeda. Editor berkarir di penerbit---nama, reputasi, dan prestasinya ditentukan oleh sejumlah hal tertentu, misal target jumlah halaman yang harus dia edit per bulan, berapa judul yang harus terbit, berapa naskah yang dia akuisisi. Sementara tugas penulis menghasilkan karya sebaik mungkin. Kegagalan dan keberhasilan penulis juga banyak faktornya, misal dari segi penjualan dan kualitas karya.
Kita pasti mau ikhlas mengamini bahwa seorang penulis telah sukses bila buku-bukunya jadi bestseller, minimal sukses secara finansial. Tapi jangan kira penulis yang buku-bukunya seret di pasar otomatis bisa dicap gagal, karena bisa jadi ia berhasil di sisi lain, misalnya berkat memenangi anugerah sastra, atau oleh media tertentu dianggap sebagai "buku terbaik tahun ini", atau masuk daftar "buku paling berpengaruh dasawarsa ini." Kegagalan dan kesuksesan punya wajah sendiri-sendiri.
Aku ingat pernah menangani naskah dengan penulis muda. Rasanya kami sudah berusaha maksimal memberikan yang terbaik, berhati-hati, penuh dedikasi. Tapi ternyata buku itu segera dilupakan pembaca, sampai-sampai penulisnya tampak frustrasi pada cara penerbitan biasa dan kini lebih memilih menerbitkan novel barunya via online.
Dulu aku pernah kenalan dengan seorang penulis. Aku buta reputasinya seperti apa. Tapi kemudian aku tahu, ternyata dia sudah menerbitkan tiga buku yang semua bestseller. Buku pertamanya sudah cetakan lima, buku keduanya cetakan delapan, dan buku ketiganya (yang terbaru waktu itu) sudah naik cetakan ketiga. Di kelompok massa tertentu, namanya juga terkemuka. Bahkan dari cerita sang penulis ini, dirinya suka tiba-tiba dicurhati seseorang yang depresi atau gelisah. Pernah juga seorang pemilik jaringan hotel berbintang memintanya terbang ke luar Jawa khusus untuk menenangkan hatinya yang gelisah. Orang ini yakin bahwa penulis itu orang yang tepat dan bisa memberinya jalan kebahagiaan. Ada juga orang yang mengaku jadi batal bunuh diri setelah baca buku-bukunya. Hebatkan? Jadi meski kupingku baru dengar nama dia sebagai penulis, pengalamannya menakjubkan. Memang siapa aku yang merasa bisa menghakimi ini-itu?
"Iya betul. Ternyata aku enggak sendiri.. aku rasa editor lain juga pernah deh ngalami seperti ini. Sudah dibaiki, ditolong, dikabulkan permintaaannya ini-itu, tapi kalau salah dikit saja, ngomong ke mana-mana deh, mending bener omongannya.. just blame the editor.. cukup sudah! Aku enggak mau lagi sama penulis kayak gini. Kamu aku talak dan aku tolak!"
"Orang-orang itu enggak tahu kali bahwa editor yang bikin buku jadi bagus dan berdaya jual... Kalau bawa maunya sendiri ya terbitin saja sendiri..."
Komentar ini mengesankan bahwa editor itu dewa yang bisa menentukan nasib buku. Esprit de corpsnya terlalu tinggi. Dia memandang profesi ini terlalu agung. Enggak juga. Kadang-kadang editor juga salah nilai dan salah spekulasi. "Blinknya" tumpul. Lihatlah para editor yang terbukti pernah menolak ribuan naskah, tapi setelah naskah itu diterbitkan penerbit lain, atau diterbitkan sendiri, ternyata meledak gila-gilaan menjadi buku hebat yang pernah ada. Maukah editor salah nilai dan prediksi itu mengakui kegagalannya? Bukankah naskah Harry Potter (J.K. Rowling) jilid pertama pun awalnya ditolak banyak penerbit? Pada tahun 1984, Louise Erdrich---penulis Amerika Serikat kelahiran 1954 keturunan Indian Chippewa & imigran Jerman---menulis naskah Love Medicine yang menurut banyak orang agak aneh cara bercerita dan isinya. Ketika dia menawarkan naskah itu ke sejumlah penerbit, semua menolak. Suaminya, Michael Dorris, memutuskan untuk jadi agen naskah Love Medicine sekaligus jadi teman kerja untuk memperbaiki naskah tersebut. Hasilnya, ada penerbit yang tertarik menerbitkannya. Cetakan pertama novel itu terjual 400.000 ribu eksemplar, dan pada tahun 1984 memenangi Book Critics Circle Award. Aku dengar Tesaurus Bahasa Indonesia (Eko Endarmoko) ditolak sebuah penerbit sebelum akhirnya diterima GPU dan kini menjadi tesaurus otoritatif pertama bahasa Indonesia. Buku dan penulis punya nasib sendiri-sendiri.
"Kadang-kadang aku merasa kok begini amat ya posisi editor. :("
"Mesti pindah ke Inggris atau Eropa mbak, di sana editor itu dewa, he he he."
Orang ini jelas teringat tulisan Stephen King di On Writing, A Memoir of the Craft (2000). Di buku memoar tentang proses penulisan itu dia bilang: "menulis itu manusiawi, namun mengedit itu ilahiah."
"Penulis seharusnya memang kooperatif dan jika perlu selalu sehati dengan editor. Sayang memang di Indonesia ini penghargaan pada editor dan penulis sama-sama kacau. Konon di luar negeri kedudukan editor sama."
Komentator ini tampak mudah meremehkan bangsa sendiri dan terlalu memandang luhur bangsa lain yang tampak lebih unggul. Sebagai penulis, aku pernah bekerja sama dengan editor yang menurutku mereka sangat berdedikasi untuk menghasilkan naskah berisi, memberi masukan cara menjelaskan sesuatu, memberi pertimbangan tentang kemungkinan efek dari tulisan dan pembacaan, dan seterusnya sampai naskah itu pantas dikonsumsi khalayak. Editor yang baik pasti sangat bermanfaat untuk mematangkan naskah. Memang kadang-kadang seorang editor harus mau menghadapi penulis sombong menjijikkan dan menyebalkan, yang mengganggap naskahnya seperti perawan tingting yang haram diutak-atik. Itu mungkin risiko bekerja di perusahaan. Editor seperti itu harus kuat dalam berargumen dan mengambil keputusan. Kalau jalan lain tertutup, minta saja atasan Anda menyelesaikan masalah seperti itu. Elsie Myers Stainton, dalam Author and Editor at Work (1982) bilang: An editor is the agreeable diplomat who offers suggestions, considers compromises, and even withdraws from the controversy if necessary. Editor itu ialah diplomat ramah yang memberi saran, menimbang kompromi, dan jika perlu bahkan mundur dari kontroversi.
Buku bisa lahir dari mana saja. Bahkan proses kelahirannya bisa jadi tak melibatkan editor. Ordinary People (Judith Guest) terbit berkat saran resepsionis di penerbit Fontana (1976) yang kebetulan baca-baca onggokan naskah. Kok bisa? Sebab para editornya merasa terlalu suci untuk mau melirik sebuah naskah tanpa agen kiriman penulis bukan siapa-siapa. Hasilnya? Buku itu sukses, baik sebagai bestseller maupun menuai kritik dan pujian di mana-mana. Buku itu dianggap melanjutkan tradisi The Catcher in the Rye (J.D. Salinger). Lantas Rebort Redford mengadaptasinya sebagai film yang sangat sukses pada 1980. Redford juga memenangi penghargaan sebagai Best Director baik di ajang Academy Award maupun Golden Globe Award.
"Jadi, apa ada saran lain yang ingin Anda sampaikan kepada para pengarang?" tanya Judy Mandell kepada Jackie Farber, editor senior dari Delacorte dan Dell. Jawab Farber: "Hendaklah pengarang mau mendengar perkataan editor. Seyogyanya mereka mau menimbang-nimbang gagasan dan usulan editor."[]
ANWAR HOLID bekerja sebagai editor, penulis, publisis. Eksponen TEXTOUR, Rumah Buku, Bandung. Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.
KONTAK: wartax@yahoo.com | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141
PENGAKUAN:
1/ Sebagian dari bahan tulisan ini berasal dari posting dan respons wall seseorang di Facebook. Saya edit sedikit biar jadi agak lebih baku.
2/ Wawancara Jackie Farber dengan Judy Mandell diambil dari posting "Membangun Hubungan Editor-Pengarang" terjemahan bang Mula Harahap di milis pasarbuku@yahoogroups.com.
Editor itu ialah Diplomat yang Ramah
---Anwar Holid
Suatu hari aku jalan-jalan ke sebuah kuil yang dilengkapi fasilitas tembok ratapan. Di dinding itu orang bisa menempelkan apa pun, baik tulisan pengharapan, doa, luapan emosi, segala macam perasaan, atau ajakan untuk bertindak. Karena sedang santai, aku perhatikan tempelan itu satu per satu dengan agak saksama, sampai mataku tertuju pada sebuah kertas Post-it bertuliskan: "menolak naskah".
Emm, pasti seorang editor yang menulis hal itu. Meski sama-sama editor, sekarang ini aku mustahil bisa menulis "menolak naskah", karena aku kini tidak ngantor di sebuah penerbit. Dulu sesekali aku melakukan hal serupa, walaupun aku agak yakin bahwa bila idenya menarik, sebuah naskah itu sebenarnya bisa dinegosiasikan buat diterbitkan. Tapi kita tahu pertaruhan penerbit macam-macam dan mereka menuntut editornya untuk bekerja lebih menghasilkan. Beberapa bulan lalu aku pernah melihat pernyataan serupa di dinding sebelah lain. Seorang editor kenalanku menulis: "menolak 12 naskah seharian ini." Hebat banget.
Walah, ada apa dengan para penulis kita? Kenapa usahanya sia-sia, sampai para wakil penerbit itu menolak kerja kerasnya?
Di bawah ratapan sang editor tadi muncul tanggapan dari para koleganya. Entah rekan seperusahaan atau sesama editor yang sama-sama berkunjung ke kuil itu.
"Naskah apa mbak? Kalau jelek dan bikin pusing editor, tolak saja."
"Ini naskah dari penulis yang enggak kooperatif. Padahal isinya biasa aja. Kalau diusahakan bagus perlu banyak sekali upaya, dan kalau sukses toh tetap akan merepotkan dengan kemunculan kritik atau resensi yang tidak menyentuh esensi, belum lagi sms, telepon, kayak enggak kenal waktu, enggak ngerti mana editor, mana bagian marketing. Belum emotional costnya. Siapa kamu gitu? YUP. TOLAK SAJA!"
"Setuju. Apalagi pengarang yang belum apa-apa sudah merasa karyanya bagus. Ditalak saja, eh, ditolak saja!"
"Wah, persis pengalamanku tuh. Sudah naskahnya kacau banget, dibetulkan perlu waktu lama, sampai aku rewriting 156 halaman. (Helo.. aku kan 'cuma' editor), pengarangnya bilang aku lelet dan menelantarkan naskah, bilang it's so unfair-lah dan lain-lain... terus dia menentukan tanggal launching sebagai cara ngasih tahu deadline ke aku. Edan... banyak tuh yang enggak tahu diri kayak gini. Tolak saja ya penulis yang tidak akomodatif itu. Setelah mereka kita tolong dengan segala kemudahan, toh yang dapat nama juga mereka, sementara yang repot dan nanggung risiko dicaci maki kan kita."
Emm, aku membatin baca komentar agak panjang ini. Kayaknya ada yang tumpang tindih di sini. Kalau naskahnya kacau banget, kenapa diterima? Apa kualitas isinya sebanding dengan kekacauan penulisannya? Apa itu naskah pesanan? Kenapa juga seorang editor sampai harus melakukan rewriting atas sebuah naskah? Bukankah tugas editor itu memberi saran perbaikan pada naskah, sementara yang harus melakukan rewriting penulis bersangkutan? Lagi pula, tugas editor itu MEMANG menolong penulis. Kenapa harus pamrih nama? Editor dan penulis itu karir yang berbeda. Editor berkarir di penerbit---nama, reputasi, dan prestasinya ditentukan oleh sejumlah hal tertentu, misal target jumlah halaman yang harus dia edit per bulan, berapa judul yang harus terbit, berapa naskah yang dia akuisisi. Sementara tugas penulis menghasilkan karya sebaik mungkin. Kegagalan dan keberhasilan penulis juga banyak faktornya, misal dari segi penjualan dan kualitas karya.
Kita pasti mau ikhlas mengamini bahwa seorang penulis telah sukses bila buku-bukunya jadi bestseller, minimal sukses secara finansial. Tapi jangan kira penulis yang buku-bukunya seret di pasar otomatis bisa dicap gagal, karena bisa jadi ia berhasil di sisi lain, misalnya berkat memenangi anugerah sastra, atau oleh media tertentu dianggap sebagai "buku terbaik tahun ini", atau masuk daftar "buku paling berpengaruh dasawarsa ini." Kegagalan dan kesuksesan punya wajah sendiri-sendiri.
Aku ingat pernah menangani naskah dengan penulis muda. Rasanya kami sudah berusaha maksimal memberikan yang terbaik, berhati-hati, penuh dedikasi. Tapi ternyata buku itu segera dilupakan pembaca, sampai-sampai penulisnya tampak frustrasi pada cara penerbitan biasa dan kini lebih memilih menerbitkan novel barunya via online.
Dulu aku pernah kenalan dengan seorang penulis. Aku buta reputasinya seperti apa. Tapi kemudian aku tahu, ternyata dia sudah menerbitkan tiga buku yang semua bestseller. Buku pertamanya sudah cetakan lima, buku keduanya cetakan delapan, dan buku ketiganya (yang terbaru waktu itu) sudah naik cetakan ketiga. Di kelompok massa tertentu, namanya juga terkemuka. Bahkan dari cerita sang penulis ini, dirinya suka tiba-tiba dicurhati seseorang yang depresi atau gelisah. Pernah juga seorang pemilik jaringan hotel berbintang memintanya terbang ke luar Jawa khusus untuk menenangkan hatinya yang gelisah. Orang ini yakin bahwa penulis itu orang yang tepat dan bisa memberinya jalan kebahagiaan. Ada juga orang yang mengaku jadi batal bunuh diri setelah baca buku-bukunya. Hebatkan? Jadi meski kupingku baru dengar nama dia sebagai penulis, pengalamannya menakjubkan. Memang siapa aku yang merasa bisa menghakimi ini-itu?
"Iya betul. Ternyata aku enggak sendiri.. aku rasa editor lain juga pernah deh ngalami seperti ini. Sudah dibaiki, ditolong, dikabulkan permintaaannya ini-itu, tapi kalau salah dikit saja, ngomong ke mana-mana deh, mending bener omongannya.. just blame the editor.. cukup sudah! Aku enggak mau lagi sama penulis kayak gini. Kamu aku talak dan aku tolak!"
"Orang-orang itu enggak tahu kali bahwa editor yang bikin buku jadi bagus dan berdaya jual... Kalau bawa maunya sendiri ya terbitin saja sendiri..."
Komentar ini mengesankan bahwa editor itu dewa yang bisa menentukan nasib buku. Esprit de corpsnya terlalu tinggi. Dia memandang profesi ini terlalu agung. Enggak juga. Kadang-kadang editor juga salah nilai dan salah spekulasi. "Blinknya" tumpul. Lihatlah para editor yang terbukti pernah menolak ribuan naskah, tapi setelah naskah itu diterbitkan penerbit lain, atau diterbitkan sendiri, ternyata meledak gila-gilaan menjadi buku hebat yang pernah ada. Maukah editor salah nilai dan prediksi itu mengakui kegagalannya? Bukankah naskah Harry Potter (J.K. Rowling) jilid pertama pun awalnya ditolak banyak penerbit? Pada tahun 1984, Louise Erdrich---penulis Amerika Serikat kelahiran 1954 keturunan Indian Chippewa & imigran Jerman---menulis naskah Love Medicine yang menurut banyak orang agak aneh cara bercerita dan isinya. Ketika dia menawarkan naskah itu ke sejumlah penerbit, semua menolak. Suaminya, Michael Dorris, memutuskan untuk jadi agen naskah Love Medicine sekaligus jadi teman kerja untuk memperbaiki naskah tersebut. Hasilnya, ada penerbit yang tertarik menerbitkannya. Cetakan pertama novel itu terjual 400.000 ribu eksemplar, dan pada tahun 1984 memenangi Book Critics Circle Award. Aku dengar Tesaurus Bahasa Indonesia (Eko Endarmoko) ditolak sebuah penerbit sebelum akhirnya diterima GPU dan kini menjadi tesaurus otoritatif pertama bahasa Indonesia. Buku dan penulis punya nasib sendiri-sendiri.
"Kadang-kadang aku merasa kok begini amat ya posisi editor. :("
"Mesti pindah ke Inggris atau Eropa mbak, di sana editor itu dewa, he he he."
Orang ini jelas teringat tulisan Stephen King di On Writing, A Memoir of the Craft (2000). Di buku memoar tentang proses penulisan itu dia bilang: "menulis itu manusiawi, namun mengedit itu ilahiah."
"Penulis seharusnya memang kooperatif dan jika perlu selalu sehati dengan editor. Sayang memang di Indonesia ini penghargaan pada editor dan penulis sama-sama kacau. Konon di luar negeri kedudukan editor sama."
Komentator ini tampak mudah meremehkan bangsa sendiri dan terlalu memandang luhur bangsa lain yang tampak lebih unggul. Sebagai penulis, aku pernah bekerja sama dengan editor yang menurutku mereka sangat berdedikasi untuk menghasilkan naskah berisi, memberi masukan cara menjelaskan sesuatu, memberi pertimbangan tentang kemungkinan efek dari tulisan dan pembacaan, dan seterusnya sampai naskah itu pantas dikonsumsi khalayak. Editor yang baik pasti sangat bermanfaat untuk mematangkan naskah. Memang kadang-kadang seorang editor harus mau menghadapi penulis sombong menjijikkan dan menyebalkan, yang mengganggap naskahnya seperti perawan tingting yang haram diutak-atik. Itu mungkin risiko bekerja di perusahaan. Editor seperti itu harus kuat dalam berargumen dan mengambil keputusan. Kalau jalan lain tertutup, minta saja atasan Anda menyelesaikan masalah seperti itu. Elsie Myers Stainton, dalam Author and Editor at Work (1982) bilang: An editor is the agreeable diplomat who offers suggestions, considers compromises, and even withdraws from the controversy if necessary. Editor itu ialah diplomat ramah yang memberi saran, menimbang kompromi, dan jika perlu bahkan mundur dari kontroversi.
Buku bisa lahir dari mana saja. Bahkan proses kelahirannya bisa jadi tak melibatkan editor. Ordinary People (Judith Guest) terbit berkat saran resepsionis di penerbit Fontana (1976) yang kebetulan baca-baca onggokan naskah. Kok bisa? Sebab para editornya merasa terlalu suci untuk mau melirik sebuah naskah tanpa agen kiriman penulis bukan siapa-siapa. Hasilnya? Buku itu sukses, baik sebagai bestseller maupun menuai kritik dan pujian di mana-mana. Buku itu dianggap melanjutkan tradisi The Catcher in the Rye (J.D. Salinger). Lantas Rebort Redford mengadaptasinya sebagai film yang sangat sukses pada 1980. Redford juga memenangi penghargaan sebagai Best Director baik di ajang Academy Award maupun Golden Globe Award.
"Jadi, apa ada saran lain yang ingin Anda sampaikan kepada para pengarang?" tanya Judy Mandell kepada Jackie Farber, editor senior dari Delacorte dan Dell. Jawab Farber: "Hendaklah pengarang mau mendengar perkataan editor. Seyogyanya mereka mau menimbang-nimbang gagasan dan usulan editor."[]
ANWAR HOLID bekerja sebagai editor, penulis, publisis. Eksponen TEXTOUR, Rumah Buku, Bandung. Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.
KONTAK: wartax@yahoo.com | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141
PENGAKUAN:
1/ Sebagian dari bahan tulisan ini berasal dari posting dan respons wall seseorang di Facebook. Saya edit sedikit biar jadi agak lebih baku.
2/ Wawancara Jackie Farber dengan Judy Mandell diambil dari posting "Membangun Hubungan Editor-Pengarang" terjemahan bang Mula Harahap di milis pasarbuku@yahoogroups.com.
Monday, March 22, 2010
Mengomentari Editan The Ninth
---Anwar Holid
Beberapa hari sebelum acara publisitas The Ninth (Anak Kesembilan) karya Ferenc Barnás (GPU, 2010, 296 hal.) di Rumah Buku/Kineruku, Bandung, saya menerima email dari Andika, seorang peresensi. Dia bertanya, "Seberapa puas kamu dengan The Ninth edisi bahasa Indonesia? Adakah kesulitan dalam penyuntingannya?"
Saya jawab: Secara pribadi, saya sangat puas dengan proses penerbitan buku ini. Vira (penerjemah) mengerjakan buku ini dengan baik dan luwes. Mbak Katalin B. Nagy menyelaraskan terjemahan itu pada edisi asli berbahasa Hongaria, meski Vira menerjemahkan dari edisi Inggris karya Paul Olchváry. Jadi menurut saya proses editingnya ketat, sungguh-sungguh, dan mestinya memang begitu bila hendak menerbitkan buku dengan baik.
Kepuasan ini nanti bisa dikonfrontasikan dengan komentar awal Ari Jogaiswara, dosen Jurusan Sastra Inggris Universitas Padjadjaran yang mengomentari The Ninth. Ari bilang fungsi Vira mirip Transtool. Saya cukup terkejut dengan pernyataan itu, menyimpan dalam hati, tapi belum bisa mengonfirmasi lebih jauh. Mbak Katalin sendiri menyatakan betapa Ari menyampaikan pendapat yang berbeda sekali soal terjemahan itu waktu dia dan Ferenc bertemu di Rumah Buku.
Selama proses editing, saya, mbak Katalin, dan mbak Anastasia (pihak GPU) cukup intens berdiskusi, mulai dari soal diksi, struktur penulisan, sampai pilihan terhadap kemasan buku. Pekerjaan utama saya ialah berusaha membuat kalimat agar lebih efektif dan mudah dipahami. Misal mengurangi kata 'yang' karena penggunaannya terlalu ekstensif, juga penggunaan 'tidak' untuk menyatakan negasi. Contoh:
tak berperasaan --> keterlaluan
Sebagian besar penggunaan 'tidak' untuk menyatakan negasi saya ubah. Yang saya biarkan ialah untuk menegaskan atau bila padanan lebih kuatnya terlalu sulit saya temukan.
Karena berpihak pada kemudahan pembacaan (readability), saya sempat mengganti beberapa diksi yang tampak cukup asing dan sulit, meski kalau digunakan berpeluang mengayakan kosakata buat pembaca.
Contoh diksi pilihan mbak Katalin, 'hoskut.' Kata ini terdengar sulit dan asing; saya agak yakin pembaca harus buka kamus untuk memastikan artinya. Saya tanya istri, apa dia tahu 'hoskut' (baju yang dipakai perempuan), ternyata tidak. Saya usul agar diganti dengan 'daster' atau 'jubah.' Akhirnya kami sepakat memilih 'jubah', dengan komentar mbak Katalin sebagai berikut: 'Jubah' dalam (seluruh) teks dipakai untuk menyebut pakaian pastor, maka mudah-mudahan jelas bahwa yang dipakai Mama adalah 'jubah' lain. Sebenarnya pakaian Mama berbentuk seperti mantel tanpa lengan. Pokoknya pakaian wanita yang biasa dipakai di dalam rumah. (Di internet saya temukan hoskut n: a loose hoskut bagi perempuan [syn: pakaian rumah untuk wanita], gaun tidur atas). Tetapi jelas, kalau istilah ini tak dipakai dalam bahasa sehari-hari, sebaiknya dibatalkan.
Awalnya saya juga sengaja cukup sering memecah paragraf terlalu panjang dan mengubah struktur penuturan yang menurut saya sulit dipahami. Tujuannya betul-betul untuk memudahkan pembaca.
Perubahan drastik misalnya saya lakukan di bagian akhir bab sembilan, yaitu di bagian percakapan waktu anak ke sembilan diinterogasi. Saya membuat percakapan itu ke bawah (jadi paragraf baru), padahal teks aslinya terus bersambung tanpa paragraf. Pertimbangannya, selain demi memudahkan pembacaan, saya kira tindakan itu akan bisa menguatkan situasi. Sebaliknya, mbak Katalin ingin mempertahankan teks sebagaimana aslinya. Setelah mendapat masukan dari mbak Anas, kami memecah bagian itu hanya jadi tiga paragraf---jadi bentuk aslinya hanya berubah sedikit, namun keinginan memudahkan pembaca juga tercapai. Pada akhirnya struktur edisi Indonesia lebih setia pada edisi Hongaria.
Salah satu kesulitan yang saya hadapi waktu menyunting naskah ini justru di detail. Misal soal istilah bangunan dan soal "rasa bahasa." Bisa jadi ini karena jam terbang penyuntingan saya masih sedikit.
Ejaan juga begitu. Di buku ini kami memilih Moskow dengan pertimbangan GPU, Tempo, dan Kompas lebih memilih itu daripada Moskva ataupun Moscow (b. Hongaria: Moszkva). Menurut kami, pilihan itu lebih banyak disepakati umum.
Walhasil, pembaca bebas menanggapi dan menerima upaya penerbitan The Ninth dari segala aspek, terlebih-lebih dari sisi penyuntingan. Secara keseluruhan saya ingin sekali lagi menegaskan betapa edisi Indonesia ini berutang banyak pada kerja keras mbak Katalin. Kita pantas memberikan kredit kepadanya. Saya sendiri sering merasa rewel (bawel) terhadap buku yang jelek penyuntingannya. Sekarang giliran saya menerima kritik, apa buku yang ikut saya kerjakan ini memuaskan atau mengecewakan.[]3/19/2010
Anwar Holid, editor, penulis, dan publisis. Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.
KONTAK: wartax@yahoo.com | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141.
Link terkait:
http://www.gramedia.com
http://www.ferencbarnas.com
Friday, October 30, 2009

Upaya Editor Menghindari Frustrasi
---Anwar Holid
Hampir dua bulan ini aku menangani dua naskah yang mirip. Secara prinsip, terjemahan naskah itu sudah benar. Setidaknya itulah klaim penerbit. Penerjemah naskah itu orang terkemuka dan ahli di bidangnya. Jadi secara keilmuan dia bisa diandalkan dan wawasannya mumpuni. Untuk sementara, aku sulit membantah klaim itu dan percaya omongan penerbit.
Di ruang kerja sederhanaku, ketika siap-siap membedah naskah itu, barulah aku merasakan sulitnya menangani terjemahan itu. Memang tugas editor ialah meluweskan penuturan, memadukan inkoherensi paragraf, membuat keterbacaan naskah tinggi. Itu mirip tugas utama dokter ialah menyembuhkan pasien atau petugas kebersihan kota menyingkirkan sampah. Begitulah adanya. Tapi kalau kamu mendapati tugas kamu ternyata begitu bikin suntuk, terlalu sulit atau menggunung, wajar bila ia bikin stres atau frustrasi. Seorang striker bisa frustrasi dan kalap kalau terus-menerus gagal mencetak gol dan kesulitan mendobrak pertahanan lawan, atau kiper lawan terlalu tangguh. Kalau sifat ksatrianya cedera, dia bisa gelap mata dan akhirnya bertindak curang dengan melakukan diving. Tantangan setiap pekerjaan itu sama. Namun menyebalkan bila faktanya beban kamu terlalu berat. Ada yang salah, dan itu bukan salah kamu, melainkan proses sebelumnya atau kasusnya memang berat. Untuk itu kamu hanya harus tabah dan bertahan. Lakukan inovasi dan istirahat secukupnya.
Begitu menghadapi baris kalimat sulit, aku yakin ada yang salah dari penanganannya. Aku kerap kesulitan menangkap maksud kalimat itu sebenarnya apa. Bahasanya ribet. Banyak banget kalimat panjang melelahkan, bahkan bisa terdiri dari satu paragraf! Yang terdiri dari tiga - empat baris juga banyak. Polanya pun masih dalam bahasa sumber, dan kerap berbentuk negatif. Dalam kalimat panjang itu selalu ada sisipan anak kalimat berisi tambahan informasi, termasuk hal-hal trivial yang bahkan sering berulang di bagian sebelumnya. Ini jelas gaya sang penulis, dan penerjemah membiarkannya. Bikin capek baca, dan energiku terkuras dengan cepat. Penerbit suka menggampangkan kondisi ini, bilang bahwa beban editor ringan. Padahal meluweskan bahasa, dengan penyampaian yang enak itu penting sekali dalam sebuah buku.
Kalimat pendeknya saja suka membingungkan. Contoh: "Pidatonya merupakan yang tidak lazim antara kepalsuan dan sifat agresif yang terang-terangan." Maaf, ini apa maksudnya?
Kalimat panjangnya antara lain begini: "Al-Quran menjasadkan di depan mata kita suatu gambaran yang hidup, dan menggerakkannya pada lebih dari satu arah, untuk mengimbau orang-orang yang merasa tidak berdaya itu untuk membebaskan diri dari tekanan, sejak sekarang, agar kelak mereka tidak menghadapi konsekuensinya sesudah mereka mati, dengan sikap menyerah pada kelemahan diri, sebagai suatu unsur yang sangat diperingatkan untuk dijauhi."
"Kekuatan-kekuatan hegemonis itu, yang menganggap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi bangsa merdeka dan mandiri sebagai ancaman terhadap monopoli mereka dalam instrumen kekuasaan yang penting ini dan yang tidak ingin melihat keberhasilan yang sama di negara-negara lain, telah salah mengartikan teknologi nuklir Iran yang terjaga dan aman sebagai usaha untuk membuat senjata nuklir."
"Bagaimanapun, kalau ada kebebasan pribadi yang akan dipertahankan mati-matian oleh seseorang di dunia modern, itu adalah haknya yang tidak boleh diingkari untuk menyaksikan pertandingan sepakbola di televisi, dan kuatnya dorongan pandangan umum, bahkan di kalangan Islam fundamentalis dengan kepala yang penuh dengan dalih-dalih teologis untuk menentangnya, pemerintah terpaksa menayangkan pertandingan sepakbola di televisi."
Halo... rasanya aku menerima sandi dari alien.
Seberapa besar usaha seorang editor menyunting kalimat itu, berapa lama waktu yang dia butuhkan? Atau sebaliknya, seberapa toleran dia boleh bilang bahwa kalimat itu sudah jernih?
Kondisi itu membuat tugasku mengubah penyampaian agar luwes, lincah, mudah dicerna, dan lancar justru bakal paling besar menyita energi. Memoles dan melenturkan kalimat itu kerap butuh coba-coba dan mengutak-atik dulu sebelum akhirnya menemukan penyampaian yang paling pas. Butuh waktu dan energi besar. Bayangkanlah pekerja furnitur kayu jati yang mengamplas ukiran kasar menjadi halus. Dia melakukannya berhari-hari, terpaksa harus menghirup hamburan serbuknya, dengan tenaga yang hebat. Itulah kerja keras. Itulah yang juga harus dihadapi penyunting bila menemukan kalimat-kalimat kasar, penuh gerinjul, menyulitkan makna.
Saking sebal, aku berprasangka penerjemah ini mungkin awalnya berpikir bahwa pekerjaannya sudah keren, jadi dia serahkan ke penerbit. Coba kalimat-kalimat berlepotan dan penuh lumpur itu dibiarkan, lantas langsung dibungkus dan ditawarkan ke publik. Aku yakin seminggu kemudian pembacanya pada sakit kepala. Atau mereka langsung melemparkannya ke tong sampah. Aku jadi ingat pelajaran pertama seorang penyunting dari dosenku, ibu Sofia Mansoor, yang mengenalkan istilah "keterbacaan"---yaitu tingkat suatu naskah mudah atau sulit dipahami.

Penulis, penerjemah, penyunting bahu-membahu untuk menghasilkan naskah dengan keterbacaan tinggi. Bila rendah, harus diubah, atau minimal membuatnya lebih mudah. Tapi itu pun bukan harga mati. Keterbacaan sebagian karya memang rendah. Misal Finnegan's Wake (James Joyce) atau puisi Afrizal Malna dan Nirwan Dewanto. Mau apa kita dengan naskah seperti itu? Mau berkompromi? Di ranah nonfiksi juga sama. Aku pernah berusaha baca The Uses of Literacy (Richard Hoggart) yang konon penting, tapi hanya sedikit sekali yang aku paham dari pemaparannya. Kemungkinannya ialah otakku terlalu tebal terhalang kabut. Susah memahami membuat orang jadi mudah frustrasi.
Seorang penyunting lain mendapat kasus serupa, mengeluhkan buruknya bahasa yang dia garap, sampai merasa bahwa tawaran honornya terlalu kecil untuk menangani naskah menyebalkan seperti itu. Aku setuju. Karena menyita energi, emosi, bikin frustrasi, kompensasi menggarapnya harus sepadan. Penerbit bagus biasanya bisa diajak bicara tentang seberapa jauh tingkat kesulitan editing yang dilakukan editornya, terutama editor outsource. Mereka biasanya minta bukti (sampel). Kalau sepakat bahwa naskah itu memang sulit, mereka setuju menaikkan honor---sesedikit apa pun itu.
Kalau setiap hari menemukan kalimat kacau, manusia akan jadi cepat lapuk. Ada yang salah bila kita gagal menangani kesulitan berbahasa, menangkap pesan dengan jernih, atau mengungkapkan dengan baik. Di dalam Writing Tools (2006), Roy Peter Clark mensinyalir malapetaka dari konsekuensi tulisan buruk, baik untuk bisnis, profesi, pendidik, konsumen, dan warga negara. Buruknya tulisan dalam laporan, memo, pengumunan, dan pesan menguras biaya dan waktu. Itu merupakan gumpalan darah di lembaga politik dan pemerintahan. Membuat arus informasi mampat. Masalah penting terus mengendap dan tertutup. Kesempatan untuk perbaikan dan efisiensi tetap terkubur (hal. 7-8).
Tulisan sulit membuat pembaca kepayahan. Padahal tujuan membaca dan menulis ialah kefasihan, mengungkapkan maksud secara jernih dan lancar. "Tulisan juga harus mengalir dengan lancar dari penulis. Idealnya memang seperti itu," tegas Clark.
Aku bukan hendak memuliakan editor atau memberat-beratkan tugasnya. Seperti aku bilang, profesi ini sama dengan profesi lain. Ia memiliki tantangan dan kesulitan sendiri. Jadi editor mungkin mustahil membuat kamu mati luka-luka seperti tentara tertembak di medan perang. Tapi kamu bisa gila kalau gagal menangani kalimat kacrut yang bikin akal dan logika jadi putus asa.[]
Anwar Holid, bekerja sebagai editor dan penulis. Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.
KONTAK: wartax@yahoo.com Tel.: (022) 2037348 HP: 085721511193 Panorama II No. 26 B Bandung 40141
---Anwar Holid
Hampir dua bulan ini aku menangani dua naskah yang mirip. Secara prinsip, terjemahan naskah itu sudah benar. Setidaknya itulah klaim penerbit. Penerjemah naskah itu orang terkemuka dan ahli di bidangnya. Jadi secara keilmuan dia bisa diandalkan dan wawasannya mumpuni. Untuk sementara, aku sulit membantah klaim itu dan percaya omongan penerbit.
Di ruang kerja sederhanaku, ketika siap-siap membedah naskah itu, barulah aku merasakan sulitnya menangani terjemahan itu. Memang tugas editor ialah meluweskan penuturan, memadukan inkoherensi paragraf, membuat keterbacaan naskah tinggi. Itu mirip tugas utama dokter ialah menyembuhkan pasien atau petugas kebersihan kota menyingkirkan sampah. Begitulah adanya. Tapi kalau kamu mendapati tugas kamu ternyata begitu bikin suntuk, terlalu sulit atau menggunung, wajar bila ia bikin stres atau frustrasi. Seorang striker bisa frustrasi dan kalap kalau terus-menerus gagal mencetak gol dan kesulitan mendobrak pertahanan lawan, atau kiper lawan terlalu tangguh. Kalau sifat ksatrianya cedera, dia bisa gelap mata dan akhirnya bertindak curang dengan melakukan diving. Tantangan setiap pekerjaan itu sama. Namun menyebalkan bila faktanya beban kamu terlalu berat. Ada yang salah, dan itu bukan salah kamu, melainkan proses sebelumnya atau kasusnya memang berat. Untuk itu kamu hanya harus tabah dan bertahan. Lakukan inovasi dan istirahat secukupnya.
Begitu menghadapi baris kalimat sulit, aku yakin ada yang salah dari penanganannya. Aku kerap kesulitan menangkap maksud kalimat itu sebenarnya apa. Bahasanya ribet. Banyak banget kalimat panjang melelahkan, bahkan bisa terdiri dari satu paragraf! Yang terdiri dari tiga - empat baris juga banyak. Polanya pun masih dalam bahasa sumber, dan kerap berbentuk negatif. Dalam kalimat panjang itu selalu ada sisipan anak kalimat berisi tambahan informasi, termasuk hal-hal trivial yang bahkan sering berulang di bagian sebelumnya. Ini jelas gaya sang penulis, dan penerjemah membiarkannya. Bikin capek baca, dan energiku terkuras dengan cepat. Penerbit suka menggampangkan kondisi ini, bilang bahwa beban editor ringan. Padahal meluweskan bahasa, dengan penyampaian yang enak itu penting sekali dalam sebuah buku.
Kalimat pendeknya saja suka membingungkan. Contoh: "Pidatonya merupakan yang tidak lazim antara kepalsuan dan sifat agresif yang terang-terangan." Maaf, ini apa maksudnya?
Kalimat panjangnya antara lain begini: "Al-Quran menjasadkan di depan mata kita suatu gambaran yang hidup, dan menggerakkannya pada lebih dari satu arah, untuk mengimbau orang-orang yang merasa tidak berdaya itu untuk membebaskan diri dari tekanan, sejak sekarang, agar kelak mereka tidak menghadapi konsekuensinya sesudah mereka mati, dengan sikap menyerah pada kelemahan diri, sebagai suatu unsur yang sangat diperingatkan untuk dijauhi."
"Kekuatan-kekuatan hegemonis itu, yang menganggap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi bangsa merdeka dan mandiri sebagai ancaman terhadap monopoli mereka dalam instrumen kekuasaan yang penting ini dan yang tidak ingin melihat keberhasilan yang sama di negara-negara lain, telah salah mengartikan teknologi nuklir Iran yang terjaga dan aman sebagai usaha untuk membuat senjata nuklir."
"Bagaimanapun, kalau ada kebebasan pribadi yang akan dipertahankan mati-matian oleh seseorang di dunia modern, itu adalah haknya yang tidak boleh diingkari untuk menyaksikan pertandingan sepakbola di televisi, dan kuatnya dorongan pandangan umum, bahkan di kalangan Islam fundamentalis dengan kepala yang penuh dengan dalih-dalih teologis untuk menentangnya, pemerintah terpaksa menayangkan pertandingan sepakbola di televisi."
Halo... rasanya aku menerima sandi dari alien.
Seberapa besar usaha seorang editor menyunting kalimat itu, berapa lama waktu yang dia butuhkan? Atau sebaliknya, seberapa toleran dia boleh bilang bahwa kalimat itu sudah jernih?
Kondisi itu membuat tugasku mengubah penyampaian agar luwes, lincah, mudah dicerna, dan lancar justru bakal paling besar menyita energi. Memoles dan melenturkan kalimat itu kerap butuh coba-coba dan mengutak-atik dulu sebelum akhirnya menemukan penyampaian yang paling pas. Butuh waktu dan energi besar. Bayangkanlah pekerja furnitur kayu jati yang mengamplas ukiran kasar menjadi halus. Dia melakukannya berhari-hari, terpaksa harus menghirup hamburan serbuknya, dengan tenaga yang hebat. Itulah kerja keras. Itulah yang juga harus dihadapi penyunting bila menemukan kalimat-kalimat kasar, penuh gerinjul, menyulitkan makna.
Saking sebal, aku berprasangka penerjemah ini mungkin awalnya berpikir bahwa pekerjaannya sudah keren, jadi dia serahkan ke penerbit. Coba kalimat-kalimat berlepotan dan penuh lumpur itu dibiarkan, lantas langsung dibungkus dan ditawarkan ke publik. Aku yakin seminggu kemudian pembacanya pada sakit kepala. Atau mereka langsung melemparkannya ke tong sampah. Aku jadi ingat pelajaran pertama seorang penyunting dari dosenku, ibu Sofia Mansoor, yang mengenalkan istilah "keterbacaan"---yaitu tingkat suatu naskah mudah atau sulit dipahami.

Penulis, penerjemah, penyunting bahu-membahu untuk menghasilkan naskah dengan keterbacaan tinggi. Bila rendah, harus diubah, atau minimal membuatnya lebih mudah. Tapi itu pun bukan harga mati. Keterbacaan sebagian karya memang rendah. Misal Finnegan's Wake (James Joyce) atau puisi Afrizal Malna dan Nirwan Dewanto. Mau apa kita dengan naskah seperti itu? Mau berkompromi? Di ranah nonfiksi juga sama. Aku pernah berusaha baca The Uses of Literacy (Richard Hoggart) yang konon penting, tapi hanya sedikit sekali yang aku paham dari pemaparannya. Kemungkinannya ialah otakku terlalu tebal terhalang kabut. Susah memahami membuat orang jadi mudah frustrasi.
Seorang penyunting lain mendapat kasus serupa, mengeluhkan buruknya bahasa yang dia garap, sampai merasa bahwa tawaran honornya terlalu kecil untuk menangani naskah menyebalkan seperti itu. Aku setuju. Karena menyita energi, emosi, bikin frustrasi, kompensasi menggarapnya harus sepadan. Penerbit bagus biasanya bisa diajak bicara tentang seberapa jauh tingkat kesulitan editing yang dilakukan editornya, terutama editor outsource. Mereka biasanya minta bukti (sampel). Kalau sepakat bahwa naskah itu memang sulit, mereka setuju menaikkan honor---sesedikit apa pun itu.
Kalau setiap hari menemukan kalimat kacau, manusia akan jadi cepat lapuk. Ada yang salah bila kita gagal menangani kesulitan berbahasa, menangkap pesan dengan jernih, atau mengungkapkan dengan baik. Di dalam Writing Tools (2006), Roy Peter Clark mensinyalir malapetaka dari konsekuensi tulisan buruk, baik untuk bisnis, profesi, pendidik, konsumen, dan warga negara. Buruknya tulisan dalam laporan, memo, pengumunan, dan pesan menguras biaya dan waktu. Itu merupakan gumpalan darah di lembaga politik dan pemerintahan. Membuat arus informasi mampat. Masalah penting terus mengendap dan tertutup. Kesempatan untuk perbaikan dan efisiensi tetap terkubur (hal. 7-8).
Tulisan sulit membuat pembaca kepayahan. Padahal tujuan membaca dan menulis ialah kefasihan, mengungkapkan maksud secara jernih dan lancar. "Tulisan juga harus mengalir dengan lancar dari penulis. Idealnya memang seperti itu," tegas Clark.
Aku bukan hendak memuliakan editor atau memberat-beratkan tugasnya. Seperti aku bilang, profesi ini sama dengan profesi lain. Ia memiliki tantangan dan kesulitan sendiri. Jadi editor mungkin mustahil membuat kamu mati luka-luka seperti tentara tertembak di medan perang. Tapi kamu bisa gila kalau gagal menangani kalimat kacrut yang bikin akal dan logika jadi putus asa.[]
Anwar Holid, bekerja sebagai editor dan penulis. Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.
KONTAK: wartax@yahoo.com Tel.: (022) 2037348 HP: 085721511193 Panorama II No. 26 B Bandung 40141
Sunday, May 03, 2009

[SPAMBOT]
AKU MAU BELI WAKTU AYAH
--Anonim
Rudi ialah kepala cabang sebuah perusahaan di Bandung. Seperti biasa, ia tiba di rumah pada pukul sembilan malam. Namun tidak seperti biasa, hari itu justru Leo yang membukakan pintu dengan semangat. Putra pertamanya itu kini duduk di kelas tiga SD. Ia tampak sudah menunggu cukup lama.
"Kok belum tidur?" sapa Rudi sambil mencium anaknya.
Biasanya, Leo memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari. Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga, Leo menjawab, "Aku nunggu ayah pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji ayah?"
"Lho, tumben, kok nanya gaji ayah? Mau minta uang lagi, ya?"
"Ah, enggak. Pengen tahu aja."
"Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari ayah bekerja sekitar sepuluh jam dan dibayar empat ratus ribu. Setiap bulan rata-rata dihitung dua puluh lima hari kerja. Jadi, gaji ayah sebulan berapa, hayo?"
Leo lari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Rudi beranjak menuju kamar untuk ganti pakaian, Leo berlari mengikutinya.
"Kalau satu hari ayah dibayar empat ratus ribu untuk sepuluh jam, berarti satu jam ayah digaji empat puluh ribu dong," katanya.
"Wah, pintar kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, bobo," perintah Rudi.
Tetapi Leo tak beranjak. Sambil menyaksikan ayahnya ganti pakaian, Leo kembali bertanya, "Ayah, boleh nggak aku pinjam uang lima ribu?"
"Sudah, jangan macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Ayah capek. Ayah mau mandi dulu. Tidurlah."
"Tapi, yah..."
Kesabaran Rudi habis. "Ayah bilang tidur!" Hardikan itu mengejutkan Leo.
Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya. Usai mandi, Rudi tampak menyesali hardikannya. Ia pun menengok Leo di kamarnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Leo dia dapati sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang lima belas ribu rupiah.
Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Rudi berkata, "Maafkan ayah, sayang. Ayah sayang sama Leo. Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan lima ribu rupiah, lebih dari itu pun akan ayah kasih."
"Ayah, aku nggak minta uang. Aku mau pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini."
"Iya, iya, tapi buat apa?" tanya Rudi kebingungan.
"Aku mau ajak ayah main ular tangga. Aku sudah menunggu ayah dari jam delapan tadi. Setengah jam saja. Ibu sering bilang waktu ayah itu sangat berharga. Jadi, aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku, ada lima belas ribu. Tapi karena ayah bilang satu jam ayah dibayar empat puluh ribu, maka setengah jam harus dua puluh ribu. Duit tabunganku kurang lima ribu lagi. Makanya aku mau pinjam dari ayah," kata Leo.
Rudi terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah itu erat-erat dengan mata berkaca-kaca.[]
CATATAN: Aku menemukan file ini di warnet, aku beri judul dan edit sekadarnya.
--Anonim
Rudi ialah kepala cabang sebuah perusahaan di Bandung. Seperti biasa, ia tiba di rumah pada pukul sembilan malam. Namun tidak seperti biasa, hari itu justru Leo yang membukakan pintu dengan semangat. Putra pertamanya itu kini duduk di kelas tiga SD. Ia tampak sudah menunggu cukup lama.
"Kok belum tidur?" sapa Rudi sambil mencium anaknya.
Biasanya, Leo memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari. Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga, Leo menjawab, "Aku nunggu ayah pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji ayah?"
"Lho, tumben, kok nanya gaji ayah? Mau minta uang lagi, ya?"
"Ah, enggak. Pengen tahu aja."
"Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari ayah bekerja sekitar sepuluh jam dan dibayar empat ratus ribu. Setiap bulan rata-rata dihitung dua puluh lima hari kerja. Jadi, gaji ayah sebulan berapa, hayo?"
Leo lari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Rudi beranjak menuju kamar untuk ganti pakaian, Leo berlari mengikutinya.
"Kalau satu hari ayah dibayar empat ratus ribu untuk sepuluh jam, berarti satu jam ayah digaji empat puluh ribu dong," katanya.
"Wah, pintar kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, bobo," perintah Rudi.
Tetapi Leo tak beranjak. Sambil menyaksikan ayahnya ganti pakaian, Leo kembali bertanya, "Ayah, boleh nggak aku pinjam uang lima ribu?"
"Sudah, jangan macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Ayah capek. Ayah mau mandi dulu. Tidurlah."
"Tapi, yah..."
Kesabaran Rudi habis. "Ayah bilang tidur!" Hardikan itu mengejutkan Leo.
Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya. Usai mandi, Rudi tampak menyesali hardikannya. Ia pun menengok Leo di kamarnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Leo dia dapati sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang lima belas ribu rupiah.
Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Rudi berkata, "Maafkan ayah, sayang. Ayah sayang sama Leo. Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan lima ribu rupiah, lebih dari itu pun akan ayah kasih."
"Ayah, aku nggak minta uang. Aku mau pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini."
"Iya, iya, tapi buat apa?" tanya Rudi kebingungan.
"Aku mau ajak ayah main ular tangga. Aku sudah menunggu ayah dari jam delapan tadi. Setengah jam saja. Ibu sering bilang waktu ayah itu sangat berharga. Jadi, aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku, ada lima belas ribu. Tapi karena ayah bilang satu jam ayah dibayar empat puluh ribu, maka setengah jam harus dua puluh ribu. Duit tabunganku kurang lima ribu lagi. Makanya aku mau pinjam dari ayah," kata Leo.
Rudi terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah itu erat-erat dengan mata berkaca-kaca.[]
CATATAN: Aku menemukan file ini di warnet, aku beri judul dan edit sekadarnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)




