Showing posts with label Halaman Ganjil. Show all posts
Showing posts with label Halaman Ganjil. Show all posts

Friday, June 05, 2020

berjuang membaca quran
~ anwar holid

di pengujung ramadhan 2020 (1441 h) aku tamat baca quran yang aku mulai dari bulan februari 2020. kaum muslim menilai khatam quran merupakan suatu pencapaian, makanya patut disyukuri. tapi bagi orang muslim dewasa, tamat baca quran sebenarnya biasa banget. banyak muslim bisa tamat baca quran berkali-kali dalam setahun, atau bahkan sekali sebulan. aku gak bisa melakukannya.😔 itu artinya baca quranku sangat lelet, kurang banyak, sering mengulang, kurang disiplin dan rutin -- atau lebih tepatnya: masih berjuang membaca quran.

tahun ini aku membarengi baca quran dengan berusaha disiplin baca terjemahan setiap kali selesai baca ayat arabnya. buatku ini istimewa, sebab belum pernah berhasil melakukan sebelumnya. tanpa baca terjemahannya, buatku quran cuma terdengar akrab tapi gak 'bunyi', gak aku pahami, bahkan gak ada artinya. aku ingin ngerti bacaanku, meski niat itu tidak 💯 % berhasil. banyak yang gak aku pahami dari quran, barangkali karena bacaanku sepotong-sepotong dan pengetahuanku tentang quran juga terbatas.

setiap tamat baca quran, aku selalu teringat nenekku dari bapak. dulu aku pernah sampai nangis-nangis belajar baca quran baik dari uwakku atau nenekku. nenekku suka ngageunggeureuhkeun (memperingatkan) aku agar menaruh quran di kepala tiap kali membawanya -- bukan dijinjing atau dipegang begitu saja. baginya, itu adalah bentuk penghormatan terhadap sebuah kitab suci. quran yang aku baca sekarang ialah quran yang dari kecil aku pegang dan baca pelan-pelan atas bimbingan uwak atau nenekku.

baca terjemahan quran itu mencengangkan. aku jadi  bisa merasa tahu dan meraba apa maksud ayat-ayat itu. tapi, baca terjemahan quran juga suka bikin gemetar, terutama soal dosa, ancaman, siksaan, wabah, dan neraka.  sebagian isi quran itu ngeri dan di luar bayangan manusia biasa. orang masuk ke perut ikan raksasa, bapak mau menyembelih anaknya, pejuang keadilan sosial melawan rezim jahanam, praktik sihir, orang saleh miskin, tewas, satu kaum ditelan bumi, seseorang moksa entah bagaimana caranya. gak terbayangkan hal-hal itu bakal terjadi di dunia ini -- bahkan di #onthespot sekalipun. membayangkan betapa ada seseorang yang langsung menerima ayat suci juga merupakan ketakjuban lain.

membaca quran bikin aku sadar ada kosakata yang ternyata terus hadir dalam kehidupan manusia sampai sekarang. contoh quran itu sendiri. 'sihir' membuatku ngebatin: aku gak tau persis itu apa, gak pernah mengalami, gak tahu bentuknya, tapi jelas merupakan hal besar. apa aku alergi pada sesuatu yang asing seperti sihir hingga seumur hidup menghindari, tak pernah mau atau menyelami ilmunya, bahkan secara bawah sadar ketakutan terhadapnya?? kenapa sebagai muslim aku tidak pernah diperkenalkan pada sihir secara pantas?? kalau sihir di zaman dulu bisa dipraktikkan dalam gerakan sosial dan menumbangkan rezim, seperti apakah bentuknya di zaman sekarang???

kosaka-kosakata dalam quran begitu terpelihara. ia hidup, ditafsirkan, ditekankan, disebarkan, dicomot, bahkan kerap menjadi slogan yang menggelorakan. ia bisa misterius. ia menyertai kehidupan manusia. bukan saja kepada orang muslim, melainkan pada siapapun yang membacanya.

puasa ramadhan 2020 berlangsung di tengah wabah global covid-19 yang memaksa banyak perusahaan dan orang mengurangi waktu kerja dan menambah waktu libur. ini membuatku banyak menyempatkan membuka quran. tanpa libur mustahil aku bisa mencicil baca quran selama ramadhan, terutama sebelum buka dan sesudah subuh.

baca quranku masih buruk. atau mungkin malah memprihatinkan.☹️ aku belum belajar meningkatkan kemampuan bacanya, meski sudah dapat saran misalnya di youtube. dengan umur  setua ini sementara bacaan quranku jelek, alangkah malu dan menyesalnya aku jika dibandingkan dengan bocah-bocah yang sedang berlomba menjadi juara hafiz quran.😩😢 aku dulu belajar ngaji di surau dekat rumah, diterangi lampu minyak, dan kami membawa sebotol minyak tanah untuk penerangan surau.

ada fakta menyedihkan, ternyata masih banyak mukallaf  (umat islam yang sudah baligh) yang buta huruf (gak bisa baca) quran. aku pernah menemukan kasusnya di wag khusus muslim. akmal nasery basral bahkan menyatakan jumlahnya secara nasional antara 55 %-60 %. secara garis besar dia bilang dari 5  orang mukallaf  perbandingannya  adalah: 1 bisa baca lancar, 1 bisa baca penuh perjuangan, 3 tidak bisa baca.
😔

sejak beberapa tahun lalu aku niat belajar lebih baik baca quran, tapi belum terlaksana. secara otodidak juga belum.☹️ konpensasinya aku berusaha lebih disiplin membacanya. seorang kenalan yang rajin menamatkan quran bilang begini, 'coba sebelum mulai biasakan berdoa 'ya allah fasihkan aku membaca quran' -- insya allah dilancarkan dan dimudahkan oleh allah.' mungkin dengan begitu kita jadi lebih baik memperhatikan kualitas bacaan sendiri. jujur saja targetku setelah ini sama sekali bukan tergesa-gesa khatam quran, tapi lebih baik meningkatkan kualitas membaca dan memaknainya.[] [halaman ganjil; wartax]

nb: tulisan ini sengaja mengabaikan puebi.

Tuesday, January 03, 2017

jangan takut mencari bahagia dengan cara tak biasa
oleh anwar holid

'tau gak, hidup dia sekarang bahagia setelah nikah sama suami keduanya,' kata kawanku tentang seorang kawan perempuan kami.
'bahagia gimana?' tanyaku rada datar.
'yah pokoknya dia kelihatan senang. hidup makmur. rumah besar mentereng. sering liburan ke tempat-tempat impian, indah, dan terkenal. mobil ada. anaknya cantik-cantik. kayaknya gak ada kurangnya...' kawanku berusaha meyakinkan aku.
'emang suaminya kerja di mana sampai mereka bisa kaya begitu?'
'di perusahaan tambang minyak, di laut china selatan.'
'oh... mereka hidup pisah ya?' giliranku menebak.
'iya... ketemuan tiga bulan atau enam bulan sekali.'
'yaaaah... kasihan dong, gak tiap hari dapat pelukan dan ciuman suaminya, gak tiap hari tidur bareng atau minimal dapat senyuman kekasihnya,' aku mencoba meremehkan nasib kawan kami.
'halah... kamu! itu harga yang mereka bayar untuk mendapatkan kebahagiaan, tau!'
'oh, jadi kebahagiaan itu harus dibayar segitunya ya? aku pikir kebahagiaan itu tanpa syarat.'
'ya enggak lah. kamu aja sering bilang there’s no such thing as a free lunch.'
'terus gimana kamu bisa menjamin mereka bahagia? suami-istri hidup terpisah itu berat tau. bahkan bisa jadi menyengsarakan. bikin batin tertekan, interaksi susah, pas lagi dibutuhin gak ada, hubungan emosi dan seks juga lebih jarang. jadinya lebih terhadang. dan itu semua sangat mendasar dalam membangun kebahagiaan!'
'hahaha... barusan kamu bilang kebahagiaan itu tanpa syarat. sekarang kenapa kamu bilang itu semua penting sebagai pembentuk kebahagiaan?'
'loh... itu menurut orang. menurut studi. ada temuannya. aku mah yakin, kebahagiaan seorang presiden dan buruh itu kualitasnya sama, walaupun status sosial dan harta bendanya beda.'
'halah... teori! kebahagiaan seorang presiden pasti lebih tinggi kualitasnya dibanding kebahagiaan seorang buruh!'
'dari mana kamu yakin?'
'dari statusnyalah. keduanya jelas beda. raja mikirin bangsa dan negara, skalanya jauh lebih luas dan rumit; buruh memikirkan diri sendiri, skalanya kecil, mungkin lebih gampang terpenuhi. ada yang bilang... orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu itu beda. jadi aku yakin bahagia seorang presiden pasti beda dari pemulung.'
'apa kamu yakin presiden memikirkan bangsa dan negaranya? bukan kekuasaan, hawa nafsu, syahwat, atau kemasyhuran dan kepentingannya sendiri? kita aja sering kok segitunya mikirin kondisi dan nasib bangsa dan negeri ini, seolah-olah paling tahu cara menyelesaikan masalah bangsa dan masyarakat---padahal itu semua ada di luar kuasa kita.'
'udah, udah... kamu tambah ngelantur. lantas kenapa kamu sangsi bahwa hidup seseorang itu bahagia?'
'yah... karena kamu mengaitkan kebahagiaan dengan kepemilikan materi. padahal bisa jadi kedua hal itu gak nyambung.'
'kamu yakin ngomong gitu? buktinya kita kan sering menyangka bahwa orang berlimpah materi itu gampang kelihatan lebih senang? kebutuhan hidup lebih terpenuhi. lebih makmur. banyak orang bilang kebahagiaan membawa orang pada kemakmutan. kekuatirannya berkurang, gak gampang cemas, dibanding orang yang serba kekurangan. bahkan mungkin saja dia gampang berbagi dengan hartanya, menjadikan sebagian hartanya untuk menyenangkan orang lain. contohnya ya kawan kita itu....'
'yah... tapi kita juga kan gak tau kalo dia mungkin cemas soal utang-utangnya. mungkin dia mikir kenapa hartanya gampang sekali berkurang, padahal susah-payah didapatkan? aku sering lihat ada orang kaya yang dikit-dikit panik bila kekayaannya berkurang, usahanya merugi sedikit saja. jelas mereka gak rela kalo neracanya negatif. apa seperti itu orang bahagia?
sementara orang yang hartanya memang sedikit sudah gak cemas sama sekali soal itu semua, karena dia tak memikirkan yang tak dimilikinya. kebutuhan hidup orang kan lain-lain. sebagian orang mungkin lebih butuh harta; sementara yang lain mungkin saja lebih butuh hal-hal nonmateri, mungkin emosi, perhatian, kasih sayang.'
'itu namanya kamu membanding-bandingkan kebahagiaan seseorang dengan orang lain. padahal untuk bahagia orang harus menerima kondisinya tanpa pamrih. jangan membanding-bandingkan dirimu dengan orang lain.'
'ya memang... kebahagiaan itu soal mindset. cuma aku penasaran. kalo orang sering bilang bahwa kepemilikan materi tidak menjamin kebahagiaan nurani, tapi kenapa yang sering digembar-gemborkan dan duluan dikejar malah selalu kepemilikan materi? padahal kepemilikan materi tak bisa langsung diubah jadi kebahagiaan... apalagi kalo dibandingkan dengan kerja keras cara mendapatkannya. mungkin itu cuma bayaran setimpal. sementara aku rada yakin bahwa kebahagiaan itu sejenis dengan kepuasan batin. kepemilikan itu menurutku gak cenderung seiring dengan kebahagiaan kok... kita sudah sering lihat buktinya.'
'hehehe... mungkin itulah manusia. sering gak konsisten. bilangnya begini padahal maksudnya begitu. apa yang dicari beda dengan yang ditemukan. menyangka dengan punya kekayaan berarti menemukan kebahagiaan.'
'nahhh... itulah yang sering bikin aku sangsi sama orang yang dibilang bahagia. karena kita cuma bisa lihat luarnya. sementara dalam hati orang siapa tahu?'
'tapi gampang sinis atau terus-terusan sangsi sama kebahagiaan orang lain bikin kamu kayak sakit jiwa. kan pasti ada orang yang benar-benar bahagia di dunia ini. gak perlu restu kamu bahwa seseorang bisa bahagia!'
'hahahaha.... segitunya. tega kamu!'
'iyalah... kalo kamu gak bahagia bukan berarti gak ada orang lain yang bener-bener bisa merasakan kebahagiaan.'
'baiklah. aku cuma ingin bilang jangan menyeragamkan kebahagiaan seseorang satu sama lain. seolah-olah dalam kondisi yang sama otomatis melahirkan kebahagiaan yang sama. aku gak yakin kayak begitu.'
'ah dasar kamu ngeyel... pantes kamu kelihatan susah bahagia.'
'wkwkwkwk... bukannya sesuatu yang sulit diperoleh maka kadar bahagianya pun makin besar?'
'jadi kamu mau melecehkan bahwa kebahagiaan karena harta itu kadarnya rendah?'
'ya itu tergantung gimana seseorang menilai harta dan meletakkan kebahagiaan. kalo bagi dia kebahagiaan itu ada dalam setumpukan harta, dia pasti menghargai harta lebih dari segala-galanya... tapi kalau kekayaannya berkurang pasti langsung berkurang pula kebahagiannya. padahal menurutku kebahagiaan juga bisa didapat dari hal-hal kecil yang tak kalah esensial.'
'apa contohnya?'
'banyak. keramahan dengan teman kerja, bebas bilang apa saja ke bos atau klien, gak perlu kuatir mau bikin status apa pun di media sosial, toleran sama perbedaan... itu semua simpel kan? kalo kita cuma menganggap kebahagiaan itu ada dalam hal-hal besar, kasihan sekali aku yang cuma punya hal-hal sepele. '
'hahaha.... sekarang buktiin aja deh bahwa kamu bener-bener bisa bahagia dengan keyakinan itu, bukan sedikit-sedikit nyinyir atau sangsi bahwa kebahagiaan versi orang lain itu palsu atau malah gak ada.'
'yah... itu yang dari dulu ingin aku sampaikan. cuma aku gak bisa dengan gampang meyakinkan orang lain... jatuhnya malah jadi skeptis, atau lebih parah jadi debat dan sangsi. seolah-olah kebahagiaan itu susah dicari. padahal menurutku orang bisa bahagia dengan cara berbeda-beda, tertentu, atau malah gak biasa.'
'nahhh... kalo gitu akuilah bahwa orang memang bisa bahagia meski enggak sesuai dengan standarmu.'
'ah... orang gampang silau dengan nasib orang lain dan menyangka di situlah letak kebahagiaannya. padahal belum tentu. jangan menutup kemungkinan bahwa kebahagiaan bisa muncul dalam situasi yang gak terduga.'
'kalo gitu sering-seringlah bikin surprise sama orang lain biar bisa bahagia!'
'ah...... kalo itu sih namanya kamu ngarep!'

Foto: Wartax
pelan-pelan percakapan merendah. entah apa yang ada dalam pikiran kami masing-masing setelah jeda yang lengang itu. apa bersikukuh dengan kebahagiaan versi masing-masing atau membuka diri dengan kemungkinan baru bahwa bahagia bisa jadi menelusup ke lubang paling sempit di dalam hati seorang insan.[] 3/1/17

Thursday, June 16, 2016



Kehilangan Momen Berbuat Baik 
Anwar Holid

Suatu pagi pas jalan ke pasar inpres, aku ditawari seorang laki-laki berwajah bingung dan memelas untuk membeli sekantung keresek beras. Dia bilang istrinya mau melahirkan dan tak punya cara lain mencari uang buat biaya persalinan, makanya menawari siapa saja yang ada di pinggir jalan. Aku minta maaf menolak membeli berasnya, bilang di rumah masih ada persediaan, dan sedang tidak berencana beli beras. Aku memang mau beli sejumlah kebutuhan keluarga, tapi tidak termasuk beras. Laki-laki itu berusaha terus meyakinkan dan membujuk, tapi aku tetap menolak. Raut wajahnya tampak makin sedih. Aku lihat kilatan matanya makin berair mengalir ke sudut, menggumpal mau jatuh jadi tangis. sambil melengos putus asa, dia bilang, 'Maaf... ini memang salah saya...'

Aku langsung nelangsa dengar itu dan memegang pundaknya sambil berkata, 'Bukan... itu bukan salah akang. Saya hanya enggak niat beli beras. Mungkin nanti ada orang lain yang mau beli beras akang. Maaf ya...' Dia mengangguk dan kami berpisah.

Aku membatin, aku percaya bahwa dia jujur atas kondisinya. Dia tak punya cara lain berusaha, sehingga berharap keberuntungan di pinggir jalan. Sementara aku tidak spontan membantu orang lain dan merasa kurang lapang. Aku pernah dalam situasi sulit serupa, dan tahu persis betapa mencari bantuan memang bisa sangat sulit. Sekarang saja aku tengah butuh biaya untuk renovasi rumah, pengen beli kamera, mau beli road bike, kadang-kadang dituntut beli barang yang lebih mahal lagi, membiayai macam-macam keinginan... tapi masih terlalu malas lebih giat mendulang rezeki. Aku merasa bahwa keperluan itu masih bisa ditunda. Padahal aku tak punya aset selain menawarkan jasa, memaksimalkan kemampuan dan kesempatan. Kejadian itu membuatku membatin, kenapa ya Tuhan mempertemukan aku dengan pria itu?

Kenapa aku tak langsung menolongnya dan terlalu keukeuh dengan rencana yang sudah disusun? Apa kalau aku beli berasnya maka hidupku bisa berantakan atau malah diketawain sebagai orang yang gampang ditipu orang pinggir jalan? Jujur saja aku tidak kuatir oleh komentar orang lain. Cuma aku penasaran. Kenapa aku ditakdirkan menyaksikan detil kehidupan seseorang yang tengah kesulitan? Mungkin itu tanda sebenarnya aku bisa menolongnya sesuai kemampuan. Karena kemampuanku kecil, maka yang dihadapkan kepadaku juga detil kehidupan yang simpel. Kenapa orang seperti itu tak dipertemukan dengan pengusaha sukses, gubernur atau pemimpin partai? Kalo itu terjadi tentu persoalannya bisa langsung beres dan bisa dimaksimalkan untuk pencitraan.

Kenapa pria itu tak ketemu dengan para pemimpin negara-negara yang tengah berunding membicarakan masa depan dunia dan persoalan rumit seperti kemiskinan, krisis ekonomi dunia, ancaman terorisme? Apa hal itu terlalu sepele dibanding persoalan besar dunia, maka terjadi di sudut bumi di luar jangkauan radar kekuatan besar. tampaknya juga mustahil bahwa 'persoalan kecil' seperti kebutuhan pribadi terungkap di acara demikian. Mungkin gak sih dalam pertemuan 'penting' tingkat internasional seseorang minta tolong dirinya butuh biaya persalinan istri, ongkos sunatan, atau biaya nikah anaknya? Orang akan bilang itu irelevan dan di luar konteks. Atau gila. Jadi apa sebenarnya kejadian kecil itu sama bobotnya dengan peristiwa besar yang dianggap penting dan perlu dicatat sejarah?

Ah... mungkin aku terlalu repot mencari-cari alasan atas kemalasanku segera menolong, meski di luar rencana dan irelevan. Jujur saja aku suka menyesal tak bisa menolong karena merasa sempit, padahal kalau mau bersikap lapang mestinya masih bisa menyisihkan kemampuan atau rezeki walau sedikit. Sementara pada saat merasa mampu, kesempatan itu sudah lewat. Kita kehilangan momen berbuat baik, padahal kesempatan itu cuma sekelebat. Waktunya sempit sekali, dan mungkin tak terulang lagi. Seperti tendangan penalti, dalam hitungan detik ia harus segera dieksekusi.

JEDARRRRR!!!!![]


[HALAMAN GANJIL]

Thursday, May 26, 2016



Kisah Diusir dari Grup WA
Anwar Holid

Baru saja aku diusir dari grup WA SMA satu angkatan. Rupanya ada admin tersinggung oleh komentar-komentarku. Seorang dari mereka bilang begini soal aku, 'Perasaan sebelum dia masuk ini grup enak-enak saja deh... seruuuu.'

Oh, maaf kalo begitu. Jadi aku bikin grup gak seru, gak asyik, gak enak, sampai perlu ditendang. Aku tertawa membayangkan kawan seangkatanku sendiri segitu tersinggung oleh komentar atau pernyataanku. Mungkin aku memang sengak. Aku merasa dia sensitif, gampang ngambek, bahkan mungkin intoleran pada pendapat tegas atau cenderung pedas. Padahal aku sendiri merasa apolitis dan pasifis.

Entah kenapa aku langsung ingat Saut Situmorang, seorang penyair yang dituntut ke pengadilan atas dakwaan pencemaran nama baik. Rupanya si penuntut tersinggung atas kelancangan Saut mengata-ngatai dirinya di media sosial. Aku  merasa Saut pemberani, bahkan mungkin urat takutnya sudah putus. Dia yakin atas ucapan dan kelakuannya. Saking salut, aku suka menitipkan keberanian kepadanya. Tapi tentu saja kasusku bukan apa-apa dibanding yang dialaminya.

Aku cuma sedih dan kasihan pada orang yang takut berpendapat, takut  mengutarakan sesuatu dengan baik dan jelas. Kasihan sekali kalau kamu berumur lebih dari 40 tahun tapi masih takut bilang ini-itu, gentar menyatakan sesuatu hanya karena punya pikiran lain. Aku menyangka admin yang mengusirku itu tak bisa dibantah, harus diturut, gampang terusik, merasa otoritasnya terganggu. Mungkin ia bos yang berkuasa penuh mengatur ini-itu, disegani, bangga bila kehadirannya menebar teror, membuat orang lain takut dan segan. Jadi dia tak sungkan menendangku.

Aku cuma senyum-senyum waktu kawan sekelasku kaget mendapati diriku  sudah diusir. Aku tidak menyesal, tapi langsung membuatku malas minta balik. Toh aku juga tidak merengek ingin masuk. Aku cuma merasa sayang gagal jadi orang menyenangkan dan menutup peluang mendapat tambahan follower di media sosial... ha ha ha. Tapi untungnya dengan begitu aku bisa menghemat paket data, bebas dari clear chat atas komentar membosankan, terhindar dari orang kolokan, dan bisa lebih hemat batre hape.[]

Tuesday, June 30, 2015


Warisan yang Tiada Tara Nilainya

Karena tertarik sastra, dulu aku merasa sedikit tahu tentang John Keats, terutama dari buku-buku pengantar sastra atau kumpulan puisi. Tapi ternyata aku buta sama sekali tentang bayangan dirinya seperti apa selain secuil judul-judul puisi seperti "La Belle Dame sans Merci", "Ode to a Nightingale", atau "Sleep and Poetry". Aku rupanya tidak ngeh waktu baca informasi tentang Keats. Sebagai salah satu penyair utama sastra Inggris zaman Romantik, aku pikir kehidupannya masyhur sejak awal. Anggapan itu buyar tanpa sisa setelah aku nonton Bright Star (2009), film garapan Jane Campion.

Bright Star merupakan biopic yang memotret periode ketika Keats sedang berada di puncak kreativitas puisi-puisi terbaiknya, yaitu 1818 dan empat tahun setelahnya. Dia tinggal di rumah kontrakan di pinggiran London, bersama temannya yang tampak lebih dominan, Charles Brown. Salah satu tetangga di rumah kontrakan itu ialah keluarga sederhana Brawne. Keluarga ini punya anak tertua bernama Fanny, seorang gadis ceria yang tahu tata busana dan pintar menjahit. Mereka sebenarnya sejak awal saling suka, tetapi Keats tidak bisa berbuat banyak untuk memenangi Fanny, sebab dirinya pun kesulitan keuangan, dan lebih mementingkan nasib kepenyairannya yang mengkhawatirkan.

Kedekatan dengan Fanny mampu membuat Keats lebih hidup, sampai dia mau menghabiskan Natal bersama keluarganya. Mereka akhirnya bertunangan meski tanpa sepengetahuan keluarga. Penyair muda ini sama sekali tak punya uang untuk membiayai acara tunangan, apa lagi mengadakan pernikahan dan membangun rumah tangga.

Waktu itu Keats sudah menerbitkan satu buku puisi, namun penjualannya benar-benar seret. Rupanya Keats sudah lama meninggalkan pekerjaannya sebagai perawat dan memutuskan sepenuhnya beralih ke sastra. Padahal kerja sebagai perawat menjanjikan gaji bulanan, sementara sastra belum memberinya apa-apa. Itu sebabnya dia pindah-pindah rumah kontrakan atas bantuan teman-temannya di dunia sastra. Dia juga harus merawat adiknya yang kena tbc.

Kehidupan asmaranya dengan Fanny yang kuat menghasilkan energi positif. Fanny menjelma sebagai sumber inspirasi, bahkan kerap merangkai puisi bersama atau memberi komentar atas puisi-puisi Keats. Bila Keats pergi, dia suka mengirim surat dengan curahan hati yang dalam. Pada masa inilah dia menghasilkan puisi-puisi terbaik yang akhirnya terkumpul dalam Lamia, Isabella, The Eve of St. Agnes, and Other Poems (1820) yang ia persembahkan untuk Fanny. Namun begitu terbit buku ini cuma bisa menghasilkan 'dua resensi positif dan lima resensi membantai dari kalangan sastra.'

Sewaktu hidup, Keats bisa dibilang gagal, termasuk nasibnya di dunia sastra. Dia sendiri mengakuinya. Dia tenggelam, semua penjualan buku puisinya seret, karyanya banyak dikecam dan disepelekan oleh politik sastra kalangan elite sastra masa itu, salah satunya konon didalangi Lord Byron---penyair terkemuka sezamannya dari kalangan atas dan secara sosial bisa dibilang menang segala-galanya dibanding Keats.

Keats bukan berasal dari kalangan atas dan tidak mendapat pendidikan dari sekolah elite. Dia anak rakyat jelata. Ayahnya bekerja sebagai pemelihara kuda. Riwayat kesehatan keluarganya yang buruk sejak awal berdampak pada dirinya, sementara kegagalannya di dunia sastra menggerogoti jiwanya. Demi menyembuhkan diri dari tbc berkepanjangan, dia menuju Italia untuk mendapatkan cuaca yang lebih hangat. Namun begitu sampai di sana, dia meninggal di Roma tahun 1821. Umurnya 25, meninggalkan kekasih yang gagal dinikahi. Atas wasiatnya, nisannya tak diberi nama dan tanggal, cuma diberi tulisan bunyinya: "Here lies One whose Name was writ in Water." Ngenes.

Semasa Keats hidup, dari empat buku puisinya yang terbit, cuma laku 200 eksemplar. Fakta ini membuatku menangis. Puisi gagal sama sekali menghidupi dirinya. Dia ditopang oleh kawan-kawan dekatnya. Bagaimana ceritanya orang gagal ini dinilai penting, berpengaruh, ujung-ujungnya dirayakan dan karyanya dianggap luar biasa? Nasib Keats langsung mengingatkan aku pada Nick Drake, Jeff Buckley, atau contoh klise: Vincent van Gogh. Apalah arti dipuja-puja setelah mati bagi orang yang gagal semasa hidup? Kenapa orang menilai salah sejak awal? Manusia memang tak pernah belajar dari sejarah.

Nonton Bright Star atau mendengar album-album karya Nick Drake dan Jeff Buckley membuatku bertanya: sukses dan kejayaan itu apa artinya? Bagaimana sesuatu yang awalnya dianggap gagal pelan-pelan berubah sama sekali? Wajibkah orang bercita-cita biar jadi besar dan jaya? Apa perlu jadi orang hebat? Perlukah orang berambisi menguasai dunia agar dimudahkan segala-galanya? Apa orang butuh motivasi biar jadi hebat? Bagaimana kalau hidup seseorang memang gagal dan mengenaskan?

Dari keempat orang itu saja aku berani bilang bahwa intensitas dan kreativitas bisa jadi tak berhubungan langsung dengan kesuksesan dan kehebatan. Waktu hidup, Keats gagal jadi penyair hebat, Drake atau Buckley bukan penyanyi yang menghasilkan hits, sementara van Gogh frustrasi jadi pelukis. Tapi satu hal mereka punya kesamaan: yakin pada pilihan, berkarya habis-habisan, pantang menyerah. Meski dihantui keputusasaan dan gagal menunjukkan keunggulan karya pada orang sezaman, namun generasi zaman selanjutnya mampu membuktikan keunggulan itu. Betapa penilaian atau selera zaman bisa keliru, berubah, bahkan berbalik seiring waktu.

Mereka membuktikan permata tetaplah permata, sekalipun sebelumnya seluruh dunia tak mengetahuinya. Waktu seolah-olah dirahasiakan untuk makin menguatkan kualitas dan kesolidan karya agar ketika ditemukan atau dikaji orang lain, ia tampak berkilau tiada tara. Meski kejayaan sepantasnya telat mereka raih, toh keagungan pada akhirnya tak ke mana-mana. Kita mungkin bilang mereka tak menikmati hasil karyanya, tapi mereka memberi warisan terbaik dari sesuatu yang dihasilkan secara habis-habisan. Itulah persembahan terbaik yang bisa diberikan seseorang agar bisa dinikmati terus sampai nanti selama kehidupan di dunia masih ada. Itulah warisan yang nilainya tiada tara.[]

Ilustrasi: still life foto film Bright Star dari Internet.

Monday, October 27, 2014

[halaman ganjil]

Tanda Orang Sehat Itu Cuma Satu...

--Anwar Holid

Pada awal September 2014 lalu dada kiriku sakit. Ini kambuh untuk ketiga kalinya. Pertama kali sakit dada itu muncul kira-kira tahun 2010. Setiap kali bernapas dadaku seperti ditusuk-tusuk, napas jadi pendek-pendek, gampang tersengal-sengal, dan sesak. Bernapas jadi tak lancar dan sulit. Sakit dada itu membuatku demam dan batuk-batuk.

Dulu waktu pertama kali mengalaminya, aku langsung cari tahu soal sakit dada belah kiri itu. Orang menamai sakit itu sebagai 'angin duduk', dan lebih jauh bisa jadi merupakan tanda dari gejala jantung koroner. Jujur saja, aku enggak kuatir bila sampai kena jantung koroner. Dengan latihan bernapas pelan-pelan dan mencoba menghela napas panjang, akhirnya sakit itu berangsur-angsur hilang. Seingetku, aku cuma minum obat demam untuk menghilangkan panas-dingin waktu malam.

Pada November 2013 sakit itu muncul lagi waktu aku mulai kerja di Penerbit Rosda saat tugas di Indonesia Book Fair. Semua gejalanya persis sama. Kupikir kali ini terjadi karena aku berada dalam ruang ber-ac sangat dingin, kencang, dan suasananya gaduh sekali. Untung kambuhnya di hari menjelang acara berakhir, sehingga aku hanya perlu absen beberapa jam.

Ketika kambuh untuk kedua kali, Fenfen dan beberapa teman minta agar aku periksa dokter spesialis. Aku mengamini, tapi tidak melaksanakannya. Bukan karena bandel, membantah, atau apa, tapi semata-mata karena tidak menyempatkan diri dan aku merasa bisa mengatasinya bila sewaktu-waktu datang lagi.

Ketika kira-kira setahun kemudian kambuh untuk ketiga kali, pada dasarnya aku siap. Paling waktu malam aku repot jadi demam, tersengal-sengal, dan batuk-batuk. Aku coba berdamai lagi dengan latihan menghela napas pelan-pelan. Aku perkirakan kali ini pemicu utama kambuh ialah karena terpapar asap jahanam kendaraan bermotor setiap kali bersepeda. Tapi bisa jadi karena September ialah musim kemarau, dan setiap musim kemarau aku tahu pasti kena pilek atau batuk. Payahnya aku sakit pas ikut workshop, jadi batuk-batuk dan tidak fit itu mengurangi konsentrasi dan mengganggu banyak orang.

Kali ini Fenfen tidak sabar agar aku periksa ke dokter. Menggunakan jasa BPJS, sarannya aku turuti. Ke dokter umum aku menceritakan keluhan dan gejala yang aku rasakan. Aku mendesak, 'Apa kemungkinan penyakit terburuk dari keluhan yang aku rasakan ini?' Dia bilang, 'Ini sama sekali jangan dijadikan pegangan dan harus didiagnosis oleh dokter spesialis lebih dahulu, kemungkinan terburuknya ialah Anda bisa terkena tuberkolosis paru-paru.' Wow, separah itu, batinku. Beliau memberi rujukan untuk periksa lebih lanjut.

Aku diperiksa dokter spesialis jantung di RS Advent Bandung. Diteliti menggunakan electro cardiogram, aku dinyatakan normal. Saat diperiksa kondisiku waktu itu memang sudah cukup fit. Sakit dadaku sudah berangsur pulih dan berkat mengonsumsi makanan hebat baik di hotel dan workshop, kesehatanku membaik. Cuma batuk kering mulai terasa.

  
Salah satu hasil periksa jantungku.
  
'Kalo begitu sakit dada itu apa ya dok?' aku rada bingung.
'Sakitnya kerasa sampai ke belakang punggung enggak?'
'Enggak.'
'Kerasa menjalar sampai tangan kiri enggak?'
'Enggak.'
'Kerasa kalo bapak jalan enggak?'
'Enggak.'
'Kerasa waktu bapak tidur enggak?'
'Enggak. Kerasa kalo saya bernapas saja.'
'Kalo rasa sakit seperti ditusuk-tusuk itu sampai ke punggung atau kerasa sampai tangan kiri, atau kalau berjalan dan tidur dada bapak sakit, itu baru menunjukkan ada gejala sakit jantung. Hasil diagnosis menunjukkan jantung bapak normal. Mungkin ada otot dada bapak yang sakit. Itu saja. Bapak jangan kuatir. Olahraga ringan yang teratur, seperti jalan kaki.'
'Saya memang banyak jalan kaki, dok.'
'Bagus itu.' Katanya sambil memberi resep yang ternyata ramuan multivitamin dan penghilang rasa nyeri.

Jadinya aku tambah lega. Aku sms ke beberapa orang dengan gembira, 'AKU NORMAALLL! AKU SEHAT-SEHAT AJA!!!'
Seorang kawanku menanggapi, 'Tax, waktu sakit kamu masih bisa ereksi gak?'
'Ya bisalah!' aku jawab sambil ketawa.
'Kalo begitu kamu normal. Tanda orang sehat itu cuma satu kok: dia masih bisa ereksi! Kamu jangan kuatir, Tax!'
Hahaha... aku tambah senang dengar pembelaannya itu.

Sementara sakit dada kiri pulih, batuk keringnya belum sembuh, ditambah pilek. Batuk dan pilek menurutku akibat dari kerongkongan kering. Seperti ada duri menusuk di situ. Dua penyakit ini khas menyerang aku setiap kali musim kemarau.  Aku sudah maklum, tapi selalu kalah sigap mencegahnya. Aku beranggapan sakit begini membuatku harus lebih hemat bicara dan menahan diri mengomentari berbagai hal. Aku menerima dan mengobatinya pelan-pelan sesuai saran apotek dekat rumah.

Tambah umur rasanya membuatku makin sadar soal tubuh. Contoh, aku tahu bakal pilek di musim kemarau, bukan di musim hujan seperti terjadi pada kawanku. Kepalaku pasti pening kalau berada di tengah suasana kacau, gaduh, apa lagi penuh asap rokok. Ternyata sakit juga bisa membuat kita lebih mengenal diri sendiri. Jadi benar, segala sesuatu memang ada manfaatnya. Sakit saja bermanfaat, apa lagi sehat. Bener enggak?[]

Friday, April 01, 2011

Kita Juga Bangsa yang Rajin!
---Anwar Holid

Demi berkomitmen dan bersikap profesional terhadap janji, sudah sekitar tiga bulan ini aku selalu berusaha berangkat ke Jakarta sekitar pukul 04.00 dini hari. Tentu saja aku menyiapkan kepergian itu lebih dari setengah jam sebelumnya; jelas aku harus lebih sigap dari awal. Entah karena ngebut atau kehilangan orientasi waktu, bangun-bangun sering aku mendapati mobil travel yang aku tumpangi sudah berada di pintu gerbang tol Pondok Gede. Di waktu sepagi buta itu ternyata semua pintu tol sudah penuh oleh kendaraan. Antrean mobil mengular panjang, memenuhi semua jalur masuk. Kendaraan sudah begitu banyak. Beruntung para pengendara tertib, jadi lalu-lintas cukup lancar meski sangat padat. Mungkin mereka hanya perlu ekstra hati-hati agar tidak menyerempet maupun terjadi insiden.

Masuk ke tengah kota lebih-lebih lagi, motor dan mobil saling berdempetan. Kali ini suasana lebih semrawut; tapi meski begitu tampaknya  masih terkendali. Orang-orang sudah menguasai jalanan, siap berlomba menuju tempat masing-masing. Belum lagi ternyata halte-halte  busway juga sudah penuh oleh penumpang. Menyaksikan itu semua, dalam hati aku bilang, "Wah, orang Indonesia ternyata rajin-rajin kan?  Enggak semalas seperti cerita yang sering aku dengar." Buktinya orang sejak pagi buta sudah siap-siap berangkat kerja. Aku jadi ingat  seorang tetangga yang punya warung. Dia harus berangkat ke pasar induk pada dini hari untuk belanja barang, biar dirinya masih punya waktu untuk tidur sebelum shalat subuh, setelah itu langsung buka hingga menjelang magrib. Dulu banget, aku pernah diajak teman ke Depok sore-sore naik KRL. Wadao, tiada terbayang penuh dan berdempet-dempetnya. Kepadatan dan situasinya mungkin hanya bisa disaingi orang-orang Yahudi malang yang dipaksa masuk untuk diangkut ke dalam gerbong kereta oleh tentara Nazi. Kejam dan tidak manusiawi.

Menyaksikan kerja keras dan sifat rajin bangsa sendiri itu, entah kenapa rasanya terbit rasa bangga di dada. Tapi sebersit tanya juga muncul: "Kenapa ya kita masih terkenal sebagi bangsa yang malas atau tingkat kesejahteraannya rendah? Ini cap jelek atau kenyataan?  Bukannya ini semua bukti nyata bahwa kita pun sangat rajin?" Aku jadi rada jengkel dengan puja-puji terhadap kehebatan bangsa lain di negeri  tetangga. Kayaknya yang bagus-bagus itu selalu dari luar negeri. Bahwa mereka kayaknya lebih rajin dan giat. Contohnya pujian bertubi-tubi pada bangsa Jepang setelah peristiwa bencana tsunami pada awal Maret 2011. Wah, pujian itu justru membuat dadaku mendidih, sampai  menyemangati aku untuk menyelesaikan tulisan ini. "Kita juga bangsa yang rajin kok. Kita mungkin hanya terlalu undervalue dan underrated  terhadap diri sendiri, dan sebaliknya terlalu overvalue terhadap bangsa lain. Kita sudah sama-sama giat, tapi mungkin masih ada sesuatu yang salah hingga kondisi kita masih terbilang buruk." Nah, tanya kenapa. Memang rajin, bekerja keras, dan tabah itu seperti apa?
http://markodia.blogspot.com/2010/10/renungan-hari-rabu-tgl-13-oktober-2010.html

Seorang kawan berkomentar. "Kalo rajin datang tepat waktu terus absen, itu mah cuman rajin karena. Kebanyakan orang itu pada datang pagi-pagi hanya karena agar tidak telat masuk kantor. Sehabis itu banyak yang ngopi-ngopi sambil santai merokok… dan menunggu jam 5 datang. Apa rajin yang seperti itu? Sedangkan kerjaannya cuma melihat jam? Ini terjadi loh di kantor pemerintahan."

Kawan senior berkata, "Mesti dilihat dulu beda rajin dengan keharusan. Mereka rajin pagi-pagi datang ke kantor karena kemauan dan kesadaran diri atau karena 'takut' dapat teguran dari atasan yang notabene bisa mengancam karir mereka di kantor? Dilihat dari kehidupan sehari-hari memang harus diakui bangsa Indonesia masih jauh dibandingkan bangsa Barat." Tuh kan, meski mengakui bahwa kita memang bangsa rajin, teuteup saja terdengar nada undervalue di sana. Sengit pada bangsa sendiri.

Aku sendiri pernah menyaksikan kehebatan sebuah bangsa. Ceritanya aku ikut workshop buku fotografi di lembaga budaya negara tersebut. Aku melihat dan meraba sendiri seperti apa kehebatan dan kemajuan mereka dalam menciptakan produk. Benar-benar sampai membuat kami para peserta minder, bahkan aku sendiri pesimistik sampai membatin begini: "Entah apa yang harus kami lakukan untuk mengejar ketertinggalan itu."

Jadi bagi bangsa Indonesia, rajin dan tabah saja masih kurang. Belum ada nilai tambahnya. Masih dari senior tadi, dia menambahkan, bangsa lain itu punya budaya on-time yang hebat. "Bahkan di tempat hiburan pertunjukan anak, orang Barat sangat menghargai waktu. Aku pernah hanya telat sekitar 10 menit ke tempat pertunjukan, namun waktu negosiasi dengan petugas sambil menunjukkan  tiket, mereka bilang pertunjukan sudah mulai dan bila aku masuk akan mengganggu konsentrasi orang yang sedang menonton. They are very punctual person." Padahal soal jadi "punctual person" sebenarnya kita pun sudah dilatih, misal dari jadwal ibadah dan deadline. Tapi entah kenapa rasanya masih belum berpengaruh besar pada hidup kita.

Apa ini soal skala kemassifan? Secara individu ada banyak di antara kita yang etosnya sangat rajin, bekerja keras, tepat waktu, dan profesional. Tapi karena jumlahnya masih minoritas dibandingkan bangsa Indonesia secara keseluruhan, kebiasaan baik itu masih gagal menciptakan budaya massa yang mampu mengalahkan secara telak kebiasaan buruk sebuah bangsa. Akibatnya, kita bangsa Indonesia masih begini-begini saja. Kekurangan, cacat, dan pelanggarannya masih terlalu banyak dibandingkan upaya memperbaikinya.

Contoh pengalamanku sendiri. Meski jadwal berangkat persis pukul 04.00, sering mobil travel baru berangkat lima belas menit atau bahkan setengah jam kemudian. Kenapa? Menunggu penumpang yang ketinggalan. Lebih parah lagi, beberapa kali kejadian mobil ternyata belum ada di lokasi. Akibatnya para penumpang jelas terlambat sampai di tujuan. Kawanku yang rutin naik KRL juga begitu. Gangguannya ada-ada saja. Entah jalur rusak, mati listrik, ubah jadwal seenaknya, atau antre giliran. Akibatnya, penumpang terlambat dan terlantar. Padahal mereka sudah berangkat jauh lebih pagi dan mengantisipasi kejadian buruk.

Seorang instruktur Barat pernah menyebutkan kunci kemajuan bangsanya: "Ini bukan untuk merasa jadi arogan. Barangkali pengalaman bicara. Kami belajar. Kami menemukan dan mencari." Aku memperhatikan, bagian paling sulit dari pencapaian itu antara lain soal penghargaan (apa pun bentuknya, berupa apresiasi maupun uang), upaya mencapai kesempurnaan (inovasi), juga eksplorasi dan suasana kompetisi.

Ada komentar, kawan-kawan? Apa yang harus kita lakukan untuk mengejar ketertinggalan itu? Apa ini soal karakter bangsa atau benar-benar soal sikap? Kasih tahu aku, biar kita tetap optimistik.[]

Tanah Abang, 03/29/2011

Monday, June 21, 2010


Mereka Sudah Dewasa dan Kita Hanya Beruntung
---Anwar Holid

Dulu seorang kenalanku jadi sorotan di komunitasnya. Dia seorang suami beranak tiga. Kawan-kawan di komunitasnya mensinyalir bahwa dia berselingkuh dengan seorang gadis. Kawan-kawannya tampak yakin bahwa perselingkuhan itu sudah dibarengi dengan zina. Seseorang pernah berkali-kali melihat pasangan ini sering ada di kamar berlama-lama, atau kawan sekantornya akhirnya memergoki bahwa hp mereka penuh dengan sms mesra a la chatting cybersex. Setelah terbongkar, kawan-kawan mereka ribut, bahkan konon sampai menjatuhkan sanksi sosial dan etika kepada mereka berdua, yaitu mengasingkan kedua orang ini dari pergaulan komunitas sekaligus mengawasinya.

Pada dasarnya aku kurang peduli dengan hal semacam itu, jadi aku melewatkannya. Aku enggak selera. Aku memang dengar, tapi aku diam saja. Sampai suatu hari seorang kawan lain membicarakan perselingkuhan itu kepadaku.
"Kalau begitu kenapa mereka bisa sampai selingkuh?" tanyaku setelah didahului ini-itu.
"Katanya dia enggak bahagia dengan istri dan perkawinannya. Sementara cewek ini suka dengan dia sejak lama."
"Cocok dong kalau begitu," komentarku ringan.
"Mereka itu sebenarnya saling jatuh cinta."
"Apalagi kalau begitu. Terus apa yang salah dengan jatuh cinta? Kan boleh?"
"Ah, kamu ini. Jodohnya bukan dia. Lagian, dia kan sudah punya istri dan anak."
"Memang apa yang bisa menghalangi orang dari jatuh cinta?"
"Tapi selingkuh itu dosa!"
Huahahaha... aku ngakak habis-habisan. "Katanya cinta itu jorok, bisa terjadi pada siapapun dan di manapun. Budaya dan agama juga memberi kesempatan buat laki-laki punya istri lebih dari satu. Memang jatuh cinta bakal ciut sama dosa? Kan enggak. Gimana orang bisa jatuh cinta kalau enggak ada kesempatan untuk memupuknya?"
"Ah, kamu memang enggak peduli sama dosa."
"Aduh, mereka itu kan sudah pada dewasa. Sudah bisa bertanggung jawab pada pilihan perbuatan masing-masing. Mereka siap kok dengan risikonya. Katanya orang dewasa boleh berbuat apa saja."
"Ah dasar kamu juga ingin kayak dia!"

Perkawinan, rumah tangga, dan cinta itu merupakan hal rumit sekaligus sederhana. Orang dewasa kerap menempatkan perkawinan atau hubungan seksual pada posisi sakral, membebaninya dengan berbagai anggapan dan konsep berat, padahal perkawinan bisa turun hanya jadi persoalan sama-sama suka dan persetubuhan. Kalau sudah begitu, dosa tak lagi jadi urusan. Orang bisa menikah dengan alasan apa saja dan mungkin bisa jatuh cinta secara tak terduga pada siapa saja. Kalau kamu rockstar, kamu bisa mencecerkan sperma pada banyak wanita. Ah, enggak perlu jadi rockstar. Tinggal membulatkan keberanian saja. Kalau kita perhatikan rubrik konsultasi perkawinan (rumah tangga) di berbagai media, segala persoalan hidup bisa mempengaruhi rumah tangga. Mulai dari soal penghasilan, keyakinan, hubungan seksual, relasi perilaku suami-istri, sampai pandangan terhadap masa depan dan detail-detail kehidupan. Semua menguras energi dan emosi; bisa menguras biaya dan air mata. Suami istri bisa bermasalah karena apa saja, termasuk mengenai urusan yang kabur. Misalnya pada awal Juni ini aku membaca berita di Yahoo! bahwa pasangan Al & Tipper Gore memutuskan bercerai setelah menikah selama 40 tahun.

Al Gore adalah mantan Wakil Presiden Amerika Serikat di masa pemerintahan Bill Clinton. Dia penerima Hadiah Nobel Perdamaian yang sukses menggalakkan kampanye kesadaran terhadap lingkungan hidup lewat film "An Inconvenient Truth" dan secara signifikan mampu memopulerkan istilah "global warming." Sementara gebrakan Tipper Gore sebagai ibu wakil presiden ialah ketika sukses menggolkan petisi Parents' Music Resource Center (PMRC) agar melakukan rating pengawasan terhadap isi rekaman dalam industri musik, terutama terhadap lirik lagu kasar mengenai masalah seksual, pemujaan terhadap penggunaan narkoba, satanisme, atau segala bentuk perlawanan terhadap otoritas mapan. Lembaga inilah yang berhak memberi stempel sebuah album bisa dilabeli stiker 'Parental Advisory: Explicit Lyrics/Contents' yang kontroversial.

Kenapa pasangan serasi ini akhirnya bubar? Alasan utamanya kabur. Juru bicara mengatakan bahwa mereka berdua pada tahun-tahun terakhir ini sering hidup terpisah karena aktivitas masing-masing. Jadi kayaknya memang lebih baik pisah. Benar, pasangan Al & Tipper Gore boleh dibilang mesra, serasi, dan berkali-kali sukses menghadapi krisis keluarga, misalnya ketika salah seorang anaknya direhabilitasi dari ketergantungan narkoba. Pasangan ini berbanding terbalik dengan Bill & Hillary Clinton yang kerap guncang karena Bill Clinton sering selingkuh. Al Gore sejauh ini rasanya tidak pernah diberitakan selingkuh.

Aku berpikir sederhana: suami-istri ini sudah tua (lebih dari dewasa), sementara anak-anaknya juga pada dewasa; pastilah mereka punya pilihan terbaik sendiri-sendiri. Enggak usah diceramahi lagi. Kalau sudah tidak saling rela terhadap pasangan, lebih baik bubar saja. Jalan sendiri-sendiri, siapa tahu nanti ada gantinya. Atau suatu saat rujuk lagi. Kesempatan lain pasti terbuka. Daripada bersatu tapi tersiksa.

Apa arti jadi manusia dewasa? Artinya ia benar-benar tumbuh berkembang dan matang. Dia sadar dengan pilihannya. Tahu apa yang diinginkannya. Perlukah kita khawatir dengan orang dewasa? Tidak. Tidak perlu manusia dewasa dinasihati ini-itu, karena belum tentu mempan dan ia punya ribuan pilihan lain. Kalau ada buah matang, kita tinggal memakannya. Begitu juga dengan manusia. Orang dewasa itu sempurna. Dia sempurna dengan kelengkapannya. Dia boleh berbuat apa saja. Dia dipersilakan melakukan apa pun. Dia bisa bertindak apa saja. Dia hanya terbatas oleh kekurangan-kekurangannya. Dia hanya perlu bertanggung jawab atas perbuatan sendiri, baik pada diri sendiri atau pada nilai yang dia yakini. Orang lain hanya perlu mengamini atau memaklumi kalau prihatin. Kenapa, sebab sebagai sesama manusia dewasa, pada dasarnya kita ingin melakukan kegiatan tanpa halangan sedikit pun. Manusia dewasa ingin bebas mutlak; penghalangnya hanya orang lain, aturan, dan kefanaan.

Maka begitulah kita saksikan betapa perilaku manusia dewasa kerap mengejutkan. Fenomenanya ada-ada saja. Kadang kala di luar dugaan dan abnormal. Padahal sebenarnya itu ditujukan untuk memahami bahwa yang normal itu begitu luas dan relatif. Sesuatu yang dianggap abnormal bisa menjadi normal setelah terus-menerus dibiasakan oleh sistem tertentu atau seseorang. Tidak ada patokan standar untuk menjalani kehidupan. Betapa dengan menjadi manusia, ia bisa bertualang melakukan hal-hal mengejutkan. Kebiasaan didobrak, etika dilanggar, pakem dibengkokkan, otoritas dipertanyakan, digugat, dilecehkan, ditendang-tendang. Yang sakral dilawan. Aturan diterabas. Mereka yang percaya pada aturan terlalu mudah tersinggung bahwa dunia bakal runtuh oleh berbagai perbuatan yang dilakukan oleh orang dewasa. Tapi satu hal, sebagai sekumpulan makhluk sosial dan organisasional, manusia memang memiliki aturan, ketentuan, dan hukum. Hampir seluruh aspek manusia merupakan negosiasi antara kebebasan, peraturan, dan celah-celah untuk mendobrak, mungkin melakukan inovasi, atau bersandar pada preferensi tertentu yang dianggap bagus. Kalau bukan itu, tambahannya ialah keajaiban yang kadang-kadang terjadi meskipun sulit dimengerti.

Dengan kebebasannya, manusia boleh makan manusia lain, tapi orang akan menamakannya kanibal. Orang boleh mengambil milik siapapun, tapi hukum akan menyebutnya mencuri. Orang boleh bersetubuh dengan siapapun, tapi kalau bukan dengan pasangan resminya, itu disebut zina. Orang boleh mengambil nyawa orang lain, yang disebut membunuh, atau baru terjadi dalam situasi perang. Perempuan boleh menggugurkan janin yang dia tolak, termasuk lewat aborsi. Dalam keadaan normal, hal-hal seperti itu kemungkinan dilarang terjadi. Tinggal manusia berani melakukan atau tidak. Mari kita lihat contohnya di Amerika Serikat. Pornografi dan perzinaan dilegalisasi untuk kemudian menjadi industri yang menguntungkan negara, mendatangkan pajak, devisa, melahirkan kesejahteraan dan popularitas, bahkan ada penghargaannya. Sementara di Indonesia pelaku pornografi dan zina bisa dihujat dan dituding meruntuhkan moral. Padahal pelaku itu awalnya berbuat untuk bersenang-senang, berekreasi, tak ada dalam pikiran mereka soal moral dan tindakan asusila. Tapi begitulah, massa bisa menggunakan aturan untuk menyeret mereka jadi pesakitan---bahkan sebelum masuk pengadilan. Kita ingat selingkuh atau zina sejumlah orang, baik yang sudah terkemuka maupun malah jadi terkemuka setelah berzina, semua dilakukan karena mereka sudah dewasa dan bersenang-senang dengan kebebasannya. Kita hanya beruntung masih tertutupi aib dan skandalnya. Belum terbongkar kebejatan moralnya. Kemaluannya belum ditelanjangi. Jadi, berhentilah menghujat, apalagi sok mau menegakkan moral. Malulah pada diri sendiri. Mending menikmati aksi mereka, kalau mau dan tahan. Habis jelek begitu kualitas audio-visualnya. Enggak ada menariknya dan gagal membangkitkan selera. Atau kalau mau introspeksi: ayo segera hancurkan barang bukti yang bisa menjebak atau mencelakakan kita sendiri nantinya.[]6/14/2010

Anwar Holid, berusaha baik karena takut.

Ini bagian dari [halaman ganjil].

Wednesday, November 04, 2009


Pink Floyd ketika masih berlima.

Crazy Diamonds, You Shine Like the Sun
---Anwar Holid

Pada edisi Oktober 2008, UNCUT menerbitkan cover story berjudul "Pink Floyd 30 Greatest Songs" yang antara lain dipilih sendiri oleh Dave Gilmour, Nick Mason, dan puluhan insan musik lain, terutama kalangan dekat mereka, seperti manajer, desainer cover, produser, sound engineer, konduktor, musisi junior yang amat terpengaruh oleh mereka, fotografer sezaman mereka, dan lain-lain. Secara menyesakkan Roger Waters terpaksa diabaikan sebagai pemilih, karena dia secara hukum dilarang menggunakan nama Pink Floyd; sementara Richard Wright dan Syd Barrett sudah meninggal.

Ke-30 lagu itu ialah:
01. Shine on your crazy diamond
02. See emily play

03. Interstellar overdrive

04. Arnold layne

05. Another brick in the wall (part 2)

06. Wish you were here

07. Set controls for the heart of the sun

08. Astronomy domine

09. Jugband blues

10. Fearless

11. Lucifer

12. Careful with that axe, eugene

13. Atom heart mother (suite)

14. Is there anybody out there?

15. Breathe

16. Goodbye bluesky

17. Apples and oranges

18. Comfortably numb

19. Have a cigar

20. See-saw

21. One of these days

22. High hopes

23. Brain damage

24. Chapter 24

25. Fat old sun

26. Time

27. If

28. Green is the colour

29. Money

30. Echoes


Buat aku sendiri, daftar ini lebih memuaskan dibandingkan seleksi dalam Echoes - The Best of Pink Floyd (2001). Entahlah, urutan tersebut merupakan hierarki atau acak. Tapi kalau sekilas diperhatikan, boleh jadi alasannya kesetimbangan. Daftar itu diawali dengan lagu yang amat panjang (25 menit), ditopang lagi di tengah-tengah (23 menit), dan ujungnya (23 menit). Echoes kekurangan aspek itu, bahkan sengaja memberikan edisi potongan untuk lagu-lagu panjang.

Yang mungkin cukup seru, tak ada lagu terpilih dari album The Final Cut dan A Momentary Lapse of Reason. Sementara lagu dari The Dark Side of the Moon dan The Wall mendominasi. Sebagian kritikus maupun penggemar Pink Floyd menilai bahwa The Final Cut merupakan album solo Roger Waters yang harus dikerjakan anggota Pink Floyd, dan sebaliknya, A Momentary Lapse of Reason kerap dinilai sebagai album solo Dave Gilmour yang dikemas atas nama Pink Floyd, minus Roger Waters. Namun lebih dari semua itu, ke-30 lagu itu memperlihatkan rentang karir dan karya Pink Floyd secara seimbang.

Perjalanan karir Pink Floyd terbagi dalam tiga fase utama. Pertama di awal terbentuknya band itu, di bawah kepemimpinan Syd Barrett. Kedua setelah Barrett meninggalkan band itu karena emosinya labil dan sakit mental, dan kepemimpinan segera diambil alih oleh Roger Waters. Ketiga setelah ketiga anggotanya berseteru dan bermusuhan dengan Roger Waters, dan akhirnya ganti David Gilmour memimpin Pink Floyd. Periode pertama dan ketiga berlangsung relatif sebentar bila dibandingkan periode ketika mereka menghasilkan sejumlah master piece dengan arahan artistik di bawah Roger Waters.

Menurut statistik, Roger Waters punya andil 70 % dari semua karya Pink Floyd. Meski begitu, harus diakui statistik itu tidak berarti mengesampingkan kualitas sumbangsih keempat anggota lainnya. Ada banyak lagu Pink Floyd yang dengan mudah memperlihatkan virtuositas masing-masing anggota. Contoh peran Richard Wright dalam The Great Gig in the Sky; Dave Gilmour dalam One of These Days, dan Nick Mason dalam Echoes. Jadi meskipun Syd Barrett sudah lama sekali inaktif dan Roger Waters secara menyakitkan kalah di pengadilan, ruh keduanya masih begitu terasa dalam karya Pink Floyd. Bahkan boleh dibilang kedua orang itu senantiasa menghantui Pink Floyd dan menjadi patokan bagi setiap karya mereka. Karya, reputasi, dan sosok mereka mustahil tumbang hanya oleh kegilaan maupun arogansi dan egoisme.

Mendengarkan ke-30 lagu itu membuat aku seakan-akan menyaksikan layar lebar berisi perjalanan sebuah band yang sarat drama, kegilaan, kreativitas, sekaligus ironi, kesedihan, dan perseteruan.

"Kami tak pernah berhasrat ingin jadi terkenal ataupun bintang rock 'n' roll," kata Richard Wright. Di awal formasi sebagai band kampus Regent Street Polytechnic, bisa jadi niat itu jujur. "Kami lebih ingin jadi seniman daripada musisi rock," kata Nick Mason dalam BBC 7 Ages of Rock bagian 2. Dari latar belakang keluarga, semua anggota Pink Floyd berasal dari golongan kelas terdidik-mapan. Kemakmuran sudah menjadi bagian mereka sejak orok. Jadi mereka lebih butuh aktualitas atau keinginan mencapai status baru yang prestisius.

Richard Wright sendiri, misalnya, jauh lebih terpengaruh Miles Davis (pemain trumpet & komposer jazz terkemuka) dibanding pemain piano/keyboard dari ranah rock. Album debut mereka, The Piper at the Gates of Dawn (Agustus 1967), juga tampak merupakan album rock yang nyeleneh daripada mudah didengar dan didendangkan. Apalagi mereka sejak awal menampilkan instrumental rumit berdurasi cukup panjang, Interstellar Overdrive (9,41 menit), dan nanti ditradisikan di album ke-2, dengan A Saucerful of Secrets (12 menit.) Mana ada grup rock biasa berani melakukan terobosan seperti itu? Kecenderungan itu sudah agak lain bila dibandingkan dengan pendekatan The Beatles yang tengah sedang populer.

"Kami memainkan musik yang sulit dipahami perusahaan rekaman," papar Wright. Tapi lepas dari itu, eksperimen dan jangkauan musik mereka sungguh luar biasa. Bila mula-mula mereka main di klub underground, lama mereka mengemuka, jadi pionir, dan sangat berpengaruh. Merekalah bapak dari genre psychedelic rock, art rock maupun progresif rock. Dan lebih dari itu semua, keberhasilan mereka secara komersial nyaris tak tertandingi oleh grup mana pun yang sealiran mereka. Gabungan musik mereka---blues, rock, jazz, bunyi-bunyi "aneh"---kerap bernuansa depresif, bahkan disisipi oleh jeritan atau lolongan orang, belum lagi raungan gitar, timpalan bebunyian dari keyboard, dentuman bass, juga suara-suara kehancuran dari simbal dan tempo yang bikin gelisah dari drum. Lagu seperti "Shine on your crazy diamond", "Echoes", "Interstellar overdrive" merupakan contoh sempurna dari musik Pink Floyd yang kompleks, namun terasa dalam, seakan membawa pendengarnya ke lorong jauh atau melesak ke dalam bawah laut nan mencekam. Tapi sejumlah lagu normal Pink Floyd juga sangat mudah diingat, enak didengar dan didendangkan, misalnya Goodbye bluesky, Wish you were here, dan If (balada), Comfortably numb (bernuansa slow rock yang anthemic), dan yang paling legendaris: Another brick in the wall (part 2).

Wajar ketika EMI pertama kali mengontrak mereka, Pink Floyd digadang-gadang akan mengubah perjalanan musik. Tapi yang pertama-tama terjadi bukanlah sukses gila-gilaan, melainkan kegilaan dalam arti harfiah. Sakit itu menyerang motor mereka, Syd Barrett, mahasiswa seni yang kreatif dan eksentrik. Perilakunya yang aneh dan labil, konon terutama disebabkan oleh kecanduan narkotika jenis LSD yang membuat orang berhalusinasi, membuat riwayat seninya benar-benar tamat. Dalam keadaan labil, misalnya ketika di panggung, Barrett hanya bisa mondar-mandir, membuat bingung teman-temannya yang main musik dengan serius. Sementara massa penonton, yang kerap terpesona oleh mitos dan salah anggap, malah mengira itu bagian dari pertunjukan, senang melihatnya. Antik. Di studio, kadang-kadang Barrett mencoba menawarkan lagu baru kepada teman-temannya, tapi setiap kali latihan, iramanya selalu ganti-ganti, dan lama-lama membuat mereka frustrasi. Klimaksnya, Barrett dipecat dan ditinggalkan oleh teman-temannya, terutama atas inisiatif Roger Waters. Untuk menopang gitar dan vokal atas absennya Barrett, mereka meminta teman main gitar Barrett untuk bergabung, namanya David Gilmour.

Begitu Barrett inaktif, Waters mengambil peran sebagai pengendali utama musik Pink Floyd. Bahkan segera menjadi motor penggerak paling utama. Tapi dia pun rupanya punya trauma dan sifat arogan dan egois berlebihan, yang di puncak pertentangan justru membuatnya jadi seorang desertir. Pink Floyd masa Roger Waters merupakan periode emas. Mereka menghasilkan sejumlah album legendaris yang luar biasa, terutama Meddle, Dark Side of the Moon, Wish You Were Here, Animals, dan The Wall. Namun dominasi Waters akhirnya keterlaluan sampai membuat semua orang di sekelilingnya bermasalah, dan akibatnya memusuhi dia. Waters bahkan pernah memecat Richard Wright usai pembuatan The Wall.

"Ada pertentangan pribadi yang amat besar antara aku dan Roger, sampai pada titik aku mustahil bisa bekerja sama lagi dengan orang itu. Jadi aku cabut," kata Wright.

Bahkan saudara perempuan Barrett saja bisa bersaksi betapa Waters jadi menyebalkan. Konon, salah satu sebab Waters jadi selfish ialah karena dia kehilangan ayah sejak kecil. Di puncak ketegangan itu, Waters membubarkan Pink Floyd setelah merilis The Final Cut. Tapi rupanya Mason dan Wright---sebagai sesama founding member---menolak prakarsa itu, apalagi David Gilmour dan produser juga ada di belakang mereka. Gilmour sudah bukan anak bawang lagi. Dia telah menjelma sebagai salah satu gitaris rock terhormat sedunia dan lagu ciptaannya maut. Maka peranglah mantan empat sekawan itu di pengadilan, memperebutkan nama Pink Floyd dan harta gono-gininya. Keputusan pengadilan mungkin lebih menyakitkan lagi buat Waters, sebab Mason dan Gilmour memenangi perkara, berhak atas mayoritas lagu band itu, dan lebih penting lagi: mereka yang berhak menggunakan nama Pink Floyd. Waters memboyong semua isi hak cipta album The Wall---hanya berbagi sedikit dengan Gilmour yang ikut menciptakan 1-2 lagu di sana, dan seluruh isi The Final Cut, dan maskot balon babi Pink Floyd.

Bisa jadi keputusan itu fatal bagi Waters. Sebagai brand, Pink Floyd merupakan nama besar. Trio ini terus mentas dan berkarya. Pertunjukan Pink Floyd konon sulit sekali ditandingi karena begitu spektakuler, terutama dari segi visualisasi, efek, teknologi, dan cahaya. Mereka menghasilkan dua album studio A Momentary Lapse of Reason (1987) dan Division Bell (1994)---album terakhir mereka sejauh ini. Di sela-sela itu mereka merilis dobel album live, A Delicate Sound of Thunder dan P*U*L*S*E*, ditambah kompilasi the best, Echoes: The Best of Pink Floyd (2001.) Konser Pink Floyd senantiasa penuh sesak, dan pada 1997 mereka mencatat rekor sebagai salah satu band dengan pendapatan konser terbesar di dunia; puncaknya pada 1994 ketika mereka mencatat rekor mendapat 193,6 juta dolar AS dari 59 kali show.

Sementara itu, pertunjukan paling kolosal Roger Waters bisa jadi waktu dia menggelar konser The Wall - Live in Berlin (1990) di Jerman, untuk memperingati runtuhnya Tembok Berlin delapan bulan sebelumnya. Tapi meski ditonton sekitar 250.000 orang, secara finansial harapan dia gagal---boleh jadi karena awalnya ini merupakan konser amal, sementara penjualan albumnya enggak balik modal. Waters sendiri tetap konsisten mengusung konsep album dalam album solonya, tapi suksesnya hanya biasa saja, jelas sulit bila dibandingkan dengan Pink Floyd.

Perseteruan satu lawan tiga itu ternyata ada akhirnya. Pada 2 Juli 2005 Pink Floyd ikut dalam konser amal Live 8 yang diinisiasi oleh Bob Geldof. Reuni itu sangat bersejarah, dinanti-nantikan semua penggemar Pink Floyd nyaris seperempat abad lamanya, sebab kuatir batal, terutama takut bahwa kebencian Waters pada Gilmour mengemuka dan merusakkan momen itu. Tapi syukurlah, walau di bawah tekanan, mereka sukses reuni untuk membawakan "Breathe", "Money", "Wish You Were Here" dan "Comfortably Numb." Setelah konser para penggemar berharap lebih jauh dari itu; tapi itu agak mustahil. Positifnya, reuni itu memperbaiki hubungan mereka. Nick Mason kembali akur dengan Rogers dan diajak untuk main drum di konser Roger Waters, termasuk ketika dia membawakan seluruh isi album The Dark Side of the Moon di Hyde Park, London.


Jelas karena renta dimakan usia, setelah konser Live 8 itu Richard Wright sakit-sakitan, bahkan batal menghadiri pelantikan Pink Floyd terpilih masuk dalam UK Music Hall of Fame, pada 16 November 2005. Dan kira-kira dua tahun setelah ikut dalam konser David Gilmour Live in Gdansk (Polandia), Wright meninggal dunia pada 26 Agustus 2008. Itulah penampilan terakhirnya di panggung. Dua tahun sebelumnya, pada 7 Juli 2006, Syd Barrett diberitakan meninggal dunia pada umur 60 tahun.

Sekarang Pink Floyd telah jadi jimat dan reruntuhan. Mereka menyisakan warisan yang besar. Tiga anggotanya yang masih hidup sudah pada tua, gemuk, lamban, tapi juga lebih bijak, dan mau mengakhiri karir dengan cara lebih baik. Selain pernah menampilkan sisi gelap kehidupan dalam diri masing-masing, toh berlian-berlian ini tetap bersinar.[]

Anwar Holid, penggemar Pink Floyd yang belum pernah merasakan LSD. Dia bekerja sebagai editor dan penulis, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@yahoo.com | Tel.: (022) 2037348 | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141

Situs terkait:
http://zine.rukukineruku.com/?p=331 (esai tentang kreativitas dan kegilaan Syd Barrett oleh Budi Warsito)
http://en.wikipedia.org/wiki/Category:Pink_Floyd

Contoh lagu Pink Floyd:
http://www.mediafire.com/?jjjtdmrnmxw (The Great Gig In The Sky)
http://www.mediafire.com/?bzithh3g1nz (Is There Anybody Out There?)
http://www.mediafire.com/?x21qjtmyu25 (Jugband Blues)

[HALAMAN GANJIL]


Nasi Goreng à la Wartax atau Upaya Jadi Ayah yang Baik
---Anwar Holid


Setiap anak normal pastilah punya kenang-kenangan mengesankan dengan orangtuanya. Aku, kini berumur 36 tahun, masih ingat ibuku yang kadang-kadang suka membuatkan pisang goreng kalau aku habis hujan-hujanan waktu aku masih SD. Rasanya, itulah pisang goreng paling nikmat yang pernah aku makan. Ayahku juga suka membakarkan singkong atau ubi jalar di tungku kami. Ya, sampai di zaman Facebook sekarang orangtuaku masih memasak dengan kayu bakar atau kompor minyak tanah. "Takut meledak," kata ibuku waktu aku tanya kenapa dia tak punya kompor gas. Lagian, seingatku di kampung dia belum ada subsidi pemberian kompor gas gratis.

Ayahku juga biasanya selalu mau bila aku minta diambilkan kelapa muda. Aku memang kurang lancar memanjat pohon kelapa, apalagi setelah jadi "anak kota" yang tinggal di Bandung. Aku sudah lupa kapan terakhir kali benar-benar memanjat untuk mengambil kelapa sendiri.

Kini aku punya dua anak. Sang sulung kelahiran tahun 2000, adiknya kelahiran 2006. Tinggal di Bandung yang kini dianggap sudah tercemar, membuat ibu mereka melarang hujan-hujanan. Takut pilek atau sakit. Menurutku ketakutan itu berlebihan, tapi mungkin beralasan. Memang, kalau hujan lebat dan air meluap-luap sampai ke jalan, baru terasa betapa busuk dan kotor air umum di Bandung. Itu lain sekali waktu aku masih kecil dan justru terbiasa hujan-hujanan di kampung.

Si sulung kini sudah kelas 4 SD. Kadang-kadang, kami enggak punya makanan yang siap dia santap buat sarapan sebelum berangkat sekolah. Roti, yang sesekali kami beli, sudah habis, sementara makanan kemarin juga sudah ludes malamnya. Yang tersisa hanya sedikit nasi di rice cooker. Ilalang---anak sulung kami---suka berinisiatif bikin telur ceplok sebagai lauk. Dia sudah cukup lancar bikin telur ceplok atau dadar. Kadang-kadang bumbunya suka aneh-aneh, pokoknya yang dia anggap menarik, suka dia gunakan, padahal bisa jadi malah bikin enek. Misalnya dia pernah pakai kecap asin buat telur ceplok.

Kalau lagi rajin, biasanya aku suka segera membuatkan nasi goreng buat sarapan Ilalang dan Shanti. Aku sudah lama terbiasa bikin nasi goreng, mungkin sejak SMA. Biasanya aku paling suka mencampur resepnya dengan teri, tapi ternyata tidak setiap saat kami punya teri. Dulu aku bikin semacam resep yang dijadikan sambal dulu sebelum aku goreng dan akhirnya dicampur nasi. Resep ini menurutku agak merepotkan, karena aku harus mengulek bumbu-bumbunya dulu sampai jadi saus. Ada resep yang jauh lebih sederhana, dengan hasil masih cukup mantap---setidaknya menurut anak-anakku. Resep ini aku dapat dari Fenfen, setelah kami nikah.

Aku cukup mengiris-iris setipis mungkin bawang merah sesuai banyaknya nasi yang akan digoreng. Sementara bawang putih dimemarkan dulu sampai hancur, lantas dicacah-cacah sekecil mungkin. Setelah itu digoreng dan diaduk-aduk sampai harum dan kelihatan menguning. Begitu siap, campur ia dengan garam, penyedap (favorit Fenfen ialah Knorr), dan kecap Bango, terus diaduk-aduk sampai menyatu. Terakhir, masukkan nasi, lantas digoreng sampai bumbu itu merata ke seluruh nasi. Bila sukses, semuanya akan berwarna merah tua. Dengan begitu, perut kedua anakku cukup terisi sampai siang.

Ini foto nasi goreng, ngambil dari internet, via Google.

Ilalang suka rada pedas, sementara Shanti jangan terasa cabai sedikit pun. Jadi buat Shanti didahulukan, baru dicampur cabai buat Ilalang. Satu hal, aku tak pernah lagi mencampur telur untuk nasi goreng. Ini jelas ajaran Fenfen. Kata dia, telur itu bikin anyir nasi goreng. Bikin selera makan hilang. Kalau mau bikin harus dipisah.

Kenapa harus kecap Bango? Yah, ini kelihatannya seperti iklan yang dipaksakan. Menurut Fenfen, itulah satu-satunya kecap yang dia yakini rasa dan kualitasnya. Keyakinan itu dia dapat dari ibunya. Jadi lidahnya lidah kecap Bango. Bahkan dia punya cerita lucu tentang itu. Ceritanya, dulu suatu hari ibunya minta ayahnya beli kecap. Ayahnya ternyata malah beli kecap ABC. Ibu mertuaku itu langsung menyergah, "Ceuk enong geh kecap Bango, Aa..." (Kata aku juga kecap Bango, Aa...) dengan gerakan tertentu. Bagi dia, selain kecap Bango itu bukan kecap. Jadi, sejak nikah, merek itulah yang tersedia di rumah kami sekarang. Saking fanatik, Fenfen bisa minta bumbu sate pesanannya jangan dikasih kecap. Biar nanti saja di rumah dicampur dengan kecap Bango.

Aku sendiri enggak punya fanatisme, apalagi bila cuma soal kecap. Kecap adalah kecap, mau ia Bango, ABC, Noni, Merak, atau merek lain. Tapi diingat-ingat, memang iklan kecap Bango yang paling aku ingat di radio dulu, ketika mereka mengklaim jangan khawatir ada perang dunia, selama ada kecap Bango. Waktu itu memang zaman perang dingin antara Amerika Serikat dan Uni Sovyet.

Aku cukup menikmati bikin nasi goreng sederhana itu. Pamrihnya ialah semoga di hati mereka aku cukup melekat jadi ayah yang baik dan menyenangkan buat anak-anakku. Biar mereka nanti bisa mengenang aku sebagai ayah yang baik, lepas dari segala kekurangan dan ketidaksabaranku setiap kali terdesak. Aku terharu setiap kali Shanti menghabiskan sepiring nasi goreng buatanku itu. Berbeda dengan Ilalang yang cukup bisa makan semua, Shanti pilih-pilih banget. Kadang-kadang agak lama setelah bangun, pagi-pagi dia sudah teriak, "Ayaaah, Kati minta nasyi goweng..." Dia masih cadel. Tapi aku yakin dia cukup antusias dengan masakanku.

Pelan-pelan aku menghidupkan lagi kenangan mesra masa kecil, ketika aku dibikinkan makanan oleh orangtuaku. Mungkin, itulah berkah jadi anak dan orangtua sekaligus.[]

Anwar Holid, suami beristri satu, ayah beranak dua. Bekerja sebagai editor dan penulis, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@yahoo.com | Tel.: (022) 2037348 | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141

Tuesday, June 23, 2009



KALAU KAMU INGIN MELANJUTKAN, LEBIH CEPAT, ATAU MEMBERI KEJUTAN

---Anwar Holid


Dalam dua kali Jumatan ini, tukang khotbah di depanku selalu bicara tentang pemilihan presiden 2009 yang akan datang. Entah kenapa selama khotbah itu aku juga tidak ngantuk dan mendengarkan pesan mereka. Tentu saja pesan mereka moralistik dan nyaris absurd, sebab menginginkan pemimpin yang tidak tersedia dalam pilihan. Mereka bilang, pilihlah pemimpin yang adil bijaksana, bertakwa kepada Tuhan, menolong orang miskin, meneladani moral dan tindakan Muhammad Saw. Pesan itu membuat hatiku tertawa sebelum akhirnya ikut shalat Jumat.

Rumus pemilihan presiden tahun 2009 ini sebenarnya sederhana. Kalau kamu ingin MELANJUTKAN semua yang terjadi di Indonesia selama ini, pilihlah SBY-Boediono. Kalau kamu yakin bahwa LEBIH CEPAT LEBIH BAIK, pilihlah JK-WIRANTO. Kalau kamu ingin MEMBERI KEJUTAN kepada negerimu, tinggal pilih MEGA-PRABOWO. Kalau kamu malas dengan tiga pilihan itu, tidurlah pada hari pemilihan umum atau sibuk ikut Facebook. Setel musik, putar film, lihat gosip, baca tabloid. Ada banyak pilihan menarik juga di hari itu, dan sisanya kemungkinan tetap akan baik-baik saja sampai lima tahun ke depan.

Tapi bagi sebagian orang, pemilihan presiden itu penting. Budi Warsito, temanku yang tinggal di Ujung Berung bilang, "Pemilihan presiden itu penting lho mas. Kan menentukan kepala negara. Mau apa kita kalau salah pilih? Jadi aku akan milih satu di antara dua. Satu lainnya itu mah sudah jelas bukan pilihan. Enggak mau saya milih itu." Urip Herdiman Kambali, penyair tinggal di Jakarta, dalam posting "Isu Pertahanan Dalam Kampanye Pilpres 2009" membahas betapa memprihatinkannya wawasan pertahanan ketiga calon pasangan kepala negara itu---meskipun tiga-tiganya punya unsur militer. Dua orang tukang khotbah barusan jelas akan ikut mencontreng, meski dia tentu bakal bingung sendiri menentukan siapa pasangan yang sesuai dengan pesannya. Pendapat itu akan menghantui dirinya, karena ternyata suaranya mirip gaung kosong. Sejumlah ilmuwan bayaran, tim sukses, pemeran beserta rombongan dalam iklan politik, sudah pasti akan memilih patron masing-masing. Seorang saudaraku malah lebih tegas lagi: dia akan cabut ke luar negeri kalau jagoannya kalah. Dia menolak bila harus dipimpin oleh orang bukan pilihannya. Keputusan berani.

Aku juga sudah berkali-kali menerima email baik berupa dukungan dan hujatan atas ketiga pasangan itu, tapi semua langsung aku delete. Aku menganggap itu sama dengan email ajakan bisnis internet dengan pendapatan lima milyar sebulan.

Aku sendiri hidup tanpa patron politik, sementara iklan politik hanya membuat bibirku bergerak sedikit, dan boleh dibilang sudah kehabisan patriotisme. Jadi kemungkinan aku akan sekadar jadi komentator. Negara dan politik kerap hanya membuat aku sedih. Ia sama dengan komoditas. Berguna kalau ada maksudnya. Ia digunakan untuk kepentingan tertentu. Aku nangis nonton Letters from Iwo Jima dan Flag of Our Fathers (karya Clint Eastwood), juga film-film pendek dalam 9/11, baca Angsa-Angsa Liar (Jung Chang), tapi entah kenapa itu hanya mengeraskan pendapat bahwa manusia adalah korban situasi politik.

Saking nihil, aku bahkan berspekulasi, meski penderita paranoid mengepalai negeri ini pun sebenarnya kita tetap bisa baik-baik saja. Bahkan mungkin hal itu bisa memberi peluang terjadinya kejutan. Lihatlah pengalaman sejarah. Bukankah sebagian kepala negara, kaisar, atau raja itu menderita sakit tertentu? Zaman perang dan sengsara yang hebat malah bisa membentuk manusia hebat. Sartre besar setelah dia melewati zaman perang yang fatal. Zaman penjajahan yang menakutkan memberi bekas pada karya-karya Budi Darma yang legendaris. Krisis identitas dan rasialisme di Amerika Serikat mewujudkan sosok yang berpengaruh dalam diri Barack Obama.

Zaman hedonistik seperti sekarang melahirkan filsuf dekaden seperti Michel Foucault. Kemajuan teknologi informasi memungkinkan Anwar Holid merasa perlu sibuk mengurusi soal yang dia anggap penting. Membuat setiap orang kalau mau bisa tampil sesuai gambaran yang dia inginkan sendiri.

Ayo kita awas sebentar. Rezim Suharto yang konon represif toh masih menyisakan banyak pemuja fanatik. Presiden Gus Dur yang konon pahlawan HAM, suka ceplas-ceplos, dan egaliter ternyata malah diberhentikan dengan paksa. Apa SBY-JK berhasil membuat kehidupan sosial dan ekonomi kita semua lebih baik? Apa kebijakan politik, campur tangan mereka, benar-benar merupakan wujud kemurahhatian sebagai kepala negara?

Masih ada banyak orang selamat dan baik-baik saja ketika Hitler memimpin Jerman secara mengerikan.

Ajaib. Meskipun skeptis pada politik, ternyata aku masih bisa menulis soal ini dengan gembira, seakan-akan harapan tetap ada, bahwa dengan menuliskannya aku akan bahagia. Sekilas aku perhatikan, iklan politik tiga calon presiden dan wakilnya itu hanya terdiri dari tiga jenis, yaitu (1) mengusung mitos megalomaniak, (2) dukungan-sokongan, (3) pamrih nama. Di Bandung, walikota Dada Rosada mendukung JK-Wiranto, sejumlah kaum petani ada di belakang Prabowo, dan intelektual bayaran memasang spanduk untuk mendukung SBY. Aku pilih mendukung diri sendiri.

Jadi sekarang bagaimana?

Harapanku sederhana. Semoga Jumat depan aku enggak mendengar lagi omong kosong tentang pemilihan presiden, apalagi dengan kriteria pemimpin ideal untuk bangsa ini. Atau kalau tukang khotbah tetap ngotot, semoga aku sudah tertidur, dan bangun-bangun tinggal shalat. Setelah itu, aku ingin melanjutkan, lebih cepat, dan memberi kejutan atas kerja-kerja yang jadi tanggung jawabku.[]

Monday, May 25, 2009


Bisakah kita mengeja f-r-u-s-t-r-a-s-i dengan baik?
[HALAMAN GANJIL]

Salah Eja atau Salah Pikir?
---Anwar Holid


Coba ucapkan "frustrasi" dengan lantang. Dengar baik-baik. Apa ia terdengar sebagai "frustasi"? Kalau ragu, mintalah beberapa teman Anda mengucapkannya dengan keras. Mana yang lebih sering mereka ucapkan: "frustasi" atau "frustrasi"?

Saya cek di Google, ternyata orang jauh lebih banyak menulis "frustasi" daripada "frustrasi." Kurang-lebih setengahnya. Betapa massal kebiasaan salah eja itu. Saya mengecek di arsip-arsip milis, ternyata para membernya pun, sekalipun banyak di antara mereka ialah penulis profesional dan wartawan, melakukan kesalahan serupa. Barangkali saya pun pernah melakukannya.

Baru-baru ini saya baca Our Iceberg is Melting (Elex Media Komputindo, 2007), karya John Kotter dan Holger Rathgeber. Di buku itu saya menemukan kira-kira enam kali kata frustrasi; sekali dieja sebagai f-r-u-s-t-r-a-s-i, sisanya dieja sebagai f-r-u-s-t-a-s-i. Hal serupa saya jumpai di 50 Self-Help Classics (Tom Butler-Bowdon) terbitan BIP.

Pada tahun 2007 lalu Ufuk Press menerbitkan novel karya Mark Robert Bowden, berjudul Joey, Si Frustasi yang Beruntung. Saya memberi tahu, bahwa ejaan yang benar itu ialah "frustrasi." Di dunia musik, band Tipe-X dan Ebiet G. Ade sama-sama menciptakan lagu berjudul "Frustasi." Di Bandung, ada sebuah band bernama The Frustaters. Saya yakin mereka pasti gagal bila diminta mengucapkan "frustrasi."

Salah eja seperti itu betul-betul bikin saya frustrasi. Melakukan kesalahan umum ternyata begitu mudah. Alangkah sulit menulis sesuatu sebagaimana mestinya. Apa kata itu terlalu sulit untuk kita eja? Kalau mengeja frustrasi saja susah, bagaimana lagi bila kita harus menulis: Csikszentmihalyi atau Nietzsche misalnya? Nama akhir saya yang sangat biasa saja kerap salah ditulis sebagai Cholid atau Kholid.

Apa yang kira-kira terjadi pada kita? Apa tangan dan lidah kita secara fisiologi, gen, serta budaya selalu selip dalam mengeja dan menyerap kata frustrasi atau justru pikiran kita yang menganggap bahwa yang benar ialah frustasi?[]

ANWAR HOLID, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung. Blogger di http://halamanganjil.blogspot.com. Bekerja sebagai editor dan penulis.

KONTAK: wartax@yahoo.com (022) 2037348 Panorama II No. 26 B Bandung 40141

Thursday, April 30, 2009






[TRIVIA]

Mata Staedtler 0.3
--Anwar Holid

Pada Rabu, 29 April 2009, aku menulis begini di buku jurnalku:

Aku menulis ini dengan rapido Staedtler 0.3 seri Marsmatic. Matanya aku beli barusan dari Baca-Baca Bookmart, Sabuga. Kalau nggak salah aku terakhir kali pakai Staedtler pada 2007, waktu Deden tak sengaja menjatuhkan rapidoku dan membuat jarumnya patah. Sejak itulah rapido legendarisku pensiun. Setelah itu aku minta pada Bagas Rotring 0.2-nya yang kelihatan tersia-siakan dan nganggur. Dia beri rapido itu, dan aku membersihkannya. Itulah yang aku pakai selama ini untuk mencatat dan menulis banyak hal.

Sebenarnya aku lebih suka 0.2, tapi karena tulisanku sudah kecil, justru 0.3 menolong membuat tulisanku jadi lebih terlihat dan terbaca. Aku ingat punya Staedtler 0.3 itu sejak SMA, beli di Cihapit, dan aku pakai terus-menerus, untuk menulis diari, surat, draft, jurnal, corat-coret, dan sebagainya, sampai akhirnya patah. Alangkah lama kesetiaanku pada sebuah alat tulisan.

Dibanding-banding, aku lebih suka Rotring daripada Staedtler. Bentuk Rotring lebih ramping dan ringan, sementara Staedtler gempal dan berat. Kelebihan Staedtler ia lebih mudah ditutup-buka, terutama bila akan dibersihkan--dan harganya lebih murah dari Rotring.

Aku pertama kali suka rapido waktu lihat saudaraku yang sudah mahasiswa menggunakannya untuk mengerjakan tugas dan hitung-hitungan rumus kimia dan biologi atau catatan lain. Tulisannya jadi kelihatan rapi dan enak dilihat. Ini tentu efek dari jarum dan tintanya yang amat tajam. Tinta cina Rotring atau Staedtler memang sangat hitam dan tak luntur. Sejak itu aku suka mencoba-cobanya, lama-lama ingin punya. Harga rapido memang relatif lebih mahal dari pulpen biasa, meski jelas ada banyak alat tulis yang jauh lebih mahal dari rapido. Baru ketika di SMA aku punya kesempatan beli rapido second setelah nabung beberapa lama dari menyisakan uang jajan. Gara-gara pakai rapido, ada saja orang yang nyangka bahwa aku anak arsitektur. Memang sulit melepaskan prasangka umum.

Mata Staedtler 0.3 yang aku beli ini benar-benar mengejutkan: harganya Rp.10 ribu! Jelas karena ini barang lama, meski aku yakin bukan second, karena kelihatan masih mengkilap. Yang baru, terakhir aku cek di toko ATK di Balubur, harganya Rp.50 ribu-an. Begitu lihat, aku langsung sulit menahan diri untuk tak membelinya. Seakan-akan tak percaya menyaksikan mata rapido dijual semurah itu.

Ceritanya mulai hari ini Baca-Baca Bookmart bikin garage sale bersamaan dengan pembukaan Kompas-Gramedia Fair 09 di Sabuga. Di antara majalah dan buku bekas, sepatu, rajutan, kaset, kriya, botol minuman keras, topi, cd, vcd, bahkan pupuk cair, aku lihat tumpukan mata rapido Staedtler berbagai ukuran, semua dengan harga Rp.10 ribu. Langsung aku ingat badan rapido 0.3 yang aku simpan di kardus setelah cedera parah itu. Aku simpan siapa tahu bisa beli matanya suatu ketika.

Ternyata inilah harinya. Hari ketika aku rutin mengantar Ilalang main jembe di Jendela Ide, Sabuga. Biasanya, aku nunggu Ilalang main sambil lihat-lihat & baca-baca di Baca-Baca Bookmart, pinjam buku dari perpustakaannya, ngopi, atau ngobrol berbagai hal dengan para penunggunya, tukar-menukar album musik dan mp3. Sekarang, tiap kali ke sana yang paling sering aku temui ialah Ajo, Oleh (Soleh), Nanang, dan seorang anak punk yang aku lupa namanya. Kalau nggak salah dia sering dipanggil "Bule" karena kulitnya putih, hampir selalu memakai jaket belel penuh dengan pin berisi banyak pesan. Dulu Andry & Frino sering aku temui, tapi mereka sekarang sudah punya kesibukan lain sendiri, atau datang ke Sabuga ketika aku tak datang ke sana. Sebagai gantinya, kadang-kadang aku ketemu Wiku Baskoro dari Dipan Senja/Lawang Buku. Musik Sigur Ros mengiringi garage sale kecil-kecilan ini.

"Sudah lihat-lihat ke dalam mas?" tanya Wiku. Maksud dia lihat Kompas-Gramedia Fair.
"Sudah, kayaknya pesertanya lebih banyak dari tahun kemarin ya? Standnya juga lebih rapi."
"Nggak belanja?"
"Enggak euy. Keuanganku lagi kacau. Mana kemarin Fenfen kehilangan dompet waktu pulang dari Serang."
"Gitu? Hilang di mana?"
"Di angkot, di Pasirkoja."
"Kali keselip-selip di kursi?"
"Nggak tahulah."

Waktu ambil satu mata itu, aku bilang ke Ajo, "Kalau nggak berfungsi, ini aku kembaliin ya?"
"Siplah," kata dia santai.
"Dapat dari mana nih barang-barangnya?" aku penasaran.
"Dari teman. Dia nitip."
"Kok bisa punya banyak begitu?"
"Nggak tahu tuh."

Dilihat langsung sih mata rapido itu kelihatannya masih baru. Begitu pulang, setelah ikut beres-beres rumah, aku langsung ambil badan lamanya, dan pasang. Ternyata benar. Jarumnya masih oke punya. Walhasil aku akan segera habiskan tinta di Rotring 0.2, biar bisa diistirahatkan dulu. Rotring ini kelihatan sudah tua. Badan bagian atasnya sudah belah-belah. Untung aku perkuat dengan lem super. Begitu setelah, Staedtler 0.3 ini bisa kembali diaktifkan untuk menulis segala sesuatu.

KEEP YOUR HAND MOVING![]

Anwar Holid kurang-lebih telah menghabiskan empat botol tinta cina untuk menulis dengan rapido. Dia bekerja sebagai editor, penulis, & publisis; eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@yahoo.com (022) 2037348 HP: 085721511193 Panorama II No. 26 B, Bandung 40141