Monday, January 06, 2014
Cerita Pendek
Makhluk Fiktif
--Utomo Priyambodo
Di suatu senja yang jingga, empat makhluk fiktif tengah terlibat dalam diskusi hangat yang cukup menguras pikiran dan perasaan. Tempo diskusi mereka sungguh begairah dan cepat. Makhluk-makhluk itu bukanlah jin atau makhluk gaib lainnya. Mereka sebenar-benarnya makhluk fiktif yang tercipta dalam kisah-kisah fiksi yang juga bukanlah cerita gaib atau sejenisnya. Empat makhluk itu adalah Sukab, Markum, Si Dali, dan Tarmujo. Mereka tengah asyik dan serius membahas masa depan.
Telinga mereka mendengar isu bahwa mereka berempat akan dihidupkan menjadi sebenar-benarnya makhluk nyata, makhluk non-fiktif. Mereka akan menjalani kisah-kisah nyata. Mereka akan hidup dalam dunia yang juga nyata.
“Jadi kita akan hidup seperti manusia?”
“Lho bukankah kita memang manusia?”
“Jelmaan manusia. Bukan manusia seutuhnya. Kita bisa hidup hanya bila kita dihidupkan. Kita juga bisa mati seketika dan bisa dihidupkan kembali seketika juga. Itu semua tergantung tuan-tuan kita.”
“Ah membingungkan.”
“Mengapa kita tidak bunuh diri saja sejak dulu kalau begitu? Toh sekarang ini hidup kita tak ada harganya.”
“Kata siapa? Aku merasa hidupku berharga. Tuanku Seno Gumira selalu menyelipkan pesan sosial dalam kisah-kisah hidupku. Orang-orang yang membaca kisah hidupku bisa tergugah karenanya,” bantah Sukab.
“Aku juga merasa hidupku berharga kok,” timpal Markum. “Tuanku Zaenal Radar biasa menyuarakan realitas masyarakat kelas bawah dalam kisah-kisah hidupku. Aku merasa hidupku berharga. Aku merasa seperti wakil rakyat bagi orang-orang kecil itu,” lanjut Markum.
“Aku juga merasa berharga kok. Tuanku A.A. Navis biasa menyelipkan pesan moral dalam kisah-kisah hidupku. Banyak kearifan dan hikmah yang bisa didapatkan orang yang menyimak kisah-kisah hidupku,” Si Dali ikut bersuara.
“Kenapa kau bisa berpikiran bahwa hidupmu tidak berharga, Jo?” tanya Sukab terang-terangan, sangat to the point.
Tarmujo diam sebentar. Ia tidak langsung menjawabnya.
“Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu, Jo?” tanya Sukab lagi.
Tarmujo menghela napasnya. “Aku tidak punya kehidupan sendiri. Sebab aku merasa tidak punya identitas mandiri. Aku merasa tidak punya kepribadian tetap. Aku merasa seperti Billy yang memiliki 24 wajah kepribadian atau bahkan lebih apabila nanti jumlah kisahku lebih dari itu. Dan itu rasanya aneh sekali.”
“Kau punya kepribadian, Jo. Kepribadianmu mencerminkan kepribadian tuanmu. Apabila ada sosokmu dalam sebuah cerita, orang-orang akan tahu itu adalah kisah yang dibuat oleh tuanmu. Karakter cerita-cerita itu menjadi kepribadian tuanmu. Berarti itu kepribadianmu juga. Kepribadian tuanmu menjadi kepribadianmu.”
Tarmujo tidak begitu mengerti. Tapi rasanya penjelasan Si Dali tadi terdengar masuk akal. Sukab dan Markum terlihat manggut-manggut seperti ikut sepakat.
“Kembali ke topik. Jadi apa benar kita semua akan dihidupkan?” Sukab meluruskan.
“Ah aku ragu dengan kabar burung itu. Tapi apabila benar kita akan dihidupkan aku malah jadi bingung apa yang akan aku lakukan ketika nanti hidup,” ujar Markum.
“Ya, apa pun. Semaumu. Terserah, kau bisa melakukan apa saja,” jelas Sukab.
“Tapi apakah nanti yang akan aku lakukan bisa bermakna atau bermanfaat juga bagi orang lain? Aku khawatir bila nanti ternyata aku menjadi tak lebih bermanfaat dibanding ketika aku masih menjadi makhluk fiktif seperti sekarang ini.” Raut wajah Markum kelabu.
“Kenapa khawatir seperti itu? Ketika kehendak kita hanya ada di tangan tuan-tuan kita, kita bisa bermanfaat bagi orang lain. Lha kalau kita sudah punya kehendak bebas sendiri, mestinya kita bisa menjadi lebih bermanfaat lagi toh untuk orang lain? Kita kan bisa menghendaki diri kita sendiri untuk bisa menjadi sangat bermanfaat bagi orang lain,” terang Sukab lagi.
“Eh, ini kok rasa-rasanya seperti konsep tentang manusia dan malaikat,” ucap Si Dali. “Malaikat tak punya kehendak bebas, tapi semua dari mereka menjadi terjaga dan mulia. Manusia punya kehendak bebas, tapi akhirnya kebanyakan mereka justru jadi lebih hina daripada para malaikat. Tapi ada juga sebagian manusia yang bisa mengarahkan kehendak bebasnya untuk menjadi orang yang bermakna dan bermanfaat sehingga menjadi lebih mulia daripada malaikat. Nah itu tantangannya.”
“Ah aku ingin tetap menjadi makhluk fiktif saja. Aku tidak mau justru menjadi lebih hina,” kata Tarmujo.
“Kenapa kau takut begitu, Jo? Kalau kau bisa mengarahkan kehendak bebasmu dengan benar, kan kamu bakal baik-baik saja.” Sukab heran.
“Ah, iya kamu pesimis sekali, Jo. Kau pun gampang berubah pikiran,” timpal Si Dali. “Hidup itu harus dijalani dengan berani. Kalau tidak begitu, kita tidak akan bisa mengubah nasib kita sekarang ini.”
“Tadi kan kau sendiri yang bilang kalau kau lebih ingin punya kehendak sendiri, Jo?” ingat Sukab lagi.
“Ah, kurasa yang aku inginkan sebelumnya itu tidak lebih baik daripada yang sebenarnya telah kumiliki sekarang ini,” jawab Tarmujo. “Biarlah kehendakku ada di tangan tuanku. Kurasa ia bisa menentukan mana hal-hal baik yang bisa kuberikan lewat kisah-kisah hidupku.”
“Kau tidak ingin hidup dengan sebenar-benarnya hidup, Jo?”
“Aku ingin. Tapi lebih baik aku menjalani yang memang sudah takdirku. Biarlah aku tetap menjadi makhluk fiktif, bukan makhluk nyata. Lagi pula, apabila nanti aku menjadi makhluk nyata, belum tentu kisah-kisah hidupku akan dituliskan juga dalam buku yang bisa dibaca banyak orang.”
“Kau nanti bisa menuliskannya sendiri, Jo. Kau kan nanti punya kehendak bebas sendiri.”
“Ah, narsis sekali itu, bung!”
“Kalau begitu minta saja orang lain terdekatmu untuk menuliskan kisah hidupmu.”
“Apa bedanya?”
“Kalau kau menjadi orang hebat, pasti banyak orang yang ingin mengetahui kisah hidupmu. Maka itu, dengan kehendak bebasmu nanti, jadilah orang hebat.”
“Eh, sebenarnya kisah hidup setiap manusia itu dituliskan juga lho dalam kitab lauhul mahfudz,” potong Si Dali.
“Kitab apa itu, Dali?” tanya Tarmujo penasaran.
“Kau belum tahu, Jo? Itu kitab yang akan menuliskan segala perilaku manusia yang baik ataupun buruk. Tiap manusia punya satu kitab untuk kisah hidupnya itu. Dan kelak mereka harus mempertanggungjawabkan kisah hidupnya itu di hari kiamat.”
“Wah, ngeri juga ya. Ada LPJ-nya,” celoteh Markum.
“LPJ?” Tarmujo bingung.
“Iya, laporan pertanggungjawaban. Seperti panitia acara yang mesti memberikan laporan tanggung jawab ke pihak sponsor yang memberi mereka dana.”
“Tapi manusia kan enggak dikasih dana oleh siapa-siapa?”
“Kata siapa? Manusia kan diberikan banyak sumber daya. Organ tubuh mereka, akal pikiran mereka, kekayaan mereka, umur mereka, dan lain-lainnya. Semakin banyak sumber daya yang mereka punya, semakin besar tanggung jawab mereka,” jelas Si Dali.
“Tanggung jawabnya ke Tuhan mereka?”
“Ya, siapa lagi?”
“Kalau kita makhluk-makhluk fiktif ini, tanggung jawabnya kepada siapa?”
“Kepada tuan-tuan kita ya, Dali?” potong Markum.
“Bukan. Kita ini tidak punya keharusan untuk tanggung jawab kepada siapa-siapa. Sebab tuan-tuan kitalah yang menguasai kehendak kita. Maka tuan-tuan kitalah yang mesti tanggung jawab atas segala perilaku kita, atas segala kisah-kisah hidup kita. Apabila kisah-kisah hidup kita dapat memberikan pencerahan banyak orang, tuan-tuan kita dianggap telah berbuat baik. Tapi apabila kisah-kisah hidup kita justru menjerumuskan banyak orang, berarti tuan-tuan kita telah berbuat buruk.”
“Oh begitu, Dali.”
“Mantap sudah. Aku ingin tetap menjadi makhluk fiktif saja,” ujar Tarmujo yakin. “Aku tak perlu tanggung jawab kepada siapa-siapa.”
“Aku juga, Dali,” Markum ikut menimpali.
“Kau Sukab?” tanya Si Dali.
“Aku ikut yang lain sajalah,” jawab Sukab agak malu-malu.
Tarmujo dan Markum menyeringai dan tertawa kecil mendengar jawaban Sukab.
“Kau sendiri bagaimana, Dali?” tanya Sukab, Markum, dan Tarmujo berbarengan.
“Aku kan sudah jadi makhluk fiktif sejati,” jawab Si Dali sambil menyeringai penuh arti.
“Ha ha ha...”
Mereka berempat memecahkan tawa.
Langit masih cukup jingga. Bulan sudah mulai memunculkan bulatnya. Di depan sebuah layar komputer, penulis kisah ini pun ikut tertawa.[]
Utomo Priyambodo, mahasiswa Institut Teknologi Bandung, bergiat di unit literasi Aksara Salman ITB.
Ilustrasi dari Internet.
Link terkait:
* https://www.facebook.com/utomo.priyambodo
* https://twitter.com/utomo_pr
* http://aksara.salmanitb.com/
Thursday, January 02, 2014
Tolkien, Hobbit, dan Bandung Selatan
--Agus Kurniawan
Saya dan anak-anak menggemari novel J.R.R. Tolkien. Sejak mengenalkan karyanya kepada dua anak saya--Putri (13 th.) dan Faiza (9 th.), mereka kerap berlomba mengasosiasikan imaji Tolkien terhadap tanah kelahiran mereka sendiri, Bandung Selatan. "Ayah, kita sedang di Shire, ya," teriak girang Faiza ketika kami merambahi perbukitan eksotik Naringgul di perbatasan Kabupaten Bandung dan Cianjur Selatan, yang dihampari oleh permadani hijau kebun teh dan goresan kelak-kelok jalan tembus ke Pantai Jayanti. Di mata Faiza, bisa jadi orang-orang Naringgul yang ke luar dari pemukiman perkebunan itu dianggap seolah para Hobbit yang lagi berhamburan dari rumah-rumah pendam mereka. "Awas, kita memasuki hutan Fangorn. Tuh, pohon-pohon sedang saling bicara. Balik yuk ah, takut!" kata Putri ketika kami mulai memasuki gerbang hutan tersisa, yang memang bikin merinding. Maaf, Anda tak boleh protes. Dalam semesta subjektivitas, kita memang memiliki otonomi penuh untuk berandai-andai.
Konon masa kecil Tolkien terbilang manis. Dia tinggal di Sarehole, pedesaan di pinggiran kota Birmingham. Sekalipun jaraknya tak jauh, Sarehole dan Birmingham amat berlainan. Ketika itu awal abad ke-20, Inggris sedang gegap terpapar industrialisasi. Tak terkecuali Birmingham, kota industri besar di sisi barat daratan. Tetapi anehnya, Sarehole tak terimbas. Inilah sedikit dari pedesaan tua yang masih kebal. Di sana terpajang keelokan surga lawas: padang hijau, hutan kecil, sungai bening, dan jembatan batu. Juga tempat penggilingan kuno--sekarang jadi museum--dan rawa-rawa. Begitu terpana Tolkien pada masa lalunya hingga mengabadikan keagungan itu ke dalam sebuah desa imajiner: Shire.
Birmingham, atau tepatnya industrialisasi, selalu tampak buruk di mata Tolkien--ini kelak melahirkan para kritikus fanatik terhadap karya-karyanya. National Geographic mencoba mewakili kemurungan sang sastrawan itu dengan paragraf, "Produk-produk kerajinan dari kota-kota kecil tersapu oleh badai mekanisasi. Tekstil, galangan kapal, besi, dan baja, mengangkangi tanah Inggris sebagai industri strategis baru. Orang-orang berduyun-duyun menyesaki kota, beralih profesi menjadi buruh, dalam jumlah yang semakin berlipat-lipat. Batubara menghidupi pabrik-pabrik itu, tetapi sekaligus juga meracuni udara dengan jelaga pekat dan mewariskan lubang-lubang menganga bekas penambangan di seluruh negeri."
Tolkien melukiskan kegamangannya dengan cara lebih satir. Kutukan industrialisasi itu dalam imajinasi Tolkien adalah Isengard. Dipelopori oleh Saruman, penyihir paling sakti tapi khianat, Isengard bertiwikrama dari tanah indah menjadi "kota" bengis. Tak lagi dihuni oleh manusia, tetapi oleh para orc, monster tak berakal budi, yang hanya tahu sedikit hal: bekerja bagai mesin, patuh bak zombiE, dan menghancurkan layaknya iblis. Para monster itu tiap hari menebangi hutan dan menggali lubang-lubang menganga di dalam tanah demi satu tujuan, yakni menciptakan prajurit-prajurit tempur.
Memang, kerusakan alam bukanlah trauma utama Tolkien. Perang lebih menakutkannya. Ketika itu Perang Dunia I, usia Tolkien baru awal 20-an, dan lebih lagi dia masih pengantin baru. Menjadi seorang letnan dalam legiun Inggris, Tolkien menyaksikan manusia-manusia setengah hidup yang berjudi nyawa di parit-parit pertahanan di sepanjang kota Paris. Diiringi desingan artileri, para prajurit itu selama berbulan-bulan hidup di dalam kubangan lumpur, menyatu dengan mayat busuk. Begitu mengerikannya kondisi mereka hingga tak lagi mirip manusia. Tolkien mengasosiasikan para prajurit itu sebagai barisan tentara orc. Mereka merayap dari kedalaman bumi, untuk membunuh dan menghancurkan.
Saya tinggal di pinggiran Bandung Selatan, kota kecamatan yang sepanjang jalannya dipenuhi industri. Pada saat-saat tertentu--misalnya pagi hari, halaman atau lantai luar rumah akan terlapisi samar-samar oleh bebutiran mirip bubuk kopi. Warnanya memang seperti kopi. Hitam, tetapi bau. Itulah sisa pembakaran batubara dari pabrik-pabrik. Cerobongnya menjulang; anak saya menyebutnya sebagai Menara Isengard. Sungai di belakang kampung pun senasib. Tahun 80-an sungai itu berair bening layaknya pegunungan. Penduduk memanfaatkannya sebagai sarana mandi dan mencuci, selain untuk pengairan. Anda boleh juga membayangkannya sebagai Rivendell, keraton para peri dalam dongeng Tolkien, yang dihiasi oleh anak-anak sungai berkilauan. Tetapi naasnya kini pabrik-pabrik di kampung saya gencar mewarnainya. Kadang biru, kadang bersemu merah, kadang kekuningan. Kusam karena berbaur lumpur. Mereka setiap hari menggelontorkan berkubik-kubik limbah pewarna--tanpa diolah--ke sungai, lalu membumbuinya dengan aroma menyengat. Saya sering menggoda anak saya, "Put, jangan-jangan pemerintah yang mengizinkan terjadinya pencemaran akut ini adalah Saruman?"
Tolkien pernah sekali bercerita tentang banjir. Dalam The Silmarillion, dia bertutur tentang Numenor, koloni makmur ras manusia di tengah lautan. Sayang rajanya kemaruk, menginginkan hidup kekal dengan cara mengakuisisi keabadian dari seorang dewa bernama Valar. Kemarahan Valar ternyata mengerikan, mereformasi bentuk bumi menjadi datar. Akibatnya air laut tumpah, menenggelamkan seluruh dataran Numenor. Para kritikus menganggap ini sebagai alegori kisah Nabi Nuh ataupun Atlantis, tapi Tolkien menampiknya.
Berbeda dengan Numenor, Bandung Selatan tak hanya sekali terlibas banjir. Nestapa ini justru seolah abadi. Sepanjang tahun, ratusan pemukiman di bibir Citarum rutin terbilas. Ruas jalan utama penghubung antar kecamatan terendam, menyisakan tenda-tenda pengungsi di sisi jalan. Majalah Tempo beberapa bulan lalu mendokumentasikannya genangan air itu dalam foto-foto bernuansa coklat pekat seluas berhektar-hektar. Rumah-rumah penduduk--entah reyot atau mewah--mengapung di permukaaannya. Tragisnya, itu sudah berlangsung bertahun-tahun. Tapi kini saya senang, konon tahun 2018 kejadian ini tak kan terulang. Menurut janji Wagub Jawa Barat Deddy Mizwar, sungai Citarum pada tahun itu akan kembali sebening Rivendell, dan penduduk Dayeuh Kolot, Baleendah, atau Bojongsoang bisa bernapas lega. Ya, semoga saja.
Pada usia remaja Tolkien merasa beruntung bisa berwisata ke Swiss. Dulangan kenangan tentang pegunungan Alpen yang mengendap selama bertahun-tahun akhirnya mengilhami sang sastrawan untuk menciptakan semesta fiktif, yang dia sebut legendarium. Rivendell (hunian para peri), Celebdril (tempat pertarungan sampyuh antara Gandalf dan Balrog--setan api), Anduin (sungai terpanjang dalam dongeng Dunia Tengah), Khazad-dum (kerajaan bawah tanah terbesar para Dwarf yang memiliki tangga tak berujung ke puncak gunung), juga Misty Mountains atau Hithaeglir (surga petualangan para Dwarf yang dijadikan tema soundtrack film The Hobbit) konon terinspirasi langsung oleh ekspedisi Tolkien tahun 1911 itu.
Saya ingin menularkan kegairahan Tolkien muda pada anak-anak saya, mengeksplorasi keindahan tanah kelahirannya sendiri, Bandung Selatan. Dataran bekas danau purba ini sesungguhnya tak kalah menginspirasi. Sekelilingnya berjajar barisan gunung dan hutan langka: Patuha, Tilu, Puntang, Malabar, Guntur, Papandayan. Bahkan tak kurang orang sekaliber Franz Wilhelm Junghuhn pun mengaguminya, dan menjadikan tempat ini sebagai tetirah. Kita bisa menyusuri hutan Puntang atau Patuha yang perawan, dan membayangkan diri sebagai Frodo atau Sam Gamgee menjelajahi The Old Forest. Atau kita bisa menyusuri hutan mati di lereng Papandayan agar bisa menikmati padang edelweis, seperti Bilbo Baggins dan para Dwarf menyibak Mirkwood.
Sungguh, saya tak mengharuskan anak-anak saya menciptakan legendarium sebagaimana Tolkien. Saya hanya berharap mereka belajar menghikmati alam, sembari berdoa agar gunung dan hutan-hutan ini tak segera dimakan zaman.[]
Foto dari Internet.
Silakan berteman dengan Agus Kurniawan di https://www.facebook.com/goeska.
--Agus Kurniawan
Saya dan anak-anak menggemari novel J.R.R. Tolkien. Sejak mengenalkan karyanya kepada dua anak saya--Putri (13 th.) dan Faiza (9 th.), mereka kerap berlomba mengasosiasikan imaji Tolkien terhadap tanah kelahiran mereka sendiri, Bandung Selatan. "Ayah, kita sedang di Shire, ya," teriak girang Faiza ketika kami merambahi perbukitan eksotik Naringgul di perbatasan Kabupaten Bandung dan Cianjur Selatan, yang dihampari oleh permadani hijau kebun teh dan goresan kelak-kelok jalan tembus ke Pantai Jayanti. Di mata Faiza, bisa jadi orang-orang Naringgul yang ke luar dari pemukiman perkebunan itu dianggap seolah para Hobbit yang lagi berhamburan dari rumah-rumah pendam mereka. "Awas, kita memasuki hutan Fangorn. Tuh, pohon-pohon sedang saling bicara. Balik yuk ah, takut!" kata Putri ketika kami mulai memasuki gerbang hutan tersisa, yang memang bikin merinding. Maaf, Anda tak boleh protes. Dalam semesta subjektivitas, kita memang memiliki otonomi penuh untuk berandai-andai.
Konon masa kecil Tolkien terbilang manis. Dia tinggal di Sarehole, pedesaan di pinggiran kota Birmingham. Sekalipun jaraknya tak jauh, Sarehole dan Birmingham amat berlainan. Ketika itu awal abad ke-20, Inggris sedang gegap terpapar industrialisasi. Tak terkecuali Birmingham, kota industri besar di sisi barat daratan. Tetapi anehnya, Sarehole tak terimbas. Inilah sedikit dari pedesaan tua yang masih kebal. Di sana terpajang keelokan surga lawas: padang hijau, hutan kecil, sungai bening, dan jembatan batu. Juga tempat penggilingan kuno--sekarang jadi museum--dan rawa-rawa. Begitu terpana Tolkien pada masa lalunya hingga mengabadikan keagungan itu ke dalam sebuah desa imajiner: Shire.
Birmingham, atau tepatnya industrialisasi, selalu tampak buruk di mata Tolkien--ini kelak melahirkan para kritikus fanatik terhadap karya-karyanya. National Geographic mencoba mewakili kemurungan sang sastrawan itu dengan paragraf, "Produk-produk kerajinan dari kota-kota kecil tersapu oleh badai mekanisasi. Tekstil, galangan kapal, besi, dan baja, mengangkangi tanah Inggris sebagai industri strategis baru. Orang-orang berduyun-duyun menyesaki kota, beralih profesi menjadi buruh, dalam jumlah yang semakin berlipat-lipat. Batubara menghidupi pabrik-pabrik itu, tetapi sekaligus juga meracuni udara dengan jelaga pekat dan mewariskan lubang-lubang menganga bekas penambangan di seluruh negeri."
Tolkien melukiskan kegamangannya dengan cara lebih satir. Kutukan industrialisasi itu dalam imajinasi Tolkien adalah Isengard. Dipelopori oleh Saruman, penyihir paling sakti tapi khianat, Isengard bertiwikrama dari tanah indah menjadi "kota" bengis. Tak lagi dihuni oleh manusia, tetapi oleh para orc, monster tak berakal budi, yang hanya tahu sedikit hal: bekerja bagai mesin, patuh bak zombiE, dan menghancurkan layaknya iblis. Para monster itu tiap hari menebangi hutan dan menggali lubang-lubang menganga di dalam tanah demi satu tujuan, yakni menciptakan prajurit-prajurit tempur.
Memang, kerusakan alam bukanlah trauma utama Tolkien. Perang lebih menakutkannya. Ketika itu Perang Dunia I, usia Tolkien baru awal 20-an, dan lebih lagi dia masih pengantin baru. Menjadi seorang letnan dalam legiun Inggris, Tolkien menyaksikan manusia-manusia setengah hidup yang berjudi nyawa di parit-parit pertahanan di sepanjang kota Paris. Diiringi desingan artileri, para prajurit itu selama berbulan-bulan hidup di dalam kubangan lumpur, menyatu dengan mayat busuk. Begitu mengerikannya kondisi mereka hingga tak lagi mirip manusia. Tolkien mengasosiasikan para prajurit itu sebagai barisan tentara orc. Mereka merayap dari kedalaman bumi, untuk membunuh dan menghancurkan.
*****
Saya tinggal di pinggiran Bandung Selatan, kota kecamatan yang sepanjang jalannya dipenuhi industri. Pada saat-saat tertentu--misalnya pagi hari, halaman atau lantai luar rumah akan terlapisi samar-samar oleh bebutiran mirip bubuk kopi. Warnanya memang seperti kopi. Hitam, tetapi bau. Itulah sisa pembakaran batubara dari pabrik-pabrik. Cerobongnya menjulang; anak saya menyebutnya sebagai Menara Isengard. Sungai di belakang kampung pun senasib. Tahun 80-an sungai itu berair bening layaknya pegunungan. Penduduk memanfaatkannya sebagai sarana mandi dan mencuci, selain untuk pengairan. Anda boleh juga membayangkannya sebagai Rivendell, keraton para peri dalam dongeng Tolkien, yang dihiasi oleh anak-anak sungai berkilauan. Tetapi naasnya kini pabrik-pabrik di kampung saya gencar mewarnainya. Kadang biru, kadang bersemu merah, kadang kekuningan. Kusam karena berbaur lumpur. Mereka setiap hari menggelontorkan berkubik-kubik limbah pewarna--tanpa diolah--ke sungai, lalu membumbuinya dengan aroma menyengat. Saya sering menggoda anak saya, "Put, jangan-jangan pemerintah yang mengizinkan terjadinya pencemaran akut ini adalah Saruman?"
Tolkien pernah sekali bercerita tentang banjir. Dalam The Silmarillion, dia bertutur tentang Numenor, koloni makmur ras manusia di tengah lautan. Sayang rajanya kemaruk, menginginkan hidup kekal dengan cara mengakuisisi keabadian dari seorang dewa bernama Valar. Kemarahan Valar ternyata mengerikan, mereformasi bentuk bumi menjadi datar. Akibatnya air laut tumpah, menenggelamkan seluruh dataran Numenor. Para kritikus menganggap ini sebagai alegori kisah Nabi Nuh ataupun Atlantis, tapi Tolkien menampiknya.
Berbeda dengan Numenor, Bandung Selatan tak hanya sekali terlibas banjir. Nestapa ini justru seolah abadi. Sepanjang tahun, ratusan pemukiman di bibir Citarum rutin terbilas. Ruas jalan utama penghubung antar kecamatan terendam, menyisakan tenda-tenda pengungsi di sisi jalan. Majalah Tempo beberapa bulan lalu mendokumentasikannya genangan air itu dalam foto-foto bernuansa coklat pekat seluas berhektar-hektar. Rumah-rumah penduduk--entah reyot atau mewah--mengapung di permukaaannya. Tragisnya, itu sudah berlangsung bertahun-tahun. Tapi kini saya senang, konon tahun 2018 kejadian ini tak kan terulang. Menurut janji Wagub Jawa Barat Deddy Mizwar, sungai Citarum pada tahun itu akan kembali sebening Rivendell, dan penduduk Dayeuh Kolot, Baleendah, atau Bojongsoang bisa bernapas lega. Ya, semoga saja.
Pada usia remaja Tolkien merasa beruntung bisa berwisata ke Swiss. Dulangan kenangan tentang pegunungan Alpen yang mengendap selama bertahun-tahun akhirnya mengilhami sang sastrawan untuk menciptakan semesta fiktif, yang dia sebut legendarium. Rivendell (hunian para peri), Celebdril (tempat pertarungan sampyuh antara Gandalf dan Balrog--setan api), Anduin (sungai terpanjang dalam dongeng Dunia Tengah), Khazad-dum (kerajaan bawah tanah terbesar para Dwarf yang memiliki tangga tak berujung ke puncak gunung), juga Misty Mountains atau Hithaeglir (surga petualangan para Dwarf yang dijadikan tema soundtrack film The Hobbit) konon terinspirasi langsung oleh ekspedisi Tolkien tahun 1911 itu.
Saya ingin menularkan kegairahan Tolkien muda pada anak-anak saya, mengeksplorasi keindahan tanah kelahirannya sendiri, Bandung Selatan. Dataran bekas danau purba ini sesungguhnya tak kalah menginspirasi. Sekelilingnya berjajar barisan gunung dan hutan langka: Patuha, Tilu, Puntang, Malabar, Guntur, Papandayan. Bahkan tak kurang orang sekaliber Franz Wilhelm Junghuhn pun mengaguminya, dan menjadikan tempat ini sebagai tetirah. Kita bisa menyusuri hutan Puntang atau Patuha yang perawan, dan membayangkan diri sebagai Frodo atau Sam Gamgee menjelajahi The Old Forest. Atau kita bisa menyusuri hutan mati di lereng Papandayan agar bisa menikmati padang edelweis, seperti Bilbo Baggins dan para Dwarf menyibak Mirkwood.
Sungguh, saya tak mengharuskan anak-anak saya menciptakan legendarium sebagaimana Tolkien. Saya hanya berharap mereka belajar menghikmati alam, sembari berdoa agar gunung dan hutan-hutan ini tak segera dimakan zaman.[]
Foto dari Internet.
Silakan berteman dengan Agus Kurniawan di https://www.facebook.com/goeska.
Monday, December 30, 2013
Gerakan
Jaket Untuk Tukang Becak
(#JUTB)
Bagaimana mengawali gerakan ini?
Tukang becak merupakan pemandangan biasa di kota Bandung. Kita bisa melihat mereka ada di perempatan atau persimpangan yang ramai, pasar, lapangan/taman kota (alun-alun), juga di mulut jalan. Saking biasa, kita suka lupa bahwa mereka adalah bagian dari denyut kota dan hidup kita. Mungkin kita baru peduli tukang becak kala butuh, trenyuh sesaat melihat mereka kepayahan dan keringatan membawa penumpang atau muatan, juga basah kuyup kehujanan tanpa perlindungan layak sambil tetap semangat menarik penumpang.
Suatu hari di jalan Karapitan saat musim hujan, dari angkot saya lihat beberapa tukang becak tua meringkuk di becaknya. Seorang dari mereka mengenakan plastik lusuh sebagai pelindung, sisanya bersedekap menahan dingin dan tempias hujan. Saya langsung teringat pada dua jaket di rumah. Akan jauh lebih bermanfaat kalau salah satu diberikan buat mereka, batin saya. Entah kenapa pula langsung terbetik di kepala saya niat mulai menggalang gerakan Jaket Untuk Tukang Becak (#JUTB), meski tak tahu cara memulainya. Saya tanya kepada teman yang sudah biasa terlibat aksi sosial. Saya berniat menggalang amal dan sumbangan dari teman-teman, mohon bantuan kepada orang/pihak yang bisa diajak kerja sama.
Esoknya, saya bungkus jaket kuning yang bertahun-tahun saya pakai. Saya berikan kepada seorang tukang becak di jalan Karapitan. Barangkali itulah cara paling sederhana untuk memulai gerakan ini. Saya jadi suka bertanya pada tukang becak di jalan Ciateul, Tegal Lega, Astana Anyar, Otto Iskandar Dinata, Kebon Kalapa, dan Geger Kalong Girang di sekitar tempat saya kerja dan tinggal. Kondisi mereka seperti apa, bagaimana mereka bekerja, di mana mereka tinggal, sampai kenalan dengan juragan becak.
Mohon dukungan dan bantuan Anda.
Semoga gerakan ini bermanfaat, khususnya untuk tukang becak.
Kenapa perlu kita gerakkan:
* Memberi sedikit kehangatan dan kenyamanan bagi tukang becak, entah ketika kedinginan/kehujanan atau masih kerja di malam hari.
* Membantu daya tahan dan perlindungan kepada tukang becak.
* Sekadar beramal kebaikan kepada sesama manusia.
Kondisi umum:* Tukang becak tidak punya asosiasi/perkumpulan, tapi menginduk kepada juragan (pemilik becak)
* Banyak tukang becak yang tidur di garasi becak juragannya
Sasaran:* Pertama: Tukang becak di sekitar Kebon Kalapa, Tegal Lega, Otto Iskandar Dinata, Astana Anyar, wilayah sekitar Alun-Alun Bandung
* Kedua dan seterusnya: di pasar-pasar utama kota Bandung
Apa yang perlu dilakukan?
* Mendaftar dan mendata jumlah tukang becak, bekerja sama dengan para juragan becak
* Memberikan jaket
Periode pembagian jaket:
* Semester 1: Januari 2014 - Juni 2014
* Semester 2: Juli 2014 - Desember 2014
Bentuk sumbangan:
* Jaket atau sweater, baik baru ataupun bekas yang masih layak pakai
* Jas hujan (usahakan baru)
* Uang, untuk membeli jaket bekas seharga kisaran Rp.75.000,- sampai Rp.100.000,-
Kebutuhan:
* Biaya transportasi untuk mengantarkan jaket/menemui tukang becak
* Biaya kurir/bawa jaket/barang
Contact person:
Anwar Holid
HP: 085721511193
Email: wartax@yahoo.com
No. rekening donasi:
_____________________________
BCA KCP CIDENG BARAT
No. rek.: 3971247183
A/N: ANWAR HOLID
_____________________________
(Mohon konfirmasi bila Anda transfer.)
Alamat:
Jalan Kapten Abdul Hamid, Panorama II No. 26 B
Bandung 40141
Link terkait:
Page Facebook: Jaket Untuk Tukang Becak - #JUTB: http://on.fb.me/Kfmf1d
Subscribe to:
Posts (Atom)




