Showing posts with label essay. Show all posts
Showing posts with label essay. Show all posts

Thursday, June 09, 2016


Harapan
Oleh: Agus Kurniawan

Sewaktu kecil saya menemukan komik strip di koran bekas, yang dipakai sebagai pembungkus belanjaan ibu saya dari Pasar Grabag, suatu kecamatan di pinggiran Kabupaten Magelang. Komik itu berbahasa Jawa, berkisah seperti ini.

Syahdan seorang pejabat kerajaan berpangkat rendah bermuram diri di jalan setapak suatu hutan di tepi kota. Berteriak, memaki, dan menyumpah. Bersamaan itu, berlalulah seorang pengelana tua, berjenggot putih tak terawat dan bersorban dekil. Sang pengelana yang tampak kurang meyakinkan penampilannya itu pun diliputi empati, lalu bertanya.
"Kisanak, apakah gerangan yang membuatmu berduka, marah, hingga mengutuki Tuhan?"
"Ah, kau orang tua tahu apa. Aku ini pejabat. Mau marah, teriak, mengumpat, suka-suka saya... Tuhan itu tidak adil. Aku pejabat yang baik, selalu patuh dan berbakti pada kerajaan, mengapa ditimpakan fitnah yang keji. Salahku apa, dosaku apa."
"Kisanak, sekalipun penderitaanmu berat, tetapi tidak semestinya engkau mengutuki Sang Pencipta. Jika kau tetap menyumpahi-Nya seperti itu, kau akan tertimpa adzab yang lebih besar."
"Hai tua bangka," suara pejabat itu menggelegar bak petir. Kemarahannya makin tak terkendali, apalagi setelah seorang pengelana tua yang tampak bukan siapa-siapa itu mengguruinya. Dicabutnya keris, lalu mengancam, "Kalau kau tak pergi dari sini sekarang juga, ujung kerisku yang akan membuat nyawamu pergi."

Pengelana tua itu pun beranjak, tetapi sambil berucap, "Allah Maha Kuasa, apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi."

Beberapa waktu kemudian, entah mengapa pejabat itu ditimba musibah beruntun, yang teramat pedih, yang jauh lebih berat dari sebelumnya. Persis seperti perkataan pengelana tua itu. Pejabat pun jatuh sakit, dan merasa selalu dihantui oleh perkataan dan wajah sang pengelana. Berbulan-bulan tak kunjung sembuh, sampai seorang kyai tabib menyelidiki asal-muasalnya.
"Kyai, ini semua terjadi karena saya mengancam seorang pengelana tua di hutan..."
"Pengelana? Bagaimana kejadiannya? Coba kau sebutkan ciri-cirinya."
Setelah sang pejabat menceritakan dengan terbata-bata kejadian tempo dulu, dan tentang ciri-ciri sang pengelana yang begitu dihapalnya, kyai itu pun menjerit, "Astaghfirullah. Kau, malang sekali. Itu Sunan Bonang. Kau kena kutukan Sunan Bonang!"

Apakah komik itu ingin bercerita tentang kesaktian Sunan Bonang, salah seorang Wali Songo, ulama maksum yang berperan besar dalam menyebarkan Islam di Tanah Jawa? Folklorenya sih begitu. Tapi, bagi saya, moral ceritanya bukan itu. Komik ini mengisyaratkan tentang satu kata yang termasuk paling penting dalam kehidupan manusia, yakni harapan. Komik itu sama sekali tak bercerita tentang kutukan ulama masyhur itu. Tetapi berkisah tentang kondisi mental seseorang yang berprasangka buruk terhadap kemungkinan. Dampaknya memang dahsyat.

Ketika seseorang secara intensif menganggap dirinya tak mampu melakukan sesuatu, maka 'mental state'-nya akan menjadi seperti itu. Lalu secara tidak nampak, individu itu akan menyesuaikan perilaku dan tindakannya sesuai dengan kondisi mentalnya. Semacam alam bawah sadar. Refleks, otomatis. Bukan sunan yang mengutuk pejabat itu, tetapi dia sendiri yang mengondisikan dirinya ke arah kehancuran.

Masih tentang harapan, saya pernah menonton film epik, Jakob The Liar, dibintangi aktor maestro, Robbin Wiliams. Kisah ini tentang seorang Yahudi tahanan Jerman bernama Jakob, pada masa Perang Dunia II. Dia melata di kamp kosentrasi yang papa, dan terus-menerus berbohong hingga dihukum mati karena kebohongannya. Dia membual memiliki radio--barang terlarang, yang setiap hari mengudarakan pergerakan tentara Sekutu mengganyang Jerman. Tentu dia tak punya radio, tetapi terus saja berbohong. Mengapa? Bualannya ternyata melimpahkan semangat hidup yang tiada banding kepada seluruh penghuni kamp. Pernah sekali dia jujur, lalu fatal akibatnya. Teman baiknya di kamp mati gantung diri, merasa tak punya lagi harapan hidup. Jakob berbohong untuk memasok harapan.


Adakah sesuatu yang lebih penting dan langka ketimbang harapan, pada saat penderitaan dan kematian akrab berkarib? Dan harapan itu nyatanya memang menyelamatkan teman-temannya dari penderitaan, dari kematian yang tak perlu.

Harapan telah bertakhta agung dalam setiap kisah zaman. Bangsa Yunani, misalnya, memiliki legenda tentang ini. Kita mengenalnya sebagai hikayat Pandora. Konon, Pandora adalah perempuan pertama di dunia, yang dilimpahi beragam anugerah oleh para dewa: kecantikan, kepandaian, kelembutan, hasrat, dan juga nyanyian merdu. Tetapi dia sesungguhnya diciptakan sebagai petaka bagi sang terhukum, Promotheus, yang lancang mencuri api dari haribaan Zeus, tetua para dewa. Oleh mereka, Pandora yang molek itu dititahkan untuk menggoda lalu menikahi kakak Promotheus yang memang dianggap pendek akal, yakni Epimetheus. Promotheus sudah memperingatkan kakaknya agar menolak hadiah dari Zeus--"pandora" juga berarti hadiah. Tapi sang kakak tak menghiraukannya. Mana bisa menolak hadiah perempuan jelita yang tak ada duanya di Bumi.

Padahal sesungguhnya Pandora telah dibekali sebuah "bom" oleh para dewa, yang akan diledakkannya di depan Epimetheus. Dan benar saja, begitu sampai di depan calon suaminya, Pandora pun membuka "bom" itu, sebuah kotak berisi segala bentuk kejahatan dan keburukan, tetapi juga harapan. Alhasil, bumi yang semula tanah surgawi, replika citra kahyangan, yang bisa dinikmati tanpa perlu bersusah-susah, mendadak menjadi tempat yang buruk, dekil, dan menyesatkan. Pandora hanya menyisakan satu saja di dalam kotak itu, yang kemudian disimpannya rapat-rapat sebagai pusaka, yakni harapan. Hanya harapan yang tersisa di dalam kotak, sebuah modal awal dari perjuangan menaklukkan dunia yang buruk dan menyesatkan itu.

Suatu sore Faiza, si bungsu anak saya yang lagi gemar-gemarnya melahap ensiklopedia, bercerita dengan gayanya yang agak show-off. 
"Ayah, kenapa bangsa Indonesia itu jadi bangsa yang menyedihkan, ya?"
"Maksudnya?"
"Kan Allah sudah memberikan berbagai kekayaan kepada kita. Misalnya cadangan emas, sekian juta kilo (dia menyebut angka yang diambil dari bacaannya). Terus laut yang luas, yang produksi ikannya sekian juta ton (dia menyebut angka). Mengapa bangsa kita tetap miskin dan terbelakang?"

Sudah tentu saya harus menjawab pertanyaan itu setidaknya sama atau lebih baik dari Jakob. Saya mustahil mengiyakan pesimisme si kecil yang bisa jadi akan mematri menahun. Lalu saya pun bercerita tentang tanah-tanah subur yang merangkai kepulauan nusantara ini. Kelak tanah ini akan menghasilkan energi terbarukan yang tak dimiliki oleh banyak bangsa lain, sekalipun itu bangsa-bangsa besar. Jagung atau singkong kita kelak akan memasok bahan bakar biologis ke seluruh dunia, menggantikan BBM jika sudah terkuras habis. Makanan kita akan memenuhi pasar-pasar negara manca karena kita memiliki tanah yang subur. Listrik kita juga akan melimpah, karena kita memiliki sinar matahari dan angin meruah, untuk menggantikan listrik konvensional.
"Jadi, nanti negara kita akan jadi negara maju, Ayah?"
"Tentu. Tentu saja, anakku."

Sambil menyembunyikan mata saya yang berkaca-kaca, saya teringat sebuah hadist qudsi, yang bunyinya, "Aku (Allah) sesuai persangkaan hamba-Ku."[]

Agus Kurniawan, seorang karyawan. Bekerja di Jakarta, tinggal di Banjaran, Kab. Bandung.

Monday, April 28, 2014

Empat Malam di Kuala Lumpur
--Anwar Holid

Seri Pacific Hotel, KL adalah hotel termewah yang pernah aku inapi, bahkan rasanya mengalahkan Hotel Indonesia yang pernah aku inapi bareng Fenfen beberapa bulan setelah kami nikah. Satu hal yang sangat khas di hotel bertingkat tiga puluh ini ialah seluruh ruangannya harum serai wangi, sangat menyegarkan. Bahkan sabun, shampo, dan conditionernya pun beraroma serai.  Kata resepsionis, selain buat aroma terapi, bau itu berfungsi sebagai pengusir nyamuk.

Di hotel ini aku nginep sekamar dengan Toni Kurnia, senior di Penerbit Rosda; di kamar lain ada pak Zam, bosku di penerbit yang sudah berdiri lebih dari setengah abad lalu. Kami ada di sini ikut KLTCC---Kuala Lumpur Trade & Copyright Centre, 22-24 April 2014, yang dinilai sebagai pasar rights penerbitan terbesar di Asia Tenggara. Penerbit Rosda ingin memelihara hubungan baik dengan sejumlah penerbit dan distributor yang telah membeli rights maupun mendistribusikan bukunya, meneruskan bisnis, menambah rekanan, dan mau menjual rights lebih banyak. Aku belajar dari pak Zam dan Toni cara menjalin rekanan dan berusaha mendapat deal. Ke depan Penerbit Rosda berharap aku yang menangani jual-beli rights, termasuk menerbitkan buku English. Rosda di bawah pimpinan ibu Rosidayati ingin melangkah ke beberapa ranah baru yang diharapkan bisa menjawab persoalan perubahan perilaku dan pasar di industri penerbitan, seperti e-book, berkembangnya gadget, dan makin kaburnya batas geografis.

Ngaku saja, yang aku pikirkan sejak sebelum kepergian ialah rasa malu andai gagal dapat deal dari penerbit yang coba kami hubungi, terlebih bila nanti ditindaklanjuti usai acara. Rosda mengeluarkan cukup banyak uang untuk menerbangkan kami ke sini, bahkan membiayai pembuatan pasporku. Tapi memang sulit mendapat deal langsung di tempat. Tawaran terbaik yang pernah aku dapat dari menjual rights ialah co-publishing/edition dari penerbit India. Sementara aku bukanlah seorang penjual alamiah. Mungkin aku seorang negosiator penerbitan, tapi tingkat keberhasilanku tidak menonjol.

Beberapa waktu lalu aku dikritik bahwa cara kerjaku "ngacak". Aku berusaha memperhatikan ini sebagai masukan. Satu hal, aku ingin mencapai progres, kalau bisa signifikan, sehingga ingin bergerak cepat, memajukan naskah, dan menerbitkan buku. Aku gemas kalau progres terhadang oleh hal yang tidak perlu. Progres penerbitan bisa terhalang oleh berbagai hal, salah satunya dari wanprestasi seseorang. Sudah cukup aku pernah dibilang sok perfeksionis atas buku, padahal ingin fleksibel, praktis, mengurangi kerewelan yang malah bisa menghambat progres, dan lebih bersikap mawas diri. Ini susah, apalagi bila caraku menerangkan sesuatu jelek dan sulit dipahami orang. Lebih buruk lagi kalau seseorang malas membantu rekan kerjanya. Kadang-kadang aku merasa ada seseorang tak berniat baik pada orang lain; tapi aku malu mengaku bahwa kinerjaku ada kala sangat buruk dan mengecewakan orang lain. Ini memalukan aku sendiri. Di satu sisi aku mengkritik, padahal tudingan mestinya ditembakkan ke diriku lebih dulu. Aku kesulitan memperbaiki diri sendiri secara konsisten. Aku berbuat salah, tapi sangat susah belajar dari sana. Aku ingin memperbaiki diri namun sangat sulit membuktikan bahwa aku sudah insyaf. Kedengarannya bolak-balik. Aku berusaha memperbaiki karir, tapi perjalanan ke sana ada saja halangannya. Aku berusaha memberi, melakukan, melayani, bekerja sama; meyakinkan orang lain bahwa aku beriktikad baik, konsisten, bisa diandalkan. Tapi ada saja kurangnya. Buruk-buruknya aku suka menyalahkan diri sendiri atas wanprestasiku.

Sejauh ini aku senang dan semangat kerja di Rosda. Aku merasa dapat peran pas dan menantang, yang dalam beberapa hal tidak aku lakukan selama karir dan dari dulu ingin aku maksimalkan. Tapi apa arti semangat kalau tiada hasilnya? Aku tahu persis beda kerja freelance dan terikat. Terlebih ada saja hal yang bisa membuat aku seperti mau patah semangat, entah prasangka buruk atau miskomunikasi. Rasanya aku ingin banyak menyumbang saran, tapi kadang-kadang kuatir itu cuma sok tahu. Penerbit Rosda punya karakter, etos, budaya, dan cara bisnis tertentu yang telah membuat mereka sukses sejauh ini. Tinggal aku hormati dan beradaptasi. Cuma rasanya dalam beberapa hal masih saja ada sesuatu yang membuat aku gemas ingin bilang ini-itu karena tampak sebagai titik lemah. Satu hal: aku pantang menjelek-jelekkan perusahaan atau pelanggan yang memberiku kesempatan dan nafkah. Aku akan mengutarakan sebagai niat baik demi perbaikan.

Dari dulu aku berniat meninggalkan kebaikan atau kenangan baik pada siapapun yang bekerja sama denganku. Aku mau bermanfaat. Aku pikir aku punya bakat dan dianugerahi kemampuan. Aku juga suka belajar. Aku suka mendalami hal baru yang jadi hasratku dan berharap itu bermanfaat, bisa dikembangkan. Tapi di situ juga letak jebakan buatku sendiri, terutama bila aku malah salah memutuskan karena keterbatasan dan kekhilafan. Semoga aku benar-benar belajar.[]

KL, 23 April 2014

Thursday, January 02, 2014

Tolkien, Hobbit, dan Bandung Selatan
--Agus Kurniawan

Saya dan anak-anak menggemari novel J.R.R. Tolkien. Sejak mengenalkan karyanya kepada dua anak saya--Putri (13 th.) dan Faiza (9 th.), mereka kerap berlomba mengasosiasikan imaji Tolkien terhadap tanah kelahiran mereka sendiri, Bandung Selatan. "Ayah, kita sedang di Shire, ya," teriak girang Faiza ketika kami merambahi perbukitan eksotik Naringgul di perbatasan Kabupaten Bandung dan Cianjur Selatan, yang dihampari oleh permadani hijau kebun teh dan goresan kelak-kelok jalan tembus ke Pantai Jayanti. Di mata Faiza, bisa jadi orang-orang Naringgul yang ke luar dari pemukiman perkebunan itu dianggap seolah para Hobbit yang lagi berhamburan dari rumah-rumah pendam mereka. "Awas, kita memasuki hutan Fangorn. Tuh, pohon-pohon sedang saling bicara. Balik yuk ah, takut!" kata Putri ketika kami mulai memasuki gerbang hutan tersisa, yang memang bikin merinding. Maaf, Anda tak boleh protes. Dalam semesta subjektivitas, kita memang memiliki otonomi penuh untuk berandai-andai.

Konon masa kecil Tolkien terbilang manis. Dia tinggal di Sarehole, pedesaan di pinggiran kota Birmingham. Sekalipun jaraknya tak jauh, Sarehole dan Birmingham amat berlainan. Ketika itu awal abad ke-20, Inggris sedang gegap terpapar industrialisasi. Tak terkecuali Birmingham, kota industri besar di sisi barat daratan. Tetapi anehnya, Sarehole tak terimbas. Inilah sedikit dari pedesaan tua yang masih kebal. Di sana terpajang keelokan surga lawas: padang hijau, hutan kecil, sungai bening, dan jembatan batu. Juga tempat penggilingan kuno--sekarang jadi museum--dan rawa-rawa. Begitu terpana Tolkien pada masa lalunya hingga mengabadikan keagungan itu ke dalam sebuah desa imajiner: Shire.

Birmingham, atau tepatnya industrialisasi, selalu tampak buruk di mata Tolkien--ini kelak melahirkan para kritikus fanatik terhadap karya-karyanya. National Geographic mencoba mewakili kemurungan sang sastrawan itu dengan paragraf, "Produk-produk kerajinan dari kota-kota kecil tersapu oleh badai mekanisasi. Tekstil, galangan kapal, besi, dan baja, mengangkangi tanah Inggris sebagai industri strategis baru. Orang-orang berduyun-duyun menyesaki kota, beralih profesi menjadi buruh, dalam jumlah yang semakin berlipat-lipat. Batubara menghidupi pabrik-pabrik itu, tetapi sekaligus juga meracuni udara dengan jelaga pekat dan mewariskan lubang-lubang menganga bekas penambangan di seluruh negeri."

Tolkien melukiskan kegamangannya dengan cara lebih satir. Kutukan industrialisasi itu dalam imajinasi Tolkien adalah Isengard. Dipelopori oleh Saruman, penyihir paling sakti tapi khianat, Isengard bertiwikrama dari tanah indah menjadi "kota" bengis. Tak lagi dihuni oleh manusia, tetapi oleh para orc, monster tak berakal budi, yang hanya tahu sedikit hal: bekerja bagai mesin, patuh bak zombiE, dan menghancurkan layaknya iblis. Para monster itu tiap hari menebangi hutan dan menggali lubang-lubang menganga di dalam tanah demi satu tujuan, yakni menciptakan prajurit-prajurit tempur.

Memang, kerusakan alam bukanlah trauma utama Tolkien. Perang lebih menakutkannya. Ketika itu Perang Dunia I, usia Tolkien baru awal 20-an, dan lebih lagi dia masih pengantin baru. Menjadi seorang letnan dalam legiun Inggris, Tolkien menyaksikan manusia-manusia setengah hidup yang berjudi nyawa di parit-parit pertahanan di sepanjang kota Paris. Diiringi desingan artileri, para prajurit itu selama berbulan-bulan hidup di dalam kubangan lumpur, menyatu dengan mayat busuk. Begitu mengerikannya kondisi mereka hingga tak lagi mirip manusia. Tolkien mengasosiasikan para prajurit itu sebagai barisan tentara orc. Mereka merayap dari kedalaman bumi, untuk membunuh dan menghancurkan.

*****

Saya tinggal di pinggiran Bandung Selatan, kota kecamatan yang sepanjang jalannya dipenuhi industri. Pada saat-saat tertentu--misalnya pagi hari, halaman atau lantai luar rumah akan terlapisi samar-samar oleh bebutiran mirip bubuk kopi. Warnanya memang seperti kopi. Hitam, tetapi bau. Itulah sisa pembakaran batubara dari pabrik-pabrik. Cerobongnya menjulang; anak saya menyebutnya sebagai Menara Isengard. Sungai di belakang kampung pun senasib. Tahun 80-an sungai itu berair bening layaknya pegunungan. Penduduk memanfaatkannya sebagai sarana mandi dan mencuci, selain untuk pengairan. Anda boleh juga membayangkannya sebagai Rivendell, keraton para peri dalam dongeng Tolkien, yang dihiasi oleh anak-anak sungai berkilauan. Tetapi naasnya kini pabrik-pabrik di kampung saya gencar mewarnainya. Kadang biru, kadang bersemu merah, kadang kekuningan. Kusam karena berbaur lumpur. Mereka setiap hari menggelontorkan berkubik-kubik limbah pewarna--tanpa diolah--ke sungai, lalu membumbuinya dengan aroma menyengat. Saya sering menggoda anak saya, "Put, jangan-jangan pemerintah yang mengizinkan terjadinya pencemaran akut ini adalah Saruman?"

Tolkien pernah sekali bercerita tentang banjir. Dalam The Silmarillion, dia bertutur tentang Numenor, koloni makmur ras manusia di tengah lautan. Sayang rajanya kemaruk, menginginkan hidup kekal dengan cara mengakuisisi keabadian dari seorang dewa bernama Valar. Kemarahan Valar ternyata mengerikan, mereformasi bentuk bumi menjadi datar. Akibatnya air laut tumpah, menenggelamkan seluruh dataran Numenor. Para kritikus menganggap ini sebagai alegori kisah Nabi Nuh ataupun Atlantis, tapi Tolkien menampiknya.

Berbeda dengan Numenor, Bandung Selatan tak hanya sekali terlibas banjir. Nestapa ini justru seolah abadi. Sepanjang tahun, ratusan pemukiman di bibir Citarum rutin terbilas. Ruas jalan utama penghubung antar kecamatan terendam, menyisakan tenda-tenda pengungsi di sisi jalan. Majalah Tempo beberapa bulan lalu mendokumentasikannya genangan air itu dalam foto-foto bernuansa coklat pekat seluas berhektar-hektar. Rumah-rumah penduduk--entah reyot atau mewah--mengapung di permukaaannya. Tragisnya, itu sudah berlangsung bertahun-tahun. Tapi kini saya senang, konon tahun 2018 kejadian ini tak kan terulang. Menurut janji Wagub Jawa Barat Deddy Mizwar, sungai Citarum pada tahun itu akan kembali sebening Rivendell, dan penduduk Dayeuh Kolot, Baleendah, atau Bojongsoang bisa bernapas lega. Ya, semoga saja.

Pada usia remaja Tolkien merasa beruntung bisa berwisata ke Swiss. Dulangan kenangan tentang pegunungan Alpen yang mengendap selama bertahun-tahun akhirnya mengilhami sang sastrawan untuk menciptakan semesta fiktif, yang dia sebut legendarium. Rivendell (hunian para peri), Celebdril (tempat pertarungan sampyuh antara Gandalf dan Balrog--setan api), Anduin (sungai terpanjang dalam dongeng Dunia Tengah), Khazad-dum (kerajaan bawah tanah terbesar para Dwarf yang memiliki tangga tak berujung ke puncak gunung), juga Misty Mountains atau Hithaeglir (surga petualangan para Dwarf yang dijadikan tema soundtrack film The Hobbit) konon terinspirasi langsung oleh ekspedisi Tolkien tahun 1911 itu.

Saya ingin menularkan kegairahan Tolkien muda pada anak-anak saya, mengeksplorasi keindahan tanah kelahirannya sendiri, Bandung Selatan. Dataran bekas danau purba ini sesungguhnya tak kalah menginspirasi. Sekelilingnya berjajar barisan gunung dan hutan langka: Patuha, Tilu, Puntang, Malabar, Guntur, Papandayan. Bahkan tak kurang orang sekaliber Franz Wilhelm Junghuhn pun mengaguminya, dan menjadikan tempat ini sebagai tetirah. Kita bisa menyusuri hutan Puntang atau Patuha yang perawan, dan membayangkan diri sebagai Frodo atau Sam Gamgee menjelajahi The Old Forest. Atau kita bisa menyusuri hutan mati di lereng Papandayan agar bisa menikmati padang edelweis, seperti Bilbo Baggins dan para Dwarf menyibak Mirkwood.

Sungguh, saya tak mengharuskan anak-anak saya menciptakan legendarium sebagaimana Tolkien. Saya hanya berharap mereka belajar menghikmati alam, sembari berdoa agar gunung dan hutan-hutan ini tak segera dimakan zaman.[]


Foto dari Internet.
Silakan berteman dengan Agus Kurniawan di https://www.facebook.com/goeska.

Friday, November 22, 2013

Budi & Rani (ki-ka) menikah.     Foto dari Internet.

Celebrate the Difference!

--Septina Ferniati




Malam minggu 16 November kemarin konon adalah hari toleransi sedunia. Saat itulah kedua teman saya menikah. Yang satu etnis Tionghoa dan satunya Jawa. Banyak perbedaan nyata di antara keduanya. Tetapi kelihatannya mereka bergeming dan tetap yakin dengan cinta mereka. Setidaknya itulah yang dikatakan mempelai lelaki ketika memberi pidato sambutan. Saya dan orang-orang yang hadir pun bisa merasakan, memang cinta memenuhi udara malam itu.

Belakangan saya serius menghayati perbedaan. Sebabnya karena keluarga saya pun sedang belajar toleransi. Salah seorang kakak saya menikah dengan seorang Skotlandia yang berbeda segala. Dan mereka sudah punya dua anak. Keberadaan mereka menjadi pelajaran berharga untuk kami semua, karena mereka tetap saling mencinta meski tentangan dan prasangka disuarakan oleh seluruh keluarga. Kakak saya sangat mencintai keluarga kecilnya. Kami semua melihat binar cinta di matanya untuk mereka. Mana tega Ibu saya bilang soal syariat kalau sudah begitu. Meski berat penyesuaian di masa-masa awal, dalam hati saya yakin Tuhan Maha Cerdas dan tahu hal-hal semacam itu takkan membatasi apa pun.

Saya pernah punya sahabat Tionghoa yang meninggal karena lupus. Dia seorang Kristen yang saleh. Kami kadang bertengkar, tapi lebih sering berdamai. Menjelang kematiannya dia terus ingat menelepon dan bicara dengan saya. Dengan terbata-bata karena semakin susah bicara dia bilang, “Tolong doain gue ya…” Atau, “Gue harap bisa cepet melewati ini semua. Sakit banget…” Saat kematiannya saya menangis seperti anak kecil. Memang tidak mudah berteman dengannya. Ada-ada saja peristiwa mengesalkan kalau sifat perfeksionisnya muncul. Tapi begitu dia tiada, ada yang juga hilang dari hati saya.

Dulu pernah ada Sentot dan Seno. Kami sering main Superman sama-sama. Dari tempat tinggi kami biasa main terbang-terbangan. Keluarga mereka punya salib besar dari kayu yang dipasang di ruang keluarga di atas televisi. Saya suka mengamati.
“Itu Yesus yang dipalang untuk menebus dosa manusia,” kata Sentot suatu hari.
“Boleh gak aku pinjem?”
“Salibnya?”
Aku mengangguk.
“Gak boleh. Kamu bakal dimarahin Ibu kamu. Lagian kata mamaku susah cari salib sebagus itu.”

Dan ibuku memang marah ketika kusampaikan keinginanku atas salib itu. Beliau bilang aku seorang Muslim, dan seorang Muslim punya tata cara berbeda dalam menjalankan keyakinannya. Ibu juga bilang, “Semua agama mengajarkan doa dan persahabatan. Makanya kamu boleh main dan dekat dengan siapapun, walaupun berbeda. Karena doa dan persahabatan mah sama saja di agama manapun.”

Setelah mereka, ada Hiskia dan Lia. Kami sering makan di atas satu piring yang sama. Kami gembira kalau Lebaran dan Natal tiba. Hiskia bahkan suka ikut puasa saat Ramadan. Katanya, “Nemenin, biar kamu seneng!” Hiskia menjadi sahabat saya beberapa tahun lamanya. Sampai orang-orang heran dan takjub. Kami memang teramat akrab. Sampai-sampai saat natal pun keluarga Hiskia tak pernah alpa memberi saya hadiah, seolah saya bagian dari keluarga mereka.

Menjelang Natal, biasanya ada satu kali acara makan besar di rumahnya. Bu Sitepu ibunya Hiskia selalu meminta saya bersiap agar ikut acara itu. Ritualnya begini: saya dan Hiskia juga Lia bersama undangan yang hadir berdiri mengantri menuju meja makan yang sangat besar. Bu Sitepu sibuk mempersilakan semua tamu menyantap hidangan. Padaku Bu Sitepu suka bilang, “Nah, kamu gak boleh makan yang ini ya. Pokoknya big no!” Tangan Bu Sitepu teracung tegas. “Yang lain silakan. Tante masak di kuali yang berbeda. Jadi kamu bisa makan dengan aman.”

Dan beberapa kali menginap di rumah mereka membuat saya tahu kebiasaan berdoa mereka. Sebelum makan, sebelum tidur, mereka selalu berdoa dengan kedua tangan terkatup di depan dada dan mata tertutup juga kepala menunduk. Doanya selalu diawali dengan, “Ya Tuhan, kami mohon perlindungan-Mu…” Bawah sadar saya merekam peristiwa itu. Sampai hari ini saya suka berdoa seperti mereka berdoa. Dengan kedua tangan terbuka dan kepala tertunduk saya mengawali doa saya dengan berucap, “Ya Tuhan Allah Ta’ala, aku mohon perlindungan-Mu…” Dengan bahasa yang saya kuasai saya malah merasa doa jadi hidup dan bermakna.
Foto dari Internet.

Saya kenal banyak doa dalam bahasa Arab. Tapi saya paksakan diri untuk tahu arti dan maknanya, agar doa itu terasa mengalir. Kalau saya mengerti doa yang saya suarakan, semua jadi terasa pas.Meski sempat susah memikirkan anaknya yang menikah di Australia sana, Ibu tetap berbaik sangka. Dia tak pernah marah ataupun menyesali semua. Buatnya bila kakak dan suaminya bahagia dan bisa terus saling mencintai dan menghargai, itu sudah sangat melegakan.

Saya bisa membayangkan berkecamuknya perasaan Ibu. Dalam diri kami mengalir darah Banten yang selalu dikait-kaitkan dengan kuatnya keyakinan. Jadi sudah pasti takkan mudah baginya menerima perbedaan baru dalam keluarga besar kami. Saya belajar menguatkannya. Suka saya ingatkan lagi kata-katanya dulu; bahwa doa dan persahabatan (cinta) sama saja di keyakinan apa pun. Dan perbuatan menjadi tolok ukur semua. Saya ingat Nabi berkata, “Yang paling beriman di antara kamu (kaum Muslimin/kaum yang berserah) adalah yang paling menjaga etikanya.”

Karenanya saya yakin memang akhlak/perbuatan adalah tolok ukur semua. Bukan selainnya. Kalau ada yang bilang keyakinan adalah inti dari segala, hidup akan sangat sempit. Dan kita takkan pernah belajar lagi karena sudah merasa paling benar. Padahal keberbedaan setidaknya menunjukkan kuasa Tuhan yang Maha Welas Asih. Dia Pencipta segala. Dan Dia Tak Berbatas. Dia juga Maha Cerdas. Sedikit banyak saya agak yakin Dia juga punya rasa humor yang menarik.

Bagi saya Tuhan Allah Ta’ala tidak sekaku yang pernah saya bayangkan. Tuhan sangat mengalir, penuh cinta dan kasih sayang. Dia juga suka melucu dan senang memberi kejutan. Dia mencintai orang-orang yang saling mencinta karena-Nya.

Kelak kalau ada ujian dahsyat menimpa, semoga tidak terbersit di hati kedua teman saya tadi bahwa cinta punya expired date atau masa kedaluarsa.

Selain mengaminkan doa yang dipanjatkan di tengah ruangan resepsi, saya juga berdoa, “Ya Allah, biarkan cinta meneguhkan kami semua. For good…”[]

Septina Ferniati, guru mengajar di AKSARA, Masjid Salman-ITB, Bandung.