Showing posts with label personal essay. Show all posts
Showing posts with label personal essay. Show all posts

Friday, June 05, 2020

berjuang membaca quran
~ anwar holid

di pengujung ramadhan 2020 (1441 h) aku tamat baca quran yang aku mulai dari bulan februari 2020. kaum muslim menilai khatam quran merupakan suatu pencapaian, makanya patut disyukuri. tapi bagi orang muslim dewasa, tamat baca quran sebenarnya biasa banget. banyak muslim bisa tamat baca quran berkali-kali dalam setahun, atau bahkan sekali sebulan. aku gak bisa melakukannya.😔 itu artinya baca quranku sangat lelet, kurang banyak, sering mengulang, kurang disiplin dan rutin -- atau lebih tepatnya: masih berjuang membaca quran.

tahun ini aku membarengi baca quran dengan berusaha disiplin baca terjemahan setiap kali selesai baca ayat arabnya. buatku ini istimewa, sebab belum pernah berhasil melakukan sebelumnya. tanpa baca terjemahannya, buatku quran cuma terdengar akrab tapi gak 'bunyi', gak aku pahami, bahkan gak ada artinya. aku ingin ngerti bacaanku, meski niat itu tidak 💯 % berhasil. banyak yang gak aku pahami dari quran, barangkali karena bacaanku sepotong-sepotong dan pengetahuanku tentang quran juga terbatas.

setiap tamat baca quran, aku selalu teringat nenekku dari bapak. dulu aku pernah sampai nangis-nangis belajar baca quran baik dari uwakku atau nenekku. nenekku suka ngageunggeureuhkeun (memperingatkan) aku agar menaruh quran di kepala tiap kali membawanya -- bukan dijinjing atau dipegang begitu saja. baginya, itu adalah bentuk penghormatan terhadap sebuah kitab suci. quran yang aku baca sekarang ialah quran yang dari kecil aku pegang dan baca pelan-pelan atas bimbingan uwak atau nenekku.

baca terjemahan quran itu mencengangkan. aku jadi  bisa merasa tahu dan meraba apa maksud ayat-ayat itu. tapi, baca terjemahan quran juga suka bikin gemetar, terutama soal dosa, ancaman, siksaan, wabah, dan neraka.  sebagian isi quran itu ngeri dan di luar bayangan manusia biasa. orang masuk ke perut ikan raksasa, bapak mau menyembelih anaknya, pejuang keadilan sosial melawan rezim jahanam, praktik sihir, orang saleh miskin, tewas, satu kaum ditelan bumi, seseorang moksa entah bagaimana caranya. gak terbayangkan hal-hal itu bakal terjadi di dunia ini -- bahkan di #onthespot sekalipun. membayangkan betapa ada seseorang yang langsung menerima ayat suci juga merupakan ketakjuban lain.

membaca quran bikin aku sadar ada kosakata yang ternyata terus hadir dalam kehidupan manusia sampai sekarang. contoh quran itu sendiri. 'sihir' membuatku ngebatin: aku gak tau persis itu apa, gak pernah mengalami, gak tahu bentuknya, tapi jelas merupakan hal besar. apa aku alergi pada sesuatu yang asing seperti sihir hingga seumur hidup menghindari, tak pernah mau atau menyelami ilmunya, bahkan secara bawah sadar ketakutan terhadapnya?? kenapa sebagai muslim aku tidak pernah diperkenalkan pada sihir secara pantas?? kalau sihir di zaman dulu bisa dipraktikkan dalam gerakan sosial dan menumbangkan rezim, seperti apakah bentuknya di zaman sekarang???

kosaka-kosakata dalam quran begitu terpelihara. ia hidup, ditafsirkan, ditekankan, disebarkan, dicomot, bahkan kerap menjadi slogan yang menggelorakan. ia bisa misterius. ia menyertai kehidupan manusia. bukan saja kepada orang muslim, melainkan pada siapapun yang membacanya.

puasa ramadhan 2020 berlangsung di tengah wabah global covid-19 yang memaksa banyak perusahaan dan orang mengurangi waktu kerja dan menambah waktu libur. ini membuatku banyak menyempatkan membuka quran. tanpa libur mustahil aku bisa mencicil baca quran selama ramadhan, terutama sebelum buka dan sesudah subuh.

baca quranku masih buruk. atau mungkin malah memprihatinkan.☹️ aku belum belajar meningkatkan kemampuan bacanya, meski sudah dapat saran misalnya di youtube. dengan umur  setua ini sementara bacaan quranku jelek, alangkah malu dan menyesalnya aku jika dibandingkan dengan bocah-bocah yang sedang berlomba menjadi juara hafiz quran.😩😢 aku dulu belajar ngaji di surau dekat rumah, diterangi lampu minyak, dan kami membawa sebotol minyak tanah untuk penerangan surau.

ada fakta menyedihkan, ternyata masih banyak mukallaf  (umat islam yang sudah baligh) yang buta huruf (gak bisa baca) quran. aku pernah menemukan kasusnya di wag khusus muslim. akmal nasery basral bahkan menyatakan jumlahnya secara nasional antara 55 %-60 %. secara garis besar dia bilang dari 5  orang mukallaf  perbandingannya  adalah: 1 bisa baca lancar, 1 bisa baca penuh perjuangan, 3 tidak bisa baca.
😔

sejak beberapa tahun lalu aku niat belajar lebih baik baca quran, tapi belum terlaksana. secara otodidak juga belum.☹️ konpensasinya aku berusaha lebih disiplin membacanya. seorang kenalan yang rajin menamatkan quran bilang begini, 'coba sebelum mulai biasakan berdoa 'ya allah fasihkan aku membaca quran' -- insya allah dilancarkan dan dimudahkan oleh allah.' mungkin dengan begitu kita jadi lebih baik memperhatikan kualitas bacaan sendiri. jujur saja targetku setelah ini sama sekali bukan tergesa-gesa khatam quran, tapi lebih baik meningkatkan kualitas membaca dan memaknainya.[] [halaman ganjil; wartax]

nb: tulisan ini sengaja mengabaikan puebi.

Wednesday, August 14, 2019

[halaman ganjil]

menikmati sakit
~ anwar holid



awal agustus 2019 ini aku dirawat di rumah sakit karena diare. aku sampai lemas, demam, pening, dan dehidrasi. setelah masuk igd, aku ditempatkan di kamar bersebelahan dengan seorang bapak yang sakitnya lebih parah. sepertinya beliau menderita komplikasi penyakit, entah kencing manis dengan kanker prostat atau apa. yang jelas ia kencing pakai selang dan kalau buang air besar pakai pispot. lantai di bawah ranjangnya selalu ada ceceran darah. selama aku dirawat, bapak ini hanya berbaring dan mengeluh atau sering mengerang minta tolong atau minta perhatian ke penunggunya. banyak yang dia keluhkan, terutama sakit yang ia rasakan. bentar-bentar dia meminta anaknya untuk membantu membereskan sesuatu di badannya atau apa saja yang salah dalam dirinya. sementara anaknya gampang tertidur, jadi susah dibangunkan.... dipanggil-panggil gak menyahut atau lekas bangun, sementara erangan si bapak tambah nyaring dan mengenaskan. kalau anaknya susah dibangunkan, dia merepet soal sakitnya, betapa dia dulu sudah mengurus dan membesarkan anak-anaknya... namun sekarang giliran dirinya butuh, anaknya malah malas-malasan menolongnya.
'dalam sakit', puisi sapardi djoko damono
di buku duka-mu abadi. [foto: anwar holid]

aku cuma mendengarkan tiap kali si bapak mengerang atau memanggil butuh sesuatu sambil mengeluhkan sikap anak atau orang yang mendampinginya. kalau kebetulan ke kamar mandi sambil bawa infus, aku lirik bapak ini. dia meringkuk saja. dalam hati aku menyimpulkan, 'sakit si bapak ini jauh lebih parah dari sakitku.'

aku berusaha cepat pulih, menikmati istirahat dan perawatan, menghabiskan semua menu yang disediakan dan obat yang diberikan perawat atau disuntikkan via infus. aku juga menikmati kesendirian, melamun banyak hal... membayangkan hal-hal menyenangkan.😂😂

tiap kali mendengar perepetan atau erangan si bapak, aku membatin dan terkenang perbuatan yang pernah aku lakukan pada anak sendiri. apa aku ini tipe orangtua yang menuntut balas jasa ke anaknya??? aku juga pernah berbuat kasar ke anak-anak.😢 pernah menyakiti badan dan hati mereka, meskipun alasannya demi kebaikan atau pendidikan. mungkin banyak hal yang aku lakukan menyebalkan bagi anak-anak. contohnya kepo soal mereka. ya tentu saja aku kepo, persis karena mereka anak-anakku sendiri. jadi aku ingin memastikan mereka itu seperti apa. untuk urusan kepo saja aku sudah dianggap menyebalkan, apalagi urusan lain.

salah satu yang sering diminta bapak ini ialah dia ingin anaknya menghubungi saudara/orang-orang agar menjenguknya. anaknya terdengar ogah-ogahan tiap kali diminta menelepon saudara atau keluarganya, memberi tahu bahwa ayahnya sedang sakit parah dan mohon agar menjenguknya. mungkin karena dia gak akrab atau kenal dengan orang yang dihubunginya. aku membatin, kenapa ya bapak ini ingin dijenguk banyak orang?? apa sakitnya gak tertanggungkan lagi? apa itu isyarat menjelang akhir hayatnya?? apa dia ingin membagi rasa sakit ke orang-orang terdekatnya?? apa dia mendapat dukungan, penghiburan, dan energi positif dari orang-orang yang menjenguknya???

aku 'menikmati' rasa sakit sendirian. orang kedua yang aku hubungi saat masuk igd ialah kepala hrd tempatku kerja, untuk memastikan bahwa aku beneran sakit dan jangan sampai dipotong gaji karena dianggap mangkir kerja. aku merasa sudah terlalu tua untuk memberi tahu orangtua bahwa aku sedang sakit. aku cukup yakin bisa menghadapi rasa sakit sendirian. sakit itu bagian dari hidup, dan jika kita bisa mengalahkannya, insya allah pasti sembuh. aku kuatir jadi orang menyebalkan saat sakit. aku yakin perawat, dokter, rumah sakit, bpjs, juga satpam rumah sakit sudah melakukan hal sewajarnya untuk membantu kesembuhanku. makanya aku takjub ketika dijenguk teman gowes dan menerima banyak support dari mereka.

ketika sakit sudah pasti kita tak berdaya, pasti butuh pertolongan orang lain. orang-orang baik dan menyayangi kita pasti langsung menolong dan kuatir atas keadaan kita, tak perlu lagi dibebani dengan rengekan yang terdengar mengenaskan atau malah menyebalkan. kata teman gowesku, cara orang menghadapi sakit memang beda-beda. ada yang merengek, meratap, meraung, diam menahan, atau coba mengembalikannya ke tuhan. intinya si pasien ingin mendapat kekuatan menghadapinya.

setelah tiga hari dirawat, dokter bilang aku boleh pulang. aku sungguh semangat. si bapak itu masih rutin dikunjungi perawat dan dokter. mereka terdengar jengkel ke si bapak, karena banyak menyisakan makanan dan obat yang mestinya jangan sampai telat dihabiskan. aku masih sulit melupakan soal beliau.... meskipun beberapa hari berselang sehabis kepulangan dari rumah sakit itu aku ikut gowes bareng kawan-kawan  ke gunung patuha - kawah putih. [wartax, 7/8/19]

Monday, January 23, 2017

Membangun Benda Mati vs Manusia 
Saran Untuk Debat Pilkada DKI 2017
--Ilham D. Sannang


Gara-gara diskusi soal "membangun manusia vs benda mati" dalam debat pilkada DKI Jumat lalu, saya jadi pingin nimbrung. 

Rumah ibadah adalah benda mati. Manusia adalah makhluk hidup. Mana yang lebih penting: membangun rumah ibadah atau membangun manusia?

Celana adalah benda mati. Manusia adalah makhluk hidup. Bersekolah adalah cara membangun manusia. Pilih mana: beli celana tapi gak bersekolah, atau bersekolah tanpa celana?

Gua batu adalah benda mati. Tapi, tanpa benda mati itu, hidup manusia purba akan susah: bisa kehujanan, kedinginan, masuk angin, sakit, lalu mungkin gampang mati. Begitu juga kapak batu adalah benda mati. Dan tanpa kapak batu, manusia purba itu akan susah berburu, bisa kelaparan, dan mungkin mati. Tanpa gua batu dan kapak batu (benda mati), manusia purba mungkin tidak akan pernah menjadi manusia modern.

Tapi, gua batu dan kapak batu---benda-benda mati itu---tentu bukan segalanya bagi manusia purba. Tanpa mempelajari alam, tanpa mempelajari diri sendiri, tanpa mengembangkan diri---singkatnya, tanpa pendidikan dan kebudayaan---tentu manusia purba akan selamanya jadi manusia purba, tidak akan berkembang menjadi manusia modern. Dengan akalnya yang berkembang pelan-pelan, manusia purba akhirnya lama-lama belajar menulis di batu. Batu-batu itu---benda-benda mati itu---menjadi sarana lahirnya kebudayaan dan zaman sejarah.

Jadi, buat apa mempertentangkan benda mati dan makhluk hidup?

Lama-lama, manusia menulis di atas kertas. Kertas adalah benda mati. Tapi, kertas berasal dari benda hidup: pohon. Buku adalah benda mati. Tapi, buku kedokteran bisa jadi alat untuk kehidupan. Begitu juga pisau bedah dan kamar operasi: benda-benda mati yang mendukung kehidupan.

Bangunan rumah, masjid, sekolah, rumah sakit, jalan, jembatan, kantor, bendungan, komputer, handphone, piring, sendok, toilet, pasar, tempat sampah, mobil, kereta, MRT, motor, pulpen, keran, sekrup, kabel, kondom, kacamata, celana, baju, dan lain-lain, semuanya benda-benda mati. Tapi apa jadinya kehidupan kita tanpa benda-benda mati itu?

Di sisi lain, dapatkah benda-benda mati itu (yang sudah jadi bagian penting dari hidup kita sehari-hari) diproduksi tanpa manusia-manusia pintar dan terdidik (tanpa membangun manusia)?
Ilustrasi dari Internet.

Jadi, buat apa mempertentangkan antara membangun benda mati atau membangun manusia?

Tidak ada satu pun calon gubernur yang menafikan pentingnya membangun manusia dan membangun infrastruktur dan benda-benda mati. Itu bukan pilihan A atau B. Sebab, kita butuh A sekaligus B. Kita butuh membangun manusia sekaligus membangun "benda-benda mati."

Jadi, supaya debat selanjutnya lebih berkualitas, lebih baik masuk ke detail dong: berapa yang akan dianggarkan untuk pembangunan infrastruktur transportasi massal, supaya macet Jakarta bisa dikurangi? Dari mana sumber pembiayaannya? Kalau macet berkurang, kan lebih cepat kita bisa pulang ke keluarga tersayang! Dan itu bagian penting dari pembangunan manusia lewat quality time bersama keluarga!

Berapa yang akan dianggarkan untuk gaji guru, bangun sekolah, Kartu Jakarta Pintar, dan lain-lain anggaran sektor pendidikan dan kebudayaan? Darimana duitnya? Bagaimana realisasinya? Kenapa serapannya rendah?

Berapa banyak yang dianggarkan buat perbaikan trotoar (benda mati), lahan parkir dekat stasiun (benda mati), menanam pohon (makhluk hidup), bikin jalur sepeda, zebra cross, lampu lalu-lintas, jembatan (benda mati lagi), supaya makin banyak yang nyaman berjalan kaki atau pakai transportasi umum atau bersepeda? 

Sudahlah, jangan memperdebatkan hal-hal umum yang sudah jelas .... mari masuk ke detail!

Jauuuuh sebelum debat pilkada DKI 2017, lebih dari 1400 tahun lalu, sudah diwahyukan kepada manusia begini: Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Demikianlah Allah... (Al-Quran 6:95).

Jadi, sudah lama kita tahu bahwa makhluk hidup bergantung pada benda mati, dan benda mati bergantung pada makhluk hidup. Benda mati dan makhluk hidup saling bergantung dalam siklus. Demikianlah alam ini dibuat oleh Sang Perancang. Jadi, tak perlulah kedua jenis ciptaan-Nya itu dipertentangkan. Kalau soal ini saja masih diperdebatkan, berarti selama 1400 tahun kita belum belajar apa-apa dooong...

Mari bicara angka, proporsi: apakah 1 unit rumah (benda mati) cukup untuk menampung 10 manusia (makhluk hidup)? Masih banyak orang Jakarta yang belum punya rumah (berapa banyak?) Kenapa unit apartemen masih banyak yang kosong, padahal tunawisma juga banyak? Apakah karena properti dijadikan ajang spekulasi dan investasi kaum berduit? Bagaimana solusinya? Dari mana anggarannya? Apa perlu ada pembatasan pembelian properti, atau pengenaan pajak progresif untuk properti ke-2?

Apakah 1 unit bangunan sekolah (benda mati) cukup untuk menampung 1000 siswa (makhluk hidup)? Masih banyak anak Jakarta yang belum bisa sekolah di gedung sekolah dan ruang kelas yang layak (berapa banyak?) Bagaimana solusinya? Dari mana anggarannya?

Apakah 1 km jalan (benda mati) cukup untuk menampung 1000 mobil yang berisi manusia (makhluk hidup) dengan nyaman? Jakarta masih macet. Bagaimana solusinya? Dari mana anggarannya?

Dan seterusnya, dan seterusnya....

Jadi, tolong berikan tawaran solusi yang konkret dong pak, bu!

Kalau bisa, sama konkretnya seperti lebih dari 1400 tahun lalu, ketika seorang peminta-minta mengemis kepada Sang Nabi, lalu Nabi justru memberinya solusi konkret berupa kapak (benda mati) supaya dia bisa mencari kayu bakar di hutan untuk mencari nafkah. (Di zaman sekarang, bisa bikin inkubator bisnis a la Sandiaga Uno atau budidaya ikan kerapu di pulau Seribu a la Ahok: ayo bandingin mana yang lebih logis).

Atau, berikan solusi yang sama konkretnya ketika para tunawisma diberi atap berteduh di selasar masjid nabawi (benda mati) di Madinah... (ini mungkin analog dengan pemberian BLT ala Agus, kalau memang tunawisma beneran dikasih BLT atau tempat nginep gratis oleh Agus....Gimana supaya BLT-nya gak dikorupsi? Mengingat kader dari partai pendukung zaman dulu terbukti banyak yang terlibat korupsi. Mau sampai kapan dikasih BLT? dan lain-lain, dan seterusnya.)

Ayo dong.....mbok ya debatnya yang konkret gitu lho, supaya nonton dan milihnya juga seru!

Kalau waktu debatnya terlalu sempit buat bicarakan teknis angka, kebijakan, strategi, dan lain-lain, boleh juga cagub-cawagub meng-upload versi panjangnya di Youtube. Jadi, milihnya kan lebih enak....

Yah?! Yah?! Yah?![] 17 Januari 2017

Ilham D. Sannang ialah seorang penduduk Jakarta. Bekerja sebagai editor dan penulis freelance.

Tuesday, January 03, 2017

jangan takut mencari bahagia dengan cara tak biasa
oleh anwar holid

'tau gak, hidup dia sekarang bahagia setelah nikah sama suami keduanya,' kata kawanku tentang seorang kawan perempuan kami.
'bahagia gimana?' tanyaku rada datar.
'yah pokoknya dia kelihatan senang. hidup makmur. rumah besar mentereng. sering liburan ke tempat-tempat impian, indah, dan terkenal. mobil ada. anaknya cantik-cantik. kayaknya gak ada kurangnya...' kawanku berusaha meyakinkan aku.
'emang suaminya kerja di mana sampai mereka bisa kaya begitu?'
'di perusahaan tambang minyak, di laut china selatan.'
'oh... mereka hidup pisah ya?' giliranku menebak.
'iya... ketemuan tiga bulan atau enam bulan sekali.'
'yaaaah... kasihan dong, gak tiap hari dapat pelukan dan ciuman suaminya, gak tiap hari tidur bareng atau minimal dapat senyuman kekasihnya,' aku mencoba meremehkan nasib kawan kami.
'halah... kamu! itu harga yang mereka bayar untuk mendapatkan kebahagiaan, tau!'
'oh, jadi kebahagiaan itu harus dibayar segitunya ya? aku pikir kebahagiaan itu tanpa syarat.'
'ya enggak lah. kamu aja sering bilang there’s no such thing as a free lunch.'
'terus gimana kamu bisa menjamin mereka bahagia? suami-istri hidup terpisah itu berat tau. bahkan bisa jadi menyengsarakan. bikin batin tertekan, interaksi susah, pas lagi dibutuhin gak ada, hubungan emosi dan seks juga lebih jarang. jadinya lebih terhadang. dan itu semua sangat mendasar dalam membangun kebahagiaan!'
'hahaha... barusan kamu bilang kebahagiaan itu tanpa syarat. sekarang kenapa kamu bilang itu semua penting sebagai pembentuk kebahagiaan?'
'loh... itu menurut orang. menurut studi. ada temuannya. aku mah yakin, kebahagiaan seorang presiden dan buruh itu kualitasnya sama, walaupun status sosial dan harta bendanya beda.'
'halah... teori! kebahagiaan seorang presiden pasti lebih tinggi kualitasnya dibanding kebahagiaan seorang buruh!'
'dari mana kamu yakin?'
'dari statusnyalah. keduanya jelas beda. raja mikirin bangsa dan negara, skalanya jauh lebih luas dan rumit; buruh memikirkan diri sendiri, skalanya kecil, mungkin lebih gampang terpenuhi. ada yang bilang... orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu itu beda. jadi aku yakin bahagia seorang presiden pasti beda dari pemulung.'
'apa kamu yakin presiden memikirkan bangsa dan negaranya? bukan kekuasaan, hawa nafsu, syahwat, atau kemasyhuran dan kepentingannya sendiri? kita aja sering kok segitunya mikirin kondisi dan nasib bangsa dan negeri ini, seolah-olah paling tahu cara menyelesaikan masalah bangsa dan masyarakat---padahal itu semua ada di luar kuasa kita.'
'udah, udah... kamu tambah ngelantur. lantas kenapa kamu sangsi bahwa hidup seseorang itu bahagia?'
'yah... karena kamu mengaitkan kebahagiaan dengan kepemilikan materi. padahal bisa jadi kedua hal itu gak nyambung.'
'kamu yakin ngomong gitu? buktinya kita kan sering menyangka bahwa orang berlimpah materi itu gampang kelihatan lebih senang? kebutuhan hidup lebih terpenuhi. lebih makmur. banyak orang bilang kebahagiaan membawa orang pada kemakmutan. kekuatirannya berkurang, gak gampang cemas, dibanding orang yang serba kekurangan. bahkan mungkin saja dia gampang berbagi dengan hartanya, menjadikan sebagian hartanya untuk menyenangkan orang lain. contohnya ya kawan kita itu....'
'yah... tapi kita juga kan gak tau kalo dia mungkin cemas soal utang-utangnya. mungkin dia mikir kenapa hartanya gampang sekali berkurang, padahal susah-payah didapatkan? aku sering lihat ada orang kaya yang dikit-dikit panik bila kekayaannya berkurang, usahanya merugi sedikit saja. jelas mereka gak rela kalo neracanya negatif. apa seperti itu orang bahagia?
sementara orang yang hartanya memang sedikit sudah gak cemas sama sekali soal itu semua, karena dia tak memikirkan yang tak dimilikinya. kebutuhan hidup orang kan lain-lain. sebagian orang mungkin lebih butuh harta; sementara yang lain mungkin saja lebih butuh hal-hal nonmateri, mungkin emosi, perhatian, kasih sayang.'
'itu namanya kamu membanding-bandingkan kebahagiaan seseorang dengan orang lain. padahal untuk bahagia orang harus menerima kondisinya tanpa pamrih. jangan membanding-bandingkan dirimu dengan orang lain.'
'ya memang... kebahagiaan itu soal mindset. cuma aku penasaran. kalo orang sering bilang bahwa kepemilikan materi tidak menjamin kebahagiaan nurani, tapi kenapa yang sering digembar-gemborkan dan duluan dikejar malah selalu kepemilikan materi? padahal kepemilikan materi tak bisa langsung diubah jadi kebahagiaan... apalagi kalo dibandingkan dengan kerja keras cara mendapatkannya. mungkin itu cuma bayaran setimpal. sementara aku rada yakin bahwa kebahagiaan itu sejenis dengan kepuasan batin. kepemilikan itu menurutku gak cenderung seiring dengan kebahagiaan kok... kita sudah sering lihat buktinya.'
'hehehe... mungkin itulah manusia. sering gak konsisten. bilangnya begini padahal maksudnya begitu. apa yang dicari beda dengan yang ditemukan. menyangka dengan punya kekayaan berarti menemukan kebahagiaan.'
'nahhh... itulah yang sering bikin aku sangsi sama orang yang dibilang bahagia. karena kita cuma bisa lihat luarnya. sementara dalam hati orang siapa tahu?'
'tapi gampang sinis atau terus-terusan sangsi sama kebahagiaan orang lain bikin kamu kayak sakit jiwa. kan pasti ada orang yang benar-benar bahagia di dunia ini. gak perlu restu kamu bahwa seseorang bisa bahagia!'
'hahahaha.... segitunya. tega kamu!'
'iyalah... kalo kamu gak bahagia bukan berarti gak ada orang lain yang bener-bener bisa merasakan kebahagiaan.'
'baiklah. aku cuma ingin bilang jangan menyeragamkan kebahagiaan seseorang satu sama lain. seolah-olah dalam kondisi yang sama otomatis melahirkan kebahagiaan yang sama. aku gak yakin kayak begitu.'
'ah dasar kamu ngeyel... pantes kamu kelihatan susah bahagia.'
'wkwkwkwk... bukannya sesuatu yang sulit diperoleh maka kadar bahagianya pun makin besar?'
'jadi kamu mau melecehkan bahwa kebahagiaan karena harta itu kadarnya rendah?'
'ya itu tergantung gimana seseorang menilai harta dan meletakkan kebahagiaan. kalo bagi dia kebahagiaan itu ada dalam setumpukan harta, dia pasti menghargai harta lebih dari segala-galanya... tapi kalau kekayaannya berkurang pasti langsung berkurang pula kebahagiannya. padahal menurutku kebahagiaan juga bisa didapat dari hal-hal kecil yang tak kalah esensial.'
'apa contohnya?'
'banyak. keramahan dengan teman kerja, bebas bilang apa saja ke bos atau klien, gak perlu kuatir mau bikin status apa pun di media sosial, toleran sama perbedaan... itu semua simpel kan? kalo kita cuma menganggap kebahagiaan itu ada dalam hal-hal besar, kasihan sekali aku yang cuma punya hal-hal sepele. '
'hahaha.... sekarang buktiin aja deh bahwa kamu bener-bener bisa bahagia dengan keyakinan itu, bukan sedikit-sedikit nyinyir atau sangsi bahwa kebahagiaan versi orang lain itu palsu atau malah gak ada.'
'yah... itu yang dari dulu ingin aku sampaikan. cuma aku gak bisa dengan gampang meyakinkan orang lain... jatuhnya malah jadi skeptis, atau lebih parah jadi debat dan sangsi. seolah-olah kebahagiaan itu susah dicari. padahal menurutku orang bisa bahagia dengan cara berbeda-beda, tertentu, atau malah gak biasa.'
'nahhh... kalo gitu akuilah bahwa orang memang bisa bahagia meski enggak sesuai dengan standarmu.'
'ah... orang gampang silau dengan nasib orang lain dan menyangka di situlah letak kebahagiaannya. padahal belum tentu. jangan menutup kemungkinan bahwa kebahagiaan bisa muncul dalam situasi yang gak terduga.'
'kalo gitu sering-seringlah bikin surprise sama orang lain biar bisa bahagia!'
'ah...... kalo itu sih namanya kamu ngarep!'

Foto: Wartax
pelan-pelan percakapan merendah. entah apa yang ada dalam pikiran kami masing-masing setelah jeda yang lengang itu. apa bersikukuh dengan kebahagiaan versi masing-masing atau membuka diri dengan kemungkinan baru bahwa bahagia bisa jadi menelusup ke lubang paling sempit di dalam hati seorang insan.[] 3/1/17

Thursday, June 16, 2016



Kehilangan Momen Berbuat Baik 
Anwar Holid

Suatu pagi pas jalan ke pasar inpres, aku ditawari seorang laki-laki berwajah bingung dan memelas untuk membeli sekantung keresek beras. Dia bilang istrinya mau melahirkan dan tak punya cara lain mencari uang buat biaya persalinan, makanya menawari siapa saja yang ada di pinggir jalan. Aku minta maaf menolak membeli berasnya, bilang di rumah masih ada persediaan, dan sedang tidak berencana beli beras. Aku memang mau beli sejumlah kebutuhan keluarga, tapi tidak termasuk beras. Laki-laki itu berusaha terus meyakinkan dan membujuk, tapi aku tetap menolak. Raut wajahnya tampak makin sedih. Aku lihat kilatan matanya makin berair mengalir ke sudut, menggumpal mau jatuh jadi tangis. sambil melengos putus asa, dia bilang, 'Maaf... ini memang salah saya...'

Aku langsung nelangsa dengar itu dan memegang pundaknya sambil berkata, 'Bukan... itu bukan salah akang. Saya hanya enggak niat beli beras. Mungkin nanti ada orang lain yang mau beli beras akang. Maaf ya...' Dia mengangguk dan kami berpisah.

Aku membatin, aku percaya bahwa dia jujur atas kondisinya. Dia tak punya cara lain berusaha, sehingga berharap keberuntungan di pinggir jalan. Sementara aku tidak spontan membantu orang lain dan merasa kurang lapang. Aku pernah dalam situasi sulit serupa, dan tahu persis betapa mencari bantuan memang bisa sangat sulit. Sekarang saja aku tengah butuh biaya untuk renovasi rumah, pengen beli kamera, mau beli road bike, kadang-kadang dituntut beli barang yang lebih mahal lagi, membiayai macam-macam keinginan... tapi masih terlalu malas lebih giat mendulang rezeki. Aku merasa bahwa keperluan itu masih bisa ditunda. Padahal aku tak punya aset selain menawarkan jasa, memaksimalkan kemampuan dan kesempatan. Kejadian itu membuatku membatin, kenapa ya Tuhan mempertemukan aku dengan pria itu?

Kenapa aku tak langsung menolongnya dan terlalu keukeuh dengan rencana yang sudah disusun? Apa kalau aku beli berasnya maka hidupku bisa berantakan atau malah diketawain sebagai orang yang gampang ditipu orang pinggir jalan? Jujur saja aku tidak kuatir oleh komentar orang lain. Cuma aku penasaran. Kenapa aku ditakdirkan menyaksikan detil kehidupan seseorang yang tengah kesulitan? Mungkin itu tanda sebenarnya aku bisa menolongnya sesuai kemampuan. Karena kemampuanku kecil, maka yang dihadapkan kepadaku juga detil kehidupan yang simpel. Kenapa orang seperti itu tak dipertemukan dengan pengusaha sukses, gubernur atau pemimpin partai? Kalo itu terjadi tentu persoalannya bisa langsung beres dan bisa dimaksimalkan untuk pencitraan.

Kenapa pria itu tak ketemu dengan para pemimpin negara-negara yang tengah berunding membicarakan masa depan dunia dan persoalan rumit seperti kemiskinan, krisis ekonomi dunia, ancaman terorisme? Apa hal itu terlalu sepele dibanding persoalan besar dunia, maka terjadi di sudut bumi di luar jangkauan radar kekuatan besar. tampaknya juga mustahil bahwa 'persoalan kecil' seperti kebutuhan pribadi terungkap di acara demikian. Mungkin gak sih dalam pertemuan 'penting' tingkat internasional seseorang minta tolong dirinya butuh biaya persalinan istri, ongkos sunatan, atau biaya nikah anaknya? Orang akan bilang itu irelevan dan di luar konteks. Atau gila. Jadi apa sebenarnya kejadian kecil itu sama bobotnya dengan peristiwa besar yang dianggap penting dan perlu dicatat sejarah?

Ah... mungkin aku terlalu repot mencari-cari alasan atas kemalasanku segera menolong, meski di luar rencana dan irelevan. Jujur saja aku suka menyesal tak bisa menolong karena merasa sempit, padahal kalau mau bersikap lapang mestinya masih bisa menyisihkan kemampuan atau rezeki walau sedikit. Sementara pada saat merasa mampu, kesempatan itu sudah lewat. Kita kehilangan momen berbuat baik, padahal kesempatan itu cuma sekelebat. Waktunya sempit sekali, dan mungkin tak terulang lagi. Seperti tendangan penalti, dalam hitungan detik ia harus segera dieksekusi.

JEDARRRRR!!!!![]


[HALAMAN GANJIL]

Thursday, June 09, 2016


Harapan
Oleh: Agus Kurniawan

Sewaktu kecil saya menemukan komik strip di koran bekas, yang dipakai sebagai pembungkus belanjaan ibu saya dari Pasar Grabag, suatu kecamatan di pinggiran Kabupaten Magelang. Komik itu berbahasa Jawa, berkisah seperti ini.

Syahdan seorang pejabat kerajaan berpangkat rendah bermuram diri di jalan setapak suatu hutan di tepi kota. Berteriak, memaki, dan menyumpah. Bersamaan itu, berlalulah seorang pengelana tua, berjenggot putih tak terawat dan bersorban dekil. Sang pengelana yang tampak kurang meyakinkan penampilannya itu pun diliputi empati, lalu bertanya.
"Kisanak, apakah gerangan yang membuatmu berduka, marah, hingga mengutuki Tuhan?"
"Ah, kau orang tua tahu apa. Aku ini pejabat. Mau marah, teriak, mengumpat, suka-suka saya... Tuhan itu tidak adil. Aku pejabat yang baik, selalu patuh dan berbakti pada kerajaan, mengapa ditimpakan fitnah yang keji. Salahku apa, dosaku apa."
"Kisanak, sekalipun penderitaanmu berat, tetapi tidak semestinya engkau mengutuki Sang Pencipta. Jika kau tetap menyumpahi-Nya seperti itu, kau akan tertimpa adzab yang lebih besar."
"Hai tua bangka," suara pejabat itu menggelegar bak petir. Kemarahannya makin tak terkendali, apalagi setelah seorang pengelana tua yang tampak bukan siapa-siapa itu mengguruinya. Dicabutnya keris, lalu mengancam, "Kalau kau tak pergi dari sini sekarang juga, ujung kerisku yang akan membuat nyawamu pergi."

Pengelana tua itu pun beranjak, tetapi sambil berucap, "Allah Maha Kuasa, apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi."

Beberapa waktu kemudian, entah mengapa pejabat itu ditimba musibah beruntun, yang teramat pedih, yang jauh lebih berat dari sebelumnya. Persis seperti perkataan pengelana tua itu. Pejabat pun jatuh sakit, dan merasa selalu dihantui oleh perkataan dan wajah sang pengelana. Berbulan-bulan tak kunjung sembuh, sampai seorang kyai tabib menyelidiki asal-muasalnya.
"Kyai, ini semua terjadi karena saya mengancam seorang pengelana tua di hutan..."
"Pengelana? Bagaimana kejadiannya? Coba kau sebutkan ciri-cirinya."
Setelah sang pejabat menceritakan dengan terbata-bata kejadian tempo dulu, dan tentang ciri-ciri sang pengelana yang begitu dihapalnya, kyai itu pun menjerit, "Astaghfirullah. Kau, malang sekali. Itu Sunan Bonang. Kau kena kutukan Sunan Bonang!"

Apakah komik itu ingin bercerita tentang kesaktian Sunan Bonang, salah seorang Wali Songo, ulama maksum yang berperan besar dalam menyebarkan Islam di Tanah Jawa? Folklorenya sih begitu. Tapi, bagi saya, moral ceritanya bukan itu. Komik ini mengisyaratkan tentang satu kata yang termasuk paling penting dalam kehidupan manusia, yakni harapan. Komik itu sama sekali tak bercerita tentang kutukan ulama masyhur itu. Tetapi berkisah tentang kondisi mental seseorang yang berprasangka buruk terhadap kemungkinan. Dampaknya memang dahsyat.

Ketika seseorang secara intensif menganggap dirinya tak mampu melakukan sesuatu, maka 'mental state'-nya akan menjadi seperti itu. Lalu secara tidak nampak, individu itu akan menyesuaikan perilaku dan tindakannya sesuai dengan kondisi mentalnya. Semacam alam bawah sadar. Refleks, otomatis. Bukan sunan yang mengutuk pejabat itu, tetapi dia sendiri yang mengondisikan dirinya ke arah kehancuran.

Masih tentang harapan, saya pernah menonton film epik, Jakob The Liar, dibintangi aktor maestro, Robbin Wiliams. Kisah ini tentang seorang Yahudi tahanan Jerman bernama Jakob, pada masa Perang Dunia II. Dia melata di kamp kosentrasi yang papa, dan terus-menerus berbohong hingga dihukum mati karena kebohongannya. Dia membual memiliki radio--barang terlarang, yang setiap hari mengudarakan pergerakan tentara Sekutu mengganyang Jerman. Tentu dia tak punya radio, tetapi terus saja berbohong. Mengapa? Bualannya ternyata melimpahkan semangat hidup yang tiada banding kepada seluruh penghuni kamp. Pernah sekali dia jujur, lalu fatal akibatnya. Teman baiknya di kamp mati gantung diri, merasa tak punya lagi harapan hidup. Jakob berbohong untuk memasok harapan.


Adakah sesuatu yang lebih penting dan langka ketimbang harapan, pada saat penderitaan dan kematian akrab berkarib? Dan harapan itu nyatanya memang menyelamatkan teman-temannya dari penderitaan, dari kematian yang tak perlu.

Harapan telah bertakhta agung dalam setiap kisah zaman. Bangsa Yunani, misalnya, memiliki legenda tentang ini. Kita mengenalnya sebagai hikayat Pandora. Konon, Pandora adalah perempuan pertama di dunia, yang dilimpahi beragam anugerah oleh para dewa: kecantikan, kepandaian, kelembutan, hasrat, dan juga nyanyian merdu. Tetapi dia sesungguhnya diciptakan sebagai petaka bagi sang terhukum, Promotheus, yang lancang mencuri api dari haribaan Zeus, tetua para dewa. Oleh mereka, Pandora yang molek itu dititahkan untuk menggoda lalu menikahi kakak Promotheus yang memang dianggap pendek akal, yakni Epimetheus. Promotheus sudah memperingatkan kakaknya agar menolak hadiah dari Zeus--"pandora" juga berarti hadiah. Tapi sang kakak tak menghiraukannya. Mana bisa menolak hadiah perempuan jelita yang tak ada duanya di Bumi.

Padahal sesungguhnya Pandora telah dibekali sebuah "bom" oleh para dewa, yang akan diledakkannya di depan Epimetheus. Dan benar saja, begitu sampai di depan calon suaminya, Pandora pun membuka "bom" itu, sebuah kotak berisi segala bentuk kejahatan dan keburukan, tetapi juga harapan. Alhasil, bumi yang semula tanah surgawi, replika citra kahyangan, yang bisa dinikmati tanpa perlu bersusah-susah, mendadak menjadi tempat yang buruk, dekil, dan menyesatkan. Pandora hanya menyisakan satu saja di dalam kotak itu, yang kemudian disimpannya rapat-rapat sebagai pusaka, yakni harapan. Hanya harapan yang tersisa di dalam kotak, sebuah modal awal dari perjuangan menaklukkan dunia yang buruk dan menyesatkan itu.

Suatu sore Faiza, si bungsu anak saya yang lagi gemar-gemarnya melahap ensiklopedia, bercerita dengan gayanya yang agak show-off. 
"Ayah, kenapa bangsa Indonesia itu jadi bangsa yang menyedihkan, ya?"
"Maksudnya?"
"Kan Allah sudah memberikan berbagai kekayaan kepada kita. Misalnya cadangan emas, sekian juta kilo (dia menyebut angka yang diambil dari bacaannya). Terus laut yang luas, yang produksi ikannya sekian juta ton (dia menyebut angka). Mengapa bangsa kita tetap miskin dan terbelakang?"

Sudah tentu saya harus menjawab pertanyaan itu setidaknya sama atau lebih baik dari Jakob. Saya mustahil mengiyakan pesimisme si kecil yang bisa jadi akan mematri menahun. Lalu saya pun bercerita tentang tanah-tanah subur yang merangkai kepulauan nusantara ini. Kelak tanah ini akan menghasilkan energi terbarukan yang tak dimiliki oleh banyak bangsa lain, sekalipun itu bangsa-bangsa besar. Jagung atau singkong kita kelak akan memasok bahan bakar biologis ke seluruh dunia, menggantikan BBM jika sudah terkuras habis. Makanan kita akan memenuhi pasar-pasar negara manca karena kita memiliki tanah yang subur. Listrik kita juga akan melimpah, karena kita memiliki sinar matahari dan angin meruah, untuk menggantikan listrik konvensional.
"Jadi, nanti negara kita akan jadi negara maju, Ayah?"
"Tentu. Tentu saja, anakku."

Sambil menyembunyikan mata saya yang berkaca-kaca, saya teringat sebuah hadist qudsi, yang bunyinya, "Aku (Allah) sesuai persangkaan hamba-Ku."[]

Agus Kurniawan, seorang karyawan. Bekerja di Jakarta, tinggal di Banjaran, Kab. Bandung.

Thursday, May 26, 2016



Kisah Diusir dari Grup WA
Anwar Holid

Baru saja aku diusir dari grup WA SMA satu angkatan. Rupanya ada admin tersinggung oleh komentar-komentarku. Seorang dari mereka bilang begini soal aku, 'Perasaan sebelum dia masuk ini grup enak-enak saja deh... seruuuu.'

Oh, maaf kalo begitu. Jadi aku bikin grup gak seru, gak asyik, gak enak, sampai perlu ditendang. Aku tertawa membayangkan kawan seangkatanku sendiri segitu tersinggung oleh komentar atau pernyataanku. Mungkin aku memang sengak. Aku merasa dia sensitif, gampang ngambek, bahkan mungkin intoleran pada pendapat tegas atau cenderung pedas. Padahal aku sendiri merasa apolitis dan pasifis.

Entah kenapa aku langsung ingat Saut Situmorang, seorang penyair yang dituntut ke pengadilan atas dakwaan pencemaran nama baik. Rupanya si penuntut tersinggung atas kelancangan Saut mengata-ngatai dirinya di media sosial. Aku  merasa Saut pemberani, bahkan mungkin urat takutnya sudah putus. Dia yakin atas ucapan dan kelakuannya. Saking salut, aku suka menitipkan keberanian kepadanya. Tapi tentu saja kasusku bukan apa-apa dibanding yang dialaminya.

Aku cuma sedih dan kasihan pada orang yang takut berpendapat, takut  mengutarakan sesuatu dengan baik dan jelas. Kasihan sekali kalau kamu berumur lebih dari 40 tahun tapi masih takut bilang ini-itu, gentar menyatakan sesuatu hanya karena punya pikiran lain. Aku menyangka admin yang mengusirku itu tak bisa dibantah, harus diturut, gampang terusik, merasa otoritasnya terganggu. Mungkin ia bos yang berkuasa penuh mengatur ini-itu, disegani, bangga bila kehadirannya menebar teror, membuat orang lain takut dan segan. Jadi dia tak sungkan menendangku.

Aku cuma senyum-senyum waktu kawan sekelasku kaget mendapati diriku  sudah diusir. Aku tidak menyesal, tapi langsung membuatku malas minta balik. Toh aku juga tidak merengek ingin masuk. Aku cuma merasa sayang gagal jadi orang menyenangkan dan menutup peluang mendapat tambahan follower di media sosial... ha ha ha. Tapi untungnya dengan begitu aku bisa menghemat paket data, bebas dari clear chat atas komentar membosankan, terhindar dari orang kolokan, dan bisa lebih hemat batre hape.[]

Wednesday, January 06, 2016

suatu hari dengar cerita pak sopir angkot
--anwar holid

kemarin waktu aku ngobrol dengan sopir angkot, dia cerita putranya yang sudah menikah jadi penjual kebab pinggir jalan. gajinya 800 ribu rupiah per bulan. terkadang kalau beruntung dia dikasih tambahan oleh bosnya sekitar 200 ribu.

'800 ribu cukup buat apa?' tanya pak sopir retorik. dia bilang sambil merokok. garis-garis di wajahnya tergurat dengan jelas dan tajam. topi kumal yang dia kenakan menambah kesan betapa dirinya sudah puluhan tahu disepuh alam.

aku terdiam dengar ucapannya. antara kaget dan prihatin atau gak bisa berbuat apa-apa. termangu.

'oh, penjual kebab itu digaji ya pak?' tanyaku tanpa bermaksud mengalihkan topik. 'saya kira dapat dari jualannya...'

'enggak. kan semua sudah dipasok sama bosnya. anak saya tinggal ambil dan jual.'

jadi sekarang aku baru tahu bahwa penjual kebab dan semacamnya juga orang gajian. pikiranku langsung terpelanting ke zaman pra-reformasi ketika aku pernah digaji di atas sejuta lebih sedikit. dengan gaji segitu saja rasanya aku masih prihatin. dan sekarang di rezim jokowi aku mendengar ada seseorang digaji di bawah sejuta. tapi untunglah aku sedang males nyinyir soal politik atau keadilan sosial yang jelas-jelas di luar kontrolku.

bagaimana satu keluarga menyiasati hidup sehari-hari dengan uang 800 ribu dalam sebulan? terlalu gelap buatku untuk membayangkannya.

'dengan gaji segitu, incu saya sering minta dibeliin buat paket data juga... jadi weh pengeluaran teh tambah besar,' lanjut pak sopir.

jujur saja aku ingin membensini ucapannya biar langsung melalap emosi yang sedang meluap-luap. tapi coba aku tahan. aku juga sudah lama niat berhenti beli paket data, tapi enggak bisa. malah sekarang harganya tambah mahal tapi terpaksa aku beli demi kepuasan bersenang-senang. aku sudah menyarankan agar berhenti beli air dalam galon (kembali minum air jerang), berhenti beli tisu, juga jangan beli dvd bajakan... tapi itu semua gagal. aku pikir kalau bisa menghemat pengeluaran untuk beberapa kebutuhan mewah itu maka aku bisa sedikit merasa lebih lega atau bahkan bisa menabung untuk beli kamera leica.



rasanya aku harus lebih prihatin. tapi mendengar obrolan pak sopir hatiku jadi lebih perih dan bergetar lagi. aku cuma bisa coba berempati.

banyak orang bekerja keras tiap hari sampai badannya mengeluarkan bau memuakkan, berjalan belasan kilo untuk mendapatkan nafkah, menunggu sampai tengah malam, memulai sejak dini hari... tapi hasilnya masih saja di bawah pengharapan dan mustahil protes lagi. sebab kalau protes keadaan bisa jadi lebih buruk lagi.

cerita pak sopir membuat pikiranku perlahan-lahan kabur. aku memandang ke luar. hari itu bandung sedang ditaburi air begitu banyak dari atas. udara yang rapat seperti mengeluarkan kabut. semua itu membuatku suasana hatiku jadi nelangsa... sampai entah kenapa mendadak aku teringat sebuah lirik lagu balada queen yang artinya: apa seperti ini dunia yang kita ciptakan?[]

[halaman ganjil]

Monday, September 28, 2015



Numpang Mobil Pak Direktur Penerbit
--Anwar Holid

Beberapa hari lalu aku ke Jakarta numpang mobil seorang direktur penerbit. Jujur saja, nama penerbitnya itu masih asing, kurang terkenal, dan sama sekali bukan tipe penerbit favoritku. Tapi apalah arti seleraku dibanding keberhasilan seseorang menumbuhkan dan merawat perusahaannya? Tentu aku harus salut atas keberhasilannya.

Aku baru berkenalan dengan pak direktur ini karena kami sama-sama aktif di sebuah grup penerbitan. Aku mendapati beliau ternyata mudah akrab dan suka bicara banyak hal, termasuk soal perusahaan dan kisahnya menjadi pelaku industri penerbitan. Karena baru kenal, aku menerima begitu saja ceritanya dan menganggap itu sebagai kebenaran. Selama di perjalanan aku coba tertarik pada ceritanya dengan sekali-kali sengaja memancing lebih dalam bagaimana dia mendirikan dan membangun perusahaannya. Awalnya aku menyangka akan mendengar omongan bombastik seorang bos atas kesuksesannya---apa pun tarafnya---tapi ternyata tidak. Yang aku dengar malah cerita seseorang yang antusias bagaimana dirinya terlibat dengan dunia buku dan bagaimana ia mencari celah ladang penghidupan di dalamnya.

Ceritanya waktu masih mahasiswa di salah satu universitas paling top di negeri ini, ia mencari tambahan uang saku dengan menjual buku dari masjid ke masjid yang bertebaran di seputar kampus dan kotanya. Sebagai aktivis kampus, dia selalu ingin praktik membuktikan bacaan, pengetahuan, dan idealisme. Sebagai mahasiswa, dia ingin mengenalkan dan menularkan buku-buku yang menurutnya 'mencerahkan', intelek, bisa mengangkat derajat pembacanya ke level di atas rata-rata. Hasilnya? Tak ada satu pun buku yang dijajakannya laku.

Sebagai mahasiswa pejuang, dia tak menyerah dengan mudah. Dia berusaha memperbaiki cara menjual dan menawarkan. Dia yakinkan bahwa bahwa buku-buku rekomendasinya pantas dikonsumsi masyarakat yang setiap hari datang ke masjid. Bayangkan berapa banyak masjid bertebaran di kota-kota di Indonesia? Berapa besar potensi pasarnya? Makanya dia tetap semangat.

Tapi setelah dicoba berkali-kali satu-dua tahun, strateginya tak ada yang mempan. Dia kecapekan dan keberatan membawa dagangannya yang tetap saja seret. Sedikit saja bukunya laku. Dia bilang, 'Ini bagaimana? Apa dari sekian banyak orang Islam tak ada yang suka baca? Malas beli buku buat pengetahuan dan masa depannya? Apa tidak bisa dianggarkan dari uang sumbangan masyarakat? Padahal di masjid kecil sekalipun kan minimal ada Al-Quran, ada rak kecil buat menyimpan bahan bacaan.' Dia mulai mengeluh dan sedikit putus asa.

Sambil kembali membawa gembolan buku jualannya ke kamar kos, dia pikir-pikir kenapa barang dagangannya cuma laku satu-dua? Itu pun bukan jenis buku favoritnya. Akhirnya dia dalami satu demi satu isi buku jualannya. Dia cari bagian paling penting, paling relevan, atau apa isi yang kira-kira paling laku dijual. Dengan begitu dia makin tahu isi buku dan makin pintar berusaha meyakinkan orang bahwa buku itu memang dibutuhkan. Strategi ini cukup berhasil. Jualannya mulai laku. Dia menemukan celah bagaimana menjual dan memasukkan buku agar bisa dibeli baik oleh pengurus masjid ataupun jemaahnya.

Namun dari buku-buku jualannya, dia tetap heran kenapa ada jenis buku tertentu yang tetap saja seret? Mau 'digimana-gimanain' tetap saja tidak laku. Jangankan laku, dicoba yakinkan saja tetap terlalu sulit. Dan ini biasanya terjadi pada buku kelas utama, yang menurut dirinya sebagai orang terdidik, ialah buku babon yang merupakan rujukan utama, adikarya, dinilai tinggi oleh kalangan tertenu. Dengan berbagai cara pun buku itu tetap saja sulit laku---tak peduli jenisnya, entah agama, karya sastra, kajian sosial-budaya, sejarah, politik, juga sains. Ini yang salah cara jualnya, pasarnya, atau kemasan barang dagangannya?

Kesulitan menjual itu memunculkan spekulasi dalam dirinya: ada buku tertentu memang tak sesuai dengan pangsa pasar kebanyakan, tak bisa dijual massal, cuma diminati sedikit orang khusus yang punya intelektual atau ketertarikan tertentu. Sebagian besar buku ialah barang kodian. Dengan pendekatan, iming-iming, dan trik tertentu buku seperti ini mudah sekali laku---dan buku seperti inilah yang banyak-banyak akan diproduksi  penerbit.

Belajar dan berbekal pengalamannya menjual buku, dia menemukan celah penghidupan. Dia memberanikan mendirikan penerbit dan pintar-pintar bersiasat menerbitkan buku yang punya potensi pasar. Caranya? 'Saya mainkan judul, perhatikan isi bukunya seperti apa, sajikan dengan mudah, yang gampang diterima calon pembaca, jangan yang susah-susah. Alhamdulillah dengan cara ini buku kami tak ada yang numpuk di gudang.'

Bagaimana dengan buku babon yang justru merupakan bacaan favoritnya? 'Biarlah buku seperti itu diterbitkan oleh orang lain yang lebih mampu melakukannya. Saya mah begini saja.'

Dia akui penerbitnya berusaha merespons pasar secepat mungkin. Begitu lihat gejala muncul trend tertentu, segera diterbitkan buku jenis itu untuk memenuhi 'kebutuhan' pasar. Kelihatannya reaktif, tapi membuat penerbitannya dinamik, kreatif, dan terus berproduksi. Begitu trend hilang, buku jenis itu dihapus dari gudang. Dia kesulitan mencari buku yang bersifat 'abadi.' Itu sebabnya dia mengaku tak punya penulis terkemuka, yang high profile. Terbitannya pun bukan macam buku yang suka diresensi oleh kritikus kelas berat di media terkemuka. 'Bukan buku yang bisa dibawa ke Frankfurt Book Fair he he he...' katanya terkekeh merendah.

Dengan segala kerja keras dan pencapaiannya, aku tetap salut pada pak direktur ini. Beliau sudah susah-payah berusaha, setia pada profesi, belajar, dan pada tahap tertentu jauh lebih berhasil secara finansial dibanding aku---minus dia tak cerita berapa banyak utangnya. Dia juga aktif berbuat ini-itu di asosiasi penerbitan. Beliau punya perusahaan, aset, karyawan, termasuk mobil operasional---yang meskipun butut tetap bisa diandalkan buat banyak hal, termasuk aku tumpangi. Saking butut, AC mobil ini mengeluarkan hawa panas. Jadilah badan kami yang di dalamnya malah seperti dibaluri Geliga. Tapi sungguh aku tak menyesal menumpang mobil ini. Aku tak melihat ini sebagai kekurangan. Aku malah salut. Aku merasakan keramahan, keikhlasan, dan kebaikannya. Dengan mobil ini beliau menolong orang lain, membantu, melayani. Sementara aku dapat banyak hal: tumpangan gratis, cerita, dan pelajaran menarik. Buatku, mobil ini bakal jadi legendaris.[]

Foto ilustrasi milik Terra Tones. Sumber: Internet.

Tuesday, June 30, 2015


Warisan yang Tiada Tara Nilainya

Karena tertarik sastra, dulu aku merasa sedikit tahu tentang John Keats, terutama dari buku-buku pengantar sastra atau kumpulan puisi. Tapi ternyata aku buta sama sekali tentang bayangan dirinya seperti apa selain secuil judul-judul puisi seperti "La Belle Dame sans Merci", "Ode to a Nightingale", atau "Sleep and Poetry". Aku rupanya tidak ngeh waktu baca informasi tentang Keats. Sebagai salah satu penyair utama sastra Inggris zaman Romantik, aku pikir kehidupannya masyhur sejak awal. Anggapan itu buyar tanpa sisa setelah aku nonton Bright Star (2009), film garapan Jane Campion.

Bright Star merupakan biopic yang memotret periode ketika Keats sedang berada di puncak kreativitas puisi-puisi terbaiknya, yaitu 1818 dan empat tahun setelahnya. Dia tinggal di rumah kontrakan di pinggiran London, bersama temannya yang tampak lebih dominan, Charles Brown. Salah satu tetangga di rumah kontrakan itu ialah keluarga sederhana Brawne. Keluarga ini punya anak tertua bernama Fanny, seorang gadis ceria yang tahu tata busana dan pintar menjahit. Mereka sebenarnya sejak awal saling suka, tetapi Keats tidak bisa berbuat banyak untuk memenangi Fanny, sebab dirinya pun kesulitan keuangan, dan lebih mementingkan nasib kepenyairannya yang mengkhawatirkan.

Kedekatan dengan Fanny mampu membuat Keats lebih hidup, sampai dia mau menghabiskan Natal bersama keluarganya. Mereka akhirnya bertunangan meski tanpa sepengetahuan keluarga. Penyair muda ini sama sekali tak punya uang untuk membiayai acara tunangan, apa lagi mengadakan pernikahan dan membangun rumah tangga.

Waktu itu Keats sudah menerbitkan satu buku puisi, namun penjualannya benar-benar seret. Rupanya Keats sudah lama meninggalkan pekerjaannya sebagai perawat dan memutuskan sepenuhnya beralih ke sastra. Padahal kerja sebagai perawat menjanjikan gaji bulanan, sementara sastra belum memberinya apa-apa. Itu sebabnya dia pindah-pindah rumah kontrakan atas bantuan teman-temannya di dunia sastra. Dia juga harus merawat adiknya yang kena tbc.

Kehidupan asmaranya dengan Fanny yang kuat menghasilkan energi positif. Fanny menjelma sebagai sumber inspirasi, bahkan kerap merangkai puisi bersama atau memberi komentar atas puisi-puisi Keats. Bila Keats pergi, dia suka mengirim surat dengan curahan hati yang dalam. Pada masa inilah dia menghasilkan puisi-puisi terbaik yang akhirnya terkumpul dalam Lamia, Isabella, The Eve of St. Agnes, and Other Poems (1820) yang ia persembahkan untuk Fanny. Namun begitu terbit buku ini cuma bisa menghasilkan 'dua resensi positif dan lima resensi membantai dari kalangan sastra.'

Sewaktu hidup, Keats bisa dibilang gagal, termasuk nasibnya di dunia sastra. Dia sendiri mengakuinya. Dia tenggelam, semua penjualan buku puisinya seret, karyanya banyak dikecam dan disepelekan oleh politik sastra kalangan elite sastra masa itu, salah satunya konon didalangi Lord Byron---penyair terkemuka sezamannya dari kalangan atas dan secara sosial bisa dibilang menang segala-galanya dibanding Keats.

Keats bukan berasal dari kalangan atas dan tidak mendapat pendidikan dari sekolah elite. Dia anak rakyat jelata. Ayahnya bekerja sebagai pemelihara kuda. Riwayat kesehatan keluarganya yang buruk sejak awal berdampak pada dirinya, sementara kegagalannya di dunia sastra menggerogoti jiwanya. Demi menyembuhkan diri dari tbc berkepanjangan, dia menuju Italia untuk mendapatkan cuaca yang lebih hangat. Namun begitu sampai di sana, dia meninggal di Roma tahun 1821. Umurnya 25, meninggalkan kekasih yang gagal dinikahi. Atas wasiatnya, nisannya tak diberi nama dan tanggal, cuma diberi tulisan bunyinya: "Here lies One whose Name was writ in Water." Ngenes.

Semasa Keats hidup, dari empat buku puisinya yang terbit, cuma laku 200 eksemplar. Fakta ini membuatku menangis. Puisi gagal sama sekali menghidupi dirinya. Dia ditopang oleh kawan-kawan dekatnya. Bagaimana ceritanya orang gagal ini dinilai penting, berpengaruh, ujung-ujungnya dirayakan dan karyanya dianggap luar biasa? Nasib Keats langsung mengingatkan aku pada Nick Drake, Jeff Buckley, atau contoh klise: Vincent van Gogh. Apalah arti dipuja-puja setelah mati bagi orang yang gagal semasa hidup? Kenapa orang menilai salah sejak awal? Manusia memang tak pernah belajar dari sejarah.

Nonton Bright Star atau mendengar album-album karya Nick Drake dan Jeff Buckley membuatku bertanya: sukses dan kejayaan itu apa artinya? Bagaimana sesuatu yang awalnya dianggap gagal pelan-pelan berubah sama sekali? Wajibkah orang bercita-cita biar jadi besar dan jaya? Apa perlu jadi orang hebat? Perlukah orang berambisi menguasai dunia agar dimudahkan segala-galanya? Apa orang butuh motivasi biar jadi hebat? Bagaimana kalau hidup seseorang memang gagal dan mengenaskan?

Dari keempat orang itu saja aku berani bilang bahwa intensitas dan kreativitas bisa jadi tak berhubungan langsung dengan kesuksesan dan kehebatan. Waktu hidup, Keats gagal jadi penyair hebat, Drake atau Buckley bukan penyanyi yang menghasilkan hits, sementara van Gogh frustrasi jadi pelukis. Tapi satu hal mereka punya kesamaan: yakin pada pilihan, berkarya habis-habisan, pantang menyerah. Meski dihantui keputusasaan dan gagal menunjukkan keunggulan karya pada orang sezaman, namun generasi zaman selanjutnya mampu membuktikan keunggulan itu. Betapa penilaian atau selera zaman bisa keliru, berubah, bahkan berbalik seiring waktu.

Mereka membuktikan permata tetaplah permata, sekalipun sebelumnya seluruh dunia tak mengetahuinya. Waktu seolah-olah dirahasiakan untuk makin menguatkan kualitas dan kesolidan karya agar ketika ditemukan atau dikaji orang lain, ia tampak berkilau tiada tara. Meski kejayaan sepantasnya telat mereka raih, toh keagungan pada akhirnya tak ke mana-mana. Kita mungkin bilang mereka tak menikmati hasil karyanya, tapi mereka memberi warisan terbaik dari sesuatu yang dihasilkan secara habis-habisan. Itulah persembahan terbaik yang bisa diberikan seseorang agar bisa dinikmati terus sampai nanti selama kehidupan di dunia masih ada. Itulah warisan yang nilainya tiada tara.[]

Ilustrasi: still life foto film Bright Star dari Internet.

Monday, October 27, 2014

[halaman ganjil]

Tanda Orang Sehat Itu Cuma Satu...

--Anwar Holid

Pada awal September 2014 lalu dada kiriku sakit. Ini kambuh untuk ketiga kalinya. Pertama kali sakit dada itu muncul kira-kira tahun 2010. Setiap kali bernapas dadaku seperti ditusuk-tusuk, napas jadi pendek-pendek, gampang tersengal-sengal, dan sesak. Bernapas jadi tak lancar dan sulit. Sakit dada itu membuatku demam dan batuk-batuk.

Dulu waktu pertama kali mengalaminya, aku langsung cari tahu soal sakit dada belah kiri itu. Orang menamai sakit itu sebagai 'angin duduk', dan lebih jauh bisa jadi merupakan tanda dari gejala jantung koroner. Jujur saja, aku enggak kuatir bila sampai kena jantung koroner. Dengan latihan bernapas pelan-pelan dan mencoba menghela napas panjang, akhirnya sakit itu berangsur-angsur hilang. Seingetku, aku cuma minum obat demam untuk menghilangkan panas-dingin waktu malam.

Pada November 2013 sakit itu muncul lagi waktu aku mulai kerja di Penerbit Rosda saat tugas di Indonesia Book Fair. Semua gejalanya persis sama. Kupikir kali ini terjadi karena aku berada dalam ruang ber-ac sangat dingin, kencang, dan suasananya gaduh sekali. Untung kambuhnya di hari menjelang acara berakhir, sehingga aku hanya perlu absen beberapa jam.

Ketika kambuh untuk kedua kali, Fenfen dan beberapa teman minta agar aku periksa dokter spesialis. Aku mengamini, tapi tidak melaksanakannya. Bukan karena bandel, membantah, atau apa, tapi semata-mata karena tidak menyempatkan diri dan aku merasa bisa mengatasinya bila sewaktu-waktu datang lagi.

Ketika kira-kira setahun kemudian kambuh untuk ketiga kali, pada dasarnya aku siap. Paling waktu malam aku repot jadi demam, tersengal-sengal, dan batuk-batuk. Aku coba berdamai lagi dengan latihan menghela napas pelan-pelan. Aku perkirakan kali ini pemicu utama kambuh ialah karena terpapar asap jahanam kendaraan bermotor setiap kali bersepeda. Tapi bisa jadi karena September ialah musim kemarau, dan setiap musim kemarau aku tahu pasti kena pilek atau batuk. Payahnya aku sakit pas ikut workshop, jadi batuk-batuk dan tidak fit itu mengurangi konsentrasi dan mengganggu banyak orang.

Kali ini Fenfen tidak sabar agar aku periksa ke dokter. Menggunakan jasa BPJS, sarannya aku turuti. Ke dokter umum aku menceritakan keluhan dan gejala yang aku rasakan. Aku mendesak, 'Apa kemungkinan penyakit terburuk dari keluhan yang aku rasakan ini?' Dia bilang, 'Ini sama sekali jangan dijadikan pegangan dan harus didiagnosis oleh dokter spesialis lebih dahulu, kemungkinan terburuknya ialah Anda bisa terkena tuberkolosis paru-paru.' Wow, separah itu, batinku. Beliau memberi rujukan untuk periksa lebih lanjut.

Aku diperiksa dokter spesialis jantung di RS Advent Bandung. Diteliti menggunakan electro cardiogram, aku dinyatakan normal. Saat diperiksa kondisiku waktu itu memang sudah cukup fit. Sakit dadaku sudah berangsur pulih dan berkat mengonsumsi makanan hebat baik di hotel dan workshop, kesehatanku membaik. Cuma batuk kering mulai terasa.

  
Salah satu hasil periksa jantungku.
  
'Kalo begitu sakit dada itu apa ya dok?' aku rada bingung.
'Sakitnya kerasa sampai ke belakang punggung enggak?'
'Enggak.'
'Kerasa menjalar sampai tangan kiri enggak?'
'Enggak.'
'Kerasa kalo bapak jalan enggak?'
'Enggak.'
'Kerasa waktu bapak tidur enggak?'
'Enggak. Kerasa kalo saya bernapas saja.'
'Kalo rasa sakit seperti ditusuk-tusuk itu sampai ke punggung atau kerasa sampai tangan kiri, atau kalau berjalan dan tidur dada bapak sakit, itu baru menunjukkan ada gejala sakit jantung. Hasil diagnosis menunjukkan jantung bapak normal. Mungkin ada otot dada bapak yang sakit. Itu saja. Bapak jangan kuatir. Olahraga ringan yang teratur, seperti jalan kaki.'
'Saya memang banyak jalan kaki, dok.'
'Bagus itu.' Katanya sambil memberi resep yang ternyata ramuan multivitamin dan penghilang rasa nyeri.

Jadinya aku tambah lega. Aku sms ke beberapa orang dengan gembira, 'AKU NORMAALLL! AKU SEHAT-SEHAT AJA!!!'
Seorang kawanku menanggapi, 'Tax, waktu sakit kamu masih bisa ereksi gak?'
'Ya bisalah!' aku jawab sambil ketawa.
'Kalo begitu kamu normal. Tanda orang sehat itu cuma satu kok: dia masih bisa ereksi! Kamu jangan kuatir, Tax!'
Hahaha... aku tambah senang dengar pembelaannya itu.

Sementara sakit dada kiri pulih, batuk keringnya belum sembuh, ditambah pilek. Batuk dan pilek menurutku akibat dari kerongkongan kering. Seperti ada duri menusuk di situ. Dua penyakit ini khas menyerang aku setiap kali musim kemarau.  Aku sudah maklum, tapi selalu kalah sigap mencegahnya. Aku beranggapan sakit begini membuatku harus lebih hemat bicara dan menahan diri mengomentari berbagai hal. Aku menerima dan mengobatinya pelan-pelan sesuai saran apotek dekat rumah.

Tambah umur rasanya membuatku makin sadar soal tubuh. Contoh, aku tahu bakal pilek di musim kemarau, bukan di musim hujan seperti terjadi pada kawanku. Kepalaku pasti pening kalau berada di tengah suasana kacau, gaduh, apa lagi penuh asap rokok. Ternyata sakit juga bisa membuat kita lebih mengenal diri sendiri. Jadi benar, segala sesuatu memang ada manfaatnya. Sakit saja bermanfaat, apa lagi sehat. Bener enggak?[]

Monday, April 28, 2014

Empat Malam di Kuala Lumpur
--Anwar Holid

Seri Pacific Hotel, KL adalah hotel termewah yang pernah aku inapi, bahkan rasanya mengalahkan Hotel Indonesia yang pernah aku inapi bareng Fenfen beberapa bulan setelah kami nikah. Satu hal yang sangat khas di hotel bertingkat tiga puluh ini ialah seluruh ruangannya harum serai wangi, sangat menyegarkan. Bahkan sabun, shampo, dan conditionernya pun beraroma serai.  Kata resepsionis, selain buat aroma terapi, bau itu berfungsi sebagai pengusir nyamuk.

Di hotel ini aku nginep sekamar dengan Toni Kurnia, senior di Penerbit Rosda; di kamar lain ada pak Zam, bosku di penerbit yang sudah berdiri lebih dari setengah abad lalu. Kami ada di sini ikut KLTCC---Kuala Lumpur Trade & Copyright Centre, 22-24 April 2014, yang dinilai sebagai pasar rights penerbitan terbesar di Asia Tenggara. Penerbit Rosda ingin memelihara hubungan baik dengan sejumlah penerbit dan distributor yang telah membeli rights maupun mendistribusikan bukunya, meneruskan bisnis, menambah rekanan, dan mau menjual rights lebih banyak. Aku belajar dari pak Zam dan Toni cara menjalin rekanan dan berusaha mendapat deal. Ke depan Penerbit Rosda berharap aku yang menangani jual-beli rights, termasuk menerbitkan buku English. Rosda di bawah pimpinan ibu Rosidayati ingin melangkah ke beberapa ranah baru yang diharapkan bisa menjawab persoalan perubahan perilaku dan pasar di industri penerbitan, seperti e-book, berkembangnya gadget, dan makin kaburnya batas geografis.

Ngaku saja, yang aku pikirkan sejak sebelum kepergian ialah rasa malu andai gagal dapat deal dari penerbit yang coba kami hubungi, terlebih bila nanti ditindaklanjuti usai acara. Rosda mengeluarkan cukup banyak uang untuk menerbangkan kami ke sini, bahkan membiayai pembuatan pasporku. Tapi memang sulit mendapat deal langsung di tempat. Tawaran terbaik yang pernah aku dapat dari menjual rights ialah co-publishing/edition dari penerbit India. Sementara aku bukanlah seorang penjual alamiah. Mungkin aku seorang negosiator penerbitan, tapi tingkat keberhasilanku tidak menonjol.

Beberapa waktu lalu aku dikritik bahwa cara kerjaku "ngacak". Aku berusaha memperhatikan ini sebagai masukan. Satu hal, aku ingin mencapai progres, kalau bisa signifikan, sehingga ingin bergerak cepat, memajukan naskah, dan menerbitkan buku. Aku gemas kalau progres terhadang oleh hal yang tidak perlu. Progres penerbitan bisa terhalang oleh berbagai hal, salah satunya dari wanprestasi seseorang. Sudah cukup aku pernah dibilang sok perfeksionis atas buku, padahal ingin fleksibel, praktis, mengurangi kerewelan yang malah bisa menghambat progres, dan lebih bersikap mawas diri. Ini susah, apalagi bila caraku menerangkan sesuatu jelek dan sulit dipahami orang. Lebih buruk lagi kalau seseorang malas membantu rekan kerjanya. Kadang-kadang aku merasa ada seseorang tak berniat baik pada orang lain; tapi aku malu mengaku bahwa kinerjaku ada kala sangat buruk dan mengecewakan orang lain. Ini memalukan aku sendiri. Di satu sisi aku mengkritik, padahal tudingan mestinya ditembakkan ke diriku lebih dulu. Aku kesulitan memperbaiki diri sendiri secara konsisten. Aku berbuat salah, tapi sangat susah belajar dari sana. Aku ingin memperbaiki diri namun sangat sulit membuktikan bahwa aku sudah insyaf. Kedengarannya bolak-balik. Aku berusaha memperbaiki karir, tapi perjalanan ke sana ada saja halangannya. Aku berusaha memberi, melakukan, melayani, bekerja sama; meyakinkan orang lain bahwa aku beriktikad baik, konsisten, bisa diandalkan. Tapi ada saja kurangnya. Buruk-buruknya aku suka menyalahkan diri sendiri atas wanprestasiku.

Sejauh ini aku senang dan semangat kerja di Rosda. Aku merasa dapat peran pas dan menantang, yang dalam beberapa hal tidak aku lakukan selama karir dan dari dulu ingin aku maksimalkan. Tapi apa arti semangat kalau tiada hasilnya? Aku tahu persis beda kerja freelance dan terikat. Terlebih ada saja hal yang bisa membuat aku seperti mau patah semangat, entah prasangka buruk atau miskomunikasi. Rasanya aku ingin banyak menyumbang saran, tapi kadang-kadang kuatir itu cuma sok tahu. Penerbit Rosda punya karakter, etos, budaya, dan cara bisnis tertentu yang telah membuat mereka sukses sejauh ini. Tinggal aku hormati dan beradaptasi. Cuma rasanya dalam beberapa hal masih saja ada sesuatu yang membuat aku gemas ingin bilang ini-itu karena tampak sebagai titik lemah. Satu hal: aku pantang menjelek-jelekkan perusahaan atau pelanggan yang memberiku kesempatan dan nafkah. Aku akan mengutarakan sebagai niat baik demi perbaikan.

Dari dulu aku berniat meninggalkan kebaikan atau kenangan baik pada siapapun yang bekerja sama denganku. Aku mau bermanfaat. Aku pikir aku punya bakat dan dianugerahi kemampuan. Aku juga suka belajar. Aku suka mendalami hal baru yang jadi hasratku dan berharap itu bermanfaat, bisa dikembangkan. Tapi di situ juga letak jebakan buatku sendiri, terutama bila aku malah salah memutuskan karena keterbatasan dan kekhilafan. Semoga aku benar-benar belajar.[]

KL, 23 April 2014

Thursday, January 16, 2014


[HALAMAN GANJIL]

R1 2014
--Anwar Holid

2014 adalah tahun panas bagi politik Indonesia. Karena itu harap lupakan Piala Dunia 2014 di Brasil. Selain karena kesebelasan nasional kita tak berlaga di sana, barangkali memikirkan persoalan bangsa sendiri lebih penting daripada cuma merasa ikutan pesta di luar lapangan sebagai penonton yang keminter dan suka jajan.

Ayo kita pilih baik-baik siapa yang sebaiknya jadi R1.

Calonnya sudah pada mengemuka. Bahkan dengan percaya diri---kalau bukan bermuka badak---mereka mengiklankan diri, berkampanye, entah secara terang-terangan atau terselubung lewat berbagai taktik dan kesempatan, apa pun istilahnya. Berikut ini barangkali yang sangat kentara:
Wiranto
Prabowo Subianto
Aburizal Bakrie
Surya Paloh
Megawati 
Hatta Rajasa
Rhoma Irama

Dari generasi lebih muda muncul nama seperti:
Sri Mulyani
Gita Wirjawan
Dahlan Iskan
Anies Baswedan
Jokowi

Nama-nama itu membuatku bertanya keras:
Apa hal terburuk yang bakal terjadi di Indonesia bila Prabowo Subianto jadi presiden?
Apa hal terburuk yang bakal terjadi di Indonesia bila Wiranto jadi presiden?
Apa hal terburuk yang bakal terjadi di Indonesia bila Aburizal Bakrie jadi presiden?
Apa hal terburuk yang bakal terjadi di Indonesia bila Surya Paloh jadi presiden?
Apa hal terburuk yang bakal terjadi di Indonesia bila Megawati jadi presiden?
Apa hal terburuk yang bakal terjadi di Indonesia bila Hatta Rajasa jadi presiden?
Apa hal terburuk yang bakal terjadi di Indonesia bila Rhoma Irama jadi presiden?

Memang kenapa kalau salah satu di antara mereka jadi presiden?
Apa militerisme akan mencengkeram lagi kalau Wiranto atau Prabowo jadi presiden?
Apa radikalisme Islam bakal meraja dan makin intoleran kalau Rhoma Irama jadi presiden?
Apa ekonomi Indonesia bakal langsung moncer kalau Hatta Rajasa atau Gita Wirjawan jadi presiden?
Apa rakyat Indonesia langsung bakal pinter dan pada meraih Hadiah Nobel kalau Anies Baswedan jadi presiden?
Apa kesebelasan nasional Indonesia bakal tembus ke Piala Dunia 2018 kalau Jokowi jadi presiden?

Seorang teman bilang, untuk jadi presiden Indonesia orang harus punya prestasi yang patut dibanggakan dan diandalkan. Aku sangsi dengan pernyataan itu. Ratu Atut yang katanya bodoh saja bisa jadi gubernur Banten dan petinggi Golkar. Megawati yang terlihat lebih suka mesam-mesem dan pemalu aja pernah mencicipi kursi presiden dan kini dia tetap enggak mau ketinggalan kereta.

Katanya untuk jadi pemimpin orang harus punya pengalaman politik yang hebat. Di Bandung entah bagaimana caranya Ridwan Kamil bisa memenangi pilkada, jadi walikota, mengalahkan Ayi Vivananda yang jauh lebih ahli dan senior di pemerintahan, yang sudah tahunan mengurus birokrasi dan masyarakat. Ini membuktikan pendapat itu invalid. Apa Ridwan Kamil menang karena disokong Prabowo Subianto, Gerindra, ormas-ormas, para relawan, dan PKS?

Di luar negeri, penyair, buruh, aktor, penulis, atau pastor bisa menjadi presiden. Apa hal seperti itu bisa terjadi pula di Indonesia? Kalau seperti itu, aku berharap Yusi Avianto Pareanom jadi presiden, semoga dengan begitu dunia literasi kita lebih menjanjikan.

Sebenarnya bukan itu yang benar-benar jadi perhatianku. Siapapun presiden Indonesia, terbukti kurang pengaruh buat kemaslahatan bersama. Mungkin di sini poinnya: pemilihan presiden nanti akan membawa perbaikan atau keterpurukan? Makanya kita perlu hati-hati, lepas dari semua janji para kandidat. Contoh simpel: meski suka bilang prihatin, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono malah terbukti berkali-kali mencederai hati masyarakat, entah dengan menaikkan harga BBM, kasus korupsi yang menyerempet partai dan anaknya, juga sikapnya yang dinilai lamban dan lembek.

Jujur saja aku lebih kuatir tahun panas politik Indonesia demi mencari seorang presiden malah menghabiskan energi, pikiran, konsumsi, dana, sehingga membuat kita hilang akal dan jadi mengabaikan banyak agenda penting dan utama yang mestinya lebih dulu dibereskan. Contoh:
* Persiapan Indonesia jadi Guest Of Honor Frankfurt Book Fair 2015 yang menurut berbagai pihak masih berantakan, enggak jelas, termasuk soal dana dan belum ketahuan Indonesia mau ngapain di peristiwa paling besar industri perbukuan dunia itu.

* Persoalan korupsi parah yang malah kerap berubah jadi komoditas politik berlarut-larut, bukan dibereskan tanpa tedeng aling-aling, mendasar, dan tuntas.

* Kesejahteraan sosial. Kalau tukang becak enggak bisa beli jas hujan, lapak kaki lima bikin kumuh jalanan, gerobak jualan berserakan di pinggir jalan, kondisi bus kota dan angkot mengkhawatirkan, sampah numpuk di mana-mana, pencemaran lingkungan, itu artinya kita masih punya masalah sosial parah. Jangankan tingkat nasional, di tingkat lingkungan sekitar rumah dan kota saja terlalu kentara.

Bisakah hal-hal seperti itu beres sebelum SBY mengakhiri masa kepresidenannya? Aku sangsi. Soalnya aku tahu manusia terbukti mudah berkelit dari prasangka dan gampang menghindar dari prediksi. Itu sebabnya kontes mencari seseorang jadi R1 2014 jadi penting, lebih penting dari Piala Dunia.[]

Anwar Holid, berprofesi sebagai editor, penulis, dan publisis.

Thursday, January 02, 2014

Tolkien, Hobbit, dan Bandung Selatan
--Agus Kurniawan

Saya dan anak-anak menggemari novel J.R.R. Tolkien. Sejak mengenalkan karyanya kepada dua anak saya--Putri (13 th.) dan Faiza (9 th.), mereka kerap berlomba mengasosiasikan imaji Tolkien terhadap tanah kelahiran mereka sendiri, Bandung Selatan. "Ayah, kita sedang di Shire, ya," teriak girang Faiza ketika kami merambahi perbukitan eksotik Naringgul di perbatasan Kabupaten Bandung dan Cianjur Selatan, yang dihampari oleh permadani hijau kebun teh dan goresan kelak-kelok jalan tembus ke Pantai Jayanti. Di mata Faiza, bisa jadi orang-orang Naringgul yang ke luar dari pemukiman perkebunan itu dianggap seolah para Hobbit yang lagi berhamburan dari rumah-rumah pendam mereka. "Awas, kita memasuki hutan Fangorn. Tuh, pohon-pohon sedang saling bicara. Balik yuk ah, takut!" kata Putri ketika kami mulai memasuki gerbang hutan tersisa, yang memang bikin merinding. Maaf, Anda tak boleh protes. Dalam semesta subjektivitas, kita memang memiliki otonomi penuh untuk berandai-andai.

Konon masa kecil Tolkien terbilang manis. Dia tinggal di Sarehole, pedesaan di pinggiran kota Birmingham. Sekalipun jaraknya tak jauh, Sarehole dan Birmingham amat berlainan. Ketika itu awal abad ke-20, Inggris sedang gegap terpapar industrialisasi. Tak terkecuali Birmingham, kota industri besar di sisi barat daratan. Tetapi anehnya, Sarehole tak terimbas. Inilah sedikit dari pedesaan tua yang masih kebal. Di sana terpajang keelokan surga lawas: padang hijau, hutan kecil, sungai bening, dan jembatan batu. Juga tempat penggilingan kuno--sekarang jadi museum--dan rawa-rawa. Begitu terpana Tolkien pada masa lalunya hingga mengabadikan keagungan itu ke dalam sebuah desa imajiner: Shire.

Birmingham, atau tepatnya industrialisasi, selalu tampak buruk di mata Tolkien--ini kelak melahirkan para kritikus fanatik terhadap karya-karyanya. National Geographic mencoba mewakili kemurungan sang sastrawan itu dengan paragraf, "Produk-produk kerajinan dari kota-kota kecil tersapu oleh badai mekanisasi. Tekstil, galangan kapal, besi, dan baja, mengangkangi tanah Inggris sebagai industri strategis baru. Orang-orang berduyun-duyun menyesaki kota, beralih profesi menjadi buruh, dalam jumlah yang semakin berlipat-lipat. Batubara menghidupi pabrik-pabrik itu, tetapi sekaligus juga meracuni udara dengan jelaga pekat dan mewariskan lubang-lubang menganga bekas penambangan di seluruh negeri."

Tolkien melukiskan kegamangannya dengan cara lebih satir. Kutukan industrialisasi itu dalam imajinasi Tolkien adalah Isengard. Dipelopori oleh Saruman, penyihir paling sakti tapi khianat, Isengard bertiwikrama dari tanah indah menjadi "kota" bengis. Tak lagi dihuni oleh manusia, tetapi oleh para orc, monster tak berakal budi, yang hanya tahu sedikit hal: bekerja bagai mesin, patuh bak zombiE, dan menghancurkan layaknya iblis. Para monster itu tiap hari menebangi hutan dan menggali lubang-lubang menganga di dalam tanah demi satu tujuan, yakni menciptakan prajurit-prajurit tempur.

Memang, kerusakan alam bukanlah trauma utama Tolkien. Perang lebih menakutkannya. Ketika itu Perang Dunia I, usia Tolkien baru awal 20-an, dan lebih lagi dia masih pengantin baru. Menjadi seorang letnan dalam legiun Inggris, Tolkien menyaksikan manusia-manusia setengah hidup yang berjudi nyawa di parit-parit pertahanan di sepanjang kota Paris. Diiringi desingan artileri, para prajurit itu selama berbulan-bulan hidup di dalam kubangan lumpur, menyatu dengan mayat busuk. Begitu mengerikannya kondisi mereka hingga tak lagi mirip manusia. Tolkien mengasosiasikan para prajurit itu sebagai barisan tentara orc. Mereka merayap dari kedalaman bumi, untuk membunuh dan menghancurkan.

*****

Saya tinggal di pinggiran Bandung Selatan, kota kecamatan yang sepanjang jalannya dipenuhi industri. Pada saat-saat tertentu--misalnya pagi hari, halaman atau lantai luar rumah akan terlapisi samar-samar oleh bebutiran mirip bubuk kopi. Warnanya memang seperti kopi. Hitam, tetapi bau. Itulah sisa pembakaran batubara dari pabrik-pabrik. Cerobongnya menjulang; anak saya menyebutnya sebagai Menara Isengard. Sungai di belakang kampung pun senasib. Tahun 80-an sungai itu berair bening layaknya pegunungan. Penduduk memanfaatkannya sebagai sarana mandi dan mencuci, selain untuk pengairan. Anda boleh juga membayangkannya sebagai Rivendell, keraton para peri dalam dongeng Tolkien, yang dihiasi oleh anak-anak sungai berkilauan. Tetapi naasnya kini pabrik-pabrik di kampung saya gencar mewarnainya. Kadang biru, kadang bersemu merah, kadang kekuningan. Kusam karena berbaur lumpur. Mereka setiap hari menggelontorkan berkubik-kubik limbah pewarna--tanpa diolah--ke sungai, lalu membumbuinya dengan aroma menyengat. Saya sering menggoda anak saya, "Put, jangan-jangan pemerintah yang mengizinkan terjadinya pencemaran akut ini adalah Saruman?"

Tolkien pernah sekali bercerita tentang banjir. Dalam The Silmarillion, dia bertutur tentang Numenor, koloni makmur ras manusia di tengah lautan. Sayang rajanya kemaruk, menginginkan hidup kekal dengan cara mengakuisisi keabadian dari seorang dewa bernama Valar. Kemarahan Valar ternyata mengerikan, mereformasi bentuk bumi menjadi datar. Akibatnya air laut tumpah, menenggelamkan seluruh dataran Numenor. Para kritikus menganggap ini sebagai alegori kisah Nabi Nuh ataupun Atlantis, tapi Tolkien menampiknya.

Berbeda dengan Numenor, Bandung Selatan tak hanya sekali terlibas banjir. Nestapa ini justru seolah abadi. Sepanjang tahun, ratusan pemukiman di bibir Citarum rutin terbilas. Ruas jalan utama penghubung antar kecamatan terendam, menyisakan tenda-tenda pengungsi di sisi jalan. Majalah Tempo beberapa bulan lalu mendokumentasikannya genangan air itu dalam foto-foto bernuansa coklat pekat seluas berhektar-hektar. Rumah-rumah penduduk--entah reyot atau mewah--mengapung di permukaaannya. Tragisnya, itu sudah berlangsung bertahun-tahun. Tapi kini saya senang, konon tahun 2018 kejadian ini tak kan terulang. Menurut janji Wagub Jawa Barat Deddy Mizwar, sungai Citarum pada tahun itu akan kembali sebening Rivendell, dan penduduk Dayeuh Kolot, Baleendah, atau Bojongsoang bisa bernapas lega. Ya, semoga saja.

Pada usia remaja Tolkien merasa beruntung bisa berwisata ke Swiss. Dulangan kenangan tentang pegunungan Alpen yang mengendap selama bertahun-tahun akhirnya mengilhami sang sastrawan untuk menciptakan semesta fiktif, yang dia sebut legendarium. Rivendell (hunian para peri), Celebdril (tempat pertarungan sampyuh antara Gandalf dan Balrog--setan api), Anduin (sungai terpanjang dalam dongeng Dunia Tengah), Khazad-dum (kerajaan bawah tanah terbesar para Dwarf yang memiliki tangga tak berujung ke puncak gunung), juga Misty Mountains atau Hithaeglir (surga petualangan para Dwarf yang dijadikan tema soundtrack film The Hobbit) konon terinspirasi langsung oleh ekspedisi Tolkien tahun 1911 itu.

Saya ingin menularkan kegairahan Tolkien muda pada anak-anak saya, mengeksplorasi keindahan tanah kelahirannya sendiri, Bandung Selatan. Dataran bekas danau purba ini sesungguhnya tak kalah menginspirasi. Sekelilingnya berjajar barisan gunung dan hutan langka: Patuha, Tilu, Puntang, Malabar, Guntur, Papandayan. Bahkan tak kurang orang sekaliber Franz Wilhelm Junghuhn pun mengaguminya, dan menjadikan tempat ini sebagai tetirah. Kita bisa menyusuri hutan Puntang atau Patuha yang perawan, dan membayangkan diri sebagai Frodo atau Sam Gamgee menjelajahi The Old Forest. Atau kita bisa menyusuri hutan mati di lereng Papandayan agar bisa menikmati padang edelweis, seperti Bilbo Baggins dan para Dwarf menyibak Mirkwood.

Sungguh, saya tak mengharuskan anak-anak saya menciptakan legendarium sebagaimana Tolkien. Saya hanya berharap mereka belajar menghikmati alam, sembari berdoa agar gunung dan hutan-hutan ini tak segera dimakan zaman.[]


Foto dari Internet.
Silakan berteman dengan Agus Kurniawan di https://www.facebook.com/goeska.

Monday, December 16, 2013

6 Pertanyaan tentang Editor dan Penerbitan
--Anwar Holid


Beberapa minggu lalu aku dapat email dari kawan yang baru lulus kuliah. Dia suka baca buku, terutama fiksi, bacaannya luas, aktif di komunitas menulis, tulisannya pun sudah pernah dipublikasikan. Karena itu ia terpikir berkarir di dunia penerbitan atau berniat bikin penerbit. Dia mengajukan enam pertanyaan, yang aku bilang bagus sekali bila dibagi buat banyak orang.

Saya ingin jadi editor buku fiksi karena senang baca novel. Apa itu merupakan alasan yang salah?
Jelas enggak salah kamu pengen jadi editor fiksi karena suka baca novel. Banyak orang jadi editor semata-mata karena mereka suka buku, apa pun jenis/genrenya. Dulu ada senior (beliau sudah meninggal) jadi editor karena sejak kecil suka baca majalah Si Kuncung, mengirim tulisan ke majalah itu, dan akhirnya bergaul dengan para penulis sampai berkarir di dunia penerbitan seperti keinginannya, aktif di asosiasi penerbitan, sampai akhirnya membuat usaha penerbitan (artinya jadi pengusaha) dengan kesuksesan tertentu.

Seperti apa pekerjaan editor itu?

Sederhananya: kamu menyiapkan naskah hingga siap dilayout dan diproduksi jadi buku.
Editor ialah seorang pengawal buku itu. Dia melayani penerbit dan penulis, menjembatani keduanya. Di perusahaan penerbitan, definisi editor jadi rada kompleks karena ada jenis atau tingkatan, misalnya editor kepala, kepala penerbitan, asisten editor, atau cuma 'editor'. Tugas mereka rada beda satu sama lain. Di Indonesia, editor kepala barangkali semacam acquisition editor; mereka cari naskah, cari dan menghubungi penulis, menyeleksi kelayakan naskah, menawari calon penulis untuk menulis sesuai kebutuhan penerbit, mencari desainer cover atau buku, dan bisa jadi sangat jarang mengedit/menyunting naskah. Mereka mungkin sudah bosan melakukannya atau baru terpaksa menyunting lagi kalau ada target dan bantu target produksi buku. Penerbit Indonesia di akhir dekade pertama tahun 2000-an banyak mengalami transisi semacam ini. Artinya mereka tidak lagi terkungkung menyunting naskah, melainkan merencanakan penerbitan, bahkan bernegosiasi dengan pihak lain untuk menerbitkan buku atau mencari celah agar terbitannya langsung laku.

Asisten editor tugasnya antara lain membantu editor seperti proof reading, buat indeks (yang juga bisa dibuat oleh penulis), menyiapkan detil kelengkapan naskah, sampai diberi kepercayaan penuh menyunting buku (biasanya mereka memang disiapkan jadi editor).

Editor (saja) adalah posisi standar. Ia menyunting naskah dan menanganinya sampai layak terbit; yang diurus biasanya terkait bahasa dan isi naskah. Bisa jadi mereka tidak berhubungan penulis, karena hal semacam itu ditangani editor kepala atau administrasi perusahaan.

Contoh sebagai editor freelance, tugas standarku ialah menyunting naskah, menyiapkannya biar sudah siap dilayout atau didesain jadi buku oleh penerbit. Tugas tambahanku biasanya diminta kasih ide/usul bagaimana cara mendesain calon buku itu jadi lebih punya nilai lebih, menarik, dan bisa memikat calon pembaca/pembeli sekuat mungkin. Misalnya aku kasih ide soal format, keterangan soal higlight naskah, sebaiknya ada ilustrasi di bagian tertentu atau tambahan dan pengurangan lainnya. Ide itu diolah lebih lanjut desainer buku. Editor freelance tidak bisa mengintervensi buku itu nanti akan disajikan/didesain seperti apa; tapi ia bisa memberi saran barangkali naskah itu bagusnya diolah bagaimana biar jadi buku yang menarik.

Bagaimana sifat-sifat orang yang cocok menjadi editor?

Orang yang cocok jadi editor pertama-tama mutlak dia harus suka buku, suka baca, suka bahasa, suka sastra, suka menulis, tertarik seni, kreatif---punya selera tertentu terhadap keindahan, visi bagaimana sebaiknya menyajikan naskah, mengemas buku, juga menggagas proyek perbukuan. Soal ini aku yakin akan berkembang seiring waktu dan pengalaman.

Orang yang terbiasa dengan buku, bergumul dengan penulisan kreatif, peduli bahasa, biasanya bisa menjadi editor yang bagus. Sebagian besar kenalanku yang jadi editor tidak belajar bahasa secara khusus (misalnya sekolah di jurusan editing atau sastra); tapi mereka punya kepekaan yang hebat terhadap bahasa, terbiasa berlatih menulis efektif, suka pada cara sesuatu disampaikan. Latar belakang mereka bisa fisika, astronomi, agama, geologi, apa pun; tapi ketertarikan terhadap buku, sastra, seni akan membuat mereka jadi editor yang punya nilai lebih.

Sifat tambahan buat orang yang cocok jadi editor menurutku harus luwes/fleksibel, rapi, suka detil, tertib. Luwes ini untuk berhadapan dengan orang maupun naskah, untuk bernegosiasi, berkompromi, dan lain-lain. Menurutku sendiri, aku kurang luwes dalam menghadapi orang atau situasi tertentu. Editor, apalagi editor naskah, harus rapi, tertib, dan suka detil, karena ia harus bertanggung jawab mengurus hal-hal kecil, mulai dari salah eja, kelengkapan naskah (yang bisa sangat sepele), dan menatanya hingga rapi dan siap cetak. Tak ada harapan bagi editor yang luput memeriksa bahwa KATA PERTAMA di buku yang disuntingnya sudah salah. Lebih parah lagi kalau judul/subjudulnya salah eja. Gawat. Aku cukup belajar banyak untuk jadi lebih teliti, termasuk dengan diperingatkan bos, diberi tahu sesama editor, atau pembaca buku yang aku edit.
Foto dari Internet.

Saya ingin bekerja di penerbitan karena ingin tahu bagaimana buku terbit, dipasarkan, dan menumpuk di gudang ketika tidak laku. Saya bercita-cita punya penerbitan. Apa ini masih merupakan alasan yang salah? Pekerjaan apa yang cocok bagi saya di penerbitan?

Menurutku memiliki penerbitan dan jadi editor cukup berbeda jauh. Memiliki penerbitan ialah jadi pengusaha di industri buku atau dunia penerbitan; sementara jadi editor ialah salah satu sisi/bidang di dunia penerbitan. Memang sebagian pengusaha penerbitan berawal dari editor, suka buku, atau manajer penerbitan yang beralih dari editor; tapi bisa jadi jalurnya beda. Ada pengusaha/pemilik penerbitan yang tidak bisa menyunting buku, tapi dia jago mencari celah atau proyek buku yang menguntungkan, misalnya cari order dari pemerintah, instansi, atau perusahaan yang mau buat buku. Contoh: Haidar Bagir (salah satu pendiri/pemilik dan CEO Mizan) berawal dari suka nulis/baca sejak mahasiswa, dia jadi editor di penerbit Salman, terus mendirikan Mizan. Di Mizan dia juga masih suka menulis buku.

Menurutku, untuk jadi pengusaha penerbitan modal utamanya ialah keberanian, jiwa enterpreneurship, modal, berisiko untung/rugi besar. Sementara jadi editor adalah karir yang bisa ditempuh berjenjang. Editor lebih merupakan 'profesi.'

Sekadar memberi tahu, sebagian editor setelah beberapa tahun kerja di penerbitan bisa beralih ke bagian marketing, promosi, sales, bahkan distribusi. Bisa jadi karir dan jabatan mereka akan lebih menanjak di sana. Mereka berhenti berhubungan dengan naskah, tapi mereka masih berhubungan dengan buku, atau malah memberi masukan dan bocoran naskah seperti apa yang harus diterbitkan penerbit. Bisa jadi, di perusahaan penerbitan, nanti kamu akan menyaksikan bahwa pegawai yang paling makmur ialah di bagian marketing, distribusi, keuangan, sementara layouter yang menyiapkan buku dari awal terkaget-kaget betapa karir mereka tertinggal. Ada kenalan seniorku yang lebih sukses kerja di bagian marketing, setelah awalnya pindah sebagai editor.

Sebagai bayangan, sebagian editor di penerbit yang berkembang besar setelah jadi kepala editor bisa beralih tugas menangani perusahaan yang lain banget produknya (misalnya film). Harus diakui tidak semua editor yang pernah sukses di penerbitan atau berpengalaman mengelola anak buah (editor junior) dijamin kembali berhasil setelah mendapat mandat mengelola perusahaan baru. Artinya mengembangkan perusahaan itu butuh kemampuan lain.

Kalau niat mau punya penerbitan, mending kamu rajin cari naskah yang potensial di pasar, kontak editor (bisa juga diedit sendiri, atau kalau nekat gak usah diedit), terbitkan. Jual. Banyak pemilik penerbitan basisnya penjual buku, ia tahu ada sebuah buku bisa laris gila-gilaan atau tahu ada channel proyek penerbitan dengan pihak/instansi tertentu. Tapi kalau kamu mau 'punya gengsi' dengan perusahaan atau terbitanmu, ingin image bahwa terbitanmu bermutu, mencerahkan, kamu harus sewa editor atau menjadi editor agar buku itu lebih artistik, punya nilai lebih, bukan sekadar barang kodian. Ha ha ha... aku kayak jago teori dunia penerbitan, padahal belum bisa buat penerbitan---sesuatu yang ada di urutan paling rendah dalam skala prioritasku di dunia penerbitan.

Di penerbitan, entah awalnya jadi editor atau masuk di bagian yang kamu sukai, misalnya promosi atau marketing, kamu bisa pindah ke bagian lain yang lebih prospektif atau cocok sesuai kemampuan dan potensi terbaikmu. Tinggal kamu perhatikan saja kemampuan dan minat utamamu. Contoh, ada kenalan yang sejak awal kerja di penerbit kerja di bagian event (pameran, bazaar, lomba, dan lain-lain). Dia tidak pernah terlibat di dunia editing. Dia sangat sukses di situ; semua event besar di penerbitnya dia urus acaranya. Di penerbit lain ada karyawan yang awalnya sukses di bagian keuangan, pernah jadi karyawan teladan, entah karena restrukturisasi perusahaan atau performa pribadi, lantas pindah-pindah ke bagian lain, termasuk ke bagian editing, sampai akhirnya ke luar. Aku sendiri merasa karirku berjalan biasa saja, tapi aku belum pernah pindah ke bagian marketing, percetakan, atau sales. Paling aku punya sedikit pengalaman di bagian promosi, publisitas, dan literary agent.

Bagaimana suasana kerja di penerbitan? Apa dari bekerja di penerbitan seseorang memperoleh kecakapan yang bisa digunakan di luar bidang penerbitan? Apa dari bekerja di penerbian seseorang punya teman yang bertahan dalam jangka waktu lama?

Pernah mengalami situasi kerja freelance dan tetap sebagai pekerja (karyawan), kesimpulanku ialah kerja pada dasarnya sama dan semua punya tantangan atau keunggulan maupun kekurangan masing-masing. Orang bisa sukses dan gagal baik sebagai karyawan tetap atau pekerja freelance. Aku selalu salut pada orang yang bisa mendirikan perusahaan. Meski aku sering dengar pengusaha itu tega, suka licik, enggak mau rugi sepeser pun, dan aku pernah dengar serta lihat buktinya, satu hal sih mendirikan perusahaan itu susah dan berat. Aku lihat sendiri beberapa kawanku jatuh-bangun mendirikan perusahaan, ditinggalkan ratusan karyawan, termasuk diancam masuk penjara dan pengadilan. Jadi karyawan mungkin lebih simpel; namun risiko dan pendapatannya pun lebih sedikit. Sebagian besar pasti buat pengusaha dan pemodal.

Kerja pada dasarnya soal kepercayaan, kinerja yang bagus, dan tidak mengecewakan orang lain. Ada yang yakin bahwa kerja itu soal melayani, service, memuaskan customer.

Perusahaan dan personal punya tabiat masing-masing, yang penting ialah kompromi atau 'main cantik' selama kerja. Ada motto: What’s best for you is often best for the company in the long run.

Dulu, waktu berhenti kerja pertama kali, di hari terakhir itu aku gemetar dan nangis, karena aku tahu persis kerja di sana adalah a dream come true, satu-satunya penerbit yang ingin aku masuki. Di penerbit, bisa jadi kita bekerja dengan para visioner, cerdas, antusias, dan kita hormati. Tapi jangan bodoh sampai tidak sadar bahwa bekerja di perusahaan itu penuh tekanan, ada target yang harus dipenuhi, kecemburuan profesional, juga kompromi dengan orang lain dalam organisasi. Aku dulu gagal sadar ada apa di balik kejadian kenapa beberapa seniorku pada ke luar setelah aku kerja di sana. Setelah dua tahun, aku baru ketemu batunya, yaitu gagal kompromi dengan perusahaan, persisnya dengan manajer sendiri, yang tentu punya target yang harus beres bareng anak buahnya (yaitu aku dan kawan-kawan). Parahnya aku juga tidak punya loyalitas korps. Lama setelah itu aku merasa bahwa di dunia kerja loyalitas lebih utama daripada kinerja. Kalo kamu setia pada bos apa pun kondisinya, insyaallah secara posisi kamu aman. Aku bahkan pernah lihat seorang karyawan yang jadi tangan kanan sampai dianggap sebagai adik/sodara oleh bosnya.

Kita bisa kerja entah karena rekomendasi, lulus tes, dan punya kualifikasi. Di dunia penerbitan, kita juga bergaul, ada komunitas, punya asosiasi, berkawan. Banyak kawan lama di dunia penerbitan yang bertahan hingga kini dan aku salut dengan kinerjanya. Aku pernah konflik berat dengan kawan dekat, yang malah ribut gara-gara uang dan berbeda pandangan soal cara bekerja---tapi untunglah seiring waktu dan kesadaran hubungan kami baik lagi. Sebagai pekerja freelance, aku pernah nyaris putus asa menagih honor dari kawan lama yang kasih order atau salah paham dengan editor lain yang aku ajak kerja sama. Kerewelan sebagai peresensi membuat aku dimusuhi seorang editor yang bukunya aku kritik sampai mengorbankan pertemanan.

Kekurangan terbesar kerja freelance yang kadang-kadang bikin putus justru rasa sepi karena enggak ada feedback dari orang lain, terutama customer/klien, apa kerja kita bagus atau buruk. Gila, customer itu sibuk semua; parahnya mereka suka kasih order di kala mepet. Reaksi feedback mereka cuma bisa ditebak dari kasih order berikutnya kalau puas atau berhenti kasih order kalau kecewa. Di dunia freelance, aku bisa dapat order sebanyak mungkin, tapi kalau enggak beres juga apa artinya? Nama sendiri yang hancur. Sebaliknya, ada orang memilih kerja freelance karena menawarkan hal yang tidak dimiliki karyawan, misalnya fleksibilitas.

Apa yang menyebabkan seseorang tidak betah bekerja di penerbitan?

Banyak hal bisa bikin seseorang tidak betah kerja di penerbit. Yang pertama ialah gajinya kecil. Sejak dulu semua orang di dunia penerbitan/perbukuan selalu bilang bahwa perputaran uang atau modal di dunia buku itu lambat dan nilainya kecil, misalnya jika dibandingkan industri konstruksi. Coba kamu hitung berapa banyak penulis yang semata-mata mencari nafkah dari menulis. Banyak penulis mengaku mereka mengalami 'split personality' karena harus ngantor atau kerja sampingan lain yang tidak terkait penulisan.

Aku ingat para seniorku ke luar karena bilang gajinya kecil dan kurang buat hidup. Sampai sekarang orang masih berpendapat begitu dan aku masih dengar bahwa gajinya kurang. Orang juga bisa ke luar karena ingin dapat posisi lebih tinggi (misalnya punya anak buah) atau fasilitas lebih, yang sulit mereka dapat dari perusahaan awal. Orang juga bisa pindah kerja karena ingin dianggap penting/berpengaruh atau dipecat dan terpaksa pindah karena wanprestasi. Ada pekerja berhenti kerja karena gagal kompromi dengan bos atau rekan kerja, meski ia masih punya prestasi, kemampuan, atau daya tawar yang mungkin bisa dikembangkan di perusahaan lain.

Tipe perusahaan beda-beda dan itu membuat perilaku, etos, budaya perusahaan, dan karyawan beda. Ada perusahaan yang dikelola terbuka, milik keluarga, atau semau-maunya (situasional). Modalnya juga lain-lain; ada dari investasi seseorang, utang bank, atau pinjaman mertua. Ada orang yang bisa balik lagi setelah mereka berhenti, ada pekerja tipe kutu loncat demi menaikkan karir. Banyak orang bisa betah kerja sangat lama dan membangun karir di perusahaan yang bisa jadi sulit kita bayangkan, lepas bahwa mereka juga memendam ketidaksukaan terhadap sistem yang dibangun pendirinya. Apa pun jenisnya, perusahaan yang baik pasti berusaha mengelola dan mengembangkan dengan berbagai sistem yang dianggap cocok, misalnya menerapkan standar tertentu maupun ISO.

Contoh perusahaan keluarga. Bisa jadi mengelola kepentingan keluarga pemilik dan pendiri malah lebih sulit lagi dibanding mengelola roda bisnis dan perusahaan, karena di situ ada emosi, kekerabatan, share modal, ikatan darah, bahkan status. Bagi yang tidak cocok atau tidak puas, kondisi itu bisa mudah membuat seseorang ke luar. Intinya, semua perusahaan dan pekerja ingin maju dan berkembang. Mereka mencari berbagai cara ke arah sana.

OK, semoga komentarku berguna dan bisa kasih pandangan alasan seseorang untuk jadi editor dan berkarir di industri perbukuan.[]

Anwar Holid, aka Wartax, penulis buku Keep Your Hand Moving.