Friday, May 29, 2009


[HALAMAN GANJIL]

Kelabakan Menatap Esok Hari
--Anwar Holid

Mendengar selintas tentang kampanye dan jumlah kekayaan para calon presiden Indonesia beserta wakilnya malah membuat aku menoleh pada kondisi terakhir diri sendiri. Kepalaku sulit membayangkan kekayaan mereka seperti apa wujud aslinya, persis karena aku tak pernah menyaksikan kekayaan segigantik itu. Alangkah menyedihkan pengalaman kehidupan ekonomiku selama ini. Begitu hina.

Sudah beberapa hari ini aku kehabisan uang, bingung mau berutang pada siapa. Tabunganku sudah ludes kembali. Kemarin aku datang ke seorang teman dengan harapan bisa pinjam uang sekitar 500 ribu, ternyata dia dan kawan-kawannya juga tengah kesulitan menalangi seorang tua yang tengah sakit-sakitan dan butuh perawatan intensif. Kondisinya lebih gawat dari aku.

"Untuk periksa ke dokter sih, ada. Tapi buat obatnya masih belum ada," kata temanku. Orang tua itu konon mantan wakil rakyat Indonesia di masa lalu. Aku pernah beberapa kali ngobrol dengan orang tua itu. Jadi aku pun hanya bisa tersenyum menghadapi kondisi yang sama-sama sulit.

Beberapa minggu lalu aku dapat email dari seorang teman di kota budaya, dia kesulitan mendapat uang untuk melanjutkan kontrak rumahnya. Aku sengaja membiarkan email dia, karena tak bisa berbuat apa-apa. Tadinya aku berharap ada transfer masuk dari klien untuk sisa pembayaran kerja lama, tapi nggak datang juga. Aku sudah kontak orang bersangkutan, sms tidak dibalas.

Keadaan terdesak ini membuat kepalaku selalu menuju ke harta para calon presiden. Alangkah kaya mereka, jumlahnya fantastik. Sementara aku di sini kelabakan mencari utangan, untuk beli sayur dan lauk pauk, bayar ini-itu, ongkos sana-sini, sulit konsentrasi kerja, dan akhirnya hanya bisa kirim sms bernada getir ke seorang teman yang biasanya lebih jenaka: APA ARTINYA ORANG KALAU DIA GAGAL MENCARI UANG? Kasar.

**
Aku juga warga negara Indonesia, punya KTP, kemarin ikut pemilu, bayar retribusi dan pajak, bahkan kini sudah punya NPWP. Apa artinya itu semua, bila aku toh tetap merasa sendirian harus berjuang untuk mendapatkan nafkah bagiku sekeluarga, nggak ada tuh peran pemerintah dalam menjamin kesejahteraan sosialku. Aku jadi merasa sangat dilecehkan oleh uang dan politik dan pemerintahan dan segala sistem sosial yang mungkin nggak ada hubungannya dengan aku semua.

Kalau aku nanti mencontreng salah satu dari tiga pasangan itu, memang apa pengaruhnya? Kalau juga abstain, memang apa ada dampaknya? Kondisi ini membuat aku merasa absurd. Kekayaan keenam orang itu tak menetes sedikit pun kepada orang seperti aku, yang dari kejauhan dan sekilas-sekilas tertoleh oleh peristiwa politik. Mending aku bersiap-siap tegang nonton laga Manchester United versus Barcelona FC di Roma dalam duel final Liga Champions 2008/09. Lebih seru tentu saja.

Setelah mikir-mikir cari utangan, aku teringat target-target ekonomi yang belum tercapai. Aku sudah lama belum juga bisa bikin sertifikat untuk sepetak tanah di lahan sempit, belum bisa bikin asuransi pendidikan buat anak bungsu, belum sedikit pun menabung untuk bayar asuransi pendidikan si sulung tahun ini. Wah, sial, aku jadi kasar. Frustrasi mudah membuat aku hilang kendali.

Sering aku bertanya: bagaimana calon presiden dan wakilnya bisa sekaya itu? Apa yang telah mereka lakukan sampai bisa mengumpulkan kekayaan sebanyak itu? Bisnis apa yang mereka operasikan? Strategi macam apa yang mereka jalankan agar bisa sesukses itu? Apa mereka mempraktikkan ilmu Robert Kiyosaki? Menyewa Brian Tracy agar terus bersemangat kerja? Menyerahkan pengelolaan uang pada Warren Buffett? Menghabiskan buku-buku manajemen tingkat dunia? Punya tim hebat tiada tara? Kerja sama seperti apa yang mereka tanda tangani hingga nilai kekayaannya begitu luar biasa bagi rakyat jelata seperti aku ini? Atau malah mereka menggadaikan kekayaan negara dan mengutip imbalan dari sana?

Aku tertekan karena merasa terinjak untuk mengais sedikit saja. Gila. Aku optimistik, tapi terhadang. Di satu sisi ada orang punya kekayaan melimpah ruah sampai rasanya sulit dipercaya, di sisi lain ada orang iri hati karena merasa begitu sulit mendapatkan sejumlah porsi untuk membiayai kebutuhan hidupnya. Hidup macam apa yang aku alami ini? Apa aku kurang kerja keras, kurang profesional, kurang smart, bodoh, sial, kurang melayani, kurang ambisius? Kalau per hari ini aku bandingkan dengan keadaan keuanganku yang rata dengan tanah, rasanya aku mau putus asa setiap kali mendengar kata capres, cawapres, kampanye, janji politik, pemilihan presiden. Apa hubungan semua itu dengan aku?


Aku mulai dihinggapi tanda-tanda frustrasi. Kesulitan untuk mendapat nafkah sedikit saja sampai memaksa aku mengeluh seakan sudah sekarat. Keterlaluan. Apa aku sudah terobsesi dan buta oleh kekayaan? Bagaimana bila faktanya aku memang kesulitan? Tiap hari uang dicetak dan diedarkan, tapi alangkah sulit aku dapatkan sisa-sisanya. Sementara di tempat tertentu, sejumlah angka disimpan, disiapkan untuk membayar iklan di media massa, tim sukses, alat kampanye, membentuk citra, minta dukungan, menjamin logistik, menggalang massa, menyiarkan propaganda, mengklaim pekerjaan, bahkan mungkin juga uang tutup mulut dan demi menutupi kebusukan.

Di saat aku sulit begini, politik dan pemerintahan seperti kehilangan relevansi dengan kehidupan sehari-hari. Setelah kemarin secara gratis memberi suara untuk wakil rakyat asing dari partai tertentu yang jelas tak punya komitmen apa pun dengan konstituennya, segera para peserta pemilu itu ribut soal kekuasaan dan koalisi. Mana pernah mereka kembali membicarakan janji-janji politik dan kesejahteraan, bagaimana mewujudkan semua itu. Rupanya mereka merasa baru bisa bekerja untuk rakyat dan negara bila punya kuasa.

Andai salah satu dari kandidat yang aku pilih itu gagal atau berhasil jadi presiden, apa akan mengubah keadaanku? Mungkin tidak. Jadi kenapa juga aku harus ikut merasa terlibat dengan gegap gempita kampanye? Aku bukan bagian dari tim sukses, bukan kerabat, bukan kenalan, tak terikat secara emosional dan personal dengan mereka. Aku hanyalah sasaran tembak, dibidik agar percaya pada salah satu kontestan, yang jangankan peduli pada kehidupan kesejahteraanku, bersimpati pada kondisiku saja tidak. Mending aku konsentrasi lagi menyelesaikan kerja-kerjaku yang tercecer. Menata diri lebih baik.

Tapi ini juga sukar, karena pikiranku melayang-layang memikirkan harta benda orang, yang suka atau tidak, akan jadi presiden di negara tempat aku tinggal, selama lima tahun ke depan. Wajarkah bila aku malah berprasangka berapa kekayaan yang akan mereka dulang selama memerintah, sementara aku juga harus bekerja sendiri memenuhi kebutuhan hidup sekeluarga? Punya presiden atau tidak, hidupku toh begini saja. Semua tergantung dari usaha dan jerih payahku sendiri.

Dengan kekayaan sebesar itu, sudikah mereka juga benar-benar berkorban bagi warga negara, apalagi yang memilih serta menyerahkan kepercayaan dan harapannya? Menyisihkan sebagian buat menambal jalan berlubang, memperbaiki got di RW-ku yang selalu jebol kala hujan deras, maukah mereka? Ikut menyelesaikan utang warga, menolong orang yang kehilangan mata pencaharian, atau daya tawarnya rendah. "Kamu harus bisa membedakan mana uang pribadi dan anggaran dari negara," demikian kira-kira jawaban sopan mereka.

Ha ha... ilusi demokrasi. Aku berharap pemerintah ikut menyelesaikan masalah warga negara sebagai pribadi; padahal mereka juga sibuk dengan urusan masing-masing. Urusan yang lebih besar, katanya. Yaitu urusan negara, urusan sosial, utang luar negeri. Bedanya, sementara mereka tetap bisa mengambil sebagian untuk uang saku sendiri, aku di sini kelabakan menatap esok hari.[]2:34 PM 5/26/2009
Anwar Holid, bekerja sebagai editor, penulis, & publisis; eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@yahoo.com | Tel.: 2037348, 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141


Menanti Langkah Baru
---Anwar Holid


SAMPAI akhir 2008 ini perkembangan perbukuan Indonesia masih menarik. Kita makin kerap mendengar ada buku laris lebih dari ratusan ribu kopi, berbagai informasi buku, efek Kick Andy, peluncuran dan tanda tangan, talkshow, festival, pameran dan pasar buku, sayembara, juga penghargaan sastra. Belum lagi ada penerbit e-book & buku digital, termasuk publisitas dan gaya hidup perbukuan di berbagai situs. Dengan perkembangan seperti itu, kita boleh tetap optimistik terhadap dunia perbukuan.

Ada juga yang patut terus disemangati. Matabaca memasuki tahun ke-6, tetap bertahan, dan baru-baru ini menyebar polling untuk meningkatkan layanan. Dalam konteks Indonesia, Matabaca mengagumkan dan patut didukung lebih banyak lagi pegiat baik dari industri perbukuan, percetakan, dan media massa. Beberapa penerbit memiliki media internal yang digarap serius. GPU memiliki Bibliophile, Kelompok Agromedia menerbitkan Bukuné, Erlangga dengan Editor's Choice. Rentang isi media ini beragam, mulai dari iklan buku baru, isu terkait subjek sebuah buku, konsultasi, hingga memadukannya dengan pilihan dan gaya hidup. Persamaannya, produk yang dipromosikan mayoritas eksklusif merupakan produk penerbit tersebut. Kondisi ini mencerminkan betapa publikasi media perbukuan Indonesia belum terwadahi media tertentu yang bisa menampung semua secara seimbang.

Kondisi itu ingin diperbaiki antara lain oleh Matabaca, yang terbukti berusaha ada di lintas penerbit dan menjadikan buku sebagai sumber informasi. Lepas upaya itu belum maksimal, tampak kesulitan menggaet iklan dari industri perbukuan dan yang terkait secara lebih luas---misalnya percetakan, distribusi, biro iklan, jasa penyuntingan, alat tulis kantor (stationery) dan seterusnya---toh hingga kini cukup mampu mengangkat isu-isu yang senantiasa bisa membuat peminat buku menoleh dan berkomentar. Mungkin kelemahan paling kentara ialah justru kurangnya layanan kepada penerbit, misal terbatasnya jumlah resensi, tiadanya gambaran pasar yang cukup jelas, juga menangkap trend yang terjadi pada para bookaholic.

Sekilas melihat Publishers Weekly (PW) dan Writer's Digest (WD)---yang fokus pada industri penerbitan dan kepenulisan---kita lihat bahwa selain iklan buku, media ini memuat iklan lowongan kerja di dunia penerbitan, sayembara penulisan, agenda pertemuan dan festival sastra, workshop menulis, distributor (pemborong buku), teknologi percetakan, literary agent, print-on-demand, self publishing, sampai software dan aksesoris menulis. Sebuah keterkaitan yang tampak sukar dikejar oleh media perbukuan Indonesia. Perbukuan kita belum mampu menarik stakeholder berbondong-bondong mendukung media yang mengkhususkan diri di ranah tersebut. Ini menguatkan prasangka ternyata media perbukuan kita belum didukung oleh industrinya.

PW merupakan standar ideal media perbukuan, pada dasarnya juga bukan media bersirkulasi besar. Sampai 2008---136 tahun sejak debutnya---sirkulasi PW kira-kira 25.000 kopi. Pelanggan terbesarnya ialah penerbit (6000), perpustakaan (5500), toko buku (3800), penulis dan pengarang (1600), perpustakaan universitas & sekolah tinggi (1500), media cetak, film, dan umum (950), dan literary agent & agen rights (750). Rubrik andalannya ialah resensi buku, yang bisa mencapai 40 halaman tiap edisi, menghasilkan resensi lebih dari 7000 judul baru per tahun. "Starred Review" PW kerap jadi jaminan bahwa buku tersebut berkualitas, hingga kerap dikutip menjadi blurb maupun endorsement.

Jelas PW memilih lebih melayani dinamika industri, yang dikomandoi penerbit. Ia hendak menyetir selera pembaca. Sebaliknya, media perbukuan kita cenderung melayani dan menyajikan keinginan pembaca umum, namun tampak sulit menyemangati kalangan industri dan pelaku bisnis, akibatnya mereka malas berlangganan maupun berinvestasi, baik lewat iklan maupun promosi.

MEDIA perbukuan yang patut diperhatikan muncul di Internet. Media ini dibangun secara personal maupun kolektif; sebagian masih buruk, namun sebagian lagi sudah baik, di-update teratur, berisi artikel, esai, dan topik menarik sesuai niat pendiriannya. Jumlahnya cukup mencengangkan, sebab cukup mudah ditemukan, terutama karena keterkaitan antarmereka terbina dengan baik. Setiap situs dan blog selalu mencantumkan rekomendasi link luar. Sambung-menyambung seakan tiada henti. Yang paling menonjol dari sini ialah dedikasi para pendirinya yang nyaris tanpa pamrih, semata-mata demi kepuasan batin, memenuhi idealisme, menyebarkan pemikiran, dan memanjakan selera.

Di Internet ini kita menyaksikan book blogger, terdiri dari mereka yang tanpa pamrih mencintai buku, menikmati dan membicarakan dengan semangat, nyaris tanpa pretensi apa pun selain mengedepankan kesenangan dan selera, alih-alih mengkritik secara sok ilmiah. Sejumlah penerbit telah menangkap peran mereka dan memberi akses agar bisa lebih banyak lagi membaca, mengomentari, membicarakan, dan lantas menyebarkan dan merekomendasikan buku kepada kawan lain. Mereka lebih terpikat internet yang interaktif, cepat, spontan, dan langsung, dibandingkan media cetak yang cenderung lambat, serius, dan kurang interaktif.

Namun tulisan mereka kerap merupakan spoiler, hanya bercerita ulang, bahkan salinan sinopsis, alih-alih merupakan pendapat (komentar) yang jernih dan mampu memberi letupan penasaran pada khalayak. Kelemahan lain dari media ini ialah rendahnya standar kepenulisan, abai terhadap EYD dan kesepakatan umum. Lepas dari itu, media ini pantas diperhatian karena zaman memang mendukung, dipenuhi fasilitas berlimpah. Sebagian penulis malas menulis di media cetak yang ribet dan banyak aturan, sementara di Internet mereka bisa bebas menulis, ekspresif, tanpa halangan, langsung, pada teman-teman dekat. Ini sulit tergantikan.

Kelemahan ini lambat ditutup oleh ide yang mampu mengikat pembaca di setiap edisi baru. "Ide berbuku" kurang tumbuh di media perbukuan, sementara Internet dan semua turunannya berhasil terus-menerus menyambungkan pembaca satu ke pihak lain secara simultan dan nyaris tanpa henti. Ide berbuku apa yang kira-kira kurang tergali media perbukuan? Misalnya mengangkat tema "Buku Tahun Ini", "Penulis Paling Berpengaruh," "Cara Canggih Menulis" (bisa membahas gadget, software menulis, blog, dan sejenisnya), "Penulis Berbakat Tahun Ini", "Penerbit Paling Inovatif", "Penulis Legendaris Indonesia," "Buku Abadi Sastra Kita," atau menerawang masa depan perbukuan. Ketika Haidar Bagir, pendiri Mizan, terpilih sebagai "Top Ten The Best CEO 2008" versi SWA---peristiwa itu luput dari perhatian media perbukuan. Padahal itu bisa dijadikan topik cara mengelola penerbitan yang sukses dan memberi kontribusi pada bangsa. Tampak bahwa ide masih berkutat dengan ide berbuku yang masih menggunakan kertas.

KITA tahu Internet telah menyita waktu, ruang, dan energi yang semakin besar dalam kehidupan manusia. Tapi juga sadar Internet makin mengganggu, memecah konsentrasi, menghalangi orang dari upaya meditasi dan pemikiran mendalam. Beberapa media perbukuan semata-mata terbit online, meski produk turunannya berupa cetakan. Media buku konvensional harus melakukan reposisi dan reorientasi. Bila sukses, media bakal bisa bertahan sepuluh tahun ke depan, mengikuti jejak PW, Kirkus Review, dan WD.

Media perbukuan harus mendekatkan diri pada dinamika industri, yang berdampak besar pada perubahan pasar maupun pendekatan bisnis, bukan mendekati para selebriti untuk dikaitkan dengan buku. Mungkin menarik menimbang jalan yang ditempuh PW dan Kirkus Review: mereka jauh lebih banyak mengulas buku yang akan terbit beberapa minggu sebelumnya. Itulah yang akan jadi panduan bagi penerbit, toko buku, pemborong, termasuk perpustakaan. Beranikah Matabaca bereksperimen dengan hal itu? Mari kita tunggu langkah Matabaca selanjutnya.[]

Anwar Holid bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis freelance. Blogger di http://halamanganjil.blogspot.com.

NOTE: Matabaca memuat esai ini pada edisi pamungkas mereka, yaitu pada Desember 2008.

Monday, May 25, 2009



Melawan PKI adalah bagian penting dari kreativitas
---Abdul Hadi W.M.


Akhir bulan September 1965, ketika baru sehari saya berada di Madura, pemberontakan PKI pun meletus. Cepat-cepat saya kembali ke Yogya, ingin melihat situasi lebih dekat. Lagi pula, melawan PKI adalah bagian penting dari kreativitas. Mengapa? Sejak dibantainya seniman-seniman kreatif, saya sudah muak pada PKI dengan Lekra-nya. Mereka ingin memaksakan ideologinya, juga di dalam kesusastraan, dan berusaha membunuh haluan-haluan lain dalam kesusastraan di luar realisme sosial dan romantisisme revolusioner mereka.

Saya sesalkan misalnya, pengarang-pengarang yang semula baik, kini justru menjadi algojo-algojo yang kesetanan setelah menjadi tokoh-tokoh teras Lekra atau dekat dengan Lekra, seperti Pramoedya Ananta Toer, Bakri Siregar, dan Sitor Situmorang. Mereka berpikir bahwa kebebasan mereka harus berarti hancurnya kebebasan pengarang lain di luar kelompok mereka. Dan tentang ini, terus terang saya akan melawannya terus, apalagi mereka tak pernah secara terbuka mengakui kesalahan mereka.

Betapa sedihnya misalnya, ketika Manifes Kebudayaan dilarang dan para pendukungnya diburu-buru tanpa belas kasihan. Begitu juga ketika mereka berdiri tanpa reserve di belakang pelarangan buku sastra secara besar-besaran setelah Manifes Kebudayaan dilarang. Demikian pula ketika Chairil Anwar dinyatakan penyair terlarang di Fakultas Sastra tempat saya kuliah, hanya beberapa waktu setelah Bakri Siregar mempropagandakan sastra revolusionernya, seraya mengganyang H.B. Jassin, Bur Rasuanto, dan lain-lain.

Dikutip dari Abdul Hadi W.M.: "Catatan-catatan Seorang Penyair", dalam Proses Kreatif II (Pamusuk Eneste, ed., Gramedia, 1984), hal. 185-186.