Showing posts with label [halaman ganjil]. Show all posts
Showing posts with label [halaman ganjil]. Show all posts

Friday, June 05, 2020

berjuang membaca quran
~ anwar holid

di pengujung ramadhan 2020 (1441 h) aku tamat baca quran yang aku mulai dari bulan februari 2020. kaum muslim menilai khatam quran merupakan suatu pencapaian, makanya patut disyukuri. tapi bagi orang muslim dewasa, tamat baca quran sebenarnya biasa banget. banyak muslim bisa tamat baca quran berkali-kali dalam setahun, atau bahkan sekali sebulan. aku gak bisa melakukannya.😔 itu artinya baca quranku sangat lelet, kurang banyak, sering mengulang, kurang disiplin dan rutin -- atau lebih tepatnya: masih berjuang membaca quran.

tahun ini aku membarengi baca quran dengan berusaha disiplin baca terjemahan setiap kali selesai baca ayat arabnya. buatku ini istimewa, sebab belum pernah berhasil melakukan sebelumnya. tanpa baca terjemahannya, buatku quran cuma terdengar akrab tapi gak 'bunyi', gak aku pahami, bahkan gak ada artinya. aku ingin ngerti bacaanku, meski niat itu tidak 💯 % berhasil. banyak yang gak aku pahami dari quran, barangkali karena bacaanku sepotong-sepotong dan pengetahuanku tentang quran juga terbatas.

setiap tamat baca quran, aku selalu teringat nenekku dari bapak. dulu aku pernah sampai nangis-nangis belajar baca quran baik dari uwakku atau nenekku. nenekku suka ngageunggeureuhkeun (memperingatkan) aku agar menaruh quran di kepala tiap kali membawanya -- bukan dijinjing atau dipegang begitu saja. baginya, itu adalah bentuk penghormatan terhadap sebuah kitab suci. quran yang aku baca sekarang ialah quran yang dari kecil aku pegang dan baca pelan-pelan atas bimbingan uwak atau nenekku.

baca terjemahan quran itu mencengangkan. aku jadi  bisa merasa tahu dan meraba apa maksud ayat-ayat itu. tapi, baca terjemahan quran juga suka bikin gemetar, terutama soal dosa, ancaman, siksaan, wabah, dan neraka.  sebagian isi quran itu ngeri dan di luar bayangan manusia biasa. orang masuk ke perut ikan raksasa, bapak mau menyembelih anaknya, pejuang keadilan sosial melawan rezim jahanam, praktik sihir, orang saleh miskin, tewas, satu kaum ditelan bumi, seseorang moksa entah bagaimana caranya. gak terbayangkan hal-hal itu bakal terjadi di dunia ini -- bahkan di #onthespot sekalipun. membayangkan betapa ada seseorang yang langsung menerima ayat suci juga merupakan ketakjuban lain.

membaca quran bikin aku sadar ada kosakata yang ternyata terus hadir dalam kehidupan manusia sampai sekarang. contoh quran itu sendiri. 'sihir' membuatku ngebatin: aku gak tau persis itu apa, gak pernah mengalami, gak tahu bentuknya, tapi jelas merupakan hal besar. apa aku alergi pada sesuatu yang asing seperti sihir hingga seumur hidup menghindari, tak pernah mau atau menyelami ilmunya, bahkan secara bawah sadar ketakutan terhadapnya?? kenapa sebagai muslim aku tidak pernah diperkenalkan pada sihir secara pantas?? kalau sihir di zaman dulu bisa dipraktikkan dalam gerakan sosial dan menumbangkan rezim, seperti apakah bentuknya di zaman sekarang???

kosaka-kosakata dalam quran begitu terpelihara. ia hidup, ditafsirkan, ditekankan, disebarkan, dicomot, bahkan kerap menjadi slogan yang menggelorakan. ia bisa misterius. ia menyertai kehidupan manusia. bukan saja kepada orang muslim, melainkan pada siapapun yang membacanya.

puasa ramadhan 2020 berlangsung di tengah wabah global covid-19 yang memaksa banyak perusahaan dan orang mengurangi waktu kerja dan menambah waktu libur. ini membuatku banyak menyempatkan membuka quran. tanpa libur mustahil aku bisa mencicil baca quran selama ramadhan, terutama sebelum buka dan sesudah subuh.

baca quranku masih buruk. atau mungkin malah memprihatinkan.☹️ aku belum belajar meningkatkan kemampuan bacanya, meski sudah dapat saran misalnya di youtube. dengan umur  setua ini sementara bacaan quranku jelek, alangkah malu dan menyesalnya aku jika dibandingkan dengan bocah-bocah yang sedang berlomba menjadi juara hafiz quran.😩😢 aku dulu belajar ngaji di surau dekat rumah, diterangi lampu minyak, dan kami membawa sebotol minyak tanah untuk penerangan surau.

ada fakta menyedihkan, ternyata masih banyak mukallaf  (umat islam yang sudah baligh) yang buta huruf (gak bisa baca) quran. aku pernah menemukan kasusnya di wag khusus muslim. akmal nasery basral bahkan menyatakan jumlahnya secara nasional antara 55 %-60 %. secara garis besar dia bilang dari 5  orang mukallaf  perbandingannya  adalah: 1 bisa baca lancar, 1 bisa baca penuh perjuangan, 3 tidak bisa baca.
😔

sejak beberapa tahun lalu aku niat belajar lebih baik baca quran, tapi belum terlaksana. secara otodidak juga belum.☹️ konpensasinya aku berusaha lebih disiplin membacanya. seorang kenalan yang rajin menamatkan quran bilang begini, 'coba sebelum mulai biasakan berdoa 'ya allah fasihkan aku membaca quran' -- insya allah dilancarkan dan dimudahkan oleh allah.' mungkin dengan begitu kita jadi lebih baik memperhatikan kualitas bacaan sendiri. jujur saja targetku setelah ini sama sekali bukan tergesa-gesa khatam quran, tapi lebih baik meningkatkan kualitas membaca dan memaknainya.[] [halaman ganjil; wartax]

nb: tulisan ini sengaja mengabaikan puebi.

Wednesday, August 14, 2019

[halaman ganjil]

menikmati sakit
~ anwar holid



awal agustus 2019 ini aku dirawat di rumah sakit karena diare. aku sampai lemas, demam, pening, dan dehidrasi. setelah masuk igd, aku ditempatkan di kamar bersebelahan dengan seorang bapak yang sakitnya lebih parah. sepertinya beliau menderita komplikasi penyakit, entah kencing manis dengan kanker prostat atau apa. yang jelas ia kencing pakai selang dan kalau buang air besar pakai pispot. lantai di bawah ranjangnya selalu ada ceceran darah. selama aku dirawat, bapak ini hanya berbaring dan mengeluh atau sering mengerang minta tolong atau minta perhatian ke penunggunya. banyak yang dia keluhkan, terutama sakit yang ia rasakan. bentar-bentar dia meminta anaknya untuk membantu membereskan sesuatu di badannya atau apa saja yang salah dalam dirinya. sementara anaknya gampang tertidur, jadi susah dibangunkan.... dipanggil-panggil gak menyahut atau lekas bangun, sementara erangan si bapak tambah nyaring dan mengenaskan. kalau anaknya susah dibangunkan, dia merepet soal sakitnya, betapa dia dulu sudah mengurus dan membesarkan anak-anaknya... namun sekarang giliran dirinya butuh, anaknya malah malas-malasan menolongnya.
'dalam sakit', puisi sapardi djoko damono
di buku duka-mu abadi. [foto: anwar holid]

aku cuma mendengarkan tiap kali si bapak mengerang atau memanggil butuh sesuatu sambil mengeluhkan sikap anak atau orang yang mendampinginya. kalau kebetulan ke kamar mandi sambil bawa infus, aku lirik bapak ini. dia meringkuk saja. dalam hati aku menyimpulkan, 'sakit si bapak ini jauh lebih parah dari sakitku.'

aku berusaha cepat pulih, menikmati istirahat dan perawatan, menghabiskan semua menu yang disediakan dan obat yang diberikan perawat atau disuntikkan via infus. aku juga menikmati kesendirian, melamun banyak hal... membayangkan hal-hal menyenangkan.😂😂

tiap kali mendengar perepetan atau erangan si bapak, aku membatin dan terkenang perbuatan yang pernah aku lakukan pada anak sendiri. apa aku ini tipe orangtua yang menuntut balas jasa ke anaknya??? aku juga pernah berbuat kasar ke anak-anak.😢 pernah menyakiti badan dan hati mereka, meskipun alasannya demi kebaikan atau pendidikan. mungkin banyak hal yang aku lakukan menyebalkan bagi anak-anak. contohnya kepo soal mereka. ya tentu saja aku kepo, persis karena mereka anak-anakku sendiri. jadi aku ingin memastikan mereka itu seperti apa. untuk urusan kepo saja aku sudah dianggap menyebalkan, apalagi urusan lain.

salah satu yang sering diminta bapak ini ialah dia ingin anaknya menghubungi saudara/orang-orang agar menjenguknya. anaknya terdengar ogah-ogahan tiap kali diminta menelepon saudara atau keluarganya, memberi tahu bahwa ayahnya sedang sakit parah dan mohon agar menjenguknya. mungkin karena dia gak akrab atau kenal dengan orang yang dihubunginya. aku membatin, kenapa ya bapak ini ingin dijenguk banyak orang?? apa sakitnya gak tertanggungkan lagi? apa itu isyarat menjelang akhir hayatnya?? apa dia ingin membagi rasa sakit ke orang-orang terdekatnya?? apa dia mendapat dukungan, penghiburan, dan energi positif dari orang-orang yang menjenguknya???

aku 'menikmati' rasa sakit sendirian. orang kedua yang aku hubungi saat masuk igd ialah kepala hrd tempatku kerja, untuk memastikan bahwa aku beneran sakit dan jangan sampai dipotong gaji karena dianggap mangkir kerja. aku merasa sudah terlalu tua untuk memberi tahu orangtua bahwa aku sedang sakit. aku cukup yakin bisa menghadapi rasa sakit sendirian. sakit itu bagian dari hidup, dan jika kita bisa mengalahkannya, insya allah pasti sembuh. aku kuatir jadi orang menyebalkan saat sakit. aku yakin perawat, dokter, rumah sakit, bpjs, juga satpam rumah sakit sudah melakukan hal sewajarnya untuk membantu kesembuhanku. makanya aku takjub ketika dijenguk teman gowes dan menerima banyak support dari mereka.

ketika sakit sudah pasti kita tak berdaya, pasti butuh pertolongan orang lain. orang-orang baik dan menyayangi kita pasti langsung menolong dan kuatir atas keadaan kita, tak perlu lagi dibebani dengan rengekan yang terdengar mengenaskan atau malah menyebalkan. kata teman gowesku, cara orang menghadapi sakit memang beda-beda. ada yang merengek, meratap, meraung, diam menahan, atau coba mengembalikannya ke tuhan. intinya si pasien ingin mendapat kekuatan menghadapinya.

setelah tiga hari dirawat, dokter bilang aku boleh pulang. aku sungguh semangat. si bapak itu masih rutin dikunjungi perawat dan dokter. mereka terdengar jengkel ke si bapak, karena banyak menyisakan makanan dan obat yang mestinya jangan sampai telat dihabiskan. aku masih sulit melupakan soal beliau.... meskipun beberapa hari berselang sehabis kepulangan dari rumah sakit itu aku ikut gowes bareng kawan-kawan  ke gunung patuha - kawah putih. [wartax, 7/8/19]

Tuesday, January 03, 2017

jangan takut mencari bahagia dengan cara tak biasa
oleh anwar holid

'tau gak, hidup dia sekarang bahagia setelah nikah sama suami keduanya,' kata kawanku tentang seorang kawan perempuan kami.
'bahagia gimana?' tanyaku rada datar.
'yah pokoknya dia kelihatan senang. hidup makmur. rumah besar mentereng. sering liburan ke tempat-tempat impian, indah, dan terkenal. mobil ada. anaknya cantik-cantik. kayaknya gak ada kurangnya...' kawanku berusaha meyakinkan aku.
'emang suaminya kerja di mana sampai mereka bisa kaya begitu?'
'di perusahaan tambang minyak, di laut china selatan.'
'oh... mereka hidup pisah ya?' giliranku menebak.
'iya... ketemuan tiga bulan atau enam bulan sekali.'
'yaaaah... kasihan dong, gak tiap hari dapat pelukan dan ciuman suaminya, gak tiap hari tidur bareng atau minimal dapat senyuman kekasihnya,' aku mencoba meremehkan nasib kawan kami.
'halah... kamu! itu harga yang mereka bayar untuk mendapatkan kebahagiaan, tau!'
'oh, jadi kebahagiaan itu harus dibayar segitunya ya? aku pikir kebahagiaan itu tanpa syarat.'
'ya enggak lah. kamu aja sering bilang there’s no such thing as a free lunch.'
'terus gimana kamu bisa menjamin mereka bahagia? suami-istri hidup terpisah itu berat tau. bahkan bisa jadi menyengsarakan. bikin batin tertekan, interaksi susah, pas lagi dibutuhin gak ada, hubungan emosi dan seks juga lebih jarang. jadinya lebih terhadang. dan itu semua sangat mendasar dalam membangun kebahagiaan!'
'hahaha... barusan kamu bilang kebahagiaan itu tanpa syarat. sekarang kenapa kamu bilang itu semua penting sebagai pembentuk kebahagiaan?'
'loh... itu menurut orang. menurut studi. ada temuannya. aku mah yakin, kebahagiaan seorang presiden dan buruh itu kualitasnya sama, walaupun status sosial dan harta bendanya beda.'
'halah... teori! kebahagiaan seorang presiden pasti lebih tinggi kualitasnya dibanding kebahagiaan seorang buruh!'
'dari mana kamu yakin?'
'dari statusnyalah. keduanya jelas beda. raja mikirin bangsa dan negara, skalanya jauh lebih luas dan rumit; buruh memikirkan diri sendiri, skalanya kecil, mungkin lebih gampang terpenuhi. ada yang bilang... orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu itu beda. jadi aku yakin bahagia seorang presiden pasti beda dari pemulung.'
'apa kamu yakin presiden memikirkan bangsa dan negaranya? bukan kekuasaan, hawa nafsu, syahwat, atau kemasyhuran dan kepentingannya sendiri? kita aja sering kok segitunya mikirin kondisi dan nasib bangsa dan negeri ini, seolah-olah paling tahu cara menyelesaikan masalah bangsa dan masyarakat---padahal itu semua ada di luar kuasa kita.'
'udah, udah... kamu tambah ngelantur. lantas kenapa kamu sangsi bahwa hidup seseorang itu bahagia?'
'yah... karena kamu mengaitkan kebahagiaan dengan kepemilikan materi. padahal bisa jadi kedua hal itu gak nyambung.'
'kamu yakin ngomong gitu? buktinya kita kan sering menyangka bahwa orang berlimpah materi itu gampang kelihatan lebih senang? kebutuhan hidup lebih terpenuhi. lebih makmur. banyak orang bilang kebahagiaan membawa orang pada kemakmutan. kekuatirannya berkurang, gak gampang cemas, dibanding orang yang serba kekurangan. bahkan mungkin saja dia gampang berbagi dengan hartanya, menjadikan sebagian hartanya untuk menyenangkan orang lain. contohnya ya kawan kita itu....'
'yah... tapi kita juga kan gak tau kalo dia mungkin cemas soal utang-utangnya. mungkin dia mikir kenapa hartanya gampang sekali berkurang, padahal susah-payah didapatkan? aku sering lihat ada orang kaya yang dikit-dikit panik bila kekayaannya berkurang, usahanya merugi sedikit saja. jelas mereka gak rela kalo neracanya negatif. apa seperti itu orang bahagia?
sementara orang yang hartanya memang sedikit sudah gak cemas sama sekali soal itu semua, karena dia tak memikirkan yang tak dimilikinya. kebutuhan hidup orang kan lain-lain. sebagian orang mungkin lebih butuh harta; sementara yang lain mungkin saja lebih butuh hal-hal nonmateri, mungkin emosi, perhatian, kasih sayang.'
'itu namanya kamu membanding-bandingkan kebahagiaan seseorang dengan orang lain. padahal untuk bahagia orang harus menerima kondisinya tanpa pamrih. jangan membanding-bandingkan dirimu dengan orang lain.'
'ya memang... kebahagiaan itu soal mindset. cuma aku penasaran. kalo orang sering bilang bahwa kepemilikan materi tidak menjamin kebahagiaan nurani, tapi kenapa yang sering digembar-gemborkan dan duluan dikejar malah selalu kepemilikan materi? padahal kepemilikan materi tak bisa langsung diubah jadi kebahagiaan... apalagi kalo dibandingkan dengan kerja keras cara mendapatkannya. mungkin itu cuma bayaran setimpal. sementara aku rada yakin bahwa kebahagiaan itu sejenis dengan kepuasan batin. kepemilikan itu menurutku gak cenderung seiring dengan kebahagiaan kok... kita sudah sering lihat buktinya.'
'hehehe... mungkin itulah manusia. sering gak konsisten. bilangnya begini padahal maksudnya begitu. apa yang dicari beda dengan yang ditemukan. menyangka dengan punya kekayaan berarti menemukan kebahagiaan.'
'nahhh... itulah yang sering bikin aku sangsi sama orang yang dibilang bahagia. karena kita cuma bisa lihat luarnya. sementara dalam hati orang siapa tahu?'
'tapi gampang sinis atau terus-terusan sangsi sama kebahagiaan orang lain bikin kamu kayak sakit jiwa. kan pasti ada orang yang benar-benar bahagia di dunia ini. gak perlu restu kamu bahwa seseorang bisa bahagia!'
'hahahaha.... segitunya. tega kamu!'
'iyalah... kalo kamu gak bahagia bukan berarti gak ada orang lain yang bener-bener bisa merasakan kebahagiaan.'
'baiklah. aku cuma ingin bilang jangan menyeragamkan kebahagiaan seseorang satu sama lain. seolah-olah dalam kondisi yang sama otomatis melahirkan kebahagiaan yang sama. aku gak yakin kayak begitu.'
'ah dasar kamu ngeyel... pantes kamu kelihatan susah bahagia.'
'wkwkwkwk... bukannya sesuatu yang sulit diperoleh maka kadar bahagianya pun makin besar?'
'jadi kamu mau melecehkan bahwa kebahagiaan karena harta itu kadarnya rendah?'
'ya itu tergantung gimana seseorang menilai harta dan meletakkan kebahagiaan. kalo bagi dia kebahagiaan itu ada dalam setumpukan harta, dia pasti menghargai harta lebih dari segala-galanya... tapi kalau kekayaannya berkurang pasti langsung berkurang pula kebahagiannya. padahal menurutku kebahagiaan juga bisa didapat dari hal-hal kecil yang tak kalah esensial.'
'apa contohnya?'
'banyak. keramahan dengan teman kerja, bebas bilang apa saja ke bos atau klien, gak perlu kuatir mau bikin status apa pun di media sosial, toleran sama perbedaan... itu semua simpel kan? kalo kita cuma menganggap kebahagiaan itu ada dalam hal-hal besar, kasihan sekali aku yang cuma punya hal-hal sepele. '
'hahaha.... sekarang buktiin aja deh bahwa kamu bener-bener bisa bahagia dengan keyakinan itu, bukan sedikit-sedikit nyinyir atau sangsi bahwa kebahagiaan versi orang lain itu palsu atau malah gak ada.'
'yah... itu yang dari dulu ingin aku sampaikan. cuma aku gak bisa dengan gampang meyakinkan orang lain... jatuhnya malah jadi skeptis, atau lebih parah jadi debat dan sangsi. seolah-olah kebahagiaan itu susah dicari. padahal menurutku orang bisa bahagia dengan cara berbeda-beda, tertentu, atau malah gak biasa.'
'nahhh... kalo gitu akuilah bahwa orang memang bisa bahagia meski enggak sesuai dengan standarmu.'
'ah... orang gampang silau dengan nasib orang lain dan menyangka di situlah letak kebahagiaannya. padahal belum tentu. jangan menutup kemungkinan bahwa kebahagiaan bisa muncul dalam situasi yang gak terduga.'
'kalo gitu sering-seringlah bikin surprise sama orang lain biar bisa bahagia!'
'ah...... kalo itu sih namanya kamu ngarep!'

Foto: Wartax
pelan-pelan percakapan merendah. entah apa yang ada dalam pikiran kami masing-masing setelah jeda yang lengang itu. apa bersikukuh dengan kebahagiaan versi masing-masing atau membuka diri dengan kemungkinan baru bahwa bahagia bisa jadi menelusup ke lubang paling sempit di dalam hati seorang insan.[] 3/1/17

Thursday, June 16, 2016



Kehilangan Momen Berbuat Baik 
Anwar Holid

Suatu pagi pas jalan ke pasar inpres, aku ditawari seorang laki-laki berwajah bingung dan memelas untuk membeli sekantung keresek beras. Dia bilang istrinya mau melahirkan dan tak punya cara lain mencari uang buat biaya persalinan, makanya menawari siapa saja yang ada di pinggir jalan. Aku minta maaf menolak membeli berasnya, bilang di rumah masih ada persediaan, dan sedang tidak berencana beli beras. Aku memang mau beli sejumlah kebutuhan keluarga, tapi tidak termasuk beras. Laki-laki itu berusaha terus meyakinkan dan membujuk, tapi aku tetap menolak. Raut wajahnya tampak makin sedih. Aku lihat kilatan matanya makin berair mengalir ke sudut, menggumpal mau jatuh jadi tangis. sambil melengos putus asa, dia bilang, 'Maaf... ini memang salah saya...'

Aku langsung nelangsa dengar itu dan memegang pundaknya sambil berkata, 'Bukan... itu bukan salah akang. Saya hanya enggak niat beli beras. Mungkin nanti ada orang lain yang mau beli beras akang. Maaf ya...' Dia mengangguk dan kami berpisah.

Aku membatin, aku percaya bahwa dia jujur atas kondisinya. Dia tak punya cara lain berusaha, sehingga berharap keberuntungan di pinggir jalan. Sementara aku tidak spontan membantu orang lain dan merasa kurang lapang. Aku pernah dalam situasi sulit serupa, dan tahu persis betapa mencari bantuan memang bisa sangat sulit. Sekarang saja aku tengah butuh biaya untuk renovasi rumah, pengen beli kamera, mau beli road bike, kadang-kadang dituntut beli barang yang lebih mahal lagi, membiayai macam-macam keinginan... tapi masih terlalu malas lebih giat mendulang rezeki. Aku merasa bahwa keperluan itu masih bisa ditunda. Padahal aku tak punya aset selain menawarkan jasa, memaksimalkan kemampuan dan kesempatan. Kejadian itu membuatku membatin, kenapa ya Tuhan mempertemukan aku dengan pria itu?

Kenapa aku tak langsung menolongnya dan terlalu keukeuh dengan rencana yang sudah disusun? Apa kalau aku beli berasnya maka hidupku bisa berantakan atau malah diketawain sebagai orang yang gampang ditipu orang pinggir jalan? Jujur saja aku tidak kuatir oleh komentar orang lain. Cuma aku penasaran. Kenapa aku ditakdirkan menyaksikan detil kehidupan seseorang yang tengah kesulitan? Mungkin itu tanda sebenarnya aku bisa menolongnya sesuai kemampuan. Karena kemampuanku kecil, maka yang dihadapkan kepadaku juga detil kehidupan yang simpel. Kenapa orang seperti itu tak dipertemukan dengan pengusaha sukses, gubernur atau pemimpin partai? Kalo itu terjadi tentu persoalannya bisa langsung beres dan bisa dimaksimalkan untuk pencitraan.

Kenapa pria itu tak ketemu dengan para pemimpin negara-negara yang tengah berunding membicarakan masa depan dunia dan persoalan rumit seperti kemiskinan, krisis ekonomi dunia, ancaman terorisme? Apa hal itu terlalu sepele dibanding persoalan besar dunia, maka terjadi di sudut bumi di luar jangkauan radar kekuatan besar. tampaknya juga mustahil bahwa 'persoalan kecil' seperti kebutuhan pribadi terungkap di acara demikian. Mungkin gak sih dalam pertemuan 'penting' tingkat internasional seseorang minta tolong dirinya butuh biaya persalinan istri, ongkos sunatan, atau biaya nikah anaknya? Orang akan bilang itu irelevan dan di luar konteks. Atau gila. Jadi apa sebenarnya kejadian kecil itu sama bobotnya dengan peristiwa besar yang dianggap penting dan perlu dicatat sejarah?

Ah... mungkin aku terlalu repot mencari-cari alasan atas kemalasanku segera menolong, meski di luar rencana dan irelevan. Jujur saja aku suka menyesal tak bisa menolong karena merasa sempit, padahal kalau mau bersikap lapang mestinya masih bisa menyisihkan kemampuan atau rezeki walau sedikit. Sementara pada saat merasa mampu, kesempatan itu sudah lewat. Kita kehilangan momen berbuat baik, padahal kesempatan itu cuma sekelebat. Waktunya sempit sekali, dan mungkin tak terulang lagi. Seperti tendangan penalti, dalam hitungan detik ia harus segera dieksekusi.

JEDARRRRR!!!!![]


[HALAMAN GANJIL]

Thursday, May 26, 2016



Kisah Diusir dari Grup WA
Anwar Holid

Baru saja aku diusir dari grup WA SMA satu angkatan. Rupanya ada admin tersinggung oleh komentar-komentarku. Seorang dari mereka bilang begini soal aku, 'Perasaan sebelum dia masuk ini grup enak-enak saja deh... seruuuu.'

Oh, maaf kalo begitu. Jadi aku bikin grup gak seru, gak asyik, gak enak, sampai perlu ditendang. Aku tertawa membayangkan kawan seangkatanku sendiri segitu tersinggung oleh komentar atau pernyataanku. Mungkin aku memang sengak. Aku merasa dia sensitif, gampang ngambek, bahkan mungkin intoleran pada pendapat tegas atau cenderung pedas. Padahal aku sendiri merasa apolitis dan pasifis.

Entah kenapa aku langsung ingat Saut Situmorang, seorang penyair yang dituntut ke pengadilan atas dakwaan pencemaran nama baik. Rupanya si penuntut tersinggung atas kelancangan Saut mengata-ngatai dirinya di media sosial. Aku  merasa Saut pemberani, bahkan mungkin urat takutnya sudah putus. Dia yakin atas ucapan dan kelakuannya. Saking salut, aku suka menitipkan keberanian kepadanya. Tapi tentu saja kasusku bukan apa-apa dibanding yang dialaminya.

Aku cuma sedih dan kasihan pada orang yang takut berpendapat, takut  mengutarakan sesuatu dengan baik dan jelas. Kasihan sekali kalau kamu berumur lebih dari 40 tahun tapi masih takut bilang ini-itu, gentar menyatakan sesuatu hanya karena punya pikiran lain. Aku menyangka admin yang mengusirku itu tak bisa dibantah, harus diturut, gampang terusik, merasa otoritasnya terganggu. Mungkin ia bos yang berkuasa penuh mengatur ini-itu, disegani, bangga bila kehadirannya menebar teror, membuat orang lain takut dan segan. Jadi dia tak sungkan menendangku.

Aku cuma senyum-senyum waktu kawan sekelasku kaget mendapati diriku  sudah diusir. Aku tidak menyesal, tapi langsung membuatku malas minta balik. Toh aku juga tidak merengek ingin masuk. Aku cuma merasa sayang gagal jadi orang menyenangkan dan menutup peluang mendapat tambahan follower di media sosial... ha ha ha. Tapi untungnya dengan begitu aku bisa menghemat paket data, bebas dari clear chat atas komentar membosankan, terhindar dari orang kolokan, dan bisa lebih hemat batre hape.[]

Wednesday, January 06, 2016

suatu hari dengar cerita pak sopir angkot
--anwar holid

kemarin waktu aku ngobrol dengan sopir angkot, dia cerita putranya yang sudah menikah jadi penjual kebab pinggir jalan. gajinya 800 ribu rupiah per bulan. terkadang kalau beruntung dia dikasih tambahan oleh bosnya sekitar 200 ribu.

'800 ribu cukup buat apa?' tanya pak sopir retorik. dia bilang sambil merokok. garis-garis di wajahnya tergurat dengan jelas dan tajam. topi kumal yang dia kenakan menambah kesan betapa dirinya sudah puluhan tahu disepuh alam.

aku terdiam dengar ucapannya. antara kaget dan prihatin atau gak bisa berbuat apa-apa. termangu.

'oh, penjual kebab itu digaji ya pak?' tanyaku tanpa bermaksud mengalihkan topik. 'saya kira dapat dari jualannya...'

'enggak. kan semua sudah dipasok sama bosnya. anak saya tinggal ambil dan jual.'

jadi sekarang aku baru tahu bahwa penjual kebab dan semacamnya juga orang gajian. pikiranku langsung terpelanting ke zaman pra-reformasi ketika aku pernah digaji di atas sejuta lebih sedikit. dengan gaji segitu saja rasanya aku masih prihatin. dan sekarang di rezim jokowi aku mendengar ada seseorang digaji di bawah sejuta. tapi untunglah aku sedang males nyinyir soal politik atau keadilan sosial yang jelas-jelas di luar kontrolku.

bagaimana satu keluarga menyiasati hidup sehari-hari dengan uang 800 ribu dalam sebulan? terlalu gelap buatku untuk membayangkannya.

'dengan gaji segitu, incu saya sering minta dibeliin buat paket data juga... jadi weh pengeluaran teh tambah besar,' lanjut pak sopir.

jujur saja aku ingin membensini ucapannya biar langsung melalap emosi yang sedang meluap-luap. tapi coba aku tahan. aku juga sudah lama niat berhenti beli paket data, tapi enggak bisa. malah sekarang harganya tambah mahal tapi terpaksa aku beli demi kepuasan bersenang-senang. aku sudah menyarankan agar berhenti beli air dalam galon (kembali minum air jerang), berhenti beli tisu, juga jangan beli dvd bajakan... tapi itu semua gagal. aku pikir kalau bisa menghemat pengeluaran untuk beberapa kebutuhan mewah itu maka aku bisa sedikit merasa lebih lega atau bahkan bisa menabung untuk beli kamera leica.



rasanya aku harus lebih prihatin. tapi mendengar obrolan pak sopir hatiku jadi lebih perih dan bergetar lagi. aku cuma bisa coba berempati.

banyak orang bekerja keras tiap hari sampai badannya mengeluarkan bau memuakkan, berjalan belasan kilo untuk mendapatkan nafkah, menunggu sampai tengah malam, memulai sejak dini hari... tapi hasilnya masih saja di bawah pengharapan dan mustahil protes lagi. sebab kalau protes keadaan bisa jadi lebih buruk lagi.

cerita pak sopir membuat pikiranku perlahan-lahan kabur. aku memandang ke luar. hari itu bandung sedang ditaburi air begitu banyak dari atas. udara yang rapat seperti mengeluarkan kabut. semua itu membuatku suasana hatiku jadi nelangsa... sampai entah kenapa mendadak aku teringat sebuah lirik lagu balada queen yang artinya: apa seperti ini dunia yang kita ciptakan?[]

[halaman ganjil]

Monday, September 28, 2015



Numpang Mobil Pak Direktur Penerbit
--Anwar Holid

Beberapa hari lalu aku ke Jakarta numpang mobil seorang direktur penerbit. Jujur saja, nama penerbitnya itu masih asing, kurang terkenal, dan sama sekali bukan tipe penerbit favoritku. Tapi apalah arti seleraku dibanding keberhasilan seseorang menumbuhkan dan merawat perusahaannya? Tentu aku harus salut atas keberhasilannya.

Aku baru berkenalan dengan pak direktur ini karena kami sama-sama aktif di sebuah grup penerbitan. Aku mendapati beliau ternyata mudah akrab dan suka bicara banyak hal, termasuk soal perusahaan dan kisahnya menjadi pelaku industri penerbitan. Karena baru kenal, aku menerima begitu saja ceritanya dan menganggap itu sebagai kebenaran. Selama di perjalanan aku coba tertarik pada ceritanya dengan sekali-kali sengaja memancing lebih dalam bagaimana dia mendirikan dan membangun perusahaannya. Awalnya aku menyangka akan mendengar omongan bombastik seorang bos atas kesuksesannya---apa pun tarafnya---tapi ternyata tidak. Yang aku dengar malah cerita seseorang yang antusias bagaimana dirinya terlibat dengan dunia buku dan bagaimana ia mencari celah ladang penghidupan di dalamnya.

Ceritanya waktu masih mahasiswa di salah satu universitas paling top di negeri ini, ia mencari tambahan uang saku dengan menjual buku dari masjid ke masjid yang bertebaran di seputar kampus dan kotanya. Sebagai aktivis kampus, dia selalu ingin praktik membuktikan bacaan, pengetahuan, dan idealisme. Sebagai mahasiswa, dia ingin mengenalkan dan menularkan buku-buku yang menurutnya 'mencerahkan', intelek, bisa mengangkat derajat pembacanya ke level di atas rata-rata. Hasilnya? Tak ada satu pun buku yang dijajakannya laku.

Sebagai mahasiswa pejuang, dia tak menyerah dengan mudah. Dia berusaha memperbaiki cara menjual dan menawarkan. Dia yakinkan bahwa bahwa buku-buku rekomendasinya pantas dikonsumsi masyarakat yang setiap hari datang ke masjid. Bayangkan berapa banyak masjid bertebaran di kota-kota di Indonesia? Berapa besar potensi pasarnya? Makanya dia tetap semangat.

Tapi setelah dicoba berkali-kali satu-dua tahun, strateginya tak ada yang mempan. Dia kecapekan dan keberatan membawa dagangannya yang tetap saja seret. Sedikit saja bukunya laku. Dia bilang, 'Ini bagaimana? Apa dari sekian banyak orang Islam tak ada yang suka baca? Malas beli buku buat pengetahuan dan masa depannya? Apa tidak bisa dianggarkan dari uang sumbangan masyarakat? Padahal di masjid kecil sekalipun kan minimal ada Al-Quran, ada rak kecil buat menyimpan bahan bacaan.' Dia mulai mengeluh dan sedikit putus asa.

Sambil kembali membawa gembolan buku jualannya ke kamar kos, dia pikir-pikir kenapa barang dagangannya cuma laku satu-dua? Itu pun bukan jenis buku favoritnya. Akhirnya dia dalami satu demi satu isi buku jualannya. Dia cari bagian paling penting, paling relevan, atau apa isi yang kira-kira paling laku dijual. Dengan begitu dia makin tahu isi buku dan makin pintar berusaha meyakinkan orang bahwa buku itu memang dibutuhkan. Strategi ini cukup berhasil. Jualannya mulai laku. Dia menemukan celah bagaimana menjual dan memasukkan buku agar bisa dibeli baik oleh pengurus masjid ataupun jemaahnya.

Namun dari buku-buku jualannya, dia tetap heran kenapa ada jenis buku tertentu yang tetap saja seret? Mau 'digimana-gimanain' tetap saja tidak laku. Jangankan laku, dicoba yakinkan saja tetap terlalu sulit. Dan ini biasanya terjadi pada buku kelas utama, yang menurut dirinya sebagai orang terdidik, ialah buku babon yang merupakan rujukan utama, adikarya, dinilai tinggi oleh kalangan tertenu. Dengan berbagai cara pun buku itu tetap saja sulit laku---tak peduli jenisnya, entah agama, karya sastra, kajian sosial-budaya, sejarah, politik, juga sains. Ini yang salah cara jualnya, pasarnya, atau kemasan barang dagangannya?

Kesulitan menjual itu memunculkan spekulasi dalam dirinya: ada buku tertentu memang tak sesuai dengan pangsa pasar kebanyakan, tak bisa dijual massal, cuma diminati sedikit orang khusus yang punya intelektual atau ketertarikan tertentu. Sebagian besar buku ialah barang kodian. Dengan pendekatan, iming-iming, dan trik tertentu buku seperti ini mudah sekali laku---dan buku seperti inilah yang banyak-banyak akan diproduksi  penerbit.

Belajar dan berbekal pengalamannya menjual buku, dia menemukan celah penghidupan. Dia memberanikan mendirikan penerbit dan pintar-pintar bersiasat menerbitkan buku yang punya potensi pasar. Caranya? 'Saya mainkan judul, perhatikan isi bukunya seperti apa, sajikan dengan mudah, yang gampang diterima calon pembaca, jangan yang susah-susah. Alhamdulillah dengan cara ini buku kami tak ada yang numpuk di gudang.'

Bagaimana dengan buku babon yang justru merupakan bacaan favoritnya? 'Biarlah buku seperti itu diterbitkan oleh orang lain yang lebih mampu melakukannya. Saya mah begini saja.'

Dia akui penerbitnya berusaha merespons pasar secepat mungkin. Begitu lihat gejala muncul trend tertentu, segera diterbitkan buku jenis itu untuk memenuhi 'kebutuhan' pasar. Kelihatannya reaktif, tapi membuat penerbitannya dinamik, kreatif, dan terus berproduksi. Begitu trend hilang, buku jenis itu dihapus dari gudang. Dia kesulitan mencari buku yang bersifat 'abadi.' Itu sebabnya dia mengaku tak punya penulis terkemuka, yang high profile. Terbitannya pun bukan macam buku yang suka diresensi oleh kritikus kelas berat di media terkemuka. 'Bukan buku yang bisa dibawa ke Frankfurt Book Fair he he he...' katanya terkekeh merendah.

Dengan segala kerja keras dan pencapaiannya, aku tetap salut pada pak direktur ini. Beliau sudah susah-payah berusaha, setia pada profesi, belajar, dan pada tahap tertentu jauh lebih berhasil secara finansial dibanding aku---minus dia tak cerita berapa banyak utangnya. Dia juga aktif berbuat ini-itu di asosiasi penerbitan. Beliau punya perusahaan, aset, karyawan, termasuk mobil operasional---yang meskipun butut tetap bisa diandalkan buat banyak hal, termasuk aku tumpangi. Saking butut, AC mobil ini mengeluarkan hawa panas. Jadilah badan kami yang di dalamnya malah seperti dibaluri Geliga. Tapi sungguh aku tak menyesal menumpang mobil ini. Aku tak melihat ini sebagai kekurangan. Aku malah salut. Aku merasakan keramahan, keikhlasan, dan kebaikannya. Dengan mobil ini beliau menolong orang lain, membantu, melayani. Sementara aku dapat banyak hal: tumpangan gratis, cerita, dan pelajaran menarik. Buatku, mobil ini bakal jadi legendaris.[]

Foto ilustrasi milik Terra Tones. Sumber: Internet.

Tuesday, April 14, 2015


Murid Ambisius Ketemu Guru Killer

--Anwar Holid


WHIPLASH
Sutradara: Damien Chazelle | Penulis: Damien Chazelle | Produser: Jason Blum, Helen Estabrook, Michel Litvak, David Lancaster | Distribusi: Sony Pictures Classics | Tahun rilis: 2014 | Durasi: 106 menit |

Pemain: Miles Teller (Andrew), J. K. Simmons (Fletcher), Paul Reiser (ayah Andrew), Melissa Benoist (pacar Andrew)
   

Whiplash ialah sebuah film drama produksi Amerika Serikat, persisnya diinisiasi sejak dari Sundance Film Festival. Tidak ada agama di film ini, apa lagi soal Islam, terorisme, maupun Syiah.

Ini film tentang dunia pendidikan, persisnya interaksi antara guru dan murid. Ceritanya mengisahkan bagaimana Andrew, seorang murid sekolah musik jurusan drum, bersinggungan dengan Fletcher, guru sekaligus dirijen band sekolah tersebut. Andrew ambisius dan disiplin, sementara Fletcher sangat killer dan perfeksionis. Keduanya sepadan bersaing dan adu kuat-kuatan.

Andrew dengan semangat penuh mendorong dirinya agar bisa mencapai standar sempurna yang diinginkan Fletcher, tak peduli sampai badannya sakit, tangannya cedera, bahkan dengan dingin memutuskan pacarnya biar bisa fokus main musik. Tapi begitu Fletcher dia nilai berbuat semena-mena, tak menghargai kerja keras, dan kemampuannya, dia berani berkata jujur dengan lantang, menantang, dan akhirnya melawan. Akhirnya murid dan guru itu berkelahi. Ujungnya, Andrew di keluarkan dari sekolah, sementara Fletcher dipecat jadi guru.

Klimaks film ini sangat dramatis, sementara endingnya bikin aku termenung. Ia meletupkan pertanyaan tentang pendidikan, pilihan, ambisi, persaingan, berdisiplin memupuk bakat, bagaimana harus latihan, juga memotivasi seseorang. Perlukah seseorang begitu keras berlatih, ditekan sampai melampaui batas dan akurasi demi mencapai kesempurnaan? Atau kesempurnaan bisa terwujud begitu saja bila memang sudah dikehendaki oleh takdirnya? Beruntung, Andrew dan Fletcher bukan orang cengeng yang suka meratapi nasib. Mereka berdua bertemu, berhadap-hadapan, merasa menuju tujuan yang sama, meski caranya berbeda.

Menurutku, film ini setingkat lebih bagus dari Dead Poets Society (1990)---sebuah film klasik lain yang sama-sama mengusung tema tentang sekolah, pendidikan, dan nilai keluarga. Cara penuturan film ini lebih dramatik, sementara konfliknya sangat kuat dan bikin tegang. Alasan lain, film ini menonjolkan karakter individualitas, bukan kolektivitas. Penonton bisa belajar berani berkata jujur, seburuk apa pun konsekuensinya.

Whiplash merupakan sebuah film yang sangat pantas ditonton siapapun, baik bareng-bareng sekeluarga, orangtua, guru, murid, dan mereka yang suka musik, terutama jazz.[]

Link terkait: http://bit.ly/1ypD16e

Monday, October 27, 2014

[halaman ganjil]

Tanda Orang Sehat Itu Cuma Satu...

--Anwar Holid

Pada awal September 2014 lalu dada kiriku sakit. Ini kambuh untuk ketiga kalinya. Pertama kali sakit dada itu muncul kira-kira tahun 2010. Setiap kali bernapas dadaku seperti ditusuk-tusuk, napas jadi pendek-pendek, gampang tersengal-sengal, dan sesak. Bernapas jadi tak lancar dan sulit. Sakit dada itu membuatku demam dan batuk-batuk.

Dulu waktu pertama kali mengalaminya, aku langsung cari tahu soal sakit dada belah kiri itu. Orang menamai sakit itu sebagai 'angin duduk', dan lebih jauh bisa jadi merupakan tanda dari gejala jantung koroner. Jujur saja, aku enggak kuatir bila sampai kena jantung koroner. Dengan latihan bernapas pelan-pelan dan mencoba menghela napas panjang, akhirnya sakit itu berangsur-angsur hilang. Seingetku, aku cuma minum obat demam untuk menghilangkan panas-dingin waktu malam.

Pada November 2013 sakit itu muncul lagi waktu aku mulai kerja di Penerbit Rosda saat tugas di Indonesia Book Fair. Semua gejalanya persis sama. Kupikir kali ini terjadi karena aku berada dalam ruang ber-ac sangat dingin, kencang, dan suasananya gaduh sekali. Untung kambuhnya di hari menjelang acara berakhir, sehingga aku hanya perlu absen beberapa jam.

Ketika kambuh untuk kedua kali, Fenfen dan beberapa teman minta agar aku periksa dokter spesialis. Aku mengamini, tapi tidak melaksanakannya. Bukan karena bandel, membantah, atau apa, tapi semata-mata karena tidak menyempatkan diri dan aku merasa bisa mengatasinya bila sewaktu-waktu datang lagi.

Ketika kira-kira setahun kemudian kambuh untuk ketiga kali, pada dasarnya aku siap. Paling waktu malam aku repot jadi demam, tersengal-sengal, dan batuk-batuk. Aku coba berdamai lagi dengan latihan menghela napas pelan-pelan. Aku perkirakan kali ini pemicu utama kambuh ialah karena terpapar asap jahanam kendaraan bermotor setiap kali bersepeda. Tapi bisa jadi karena September ialah musim kemarau, dan setiap musim kemarau aku tahu pasti kena pilek atau batuk. Payahnya aku sakit pas ikut workshop, jadi batuk-batuk dan tidak fit itu mengurangi konsentrasi dan mengganggu banyak orang.

Kali ini Fenfen tidak sabar agar aku periksa ke dokter. Menggunakan jasa BPJS, sarannya aku turuti. Ke dokter umum aku menceritakan keluhan dan gejala yang aku rasakan. Aku mendesak, 'Apa kemungkinan penyakit terburuk dari keluhan yang aku rasakan ini?' Dia bilang, 'Ini sama sekali jangan dijadikan pegangan dan harus didiagnosis oleh dokter spesialis lebih dahulu, kemungkinan terburuknya ialah Anda bisa terkena tuberkolosis paru-paru.' Wow, separah itu, batinku. Beliau memberi rujukan untuk periksa lebih lanjut.

Aku diperiksa dokter spesialis jantung di RS Advent Bandung. Diteliti menggunakan electro cardiogram, aku dinyatakan normal. Saat diperiksa kondisiku waktu itu memang sudah cukup fit. Sakit dadaku sudah berangsur pulih dan berkat mengonsumsi makanan hebat baik di hotel dan workshop, kesehatanku membaik. Cuma batuk kering mulai terasa.

  
Salah satu hasil periksa jantungku.
  
'Kalo begitu sakit dada itu apa ya dok?' aku rada bingung.
'Sakitnya kerasa sampai ke belakang punggung enggak?'
'Enggak.'
'Kerasa menjalar sampai tangan kiri enggak?'
'Enggak.'
'Kerasa kalo bapak jalan enggak?'
'Enggak.'
'Kerasa waktu bapak tidur enggak?'
'Enggak. Kerasa kalo saya bernapas saja.'
'Kalo rasa sakit seperti ditusuk-tusuk itu sampai ke punggung atau kerasa sampai tangan kiri, atau kalau berjalan dan tidur dada bapak sakit, itu baru menunjukkan ada gejala sakit jantung. Hasil diagnosis menunjukkan jantung bapak normal. Mungkin ada otot dada bapak yang sakit. Itu saja. Bapak jangan kuatir. Olahraga ringan yang teratur, seperti jalan kaki.'
'Saya memang banyak jalan kaki, dok.'
'Bagus itu.' Katanya sambil memberi resep yang ternyata ramuan multivitamin dan penghilang rasa nyeri.

Jadinya aku tambah lega. Aku sms ke beberapa orang dengan gembira, 'AKU NORMAALLL! AKU SEHAT-SEHAT AJA!!!'
Seorang kawanku menanggapi, 'Tax, waktu sakit kamu masih bisa ereksi gak?'
'Ya bisalah!' aku jawab sambil ketawa.
'Kalo begitu kamu normal. Tanda orang sehat itu cuma satu kok: dia masih bisa ereksi! Kamu jangan kuatir, Tax!'
Hahaha... aku tambah senang dengar pembelaannya itu.

Sementara sakit dada kiri pulih, batuk keringnya belum sembuh, ditambah pilek. Batuk dan pilek menurutku akibat dari kerongkongan kering. Seperti ada duri menusuk di situ. Dua penyakit ini khas menyerang aku setiap kali musim kemarau.  Aku sudah maklum, tapi selalu kalah sigap mencegahnya. Aku beranggapan sakit begini membuatku harus lebih hemat bicara dan menahan diri mengomentari berbagai hal. Aku menerima dan mengobatinya pelan-pelan sesuai saran apotek dekat rumah.

Tambah umur rasanya membuatku makin sadar soal tubuh. Contoh, aku tahu bakal pilek di musim kemarau, bukan di musim hujan seperti terjadi pada kawanku. Kepalaku pasti pening kalau berada di tengah suasana kacau, gaduh, apa lagi penuh asap rokok. Ternyata sakit juga bisa membuat kita lebih mengenal diri sendiri. Jadi benar, segala sesuatu memang ada manfaatnya. Sakit saja bermanfaat, apa lagi sehat. Bener enggak?[]

Thursday, January 16, 2014


[HALAMAN GANJIL]

R1 2014
--Anwar Holid

2014 adalah tahun panas bagi politik Indonesia. Karena itu harap lupakan Piala Dunia 2014 di Brasil. Selain karena kesebelasan nasional kita tak berlaga di sana, barangkali memikirkan persoalan bangsa sendiri lebih penting daripada cuma merasa ikutan pesta di luar lapangan sebagai penonton yang keminter dan suka jajan.

Ayo kita pilih baik-baik siapa yang sebaiknya jadi R1.

Calonnya sudah pada mengemuka. Bahkan dengan percaya diri---kalau bukan bermuka badak---mereka mengiklankan diri, berkampanye, entah secara terang-terangan atau terselubung lewat berbagai taktik dan kesempatan, apa pun istilahnya. Berikut ini barangkali yang sangat kentara:
Wiranto
Prabowo Subianto
Aburizal Bakrie
Surya Paloh
Megawati 
Hatta Rajasa
Rhoma Irama

Dari generasi lebih muda muncul nama seperti:
Sri Mulyani
Gita Wirjawan
Dahlan Iskan
Anies Baswedan
Jokowi

Nama-nama itu membuatku bertanya keras:
Apa hal terburuk yang bakal terjadi di Indonesia bila Prabowo Subianto jadi presiden?
Apa hal terburuk yang bakal terjadi di Indonesia bila Wiranto jadi presiden?
Apa hal terburuk yang bakal terjadi di Indonesia bila Aburizal Bakrie jadi presiden?
Apa hal terburuk yang bakal terjadi di Indonesia bila Surya Paloh jadi presiden?
Apa hal terburuk yang bakal terjadi di Indonesia bila Megawati jadi presiden?
Apa hal terburuk yang bakal terjadi di Indonesia bila Hatta Rajasa jadi presiden?
Apa hal terburuk yang bakal terjadi di Indonesia bila Rhoma Irama jadi presiden?

Memang kenapa kalau salah satu di antara mereka jadi presiden?
Apa militerisme akan mencengkeram lagi kalau Wiranto atau Prabowo jadi presiden?
Apa radikalisme Islam bakal meraja dan makin intoleran kalau Rhoma Irama jadi presiden?
Apa ekonomi Indonesia bakal langsung moncer kalau Hatta Rajasa atau Gita Wirjawan jadi presiden?
Apa rakyat Indonesia langsung bakal pinter dan pada meraih Hadiah Nobel kalau Anies Baswedan jadi presiden?
Apa kesebelasan nasional Indonesia bakal tembus ke Piala Dunia 2018 kalau Jokowi jadi presiden?

Seorang teman bilang, untuk jadi presiden Indonesia orang harus punya prestasi yang patut dibanggakan dan diandalkan. Aku sangsi dengan pernyataan itu. Ratu Atut yang katanya bodoh saja bisa jadi gubernur Banten dan petinggi Golkar. Megawati yang terlihat lebih suka mesam-mesem dan pemalu aja pernah mencicipi kursi presiden dan kini dia tetap enggak mau ketinggalan kereta.

Katanya untuk jadi pemimpin orang harus punya pengalaman politik yang hebat. Di Bandung entah bagaimana caranya Ridwan Kamil bisa memenangi pilkada, jadi walikota, mengalahkan Ayi Vivananda yang jauh lebih ahli dan senior di pemerintahan, yang sudah tahunan mengurus birokrasi dan masyarakat. Ini membuktikan pendapat itu invalid. Apa Ridwan Kamil menang karena disokong Prabowo Subianto, Gerindra, ormas-ormas, para relawan, dan PKS?

Di luar negeri, penyair, buruh, aktor, penulis, atau pastor bisa menjadi presiden. Apa hal seperti itu bisa terjadi pula di Indonesia? Kalau seperti itu, aku berharap Yusi Avianto Pareanom jadi presiden, semoga dengan begitu dunia literasi kita lebih menjanjikan.

Sebenarnya bukan itu yang benar-benar jadi perhatianku. Siapapun presiden Indonesia, terbukti kurang pengaruh buat kemaslahatan bersama. Mungkin di sini poinnya: pemilihan presiden nanti akan membawa perbaikan atau keterpurukan? Makanya kita perlu hati-hati, lepas dari semua janji para kandidat. Contoh simpel: meski suka bilang prihatin, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono malah terbukti berkali-kali mencederai hati masyarakat, entah dengan menaikkan harga BBM, kasus korupsi yang menyerempet partai dan anaknya, juga sikapnya yang dinilai lamban dan lembek.

Jujur saja aku lebih kuatir tahun panas politik Indonesia demi mencari seorang presiden malah menghabiskan energi, pikiran, konsumsi, dana, sehingga membuat kita hilang akal dan jadi mengabaikan banyak agenda penting dan utama yang mestinya lebih dulu dibereskan. Contoh:
* Persiapan Indonesia jadi Guest Of Honor Frankfurt Book Fair 2015 yang menurut berbagai pihak masih berantakan, enggak jelas, termasuk soal dana dan belum ketahuan Indonesia mau ngapain di peristiwa paling besar industri perbukuan dunia itu.

* Persoalan korupsi parah yang malah kerap berubah jadi komoditas politik berlarut-larut, bukan dibereskan tanpa tedeng aling-aling, mendasar, dan tuntas.

* Kesejahteraan sosial. Kalau tukang becak enggak bisa beli jas hujan, lapak kaki lima bikin kumuh jalanan, gerobak jualan berserakan di pinggir jalan, kondisi bus kota dan angkot mengkhawatirkan, sampah numpuk di mana-mana, pencemaran lingkungan, itu artinya kita masih punya masalah sosial parah. Jangankan tingkat nasional, di tingkat lingkungan sekitar rumah dan kota saja terlalu kentara.

Bisakah hal-hal seperti itu beres sebelum SBY mengakhiri masa kepresidenannya? Aku sangsi. Soalnya aku tahu manusia terbukti mudah berkelit dari prasangka dan gampang menghindar dari prediksi. Itu sebabnya kontes mencari seseorang jadi R1 2014 jadi penting, lebih penting dari Piala Dunia.[]

Anwar Holid, berprofesi sebagai editor, penulis, dan publisis.

Wednesday, May 22, 2013

[Halaman Ganjil]

Moyes, Ferguson, Guardiola, dan Mourinho
--Anwar Holid

Ketika pada 2008 Josep Guardiola dipilih menggantikan Frank Rijkaard sebagai manajer Barcelona, semua analis sepakbola menyangsikan kemampuannya. Umur Pep masih muda, nol pengalaman melatih klub senior, dan minim bekal kompetisi sebagai manajer. Bekal utama beliau hanya dianggap pemain legendaris di klub dan loyalitas penuh pada Barca. Hasilnya, dia membungkam semua kritik dengan prestasi mencengangkan. Di tahun pertama kepemimpinannya ia meraih treble: juara La Liga, meraih Copa del Rey, dan memenangi Champions League. Sebuah prestasi yang belum pernah diraih klub sepakbola Spanyol manapun dan cuma disamai oleh Manchester United di Premier League tahun 1999.

Tahun 2013 David Moyes dipilih menggantikan Alex Ferguson menjadi manajer Manchester United. Nyaris semua analis sepakbola pun menyangsikan Moyes, bahkan membuat saham klub tersebut langsung merosot. Hampir semua orang berharap Manchester United ditangani oleh manajer high-profile seperti Jose Mourinho. Hanya 1-2 opini yang menyemangati Moyes, terutama karena karakter dia mirip Ferguson. Mereka sama-sama menggugah, keras, loyal, dengan integritas terjaga. Kualitas itu tampak tipikal. Semua orang bisa seperti itu. Tapi bedanya juga jelas: Ferguson telah bergelimang piala, sementara Moyes belum punya apa-apa.

Sebagai penikmat siaran langsung pertandingan sepakbola, aku berharap-harap cemas pada Moyes. Salah satu pujian utama pada Moyes ialah karena beliau mampu menemukan dan memberi kepercayaan pada talenta muda, seperti pada Wayne Rooney dan Marouane Fellaini. Ini persis dilakukan Ferguson seperti pada Ryan Giggs dan Phil Jones.

Sebelas tahun bersama Everton jelas bukti loyalitas Moyes pada sebuah institusi. Meski tidak fenomenal, loyalitas ternyata sudah merupakan sebuah prestasi sendiri---apa lagi bagi klub "sekelas" Everton. Orang selalu respek pada seseorang yang loyal dan institusi yang solid. Kesetiaan, meskipun bukan segala-galanya, merupakan ikatan yang sangat berharga dalam lembaga apa pun. Belajarlah dari pernikahan dan kitab suci tentang hal itu. Karakter ini sangat kontras pada Jose Mourinho. Dia hanya loyal pada dua hal, yaitu menang dan juara. Kalau enggak, lebih baik kabooor!

Dengan segala dukungan dan fasilitas, barangkali Moyes bisa menjadi manajer high-profile, mencapai puncak nan gemilang, melanggengkan prestasi dan bisnis Manchester United. Tapi mampukah ia bersaing dengan Guardiola yang tahun ini menangani Bayern Munich? Guardiola dua kali menaklukkan strategi Ferguson di final Champions League dan Manchester United selalu kalah oleh manajer berkarakter seperti Mourinho.

Jelas tugas Moyes berat. Apa karakter dan kemampuannya mampu makin menguatkan karir, loyalitas, dan prestasinya? Apa pemain, ofisial, dan fans mau "mengerti dan sabar" (aih, Islami banget istilahnya!) bila di tahun pertama dia gagal meraih piala satu pun? Mari kita saksikan di awal dan akhir musim, kalau mau dari pertandingan ke pertandingan lain.

Tapi seperti pada politik, analisis sepakbola juga kerap prematur. Orang terlalu lihai lebih dulu berubah sebelum gejala mereka terbaca dan jadi kenyataan. Aku mau di depan kaca saja memperhatikan para manajer berteriak, merengut, memerintah, atau marah-marah di pinggir lapangan, seolah-olah menggenapi pemain jadi dua belas orang.[]

Anwar Holid hanya berpengalaman di Championship Manager dan Winning Eleven.

Wednesday, March 06, 2013

 
[halaman ganjil]
dapat hadiah ujian pahit dari tuhan

kemarin aku dengar cerita dari seorang kawan, ada suami yang "membiarkan" istrinya tetap perawan meski perkawinan mereka sudah 14 tahun, karena ternyata dia seorang homoseksual. lebih kurang ajar lagi dia suka jelalatan kalo lihat pria, meski sedang jalan-jalan sama istrinya, sampai membuat sang istri antara bingung marah dan malu. "kamu ini lagi jalan sama istrimu lho!" dengusnya.

tentu aku bingung dan kehilangan kata mendengar cerita seperti itu. soal kenapa mereka bisa sampai menikah, itu saja sudah bikin pertanyaan besar yang menggemaskan. mereka menikah karena dijodohkan, karena keluarga si istri merasa berutang budi pada keluarga suami, karena si suami dan keluarganya baik, dan karena-karena lain sampai pernikahan absurd itu terjadi.

dari cerita lain, aku dengar ada perkawinan lain yang agak mirip, tapi mungkin sedikit lebih baik. ada seorang suami homoseksual yang menikahi perempuan untuk menutupi orientasi seksualnya, tapi malangnya si suami ini cuma mau berhubungan seksual sekali setahun! aku langsung teriak waktu dengar cerita ini, "setahun sekali? MANA TAHAAANNN!!!" tapi mungkin perkawinan itu masih beruntung, si suami masih memperlakukan istrinya dengan cukup baik dan sopan. kehidupan sehari-harinya terpenuhi, kebutuhan duniawinya tidak kekurangan, dan dia tidak disiksa secara fisik. (tapi menurutku wanita ini disiksa oleh deraan hasrat seksual.) karena suami-istri ini cuma berhubungan seks setahun sekali, mungkin wajar mereka tidak punya anak, dan itu melahirkan badai pertanyaan bagi banyak orang dan kerabatnya. cerita ini membuat aku inget, martin amis pernah menulis "let me count the times", sebuah cerpen tentang seorang suami yang melakukan anal seks setahun sekali dengan istrinya sebagai hadiah dirinya ulang tahun.

lain kasus dan cerita lagi, ada seorang wanita yang sejak kecil bingung oleh orientasi seksualnya, karena dia hanya tertarik pada sesama jenis. dia merasa abnormal, berusaha menghilangkan kecenderungan itu, sampai ketika waktunya, dia menikah dengan seorang pria tentu saja, yang dinilai cocok untuk dirinya, salah satunya sebagai usaha agar kecenderungan seksualnya normal dan sembuh. tapi perkawinan itu mungkin tidak menolong, karena dia tetap tersiksa dan sulit menikmati setiap kali berhubungan seksual dengan suaminya. perkawinan semacam itu sebaiknya diapakan?

dari masa lebih lama lagi, aku pernah dengan tercekat mendengar cerita ada suami-istri yang belum bisa berhubungan seks meski mereka sama-sama normal, sehat, karena sang istri punya kelainan dengan badannya atau trauma yang belum sembuh. tapi meski disikat oleh persoalan mendasar itu, mereka tetap berusaha baik-baik menjadi suami-istri, minimal itulah yang terlihat di antara kawannya. di ujung cerita lain, ada juga tipikal pria yang suka mencecerkan sperma ke mana saja, entah kepada sembarang wanita, suka kawin-cerai, bertualang dengan banyak wanita, atau poligami dengan dua, tiga, empat, bahkan belasan wanita. di tingkat ekstrem, misalnya di dunia islam, ada seorang muslim yang berani dan terbuka mengaku dirinya gay/lesbian, bangga atas identitas itu, dan berkampanye agar mayoritas umat Islam toleran terhadap pilihan atau identitas itu. sebagian perempuan tampak ada yang memilih hidup sendiri tanpa pernah dibelai laki-laki, sementara lainnya memilih punya anak tanpa perlu menikah, jadi single parent sekalian hinggap ke sana-kemari sesukanya pada laki-laki yang satu ke yang lainnya, dan ada pasangan homoseksual mengadopsi anak entah bagaimana caranya dan dapat dari mana. persoalan seperti itu bikin aku mumet kalo memikirkannya, persis karena aku bodoh, buta, dan gagal menjawab.

aku lemas mendengar cerita-cerita seperti itu, terutama tentang upaya orang yang kepayahan bergelut dengan problem seksualnya masing-masing, entah karena menyimpang, tertekan, atau malah terlalu membludak dan luber ke mana-mana.

kata temanku, problem seks kerap merupakan ujian tingkat lanjut yang berat dari tuhan kepada seseorang. mungkin orang itu tidak menerima ujian dalam hal sandang-pangan-papan (kebutuhan primernya sudah terpenuhi), tapi dia menerima ujian yang lebih tinggi dan rumit, entah lewat persoalan seks, sakit jiwa, kepribadian terbelah, dan lain-lain. baru-baru ini kardinal keith o'brien di inggris mengundurkan diri dari jabatannya karena kasus "perilaku seksual tidak senonoh" dengan sesama jenis, dan dalam wawancara beberapa waktu sebelum dirinya turun dia percaya bahwa pastor mestinya boleh menikah dan punya anak kalo mereka mau.

"susah loh kalo kamu mendapat hadiah ujian yang pahit dari tuhan," kata temanku. "gimana coba kamu menghadapinya?" benar. aku masih kacrut jadi manusia. masih kurang segitunya baik pada istri dan anak-anak dan masih kepayahan berdamai dengan kehidupan.[]Tuesday, 05 March, 2013

Wednesday, May 16, 2012

Kaya belum tentu disayang Tuhan, miskin belum tentu disengsarakan Tuhan
---Anwar Holid

"Tahu enggak, Tuhan lebih sayang ke aku daripada ke pembantuku," begitu klaim orang kaya pada temannya yang jauh lebih miskin.
"Gimana kamu bisa segitu yakin?" sangsi si orang miskin.
"Karena Tuhan lebih sering mengabulkan doaku daripada permintaan pembantuku," tegas si orang kaya.
"Buktinya apa?"
"Loh, aku dulu berdoa minta rumah, sekarang aku punya rumah bagus. Aku minta mobil, Tuhan mengabulkan permintaanku. Sementara pembantuku untuk memperbaiki rumahnya yang kecil aja sampai sekarang tidak bisa!" jelas orang ini tenang.
"Anjrit!" semprot si orang miskin, "jadi kamu menyamakan Tuhan sama dengan bank? Yang hanya mau ramah melayani orang karena tahu mereka bisa membuat dirinya juga kaya? Enggak lagi. Tuhan bukan rentenir yang akan menggunakan debt collector kalau kamu enggak bisa bayar utang!"
"Hei, aku dan pembantuku sama-sama berdoa, tapi hasilnya beda. Jelas Tuhan lebih sayang ke aku."
"Kamu kira Tuhan pilih kasih?" sengit si orang miskin. "Tahu enggak, pembantumu lebih miskin bukan karena Tuhan mengabaikan atau tidak menyayangi dia. Dia miskin karena GAJI DARI KAMU enggak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, termasuk memperbaiki rumahnya! Kamu terlalu pelit menambah sebagian rezeki untuk dia, sementara yang kamu simpan dan belanjakan sendiri terlalu banyak dengan alasan itu adalah hak kamu."

Si orang miskin ini rupanya masih sedikit lebih kaya daripada pembantu si orang kaya, karena itu barangkali dia bisa membantah ucapan lawan bicaranya.

"Kalau kamu yakin Tuhan lebih sayang ke kamu hanya karena kamu kaya, gimana dengan banyak orang yang jauh lebih beriman dari kita tapi hidupnya melarat dan dianggap hina dina?"
"Misalnya siapa?"
"Banyak. Kamu pikir Isa Almasih lebih kaya dan makmur dari kamu hanya gara-gara dia lebih beriman kepada Tuhan? Enggak. Dia tidur berbantal batu, enggak punya kekayaan. Dia melayani tanpa ada yang bayar. Dia tergerak bukan karena dipanggil perusahaan untuk ngasih motivasi. Dia melakukan itu demi melaksanakan panggilan saja. Yahya, yang membaptis Isa, lebih parah. Kepalanya dipenggal. Hidup Ayub morat-marit, lebih buruk kondisinya dari pembantu kamu. Dia penyakitan dan ampun-ampunan kere. Yunus kalah taruhan dan dilempar ke laut, terus dicaplok ikan paus."
"Ha ha... gimana dengan Sulaiman? Dia hamba Tuhan yang taat, beriman, dan dia juga raja, jadi orang paling kaya di dunia yang pernah ada. Bukankah itu bukti Tuhan sangat sayang sama dia?"
"Bukan. Sulaiman kaya karena dia anak Daud, jenderal perang sekaligus seorang raja. Dia kaya sejak orok. Mencretnya aja mungkin bijih emas. Coba kalau dia anak petani, aku yakin dia jadi penggembala. Isa Almasih berasal dari keluarga tukang kayu. Enggak ada cerita dia pernah punya cawan emas. Tapi dengan kepapaannya dia bisa ngasih roti kepada umatnya. Kamu dengan kekayaanmu tidak bisa menyejahterakan pegawaimu!"
"Jadi kamu yakin orang bisa kaya karena keturunan, bukan oleh usahanya sendiri?"
"Itu cuma salah satu faktor. Aku cuma ingin bilang, kasih sayang Tuhan, kekayaan, atau dan iman itu bisa jadi enggak ada korelasinya . Sebagian orang beriman ternyata sangat miskin dan hidupnya terhina. Banyak penjahat, tidak beriman, dan abai pada Tuhan punya kekayaan lebih hebat dan hidupnya terhormat---bahkan ada yang berani mengaku diri sebagai Tuhan. Jangan menghakimi iman orang atau kasih sayang Tuhan dari kekayaannya."
"He he he.. kamu bilang begitu karena frustrasi kesulitan menambah pendapatan."
"Mungkin," aku si orang miskin. "Tapi aku tidak geer merasa lebih dicintai Tuhan hanya karena aku lebih kaya dari tukan antar atau tukang sampah di RT-ku. Aku juga tidak merasa lebih disengsarakan Tuhan hanya karena kondisi ekonomiku lebih parah dari kamu. Aku lebih yakin kamu bisa kaya karena kamu lebih pintar cari uang dan orang mau bayar lebih besar dari aku. Aku belum bisa seperti itu dan aku mau dibayar sekadarnya. Kamu enggak mau seperti itu."
"Halah, bilang aja tarif kamu murah! Enggak ada orang yang mau bayar kamu lebih besar, karena kamu memang enggak punya nilai lebih."
"Kadang-kadang aku dibayar cukup mahal, tapi menurutku itu bukan tanda bahwa Tuhan lagi sayang atau kasihan sama aku. Itu cuman karena orang mau mengeluarkan uang lebih besar daripada yang kamu lakukan ke pembantu kamu. Itu cuman menunjukkan kebaikan seseorang ke aku, bukan membuktikan kasih sayang Tuhan."
"Aku memberi gaji sesuai pekerjaan pembantuku, bukan berarti aku tidak mampu atau tidak mau. Uang ada. Tapi aku mendidik orang biar mendapat sesuai yang diusahakannya. Biar adil."
"Ha ha... justru di situ persoalannya, bung! Apa kamu pikir adil seperti itu yang dipraktikkan Tuhan? Tuhan bukan manajer yang rewel soal gaji dan uang! Tuhan bisa memberi kekayaan gilai-gilaan kepada diktator paling jahanam yang pernah ada di dunia, meski diktator itu pasti gengsi mengakuinya. Itu kalau kamu tetap menganggap bahwa kekayaan memang benar-benar dipengaruhi sentimen Tuhan atau ada hubungannya dengan iman. Kalau kamu mau memberi rezeki kepada orang tanpa perhitungan, orang lain bisa semakmur kamu. Tuhan tidak mencelakai ciptaannya hanya gara-gara dia tidak beriman. Tuhan tidak sependendam itu."
"Buat apa aku memberi orang sesuatu yang bukan haknya?"
"Biar dia bisa memperbaiki rumah seperti cerita kamu, misalnya. Biar kamu bisa bilang bahwa Tuhan juga sayang sama orang itu, meski dia tidak punya akses atau kemampuan sehebat kamu."
"Nanti orang itu tidak tahu terima kasih dan rasa bersyukur dong?"
"Apa urusan kamu dengan beryukur atau beriman? Bukannya itu urusan orang dengan Tuhannya? Kenapa kamu merasa perlu menghakimi orang? Kamu belum pernah jatuh segitu miskin sampai melihat semua orang lebih kaya dari kamu dan merasa pantas dikasihani. Begitu kesulitan ingin mendapat sesuatu. Kamu belum pernah segitu terhina sampai semua orang melihat kamu sebagai pesakitan yang pantas untuk disingkirkan dan kamu berdoa agar orang-orang itu dibinasakan Tuhan."
"Jangan keterlaluan bung! Buat apa aku minta Tuhan membinasakan orang lain yang menghina aku?"
"Untuk membuktikan bahwa Dia sayang kamu. Bukankah kamu yakin kalau seseorang dekat atau disayang Tuhan dia bisa minta apa saja, termasuk yang gila-gilaan atau kata orang ajaib? Dan Tuhan tidak akan keberatan dengan permohonannya, apa pun itu."
"

Obrolan berakhir menggantung. Si orang kaya aneh kenapa ada orang sesengit ini bisa yakin bahwa Tuhan tidak punya pengaruh pada kehidupan seseorang. Pikirannya mendadak melantur kapan dia terakhir kali merasa kelaparan. Waktu puasa? Atau waktu diet karena dokter memerintahkannya waspada terhadap asam urat di tubuhnya? Sementara itu pikiran si orang miskin mengawang-awang atas keinginannya yang kandas. Tapi ada doanya yang lebih besar, dia ingin Tuhan membuatnya berhenti menginginkan sesuatu yang tidak dia butuhkan atau tidak dimiliki, dan mencukupi sesuatu yang menurutnya pantas diterima.

Apa kekayaan adalah bukti bahwa seseorang disayang Tuhan?[]

Anwar Holid, bersyukur atas kesederhanaan, berusaha tabah atas rasa nelangsa.

Thursday, December 22, 2011

My New Favourite Thing: Omega Constellation

My New Favourite Thing: Omega Constellation
---Anwar Holid

Aku bukan orang yang fashionable.

Aku juga bukan orang yang punya selera tertentu terhadap asesoris. Aku enggak terbiasa mengenakan asesoris dan tumbuh dengan kesadaran begitu. Satu-satunya asesoris yang terus menempel di badanku sejak kuliah semester 3 ialah kacamata, itu kalau mau menganggap bahwa mata minus bukanlah cacat, melainkan kesempatan untuk sedikit bisa bergaya.

Karena bukan fashionista dan buta asesoris, enggak pernah aku pakai gelang, cincin, jam, apalagi anting, tato, atau tindik. Dulu ada kawan sekelasku dapat hadiah ulang tahun arloji Mido dari ayahnya dan aku enggak ngerti kok bisa dia begitu heboh terhadap benda itu. Di tahun 1990-an aku suka banget pakai baju flanel, tapi entah ke mana sekarang baju flanel terakhir favoritku berada. Mungkin tersesat di suatu alamat palsu atau sudah aku sumbangkan waktu ada kesempatan.

Tapi sudah beberapa hari ini kebiasaanku soal asesoris berubah. Itu terjadi sejak aku mengenakan arloji Omega seri Constellation. Ceritanya, setelah ayah mertuaku meninggal pada awal November 2011, anak-anaknya pada mengambil pernak-pernik barang personalnya, baik baju, topi, kacamata, pipa, sampai pisau lipat. Aku sendiri dapat sepatu bot kulit, yang ukurannya sedikit kegedean.

Jam tangan Omega itu salah satu yang diambil Ilalang. Kondisinya sudah mati, kusam, dan dua pointer jamnya lepas. Fenfen bilang Omega itu adalah hadiah dari menantu mertuaku yang orang Australia. Aku bilang ke Fenfen, "Sini nanti aku bawa ke Rani biar direparasi." Rani adalah pemilik garasiopa.wordpress.com, toko online yang menjual barang-barang vintage, termasuk jam. Salah satu jam yang baru pertama kali aku lihat dan sangat unik di toko itu ialah arloji 24 jam.

Aku blank soal jam, jadi enggak punya anggapan apa pun soal Omega. Aku pikir semua jam sama, kecuali image dan tingkat kemewahannya. Waktu diserahkan ke Rani, aku tanya, "Ini jam bagus enggak, Ran?" Maksudku, kalau itu jam murahan, buat apa direparasi? Dia menjawab, "Bagus kok. Lumayanlah."



Benda asesoris favorit
Setelah beberapa hari di tangan Rani, aku sangat takjub melihat jam itu kembali dalam kondisi sangat cantik. Bukan saja pulih, ia juga tampak mulus, bersih, elegan. Begitu melingkar di lengan, aku langsung suka dan janji mau terus mengenakannya. Ia kelihatan simpel, gaya, dan keren.

Setelah itu aku penasaran pada Omega Constellation. Baru tahu aku ternyata Omega adalah perusahaan pembuat jam legendaris yang ada sejak 1848, salah satu merk paling dikenal di dunia. (Ini bukti bahwa aku kuper dan enggak fashionable.) Saingan terberatnya ialah Rolex. Mereka berani menyebut 7 dari 10 orang pernah dengar jam Omega. Aku juga baru kali ini ngeh sama Omega, dan jadi ingat pada iklan-iklannya di Time. Urban legend yang fanatik pakai Omega adalah.... James Bond.

Constellation merupakan seri unggulan Omega; mungkin untuk pasar umum, bukan high-end. Seri ini tampaknya salah satu jam paling collectible dan karena itu banyak dipalsukan. Ini bisa disimpulkan dari sekilas baca-baca laman soal jam vintage.

Karena Constellation ini dari Australia, jadi kepikiran apa ia asli, replika, palsu, atau KW-XXX? Yang paling meragukan, di permukaannya memang tidak ada tulisan AUTOMATIC CHRONOMETER ditambah OFFICIALLY CERTIFIED. Sementara di plat dalam tertulis JEWELS SWISS MADE. Dari browsing aku juga mendapati Constellation yang polos.

Tapi ah peduli amir dengan keragu-raguan itu! Omega Constellation ini fungsional, cantik, berguna. Selesai. Buatku yang paling penting ialah menghargai kenangan pada mertua. Sisanya, ia adalah benda asesoris kehidupan seperti halnya rapido dan album-album Queen.[]

Anwar Holid, penulis Keep Your Hand Moving (GPU, 2010).

Situs terkait:
http://garasiopa.wordpress.com/

Thursday, December 15, 2011


Memang Aku Ini Selaknat Apa?
---Anwar Holid

Apa cap terlaknat yang pernah kamu terima?

Ada orang bilang bahwa aku keras kepala, kaku, pilih-pilih pekerjaan dan malas bantu orang lain, tidak kreatif, membangkang, tanpa inisiatif, mengabaikan orang lain, makan gaji kegedean, ditambah meremehkan orang lain dan berani menyepelekan atasan. Yang paling gawat, aku pernah dicap tidak beriman. Tidak beriman kan sama dengan kafir!

Bagi orang yang tidak pernah ke pelacuran, bersih dari rokok, minuman beralkohol dan narkoba, masih berusaha beribadah, takut masuk neraka dan belum pernah masuk night club, secara umum punya niat berbuat baik, bukan kriminal, bersih dari KKN, berniat jadi orang sederhana, setia pada pasangan dan keluarga, tidak selingkuh, tidak terlibat dengan organisasi separatis maupun teroris, berusaha rendah hati, bukan bagian dari sekte ekstrem dan dianggap sesat, mengaku masih terus mau belajar, berusaha memahami kehidupan, bahkan suka menggantungkan doa, ratapan, dan bertanya-tanya tentang Tuhan itu apa, cap seperti itu merupakan skandal besar. Keterlaluan. Memang aku ini selaknat apa?

Dari daftar pendek itu kalau mau kamu bisa bayangkan betapa baik dan terpuji sebenarnya aku. Tapi apa klaim itu nendang? Hah, bukan sombong! Aku mau menunjukkan betapa kebaikan ternyata tidak ada apa-apanya! Ralat: bukan tidak ada apa-apanya, tapi masih kurang. Jauh dari cukup. Sifat-sifat itu baru jadi syarat minimal, hingga orang tertentu menuntut lebih dari sifat tersebut. Padahal mungkin tidak semua orang memiliki kualitas sehebat itu. Buktinya kejahatan terjadi setiap saat tanpa henti.

Bayangkanlah kalau aku terkenal suka berzina, selingkuh, mabuk-mabukan, ketagihan narkoba, penipu, pencuri, korupsi triliunan rupiah, rantai dari mafia perjudian dan perdagangan narkoba, menyandera anak kecil untuk minta tebusan atau menculik gadis perawan, jadi kriminal, jadi buronan Interpol, dicokok aparat negara gara-gara memperkosa atau jadi otak pembunuhan serial... wah, tentu makin busuk saja diriku. Tambah laknat. Tak terbayang lagi bahwa aku pernah menerjemahkan, mengedit, menulis, suka mempromosikan kebaikan, dan berusaha terus waras menghabiskan sisa umur.


Drama orang beda-beda

Soalnya, ada fakta aneh di dunia ini: Kita saksikan ada banyak orang yang terbukti bangsat raksasa, otak bajingan, merugikan negara atau masyarakat, sangat berbahaya, ternyata masih dibela-bela, dilindungi, disebut-sebut jasa, upaya, dan keberaniannya, baik oleh para ahli maupun orang bayaran. Ini gawat banget. Kenapa orang sungkan atau takut melaknat penjahat dan cenderung baru berani kalau banyakan?

Yah, nasib orang bisa sangat aneh. Puluhan tahun berniat jadi orang baik hanya berujung menerima berbagai cap yang merontokkan mental dan moral.

Memang sulit mengetahui niat orang lain terhadap kita, maka mereka bisa memberi cap atau berprasangka apa pun. Lebih menyebalkan lagi ketika cap busuk itu terlontar di zaman "talent management" yang bermaksud memaksimalkan kemampuan terhebat dalam diri seseorang, sehingga otomatis kekurangan dirinya terkubur dan dirinya bisa fokus mengembangkan kreativitas terbaiknya. Contoh gampangan: bakat dan kemampuan terbaik Brian May ialah jadi musisi, bukan fisikawan.

Sayangnya talent management tidak terjadi pada setiap orang dan itulah yang membuat nasib orang beda-beda dengan drama sendiri-sendiri. Bayangkan ada striker produktif yang pada suatu periode mandul sampai membuat dirinya seperti bakal tak becus lagi melesakkan gol. Awalnya orang prihatin sambil bertanya-tanya apa yang salah. Tapi lama-lama mereka mencemooh dan mencaci-maki. Ada apa sebenarnya? Apa strategi kesebelasan, gagal beradaptasi, chemistry dalam tim, persaingan negatif, atau masalahnya terjadi di luar lapangan, mungkin karena gaya hidupnya kacrut, dia bermasalah dengan pasangan dan keluarga, atau disuap, dililit utang luar biasa besar, dan mendapat ancaman pembunuhan. Dia sendiri kesulitan mengungkapkan inti masalah yang membuatnya jadi buruk dan gagal segera membuktikan lagi bahwa ia sehebat dulu. Sementara orang lain hanya mau tahu dia membobol gawang. Kalau gagal menyelesaikan masalah, lama-lama dia frustrasi, dan gagal bangkit lagi.

Orang bisa memberi cap apa saja

Di sisi lain bisa jadi seseorang mengutuk karena merasa berhak disertai alasan kuat. Mereka punya kepentingan dan sering hanya bisa melihat dari sudut pandang sendiri. Pendapat mereka mengandung kebenaran. Mungkin mereka tidak sepenuhnya salah. Parahnya, mereka membombardir titik terlemah kita, membuat limbung dan kalap. Sebagian orang diumpat dengan nama-nama binatang, diancam, atau diserang secara fisik.

Di luar itu, mungkin persoalannya memang sungguh berat, taruhannya amat besar, menyangkut kepentingan banyak orang, sehingga mereka merasa berhak menuntut dan minta bagian. Sayang, chemistry maupun sinergi sudah buruk. Gaya kepemimpinan tidak cocok, tingkat kepercayaan rendah. Inti masalah sulit ditemukan. Semua mampet. Ketidakpuasan menggelegak, kecurigaan membludak, konflik meledak. Yang tadinya kawan jadi lawan, yang tadinya percaya jadi curiga, yang tadinya ramah bawaannya jadi marah, yang dulu baik kini jadi menuduh, yang dulu utuh kini jadi pecah.

Bila sudah separah itu, tinggal kita lihat cara orang menyelesaikan persoalan. Apa tetap berusaha baik-baik atau dengan merentetkan laknat dan makian.

Sejumlah masalah baru bisa disadari sebabnya setelah sekian lama jadi misteri padahal kondisinya sudah parah. Begitu sadar, orang pelan-pelan paham, berusaha memperbaiki, mencoba bangkit, dan menyelesaikan baik-baik. Mereka berjuang, punya niat baik, tidak gampang mengeluh, berani berisiko, bertanggung jawab, tahu konsekuensi dari pilihan dan tindakannya. Tapi bisa jadi rekan kerjanya sudah kehabisan kesabaran, penanam modal tidak percaya lagi, bos tidak paham dan bosan dengan janji, mitra menghentikan kerja sama, pelanggan pergi dan komplain, sementara kawan menghindar dan cepat-cepat mau cuci tangan.

Bila sudah segawat itu, tinggal kita lihat cara orang menyelesaikan masalah. Apa dia akan sukses dan akhirnya berbalik dipuja-puja atau berakhir hancur-hancuran dan jadi bahan cemoohan. Atau lebih parah lagi: jadi contoh buruk, dianggap kriminal, dan mendapat cap selaknat-laknatnya.

Ada yang bilang orang tidak butuh kisah sukses. Tapi kayaknya orang dan dunia masih butuh pahlawan. Pahlawan tidak selalu sukses kan? Buktinya ada antihero. Boleh jadi di situlah pentingnya perjuangan, konsistensi, pendirian, prinsip, adaptasi, termasuk mau menerima atau mau berubah. Orang lain silakan mencap semau mereka, seburuk apa pun. Biarkan saja mereka dengan keinginannya. Itu hanya menunjukkan karakter mereka sendiri. Yang lebih penting ialah cap oleh kita sendiri. Sebenarnya kita menganggap diri sendiri seperti apa. Toh orang hidup dengan cara dan takdir masing-masing. Mau berusaha tetap waras atau lama-lama kalap. Sebagian besar dari kita juga tidak tahu cerita diri kita akan berakhir sampai di mana. Sebab hidup kadang-kadang hanya merupakan peralihan dari satu periode ke periode lain.[]

* Gambar dari searching di Internet.

Anwar Holid, penulis Keep Your Hand Moving (GPU, 2010). Belum pernah bersumpah dengan cap jempol darah.

Wednesday, October 05, 2011

Gawang Emosi yang Bobol
---Anwar Holid

Kesedihan utamaku setelah berumur tiga puluh delapan ialah ternyata penghasilanku masih jauh di bawah Rp.38.000.000,- per bulan. Rasanya baru kemarin aku baca gaji seorang pemain bola di English Premier League bisa mencapai lebih dari satu milyar rupiah per minggu. Seorang penyanyi seusiaku berani mematok harga tiket konsernya Rp.1.800.000,- per orang. Bayangkan pemasukannya ketika konser itu ditonton 38000 orang. Di lain waktu aku mendengar bahwa tarif bicara seseorang konsultan harganya Rp.78.000.000,- per jam, sampai membuat temanku malah tidak percaya ada pihak yang mau bayar senilai itu untuk mendengarkan kicauan atau berkonsultasi dengannya. Dia enggak tahu betapa para kompetitornya mencari akal untuk bisa menyaingi tarif itu, baik dengan menekan kolega seorganisasi dan kalau perlu menggunakan intelijen bisnis.

Kenyataan seperti itu ada kalanya membuat aku gemetaran, merasa ciut, inferior, dan tanpa daya. Persis karena penghasilan mereka gigantis dan aku hanya kelas serangga. Benar-benar dalam arti harfiah.

Lebih menyakitkan lagi rasanya ketika aku sadar betapa dari dulu yang aku anggap mulia dalam hidup itu ialah kebaikan, ketulusan, kesederhanaan, penerimaan, rendah hati. Aku membayangkan saat Mahatma Gandhi berkampanye tentang kesederhanaan maupun kemandirian apakah dia dibayar seratus juta rupee per jam oleh para pendukungnya? Ketika Isa Al-Masih mengampanyekan tentang kasih, melakukan pelayanan (service) di pasar, bertemu pelacur, apa tarifnya US$86,400 per jam? Siapakah yang mengundang dia bicara di depan orang-orang? Bukankah waktu itu belum ada perusahaan multinasional? Bahkan dia ditolak raja di negerinya? Waktu Muhammad menasihati orang-orang agar bersedekah apakah setelah itu dia menerima amplop atau transfer sebesar sembilan puluh sembilan juta dinar ke rekeningnya? Apa Malcolm X dibayar puluhan juta dolar AS ketika mengobarkan kesetaraan sipil sebagaimana Rage Against the Machine yang mendapat spirit dari keyakinannya? Apa kekayaan orang-orang itu bertambah banyak setelah memberi pelayanan (service) atau mereka justru mengorbankan habis-habisan kekayaannya untuk kelangsungan layanan yang mereka yakini? Kalau iya, aku memang terkelabui.

Kenyataan ini membuat aku lesu. Betapa kemampuanku mencari penghasilan buruknya setengah mati. Aku lemas karena dari dulu yakin bahwa orang tidak dinilai dari penghasilannya, tapi ternyata baru sadar betapa semua orang bangga dan merasa hebat kalau penghasilannya benar-benar fantastik.

"Kamu kaget ya baru tahu bahwa penghasilanku segitu?" kata seseorang kepada temannya dengan nada percaya diri yang kukuh. Wah, ke mana saja aku selama ini, sampai salah mengejar target? Aku pikir selama ini aku mengejar kebaikan atau kemuliaan, tapi ternyata nilai yang aku usung itu terdengar seperti layang-layang putus. Sejak awal aku terpesona oleh ide-ide tentang kesederhanaan, tapi akhirnya tahu bahwa itu tricky. Yang enggak tricky itu ialah kalau kamu bisa membuat para pengkritikmu melongo. Rasanya aku sudah mati langkah dan hanya bisa lemas tanpa daya melihat sebuah bola membobol gawang emosiku.

Tapi apa benar aku pantas sedih gara-gara berpenghasilan di bawah standar? Beberapa orang mengecam bahwa sedih seperti itu hanya akan membuat aku tidak bersyukur atas semua kepemilikan dan menolak fakta betapa ada orang lain yang kondisinya di bawahku. Pendapat ini menurutku cengeng. Ada di atas dan di bawah itu mirip harga murah dan mahal. Nah, harga jualku ini murah, meski kemarin seseorang malah bilang aku enggak pantas dipatok dengan harga sekian. Kemahalan. Tapi apa karena harga murah kita pantas sedih? Mungkin tidak. Harga permen berbeda satu sama lain, dan pamali untuk dibanding-bandingkan dengan barang lain.

Tapi yang lebih menyedihkan dari penghasilan nyungsep barangkali ialah menjadi palsu. "Menjadi palsu itu memuakkan," kata Holden Caulfield. Aku tidak memalsu lama-lama jadi grogi dan takut salah karena pekerjaanku tak terpakai. Berarti energi dan waktu yang aku gunakan sia-sia. Membuat penghasilanku jauh di bawah Rp.38.000.000,- per bulan. Benar-benar pukulan maut setelah aku berumur 38 tahun.[]

Anwar Holid, penulis Keep Your Hand Moving, twitter @anwarholid