poster menyambut tahun baru 2010
Thursday, December 31, 2009
Wednesday, December 30, 2009
Sebuah sisi Universitas Bengkulu. (Foto dari Internet)
Pengajar Iya, Penulis Juga
BNI-Kompas Gramedia Goes to Campus di Universitas Bengkulu mengundang Frans Parera dan Anwar Holid untuk mengisi sesi penulisan buku untuk para dosen universitas itu pada Rabu, 2 Desember 2009.
BENGKULU - "Kalau ada ilmu tentang menulis kreatif yang benar-benar efektif, saya pasti bersemangat jadi orang pertama yang mempraktikkannya, biar karya saya juga cepat bertambah banyak," kata Anwar di hadapan sekitar empat puluhan dosen yang hadir.
"Roy Peter Clark bilang, 'Penulisan itu kemampuan yang bisa Anda pelajari.' Saya menyimpulkan pada dasarnya menulis itu merupakan kerja personal yang butuh pendekatan tertentu, namun tetap bisa dipelajari. Artinya, penulis harus menemukan sendiri cara terbaiknya ketika berkarya. Seorang penulis bisa saja hidup di tengah kerumunan komunitas, mendapat masukan, dukungan, atau kritik dari kawan dan koleganya, tapi begitu mulai duduk menulis, dia harus melakukannya sendirian. Dalam kasus tertentu menulis memang merupakan kerja sama dua orang atau lebih maupun orang lain mengetikkan dikte seseorang, sesuai isi kepala atau cerita dirinya."
Biasanya menulis mengenal dua cara: pertama, menulis 'otomatis' (menulis bebas, free writing). Penulis melakukannya secara langsung, mengandalkan intuisi, mengalir begitu saja, asumsinya segala ide (gagasan) sudah terbayang dalam kepala. Dengan menulis otomatis, penulis diharapkan lebih bisa ekspresif menumpahkan atau melampiaskan perasaan. Penulis fiksi tidak hanya kerap menggunakan cara ini, penulis nonfiksi pun---ketika menggarap biografi, melakukan investigasi, atau mengisahkan ekspedisi---suka meminjam teknik ini. Penulis seolah-olah telah punya bayangan akan bercerita apa, dan itulah yang dia kejar dan terus dia tuangkan ke dalam kertas atau komputer.
Kedua, menulis dengan menyusun outline (garis besar) atau storyline lebih dulu; biasanya para jurnalis menggunakan teknik ini. Mula-mula penulis menentukan poin per poin subjek yang ingin dijelajahi, dan sambil berusaha menuntaskan paragraf demi paragraf, mereka mengolah data (bahan, informasi, wawancara, temuan lapangan) yang sebelumnya dikumpulkan. Dari sana juga dia menentukan alur tulisan, termasuk sudut pandang maupun keberpihakan (kecenderungan) penulis. Setelah jadi, kemudian mengolah sekali lagi agar menjadi artikel yang mantap dan memuaskan. Bagi penulis, outline bermanfaat untuk membimbing penulisan agar tetap dalam jalur benang merah yang padu; bagi sebagian orang, cara ini memudahkan, karena segala kebutuhan menulis sudah tersedia.
Di dalam Writing Tools (2006) Roy Peter Clark menyarankan agar penulis memecah proyek penulisan yang besar dan menyita energi jadi bagian-bagian kecil agar lebih mudah diselesaikan. Di awal penulisan draft, tulislah sebebas mungkin, kendurkan kritik terhadap diri sendiri, jelajahi segala kemungkinan terhadap subjek yang ingin dikejar. Jauh lebih penting disiplin menyelesaikan draft dulu daripada mengejar kesempurnaan teks. Memoles dan mengedit tulisan merupakan urusan belakangan setelah seluruh isi kepala tercurahkan sederas-derasnya. Baru setelah merasa puas dan tuntas, periksalah hasilnya---kalau bisa bersama orang lain, lebih khusus lagi dengan editor.
Agar target penulisan lebih segera tercapai, amat penting untuk menulis sedikit demi sedikit secara rutin setiap hari. Konsistenlah dengan kebiasaan itu. Misal Anda hanya bisa menulis selama satu jam setiap hari setelah shalat subuh, lakukanlah. Kasarnya: bila Anda bisa menulis satu halaman bersih setiap hari, pada hari ke-365 minimal Anda punya sebuah draft naskah yang sudah cukup untuk dibaca ulang atau ditilik-tilik lagi kemungkinan penerbitannya.
BILA sudah siap menawarkan naskah pada penerbit, carilah penerbit yang kira-kira cocok untuk naskah Anda. Bila Anda menulis buku ajar (textbook), penerbit perguruan tinggi lebih cocok buat Anda. Perguruan tinggi di Indonesia sudah banyak yang memiliki unit penerbit. Kalau naskah Anda lebih pantas dikonsumsi publik luas, jangan sungkan menawarkannya pada penerbit umum atau penerbit dengan kecenderungan khusus.
Frans Parera sangat menekankan pentingnya perkembangan penerbit universitas (university press). Dia memprovokasi para pengajar agar menjadi penulis saintifik (scientific writer). Universitas Bengkulu sendiri telah memiliki unit penerbit, yaitu UNIB Press, aktif sejak 2008, dan telah menerbitkan sejumlah judul. Sebagian pengajar pernah menerbitkan buku, menulis naskah buku ajar, tembus di jurnal ilmiah internasional, juga menjadi blogger. Namun masih ada yang rancu membedakan penerbit dan percetakan, sampai bertanya, "Kalau saya mau menerbitkan buku, berapa biaya yang harus saya keluarkan?"
"Berhubunganlah baik-baik dengan editor," saran Anwar. "Editor itu mewakili penerbit, bertugas menilai kelayakan naskah, memberi masukan baik terhadap isi naskah maupun bahasa, termasuk apa naskah itu punya peluang pasar atau tidak. Editor yang baik pasti sangat bermanfaat untuk mematangkan naskah. Sepengalaman saya bekerja sama dengan para editor, mereka berdedikasi betul untuk menghasilkan naskah yang berisi, memberi masukan cara menjelaskan sesuatu dan seterusnya sampai naskah itu pantas dikonsumsi khalayak."
Penerbit biasanya punya dua cara untuk mendapatkan naskah. Pertama menyeleksi tawaran naskah yang masuk ke kantor mereka; kedua mencari penulis yang mau mengerjakan tema-tema usulan mereka---karena bermaksud mengisi pasar dan sudah yakin pertimbangan pasarnya. Penulis bisa memilih mana yang cocok dengan keyakinan dan kebutuhannya. Sebagian orang memilih menerima order karena merasa dengan begitu naskahnya lebih punya kepastian terbit. Tapi sebagian penulis menolak bekerja seperti itu karena merasa subjeknya tak mereka sukai atau isinya bukan yang benar-benar mereka ingin tulis (tidak sesuai dengan hati nurani). Jika demikian, menulislah yang murni ke luar dari pikiran dan nurani Anda. Jika naskah itu bagus dan berbobot, kemungkinan besar ia bisa mendapat penerbit.
Satu hal yang juga harus juga kita sadari ialah bahwa penerbit dan buku punya tabiat dan nasib masing-masing. Langsung sukses itu jarang-jarang terjadi. Brian Hill dan Dee Power dalam The Making of a Bestseller meneliti bahwa kegigihan menjadi kunci utama keberhasilan para penulis sukses. Mereka gigih untuk terus berusaha menghasilkan karya bermutu.
Kadang-kadang, di luar keyakinan dan kerja keras semua pihak yang ikut terlibat, buku Anda ternyata gagal di pasar, diabaikan sama sekali oleh pembaca, terlalu cepat diretur oleh toko buku, atau sebaliknya malah dikecam habis-habisan oleh pembaca dan kritikus. Jangan berkecil hati. Lihat sisi baiknya. Tidak semua barang dagangan itu laku. Kadang-kadang petani gagal panen. Klien bisa mengeluh atas pekerjaan kita. Kegagalan bisa terjadi kapan saja. Pasti ada sejumlah faktor kenapa sebuah buku gagal, meskipun di awal-awal penerbitan semua pihak merasa yakin bahwa ia akan sukses. Bisa jadi buku itu tak mendapat publikasi sepantasnya dari penerbit, barangkali isunya sudah "lewat" dari perhatian massa, terbit di waktu yang salah, atau pembaca ternyata sukar memahami cara penulisan Anda. Meski awalnya selalu membuat sakit hati dan sulit diterima, semua buku penulisan dan teknik kreativitas selalu mengajarkan belajarlah dari kegagalan. Ambil masukan dari kritik paling pahit yang pernah Anda terima. Bertanyalah kepada editor, pembaca kritis, para ahli, atau bagian marketing kenapa kira-kira buku Anda sampai gagal.
"Jangan terlalu percaya pada jargon publish or perish (kalau tidak menerbitkan buku, Anda akan hancur)," kata Anwar. "Saya hanya menyarankan Anda untuk menerbitkan naskah terbaik. Kalau tidak, lupakan dulu keinginan menerbitkan buku secara serampangan. Lebih baik kita rujuk atau gunakan dulu buku-buku bermutu karya orang lain. Jangan menambah sampah pikiran pada buku kita. Saya lebih setuju pada anjuran agar kalangan akademik mendayagunakan ilmu dan kemampuannya untuk mencerahkan publik---yang oleh Budhiana, seorang wartawan di Bandung, dinamai 'intelektual publik.'"
Kalangan akademik memang berpeluang besar memberi sumbangan kecerdasan kepada masyarakat luas. Cuma kendalanya pun cukup berat. Misal kalangan akademik kerap dituduh sulit mengubah cara penulisan yang terkenal kaku, kering, dan kurang imajinatif, sehingga gagal menarik perhatian kalangan pembaca lebih luas. Apa yang bisa kita lakukan? Bekerja samalah dengan editor, penerbit, atau penulis profesional yang bisa menyampaikan maksud dengan lebih jernih, lentur, dan imajinatif. Sebagian kalangan akademik beranggapan mereka memiliki standar istilah teknis tertentu yang bila diubah maka akan menurunkan kadar keilmiahan subjek tersebut. Benarkah tulisan ilmiah harus disampaikan lewat kalimat pasif yang melelahkan, mempertahankan "objektivitas" kaku dan sama sekali mengabaikan subjektivitas? Anggapan ini mungkin perlu dibongkar lagi. Ada banyak cara segar untuk mengungkapkan gagasan.
Kalau tidak, belajarlah menulis secara populer, yaitu menulis dalam bahasa baku yang lebih bisa dipahami umum. Kuasailah bahasa dan seluruh perangkat komunikasinya. Bahasa punya standar tertentu yang membuatnya tetap berwibawa meskipun ia ditujukan pada khalayak umum. Hampir setiap media massa memiliki ruang untuk interaksi bagi kalangan terpelajar, misal ruang opini, dengan keterbacaan yang tetap tinggi. Kuasailah alat ungkap yang menarik, gunakan kalimat bertenaga, berani, bahkan kalau perlu provokatif, manfaatkan visualisasi, berdayakan imajinasi, eksplorasilah berbagai kemungkinan baru cara komunikasi efektif, biar maksud kita sampai dengan lebih baik lagi. Buku-buku otoritatif tentang upaya menulis lebih baik, membuat pembaca terpesona dan terlibat dalam tulisan sekarang cukup banyak tersedia di toko buku. Kalau tidak, berlatih dan belajarlah dari karya-karya yang bagus atau penulis favorit kita masing-masing. Biasanya dari sana kita juga bisa menemukan seperti apa ciri tulisan yang bagus itu.
Seberapa penting menulis buku bagi seorang dosen, peneliti, maupun akademikus? Yustikasari, seorang pengajar di Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran, Bandung, menyatakan: "Menulis buku penting sebagai salah satu media untuk transfer ilmu. Dengan menulis, baik artikel dan buku sesuai dengan bidang ilmunya, penghargaan dari perguruan tinggi biasanya berupa tambahan kum (nilai) untuk naik pangkat." Bila semata-mata untuk kum dan naik pangkat, Frans Parera menilai alasan itu "sangat egoistik" karena mengabaikan perasaan dan aksesibilitas pihak lain terhadap bacaan.[]12/3/09
Anwar Holid, editor, penulis, dan publisis. Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.
KONTAK: wartax@yahoo.com | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141.
Copyright © 2009 BUKU INCARAN oleh Anwar Holid
Situs terkait:
http://www.gramedia.com
[HALAMAN GANJIL]
Kegagalan Mencolok Tahun 2009
---Anwar Holid
Bila sebagian orang mengumumkan sejumlah keberhasilan di tahun 2009 kepada publik, biarlah aku melakukan kebalikannya: menyimpan keberhasilan, dan malah "membagi" kegagalan, syukur-syukur ada pembelajaran dari sana. Arvan Pradiansyah pernah menulis: Kalau kamu kalah, jangan sampai kamu kehilangan pelajaran. Dulu, Steven Spielberg pernah bilang: Failure is inevitable. Success is elusive. Gagal pasti terjadi; sementara sukses sulit dicari dan susah dipahami. Lepas dari sana, aku teringat pada kawan yang menanggapi betapa nasib manusia itu beda-beda: "Aku malas mengomentari kondisi orang, karena orang menghadapi hidup dan dunianya sendiri-sendiri. Yang menurut seseorang berat, ternyata mudah bagi orang lain. Hidup mah ada-ada saja."
Keberhasilanku biasanya langsung habis dibagi buat keluarga. Atau kalau menyangkut keuangan, biasanya langsung dialokasikan ke utang, meski ini sangat sulit aku lakukan akhir-akhir ini. Misal di pengujung 2009; aku pikir akan sedikit berjaya, ternyata aku sudah harus minta bantuan seorang kawan. Shhh...
Aku mencatat tujuh jenis kegagalan mencolok yang semoga jadi pelajaran.
(1) Gagal bekerja kantoran lagi. Buatku ini sangat mengesankan dan pantas mendapat perhatian khusus. Sampai dua kali aku gagal kerja di lembaga baru. Pertama di sebuah majalah politik berbasis di Jakarta. Awalnya aku antusias dan sudah menyiapkan segala sesuatu untuk bergabung dengan mereka, karena secara finansial aku merasa imbalan mereka menjanjikan. Tapi begitu datang ke sana, dua hari itu kepalaku sakit secara keterlaluan, sampai aku sangat terganggu. Ini aneh. Biasanya wajar aku rada pening dalam perjalanan luar kota. Setelah istirahat, aku segera pulih. Tapi kali ini tidak, meski aku berusaha rileks. Aku tetap sakit sampai esoknya. Padahal krunya juga ramah-ramah. Apa karena mereka perokok semua? Alasan ini rasanya keterlaluan. Waktu aku langsung minta pulang dan berhenti, sang pemimpin redaksi sampai tanya, "Apa ini kamu pertama kalinya pisah dari keluarga? Enggak mau coba sampai satu minggu?" Aku merasa ini mungkin semacam "blink" bahwa aku harus berhenti.
Lepas dari sana, seorang kawan menyarankan agar aku melamar jadi staf di sebuah lsm yang terkenal karena kinerja mereka di bidang "bisnis sosial" atau "wirausaha sosial." Dengan keyakinan bahwa aku cukup memenuhi syarat, aku menyiapkan segala sesuatu, termasuk mendapatkan rekomendasi dari tiga orang yang aku anggap tepat. Dalam wawancara, salah satu pertanyaan tersulit ialah: "Apa motivasi kamu ingin bekerja di sini?" Wah, apa ya? Apa aku ingin dapat bonus tahunan dan thr? Apa aku punya idealisme yang patut diwujudkan atau ingin dapat gaji bulanan? Aku pikir rekomendasi dan cv bisa sedikit menjelaskan reputasi, kemampuan, dan kinerjaku. Ternyata tidak. Menariknya, dalam surat penolakannya, lsm itu bilang: "Pengalaman Anda impressive, tapi kami mohon maaf, mas Anwar belum cocok untuk kebutuhan saat ini atau barangkali kita belum jodoh ya...?!" Belum jodoh katanya! Ha ha ha... Lumayan, surat penolakan itu menghibur aku.
Walhasil aku kerja sendiri lagi. Aku bukan pengangguran. Kerjaanku ada saja, sebagian belum tuntas. Untung, seorang kawan bilang ke aku: "Dalam kepalaku tuh, kalau ingat kamu, pasti tertera bahwa kamu sudah betah jadi tenaga outsource. Kerja freelance. Masak kamu ingin ngantor lagi?" Ha ha ha... belum tahu dia, aku kemarin melayangkan surat lamaran lagi.
(2) Gagal menerbitkan buku. Sebenarnya ini naskah seputar dunia perbukuan yang menjadi inti perhatian karirku. Aku berusaha menjadikannya komprehensif. Dulu naskah ini siap diterbitkan imprint penerbit yang terkenal karena buku-buku kepenulisannya. Tapi sayang imprint itu gulung tikar, dan akibatnya naskahku gagal terbit. Naskah ini bahkan sudah disusun oleh editor kesohor---dan aku bangga karena itu. Lantas penerbit lain dari kelompok yang sama menerimanya, bahkan sudah menyentuhnya, setelah naskah itu membengkak karena sumbernya memang bertambah. Draft covernya pun sudah siap. Cerita-cerita punya cerita, di rapat tingkat tinggi, para pengambil keputusan penerbit itu menilai naskahku terlalu tebal, terlalu serius, dan kurang populer. Jadi ditunda entah sampai kapan. Aku sendiri sudah menyerahkan keputusannya pada manajer bersangkutan, termasuk untuk mengurangi ketebalannya. Aku bilang, aku lebih suka kompromi pasar saja. Daripada terbit tapi seret dan menyulitkan penerbit. Tapi kalau enggak terbit-terbit juga? Ah, santai saja. Nanti bisa masuk arsip sebagai "Unpublished Work of Anwar Holid." Siapa tahu jadi warisan magnum opus. (Emm, berlebihan.)
Optimisnya: di akhir tahun ini ada editor yang menyetujui proposal buku baruku. Semoga bisa terbit tahun 2010.
(3) Gagal jadi juara 1 lomba penulisan. Pertama lomba resensi Dreams from My Father (Barack Obama) penerbit Mizan. Aku juara ke-4 (dapat hadiah buku senilai 500 ribu rupiah). Nada resensiku santai sekali, mengambil angle yang menurutku jarang diambil peresensi lain. Tapi memang resensi juara 1-nya sangat bagus dan komprehensif. Salut. Aku mendedikasikan hadiah itu untuk anak-anakku, dengan memilih buku anak semua.
Kedua gagal masuk 20 besar lomba Kisah 2009 Penerbit Erlangga. Aku menyiapkan tulisan ini dengan sangat serius dan awalnya optimistik minimal masuk 10 besar. Tapi ketika lihat pengumuman karyaku ke laut dan malah punya Fenfen yang terjaring, aku langsung lemas. (Fenfen adalah juara 1 pada periode 2007.) Apa yang salah dengan tulisanku? Terlalu dingin dan kering mungkin atau terlalu panjang untuk lomba suatu kisah? Memang awalnya aku meniatkan tulisan itu sebagai memoar. Nanti akan aku posting tulisan itu di blog atau Facebook.
(4) Gagal bekerja sama dengan orang lagi. Kegagalan ini sangat menyesakkan, apalagi mereka editor. Tadinya aku berharap bisa mendapat keuntungan dengan menjalin hubungan dengan orang-orang seprofesiku, tapi hasilnya di luar dugaanku. Tentu ada yang salah dengan cara pendekatanku, atau mereka terlalu mudah tersinggung, kurang humor, kurang jujur, dan kurang tahan kritik. Aku sudah minta maaf, tapi salah seorang malah bertanya retorik: "Untuk apa minta maaf mas?" Astaga, apa orang ini kehabisan empati dan sulit menilai integritas seseorang? Dari insiden ini aku belajar sekali lagi bahwa kejujuran itu dampaknya memang luar biasa.
(5) Gagal meresensi buku-buku bagus. Ini klise, jelas terkait dengan kemampuanku menalar sebuah buku, atau gagal mengaitkan buku itu dalam konteks yang lebih hebat. Atau sebaliknya: jangan-jangan aku terlalu rewel terhadap sebuah buku? Jadi editor di satu sisi malah membuatku bisa sangat tersiksa kala membaca buku, sebab aku gagal mematikan radar idealitas terhadap buku. Aku harus lebih ikhlas terhadap buku, menerima buku sebagaimana adanya, dan menulisnya secara lebih sederhana.
Buku bagus yang gagal aku resensi antara lain:
* Three Signs of a Miserable Job (Patrick Lencioni, Elexmedia, 298 hal.). Novel sangat mengesankan bernada motivasional-inspirasional tentang kepuasan kerja/karir, di ujungnya ada satu studi kasus betapa kepuasan kerja itu ternyata saling terkait. Sangat kena baik buat manajer maupun pekerja.
* Membongkar Manipulasi Sejarah (Asvi Warman Adam, Penerbit Kompas, 257 hal.) Buku sejarah dengan berbagai topik, cukup ekstensif membahas kontroversi seputar G30S. Aku memilih buku ini sebagai salah satu dari sepuluh buku tahun 2009 karya penulis Indonesia yang pantas diperhatikan.
* The Second Plane (Martin Amis, Vintage, 204 hal.) Buku ini membuat Martin Amis dicap menderita Islamofobia. Fokus pada kontroversi peristiwa 9/11 dari tahun 2001-2007. Tapi aku kesulitan menyimpulkan mau dia apa dengan argumen-argumen itu. Buku yang tampak terlalu serius bagi penulis yang terlalu mudah sinis. (Dugaanku ini sulit dipertanggungjawabkan.)
* Bocah Muslim di Negeri James Bond (Imran Ahmad, Mizan). Memoar lucu tentang bagaimana rasanya menjadi seorang Muslim sejak kecil di Inggris Raya khususnya, dan di Dunia pada umumnya. Seberapa universal Islam itu sebenarnya? Meskipun tidak taat-taat amat, Imran Ahmad terus berusaha menjadi Muslim dan manusia yang lebih baik, dia juga sekuat tenaga menghindari dosa sebisa mungkin.
(6) Gagal menulis novel. Mungkin ini bisa diabaikan karena merasa bukan bidangku, meskipun aku punya niat. Imajinasiku kayaknya terlalu kering dan kaku, sementara aku juga tidak meluangkan waktu untuk menuliskannya secuil demi secuil. Padahal storyline sudah aku siapkan dan ide kayaknya sudah terbayang di dalam kepala. Mungkin harus jadi proyek tahun 2010 (sebelum peringatan kiamat dua tahun lagi benar-benar terbukti.)
(7) Gagal menulis di Korantempo atau Tempo. Ini sedikit aneh dan menyedihkan. Aku terus berusaha menawarkan tulisan ke media ini, tapi masih gagal hingga detik ini. Apa tulisanku tidak cocok? Tidak. Sudah jelas: Jika tulisanku tak dimuat, pasti karena masalah kelayakan penulisan. Kata redaksinya: "Dalam soal penolakan, kami punya banyak alasan: rata-rata karena penulisannya buruk. Meski sebuah ide menarik, jika penulisannya tidak bagus dan tidak mulus, kami langsung menolaknya."
Baiklah. Aku dapat pelajaran dari sini, yaitu: Non illegitimi te carborundum. Janganlah kegagalan membuat kamu kendor.
Aku menghadapi fajar 2010 dengan semangat dan optimistik. Sejumlah rencana telah aku siapkan, ada janji yang sudah aku sepakati, sebagian kerja juga belum beres dan harus dilanjutkan. Minimal sampai tri wulan pertama aku pasti sibuk. Kalau umurku sampai, pada Maret 2010 aku akan berbagi ilmu penulisan lagi, kali ini di sebuah perusahaan di Bogor, terus ada kerja publisitas yang ingin aku libati dengan baik. Life is worth living. Semoga sukses. Semoga tetap waras, Wartax! [] 24/12/2009
Anwar Holid, editor, penulis, dan publisis. Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.
KONTAK: wartax@yahoo.com | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141.
Subscribe to:
Posts (Atom)




