Menuntaskan Keriaan Ulang Tahun
---Anwar Holid
Deep Cuts, Volume 3 (1984–1995)
Band: Queen
Jenis: album kompilasi
Rilis: 5 September 2011
Rekaman: 1984–1995
Genre: Rock
Durasi: 57:01
Label: Universal Music, Island Records
Deep Cuts, Volume 3 (1984–1995) adalah paket ketiga seri kompilasi seleksi lagu-lagu minor dari lima album studio terakhir dalam karir Queen, yaitu The Works, A Kind of Magic, The Miracle, Innuendo, dan Made in Heaven.
Pada periode ini sejumlah kritik menyatakan bahwa Queen sebenarnya sudah lelah dan habis. Meski begitu faktanya Queen tetap masih mampu menciptakan sejumlah hits lepas betapa di sepanjang periode ini karir mereka naik-turun. Buku panduan 1001 Albums You Must Hear Before You Die dengan tega menyatakan bahwa kelima album Queen tersebut tak ada yang pantas didengarkan untuk sepanjang dekade '80 - '90-an. Pendapat ini mungkin ada benarnya. Tahun 80-an adalah milik Michael Jackson, sementara tahun 90-an dilanda gerakan grunge dan alternatif rock. Band-band seangkatan Queen menjadi dinosaurus: besar, bagian dari klangenan generasi tua dan mapan, tapi menjelang punah.
Queen juga berpikir ulang menimbang karir mereka: bagaimana agar tetap bisa berpengaruh dalam skala besar. Apa mereka harus merevitalisasi ciri khas grandeur, berlapis-lapis, dan rumit di awal karir atau menjadi band rock yang langsung dan simpel? Hasilnya beragam: The Works dan A Kind of Magic bisa dibilang straight rock, sementara The Miracle, Innuendo, dan Made in Heaven kembali terasa agung, dihiasi banyak elemen bernuansa orkestra dan harmoni berlapis-lapis. Di luar segi musikal, mereka menciptakan rekor baik sebagai band yang mampu mengumpulkan penonton paling banyak ataupun rekaman mereka paling banyak dikoleksi para audiophile.
Apa kompilasi ini bisa diabaikan?
Deep Cuts, Volume 3 secara aneh gagal menghasilkan kesan kuat sebagaimana dua Deep Cuts sebelumnya. Bisa jadi karena pilihan tracknya terasa begitu tipikal dan seragam sehingga menghasilkan nuansa yang nyaris sama dengan kompilasi Greatest Hits III atau kompilasi komersil Queen lainnya. Lagu minor dan big hits jadi terdengar tidak relevan dan sulit dibedakan.
Lagu yang distingtif dalam kompilasi ini bisa jadi hanya Is This The World We Created...?, Don't Try So Hard, One Year of Love, dan Bijou. Keempatnya lagu slow yang kontemplatif. "Bijou" membuktikan bahwa ketika zaman rock menilai solo gitar sudah usang, Brian May masih bisa menciptakan lick yang mencuri perhatian dan menyadarkan orang betapa hebat band ini secara keseluruhan. Namun lagu seperti I Was Born To Love You membuat kompilasi ini jadi parah. Ini adalah lagu pop cengeng yang diaransemen ulang setelah Freddie Mercury meninggal dunia agar terdengar jadi hard rock khas Queen.
Pendapat bahwa di dekade '80 - '90-an Queen sudah kepayahan mungkin ada benarnya, meski berkat pengalaman dan pendukung yang kuat, band ini tetap mampu mengolah formula untuk menciptakan lagu sukses. Karena itu kenapa tidak sekalian memasukkan lagu yang bernuansa sangat beda, seperti Rain Must Fall yang berirama Karibia, Pain Is So Close To Pleasure yang memperlihatkan kekuatan vokal falseto Freddie, atau Delilah yang lucu. Mungkin itulah cara mendengar Queen dari sudut pandang lain. Walhasil, kompilasi Deep Cuts, Volume 3 (1984–1995) ini seperti sekadar melunasi formalitas untuk merayakan ulang tahun ke-40 karir mereka mewarnai musik rock.[]
Anwar Holid
Link terkait:
http://en.wikipedia.org/wiki/Deep_Cuts,_Volume_3_(1984%E2%80%931995)
Tuesday, November 08, 2011
Wednesday, October 19, 2011
Friday, October 07, 2011
Arvan Pradiansyah: Conflict is Blessing
RINGKASAN SMART HAPPINESS, SmartFM Network Jakarta
Jumat, 7 Oktober 2011
Konflik sering disalahpahami oleh banyak orang, sehingga orang lebih suka menghindari atau tidak memunculkannya ke permukaan. Padahal konflik merupakan hukum alam (natural law), bagian dari keseharian manusia, sehingga tidak mungkin manusia hidup tanpa konflik. Konflik terjadi ketika keinginan atau kepentingan seseorang berbeda dengan orang lain. Demikian Arvan Pradiansyah mengawali talkshow yang populer di SmartFM Network Jakarta.
"Jangan memberi label buruk pada konflik. Conflict is blessing," kata motivator yang dijuluki "The Happiness Inspirator" itu. Dia bahkan menyatakan hubungan yang tanpa konflik tidak sehat. Menurut Arvan, konflik itu netral, namun tergantung orang bisa membuatnya jadi positif atau negatif.
Menangani konflik dengan baik akan mampu membuat kualitas hubungan seseorang semakin baik. Hasilnya ialah berupa "mutual understanding" (pemahaman bersama), kita jadi lebih baik dalam memahami orang lain. Arvan mencontohkan, customer loyal justru berasal dari customer yang pernah punya konflik dengan penyedia jasa. Setelah ada konflik kedua belah pihak jadi tahu lebih baik mengenai keinginan masing-masing.
Cara terbaik menyelesaikan konflik ialah dengan fokus pada masalah (sumber konflik) dan berkolaborasi bersama-sama untuk menyelesaikannya. Pihak yang berkonflik harus terbuka. Sayang orang kerap beralih pada individu. Bias tersebut membuat hubungan jadi tidak sehat, sementara masalah tidak kunjung selesai. Kunci dari upaya menyelesaikan konflik terletak pada komunikasi yang baik. Tanpa kemampuan komunikasi yang baik, niat tersebut malah bisa disalahpahami.
Di akhir talkshow, Managing Director Insitute for Leadership and Life Management (ILM) dan penulis buku best-seller The 7 Laws of Happiness yang dijadwalkan akan mengisi acara Smart Happiness on the Road pada Sabtu, 15 Oktober 2011 di Gedung BPPT, Jakarta ini menyatakan bahwa menangani konflik dengan sehat pasti berbuah pada tingkat kepercayaan yang lebih tinggi pada orang lain.[]
RINGKASAN SMART HAPPINESS, SmartFM Network Jakarta
Jumat, 7 Oktober 2011
Konflik sering disalahpahami oleh banyak orang, sehingga orang lebih suka menghindari atau tidak memunculkannya ke permukaan. Padahal konflik merupakan hukum alam (natural law), bagian dari keseharian manusia, sehingga tidak mungkin manusia hidup tanpa konflik. Konflik terjadi ketika keinginan atau kepentingan seseorang berbeda dengan orang lain. Demikian Arvan Pradiansyah mengawali talkshow yang populer di SmartFM Network Jakarta.
"Jangan memberi label buruk pada konflik. Conflict is blessing," kata motivator yang dijuluki "The Happiness Inspirator" itu. Dia bahkan menyatakan hubungan yang tanpa konflik tidak sehat. Menurut Arvan, konflik itu netral, namun tergantung orang bisa membuatnya jadi positif atau negatif.
Menangani konflik dengan baik akan mampu membuat kualitas hubungan seseorang semakin baik. Hasilnya ialah berupa "mutual understanding" (pemahaman bersama), kita jadi lebih baik dalam memahami orang lain. Arvan mencontohkan, customer loyal justru berasal dari customer yang pernah punya konflik dengan penyedia jasa. Setelah ada konflik kedua belah pihak jadi tahu lebih baik mengenai keinginan masing-masing.
Cara terbaik menyelesaikan konflik ialah dengan fokus pada masalah (sumber konflik) dan berkolaborasi bersama-sama untuk menyelesaikannya. Pihak yang berkonflik harus terbuka. Sayang orang kerap beralih pada individu. Bias tersebut membuat hubungan jadi tidak sehat, sementara masalah tidak kunjung selesai. Kunci dari upaya menyelesaikan konflik terletak pada komunikasi yang baik. Tanpa kemampuan komunikasi yang baik, niat tersebut malah bisa disalahpahami.
Di akhir talkshow, Managing Director Insitute for Leadership and Life Management (ILM) dan penulis buku best-seller The 7 Laws of Happiness yang dijadwalkan akan mengisi acara Smart Happiness on the Road pada Sabtu, 15 Oktober 2011 di Gedung BPPT, Jakarta ini menyatakan bahwa menangani konflik dengan sehat pasti berbuah pada tingkat kepercayaan yang lebih tinggi pada orang lain.[]
Subscribe to:
Posts (Atom)


