Arvan Pradiansyah: Conflict is Blessing
RINGKASAN SMART HAPPINESS, SmartFM Network Jakarta
Jumat, 7 Oktober 2011
Konflik sering disalahpahami oleh banyak orang, sehingga orang lebih suka menghindari atau tidak memunculkannya ke permukaan. Padahal konflik merupakan hukum alam (natural law), bagian dari keseharian manusia, sehingga tidak mungkin manusia hidup tanpa konflik. Konflik terjadi ketika keinginan atau kepentingan seseorang berbeda dengan orang lain. Demikian Arvan Pradiansyah mengawali talkshow yang populer di SmartFM Network Jakarta.
"Jangan memberi label buruk pada konflik. Conflict is blessing," kata motivator yang dijuluki "The Happiness Inspirator" itu. Dia bahkan menyatakan hubungan yang tanpa konflik tidak sehat. Menurut Arvan, konflik itu netral, namun tergantung orang bisa membuatnya jadi positif atau negatif.
Menangani konflik dengan baik akan mampu membuat kualitas hubungan seseorang semakin baik. Hasilnya ialah berupa "mutual understanding" (pemahaman bersama), kita jadi lebih baik dalam memahami orang lain. Arvan mencontohkan, customer loyal justru berasal dari customer yang pernah punya konflik dengan penyedia jasa. Setelah ada konflik kedua belah pihak jadi tahu lebih baik mengenai keinginan masing-masing.
Cara terbaik menyelesaikan konflik ialah dengan fokus pada masalah (sumber konflik) dan berkolaborasi bersama-sama untuk menyelesaikannya. Pihak yang berkonflik harus terbuka. Sayang orang kerap beralih pada individu. Bias tersebut membuat hubungan jadi tidak sehat, sementara masalah tidak kunjung selesai. Kunci dari upaya menyelesaikan konflik terletak pada komunikasi yang baik. Tanpa kemampuan komunikasi yang baik, niat tersebut malah bisa disalahpahami.
Di akhir talkshow, Managing Director Insitute for Leadership and Life Management (ILM) dan penulis buku best-seller The 7 Laws of Happiness yang dijadwalkan akan mengisi acara Smart Happiness on the Road pada Sabtu, 15 Oktober 2011 di Gedung BPPT, Jakarta ini menyatakan bahwa menangani konflik dengan sehat pasti berbuah pada tingkat kepercayaan yang lebih tinggi pada orang lain.[]
Showing posts with label Arvan Pradiansyah. Show all posts
Showing posts with label Arvan Pradiansyah. Show all posts
Friday, October 07, 2011
Friday, September 23, 2011
Temukan Sendiri Happiness Booster Anda!
Happiness Booster
RINGKASAN SMART HAPPINESS, SmartFMNetwork
Jumat, 23 September 2011
Narasumber: Arvan Pradiansyah
Happiness Booster adalah kegiatan dan aktivitas yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan atau menciptakan kebahagiaan. Alat ini bisa kita ciptakan sendiri, tujuannya ialah untuk menghasilkan perasaan yang bahagia. Kenapa kita butuh Happiness Booster, karena happiness itu ada kalanya sulit didapat, padahal manusia itu selalu ingin menemukan happiness. Bila happiness sulit ditemukan, itu artinya ada yang salah dengan diri kita.
Ada dua hal yang bisa membuat kita sulit bahagia, yaitu:
1. Khawatir (worry), kita ingat pada masa depan, padahal hal itu belum terjadi
2. Menyesal (sorry), kita ingat masa lalu, padahal itu sudah berlalu.
Dengan happiness booster, kita bisa mengusahakan happiness setiap saat. Happiness booster bisa dihasilkan dari dalam diri kita (inner happiness) maupun luar diri kita (outer happiness). Idealnya setiap orang memiliki happiness booster sendiri-sendiri, bahkan kalau perlu "mematenkan" cara tersebut, agar setiap kali dirundung kemalangan bisa dengan mudah memulihkan perasaan bahagia dan mendapat semangat dan optimisme. Orang yang bahagia ialah orang yang lebih baik dalam mengembalikan keadaan puas dan bahagia, hidup di saat sekarang.
Happiness booster orang bisa sangat beragam, ada yang lewat gerakan fisik (beraktivitas, olahraga, jalan-jalan menikmati alam), meditasi, menikmati sesuatu (lagu, film, makan yang sehat), termasuk kegiatan spiritual (misalnya berdoa sampai menangis), menjalankan hobi, berinteraksi dengan orang lain dengan kasih sayang (dengan keluarga, kawan dekat, kerabat yang berprestasi.) Berimajinasi juga bisa membuat orang bahagia, baik mengenang pengalaman yang sudah terjadi atau membayangkan sesuatu yang belum atau tidak kita alami.
Ada orang yang punya happiness booster dari nonton wayang kulit, karena dari sana selain mendapat hiburan, di situ dia juga mendapat filosofi kehidupan, tampilan visual, juga sastra. Dengan melakukan meditasi secara rutin, prefrontal cortext dalam otak kita jadi tumbuh. Syarat itulah yang berperan dalam menumbuhkan rasa bahagia. Mendengar musik yang bikin bahagia membuat otak menghasilkan dopamin, enzim yang menyebabkan kita senang.
Berbelanja juga bisa membuat orang bahagia, tapi kita tetap harus waspada. Belanja barang hanya membuat perasaan bahagia sebentar. Ada belanja yang bisa menghasilkan perasaan bahagia lebih lama, yaitu "belanja pengalaman" (experience) yang menghasilkan kenangan indah dan "pro-social spending" seperti beramal (charity), mentraktir teman baik, dan lain-lain.
Tentukan sendiri happiness booster Anda! Orang yang bahagia akan lebih mudah meraih kesuksesan. Hidup kita ini sebentar, jangan sia-siakan berlalu tanpa happiness di dalamnya.[]
Monday, September 12, 2011
ARVAN PRADIANSYAH BLOG COMPETITION 2011
Apa yang sesungguhnya kita cari di dunia ini? Kesuksesan atau kebahagiaan?
Arvan Pradiansyah, penulis buku-buku best-seller di bidang pengembangan diri dan motivasi yakin bahwa kita sebenarnya sangat ingin menemukan kebahagiaan dibandingkan kesuksesan. Keyakinan itu secara konsisten dia utarakan di setiap kesempatan, misalnya ketika melayani konsultasi di berbagai perusahaan, menyelenggarakan training, mengisi sesi motivasi, bahkan sebagai narasumber talkshow "Smart Happiness" para pendengar tak segan menyebut dia sebagai "Guru Kebahagiaan."
Untuk mengintensifkan dan makin memassifkan keyakinan tersebut, ILM (Institute for Leadership and Life Management) mengundang seluruh blogger Indonesia untuk mengikuti lomba menulis di blog (blog competition) yang selaras dengan ide-ide pemikiran tersebut.
APA YANG BISA DITULIS?
Peserta bisa mengeksplorasi gagasan pemikiran Arvan Pradiansyah, terutama di area leadership (kepemimpinan), happiness (kebahagiaan), dan life management (manajemen kehidupan).
Agar bisa memahami pemikiran Arvan Pradiansyah secara komprehensif dan mengetahui layanan yang dia berikan kepada klien, peserta sangat disarankan untuk membaca karya-karyanya baik berupa buku dan audio book, browsing di http://ilm.co.id, termasuk mendengarkan talkshow "Smart Happiness" pada setiap hari Jumat, pukul 07.00 - 08.00 di Smart FM 95.9 FM Jakarta dan live streaming di http://radiosmartfm.com.
Buku dan audio book karya Arvan Pradiansyah ialah:
* You Are a Leader!
* Life is Beautiful
* Cherish Every Moment
* The 7 Laws of Happiness
* You Are Not Alone
* Inspirasi Happiness 1
* Inspirasi Happiness 2
TEMA KOMPETISI
* Leadership and Happiness with Arvan Pradiansyah
KEYWORDS TARGET DALAM LOMBA INI IALAH:
* Arvan Pradiansyah
* leadership
* happiness
* kebahagiaan
* life management
* seminar
* motivator
* training motivasi
* public speaker (pembicara publik)
KETENTUAN KONTES DAN TEMA
1. Kontes dimulai pada 19 September 2011, pukul 08.00 WIB dan berakhir pada 21 Oktober 2011, pukul 24.00 WIB (waktu up load posting).
2. Pemenang akan diumumkan di http://apblogcom.blogspot.com pada Senin, 31 Oktober 2011.
3. Peserta adalah blogger berkewarganegaraan Indonesia, terbuka untuk siapa saja.
4. Peserta hanya boleh mengirimkan satu tulisan.
5. Panjang tulisan maksimal dua halaman (kurang-lebih 880 kata).
6. Tulisan harus bebas dari unsur pornografi dan SARA.
7. Tulisan harus di posting di blog pribadi, forum komunitas, maupun notes jejaring sosial.
8. Tulisan harus atas nama pribadi dan orisinal, bukan atas nama orang lain.
9. Posting lomba harus menyertakan link back dengan tulisan:
* Situs terkait: http://ilm.co.id
10. Posting tulisan harus menyertakan banner logo lomba kompetisi yang bisa didapat di http://apblogcom.blogspot.com
11. Posting tulisan wajib didaftarkan (diregistrasi) ke email blogcompetition@ilm.co.id
* Subject: AP BLOG COMPETITION 2011
* Informasi berisi: laman tempat posting dan data singkat penulis
13. Keputusan juri mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.
HADIAH
Tiga pemenang akan diumumkan di http://apblogcom.blogspot.com, pada Senin, 31 Oktober 2011.
Juara I
* uang Rp.1.500.000,-
* paket berisi lima buku + 2 audio book Arvan Pradiansyah
* free 2 sesi public seminar dengan total nilai Rp.750.000,- dari ILM
Juara II
* uang Rp.1.000.000,-
* paket berisi lima buku + 2 audio book Arvan Pradiansyah
* free 2 sesi public seminar dengan total nilai Rp.750.000,- dari ILM
Juara III
* uang Rp.500.000,-
* paket berisi lima buku + 2 audio book Arvan Pradiansyah
* free 2 sesi public seminar dengan total nilai Rp.750.000,- dari ILM
Hadiah hiburan untuk 5 pemenang
* paket berisi lima buku + 2 audio book Arvan Pradiansyah
* free 2 sesi public seminar dengan total nilai Rp.750.000,- dari ILM
Wednesday, July 27, 2011
Bahagia Dulu, Baru Sukses
---Anwar Holid
Sepenting apa pengaruh kebahagiaan terhadap dunia kerja dan bisnis?
Pada tahun 2007 Badenoch & Clark---sebuah lembaga konsultan rekrutmen di Inggris---merilis survei bahwa satu dari empat karyawan tidak puas dengan pekerjaan kantor mereka. Berbagai penelitian sejenis mengungkap hasil serupa, di antaranya ialah adanya temuan hubungan positif antara kepuasan kerja dan kepuasan hidup. Penemuan terbaru di bidang psikologi pun membuktikan bahwa kebahagiaan merupakan dasar kesuksesan. Kebahagiaan adalah sebab, harus ada sebelum kesuksesan, bukan hasil dari kesuksesan.
Ironisnya, kebanyakan orang beranggapan sebaliknya. Mereka yakin bahwa kebahagiaan akan terjadi dengan sendirinya sebagai akibat dari kesuksesan. Jika kita bekerja keras, kita akan tambah sukses. Dan kalau sukses, baru kita akan bahagia. Anggapan ini keliru. Fakta menunjukkan betapa sering kita mendapati orang sukses yang depresif, menyalahgunakan kekuasaan (abusive), bahkan sampai korupsi, melanggar hukum, dan bunuh diri. Semua itu membuktikan bahwa kesuksesan tidak identik dengan kebahagiaan, apalagi kalau seseorang merasa hidup maupun karirnya belum berhasil.
Dalam Public Program ILM The 7 Laws of Happiness @ Work di Intercontinental Hotel beberapa waktu lalu, Arvan Pradiansyah menyatakan, "Orang yang bahagia di tempat kerja pasti punya lebih banyak ide untuk pekerjaannya, lebih mampu menyenangkan customer dan orang lain, sebab inti pekerjaan ialah melayani." Di workshop dua hari yang diikuti para profesional mulai level staf junior hingga direktur dari berbagai perusahaan tersebut dia menyatakan bahwa kuncinya ialah bahagia dulu, baru sukses.
Sukses Tanpa Mengorbankan Kebahagiaan
Apa yang harus dilakukan agar seseorang bahagia di tempat kerja? Arvan mengajarkan tujuh prinsip kebahagiaan dari buku best-sellernya The 7 Laws of Happiness yang telah disesuaikan untuk dunia kerja dan para profesional. Dia mengungkapkan berbagai skills dan tools yang dibutuhkan para profesional agar sukses tanpa mengorbankan kebahagiaan di tempat kerja, misal "Mind Booster" dan "Teknik 5 Kotak" agar orang segera mampu menciptakan pikiran positif.
Pada prinsipnya The 7 Laws of Happiness ialah paradigma cara mengenali cara kerja pikiran, mengelolanya, lantas memilih tindakan. Sabar (patience) misalnya, yang merupakan prinsip pertama The 7 Laws of Happiness, rasanya terdengar klise, namun Arvan memberi muatan baru yang bersifat sangat aktif. "Sabar itu bukan mengelus dada, melainkan melakukan pekerjaan dengan senang hati. Orang sabar punya keyakinan bahwa segala sesuatu mungkin untuk dilakukan."
Arvan memadukan pendekatan leadership dan life management untuk menyeimbangkan kehidupan profesional dan personal. Contoh dalam motivasi kerja. Banyak orang terjebak motif jangka pendek dalam bekerja, terutama karena uang. "Orang yang bekerja karena uang hanya mampu bertahan (survive) di dalam kehidupan, tapi kalau orang bekerja untuk melayani, yang dia dapat ialah kebahagiaan---uang hanya menjadi bonus."
Di workshop tersebut Arvan berfungsi sebagai "personal inspirator", ini membuat para peserta tergerak untuk mengenali misi kehidupan sekaligus antusias berkarya. Semua orang tampak setuju bahwa kehidupan personal amat mempengaruhi kinerja profesional. Mana mungkin kerja memuaskan muncul dari seseorang yang sakit atau mendendam?
Arvan mengungkapkan ada penelitian bahwa 54 % pekerja tidak terikat perusahaan, mereka cuma sibuk dan mengerjakan rutinitas. Sisanya, 17 % actively disengaged---mereka inilah virus kantor, kerjanya merongrong, membuat situasi jadi tidak tenang. Mereka jelas bukan orang yang bahagia. Karyawan yang terikat dan bahagia dengan perusahaan baru 29 %. Persentase inilah yang harus diperbesar lagi.
"Kebahagiaan tidak bisa didelegasikan, ia harus dialami sendiri," ujar Arvan. Salah satu cara mendapat kebahagiaan ialah lewat pengalaman kerja dan hidup yang kaya. Bila interaksi di tempat kerja berlangsung secara adil dan komunikasinya bagaus, orang-orang akan merasa lebih bahagia, dan dengan sendirinya mereka akan terdorong berusaha lebih baik.[]
Link terkait:
http://www.ilm.co.id
Tuesday, July 26, 2011
Mengembalikan Hakikat Kemanusiaan
---Anwar Holid
JAKARTA - "Bulan puasa merupakan sebuah perubahan di dalam hidup kita, karena itu kita harus bisa menghadapinya dengan maksimal," demikian kata Arvan Pradiansyah di hadapan lebih dari tiga ratus karyawan Prudential, di Jakarta, pada Senin, 25 Juli 2011. Salah satu perusahaan asuransi jiwa terbesar di dunia ini mengundang pembicara publik dan penulis best-seller buku-buku motivasional tersebut dalam luncheon talk menjelang puasa Ramadhan 2011 (1432 H).
Kenapa Arvan? "Pendekatan Arvan spiritualitas, cocok untuk teman-teman di sini," kata Fancy Ong, Senor Executive Corporate Training Prudential. Banyak karyawan perusahaan tersebut telah menikmati buku-buku Arvan dan familiar dengan talk show "Smart Happiness." Memanfaatkan konsep leadership dan life management, Arvan mengelaborasi spirit puasa menjadi kontekstual dengan etos bisnis dan profesionalisme. Dia membongkar mitos bahwa bekerja di bulan puasa itu tidak efektif.
Lima Kekuatan Puasa
Arvan menyebut bahwa puasa memiliki lima kekuatan, yaitu pikiran, sabar, syukur, cinta, dan kekuatan Tuhan.
"Esensi kemanusiaan itu ialah bahwa pikiran harus ada di atas. Kalau kita bisa memanfaatkan pikiran, hambatan fisik pasti bisa diatasi. Puasa mengembalikan hakikat tersebut," jelas Arvan saat memaparkan the power of mind (kekuatan pikiran).
Sabar (the power of patience) ialah menunda kenikmatan jangka pendek untuk kenikmatan jangka panjang. "Sabar itu bukan mengelus dada, melainkan menikmati proses dan berusaha sampai berhasil." Definisi baru sabar ini sebenarnya banyak dipraktikkan di dunia bisnis, bahkan menjadi ciri yang sangat menonjol, misal dalam hal inovasi dan keteguhan menaklukkan pasar.
Sedangkan syukur (the power of gratitude) membuat orang mampu mensyukuri miliknya, sekecil apa pun. Bersyukur merupakan salah satu ciri orang bahagia, ia mampu menghargai apa pun yang ada dalam dirinya, bukan mencari-cari sesuatu yang di luar dirinya, apa lagi tidak dia miliki.
The power of love (cinta) memungkinkan orang melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain. Ia bisa melakukan trading places, tukar tempat. Cinta memungkinkan profesional memahami posisi klien, keinginan customer, maupun harapan atasan dan kolega. Begitu juga dengan salah satu ciri puasa yang menonjol seperti lapar. "Pengalaman lapar tidak bisa diceritakan secara persis kepada orang lain, tapi harus dialami sendiri."
Puncaknya ialah the power of God, merasakan kekuatan Tuhan sekaligus perasaan bahwa Ia dekat. "Kalau kita jauh dari Tuhan, kita akan merasa sendiri. Kalau kita dekat dengan Tuhan, kita akan merasa betapa Tuhan senantiasa bersama kita, dan itu otomatis bisa mencegah kita dari berbuat dosa," terang Arvan. Dia menyebut bahwa konsep tersebut dia jabarkan panjang lebar dalam buku terbarunya You Are Not Alone (2010).
Selain memompa semangat, sesi yang berlangsung akrab dan interaktif itu menawarkan cara pandang segar untuk menghadapi puasa dengan optimistik.[]
Link terkait:
http://ilm.co.id/
Friday, June 24, 2011
Relationship
RINGKASAN SMART HAPPINESS, JUMAT, 24 JUNI 2011
Ketika berkomunikasi, kita melakukan dua hal, yaitu:
Hubungan yang indah terjadi berkat adanya kepercayaan, bukan kepentingan. Kebahagiaan bergantung pada adanya hubungan, karena kita adalah makhluk sosial. Kondisi dan situasi seseorang membuat hubungan jadi dinamik. Jadi tergantung apa secara rutin disirami atau tidak, terutama dengan "tabungan emosi", dipupuk dengan hal-hal kecil, perhatian, dan terus menerus disegarkan. Hubungan yang baik baru teruji kalau sedang ada masalah. Bila hubungan baik karena tidak ada atau belum ada masalah, hubungan itu rapuh, sebab belum membuktikan bahwa kedua pihak saling memahami. Karena itu adanya konflik atau konfrontasi dalam hubungan justru bagus, asal pemahaman kedua belah pihak terhadap orang tersebut lebih baik. Sebaliknya, kalau ada masalah, selesaikanlah relasi maupun hubungannya dengan orang bersangkutan. Selain memperlihatkan kualitas hubungan, sumber masalah merupakan sumber jawaban itu sendiri.
Jangan hanya berhubungan ketika ada masalah, karena itu bisa membuat orang lain jadi merasa dimanfaatkan, bukan bermanfaat. Hanya berhubungan ketika ada masalah, apalagi dalam hubungan yang tidak dipupuk, akan membuat kondisi itu jadi MINTA TOLONG. Karena itu, untuk memupuk hubungan, gunakan media yang ada, baik dengan telepon, sosial media, aplikasi komunikasi, sapaan, bahkan kejutan-kejutan kecil. Jangan ada agenda ketika sedang berkomunikasi, tidak berdasar kepentingan tertentu. Bukalah relasi dengan orang lain, karena kita bisa mendapat pengalaman hidup maupun pengalaman kerja dari orang bersangkutan, dan itu akan membuka berbagai kemungkinan, termasuk memperpanjang rezeki dan umur.
Orang yang memiliki hubungan baik besar kemungkinan akan lebih bersemangat, terlibat (engage), memiliki passion---baik dalam kehidupan personal maupun di tempat kerja.[]wartax, 24 juni 2011
RINGKASAN SMART HAPPINESS, JUMAT, 24 JUNI 2011
Ketika berkomunikasi, kita melakukan dua hal, yaitu:
- ada pesan (message), bersifat eksplisit, bisa dianalisis
- ada relationship, bersifat implisit, memperlihatkan apa hubungan kita dengan pihak yang diajak berkomunikasi itu baik atau buruk.
Hubungan yang indah terjadi berkat adanya kepercayaan, bukan kepentingan. Kebahagiaan bergantung pada adanya hubungan, karena kita adalah makhluk sosial. Kondisi dan situasi seseorang membuat hubungan jadi dinamik. Jadi tergantung apa secara rutin disirami atau tidak, terutama dengan "tabungan emosi", dipupuk dengan hal-hal kecil, perhatian, dan terus menerus disegarkan. Hubungan yang baik baru teruji kalau sedang ada masalah. Bila hubungan baik karena tidak ada atau belum ada masalah, hubungan itu rapuh, sebab belum membuktikan bahwa kedua pihak saling memahami. Karena itu adanya konflik atau konfrontasi dalam hubungan justru bagus, asal pemahaman kedua belah pihak terhadap orang tersebut lebih baik. Sebaliknya, kalau ada masalah, selesaikanlah relasi maupun hubungannya dengan orang bersangkutan. Selain memperlihatkan kualitas hubungan, sumber masalah merupakan sumber jawaban itu sendiri.
Jangan hanya berhubungan ketika ada masalah, karena itu bisa membuat orang lain jadi merasa dimanfaatkan, bukan bermanfaat. Hanya berhubungan ketika ada masalah, apalagi dalam hubungan yang tidak dipupuk, akan membuat kondisi itu jadi MINTA TOLONG. Karena itu, untuk memupuk hubungan, gunakan media yang ada, baik dengan telepon, sosial media, aplikasi komunikasi, sapaan, bahkan kejutan-kejutan kecil. Jangan ada agenda ketika sedang berkomunikasi, tidak berdasar kepentingan tertentu. Bukalah relasi dengan orang lain, karena kita bisa mendapat pengalaman hidup maupun pengalaman kerja dari orang bersangkutan, dan itu akan membuka berbagai kemungkinan, termasuk memperpanjang rezeki dan umur.
Orang yang memiliki hubungan baik besar kemungkinan akan lebih bersemangat, terlibat (engage), memiliki passion---baik dalam kehidupan personal maupun di tempat kerja.[]wartax, 24 juni 2011
Thursday, May 26, 2011
![]() |
Ada lima keyakinan yang membuat kamu tidak bahagia:
1/ kamu lebih memusatkan perhatian pada sesuatu yang tidak kamu miliki, bukan pada apa yang kamu miliki2/ kamu percaya bahwa kebahagiaan ada di masa depan. kamu membuat "daftar tunggu" terlalu banyak untuk bahagia
3/ kamu selalu membanding-bandingkan dirimu dengan orang lain
4/ kamu percaya bahwa kebahagiaan baru datang kalau berhasil mengubah situasi dan orang-orang di sekitarmu. padahal yang perlu kamu ubah adalah diri sendiri, hati, dan cara pandang kamu
5/ kamu yakin baru akan bahagia kalau semua keinginanmu terpenuhi
---sedikit mengubah dari tulisan arvan pradiansyah
Foto dari http://www.flickr.com/photos/eole/2651276638/
Tuesday, March 22, 2011
[WAWANCARA]
Tamparan untuk Sikap Beragama Bangsa Indonesia---Anwar Holid
Arvan Pradiansyah menerbitkan You Are Not Alone: 30 Renungan tentang Tuhan dan Kebahagiaan pada trimester akhir tahun 2010 dan memasuki trimester awal 2011 buku ini terus mendapat sambutan positif. Dalam sebulan, buku tersebut sudah cetak ulang, dan hingga kini masih bertahan di display utama banyak toko buku. Sebuah toko buku di Jakarta baru-baru ini masih menyertakan buku tersebut sebagai pilihan dalam "Recommend of the Month" sejak awal tahun 2011. Di media massa mainstream, resensi buku tersebut antara lain muncul di Republika, Seputar Indonesia, Suara Mandiri (NTB), dan Media Indonesia.
Di tengah rapuhnya sikap terhadap keragaman dan fanatisme beragama di Indonesia, buku ini tanpa ragu memprovokasi pembaca betapa kadar spiritualitas orang beragama bisa jadi justru kosong---itu sebabnya mereka suka merasa benar sendiri, intoleran, sampai akhirnya mengamuk dan bertindak brutal. Kita lihat kekerasan atas nama agama terus terjadi secara berlarut-larut, sementara upaya solusinya terasa sukar dipahami terutama oleh pihak-pihak yang bertikai. Lebih gawat lagi, kadang-kadang para pemuka agama tanpa malu menyebarkan kebencian kepada pemeluk agama lain di tempat ibadah, di sela-sela ibadah ritual.
Wawancara dilakukan via email, dijawab oleh Arvan di sela-sela kesibukannya sebagai konsultan sumber daya manusia untuk berbagai perusahaan, penulis, dan pembicara publik---terutama menjadi narasumber talkshow "Smart Happiness" di Smart FM setiap Jumat, pukul 07.00 - 08.00 WIB yang disiarkan ke-20 kota di Indonesia.
/***/
Anwar Holid (AH): Pada Jumat, 15 Oktober 2010 di episode JANGAN BUNUH DIRI acara Kick Andy membagi-bagikan 600 kopi You Are Not Alone kepada pemirsanya. Seperti apa perasaan Anda atas pilihan tersebut?
Arvan Pradiansyah (AP): Tentu saja saya merasa senang sekali. Acara Kick Andy itu kan disiapkan oleh tim yang sangat selektif. Kalau pada akhirnya mereka memilih You Are Not Alone sebagai buku pilihan, itu merupakan apresiasi yang luar biasa kepada saya. Selain itu, acara Kick Andy ini kan secara eksposure-nya kan cukup baik dan diminati oleh banyak pemirsa di Indonesia, jadi penampilan buku You Are Not Alone di Kick Andy mudah-mudahan bisa membuat buku ini makin dikenal, dan yang lebih penting lagi membuat pesan yang ingin saya sampaikan di buku ini dapat menjangkau lebih banyak lagi anggota masyarakat.
AH: Menurut Anda, seserius apa persoalan spiritualitas bagi bangsa Indonesia?
AP: Sangat serius. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat religius. Semua orang berduyun-duyun memenuhi rumah ibadah. Bahkan jamaah haji kita merupakan jamaah yang terbesar di dunia. Tapi ternyata menjadi religius tidak serta merta mengubah perilaku kita. Kita masih "juara" dalam hal korupsi, pornografi, dan bajak-membajak. Bahkan tidak ada satu lembaga hukum pun di negara kita yang bebas dari mafia. Ini kan luar biasa sekali. Artinya, ketaatan beribadah ternyata tidak berdampak pada perilaku kita. Kesalehan individu tidak berimbas pada kesalehan spiritual. Padahal inti spiritualitas itu sederhana sekali. Spiritualitas adalah mengenai bagaimana menjadi orang baik. Sangat sederhana bukan?
AH: Sebagian orang ateis juga bisa sangat mendalam membicarakan spiritualitas maupun ketuhanan, misalnya Andre Comte-Sponville dan Friedrich Nietzsche. Apa komentar Anda mengenai hal itu? Spiritualitas seperti apa yang mereka bicarakan? Adakah spiritualitas yang dibicarakan orang ateis itu sama atau berbeda dengan maksud orang beragama?
AP: Menurut hemat saya orang yang ateis itu sesungguhnya adalah orang yang melakukan pemberontakan terhadap organized religion. Penyebabnya bisa banyak hal, misalnya karena keinginan untuk hidup bebas dan tidak terikat. Bukankah agama seringkali (dipersepsikan) membatasi kemampuan berpikir manusia? Bukankah agama seringkali (dipersepsikan) menjejali manusia dengan segala macam dogma yang tidak masuk akal? Jadi pada diri orang yang ateis itu sesungguhnya ada pemberontakan terhadap kemapanan yang diwakili oleh agama, ada benturan antara keinginan untuk berpikir bebas dengan keharusan untuk patuh pada keyakinan dan nilai-nilai tertentu.
Namun jauh di lubuk hati mereka yang paling dalam sesungguhnya mereka percaya kepada Tuhan, paling tidak Tuhan dalam definisi mereka sendiri. Orang-orang seperti Andre Comte-Sponville misalnya, mengatakan bahwa manusia terdiri dari jasmani dan rohani. Nah, menyebutkan "rohani" saja sesungguhnya sudah menunjukkan indikasi bahwa dia percaya pada sesuatu yang tidak terlihat. Ini sesungguhnya sudah merupakan sedikit indikasi bahwa ia curiga bahwa Tuhan itu ada.
AH: Andre Comte-Sponville mengajukan argumen bahwa spiritualitas bisa dilakukan (dimaknai oleh orang) tanpa Tuhan. Apa komentar Anda?
AP: Memang benar bahwa spiritualitas bisa dimaknai tanpa Tuhan. Inti spiritualitas kan adalah menjadi orang yang baik. Dalam konteks bisnis, spiritualitas berarti melayani orang lain dengan sepenuh hati, dengan segenap jiwa dan raga. Ini tentu saja dapat dilakukan tanpa dikaitkan dengan Tuhan. Namun tanpa dikaitkan dengan Tuhan spiritualitas tidak akan maksimal dan tidak akan sempurna. Kenapa demikian? Karena sesungguhnya dasar dari segala kebaikan itu adalah Tuhan. Tuhan adalah asal muasalnya segala bentuk kebaikan. Bahkan kenapa kita harus melayani orang lain (dengan melakukan pekerjaan) sesungguhnya adalah karena kita meneruskan pelayanan yang diberikan Tuhan kepada kita secara gratis. Tuhan sudah melayani dengan memberikan kehidupan yang begitu indah dan luar biasa kepada kita. Pelayanan ini sulit untuk kita balas karena Tuhan tidak membutuhkan balasan apa pun dari kita. Bukankah dia Yang Maha Kaya? Jadi cara kita membalas pelayanan Tuhan adalah dengan cara melayani sesama manusia. Inilah yang dilakukan orang di dalam bisnis.
Nah, orang yang melakukan spiritualitas tanpa mengaitkannya dengan Tuhan tidak bisa melihat fenomena ini secara keseluruhan. Paradigmanya kurang lengkap, kurang paripurna. Ibaratnya dia hanya melihat perjalanan hidup ini dari A sampai M, bukan sampai Z.
AH: Menurut Anda, dengan cara apa manusia bisa berhubungan secara ideal dengan Tuhan? Apa lewat doa, menaati perintah Tuhan, atau memeluk agama?
AP: Tentu saja dengan beribadah sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya. Tanpa menjalankan ibadah sesuai ajaran agama saya kira manusia tidak akan bisa berhubungan secara ideal dengan Tuhan.
Agama sesungguhnya mengandung dua unsur: Religiositas dan Spiritualitas. Religiositas menurut saya lebih pada tata cara untuk berhubungan dengan Tuhan, sementara Spiritualitas adalah pada "pertemuan" dengan Tuhan itu sendiri. Jadi inti dan hakikat setiap agama sesungguhnya adalah Spiriritualitas yaitu bagaimana berhubungan dan berkomunikasi langsung dengan Tuhan.
Banyak orang yang melakukan ibadah sesuai dengan ajaran agamanya tapi tetap saja gagal "menjumpai" Tuhan. Mereka rajin beribadah tapi tidak pernah memahami apa maksudnya. Mereka sesungguhnya sedang menjalankan aktivitas ritual yang tidak bermakna lebih selain hanya sebagai menjalankan kewajiban. Mereka hanya takut pada Tuhan di rumah ibadah. Tapi begitu ke luar dari rumah ibadah mereka memasabodohkan Tuhan, menganggap Tuhan itu tidak ada dan tidak hadir dalam kehidupan mereka. Inilah orang yang religius tapi tidak spiritual.
Di lain pihak ada orang yang spiritual tapi tidak religius. Orang ini percaya pada Tuhan tapi tidak menganut ajaran agama apa pun. Mereka ini akan sulit berhubungan dengan Tuhan karena bagaimanapun kita membutuhkan cara dan sarana agar dapat berkomunikasi secara intensif dengan Tuhan. Cara inilah yang diatur oleh ajaran agama.
AH: Ini soal penggunaan istilah asing. Seorang pembaca menanggapi You Are Not Alone sebagai berikut: "Sayang, mirip Rhenald Kasali dan Hermawan Kartajaya, Arvan tidak mengajarkan pembacanya mencintai bahasa Indonesia. Semua judul bukunya berbahasa Inggris. Padahal sang penulis mengajarkan tentang cinta. Kenapa kita enggak pakai judul bahasa Indonesia saja? Misal, "Kita tak sendiri". Atau "7 kaidah kebahagiaan". Saya agak iritasi membaca buku bahasa Indonesia, dikarang oleh orang Indonesia, ditujukan untuk pembaca orang indonesia, tapi bahasanya asing, entah itu Arab, Inggris, atau Belanda." Ini seakan-akan menunjukkan bahwa penulis seperti Anda tidak cinta bahasa Indonesia. Bagaimana komentar Anda?
AP: Menurut saya penggunaan judul buku dengan menggunakan bahasa asing bukanlah persoalan cinta. Ini persoalan efektivitas. Setiap bahasa memiliki nilai rasa yang berbeda. Saya pernah membaca bahwa bahasa Arab memiliki nuansa dan nilai spiritual yang tinggi. Sementara bahasa Inggris lebih solid dalam menyampaikan suatu konsep. Jadi sebuah konsep yang diungkapkan dalam bahasa Inggris akan terdengar lebih padat, compact dan bermakna. Coba saja Anda lihat buku-buku saya. Coba Anda rasakan, mana yang lebih solid: Andalah Sang Pemimpin atau You Are A Leader? Menghargai Setiap Saat atau Cherish Every Moment? 7 Kaidah Kebahagiaan atau The 7 Laws of Happiness. Ini sekali lagi adalah masalah rasa bahasa.
Akan halnya You Are Not Alone, menurut saya bukan hanya masalah rasa bahasa, tetapi juga berkaitan dengan maknanya. Dalam bahasa Indonesia mungkin kita menerjemahkannya dengan "Anda Tidak Sendiri". Kata "sendiri" dalam bahasa Indonesia bermakna seorang diri, padahal kata "alone" tidak bermakna seorang diri tapi bisa juga berdua, bertiga, maupun dengan banyak orang.
Maksud saya begini, orang yang berselingkuh itu kan ketika sedang berselingkuh pasti berdua, tidak mungkin sendiri. Orang yang korupsi itu juga kan tidak mungkin sendirian, tapi berjamaah. Padahal pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa orang-orang yang selingkuh atau korupsi itu menyangka diri mereka tidak dilihat oleh Tuhan (bukan berarti bahwa mereka sedang sendirian, tapi bahwa mereka sedang jauh dari Tuhan). Karena itu kalimat yang lebih pas untuk menunjukkan hal ini adalah "You Are Not Alone", bukan "Anda Tidak Sendirian".
AH: Sebagian pembaca berhati-hati bahwa spiritualitas dikhawatirkan bisa mencampuradukkan atau mengotori keyakinan (iman) terhadap agama. Bagaimana membedakan agama dan spiritualitas? Bagaimana cara You Are Not Alone bisa memberi manfaat mengenai kebertuhanan yang hakiki?
AP: Berhati-hati tentu baik-baik saja. Yang tidak baik itu curiga, karena dalam curiga itu ada berbagai prasangka. Banyak orang menyalahpahami spiritualitas karena tidak memahami apa artinya. Seolah-olah spiritualitas adalah ajaran tanpa agama. Padahal sesungguhnya inti dari setiap ajaran agama itu adalah spiritualitas. Tidak ada agama tanpa spiritualitas. Apa itu spiritualitas? Bagi saya spiritualitas itu adalah rasa terhubung (sense of connection) dengan Tuhan. Masalahnya ada banyak orang yang setelah menjalankan ritual keagamaan masih merasa jauh dengan Tuhan. Indikasinya adalah ketika mereka masih melakukan berbagai kemaksiatan walaupun mereka rajin beribadah, seolah-olah ibadah yang mereka lakukan itu tidak ada bekasnya sama sekali dalam keseharian mereka.
Jadi agama itu selalu berkaitan dengan ajaran dan aktivitas ritual sementara spiritualitas itu adalah keterhubungan dengan Tuhan. Nah, pesan utama dan terpenting yang saya sampaikan dalam You Are Not Alone adalah sebagai manusia kita mempunyai kebutuhan untuk selalu dekat dan terhubung dengan Tuhan. Kita harus menyadari bahwa Tuhan bukanlah sosok yang jauh, yang ada diluar angkasa sana. Tuhan justru ada di dekat kita bahkan lebih dekat dari urat leher kita sendiri. Kalau kita menyadari hal ini maka kita akan selalu optimis, tak pernah merasa sendiri, dan tidak akan melakukan perbuatan yang tercela.
AH: Sejauh pengamatan Anda, adakah komentar negatif terhadap You Are Not Alone? Apa tanggapan mas Arvan terhadap review seperti itu?
AP: Sejauh ini tanggapan terhadap You Are Not Alone sangat positif. Beberapa perusahaan bahkan memesan buku ini dalam jumlah banyak untuk dibagikan kepada para karyawannya. Saya juga banyak mendapatkan tanggapan dari berbagai orang yang merasa tercerahkan setelah membaca buku ini.
Saya juga mendapatkan apresiasi dari teman-teman dari berbagai ajaran agama. Ini merupakan bukti bahwa Tuhan adalah sesuatu yang universal. Tuhan ada dalam diri setiap manusia. Orang bisa saja memanggil Tuhan dengan nama yang berbeda, tapi Tuhan yang dimaksud ya Dia Dia juga. Dialah Tuhan Yang Satu. Tuhan Yang Maha Kuasa.
AH: Terakhir: apa harapan utama Anda atas terbitnya You Are Not Alone?
AP: Saya berharap buku ini dapat mengubah paradigma masyarakat Indonesia tentang Tuhan. Tuhan itu dekat, bukan jauh. Tuhan ada di mana-mana, bukan hanya di tempat ibadah. Tuhan ada di kantor, di pabrik, di bursa, di instansi pemerintah, di pengadilan, di kejaksaan, di kepolisian, di mana saja kita berada.[]
Anwar Holid, penulis buku Keep Your Hand Moving (GPU, 2010).
KONTAK: wartax@yahoo.com | http://halamanganjil.blogspot.com
Situs terkait:
http://www.ilm.co.id
http://www.elexmedia.co.id/buku/detail/9789792779189
Copyright © 2010 Anwar Holid
Tamparan untuk Sikap Beragama Bangsa Indonesia---Anwar Holid
Arvan Pradiansyah menerbitkan You Are Not Alone: 30 Renungan tentang Tuhan dan Kebahagiaan pada trimester akhir tahun 2010 dan memasuki trimester awal 2011 buku ini terus mendapat sambutan positif. Dalam sebulan, buku tersebut sudah cetak ulang, dan hingga kini masih bertahan di display utama banyak toko buku. Sebuah toko buku di Jakarta baru-baru ini masih menyertakan buku tersebut sebagai pilihan dalam "Recommend of the Month" sejak awal tahun 2011. Di media massa mainstream, resensi buku tersebut antara lain muncul di Republika, Seputar Indonesia, Suara Mandiri (NTB), dan Media Indonesia.
Di tengah rapuhnya sikap terhadap keragaman dan fanatisme beragama di Indonesia, buku ini tanpa ragu memprovokasi pembaca betapa kadar spiritualitas orang beragama bisa jadi justru kosong---itu sebabnya mereka suka merasa benar sendiri, intoleran, sampai akhirnya mengamuk dan bertindak brutal. Kita lihat kekerasan atas nama agama terus terjadi secara berlarut-larut, sementara upaya solusinya terasa sukar dipahami terutama oleh pihak-pihak yang bertikai. Lebih gawat lagi, kadang-kadang para pemuka agama tanpa malu menyebarkan kebencian kepada pemeluk agama lain di tempat ibadah, di sela-sela ibadah ritual.
Wawancara dilakukan via email, dijawab oleh Arvan di sela-sela kesibukannya sebagai konsultan sumber daya manusia untuk berbagai perusahaan, penulis, dan pembicara publik---terutama menjadi narasumber talkshow "Smart Happiness" di Smart FM setiap Jumat, pukul 07.00 - 08.00 WIB yang disiarkan ke-20 kota di Indonesia.
/***/
Anwar Holid (AH): Pada Jumat, 15 Oktober 2010 di episode JANGAN BUNUH DIRI acara Kick Andy membagi-bagikan 600 kopi You Are Not Alone kepada pemirsanya. Seperti apa perasaan Anda atas pilihan tersebut?
Arvan Pradiansyah (AP): Tentu saja saya merasa senang sekali. Acara Kick Andy itu kan disiapkan oleh tim yang sangat selektif. Kalau pada akhirnya mereka memilih You Are Not Alone sebagai buku pilihan, itu merupakan apresiasi yang luar biasa kepada saya. Selain itu, acara Kick Andy ini kan secara eksposure-nya kan cukup baik dan diminati oleh banyak pemirsa di Indonesia, jadi penampilan buku You Are Not Alone di Kick Andy mudah-mudahan bisa membuat buku ini makin dikenal, dan yang lebih penting lagi membuat pesan yang ingin saya sampaikan di buku ini dapat menjangkau lebih banyak lagi anggota masyarakat.
AH: Menurut Anda, seserius apa persoalan spiritualitas bagi bangsa Indonesia?
AP: Sangat serius. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat religius. Semua orang berduyun-duyun memenuhi rumah ibadah. Bahkan jamaah haji kita merupakan jamaah yang terbesar di dunia. Tapi ternyata menjadi religius tidak serta merta mengubah perilaku kita. Kita masih "juara" dalam hal korupsi, pornografi, dan bajak-membajak. Bahkan tidak ada satu lembaga hukum pun di negara kita yang bebas dari mafia. Ini kan luar biasa sekali. Artinya, ketaatan beribadah ternyata tidak berdampak pada perilaku kita. Kesalehan individu tidak berimbas pada kesalehan spiritual. Padahal inti spiritualitas itu sederhana sekali. Spiritualitas adalah mengenai bagaimana menjadi orang baik. Sangat sederhana bukan?
AH: Sebagian orang ateis juga bisa sangat mendalam membicarakan spiritualitas maupun ketuhanan, misalnya Andre Comte-Sponville dan Friedrich Nietzsche. Apa komentar Anda mengenai hal itu? Spiritualitas seperti apa yang mereka bicarakan? Adakah spiritualitas yang dibicarakan orang ateis itu sama atau berbeda dengan maksud orang beragama?
AP: Menurut hemat saya orang yang ateis itu sesungguhnya adalah orang yang melakukan pemberontakan terhadap organized religion. Penyebabnya bisa banyak hal, misalnya karena keinginan untuk hidup bebas dan tidak terikat. Bukankah agama seringkali (dipersepsikan) membatasi kemampuan berpikir manusia? Bukankah agama seringkali (dipersepsikan) menjejali manusia dengan segala macam dogma yang tidak masuk akal? Jadi pada diri orang yang ateis itu sesungguhnya ada pemberontakan terhadap kemapanan yang diwakili oleh agama, ada benturan antara keinginan untuk berpikir bebas dengan keharusan untuk patuh pada keyakinan dan nilai-nilai tertentu.
Namun jauh di lubuk hati mereka yang paling dalam sesungguhnya mereka percaya kepada Tuhan, paling tidak Tuhan dalam definisi mereka sendiri. Orang-orang seperti Andre Comte-Sponville misalnya, mengatakan bahwa manusia terdiri dari jasmani dan rohani. Nah, menyebutkan "rohani" saja sesungguhnya sudah menunjukkan indikasi bahwa dia percaya pada sesuatu yang tidak terlihat. Ini sesungguhnya sudah merupakan sedikit indikasi bahwa ia curiga bahwa Tuhan itu ada.
AH: Andre Comte-Sponville mengajukan argumen bahwa spiritualitas bisa dilakukan (dimaknai oleh orang) tanpa Tuhan. Apa komentar Anda?
AP: Memang benar bahwa spiritualitas bisa dimaknai tanpa Tuhan. Inti spiritualitas kan adalah menjadi orang yang baik. Dalam konteks bisnis, spiritualitas berarti melayani orang lain dengan sepenuh hati, dengan segenap jiwa dan raga. Ini tentu saja dapat dilakukan tanpa dikaitkan dengan Tuhan. Namun tanpa dikaitkan dengan Tuhan spiritualitas tidak akan maksimal dan tidak akan sempurna. Kenapa demikian? Karena sesungguhnya dasar dari segala kebaikan itu adalah Tuhan. Tuhan adalah asal muasalnya segala bentuk kebaikan. Bahkan kenapa kita harus melayani orang lain (dengan melakukan pekerjaan) sesungguhnya adalah karena kita meneruskan pelayanan yang diberikan Tuhan kepada kita secara gratis. Tuhan sudah melayani dengan memberikan kehidupan yang begitu indah dan luar biasa kepada kita. Pelayanan ini sulit untuk kita balas karena Tuhan tidak membutuhkan balasan apa pun dari kita. Bukankah dia Yang Maha Kaya? Jadi cara kita membalas pelayanan Tuhan adalah dengan cara melayani sesama manusia. Inilah yang dilakukan orang di dalam bisnis.
Nah, orang yang melakukan spiritualitas tanpa mengaitkannya dengan Tuhan tidak bisa melihat fenomena ini secara keseluruhan. Paradigmanya kurang lengkap, kurang paripurna. Ibaratnya dia hanya melihat perjalanan hidup ini dari A sampai M, bukan sampai Z.
AH: Menurut Anda, dengan cara apa manusia bisa berhubungan secara ideal dengan Tuhan? Apa lewat doa, menaati perintah Tuhan, atau memeluk agama?
AP: Tentu saja dengan beribadah sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya. Tanpa menjalankan ibadah sesuai ajaran agama saya kira manusia tidak akan bisa berhubungan secara ideal dengan Tuhan.
Agama sesungguhnya mengandung dua unsur: Religiositas dan Spiritualitas. Religiositas menurut saya lebih pada tata cara untuk berhubungan dengan Tuhan, sementara Spiritualitas adalah pada "pertemuan" dengan Tuhan itu sendiri. Jadi inti dan hakikat setiap agama sesungguhnya adalah Spiriritualitas yaitu bagaimana berhubungan dan berkomunikasi langsung dengan Tuhan.
Banyak orang yang melakukan ibadah sesuai dengan ajaran agamanya tapi tetap saja gagal "menjumpai" Tuhan. Mereka rajin beribadah tapi tidak pernah memahami apa maksudnya. Mereka sesungguhnya sedang menjalankan aktivitas ritual yang tidak bermakna lebih selain hanya sebagai menjalankan kewajiban. Mereka hanya takut pada Tuhan di rumah ibadah. Tapi begitu ke luar dari rumah ibadah mereka memasabodohkan Tuhan, menganggap Tuhan itu tidak ada dan tidak hadir dalam kehidupan mereka. Inilah orang yang religius tapi tidak spiritual.
Di lain pihak ada orang yang spiritual tapi tidak religius. Orang ini percaya pada Tuhan tapi tidak menganut ajaran agama apa pun. Mereka ini akan sulit berhubungan dengan Tuhan karena bagaimanapun kita membutuhkan cara dan sarana agar dapat berkomunikasi secara intensif dengan Tuhan. Cara inilah yang diatur oleh ajaran agama.
AH: Ini soal penggunaan istilah asing. Seorang pembaca menanggapi You Are Not Alone sebagai berikut: "Sayang, mirip Rhenald Kasali dan Hermawan Kartajaya, Arvan tidak mengajarkan pembacanya mencintai bahasa Indonesia. Semua judul bukunya berbahasa Inggris. Padahal sang penulis mengajarkan tentang cinta. Kenapa kita enggak pakai judul bahasa Indonesia saja? Misal, "Kita tak sendiri". Atau "7 kaidah kebahagiaan". Saya agak iritasi membaca buku bahasa Indonesia, dikarang oleh orang Indonesia, ditujukan untuk pembaca orang indonesia, tapi bahasanya asing, entah itu Arab, Inggris, atau Belanda." Ini seakan-akan menunjukkan bahwa penulis seperti Anda tidak cinta bahasa Indonesia. Bagaimana komentar Anda?
AP: Menurut saya penggunaan judul buku dengan menggunakan bahasa asing bukanlah persoalan cinta. Ini persoalan efektivitas. Setiap bahasa memiliki nilai rasa yang berbeda. Saya pernah membaca bahwa bahasa Arab memiliki nuansa dan nilai spiritual yang tinggi. Sementara bahasa Inggris lebih solid dalam menyampaikan suatu konsep. Jadi sebuah konsep yang diungkapkan dalam bahasa Inggris akan terdengar lebih padat, compact dan bermakna. Coba saja Anda lihat buku-buku saya. Coba Anda rasakan, mana yang lebih solid: Andalah Sang Pemimpin atau You Are A Leader? Menghargai Setiap Saat atau Cherish Every Moment? 7 Kaidah Kebahagiaan atau The 7 Laws of Happiness. Ini sekali lagi adalah masalah rasa bahasa.
Akan halnya You Are Not Alone, menurut saya bukan hanya masalah rasa bahasa, tetapi juga berkaitan dengan maknanya. Dalam bahasa Indonesia mungkin kita menerjemahkannya dengan "Anda Tidak Sendiri". Kata "sendiri" dalam bahasa Indonesia bermakna seorang diri, padahal kata "alone" tidak bermakna seorang diri tapi bisa juga berdua, bertiga, maupun dengan banyak orang.
Maksud saya begini, orang yang berselingkuh itu kan ketika sedang berselingkuh pasti berdua, tidak mungkin sendiri. Orang yang korupsi itu juga kan tidak mungkin sendirian, tapi berjamaah. Padahal pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa orang-orang yang selingkuh atau korupsi itu menyangka diri mereka tidak dilihat oleh Tuhan (bukan berarti bahwa mereka sedang sendirian, tapi bahwa mereka sedang jauh dari Tuhan). Karena itu kalimat yang lebih pas untuk menunjukkan hal ini adalah "You Are Not Alone", bukan "Anda Tidak Sendirian".
AH: Sebagian pembaca berhati-hati bahwa spiritualitas dikhawatirkan bisa mencampuradukkan atau mengotori keyakinan (iman) terhadap agama. Bagaimana membedakan agama dan spiritualitas? Bagaimana cara You Are Not Alone bisa memberi manfaat mengenai kebertuhanan yang hakiki?
AP: Berhati-hati tentu baik-baik saja. Yang tidak baik itu curiga, karena dalam curiga itu ada berbagai prasangka. Banyak orang menyalahpahami spiritualitas karena tidak memahami apa artinya. Seolah-olah spiritualitas adalah ajaran tanpa agama. Padahal sesungguhnya inti dari setiap ajaran agama itu adalah spiritualitas. Tidak ada agama tanpa spiritualitas. Apa itu spiritualitas? Bagi saya spiritualitas itu adalah rasa terhubung (sense of connection) dengan Tuhan. Masalahnya ada banyak orang yang setelah menjalankan ritual keagamaan masih merasa jauh dengan Tuhan. Indikasinya adalah ketika mereka masih melakukan berbagai kemaksiatan walaupun mereka rajin beribadah, seolah-olah ibadah yang mereka lakukan itu tidak ada bekasnya sama sekali dalam keseharian mereka.
Jadi agama itu selalu berkaitan dengan ajaran dan aktivitas ritual sementara spiritualitas itu adalah keterhubungan dengan Tuhan. Nah, pesan utama dan terpenting yang saya sampaikan dalam You Are Not Alone adalah sebagai manusia kita mempunyai kebutuhan untuk selalu dekat dan terhubung dengan Tuhan. Kita harus menyadari bahwa Tuhan bukanlah sosok yang jauh, yang ada diluar angkasa sana. Tuhan justru ada di dekat kita bahkan lebih dekat dari urat leher kita sendiri. Kalau kita menyadari hal ini maka kita akan selalu optimis, tak pernah merasa sendiri, dan tidak akan melakukan perbuatan yang tercela.
AH: Sejauh pengamatan Anda, adakah komentar negatif terhadap You Are Not Alone? Apa tanggapan mas Arvan terhadap review seperti itu?
AP: Sejauh ini tanggapan terhadap You Are Not Alone sangat positif. Beberapa perusahaan bahkan memesan buku ini dalam jumlah banyak untuk dibagikan kepada para karyawannya. Saya juga banyak mendapatkan tanggapan dari berbagai orang yang merasa tercerahkan setelah membaca buku ini.
Saya juga mendapatkan apresiasi dari teman-teman dari berbagai ajaran agama. Ini merupakan bukti bahwa Tuhan adalah sesuatu yang universal. Tuhan ada dalam diri setiap manusia. Orang bisa saja memanggil Tuhan dengan nama yang berbeda, tapi Tuhan yang dimaksud ya Dia Dia juga. Dialah Tuhan Yang Satu. Tuhan Yang Maha Kuasa.
AH: Terakhir: apa harapan utama Anda atas terbitnya You Are Not Alone?
AP: Saya berharap buku ini dapat mengubah paradigma masyarakat Indonesia tentang Tuhan. Tuhan itu dekat, bukan jauh. Tuhan ada di mana-mana, bukan hanya di tempat ibadah. Tuhan ada di kantor, di pabrik, di bursa, di instansi pemerintah, di pengadilan, di kejaksaan, di kepolisian, di mana saja kita berada.[]
Anwar Holid, penulis buku Keep Your Hand Moving (GPU, 2010).
KONTAK: wartax@yahoo.com | http://halamanganjil.blogspot.com
Situs terkait:
http://www.ilm.co.id
http://www.elexmedia.co.id/buku/detail/9789792779189
Copyright © 2010 Anwar Holid
Wednesday, February 23, 2011
[Feature Profil]
Arvan Pradiansyah: Belajar dari Nenek
Yang Menangis Tiap Hari
---Wayan Diananto
Awal pekan Januari 2011 di Purwakarta, di sebuah kelas intensif dengan peserta dua puluh orang. Seorang pembicara mengetengahkan topik rasa syukur. Dalam sebuah jeda, seorang peserta kelas berbicara tentang pahitnya kehilangan.
“Selama ini saya bermasalah dengan ayah. Sudah bertahun-tahun tidak menemuinya. Hari itu saya ingin menemuinya. Saya merasa ada sesuatu yang keliru dan harus segera diperbaiki. Pada saat niat itu muncul, saya menuju ke kediamannya. Saya memang bertemu ayah, tapi matanya terpejam. Dan tidak pernah bisa terbuka lagi. Saya menyesal. Saya tidak tahu seberapa besar nilai seorang ayah dalam kehidupan sampai kehilangan selamanya. Nyatanya, saya tidak pernah mensyukuri keberadaan ayah,” ujar si peserta. Rasa sesal menggores begitu dalam.
Nenek Yang Menangis Tiap Hari
Begitulah hidup. Manusia bercengkerama dengan dua hal bertentangan. Sedih dan bahagia. Menurut sang pembicara kelas itu, bahagia sebenarnya soal bagaimana sudut pandang kita memandang hidup. Perkenalkan, nama pembicara ulung itu ialah Arvan Pradiansyah. “Bahagia berhubungan dengan cara kita melihat dunia,” ujar Arvan di Sarinah Jakarta, Rabu (26/1).
Selanjutnya, Arvan menyampaikan ilustrasi menyentuh. Kisah seorang nenek dan dua anaknya. Setiap hari nenek itu menangis. Tetangga yang melihat nenek itu menangis jadi bertanya-tanya, seberat apakah beban yang disandang wanita renta ini?
“Nek, kenapa sih tiap hari menangis?” tetangga bertanya.
“Saya punya dua anak. Yang lelaki pekerjaannya jualan es. Yang perempuan jualan payung. Kalau musim cerah begini, saya menangisi anak perempuan karena dagangannya enggak laku. Kalau musim hujan, saya menangis memikirkan anak saya laki-laki. Es buatannya sepi pembeli,” keluhnya.
“Nek, begini saja deh. Gimana kalau cara berpikirnya di balik. Siang nanti, kalau matahari terik, pikirkan anak Nenek yang jualan es. Pasti Nenek senang karena dagangannya laris manis. Kalau siang nanti ternyata hujan deras, pikirkan saja anak nenek yang jualan payung. Pasti hidup Nenek bahagia,” si tetangga sodorkan solusi.
Ya, sebetulnya kebahagiaan itu bisa didapat bukan dengan mengubah apa yang ada di sekitar kita. Semua dimulai dengan mengubah sudut pandang kita. Yang patut dipahami, masalah hidup tidak akan pernah habis. Satu masalah rampung, masalah lain menyongsong. Sejatinya, masalah adalah salah satu ciri kehidupan. Yang namanya hidup, suka atau tidak suka, pasti ada masalah. Pasti.
Growing Up dan Growing Old
“Kita patut bersyukur saat masalah melanda, berarti kita masih hidup. Hanya, pastikan masalah yang menimpa kita berbeda. Jangan sampai dari tahun ke tahun masalahnya sama. Itu-itu melulu,” Arvan menyambung obrolan. Jika menghadapi masalah yang sama terus, kita tidak akan bertumbuh. Misalnya begini, masalah Anda tahun lalu ialah putus cinta.
Merasakan putus cinta jauh lebih bagus ketimbang tak pernah putus cinta sama sekali. Artinya, pernah ada seseorang yang begitu mencintai Anda. Problemnya, tahun depan jangan sampai terjebak masalah yang sama, dengan orang yang sama. Tahun depan, bisa jadi masalah Anda bukan lagi putus cinta dengan si A. Melainkan deg-degan karena mempersiapkan pernikahan dengan si B. Atau, masih putus cinta sih tapi bukan lagi dengan si A, melainkan si C. Jangan terpaku dan terlarut dengan masalah yang sama, menahun.
“Ketika seseorang menghadapi masalah berbeda dari waktu ke waktu, itu disebut pengalaman. Itulah proses growing up, yang mendewasakan. Ketika Anda berlama-lama dengan satu masalah yang sama, itu disebut penglamaan. Itulah growing old, penuaan. Menjadi tua belum tentu menjadi dewasa,” ulas penulis buku Life Is Beautiful. Menyelesaikan satu masalah bukanlah perkara mudah. Diperlukan upaya keras, bahkan mungkin menahun. Saat tahun berganti, bisa jadi masalah yang belum selesai itu dijalin dengan problem berikutnya.
Menanti Delapan Tahun
Arvan membagikan sebuah pengalaman untuk kita. Semasa kecil, alumnus Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia ini gemar pelajaran mengarang. Dengan menuliskan isi otaknya yang penuh ide, bisa dituang, lalu dibagi ke calon pembaca. Beranjak dewasa, Arvan memberanikan diri menulis ke beberapa surat kabar dan majalah nasional.
“Tulisan saya dikembalikan. Alasannya, terlalu panjang. Lalu saya mencoba menulis efektif. Itu pun dikembalikan. Alasan redaksi, terlalu pendek. Seketika itu, semangat menulis anjlok. Beberapa tahun kemudian, saya mencoba lagi dan masih ditolak. Saya ngambek. Buat apa menulis lagi lha wong berkali-kali ditolak?” pikir Arvan kala itu. Ia mulai menulis pada 1990. Akhirnya, artikel Arvan terbit di sebuah majalah pada 1998. Bayangkan, delapan tahun ditolak.
“Saya berpikir, kalau berhenti mencoba, kita tidak pernah tahu apa yang terjadi selanjutnya. Akhirnya, saya coba lagi. Di situlah tunas harapan bertumbuh. Untuk kali pertama dalam hidup, tulisan saya dimuat di majalah ekonomi. Bangganya bukan main. Saya membawa majalah itu ke mana-mana. Sampai bertemu mertua pun, majalah itu saya bawa,” kenangnya.
Seandainya Arvan menyerah pada tahun kelima, keberhasilan tidak akan pernah dijemputnya. Keberhasilan datang kepada mereka yang terus dan terus berusaha. Kita tidak akan pernah mencapai apa yang kita inginkan, jika berhenti berusaha. Ketika kita berhenti berusaha, Tuhan juga akan berhenti bekerja bersama, menyokong kita. Itulah prinsip hidup Arvan.
Tulisan di kolom majalah di pengujung pemerintahan Presiden Soeharto itu membentangkan karpet merah. Dari tangan dan penanya, tergores puluhan ribu kata. Ribuan kalimat. Dan diabadikan dalam banyak artikel serta buku. Buku pertama yang dirilis ialah You Are A Leader. Menyusul kemudian Life Is Beautiful, Cherish Every Moment, The 7 Laws Of Happiness, dan You Are Not Alone.
Arvan juga dikenal sebagai kolumnis di dua media ternama, majalah SWA dan Bisnis Indonesia. Dia memberi pelatihan untuk puluhan bank, perusahaan minyak, asuransi, dan berbagai perusahaan lain. Suaranya menggema dalam talk show Smart Happiness, disiarkan sebuah jaringan radio ke dua puluh lima kota besar di penjuru Nusantara. Memasuki Februari 2011, Arvan akan mengisi rubrik konsultasi bertema “Life is Beautiful” di tabloid Bintang Indonesia.
Jika Anda memiliki masalah hidup, Anda bisa berbagi dengan Arvan. Layangkan surat maupun email Anda ke alamat pos redaksi atau email Bintang Indonesia. “Ketika Anda berbagi problem, dan saya berbagi alternatif pemecahan. Anda belajar dari saya, dan saya belajar dari masalah Anda. Saling belajar, itu salah satu hal termanis dalam hidup. Ibadah yang menyenangkan,” pungkas Arvan.[]
Profil ini awalnya dipublikasi tabloid Bintang Indonesia edisi 1028/tahun XX/minggu kelima Januari 2011.
http://www.ilm.co.id
Arvan Pradiansyah: Belajar dari Nenek
Yang Menangis Tiap Hari
---Wayan Diananto
Awal pekan Januari 2011 di Purwakarta, di sebuah kelas intensif dengan peserta dua puluh orang. Seorang pembicara mengetengahkan topik rasa syukur. Dalam sebuah jeda, seorang peserta kelas berbicara tentang pahitnya kehilangan.
“Selama ini saya bermasalah dengan ayah. Sudah bertahun-tahun tidak menemuinya. Hari itu saya ingin menemuinya. Saya merasa ada sesuatu yang keliru dan harus segera diperbaiki. Pada saat niat itu muncul, saya menuju ke kediamannya. Saya memang bertemu ayah, tapi matanya terpejam. Dan tidak pernah bisa terbuka lagi. Saya menyesal. Saya tidak tahu seberapa besar nilai seorang ayah dalam kehidupan sampai kehilangan selamanya. Nyatanya, saya tidak pernah mensyukuri keberadaan ayah,” ujar si peserta. Rasa sesal menggores begitu dalam.
Nenek Yang Menangis Tiap Hari
Begitulah hidup. Manusia bercengkerama dengan dua hal bertentangan. Sedih dan bahagia. Menurut sang pembicara kelas itu, bahagia sebenarnya soal bagaimana sudut pandang kita memandang hidup. Perkenalkan, nama pembicara ulung itu ialah Arvan Pradiansyah. “Bahagia berhubungan dengan cara kita melihat dunia,” ujar Arvan di Sarinah Jakarta, Rabu (26/1).
Selanjutnya, Arvan menyampaikan ilustrasi menyentuh. Kisah seorang nenek dan dua anaknya. Setiap hari nenek itu menangis. Tetangga yang melihat nenek itu menangis jadi bertanya-tanya, seberat apakah beban yang disandang wanita renta ini?
“Nek, kenapa sih tiap hari menangis?” tetangga bertanya.
“Saya punya dua anak. Yang lelaki pekerjaannya jualan es. Yang perempuan jualan payung. Kalau musim cerah begini, saya menangisi anak perempuan karena dagangannya enggak laku. Kalau musim hujan, saya menangis memikirkan anak saya laki-laki. Es buatannya sepi pembeli,” keluhnya.
“Nek, begini saja deh. Gimana kalau cara berpikirnya di balik. Siang nanti, kalau matahari terik, pikirkan anak Nenek yang jualan es. Pasti Nenek senang karena dagangannya laris manis. Kalau siang nanti ternyata hujan deras, pikirkan saja anak nenek yang jualan payung. Pasti hidup Nenek bahagia,” si tetangga sodorkan solusi.
Ya, sebetulnya kebahagiaan itu bisa didapat bukan dengan mengubah apa yang ada di sekitar kita. Semua dimulai dengan mengubah sudut pandang kita. Yang patut dipahami, masalah hidup tidak akan pernah habis. Satu masalah rampung, masalah lain menyongsong. Sejatinya, masalah adalah salah satu ciri kehidupan. Yang namanya hidup, suka atau tidak suka, pasti ada masalah. Pasti.
![]() |
| Arvan Pradiansyah. Foto: Hono Mustanto |
Growing Up dan Growing Old
“Kita patut bersyukur saat masalah melanda, berarti kita masih hidup. Hanya, pastikan masalah yang menimpa kita berbeda. Jangan sampai dari tahun ke tahun masalahnya sama. Itu-itu melulu,” Arvan menyambung obrolan. Jika menghadapi masalah yang sama terus, kita tidak akan bertumbuh. Misalnya begini, masalah Anda tahun lalu ialah putus cinta.
Merasakan putus cinta jauh lebih bagus ketimbang tak pernah putus cinta sama sekali. Artinya, pernah ada seseorang yang begitu mencintai Anda. Problemnya, tahun depan jangan sampai terjebak masalah yang sama, dengan orang yang sama. Tahun depan, bisa jadi masalah Anda bukan lagi putus cinta dengan si A. Melainkan deg-degan karena mempersiapkan pernikahan dengan si B. Atau, masih putus cinta sih tapi bukan lagi dengan si A, melainkan si C. Jangan terpaku dan terlarut dengan masalah yang sama, menahun.
“Ketika seseorang menghadapi masalah berbeda dari waktu ke waktu, itu disebut pengalaman. Itulah proses growing up, yang mendewasakan. Ketika Anda berlama-lama dengan satu masalah yang sama, itu disebut penglamaan. Itulah growing old, penuaan. Menjadi tua belum tentu menjadi dewasa,” ulas penulis buku Life Is Beautiful. Menyelesaikan satu masalah bukanlah perkara mudah. Diperlukan upaya keras, bahkan mungkin menahun. Saat tahun berganti, bisa jadi masalah yang belum selesai itu dijalin dengan problem berikutnya.
Menanti Delapan Tahun
Arvan membagikan sebuah pengalaman untuk kita. Semasa kecil, alumnus Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia ini gemar pelajaran mengarang. Dengan menuliskan isi otaknya yang penuh ide, bisa dituang, lalu dibagi ke calon pembaca. Beranjak dewasa, Arvan memberanikan diri menulis ke beberapa surat kabar dan majalah nasional.
“Tulisan saya dikembalikan. Alasannya, terlalu panjang. Lalu saya mencoba menulis efektif. Itu pun dikembalikan. Alasan redaksi, terlalu pendek. Seketika itu, semangat menulis anjlok. Beberapa tahun kemudian, saya mencoba lagi dan masih ditolak. Saya ngambek. Buat apa menulis lagi lha wong berkali-kali ditolak?” pikir Arvan kala itu. Ia mulai menulis pada 1990. Akhirnya, artikel Arvan terbit di sebuah majalah pada 1998. Bayangkan, delapan tahun ditolak.
“Saya berpikir, kalau berhenti mencoba, kita tidak pernah tahu apa yang terjadi selanjutnya. Akhirnya, saya coba lagi. Di situlah tunas harapan bertumbuh. Untuk kali pertama dalam hidup, tulisan saya dimuat di majalah ekonomi. Bangganya bukan main. Saya membawa majalah itu ke mana-mana. Sampai bertemu mertua pun, majalah itu saya bawa,” kenangnya.
Seandainya Arvan menyerah pada tahun kelima, keberhasilan tidak akan pernah dijemputnya. Keberhasilan datang kepada mereka yang terus dan terus berusaha. Kita tidak akan pernah mencapai apa yang kita inginkan, jika berhenti berusaha. Ketika kita berhenti berusaha, Tuhan juga akan berhenti bekerja bersama, menyokong kita. Itulah prinsip hidup Arvan.
Tulisan di kolom majalah di pengujung pemerintahan Presiden Soeharto itu membentangkan karpet merah. Dari tangan dan penanya, tergores puluhan ribu kata. Ribuan kalimat. Dan diabadikan dalam banyak artikel serta buku. Buku pertama yang dirilis ialah You Are A Leader. Menyusul kemudian Life Is Beautiful, Cherish Every Moment, The 7 Laws Of Happiness, dan You Are Not Alone.
Arvan juga dikenal sebagai kolumnis di dua media ternama, majalah SWA dan Bisnis Indonesia. Dia memberi pelatihan untuk puluhan bank, perusahaan minyak, asuransi, dan berbagai perusahaan lain. Suaranya menggema dalam talk show Smart Happiness, disiarkan sebuah jaringan radio ke dua puluh lima kota besar di penjuru Nusantara. Memasuki Februari 2011, Arvan akan mengisi rubrik konsultasi bertema “Life is Beautiful” di tabloid Bintang Indonesia.
Jika Anda memiliki masalah hidup, Anda bisa berbagi dengan Arvan. Layangkan surat maupun email Anda ke alamat pos redaksi atau email Bintang Indonesia. “Ketika Anda berbagi problem, dan saya berbagi alternatif pemecahan. Anda belajar dari saya, dan saya belajar dari masalah Anda. Saling belajar, itu salah satu hal termanis dalam hidup. Ibadah yang menyenangkan,” pungkas Arvan.[]
Profil ini awalnya dipublikasi tabloid Bintang Indonesia edisi 1028/tahun XX/minggu kelima Januari 2011.
Untuk konsultasi dengan dengan Arvan Pradiansyah, kontak email:
redaksi@bintang.co.id, tabloidbintangindonesia@gmail.com
Situs terkait:
http://www.bintang.co.idhttp://www.ilm.co.id
Wednesday, February 02, 2011
[RESENSI]Menanam Benih-Benih Kebahagiaan
---Anwar Holid
You Are Not Alone: 30 Renungan tentang Tuhan dan Kebahagiaan
Penulis: Arvan Pradiansyah
Penerbit: Elex Media Komputindo, 2010
Halaman: 252 hal., soft cover
ISBN: 978-979-27-7918-9
Harga: Rp.52.800,-
SPIRITUALITAS kerap menjadi subjek yang pelik, sulit dijelajahi, dan cenderung abstrak. Sebagian orang dengan mudah menyangka bahwa spiritualitas identik dengan religiositas (keberagamaan), sebab dua hal itu memang kerap bersinggungan, meskipun berbeda secara esensial, sampai muncul istilah "spiritual tapi bukan religius." Agama formal manapun pasti ditolak oleh penganut ateis, tapi belum tentu spiritualitas. Sudah kerap terbukti betapa sejumlah penganut ateis bisa membahas spiritualitas di luar prakiraan banyak orang, misalnya Andre Comte-Sponville. Dalam buku The Little Book of Philosophy (2005), Comte-Sponville secara sengit menyatakan: "Kita tidak tahu apa Tuhan itu ada. Itu sebabnya kita harus bertanya apa kita akan percaya atau tidak."
Arvan Pradiansyah membantah pendapat itu dengan tandas. Di dalam buku terbarunya, You Are Not Alone yang terbit di pengujung 2010, dia berpendapat: kaum ateis gagal menemukan Tuhan seperti halnya para pencuri gagal menemukan polisi. Persoalannya ada di dalam mental. Arvan menegaskan: "Tuhan hanya dapat didekati dalam tataran spiritual." Itu sebabnya dia yakin hanya orang yang cerdas secara spiritual yang memiliki kesadaran bahwa Tuhan senantiasa melihat, memperhatikan, mencintai, memelihara, dan menjaga makhluk-Nya (hal. 11). Keyakinan ini senapas dengan pendapat Ludwig Wittgenstein---salah satu filosof paling berpengaruh di abad ke-20---yang yakin betapa "kita beriman kepada Tuhan untuk menyadari bahwa hidup punya makna." Persis seperti itulah semangat yang muncul dari buku ini.
Arvan membangun basis teoretik mengenai Tuhan dan spiritualitas di buku sebelumnya, The 7 Laws of Happiness (2008), khususnya di puncak hukum kebahagiaan, yaitu Relasi Spiritual berupa berserah diri kepada Tuhan. Dia menyatakan: kita akan bahagia bila punya koneksi yang tak terbatas dengan Tuhan (hal. 137). Di buku terbaru ini dia langsung memberi ilustrasi betapa spiritualitas bisa terwujud dalam berbagai hal, dan secara khusus berusaha mengaitkan bahwa spiritualitas korelatif dengan kebahagiaan. Bila manusia penuh kesadaran akan Tuhan seperti itu, dirinya akan memperoleh kebahagiaan ultima dalam perjalanan kehidupannya.
Spiritualitas menjadi prasyarat untuk merasakan kehadiran Tuhan maupun demi meraih kebahagiaan. Kebahagiaan kerap dianggap sebagai sesuatu yang kualitatif, meski faktor-faktornya bisa diukur secara fisikal. Misal soal kepemilikan. Survey Gallup terbaru (Juli 2010) menyatakan mayoritas orang kaya lebih bahagia daripada orang miskin, lepas dari mana kekayaan itu didapat. Peneliti menyatakan: Studi kami pada orang-orang terkaya memperlihatkan bahwa di sana hanya ada sedikit saja orang yang sangat tidak bahagia. Beruntung, studi itu masih menguatkan anggapan umum bahwa pada dasarnya kebahagiaan tidak bergantung pada materi.
Arvan Pradiansyah menyatakan bahwa kebahagiaan tidak dijual. Ia masih berupa benih yang harus ditanam. Benih-benih itu mengandung beragam unsur penghasil kebahagiaan, yaitu kesabaran, keikhlasan, rasa syukur, kasih sayang, kejujuran, rela memaafkan, dan berserah diri. Hanya orang yang mampu memelihara dan menumbuhkan benih dengan baik yang akhirnya memanen kebahagiaan dengan kualitas terbaik.
ARVAN mengaku bahwa gagasan menulis You Are Not Alone dipicu niat memprovokasi pikiran orang agar berubah. Dia prihatin dengan fakta bahwa di Indonesia yang dari permukaan tampak religius ini masyarakatnya justru kerap kehilangan kendali, mudah terbakar amarahnya, dan lebih buruk lagi merupakan sarang koruptor. Provokasi itu melahirkan definisi ulang yang berani mengenai agama dan spiritualitas. Arvan menyatakan percaya pada Tuhan tidak sama dengan beriman, sebab buktinya ada banyak orang mengaku percaya pada Tuhan tapi perilakunya justru kontradiktif dengan keimanan, misal berbuat jahat. Orang-orang yang melakukan kejahatan itu justru pantas disebut kafir---sebuah pendapat yang sekarang didukung oleh organisasi-organisasi besar agama di Indonesia.
You Are Not Alone berisi tiga puluh keping renungan dibumbui komentar dan pemahaman mendalam mengenai Tuhan dan kebahagiaan. Arvan mengawali setiap bab bukunya melalui kisah dengan subjek-subjek cukup kontroversial, misal betapa religius saja belum cukup, pilih mana: orang beragama atau orang baik?, agama merupakan keharusan atau kebutuhan?, buat apa kita mengharapkan surga, juga pertanyaan esensial yang membungkus seluruh isi buku ini: apa beda mendasar antara agama dan spiritualitas? Apa yang ditawarkan spiritualitas untuk manusia dan kehidupan di zaman kini?
Namun berbeda dengan tipikal buku agama formal, Tuhan yang dibicarakan dalam buku itu tidak mengacu pada agama tertentu, melainkan Tuhan sebagaimana dipahami orang secara universal---yaitu Tuhan semesta alam. Maka bertebaranlah khazanah spiritualitas dari beragam sumber, mulai kisah dari agama-agama di dunia, perlambang, kajian mengenai spiritualitas kontemporer, kritik terhadap praktik beragama yang intoleran, termasuk pendapat berani terhadap kecerdasan spiritual.
Buku ini memperlihatkan besarnya perhatian Arvan Pradiansyah sebagai ahli SDM yang lebih mengutamakan moral dan etika daripada agresivitas individu maupun organisasi. Dia melecut pembaca untuk menemukan esensi spiritualitas dan kebahagiaan melalui kesadaran yang terus-menerus dilatih. Kesadaran akan adanya Tuhan, nilai spiritualitas, juga keinginan mencapai kehidupan yang lebih bermakna merupakan bukti bahwa manusia itu memang memiliki kecenderungan mulia.[]
Anwar Holid, penulis buku Keep Your Hand Moving (GPU, 2010).
KONTAK: wartax@yahoo.com | http://halamanganjil.blogspot.com
Resensi ini awalnya terbit di Media Indonesia pada Sabtu, 22 Januari 2011.
Copyright © 2010 Anwar Holid
Tuesday, December 28, 2010
[RESENSI]
Spiritualitas, Esensi Beragama
---M. Iqbal Dawami
Seputar Indonesia, Sabtu, 25 Desember 2010
KETIKA manusia mengalami peristiwa dahsyat yang bakal merenggut nyawanya,seketika itu pula dia membutuhkan kekuatan di luar dirinya,yaitu Tuhan, yang bisa menyelamatkannya.
"Benar gak sih masih ada Tuhan dalam diri kita? Coba Anda tes dengan mengunjungi Gunung Merapi...Pasti Ada Tuhan!" Begitu bunyi status Facebook seorang teman saat kejadian erupsi Gunung Merapi yang memakan korban jiwa. Status tersebut mengindikasikan ketika seseorang dihadapkan pada musibah, biasanya manusia sadar bahwa mereka membutuhkan pertolongan Tuhan. Stalin, seorang tokoh komunis Rusia, secara tidak langsung mengakui juga adanya Tuhan. Arvan Pradiansyah dalam buku You Are Not Alone mengisahkannya. Waktu itu Stalin bersama rombongannya tengah berada di dalam pesawat, tiba-tiba pesawatnya mengalami kerusakan parah tepat di atas pegunungan.
Tak ayal, Stalin merasakan ketakutan yang luar biasa dan secara spontan dia berkata, "Tuhan, tolonglah aku!" Kisah Stalin itu menandakan bahwa di dalam bawah sadar seorang ateis sekalipun terdapat kesadaran mengenai keberadaan Tuhan. Peristiwa dahsyat yang merenggut nyawa bisa menghentakkan kesadaran manusia akan keberadaan dan kekuatan Tuhan.
Lewat buku ini Arvan memberikan pesan bahwa manusia senantiasa diperhatikan Tuhan.Tuhan selalu ada dalam kancah kehidupan manusia. Kehadiran Tuhan itu terejawantahkan lewat agama. Hanya saja kemudian Arvan merenungkan, mengapa sebagian manusia beragama yang notabene memercayai adanya Tuhan tidak kunjung berkelakuan baik?
Mengapa agama seolah tidak berhasil membuat penganutnya menjadi orang yang baik? Mengapa Indonesia yang dikenal sangat religius sekaligus juga dikenal sebagai negeri terkorup di dunia? Mengapa kita juga memperoleh predikat nomor dua untuk pornografi dan nomor tiga untuk masalah narkoba?
___________________________________________
DETAIL BUKU
You Are Not Alone: 30 Renungan tentang Tuhan dan KebahagiaanPenulis: Arvan Pradiansyah
Penerbit: Elex Media Komputindo, 2010
Halaman: 252 hal., soft cover
ISBN: 978-979-27-7918-9
Harga: Rp.52.800,-
___________________________________________
Agama Minus Spiritualitas
Arvan mencoba mencari akar penyebab perihal pertanyaan-pertanyaan di atas. Salah satu penyebabnya adalah manusia kerap kali beragama,tapi minus spiritualitas. Padahal, esensi beragama sejatinya adalah spiritualitas. Inti spiritualitas adalah bagaimana menjadi orang baik. Adapun landasan kecerdasan spiritualitas adalah kesadaran akan kehadiran Tuhan: dalam setiap situasi merasa selalu dilihat Tuhan dan merasakan kebersatuan dirinya dengan Tuhan [hal. 7-8]. Kesadaran spiritual di atas membuat Arvan yakin bahwa masalah yang terjadi dalam hidup kita bisa selesai dengan sendirinya.
Betapa tidak, ketika seseorang demikian dihadapkan pada persoalan, dia akan langsung ingat Tuhan. Jika melakukan perbuatan buruk, dia sadar bahwa dia akan mengecewakan Tuhannya yang senantiasa memperhatikannya dari waktu ke waktu. Sayangnya, kata Arvan, agama sering kali terpisah dari spiritualitas. Sembari mengutip pendapat John Naisbitt, Arvan mengatakan pada abad ke-21 ini agama semakin kurang diminati orang, sebaliknya orang semakin berminat terhadap spiritualitas. Minat ini tentu saja didorong kebutuhan untuk mengisi spiritualitas kita yang semakin lama semakin kering karena percepatan kehidupan. Di sinilah terletak masalahnya: agama semakin terpisah dari spiritualitas, padahal sebenarnya spiritualitas itulah inti dari keberagamaan seseorang [hal. 112].
Melalui buku ini Arvan mengajak pembaca untuk beragama secara spiritualitas. Spiritualitas merupakan kebutuhan manusia yang sangat mendesak sekarang ini. Kita butuh tempat yang kokoh untuk bersandar, sesuatu yang memberikan ketenangan, kepastian, dan ketenteraman yang sejati. Adapun efek dari beragama plus spiritualitas adalah rasa cintanya kepada sesama manusia. Manusia beragama seperti itu akan senantiasa menghadirkan Tuhan dalam kesehariannya seperti pada saat bekerja dan berinteraksi dengan orang lain. Tuhan selalu hadir dalam dirinya, dalam gerak langkahnya, dan dalam segala hal yang dilakukannya.
"Agama spiritualis" yang digagas Arvan ini sejatinya mirip dengan konsep tasawuf Ibnu Arabi, sufi-filsuf Andalusia, yaitu "tajalli." Kata "tajalli" berarti "penampakan diri Tuhan" yang bersifat absolut dalam bentuk alam yang bersifat terbatas. Dengan kata lain, Tuhan seolah-olah telah menyatu kepada orang yang telah mengalami mukasyafah (merasakan kehadiran Tuhan). Karakter dan kepribadian mereka dipenuhi sifat-sifat Tuhan, seperti mencintai, menyayangi, menolong, dan sebagainya. Tampaknya buku ini tepat sekali untuk menjadi obat dari tiga penyakit jiwa masyarakat modern, sebagaimana dikatakan Sayyid Hossein Nasr, yaitu kehilangan orientasi ilahiah, kehampaan spiritual, dan degradasi moral. Setiap pembahasan dalam buku ini dibuka dengan kisah-kisah yang segar, menarik, kadang berhumor, tapi sarat hikmah dan nilai-nilai kebajikan.
Bentuk kisahnya pun beraneka ragam dalam pelbagai macam gaya. Namun,semuanya menarik pembaca kepada renungan-renungan soal ketuhanan dan kebahagiaan. Terdapat kekuatan besar dari pelbagai kisahnya. Jika kita membaca buku ini dengan penuh penghayatan mendalam kemudian mengamalkan pesan-pesannya, kita akan mendapatkan perubahan pikiran dan perilaku yang positif. Buku ini sangat relevan dengan situasi yang ada sekarang.(*)
M. Iqbal Dawami, bergiat di Kere Hore Jungle Tracker Community (KHJTC) Yogyakarta.
Tuesday, November 09, 2010
Tenang,Tuhan Selalu di Sekitar Kita
---Anif Punto Utomo
Buku ini bukan bercerita tentang pencarian Tuhan, namun mengingatkan keberadaan Tuhan. Suatu ketika, Stalin bersama seluruh anggota politbiro terbang menuju salah satu negara bagian Uni Soviet. Ketika pesawat melintasi daerah pegunungan yang terkenal dengan jurang-jurang menganganya, mendadak pesawat mengalami gangguan. Pilot segera mengumumkan kerusakan tersebut dan meminta penumpang memasang sabuk pengaman. Kemungkinan selamat fifty-fifty.
Pesawat terguncang dengan keras. Seluruh penumpang panik. Tiba-tiba, di antara kepanikan penumpang itu terdengar teriakan spontan, "Tuhan, tolonglah aku." Semua kaget dan menoleh ke suara itu. Ternyata, teriakan minta tolong kepada Tuhan itu ke luar dari mulut Stalin, sang ateis dedengkot komunis Uni Soviet. Peristiwa itu membuktikan kesadaran bahwa Tuhan itu ada---sekalipun pada diri orang ateis.
Lantas, di manakah Tuhan? Seperti ditulis Arvan Pradiansyah dalam buku terbarunya, Tuhan ada di mana-mana. Tuhan bukanlah sosok yang jauh. Tuhan sangat dekat dengan kita, bahkan selalu memperhatikan kita. Tuhan selalu berada di sekitar kita. Tuhan juga tak pernah sekali pun mengabaikan dan meninggalkan kita. Dalam khazanah mengingatkan akan adanya Tuhan, dari budaya Jawa muncul istilah Gusti Allah ora sare. Artinya, Tuhan tidak pernah tidur. Karena itu Tuhan memang selalu ada, bukan hanya mengawasi, tapi juga mencatat apa yang kita perbuat.
____________________________________
DETAIL BUKU
You Are Not Alone: 30 Renungan tentang Tuhan dan Kebahagiaan
Penulis: Arvan Pradiansyah
Penerbit: Elex Media, 2010
Halaman: 252 hal., soft cover
ISBN: 978-979-27-7918-9
Kategori: Spiritualitas; Inspirasional; Pengembangan Diri
Harga: Rp.52.800,-
_____________________________________
Biasanya, manusia baru ingat Tuhan jika sedang terjadi musibah. Semakin besar musibah yang menimpa diri manusia, semakin kental ingatan akan Tuhan. Setiap saat nama Tuhan disebut. Sebaliknya, ketika sedang diuji dengan kegembiraan, nama Tuhan nyaris tidak pernah disebut. Ingatan akan Tuhan seolah masuk ke dalam laci dan terkunci rapat. Laci itu kelak akan dibuka ketika kegembiraan berganti dengan musibah.
Kehadiran Tuhan dirasakan Arvan ketika bersekolah di London, Inggris. Pada awal-awal kedatangannya, dia merasa kesepian. Sepi karena meninggalkan keluarga di tanah air, kawan dan sahabat, dan karena belum menemukan sahabat di kota itu. Di dalam suasana kesepian itulah kemudian dia merasakan lebih dekat dengan Tuhan. Baru tersadar bahwa di tengah kesepian di dunia ini Tuhan selalu hadir di dekat kita. Hati pun menjadi tenang. Pada dasarnya, menurut Arvan, kita tidak pernah sendirian. Karena itulah buku kelimanya ini diberi judul You Are Not Alone.
Dalam buku ini Arvan juga berani menyentuh masalah sensitif, yakni tentang orang beragama dan orang baik. Orang beragama belum tentu baik, begitu salah satu judul tulisannya. Bahasan ini sempat jadi perbincangan panas ketika dia mengangkatnya dalam siaran radio secara live. Topik ini memang sangat relevan, setidaknya kalau kita lihat fenomena yang terjadi di negeri kita sekarang ini. Ketika kehidupan beragama tampak begitu menonjol, perilaku melupakan Tuhan pun tak kalah meriah. Masjid dan gereja banyak didatangi umat, tetapi pub dan diskotek juga tak pernah sepi. Doa selalu dipanjatkan setelah shalat, tetapi korupsi jalan terus.
Situasi itu mencerminkan bahwa kesalehan spiritual tidak seiring dengan kesalehan sosial. Maksudnya, seseorang telah menjalankan ajaran agama sesuai perintah Tuhan, tetapi perilaku sosialnya bertentangan dengan perintah Tuhan.
Mengapa bisa terjadi kontradiktif semacam itu? Menurut Arvan, ada tiga kesalahan pokok dalam memaknai agama. Pertama, agama dimaknai hanya sebagai bentuk ritual, kita tidak diajarkan untuk memahami kenapa ibadah itu harus dilakukan. Kedua, agama sering diartikan sebagai kewajiban yang bila dilakukan akan memperoleh pahala dan masuk surga, sedangkan jika tidak, akan diganjar dosa dan masuk neraka. Ketiga, agama sering ditafsirkan sebagai urusan kita dengan Tuhan. Padahal, esensi beragama adalah kasih. Bukankah Tuhan itu Maha Pengasih lagi Maha Penyayang? Karena itu, orang beragama mestinya dikenal karena rasa cintanya terhadap sesama manusia.
Buku ini tetap menarik untuk menjadi bahan renungan---meski tidak sedalam buku-buku Arvan sebelumnya terutama The 7 Laws of Happiness. You Are Not Alone juga bisa menjadi bekal untuk mematangkan hubungan kita dengan Tuhan dan dengan sesama manusia. Ini juga bisa menjadi cermin apa selama ini kesalehan spiritual kita sudah sejalan dengan kesalehan sosial atau belum.[]
Resensi ini awalnya dimuat Republika, Minggu, 17 Oktober 2010.
Saturday, September 25, 2010
[BUKU INCARAN]
Pada Rabu, 22 September 2010 sebelum ke Mizan untuk menyerahkan kerjaan yang sudah lama sekali terbengkalai, aku dapat sms dari mas Rinto di GPU Bandung, "mas, kalau kebetulan ke luar, silakan mampir ke gpu. ada titipan buku dari mas dwi helly."
Pagi itu Bandung cerah. Di Mizan aku menyerahkan pekerjaan ke Ibeq, setelah beberapa menit sebelumnya ngobrol ini-itu soal dunia penerbitan. Kemudian ketemu Dwi, disambung ngobrol mengenai dunia tulis-menulis dengan mas Hernowo. Dia banyak membahas soal ide, cara mengungkapkan pikiran sebagaimana maksud penulis, persoalan copy-paste, juga bagaimana mengelaborasi pemikiran. Di Mizan aku mendapat edisi revisi You Are A Leader! (Arvan Pradiansyah), padahal aku sekarang sedang terus mengumpulkan ide dan energi untuk menggali isi dari buku terbarunya, You Are Not Alone (Elex Media, 2010, 252 hal.)
Pulang dari Mizan kepalaku mulai terasa pening. Tengah hari terasa sangat terik, sebentar duduk di angkot aku tertidur, dan sampai di Cicaheum mendapati Bandung sudah basah diguyur hujan yang entah kapan turun. Jelas ketika aku tidur ia cepat-cepat muncul dan menyisakan gerimisnya sepanjang jalan aku menuju kantor GPU di Grha Kompas-Gramedia di jalan Riau (R.E. Martadinata). Sepanjang jalan dari Cicaheum ke Riau macet, mungkin ditambah karena Persib mau menundukkan lawan di Stadion Siliwangi. Kepalaku tambah berat ketika sampai di kantor GPU, tapi keramahan mas Rinto membuatku berusaha mengabaikannya. Aku tahu ini merupakan gejala alamiah yang kadang-kadang terjadi bila aku bepergian agak lama di tengah lalu lintas yang macet dan penuh polusi.
"Ini mas, ada novel Only a Girl karya Lian Gouw. Sudah ditandatangani beliau khusus untuk mas," begitu kata mas Rinto. Lian Gouw menandatangani buku itu pada 20 Mei 2010. Wah, begitu perhatiannya. "Novel ini akan terbit dalam minggu-minggu ini, kemudian kami akan mengadakan launching di Jakarta dan Bandung. Rencananya, di Bandung novel ini akan dibahas pak Remy Silado yang tahu banyak soal sejarah dan mengenal Bandung luar-dalam." Setting awal Only a Girl terjadi di Bandung tahun 1932; bahkan covernya pun menggunakan siluet gunung Tangkuban Parahu. Lian Gouw dulu tinggal di sini sebelum pindah sekeluarga ke Amerika Serikat. Meski bahasa ibunya ialah Belanda, dia akhirnya belajar menulis dalam bahasa Inggris dan karyanya dimuat media negeri Abang Sam itu, di antaranya dalam SF Writers Conference.
Dari GPU aku menuju Rumah Buku/Kineruku untuk menyiapkan acara yang aku siapkan untuk besok; tapi kepalaku tambah tegang. Untung bayangan bahwa aku akan segera bisa menikmati segelas kopi tetap membuatku semangat. Maka begitu menyimpan tas di locker, aku segera shalat, kemudian minta izin bikin kopi. Cuaca tambah dingin, meski sapuan hujan mulai lenyap. Karena nama Lian Gouw di sini aku jadi sedikit ngobrol dengan Joedith tentang keluarga-keluarga keturunan Cina. Menyeruput sedikit demi sedikit segelas kopi sambil buka-buka di sana betul-betul mampu mengurangi pening di kepalaku. Maka ketika sampai di depan pintu rumah, rasanya aku sudah lepas dari gejala kambuhan itu.
"Ayah, bawa hadiah apa?" sergah Ilalang sambil membukakan pintu. "Tuh, tadi aku beli lumpia kering di Cicaheum." Kemarin waktu puasa aku mendapati ternyata kami suka lumpia kering dan satu toples makanan itu sudah habis menjelang Lebaran lalu. "Ada buku kiriman dari Dinyah Latuconsina," tambah Ilalang. Buku itu ialah Nietzsche: Syahwat Keabadian, sebuah buku puisi karya Nietzsche terjemahan Agus R. Sarjono & Berthold Damshauser. Paket untukku biasanya langsung dia buka. Mungkin anak-anakku menyangka mereka bisa menemukan harta karun dalam bingkisan itu.
Jadi dalam sehari itu aku mendapat tiga buku. Aku memegang-megang ketiganya dengan perasaan rileks sempurna. Ini sekilas info untuk mengenalkan mereka pada Anda:
1/ You Are A Leader! karya Arvan Pradiansyah (Kaifa, 2010, 347 hal.) Harga: Rp.69.000,-
Buku ini merupakan edisi baru (revisi) setelah sukses dicetak ulang sebanyak sepuluh kali sejak pertama kali terbit pada tahun 2003. Apa saja revisinya? Tentu saja berbagai materi yang sangat kontekstual dengan kondisi manajemen perusahaan dan industri zaman sekarang, misalnya membahas knowledge management, visi organisasi di masa depan, maupun kepemimpinan yang hebat di zaman sekarang itu seperti apa.
Premis buku Arvan ini kuat, yaitu keyakinan bahwa setiap orang itu memiliki bakat terbesar dalam dirinya, yaitu "setiap orang adalah pemimpin." Bagaimana cara agar potensi itu muncul? Dengan membangunkan orang untuk menggunakan potensi utamanya, yaitu kekuatan memilih.
Arvan Pradiansyah ialah seorang ahli sumber daya manusia sekaligus pembicara publik dan penulis di beberapa media bisnis, di antaranya SWA dan Bisnis Indonesia. Buku-bukunya juga diterima dengan baik oleh pembaca.
Link terkait: http://www.mizan.com
2/ Only a Girl karya Lian Gouw (American Publishing, 2009, 295 hal.) Harga: US$27.95
Edisi Indonesia novel ini sebentar lagi akan diterbitkan GPU. Lian Gouw lahir di Jakarta, tumbuh di Bandung, kini tinggal di Amerika Serikat. Only a Girl menceritakan tiga generasi perempuan Cina yang berusaha mempertahankan identitas di tengah perubahan situasi sosial-politik yang mereka alami secara drastik dari zamam penjajahan Belanda di Indonesia, invasi Jepang, dan Revolusi Indonesia---ditambah pengaruh Perang Dunia II.
Dari keluarga Cina totok, mereka mendapat pengaruh budaya dan adat Belanda maupun Barat. Begitu Belanda tersingkir dari Indonesia dan Indonesia merdeka, mereka sadar bahwa kebiasaan dan pandangan itu tak bisa lagi diterima, bahkan dikata-katai sebagai "buangan anjing peliharaan Belanda." Bagaimana mereka menghadapi situasi seperti itu?
Link terkait: http://www.amazon.com/Only-Girl-Lian-Gouw/dp/1607493977/ref=cm_cr_pr_product_top
3/ Nietzsche: Syahwat Keabadian karya Agus R. Sarjono & Berthold Damshauser (editor), (Komodo Books, 2010, 192 hal.)
Buku ini merupakan "Seri Puisi Jerman VI" hasil kerja sama dengan Goethe-Institut Jakarta, berisi dwi bahasa Jerman dan Indonesia kumpulan puisi Friedrich Nietzsche (oh, harus jeli banget menulis namanya!)
Semua peminat budaya-seni-filsafat sudah tahu siapa Nietzsche dan apa pengaruhnya bagi dunia pemikiran dan masyarakat hingga di zaman posmodern ini. Jadi kita tinggal membaca lagi dan merasakan apa pemberontakannya terhadap norma-norma usang di dunia ini masih punya getaran atau tetap susah diakses? Puisi tersebut antara lain berasal dari buku "Kepada Tuhan yang Tak Dikenal (1858 - 1877), Sabda sang Bijaksana (1882), Yang Kelak Terdesak Banyak Berkabar (1882 - 188), Nyanyian Zarathustra (1883 - 1885), Cuma Pandir! Cuma Penyair! (1882 - 1888).
Bila buku ini sudah tidak tersedia di toko buku, Anda bisa menemukannya di perpustakaan Goethe-Institut Jakarta dan Bandung.
Link terkait: http://www.goethe.de/jakarta.[]
Anwar Holid bekerja sebagai penulis & editor. Buku barunya ialah Keep Your Hand Moving (GPU, 2010). Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.
KONTAK: wartax@yahoo.com | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141.
Copyright © 2009 oleh Anwar Holid
Rileks Karena Tiga Buku
---Anwar HolidPada Rabu, 22 September 2010 sebelum ke Mizan untuk menyerahkan kerjaan yang sudah lama sekali terbengkalai, aku dapat sms dari mas Rinto di GPU Bandung, "mas, kalau kebetulan ke luar, silakan mampir ke gpu. ada titipan buku dari mas dwi helly."
Pagi itu Bandung cerah. Di Mizan aku menyerahkan pekerjaan ke Ibeq, setelah beberapa menit sebelumnya ngobrol ini-itu soal dunia penerbitan. Kemudian ketemu Dwi, disambung ngobrol mengenai dunia tulis-menulis dengan mas Hernowo. Dia banyak membahas soal ide, cara mengungkapkan pikiran sebagaimana maksud penulis, persoalan copy-paste, juga bagaimana mengelaborasi pemikiran. Di Mizan aku mendapat edisi revisi You Are A Leader! (Arvan Pradiansyah), padahal aku sekarang sedang terus mengumpulkan ide dan energi untuk menggali isi dari buku terbarunya, You Are Not Alone (Elex Media, 2010, 252 hal.)
Pulang dari Mizan kepalaku mulai terasa pening. Tengah hari terasa sangat terik, sebentar duduk di angkot aku tertidur, dan sampai di Cicaheum mendapati Bandung sudah basah diguyur hujan yang entah kapan turun. Jelas ketika aku tidur ia cepat-cepat muncul dan menyisakan gerimisnya sepanjang jalan aku menuju kantor GPU di Grha Kompas-Gramedia di jalan Riau (R.E. Martadinata). Sepanjang jalan dari Cicaheum ke Riau macet, mungkin ditambah karena Persib mau menundukkan lawan di Stadion Siliwangi. Kepalaku tambah berat ketika sampai di kantor GPU, tapi keramahan mas Rinto membuatku berusaha mengabaikannya. Aku tahu ini merupakan gejala alamiah yang kadang-kadang terjadi bila aku bepergian agak lama di tengah lalu lintas yang macet dan penuh polusi.
"Ini mas, ada novel Only a Girl karya Lian Gouw. Sudah ditandatangani beliau khusus untuk mas," begitu kata mas Rinto. Lian Gouw menandatangani buku itu pada 20 Mei 2010. Wah, begitu perhatiannya. "Novel ini akan terbit dalam minggu-minggu ini, kemudian kami akan mengadakan launching di Jakarta dan Bandung. Rencananya, di Bandung novel ini akan dibahas pak Remy Silado yang tahu banyak soal sejarah dan mengenal Bandung luar-dalam." Setting awal Only a Girl terjadi di Bandung tahun 1932; bahkan covernya pun menggunakan siluet gunung Tangkuban Parahu. Lian Gouw dulu tinggal di sini sebelum pindah sekeluarga ke Amerika Serikat. Meski bahasa ibunya ialah Belanda, dia akhirnya belajar menulis dalam bahasa Inggris dan karyanya dimuat media negeri Abang Sam itu, di antaranya dalam SF Writers Conference.
"Ayah, bawa hadiah apa?" sergah Ilalang sambil membukakan pintu. "Tuh, tadi aku beli lumpia kering di Cicaheum." Kemarin waktu puasa aku mendapati ternyata kami suka lumpia kering dan satu toples makanan itu sudah habis menjelang Lebaran lalu. "Ada buku kiriman dari Dinyah Latuconsina," tambah Ilalang. Buku itu ialah Nietzsche: Syahwat Keabadian, sebuah buku puisi karya Nietzsche terjemahan Agus R. Sarjono & Berthold Damshauser. Paket untukku biasanya langsung dia buka. Mungkin anak-anakku menyangka mereka bisa menemukan harta karun dalam bingkisan itu.
Jadi dalam sehari itu aku mendapat tiga buku. Aku memegang-megang ketiganya dengan perasaan rileks sempurna. Ini sekilas info untuk mengenalkan mereka pada Anda:
1/ You Are A Leader! karya Arvan Pradiansyah (Kaifa, 2010, 347 hal.) Harga: Rp.69.000,-
Buku ini merupakan edisi baru (revisi) setelah sukses dicetak ulang sebanyak sepuluh kali sejak pertama kali terbit pada tahun 2003. Apa saja revisinya? Tentu saja berbagai materi yang sangat kontekstual dengan kondisi manajemen perusahaan dan industri zaman sekarang, misalnya membahas knowledge management, visi organisasi di masa depan, maupun kepemimpinan yang hebat di zaman sekarang itu seperti apa.Premis buku Arvan ini kuat, yaitu keyakinan bahwa setiap orang itu memiliki bakat terbesar dalam dirinya, yaitu "setiap orang adalah pemimpin." Bagaimana cara agar potensi itu muncul? Dengan membangunkan orang untuk menggunakan potensi utamanya, yaitu kekuatan memilih.
Arvan Pradiansyah ialah seorang ahli sumber daya manusia sekaligus pembicara publik dan penulis di beberapa media bisnis, di antaranya SWA dan Bisnis Indonesia. Buku-bukunya juga diterima dengan baik oleh pembaca.
Link terkait: http://www.mizan.com
2/ Only a Girl karya Lian Gouw (American Publishing, 2009, 295 hal.) Harga: US$27.95
Edisi Indonesia novel ini sebentar lagi akan diterbitkan GPU. Lian Gouw lahir di Jakarta, tumbuh di Bandung, kini tinggal di Amerika Serikat. Only a Girl menceritakan tiga generasi perempuan Cina yang berusaha mempertahankan identitas di tengah perubahan situasi sosial-politik yang mereka alami secara drastik dari zamam penjajahan Belanda di Indonesia, invasi Jepang, dan Revolusi Indonesia---ditambah pengaruh Perang Dunia II.
Dari keluarga Cina totok, mereka mendapat pengaruh budaya dan adat Belanda maupun Barat. Begitu Belanda tersingkir dari Indonesia dan Indonesia merdeka, mereka sadar bahwa kebiasaan dan pandangan itu tak bisa lagi diterima, bahkan dikata-katai sebagai "buangan anjing peliharaan Belanda." Bagaimana mereka menghadapi situasi seperti itu?
Link terkait: http://www.amazon.com/Only-Girl-Lian-Gouw/dp/1607493977/ref=cm_cr_pr_product_top
3/ Nietzsche: Syahwat Keabadian karya Agus R. Sarjono & Berthold Damshauser (editor), (Komodo Books, 2010, 192 hal.)
Buku ini merupakan "Seri Puisi Jerman VI" hasil kerja sama dengan Goethe-Institut Jakarta, berisi dwi bahasa Jerman dan Indonesia kumpulan puisi Friedrich Nietzsche (oh, harus jeli banget menulis namanya!)
Semua peminat budaya-seni-filsafat sudah tahu siapa Nietzsche dan apa pengaruhnya bagi dunia pemikiran dan masyarakat hingga di zaman posmodern ini. Jadi kita tinggal membaca lagi dan merasakan apa pemberontakannya terhadap norma-norma usang di dunia ini masih punya getaran atau tetap susah diakses? Puisi tersebut antara lain berasal dari buku "Kepada Tuhan yang Tak Dikenal (1858 - 1877), Sabda sang Bijaksana (1882), Yang Kelak Terdesak Banyak Berkabar (1882 - 188), Nyanyian Zarathustra (1883 - 1885), Cuma Pandir! Cuma Penyair! (1882 - 1888).
Bila buku ini sudah tidak tersedia di toko buku, Anda bisa menemukannya di perpustakaan Goethe-Institut Jakarta dan Bandung.
Link terkait: http://www.goethe.de/jakarta.[]
Anwar Holid bekerja sebagai penulis & editor. Buku barunya ialah Keep Your Hand Moving (GPU, 2010). Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.
KONTAK: wartax@yahoo.com | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141.
Copyright © 2009 oleh Anwar Holid
Wednesday, September 01, 2010
[PUBLISITAS]
Merasakan Kehadiran Tuhan Demi Meraih Kebahagiaan
---Anwar Holid
JAKARTA - Sekelompok wanita memasuki ruang tempat Ngabuburit Bersama Arvan Pradiansyah diadakan di toko buku Gramedia Matraman, Sabtu, 28 Agustus 2010. Beberapa di antara mereka memperlihatkan simbol agama yang jelas. Seorang perempuan berkalung salib, lainnya mengenakan jilbab. Di ruang itu tampak Budiman Sujatmiko tengah diwawancarai; terdengar sekilas ceritanya di masa-masa menjelang Reformasi. Sebelum acara dimulai, Arvan Pradiansyah berkali-kali disapa sejumlah orang, termasuk dimintai tanda tangan pada buku-buku karya Arvan yang mereka miliki.
Ruangan sudah penuh ketika ngabuburit berisi acara launching dan talkshow buku terbaru Arvan Pradiansyah You Are Not Alone (Elexmedia, 252 hal., Rp.52.800,00) dimulai. Riri Artakusuma, sang pemandu acara, mengawali hajatan dengan menanyakan maksud Arvan menulis buku tersebut. "Buku ini bicara tentang perubahan," demikian kata penulis yang juga dikenal sebagai ahli SDM dan pembicara publik ini. "Saya ingin menulis buku yang dapat mengirimkan pesan kuat untuk memprovokasi pikiran orang agar dapat berubah menjadi lebih baik," tegas Arvan. Akhir-akhir ini dia rupanya prihatin dengan Indonesia yang digelari sebagai negeri mafia. Tidak ada satu pun lembaga penegakan hukum di negeri ini yang bersih dari korupsi.

Apa gagasan tentang Tuhan dan kebahagiaan akan mampu mengubah orang? Kita bisa simak dari komentar para hadirin. Mereka mayoritas telah familiar dengan Arvan Pradiansyah, baik dari radio maupun buku-bukunya. Seorang manajer cerita bagaimana dia suatu mendengar penuturan Arvan di radio dan penasaran dengan karyanya. Waktu itu buku terakhir Arvan ialah The 7 Laws of Happiness (Kaifa, 2008). Dia membeli buku itu, membacanya, terkesan, dan akhirnya menghadiahkan buku itu kepada rekannya. Dia bilang, "Ini buku bagus. Baca deh." Rekan dia rupanya jauh lebih terkesan lagi oleh buku itu dan kemudian malah menyebarkan ide isi buku itu pada sejumlah rekan lain, sampai membuat manajer tersebut akhirnya merasa kehilangan buku itu dan akhirnya terpaksa beli untuk kedua kali. Kali ini dia melangkah lebih jauh: dia menerapkan sejumlah workshop yang bisa dipraktikkan dari buku itu di dalam perusahaan dan anak buahnya.
Secara konseptual, Arvan memang telah menuangkan ide mengenai spiritualitas dan kebahagiaan di dalam The 7 Laws of Happiness. Syarat utama kebahagiaan yaitu sabar, syukur, sederhana (kemampuan menangkap esensi), kasih, memberi, memaafkan, dan puncaknya kemampuan berserah diri dan percaya seratus persen kepada Tuhan (pasrah) sudah mengandung esensi spiritualitas yang kental. Tema ini telah dia eksplorasi. You Are Not Alone makin menegaskan betapa spiritualitas menjadi prasyarat untuk merasakan kehadiran Tuhan maupun demi meraih kebahagiaan. Untuk memudahkan penelusupan ide-idenya, Arvan mengawali setiap bab dalam buku ini dengan kisah. "Saya menyarankan Anda baca satu artikel per hari. Jangan langsung semua, biar tidak mabuk. Agar Anda lebih bisa meresapi makna isinya," demikian ucap Arvan.
Arvan menyebut ada lima poin yang ingin dia nyatakan dalam buku ini, yaitu:
1. Tuhan itu dekat, dia ada bersama kita setiap saat.
2. Percaya Tuhan itu tidak sama dengan beriman, buktiknya ada banyak orang mengaku percaya pada Tuhan tapi perilakunya justru kontradiktif dengan keimanan.
3. Melakukan kejahatan itu sama dengan kafir.
4. Mengajak agar pembaca cerdas secara spiritual (memiliki spiritual quotient).
5. Puncak dari penghayatan manusia kepada Tuhan ialah cinta (kasih sayang).
Dalam You Are Not Alone, Arvan berkali-kali menjelajahi topik sensitif, misal dia menyatakan bahwa religius saja belum cukup, orang beragama belum tentu baik, memilih antara orang beragama atau orang baik, sampai pertanyaan apa agama itu merupakan keharusan atau kebutuhan? Spiritualitas pasti membicarakan Tuhan, sumber kebahagiaan itu sendiri. Tuhan yang dimaksud bersifat universal, tidak mengacu pada definisi ajaran agama tertentu. Itu sebabnya para hadirin dalam acara ini sangat beragam, datang dari berbagai latar belakang. Dalam konteks ini, spiritualitas tampak lebih luas dan mampu menampung banyak orang daripada agama formal tertentu. Bila pendekatannya sempit, hitam-putih, hanya berupa larangan dan perintah agama bahkan telah berkali-kali memperlihatkan sisi wajahnya yang mengerikan. Orang bisa atas nama Tuhan menghancurkan agama yang berbeda.
Arvan berpendapat idealnya spiritualitas mampu mengubah paradigma seseorang dan melahirkan kebaikan baru kepada orang lain. Pendapat ini sesuai dengan pernyataan Viktor Frankl (1905-1997) bahwa orang yang berhasil menemukan makna kehidupan memiliki niat lebih mulia untuk bertahan hidup; ia merasa bahwa dirinya "penuh."
Respons publik terhadap You Are Not Alone terbukti antusias. Seorang staf sales Elex menyatakan penjualan buku-buku Arvan di Gramedia Matraman saja sangat bagus; dalam seminggu bukunya rata-rata terjual 6-7 eksemplar. Menjelang akhir Agustus 2010 buku tersebut sudah cetak ulang.[]
Copyright © 2009 oleh Anwar Holid
Situs terkait:
http://www.elexmedia.co.id
http://www.ilm.co.id
Arvan Pradiansyah juga berinteraksi di http://www.facebook.com
Subscribe to:
Posts (Atom)
















