Showing posts with label Septina Ferniati. Show all posts
Showing posts with label Septina Ferniati. Show all posts

Friday, November 22, 2013

Budi & Rani (ki-ka) menikah.     Foto dari Internet.

Celebrate the Difference!

--Septina Ferniati




Malam minggu 16 November kemarin konon adalah hari toleransi sedunia. Saat itulah kedua teman saya menikah. Yang satu etnis Tionghoa dan satunya Jawa. Banyak perbedaan nyata di antara keduanya. Tetapi kelihatannya mereka bergeming dan tetap yakin dengan cinta mereka. Setidaknya itulah yang dikatakan mempelai lelaki ketika memberi pidato sambutan. Saya dan orang-orang yang hadir pun bisa merasakan, memang cinta memenuhi udara malam itu.

Belakangan saya serius menghayati perbedaan. Sebabnya karena keluarga saya pun sedang belajar toleransi. Salah seorang kakak saya menikah dengan seorang Skotlandia yang berbeda segala. Dan mereka sudah punya dua anak. Keberadaan mereka menjadi pelajaran berharga untuk kami semua, karena mereka tetap saling mencinta meski tentangan dan prasangka disuarakan oleh seluruh keluarga. Kakak saya sangat mencintai keluarga kecilnya. Kami semua melihat binar cinta di matanya untuk mereka. Mana tega Ibu saya bilang soal syariat kalau sudah begitu. Meski berat penyesuaian di masa-masa awal, dalam hati saya yakin Tuhan Maha Cerdas dan tahu hal-hal semacam itu takkan membatasi apa pun.

Saya pernah punya sahabat Tionghoa yang meninggal karena lupus. Dia seorang Kristen yang saleh. Kami kadang bertengkar, tapi lebih sering berdamai. Menjelang kematiannya dia terus ingat menelepon dan bicara dengan saya. Dengan terbata-bata karena semakin susah bicara dia bilang, “Tolong doain gue ya…” Atau, “Gue harap bisa cepet melewati ini semua. Sakit banget…” Saat kematiannya saya menangis seperti anak kecil. Memang tidak mudah berteman dengannya. Ada-ada saja peristiwa mengesalkan kalau sifat perfeksionisnya muncul. Tapi begitu dia tiada, ada yang juga hilang dari hati saya.

Dulu pernah ada Sentot dan Seno. Kami sering main Superman sama-sama. Dari tempat tinggi kami biasa main terbang-terbangan. Keluarga mereka punya salib besar dari kayu yang dipasang di ruang keluarga di atas televisi. Saya suka mengamati.
“Itu Yesus yang dipalang untuk menebus dosa manusia,” kata Sentot suatu hari.
“Boleh gak aku pinjem?”
“Salibnya?”
Aku mengangguk.
“Gak boleh. Kamu bakal dimarahin Ibu kamu. Lagian kata mamaku susah cari salib sebagus itu.”

Dan ibuku memang marah ketika kusampaikan keinginanku atas salib itu. Beliau bilang aku seorang Muslim, dan seorang Muslim punya tata cara berbeda dalam menjalankan keyakinannya. Ibu juga bilang, “Semua agama mengajarkan doa dan persahabatan. Makanya kamu boleh main dan dekat dengan siapapun, walaupun berbeda. Karena doa dan persahabatan mah sama saja di agama manapun.”

Setelah mereka, ada Hiskia dan Lia. Kami sering makan di atas satu piring yang sama. Kami gembira kalau Lebaran dan Natal tiba. Hiskia bahkan suka ikut puasa saat Ramadan. Katanya, “Nemenin, biar kamu seneng!” Hiskia menjadi sahabat saya beberapa tahun lamanya. Sampai orang-orang heran dan takjub. Kami memang teramat akrab. Sampai-sampai saat natal pun keluarga Hiskia tak pernah alpa memberi saya hadiah, seolah saya bagian dari keluarga mereka.

Menjelang Natal, biasanya ada satu kali acara makan besar di rumahnya. Bu Sitepu ibunya Hiskia selalu meminta saya bersiap agar ikut acara itu. Ritualnya begini: saya dan Hiskia juga Lia bersama undangan yang hadir berdiri mengantri menuju meja makan yang sangat besar. Bu Sitepu sibuk mempersilakan semua tamu menyantap hidangan. Padaku Bu Sitepu suka bilang, “Nah, kamu gak boleh makan yang ini ya. Pokoknya big no!” Tangan Bu Sitepu teracung tegas. “Yang lain silakan. Tante masak di kuali yang berbeda. Jadi kamu bisa makan dengan aman.”

Dan beberapa kali menginap di rumah mereka membuat saya tahu kebiasaan berdoa mereka. Sebelum makan, sebelum tidur, mereka selalu berdoa dengan kedua tangan terkatup di depan dada dan mata tertutup juga kepala menunduk. Doanya selalu diawali dengan, “Ya Tuhan, kami mohon perlindungan-Mu…” Bawah sadar saya merekam peristiwa itu. Sampai hari ini saya suka berdoa seperti mereka berdoa. Dengan kedua tangan terbuka dan kepala tertunduk saya mengawali doa saya dengan berucap, “Ya Tuhan Allah Ta’ala, aku mohon perlindungan-Mu…” Dengan bahasa yang saya kuasai saya malah merasa doa jadi hidup dan bermakna.
Foto dari Internet.

Saya kenal banyak doa dalam bahasa Arab. Tapi saya paksakan diri untuk tahu arti dan maknanya, agar doa itu terasa mengalir. Kalau saya mengerti doa yang saya suarakan, semua jadi terasa pas.Meski sempat susah memikirkan anaknya yang menikah di Australia sana, Ibu tetap berbaik sangka. Dia tak pernah marah ataupun menyesali semua. Buatnya bila kakak dan suaminya bahagia dan bisa terus saling mencintai dan menghargai, itu sudah sangat melegakan.

Saya bisa membayangkan berkecamuknya perasaan Ibu. Dalam diri kami mengalir darah Banten yang selalu dikait-kaitkan dengan kuatnya keyakinan. Jadi sudah pasti takkan mudah baginya menerima perbedaan baru dalam keluarga besar kami. Saya belajar menguatkannya. Suka saya ingatkan lagi kata-katanya dulu; bahwa doa dan persahabatan (cinta) sama saja di keyakinan apa pun. Dan perbuatan menjadi tolok ukur semua. Saya ingat Nabi berkata, “Yang paling beriman di antara kamu (kaum Muslimin/kaum yang berserah) adalah yang paling menjaga etikanya.”

Karenanya saya yakin memang akhlak/perbuatan adalah tolok ukur semua. Bukan selainnya. Kalau ada yang bilang keyakinan adalah inti dari segala, hidup akan sangat sempit. Dan kita takkan pernah belajar lagi karena sudah merasa paling benar. Padahal keberbedaan setidaknya menunjukkan kuasa Tuhan yang Maha Welas Asih. Dia Pencipta segala. Dan Dia Tak Berbatas. Dia juga Maha Cerdas. Sedikit banyak saya agak yakin Dia juga punya rasa humor yang menarik.

Bagi saya Tuhan Allah Ta’ala tidak sekaku yang pernah saya bayangkan. Tuhan sangat mengalir, penuh cinta dan kasih sayang. Dia juga suka melucu dan senang memberi kejutan. Dia mencintai orang-orang yang saling mencinta karena-Nya.

Kelak kalau ada ujian dahsyat menimpa, semoga tidak terbersit di hati kedua teman saya tadi bahwa cinta punya expired date atau masa kedaluarsa.

Selain mengaminkan doa yang dipanjatkan di tengah ruangan resepsi, saya juga berdoa, “Ya Allah, biarkan cinta meneguhkan kami semua. For good…”[]

Septina Ferniati, guru mengajar di AKSARA, Masjid Salman-ITB, Bandung.

Friday, September 05, 2008









Cinta di Balik Jeruji
Oleh Septina Ferniati


Love Me Better
Judul asli: This is what an abusive relationship looks like
Penulis: Rosalind Penfold
Penerjemah: Dini Pandia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2006
Halaman: 257 h.
ISBN 979-22-1933-1



Kalau kita melepaskan kekuatan pribadi atas nama cinta, kita berisiko menghancurkan diri sendiri perlahan-lahan.
---Rosalind Penfold


JIKA seseorang mengalami peristiwa traumatik dalam hidup, otaknya tak sanggup memuat trauma itu. Otak tak tahu cara menyortir atau menyimpan kenangan-kenangan buruk, dan membiarkannya tetap begitu. Sebagian besar potongan kenangan pahit itu tiada karena otak berusaha melindunginya. Itulah sebabnya seseorang selalu bisa kembali dan kembali pada tempat atau orang yang menjadi penyebab trauma itu. Sementara kenangan manis tersimpan dengan rapi seperti album foto kenangan, sebagai cerita dengan awal, tengah dan akhir cerita. Seseorang bisa mengingat kenangan manis karena otaknya menyortir kenangan manis itu dengan logis. Semuanya masuk akal.

Dalam Love Me Better, Rosalind Penfold (Roz)---nama samaran---mengisahkan pengalaman buruknya hidup bersama seorang duda empat anak yang kerap melakukan kekerasan verbal, emosional, seksual, dan fisik pada dirinya. Buku ini merupakan memoar berbentuk novel grafis (graphic novel) karyanya sendiri. Kalimat-kalimat yang menyertai gambar-gambar di dalamnya sangat menyentuh dan berpengaruh.

Diawali ajakan Rosalind untuk melihat-lihat gambar hasil karyanya selama menjalin hubungan dengan kekasihnya Brian, buku ini dibagi dalam enam bagian, yaitu Mulai (Bulan Madu), Tersesat (Jekyll and Hyde), Terluka (Bertahan), Keluar (Melepaskan), Pulang (Menemukan jati diri), dan Epilog (Lima tahun kemudian). Love Me Better merupakan buku pertama mengenai kekerasan yang ditulis oleh korban penyiksaan tanpa siratan dendam ataupun amarah, persis kata Roz di bagian pembukaan, "Aku tak mau menyakiti, aku hanya ingin membantu."

Awalnya, sebagaimana perempuan korban kekerasan lain, Rosalind selalu menyangkal dirinya disakiti atau terluka. Di bagian awal penyangkalan itu jelas tampak dengan terlontarnya kalimat seperti “Mungkin aku tidak sensitif, mungkin dia cuma stress, aku tahu dia mencintaiku, dia tidak jahat, pekerjaannya bagus, kalau saja aku lebih pengertian, bukan salahnya, aku yakin dia tidak berniat begitu,” dan masih banyak lagi. Dalam banyak kasus, malah korban justru sering merasa bersalah dan merasa layak diperlakukan begitu. Padahal pada dasarnya kekerasan adalah kekerasan, bagaimanapun wujud dan rupanya.

ROSALIND bertemu Brian di sebuah pesta. Mereka saling tertarik sejak awal. Seiring waktu mereka semakin dekat dan saling mencintai. Kehidupan lajang Roz berubah. Karena kekasihnya punya empat anak, kehidupan anak-anak itu otomatis menjadi tanggung jawabnya. Tidak ada keberatan baginya. Landasan hubungannya dengan Brian benar-benar berdasarkan cinta.

Kemudian kekerasan pertama terjadi, disusul kekerasan-kekerasan lain yang sangat mengganggu. Kekerasan tak pernah lepas dalam bab demi bab buku ini. Kekasihnya kerap marah karena hal sepele, dan bila itu terjadi, kata-kata kasar atau pukulan pun mendarat pada Roz, tak peduli tempat, atau waktu. Kekerasan itu pun menimpa anak-anak. Semakin lama semua semakin tak terkendali. Jika kekasihnya mengamuk, tak seorang pun luput dari amuknya.

Kekerasan Brian dilakukan pada semua anggota keluarga, bahkan orang lain. Tom dipaksa minum minuman keras, Lizzie dilecehkan secara seksual, Megan dicap sebagai pembunuh ibunya, Jim diintimidasi dengan kata-kata kasar. Bahkan anjing peliharaan anak-anak dipenuhi belatung hingga harus disuntik mati, karena Brian tak pernah mengizinkan anjing itu masuk rumah, meski cuaca dingin membeku. Roz mendapatkan pelecehan paling parah dan paling sering, sampai-sampai dia tak mampu lagi mengenali siapa dirinya. Dalam keadaan lelah dan sakit secara fisik dan mental, Brian malah kerap memperlakukannya seperti binatang.
Kekerasan menghadirkan ekses sangat mengerikan. Dia "membunuh" jiwa orang-orang yang ada di sekitarnya. Roz kehilangan kendali atas dirinya. Yang terjadi selama sepuluh tahun benar-benar menyiksa. Masa-masa manis hanya berlangsung sekejap. Sedangkan masa-masa suram berlangsung seolah selamanya, tak berakhir dan intens. Namun anehnya, Roz selalu bersedia kembali dan kembali, demi cinta. Semua bagian dari dirinya telah direnggut sedemikian rupa, sehingga Roz menjadi tergantung dan menganggap kekasihnya adalah sumber kehidupannya. Dalam sebuah novel karya Alexander McCall Smith, Kantor Detektif Wanita No.1, ada kalimat sangat kuat yang terlontar dari mulut seorang dokter pada pasien korban kekerasan, “Sudah pasti Anda akan kembali padanya. Selalu begitu. Sang wanita kembali untuk minta tambah lagi.”
Dari halaman 214 sampai 217 Roz menceritakan percakapannya dengan Brian melalui telepon. Brian memohon Roz mencabut tuntutan ke pengadilan dengan dalih anak-anak, padahal saat itu sangat menentukan dalam hidup Roz mencanangkan keadilan bagi dirinya. Dengan pengaduan dan bukti-bukti fisik berupa lebam di tubuhnya, Brian bisa di penjara. Namun Roz menyerah. Dengan cerdas dia menggambar simbol hati yang awalnya terpenjara dalam jeruji, lalu perlahan-lahan terbuka hingga akhirnya benar-benar terbuka dan membuat gambar hati itu terlepas bebas dari jeruji. Cinta. Benar-benar cinta yang membuatnya rela menarik pengaduannya dan melepaskan Brian dari jerat hukum.
Namun cinta saja tidak cukup. Apalagi jika cinta itu bukan cinta yang baik. Roz bahkan sempat terpikir untuk mengakhiri hidup. Ingatan pada anak-anak membuatnya rela menderita. Padahal jangankan menolong anak-anak, menolong dirinya ke luar dari siklus kekerasan saja dia tak berdaya. Tanpa sadar dia semakin membenamkan diri dalam siklus yang selalu terulang dan terulang lagi.

SETELAH sepuluh tahun berisi daftar panjang kekerasan, Roz berjuang untuk ke luar dari siklus itu. Dia mendatangi seorang terapis yang membantunya mengenali dirinya lagi. Perlahan-lahan Roz mulai berani berjarak dari kekasihnya, demi menemukan dirinya kembali. Dia dapati dirinya begitu sedih karena harus berpisah. Pengalaman membaca membuatnya mengetahui teori dua merpati---hasil percobaan psikolog B.F. Skinner---yang dikondisikan untuk merasa aman dan tidak aman. Merpati pertama mendapatkan makanan setiap kali menekan tuas; sedangkan merpati kedua dikondisikan tak pernah tahu kapan dan apakah akan mendapatkan makanan, jadi tak pernah bisa merasa aman. Ketika makanan untuk kedua merpati itu diambil, merpati pertama langsung mengerti sambil menunggu; sementara merpati kedua terus berusaha lebih keras dan semakin keras mematuk tuas sampai hampir mati kelelahan. Roz sadar, dirinya mirip merpati kedua.
Yang patut disayangkan ialah pertama Roz melepas kemungkinan Brian diadili. Padahal jika diadili, Roz dapat membantu orang lain terhindar dari kemungkinan menjadi korban Brian selanjutnya. Jika di penjara, Roz membantu Lizzie terhindar dari kemungkinan dilecehkan Brian. Kedua butuh rentang waktu sangat lama (sepuluh tahun) untuk ke luar dari siklus kekerasan. Sejak pertama kali dicekik di lantai dansa karena Brian cemburu, harusnya Roz mendengarkan kata hati. Apalagi setelah tahu ada perempuan-perempuan lain, pelecehan terhadap anak kandung, aborsi, sungguh mengejutkan dia masih mau bertahan dan berharap Brian berubah.
Ketika benar-benar ke luar dari siklus kekerasan, Roz hanya ingin dicintai orang yang mampu mencintainya dengan lebih baik. Karena baginya, cinta yang baik dapat membuat orang menjadi lebih baik. Di epilog, setelah lima tahun berpisah dari Brian yang menikah dengan perempuan lain, dengan jujur Roz merasa dirinya kurang. Dia masih merasa jangan-jangan dia bersalah sehingga hubungan mereka gagal. Padahal ketidaksetiaan, perilaku buruk dan kekerasan terus terjadi jika pelaku tidak diganjar setimpal, entah oleh hukum negara maupun masyarakat.

Jika hubungan antar dua manusia dilandasi cinta, kasih sayang, pengertian, dan saling menghormati, cinta bisa tumbuh dan berkembang dengan subur. Namun sebagian besar hubungan yang hanya dilandasi perasaan cinta semata kemungkinan kurang berhasil, apalagi jika disertai kekerasan berulang-ulang. Para pelaku kekerasan sangat ahli membuat korbannya percaya bahwa mereka melakukan kekerasan dengan dalih cinta. Padahal alih-alih mencintai, pelaku bahkan tidak tahu siapa diri mereka sebenarnya. Salah satu penderitaan terbesar manusia adalah ketika seorang individu gagal mengetahui atau mengenal siapa dirinya sebenarnya.



Kekerasan bisa terjadi pada siapa saja, tanpa pandang bulu. Laki-laki, perempuan, anak-anak, dan orang dewasa dapat menjadi korban. Pasti ada Rosalind-Rosalind lain di manapun, kapanpun. Buku ini dengan gamblang dan jujur memperlihatkan tanda-tanda kekerasan. Jika mendapati diri kita seperti Rosalind, buku ini dapat membantu kita berjuang ke luar dari lingkaran kekerasan yang hanya akan menciptakan penderitaan dan ketidakbahagiaan.

Karena sesungguhnya, kita begitu berharga.[]

Penulis adalah eksponen komunitas Textour dan instruktur Klab Nulis Tobucil Bandung.

Thursday, August 21, 2008


Dead Poets Society
Membaca Film dalam Buku

Oleh: Septina Ferniati


Ketika Harry Potter difilmkan, saya, suami dan anak saya menyambutnya dengan antusias. Kami menyukai novel karya J.K. Rowling tersebut, karena ceritanya seru, menegangkan, dan disukai anak saya. Begitu seringnya saya membacakan ceritanya menjelang ia tidur, hingga suatu hari ia bilang: “Bu, Lalang sudah bisa bilang 'ermayoni' lho!” Hasil adaptasi dari Harry Potter pertama yang jumlah halamannya 382 menjadi 1,5 jam pasti merupakan hasil kerja keras yang rumit, karena terjadi penyederhanaan setting dan peristiwa. Ketika menonton film, kita tinggal duduk diam dan serius mencerna kejadian-kejadiannya. No sweat, kata orang. Meskipun ada juga film-film yang membutuhkan pemikiran mendalam, seperti film Hiroshima, Mon Amor yang difilmkan dari naskah karya Marguerita Duras. Tetapi ketika membaca, kita harus berusaha lebih keras untuk memahami dan berimajinasi dengan pikiran dan wawasan kita. Bayangkan kesulitan yang kita alami ketika membaca sebuah buku dan mencoba memahaminya dengan baik, syukur-syukur bila kemudian bisa kritis terhadap bacaan itu.

Hal sebaliknya saya alami terhadap Dead Poets Society (DPS). Saya mendapatkan novel itu sebagai hadiah dari paman terdekat. Disutradarai Peter Weir, naskah filmnya adalah karya Tom Schulman yang pada 1989 mendapat Academy Award (piala Oscar) sebagai naskah film terbaik. Kemudian N.H. Kleinbaum mengadaptasinya menjadi sebuah novel. Agak mengejutkan bagi saya, karena buku hasil adaptasi film agak jarang ditemui. DPS dibintangi Robin Williams, Ethan Hawke dan Robert Sean Leonard, seorang spesialis aktor drama Broadway yang bermain sangat cemerlang di film ini. Menurut seorang kawan, di luar negeri sudah lazim sebuah film sukses kemudian dinovelkan; salah satu contohnya adalah novel The Piano. DPS adalah hasil adaptasi Kleinbaum yang ke tiga, setelah Growing Pains dan D.A.R.Y.L. Artinya dari film diadaptasi menjadi novel, bukan sebaliknya seperti yang sering kita temui selama ini, misalnya film The Firm yang dibintangi Tom Cruise yang merupakan hasil adaptasi novel karya John Grisham dan film The Color Purple yang diperankan oleh Whoopy Goldberg yang juga hasil adaptasi novel karya Alice Walker. Apakah lantas kerja Kleinbaum menjadi lebih mudah? Atau sebaliknya?

Saya mencoba membayangkan kesulitan Kleinbaum mengangkat kisah dari layar lebar menjadi sebuah novel, karena bahasa visual/bahasa film jelas-jelas berbeda dari bahasa tulis. Ada beberapa hal seperti suasana, perasaan-perasaan hati seseorang yang kemungkinan susah digali ke dalam bahasa tulis kecuali dinarasikan/dipaparkan. Dalam film selalu ada setting peristiwa ketika seseorang merenung, tertegun atau tertekan, yang kesemuanya sangat mungkin sulit dibahasakan. Tetapi Kleinbaum mencobanya, dan sejauh ini berhasil melakukannya.

Ia, misalnya, berhasil membuat pembaca novel tidak terlalu kehilangan poin-poin peristiwa penting dalam novelnya, karena paparannya nyaris sama dengan setting dalam film. Kejadian-kejadian saat Keating mulai mengajar dengan gaya unik dan berbeda digambarkan sama walaupun sedikit lebih panjang dari setting dalam film. Begitu pun ketika Neil berperan sebagai Puck dalam sebuah sandiwara antarsekolah, kejadiannya tidak terlalu berbeda, baik dalam film maupun novel. Ketika Charlie yang spontan senantiasa berlagak untuk mendapat perhatian orang lain, Kleinbaum benar-benar berhasil memaparkannya dalam novel, sama baiknya dengan Charlie dalam film. Hampir semua kejadian dalam film berhasil dinarasikan ke dalam bahasa tulisan, meskipun Kleinbaum harus lebih dalam menggali kalimat-kalimat dalam novelnya untuk bisa dengan baik memaparkan suasana hati para tokoh dalam filmnya. Itu bukan pekerjaan yang mudah, tentu saja, dan ia boleh berbangga hati karena cukup berhasil melakukannya.

Dalam novel ada peristiwa ketika salah satu anggota Dead Poets Society, si pendiam Todd, menangisi kematian sahabat sekaligus pemimpinnya. Ia menangis dengan perasaan kehilangan dan luka teramat dalam. Tetapi yang menarik, adegan dalam film berbeda sama sekali dengan peristiwa yang terjadi di dalam novel. Dalam film digambarkan bagaimana Todd menahan tangisnya hingga tubuhnya sakit, dan ia berlari ke tengah hamparan salju yang turun deras sambil menangis menjeritkan nama sahabatnya. Dalam novel, yang terjadi adalah Todd menangis hingga dadanya mau pecah menahan sesak perasaan dan duka teramat dalam dalam kamar mandi. Jelas terjadi perbedaan peristiwa dalam novelnya.

Ada juga salah satu peristiwa penting dalam film yang tampaknya berbeda dipaparkan ke dalam bahasa tulis, yaitu ketika Todd versi novel menolak menandatangani surat pernyataan bahwa ia telah diprovokasi gurunya, Keating, untuk menjadi anggota DPS yang secara tidak langsung menjadi penyebab kematian Neil, dan karenanya Keating harus berhenti mengajar, padahal ia tahu mengajar bagi Keating adalah hidup. Ketika ayahnya yang gusar bertanya padanya, “What do you care about him?” Todd menyahut keras, “What do you care about me? He cares about me! You don't!” Tidak ada dialog itu dalam film, yang terjadi justru ambiguitas, kesan bahwa Todd tidak menandatangani surat pernyataan itu sama kuatnya dengan kesan Todd menandatanganinya.

Bagi saya, membaca DPS jauh lebih mengasyikkan, karena saya merasa lebih terikat dengan tokoh-tokohnya tinimbang jika saya menonton filmnya. Terasa sesuatu mencekam hati ketika Neil memulai prosesi bunuh dirinya yang sakral sekaligus tragis, membuat hati saya terasa sakit ketika ia melakukannya. Dalam film, adegan itu terasa lebih singkat dan tidak terlalu dalam. Mungkin karena kegundahan-kegundahan hatinya dengan jelas dan gamblang terpaparkan dalam novel, memudahkan kita untuk membayangkan, merasakan kesedihan-kesedihannya dan larut dalam pusaran perasaan itu.

Perbedaan-perbedaan itu tidak lantas menjadikan saya bingung, tentu saja. Saya hanya bertanya-tanya sedikit, begitukah yang terjadi bila film coba “ditafsirkan” menjadi sebuah novel? Ada beberapa hal yang hilang, ditambahkan atau dibiarkan tetap sama. Mungkin Kleinbaum mencoba berpikir praktis seperti misalnya dalam adegan Todd menangis dalam kamar mandi alih-alih di tengah hujan salju pada subuh pagi. Kalau ia ingin menceritakan Todd menangis di tengah-tengah salju di luar sekolah, mungkin ia harus agak repot menceritakan cara Todd dan teman-temannya yang keluar sekolah sepagi itu. Di sekolah seketat Welton, agak bisa dipastikan bahwa izin akan merupakan hal yang lumrah dilakukan, apalagi untuk keluar lingkungan sekolah.

Sastra bisa menjadi sesuatu yang mencengangkan. Pertama kali Keating mengajar, ia menyuruh siswa-siswanya merobek buku tentang teori puisi yang ditulis oleh Pritchard, karena menurutnya, menulis bukan saja definisi, bunyi, atau rima, melainkan pengalaman batin dan serangkaian kata bermakna yang membekas dalam diri mereka masing-masing. Todd yang sangat pendiam pun pada akhirnya mampu mengeluarkan kata-kata yang berasal dari dalam hatinya, hal mana sangat sukar dilakukannya. Awalnya mungkin mereka menyukai sikap Keating yang revolusioner, lama-kelamaan mereka larut dalam petualangan kata-kata indah yang mampu membuat mereka menyelami hidup lebih dalam lagi. Mereka tahu yang harus mereka lakukan dan menjadi mudah mengekspresikan perasaannya.

Dead Poets Society memang bukan cerita kacangan, ia sastra yang indah dan memesona, apalagi dengan adanya larik-larik puisi dari Shelley, Tennyson, Keats dan Whitman. Saat membacanya, saya seolah dibawa menuju suatu dunia bebas tanpa tekanan yang mengasyikkan, di mana saya bebas mengekspresikan perasaan, dan timbul gairah menggelora terhadap kehidupan. Dalam diri Keating ada begitu banyak hal positif yang bisa dibaginya kepada anak-anak didiknya. Meskipun kisah DPS tidak berakhir bahagia, hal mana tak lazim terjadi dalam film-film Hollywood pada umumnya, namun ia memberi pembacanya kebebasan berimajinasi untuk menerka-nerka atau pun sekadar menerima akhir tak bahagia itu. Toh dalam hidup ada begitu banyak peristiwa berharga yang bisa dijadikan cermin. Seperti kata Keating kepada anak-anak didiknya, seize the day! Raihlah Kesempatan! []


Septina Ferniati, penerjemah & penulis. Terjemahan terakhirnya ialah The Hebron Journal (Art Gish; Mizan, 2008)