Thursday, February 17, 2011
[halaman ganjil]
DEAR PROBLEMS, MY GOD IS BIGGER THAN YOU!!
salam takzim,
kawan, surat kamu sekali lagi nadanya terdengar murung dan agak-agak self-deprecating---cenderung merendahkan/mengecilkan pencapaian diri sendiri alias undervalue terhadap kemampuan diri sendiri. secara keseluruhan aku suka sama isinya karena di situ tetap ada semangat, loyalitas pada karir, dan pengabdian (dedikasi), tapi aku berani bilang: "ayo kurangi nada seolah-olah kamu belum berbuat apa-apa." mungkin kamu ingin mengakui bahwa karya-karya kamu itu secara finansial belum menjanjikan, tapi bukannya kamu juga bilang bahwa kekayaan finansial bukanlah segala-galanya, bukan merupakan ukuran utama sebuah karir bisa dibilang sukses atau gagal. kalau kamu menemukan passion untuk yang kamu lakukan, itulah duniamu, lepas dari pengamatan orang lain siapa tahu kamu gagal di situ.
kemarin aku nemu quotation ini:
__________________________
Orang dengan banyak uang hidupnya lebih puas. Namun sebagian besar yang bahagia lebih karena pekerjaan menarik dan menantang yang mereka miliki.---Gert Wagner, peneliti di Max Planck Institute for Human Development, Jerman.
__________________________
aku merasa kamu ingin meyakinkan diri bahwa inilah jalan hidup yang ingin aku tempuh, tapi kamu kayaknya gagal menanggapi tatapan sinis atau cap dari orang lain---terutama orang-orang terdekat dalam lingkaran emosimu, mulai dari keluarga hingga kawan pergaulan. kadang-kadang aku merasa seperti itu juga, tapi kalau aku tahu persis apa manfaat yang aku lakukan untuk diri sendiri dan untuk orang yang aku cintai atau merupakan kewajiban utamaku, buatku itu cukup. secara standar terpenuhi. tinggal aku berusaha meningkatkan kapasitas agar bisa berbuat lebih. aku tahu persis aku belum mampu mengeluarkan kemampuan dan energi terbaik secara maksimal, salah satunya gara-gara aku terlalu gampang berpuas diri atau suka berleha-leha setelah satu proyek selesai, atau gampang malas, padahal aku tahu aku bisa berbuat lebih. mungkin pilihannya kita harus lebih taktis dan menetapkan skala prioritas, ditambah lebih keras pada diri sendiri. di luar itu, kita harus lebih berani menghargai diri sendiri, berhenti meremehkan kemampuan atau kinerja kita selama ini. tidak selamanya seorang striker bisa mencetak gol, dan ada kalanya seorang pemain bola harus pensiun dini untuk beralih jadi penyanyi.
baru-baru ini aku sedikit dapat info menarik: karena berbagai faktor, sebagian orang bisa merendahkan kemampuan dirinya, salah satunya ialah bila kemampuan itu dia rasa ada begitu saja dari alam/Tuhan, seperti bakat. contoh, sebagian orang yang berbakat menulis menganggap bakatnya bernilai rendah karena kemampuan itu muncul begitu saja dalam dirinya tanpa perlu diasah. akibatnya dia tidak menghargai bakat khusus itu sebagai kekuatan utama dirinya; sebab ada anggapan umum bahwa kemampuan diri yang terbaik hanya bisa dicapai bila kita bersusah-susah. padahal bisa jadi tidak seperti itu. alfathri adlin punya konsep yang sangat menarik mengenai ini, namanya konsep "energi minimal." singkatnya kira-kira seperti ini: kita bisa mengeluarkan kemampuan terbaik lewat sesuatu yang secara alamiah kita miliki. kalau dihubungkan dengan passion tadi, ini sangat nyambung---meski belum tentu berkorelasi secara langsung secara finansial.
intinya adalah kita sendiri yang harus menentukan ukuran sukses itu seperti apa. terus-terang kalau ukurannya semata-mata pencapaian finansial, aku juga buta cara mengatasinya kecuali dengan bekerja lebih gila-gilaan lagi. kemarin-kemarin aku mau bikin status begini di fb: "kalo di siang hari kamu bisa menghasilkan 8 juta sebulan, bisakah kamu menghasilkan sejumlah yang sama di malam hari?" he he he... tapi rasanya kedengaran terlalu kasar. kalau kamu gayus, akankah kamu harus merasa gagal? mungkin tidak. sebab yang kelihatan adalah gayus banyak uang dan kamu enggak bisa beli barang. padahal yang enggak kelihatan orang lain, itu urusan kamu dengan Tuhan---atau tekanan yang harus kamu tanggung.
di sisi lain, mungkin kita harus melihat dari sisi spiritualitas lebih dalam dan rasa syukur terus-menerus terhadap semua anugrah yang kita terima. jujur deh, rasanya ini memang basi banget. tapi aku sendiri masih perlu menyampaikan hal ini. dari dulu aku sinis dan sulit paham soal "keadilan finansial", tapi dengan rasa syukur, ketidakpuasan dan unek-unek itu bisa hilang dengan sendirinya. setiap kali merasakan anugrah yang luar biasa dari Tuhan, rasanya kesulitanku itu tidak ada apa-apanya. kamu boleh enggak percaya soal ini. kemarin aku lihat gambar dengan tulisan begini: DEAR PROBLEMS, MY GOD IS BIGGER THAN YOU!! ha ha ha... aku suka banget kalimat afirmasi seperti itu. setiap kali lihat orang telanjang yang bekerja keras di bawah terik matahari sampai keringatnya bercucuran, tukang sampah/pulung yang bawa keranjang berukuran lebih besar dari badannya sendiri, aku langsung menunduk enggak tega melihat kenyataan seperti itu. malu dengan banyaknya kenikmatan yang aku dapat, mulai dari copy album musik yang aku suka sampai tabu-tabu yang masih kesulitan aku langgar. dalam kasusku sendiri, rasanya aku terlalu banyak mendapat pertolongan dari kawan dan saudara baik, meski aku sendiri kadang-kadang masih merasa kurang. atau setiap kali benar-benar kekurangan, ada jalan ke luar berkat kebaikan sejumlah orang. buatku, itu sudah cukup membuatku harus berhenti mengeluh minimal untuk sementara.
ok kawan, untuk sementara sekian. ayo bekerja lebih taktis. laku (dihargai secara finansial) itu penting juga, sebab minimal kamu enggak rugi bandar. ha ha ha...
thanks for sharing.
keep up the good work. keep your hand moving.[]
wartax
Kamis, 17 Februari, 2011
Wednesday, February 02, 2011
[OBITER DICTA]
Kalau orang sudah tahu diri masing-masing, mungkin aku enggak perlu terlalu kuatir tentang diri sendiri ataupun orang lain. Baik-baik saja. Aku toh masih bisa menikmati hidup dan mencerap banyak hal. Tapi apa iti cukup? Mungkin enggak. Kalau lagi enggak punya duit, apa aku akan baik-baik saja? Aku sudah mendapat sedikit dari rezeki itu.
Kadang-kadang aku merasa kalah --> ya sudahlah.
Dalam situasi terdesak, aku pernah kalap dan marah --> maafkanlah.
Rasanya selalu ada jalan ke luar --> alhamdulillah.
Aku menerima yang aku dapat, dan berusaha memenuhi sisanya. Aku suka dikuatkan. Yah, kadang-kadang aku malas atau kalah, terlalu gampang pecah konsentrasi---padahal yang bikin banyak jebakan aku sendiri. Aku akan berusaha lebih baik. Aku berusaha menemukan sisi positif dari sinisme atau kecurigaanku. Ada masalah. Hidup itu masalah kok. Hadapilah. Tapi justru dari masalah aku mendapat sesuatu. Aku mendapat manfaat dari banyak hal. Aku meragukan banyak hal, apa karena itu aku jadi kelihatan keras kepala?
Akhir-akhir ini aku sadar bahwa hidup buatku cukup berat---tapi meski begitu tetap terbuka kemungkinan mendapat kejutan dan keringanan. Jadi, selami dan berikan kemampuan terbaik untuk menjalaninya.[] 2/1/2011
Aku berusaha berhenti kuatir pada diri sendiri
![]() |
| Gambar dari Internet. |
Kadang-kadang aku merasa kalah --> ya sudahlah.
Dalam situasi terdesak, aku pernah kalap dan marah --> maafkanlah.
Rasanya selalu ada jalan ke luar --> alhamdulillah.
Aku menerima yang aku dapat, dan berusaha memenuhi sisanya. Aku suka dikuatkan. Yah, kadang-kadang aku malas atau kalah, terlalu gampang pecah konsentrasi---padahal yang bikin banyak jebakan aku sendiri. Aku akan berusaha lebih baik. Aku berusaha menemukan sisi positif dari sinisme atau kecurigaanku. Ada masalah. Hidup itu masalah kok. Hadapilah. Tapi justru dari masalah aku mendapat sesuatu. Aku mendapat manfaat dari banyak hal. Aku meragukan banyak hal, apa karena itu aku jadi kelihatan keras kepala?
Akhir-akhir ini aku sadar bahwa hidup buatku cukup berat---tapi meski begitu tetap terbuka kemungkinan mendapat kejutan dan keringanan. Jadi, selami dan berikan kemampuan terbaik untuk menjalaninya.[] 2/1/2011
[RESENSI]Menanam Benih-Benih Kebahagiaan
---Anwar Holid
You Are Not Alone: 30 Renungan tentang Tuhan dan Kebahagiaan
Penulis: Arvan Pradiansyah
Penerbit: Elex Media Komputindo, 2010
Halaman: 252 hal., soft cover
ISBN: 978-979-27-7918-9
Harga: Rp.52.800,-
SPIRITUALITAS kerap menjadi subjek yang pelik, sulit dijelajahi, dan cenderung abstrak. Sebagian orang dengan mudah menyangka bahwa spiritualitas identik dengan religiositas (keberagamaan), sebab dua hal itu memang kerap bersinggungan, meskipun berbeda secara esensial, sampai muncul istilah "spiritual tapi bukan religius." Agama formal manapun pasti ditolak oleh penganut ateis, tapi belum tentu spiritualitas. Sudah kerap terbukti betapa sejumlah penganut ateis bisa membahas spiritualitas di luar prakiraan banyak orang, misalnya Andre Comte-Sponville. Dalam buku The Little Book of Philosophy (2005), Comte-Sponville secara sengit menyatakan: "Kita tidak tahu apa Tuhan itu ada. Itu sebabnya kita harus bertanya apa kita akan percaya atau tidak."
Arvan Pradiansyah membantah pendapat itu dengan tandas. Di dalam buku terbarunya, You Are Not Alone yang terbit di pengujung 2010, dia berpendapat: kaum ateis gagal menemukan Tuhan seperti halnya para pencuri gagal menemukan polisi. Persoalannya ada di dalam mental. Arvan menegaskan: "Tuhan hanya dapat didekati dalam tataran spiritual." Itu sebabnya dia yakin hanya orang yang cerdas secara spiritual yang memiliki kesadaran bahwa Tuhan senantiasa melihat, memperhatikan, mencintai, memelihara, dan menjaga makhluk-Nya (hal. 11). Keyakinan ini senapas dengan pendapat Ludwig Wittgenstein---salah satu filosof paling berpengaruh di abad ke-20---yang yakin betapa "kita beriman kepada Tuhan untuk menyadari bahwa hidup punya makna." Persis seperti itulah semangat yang muncul dari buku ini.
Arvan membangun basis teoretik mengenai Tuhan dan spiritualitas di buku sebelumnya, The 7 Laws of Happiness (2008), khususnya di puncak hukum kebahagiaan, yaitu Relasi Spiritual berupa berserah diri kepada Tuhan. Dia menyatakan: kita akan bahagia bila punya koneksi yang tak terbatas dengan Tuhan (hal. 137). Di buku terbaru ini dia langsung memberi ilustrasi betapa spiritualitas bisa terwujud dalam berbagai hal, dan secara khusus berusaha mengaitkan bahwa spiritualitas korelatif dengan kebahagiaan. Bila manusia penuh kesadaran akan Tuhan seperti itu, dirinya akan memperoleh kebahagiaan ultima dalam perjalanan kehidupannya.
Spiritualitas menjadi prasyarat untuk merasakan kehadiran Tuhan maupun demi meraih kebahagiaan. Kebahagiaan kerap dianggap sebagai sesuatu yang kualitatif, meski faktor-faktornya bisa diukur secara fisikal. Misal soal kepemilikan. Survey Gallup terbaru (Juli 2010) menyatakan mayoritas orang kaya lebih bahagia daripada orang miskin, lepas dari mana kekayaan itu didapat. Peneliti menyatakan: Studi kami pada orang-orang terkaya memperlihatkan bahwa di sana hanya ada sedikit saja orang yang sangat tidak bahagia. Beruntung, studi itu masih menguatkan anggapan umum bahwa pada dasarnya kebahagiaan tidak bergantung pada materi.
Arvan Pradiansyah menyatakan bahwa kebahagiaan tidak dijual. Ia masih berupa benih yang harus ditanam. Benih-benih itu mengandung beragam unsur penghasil kebahagiaan, yaitu kesabaran, keikhlasan, rasa syukur, kasih sayang, kejujuran, rela memaafkan, dan berserah diri. Hanya orang yang mampu memelihara dan menumbuhkan benih dengan baik yang akhirnya memanen kebahagiaan dengan kualitas terbaik.
ARVAN mengaku bahwa gagasan menulis You Are Not Alone dipicu niat memprovokasi pikiran orang agar berubah. Dia prihatin dengan fakta bahwa di Indonesia yang dari permukaan tampak religius ini masyarakatnya justru kerap kehilangan kendali, mudah terbakar amarahnya, dan lebih buruk lagi merupakan sarang koruptor. Provokasi itu melahirkan definisi ulang yang berani mengenai agama dan spiritualitas. Arvan menyatakan percaya pada Tuhan tidak sama dengan beriman, sebab buktinya ada banyak orang mengaku percaya pada Tuhan tapi perilakunya justru kontradiktif dengan keimanan, misal berbuat jahat. Orang-orang yang melakukan kejahatan itu justru pantas disebut kafir---sebuah pendapat yang sekarang didukung oleh organisasi-organisasi besar agama di Indonesia.
You Are Not Alone berisi tiga puluh keping renungan dibumbui komentar dan pemahaman mendalam mengenai Tuhan dan kebahagiaan. Arvan mengawali setiap bab bukunya melalui kisah dengan subjek-subjek cukup kontroversial, misal betapa religius saja belum cukup, pilih mana: orang beragama atau orang baik?, agama merupakan keharusan atau kebutuhan?, buat apa kita mengharapkan surga, juga pertanyaan esensial yang membungkus seluruh isi buku ini: apa beda mendasar antara agama dan spiritualitas? Apa yang ditawarkan spiritualitas untuk manusia dan kehidupan di zaman kini?
Namun berbeda dengan tipikal buku agama formal, Tuhan yang dibicarakan dalam buku itu tidak mengacu pada agama tertentu, melainkan Tuhan sebagaimana dipahami orang secara universal---yaitu Tuhan semesta alam. Maka bertebaranlah khazanah spiritualitas dari beragam sumber, mulai kisah dari agama-agama di dunia, perlambang, kajian mengenai spiritualitas kontemporer, kritik terhadap praktik beragama yang intoleran, termasuk pendapat berani terhadap kecerdasan spiritual.
Buku ini memperlihatkan besarnya perhatian Arvan Pradiansyah sebagai ahli SDM yang lebih mengutamakan moral dan etika daripada agresivitas individu maupun organisasi. Dia melecut pembaca untuk menemukan esensi spiritualitas dan kebahagiaan melalui kesadaran yang terus-menerus dilatih. Kesadaran akan adanya Tuhan, nilai spiritualitas, juga keinginan mencapai kehidupan yang lebih bermakna merupakan bukti bahwa manusia itu memang memiliki kecenderungan mulia.[]
Anwar Holid, penulis buku Keep Your Hand Moving (GPU, 2010).
KONTAK: wartax@yahoo.com | http://halamanganjil.blogspot.com
Resensi ini awalnya terbit di Media Indonesia pada Sabtu, 22 Januari 2011.
Copyright © 2010 Anwar Holid
Subscribe to:
Posts (Atom)

