Tuesday, March 22, 2011

[WAWANCARA]
Tamparan untuk Sikap Beragama Bangsa Indonesia---Anwar Holid

Arvan Pradiansyah menerbitkan You Are Not Alone: 30 Renungan tentang Tuhan dan Kebahagiaan pada trimester akhir tahun 2010 dan memasuki trimester awal 2011 buku ini terus mendapat sambutan positif. Dalam sebulan, buku tersebut sudah cetak ulang, dan hingga kini masih bertahan di display utama banyak toko buku. Sebuah toko buku di Jakarta baru-baru ini masih menyertakan buku tersebut sebagai pilihan dalam "Recommend of the Month" sejak awal tahun 2011. Di media massa mainstream, resensi buku tersebut antara lain muncul di Republika, Seputar Indonesia, Suara Mandiri (NTB), dan Media Indonesia.

Di tengah rapuhnya sikap terhadap keragaman dan fanatisme beragama di Indonesia, buku ini tanpa ragu memprovokasi pembaca betapa kadar spiritualitas orang beragama bisa jadi justru kosong---itu sebabnya mereka suka merasa benar sendiri, intoleran, sampai akhirnya mengamuk dan bertindak brutal. Kita lihat kekerasan atas nama agama terus terjadi secara berlarut-larut, sementara upaya solusinya terasa sukar dipahami terutama oleh pihak-pihak yang bertikai. Lebih gawat lagi, kadang-kadang para pemuka agama tanpa malu menyebarkan kebencian kepada pemeluk agama lain di tempat ibadah, di sela-sela ibadah ritual.

Wawancara dilakukan via email, dijawab oleh Arvan di sela-sela kesibukannya sebagai konsultan sumber daya manusia untuk berbagai perusahaan, penulis, dan pembicara publik---terutama menjadi narasumber talkshow "Smart Happiness" di Smart FM setiap Jumat, pukul 07.00 - 08.00 WIB yang disiarkan ke-20 kota di Indonesia.

                                                                          /***/

Anwar Holid (AH): Pada Jumat, 15 Oktober 2010 di episode JANGAN BUNUH DIRI acara Kick Andy membagi-bagikan 600 kopi You Are Not Alone kepada pemirsanya. Seperti apa perasaan Anda atas pilihan tersebut?

Arvan Pradiansyah (AP): Tentu saja saya merasa senang sekali. Acara Kick Andy itu kan disiapkan oleh tim yang sangat selektif. Kalau pada akhirnya mereka memilih You Are Not Alone sebagai buku pilihan, itu merupakan apresiasi yang luar biasa kepada saya. Selain itu, acara Kick Andy ini kan secara eksposure-nya kan cukup baik dan diminati oleh banyak pemirsa di Indonesia, jadi penampilan buku You Are Not Alone di Kick Andy mudah-mudahan bisa membuat buku ini makin dikenal, dan yang lebih penting lagi membuat pesan yang ingin saya sampaikan di buku ini dapat menjangkau lebih banyak lagi anggota masyarakat.

AH: Menurut Anda, seserius apa persoalan spiritualitas bagi bangsa Indonesia?

AP: Sangat serius. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat religius. Semua orang berduyun-duyun memenuhi rumah ibadah. Bahkan jamaah haji kita merupakan jamaah yang terbesar di dunia. Tapi ternyata menjadi religius tidak serta merta mengubah perilaku kita. Kita masih "juara" dalam hal korupsi, pornografi, dan bajak-membajak. Bahkan tidak ada satu lembaga hukum pun di negara kita yang bebas dari mafia. Ini kan luar biasa sekali. Artinya, ketaatan beribadah ternyata tidak berdampak pada perilaku kita. Kesalehan individu tidak berimbas pada kesalehan spiritual. Padahal inti spiritualitas itu sederhana sekali. Spiritualitas adalah mengenai bagaimana menjadi orang baik. Sangat sederhana bukan?

AH: Sebagian orang ateis juga bisa sangat mendalam membicarakan spiritualitas maupun ketuhanan, misalnya Andre Comte-Sponville dan Friedrich Nietzsche. Apa komentar Anda mengenai hal itu? Spiritualitas seperti apa yang mereka bicarakan? Adakah spiritualitas yang dibicarakan orang ateis itu sama atau berbeda dengan maksud orang beragama?

AP: Menurut hemat saya orang yang ateis itu sesungguhnya adalah orang yang melakukan pemberontakan terhadap organized religion. Penyebabnya bisa banyak hal, misalnya karena keinginan untuk hidup bebas dan tidak terikat. Bukankah agama seringkali (dipersepsikan) membatasi kemampuan berpikir manusia? Bukankah agama seringkali (dipersepsikan) menjejali manusia dengan segala macam dogma yang tidak masuk akal? Jadi pada diri orang yang ateis itu sesungguhnya ada pemberontakan terhadap kemapanan yang diwakili oleh agama, ada benturan antara keinginan untuk berpikir bebas dengan keharusan untuk patuh pada keyakinan dan nilai-nilai tertentu.

Namun jauh di lubuk hati mereka yang paling dalam sesungguhnya mereka percaya kepada Tuhan, paling tidak Tuhan dalam definisi mereka sendiri. Orang-orang seperti Andre Comte-Sponville misalnya, mengatakan bahwa manusia terdiri dari jasmani dan rohani. Nah, menyebutkan "rohani" saja sesungguhnya sudah menunjukkan indikasi bahwa dia percaya pada sesuatu yang tidak terlihat. Ini sesungguhnya sudah merupakan sedikit indikasi bahwa ia curiga bahwa Tuhan itu ada.

AH: Andre Comte-Sponville mengajukan argumen bahwa spiritualitas bisa dilakukan (dimaknai oleh orang) tanpa Tuhan. Apa komentar Anda?

AP: Memang benar bahwa spiritualitas bisa dimaknai tanpa Tuhan. Inti spiritualitas kan adalah menjadi orang yang baik. Dalam konteks bisnis, spiritualitas berarti melayani orang lain dengan sepenuh hati, dengan segenap jiwa dan raga. Ini tentu saja dapat dilakukan tanpa dikaitkan dengan Tuhan. Namun tanpa dikaitkan dengan Tuhan spiritualitas tidak akan maksimal dan tidak akan sempurna. Kenapa demikian? Karena sesungguhnya dasar dari segala kebaikan itu adalah Tuhan. Tuhan adalah asal muasalnya segala bentuk kebaikan. Bahkan kenapa kita harus melayani orang lain (dengan melakukan pekerjaan) sesungguhnya adalah karena kita meneruskan pelayanan yang diberikan Tuhan kepada kita secara gratis. Tuhan sudah melayani dengan memberikan kehidupan yang begitu indah dan luar biasa kepada kita. Pelayanan ini sulit untuk kita balas karena Tuhan tidak membutuhkan balasan apa pun dari kita. Bukankah dia Yang Maha Kaya? Jadi cara kita membalas pelayanan Tuhan adalah dengan cara melayani sesama manusia. Inilah yang dilakukan orang di dalam bisnis.

Nah, orang yang melakukan spiritualitas tanpa mengaitkannya dengan Tuhan tidak bisa melihat fenomena ini secara keseluruhan. Paradigmanya kurang lengkap, kurang paripurna. Ibaratnya dia hanya melihat perjalanan hidup ini dari A sampai M, bukan sampai Z.

AH: Menurut Anda, dengan cara apa manusia bisa berhubungan secara ideal dengan Tuhan? Apa lewat doa, menaati perintah Tuhan, atau memeluk agama?

AP: Tentu saja dengan beribadah sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya. Tanpa menjalankan ibadah sesuai ajaran agama saya kira manusia tidak akan bisa berhubungan secara ideal dengan Tuhan.

Agama sesungguhnya mengandung dua unsur: Religiositas dan Spiritualitas. Religiositas menurut saya lebih pada tata cara untuk berhubungan dengan Tuhan, sementara Spiritualitas adalah pada "pertemuan" dengan Tuhan itu sendiri. Jadi inti dan hakikat setiap agama sesungguhnya adalah Spiriritualitas yaitu bagaimana berhubungan dan berkomunikasi langsung dengan Tuhan.

Banyak orang yang melakukan ibadah sesuai dengan ajaran agamanya tapi tetap saja gagal "menjumpai" Tuhan. Mereka rajin beribadah tapi tidak pernah memahami apa maksudnya. Mereka sesungguhnya sedang menjalankan aktivitas ritual yang tidak bermakna lebih selain hanya sebagai menjalankan kewajiban. Mereka hanya takut pada Tuhan di rumah ibadah. Tapi begitu ke luar dari rumah ibadah mereka memasabodohkan Tuhan, menganggap Tuhan itu tidak ada dan tidak hadir dalam kehidupan mereka. Inilah orang yang religius tapi tidak spiritual.

Di lain pihak ada orang yang spiritual tapi tidak religius. Orang ini percaya pada Tuhan tapi tidak menganut ajaran agama apa pun. Mereka ini akan sulit berhubungan dengan Tuhan karena bagaimanapun kita membutuhkan cara dan sarana agar dapat berkomunikasi secara intensif dengan Tuhan. Cara inilah yang diatur oleh ajaran agama.

AH: Ini soal penggunaan istilah asing. Seorang pembaca menanggapi You Are Not Alone sebagai berikut: "Sayang, mirip Rhenald Kasali dan Hermawan Kartajaya, Arvan tidak mengajarkan pembacanya mencintai bahasa Indonesia. Semua judul bukunya berbahasa Inggris. Padahal sang penulis mengajarkan tentang cinta. Kenapa kita enggak pakai judul bahasa Indonesia saja? Misal, "Kita tak sendiri". Atau "7 kaidah kebahagiaan". Saya agak iritasi membaca buku bahasa Indonesia, dikarang oleh orang Indonesia, ditujukan untuk pembaca orang indonesia, tapi bahasanya asing, entah itu Arab, Inggris, atau Belanda." Ini seakan-akan menunjukkan bahwa penulis seperti Anda tidak cinta bahasa Indonesia. Bagaimana komentar Anda?

AP: Menurut saya penggunaan judul buku dengan menggunakan bahasa asing bukanlah persoalan cinta. Ini persoalan efektivitas. Setiap bahasa memiliki nilai rasa yang berbeda. Saya pernah membaca bahwa bahasa Arab memiliki nuansa dan nilai spiritual yang tinggi. Sementara bahasa Inggris lebih solid dalam menyampaikan suatu konsep. Jadi sebuah konsep yang diungkapkan dalam bahasa Inggris akan terdengar lebih padat, compact dan bermakna. Coba saja Anda lihat buku-buku saya. Coba Anda rasakan, mana yang lebih solid: Andalah Sang Pemimpin atau You Are A Leader? Menghargai Setiap Saat atau Cherish Every Moment? 7 Kaidah Kebahagiaan atau The 7 Laws of Happiness. Ini sekali lagi adalah masalah rasa bahasa.

Akan halnya You Are Not Alone, menurut saya bukan hanya masalah rasa bahasa, tetapi juga berkaitan dengan maknanya. Dalam bahasa Indonesia mungkin kita menerjemahkannya dengan "Anda Tidak Sendiri". Kata "sendiri" dalam bahasa Indonesia bermakna seorang diri, padahal kata "alone" tidak bermakna seorang diri tapi bisa juga berdua, bertiga, maupun dengan banyak orang.

Maksud saya begini, orang yang berselingkuh itu kan ketika sedang berselingkuh pasti berdua, tidak mungkin sendiri. Orang yang korupsi itu juga kan tidak mungkin sendirian, tapi berjamaah. Padahal pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa orang-orang yang selingkuh atau korupsi itu menyangka diri mereka tidak dilihat oleh Tuhan (bukan berarti bahwa mereka sedang sendirian, tapi bahwa mereka sedang jauh dari Tuhan). Karena itu kalimat yang lebih pas untuk menunjukkan hal ini adalah "You Are Not Alone", bukan "Anda Tidak Sendirian".

AH: Sebagian pembaca berhati-hati bahwa spiritualitas dikhawatirkan bisa mencampuradukkan atau mengotori keyakinan (iman) terhadap agama. Bagaimana membedakan agama dan spiritualitas? Bagaimana cara You Are Not Alone bisa memberi manfaat mengenai kebertuhanan yang hakiki?

AP: Berhati-hati tentu baik-baik saja. Yang tidak baik itu curiga, karena dalam curiga itu ada berbagai prasangka. Banyak orang menyalahpahami spiritualitas karena tidak memahami apa artinya. Seolah-olah spiritualitas adalah ajaran tanpa agama. Padahal sesungguhnya inti dari setiap ajaran agama itu adalah spiritualitas. Tidak ada agama tanpa spiritualitas. Apa itu spiritualitas? Bagi saya spiritualitas itu adalah rasa terhubung (sense of connection) dengan Tuhan. Masalahnya ada banyak orang yang setelah menjalankan ritual keagamaan masih merasa jauh dengan Tuhan. Indikasinya adalah ketika mereka masih melakukan berbagai kemaksiatan walaupun mereka rajin beribadah, seolah-olah ibadah yang mereka lakukan itu tidak ada bekasnya sama sekali dalam keseharian mereka.

Jadi agama itu selalu berkaitan dengan ajaran dan aktivitas ritual sementara spiritualitas itu adalah keterhubungan dengan Tuhan. Nah, pesan utama dan terpenting yang saya sampaikan dalam You Are Not Alone adalah sebagai manusia kita mempunyai kebutuhan untuk selalu dekat dan terhubung dengan Tuhan. Kita harus menyadari bahwa Tuhan bukanlah sosok yang jauh, yang ada diluar angkasa sana. Tuhan justru ada di dekat kita bahkan lebih dekat dari urat leher kita sendiri. Kalau kita menyadari hal ini maka kita akan selalu optimis, tak pernah merasa sendiri, dan tidak akan melakukan perbuatan yang tercela.

AH: Sejauh pengamatan Anda, adakah komentar negatif terhadap You Are Not Alone? Apa tanggapan mas Arvan terhadap review seperti itu?

AP: Sejauh ini tanggapan terhadap You Are Not Alone sangat positif. Beberapa perusahaan bahkan memesan buku ini dalam jumlah banyak untuk dibagikan kepada para karyawannya. Saya juga banyak mendapatkan tanggapan dari berbagai orang yang merasa tercerahkan setelah membaca buku ini.

Saya juga mendapatkan apresiasi dari teman-teman dari berbagai ajaran agama. Ini merupakan bukti bahwa Tuhan adalah sesuatu yang universal. Tuhan ada dalam diri setiap manusia. Orang bisa saja memanggil Tuhan dengan nama yang berbeda, tapi Tuhan yang dimaksud ya Dia Dia juga. Dialah Tuhan Yang Satu. Tuhan Yang Maha Kuasa.

AH: Terakhir: apa harapan utama Anda atas terbitnya You Are Not Alone?

AP: Saya berharap buku ini dapat mengubah paradigma masyarakat Indonesia tentang Tuhan. Tuhan itu dekat, bukan jauh. Tuhan ada di mana-mana, bukan hanya di tempat ibadah. Tuhan ada di kantor, di pabrik, di bursa, di instansi pemerintah, di pengadilan, di kejaksaan, di kepolisian, di mana saja kita berada.[]

Anwar Holid, penulis buku Keep Your Hand Moving (GPU, 2010).
KONTAK: wartax@yahoo.com | http://halamanganjil.blogspot.com

Situs terkait:
http://www.ilm.co.id
http://www.elexmedia.co.id/buku/detail/9789792779189

Copyright © 2010 Anwar Holid

Thursday, March 03, 2011


[RESENSI]

Ayo Gerakkan Tanganmu untuk Menulis!
---Ulfi Nugraha, mahasiswa Institut Teknologi Telkom Bandung

Di era yang serba canggih ini, mengemukakan sesuatu yang ada dalam pikiran seperti pendapat, curhat, gugatan, ataupun kisah pribadi dalam bentuk tulisan sudah merupakan hal yang umum. Lihat saja, saat blog begitu populer banyak orang menulis keseharian atau opini dalam blognya. Kemudian diikuti dengan era jejaring sosial seperti Multiply, Facebook, Twitter, dan lain-lain yang menggerakkan orang untuk terus menulis apa yang ada dalam benak mereka.

Sesungguhnya semua orang bisa menulis, tetapi kemampuan untuk menghasilkan ide, mewujudkannya jadi tulisan yang utuh, enak dibaca, serta layak dipublikasi itu perlu dipelajari secara terus-menerus. Bagaimana agar semua itu bisa terwujud? Anwar Holid mencoba memberikan tips bagaimana menulis, mengedit, dan memolesnya dalam buku berjudul Keep Your Hand Moving.

"Keep Your Hand Moving" di buku setebal 160 halaman ini ialah slogan yang dicetuskan Natalie Goldberg, seorang guru penulisan kreatif. Dia mengusung metode free writing yang mengaitkan peran mental dan spiritual dalam menulis. Teknik ini banyak dipuji, bahkan dianggap berhasil merevolusi pendekatan penulisan. Sebenarnya prinsip menulis Goldberg ini sederhana saja, yaitu "keep your hand moving" (gerakkan terus tangan kamu!); jangan mencoret dan jangan mengedit waktu menulis; jangan khawatir soal ejaan, tanda bacaan, tata bahasa; lepaskan kontrol; jangan berpikir, tidak mesti logis; carilah urat nadinya.

Keenam prinsip inilah---terutama slogan "keep your hand moving"---yang memberi inspirasi pada Anwar Holid untuk merumuskan panduan menulis berdasarkan pengalaman dan pengamatannya selama ini. Dia tak sekadar membeberkan prinsip menulis tersebut, tetapi melengkapi apa yang telah diutarakan Goldberg.
____________________________________________________________
Info Buku

Judul: Keep Your Hand Moving: Panduan Menulis, Mengedit, dan Memolesnya      
Penulis: Anwar Holid
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU), 2010      
Halaman: 160 hal.; format: 13.5 x 17 cm
Kategori: Nonfiksi; Penulisan; Pengembangan Diri dan Inspirasional
ISBN: 978-979-22-5844-8      
Harga: Rp.35.000,-      
____________________________________________________________

Anwar Holid tampak hanya mengambil spirit Goldberg dalam menggerakkan seseorang untuk menulis. Selanjutnya, ia memberikan arahan yang lebih praktis dan membumi bagaimana menghasilkan tulisan yang bagus, mengedit, memolesnya sehingga layak untuk dipublikasikan. Di buku mungil ini dia membagi bukunya menjadi delapan bab, semua tersaji dengan padu, ringkas, dan padat. Dua bab pertama berbicara mengenai bagaimana kita harus melemaskan saraf menulis dengan cara membiasakan diri menulis sehingga perlu pengondisian agar kita dapat terus menulis.

Di sinilah slogan "keep your hand moving" diperlukan. Gerakkan terus jemarimu, pokoknya tulis saja walau itu hanya satu paragraf, menjawab e-mail, sekadar respons terhadap segala sesuatu, diari, unek-unek, dan sebagainya. Teruslah menulis, dengan demikian diperlukan alokasi waktu dan menyempatkan diri untuk menulis. Bagi penulis pemula, Anwar Holid menyarankan agar menulis 10-25 menit setiap hari untuk membangun kebiasaan menulis.

Saran yang menarik dari Anwar Holid bagi penulis pemula adalah jangan takut untuk menyalin dan menempelkan pikiran orang pada tulisan dan pikiran sendiri (copy and paste). Tentunya dengan syarat bahwa dalam tulisan itu kita harus mengutarakan bahwa pikiran itu milik orang lain. Ia mengungkapkan bahwa salah satu manfaat copy and paste ialah agar kita belajar menggunakan istilah sebagaimana asalnya.[]

Resensi ini awalnya dimuat di Pikiran Rakyat, pada Kamis, 21 Oktober 2010.

Wednesday, February 23, 2011

[Feature Profil]
Arvan Pradiansyah: Belajar dari Nenek 
Yang Menangis Tiap Hari
---Wayan Diananto

Awal pekan Januari 2011 di Purwakarta, di sebuah kelas intensif dengan peserta dua puluh orang. Seorang pembicara mengetengahkan topik rasa syukur. Dalam sebuah jeda, seorang peserta kelas berbicara tentang pahitnya kehilangan.

“Selama ini saya bermasalah dengan ayah. Sudah bertahun-tahun tidak menemuinya. Hari itu saya ingin menemuinya. Saya merasa ada sesuatu yang keliru dan harus segera diperbaiki. Pada saat niat itu muncul, saya menuju ke kediamannya. Saya memang bertemu ayah, tapi matanya terpejam. Dan tidak pernah bisa terbuka lagi. Saya menyesal. Saya tidak tahu seberapa besar nilai seorang ayah dalam kehidupan sampai kehilangan selamanya. Nyatanya, saya tidak pernah mensyukuri keberadaan ayah,” ujar si peserta. Rasa sesal menggores begitu dalam.

Nenek Yang Menangis Tiap Hari
Begitulah hidup. Manusia bercengkerama dengan dua hal bertentangan. Sedih dan bahagia. Menurut sang pembicara kelas itu, bahagia sebenarnya soal bagaimana sudut pandang kita memandang hidup. Perkenalkan, nama pembicara ulung itu ialah Arvan Pradiansyah. “Bahagia berhubungan dengan cara kita melihat dunia,” ujar Arvan di Sarinah Jakarta, Rabu (26/1).

Selanjutnya, Arvan menyampaikan ilustrasi menyentuh. Kisah seorang nenek dan dua anaknya. Setiap hari nenek itu menangis. Tetangga yang melihat nenek itu menangis jadi bertanya-tanya, seberat apakah beban yang disandang wanita renta ini?

“Nek, kenapa sih tiap hari menangis?” tetangga bertanya.

“Saya punya dua anak. Yang lelaki pekerjaannya jualan es. Yang perempuan jualan payung. Kalau musim cerah begini, saya menangisi anak perempuan karena dagangannya enggak laku. Kalau musim hujan, saya menangis memikirkan anak saya laki-laki. Es buatannya sepi pembeli,” keluhnya.

“Nek, begini saja deh. Gimana kalau cara berpikirnya di balik. Siang nanti, kalau matahari terik, pikirkan anak Nenek yang jualan es. Pasti Nenek senang karena dagangannya laris manis. Kalau siang nanti ternyata hujan deras, pikirkan saja anak nenek yang jualan payung. Pasti hidup Nenek bahagia,” si tetangga sodorkan solusi.

Ya, sebetulnya kebahagiaan itu bisa didapat bukan dengan mengubah apa yang ada di sekitar kita. Semua dimulai dengan mengubah sudut pandang kita. Yang patut dipahami, masalah hidup tidak akan pernah habis. Satu masalah rampung, masalah lain menyongsong. Sejatinya, masalah adalah salah satu ciri kehidupan. Yang namanya hidup, suka atau tidak suka, pasti ada masalah. Pasti.
Arvan Pradiansyah.            Foto: Hono Mustanto

Growing Up dan Growing Old
“Kita patut bersyukur saat masalah melanda, berarti kita masih hidup. Hanya, pastikan masalah yang menimpa kita berbeda. Jangan sampai dari tahun ke tahun masalahnya sama. Itu-itu melulu,” Arvan menyambung obrolan. Jika menghadapi masalah yang sama terus, kita tidak akan bertumbuh. Misalnya begini, masalah Anda tahun lalu ialah putus cinta.

Merasakan putus cinta jauh lebih bagus ketimbang tak pernah putus cinta sama sekali. Artinya, pernah ada seseorang yang begitu mencintai Anda. Problemnya, tahun depan jangan sampai terjebak masalah yang sama, dengan orang yang sama. Tahun depan, bisa jadi masalah Anda bukan lagi putus cinta dengan si A. Melainkan deg-degan karena mempersiapkan pernikahan dengan si B. Atau, masih putus cinta sih tapi bukan lagi dengan si A, melainkan si C. Jangan terpaku dan terlarut dengan masalah yang sama, menahun.

“Ketika seseorang menghadapi masalah berbeda dari waktu ke waktu, itu disebut pengalaman. Itulah proses growing up, yang mendewasakan. Ketika Anda berlama-lama dengan satu masalah yang sama, itu disebut penglamaan. Itulah growing old, penuaan. Menjadi tua belum tentu menjadi dewasa,” ulas penulis buku Life Is Beautiful. Menyelesaikan satu masalah bukanlah perkara mudah. Diperlukan upaya keras, bahkan mungkin menahun. Saat tahun berganti, bisa jadi masalah yang belum selesai itu dijalin dengan problem berikutnya.

Menanti Delapan Tahun
Arvan membagikan sebuah pengalaman untuk kita. Semasa kecil, alumnus Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia ini gemar pelajaran mengarang. Dengan menuliskan isi otaknya yang penuh ide, bisa dituang, lalu dibagi ke calon pembaca. Beranjak dewasa, Arvan memberanikan diri menulis ke beberapa surat kabar dan majalah nasional.

“Tulisan saya dikembalikan. Alasannya, terlalu panjang. Lalu saya mencoba menulis efektif. Itu pun dikembalikan. Alasan redaksi, terlalu pendek. Seketika itu, semangat menulis anjlok. Beberapa tahun kemudian, saya mencoba lagi dan masih ditolak. Saya ngambek. Buat apa menulis lagi lha wong berkali-kali ditolak?” pikir Arvan kala itu. Ia mulai menulis pada 1990. Akhirnya, artikel Arvan terbit di sebuah majalah pada 1998. Bayangkan, delapan tahun ditolak.

“Saya berpikir, kalau berhenti mencoba, kita tidak pernah tahu apa yang terjadi selanjutnya. Akhirnya, saya coba lagi. Di situlah tunas harapan bertumbuh. Untuk kali pertama dalam hidup, tulisan saya dimuat di majalah ekonomi. Bangganya bukan main. Saya membawa majalah itu ke mana-mana. Sampai bertemu mertua pun, majalah itu saya bawa,” kenangnya.

Seandainya Arvan menyerah pada tahun kelima, keberhasilan tidak akan pernah dijemputnya. Keberhasilan datang kepada mereka yang terus dan terus berusaha. Kita tidak akan pernah mencapai apa yang kita inginkan, jika berhenti berusaha. Ketika kita berhenti berusaha, Tuhan juga akan berhenti bekerja bersama, menyokong kita. Itulah prinsip hidup Arvan.

Tulisan di kolom majalah di pengujung pemerintahan Presiden Soeharto itu membentangkan karpet merah. Dari tangan dan penanya, tergores puluhan ribu kata. Ribuan kalimat. Dan diabadikan dalam banyak artikel serta buku. Buku pertama yang dirilis ialah You Are A Leader. Menyusul kemudian Life Is Beautiful, Cherish Every Moment, The 7 Laws Of Happiness, dan You Are Not Alone.

Arvan juga dikenal sebagai kolumnis di dua media ternama, majalah SWA dan Bisnis Indonesia. Dia memberi pelatihan untuk puluhan bank, perusahaan minyak, asuransi, dan berbagai perusahaan lain. Suaranya menggema dalam talk show Smart Happiness, disiarkan sebuah jaringan radio ke dua puluh lima kota besar di penjuru Nusantara. Memasuki Februari 2011, Arvan akan mengisi rubrik konsultasi bertema “Life is Beautiful” di tabloid Bintang Indonesia.

Jika Anda memiliki masalah hidup, Anda bisa berbagi dengan Arvan. Layangkan surat maupun email Anda ke alamat pos redaksi atau email Bintang Indonesia. “Ketika Anda berbagi problem, dan saya berbagi alternatif pemecahan. Anda belajar dari saya, dan saya belajar dari masalah Anda. Saling belajar, itu salah satu hal termanis dalam hidup. Ibadah yang menyenangkan,” pungkas Arvan.[]

Profil ini awalnya dipublikasi tabloid Bintang Indonesia edisi 1028/tahun XX/minggu kelima Januari 2011.

Untuk konsultasi dengan dengan Arvan Pradiansyah, kontak email:
redaksi@bintang.co.id, tabloidbintangindonesia@gmail.com

Situs terkait:
http://www.bintang.co.id
http://www.ilm.co.id