Tuesday, July 19, 2011

Foto: Budi Warsito
'Hidden Gems' Lima Album Pertama Queen
---Anwar Holid

Deep Cuts, Volume 1 (1973-1976)
Musisi: Queen 
Jenis: album kompilasi
Rilis: 14 Maret 2011 
Rekaman: 1972–1976 
Genre: Rock 
Durasi: 50:01 
Label: Universal Music, Island Records
Rating: 4/5

Untuk merayakan ulang tahun ke-40, Queen merilis album kompilasi berisi 'hidden gems' dari lima album pertama mereka. Maksud 'hidden gems' ialah lagu-lagu minor yang dinilai membentuk karakter dan mewujudkan visi mereka dalam bermusik. Lagu-lagu ini jelas kurang dikenal oleh masyarakat luas, tapi bagi penggemar Queen maupun penggemar rock, bisa mewakili kreativitas terhebat mereka. Contoh "Stone Cold Crazy" yang pernah dibawakan lagi oleh Metallica. Ketika mereka meraih Hadiah Grammy atas lagu tersebut, orang sadar bahwa Queen bukanlah grup paduan suara yang menghasilkan satu hit berjudul "Bohemian Rhapsody."

Queen adalah sebuah band album. Mereka tidak mengandalkan satu lagu tertentu untuk menunjang kesuksesan sebuah album, tetapi mengerahkan semua lagu agar bisa diterima massa. Hanya tuntutan industri dan produser yang membuat mereka harus memilih 1-2 dua lagu untuk dilempar ke pasar, dengan kompromi semoga itu merupakan lagu paling komersil yang bakal mungkin menjadi "radio friendly." Karakter sebagai band album tampak jelas dari penempatan urutan lagu yang jarang menaruh single mereka di urutan pertama.

Maka, pilihan terhadap 'hidden gems' tadi menjadi rada dilematik, apalagi Queen kini hanya tinggal Brian May dan Roger Taylor, setelah Freddie Mercury meninggal dunia dan John Deacon pensiun. Deep Cuts, Volume 1 secara personal dipilih oleh dua anggota tersisa, ditambah saran Taylor Hawkins, drummer Foo Fighters, yang ternyata seorang pengagum berat Queen.

Di satu sisi, pilihan tiga orang tersebut bisa dibilang sukses. Empat belas lagu ini memperlihatkan betapa sejak awal Queen telah memperlihatkan kompleksitas dalam lagu-lagunya, namun sekaligus membuktikan daya jelajah mereka yang sangat luas untuk memperkaya musik rock. Mereka berhasil memaksimalkan kreativitas demi menciptakan lagu dengan beragam sentuhan, mulai dari klasik hingga balada dan folk. Semua itu didukung oleh virtuositas para anggotanya yang di atas rata-rata.

Band Pionir dan Inspirator

Fakta ini akan tampak lebih heroik lagi jika dikaitkan dengan cerita betapa teknologi rekaman dan musik zaman itu belum mampu mengakomodasi daya kreasi mereka, dan terlebih-lebih di tiga album pertama Queen hanyalah sebuah band rock biasa yang masih kesulitan uang, sedang susah payah menaklukkan panggung, dan mencoba menawarkan kebaruan, terutama dari segi penampilan. Penampilan mereka dalam sejarah musik rock disebut-sebut merupakan pionir dan inspirasi yang melahirkan genre glam-rock, sementara sejumlah lagu mereka menjadi contoh terbaik bentuk stadium rock.

Singel pertama mereka, "Keep Yourself Alive", yang ditolak sejumlah radio di Inggris, secara ironik menyemangati empat sekawan ini agar terus bertahan dan mengembangkan sayap. Mereka sempat bangkrut karena ditipu manajer dan baru bisa rekaman di kala jam-jam kosong studio demi menghemat pengeluaran. Hanya kegigihan dan keyakinan yang membuat mereka terus bertahan bekerja keras. Pada saatnya nanti semua akan berubah drastik setelah mereka mengeluarkan album A Night at the Opera, yang lagu pertamanya dipersembahkan untuk mengumpat mantan manajer sialan itu!

Track demi track dalam Deep Cuts, Volume 1 mampu memancarkan pesona 'hidden gems' dengan baik, namun pilihan itu tetap bisa menimbulkan keheranan. Sangat aneh betapa "Love of My Life" tidak masuk hitungan sebagai sebuah permata mahakarya, padahal mungkin semua orang juga tahu lagu ini merupakan salah lagu paling populer Queen, mudah dinyanyikan, termasuk paling banyak di-cover musisi lain, dan menjadi standar dalam "power ballads." Begitu juga dengan "The Prophet's Song", sebuah lagu terpanjang mereka dengan komposisi yang sangat kompleks---bahkan sebagian fans fanatik menganggapnya lebih hebat dari "Bohemian Rhapsody." Mengabaikan lagu yang bisa menarik minat massa luas sangat berpotensi membuat album kompilasi ini jatuh jadi sekadar membuat semangat para penggemar berat Queen.

Pasca album studio terakhir Made in Heaven (1995), sebagian penggemar mengkritik bahwa Queen sudah kebanyakan mengeluarkan kompilasi dalam beragam variasi, dan salah-salah secara sinis dianggap sebagai cara murahan untuk mencari uang. Tapi untuk Deep Cuts, Volume 1, ceritanya agak lain. Kompilasi ini digarap dan disiapkan dengan serius, termasuk dengan melakukan remastered. Apalagi komentar atas track demi track dari Rhys Thomas sangat informatif dan memperkaya latar belakang Queen di era tersebut. Kompilasi ini selain mempertontonkan kreativitas, karakter, dan chemistry sebuah band yang kuat, juga membuktikan betapa menarik hiruk pikuk musik rock tahun 1970-an. God save the Queen![]

Friday, July 01, 2011

Membangun dan Meruntuhkan Mimpi
---Anwar Holid

Turiya
Penulis: Maradilla Syachridar
Penerbit: Else-Press, 2011
Tebal: 166 hal.
Jenis: Fiksi
ISBN: 978-602-99145-8-0


Waktu pertama kali lihat novel ini, yang langsung terlintas dalam benakku ialah: "Wah, indah sekali kemasan buku ini!" Dicetak hard cover dengan lay out yang sangat nyaman untuk pembacaan, ditambah ilustrasi menawan, novel ini dalam sekilas pandang saja langsung bikin ngiler orang untuk membacanya, atau minimal untuk mengelus dan membuka-bukanya. Penerbit tampak menyiapkan novel ini dengan matang, memanfaatkan selera seni yang tinggi. Bisa jadi karena seni pula yang menjadi subjek sekunder dalam kisah ini, yaitu musik, seni lukis, dan seni menikmati anggur. Cover gelas bersulang secara terbalik bisa secara persuasif mencerminkan adanya sesuatu yang tumpah, tercecer berantakan. Apa yang berantakan? Mimpi, harapan, cinta, sekaligus persahabatan.

Subjek primer Turiya sebenarnya sederhana: cinta. Maradilla berusaha mengutarakannya dengan cara yang rada rumit untuk menghindari klise, namun upaya itu di awal-awal tampak agak kurang hidup karena beberapa faktor. Yang utama ialah dia ingin menciptakan dunia mimpi yang bisa mempertemukan dua hasrat terpendam, tapi unsur pembentuknya kurang distingtif, meskipun sudah coba diperpekat dengan unsur yang dekat dengan dunia mimpi, yaitu surealisme, dan memperkuatnya dengan setting yang berlokasi di sebuah kota imajiner yang terkesan fantastik. Kesan yang muncul justru adanya persoalan komunikasi, dalam hal ini tiadanya keberanian menyatakan maksud dengan jelas dan keragu-raguan dalam memutuskan sesuatu. Persoalan komunikasi ini menjadi lebih sulit ketika para tokohnya dibiarkan tidak memiliki karakter yang cukup kuat agar cerita berkembang lebih dramatik.

Dwayne, seorang gadis yang sangat terpengaruh oleh mimpi, memendam rasa kepada Millo, seorang pelukis yang menyandarkan proses kreatifnya pada impuls bawah sadar maupun tekanan batin. Hubungan itu jadi serba salah karena di tengah-tengah mereka ada King, seorang pengusaha anggur, yang adalah kawan karib Millo dan justru menginginkan Dwayne. Ketiganya berkawan dekat, sangat kerap menghabiskan waktu maupun aktivitas bersama, namun situasi itu justru membuat mereka kesulitan membedakan apa arti sahabat dan cinta. Mereka takut bila memilih salah satu kedua hal itu justru saling menghancurkan. Mereka sungkan mengungkapkan perasaan secara tegas, apalagi Millo dan King juga memiliki persoalan pribadi yang belum selesai. Awalnya, hasrat Dwayne dan Millo bisa tersalurkan lewat mimpi maupun dunia maya, bahkan mampu memberi energi kreatif kepada Millo untuk mengekspresikannya ke dalam lukisan surealistik. Namun toh mereka akhirnya sadar bahwa di dalam kenyataan, mereka seperti tidak punya keberanian atau peluang untuk menegaskan hubungan terhadap King. Akibatnya, bahkan di dalam dunia imajiner yang sangat lembut, rahasia, dan merupakan satu-satunya tempat mencari rasa aman pun mereka tetap dikejar-kejar rasa bersalah. Mereka baru tahu betapa mahal persahabatan dan cinta ketika terpaksa harus meruntuhkan keduanya dan harus mencari solusi sendiri-sendiri.

Kesulitan komunikasi dan keragu-raguan dalam memilih atau mengambil tindakan
mengingatkanku pada novel Perahu Kertas (Dee), apalagi salah satu tokohnya juga pelukis. Cuma teknik cara bercerita Maradilla jauh berbeda dengan dibandingkan Dee. Dia tampak berambisi menciptakan novelnya sebagai karya serius, bukan kisah cinta gampangan. Ambisi itu diperlihatkan lewat plot yang rada berlapis, ditambah cerita tentang surealisme, musik psikedelik, seni menikmati anggur, juga menggali betapa orang kerap kesulitan menemukan kebahagiaan, apa lagi Maradilla masih sempat-sempatnya menyerempet isu aborsi---sesuatu yang sekadar jadi bumbu cerita, tapi tidak memperkuat selera tema.

Turiya adalah sejenis novel yang memperlihatkan bahwa pertumbuhan menuju dewasa pada suatu fase tertentu bisa jadi menyakitkan, tapi di sisi lain setelah melalui fase tersebut kita bisa lebih sadar atas pilihan maupun keputusan sendiri.[]

Anwar Holid, penulis Keep Your Hand Moving.

Klik ini bila mau review Perahu Kertas (Dee).

PS: Turiya diterbitkan secara print on demand, tidak tersedia di toko buku umum. Anda bisa memesannya via:
http://www.facebook.com/pages/Turiya-by-Maradilla-Syachridar/201125776575919
http://www.brainmelosa.blogspot.com
http://maradillasyachridar.com
Twitter: @maradilla

Friday, June 24, 2011

Relationship
RINGKASAN SMART HAPPINESS, JUMAT, 24 JUNI 2011

Ketika berkomunikasi, kita melakukan dua hal, yaitu:
  • ada pesan (message), bersifat eksplisit, bisa dianalisis
  • ada relationship, bersifat implisit, memperlihatkan apa hubungan kita dengan pihak yang diajak berkomunikasi itu baik atau buruk.

Hubungan yang indah terjadi berkat adanya kepercayaan, bukan kepentingan. Kebahagiaan bergantung pada adanya hubungan, karena kita adalah makhluk sosial. Kondisi dan situasi seseorang membuat hubungan jadi dinamik. Jadi tergantung apa secara rutin disirami atau tidak, terutama dengan "tabungan emosi", dipupuk dengan hal-hal kecil, perhatian, dan terus menerus disegarkan. Hubungan yang baik baru teruji kalau sedang ada masalah. Bila hubungan baik karena tidak ada atau belum ada masalah, hubungan itu rapuh, sebab belum membuktikan bahwa kedua pihak saling memahami. Karena itu adanya konflik atau konfrontasi dalam hubungan justru bagus, asal pemahaman kedua belah pihak terhadap orang tersebut lebih baik. Sebaliknya, kalau ada masalah, selesaikanlah relasi maupun hubungannya dengan orang bersangkutan. Selain memperlihatkan kualitas hubungan, sumber masalah merupakan sumber jawaban itu sendiri.

Jangan hanya berhubungan ketika ada masalah, karena itu bisa membuat orang lain jadi merasa dimanfaatkan, bukan bermanfaat. Hanya berhubungan ketika ada masalah, apalagi dalam hubungan yang tidak dipupuk, akan membuat kondisi itu jadi MINTA TOLONG. Karena itu, untuk memupuk hubungan, gunakan media yang ada, baik dengan telepon, sosial media, aplikasi komunikasi, sapaan, bahkan kejutan-kejutan kecil. Jangan ada agenda ketika sedang berkomunikasi, tidak berdasar kepentingan tertentu. Bukalah relasi dengan orang lain, karena kita bisa mendapat pengalaman hidup maupun pengalaman kerja dari orang bersangkutan, dan itu akan membuka berbagai kemungkinan, termasuk memperpanjang rezeki dan umur.

Orang yang memiliki hubungan baik besar kemungkinan akan lebih bersemangat, terlibat (engage), memiliki passion---baik dalam kehidupan personal maupun di tempat kerja.[]wartax, 24 juni 2011