Friday, May 31, 2013

Pengantar Terbaik Mendengar
The Rolling Stones
--Anwar Holid


Big Hits (High Tide and Green Grass)
Album kompilasi karya The Rolling Stones
Label: ABKCO Records
Durasi: 36:29
Rilis: 1966
Produser: Andrew Loog Oldham
Genre: Rock, rock 'n' roll, blues rock


Big Hits (High Tide and Green Grass) adalah semacam album "greatest hits" dan merupakan kompilasi resmi pertama yang dirilis The Rolling Stones. Album ini secara brilian menempatkan lagu "(I Can't Get No) Satisfaction" sebagai track pertama. Inilah lagu kebangsaan yang bisa membuat ribuan penggemar The Stones seperti kesurupan kalau nyanyi bareng. Benar-benar anthemic dan memabukkan.

Sejak di awal karirnya The Rolling Stones kerap dibandingkan dan dianggap sebagai rival The Beatles. Bila The Beatles terkesan tertib dan sopan, The Rolling Stones jauh sangat terlihat urakan, bengal, memberontak, dan dianggap lebih mewakili kegelisahan kaum remaja zaman flower generation. Predikat sebagai pembawa sex, drugs, and rock 'n' roll jelas terwakili dengan sempurna dan bertahan hingga anggota band ini pada menua jadi kakek-kakek. Namun dalam kehidupan sehari-hari The Rolling Stones dan The Beatles sebenarnya bersahabat, terbukti pada tahun 1963 The Stones pernah membawakan lagu "I Wanna Be Your Man" ciptaan Lennon-McCartney yang sukses menjadi hit.

Big Hits menandai solidnya kerja sama Mick Jagger dan Keith Richards sebagai pencipta lagu utama The Stones, mengungguli usaha Brian Jones untuk mengontrol band ini, meski secara de facto dialah yang mendirikannya. Album ini juga menyertakan lagu-lagu hits awal mereka yang diciptakan orang lain, antara lain  "It's All Over Now" (Bobby Womack dan Shirley Jean Womack), "Not Fade Away" (Norman Petty dan Charles Hardin), "Time Is on My Side" (Norman Meade), sementara untuk edisi Amerika Serikat album ini menyertakan "Come On" karya Chuck Berry dan "Little Red Rooster" (Willie Dixon). Pilihan itu memperlihatkan pengaruh blues yang sangat kental dalam musikalitas The Stones.

Setelah rentang karir yang amat lama, konsisten, juga pencapaian mencengangkan, kita sekarang tahu betapa legendaris dan berpengaruhnya The Rolling Stones pada musik rock. Nah, Big Hits (High Tide and Green Grass) merupakan album yang secara luas diakui sebagai "pengantar" awal terbaik untuk mendengar seperti apa akar musik The Rolling Stones.[]

Ilustrasi dari Internet.
Big Hits (High Tide and Green Grass) bisa disewa di Kineruku, Bandung.

Anwar Holid, penggemar Queen.

Thursday, May 30, 2013

Bintang yang Terlalu Cepat Menghilang
--Anwar Holid

Grace Around The World
Musisi: Jeff Buckley
Jenis: DVD musik
Rilis: 2 Juni 2009 
Rekaman: November 1994 - Juli 1995
Genre: Rock, Alternatif Rock, Folk Rock
Label: Columbia
Produser: Mary Guibert, Tony Faske 


Menyaksikan musisi yang mati muda di awal karir dan baru terkenal setelahnya kerap membuat kita merasa antara miris dan nelangsa, sebab seolah-olah kreativitas, kehebatan kinerja, dan pencapaian itu jadi sia-sia, tidak bisa dinikmati keberhasilannya oleh diri sendiri, melainkan oleh ahli warisnya atau publik secara luas. Apa kondisi ini patut disayangkan?

Meski dipuji habis-habisan dan mendapat penghargaan baik dari banyak media musik dan media massa umum, satu-satunya album studio Jeff Buckley---Grace (1995)---sebenarnya hanya sedikit terjual waktu dirilis dan itu membuat lagu-lagunya terbatas pula mendapat kesempatan diudarakan di banyak radio. Tapi barangkali kualitas memang tidak bohong dan media pelan-pelan akhirnya berhasil mempengaruhi jutaan massa di luar sana bahwa album itu memang benar-benar "sesuatu." Hasilnya? Banyak orang menyesal kenapa mereka dulu lolos melewatkan begitu saja album ini sejak pertama kali kelar. Di sisi lain, para pendengar jadi begitu penasaran seperti apa penampilannya di konser selama promosi dan tur album tersebut.

Grace Around The World merupakan DVD berisi penampilan live dan dokumentasi Jeff Buckley bersama band semasa mempromosikan Grace. Sebagai musisi muda yang albumnya tidak meledak, Jeff Buckley masih cukup beruntung mendapat kesempatan serta dukungan label dan promotor untuk tur di berbagai belahan dunia, terutama Eropa. Wajar bila di awal-awal DVD ini, Jeff dan kawan-kawan tampil di cafe kecil yang penontonnya pun bahkan masih bisa memesan minuman, karena sama sekali tidak penuh. Dia hanya diperhatikan sejumlah penonton muda yang tampak khusuk menyimak nada-nada tinggi dari gitar dan vokal Jeff. Tapi satu hal, Jeff dan tiga kawannya: Michael Tighe (gitar), Mick Grondahl (bass), dan Matt Johnson (drums) tetap bermain dengan pol. Ini sungguh mengharukan, betapa dirinya memperlihatkan etos sebagai musisi yang berdedikasi dan disiplin, meski peralatannya standar dan krunya tak kelihatan. Soundnya jernih dan rapi, bahkan iringan rhythm bass dan drumsnya pun terdengar bergelora. Mereka main penuh perasaan, bertenaga, tak peduli penonton sedikit. Penampilannya di konser besar ialah gig bersama yang diselenggarakan MTV dan VH1.

Di antara konser ke konser, DVD diselipi dokumentasi obrolan dengan seorang host wanita terutama mengenai isi lagu-lagunya dan pandangan artistik dan spiritualnya, juga keseharian tur. Jeff berkali-kali menyatakan bahwa dirinya tidak mau berpura-pura, baik dalam kehidupan sehari-hari dan di panggung. Mungkin itu membuat penampilannya tidak mencolok berubah ketika di panggung. Sebagai musisi yang masuk kategori genre "alternatif rock", penampilannya sangat mencerminkan semangat zaman tersebut, yaitu pakaian casual dan bersahaja. Yang membedakan Jeff Buckley mungkin rujukan musikalnya. Dia cukup terpengaruh musik Qawwali (musik puji-pujian Islam dari Pakistan) dan penggemar berat Nusrat Fateh Ali Khan. Itu yang menyebabkan dia mengeksplorasi lolongan ekspresi vokal yang bisa dibilang jarang dilakukan musisi sealirannya. Penampilan dalam "Mojo Pin" dengan baik memperlihatkan itu, bahkan durasinya pun dibuat lebih lama dari versi aslinya. Bisa jadi lagu cover dia yang begitu legendaris dan brilian, "Hallelujah", diaransemen sangat hening dan "dalam" karena terpengaruh musik religius seperti itu.

Menonton Grace Around The World ialah seperti menyaksikan seorang bintang yang sinarnya redup karena terlalu cepat menghilang. Jadinya mengharukan. Kita sadar dia belum terkenal, namun tahu bahwa dirinya telah jadi legenda. DVD ini memperlihatkan betapa bakat dan pencapaian Jeff Buckley yang belum berkembang maksimal sesungguhnya sudah mulai mekar berkat eksplorasi dan disiplin yang dilatih setiap hari, baik dalam hidup sehari-hari maupun penampilan rutin di cafe tempat mangkalnya, Cafe Sin-é.[]

Ilustrasi dari Internet.

DVD Grace Around The World bisa ditonton atau disewa di Kineruku, Bandung.

Anwar Holid, bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis.

Tuesday, May 28, 2013

Korupsi dan Diri Sendiri
--Anwar Holid

Mendengar hasil korupsi banyak orang, jumlah nominal yang mereka keruk, harta-benda yang berhasil disita petugas antikorupsi, uang dan barang hasil korupsi yang dikembalikan ke petugas negara, jumlah kerugian negara atau harta dalam sengketa, kita akan segera sadar betapa nilainya terlalu luar biasa untuk dibayangkan seberapa besar sebenarnya kekayaan yang sia-sia. Contoh korupsi Luthfi Hasan Ishaaq berbentuk mobil mewah, rumah mewah, juga uang berjumlah sangat mewah. Mobil itu sekarang nganggur, rumahnya kosong ditinggalkan, dan uangnya (entah di bank atau di suatu tempat) teronggok jadi cuman lembaran kertas. Enggak bernilai karena enggak kepakai. Bukankah uang baru berguna kalau dibelanjakan, termasuk untuk belanja seks?

Kalau organisasi seperti Partai Keadilan Sejahtera meradang bahwa Komisi Pemberantasan Korupsi tebang pilih, kita bisa balik membantah bahwa para koruptor bukan Robin Hood. Bahkan mereka lain dari mafia yang punya pandangan berbeda tentang cara usaha dan kode etik. Robin Hood jantan mengaku bahwa dia merampok dan berbuat jahat terhadap orang yang jauh lebih kejam dengan cara sistematik dan dilegalkan. Robin Hood sedikit menyulitkan kita berpendapat dia baik atau jahat karena membagikan hasil rampokannya pada orang miskin tanpa pandang bulu. Sementara orang seperti Ahmad Fathanah cuma mendistribusikan hasil kejahatannya kepada perempuan yang bisa melampiaskan kepuasan hasrat seksualnya dan pada laki-laki tertentu yang dinilai menguntungkan posisi dan bisa diajak kerja sama. Padahal karena dia tahu ajaran Islam, ada dalam lingkaran orang berpendidikan, disebut pengusaha-politisi-ulama, pasti dia tahu siapa yang harusnya dimakmurkan. Coba kalau dia menebar uang untuk rakyat jelata yang tertindas dan tak bisa berbuat apa-apa, menghapus kemiskinan, mengurangi besar-besaran orang yang jualan di pinggir jalan semrawut di lapak-lapak jelek, mungkin banyak yang mendukungnya. Ini enggak. Dia berbuat sebaliknya. Wajar banyak orang sinis atas kelakuan dan sikap mereka, persis karena perbuatannya lain dengan jargon dan image yang mereka bangun. Bukannya minta maaf atau mengakui skandal yang mereka perbuat dan menyilakan aparat negara membuktikan di mana letak kesalahan mereka.

Dipikir-pikir, alangkah sia-sia hasil korupsi. Bayangkan aja, Luthfi Hasan Ishaaq kan seorang Muslim, terdidik, mantan presiden Partai Keadilan Sejahtera pula. Tentu dia khatam Al-Quran, tahu ajaran moral Islam, hapal ayat mana untuk sedekah, kewajiban berbuat baik kepada kaum miskin, kekurangan, pengangguran, berderma, menyantuni anak yatim, memakmurkan kaum dan bangsanya. Kenapa dia malah seperti itu? Dengan pencapaian dan prestasinya, dia malah menumpuk, mengolah, dan mengantongi kekayaan untuk diri sendiri dan konco-konconya. Hidup bermewah-mewahan, berlebih-lebihan. Boro-boro kepikiran hidup sederhana seperti nabi-nabi agamanya.

Tapi ya... sederhana itu apa sih? Aku nanya nelangsa. Aku terkadang merasa terkelabui oleh niat hidup sederhana, apa lagi kalau dibandingin dengan kesulitan finansial, masih suka dibantu orang lain, dan mereka pun tampak iba padaku, juga dengan keinginan atau target yang mau aku capai. Pertolongan dari teman-temanku saja suka membuat aku nangis dan sungkan.

Beberapa minggu lalu aku ditanya seorang psikolog: Apa keinginanmu yang belum tercapai? Aku jawab: Aku belum bisa bikin asuransi pendidikan untuk anak bungsuku (6 th.) juga bikin asuransi jiwa untuk seluruh keluarga batihku. Padahal di dalam hatiku sebenarnya mau teriak berbagai keinginan yang sejak awal 2013 aku catat di notes:
  • Aku mau netbook dengan performa tinggi.
  • Aku mau punya kamera dslr.
  • Aku mau sepeda yang keren.
  • Aku mau beli emas perkawinan sebagai ganti yang dulu digadai dan gagal ditebus.

Anjrittttt!!!! Empat keinginan itu saja enggak ada sederhananya sama sekali! Semua kontras dengan idealisme kesederhanaan dalam diriku. Apa lagi kalau dibandingkan orang yang bekerja kepayahan di bawah terik matahari, tanpa perlindungan, tanpa ruang kerja nyaman, badannya bau tengik, mencari nafkah di pinggir tumpukan sampah yang busuk, bareng tikus, kucing, dan anjing liar, tanpa jaminan sosial, tanpa jaminan pertemanan dengan orang hebat, keren, dan berada semacam Angelina Sondakh, Susno Duadji, atau Anas Urbaningrum. Begitu banyak orang yang bekerja jauh lebih keras, tapi bernasib lebih buruk, hidup lebih miskin dan sederhana daripada aku, cari nafkah enggak jelas dan lebih sedikit hasilnya. Kita tahu, ada pekerjaan sangat berat yang dibayar begitu murah, sementara ada pekerjaan yang tampak ringan malah dibayar edan-edanan. Itulah orang sederhana sebenarnya. Mereka bukan pilihan buat cuci uang dari orang kaya, berkuasa, dan enggak punya pengaman jaring sosial seperti para koruptor. Apa sederhana cuma cocok buat orang awam dan bodoh?

Yah, orang bisa langsung menangkis, SEDERHANA TIDAK IDENTIK DENGAN MISKIN! Baik. Sederhana itu tricky. Tapi lapar itu nyata. Orang bisa menghabiskan uang untuk kawinan 913 juta rupiah dan masih bisa bilang itu sederhana, sementara ada orang nyaris putus asa menagih 1,9 juta rupiah atas kerja kerasnya sampai lebih dari enam bulan. Bagi orang insensitif, barangkali sederhana tampak menipu, padahal ia sublim.

Tapi ya, coba aku yang korupsi dan melakukan skandal itu. Aku mungkin akan berbuat serupa: membela diri, ngotot, menyembunyikan atau malah membuang bukti, berusaha berkelit, membantah, marah, balik menuduh, menyalahkan orang dan pihak lain, atau sekalian menyeret dan menghancurkan sesama tertuduh.

Katakanlah suatu hari aku ketahuan korupsi atau tertangkap basah berzina. Aku digerebek dan mereka menggertak, "Heh, kamu korupsi ya?"
"Enggak! Enak aja kamu nuduh."
"Lha ini ada uang buktinya apa!?"
"Itu bukan punyaku."
"Kok ada di sini?"
"Itu lupa dibawa tamuku tadi."
"Halah, kamu juga lagi zina ya?"
"Enggak! Jangan sembarangan kamu bilang!"
"Kok ada perempuan lagi telanjang di sini?"
"Dia lagi coba baju kurung sutera pemberianku!"

Anjrittttt!!!!

Terbayang kalau aku adalah bagian sosialita para koruptor dan penguasa yang memegang, mengelola dana dan anggaran luar biasa berlimpah uang, mungkin aku juga akan berperilaku serupa. Segala keyakinan soal sederhana, iman, spiritualitas, agama, Tuhan, barangkali jadi tai kucing. Asam seperti busa ludah anyir. Padahal ada adagium: orang hebat membicarakan ide. Sekarang lihat kelakuan orang hebat dengan ide mereka soal kesejahteraan, keadilan, kewarganegaraan, dan kesetaraan hukum. Mungkin aku cuma akan menganggap harta itu sebagai prestasi, hasil kelihaian, paduan antara leadership, jago negosiasi dan lobi, ditambah karisma yang membuat orang lain grogi. Dengar kesaksikan orang di sekitar mereka, betapa baik koruptor itu. Mereka suka memberi secara mengejutkan, menyumbang besar-besaran, memberi hadiah barang mewah, membekali cek milyaran, mengirim bonus tanpa diduga. Sementara penerimanya terpana, senang, bersyukur, bangga menerima, menganggap itu rezeki dari Tuhan. Padahal itu semua hasil kejahatan. Tanyalah pada diri sendiri, sebelum kembali berprasangka pada perempuan maupun laki-laki yang dihadiahi barang-barang mewah dan berharga oleh para koruptor.

Ah, kayaknya notes ini gagal fokus, tapi mungkin bisa jelas melampiaskan apa.[]

Anwar Holid, kerja sebagai editor/penulis/publisis.

Ilustrasi dari Internet.

Link terkait:
Sederhana Seperti Apa?