Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Wednesday, March 26, 2025


Eksplorasi Sosial dan Eksperimen yang Menggugah

Oleh: Anwar Holid 

 

Judul: Pelayaran Terakhir - Kolase Kisah dari Bumi Timah hingga Jawa 
Penulis: Anggit Rizkianto
Penerbit:  MCL Publisher, 2024
Tebal: 284 hlm.
ISBN: 9786235915449


Di bulan Ramadan tentu relevan j‭ika kita mengajukan bacaan bernuansa Islam atau menyangkut kehidupan orang Muslim. Entah sengaja atau kebetulan, seluruh cerpen di buku Pelayaran Terakhir karya Anggit Rizkianto (MCL, 2024) ini berkaitan dengan kehidupan orang-orang Islam, meskipun bisa jadi muatan agamanya sangat tipis dan lebih tersirat dalam kebiasaan atau latar kehidupan sehari-hari. Alasan ini saja sudah membuat buku ini pantas direkomendasikan. Muatan cukup eksplisit misalnya terasa di cerpen "Pilkada di Kampung Lada." Cerpen ini mengetengahkan pertentangan antara seseorang yang berusaha taat menjalankan ajaran agama, tapi malah banyak berdampak buruk pada kehidupan dan sosial, terutama pada orang-orang terdekatnya.

Kik Saman pulang kampung setelah merantau di Jawa. Dia kembali setelah istrinya meninggal dunia dan mengundurkan diri dari pekerjaan yang dianggapnya tidak Islami (tidak berkah.) Di kampung dia menikah lagi, jadi petani lada, dan jadi guru ngaji di masjid yang sesuai dengan keyakinannya. Dia sering berkonflik dengan masyarakat setempat, meskipun di sisi lain dihargai dan dianggap sangat paham ilmu Islam. Dia melarang istrinya jualan rokok, menolak bersalaman setelah salat, tidak mau mengumandangkan azan saat penguburan jenazah, tidak mau tahlilan, mengecam budaya yang dianggap musyrik, namun membayar rendah upah kerja ipar yang mengerjakan kebun. Dia terlibat kampanye untuk tidak memilih kepala daerah non-muslim, tapi setelah kandidat yang didukungnya menang, marbot di masjidnya kehilangan gaji bulanan sehingga urusan masjid banyak terlantar.

Cara bertutur Anggit terasa tenang, mengalir stabil, membuat pembaca terseret untuk terus mengikuti narasi hingga akhir. Dia memiliki daya tarik tersendiri, mampu mengubah hal-hal biasa menjadi narasi yang memikat. Karena cerita-ceritanya banyak yang tragis dan melankolis, suasana yang dihasilkan kerap menorehkan perenungan atas kesedihan nasib manusia. Anggit paling menyimpan kejutan di ending cerita sering dibiarkan terbuka, sedikit menyisakan pertanyaan dan kesan menggantung yang memancing pembaca untuk berpikir lebih jauh. 

Semua cerpen di buku ini termasuk kategori long short-story (cerpen panjang), sehingga terasa kompleks dan menawarkan eksplorasi lebih luas dibanding cerpen biasa. Pendekatan ini memungkinkan Anggit menggali lebih dalam karakter dan situasi yang diciptakan, termasuk bereksperimen dengan teknik penulisan "cerita dalam cerita" — misalnya di cerpen "Tamu."

Cerpen-cerpen dalam kumpulan ini sarat dengan nuansa lokal Indonesia, khususnya kehidupan masyarakat Pulau Belitung. Anggit menampilkan kekayaan budaya dan keragaman hayati daerah tersebut dengan baik, mencakup detail seperti jenis makanan khas, ikan, dan tumbuhan yang menjadi bagian integral cerita. Latar sosial-budaya bukan sekadar tempelan, tetapi diungkapkan dengan rinci dan berperan penting sebagai elemen pendukung narasi, memperkuat atmosfer dan konteks cerita. Di luar Belitung, Anggit menghadirkan kisah berlatar urban Surabaya.

Fokus cerpen kebanyakan menyinggung kehidupan masyarakat biasa, kelas pekerja, dan kelompok lemah. Pilihan ini membuat isu yang muncul mencerminkan realitas yang kuat, bahkan di sana-sini memunculkan petisi pada ketidakadilan, misalnya atas nasib wanita atau konflik yang lahir karena perbedaan ras (etnis). "Lelaki Patah Hati yang Membela Tauhid" menghadirkan fakta keras betapa seorang pemuda Jawa gagal menikahi gadis pujaannya karena ditolak keluarga calon istri yang keturunan Arab. Pemuda ini menggugat, meski Islam mengajarkan kesetaraan manusia, tetap ada pemisah yang terlalu berat untuk dirobohkan. 

Cerpen "Pelayaran Terakhir" yang dijadikan pengikat buku ini, menghadirkan Asna menanti kepulangan suaminya dari pelayaran terakhir setelah puluhan tahun jadi pelaut. Usai pulang kampung, tak lama kemudian sang suami meninggal dunia. Waktu menjelang Idul Fitri, Asna tetap menganggap suaminya masih hidup. Dia menyiapkan masakan yang banyak untuk keluarganya, meski kedua anaknya juga tidak bisa mudik karena ada Covid-19. Masakan itu dibagi-bagikan ke tetangga dan pengontrak rumahnya. Di malam takbiran, setelah salat Isya, Asna tertidur dan mimpi seperti menyambut suami dan anak-anaknya pada datang pulang mudik. Dia sadar oleh azan Subuh, tapi sebenarnya tidak ingin bangun selama-lamanya. Di tangan Anggit, paduan penantian, harapan, dan kesedihan itu menghadirkan suasana realisme magis yang sangat menggugah.

Sebagai debut fiksi, Pelayaran Terakhir sungguh tidak mengecewakan. Secara keseluruhan, buku ini cocok bagi pembaca yang menghargai narasi eksploratif dengan sentuhan budaya dan realitas sosial yang tajam. Akmal Nasery Basral, prosais yang membaca awal naskah ini memberi endorsement: "Kumpulan cerpen ini menunjukkan Anggit Rizkianto sebagai pengamat sosial yang jeli dan pecinta estetika yang murni. Dia mencoba menyeimbangkan kadar dua elemen itu dalam semua karya yang tersaji." Di review singkatnya, begini komentar Ivan Lanin atas kumpulan cerpen ini: "Alur tiap cerita cukup cepat dengan narasi yang mengalir, enak dibaca, dan mudah dipahami. Deskripsi yang diselipkan di sana-sini membuat saya membayangkan adegan yang terjadi. Dialog dibubuhkan dengan cukup tepat. Anggit tampak ingin mengangkat satu topik untuk direnungkan pembaca melalui cerita-ceritanya."[]


Anwar Holid, bekerja sebagai editor dan penulis. IG: @anwarholid. 

Wednesday, August 16, 2017

Arah Baru Literasi Indonesia
Ahmad Wiyono

United Nation Educational Scientific and Cultural Organization (Unesco) tahun lalu merilis hasil survei gerakan literasi internasional. Yang mengejutkan adalah posisi Indonesia berada pada urutan 60 dari 61 negara yang menjadi objek survei intensif tersebut. Tentu ini kenyataan memilukan. Posisi literasi bangsa kita kalah jauh dengan beberapa negara di dunia, bahkan dengan negara tetangga di Asia yang sama-sama tergolong negara berkembang. Apa penyebab kemesorotan tingkat literasi tersebut? Di antara sekian banyak penyebab terpuruknya budaya literasi di negeri ini, salah satunya adalah sifat malas yang masih menggurita dalam jiwa segenap bangsa kita.

Perhatikan misalnya saat anak-anak diarahkan untuk menggalakkan budaya baca. Mereka lebih tertarik menjadi pendengar ketimbang pembaca. Atau dalam pengalaman keseharian anak-anak di kota, mereka lebih suka mendengar atau menonton berita ketimbang membaca buku. Endy Bayuni, editor senior The Jakarta Post, menyebut fenomena itu sebagai penyakit literasi.

Penyakit literasi lebih condong pada tradisi lisan, yaitu mendengarkan orang berbicara. Ini setidaknya salah satu akar masalah yang menyebabkan budaya baca tidak terbentuk. Padahal tradisi lisan yang dimaksud tak lebih hanya pembelaan atas lemahnya budaya baca itu sendiri. Sebagai langkah strategis dalam mengimbangi capaian literasi global tersebut, perlu ada konsepsi baru di bidang literasi.

Konsep baru ini menjadi arah baru serta jawaban atas kegundahan literasi Tanah Air. Tentu gerakan literasi baru ini hadir bukan dalam rangka sebagai alibi atas kegundahan posisi literasi kita di kancah global, tapi lebih sebagai solusi untuk membangkitkan kembali energi literasi bagi segenap bangsa Indonesia bahwa mengatasi ketertinggalan capaian literasi internasional merupakan hal yang wajar.

Kendati demikian, mengembangkan yang sudah ada juga suatu keniscayaan. Salah satu buku yang peduli dengan persoalan rendahnya literasi bangsa adalah Suara dari Marjin, karya bersama Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah. Buku ini boleh dibilang awal mula dari percakapan baru tentang dunia baca-tulis, literasi, interaksi pengetahuan dan cara berpikir.

Suara dari Marjin tampak sedang berupaya menggagas lahirnya literasi dengan konsep terbarukan. Di sini literasi tidak hanya dimaknai secara simbolik, lahir dengan data dan fakta kuantitas, tapi jauh dari itu literasi hadir sebagai roh untuk melihat, mengamati, dan membaca kondisi sebuah budaya dan jati diri bangsa.

Dengan pemahaman baru ini diharapkan gerakan literasi lahir secara alami dengan membangkitkan partisipasi para penggiat dari segala multiprofesi. New Literacy Studies (NLS) adalah salah satu kerangka kajian literasi baru yang lahir dari pergerakan anak jalanan dan buruh migran.

Gerakan literasi yang lahir dari kelompok anak jalanan dan buruh migran merupakan fajar baru untuk membangkitkan gairah literasi secara umum. Konsepsi dasar dari gerakan literasi baru ini adalah membangun kesadaran kolektif tentang budaya baca, tulis, dan mengkaji kondisi secara alamiah. Literasi tidak hanya diukur dari serangkaian kegiatan formal membaca dan menulis itu sendiri, tapi lebih pada kegiatan yang mengangkat harkat dan jati diri sebuah bangsa.

Literasi bukanlah sesuatu yang stagnan karena dia bergerak dan berubah. Misalnya, pengalaman literasi setiap orang bisa jadi berbeda dan tidak harus terkait pengalaman mengeja atau saat pertama kali seseorang mampu membaca.

Dalam buku ini, pengalaman literasi dimaknai sebagai rekam pengalaman seseorang dengan kegiatan membaca, menulis, dan mencerna pengetahuan, yang bermakna karena signifikan terhadap pilihan-pilihan hidupnya di kemudian hari (hal. 24). Buku ini hadir dengan tawaran konsep literasi lokal yang kontekstual, upaya untuk mengembalikan arah literasi pada khazanah budaya dan jati diri bangsa.

Selain itu, buku ini juga meramu konsep perlawanan terhadap hegemoni literasi yang terbentuk oleh praktik budaya kelompok masyarakat yang dominan, demi menumbuhkan praktik literasi yang lebih terarah sesuai konteks sosial, budaya, dan ekonomi Indonesia. Salam literasi![]

Ahmad Wiyono, Pegiat Literasi dan Peneliti di Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan

Artikel ini dimuat di Koran Sindo, Edisi Minggu, 13 Agustus 2017.

Monday, July 07, 2014



PANDUAN SIMPEL PEMILU PRESIDEN 2014

Oleh Anwar Holid*

pertama-tama, ayo samakan dulu suaranya sodara-sodara:
yang coblos no. 1 nadanya doooooo
yang coblos no. 2 nadanya reeeeee

yang suka kecap, coblos no. 1
yang suka runner up, coblos no. 2

yang masih percaya pada ide bapak reformasi amien rais, coblos no. 1
yang lebih percaya pada ucapan jenderal purnawirawan wiranto, coblos no. 2

yang mau bareng jemaat daarut tauhid, persis, dan salman, coblos no. 1
yang mau ikut bareng jemaat driyarkara, tempo, dan komunitas salihara, coblos no. 2

yang ngerasa suka rhoma irama dan ahmad dhani, silakan coblos no. 1
yang ngerasa lebih cocok sama slank, silakan coblos no. 2

yang mau ikut aa gym, ridwan kamil, dan maman abdulrahman, coblos no. 1
yang mau ikut magnis suseno dan goenawan mohamad, coblos no. 2

yang bersimpati pada islam versi gerakan pks dan fpi, ayo pilih no. 1
yang suka pada islam versi gerakan jil dan tafsir musdah mulia, ayo pilih no. 2

yang gak suka surya paloh, pilih no. 1
yang gak suka arb, pilih no. 2

yang lebih suka anis m., coblos no. 1
yang lebih suka anies b., coblos no. 2

yang tetap ingin jokowi jadi gubernur dki, coblos no. 1
yang mau ngedukung ahok jadi gubernur dki, coblos no. 2

yang merasa salut terhadap loyalitas fadli zon pada prabowo, coblos no. 1
yang merasa salut terhadap loyalitas jokowi pada megawati, coblos no. 2

yang optimistik pada masa depan, percaya bahwa waktu itu menyembuhkan dan kesempatan untuk maju, coblos no. 1
yang traumatik pada masa lalu, takut kerusuhan, penculikan, dan kebebasan berekspresinya diberangus, coblos no. 2

Gambar dari Internet

* Anwar Holid, rakyat jelata apolitis bebas merdeka.

Thursday, January 16, 2014


[HALAMAN GANJIL]

R1 2014
--Anwar Holid

2014 adalah tahun panas bagi politik Indonesia. Karena itu harap lupakan Piala Dunia 2014 di Brasil. Selain karena kesebelasan nasional kita tak berlaga di sana, barangkali memikirkan persoalan bangsa sendiri lebih penting daripada cuma merasa ikutan pesta di luar lapangan sebagai penonton yang keminter dan suka jajan.

Ayo kita pilih baik-baik siapa yang sebaiknya jadi R1.

Calonnya sudah pada mengemuka. Bahkan dengan percaya diri---kalau bukan bermuka badak---mereka mengiklankan diri, berkampanye, entah secara terang-terangan atau terselubung lewat berbagai taktik dan kesempatan, apa pun istilahnya. Berikut ini barangkali yang sangat kentara:
Wiranto
Prabowo Subianto
Aburizal Bakrie
Surya Paloh
Megawati 
Hatta Rajasa
Rhoma Irama

Dari generasi lebih muda muncul nama seperti:
Sri Mulyani
Gita Wirjawan
Dahlan Iskan
Anies Baswedan
Jokowi

Nama-nama itu membuatku bertanya keras:
Apa hal terburuk yang bakal terjadi di Indonesia bila Prabowo Subianto jadi presiden?
Apa hal terburuk yang bakal terjadi di Indonesia bila Wiranto jadi presiden?
Apa hal terburuk yang bakal terjadi di Indonesia bila Aburizal Bakrie jadi presiden?
Apa hal terburuk yang bakal terjadi di Indonesia bila Surya Paloh jadi presiden?
Apa hal terburuk yang bakal terjadi di Indonesia bila Megawati jadi presiden?
Apa hal terburuk yang bakal terjadi di Indonesia bila Hatta Rajasa jadi presiden?
Apa hal terburuk yang bakal terjadi di Indonesia bila Rhoma Irama jadi presiden?

Memang kenapa kalau salah satu di antara mereka jadi presiden?
Apa militerisme akan mencengkeram lagi kalau Wiranto atau Prabowo jadi presiden?
Apa radikalisme Islam bakal meraja dan makin intoleran kalau Rhoma Irama jadi presiden?
Apa ekonomi Indonesia bakal langsung moncer kalau Hatta Rajasa atau Gita Wirjawan jadi presiden?
Apa rakyat Indonesia langsung bakal pinter dan pada meraih Hadiah Nobel kalau Anies Baswedan jadi presiden?
Apa kesebelasan nasional Indonesia bakal tembus ke Piala Dunia 2018 kalau Jokowi jadi presiden?

Seorang teman bilang, untuk jadi presiden Indonesia orang harus punya prestasi yang patut dibanggakan dan diandalkan. Aku sangsi dengan pernyataan itu. Ratu Atut yang katanya bodoh saja bisa jadi gubernur Banten dan petinggi Golkar. Megawati yang terlihat lebih suka mesam-mesem dan pemalu aja pernah mencicipi kursi presiden dan kini dia tetap enggak mau ketinggalan kereta.

Katanya untuk jadi pemimpin orang harus punya pengalaman politik yang hebat. Di Bandung entah bagaimana caranya Ridwan Kamil bisa memenangi pilkada, jadi walikota, mengalahkan Ayi Vivananda yang jauh lebih ahli dan senior di pemerintahan, yang sudah tahunan mengurus birokrasi dan masyarakat. Ini membuktikan pendapat itu invalid. Apa Ridwan Kamil menang karena disokong Prabowo Subianto, Gerindra, ormas-ormas, para relawan, dan PKS?

Di luar negeri, penyair, buruh, aktor, penulis, atau pastor bisa menjadi presiden. Apa hal seperti itu bisa terjadi pula di Indonesia? Kalau seperti itu, aku berharap Yusi Avianto Pareanom jadi presiden, semoga dengan begitu dunia literasi kita lebih menjanjikan.

Sebenarnya bukan itu yang benar-benar jadi perhatianku. Siapapun presiden Indonesia, terbukti kurang pengaruh buat kemaslahatan bersama. Mungkin di sini poinnya: pemilihan presiden nanti akan membawa perbaikan atau keterpurukan? Makanya kita perlu hati-hati, lepas dari semua janji para kandidat. Contoh simpel: meski suka bilang prihatin, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono malah terbukti berkali-kali mencederai hati masyarakat, entah dengan menaikkan harga BBM, kasus korupsi yang menyerempet partai dan anaknya, juga sikapnya yang dinilai lamban dan lembek.

Jujur saja aku lebih kuatir tahun panas politik Indonesia demi mencari seorang presiden malah menghabiskan energi, pikiran, konsumsi, dana, sehingga membuat kita hilang akal dan jadi mengabaikan banyak agenda penting dan utama yang mestinya lebih dulu dibereskan. Contoh:
* Persiapan Indonesia jadi Guest Of Honor Frankfurt Book Fair 2015 yang menurut berbagai pihak masih berantakan, enggak jelas, termasuk soal dana dan belum ketahuan Indonesia mau ngapain di peristiwa paling besar industri perbukuan dunia itu.

* Persoalan korupsi parah yang malah kerap berubah jadi komoditas politik berlarut-larut, bukan dibereskan tanpa tedeng aling-aling, mendasar, dan tuntas.

* Kesejahteraan sosial. Kalau tukang becak enggak bisa beli jas hujan, lapak kaki lima bikin kumuh jalanan, gerobak jualan berserakan di pinggir jalan, kondisi bus kota dan angkot mengkhawatirkan, sampah numpuk di mana-mana, pencemaran lingkungan, itu artinya kita masih punya masalah sosial parah. Jangankan tingkat nasional, di tingkat lingkungan sekitar rumah dan kota saja terlalu kentara.

Bisakah hal-hal seperti itu beres sebelum SBY mengakhiri masa kepresidenannya? Aku sangsi. Soalnya aku tahu manusia terbukti mudah berkelit dari prasangka dan gampang menghindar dari prediksi. Itu sebabnya kontes mencari seseorang jadi R1 2014 jadi penting, lebih penting dari Piala Dunia.[]

Anwar Holid, berprofesi sebagai editor, penulis, dan publisis.

Wednesday, January 15, 2014


[Resensi Buku]

Islam, Budaya, dan Pendidikan

Peresensi: Imam Jahrudin Priyanto
Media: Pikiran Rakyat, Rabu, 8 Januari 2014

Sebagai ilmuwan, Profesor A. Chaedar Alwasilah sangat rajin menuangkan hasil pemikirannya lewat tulisan, baik di media nasional berbahasa Indonesia seperti Pikiran Rakyat maupun media berbahasa Inggris seperti The Jakarta Post. Menghiasi tahun 2014 ini dia meluncurkan buku berisi kumpulan tulisan berbahasa Inggris untuk edisi internasional, terutama ditujukan kepada pembaca luar negeri.

Buku berjudul Islam, Culture, and Education: Essay on Contemporary Indonesia ini secara resmi diluncurkan di Gedung Pascasarjana Universita Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, pada Senin, 23 Desember 2013. Pembahas bukunya ialah Deddy Mulyana (Dekan Fikom Unpad) dan Don Faust (Northern Michigan University, AS). Pada Oktober 2013, buku ini juga telah diikutsertakan pada Frankfurt Book Fair, Jerman, yang merupakan pameran buku terbesar di dunia.
___________________________________________________________
INFO BUKU

Judul: Islam, Culture, and Education - Essay on Contemporary Indonesia
Penulis: A. Chaedar Alwasilah
Format: Hard cover; 437 + xxvi hal.
Penerbit: Rosda International, 2014
ISBN: 978-979-692-453-0
Harga: Rp.107.000,- (dalam negeri); US$19,90 (internasional)

Pemesanan: (022) 5200287 atau pemasaran@rosda.co.id
___________________________________________________________

Terdiri dari 78 bab mengenai berbagai topik, buku ini dibagi dalam empat bagian utama, yaitu Down to Earth with Islam, Education, Language Education, dan Culture. Dalam konteks Islam, Chaedar antara lain membahas Pancasila, haji, radikalisme, Ramadan, dan Idulfitri.  Untuk pendidikan, Chaedar membahas pengajaran, kurikulum, pragmatisme, dan kiprah guru. Dalam konteks  kebudayaan, Chaedar antara lain mengupas birokrasi, holiganisme, surat kabar komunitas, korupsi di kalangan akademisi, dan debat presiden. 

Don Faust menilai para pembaca buku ini di berbagai negara akan menjadi saksi betapa pentingnya hasil pemikiran Chaedar. Sementara Lauren Zentz (seorang linguis dari University of Houston, AS) dalam kesaksiannya menulis, Chaedar menyajikan kritik penting yang cerdik (Zentz memilih kata astute ‘cerdik’) menyangkut dunia pendidikan dan pengajaran bahasa di  Indonesia. Disajikan secara jernih dalam bahasa Inggris, buku ini akan menjadi koleksi ilmiah berharga bagi para pencinta ilmu. (Imam JP/”PR”)

Link terkait:
* Reportase launching buku Islam, Culture, and Education: http://bit.ly/19c5j4O
* Info awal buku ini: http://bit.ly/1cVgGzD

Tuesday, January 07, 2014

Pintu Gerbang untuk Memasuki Indonesia
--Anwar Holid

Menurut Anda orang asing paling penasaran soal apa tentang Indonesia?

Sebagian menjawab orang luar negeri paling tercengang oleh khazanah budaya Indonesia, keragaman seni, juga sumber daya alamnya yang luar biasa. Selain itu banyak dari mereka juga ingin tahu lebih dalam soal Islam serta berbagai tradisi khas yang terkadang cuma satu-satunya ada di dunia. Mereka ingin tahu seperti apa Islam di negeri kepulauan ini, apa spirit dan wujudnya berbeda dengan yang di Timur Tengah? Orang asing juga meneliti khazanah sastra sekaligus takjub dan ternganga oleh beragamnya warisan budaya dari Sumatra hingga Papua.

Indonesia adalah tempat pertemuan berbagai budaya sampai akhirnya berubah khas, membuatnya jadi menarik untuk dinikmati dan dikaji. Di sanalah letak keunikan Indonesian studies.

A. Chaedar Alwasilah sengaja menulis Islam, Culture, and Education dalam bahasa Inggris selain untuk menerangkan Indonesia kepada bangsa lain dari kacamata pribumi, juga meluruskan pandangan keliru mereka terhadap Indonesia. Contoh soal pesantren. Sebagian orang asing berprasangka pesantren adalah tempat pembibitan kaum radikal Islam; padahal banyak negarawan besar Indonesia lahir dari sini, seperti Abdurrahman Wahid, almarhum mantan presiden Indonesia dan ketua Nahdatul Ulama. Pesantren juga melahirkan sistem pendidikan dan tradisi budaya yang khas.

Terutama dikenal sebagai pakar pendidikan dan aktif di ranah budaya dan sastra, guru besar di FPBS Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung ini mengomentari dan berpendirian tegas mengenai berbagai persoalan terkini bangsa Indonesia, seperti radikalisme dan pluralisme agama, kebijakan pendidikan, birokrasi, politik, korupsi, literasi, juga berbagai kekhasan Indonesia, seperti mudik dan pengembangan sastra daerah (ethnic literature).

Lewat buku ini Chaedar tampak ingin mengantarkan pembaca asing pada perjalanan mencerahkan sekaligus kritis terhadap agama, budaya, dan pendidikan Indonesia. Isu sensitif seperti keharmonisan beragama, konflik antaretnik, juga budaya Melayu dibahas sesuai kenyataan, disertai solusi maupun komentar bagaimana sebaiknya kita bersikap.
___________________________________________________________
INFO BUKU

Judul: Islam, Culture, and Education - Essay on Contemporary Indonesia
Penulis: A. Chaedar Alwasilah
Format: Hard cover; 437 + xxvi hal.
Penerbit: Rosda International, 2014
ISBN: 978-979-692-453-0
Harga: Rp.107.000,- (dalam negeri); US$19,90 (internasional)

Pemesanan: Telepon (022) 5200287 atau pemasaran@rosda.co.id
___________________________________________________________

Sesuai kredibilitas penulisnya, buku ini secara solid membahas situasi pendidikan dan dunia perguruan tinggi, pengajaran bahasa dan sastra, termasuk sastra daerah dan Inggris, pendidikan multibudaya, pendidikan karakter, demokratisasi bahasa, juga literasi dalam cara yang mudah dipahami dan patut kita perhatikan bersama.

Buku ini sangat bermanfaat bagi akademisi dan peneliti Indonesian studies, namun sekaligus dapat berfungsi sebagai pintu gerbang yang luas dan jernih bagi setiap orang asing yang hendak memasuki Indonesia.[]

Link terkait:
http://www.rosda.co.id

Friday, December 27, 2013


Saran untuk Penulis Indonesia
--Menuju Frankfurt Book Fair 2015


Publikasi dari Yayasan Lontar, Jakarta.

Pada 2015 mendatang Indonesia akan menjadi tamu kehormatan (guest of honor, GOH) di Frankfurt Book Fair (FBF) atau Pesta Buku Frankfurt, Jerman. FBF bukan saja pesta buku paling tua—diadakan sejak abad ke-15—pesta buku ini juga merupakan acara penerbitan terbesar di dunia. Setiap tahun, sekitar 7.500 peserta pameran berasal lebih dari 100 negara berkumpul di Frankfurt untuk jual-beli hak cipta. FBF mampu menarik minat 300.000 pengunjung, kira-kira 200.000 di antaranya merupakan para profesional di industri penerbitan, ditambah kehadiran lebih dari 10.000 jurnalis.

Undangan sebagai tamu kehormatan di FBF merupakan kesempatan sangat langka, bisa dibilang sekali seumur hidup. Dana yang harus dikeluarkan Indonesia agar dapat sukses di acara ini memang besar, tetapi manfaat atas kehadiran Indonesia sebagai tamu kehormatan di FBF 2015 tampaknya akan lebih besar lagi. Meski pesta tersebut hanya berlangsung selama lima hari, para penulis dari negara tamu kehormatan akan diundang ke Jerman enam bulan sebelumnya.

Indonesia memiliki banyak penulis berbakat tapi secara keseluruhan hanya beberapa saja yang karyanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Apa yang dapat kita lakukan untuk mengubah keadaan ini? Sebagian jawabannya ialah dengan melatih para penulis cara-cara mempromosikan karya dan diri sendiri (pitching) sehingga mereka bisa memperkenalkan karya serta diri mereka secara lebih baik kepada para pembuat keputusan di industri penerbitan.

Demi mewujudkan hal itu, pada 12 Desember 2013, Yayasan Lontar bekerja sama dengan Goethe-Institut Indonesia mengadakan lokakarya bertema “Pengarang Indonesia di Panggung Dunia” (Indonesian Authors on the World Stage). Dalam lokakarya ini, Gioia Guerzoni, seorang pencari bakat sastra internasional, mendiskusikan sejumlah pokok bahasan penting bersama 30 penulis yang terpilih berpartisipasi dalam acara tersebut.

Lokakarya tersebut dibagi dalam tiga sesi. Sesi pertama membicarakan tentang para pelaku industri penerbitan serta fungsi dan peran mereka masing-masing.Kemudian dilanjutkan dengan tema “apa saja yang laku dijual di luar negeri”, dan terakhir adalah mengenai cara-cara dan pentingnya mempromosikan diri (pitching). Pada akhir lokakarya, para penulis-peserta melakukan simulasi atau latihan permainan keterampilan dasar berpromosi (pitching) yang mereka butuhkan untuk menembus pasar internasional.

Bagi seorang penulis, mencapai kesuksesan tiada lain ialah dengan menghasilkan buku yang ditulis dengan baik; namun mereka dapat membuka kesempatan agar sukses lebih besar lagi bila mengindahkan informasi yang disampaikan dalam lokakarya ini.

Saran-saran berikut ini berusaha menghadirkan kesimpulan informasi yang disampaikan kepada peserta lokakarya.
Gioia Guerzoni (ki.) dan John H. McGlynn (ka). Foto: Anwar Holid
Hal-Hal Utama

Jadi Anda ingin jadi penulis dan karya Anda dapat diterbitkan—jika Anda baca halaman ini, tak disangsikan lagi sepertinya Anda memang begitu. Apa saja hal-hal yang sebaiknya Anda ingat?Berikut ini beberapa di antaranya:

1.    Rendah hatilah dan banyak membaca.
2.    Menulislah dalam bahasa yang bisa mengungkapkan ekspresi terbaik diri Anda.
3.    Perhatikan kemampuan atau penguasaan Anda terhadap gaya dan genre tertentu.
4.    Perhatikan pembaca karya Anda: tempat (lokal vs global), usia (fiksi remaja, buku anak-anak, fiksi umum,  dan lain-lain).
5.    Buatlah jejaring dengan teman dan rekanan; mintalah saran dari mereka sebagai pembaca karya Anda.
6.    Jangan takut pada kecaman/kritik. Komentar pedas pada karya biasanya sangat bermanfaat.
7.    Tanya diri Anda sendiri apa menariknya karya Anda dan kenapa karya tersebut bisa menarik/memikat buat orang lain.
8.    Coba tampilkan cerita Anda atau bagian dari karya Anda yang lebih panjang di majalah atau blog, atau bahkan bisa juga terbitkan dulu karya itu di halaman Facebook Anda untuk memperoleh komentar/reaksi dari para pembaca sebelum Anda mendekati penerbit.

Hal Utama Lainnya

Statistik penerbitan dari seluruh dunia menunjukkan betapa ternyata sedikit sekali kemungkinan bagi seorang penulis mampu mencapai sukses secara komersial. Karena itu ingat-ingatlah juga beberapa hal berikut ini:

1.    Bersikaplah realistis. Hidup semata-mata dari menulis itu sulit, bahkan bagi penulis yang sudah terkenal sekalipun.
2.    Jangan mudah putus asa oleh penolakan.
3.    Milikilah selalu rencana cadangan. Ingatlah bahwa tidak semua orang pada akhirnya bisa menerbitkan karyanya.
4.    Memiliki sumber penghasilan yang dapat diandalkan bisa menjadi suatu keuntungan.

Diterbitkan: Mencari Penerbit Lokal

Saking berhasrat ingin diterbitkan, banyak penulis baru kerap menandatangani kontrak tanpa meneliti atau membacanya secara cermat. Anda adalah pemilik karya Anda sendiri. Karya itu adalah anak Anda sendiri. Pastikanlah bahwa karya tersebut mendapat perlakuan terbaik yang mungkin bisa Anda berikan.

1.    Pelajari peran atau tugas dalam dunia penerbitan. Karena Anda adalah pencipta karya itu, usahakanlah bekerja sama dengan profesional lain yang mau membantu kesuksesan karya Anda. Sejumlah orang yang bisa jadi akan bekerja sama dengan Anda di antaranya:
a.    Editor, bekerja memperbaiki karya penulis dan membuatnya bisa lebih laku dijual.
b.    Agen, mewakili penulis dan bertindak sebagai perantara penulis dengan penerbit. Agen biasanya bekerja untuk beberapa penerbit, dan sejumlah agen juga bisa menjadi editor yang hebat.
c.    Pencari bakat (scout), bekerja untuk berbagai penerbit atau agen, dan mencari bakat-bakat baru yang potensial.
d.    Penerjemah. Penerjemah sastra profesional kerap berperan sebagai pencari naskah untuk penerbit dan bisa menjadi editor yang baik pula.
2.    Ketahuilah hak-hak Anda dan kewajiban penerbit. Pelajarilah hukum hak cipta dan bacalah secara teliti dan apabila memungkinkan, bandingkan dengan kontrak-kontrak rekan penulis lainnya.
3.    Jangan tergesa-gesa mengirimkan naskah yang belum matang ke penerbit. Ada kalanya Anda cuma punya satu kali kesempatan untuk membuktikan diri Anda sendiri.
4.    Saat mengirimkan karya kepada sebuah penerbit, lampirkanlah lembar proposal penerbitannya (lihat contoh di bawah). Melampirkan proposal penerbitan bisa membantu Anda dalam persiapan mempromosikan diri secara lisan (lihat Promosi  Diri).
5.    Usahakan terbitkanlah karya Anda di penerbit yang bagus atau reputasinyabaik. Jangan menerbitkan buku di penerbit yang tidak jelas. Kalau tidak, buku Anda bisa jadi tidak terlihat.
6.    Anda adalah pemilik karya Anda sendiri dan memiliki kuasa atas hak-hak tertentu, misalnya hak penerjemahan, adaptasi film, dan sebagainya. Berhatilah-hatilah jika penerbit meminta hak cipta keseluruhan (global rights). Urusan dengan hak cipta internasional biasanya merupakan menjadi tugas agen.
7.    Self publishing (menerbitkan karya sendiri) bisa memiliki efek bumerang. Jangan menerbitkan karya sendiri kecuali Anda memiliki kemampuan profesional untuk memproduksi buku berkualitas—atau mampu membayar tenaga yang bisa mengerjakannya.

Bangun Citra Diri Anda Melalui Kemampuan Bersosial

Pada dasarnya, penulis sebenarnya bisa saja bersosial (misalnya melalui media sosial yang ada) dan “mudah bergaul” serta membuat jejaring dengan orang lain yang sangat mungkin bisa membantu meningkatkan karirnya.
1.    Secara umum dapat dikatakan bahwa bagi penulis masa sekarang ini, aktif di media sosial dan kehidupan nyata merupakan suatu langkah cerdas. Tinggalkanlah zona nyaman Anda.
2.    Gunakan media sosial sebagai alat, tapi sadarilah bahwa hal itu menghabiskan/membutuhkan waktu luang Anda.
3.    Miliki citra diri Anda secara online, misalnya dengan meng-google nama sendiri dan judul-judul buku Anda.
4.    Buat profil di LinkedIn, Facebook, Google+, Instagram, Twitter. Pastikan bahwa profil tersebut konsisten dan terus diperbarui. Semua itu akan menghasilkan halaman “peringkat Google” (Google rank) yang tinggi.
5.    Di profil online, beri petunjuk yang jelas cara mengontak Anda. Jika Anda tidak terus-menerus aktif di media sosial, beri alamat email.
6.    Bangun sendiri strategi Anda: tentukan topik Anda. Cobalah menjadi unik.
7.    Pelajari cara menggunakan “hash tags” (atau tanda pagar) dan mencari cara agar orang tertarik pada topik Anda.
8.    Jangan terlalu banyak berbagi dan jangan mencampurkan urusan bisnis dengan hal pribadi.
9.    Jadikan diri Anda mudah dihubungi.
10.    Ramahlah kepada para penggemar/follower: sebarkanlah komentar mereka, beri mereka perlakuan khusus, seperti contoh karya terbaru Anda, biarkan mereka berpartisipasi dalam pengalaman dan pencapaian Anda.
11.    Datanglah ke festival/acara-acara sastra. Ini merupakan investasi, dan di sanalah Anda bisa membangun kontak internasional.
12.    Hadiri lokakarya yang bisa membuat Anda belajar dan bertemu dengan penulis lain.
13.    Carilah beasiswa dan residensi penulisan.

Mendunia: Menemukan Agen dan Penerbit Internasional

Indonesia memiliki potensi publik pembaca yang sangat besar bagi karya Anda. Meski begitu, Anda juga ingin karya tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Jika demikian halnya, ada beberapa hal yang perlu diingat:
1.    Tanyalah pada diri sendiri apakah karya Anda bakal menarik bagi pembaca luar negeri.
2.    Jika Anda menganggap karya itu pantas diterjemahkan, ingatlah bahwa penerjemahan merupakan profesi dan butuh bertahun-tahun untuk menjadi seorang penerjemah karya sastra yang andal. Jangan mempercayakan karya Anda jika mereka bukan penerjemah profesional.
3.    Secara online carilah agen, scout, editor, dan penerbit yang paling tepat dan terbaik untuk Anda. Periksalah tingkat keprofesionalan mereka. Penulis mana saja yang mereka wakili, mereka bekerja untuk penerbit apa saja, dan seterusnya.
4.    Ingatlah bahwa editor yang baik dan terjemahan yang hebat bisa mengubah nasib sebuah buku.
5.    Meski topik tertentu lebih mudah dijual di luar negeri, misalnya cerita kontemporer, tentang kaum urban—jangan melakukan pendekatan terhadap tema tersebut kecuali Anda memang merasa nyaman melakukannya.
6.    Ingatlah bahwa rata-rata pembaca luar negeri mungkin hanya sedikit sekali mengenal inti cerita Anda. Jangan berprasangka apa pun tanpa mengecek lebih dahulu, tapi juga jangan terlalu berlebihan menjelaskan.
7.    Jangan terus-menerus mengganggu agen, scout, dan penerbit. Jangan pula memaksa memberi mereka buku Anda. Kirimilah mereka sinopsis buku Anda (book description), dan file pdf karya Anda bila mereka minta.
8.    Pelajari cara mempromosikan diri Anda (lihat Promosi  Diri), tapi ingatlah bahwa jenis karya tertentu sering kali lebih baik apabila dititipkan pada seorang agen yang memiliki kontak jaringan internasional. Ingatlah pula bahwa penerbit ingin menghasilkan uang dari Anda, sementara agen ingin menciptakan uang bagi Anda.
9.    Sadarilah batas diri Anda: butuh waktu untuk jadi penulis yang karyanya dapat diterbitkan dan bahkan bila Anda telah mencapai hal itu, sangat sulit untuk bisa dijadikan sumber penghidupan.

Promosi  Diri (The Pitch)

1.    Buatlah tulisan promosi diri Anda dalam satu halaman ringkas termasuk informasi biografi, sinopsis karya, juga komentar tentang karya itu. (Karena penerbit dibanjiri email dan proposal buku, promosi diri harus singkat dan semenarik mungkin.)
2.    Kalau kemampuan bahasa Inggris Anda belum bagus, tulis promosi dalam bahasa Indonesia dan minta bantuan tenaga profesional untuk menerjemahkan ke bahasa Inggris.
3.    Panduan untuk promosi diri:
       a. Siapa saya?
       b. Apa yang telah saya tulis?
       c. Siapa pembaca karya saya?
       d. Kenapa buku saya bisa menarik bagi pembaca lokal/luar negeri?
4.    Praktikkan cara melakukan pitching selama tiga menit bersama teman; itu bisa bermanfaat dalam situasi sesungguhnya atau dalam pertemuan sosial.

Contoh Susunan Proposal Penerbitan

1.    Judul karya yang diajukan.
2.    Detail mengenai penulis:
       a. Nama lengkap sebagaimana yang digunakan di setiap terbitan:
       b. Alamat surat/pos:
       c. Nomor telepon, fax (jika ada):
       d. Alamat email:
       e. Afiliasi (tempat kerja, institusi, komunitas, dan lain-lain):
       f. Daftar terbitan/karya lainnya:
3.    Keterangan apakah seluruh naskah atau ada bagian tertentu sedang dalam pertimbangan pihak lain, ditunda penerbitannya, atau telah diterbitkan sebelumnya.
4.    Isi buku (daftar isi).
5.    Pernyataan singkat tentang tema atau argumen atas buku yang diajukan.
6.    Kesimpulan ringkas atau abstrak isi buku tersebut.
7.    Pernyataan tentang bagaimana naskah tersebut dapat diterima (berharga) dalam situasi sastra sekarang terkait soal inti cerita karya Andadan apakah ada unsur baru yang disumbangkannya.
8.    Untuk naskah yang pada dasarnya sudah utuh/lengkap, sebutkan jumlah kata di dalam naskah, dan jika ada, jumlah ilustrasi, tabel, ataupeta.
9.    Pernyataan singkat mengenai kualifikasi penulis.
10.    Tunjukkan semua yang dapat diprakirakan sebagai potensi pasar karya Anda dan kenapa menurut Anda buku tersebut bisa menarik minat buat para pembeli.[]

Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Anwar Holid.

Link terkait: http://bit.ly/1kHlQmn (versi English).

Tuesday, May 28, 2013

Korupsi dan Diri Sendiri
--Anwar Holid

Mendengar hasil korupsi banyak orang, jumlah nominal yang mereka keruk, harta-benda yang berhasil disita petugas antikorupsi, uang dan barang hasil korupsi yang dikembalikan ke petugas negara, jumlah kerugian negara atau harta dalam sengketa, kita akan segera sadar betapa nilainya terlalu luar biasa untuk dibayangkan seberapa besar sebenarnya kekayaan yang sia-sia. Contoh korupsi Luthfi Hasan Ishaaq berbentuk mobil mewah, rumah mewah, juga uang berjumlah sangat mewah. Mobil itu sekarang nganggur, rumahnya kosong ditinggalkan, dan uangnya (entah di bank atau di suatu tempat) teronggok jadi cuman lembaran kertas. Enggak bernilai karena enggak kepakai. Bukankah uang baru berguna kalau dibelanjakan, termasuk untuk belanja seks?

Kalau organisasi seperti Partai Keadilan Sejahtera meradang bahwa Komisi Pemberantasan Korupsi tebang pilih, kita bisa balik membantah bahwa para koruptor bukan Robin Hood. Bahkan mereka lain dari mafia yang punya pandangan berbeda tentang cara usaha dan kode etik. Robin Hood jantan mengaku bahwa dia merampok dan berbuat jahat terhadap orang yang jauh lebih kejam dengan cara sistematik dan dilegalkan. Robin Hood sedikit menyulitkan kita berpendapat dia baik atau jahat karena membagikan hasil rampokannya pada orang miskin tanpa pandang bulu. Sementara orang seperti Ahmad Fathanah cuma mendistribusikan hasil kejahatannya kepada perempuan yang bisa melampiaskan kepuasan hasrat seksualnya dan pada laki-laki tertentu yang dinilai menguntungkan posisi dan bisa diajak kerja sama. Padahal karena dia tahu ajaran Islam, ada dalam lingkaran orang berpendidikan, disebut pengusaha-politisi-ulama, pasti dia tahu siapa yang harusnya dimakmurkan. Coba kalau dia menebar uang untuk rakyat jelata yang tertindas dan tak bisa berbuat apa-apa, menghapus kemiskinan, mengurangi besar-besaran orang yang jualan di pinggir jalan semrawut di lapak-lapak jelek, mungkin banyak yang mendukungnya. Ini enggak. Dia berbuat sebaliknya. Wajar banyak orang sinis atas kelakuan dan sikap mereka, persis karena perbuatannya lain dengan jargon dan image yang mereka bangun. Bukannya minta maaf atau mengakui skandal yang mereka perbuat dan menyilakan aparat negara membuktikan di mana letak kesalahan mereka.

Dipikir-pikir, alangkah sia-sia hasil korupsi. Bayangkan aja, Luthfi Hasan Ishaaq kan seorang Muslim, terdidik, mantan presiden Partai Keadilan Sejahtera pula. Tentu dia khatam Al-Quran, tahu ajaran moral Islam, hapal ayat mana untuk sedekah, kewajiban berbuat baik kepada kaum miskin, kekurangan, pengangguran, berderma, menyantuni anak yatim, memakmurkan kaum dan bangsanya. Kenapa dia malah seperti itu? Dengan pencapaian dan prestasinya, dia malah menumpuk, mengolah, dan mengantongi kekayaan untuk diri sendiri dan konco-konconya. Hidup bermewah-mewahan, berlebih-lebihan. Boro-boro kepikiran hidup sederhana seperti nabi-nabi agamanya.

Tapi ya... sederhana itu apa sih? Aku nanya nelangsa. Aku terkadang merasa terkelabui oleh niat hidup sederhana, apa lagi kalau dibandingin dengan kesulitan finansial, masih suka dibantu orang lain, dan mereka pun tampak iba padaku, juga dengan keinginan atau target yang mau aku capai. Pertolongan dari teman-temanku saja suka membuat aku nangis dan sungkan.

Beberapa minggu lalu aku ditanya seorang psikolog: Apa keinginanmu yang belum tercapai? Aku jawab: Aku belum bisa bikin asuransi pendidikan untuk anak bungsuku (6 th.) juga bikin asuransi jiwa untuk seluruh keluarga batihku. Padahal di dalam hatiku sebenarnya mau teriak berbagai keinginan yang sejak awal 2013 aku catat di notes:
  • Aku mau netbook dengan performa tinggi.
  • Aku mau punya kamera dslr.
  • Aku mau sepeda yang keren.
  • Aku mau beli emas perkawinan sebagai ganti yang dulu digadai dan gagal ditebus.

Anjrittttt!!!! Empat keinginan itu saja enggak ada sederhananya sama sekali! Semua kontras dengan idealisme kesederhanaan dalam diriku. Apa lagi kalau dibandingkan orang yang bekerja kepayahan di bawah terik matahari, tanpa perlindungan, tanpa ruang kerja nyaman, badannya bau tengik, mencari nafkah di pinggir tumpukan sampah yang busuk, bareng tikus, kucing, dan anjing liar, tanpa jaminan sosial, tanpa jaminan pertemanan dengan orang hebat, keren, dan berada semacam Angelina Sondakh, Susno Duadji, atau Anas Urbaningrum. Begitu banyak orang yang bekerja jauh lebih keras, tapi bernasib lebih buruk, hidup lebih miskin dan sederhana daripada aku, cari nafkah enggak jelas dan lebih sedikit hasilnya. Kita tahu, ada pekerjaan sangat berat yang dibayar begitu murah, sementara ada pekerjaan yang tampak ringan malah dibayar edan-edanan. Itulah orang sederhana sebenarnya. Mereka bukan pilihan buat cuci uang dari orang kaya, berkuasa, dan enggak punya pengaman jaring sosial seperti para koruptor. Apa sederhana cuma cocok buat orang awam dan bodoh?

Yah, orang bisa langsung menangkis, SEDERHANA TIDAK IDENTIK DENGAN MISKIN! Baik. Sederhana itu tricky. Tapi lapar itu nyata. Orang bisa menghabiskan uang untuk kawinan 913 juta rupiah dan masih bisa bilang itu sederhana, sementara ada orang nyaris putus asa menagih 1,9 juta rupiah atas kerja kerasnya sampai lebih dari enam bulan. Bagi orang insensitif, barangkali sederhana tampak menipu, padahal ia sublim.

Tapi ya, coba aku yang korupsi dan melakukan skandal itu. Aku mungkin akan berbuat serupa: membela diri, ngotot, menyembunyikan atau malah membuang bukti, berusaha berkelit, membantah, marah, balik menuduh, menyalahkan orang dan pihak lain, atau sekalian menyeret dan menghancurkan sesama tertuduh.

Katakanlah suatu hari aku ketahuan korupsi atau tertangkap basah berzina. Aku digerebek dan mereka menggertak, "Heh, kamu korupsi ya?"
"Enggak! Enak aja kamu nuduh."
"Lha ini ada uang buktinya apa!?"
"Itu bukan punyaku."
"Kok ada di sini?"
"Itu lupa dibawa tamuku tadi."
"Halah, kamu juga lagi zina ya?"
"Enggak! Jangan sembarangan kamu bilang!"
"Kok ada perempuan lagi telanjang di sini?"
"Dia lagi coba baju kurung sutera pemberianku!"

Anjrittttt!!!!

Terbayang kalau aku adalah bagian sosialita para koruptor dan penguasa yang memegang, mengelola dana dan anggaran luar biasa berlimpah uang, mungkin aku juga akan berperilaku serupa. Segala keyakinan soal sederhana, iman, spiritualitas, agama, Tuhan, barangkali jadi tai kucing. Asam seperti busa ludah anyir. Padahal ada adagium: orang hebat membicarakan ide. Sekarang lihat kelakuan orang hebat dengan ide mereka soal kesejahteraan, keadilan, kewarganegaraan, dan kesetaraan hukum. Mungkin aku cuma akan menganggap harta itu sebagai prestasi, hasil kelihaian, paduan antara leadership, jago negosiasi dan lobi, ditambah karisma yang membuat orang lain grogi. Dengar kesaksikan orang di sekitar mereka, betapa baik koruptor itu. Mereka suka memberi secara mengejutkan, menyumbang besar-besaran, memberi hadiah barang mewah, membekali cek milyaran, mengirim bonus tanpa diduga. Sementara penerimanya terpana, senang, bersyukur, bangga menerima, menganggap itu rezeki dari Tuhan. Padahal itu semua hasil kejahatan. Tanyalah pada diri sendiri, sebelum kembali berprasangka pada perempuan maupun laki-laki yang dihadiahi barang-barang mewah dan berharga oleh para koruptor.

Ah, kayaknya notes ini gagal fokus, tapi mungkin bisa jelas melampiaskan apa.[]

Anwar Holid, kerja sebagai editor/penulis/publisis.

Ilustrasi dari Internet.

Link terkait:
Sederhana Seperti Apa?

Sunday, May 19, 2013


Rosda: Contoh bagi Penerbitan Indonesia
--Anwar Holid

"Saya bangga pada Rosda. Karena itu banggalah pada Rosda, karena pemimpinnya adalah seorang tokoh penerbitan Indonesia," kata senior Ikapi (Ikatan Penerbit Indonesia) Setia Darma Madjid memberi kesaksian di syukuran dan ulang tahun ke 52 penerbit Remaja Rosdakarya, gedung Wahana Bakti Pos, Bandung pada 18 Mei 2013. Setia Darma merujuk pada Rozali Usman, pendiri Rosda, yang pernah menjadi Ketua Ikapi Pusat selama dua periode. Rozali Usman mendirikan Rosda pada 15 Mei 1961. Dalam ucapan selamatnya, Ketua Ikapi Pusat Lucya Andam Dewi menegaskan, "Rosda menjadi contoh untuk usaha sejenis di Indonesia."

Hari itu juga menandai kesiapan penerbit Rosda memasuki zaman digital. Rosda meluncurkan e-Rosda, layanan toko buku dan penerbitan digital (ebook store mobile apps). E-Rosda memungkinkan penerbit ini menjangkau siapapun yang terkoneksi, menerbitkan lebih banyak buku, termasuk buku yang sudah tidak terbit, dan memberi peluang kerja sama lebih besar kepada penulis dan penerbit lain yang mau menjual maupun mendistribusikan bukunya secara digital.


Wakil Direktur Utama Rosda Rosidayati Rozalina tampak antusias dengan langkah itu. Rosda menggandeng Techbator untuk memastikan keamanan, keterjangkauan, dan kemudahan layanan e-Rosda. Platformnya disesuaikan dengan kondisi teknologi dan ketersediaan gadget di Indonesia. "Kami berkomitmen melindungi penerbit, penulis, dan industrinya," kata Erlan Primansyah dari Techbator. Layanan ini diharapkan bisa menumbuhkan ekosistem industri buku berbasis teknologi terdepan. "Industri buku adalah tulang punggung perkembangan dan kemajuan bangsa Indonesia."

Berawal dari buku pelajaran dan sekolah, penerbit Rosda menonjol di pangsa pasar buku pendidikan dan perguruan tinggi, terutama komunikasi, agama Islam, bahasa, dan sosial-politik. Dengan mayoritas bukunya ditulis oleh para guru besar, dosen, dan pakar di bidangnya, kalangan dunia akademik dan pendidik merupakan pelanggan utama buku Rosda, begitu juga mahasiwa. Mahasiswa merupakan pengguna Internet yang aktif, akrab dengan gadget, tapi sukanya belanja dengan harga murah.

Layanan e-Rosda memungkinkan pelanggan bisa membeli buku per bab, diupdate bila naskah direvisi penerbit, bahkan kalau mau menyewa isinya. Langkah ini dianggap sebagai solusi segar menghadapi pembajakan. Ada puluhan judul buku Rosda dibajak dan bersama sejumlah penerbit lain hingga kini kesulitan menyetop kejahatan tersebut karena terhalang kompleksitas masalahnya.

Lewat berbagai tanggapannya, sejumlah penulis yang langgeng bekerja sama dengan Rosda mengamini dan mendukung langkah baru Rosda tersebut. Bung Smas, penulis novel anak-anak kawakan, mengungkapkan punya banyak kisah dan mendalam dengan Rosda, sampai susah disebut satu per satu. "Rosda adalah tempat saya bekerja sama paling lama dengan sebuah penerbit," katanya. Bahrudin Supardi, penulis buku biografi dan cerita anak-anak, menilai e-Rosda merupakan solusi praktis untuk mengembalikan minat baca generasi muda.[]


Anwar Holid bekerja sebagai editor, penulis, juga publisis.

Link terkait:
www.rosda.co.id
www.twitter.com/remajarosdakarya

Monday, November 15, 2010


Menjala Keemasan Masa Kanak-Kanak
---Anwar Holid

Baru sekarang aku berkesempatan mengakses sebuah karya Tere-Liye, yaitu Pukat (Penerbit Republika, 2010, 343 hal.), padahal dia sudah menulis selusin karya fiksi dan banyak orang mengaku mengoleksi lebih dari setengah buku-bukunya. Blogger di tatayulia.wordpress.com mengaku: "Kalau ditanya siapa penulis/pengarang novel Indonesia yang paling saya favoritkan saat ini, jawabannya adalah Tere-Liye." Bambang Joko Susilo, penulis yang berdedikasi tinggi di ranah buku kanak-kanak, juga berpendapat positif tentang karya Tere-Liye. Bambang berkomentar: "Tere-Liye menurutku penulis berbakat, hebat, dan produktif. Bahasanya lincah dan lancar. Bukunya banyak yang best seller." Selain pembaca dewasa-umum, mayoritas pembaca karya Tere-Liye ialah anak-anak dan remaja.

Pukat merupakan buku ketiga dari tetralogi Serial Anak-Anak Mamak. Hanya karena munculnya acak, Pukat menjadi buku kedua yang terbit. Volume pertama dari seri ini yang sudah terbit ialah Burlian (2009), meski ia merupakan buku kedua. Kenapa membingungkan begitu? Di diskusi Goodreads.com, Tere-Liye menerangkan, "Serial Anak-Anak Mamak dimulai dari anak-anak cowok dulu, baru cewek, dan tidak urut kecil-besar atau sebaliknya. Bisa mulai dibaca dari mana saja." Tere menjanjikan bahwa dua buku tentang anak perempuan Mamak akan segera beredar, yaitu Eliana dan Amelia.

Dalam diskusi pada Jumat, 12 November 2010 di Masjid Salman ITB, Tere-Liye menyatakan bahwa Serial Anak-Anak Mamak punya ciri khas antara lain tiap judulnya memuat kisah tertentu (spesifik) tentang seorang anak di keluarga itu, bukan merupakan sekuensial, fokus memotret kehidupan anak-anak dan keluarga, serta bernostalgia dengan masa kanak-kanak di kampung---sebab sebagian pembaca kota tak mengalami peristiwa tersebut.
_________________________________________
DETAIL BUKU

Pukat
Penulis: Tere-Liye
Penerbit: Republika, 2010
Tebal: vi + 351 hal.; 205x135x0 mm; softcover
ISBN-13: 9789791102735
Harga: Rp 50.000 
_________________________________________

Seluruh keluarga Mamak menjuluki Pukat sebagai si anak pandai dan panjang akal karena rajin mencari tahu jawaban atas segala pertanyaan. Sifat tersebut berbeda dari Burlian yang dianggap si tukang tanya, meski dia dijuluki anak spesial. Karena pandai dan hampir tahu segala rupa, secara alamiah Pukat tumbuh menjadi anak yang bijak dan jujur. Meski begitu ada kala dia juga kurang sabar, enggan mengalah, bahkan bila perlu ngotot demi memegang prinsip yang dianggapnya benar.

Keluarga mereka tinggal di kampung di pulau Sumatera. Kampung itu cukup terpencil, berada di dekat hutan tropik, belum memiliki sarana listrik, namun jalan menuju kota cukup terbuka, dilalui jalur rel kereta api, dan ada stasiun kereta api di sana. Sungai di kampung itu masih jernih, di sanalah anak-anak mandi, saling terjun, dan bermain bola. Meski terbilang sederhana, keluarga Pukat memiliki televisi hitam-putih bertenaga aki untuk para tetangga dan kawan-kawan mereka suka menumpang nonton bersama.

Fokus dalam novel ini ialah ketika Pukat kelas 5 hingga lulus SD. Dalam dua tahun itu dia mengalami sejumlah peristiwa dramatik yang amat berbekas sekaligus membentuk mentalnya menuju masa pertumbuhan hingga dewasa. Kala itu, misalnya, dia bersama Burlian untuk pertama kali diajak ayah naik kereta api mengunjungi kawannya di kota kabupaten. Malang, persis ketika masuk terowongan panjang, kereta mereka dibajak dan para penumpangnya dirampok secara terencana. Setelah saling olok dan bantah-bantahan, Pukat akhirnya bermusuhan amat sengit dengan kawan dekat sekaligus pahlawan permainan bola air mereka, Raju. Bersama Can dan Burlian, dia juga nyaris mati terbakar hidup-hidup ketika ayahnya bersama para tetangga membuka hutan untuk dijadikan ladang. Kampung mereka juga sempat dilanda banjir dan menyengsarakan semua penduduknya.

Di masa kanak-kanak itu Pukat belajar arti kejujuran, kerja keras, rasa tabah, kasih sayang orang tua, persahabatan, berani bertindak, menghargai rezeki, sekalian belajar perbedaan pertumbuhan anak laki-laki dan perempuan, serta betapa panjang dan mengesankan perjalanan segenggam beras sampai akhirnya menjadi nasi yang siap disantap. Sikap positif di masa pembentukan mental yang bisa dikatakan terjaga itu membuat Kak Seto (Seto Mulyadi) memberi endorsement sebagai berikut: "Pukat mengajak kita untuk memahami nilai kejujuran, persahabatan, dan kreativitas yang dikemas dalam sebuah kecerdasan spiritual yang jernih." Karena itu, selain pantas disarankan sebagai bacaan anak-anak dan keluarga, idealnya novel ini dikoleksi perpustakaan sekolah di seluruh Indonesia.

Tere-Liye cukup mengesankan menuturkan kisah Pukat. Drama dan kelakuan khas anak-anak hadir secara proporsional dan segar, tokoh-tokohnya memiliki jiwa dan emosi, begitu pula dengan kejutan maupun denyut masyarakat kampung yang mayoritas penduduknya memeluk Islam. Penulis bertutur dari sudut pandang "aku" sebagai Pukat. Dia mengenang masa-masa pertumbuhan itu dalam perjalanan pulang dua belas jam dari Amsterdam ke Jakarta, ketika dirinya di luar dugaan menemukan jawaban atas teka-teki dari uanya yang seumur hidup jadi pertanyaan besar dalam dirinya dari surat yang dikirim Burlian dari Tokyo. Pertanyaan itu ialah "Apa harta karun paling berharga di kampung ini?" Penemuan itulah yang memberi dia energi untuk mudik menziarahi pusara uanya dan menyatakan dirinya telah menemukan rahasia atas limpahan kasih sayang yang selama ini memberkatinya.

Namun, karena merupakan kisah dari pengalaman orang dewasa yang sudah jadi orang kota, Pukat kini sudah sulit sekali melepaskan diri dari belitan kosakata urban seperti konfirmasi, disiplin, teknis, komunikasi, eksotis, juga ekstase yang jadi terdengar aneh dalam konteks cerita masa kanak-kanak, apalagi settingnya terjadi pada tahun 80-an. Sisi plusnya, novel ini mengandung kekayaan kosakata Indonesia yang khas, seperti lanting, umbut, dan belincong.

Sayang kualitas penyuntingan buku ini terbilang masih buruk. Ada banyak kesalahan di novel ini yang mengganggu pembacaan, terutama dari cara penulisan, penggunaan tanda baca, ejaan, juga inkonsistensi istilah. Kesalahan mendasarnya terlalu banyak. Contoh paling klise antara lain penulisan 'rubah', 'dimana', 'ijin', juga 'takjim.' Kecerobohan ini menunjukkan bahwa pekerjaan rumah bagi industri penerbitan Indonesia masih menumpuk---terutama untuk editor dan penulis. Bagi penulis berpengalaman seperti Tere-Liye, kekurangan ini patut disayangkan.[]

Anwar Holid, penulis buku Keep Your Hand Moving (GPU, 2010). Bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis.

KONTAK: wartax@yahoo.com | http://halamanganjil.blogspot.com

Copyright © 2010 oleh Anwar Holid

Link terkait:
http://darwisdarwis.multiply.com --> blog Tere-Liye
http://www.goodreads.com/author/show/838768.Tere_Liye
Facebook: Darwis Tere-Liye

Sunday, October 31, 2010


[Kompetisi Menulis]
Jakartabeat Music Writing Contest I
"Wajah Musik Indonesia"

Sejak era Bing Slamet membius para penggemar hingga gerakan indie menggebrak massa, musik Indonesia senantiasa menyajikan serpihan fenomena yang memikat untuk dicatat.

Jakartabeat.net mengundang mahasiswa di seluruh Indonesia untuk mengikuti kompetisi menulis musik yang baru pertama kali diadakan ini, berkontribusi pada peningkatan keragaman jurnalisme musik di Tanah Air, pun pada perkembangan musik Indonesia itu sendiri.

Apa yang bisa ditulis? Bisa tentang musisi, kelompok musik, perusahaan rekaman, album musik, produser, lirik lagu, radio yang mendedikasikan diri pada musik tertentu, komunitas fans genre tertentu, tentang toko musik/kaset/CD/piringan hitam legendaris di tempat Anda tinggal, komunitas indie di kota masing-masing, konser musik, hubungan politik dengan musik, dan apa saja, sejauh terkait dengan musik Indonesia, dari seluruh ragam genre dan lintas waktu.

Jakartabeat Music Writing Contest I juga bertujuan mengembangkan jurnalisme musik Indonesia pada teritori baru, melampaui pemahaman dan praktik jurnalisme musik yang hanya menyampaikan facts dan who’s who.

Tulisan sedapat mungkin mengikuti gaya tulisan Jakartabeat.net yang menekankan pada esai/feature, mengekspresikan pengalaman dan kecintaan pada musik, serta segala aspeknya. Peserta dipersilakan mengeksplorasi tulisan, tidak terbatas di rubrik musik, di http://www.jakartabeat.net.

KETENTUAN LOMBA

Peserta mengirimkan dua file: file pertama ialah tulisan yang diikutkan dalam lomba, file kedua berisi curriculum vitae (CV).

PESERTA

Mahasiswa program Strata 1 atau Diploma di seluruh kampus Indonesia.

PENULISAN NASKAH

- Tulisan diketik rapi, 1,5 spasi pada halaman kwarto, font Times New Roman 11 point.
- Panjang tulisan minimal 5 halaman, maksimal 8 halaman.
- Di pojok kiri atas, tuliskan nama dan nama kampus Anda.
- Peserta hanya bisa mengirimkan satu naskah.

PENULISAN CV

- Panjang CV cukup 1 halaman.
- Tiga informasi utama yang harus dicantumkan: (1) nama lengkap, (2) data kelahiran, (3) alamat lengkap.
- Tulis informasi pengalaman organisasi mahasiswa dan pengalaman menulis di media apa pun (bila ada).
- Cantumkan alamat blog pribadi Anda (bila punya).
- Di bagian bawah CV, tulis komentar pendek Anda tentang perkembangan jurnalisme musik di Indonesia.

PENAMAAN DAN PENGIRIMAN FILE

File naskah dan CV ditulis dalam format rtf.

Nama file naskah: nama Anda-judul naskah. Contoh: Agus Lirboyo-Iwan Fals, Kelahiran Baru Setelah Kematian Sang Anak
Nama file CV: nama Anda-CV. Contoh: Agus Lirboyo-CV.

File dikirim ke e-mail:
nuran@jakartabeat.net
cc: fakhri@jakartabeat.net

Subject: Jakartabeat Music Writing Contest I

DEADLINE

File paling lambat diterima pada Rabu, 5 Januari 2011, pukul 17.00 WIB.

PENGHARGAAN

Tiga pemenang terbaik akan diumumkan di Jakartabeat.net pada Senin, 31 Januari 2011.
  * Pemenang I memperoleh Rp 3 juta. 
  * pemenang II memperoleh Rp 2 juta. 
  * Pemenang III memperoleh Rp 1 juta. 
Ketiga pemenang ini juga akan bergabung menjadi kontributor Jakartabeat.net.

Seluruh naskah yang masuk jadi milik panitia dan mungkin dimuat di Jakartabeat.net (penulis akan diberi tahu via e-mail).

Informasi lebih jauh bisa diperoleh melalui dua e-mail di atas.

Keputusan dewan juri final dan tidak dapat diganggu-gugat.

TENTANG JAKARTABEAT MUSIC WRITING CONTEST I

Jakartabeat Music Writing Contest I diselenggarakan untuk merayakan ulang tahun kedua Jakartabeat.net, online magazine tentang musik, buku, film, dan ide humaniora yang jatuh pada Selasa, 18 Januari 2011. Program ini direncanakan akan menjadi kegiatan rutin tahunan Jakartabeat.net.

Kompetisi ini diselenggarakan atas kerja sama Jakartabeat.net dengan Yayasan Interseksi. Hingga hari ini, Jakartabeat.net adalah media online volunteer, para kontributor menulis sukarela tanpa imbalan. Kecintaan pada musik dan music writing, minat pada ide-ide humaniora, dan dorongan berbagi menjadi motivasi para kontributor Jakartabeat.net.

Yayasan Interseksi merupakan yayasan non-profit yang fokus pada kajian kultural dan hak minoritas di Indonesia. Kegiatan Yayasan Interseksi di antaranya penelitian, penulisan buku, dan pembuatan film dokumenter bertema budaya.
Link: http://www.interseksi.org.

TENTANG DEWAN JURI

Dewan juri Jakartabeat Music Writing Contest I terdiri dari empat orang, merupakan representasi empat wilayah: praktisi musik, jurnalis, akademisi, dan penulis lepas. Seluruh anggota dewan juri adalah kontributor Jakartabeat.net sendiri.

Anwar Holid, penulis beberapa buku, di antaranya Keep Your Hand Moving: Panduan Menulis, Mengedit, dan Memolesnya (Gramedia Pustaka Utama, 2010). Ia bisa dijangkau di http://halamanganjil.blogspot.com.

Harlan Boer, manajer band Efek Rumah Kaca dan produser Jangan Marah Records yang menaungi band-band indie seperti Bangkutaman; ia juga mantan personil The Upstairs.

M. Taufiqurrahman, wartawan harian berbahasa Inggris The Jakarta Post, rutin menulis tentang musik. Taufiq ikut serta mendirikan Jakartabeat.net. Belum lama berlalu ia menyelesaikan studi pascasarjana di Department of Political Science, Northern Illinois University, Amerika Serikat.

Roby Muhamad, staf pengajar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Semasa SMA menekuni musik blues. Ia menyelesaikan studi doktoral di Columbia University, New York, Amerika Serikat pada 2010. Bidang keahliannya ialah social network. Roby pernah menjadi anggota tim penelitian bertaraf global, The Small World Project, yang berpusat di Columbia University. Sila lihat Roby menjelaskan riset ini di CNN via http://www.youtube.com/watch?v=V2biPHBGm3c.

Ikuti kami di:
Facebook Page: jakartabeat.net | Twitter: jakartabeat

Copyright © 2009-2012 Jakartabeat.net

Monday, October 11, 2010


[HALAMAN GANJIL]
Doa dan Masalah dengan Tuhan
---Anwar Holid

Ilalang (10 tahun) baru saja melihat aku selesai berdoa di atas sajadah. Mungkin dia memperhatikan aku sejak shalat beberapa menit lalu. Sambil melipat sajadah, kami bertatapan.
"Yah, apa aja yang ayah doakan kalau habis shalat?"
"Banyak Lang. Ayah bersyukur, mohon ampun, berusaha biar lebih tabah, tambah sabar, dan kuat, juga berdoa biar tambah rezeki, diberi kecukupan, dan lain-lain."
"Apa ayah mau tambah kaya?"
"Ya iya dong!"
"Tapi bukannya banyak orang yang setelah kaya jadi lupa diri?"

Ha ha ha... aku ngakak, terus bilang, "Wah, banyak juga kok orang kaya yang bersyukur. Banyak teman ayah yang kaya, dan menurut ayah mereka baik. Suka menyumbang atau memberi sebagian rezekinya ke orang lain, bahkan ngasih ke kita juga."

Percakapan itu entah kenapa secara acak segera membuatku memikirkan betapa kisah tentang para nabi memperlihatkan karakter manusia yang amat beragam, baik secara fisikal maupun psikologi. Aku sudah beberapa lama mencari-cari tahu dari bacaan mengenai hal itu. Sebagian nabi ada yang sangat miskin, misalnya Isa dan Ayub (kala dia jatuh miskin), namun ada juga yang jumlah kekayaannya terlalu sulit kita bayangkan wujudnya, seperti dalam kehidupan Sulaiman dan Daud. Aku pernah baca kisah Isa yang tidur berbantalkan batu. Ini mencengangkan bila dibandingkan bahwa aku yang kerap merasa nelangsa ini sudah punya rumah, kasur, dan bantal empuk. Sebagian nabi hidup membujang, misalnya Isa dan Yahya, banyak istri (Muhammad, Sulaiman), merantau ke negeri jauh dan mengalami fase hidup yang drastik (Yusuf, Ibrahim, dan Musa), dan berbagai karakter lain. Bahkan kalau aku baca dari literatur Katolik maupun Kristen (Nasrani) ada nabi yang peragu, pemarah, pernah berselingkuh. Ini hebat. Mereka semua punya sifat yang sangat manusiawi.

Aku ingin suatu saat bisa merefleksikan kondisi fisik dan mental orang-orang hebat itu ke dalam kepribadian manusia kontemporer. Kualitas mereka kan macam-macam. Aku sendiri belum tahu muaranya akan ke mana pikiran seperti itu. Cuma aku agak yakin ada sesuatu yang istimewa dari sana, entah karena mereka punya kualitas nabi---yaitu mulia & bersifat ilahiah---atau karena itu akan memperlihatkan sejumlah sifat manusia yang fluktuatif, yakni membuktikan ada sifat profan (bersifat duniawi) yang berpadu dengan bagaimana mereka berusaha tabah, tobat, bangkit lagi, termasuk beriman (sangat yakin) pada sesuatu yang dinilai orang lain tampak absurd.

Aku bukan orang yang punya koneksi langsung dengan Tuhan. Maksudku, aku belum pernah menatap cahayanya, bercakap-cakap dengan dia, langsung menerima wahyu dari dia, atau bahkan menerima sms dari dia. Aku enggak punya nomor hp dia bila terdesak butuh sesuatu. Aku juga sadar bahwa Tuhan juga kayaknya enggak akan mengubah isi rekening bankku jadi trilyunan rupiah, kecuali ada seorang koruptor atau makelar kasus salah melakukan cuci uang. Aku hanya mengandalkan keyakinan halus dan purba pada Tuhan yang ada di dalam hatiku. Aku bukan Fahri bin Abdullah Shiddiq. Aku bahkan kadang-kadang dengan ketus dicap tidak beriman oleh orang tertentu. Tapi semua itu tidak membuat aku jadi punya masalah dengan Tuhan. Aku hanya punya masalah tertentu dengan sesama manusia dan kehidupan di dunia ini. Karena itulah aku masih berdoa. Aku pada dasarnya juga enggak punya masalah dengan keyakinan menjalani hidup, tapi aku punya masalah dengan uang dan biaya. Karena itulah aku masih berdoa. Terus, apa aku berdoa minta uang? Tidak. Aku hanya minta rasa cukup, kewarasan, dan ketabahan menjalani kehidupan. Aku ingin berani menghadapi orang yang intoleran, karena tahu mereka suka melakukan kekerasan secara sembarangan dan mencederai orang lain. Benih-benih sejenis itulah yang aku minta.

Dalam renungan mengenai Tuhan dan kebahagiaan di buku You Are Not Alone (Elex Media, 2010, 252 hal.), Arvan Pradiansyah menulis tiga hal tentang salah berdoa, yaitu doa yang bakal ditolak Tuhan. Pertama, bila kita berdoa justru untuk meminta buah, bukan benih. Buah adalah akibat, sementara benih adalah sebab. Kedua, bila orang berdoa tanpa punya tujuan lain selain untuk kepentingan diri sendiri. Sebuah doa tanpa rencana akan gagal meyakinkan Tuhan untuk apa manfaat dari permintaan itu. Ketiga, doa tidak terkabul karena kita sering salah meminta. Misal ketika menghadapi sesuatu yang ingin kita ubah, kita malah berdoa meminta "ketenangan", bukannya "keberanian."

Kalau tahu persis dan benar-benar yakin, sebenarnya apa yang dilarang diminta pada Tuhan? Kalau Tuhan berkehendak, kita mau apa? Kalau dia mau kocok-kocok dunia untuk bikin gempa bumi atau kiamat, bukankah alam semesta ini miliknya? Bukankah dia Mahakuasa? Jangankan jodoh, ingin tambah kaya, minta keselamatan dunia-akhirat, atau rekening jadi lokasi tempat cuci uang, minta kerajaan saja akan Tuhan kasih. Sulaiman, seorang manusia di zaman dulu yang darah dan dagingnya sama-sama punya nafsu, hasrat, dan kuasa seperti kita sekarang ini, pernah berdoa: "Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahilah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seseorang pun sesudahku." Apa tidak sangat fisikal permintaan itu? Mau tahu, setelah menimbang kualitas pribadi dan permintaan Sulaiman, Tuhan mengabulkan permintaan itu. Hebat!

Manusia mudah sekali keberatan dengan kehidupan orang lain, padahal Tuhan tampaknya baik-baik saja. Dia membiarkan itu terjadi. Manusia suka sekali rewel terhadap keputusan hidup yang diyakini orang lain, dan selalu berhasrat untuk menggantikan sesuai keinginannya, seolah-olah pilihan itu salah. Tuhan membiarkan semua berkembang sesuai tabiat, tapi manusia suka mengatur-atur seakan punya sifat absolut. Tuhanlah yang absolut, tapi manusia suka sekali membeda-bedakan. Karena itu, kenapa kita tidak mendukung saja sesuatu yang jelas-jelas baik bagi orang lain?[]

Anwar Holid bekerja sebagai penulis & editor. Buku barunya ialah Keep Your Hand Moving (GPU, 2010).

KONTAK: wartax@yahoo.com | http://halamanganjil.blogspot.com

Saturday, September 25, 2010

[BUKU INCARAN]

Rileks Karena Tiga Buku
 ---Anwar Holid

Pada Rabu, 22 September 2010 sebelum ke Mizan untuk menyerahkan kerjaan yang sudah lama sekali terbengkalai, aku dapat sms dari mas Rinto di GPU Bandung, "mas, kalau kebetulan ke luar, silakan mampir ke gpu. ada titipan buku dari mas dwi helly."

Pagi itu Bandung cerah. Di Mizan aku menyerahkan pekerjaan ke Ibeq, setelah beberapa menit sebelumnya ngobrol ini-itu soal dunia penerbitan. Kemudian ketemu Dwi, disambung ngobrol mengenai dunia tulis-menulis dengan mas Hernowo. Dia banyak membahas soal ide, cara mengungkapkan pikiran sebagaimana maksud penulis, persoalan copy-paste, juga bagaimana mengelaborasi pemikiran. Di Mizan aku mendapat edisi revisi You Are A Leader! (Arvan Pradiansyah), padahal aku sekarang sedang terus mengumpulkan ide dan energi untuk menggali isi dari buku terbarunya, You Are Not Alone (Elex Media, 2010, 252 hal.)

Pulang dari Mizan kepalaku mulai terasa pening. Tengah hari terasa sangat terik, sebentar duduk di angkot aku tertidur, dan sampai di Cicaheum mendapati Bandung sudah basah diguyur hujan yang entah kapan turun. Jelas ketika aku tidur ia cepat-cepat muncul dan menyisakan gerimisnya sepanjang jalan aku menuju kantor GPU di Grha Kompas-Gramedia di jalan Riau (R.E. Martadinata). Sepanjang jalan dari Cicaheum ke Riau macet, mungkin ditambah karena Persib mau menundukkan lawan di Stadion Siliwangi. Kepalaku tambah berat ketika sampai di kantor GPU, tapi keramahan mas Rinto membuatku berusaha mengabaikannya. Aku tahu ini merupakan gejala alamiah yang kadang-kadang terjadi bila aku bepergian agak lama di tengah lalu lintas yang macet dan penuh polusi.

"Ini mas, ada novel Only a Girl karya Lian Gouw. Sudah ditandatangani beliau khusus untuk mas," begitu kata mas Rinto. Lian Gouw menandatangani buku itu pada 20 Mei 2010. Wah, begitu perhatiannya. "Novel ini akan terbit dalam minggu-minggu ini, kemudian kami akan mengadakan launching di Jakarta dan Bandung. Rencananya, di Bandung novel ini akan dibahas pak Remy Silado yang tahu banyak soal sejarah dan mengenal Bandung luar-dalam." Setting awal Only a Girl terjadi di Bandung tahun 1932; bahkan covernya pun menggunakan siluet gunung Tangkuban Parahu. Lian Gouw dulu tinggal di sini sebelum pindah sekeluarga ke Amerika Serikat. Meski bahasa ibunya ialah Belanda, dia akhirnya belajar menulis dalam bahasa Inggris dan karyanya dimuat media negeri Abang Sam itu, di antaranya dalam SF Writers Conference.

Dari GPU aku menuju Rumah Buku/Kineruku untuk menyiapkan acara yang aku siapkan untuk besok; tapi kepalaku tambah tegang. Untung bayangan bahwa aku akan segera bisa menikmati segelas kopi tetap membuatku semangat. Maka begitu menyimpan tas di locker, aku segera shalat, kemudian minta izin bikin kopi. Cuaca tambah dingin, meski sapuan hujan mulai lenyap. Karena nama Lian Gouw di sini aku jadi sedikit ngobrol dengan Joedith tentang keluarga-keluarga keturunan Cina. Menyeruput sedikit demi sedikit segelas kopi sambil buka-buka di sana betul-betul mampu mengurangi pening di kepalaku. Maka ketika sampai di depan pintu rumah, rasanya aku sudah lepas dari gejala kambuhan itu.

"Ayah, bawa hadiah apa?" sergah Ilalang sambil membukakan pintu. "Tuh, tadi aku beli lumpia kering di Cicaheum." Kemarin waktu puasa aku mendapati ternyata kami suka lumpia kering dan satu toples makanan itu sudah habis menjelang Lebaran lalu. "Ada buku kiriman dari Dinyah Latuconsina," tambah Ilalang. Buku itu ialah Nietzsche: Syahwat Keabadian, sebuah buku puisi karya Nietzsche terjemahan Agus R. Sarjono & Berthold Damshauser. Paket untukku biasanya langsung dia buka. Mungkin anak-anakku menyangka mereka bisa menemukan harta karun dalam bingkisan itu.

Jadi dalam sehari itu aku mendapat tiga buku. Aku memegang-megang ketiganya dengan perasaan rileks sempurna. Ini sekilas info untuk mengenalkan mereka pada Anda:

1/ You Are A Leader! karya Arvan Pradiansyah (Kaifa, 2010, 347 hal.) Harga: Rp.69.000,-

Buku ini merupakan edisi baru (revisi) setelah sukses dicetak ulang sebanyak sepuluh kali sejak pertama kali terbit pada tahun 2003. Apa saja revisinya? Tentu saja berbagai materi yang sangat kontekstual dengan kondisi manajemen perusahaan dan industri zaman sekarang, misalnya membahas knowledge management, visi organisasi di masa depan, maupun kepemimpinan yang hebat di zaman sekarang itu seperti apa.

Premis buku Arvan ini kuat, yaitu keyakinan bahwa setiap orang itu memiliki bakat terbesar dalam dirinya, yaitu "setiap orang adalah pemimpin." Bagaimana cara agar potensi itu muncul? Dengan membangunkan orang untuk menggunakan potensi utamanya, yaitu kekuatan memilih.

Arvan Pradiansyah ialah seorang ahli sumber daya manusia sekaligus pembicara publik dan penulis di beberapa media bisnis, di antaranya SWA dan Bisnis Indonesia. Buku-bukunya juga diterima dengan baik oleh pembaca.

Link terkait: http://www.mizan.com

2/ Only a Girl karya Lian Gouw (American Publishing, 2009, 295 hal.) Harga: US$27.95

Edisi Indonesia novel ini sebentar lagi akan diterbitkan GPU. Lian Gouw lahir di Jakarta, tumbuh di Bandung, kini tinggal di Amerika Serikat. Only a Girl menceritakan tiga generasi perempuan Cina yang berusaha mempertahankan identitas di tengah perubahan situasi sosial-politik yang mereka alami secara drastik dari zamam penjajahan Belanda di Indonesia, invasi Jepang, dan Revolusi Indonesia---ditambah pengaruh Perang Dunia II.

Dari keluarga Cina totok, mereka mendapat pengaruh budaya dan adat Belanda maupun Barat. Begitu Belanda tersingkir dari Indonesia dan Indonesia merdeka, mereka sadar bahwa kebiasaan dan pandangan itu tak bisa lagi diterima, bahkan dikata-katai sebagai "buangan anjing peliharaan Belanda." Bagaimana mereka menghadapi situasi seperti itu?

Link terkait: http://www.amazon.com/Only-Girl-Lian-Gouw/dp/1607493977/ref=cm_cr_pr_product_top

3/ Nietzsche: Syahwat Keabadian karya Agus R. Sarjono & Berthold Damshauser (editor), (Komodo Books, 2010, 192 hal.)

Buku ini merupakan "Seri Puisi Jerman VI" hasil kerja sama dengan Goethe-Institut Jakarta, berisi dwi bahasa Jerman dan Indonesia kumpulan puisi Friedrich Nietzsche (oh, harus jeli banget menulis namanya!)

Semua peminat budaya-seni-filsafat sudah tahu siapa Nietzsche dan apa pengaruhnya bagi dunia pemikiran dan masyarakat hingga di zaman posmodern ini. Jadi kita tinggal membaca lagi dan merasakan apa pemberontakannya terhadap norma-norma usang di dunia ini masih punya getaran atau tetap susah diakses? Puisi tersebut antara lain berasal dari buku "Kepada Tuhan yang Tak Dikenal (1858 - 1877), Sabda sang Bijaksana (1882), Yang Kelak Terdesak Banyak Berkabar (1882 - 188), Nyanyian Zarathustra (1883 - 1885), Cuma Pandir! Cuma Penyair! (1882 - 1888).

Bila buku ini sudah tidak tersedia di toko buku, Anda bisa menemukannya di perpustakaan Goethe-Institut Jakarta dan Bandung.

Link terkait: http://www.goethe.de/jakarta.[]

Anwar Holid bekerja sebagai penulis & editor. Buku barunya ialah Keep Your Hand Moving (GPU, 2010). Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@yahoo.com | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141.

Copyright © 2009 oleh Anwar Holid

Tuesday, September 21, 2010


[ESAI]

FPI: Give Islam a Bad Name
---Anwar Holid

Aku jijik pada FPI (Front Pembela Islam) tapi kesulitan mencari alasan tegas kenapa aku harus punya perasaan seperti itu pada mereka. Ini seperti kalau kamu punya saudara bandel, ngejago, suka nakut-nakutin orang lain, suka malak, main kekerasan, intoleran, bahkan mungkin bertindak kriminal (karena suka main hakim sendiri, merusakkan milik orang lain secara semena-mena), tapi kamu malas menyerahkannya kepada pihak berwajib persis karena kamu ada ikatan darah dengan dia. Menurut sebuah dalil, orang seiman itu bersaudara. Meski aku bingung konteksnya apa, perasaan ini membuat kita dilematik dan menambah jengkel.

Jangankan kaum non-Muslim, banyak sesama Muslim yang jengah pada FPI. JIL (Jaringan Islam Liberal) juga KoranTempo pernah usul agar otoritas hukum Indonesia membubarkan FPI. Aku sendiri di Facebook pernah ikut grup 'BUBARKAN FPI!' yang anggotanya puluhan ribu orang, tapi sayang mereka inefektif, sampai akhirnya aku ke luar dari sana karena rasanya itu grup yang omdo. Aku setuju dengan Saut Situmorang yang bilang bahwa FPI itu kependekan dari Fasis Pura-pura Islam. Aku menilai bukan seperti itu jalan Islam yang patut aku tempuh. Aku memohon agar MUI (Majelis Ulama Indonesia) mengharamkan FPI, meski sejak lama aku menganggap MUI juga kerap mengharamkan sesuatu yang konyol.

Perlukah Islam dibela oleh organisasi seperti FPI? Menurutku tidak. Tindakan mereka menurutku malah bikin malu agama Islam, karena justru memperlihatkan sekelompok umat Islam yang intoleran terhadap kaum lain persis di tanah terbuka bernama Indonesia, apalagi dari dulu tempat itu sudah lama terkenal sebagai tempat pertemuan yang cukup damai. Terlebih-lebih mayoritas penduduk di tempat ini beragama Islam. Bagaimana mungkin Islam bisa menjadi rahmat bagi tempat ini bila ada eksponen Islam yang suka berbuat onar terhadap perbedaan-perbedaan di dunia ini? Belum juga jadi penguasa, FPI sudah memperlihatkan mental sok kuasa dan otoriter. Terbayang betapa mengerikan bila organisasi seperti ini membesar dan benar-benar berkuasa atau berhasil menakut-nakuti semua lawan yang berseberangan pendapat maupun sikap dengan mereka. FPI betul-betul gagal memperlihatkan sifat yang wajib didahulukan oleh Islam, yaitu menjadi agama yang memberi rahmat bagi SELURUH alam. Jangankan seluruh alam, untuk tempat secuil bernama Indonesia saja mereka sulit menghormati hukum yang berlaku ataupun iman orang lain. Jangankan pada agama-agama yang mungkin tidak serumpun, pada agama yang memiliki akar sama pada Ibrahim saja mereka sulit bekerja sama. Dari moral ini kita bisa menduga betapa pemahaman sebagian umat Islam pada agama serumpun itu rendah sekali. Sebagai umat Muslim, FPI gagal menunjukkan kasih pada orang lain. Bagi seorang muslim, ini kehilangan mengerikan. Aku pikir FPI buta mata hatinya bahwa dalam Al-Quran surat Al-Anbiya 107 memerintahkan agar seorang Muslim harus mewujudkan kasih sayang kepada seluruh alam, termasuk kepada non-Muslim. Bagaimana mungkin FPI bakal mampu memaafkan dan berdamai dengan umat beragama lain?

Bagaimana mungkin FPI bakal bisa meneladani tokoh Islam yang memberi kesempatan pada lawan untuk menjalankan ibadah sesuai imannya bila mereka merasa bahwa orang non-Muslim harus mendapat izin untuk beribadah maupun mendirikan rumah ibadah? Ini konyol. Memangnya tanah ini tanah mereka? Bukankah ini tanah Tuhan? Tidakkah FPI tahu bahwa tempat seperti Ka’bah saja dahulu kala diziarahi orang beragama secara bebas, bahkan oleh orang musyrik sekalipun. Pernahkah dahulu di zaman Muhammad hidup orang non-Muslim minta izin kepada dia untuk mendirikan rumah ibadah atau waktu mau melakukan ibadah? Rasanya tidak pernah. Rasanya beragama itu harus bebas-bebas saja. Jangankan menyerang, umat Islam itu bahkan dilarang menghina umat beragama lain---begitulah yang tertulis dalam Al-Quran surat Al-An'am: 108. FPI jelas sulit bersabar atas perbedaan dan terbukti telah berkali-kali gagal menyeru dan berdiskusi dengan baik pada pihak lain---padahal itu semua merupakan sifat utama bagi umat Islam. FPI justru mewarisi sifat mental yang buruk, seperti mudah marah dan tersinggung, juga mau menang sendiri.

FPI adalah contoh organized religion yang miskin spiritualitas. Mereka memakan sendiri spiritualitasnya sampai habis dan tak menyisakannya pada umat manusia lain. Mereka hanya membagikan cara beragama yang kaku. Mereka menutup ruang kebebasan beragama dan intoleran pada agama dan umat beragama lain, padahal kebebasan beragama merupakan isu yang sangat penting dalam Islam.

Sebagai seorang Muslim aku merasa malas dan malu sekali harus mengakui punya saudara bernama FPI. Mereka memperburuk citra Islam sebagai agama yang kini tengah dianggap bermasalah dan disalahanggapi di banyak tempat. Kalau seperti itu, aku jadi lebih suka berteman dengan orang non-Muslim yang terbukti secara moral dan tindakan jauh lebih mulia, suka berbuat baik, bersedia membantu, meskipun mereka tampak sekuler. Aku enggak butuh yel-yel Allah hu akbar untuk menakut-nakuti orang lain atau melempari tempat ibadah umat beragama lain. Aku lebih suka memberi salam untuk menghormati sesama manusia.[]

Anwar Holid bekerja sebagai penulis & editor. Salah satu bukunya ialah Seeking Truth Finding Islam (2009). Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@yahoo.com | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141.

Note: Foto karya Ricky Yudhistira (http://www.facebook.com/sisyphuswashappy), diambil dari Internet.