Wednesday, September 18, 2019


wartax (ki), arinaka (ka).

gowes bandung - cipanas pp 
(sabtu, 14 september 2019)

gempooorrrr....!!!!😬😬😫

itu yang aku rasakan sehabis ikut gowes ke cipanas, cianjur bareng pak ibnu, pak prihadi, dan mas arinaka. gowes bandung - cipanas pp adalah rekor baruku. persis waktu duhur sampai di cipanas , arinaka  ngajak balik ke bandung, biar gak kemalaman pulang. langsung aku iyain. istilahnya 'datang 'tuk ditinggalkan kembali.' gak pake lama.

kami pamit ke pak ibnu yang lanjut gowes sampai ciawi bareng pak prihadi. selesai shalat di masjid restoran simpang raya, kami balik ke cianjur kota, makan sate maranggi buat tenaga pulang ke bandung.

ibnu, prihadi, arinaka adalah goweser dari komunitas lintang itb. mereka sedang latihan persiapan ikut audax randonneurs. aku tertarik ikut, karena sangat jarang latihan ketahanan gowes jarak jauh.

kami start dari gerbang kota baru parahyangan sekitar pukul 07.00. 'kita pelan-pelan saja,' kata pak ibnu sebagai marshal. tapi begitu mengayuh pedal dia selalu gak kelihatan di antara lalu-lalang kendaraan dan tikungan. jadi aku pacu saja mengikuti turunan, berusaha mengejar mereka. selama di turunan panjang citatah-cipatat langsung terbayang bakal berat gowes pulangnya.😰😩


pak ibnu (ki), marshal gowes bandung - cipanas.
dari gerbang di jembatan rajamandala, cianjur, kami gowes datar sampai kota. baru setelah itu jalur mulai terasa nanjak pelan-pelan....  itulah jalan menuju puncak dan ciawi. awalnya target kami sampai puncak pass, baru istirahat, makan, kemudian pulang. rupanya medan ke sana berat, jadi kami beberapa kali istirahat ke warung dan menghabiskan bekal. tiap kali istirahat keringatku bercucuran.
💦💦💦💦





minum cincau, kopi, dan air isotonik sudah...
makan kurma sudah...
makan sale pisang sudah...
bahkan nasi rames pun sudah...
tapi tetap aja gowesnya terasa berat, lambat, dan ngos-ngosan... itu yang bikin kami belum bisa mencapai target sampai puncak pass sesuai perkiraan. mungkin itulah pentingnya determinasi dan tekad lebih kuat menaklukkan medan berat -- push yourself harder and further. baru di jalan menuju cipanas ini kami relatif berdekatan jarak gowesnya.

tak lama setelah balik dari cianjur kota aku mulai merasakan efek gowes sampai cipanas:
* otot paha kanan terasa sakit dan tegang, untung gak sampai kram. pas sampai di ciranjang aku balurin balsem geliga.
* testis kiri kerasa cenut-cenut pas balik pulang.... 😅😅  mungkin itu efek terbentur-bentur pas ngebut di turunan...

dua faktor itu bikin gowesku tambah payah menjelang melintasi tanjakan cipatat-citatah. arinaka malah menawari loading dengan angkot. untuk menghindari kram dan linu, aku gowes pelan pakai gigi paling ringan, sementara arinaka sudah jauh di depan. alhamdulillah cipatat-citatah akhirnya terlewati, dengan kaki dan tangan agak gemeteran.👊💪

dalam kondisi capek kita harus bisa menghemat tenaga, terutama saat di turunan. biarkan sepeda melaju sendirian....  pikiran pengen memforsir tenaga pengen cepat pulang, tapi kaki dan badan rasanya tambah cepat pegel. sekitar pukul 17.00 kami sampai di kota baru parahyangan. aku bahkan perlu istirahat lagi untuk minum, pipis, dan memulihkan tenaga, menyilakan arinaka lanjut sendirian karena sudah ditelan senja di jalan raya.


gowes jalan raya sebenarnya bukan favoritku. tidak ada pemandangan cakep di jalan raya -- paling satu-dua slogan lucu di bak truk atau kaca belakang mobil. debu dan asap benar² mengganggu mata dan hidung. beberapa kali kena sembur knalpot asap hitam.😡😡😤

kita harus ekstra hati-hati bersaing dengan kendaraan. mereka tidak ramah, memaksa goweser harus mepet ke pinggir, padahal seringnya justru di situ jalan banyak rusak. sementara kalau gowes ke tengah, mereka suka menyemprot dengan klakson. itu jelas menyebalkan sekali. tiap kali ngebut di turunan aku suka ngeri terbayang kecelakaan, apalagi kemampuan handling dan manuverku biasa saja, jadi harus memanfaatkan rem. tangan dan bahu jadi korban. positifnya, gowes jalan raya melatih ketahanan jarak jauh dan mental. jalan aspal juga lebih ramah buat goweser, jika dibanding jalan makadam rusak parah atau jalan tanah ungowesable di perkebunan dan pinggir hutan.[]
foto-foto: arinaka & p ibnu.
ibnu, wartax, prihadi, arinaka (dari ki-ka).

Wednesday, August 14, 2019

[halaman ganjil]

menikmati sakit
~ anwar holid



awal agustus 2019 ini aku dirawat di rumah sakit karena diare. aku sampai lemas, demam, pening, dan dehidrasi. setelah masuk igd, aku ditempatkan di kamar bersebelahan dengan seorang bapak yang sakitnya lebih parah. sepertinya beliau menderita komplikasi penyakit, entah kencing manis dengan kanker prostat atau apa. yang jelas ia kencing pakai selang dan kalau buang air besar pakai pispot. lantai di bawah ranjangnya selalu ada ceceran darah. selama aku dirawat, bapak ini hanya berbaring dan mengeluh atau sering mengerang minta tolong atau minta perhatian ke penunggunya. banyak yang dia keluhkan, terutama sakit yang ia rasakan. bentar-bentar dia meminta anaknya untuk membantu membereskan sesuatu di badannya atau apa saja yang salah dalam dirinya. sementara anaknya gampang tertidur, jadi susah dibangunkan.... dipanggil-panggil gak menyahut atau lekas bangun, sementara erangan si bapak tambah nyaring dan mengenaskan. kalau anaknya susah dibangunkan, dia merepet soal sakitnya, betapa dia dulu sudah mengurus dan membesarkan anak-anaknya... namun sekarang giliran dirinya butuh, anaknya malah malas-malasan menolongnya.
'dalam sakit', puisi sapardi djoko damono
di buku duka-mu abadi. [foto: anwar holid]

aku cuma mendengarkan tiap kali si bapak mengerang atau memanggil butuh sesuatu sambil mengeluhkan sikap anak atau orang yang mendampinginya. kalau kebetulan ke kamar mandi sambil bawa infus, aku lirik bapak ini. dia meringkuk saja. dalam hati aku menyimpulkan, 'sakit si bapak ini jauh lebih parah dari sakitku.'

aku berusaha cepat pulih, menikmati istirahat dan perawatan, menghabiskan semua menu yang disediakan dan obat yang diberikan perawat atau disuntikkan via infus. aku juga menikmati kesendirian, melamun banyak hal... membayangkan hal-hal menyenangkan.😂😂

tiap kali mendengar perepetan atau erangan si bapak, aku membatin dan terkenang perbuatan yang pernah aku lakukan pada anak sendiri. apa aku ini tipe orangtua yang menuntut balas jasa ke anaknya??? aku juga pernah berbuat kasar ke anak-anak.😢 pernah menyakiti badan dan hati mereka, meskipun alasannya demi kebaikan atau pendidikan. mungkin banyak hal yang aku lakukan menyebalkan bagi anak-anak. contohnya kepo soal mereka. ya tentu saja aku kepo, persis karena mereka anak-anakku sendiri. jadi aku ingin memastikan mereka itu seperti apa. untuk urusan kepo saja aku sudah dianggap menyebalkan, apalagi urusan lain.

salah satu yang sering diminta bapak ini ialah dia ingin anaknya menghubungi saudara/orang-orang agar menjenguknya. anaknya terdengar ogah-ogahan tiap kali diminta menelepon saudara atau keluarganya, memberi tahu bahwa ayahnya sedang sakit parah dan mohon agar menjenguknya. mungkin karena dia gak akrab atau kenal dengan orang yang dihubunginya. aku membatin, kenapa ya bapak ini ingin dijenguk banyak orang?? apa sakitnya gak tertanggungkan lagi? apa itu isyarat menjelang akhir hayatnya?? apa dia ingin membagi rasa sakit ke orang-orang terdekatnya?? apa dia mendapat dukungan, penghiburan, dan energi positif dari orang-orang yang menjenguknya???

aku 'menikmati' rasa sakit sendirian. orang kedua yang aku hubungi saat masuk igd ialah kepala hrd tempatku kerja, untuk memastikan bahwa aku beneran sakit dan jangan sampai dipotong gaji karena dianggap mangkir kerja. aku merasa sudah terlalu tua untuk memberi tahu orangtua bahwa aku sedang sakit. aku cukup yakin bisa menghadapi rasa sakit sendirian. sakit itu bagian dari hidup, dan jika kita bisa mengalahkannya, insya allah pasti sembuh. aku kuatir jadi orang menyebalkan saat sakit. aku yakin perawat, dokter, rumah sakit, bpjs, juga satpam rumah sakit sudah melakukan hal sewajarnya untuk membantu kesembuhanku. makanya aku takjub ketika dijenguk teman gowes dan menerima banyak support dari mereka.

ketika sakit sudah pasti kita tak berdaya, pasti butuh pertolongan orang lain. orang-orang baik dan menyayangi kita pasti langsung menolong dan kuatir atas keadaan kita, tak perlu lagi dibebani dengan rengekan yang terdengar mengenaskan atau malah menyebalkan. kata teman gowesku, cara orang menghadapi sakit memang beda-beda. ada yang merengek, meratap, meraung, diam menahan, atau coba mengembalikannya ke tuhan. intinya si pasien ingin mendapat kekuatan menghadapinya.

setelah tiga hari dirawat, dokter bilang aku boleh pulang. aku sungguh semangat. si bapak itu masih rutin dikunjungi perawat dan dokter. mereka terdengar jengkel ke si bapak, karena banyak menyisakan makanan dan obat yang mestinya jangan sampai telat dihabiskan. aku masih sulit melupakan soal beliau.... meskipun beberapa hari berselang sehabis kepulangan dari rumah sakit itu aku ikut gowes bareng kawan-kawan  ke gunung patuha - kawah putih. [wartax, 7/8/19]

Wednesday, August 16, 2017

Arah Baru Literasi Indonesia
Ahmad Wiyono

United Nation Educational Scientific and Cultural Organization (Unesco) tahun lalu merilis hasil survei gerakan literasi internasional. Yang mengejutkan adalah posisi Indonesia berada pada urutan 60 dari 61 negara yang menjadi objek survei intensif tersebut. Tentu ini kenyataan memilukan. Posisi literasi bangsa kita kalah jauh dengan beberapa negara di dunia, bahkan dengan negara tetangga di Asia yang sama-sama tergolong negara berkembang. Apa penyebab kemesorotan tingkat literasi tersebut? Di antara sekian banyak penyebab terpuruknya budaya literasi di negeri ini, salah satunya adalah sifat malas yang masih menggurita dalam jiwa segenap bangsa kita.

Perhatikan misalnya saat anak-anak diarahkan untuk menggalakkan budaya baca. Mereka lebih tertarik menjadi pendengar ketimbang pembaca. Atau dalam pengalaman keseharian anak-anak di kota, mereka lebih suka mendengar atau menonton berita ketimbang membaca buku. Endy Bayuni, editor senior The Jakarta Post, menyebut fenomena itu sebagai penyakit literasi.

Penyakit literasi lebih condong pada tradisi lisan, yaitu mendengarkan orang berbicara. Ini setidaknya salah satu akar masalah yang menyebabkan budaya baca tidak terbentuk. Padahal tradisi lisan yang dimaksud tak lebih hanya pembelaan atas lemahnya budaya baca itu sendiri. Sebagai langkah strategis dalam mengimbangi capaian literasi global tersebut, perlu ada konsepsi baru di bidang literasi.

Konsep baru ini menjadi arah baru serta jawaban atas kegundahan literasi Tanah Air. Tentu gerakan literasi baru ini hadir bukan dalam rangka sebagai alibi atas kegundahan posisi literasi kita di kancah global, tapi lebih sebagai solusi untuk membangkitkan kembali energi literasi bagi segenap bangsa Indonesia bahwa mengatasi ketertinggalan capaian literasi internasional merupakan hal yang wajar.

Kendati demikian, mengembangkan yang sudah ada juga suatu keniscayaan. Salah satu buku yang peduli dengan persoalan rendahnya literasi bangsa adalah Suara dari Marjin, karya bersama Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah. Buku ini boleh dibilang awal mula dari percakapan baru tentang dunia baca-tulis, literasi, interaksi pengetahuan dan cara berpikir.

Suara dari Marjin tampak sedang berupaya menggagas lahirnya literasi dengan konsep terbarukan. Di sini literasi tidak hanya dimaknai secara simbolik, lahir dengan data dan fakta kuantitas, tapi jauh dari itu literasi hadir sebagai roh untuk melihat, mengamati, dan membaca kondisi sebuah budaya dan jati diri bangsa.

Dengan pemahaman baru ini diharapkan gerakan literasi lahir secara alami dengan membangkitkan partisipasi para penggiat dari segala multiprofesi. New Literacy Studies (NLS) adalah salah satu kerangka kajian literasi baru yang lahir dari pergerakan anak jalanan dan buruh migran.

Gerakan literasi yang lahir dari kelompok anak jalanan dan buruh migran merupakan fajar baru untuk membangkitkan gairah literasi secara umum. Konsepsi dasar dari gerakan literasi baru ini adalah membangun kesadaran kolektif tentang budaya baca, tulis, dan mengkaji kondisi secara alamiah. Literasi tidak hanya diukur dari serangkaian kegiatan formal membaca dan menulis itu sendiri, tapi lebih pada kegiatan yang mengangkat harkat dan jati diri sebuah bangsa.

Literasi bukanlah sesuatu yang stagnan karena dia bergerak dan berubah. Misalnya, pengalaman literasi setiap orang bisa jadi berbeda dan tidak harus terkait pengalaman mengeja atau saat pertama kali seseorang mampu membaca.

Dalam buku ini, pengalaman literasi dimaknai sebagai rekam pengalaman seseorang dengan kegiatan membaca, menulis, dan mencerna pengetahuan, yang bermakna karena signifikan terhadap pilihan-pilihan hidupnya di kemudian hari (hal. 24). Buku ini hadir dengan tawaran konsep literasi lokal yang kontekstual, upaya untuk mengembalikan arah literasi pada khazanah budaya dan jati diri bangsa.

Selain itu, buku ini juga meramu konsep perlawanan terhadap hegemoni literasi yang terbentuk oleh praktik budaya kelompok masyarakat yang dominan, demi menumbuhkan praktik literasi yang lebih terarah sesuai konteks sosial, budaya, dan ekonomi Indonesia. Salam literasi![]

Ahmad Wiyono, Pegiat Literasi dan Peneliti di Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan

Artikel ini dimuat di Koran Sindo, Edisi Minggu, 13 Agustus 2017.