Wednesday, July 08, 2009



Bicara Filsafat Dalam Bahasa Semua Orang

--Anwar Holid

Lebih dari seratus orang hadir menyimak diskusi bertajuk "pemurnian pikiran melalui filsafat," menghadirkan Jalaluddin Rakhmat dan Yosef Dedy Pradipto.

BANDUNG - Penerbit Kanisius mengadakan diskusi buku filsafat yang berhasil menyita perhatian banyak orang. The Story of Philosophy karya Bryan Magee (Kanisius, 240 h.) mampu menarik banyak massa, terutama kalangan muda. Aula Gedung Pasca Sarjana Universitas Parahyangan, Bandung pada Senin, 6 Juli 2009 penuh. Banyak hadirin mesti menyiapkan kursi sendiri karena yang disediakan panitia sudah penuh terduduki.

Tawaran panitia memang menarik. Dalam acara itu peserta bisa mendapat buku pengantar filsafat dengan kemasan mewah itu seharga Rp.250.000,- sekaligus mendengar komentar kedua sarjana mengenai relevansi filsafat bagi manusia. Jalaluddin Rakhmat menyoroti salah satu detail buku tersebut, yaitu fragmen pencerahan filsafat Boethius ketika ia menyelesaikan buku De Consolatione Philosophiae (Penghiburan Filsafat) sambil menunggu hukuman mati atas tuduhan makar. Sedangkan Dedy Pradipto memancing penasaran dengan melontarkan pernyataan retorik, "Apa filsafat masih berguna sekarang ini?" Menurut dia, filsafat kerap jadi anak tiri dalam aspek kehidupan manusia, padahal sebenarnya ia merupakan fondasi bagi pembentukan karakter manusia.

The Story of Philosophy merupakan buku pengantar filsafat yang istimewa. Ia merupakan karya seorang sarjana filsafat yang juga ahli di bidang media dan jurnalistik. Hal ini membuat bukunya berhasil memaparkan kajian filsafat menjadi sesuatu yang bisa dinikmati pembaca manapun, dengan segala ciri khas filsafat tetap melekat padanya. "Buku ini membuat filsafat jadi segar," kata Jalaluddin Rakhmat. Dedy Pradipto yang mengajar filsafat di beberapa universitas menyatakan, "Penerbitan buku ini upaya yang sangat berani. Sangat bagus jadi buku wajib mahasiswa saya." Secara berseloroh dia bilang, "Kalau yang meringkas tidak paham filsafat, bisa-bisa pembaca kena stroke."

Magee menyajikan filsafat dalam bahasa semua orang, dari sudut pandang "kita." Ia bicara dalam tataran sehari-hari, berhasil melenturkan yang sulit menjadi sederhana, dari rumit menjadi simpel. Beragam buku pengantar filsafat memang telah hadir di toko buku, termasuk di antaranya berupa komik, meski efektivitasnya mengantarkan filsafat masih bisa dipertanyakan. Tampak ada upaya memopulerkan filsafat oleh berbagai pihak. Magee termasuk yang paling berhasil. Sebagai penggugah selera terhadap filsafat, buku dia penuh oleh ilustrasi yang relevan, baik para filosof maupun objek terkait topik pembicaraan. Dia menyajikan peristiwa apa yang melahirkan pemikiran filsafat dari zaman ke zaman, sejak pra-Socrates sampai gegap gempita kemunculan posstrukturalisme.

Filsafat berfungsi sebagai semacam alat bantu fleksibilitas manusia selama mengarungi arus kehidupan. "Ia juga menghindarkan kita dari fundamentalisme," tegas Dedy.
Selain mengajarkan kebajikan, Jalaluddin menyebut bahwa filsafat mampu mempertemukan nilai-nilai universal yang ada dalam semua agama. Kaitan antara filsafat dan agama termasuk sangat dekat, meskipun pertentangan terus terjadi hingga saat kini. Jalaluddin menyebut bahwa sekarang ateisme terasa begitu digjaya mengadapi agama, apalagi pemikiran tokoh seperti Richard Dawkins sangat berpengaruh dan diminati.

Antusiasme publik terhadap diskusi buku filsafat ini memunculkan optimisme, meskipun konsumerisme, propaganda politik, godaan popularitas, juga budaya instan terus menggerus hidup manusia, keinginan untuk menjernihkan pikiran dan condong pada kebajikan tetap muncul.[]

Anwar Holid, bekerja sebagai editor dan penulis; eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.

Copyright © 2008 BUKU INCARAN oleh Anwar Holid

Situs terkait:
http://www.kanisiusmedia.com


Menjalani Karakter Sesuai Takdir

---Anwar Holid

Karakter-Karakter yang Menggugah Dunia
Judul asli:
Character is Destiny
Penulis: John McCain bersama Mark Salter

Penerjemah: T. Hermaya

Penerbit: GPU, 2009
Halaman: xix + 435 h.
ISBN: 978-979-22-4359-8



JOHN McCAIN, Senator senior dan politisi terkemuka Amerika Serikat, ketika masih berdinas di Angkatan Laut pada 1967 pernah ditembak dan ditangkap tentara Vietnam Utara. Di penjara, dia bukan saja mendapat siksaan mematikan, melainkan juga meninggalkan cacat permanen pada tangan, kini menyebabkan gerakan tubuhnya jadi terbatas. Tapi itu semua tetap membuatnya semangat beraktivitas, berusaha, berpolitik, terlibat aktif dalam kehidupan bangsanya, hingga pada Pemilu AS 2008 lalu menjadi kandidat presiden dari Partai Republik. Apa rahasia kekuatan dan keteguhannya? Karakter.

Ketika jadi tawanan perang, menjalani berbagai siksaan dan hinaan yang mencoba meruntuhkan kemanusiaannya, diam-diam ada seorang sipir yang bersimpati atas nasibnya dan memberi dia sedikit kebaikan moral. Kebaikan dari seorang musuh itu menggugah kesadaran McCain, memberi kekuatan pada dirinya untuk menjadi orang yang lebih baik, lebih beriman, dan lebih dahsyat lagi: membuatnya bisa mencintai musuh.

Sipir baik tak dikenal di "Hotel Hanoi Hilton" itu dikenang McCain sebagai salah satu dari 34 orang dengan karakter luar biasa. McCain dan Mark Salter---partner terbaiknya di bidang penulisan---memilih orang-orang itu bukan saja karena mereka menggetarkan dunia, generasi, politik dan pemerintahan, maupun orang-orang dan lingkungan terdekatnya, bahkan ada yang nyaris sulit dipercayai akal sehat, kalau bukan hanya mungkin terjadi berkat mukjizat yang melahirkan keajaiban. Menurut pandangan penulis, semua itu terwujud karena masing-masing figur nyata dalam buku ini memiliki karakter utuh. Mereka bukan saja pantas diteladani, merupakan role model, melainkan juga meninggalkan jejak yang pantas dikenang dan jelas bagi setiap orang. Siapapun mereka, apa pun latar belakangnya.

Sang teladan itu bisa jadi seorang wanita tukang cuci pakaian gagal sekolah yang di hari tuanya malah mampu mewariskan kekayaan untuk dijadikan beasiswa bagi mahasiswa miskin di kotanya. Itulah yang dilakukan Oseola McCarthy. Bagaimana mungkin ada seorang gadis berkulit hitam yang ketika kecil sakit polio, sepanjang waktu sakit-sakitan, kala tumbuh remaja akhirnya berhasil mengalahkan segala halangan untuk kemudian meraih tiga emas dalam Olimpiade sekaligus memecahkan rekor atletik? Wilma Rudolph melakukannya dengan perjuangan lebih dari hebat.

Sungguh ajaib ketika ada seseorang kini menjadi pusat kontroversi ilmu pengetahuan dan sains ternyata itu semua berkat kecenderungan serta ketelatenan masa muda yang nyaris dinilai sia-sia oleh ayahnya. Ketika menyebut sosok itu ialah Charles Darwin, semua orang akan merasa maklum. Bahkan ada anak yang pernah buta total selama delapan tahun, untuk kemudian menjadi penulis produktif dan kritikus sosial terkemuka di zamannya, dan itu dia lakukan secara otodidak. Masihkah kita mau mengingat nama Eric Hoffer yang menulis buku berpengaruh The True Believer? Bagaimana pula kisah seorang bintang muda American football yang memutuskan lebih memilih negara daripada liga olahraga sampai panggilan itu merenggut nyawa di luar tanah airnya?

Boleh jadi pribadi-pribadi yang dikisahkan McCain dan Salter itu akhirnya terkenal dan menciptakan sensasi besar bagi orang lain. Ada kalanya mereka tetap tidak terkenal, bahkan tanpa nama, dan baru kali ini diungkapkan dengan detail menarik, betapa kisah hidup dan keunggulan mereka menakjubknan. Mereka semua hadir seakan-akan untuk membuat keajaiban.

Karakter orang-orang terpilih mampu mengguncang keyakinan sempit banyak kalangan yang suka menghakimi atau menghina orang lain yang sedang tumbuh, bahwa orang berkarakter kuat bukan saja unggul melawan gertak, ancaman, krisis kemanusiaan, pengkhianatan, kegagalan, perang, maupun hukuman mati, melainkan juga memperlihatkan betapa karakter memang harus ditumbuhkan, dirawat, dan dijalani sesuai takdirnya.

MCCAIN DAN SALTER yakin betul bahwa orang berkarakter kerap lebih mengesankan dan mengundang rasa ingin tahu daripada ulasan sejarah maupun setumpuk buku. Mereka mampu mengguncangkan dunia, menggetarkan hati, mengubah jalan kehidupan peradaban manusia, memperlihatkan bahwa dengan menjadi manusia seseorang bisa memunculkan kualitas terbaiknya. Aksi individu seperti itu membuat kehidupan manusia jadi dramatik, penuh petualangan, berani, bahkan nyaris tanpa kompromi.

Penulis tak pandang bulu dalam memilih orang dengan karakter benar-benar mengesankan. Patokannya bukan waktu, tempat, dan periodisasi, melainkan lebih pada konteks sosial dikaitkan dengan tujuh aspek terpenting bagi pembentukan kepribadian manusia, yaitu kehormatan, tujuan hidup, kekuatan, pengertian, penilaian, kreativitas, dan cinta. Sungguh terasa setiap pilihan itu diambil dengan jeli. Orang tersebut bisa siapa saja, berasal dari segala zaman, dari tempat manapun, dan kejadiannya bisa berlangsung di sudut Bumi paling terpencil sekalipun.

Dengan memberi contoh rata-rata enam peribadi untuk keenam aspek, penulis menyuguhkan kisah yang mampu membuat nafas pembacanya tertahan. Namun agak janggal bahwa aspek terakhir, yaitu cinta, malah hanya diberi satu contoh, yaitu Bunda Teresa. Beruntung, kejanggalan itu dibayar dengan mengeksplorasi habis-habisan profil dan moral Santa dari Calcutta tersebut sampai menghabiskan jumlah halaman paling panjang.

Aspek pembentuk karakter tersebut dalam pendewasaan hidup akan melahirkan sifat, semangat, vitalitas, profesi, pilihan, bergumul dengan keberanian, risiko, keteguhan, siksaan, bahkan dalam banyak kasus, bertaruh dengan keputusasaan, kehancuran reputasi, bahkan nyawa. Benar, sebagian orang yang diceritakan di sini tidak mendapat nama besar atau jadi pahlawan ketika mereka menjalani keyakinannya; mereka bahkan ada yang jadi korban politik, pengkhianatan, juga dikalahkan oleh kekuatan alam. Buku ini seakan-akan menjadi pembela bahwa niat baik bila dilaksanakan dengan serius ujung-ujungnya membuahkan isi yang manis.

Ditulis oleh dua orang senior, buku ini seolah-olah merupakan testamen generasi tua kepada generasi muda yang akan menggantikannya. McCain dan Salter sangat menekankan kekuatan moral, yaitu kekuatan untuk berkorban demi cita-cita luhur (hal. 427). Itulah bekal awal untuk menjalani karakter yang telah digariskan untuk seseorang. Dalam kehidupan pribadi, John McCain membuktikan sendiri moral tersebut. Terkenal sebagai sosok temperamental dan pantang menyerah, ada kalanya dia berlaku buruk, sampai membuat orang lain terluka atau tersinggung. Bila sudah begitu, ibunya akan tak segan-segan memarahinya.

Bagi kedua penulis, Karakter-Karakter yang Menggugah Dunia merupakan buku hasil kerja sama yang keempat. Buku mereka sebelumnya, Faith of My Fathers (1999), di Amerika Serikat lebih dulu meledak dan pada 2005 diadaptasi menjadi film televisi. Di sela-sela berbagai kesibukannya, John McCain telah menerbitkan lebih dari sepuluh buku atas namanya, meskipun hampir selalu menggandeng penulis lain; sementara Mark Salter telah bekerja lebih dari empat belas tahun sebagai staf Senator McCain.[]

Anwar Holid, bekerja sebagai editor dan penulis; eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@yahoo.com | Tel.: (022) 2037348 | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141

Copyright © 2008 BUKU INCARAN oleh Anwar Holid

Situs terkait:
http://www.gramedia.com

Saturday, July 04, 2009



Takhayul Membakar Dunia, Filsafat Memadamkannya

--Anwar Holid

The Story of Philosophy karya Bryan Magee (Kanisius, 240 h.) menyediakan banyak bahan bakar untuk perbincangan seru. Buku ini bukan saja membahas berbagai kecenderungan filsafat dari zaman ke zaman, melainkan juga memantik rasa penasaran, sebenarnya filsafat itu apa guna bagi manusia. Lebih dari itu, The Story of Philosophy terbit luks dengan desain mewah dan kuat.

Menggunakan art paper, hard cover, ilustrasi berwarna, buku ini memadukan kekuatan visual art dan keluwesan Bryan Magee mengisahkan sejarah panjang filsafat dari zaman pra-Socrates hingga zaman posmodern. Unsur visual art yang amat kaya dan relevan dengan setiap subjek pembahasan dalam buku ini terutama diambil dari lukisan, fotografi, patung, etsa, juga arsip-arsip berupa poster, ilustrasi surat kabar dan majalah.

Di Bandung, Kanisius mengundang KH Prof. Dr. Jalaluddin Rakhmat, M. Sc. dan Rm. Dr. Yosef Dedy Pradipto, Pr. L.Th., M.Hum. untuk membangkitkan semangat publik terhadap pemikiran. Keduanya akan bertemu pada Senin, 6 Juli 2009, mulai pukul 18.30 di Aula Gedung Pasca Sarjana Unpar, Jalan Merdeka No. 30.

Peminat bisa mendapat buku + tiket seharga Rp.250.000,- dalam acara ini, sementara bila ingin hadir dan terlibat dalam pertemuan, tiket masuk Rp.25.000,- Panitia menyediakan sertifikat dan snack.

Tiket box:
* Kanisius Cabang Bandung, Jalan Parakan Resik No. 10, Batununggal, Bandung. Tel. (022) 7512444
* Andi: 08172328361
* Yunanto: (022) 70371434
* Masmuni Mahatma: 08172322278
* Anwar Holid: (022) 2037348, 085721511193

Sebuah diskusi filsafat bisa jadi hanya berlansung kurang dari dua jam. Tapi setelah diskusi resmi bubar, justru pertanyaan-pertanyaan berhamburan dengan semangat. Para peserta yang penasaran atau orang yang masih haus jawaban lantas mencari-cari sumber pengetahuan tiap kali ada kesempatan. Lantas ia kembali mengolah pemikiran, mengungkapkan lagi, mengkritik, menawarkan kepada publik, bertaruh baik dengan keyakinan sendiri maupun gagasan orang lain.

Pergumulan itu membuat diskusi filsafat sebenarnya terus berlangsung sepanjang waktu. Ia terjadi dalam buku, di ruang kelas, industri, bahkan obrolan sehari-hari.

"Barangkali memang tidak akan pernah ada jawaban akhir," tulis Bryan Magee pada ending buku ini. "Tetapi ada banyak hal bagus di depan untuk kita pelajari."[]

Anwar Holid, bekerja sebagai editor dan penulis; eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.

Monday, June 22, 2009


[jurnal harian]

13_06_2009

Ternyata aku masih sempat buka-buka The Book of Disquiet (Fernando Pessoa) selama main ke rumah mas Andar Manik & mbak Marintan Sirait di daerah Dalem Wangi, Dago Bengkok (Jajaway), komplek PPR ITB, pada Sabtu, 13 Juni, dari siang sampai magrib. Buku itu menurutku tambah menarik, karena ternyata memuat segala kegelisahan penulisnya---yang bernama Bernardo Soares. Dia seorang asisten perbukuan di sebuah perusahaan pajak yang pendiam; tapi ternyata diarinya betul-betul penuh berisi unek-unek dan berat dengan beragam kedalaman hati yang menakjubkan. Aku yakin, kalau orang punya kesempatan mengungkapkan isi hatinya, kira-kira seperti itulah yang akan mereka omongkan. Rasanya aku pun demikian. Kita jadi benar-benar merasa bicara dengan diri sendiri---yang menurutku lebih sehat daripada mengurusi orang lain.

Sambil duduk-duduk di halaman luas yang hijau, di samping hutan di rumah Bintang itu, kepalaku bilang: sudah lama sekali aku enggak menulis diari. Memang aku terus menulis, tapi hampir semua ingin aku jual--yang sebenarnya seret juga, sebagian enggak jelas nasibnya. Aku berharap besar pada awalnya, tapi ternyata enggak laku-laku. Meskipun puas, dalam hati aku bilang bahwa menulis seperti itu terlalu banyak pamrihnya. Tapi gimana lagi, aku ingin dapat sesuatu dari sana.

Membaca The Book of Disquiet membuat aku merasa seperti itulah harus bila aku menulis: jujur, berani bilang apa saja, tegas, tulus. Antara hati dan kepala sepakat.

Aku membatin, andai aku lepas tanggung jawab dari kewajiban untuk cari nafkah, mungkin seperti inilah yang ingin aku lakukan. Menulis tanpa pamrih, santai, menikmati sore yang cerah (atau hujan sekalipun), ngopi, abai pada persoalan-persoalan luar dari diriku. Keluarga jelas merupakan persoalan dalam diriku, sebab ia bagian dalam diriku.

Ceritanya hari ini anak-anak Jendela Ide mengadakan shooting untuk acara Cita-citaku di Trans 7; Ilalang ikut ke sana. Para orangtua juga pada datang seperti biasa. Tapi kali ini mbak Marintan meminta kami semua jadi bagian dari pertunjukan, bersorak-sorai, tepuk tangan, bersuit-suit, menyemangati anak-anak yang main. Suasana jadi gembira, banyak tawa, ceria. Selama anak-anak dengan semangat main musik, bergerak, meloncat-loncat, mengadakan pertunjukan, orangtua jadi penonton yang bersemangat.

Acara di rumah mbak Marintan ini katanya merupakan ujung dari cerita shooting mereka. Kalau menurut kang Mehonk, dalam kisah itu ceritanya Digun, Hilmy, dan Gilang bercita-cita jadi pemain perkusi yang bagus. Mereka main ke beberapa tempat komunitas musik perkusi, lantas ujungnya mengadakan pertunjukan dengan teman-teman satu kelompoknya, Jendela Ide Kids Percussions.

Rumah mas Andar Manik & mbak Marintan Sirait dari segi penampilan menurutku sederhana, unsur kayunya begitu banyak---mirip rumah Erwinthon-Vinon di Buka Tanah, yang sebenarnya enggak jauh-jauh amat dari situ. Rumah ini berlantai dua, dengan balkon kembar. Bahkan genteng depannya juga tanpa plafon. Yang mencolok juga ialah ia dirancang begitu terbuka, pintu lebar dan orang bisa masuk baik dari tengah (gerbang utama), kanan, dan kiri. Praktis yang tertutup yang kamar penghuninya---tempat privasi. Dinding dominan tersusun dari batu kali bulat telanjang, jadi tampak seperti telur yang ditempel rapi. Rumah ini jadi sangat kontras dengan rumah-rumah sekitarnya karena bentuknya yang alamiah dan sederhana, beda dengan kebanyakan rumah di sana yang rata-rata megah, kukuh, bergaya modern. Halaman yang luas memberi kelapangan tersendiri. Dalam hati aku bilang: seperti inilah halaman impian Ubing.

Aku sendiri rasanya sudah lama sekali nggak pernah ke daerah ini. Mungkin terakhir kali aku ke sini yang waktu ke rumah paman Ilham atau lebih lama lagi, ke rumah mas Taufik Rahzen, persis di bagian atas daerah mbak Marintan. Tadinya juga Ubing dan Shanti mau ikut; tapi hujan. Sejujurnya, repotnya pergi bareng sekeluarga ialah soal ongkos angkot yang terasa mahal. Sebenarnya, ongkos itu murah; tapi kalau enggak terjangkau, ya tetaplah mahal. Segala yang tidak terbeli itu artinya mahal. Ah, Wartax, berhenti merusak hari kamu yang sebenarnya menyenangkan.[]19:51


KALAU KAMU INGIN MELANJUTKAN, LEBIH CEPAT, ATAU MEMBERI KEJUTAN

---Anwar Holid


Dalam dua kali Jumatan ini, tukang khotbah di depanku selalu bicara tentang pemilihan presiden 2009 yang akan datang. Entah kenapa selama khotbah itu aku juga tidak ngantuk dan mendengarkan pesan mereka. Tentu saja pesan mereka moralistik dan nyaris absurd, sebab menginginkan pemimpin yang tidak tersedia dalam pilihan. Mereka bilang, pilihlah pemimpin yang adil bijaksana, bertakwa kepada Tuhan, menolong orang miskin, meneladani moral dan tindakan Muhammad Saw. Pesan itu membuat hatiku tertawa sebelum akhirnya ikut shalat Jumat.

Rumus pemilihan presiden tahun 2009 ini sebenarnya sederhana. Kalau kamu ingin MELANJUTKAN semua yang terjadi di Indonesia selama ini, pilihlah SBY-Boediono. Kalau kamu yakin bahwa LEBIH CEPAT LEBIH BAIK, pilihlah JK-WIRANTO. Kalau kamu ingin MEMBERI KEJUTAN kepada negerimu, tinggal pilih MEGA-PRABOWO. Kalau kamu malas dengan tiga pilihan itu, tidurlah pada hari pemilihan umum atau sibuk ikut Facebook. Setel musik, putar film, lihat gosip, baca tabloid. Ada banyak pilihan menarik juga di hari itu, dan sisanya kemungkinan tetap akan baik-baik saja sampai lima tahun ke depan.

Tapi bagi sebagian orang, pemilihan presiden itu penting. Budi Warsito, temanku yang tinggal di Ujung Berung bilang, "Pemilihan presiden itu penting lho mas. Kan menentukan kepala negara. Mau apa kita kalau salah pilih? Jadi aku akan milih satu di antara dua. Satu lainnya itu mah sudah jelas bukan pilihan. Enggak mau saya milih itu." Urip Herdiman Kambali, penyair tinggal di Jakarta, dalam posting "Isu Pertahanan Dalam Kampanye Pilpres 2009" membahas betapa memprihatinkannya wawasan pertahanan ketiga calon pasangan kepala negara itu---meskipun tiga-tiganya punya unsur militer. Dua orang tukang khotbah barusan jelas akan ikut mencontreng, meski dia tentu bakal bingung sendiri menentukan siapa pasangan yang sesuai dengan pesannya. Pendapat itu akan menghantui dirinya, karena ternyata suaranya mirip gaung kosong. Sejumlah ilmuwan bayaran, tim sukses, pemeran beserta rombongan dalam iklan politik, sudah pasti akan memilih patron masing-masing. Seorang saudaraku malah lebih tegas lagi: dia akan cabut ke luar negeri kalau jagoannya kalah. Dia menolak bila harus dipimpin oleh orang bukan pilihannya. Keputusan berani.

Aku juga sudah berkali-kali menerima email baik berupa dukungan dan hujatan atas ketiga pasangan itu, tapi semua langsung aku delete. Aku menganggap itu sama dengan email ajakan bisnis internet dengan pendapatan lima milyar sebulan.

Aku sendiri hidup tanpa patron politik, sementara iklan politik hanya membuat bibirku bergerak sedikit, dan boleh dibilang sudah kehabisan patriotisme. Jadi kemungkinan aku akan sekadar jadi komentator. Negara dan politik kerap hanya membuat aku sedih. Ia sama dengan komoditas. Berguna kalau ada maksudnya. Ia digunakan untuk kepentingan tertentu. Aku nangis nonton Letters from Iwo Jima dan Flag of Our Fathers (karya Clint Eastwood), juga film-film pendek dalam 9/11, baca Angsa-Angsa Liar (Jung Chang), tapi entah kenapa itu hanya mengeraskan pendapat bahwa manusia adalah korban situasi politik.

Saking nihil, aku bahkan berspekulasi, meski penderita paranoid mengepalai negeri ini pun sebenarnya kita tetap bisa baik-baik saja. Bahkan mungkin hal itu bisa memberi peluang terjadinya kejutan. Lihatlah pengalaman sejarah. Bukankah sebagian kepala negara, kaisar, atau raja itu menderita sakit tertentu? Zaman perang dan sengsara yang hebat malah bisa membentuk manusia hebat. Sartre besar setelah dia melewati zaman perang yang fatal. Zaman penjajahan yang menakutkan memberi bekas pada karya-karya Budi Darma yang legendaris. Krisis identitas dan rasialisme di Amerika Serikat mewujudkan sosok yang berpengaruh dalam diri Barack Obama.

Zaman hedonistik seperti sekarang melahirkan filsuf dekaden seperti Michel Foucault. Kemajuan teknologi informasi memungkinkan Anwar Holid merasa perlu sibuk mengurusi soal yang dia anggap penting. Membuat setiap orang kalau mau bisa tampil sesuai gambaran yang dia inginkan sendiri.

Ayo kita awas sebentar. Rezim Suharto yang konon represif toh masih menyisakan banyak pemuja fanatik. Presiden Gus Dur yang konon pahlawan HAM, suka ceplas-ceplos, dan egaliter ternyata malah diberhentikan dengan paksa. Apa SBY-JK berhasil membuat kehidupan sosial dan ekonomi kita semua lebih baik? Apa kebijakan politik, campur tangan mereka, benar-benar merupakan wujud kemurahhatian sebagai kepala negara?

Masih ada banyak orang selamat dan baik-baik saja ketika Hitler memimpin Jerman secara mengerikan.

Ajaib. Meskipun skeptis pada politik, ternyata aku masih bisa menulis soal ini dengan gembira, seakan-akan harapan tetap ada, bahwa dengan menuliskannya aku akan bahagia. Sekilas aku perhatikan, iklan politik tiga calon presiden dan wakilnya itu hanya terdiri dari tiga jenis, yaitu (1) mengusung mitos megalomaniak, (2) dukungan-sokongan, (3) pamrih nama. Di Bandung, walikota Dada Rosada mendukung JK-Wiranto, sejumlah kaum petani ada di belakang Prabowo, dan intelektual bayaran memasang spanduk untuk mendukung SBY. Aku pilih mendukung diri sendiri.

Jadi sekarang bagaimana?

Harapanku sederhana. Semoga Jumat depan aku enggak mendengar lagi omong kosong tentang pemilihan presiden, apalagi dengan kriteria pemimpin ideal untuk bangsa ini. Atau kalau tukang khotbah tetap ngotot, semoga aku sudah tertidur, dan bangun-bangun tinggal shalat. Setelah itu, aku ingin melanjutkan, lebih cepat, dan memberi kejutan atas kerja-kerja yang jadi tanggung jawabku.[]