Thursday, August 06, 2020

TIGEBROS KU QUEEN

Mengapa Jadi ‘Kolektor’ Queen??

Oleh: Yudhi Purwa

 

Pagi itu saya ditodong Anwar Holid lewat WAG Queen Fans Jabar: “Gimana sih awal mula suka Queen dan memutuskan jadi kolektornya?”  Wah, saya jadi langsung diam dan mikir: “Dulu gimana ceritanya ya?”

Seperti halnya semua orang, saya pikir pengaruh awal Queen selalu dimulai dari orang terdekat, dalam hal ini terutama keluarga. Yang saya ingat, waktu masih SD dulu (sekitar 1980) ada tape deck di rumah dan paman sempat mutar album Jazz, terutama Bicycle Race. Jadi itu yang teringet samar-samar hingga kini. Kemudian disambung waktu ke rumah saudara menggunakan mobil, diputarlah album Greatest Hits di tape mobil selama perjalanan pulang-pergi. Alhasil seperjalanan itu mulai teracuni karena terus-terusan dengar Flash, "Don't Stop Me Now", "We Are the Champions", dan lain-lain.

Tanpa sadar pengalaman itu terpatri. Pas saat SMP (sekitar 1985) saya bergaul sama teman-teman yang juga suka Queen. FYI, saat itu sebetulnya wabah glam rock sudah mulai melanda. Era itu musimnya Van Halen, Bon Jovi, Europe, dan lain-lain yang lagi digilai teenagers macam kami inidi samping wabah genre techno semacam Duran-Duran, Alphaville, A-ha, dan lain-lain.  Jadi, kalau kami saat itu suka band-band ‘oldies’ semacam Queen, The Beatles, The Rolling Stones, Deep Purple, dan lain-lain kadang-kadang suka dilirik aneh karena dianggap ‘dinosaurus’ he he he... Tapi untung waktu itu saya bergaul dengan teman-teman yang cukup terbuka selera musiknya, yang menggasak semua genre music tanpa kecuali, alias ‘omnivora’! Ha ha ha.... Kami juga jadi sering saling pamer band/lagu fave, saling tukar juga pinjam-meminjam kaset, walaupun lebih banyak gak dibalikin!…😊

Balik lagi ke kesan awal... setelah hanya mengingat-ingat masa kecil dan numpang dengar kaset teman, akhirnya pas SMP itu pula saya memutuskan beli kaset Queen pertama: Live in Rio, produksi Billboard. Kalo gak salah harganya masih Rp.1.250,- dibeli di toko kaset dekat sekolah (SMPN 2, Jl. Sumatera). Karena baru punya 1, ya itu kaset diputar bolak-balik dan jadi paling senang dengar “It’s A Hard Life”.

 

Memorabilia Queen koleksi Yudhi Purwa. Foto: Yudhi Purwa


Saat itu selain kaset sebagian dari kami juga senang hunting poster, kalender, hingga majalah bekas, biasanya di daerah Cikapundung, Alun-Alun Bandung, Dewi Sartika, hingga Cicadas. Sampai-sampai saya pernah waktu itu malem-malam uang yang tersisa di saku hanya tersisa cukup untuk ongkos pulang  naik DAMRI saja, ha ha ha... maklum cekak.  Duitnya habis buat beli majalah Hai yang ada artikel Queen-nya. Pokoknya, sekecil apa pun berita yang memuat foto atau artikel Queen pasti segera dibeli, dibaca, dan dikliping dalam album/bundel khusus. Sampai sekarang bundel-bundel itu masih saya simpen rapi.  Istilahnya, mata ini jadi selalu awas bin terlatih kalau buka-buka majalah, koran, atau apa pun. Sampai saya juga sempatkan memfoto kopi artikel-artikel Queen dari majalah agar bisa digunting-gunting. Atau, pinjem sampul CD punya  teman buat difoto kopi dan dikliping (waktu itu CD masih belum terbeli…).  Saya ingat pasti: pekerjaan mengkliping sudah jadi candu buat saya, walaupun sangat menyita dan menghabiskan waktu, tenaga, dan kesabaran. Itu juga yang mungkin buat saya jadi sedikit ‘nerd’... karena lebih senang mengeram diri di kamar dibanding beraktivitas di luar seperti teman-teman seumuran.

Mohon diingat, waktu itu akses ke internet masih terbatas banget. Boro-boro internet, komputer dan laptop aja masih jauh dari bayangan, dan kalaupun ada juga gak mampu terbeli. Jadi, surfing dan download saat itu masih sangat-sangat jarang dilakukan. Andalan sumber berita musik kami hanya majalah, dan untungnya saat itu banyak majalah musik yang bagus: Aktuil, Vista, Hai, hingga tabloid Citra Musik. Juga sejumlah majalah musik impor seken yang kadang-kadang nyasar di lapak tukang majalah bekas langganan. Untuk mengakali bahan kliping, biasanya saya suka kerja sama sama teman dan saling titip: saya akan gunting dan simpenkan kalau nemu artikel/foto fave dia, demikian juga sebaliknya. Begitu saling ketemu baru kami saling barter. What a lovely friendships.... 

Balik lagi ke soal kaset.… Habis beli kaset pertama tadi, karena keranjingan, saya putuskan beli kaset-kaset berikutnya. Kali ini produksi Aquarius seri album 2LPs in 1:  A Night At The Opera A Day At The Races, kemudian The Works The Game, disambung produk lainnya: The Best, Hot Space, A Kind Of Magic. Saya juga memberi terbitan lama produksi Perina, Ultra Dynamic, dan lain-lain.  Baru kemudian akhirnya asya memutuskan beli produksi Team Records seri album (totalnya ada 9 kaset). Ironisnya, hingga sekarang seri ini kok masih belum komplet juga: minus no.6 (Live Killers) dan no. 9 (A Kind Of Magic). Hiks…

Keranjingan mengoleksi berlanjut hingga zaman kaset lisensi, kalau gak salah pas akhir SMP mau ke SMA (1989-1990). Setiap album Queen yang ke luar pasti selalu digasak. Apalagi setelah mulai kenal dan gaul sama anak-anak ‘old skool of rock’ di Pasar Loak Cihapit, pusatnya jual-beli kaset seken di Bandung saat itu. Walaupun masih cekak dan serba terbatas, saya selalu nabung agar bisa terus beli dan mengumpulkan semua kaset Queen, album apa pun, terbitan apa pun. Sampai-sampai teman di Cihapit selalu memanggil saya “Yudhi Queen” he he he... Saat itu memang kami suka saling memanggil sesuai nama band/artis fave, semisal Ipunk Rush, Arie Dewa, Sofyan Blackmore, dan lain-lain.  Saat itu sekalipun ada di tengah-tengah komunitas kolektor fanatik di Cihapit, tetap saja ada yang geleng-geleng gak habis pikir, kok ya saya masih terus beli kaset/rilisan fisik Queen sampai sekarang, ha ha..ha... Alasan saya sih macam-macam: karena covernya beda, buat cadangan (dobelan atau tripelan), perlu isinya aja, dan lain-lain alasan yang mungkin tetap ‘gak masuk di akal sehat’…😊

Jadi boleh dibilang ‘racun’ paling dahsyat ini memang saat saya terjun di Cihapit Old Skool of Rockitu, dari 1990 sampai sekarang —apalagi ditambah kondisi kantong yang semakin membaik (alhamdulillah…). Koleksi saya juga akhirnya semakin merambah luas ke materi rilisan fisik lainnya: LD, CD, DVD, PH (vinyl), buku, majalah impor, dan lain-lain.  CD pertama yang saya miliki adalah The Miracledari toko kaset Palaguna dibeliin pacar karena saya ulang tahun... huhuyyy…😊  Vinyl pertama yang saya beli adalah pas mulai kerja. Seingat saya berturut-turut membeli 4 album awal. Baru kemudian disambung membeli LD, DVD, dan buku-buku tentang Queen.

Puncak ‘kegilaan’ saya sebagai kolektor (termasuk memorabilia Queen) adalah saat keranjingan action figures di 2005, dan punya rumah serta 1 kamar khusus untuk koleksi. Saat itu saya putuskan mulai lebih fokus dan rapikan semua memorabilia Queen di satu tempat, dari action figures Freddie, poster, majalah impor, buku, sampai yang kecil-kecil hingga pin, lego, perangko, T-Shirt, dan lain-lain.  Bahkan kalau tidak puas, kadang-kadang saya membuat sendiri (memesan) pin, kalender, poster, kartu, dan lain-lain.  Saya juga sering minta tolong teman membuatkan desain kaos, jaket, dan lain-lain biar terkesan jadi eksklusif karena cuma saya yang punya. Karena kegilaan ini pula, teman-teman sudah saling tahu betapa saya ‘really addicted’ ha ha ha....

Lama-kelamaan baik teman maupun keluarga semua mafhum bahwa saya memang fans fanatik Queen. Bahkan almarhum Bapak pun bikin saya masih terkenang hingga sekarang. Beliau sebetulnya paling anti lihat saya suka music rock, bahkan pernah tiba-tiba mematikan video konser Queen yang sedang saya tonton. Tapi, sehari setelah wafat Freddie, pagi itu dia begitu saja kasih saya uang sambil bilang, “Nih, sana pergi cari koran-koran yang muat berita idolamu itu!” What a memorable scene. Thanks Dad

Kalau ditanya item koleksi Queen apa yang paling berkesan? Mungkin saya akan jawab: perangko Freddie! Saya dapet itu gak sengaja pas hunting bareng pacar di Kantor Pos Besar Alun-Alun Bandung, saat ada pameran filateli (saya dan dia sempat keranjingan filateli pas masa kuliah). Jadi, itu gak sengaja kami dapat pas lagi korek-korek tumpukan perangko bekas, dan.… “GOTCHA!” What a great gift…

Sebetulnya koleksi saya sih masih kalah jauh dibanding kolektor lain yang lebih eksklusif, lengkap, serta original. Sebagai contoh, saya tidak punya patung dada Freddie yang jadi merchandise kota Montreux, Swiss. Saya tidak punya t-shirt Queen orisinal, permainan monopoli Queen, dan exclusive item lain. Vinyl dan singels-singels Queen koleksi saya juga masih jauh dari lengkap, namun saya tidak ngoyo kejar-kejar item ini (mungkin karena faktor harga ya, he he he...)

IMHO, tentu kita kembalikan ini semua ke hobi dan selera masing-masing saja ya. As long as it makes you happy..... jalani saja. Sekalipun banyak orang menganggap kita aneh, misalnya berkomentar ‘kok kayak gitu aja capek-capek dikumpulin?’, saya sih cuek dan senang-senang saja. Yang jelas selain amat sangat bahagia menikmati koleksi, hal terpenting dari setiap item Queen yang saya kumpulkan semua menyimpan cerita-cerita yang amat berkesan. Kadang-kadang saya kayak orang aneh saja bengong-bengong sendiri di depan koleksi. 😊

Tanpa terasa, jika dihitung dari awal mulai teracunitahun 1980-an hingga sekarang, berarti sudah sekitar 40-an tahun saya tidak tergoyahkan dengan Queen. Berarti Queen sudah ngagebroskeun (menjerumuskan) saya hampir sepanjang hidup, baik dalam hal selera musik maupun semangat sebagai kolektor kecil-kecilan.

Saya pribadi bersyukur atas hal ini: karena saya punya kesukaan yang utamanya untuk stress-release, juga dihiasi indahnya kenangan di baliknya. Ini juga akhirnya mengajari saya melihat ke belakang: ternyata ada sebegitu banyak dan besar perubahan di sekeliling kita, dan sejumlah di antaranya mempengaruhi dan membentuk diri saya, hingga saya seperti sekarang. Kehangatan keluarga, persahabatan, perburuan, kesabaran, pengalaman, dan lain-lain mungkin sebetulnya merupakan nilai paling inti dari koleksi kita ini. Kenangan manis yang menghiasinya tentu tak mudah kita lupakan begitu saja.

“…Those were the days of our lives…, the bad things in life were so few…”

Yudhi Purwa, 25062020

Friday, June 05, 2020

berjuang membaca quran
~ anwar holid

di pengujung ramadhan 2020 (1441 h) aku tamat baca quran yang aku mulai dari bulan februari 2020. kaum muslim menilai khatam quran merupakan suatu pencapaian, makanya patut disyukuri. tapi bagi orang muslim dewasa, tamat baca quran sebenarnya biasa banget. banyak muslim bisa tamat baca quran berkali-kali dalam setahun, atau bahkan sekali sebulan. aku gak bisa melakukannya.😔 itu artinya baca quranku sangat lelet, kurang banyak, sering mengulang, kurang disiplin dan rutin -- atau lebih tepatnya: masih berjuang membaca quran.

tahun ini aku membarengi baca quran dengan berusaha disiplin baca terjemahan setiap kali selesai baca ayat arabnya. buatku ini istimewa, sebab belum pernah berhasil melakukan sebelumnya. tanpa baca terjemahannya, buatku quran cuma terdengar akrab tapi gak 'bunyi', gak aku pahami, bahkan gak ada artinya. aku ingin ngerti bacaanku, meski niat itu tidak 💯 % berhasil. banyak yang gak aku pahami dari quran, barangkali karena bacaanku sepotong-sepotong dan pengetahuanku tentang quran juga terbatas.

setiap tamat baca quran, aku selalu teringat nenekku dari bapak. dulu aku pernah sampai nangis-nangis belajar baca quran baik dari uwakku atau nenekku. nenekku suka ngageunggeureuhkeun (memperingatkan) aku agar menaruh quran di kepala tiap kali membawanya -- bukan dijinjing atau dipegang begitu saja. baginya, itu adalah bentuk penghormatan terhadap sebuah kitab suci. quran yang aku baca sekarang ialah quran yang dari kecil aku pegang dan baca pelan-pelan atas bimbingan uwak atau nenekku.

baca terjemahan quran itu mencengangkan. aku jadi  bisa merasa tahu dan meraba apa maksud ayat-ayat itu. tapi, baca terjemahan quran juga suka bikin gemetar, terutama soal dosa, ancaman, siksaan, wabah, dan neraka.  sebagian isi quran itu ngeri dan di luar bayangan manusia biasa. orang masuk ke perut ikan raksasa, bapak mau menyembelih anaknya, pejuang keadilan sosial melawan rezim jahanam, praktik sihir, orang saleh miskin, tewas, satu kaum ditelan bumi, seseorang moksa entah bagaimana caranya. gak terbayangkan hal-hal itu bakal terjadi di dunia ini -- bahkan di #onthespot sekalipun. membayangkan betapa ada seseorang yang langsung menerima ayat suci juga merupakan ketakjuban lain.

membaca quran bikin aku sadar ada kosakata yang ternyata terus hadir dalam kehidupan manusia sampai sekarang. contoh quran itu sendiri. 'sihir' membuatku ngebatin: aku gak tau persis itu apa, gak pernah mengalami, gak tahu bentuknya, tapi jelas merupakan hal besar. apa aku alergi pada sesuatu yang asing seperti sihir hingga seumur hidup menghindari, tak pernah mau atau menyelami ilmunya, bahkan secara bawah sadar ketakutan terhadapnya?? kenapa sebagai muslim aku tidak pernah diperkenalkan pada sihir secara pantas?? kalau sihir di zaman dulu bisa dipraktikkan dalam gerakan sosial dan menumbangkan rezim, seperti apakah bentuknya di zaman sekarang???

kosaka-kosakata dalam quran begitu terpelihara. ia hidup, ditafsirkan, ditekankan, disebarkan, dicomot, bahkan kerap menjadi slogan yang menggelorakan. ia bisa misterius. ia menyertai kehidupan manusia. bukan saja kepada orang muslim, melainkan pada siapapun yang membacanya.

puasa ramadhan 2020 berlangsung di tengah wabah global covid-19 yang memaksa banyak perusahaan dan orang mengurangi waktu kerja dan menambah waktu libur. ini membuatku banyak menyempatkan membuka quran. tanpa libur mustahil aku bisa mencicil baca quran selama ramadhan, terutama sebelum buka dan sesudah subuh.

baca quranku masih buruk. atau mungkin malah memprihatinkan.☹️ aku belum belajar meningkatkan kemampuan bacanya, meski sudah dapat saran misalnya di youtube. dengan umur  setua ini sementara bacaan quranku jelek, alangkah malu dan menyesalnya aku jika dibandingkan dengan bocah-bocah yang sedang berlomba menjadi juara hafiz quran.😩😢 aku dulu belajar ngaji di surau dekat rumah, diterangi lampu minyak, dan kami membawa sebotol minyak tanah untuk penerangan surau.

ada fakta menyedihkan, ternyata masih banyak mukallaf  (umat islam yang sudah baligh) yang buta huruf (gak bisa baca) quran. aku pernah menemukan kasusnya di wag khusus muslim. akmal nasery basral bahkan menyatakan jumlahnya secara nasional antara 55 %-60 %. secara garis besar dia bilang dari 5  orang mukallaf  perbandingannya  adalah: 1 bisa baca lancar, 1 bisa baca penuh perjuangan, 3 tidak bisa baca.
😔

sejak beberapa tahun lalu aku niat belajar lebih baik baca quran, tapi belum terlaksana. secara otodidak juga belum.☹️ konpensasinya aku berusaha lebih disiplin membacanya. seorang kenalan yang rajin menamatkan quran bilang begini, 'coba sebelum mulai biasakan berdoa 'ya allah fasihkan aku membaca quran' -- insya allah dilancarkan dan dimudahkan oleh allah.' mungkin dengan begitu kita jadi lebih baik memperhatikan kualitas bacaan sendiri. jujur saja targetku setelah ini sama sekali bukan tergesa-gesa khatam quran, tapi lebih baik meningkatkan kualitas membaca dan memaknainya.[] [halaman ganjil; wartax]

nb: tulisan ini sengaja mengabaikan puebi.

Wednesday, September 18, 2019


wartax (ki), arinaka (ka).

gowes bandung - cipanas pp 
(sabtu, 14 september 2019)

gempooorrrr....!!!!😬😬😫

itu yang aku rasakan sehabis ikut gowes ke cipanas, cianjur bareng pak ibnu, pak prihadi, dan mas arinaka. gowes bandung - cipanas pp adalah rekor baruku. persis waktu duhur sampai di cipanas , arinaka  ngajak balik ke bandung, biar gak kemalaman pulang. langsung aku iyain. istilahnya 'datang 'tuk ditinggalkan kembali.' gak pake lama.

kami pamit ke pak ibnu yang lanjut gowes sampai ciawi bareng pak prihadi. selesai shalat di masjid restoran simpang raya, kami balik ke cianjur kota, makan sate maranggi buat tenaga pulang ke bandung.

ibnu, prihadi, arinaka adalah goweser dari komunitas lintang itb. mereka sedang latihan persiapan ikut audax randonneurs. aku tertarik ikut, karena sangat jarang latihan ketahanan gowes jarak jauh.

kami start dari gerbang kota baru parahyangan sekitar pukul 07.00. 'kita pelan-pelan saja,' kata pak ibnu sebagai marshal. tapi begitu mengayuh pedal dia selalu gak kelihatan di antara lalu-lalang kendaraan dan tikungan. jadi aku pacu saja mengikuti turunan, berusaha mengejar mereka. selama di turunan panjang citatah-cipatat langsung terbayang bakal berat gowes pulangnya.😰😩


pak ibnu (ki), marshal gowes bandung - cipanas.
dari gerbang di jembatan rajamandala, cianjur, kami gowes datar sampai kota. baru setelah itu jalur mulai terasa nanjak pelan-pelan....  itulah jalan menuju puncak dan ciawi. awalnya target kami sampai puncak pass, baru istirahat, makan, kemudian pulang. rupanya medan ke sana berat, jadi kami beberapa kali istirahat ke warung dan menghabiskan bekal. tiap kali istirahat keringatku bercucuran.
💦💦💦💦





minum cincau, kopi, dan air isotonik sudah...
makan kurma sudah...
makan sale pisang sudah...
bahkan nasi rames pun sudah...
tapi tetap aja gowesnya terasa berat, lambat, dan ngos-ngosan... itu yang bikin kami belum bisa mencapai target sampai puncak pass sesuai perkiraan. mungkin itulah pentingnya determinasi dan tekad lebih kuat menaklukkan medan berat -- push yourself harder and further. baru di jalan menuju cipanas ini kami relatif berdekatan jarak gowesnya.

tak lama setelah balik dari cianjur kota aku mulai merasakan efek gowes sampai cipanas:
* otot paha kanan terasa sakit dan tegang, untung gak sampai kram. pas sampai di ciranjang aku balurin balsem geliga.
* testis kiri kerasa cenut-cenut pas balik pulang.... 😅😅  mungkin itu efek terbentur-bentur pas ngebut di turunan...

dua faktor itu bikin gowesku tambah payah menjelang melintasi tanjakan cipatat-citatah. arinaka malah menawari loading dengan angkot. untuk menghindari kram dan linu, aku gowes pelan pakai gigi paling ringan, sementara arinaka sudah jauh di depan. alhamdulillah cipatat-citatah akhirnya terlewati, dengan kaki dan tangan agak gemeteran.👊💪

dalam kondisi capek kita harus bisa menghemat tenaga, terutama saat di turunan. biarkan sepeda melaju sendirian....  pikiran pengen memforsir tenaga pengen cepat pulang, tapi kaki dan badan rasanya tambah cepat pegel. sekitar pukul 17.00 kami sampai di kota baru parahyangan. aku bahkan perlu istirahat lagi untuk minum, pipis, dan memulihkan tenaga, menyilakan arinaka lanjut sendirian karena sudah ditelan senja di jalan raya.


gowes jalan raya sebenarnya bukan favoritku. tidak ada pemandangan cakep di jalan raya -- paling satu-dua slogan lucu di bak truk atau kaca belakang mobil. debu dan asap benar² mengganggu mata dan hidung. beberapa kali kena sembur knalpot asap hitam.😡😡😤

kita harus ekstra hati-hati bersaing dengan kendaraan. mereka tidak ramah, memaksa goweser harus mepet ke pinggir, padahal seringnya justru di situ jalan banyak rusak. sementara kalau gowes ke tengah, mereka suka menyemprot dengan klakson. itu jelas menyebalkan sekali. tiap kali ngebut di turunan aku suka ngeri terbayang kecelakaan, apalagi kemampuan handling dan manuverku biasa saja, jadi harus memanfaatkan rem. tangan dan bahu jadi korban. positifnya, gowes jalan raya melatih ketahanan jarak jauh dan mental. jalan aspal juga lebih ramah buat goweser, jika dibanding jalan makadam rusak parah atau jalan tanah ungowesable di perkebunan dan pinggir hutan.[]
foto-foto: arinaka & p ibnu.
ibnu, wartax, prihadi, arinaka (dari ki-ka).