Wednesday, April 09, 2014

Kedalaman Kubah Tohari
--Anwar Holid


Aku baca Kubah karya Ahmad Tohari waktu mahasiswa. Jelas aku kurang terkesan bila dibandingkan baca trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala. Novel debut beliau ini terbit tahun 1980 oleh Pustaka Jaya, lalu diterbitkan ulang Gramedia Pustaka Utama pada 1995. Buku ini terselip bertahun-tahun di lemariku di antara puluhan buku berukuran kecil, tak pernah dibaca lagi, sampai suatu hari seorang kawan bertanya, "Menurutmu siapa penulis Indonesia yang pantas menerima Hadiah Nobel?"

Aku langsung jawab, "Ahmad Tohari."

"Sepakat! Aku juga berpikiran begitu!" dia berseru.

"Iya, banyak kritik bilang setelah Pramoedya Ananta Toer meninggal Indonesia mestinya punya kandidat lain untuk diusulkan sebagai penerima Hadiah Nobel, dan mereka menyebut Ahmad Tohari."

"Ahmad Tohari tuh rasanya enggak pernah memunculkan dirinya sebagai penulis atau sok menonjolkan pengetahuan dalam novel-novelnya, tapi dia malah mampu menghidupkan tokohnya dengan sangat nyata, karakternya kuat banget. Dia bisa menciptakan tokohnya sangat lugu, sederhana, dengan sangat meyakinkan. Seolah-olah tokoh itu ada. Dia seperti dalang yang hebat banget mendongeng."

"Tuh ini ada noveletnya, Kubah. Bawa aja kalo mau," kataku lalu mengambil dan menaruhnya di meja.

"Ah nanti saja. Aku juga lagi baca buku lain."

Novel itu tergeletak begitu saja. Tapi malah membuatku ingin baca lagi, meski sedang ada buku lain yang sedang aku bawa-bawa. Aku juga sedang kepayahan mengalahkan kemalasan menulis. Ada pendapat bahwa membaca ulang merupakan bentuk rasa bersalah. Aku setuju. Dulu aku baca Kubah dan merasa tidak dapat apa-apa. Beberapa buku yang pernah aku baca dan baca lagi selalu memberi nuansa dan pemahaman baru dan mengesankan.

Cuma butuh beberapa hari perjalanan bolak-balik ke tempat kerja untuk menamatkan novel itu sambil duduk di bus Damri. Selama baca, yang paling kuat terasa muncul ialah intensitas bercerita. Ini yang dulu lenyap waktu aku pertama kali baca. Entah kenapa. Betapa Tohari bisa membuat pembaca tercekam pada situasi batin seseorang atau dia perlahan-lahan membangun ketegangan sampai akhirnya pembaca terengah-engah karena begitu pekat dia menghadirkan konflik, rangkaian kejadian, pembabakan, maupun menyuguhkan klimaks. Ketika sampai di ujung buku, mataku sembab tak kuasa membendung rasa simpati atas nasib seorang manusia bernama Karman.

****
Cover Kubah cetakan pertama.


Karman adalah kader PKI yang menjadi sekretaris Partindo. Orang menghormatinya karena ia bekerja di kantor kecamatan. Menimbang latar belakang keluarganya, aktivis PKI secara tepat dan rahasia memilih Karman, lantas merancang perjalanan karirnya untuk menjadi seorang "priayi". Ia disiapkan untuk membangun kembali partai setelah kegagalan mereka dalam pemberontakan di Madiun. Rencana ini nyaris berhasil andai peristiwa G30S di Jakarta tidak gagal secara prematur dan malah berbalik melalap PKI dan seluruh simpatisannya secara ganas, bahkan dinilai sebagian kalangan tanpa proses hukum dan melanggar HAM. Karman selamat dari amuk massa karena ia ditemukan semaput dari kelaparan dan terserang penyakit dalam persembunyian di pinggir hutan.

Drama dalam Kubah dibuka dari kedatangan Karman ke Pegaten setelah menjadi tahanan politik di Pulau B. Dia memulai hidup baru dengan ragu. Istrinya sudah menikah dengan pria lain, anak-anaknya terlantar dan berisiko dicap 'keturunan PKI', sementara orang yang paling dibencinya masih hidup. Ia dihantui masa lalu, rasa bersalah, dan kehilangan segala-galanya. Peluang optimismenya hanyalah keinginan samar untuk berbuat baik, yang merupakan ciri khasnya sejak kecil. Tabiat inilah yang dulu pelan-pelan dikikis oleh anggota komunis agar dirinya jadi keras, memberontak, bahkan berani mengabaikan Tuhan. Tapi meski begitu kelembutan dirinya tetap tak hilang.

Memang Ahmad Tohari mengisahkan propaganda PKI dengan stereotipe sebagaimana anggapan lama sesuai versi Orde Baru, termasuk kader wanitanya yang 'liar.' Tapi ia menuturkan secara meyakinkan, terutama cara PKI memilih dan mengader anggota, juga menelusupkan ideologi. Tohari menghadirkan kegamangan bekas tapol menghadapi hari tua, merasakan keragu-raguan seorang pesakitan dengan harapan bisa kembali diterima masyarakat secara ikhlas, dengan memaafkan dosa perilaku dan politiknya.

****

Kedalaman semacam itulah yang tak aku dapati ketika beberapa bulan lalu membaca dua novel berlatar fiksi sejarah konflik militer Indonesia karya novelis senior lain. Novel itu enak dibaca, cara bertuturnya memikat, ceritanya mengalir lancar, konfliknya hadir kuat. Tapi sejak awal aku merasa novel itu kurang dalam, seperti baru permukaan. Beliau cuma menempelkan sejarah sebagai latar belakang dan kejadian terhadap drama percintaan tokohnya tanpa menawarkan perspektif baru, temuan atas investigasi baru, atau berniat mengungkap fakta tersembunyi, meski bisa jadi kontroversial.

Mengukur kedalaman cerita itu bagaimana? Gambaran gampangnya begini: Kalau penulis menceritakan luka, terasa oleh pembaca seperti apa perihnya, bagaimana benda tajam itu menembus kulitnya, merusakkan jaringan dagingnya, darahnya mengaliri kulit seperti apa, sakitnya apa tiada terkira, tercium bau anyirnya, membuat indra kita mengalami sensasi, pori-pori melebar dan menonjol, ikut merinding.

Sebuah novel page-turner baru merupakan awal yang baik, tapi belum memberi nilai lebih. Seorang pencerita sewajarnya bisa menyihir pembaca. Pembaca selalu berharap lebih dari upayanya menikmati cerita, bertualang mengikuti jalan cerita, terlibat secara emosional, tergetar oleh pengalaman maupun pergulatan batinnya. Ibarat makan, bikin kenyang itu biasa. Kualitas makanan ada pada taruhan kenikmatan, entah paduan bumbu yang pekat, pengolahan yang pas, pedas yang menyengat, atau penyajian yang memikat.

Kubah memang tidak mengubah pandangan mana karya terbaik Ahmad Tohari. Tapi kita jadi makin tahu betapa dalam rentang karir kepenulisannya yang panjang ia memberi sumbangsih besar pada sastra Indonesia. Pengabdian dan karyanya pantas dihargai, dengan cara apa pun. Entah memperkenalkannya kepada pembaca lebih luas, kalau perlu sampai ke luar negeri, atau dengan membaca ulang secara lebih hati-hati.[]

Anwar Holid, editor, bekerja di Rosda International.

Tuesday, January 28, 2014


Poster dukungan Rumah Amal Salman ITB untuk Gerakan Jaket Untuk Tukang Becak -#JUTB.

Silakan, donasi berupa jaket, jas hujan, maupun uang bisa diserahkan ke Rumah Amal Salman ITB, Jl. Ganesha No. 7 Bandung.

No. rekening: 
Bank BNI Syariah no. rek. 700-700-2002 a/n YPM Salman ITB

Bisa juga ke alamat rumah saya:

Anwar Holid
Jalan Kapten Abdul Hamid, 
Panorama II No. 26 B Bandung 40141

No. rekening pribadi:
BCA KCP CIDENG BARAT no. rek.: 3971247183 A/N ANWAR HOLID

(Mohon konfirmasi bila Anda mentransfer.)

Link terkait:
* posting soal gerakan jaket untuk tukang becak - #jutb: http://bit.ly/19wtXjp
* page untuk dukungan Gerakan-Jaket-Untuk-Tukang-Becak-JUTB: http://on.fb.me/Kfmf1d

Wednesday, January 15, 2014


[HALAMAN GANJIL]

R1 2014
--Anwar Holid

2014 adalah tahun panas bagi politik Indonesia. Karena itu harap lupakan Piala Dunia 2014 di Brasil. Selain karena kesebelasan nasional kita tak berlaga di sana, barangkali memikirkan persoalan bangsa sendiri lebih penting daripada cuma merasa ikutan pesta di luar lapangan sebagai penonton yang keminter dan suka jajan.

Ayo kita pilih baik-baik siapa yang sebaiknya jadi R1.

Calonnya sudah pada mengemuka. Bahkan dengan percaya diri---kalau bukan bermuka badak---mereka mengiklankan diri, berkampanye, entah secara terang-terangan atau terselubung lewat berbagai taktik dan kesempatan, apa pun istilahnya. Berikut ini barangkali yang sangat kentara:
Wiranto
Prabowo Subianto
Aburizal Bakrie
Surya Paloh
Megawati 
Hatta Rajasa
Rhoma Irama

Dari generasi lebih muda muncul nama seperti:
Sri Mulyani
Gita Wirjawan
Dahlan Iskan
Anies Baswedan
Jokowi

Nama-nama itu membuatku bertanya keras:
Apa hal terburuk yang bakal terjadi di Indonesia bila Prabowo Subianto jadi presiden?
Apa hal terburuk yang bakal terjadi di Indonesia bila Wiranto jadi presiden?
Apa hal terburuk yang bakal terjadi di Indonesia bila Aburizal Bakrie jadi presiden?
Apa hal terburuk yang bakal terjadi di Indonesia bila Surya Paloh jadi presiden?
Apa hal terburuk yang bakal terjadi di Indonesia bila Megawati jadi presiden?
Apa hal terburuk yang bakal terjadi di Indonesia bila Hatta Rajasa jadi presiden?
Apa hal terburuk yang bakal terjadi di Indonesia bila Rhoma Irama jadi presiden?

Memang kenapa kalau salah satu di antara mereka jadi presiden?
Apa militerisme akan mencengkeram lagi kalau Wiranto atau Prabowo jadi presiden?
Apa radikalisme Islam bakal meraja dan makin intoleran kalau Rhoma Irama jadi presiden?
Apa ekonomi Indonesia bakal langsung moncer kalau Hatta Rajasa atau Gita Wirjawan jadi presiden?
Apa rakyat Indonesia langsung bakal pinter dan pada meraih Hadiah Nobel kalau Anies Baswedan jadi presiden?
Apa kesebelasan nasional Indonesia bakal tembus ke Piala Dunia 2018 kalau Jokowi jadi presiden?

Seorang teman bilang, untuk jadi presiden Indonesia orang harus punya prestasi yang patut dibanggakan dan diandalkan. Aku sangsi dengan pernyataan itu. Ratu Atut yang katanya bodoh saja bisa jadi gubernur Banten dan petinggi Golkar. Megawati yang terlihat lebih suka mesam-mesem dan pemalu aja pernah mencicipi kursi presiden dan kini dia tetap enggak mau ketinggalan kereta.

Katanya untuk jadi pemimpin orang harus punya pengalaman politik yang hebat. Di Bandung entah bagaimana caranya Ridwan Kamil bisa memenangi pilkada, jadi walikota, mengalahkan Ayi Vivananda yang jauh lebih ahli dan senior di pemerintahan, yang sudah tahunan mengurus birokrasi dan masyarakat. Ini membuktikan pendapat itu invalid. Apa Ridwan Kamil menang karena disokong Prabowo Subianto, Gerindra, ormas-ormas, para relawan, dan PKS?

Di luar negeri, penyair, buruh, aktor, penulis, atau pastor bisa menjadi presiden. Apa hal seperti itu bisa terjadi pula di Indonesia? Kalau seperti itu, aku berharap Yusi Avianto Pareanom jadi presiden, semoga dengan begitu dunia literasi kita lebih menjanjikan.

Sebenarnya bukan itu yang benar-benar jadi perhatianku. Siapapun presiden Indonesia, terbukti kurang pengaruh buat kemaslahatan bersama. Mungkin di sini poinnya: pemilihan presiden nanti akan membawa perbaikan atau keterpurukan? Makanya kita perlu hati-hati, lepas dari semua janji para kandidat. Contoh simpel: meski suka bilang prihatin, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono malah terbukti berkali-kali mencederai hati masyarakat, entah dengan menaikkan harga BBM, kasus korupsi yang menyerempet partai dan anaknya, juga sikapnya yang dinilai lamban dan lembek.

Jujur saja aku lebih kuatir tahun panas politik Indonesia demi mencari seorang presiden malah menghabiskan energi, pikiran, konsumsi, dana, sehingga membuat kita hilang akal dan jadi mengabaikan banyak agenda penting dan utama yang mestinya lebih dulu dibereskan. Contoh:
* Persiapan Indonesia jadi Guest Of Honor Frankfurt Book Fair 2015 yang menurut berbagai pihak masih berantakan, enggak jelas, termasuk soal dana dan belum ketahuan Indonesia mau ngapain di peristiwa paling besar industri perbukuan dunia itu.

* Persoalan korupsi parah yang malah kerap berubah jadi komoditas politik berlarut-larut, bukan dibereskan tanpa tedeng aling-aling, mendasar, dan tuntas.

* Kesejahteraan sosial. Kalau tukang becak enggak bisa beli jas hujan, lapak kaki lima bikin kumuh jalanan, gerobak jualan berserakan di pinggir jalan, kondisi bus kota dan angkot mengkhawatirkan, sampah numpuk di mana-mana, pencemaran lingkungan, itu artinya kita masih punya masalah sosial parah. Jangankan tingkat nasional, di tingkat lingkungan sekitar rumah dan kota saja terlalu kentara.

Bisakah hal-hal seperti itu beres sebelum SBY mengakhiri masa kepresidenannya? Aku sangsi. Soalnya aku tahu manusia terbukti mudah berkelit dari prasangka dan gampang menghindar dari prediksi. Itu sebabnya kontes mencari seseorang jadi R1 2014 jadi penting, lebih penting dari Piala Dunia.[]

Anwar Holid, berprofesi sebagai editor, penulis, dan publisis.