Sunday, October 26, 2014

[halaman ganjil]

Tanda Orang Sehat Itu Cuma Satu...

--Anwar Holid

Pada awal September 2014 lalu dada kiriku sakit. Ini kambuh untuk ketiga kalinya. Pertama kali sakit dada itu muncul kira-kira tahun 2010. Setiap kali bernapas dadaku seperti ditusuk-tusuk, napas jadi pendek-pendek, gampang tersengal-sengal, dan sesak. Bernapas jadi tak lancar dan sulit. Sakit dada itu membuatku demam dan batuk-batuk.

Dulu waktu pertama kali mengalaminya, aku langsung cari tahu soal sakit dada belah kiri itu. Orang menamai sakit itu sebagai 'angin duduk', dan lebih jauh bisa jadi merupakan tanda dari gejala jantung koroner. Jujur saja, aku enggak kuatir bila sampai kena jantung koroner. Dengan latihan bernapas pelan-pelan dan mencoba menghela napas panjang, akhirnya sakit itu berangsur-angsur hilang. Seingetku, aku cuma minum obat demam untuk menghilangkan panas-dingin waktu malam.

Pada November 2013 sakit itu muncul lagi waktu aku mulai kerja di Penerbit Rosda saat tugas di Indonesia Book Fair. Semua gejalanya persis sama. Ku pikir kali ini terjadi karena aku berada dalam ruang ber-ac sangat dingin, kencang, dan suasananya gaduh sekali. Untung kambuhnya di hari menjelang acara berakhir, sehingga aku hanya perlu absen beberapa jam.

Ketika kambuh untuk kedua kali, Fenfen dan beberapa teman minta agar aku periksa dokter spesialis. Aku mengamini, tapi tidak melaksanakannya. Bukan karena bandel, membantah, atau apa, tapi semata-mata karena tidak menyempatkan diri dan aku merasa bisa mengatasinya bila sewaktu-waktu datang lagi.

Ketika kira-kira setahun kemudian kambuh untuk ketiga kali, pada dasarnya aku siap. Paling waktu malam aku repot jadi demam, tersengal-sengal, dan batuk-batuk. Aku coba berdamai lagi dengan latihan menghela napas pelan-pelan. Aku perkirakan kali ini pemicu utama kambuh ialah karena terpapar asap jahanam kendaraan bermotor setiap kali bersepeda. Tapi bisa jadi karena September ialah musim kemarau, dan setiap musim kemarau aku tahu pasti kena pilek atau batuk. Payahnya aku sakit pas ikut workshop, jadi batuk-batuk dan tidak fit itu mengurangi konsentrasi dan mengganggu banyak orang.

Kali ini Fenfen tidak sabar agar aku periksa ke dokter. Menggunakan jasa BPJS, sarannya aku turuti. Ke dokter umum aku menceritakan keluhan dan gejala yang aku rasakan. Aku mendesak, 'Apa kemungkinan penyakit terburuk dari keluhan yang aku rasakan ini?' Dia bilang, 'Ini sama sekali jangan dijadikan pegangan dan harus didiagnosis oleh dokter spesialis lebih dahulu, kemungkinan terburuknya ialah Anda bisa terkena tuberkolosis paru-paru.' Wow, separah itu, batinku. Beliau memberi rujukan untuk periksa lebih lanjut.

Aku diperiksa dokter spesialis jantung di RS Advent Bandung. Diteliti menggunakan electro cardiogram, aku dinyatakan normal. Saat diperiksa kondisiku waktu itu memang sudah cukup fit. Sakit dadaku sudah berangsur pulih dan berkat mengonsumsi makanan hebat baik di hotel dan workshop, kesehatanku membaik. Cuma batuk kering mulai terasa.

  
Salah satu hasil periksa jantungku.
  
'Kalo begitu sakit dada itu apa ya dok?' aku rada bingung.
'Sakitnya kerasa sampai ke belakang punggung enggak?'
'Enggak.'
'Kerasa menjalar sampai tangan kiri enggak?'
'Enggak.'
'Kerasa kalo bapak jalan enggak?'
'Enggak.'
'Kerasa waktu bapak tidur enggak?'
'Enggak. Kerasa kalo saya bernapas saja.'
'Kalo rasa sakit seperti ditusuk-tusuk itu sampai ke punggung atau kerasa sampai tangan kiri, atau kalau berjalan dan tidur dada bapak sakit, itu baru menunjukkan ada gejala sakit jantung. Hasil diagnosis menunjukkan jantung bapak normal. Mungkin ada otot dada bapak yang sakit. Itu saja. Bapak jangan kuatir. Olahraga ringan yang teratur, seperti jalan kaki.'
'Saya memang banyak jalan kaki, dok.'
'Bagus itu.' Katanya sambil memberi resep yang ternyata ramuan multivitamin dan penghilang rasa nyeri.

Jadinya aku tambah lega. Aku sms ke beberapa orang dengan gembira, 'AKU NORMAALLL! AKU SEHAT-SEHAT AJA!!!'
Seorang kawanku menanggapi, 'Tax, waktu sakit kamu masih bisa ereksi gak?'
'Ya bisalah!' aku jawab sambil ketawa.
'Kalo begitu kamu normal. Tanda orang sehat itu cuma satu kok: dia masih bisa ereksi! Kamu jangan kuatir, Tax!'
Hahaha... aku tambah senang dengar pembelaannya itu.

Sementara sakit dada kiri pulih, batuk keringnya belum sembuh, ditambah pilek. Batuk dan pilek menurutku akibat dari kerongkongan kering. Seperti ada duri menusuk di situ. Dua penyakit ini khas menyerang aku setiap kali musim kemarau.  Aku sudah maklum, tapi selalu kalah sigap mencegahnya. Aku beranggapan sakit begini membuatku harus lebih hemat bicara dan menahan diri mengomentari berbagai hal. Aku menerima dan mengobatinya pelan-pelan sesuai saran apotek dekat rumah.

Tambah umur rasanya membuatku makin sadar soal tubuh. Contoh, aku tahu bakal pilek di musim kemarau, bukan di musim hujan seperti terjadi pada kawanku. Kepalaku pasti pening kalau berada di tengah suasana kacau, gaduh, apa lagi penuh asap rokok. Ternyata sakit juga bisa membuat kita lebih mengenal diri sendiri. Jadi benar, segala sesuatu memang ada manfaatnya. Sakit saja bermanfaat, apa lagi sehat. Bener enggak?[]

Sunday, September 14, 2014

OKTOBER SUDAH DEKAT!!!
--Anwar Holid


Persis di hari ulang tahun ke-41 aku bersama sebelas kawan lain selesai ikut fase pertama workshop marketing internasional penerbitan yang diadakan oleh Goethe-Institut Jakarta, IKAPI, dan Frankfurt Book Fair (FBF). Workshop ini diikuti 10 penerbit dengan beragam kondisi, ada penerbit pemula, penerbit terbesar di Indonesia, penerbit spesialis, buku anak-anak, anggota IKAPI maupun belum.

Di workshop ini aku membatin: SEBESAR APA PASSIONMU PADA PENERBITAN atau PERBUKUAN? Barangkali karena aku mulai mendapati sebagian kenalanku berhenti berbisnis di dunia buku, mulai masuk dunia lain, meski aku masih selalu mendapati para senior ternyata tetap semangat, bahkan aku pikir tambah ahli dan terus bersedia membagi ilmu.

Aku masih semangat menghasilkan buku baik dan hebat, ingin mengenalkan karya yang aku nilai berharga, memang pantas dijual; tapi jujur saja jalan ke arah sana kadang-kadang sulit, bahkan bisa dipersulit oleh orang-orang yang aku pikir mestinya mendukung niat baikku. Niat baik tidak selamanya ditanggapi positif bila aku gagal menerangkan apa untungnya menerbitkan naskah yang aku pikir hebat, bermanfaat, dan bakal menguntungkan.

Jelas secara finansial aku tidak jadi miliarder karena konsisten kerja di dunia penerbitan. Tapi kondisi itu tidak pernah membuat patah semangat. Aku hanya suka malu setiap kali gagal belajar dari kesalahan, tidak bekerja lebih baik, dan kesulitan menuntaskan tanggung jawab dengan baik.

Selama berkarir di penerbitan, aku lihat banyak senior terus semangat dan berdedikasi, entah dia orang Indonesia atau asing. Sementara pelaku baru terus tumbuh, punya idealisme dan inovasi; meski di antara mereka mungkin saja ada yang kutu loncat, kerja pakai pola high risk, hit and run. Kiprah pelaku muda kerap membuat aku salut dan kreativitasnya mengejutkanku, membuat kagum dan memaksa aku untuk terus belajar dan menambah wawasan.

Guru utama workshop ini ialah Sebastian Posth, pebisnis penerbitan Jerman yang terutama bergerak di ebook, olah data, namun tetap peduli dengan keberlangsungan buku cetak. Salah satu maksud workshop ini ialah membantu persiapan kami sebagai wakil penerbit Indonesia untuk menawarkan dan menjual rights buku di FBF pada 7-12 Oktober 2014.

Sejak berangkat workshop aku tidak mengakses email dan media sosial. Jadi aku buta yang terjadi dengan akunku dan berita di luar sana. Sekitar seminggu lalu dadaku sakit lagi, membuatku demam di malam hari, kehilangan nafsu makan, batuk-batuk, dan pening; memaksaku berhenti main WE9, dengar musik, dan baca-baca majalah atau buku di malam hari karena maunya istirahat lebih lama. Beruntung, kondisiku jauh lebih membaik selama ikut workshop, jelas itu karena tunjangan konsumsinya OK banget.

Seorang senior yang juga ikut workshop bilang, 'War, kamu sekarang tambah jarang nulis ya?' Pertanyaan ini membuatku sedih sekaligus terharu. Sedih karena memang itu faktanya; terharu karena ada orang dekat yang menyadari bahwa aku juga suka menulis untuk menyuarakan sesuatu.

Seingetku, aku jawab begini: 'Kalo nulis iya, tapi kalo ngasih komentar kayaknya tambah sering.' Ha ha ha... Kayaknya sekarang aku lebih baik bekerja atau melakukan sesuatu daripada menulis.' Yah, jujur saja. Aku malu bila banyak menulis seolah-olah peduli atau bisa ini-itu menyelesaikan banyak hal besar, padahal pekerjaan utamaku belum beres. Aku sudah diperingati klien untuk fokus mengerjakan tugas utama, yaitu membereskan pekerjaan yang tidak bisa dilakukan orang lain. Aku ikut workshop karena ada target, bukan untuk sekadar bersenang-senang menikmati bagian dari passion duniaku.

Jujur saja, ikut workshop sebenarnya menunda banyak pekerjaanku membantu persiapan Penerbit Rosda menghadapi FBF 2014 yang sudah tinggal hitungan hari. Setiap kali mengingat ini jantungku terpacu lebih cepat dan tekanan kepalaku langsung naik. Begitu banyak yang harus aku lakukan, waktu makin sempit, sementara energiku sendiri tidak dalam kondisi maksimal. Namun penyesalan terbesarku selama workshop ialah kemampuan Englishku yang sama sekali tidak membaik, sehingga menghalangiku menyampaikan pikiran dengan jernih kepada orang-orang yang buta bahasa Indonesia. Penyesalan ini jauh lebih besar daripada aku lupa bawa kamera gara-gara masih sakit waktu berangkat saat fajar menuju workshop.

Peserta, panitia, dan narasumber workshop. Pria bule di tengah ialah Sebastian Posth.


Hal utama yang ingin aku sampaikan selama menyaksikan persiapan Indonesia dalam FBF 2014 ialah betapa dukungan pemerintah (barangkali dalam hal ini ialah ‘Komite Nasional FBF’) terhadap kehadiran penulis di FBF sangat minim. Untuk kasus Penerbit Rosda saja, kami menawari beberapa penulis untuk datang dan buat acara di FBF, tapi semua menolak karena tidak ada biaya. Padahal selama sharing session kita tahu ada dana penerjemahan yang tidak terserap dengan baik tapi katanya sama sekali tidak bisa diubah alokasinya karena berbagai alasan, salah satunya ialah takut terjerat hukum. Buat apa ada uang kalo tidak bisa dibelanjakan untuk kepentingan bersama?

Hal menyedihkan lain ialah ada banyak penerbit dan penulis yang terabaikan dari hingar-bingar persiapan Indonesia jadi Guest of Honor (GoH) Frankfurt Book Fair 2015. Katakanlah penerbit dan penulis nonmainstream atau independen, padahal mereka menurutku pantas diajak berperan serta. Aku berharap semoga representasi buku dan penulis Indonesia yang ada di GoH cukup berimbang. Harusnya ada penulis dari kalangan FLP/Islam, ada pemberontak macam Saut Situmorang, penulis buruh, dari Indonesia Timur, Indonesia diaspora, dan lain-lain. Setahuku hal itu belum terakomodasi.

Kita tahu ada penulis dan penerbit yang bisa terbang ke Frankfurt, sementara lainnya tidak, bahkan mungkin dapat akses informasi pun tidak. Tentu kita bisa tanya kenapa mereka terpilih atau bisa memperhatikan seperti apa relasi mereka dengan klik pada kelompok tertentu atau ikatan patronnya bagaimana. Contoh, penulis A bisa diundang di FBF karena dinilai pantas jadi wakil Indonesia. Tapi dari kliknya kita juga bisa lihat ia bisa hadir karena bukunya sudah diterjemahkan dalam English, dan direktur penerbit itu dekat dengan para penentu kebijakan di Komite Nasional. Jelas ada kepentingan yang main di sana.

Contoh lain: mungkinkah kita membangkitkan minat sebagian pelaku industri penerbitan agar antusias bahwa Indonesia jadi GOH FBF 2015, bila terhadap Ubud Writers and Readers Festival saja sinis?

Pelajaran utama dari fase pertama workshop ini ialah bagaimana cara meyakinkan orang agar percaya bahwa produk yang aku bawa pantas mereka beli. Kondisi ini tambah sulit kalo kemampuan komunikasiku buruk. Ini yang paling mengkhawatirkanku. Komunikasi yang buruk pasti sulit mengangkat nilai jual produk yang sangat unggul sekalipun. Claudia Kaiser dari FBF siap bantu membuatkan website agar kami bisa menghadirkan dan mengenalkan buku yang mau ditawarkan rightsnya secara lebih baik dan meyakinkan.

Kira-kira itulah yang ingin aku lampiaskan. Di dalam, PR-ku untuk Penerbit Rosda juga masih numpuk dan harus diselesaikan.[] Jakarta, 9 September 2014

Sunday, July 13, 2014


Menyayangi Negeri dengan Membaca
--Anwar Holid

Menjadi Bangsa Pembaca 
Penulis: Adew Habtsa
Penerbit: Wisata Literasi, 2014
Halaman: 200 hal., soft cover
ISBN: 978-60295788728
Harga: Rp.40.000,-
Jenis: memoar, nonfiksi


Menjadi Bangsa Pembaca adalah memoar yang enak dibaca. Di buku ini Adew Habtsa menulis secara simpel, jelas, dan santun. Pemikirannya praktis, dengan kadar visioner yang masuk akal. Dia berkampanye mengenai literasi, berusaha menggugah kesadaran berbangsa melalui buku dan musik.

Apa guna literasi di zaman kini yang lebih silau pada kesuksesan, ketenaran, dan kemewahan? Bukannya dunia literasi tidak bisa mengantarkan orang pada hal semacam itu, tapi target utamanya bukan itu, melainkan bersifat lebih mendasar seperti penyadaran. Literasi membuat seseorang jadi tergerak untuk membaca diri, masyarakat, apa yang terjadi di dalamnya. Ia menjadi mahardika. Orang seperti ini biasanya tergerak untuk berbuat maupun berdedikasi pada masyarakat. Dia akan memikirkan ada apa dengan bangsa dan negerinya. Ia mencari jalan apa yang sebaiknya dilakukan demi mengejar ketertinggalan dan memacu kemajuan.

Pada skala nasional pun literasi kurang diperhatikan dan didukung sepantasnya dibandingkan nilai pentingnya. Pemerintah tampak sudah puas dengan anggapan bahwa literasi tercapai berkat tingginya angka melek huruf. Padahal itu baru aspek literasi tingkat dasar. Literasi tingkat lanjut mensyaratkan adanya penguasaan pemahaman, keterampilan, dan pengaruhnya terhadap psikologi individul, sosial, dan reproduksi budaya.
 
****

Dari mana Adew membangun keyakinan terhadap literasi? Dia membaca buku, memperhatikan lingkungan dan kondisi sosial-politik, terlibat di komunitas literasi dengan agenda dan gerakan kreatifnya. Adew melihat ada energi lebih melampaui buku.

Komunitas literasi bisa dibilang relatif independen, dikembangkan oleh beragam kalangan kelas sosial dengan keyakinan tertentu, dan semua mengalami jatuh-bangun tergantung dukungan, ketahanan, dan strategi masing-masing. Bentuknya beragam. Bisa toko buku, perpustakaan, penerbitan, kelompok penulis dan pembaca, studi budaya, dan peduli pada berbagai isu penyadaran lain. Mereka bersaing secara kreatif, menawarkan pemikiran dan strategi kepada massa, mencari jalan ke luar dari kemampatan ide, sekaligus mendobrak berbagai kejumudan berpikir. Mereka kritis, betapa sesuatu yang dari permukaan dianggap baik dan mulia ternyata bisa menyimpan kebusukan dan pengkhianatan terhadap bangsa dan negeri sendiri semata-mata demi keuntungan kelompok kecil.

Sebagai kunci pencerahan, Adew berpendapat bahwa para aktivis dan founding fathers Indonesia merupakan contoh generasi yang tercerahkan berkat literasi. Mereka bergerak, bekerja sama, mencari jalan demi kemajuan bangsa dan negerinya. Kini generasi penerus punya agenda baru, yaitu mengubah keterpurukan serta ketidakberdayaan karena berbagai krisis, mengubahnya jadi sumber kekuatan. Tantangan makin besar dan mendesak, sementara ruang makin sempit dan waktu terasa makin instan. Dalam kondisi seperti itulah literasi memiliki peluang momentum, persis ketika Kartini mendapat momentum 'dari gelap terbitlah terang.'




Dipecah dua seksi, bagian pertama buku ini mengisahkan meski tumbuh di lingkungan padat penduduk yang cukup keras, ia bisa ‘selamat’ berkat keluarga dan buku. Waktu kuliah ia bergabung dengan Forum Lingkar Pena (FLP), mengasah diri menjadi penyair dan musisi. Di luar itu pergaulannya terbilang luas. Ia berinteraksi dengan berbagai pihak lain, bahkan yang sangat kontras sekalipun, baik dari latar belakang, status sosial, maupun ideologi. Ia menilai perbedaan bukanlah celah pertentangan dan sumber keretakan, namun peluang untuk saling mengisi. Ia berusaha menjalin benang merah agar literasi semakin massif.

Bagian dua menuturkan bagaimana dirinya terlibat lebih intim dalam literasi. Di fase ini ia mempraktikkan, mengampanyekan, menggali dan merekomendasikan berbagai buku untuk dipelajari dan digali lagi relevansinya, termasuk buku tua yang mungkin terlupakan.

Adew adalah generasi yang menyaksikan betapa di awal tahun 2000-an beragam variasi gerakan literasi mudah tumbuh di kalangan muda, meski kadang-kadang cepat layu karena berbagai halangan. Setelah ditempa waktu dan belajar cukup banyak demi perbaikan, sepuluh tahun kemudian kini mereka pelan-pelan tumbuh, mengembangkan peluang, mencoba menghasilkan buah, dan terus terbuka terhadap perubahan.

Yang terasa agak kurang di buku ini ialah tiadanya cuplikan puisi maupun lirik karya Adew sendiri. Bukankah ia sudah naik-turun panggung berkelana dari tempat ke tempat mengutarakan visi dan mencoba menjalankan misinya? Tentu ia punya lirik menggugah untuk disertakan. Barangkali kita harus menunggu sampai Adew merilis album musik sebagai karya selanjutnya. Kelemahan lain ialah ia masih banyak mengutip pemikiran orang lain, terutama dari Barat, alih-alih mencoba mengungkapkan pandangan dengan bahasa sendiri. Padahal di ujung buku ia berniat ingin mengedepankan pemikir Indonesia, karena jelas lebih tahu kondisi masyarakat dan negerinya.

Buku ini dengan baik merekam dinamika gerakan literasi di Bandung, kota tempatnya tumbuh. Ia patut dirayakan siapapun yang peduli maupun terlibat langsung dengan isu literasi, para pelaku industri buku, untuk memikirkan pengembangannya agar lebih massif dan kreatif.[]

Anwar Holid, editor, tinggal di Bandung.