Monday, June 29, 2015


Warisan yang Tiada Tara Nilainya

Karena tertarik sastra, dulu aku merasa sedikit tahu tentang John Keats, terutama dari buku-buku pengantar sastra atau kumpulan puisi. Tapi ternyata aku buta sama sekali tentang bayangan dirinya seperti apa selain secuil judul-judul puisi seperti "La Belle Dame sans Merci", "Ode to a Nightingale", atau "Sleep and Poetry". Aku rupanya tidak ngeh waktu baca informasi tentang Keats. Sebagai salah satu penyair utama sastra Inggris zaman Romantik, aku pikir kehidupannya masyhur sejak awal. Anggapan itu buyar tanpa sisa setelah aku nonton Bright Star (2009), film garapan Jane Campion.

Bright Star merupakan biopic yang memotret periode ketika Keats sedang berada di puncak kreativitas puisi-puisi terbaiknya, yaitu 1818 dan empat tahun setelahnya. Dia tinggal di rumah kontrakan di pinggiran London, bersama temannya yang tampak lebih dominan, Charles Brown. Salah satu tetangga di rumah kontrakan itu ialah keluarga sederhana Brawne. Keluarga ini punya anak tertua bernama Fanny, seorang gadis ceria yang tahu tata busana dan pintar menjahit. Mereka sebenarnya sejak awal saling suka, tetapi Keats tidak bisa berbuat banyak untuk memenangi Fanny, sebab dirinya pun kesulitan keuangan, dan lebih mementingkan nasib kepenyairannya yang mengkhawatirkan.

Kedekatan dengan Fanny mampu membuat Keats lebih hidup, sampai dia mau menghabiskan Natal bersama keluarganya. Mereka akhirnya bertunangan meski tanpa sepengetahuan keluarga. Penyair muda ini sama sekali tak punya uang untuk membiayai acara tunangan, apa lagi mengadakan pernikahan dan membangun rumah tangga.

Waktu itu Keats sudah menerbitkan satu buku puisi, namun penjualannya benar-benar seret. Rupanya Keats sudah lama meninggalkan pekerjaannya sebagai perawat dan memutuskan sepenuhnya beralih ke sastra. Padahal kerja sebagai perawat menjanjikan gaji bulanan, sementara sastra belum memberinya apa-apa. Itu sebabnya dia pindah-pindah rumah kontrakan atas bantuan teman-temannya di dunia sastra. Dia juga harus merawat adiknya yang kena tbc.

Kehidupan asmaranya dengan Fanny yang kuat menghasilkan energi positif. Fanny menjelma sebagai sumber inspirasi, bahkan kerap merangkai puisi bersama atau memberi komentar atas puisi-puisi Keats. Bila Keats pergi, dia suka mengirim surat dengan curahan hati yang dalam. Pada masa inilah dia menghasilkan puisi-puisi terbaik yang akhirnya terkumpul dalam Lamia, Isabella, The Eve of St. Agnes, and Other Poems (1820) yang ia persembahkan untuk Fanny. Namun begitu terbit buku ini cuma bisa menghasilkan 'dua resensi positif dan lima resensi membantai dari kalangan sastra.'

Sewaktu hidup, Keats bisa dibilang gagal, termasuk nasibnya di dunia sastra. Dia sendiri mengakuinya. Dia tenggelam, semua penjualan buku puisinya seret, karyanya banyak dikecam dan disepelekan oleh politik sastra kalangan elite sastra masa itu, salah satunya konon didalangi Lord Byron---penyair terkemuka sezamannya dari kalangan atas dan secara sosial bisa dibilang menang segala-galanya dibanding Keats.

Keats bukan berasal dari kalangan atas dan tidak mendapat pendidikan dari sekolah elite. Dia anak rakyat jelata. Ayahnya bekerja sebagai pemelihara kuda. Riwayat kesehatan keluarganya yang buruk sejak awal berdampak pada dirinya, sementara kegagalannya di dunia sastra menggerogoti jiwanya. Demi menyembuhkan diri dari tbc berkepanjangan, dia menuju Italia untuk mendapatkan cuaca yang lebih hangat. Namun begitu sampai di sana, dia meninggal di Roma tahun 1821. Umurnya 25, meninggalkan kekasih yang gagal dinikahi. Atas wasiatnya, nisannya tak diberi nama dan tanggal, cuma diberi tulisan bunyinya: "Here lies One whose Name was writ in Water." Ngenes.

Semasa Keats hidup, dari empat buku puisinya yang terbit, cuma laku 200 eksemplar. Fakta ini membuatku menangis. Puisi gagal sama sekali menghidupi dirinya. Dia ditopang oleh kawan-kawan dekatnya. Bagaimana ceritanya orang gagal ini dinilai penting, berpengaruh, ujung-ujungnya dirayakan dan karyanya dianggap luar biasa? Nasib Keats langsung mengingatkan aku pada Nick Drake, Jeff Buckley, atau contoh klise: Vincent van Gogh. Apalah arti dipuja-puja setelah mati bagi orang yang gagal semasa hidup? Kenapa orang menilai salah sejak awal? Manusia memang tak pernah belajar dari sejarah.

Nonton Bright Star atau mendengar album-album karya Nick Drake dan Jeff Buckley membuatku bertanya: sukses dan kejayaan itu apa artinya? Bagaimana sesuatu yang awalnya dianggap gagal pelan-pelan berubah sama sekali? Wajibkah orang bercita-cita biar jadi besar dan jaya? Apa perlu jadi orang hebat? Perlukah orang berambisi menguasai dunia agar dimudahkan segala-galanya? Apa orang butuh motivasi biar jadi hebat? Bagaimana kalau hidup seseorang memang gagal dan mengenaskan?

Dari keempat orang itu saja aku berani bilang bahwa intensitas dan kreativitas bisa jadi tak berhubungan langsung dengan kesuksesan dan kehebatan. Waktu hidup, Keats gagal jadi penyair hebat, Drake atau Buckley bukan penyanyi yang menghasilkan hits, sementara van Gogh frustrasi jadi pelukis. Tapi satu hal mereka punya kesamaan: yakin pada pilihan, berkarya habis-habisan, pantang menyerah. Meski dihantui keputusasaan dan gagal menunjukkan keunggulan karya pada orang sezaman, namun generasi zaman selanjutnya mampu membuktikan keunggulan itu. Betapa penilaian atau selera zaman bisa keliru, berubah, bahkan berbalik seiring waktu.

Mereka membuktikan permata tetaplah permata, sekalipun sebelumnya seluruh dunia tak mengetahuinya. Waktu seolah-olah dirahasiakan untuk makin menguatkan kualitas dan kesolidan karya agar ketika ditemukan atau dikaji orang lain, ia tampak berkilau tiada tara. Meski kejayaan sepantasnya telat mereka raih, toh keagungan pada akhirnya tak ke mana-mana. Kita mungkin bilang mereka tak menikmati hasil karyanya, tapi mereka memberi warisan terbaik dari sesuatu yang dihasilkan secara habis-habisan. Itulah persembahan terbaik yang bisa diberikan seseorang agar bisa dinikmati terus sampai nanti selama kehidupan di dunia masih ada. Itulah warisan yang nilainya tiada tara.[]

Ilustrasi: still life foto film Bright Star dari Internet.

Monday, April 13, 2015


Murid Ambisius Ketemu Guru Killer

--Anwar Holid


WHIPLASH
Sutradara: Damien Chazelle | Penulis: Damien Chazelle | Produser: Jason Blum, Helen Estabrook, Michel Litvak, David Lancaster | Distribusi: Sony Pictures Classics | Tahun rilis: 2014 | Durasi: 106 menit |

Pemain: Miles Teller (Andrew), J. K. Simmons (Fletcher), Paul Reiser (ayah Andrew), Melissa Benoist (pacar Andrew)
   

Whiplash ialah sebuah film drama produksi Amerika Serikat, persisnya diinisiasi sejak dari Sundance Film Festival. Tidak ada agama di film ini, apa lagi soal Islam, terorisme, maupun Syiah.

Ini film tentang dunia pendidikan, persisnya interaksi antara guru dan murid. Ceritanya mengisahkan bagaimana Andrew, seorang murid sekolah musik jurusan drum, bersinggungan dengan Fletcher, guru sekaligus dirijen band sekolah tersebut. Andrew ambisius dan disiplin, sementara Fletcher sangat killer dan perfeksionis. Keduanya sepadan bersaing dan adu kuat-kuatan.

Andrew dengan semangat penuh mendorong dirinya agar bisa mencapai standar sempurna yang diinginkan Fletcher, tak peduli sampai badannya sakit, tangannya cedera, bahkan dengan dingin memutuskan pacarnya biar bisa fokus main musik. Tapi begitu Fletcher dia nilai berbuat semena-mena, tak menghargai kerja keras, dan kemampuannya, dia berani berkata jujur dengan lantang, menantang, dan akhirnya melawan. Akhirnya murid dan guru itu berkelahi. Ujungnya, Andrew di keluarkan dari sekolah, sementara Fletcher dipecat jadi guru.

Klimaks film ini sangat dramatis, sementara endingnya bikin aku termenung. Ia meletupkan pertanyaan tentang pendidikan, pilihan, ambisi, persaingan, berdisiplin memupuk bakat, bagaimana harus latihan, juga memotivasi seseorang. Perlukah seseorang begitu keras berlatih, ditekan sampai melampaui batas dan akurasi demi mencapai kesempurnaan? Atau kesempurnaan bisa terwujud begitu saja bila memang sudah dikehendaki oleh takdirnya? Beruntung, Andrew dan Fletcher bukan orang cengeng yang suka meratapi nasib. Mereka berdua bertemu, berhadap-hadapan, merasa menuju tujuan yang sama, meski caranya berbeda.

Menurutku, film ini setingkat lebih bagus dari Dead Poets Society (1990)---sebuah film klasik lain yang sama-sama mengusung tema tentang sekolah, pendidikan, dan nilai keluarga. Cara penuturan film ini lebih dramatik, sementara konfliknya sangat kuat dan bikin tegang. Alasan lain, film ini menonjolkan karakter individualitas, bukan kolektivitas. Penonton bisa belajar berani berkata jujur, seburuk apa pun konsekuensinya.

Whiplash merupakan sebuah film yang sangat pantas ditonton siapapun, baik bareng-bareng sekeluarga, orangtua, guru, murid, dan mereka yang suka musik, terutama jazz.[]

Link terkait: http://bit.ly/1ypD16e

Sunday, October 26, 2014

[halaman ganjil]

Tanda Orang Sehat Itu Cuma Satu...

--Anwar Holid

Pada awal September 2014 lalu dada kiriku sakit. Ini kambuh untuk ketiga kalinya. Pertama kali sakit dada itu muncul kira-kira tahun 2010. Setiap kali bernapas dadaku seperti ditusuk-tusuk, napas jadi pendek-pendek, gampang tersengal-sengal, dan sesak. Bernapas jadi tak lancar dan sulit. Sakit dada itu membuatku demam dan batuk-batuk.

Dulu waktu pertama kali mengalaminya, aku langsung cari tahu soal sakit dada belah kiri itu. Orang menamai sakit itu sebagai 'angin duduk', dan lebih jauh bisa jadi merupakan tanda dari gejala jantung koroner. Jujur saja, aku enggak kuatir bila sampai kena jantung koroner. Dengan latihan bernapas pelan-pelan dan mencoba menghela napas panjang, akhirnya sakit itu berangsur-angsur hilang. Seingetku, aku cuma minum obat demam untuk menghilangkan panas-dingin waktu malam.

Pada November 2013 sakit itu muncul lagi waktu aku mulai kerja di Penerbit Rosda saat tugas di Indonesia Book Fair. Semua gejalanya persis sama. Ku pikir kali ini terjadi karena aku berada dalam ruang ber-ac sangat dingin, kencang, dan suasananya gaduh sekali. Untung kambuhnya di hari menjelang acara berakhir, sehingga aku hanya perlu absen beberapa jam.

Ketika kambuh untuk kedua kali, Fenfen dan beberapa teman minta agar aku periksa dokter spesialis. Aku mengamini, tapi tidak melaksanakannya. Bukan karena bandel, membantah, atau apa, tapi semata-mata karena tidak menyempatkan diri dan aku merasa bisa mengatasinya bila sewaktu-waktu datang lagi.

Ketika kira-kira setahun kemudian kambuh untuk ketiga kali, pada dasarnya aku siap. Paling waktu malam aku repot jadi demam, tersengal-sengal, dan batuk-batuk. Aku coba berdamai lagi dengan latihan menghela napas pelan-pelan. Aku perkirakan kali ini pemicu utama kambuh ialah karena terpapar asap jahanam kendaraan bermotor setiap kali bersepeda. Tapi bisa jadi karena September ialah musim kemarau, dan setiap musim kemarau aku tahu pasti kena pilek atau batuk. Payahnya aku sakit pas ikut workshop, jadi batuk-batuk dan tidak fit itu mengurangi konsentrasi dan mengganggu banyak orang.

Kali ini Fenfen tidak sabar agar aku periksa ke dokter. Menggunakan jasa BPJS, sarannya aku turuti. Ke dokter umum aku menceritakan keluhan dan gejala yang aku rasakan. Aku mendesak, 'Apa kemungkinan penyakit terburuk dari keluhan yang aku rasakan ini?' Dia bilang, 'Ini sama sekali jangan dijadikan pegangan dan harus didiagnosis oleh dokter spesialis lebih dahulu, kemungkinan terburuknya ialah Anda bisa terkena tuberkolosis paru-paru.' Wow, separah itu, batinku. Beliau memberi rujukan untuk periksa lebih lanjut.

Aku diperiksa dokter spesialis jantung di RS Advent Bandung. Diteliti menggunakan electro cardiogram, aku dinyatakan normal. Saat diperiksa kondisiku waktu itu memang sudah cukup fit. Sakit dadaku sudah berangsur pulih dan berkat mengonsumsi makanan hebat baik di hotel dan workshop, kesehatanku membaik. Cuma batuk kering mulai terasa.

  
Salah satu hasil periksa jantungku.
  
'Kalo begitu sakit dada itu apa ya dok?' aku rada bingung.
'Sakitnya kerasa sampai ke belakang punggung enggak?'
'Enggak.'
'Kerasa menjalar sampai tangan kiri enggak?'
'Enggak.'
'Kerasa kalo bapak jalan enggak?'
'Enggak.'
'Kerasa waktu bapak tidur enggak?'
'Enggak. Kerasa kalo saya bernapas saja.'
'Kalo rasa sakit seperti ditusuk-tusuk itu sampai ke punggung atau kerasa sampai tangan kiri, atau kalau berjalan dan tidur dada bapak sakit, itu baru menunjukkan ada gejala sakit jantung. Hasil diagnosis menunjukkan jantung bapak normal. Mungkin ada otot dada bapak yang sakit. Itu saja. Bapak jangan kuatir. Olahraga ringan yang teratur, seperti jalan kaki.'
'Saya memang banyak jalan kaki, dok.'
'Bagus itu.' Katanya sambil memberi resep yang ternyata ramuan multivitamin dan penghilang rasa nyeri.

Jadinya aku tambah lega. Aku sms ke beberapa orang dengan gembira, 'AKU NORMAALLL! AKU SEHAT-SEHAT AJA!!!'
Seorang kawanku menanggapi, 'Tax, waktu sakit kamu masih bisa ereksi gak?'
'Ya bisalah!' aku jawab sambil ketawa.
'Kalo begitu kamu normal. Tanda orang sehat itu cuma satu kok: dia masih bisa ereksi! Kamu jangan kuatir, Tax!'
Hahaha... aku tambah senang dengar pembelaannya itu.

Sementara sakit dada kiri pulih, batuk keringnya belum sembuh, ditambah pilek. Batuk dan pilek menurutku akibat dari kerongkongan kering. Seperti ada duri menusuk di situ. Dua penyakit ini khas menyerang aku setiap kali musim kemarau.  Aku sudah maklum, tapi selalu kalah sigap mencegahnya. Aku beranggapan sakit begini membuatku harus lebih hemat bicara dan menahan diri mengomentari berbagai hal. Aku menerima dan mengobatinya pelan-pelan sesuai saran apotek dekat rumah.

Tambah umur rasanya membuatku makin sadar soal tubuh. Contoh, aku tahu bakal pilek di musim kemarau, bukan di musim hujan seperti terjadi pada kawanku. Kepalaku pasti pening kalau berada di tengah suasana kacau, gaduh, apa lagi penuh asap rokok. Ternyata sakit juga bisa membuat kita lebih mengenal diri sendiri. Jadi benar, segala sesuatu memang ada manfaatnya. Sakit saja bermanfaat, apa lagi sehat. Bener enggak?[]