Sunday, May 19, 2013

Membuyarkan Mindset Usang tentang Bisnis dan Tuhan
--Anwar Holid

Entrepreneurship Hukum Langit - Sedekah Bukan Keajaiban
Penulis: Abu Marlo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2013
Halaman: 238 halaman
Kategori: Nonfiksi, pengembangan diri, kiat sukses
ISBN: 978-979-22-9278-7
Harga: Rp.58.000,- 


Abu Marlo punya beberapa image karakter dan entah bagaimana ia mampu mengelola karakter itu sebagai personal brand yang utuh, kuat, laku dijual. Berprofesi sebagai magic performer/illusionist (magician, pesulap), dia ternyata juga dikenal sebagai seorang dai (penceramah) dan entrepreneur (wirausahawan). Tapi tampaknya dia lebih suka menganggap dirinya sebagai "rockstar master."

Sebagai seorang magic performer (pesulap) nama Abu Marlo sudah cukup familiar baik di kalangan pengusaha dan mahasiswa. Dia sudah kerap tampil sebagai bintang tamu di berbagai program sejumlah stasiun televisi. Pada tahun 2007 dia meraih 2nd Best Close Up Magic Winner di Bandung Magic Competition, lantas menjadi runner up acara The Master di RCTI. Banyak perusahaan telah memanfaatkan kemampuannya sebagai seorang magic performer, terutama untuk acara launching produk, brand awareness, marketing, maupun entertainment, bahkan sampai ke negara tetangga. Dalam profesinya sebagai magic performer dia tentu sangat memanfaatkan mental magic dan ilusi.

Bagaimana dengan bukunya?

Sungguh mencengangkan ada anak muda berpenampilan persis seorang rockstar dengan kesan rada gothic, dunia sehari-harinya dekat dengan budaya pop, urban, hiburan, maupun kapitalisme, bisa menulis sebuah risalah tentang entrepreneurship (kewirausahaan)  murni berdasar Al-Quran---salah satu buku yang paling banyak dibaca dan ditelaah oleh manusia di Bumi ini. Abu Marlo tidak menilai Al-Quran sebagai kitab suci eksklusif bagi orang Islam, tapi perlu dibaca oleh siapapun. Kenapa? Karena Al-Quran adalah manual book hidup manusia (hal. 38). Kalau kita beli produk merek tertentu, produk itu tentu disertai manual book merek bersangkutan agar dapat digunakan maksimal oleh penggunanya. Mustahil manual book-nya dari merek lain, karena sistem, komponen, dan cara penggunaannya pun beda. Tuhan menitipkan manual book berupa Al-Quran karena manusia adalah produk kasih sayang-Nya. Al-Quran bisa dibuka dan dirujuk kapan saja, ayat-ayatnya pun saling menerangkan.

Wow! Pikiran atas Al-Quran ini lebih dari out of the box. Ini jelas merupakan BIG BANG luar biasa yang boleh kita cermati seberapa jauh tingkat keberhasilannya. Karena itu dengan tegas menamai konsep bisnisnya sebagai "Entrepreneurship Hukum Langit." Ajaib dan berani banget.

Mungkin kita tidak perlu tahu bagaimana Abu Marlo bisa mendalami Al-Quran kemudian memadukan basis ilmu manajemen, ekonomi, bisnis modern, serta pengalamannya untuk melahirkan sebuah konsep solid mengenai entrepreneurship berdasarkan Al-Quran. Dia dengan tangkas dan kukuh menerangkan keyakinannya sehingga membentuk paradigma yang menyentak dan segar tentang apa makna berbisnis dan memiliki etos kerja. Contoh, pantaskah seorang pengusaha memberi pengemis atau menyantuni anak yatim dengan harapan dapat balasan dan meminta mereka mendoakan agar dia dan bisnisnya lebih sukses lagi?

Secara simpel namun sulit dibantah Abu Marlo menumbangkan common sense maupun keyakinan klise kita terhadap usaha, tugas, perilaku bisnis, dan tentu saja isu fundamental dunia usaha seperti meraih kesuksesan dan mencapai kebahagiaan.

Di buku Abu Marlo memang memprovokasi orang untuk menjadi "Entrepreneur Pilihan" bagi bangsa Indonesia, tapi ini bukan jenis buku motivasional untuk sukses secara instan atau tips and tricks mujarab membangun kerajaan bisnis dalam waktu 30 hari. Dia nyatakan "do with your own risk." Bahkan ia bilang, "Buku ini bukan untuk Anda yang tergesa-gesa ingin mengkhatamkannya dan tidak untuk secepat-cepatnya selesai dibaca." Didesain sangat apik untuk merangsang orang membaca atau minimal membuka-bukanya, isi buku ini sungguh terasa menyentak.[]

Anwar Holid, pekerja penerbitan yang kesulitan membangun bisnis sendiri.

Link terkait:
www.abumarlo.com
Twitter: @abumarlo
https://twitter.com/Hukum_Langit
Video: http://www.youtube.com/watch?v=zv2udcyocTc

Saturday, May 18, 2013


Rosda: Contoh bagi Penerbitan Indonesia
--Anwar Holid

"Saya bangga pada Rosda. Karena itu banggalah pada Rosda, karena pemimpinnya adalah seorang tokoh penerbitan Indonesia," kata senior Ikapi (Ikatan Penerbit Indonesia) Setia Darma Madjid memberi kesaksian di syukuran dan ulang tahun ke 52 penerbit Remaja Rosdakarya, gedung Wahana Bakti Pos, Bandung pada 18 Mei 2013. Setia Darma merujuk pada Rozali Usman, pendiri Rosda, yang pernah menjadi Ketua Ikapi Pusat selama dua periode. Rozali Usman mendirikan Rosda pada 15 Mei 1961. Dalam ucapan selamatnya, Ketua Ikapi Pusat Lucya Andam Dewi menegaskan, "Rosda menjadi contoh untuk usaha sejenis di Indonesia."

Hari itu juga menandai kesiapan penerbit Rosda memasuki zaman digital. Rosda meluncurkan e-Rosda, layanan toko buku dan penerbitan digital (ebook store mobile apps). E-Rosda memungkinkan penerbit ini menjangkau siapapun yang terkoneksi, menerbitkan lebih banyak buku, termasuk buku yang sudah tidak terbit, dan memberi peluang kerja sama lebih besar kepada penulis dan penerbit lain yang mau menjual maupun mendistribusikan bukunya secara digital.


Wakil Direktur Utama Rosda Rosidayati Rozalina tampak antusias dengan langkah itu. Rosda menggandeng Techbator untuk memastikan keamanan, keterjangkauan, dan kemudahan layanan e-Rosda. Platformnya disesuaikan dengan kondisi teknologi dan ketersediaan gadget di Indonesia. "Kami berkomitmen melindungi penerbit, penulis, dan industrinya," kata Erlan Primansyah dari Techbator. Layanan ini diharapkan bisa menumbuhkan ekosistem industri buku berbasis teknologi terdepan. "Industri buku adalah tulang punggung perkembangan dan kemajuan bangsa Indonesia."

Berawal dari buku pelajaran dan sekolah, penerbit Rosda menonjol di pangsa pasar buku pendidikan dan perguruan tinggi, terutama komunikasi, agama Islam, bahasa, dan sosial-politik. Dengan mayoritas bukunya ditulis oleh para guru besar, dosen, dan pakar di bidangnya, kalangan dunia akademik dan pendidik merupakan pelanggan utama buku Rosda, begitu juga mahasiwa. Mahasiswa merupakan pengguna Internet yang aktif, akrab dengan gadget, tapi sukanya belanja dengan harga murah.

Layanan e-Rosda memungkinkan pelanggan bisa membeli buku per bab, diupdate bila naskah direvisi penerbit, bahkan kalau mau menyewa isinya. Langkah ini dianggap sebagai solusi segar menghadapi pembajakan. Ada puluhan judul buku Rosda dibajak dan bersama sejumlah penerbit lain hingga kini kesulitan menyetop kejahatan tersebut karena terhalang kompleksitas masalahnya.

Lewat berbagai tanggapannya, sejumlah penulis yang langgeng bekerja sama dengan Rosda mengamini dan mendukung langkah baru Rosda tersebut. Bung Smas, penulis novel anak-anak kawakan, mengungkapkan punya banyak kisah dan mendalam dengan Rosda, sampai susah disebut satu per satu. "Rosda adalah tempat saya bekerja sama paling lama dengan sebuah penerbit," katanya. Bahrudin Supardi, penulis buku biografi dan cerita anak-anak, menilai e-Rosda merupakan solusi praktis untuk mengembalikan minat baca generasi muda.[]


Anwar Holid bekerja sebagai editor, penulis, juga publisis.

Link terkait:
www.rosda.co.id
www.twitter.com/remajarosdakarya

Sunday, May 05, 2013

Dari ki-ka: Erlan Primansyah, Rosidayati Rozalina, Zamzami

Mengembangkan Ekosistem Industri Buku Indonesia 
---Anwar Holid

Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, pada 2 Mei 2013 penerbit Remaja Rosdakarya melakukan sosialisasi e-book untuk penulis sekaligus melakukan rilis ebook di Google Play. Mayoritas dihadiri rekanan penerbit yang sudah berusia 52 tahun itu, para penulis dalam berbagai tanggapannya menyambut antusias rencana tersebut. Bukan saja karena mereka berpeluang mendapat tambahan royalti dari penjualan ebook, melainkan karena dunia ebook membuka banyak kesempatan, termasuk menghidupkan lagi buku yang "mati", out of print, maupun mendapatkan kembali buku penting yang dibutuhkan.

Direktur Utama Rosdakarya Rosidayati Rozalina menyatakan bahwa ebook tak terhindarkan bagi penerbit. Tiap tahun pasar ebook membuktikan gejala terus meningkat, teknologi informasi semakin canggih, dan jumlah penggunanya membuka pangsa pasar yang terus membesar. Karena itu pada 2013 ini Rosda memutuskan memasuki babak baru, yaitu menerbitkan dan membuka toko buku digital lewat layanan e-Rosda. Layanan ini akan secara resmi diluncurkan pada 18 Mei 2013 saat penerbit Rosda merayakan ulang tahun ke-52.

Ebook tidak butuh kertas, tapi tetap butuh biaya untuk mendevelopnya, termasukjasa tambahan lain seperti membuat enkripsi, animasi, survey, dan metadata. Keamanan ebook, dari isi hingga proses jual-belinya, menjadi faktor sangat penting baik bagi penerbit dan pembaca, apa lagi di Indonesia yang tingkat pembajakannya tinggi, termasuk di dunia cyber.

Erlan Primansyah dari Techbator yang menjadi mitra utama Rosda dalam bisnis ini menjelaskan pihaknya ingin mengembangkan ekosistem perbukuan, mau diapakan ebook ini, keterjangkauan, kemudahan, serta bagaimana membangun industrinya agar sesuai dengan platform dan kondisi teknologi di Indonesia yang tergolong belum sangat maju bila dibandingkan banyak negara lain. Dia yakin ke depan para penerbit Indonesia yang masuk dunia ebook bukan berebut market share, melainkan membesarkannya, karena pasar dan penggunanya terus tumbuh. Sejumlah penerbit umum dan perguruan tinggi disebut-sebut juga telah siap memasuki kancah ini. Berdasar survey, Erlan menegaskan ebook bukanlah substitusi, melainkan komplementer untuk print book.


Direktur Penerbitan Rosda Zamzami Djahuri menginformasikan bahwa ebook bisa membuka pasar internasional bagi penulis Indonesia. Dia menyebut ada 80.000 perpustakaan di dunia yang tertarik membeli ebook, kalau menarik. Belum lagi kemungkinan terjadi jual-beli copyrights. Fakta ini diamini Aan Merdeka Permana, seorang penulis fiksi-sejarah asal Bandung. Beliau menyebutkan buku-bukunya suka dibeli oleh perpustakaan luar negeri, terutama Belanda. Sementara dia juga berniat menerbitkan lagi karya-karyanya yang sudah kembali hak ciptanya dan suka dicari-cari orang karena tidak tersedia lagi di toko buku biasa.

Pasar ebook memang tampak masih labil. Tipikalnya harga ebook bisa 30 % lebih murah dari print book. Tapi banyak pula pembaca yang suka gratis dulu, baru setelah yakin menarik, mereka mau beli. Namun dalam kasus tertentu ketika tidak ada versi print booknya, harga ebook malah bisa lebih mahal. Fakta membuktikan begitu sebuah judul ebook laris, versi printnya pasti dicari-cari pembaca dan segera akan muncul, baik lewat penerbitan biasa maupuan print on demand (POD). Untuk penulis, pihak Rosda menawarkan royalti antara 14 - 19 %, lebih besar dari royalti biasa antara 8 - 10 %.

Didirikan oleh Rozali Usman pada tahun 1961, penerbit Rosda menonjol di dunia buku pendidikan dan perguruan tinggi, terutama komunikasi, agama Islam, bahasa, dan sosial-politik. Mayoritas bukunya ditulis oleh guru besar dan terkemuka di bidangnya, antar lain Jalaluddin Rakhmat, Deddy Mulyana, A. Chaedar Alwasilah, dan Ahmad Tafsir.[]

Link terkait:
www.rosda.co.id