Sunday, July 13, 2014


Menyayangi Negeri dengan Membaca
--Anwar Holid

Menjadi Bangsa Pembaca 
Penulis: Adew Habtsa
Penerbit: Wisata Literasi, 2014
Halaman: 200 hal., soft cover
ISBN: 978-60295788728
Harga: Rp.40.000,-
Jenis: memoar, nonfiksi


Menjadi Bangsa Pembaca adalah memoar yang enak dibaca. Di buku ini Adew Habtsa menulis secara simpel, jelas, dan santun. Pemikirannya praktis, dengan kadar visioner yang masuk akal. Dia berkampanye mengenai literasi, berusaha menggugah kesadaran berbangsa melalui buku dan musik.

Apa guna literasi di zaman kini yang lebih silau pada kesuksesan, ketenaran, dan kemewahan? Bukannya dunia literasi tidak bisa mengantarkan orang pada hal semacam itu, tapi target utamanya bukan itu, melainkan bersifat lebih mendasar seperti penyadaran. Literasi membuat seseorang jadi tergerak untuk membaca diri, masyarakat, apa yang terjadi di dalamnya. Ia menjadi mahardika. Orang seperti ini biasanya tergerak untuk berbuat maupun berdedikasi pada masyarakat. Dia akan memikirkan ada apa dengan bangsa dan negerinya. Ia mencari jalan apa yang sebaiknya dilakukan demi mengejar ketertinggalan dan memacu kemajuan.

Pada skala nasional pun literasi kurang diperhatikan dan didukung sepantasnya dibandingkan nilai pentingnya. Pemerintah tampak sudah puas dengan anggapan bahwa literasi tercapai berkat tingginya angka melek huruf. Padahal itu baru aspek literasi tingkat dasar. Literasi tingkat lanjut mensyaratkan adanya penguasaan pemahaman, keterampilan, dan pengaruhnya terhadap psikologi individul, sosial, dan reproduksi budaya.
 
****

Dari mana Adew membangun keyakinan terhadap literasi? Dia membaca buku, memperhatikan lingkungan dan kondisi sosial-politik, terlibat di komunitas literasi dengan agenda dan gerakan kreatifnya. Adew melihat ada energi lebih melampaui buku.

Komunitas literasi bisa dibilang relatif independen, dikembangkan oleh beragam kalangan kelas sosial dengan keyakinan tertentu, dan semua mengalami jatuh-bangun tergantung dukungan, ketahanan, dan strategi masing-masing. Bentuknya beragam. Bisa toko buku, perpustakaan, penerbitan, kelompok penulis dan pembaca, studi budaya, dan peduli pada berbagai isu penyadaran lain. Mereka bersaing secara kreatif, menawarkan pemikiran dan strategi kepada massa, mencari jalan ke luar dari kemampatan ide, sekaligus mendobrak berbagai kejumudan berpikir. Mereka kritis, betapa sesuatu yang dari permukaan dianggap baik dan mulia ternyata bisa menyimpan kebusukan dan pengkhianatan terhadap bangsa dan negeri sendiri semata-mata demi keuntungan kelompok kecil.

Sebagai kunci pencerahan, Adew berpendapat bahwa para aktivis dan founding fathers Indonesia merupakan contoh generasi yang tercerahkan berkat literasi. Mereka bergerak, bekerja sama, mencari jalan demi kemajuan bangsa dan negerinya. Kini generasi penerus punya agenda baru, yaitu mengubah keterpurukan serta ketidakberdayaan karena berbagai krisis, mengubahnya jadi sumber kekuatan. Tantangan makin besar dan mendesak, sementara ruang makin sempit dan waktu terasa makin instan. Dalam kondisi seperti itulah literasi memiliki peluang momentum, persis ketika Kartini mendapat momentum 'dari gelap terbitlah terang.'




Dipecah dua seksi, bagian pertama buku ini mengisahkan meski tumbuh di lingkungan padat penduduk yang cukup keras, ia bisa ‘selamat’ berkat keluarga dan buku. Waktu kuliah ia bergabung dengan Forum Lingkar Pena (FLP), mengasah diri menjadi penyair dan musisi. Di luar itu pergaulannya terbilang luas. Ia berinteraksi dengan berbagai pihak lain, bahkan yang sangat kontras sekalipun, baik dari latar belakang, status sosial, maupun ideologi. Ia menilai perbedaan bukanlah celah pertentangan dan sumber keretakan, namun peluang untuk saling mengisi. Ia berusaha menjalin benang merah agar literasi semakin massif.

Bagian dua menuturkan bagaimana dirinya terlibat lebih intim dalam literasi. Di fase ini ia mempraktikkan, mengampanyekan, menggali dan merekomendasikan berbagai buku untuk dipelajari dan digali lagi relevansinya, termasuk buku tua yang mungkin terlupakan.

Adew adalah generasi yang menyaksikan betapa di awal tahun 2000-an beragam variasi gerakan literasi mudah tumbuh di kalangan muda, meski kadang-kadang cepat layu karena berbagai halangan. Setelah ditempa waktu dan belajar cukup banyak demi perbaikan, sepuluh tahun kemudian kini mereka pelan-pelan tumbuh, mengembangkan peluang, mencoba menghasilkan buah, dan terus terbuka terhadap perubahan.

Yang terasa agak kurang di buku ini ialah tiadanya cuplikan puisi maupun lirik karya Adew sendiri. Bukankah ia sudah naik-turun panggung berkelana dari tempat ke tempat mengutarakan visi dan mencoba menjalankan misinya? Tentu ia punya lirik menggugah untuk disertakan. Barangkali kita harus menunggu sampai Adew merilis album musik sebagai karya selanjutnya. Kelemahan lain ialah ia masih banyak mengutip pemikiran orang lain, terutama dari Barat, alih-alih mencoba mengungkapkan pandangan dengan bahasa sendiri. Padahal di ujung buku ia berniat ingin mengedepankan pemikir Indonesia, karena jelas lebih tahu kondisi masyarakat dan negerinya.

Buku ini dengan baik merekam dinamika gerakan literasi di Bandung, kota tempatnya tumbuh. Ia patut dirayakan siapapun yang peduli maupun terlibat langsung dengan isu literasi, para pelaku industri buku, untuk memikirkan pengembangannya agar lebih massif dan kreatif.[]

Anwar Holid, editor, tinggal di Bandung.

Sunday, July 06, 2014



PANDUAN SIMPEL PEMILU PRESIDEN 2014

Oleh Anwar Holid*

pertama-tama, ayo samakan dulu suaranya sodara-sodara:
yang coblos no. 1 nadanya doooooo
yang coblos no. 2 nadanya reeeeee

yang suka kecap, coblos no. 1
yang suka runner up, coblos no. 2

yang masih percaya pada ide bapak reformasi amien rais, coblos no. 1
yang lebih percaya pada ucapan jenderal purnawirawan wiranto, coblos no. 2

yang mau bareng jemaat daarut tauhid, persis, dan salman, coblos no. 1
yang mau ikut bareng jemaat driyarkara, tempo, dan komunitas salihara, coblos no. 2

yang ngerasa suka rhoma irama dan ahmad dhani, silakan coblos no. 1
yang ngerasa lebih cocok sama slank, silakan coblos no. 2

yang mau ikut aa gym, ridwan kamil, dan maman abdulrahman, coblos no. 1
yang mau ikut magnis suseno dan goenawan mohamad, coblos no. 2

yang bersimpati pada islam versi gerakan pks dan fpi, ayo pilih no. 1
yang suka pada islam versi gerakan jil dan tafsir musdah mulia, ayo pilih no. 2

yang gak suka surya paloh, pilih no. 1
yang gak suka arb, pilih no. 2

yang lebih suka anis m., coblos no. 1
yang lebih suka anies b., coblos no. 2

yang tetap ingin jokowi jadi gubernur dki, coblos no. 1
yang mau ngedukung ahok jadi gubernur dki, coblos no. 2

yang merasa salut terhadap loyalitas fadli zon pada prabowo, coblos no. 1
yang merasa salut terhadap loyalitas jokowi pada megawati, coblos no. 2

yang optimistik pada masa depan, percaya bahwa waktu itu menyembuhkan dan kesempatan untuk maju, coblos no. 1
yang traumatik pada masa lalu, takut kerusuhan, penculikan, dan kebebasan berekspresinya diberangus, coblos no. 2

Gambar dari Internet

* Anwar Holid, rakyat jelata apolitis bebas merdeka.

Monday, May 05, 2014

Kriteria, Inspirasi, dan Masalah Menulis
--Anwar Holid


Jujur saja, sekarang ini aku rada sungkan setiap kali diminta jadi guru menulis. Aku suka malu berusaha menyemangati orang lain menulis dan berbagi ilmu kepenulisan, padahal aku sendiri punya masalah dengan motivasi dan disiplin, pernah mengecewakan pemberi order, punya wanprestasi, banyak draft tulisan masih berlepotan, editan atau revisi naskah belum beres, dan kesulitan menyelesaikan berbagai kendala penulisan.

Tapi setiap kali mendapat tawaran, biasanya aku langsung antusias. Ini jelas karena aku memang punya hasrat pada penulisan dan penerbitan. Aku mau berbagi apa saja mengenai hal itu. Aku juga banyak belajar dan dapat ilmu baru dari pertemuan-pertemuan yang aku hadiri, sekalipun statusku ialah fasilitator.

Ketika mengutarakan keberatan, pengundang malah menguatkan. “Ini kan menyampaikan ilmunya, bukan soal teknis. Semua orang bermasalah kok kalau berhadapan dengan pekerjaan, apalagi deadline.” Walhasil, aku mengiyakan. 


Jadi setiap kali diminta jadi guru, aku bersikap sebagai khatib yang rendah hati. Sebenarnya khotbah itu ditujukan buat diri sendiri, untuk belajar dan mendapat ilmu, bersama-sama menekuni semoga yang  didengar bermanfaat, mengantarkan kita pada kebaikan. Bukankah suara dari mulut pasti terdengar lebih nyaring bagi telinga sendiri dibanding telinga orang lain? Saat itulah aku juga belajar, berinteraksi dengan sesama pembaca, penulis, dan orang-orang yang  boleh jadi suatu ketika makin menyuburkan dunia sastra dan industri buku Indonesia. Salah satunya ketika beberapa waktu lalu kawan Aksara Salman ITB bertanya tiga hal soal kepenulisan.

* Apa ada kriteria untuk jadi penulis yang baik dan profesional?
Ciri penulis yang baik ialah dia mampu menyelesaikan setiap proyek penulisan yang menjadi tanggung jawabnya.

Sekadar info, statistik penerbitan di dunia ini menunjukkan betapa kemungkinan seorang penulis mampu mencapai sukses secara komersial ternyata sedikit sekali, apalagi sukses gila-gilaan seperti J.K. Rowling. Coba cari di sekitar kita berapa banyak orang yang hidupnya semata-mata dari menulis? Kalau ada, perhatikan apa yang terjadi dengan dirinya. Apa dia punya rahasia?

Di sebuah workshop penulisan aku pernah dapat nasihat bahwa kalau benar berniat jadi penulis, ingatlah empat poin ini:
1. Bersikaplah realistis. Hidup semata-mata dari menulis itu sulit, bahkan bagi penulis yang sudah terkenal sekalipun.
2. Jangan mudah putus asa oleh penolakan.
3. Milikilah selalu rencana cadangan. Ingatlah bahwa tidak semua orang pada akhirnya bisa menerbitkan karyanya.
4. Memiliki sumber penghasilan yang dapat diandalkan di luar dunia menulis bisa merupakan suatu keuntungan demi menunjang upaya seseorang untuk jadi penulis yang berhasil.

Fakta
Seniorku cerita ada seorang penulis cerita buku anak-anak yang nyaris meninggalkan dunia tulis-menulis dan beralih ke bisnis sablon kaos. Kenapa? Karena menulis sudah tidak menguntungkan buat dirinya lagi. Dia tidak bisa hidup dari menulis. Royalti dari penjualan buku-buku tidak lagi bisa diandalkan, karena datang lama dan jumlahnya pun kecil dibandingkan kebutuhannya. Mendengar kondisi penulis itu demikian, seniorku langsung tergerak untuk menawarinya menulis buku dan memberi uang muka. Semoga buku ini laris, terlebih kalau bisa dibeli pemerintah lewat proyek pengadaan buku, dengan begitu bisa menyelamatkan karir dan penghidupannya. Dia tahu penulis ini berbakat, berpengalaman menulis buku dengan baik. Tapi bakat masih kurang bila sesuatu tidak berjalan sesuai semestinya. Ia harus disalurkan dan diwadahi dengan benar.

Di lain pihak, ada kawan seorang penulis buku anak-anak yang hidup semata-mata dari menulis. Dia tidak punya pekerjaan lain di luar menulis, selain mengurus kolam dan kebunnya. Dia menulis apa pun, dari buku anak-anak bergambar simpel di bawah 50 halaman, sampai menerima order menulis novel dari penerbit. Dari ketekunan, pembelajaran, konsistensi, dedikasi, dan prestasinya di dunia menulis, dia mampu menghidupi keluarga, memiliki kebun dan kolam yang sekaligus diolah menjadi taman bacaan bagi anak-anak warga setempat. Dia pernah mendapat penghargaan dari Kementerian Pendidikan Nasional, bukunya menang lomba penulisan novel agama di Kementerian Agama, bukunya pernah terpilih sebagai buku terbaik versi IKAPI Pusat.

Dia bilang, ‘Bisa bermanfaat untuk keluarga dan tetangga-tetangga terdekat saja sudah sangat berharga, apalagi kalau kita dianggap bermanfaat bagi bangsa, bagi pembaca yang tidak kita kenal, yang tinggalnya entah di mana, jauh sekali dari kita, namun mereka ikut bahagia karena sama-sama membaca, dapat sesuatu yang berguna dari karya kita.’ Sungguh ungkapan yang rendah hati. Dia tidak peduli hal-hal remeh di luar esensi profesinya. Dia tidak peduli andai namanya tidak dikenal orang atau media massa, tidak peduli karyanya dianggap rendahan, tidak mengurusi skandal sastra yang bakal menghabiskan energi dan waktunya untuk berkarya. Yang penting buatnya ialah dia terus belajar memperbaiki diri, merevisi karya-karya yang masih ditolak, agar pada akhirnya bisa terbit dan menghasilkan manfaat.

Saran
* Berhentilah bila menulis tidak menguntungkan, tidak berguna, atau tidak menjadi hasrat yang sangat kuat buat diri sendiri. Tinggalkan saja. Ada banyak hal lain di dunia ini yang sama-sama menarik untuk dieksplorasi selain menulis. Richard Oh menyatakan, ‘Kamu pasti tak pernah mempertanyakan soal penulisan bila kamu sendiri terdorong untuk menulis. Ia ada di dalam dirimu. Ini rasanya seperti kalau kamu tidak menulis maka ada sesuatu dalam dirimu yang mendadak mau mati.’

Dunia menulis bukan untuk orang yang suka mengandalkan atau mengira bahwa semua ini bisa diambil gratis begitu saja.

* Belajar dari kegagalan. Ambil masukan dari kritik paling pahit yang pernah Anda terima.
Brian Hill dan Dee Power bilang: Kegigihan merupakan kunci utama keberhasilan para penulis sukses.

* Bertanyalah kepada teman dekat yang mau mengkritik terus terang dan jujur,
editor, pembaca kritis, para ahli, atau bagian marketing penerbit kenapa kira-kira tulisan Anda bisa sampai gagal.

* Kalau serius mau jadi penulis profesional, terimalah setiap tawaran untuk menulis. Apa pun jenisnya. Kerjakan sebaik mungkin. Setiap jenis tulisan punya tantangan masing-masing. Dari tantangan itu penulis bisa belajar tentang banyak hal, seperti cara mengatasi masalah menulis, belajar hal baru, mengolah informasi dan data, membungkus fakta, menyampaikan maksud, berkompromi dengan pihak lain, termasuk mencari baru mengungkapkan sesuatu.

 


* Berdasarkan pengalaman, apa saja yang biasanya jadi inspirasi menulis?
Apa saja, dari hal yang sangat sepele seperti membaca surat cinta, soal rapido, pertanyaan simpel dan terdengar bodoh, ngobrol atau dengar cerita sopir, sampai hal-hal yang barangkali di luar pemahaman penulis sendiri, misalnya soal virus, kosmos, membuat opini, budaya, stem sel, atau pengalaman mistik dan mimpi-mimpi yang ajaib.

Inspirasi bisa datang begitu saja, terus menghantui untuk segera dituntaskan, atau malah langsung disodorkan ke hadapan penulis, entah lewat order, setelah ngobrol seru dengan kawan, baca buku, nonton film, dengar album musik yang hebat dan menggugah. Juga dari semua denyut kehidupan.

* Masalah apa yang sering muncul dan dialami penulis? Apa solusinya?
Penghalang terbesar penulis ialah kemalasan. Buktinya adalah aku sendiri. Ada berapa proyek penulisan yang gagal, ada berapa editan yang tidak selesai,  berapa banyak draft yang belum beres atau akhirnya didelete, juga berbagai kesempatan yang batal menjadi keuntungan atau tambahan income.

Kalau penulis berhasil mengalahkan kemalasan, writer’s block hanya jadi cerita, karena penulis seperti akan terus mendapat energi dan inspirasi untuk menyelesaikan tulisan.

Masalah serius lain ialah menemukan/membentuk jalan cerita. Untuk ini penulis harus terus belajar menulis dan mencari berbagai cara untuk menyampaikan maksud dengan jernih, lentur, dan imajinatif. Penulis harus menemukan karakternya sendiri, ciri khasnya. Untuk bisa menuturkan cerita tulisan yang bisa membetot pembaca, terus memukau dari awal hingga akhir jelas butuh teknik tertentu, inovasi, eksperimen, pengulangan, bolak-balik, kalau perlu berguru secara khusus kepada penulis senior atau guru menulis.

Obat mujarabnya? Bawa terus notes. Catat yang mau ditulis. Keep your hand moving!

--Anwar Holid, dulu ikut SKAU---unit pendahulu Aksara Salman ITB. Sekarang editor di Penerbit Rosda Bandung.