Showing posts with label buku. Show all posts
Showing posts with label buku. Show all posts

Friday, April 17, 2026

Juned, Rubin, dan Filter Informasi 

Oleh: Anwar Holid 



Juned berdiri di depan rak sebuah toko buku impor di mal dekat tempat tinggalnya. Dia sengaja ke sana karena sudah beberapa bulan tidak mampir ke toko buku, tempat favoritnya, meski sangat selektif sebelum memutuskan beli. Matanya melongo waktu melihat sebuah buku di area yang dikasih tanda 'Non-Fiction - Best Seller.' Hard cover. Desain sampulnya simpel, tapi sangat kuat. Berwarna putih pudar, hanya ada lingkaran dengan titik di tengah. Di kanan atas tertulis: The Creative Act: A Way of Being. Di kanan bawah tertulis: Rick Rubin. Gambar itu langsung mengingatkannya pada CD atau piringan hitam. Pada target atau fokus. Sementara di sampul belakang hanya ada lingkaran tanpa titik, tanpa sinopsis, tanpa endorsement.

Ia ambil buku itu. Dipegang-pegang. Perasaannya meronta-ronta. Segera ia tertarik. Kebetulan sudah tidak dibungkus plastik. Lembar-lembar halaman ia buka-buka dan matanya berusaha mencerap isi dalam sekejap. Juned terpaku sejenak, bibirnya seperti senyum-senyum tanpa ada yang meminta. Waktu di toko buku itu seakan melambat. Istri Juned yang ada di sampingnya memperhatikan tingkahnya. Ia ikut melirik buku yang dibuka-buka Juned. Ia penasaran apa yang membuat suaminya langsung tertarik pada buku itu. Lantas beberapa saat kemudian waktu pecah. Mereka bertatapan. Juned menoleh pada istrinya.

"Apa??" kata dia sambil tersenyum, "kamu tahu Rick Rubin enggak?" Telunjuknya mengarah pada tulisan nama yang tertera di sampul.

"Enggak. Emang siapa dia?" tanya istrinya dengan nada polos.

Juned tertawa kecil, lalu berkata, "Sayang kan lagi tahu banyak banget tentang Ammar Zoni, dari A sampai Z. Sementara aku cuma dengar namanya, tahu sekilas soal skandalnya. Nah, aku tahu jauh lebih banyak tentang Rick Rubin daripada kamu."  Suara Juned terdengar puas. Istrinya mesem sambil tertawa kecil. Ucapan Juned tambah bikin ia penasaran.

"Memang siapa Rick Rubin?" tanyanya lagi.

Juned tertawa lebar. Istrinya makin aneh melihat Juned. Juned gembira ada sesuatu yang dia ketahui cukup banyak, tapi istrinya tidak tahu apa-apa tentang hal itu. Lantas Juned menyadari betapa topik yang menarik perhatian mereka berdua ternyata bisa sangat berbeda, meskipun mereka hidup bersama.



Juned pertama kali tahu nama Rick Rubin lebih dari 30 tahun lalu, saat ia baru dewasa dan suka membaca kredit informasi di sampul album-album musik favoritnya. Rubin adalah produser musik legendaris dengan reputasi luar biasa di industri musik dunia. Ia dikenal karena pendekatan produksinya inovatif. Ia membantu menciptakan album-album ikonik dan hebat dari berbagai genre, mulai dari rock, hip-hop, hingga heavy metal. Banyak musisi/band yang pernah bekerja sama dengan Rubin ialah favorit Juned, seperti The Cult, Slayer, Red Hot Chili Peppers, Audioslave, Metallica, Linkin Park, dan lain-lain. Daftar panjangnya silakan cek di Wikipedia. Rubin bahkan memproduksi album Adelle, penyanyi pop yang lagunya sering tak sengaja didengar Juned meski dia tak menginginkannya. Album terakhir Black Sabbath juga diproduseri Rubin.

Bagi Juned, Rubin adalah sosok yang merevolusi cara musik diciptakan. Karena itu begitu melihat
The Creative Act, Juned langsung merasa terikat. Bisa dibilang Rubin identik dengan album berkelas. Grammy Award dan ulasan critically acclaimed adalah buktinya. Meski tidak lepas dari kritik atau kontroversi, Rubin bersih dari skandal murahan. Trivia yang pernah Juned dengar tentang Rubin cuma ketika dia menahan Dave Lombardo agar tidak ke luar dari Slayer dengan memberinya bonus mobil dan melunasi kebutuhan hidupnya.

Juned heran bila seseorang jadi berita viral karena skandal, entah cekcok perkawinan, seks, kriminalitas, atau narkoba. Lebih aneh lagi ada banyak orang mengonsumsi berita itu seperti pil yang harus diminum tiga kali sehari. Padahal seseorang lain berada di luar radar perhatian berkat kerja hebat di belakang layar. Apa orang seperti Rubin sembunyi di balik studio dan membiarkan agar karyanya saja yang bicara?

Istrinya merasa penting untuk terus mengikuti berita dan komentar netizen tentang kasus yang dialami selebrita, sehingga membentuk pengetahuan 'secara utuh' dari berbagai sudut pandang. Tapi, bagi Juned itu adalah sampah, tak lebih dari informasi liar tanpa ada validasi antara yang jelas dan prasangka. Sebaliknya, pengetahuan tentang peran dan idealisme seseorang seperti Rick Rubin dinilai berharga bagi Juned, tapi tak berarti apa-apa bagi istrinya. Juned membatasi diri dari berita selebrita, sementara istrinya justru menelisik lebih dalam. Istrinya lebih suka menyerap info tentang resep, cara memasak dan membuat kerajinan, sementara Juned lebih suka membaca tulisan-tulisan panjang di WAG yang diikutinya.

Fenomena Juned dan istrinya membuktikan bahwa setiap orang memiliki minat pada informasi yang berbeda, meski mereka hidup bersama dan berbagi rutinitas. Ada informasi yang tidak beririsan dalam kehidupan mereka. Informasi yang dinilai berharga bagi seseorang bisa tidak berarti bahkan bagi orang terdekat sekalipun. Setiap individu memiliki filter informasi sendiri, memilih apa yang ingin diserap berdasarkan minat, pengalaman, atau sesuatu yang sedang dicari. Peluang inilah yang diolah dan terus diproduksi oleh penulis atau konten kreator, sementara platform berita dan media sosial memancing selera dan pilihan berdasarkan algoritma sampai muncul di beranda. Keputusan terakhir ada di tangan pemirsa.[]

 

Anwar Holid, bekerja sebagai editor dan penulis. Blog: halamanganjil.blogspot.com. IG: @anwarholid.

 

Monday, June 19, 2017


Komentar Atas Buku Suara dari Marjin 
Oleh: Satria Dharma


Suara dari Marjin: Literasi sebagai Praktik Sosial
Penulis: Sofie Dewayani & Pratiwi Retnaningdyah
Penerbit: PT Remaja Rosdakarya, Bandung
Halaman: 229
Tahun terbit: Mei 2017
Harga: Rp78.500
ISBN: 978-602-446-048-8


Apa itu literasi dan mengapa harus ‘dibumikan’? Literasi selama ini memang boleh dikata hanya berupa definisi canggih yang belum benar-benar membumi.  Ia hanya dikunyah-kunyah dan dirumus-rumuskan oleh para akademisi di menara gadingnya.

Tentu saja kegiatan literasi telah ada sebelumnya dan itu bisa dijejaki pada zaman-zaman sebelumnya. Tapi itu masih merupakan inisiatif-inisiatif perorangan yang sangat elitis, belum merupakan sebuah gerakan, apalagi berlandaskan semangat keagamaan atau spiritual seperti dalam Islam.

Bangsa mana saja yang memiliki budaya literasi tinggi akan menjadi bangsa maju dan berkembang, sebaliknya bangsa yang meninggalkannya akan tertinggal. Literasi menjadi tonggak kebangkitan peradaban, baik di dunia Barat maupun di dunia Islam. Jadi upaya membangun bangsa sejatinya ialah membangun kembali budaya literasi umat atau bangsa ini agar kejayaan dapat kita raih kembali.

Rod Welford, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Queensland, Australia, telah memberi perhatian khusus untuk literasi. Ia berkata :“Literacy is at the heart of a student’s ability to learn and succeed in school and beyond. It is essential we give every student from Prep to Year 12 the best chance to master literacy so they can meet the challenges of 21st century life.”

Literasi adalah inti atau jantungnya kemampuan siswa untuk belajar dan berhasil dalam sekolah dan sesudahnya. Tanpa kemampuan literasi yang memadai, siswa tidak akan dapat menghadapi tantangan-tantangan Abad Ke-21. Intinya, kemampuan literasi adalah modal utama bagi generasi muda untuk memenangkan tantangan abad 21. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Queensland telah mengeluarkan buku Literacy the Key to Learning: Framework for Action untuk digunakan sebagai acuan pendidikan mereka pada tahun 2006-2008.

Bagaimana dengan pendidikan literasi di Indonesia?

Rendahnya reading literacy bangsa kita saat ini dan di masa depan akan membuat rendahnya daya saing bangsa dalam persaingan global. “70 persen anak Indonesia sulit hidup di Abad Ke-21,” demikian kata Prof. Iwan Pranoto. Peringkat siswa kita di tes PISA terus berada di bawah sejak tahun 2000 sampai sekarang.

Alhamdulillah, sejak turunnya Permendikbud 23/2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti yang mencantumkan adanya kewajiban bagi sekolah untuk membudayakan membaca melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS), maraklah kegiatan literasi di berbagai daerah, utamanya di sekolah-sekolah. Gerakan Literasi Sekolah ini bak oasis bagi hilangnya budaya membaca dan menulis bagi siswa di sekolah selama ini.

Sejak gerakan Gerakan Literasi Sekolah diluncurkan, berbagai daerah seolah berlomba untuk menunjukkan gairah membaca dan menulis siswa dan guru. Contoh, sejak dideklarasikan sebagai Provinsi Literasi setahun lalu, DKI Jakarta berhasil mendorong siswanya untuk membaca sebanyak satu juta buku. Di Surabaya program Tantangan Membaca Surabaya 2015 berhasil memotivasi 39.000 lebih siswa membaca 20 buku per orang. Siswa di SMAN 5 Surabaya berhasil membaca 1.851 buku hanya dalam dua bulan. Berbagai sekolah berhasil mendorong siswanya untuk menulis dan menerbitkan karya tulis dalam bentuk buku. Untuk guru program SAGUSABU (Satu Guru Satu Buku) yang digawangi oleh Media Guru dan SAGUSABU yang dilaksanakan oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) berhasil mendorong ribuan guru untuk mulai menulis dan menerbitkan buku mereka sendiri. Literasi telah dibumikan kembali setelah selama ini menghilang dan tidak pernah dipahami urgensinya.

Buku Suara dari Marjin ini unik dan menarik karena ditulis oleh dua orang doktor di bidang bahasa yang sama-sama menggawangi program Gerakan Literasi Sekolah. Tentu saja mereka berdua sangat otoritatif untuk berbicara tentang literasi dan bagaimana membumikannya karena sama-sama berprofesi sebagai dosen yang mengajarkan kemampuan literasi. Yang lebih unik adalah bahwa buku ini berangkat dari penulisan ulang disertasi mereka ketika mengambil program doktor. Sofie di University of Illinois at Urbana-Champaign, Amerika Serikat, Pratiwi di University of Melbourne, Australia. Yang membuatnya sangat menarik adalah bahwa penulisan ulang disertasi ini dilakukan dengan gaya bahasa populer yang membuatnya seperti sebuah novel saja laiknya. 

Buku ini sangat penting untuk dibaca oleh para pengambil kebijakan pendidikan, pelaku pendidikan, maupun para aktivis yang bergerak di bidang pendidikan, baik di sekolah maupun masyarakat. Pemahaman akan konsep literasi yang kontekstual dan autentik dari para pemangku kepentingan di bidang pendidikan akan mampu memberikan arahan dalam upaya untuk memberdayakan masyarakat dalam kegiatan literasi. Apa yang telah dilakukan pemerintah melalu berbagai programnya akan diperkuat dan diperkaya oleh praktik literasi lokal yang mengakar pada praktik budaya dan jati diri bangsa.

Satria Dharma, Penggagas Gerakan Literasi Sekolah – IGI (Ikatan Guru Indonesia).

Tuesday, January 10, 2017

Editor, Orang Gila, dan Sebuah Kamus
Kisah Seru di Balik Kelahiran Oxford English Dictionary
---Anwar Holid

The Professor and The Madman
Judul asli: The Professor and the Madman: A Tale of Murder, Insanity, and the Making of the Oxford English Dictionary
Penulis: Simon Winchester
Penerjemah: Bern Hidayat
Penerbit: Serambi, Januari 2007
Halaman: 341
ISBN: 979-1112-53-3

Ada ungkapan tentang buku, yaitu Habent sua fata libelli. Artinya: buku punya nasibnya sendiri-sendiri. Setiap buku punya cerita masing-masing kenapa ia mesti hadir dan akhirnya dibaca orang yang sempat melakukannya. Memang mustahil bila semua buku yang ada di dunia ini sempat dibaca semua orang, meski itu buku paling terkenal dan paling laris sekalipun. Tapi sudah banyak buku berisi cerita tentang sebuah buku tertentu maupun berbagai buku lain. Kini juga mulai biasa muncul buku beranotasi tentang suatu buku yang dianggap menarik untuk 'ditemani.' Namun kesan yang umum muncul ialah 'buku tentang buku lain' biasanya dianggap lebih inferior ketimbang buku yang dibahas. Contoh: buku tentang Al-Quran biasanya dinilai lebih rendah dibanding Al-Quran itu sendiri. Jadi lebih baik orang juga langsung bersentuhan dengan subjek bahasannya. Jarang ada buku tentang buku yang benar-benar kuat dan mandiri, atau malah sama menarik dengan buku yang dibahas.

The Professor and The Madman dengan sangat menarik dan rinci menceritakan tentang pembuatan Oxford English Dictionary, sebuah kamus legendaris luar biasa tebal yang biasa disebut dengan OED. Lebih dari itu, buku ini menemukan banyak kisah seru di balik para editor dan kontributor (relawan), institusi literer, yang puluhan tahun bahu-membahu hendak menciptakan kamus paling hebat sedunia. Inti kisah paling menarik itu ialah antara James Murray, editor kepala proyek OED tersebut, dengan Dr. William Chester Minor, kontributor yang boleh dibilang paling penting dalam penyusunan OED, sebab ternyata sejak pertama jadi relawan OED dia adalah pasien Rumah Sakit Jiwa Kriminal Broadmoor. Dia memang menghuni RS itu setelah melakukan pembunuhan atas George Merret, seorang penduduk Lambeth Marsh, kawasan kumuh pinggiran London. Minor mulai membantu mencarikan kutipan-kutipan untuk OED sekitar 1880, dan terus bekerja secara sistematik dalam sel sekaligus perpustakaannya, biarpun dia didera skizofrenia yang di ujung hidupnya begitu parah.

Bagaimana ceritanya dua orang yang bak bumi dan langit ini bisa bekerja sama, sampai akhirnya bertemu? Inilah yang diceritakan Simon Winchester dengan sangat menarik. Winchester bertindak sebagai detektif yang berusaha melakukan reka ulang atas semua peristiwa penting, baik terhadap pembunuhan, upaya awal pembuatan kamus besar, biografi Murray dan Minor---dengan hasil menakjubkan. Lebih menarik lagi karena kisah itu terjadi pada zaman Victoria, yang tentu saja harus direka ulang dengan ketelitian luar biasa, hati-hati, meskipun tetap imajinatif dan merangsang rasa penasaran.

Winchester mesti bergumul dengan tumpukan arsip bulukan, penelusuran literatur, membaca rujukan kuno, bahkan berhadap-hadapan dengan berbagai institusi congkak karena menganggap arsip yang dibutuhkan Winchester itu masuk kategori rahasia dan tertutup bagi siapapun. Untunglah Tuhan memberkatinya, hingga dia mengalami sejumlah kejadian mengejutkan, misal mendadak mendapat kiriman arsip yang persis dia butuhkan, atau mendapat bantuan orang-orang yang menghargai niat baiknya. Berbekal semua bahan itu dia mengira-ngira dengan jeli seperti apa kejadian dramatik itu berlangsung, dan akhirnya tersusunlah buku yang mirip sebagai novel sejarah.

Buku Winchester ini masuk kategori nonfiksi, karena dia menulis berdasar fakta, bertumpuk-tumpuk data dan analisis, sementara hukum nonfiksi ialah dilarang bohong. Dia menulis selentur novel berkualitas tinggi, menghadirkan rangkaian kisah begitu lancar, tanpa sandungan sama sekali. Edisi Indonesia buku ini citranya agak dibelokkan sebagai novel, mungkin dengan harapan agar calon pembaca tertarik pada cerita pembunuhan dan kegilaan, dibandingkan pembuatan sebuah kamus. Tindakan Serambi mirip yang dilakukan GPU tatkala menerbitkan Angsa-Angsa Liar (Jung Chang), yang dikategorikan "fiksi dewasa."

Persoalannya dalam konteks Indonesia ialah: siapa mau peduli tentang OED? Ini tantangan amat berat bagi sebuah buku yang memilih subjek tentang hal yang terasa asing di masyarakat Indonesia. Mungkin hanya sebagian kecil orang Indonesia yang bisa dengan baik membayangkan OED dalam kepalanya. Mereka boleh jadi mahasiswa sastra Inggris, penggila buku, atau malah lembaga dengan koleksi pustaka mengagumkan. Maka klaim bahwa OED jadi acuan para hakim, pembuat undang-undang, cendekiawan, filsuf, dan pengarang itu mengacu pada peradaban Barat, terutama Inggris dan AS. Dengan iming-iming apa pun, rasanya sulit memancing rasa penasaran orang Indonesia umum terhadap OED. Mungkin buku Winchester ini baru menarik perhatian terutama sekali bagi para penggila buku dan jurnalis. Dunia tulis-menulis biasanya mudah dipancing dengan kisah menakjubkan tentang buku dan literer. Di dunia perbukuan, OED merupakan salah satu kisah agung yang bakal membuat pikiran siapa pun terkagum-kagum. Mereka yang tertarik dengan bahasa, kepenulisan, penerbitan, pastilah ingin tahu tentang hal itu.

OED merupakan proyek ambisius sebuah bahasa negara yang karena saking besar, di luar dugaan ternyata banyak juga melahirkan banyak penulis tersohor. J.R.R. Tolkien, penulis The Lord of the Rings, aslinya seorang filologis dari Universitas Oxford dan pernah jadi pegawai OED bagian riset etimologi (ilmu bahasa yang mencari asal-usul kata.) Julian Barnes, novelis kontemporer Inggris, juga pernah jadi pegawai OED, meski dia mengaku benci kerja di sana.

Selain mampu menggali kedalaman batin Murray maupun Minor, Winchester juga membongkar mitos tentang kedua tokoh tersebut, selain tentu saja memposisikan betapa penting arti OED bagi bangsa Inggris. Sebelum OED lahir pun bangsa Inggris telah memiliki tradisi dan warisan sastra yang kaya. Munculnya kamus itu menguatkan bahasa Inggris di bidang ilmiah dan sosial-politik.

Simon Winchester sendiri merupakan penulis nonfiksi sarat pengabdian. Karir kepenulisannya diawali sebagai koresponden luar negeri untuk koran The Guardian, sebelum akhirnya menulis sejumlah buku dan jadi kontributor media seperti National Geographic, Smithsonian Magazine, dan resensi buku di The New York Times---koran yang melahirkan standar buku bestseller. Walau telah menulis beberapa buku sebelumnya, The Professor and The Madman merupakan sukses utama pertamanya. Judul ini digunakan untuk edisi AS dan internasional, sementara aslinya di Inggris berjudul The Surgeon of Crowthorne (Ahli Bedah dari Crowthorne.) Crowthorne adalah county tempat RSJ Broadmoor berada. Kemudian dia menulis sekuel buku itu, yaitu The Meaning of Everything: The Story of the Oxford English Dictionary. Berkat pengabdian di dunia jurnalisme dan literatur, Ratu Elizabeth II menganugerahi dia gelar OBE (Order of the British Empire), penghargaan tertinggi bagi warga sipil kerajaan Inggris.[]

Note: Ilustrasi dari Internet

---Anwar Holid, bekerja sebagai penyunting, penulis, dan publisis. Tinggal di Bandung.

Thursday, November 17, 2016


MENGAMPLAS TULISAN
--Anwar Holid

Beberapa waktu lalu aku mengisi workshop menyunting (editing) tulisan. Sebenarnya aku lebih suka berbagi dengan peserta. Aku yakin mereka pun pasti memiliki pengalaman, ilmu, dan keyakinan yang perlu aku serap. Jadi alih-alih berceramah, aku berusaha memancing agar peserta giat berpendapat.

Menyunting merupakan bagian penting dari penerbitan dan industri penerbitan (seperti buku, media massa, dan content provider) membutuhkan penyunting andal. Nyatanya masih banyak pertanyaan mengenai penyuntingan, bahkan bagi orang yang telah lama menggeluti penerbitan dan tulis-menulis sekalipun. Ada saja kasus menarik dalam penyuntingan, misalnya kekecewaan penulis atas kinerja penyunting, deadline yang harus dihadapi penyunting, bahkan risiko kerugian yang harus ditanggung penerbit.

Photo by Wartax, aka Anwar Holid


Berikut ini beberapa poin yang mencuat dari workshop itu.

* Apa itu menyunting tulisan?
Menyunting merupakan langkah ke-2 setelah menulis selesai tercurahkan. Saat menyunting kita memutuskan apa yang terbaik untuk sebuah tulisan.

Pada intinya menyunting tulisan ialah memeriksa dan menyiapkan tulisan hingga layak terbit atau enak dibaca. Yang paling harus diperhatikan dalam persiapan itu ialah isi dan bahasa (cara menyampaikannya). Dalam persiapan itu kita melakukan sejumlah hal, di antaranya ialah memeriksa subjek (gagasan) tulisan, kejelasan akurasi data (informasi), dan keluwesan cara menuturkan/menyampaikannya.

* Apa guna menyunting tulisan?
Fungsi paling penting dari menyunting ialah menghindari kesalahan ketika terbit. Jika kesalahan ditemukan setelah terbit dan dikritik pembaca, hal itu merepotkan penulis, editor, dan media bersangkutan. Kredibilitasnya jadi turun. Dalam kasus yang parah karena kesalahannya fatal, media/penulis harus membuat ralat (errata), bisa dituntut, penulis maupun editor dipecat, media kehilangan kepercayaan pembaca, pasar, dan pelanggan (pengiklan). Jika sudah begitu, penulis dan media bisa mati, karena ia tidak dipercaya lagi.

Menyunting memungkinkan penulis menangkap gagasan terbaiknya, menjaga agar tulisannya fokus, tahu persis agar pesan di dalamnya tersampaikan dengan baik, bagaimana cara penulis mengungkapkan gagasan dan menjelajahi subjeknya.

* Apa saja yang perlu diperhatikan kala menyunting tulisan?
- Kejujuran (integritas).
Penulis dilarang menyampaikan kebohongan (hoax), memelintir fakta, menyesatkan pembaca atas sesuatu. Meski wajar bila penulis punya sudut pandang (perspektif) lain terhadap suatu subjek dan hal itu membuat tulisannya berbeda atau bertentangan dengan tulisan/penulis lain, tapi itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menyampaikan kebohongan. Perpektif lain mestinya memberi pengayaan terhadap suatu fakta, agar melahirkan pemahaman yang lebih utuh pada pembaca.

Selama integritas penulis terjaga dan berani bertanggung jawab, penulis boleh mengungkapkannya.

- Kejernihan menyampaikan gagasan.
Kejernihan menuturkan gagasan dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya ialah
keringkasan (tidak bertele-tele, langsung), kepaduan tulisan (koherensi) sehingga menghasilkan tulisan yang utuh, tidak jomplang, konsistensi, kejujuran, dan sebisa mungkin bersih dari kesalahan menulis (baik salah tulis atau tanda baca).

- Menyampaikan gagasan secara halus dan persuasif.
Kemampuan ini dipengaruhi oleh kepekaan terhadap bahasa dan kata. Penulis mesti awas pada efek bahasa, dan kemungkinan penerimaan pembaca terhadap cara ungkap yang disampaikannya. Tulisan mempengaruhi orang. Pilihan kata (diksi) punya efek dan makna tertentu. Tulisan bisa menyejukkan dan memanaskan pembaca. Tulisan akan sia-sia bila efeknya malah menggagalkan misi penulis yang sebenarnya.

* Apa peran penyunting (editor), khususnya bagi seorang penulis, dan umumnya bagi dunia literasi?
- Peran terpenting penyunting ialah menjaga tulisan agar fokus, jernih, tidak bikin pening ketika dibaca. 
Penyunting mesti menghindarkan segala hal yang bisa membuat tulisan jadi jelek. Ia berhati-hati atau menggunakan perspektif yang lebih luas agar sebuah tulisan jadi pembeda, punya daya tawar dan nilai lebih, segar, juga mengungkapkan informasi berharga yang luput tersampaikan di tulisan lain.

Dalam konteks lebih luas, menyunting membuat pembaca jadi lebih waras.[]

Anwar Holid kini bekerja sebagai editor di Penerbit Rosda, Bandung.

Monday, September 28, 2015



Numpang Mobil Pak Direktur Penerbit
--Anwar Holid

Beberapa hari lalu aku ke Jakarta numpang mobil seorang direktur penerbit. Jujur saja, nama penerbitnya itu masih asing, kurang terkenal, dan sama sekali bukan tipe penerbit favoritku. Tapi apalah arti seleraku dibanding keberhasilan seseorang menumbuhkan dan merawat perusahaannya? Tentu aku harus salut atas keberhasilannya.

Aku baru berkenalan dengan pak direktur ini karena kami sama-sama aktif di sebuah grup penerbitan. Aku mendapati beliau ternyata mudah akrab dan suka bicara banyak hal, termasuk soal perusahaan dan kisahnya menjadi pelaku industri penerbitan. Karena baru kenal, aku menerima begitu saja ceritanya dan menganggap itu sebagai kebenaran. Selama di perjalanan aku coba tertarik pada ceritanya dengan sekali-kali sengaja memancing lebih dalam bagaimana dia mendirikan dan membangun perusahaannya. Awalnya aku menyangka akan mendengar omongan bombastik seorang bos atas kesuksesannya---apa pun tarafnya---tapi ternyata tidak. Yang aku dengar malah cerita seseorang yang antusias bagaimana dirinya terlibat dengan dunia buku dan bagaimana ia mencari celah ladang penghidupan di dalamnya.

Ceritanya waktu masih mahasiswa di salah satu universitas paling top di negeri ini, ia mencari tambahan uang saku dengan menjual buku dari masjid ke masjid yang bertebaran di seputar kampus dan kotanya. Sebagai aktivis kampus, dia selalu ingin praktik membuktikan bacaan, pengetahuan, dan idealisme. Sebagai mahasiswa, dia ingin mengenalkan dan menularkan buku-buku yang menurutnya 'mencerahkan', intelek, bisa mengangkat derajat pembacanya ke level di atas rata-rata. Hasilnya? Tak ada satu pun buku yang dijajakannya laku.

Sebagai mahasiswa pejuang, dia tak menyerah dengan mudah. Dia berusaha memperbaiki cara menjual dan menawarkan. Dia yakinkan bahwa bahwa buku-buku rekomendasinya pantas dikonsumsi masyarakat yang setiap hari datang ke masjid. Bayangkan berapa banyak masjid bertebaran di kota-kota di Indonesia? Berapa besar potensi pasarnya? Makanya dia tetap semangat.

Tapi setelah dicoba berkali-kali satu-dua tahun, strateginya tak ada yang mempan. Dia kecapekan dan keberatan membawa dagangannya yang tetap saja seret. Sedikit saja bukunya laku. Dia bilang, 'Ini bagaimana? Apa dari sekian banyak orang Islam tak ada yang suka baca? Malas beli buku buat pengetahuan dan masa depannya? Apa tidak bisa dianggarkan dari uang sumbangan masyarakat? Padahal di masjid kecil sekalipun kan minimal ada Al-Quran, ada rak kecil buat menyimpan bahan bacaan.' Dia mulai mengeluh dan sedikit putus asa.

Sambil kembali membawa gembolan buku jualannya ke kamar kos, dia pikir-pikir kenapa barang dagangannya cuma laku satu-dua? Itu pun bukan jenis buku favoritnya. Akhirnya dia dalami satu demi satu isi buku jualannya. Dia cari bagian paling penting, paling relevan, atau apa isi yang kira-kira paling laku dijual. Dengan begitu dia makin tahu isi buku dan makin pintar berusaha meyakinkan orang bahwa buku itu memang dibutuhkan. Strategi ini cukup berhasil. Jualannya mulai laku. Dia menemukan celah bagaimana menjual dan memasukkan buku agar bisa dibeli baik oleh pengurus masjid ataupun jemaahnya.

Namun dari buku-buku jualannya, dia tetap heran kenapa ada jenis buku tertentu yang tetap saja seret? Mau 'digimana-gimanain' tetap saja tidak laku. Jangankan laku, dicoba yakinkan saja tetap terlalu sulit. Dan ini biasanya terjadi pada buku kelas utama, yang menurut dirinya sebagai orang terdidik, ialah buku babon yang merupakan rujukan utama, adikarya, dinilai tinggi oleh kalangan tertenu. Dengan berbagai cara pun buku itu tetap saja sulit laku---tak peduli jenisnya, entah agama, karya sastra, kajian sosial-budaya, sejarah, politik, juga sains. Ini yang salah cara jualnya, pasarnya, atau kemasan barang dagangannya?

Kesulitan menjual itu memunculkan spekulasi dalam dirinya: ada buku tertentu memang tak sesuai dengan pangsa pasar kebanyakan, tak bisa dijual massal, cuma diminati sedikit orang khusus yang punya intelektual atau ketertarikan tertentu. Sebagian besar buku ialah barang kodian. Dengan pendekatan, iming-iming, dan trik tertentu buku seperti ini mudah sekali laku---dan buku seperti inilah yang banyak-banyak akan diproduksi  penerbit.

Belajar dan berbekal pengalamannya menjual buku, dia menemukan celah penghidupan. Dia memberanikan mendirikan penerbit dan pintar-pintar bersiasat menerbitkan buku yang punya potensi pasar. Caranya? 'Saya mainkan judul, perhatikan isi bukunya seperti apa, sajikan dengan mudah, yang gampang diterima calon pembaca, jangan yang susah-susah. Alhamdulillah dengan cara ini buku kami tak ada yang numpuk di gudang.'

Bagaimana dengan buku babon yang justru merupakan bacaan favoritnya? 'Biarlah buku seperti itu diterbitkan oleh orang lain yang lebih mampu melakukannya. Saya mah begini saja.'

Dia akui penerbitnya berusaha merespons pasar secepat mungkin. Begitu lihat gejala muncul trend tertentu, segera diterbitkan buku jenis itu untuk memenuhi 'kebutuhan' pasar. Kelihatannya reaktif, tapi membuat penerbitannya dinamik, kreatif, dan terus berproduksi. Begitu trend hilang, buku jenis itu dihapus dari gudang. Dia kesulitan mencari buku yang bersifat 'abadi.' Itu sebabnya dia mengaku tak punya penulis terkemuka, yang high profile. Terbitannya pun bukan macam buku yang suka diresensi oleh kritikus kelas berat di media terkemuka. 'Bukan buku yang bisa dibawa ke Frankfurt Book Fair he he he...' katanya terkekeh merendah.

Dengan segala kerja keras dan pencapaiannya, aku tetap salut pada pak direktur ini. Beliau sudah susah-payah berusaha, setia pada profesi, belajar, dan pada tahap tertentu jauh lebih berhasil secara finansial dibanding aku---minus dia tak cerita berapa banyak utangnya. Dia juga aktif berbuat ini-itu di asosiasi penerbitan. Beliau punya perusahaan, aset, karyawan, termasuk mobil operasional---yang meskipun butut tetap bisa diandalkan buat banyak hal, termasuk aku tumpangi. Saking butut, AC mobil ini mengeluarkan hawa panas. Jadilah badan kami yang di dalamnya malah seperti dibaluri Geliga. Tapi sungguh aku tak menyesal menumpang mobil ini. Aku tak melihat ini sebagai kekurangan. Aku malah salut. Aku merasakan keramahan, keikhlasan, dan kebaikannya. Dengan mobil ini beliau menolong orang lain, membantu, melayani. Sementara aku dapat banyak hal: tumpangan gratis, cerita, dan pelajaran menarik. Buatku, mobil ini bakal jadi legendaris.[]

Foto ilustrasi milik Terra Tones. Sumber: Internet.