Saturday, August 07, 2010
---Anwar Holid
Kalau diberi kesempatan, naskah seperti apa yang akan kamu terbitkan? Jawabannya: aku mau menerbitkan semua buku yang aku inginkan.
Mimpi! Kenyataan tak semudah itu. Penerbit merupakan lembaga bisnis yang bertaruh dengan uang. Ia berhitung untung-rugi. Setiap penerbit punya selera dan ketentuan sendiri. Jujur, penerbit manapun lebih suka menerbitkan naskah yang sudah dijamin biaya produksinya---misal oleh penulis sendiri, pemodal, atau pihak lain yang berkepentingan---daripada harus menerbitkan naskah yang pasarnya belum jelas, butuh energi, dan biaya besar untuk balik modal. Kecenderungan ini terbukti dari banyaknya naskah pesanan, padahal editor sudah kerap memberi tahu bahwa naskahnya tidak layak dan teknik penulisannya payah. Tapi karena penerbit pasti mendapat untung tanpa perlu susah-susah menjualnya, naskah itu tetap harus terbit, bahkan kerap dirayakan dengan gegap gempita.
Buku yang terbit kadang-kadang tak ada hubungannya dengan naskah baik atau buruk. Sering penerbit hanya butuh naskah laku, yang langsung bisa meyakinkan bakal mendatangkan uang, menghasilkan bonus, terjual ratusan ribu kopi, dan memasarkannya dengan semangat. Mau naskah sebagus apa pun, semulia apa pun, kalau dinilai tak mendatangkan untung tak bakal diterbitkan. Kalau terpaksa diterbitkan, entah oleh penerbit profesional atau self-publishing, hasilnya sama saja: buku itu menumpuk bertahun-tahun, sebelum akhirnya akan dikilo ke tempat loak. Naskah bagus bisa berbeda dengan naskah laku, dan itu merupakan misteri bagi semua pemain industri perbukuan, meski penerbit terus berusaha menaklukannya.
Banyak buku yang dilecehkan sebagian pembaca ternyata laris di pasar, jadi bestseller, dicetak puluhan kali, mendatangkan untung miliaran rupiah bagi penerbit dan penulis. Penerbit kerap lebih tertarik dengan naskah yang punya potensi jadi bestseller daripada naskah yang dianggap baik. Untuk mendapat naskah bestseller penerbit bahkan berani menyewa penulis dan membayar kontan. Orang boleh saja menghina-hina sebuah buku rendah mutunya, kosong isinya, ditulis biasa saja, bahkan mungkin merupakan pseudosains utak-gatik-gatuk, tapi kalau buku itu laku, silakan gigit jari orang yang menghina-hina itu. Setiap buku laris pasti bakal ada susulannya; penerbit lain sangat ingin mendapat naskah sejenis itu. Penerbit selalu mencari momen bestseller, bagaimanapun caranya.
Kalau begitu, naskah seperti apa yang bisa terbit? Jawabannya jelas naskah yang bakal laku bila jadi buku. Jawaban ini bisa sangat beragam bentuknya, sebab penerbit punya pernyataan bisnis masing-masing---bahkan bisa tak malu-malu mengkhianati pernyataan itu. Contoh: ada penerbit yang berafiliasi dengan Islam malah menerbitkan buku tentang seorang Yahudi yang dianggap menghancurkan dunia Islam. Kenapa penerbit ini mau menerbitkannya? Karena dia ingin memetik keuntungan dari buku itu.
Naskah yang bisa menarik perhatian penerbit biasanya punya ciri sebagai berikut:
1/ Ditulis dengan rapi. Ini syarat mutlak. Selera editor biasanya langsung rusak bila melihat naskah yang terlalu banyak salah eja. Bila seleranya rusak, dia akan lebih kesulitan lagi menemukan permata dalam naskah itu. Wah, bukankah memperbaiki dan memoles kesalahan naskah itu tugas editor? Benar. Tapi penulis harus menolong diri sendiri dulu. Penulis dilarang membebankan persoalan elementer ini pada editor. Di sinilah pentingnya penulis harus berusaha mengetik secara disiplin dan akurat, kalau bisa tanpa kesalahan satu pun.
2/ Subjek (isi) tulisan itu jelas. Penulis mestinya mengusung ide tertentu yang fokus. Ia mau bicara apa? Bagaimana cara dia menyampaikan pemikiran? Kalau bertele-tele, banyak menyertakan hal irelevan, malah membuat kabur persoalan, editor bisa langsung menolak naskah itu atau mencorat-coretnya. Kalau cara penyampaiannya kurang greget, sementara ide ceritanya biasa, naskah itu akan mudah diabaikan. Sebaliknya, meski ide ceritanya biasa, namun disampaikan secara unik, atraktif, dengan sudut pandang menarik, kemungkinan besar naskah itu masih tetap bisa memikat. Isi naskah merupakan perhatian utama editor, sebab pada dasarnya itulah yang akan ia kemas menjadi buku yang bisa dijual, bisa ditawarkan kepada calon pembaca.
Jonathan Karp, seorang editor berpengalaman di Amerika Serikat, menyatakan: "Kami akan mati-matian berusaha menerbitkan buku yang luar biasa, karya penulis yang memiliki perspektif unik, otoritasnya diakui, dan mampu menarik perhatian orang. Karya yang bisa menjelaskan mengenai budaya kita. Ia mesti bisa menerangi, menginspirasi, memancing emosi pembaca, sekaligus menghibur. Pendapat, otoritas, maupun subjek buku itu harus tunggal, istimewa, luar biasa."
Noor H. Dee, editor di LPPH, berpendapat bahwa sebuah naskah pantas diterbitkan bila memiliki nilai kebaruan dan keunikan. Pembaca juga harus bisa mendapatkan manfaat dari naskah tersebut. "Saya lebih memilih naskah yang sedang hip (digemari) di pasaran, sebab trend pasar juga jadi pertimbangan saya," demikian ujarnya.
3/ Punya nilai lebih atau keunggulan yang bisa ditonjolkan. Ini berguna bila subjek bahasan penulis serupa dengan penulis lain, atau topik itu sudah dibahas banyak buku lain. Apa yang ditawarkan naskah ini, misalnya apa rahasia yang belum terungkap penulis lain, temuan baru, efektivitas, bahkan hal-hal sepele yang mungkin bisa diunggulkan sebagai nilai jual.
Contoh kasus: Isi Outliers (Malcolm Gladwell) kalau dilihat-lihat sangat klise, berisi pandangan manusia tentang kesuksesan. Buku motivasional atau how-to sudah membicarakannya dari banyak sisi. Tapi kenapa Outliers tetap bisa menonjol secara luar biasa dan jadi bestseller gila-gilaan? Bisa jadi karena dua hal: (1) teknik penulisannya hebat dan lincah sekali. (2) cara berpikir Gladwell unik dan cara dia menarik kesimpulan mengejutkan.
Carol Meyer dalam The Writer's Survival Manual menyebut ada tujuh faktor yang sering jadi pertimbangan editor dalam meloloskan naskah, yaitu:
1/ Apa naskah ini cocok dengan buku-buku terbitan sebelumnya? Apa penerbit pernah sukses dengan buku seperti ini? Kalau tidak, apa ada celah baru yang masuk akal untuk menerbitkan naskah ini? Bagaimana menjualnya?
2/ Apa subjek buku itu akan bisa dia edit dengan nyaman? Kalau harus outsource, apa biayanya terjangkau?
3/ Apa editor punya waktu untuk mengeditnya?
4/ Apa naskah itu ditulis dengan baik?
5/ Bagaimana kompetisi naskah sejenis di pasar?
6/ Apa subjek naskah itu sedang populer, membuka subjek baru, atau punya kemungkinan melahirkan trend baru?
7/ Apa penerbit sanggup membiayai ongkos produksinya?
****
Tak ada yang suci di dunia penerbitan. Sebuah naskah bisa terbit karena belasan alasan dan kondisinya macam-macam. Apalagi naskah apa pun bisa dipoles dan direvisi. Bahkan kerap terjadi naskah yang sebenarnya belum layak pun bisa dipaksa terbit bila ada pihak yang menginginkan atau mau membiayainya. Ingatlah buku-buku buruk yang pernah kita baca. Standarnya ialah asal naskah itu memenuhi syarat tertentu, masuk kategori cukup (tidak memalukan bila diterbitkan), bisa diupayakan, ada sesuatu yang ingin dikejar, maka naskah itu niscaya bakal terbit.
Sederhananya, bila editor menilai bahwa naskah yang dibacanya sudah cukup bagus, cukup yakin bahwa naskah itu punya nilai jual, ia akan meloloskan dan mengusulkan untuk diterbitkan. Kalau naskah disiapkan dengan baik, itu sudah cukup untuk menjadi bahan buku yang memadai. Perkara bestseller, siapa yang tahu. Banyak buku bestseller kualitas isinya biasa saja. Ada buku yang isinya bermutu tapi tak laku. Secara umum, Dari dulu buku bestseller itu tipikalnya sama: penulisannya populer, isinya mudah dipahami, cukup "ringan" waktu dibaca, menggugah (inspirasional), memberi wawasan yang segar, simpel, berorientasi pasar, bisa memenuhi selera umum seluas mungkin.
Kalau Anda mau menulis buku yang berpeluang jadi bestseller, menulislah secara populer dan informal. Pelajarilah cara menulis yang efektif-efisien. Belajarlah dari buku laris, bergurulah pada penulis, instruktur menulis, atau penerbit yang tergila-gila pada buku bestseller.
Salah satu faktor bestseller ialah karena buku itu ditulis oleh seorang ahli di bidang tertentu dan dia mampu menggunakan keahlian atau wawasannya sebagai basis untuk meyakinkan pembaca, bukan untuk pamer pengetahuan atau justru menonjol-nonjolkan betapa tinggi ilmunya. Alasan ini mungkin masih kabur. Konkretnya: carilah naskah karya seorang ahli di bidang tertentu, ditulis secara populer, banyak memiliki insight, dan segar, mungkin ia bakal mudah jadi buku bestseller.
Fakta ada banyak naskah yang awalnya ditolak puluhan editor, gagal diterbitkan penerbit tertentu, namun begitu diterima dan diterbitkan pihak lain ternyata mendapat pengakuan hebat di mana-mana, dikritik habis-habisan, atau akhirnya jadi bestseller mestinya membuka mata dan menyemangati penulis bahwa naskah yang baik itu pasti layak diterbitkan dan punya nilai jual. Karena itu teruslah menulis dan berkarya.
Keep your hand moving.[]
Anwar Holid bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis. Buku barunya yang akan terbit ialah Keep Your Hand Moving (GPU, Juli 2010). Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.
KONTAK: wartax@yahoo.com | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141
Monday, September 15, 2008

Kepentingan Penerbit,
Keinginan Peresensi
Mencari pola kerja sama yang pas dan fleksibel antara penerbit dan peresensi merupakan tema pertemuan peresensi Penerbit Matahati, yang diadakan di perpustakaan Bale Pustaka, Bandung, 28 Agustus 2008. Di awal berdiri, Matahati boleh jadi paling dikenal karena menerbitkan tetralogi Kisah Klan Otori (Lian Hearn.) Mereka kini menerbitkan fiksi dan nonfiksi, mulai dari genre fiksi fantastik sampai buku manajemen motivasi diri dan wawasan dunia medis. Hadirin hampir semua sekaligus merupakan blogger, dengan rentang kecenderungan antara sebagai desainer dan komikus, penulis buku dan cerpen, jurnalis, dan pendidik Buku dan tulisan sudah mengurat dalam diri mereka.
Mayoritas peresensi mengaku idealnya ingin meresensi buku yang benar-benar mereka sukai; artinya meresensi itu pada dasarnya sulit bila dipaksakan. Peresensi bahkan bisa suka rela dan senang akan meresensi buku yang mengesankan serta mampu menimbulkan impuls atau hasrat menulis. Biasanya, resensi yang lahir dari kondisi ideal itu akan persuasif, berhasil meyakinkan orang lain---terutama kawan dekat dan komunitas---bahwa pilihan dan penilaiannya tepat, dan secara alamiah merupakan tulisan yang bagus. Efeknya bisa luar biasa, antara lain menjadi word of mouth berbentuk tulisan yang sangat mempengaruhi keputusan beli pembaca. Rekomendasi kawan dekat ternyata bisa jauh lebih tepercaya dibandingkan endorsement pesohor (selebritas) sekalipun.
Boleh jadi pada kondisi seperti itulah kepentingan penerbit dan keinginan peresensi bertemu dan bernegosiasi. Penerbit berkepentingan agar produknya segera dikenal publik, diserap pasar, segera mendapat publikasi seluas mungkin, dan jadi topik pembicaraan kalangan yang disasar.
Minat terhadap jenis buku tertentu sangat berpengaruh terhadap kemauan peresensi dan mood menulis sebenarnya bisa dibentuk atau dilatih. Meski harus diakui peresensi pun bisa gagal menulis karena kurang disiplin dan profesional. Di sisi lain peresensi yang berdedikasi kerap butuh waktu untuk secara bersamaan menikmati dan menemukan inti buku, sebelum memutuskan mengulas dan menyatakan kepada publik apa buku tersebut pantas direkomendasikan atau malah dikomentari dengan pedas saking banyak hal yang bisa dikecam. Apa pun hasilnya, minimal peresensi menceritakan hasil pembacaannya. Itulah yang paling penting, bahwa sebuah buku sudah diselami, dijelajahi, masuk dalam ingatan, untuk suatu saat muncul lagi, baik dalam obrolan, berinteraksi dengan pembaca lain, atau ketika menulis.
"Keinginan menulis resensi bisa muncul begitu saja," kata Hermawan Aksan. "Ada dua jenis buku yang bisa membuat keinginan meresensi saya timbul, yaitu buku yang sangat bagus dan buku yang sangat jelek. Tentu saya berharap penerbit memproduksi buku yang bagus."
Di zaman Internet ini, peresensi yang terbiasa posting di blog (book blogger), milis, dan situs jaringan komunitas interaktif makin menemukan kekuatan daya tular. Situasinya kian hari tambah menantang dan menarik. Sebagian penulis lebih memilih media ini karena faktor kemudahan, kebebasan, informalitas, juga kemerdekaan dan sifat demokratisnya. Sudah terbukti bahwa media baru ini secara umum bisa meningkatkan publisitas buku, mempengaruhi penjualan dan reputasi, meski data resmi mengenai pengaruhnya sulit dipastikan. Sifat interaktivitas media ini memungkinkan orang langsung berkomentar, berbagi, merespons, menambah, dan mengaitkan dengan buku lain maupun subjek lain (misalnya film, musik, politik.) Di sinilah peresensi mendapat "surga", mereka bertemu dengan sesama pencinta buku.
Karakter penulisan blog yang berbeda dengan karakter media massa konvensional membuat sejumlah blogger yang mau meresensi dan menulis sesuai kriteria media tersebut merasa kerap kesulitan menembus ketentuan redaksi. Pada satu sisi, ini kerap dianggap sebagai kekurangan resensi di blog dan masih membuat penerbit pikir-pikir untuk melibatkan mereka dalam publisitas buku. Tapi bayangkan sebuah resensi yang dikirim ke milis dengan ribuan anggota atau bisa memicu respons antusias banyak orang di sebuah blog, tentu situasi seperti itu menggembirakan penerbit dan penulis bersangkutan.
Sudah terbukti tulisan di blog dan milis bisa menguatkan daya pikat buku dan menaikkan reputasi peresensi. Perhatian penerbit pada peresensi berkisar antara secara rutin mengirim buku baru dan sesuai favorit, memberi honor tambahan untuk resensi yang ditulis, dipublikasi, maupun disebar ke milis, sampai mengikat kontrak untuk jadi publisis penerbit atau judul tertentu. Mungkin menarik juga menimbang memberi insentif untuk online khusus demi mengirim resensi yang diinginkan penerbit.
Poinnya ialah apa pun bentuknya, penghargaan itu penting. Penerbit menghargai peresensi dengan pantas, pembaca merespons, sedangkan peresensi menghargai penerbit dan pembaca dengan resensi yang bagus dan informatif. Interaksi intens antara penerbit dan peresensi kerap merupakan kunci pengikat emosi kedua belah pihak.[]
Pertama kali dimuat di Republika, Minggu, 7 September 2008Foto-foto diambil dari Internet.

