Showing posts with label editing. Show all posts
Showing posts with label editing. Show all posts

Thursday, November 17, 2016


MENGAMPLAS TULISAN
--Anwar Holid

Beberapa waktu lalu aku mengisi workshop menyunting (editing) tulisan. Sebenarnya aku lebih suka berbagi dengan peserta. Aku yakin mereka pun pasti memiliki pengalaman, ilmu, dan keyakinan yang perlu aku serap. Jadi alih-alih berceramah, aku berusaha memancing agar peserta giat berpendapat.

Menyunting merupakan bagian penting dari penerbitan dan industri penerbitan (seperti buku, media massa, dan content provider) membutuhkan penyunting andal. Nyatanya masih banyak pertanyaan mengenai penyuntingan, bahkan bagi orang yang telah lama menggeluti penerbitan dan tulis-menulis sekalipun. Ada saja kasus menarik dalam penyuntingan, misalnya kekecewaan penulis atas kinerja penyunting, deadline yang harus dihadapi penyunting, bahkan risiko kerugian yang harus ditanggung penerbit.

Photo by Wartax, aka Anwar Holid


Berikut ini beberapa poin yang mencuat dari workshop itu.

* Apa itu menyunting tulisan?
Menyunting merupakan langkah ke-2 setelah menulis selesai tercurahkan. Saat menyunting kita memutuskan apa yang terbaik untuk sebuah tulisan.

Pada intinya menyunting tulisan ialah memeriksa dan menyiapkan tulisan hingga layak terbit atau enak dibaca. Yang paling harus diperhatikan dalam persiapan itu ialah isi dan bahasa (cara menyampaikannya). Dalam persiapan itu kita melakukan sejumlah hal, di antaranya ialah memeriksa subjek (gagasan) tulisan, kejelasan akurasi data (informasi), dan keluwesan cara menuturkan/menyampaikannya.

* Apa guna menyunting tulisan?
Fungsi paling penting dari menyunting ialah menghindari kesalahan ketika terbit. Jika kesalahan ditemukan setelah terbit dan dikritik pembaca, hal itu merepotkan penulis, editor, dan media bersangkutan. Kredibilitasnya jadi turun. Dalam kasus yang parah karena kesalahannya fatal, media/penulis harus membuat ralat (errata), bisa dituntut, penulis maupun editor dipecat, media kehilangan kepercayaan pembaca, pasar, dan pelanggan (pengiklan). Jika sudah begitu, penulis dan media bisa mati, karena ia tidak dipercaya lagi.

Menyunting memungkinkan penulis menangkap gagasan terbaiknya, menjaga agar tulisannya fokus, tahu persis agar pesan di dalamnya tersampaikan dengan baik, bagaimana cara penulis mengungkapkan gagasan dan menjelajahi subjeknya.

* Apa saja yang perlu diperhatikan kala menyunting tulisan?
- Kejujuran (integritas).
Penulis dilarang menyampaikan kebohongan (hoax), memelintir fakta, menyesatkan pembaca atas sesuatu. Meski wajar bila penulis punya sudut pandang (perspektif) lain terhadap suatu subjek dan hal itu membuat tulisannya berbeda atau bertentangan dengan tulisan/penulis lain, tapi itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menyampaikan kebohongan. Perpektif lain mestinya memberi pengayaan terhadap suatu fakta, agar melahirkan pemahaman yang lebih utuh pada pembaca.

Selama integritas penulis terjaga dan berani bertanggung jawab, penulis boleh mengungkapkannya.

- Kejernihan menyampaikan gagasan.
Kejernihan menuturkan gagasan dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya ialah
keringkasan (tidak bertele-tele, langsung), kepaduan tulisan (koherensi) sehingga menghasilkan tulisan yang utuh, tidak jomplang, konsistensi, kejujuran, dan sebisa mungkin bersih dari kesalahan menulis (baik salah tulis atau tanda baca).

- Menyampaikan gagasan secara halus dan persuasif.
Kemampuan ini dipengaruhi oleh kepekaan terhadap bahasa dan kata. Penulis mesti awas pada efek bahasa, dan kemungkinan penerimaan pembaca terhadap cara ungkap yang disampaikannya. Tulisan mempengaruhi orang. Pilihan kata (diksi) punya efek dan makna tertentu. Tulisan bisa menyejukkan dan memanaskan pembaca. Tulisan akan sia-sia bila efeknya malah menggagalkan misi penulis yang sebenarnya.

* Apa peran penyunting (editor), khususnya bagi seorang penulis, dan umumnya bagi dunia literasi?
- Peran terpenting penyunting ialah menjaga tulisan agar fokus, jernih, tidak bikin pening ketika dibaca. 
Penyunting mesti menghindarkan segala hal yang bisa membuat tulisan jadi jelek. Ia berhati-hati atau menggunakan perspektif yang lebih luas agar sebuah tulisan jadi pembeda, punya daya tawar dan nilai lebih, segar, juga mengungkapkan informasi berharga yang luput tersampaikan di tulisan lain.

Dalam konteks lebih luas, menyunting membuat pembaca jadi lebih waras.[]

Anwar Holid kini bekerja sebagai editor di Penerbit Rosda, Bandung.

Saturday, August 07, 2010

Kami Memburu Naskah Potensial yang Bisa Dijual
---Anwar Holid

Kalau diberi kesempatan, naskah seperti apa yang akan kamu terbitkan? Jawabannya: aku mau  menerbitkan semua buku yang aku inginkan.

Mimpi! Kenyataan tak semudah itu. Penerbit merupakan lembaga bisnis yang bertaruh dengan uang. Ia berhitung untung-rugi. Setiap penerbit punya selera dan ketentuan sendiri. Jujur, penerbit manapun lebih suka menerbitkan naskah yang sudah dijamin biaya produksinya---misal oleh penulis sendiri, pemodal, atau pihak lain yang berkepentingan---daripada harus menerbitkan naskah yang pasarnya belum jelas, butuh energi, dan biaya besar untuk balik modal. Kecenderungan ini terbukti dari banyaknya naskah pesanan, padahal editor sudah kerap memberi tahu bahwa naskahnya tidak layak dan teknik penulisannya payah. Tapi karena penerbit pasti mendapat untung tanpa perlu susah-susah menjualnya, naskah itu tetap harus terbit, bahkan kerap dirayakan dengan gegap gempita.

Buku yang terbit kadang-kadang tak ada hubungannya dengan naskah baik atau buruk. Sering penerbit hanya butuh naskah laku, yang langsung bisa meyakinkan bakal mendatangkan uang, menghasilkan bonus, terjual ratusan ribu kopi, dan memasarkannya dengan semangat. Mau naskah sebagus apa pun, semulia apa pun, kalau dinilai tak mendatangkan untung tak bakal diterbitkan. Kalau terpaksa diterbitkan, entah oleh penerbit profesional atau self-publishing, hasilnya sama saja: buku itu menumpuk bertahun-tahun, sebelum akhirnya akan dikilo ke tempat loak. Naskah bagus bisa berbeda dengan naskah laku, dan itu merupakan misteri bagi semua pemain industri perbukuan, meski penerbit terus berusaha menaklukannya.
Banyak buku yang dilecehkan sebagian pembaca ternyata laris di pasar, jadi bestseller, dicetak puluhan kali, mendatangkan untung miliaran rupiah bagi penerbit dan penulis. Penerbit kerap lebih tertarik dengan naskah yang punya potensi jadi bestseller daripada naskah yang dianggap baik. Untuk mendapat naskah bestseller penerbit bahkan berani menyewa penulis dan membayar kontan. Orang boleh saja menghina-hina sebuah buku rendah mutunya, kosong isinya, ditulis biasa saja, bahkan mungkin merupakan pseudosains utak-gatik-gatuk, tapi kalau buku itu laku, silakan gigit jari orang yang menghina-hina itu. Setiap buku laris pasti bakal ada susulannya; penerbit lain sangat ingin mendapat naskah sejenis itu. Penerbit selalu mencari momen bestseller, bagaimanapun caranya.

Kalau begitu, naskah seperti apa yang bisa terbit? Jawabannya jelas naskah yang bakal laku bila jadi buku. Jawaban ini bisa sangat beragam bentuknya, sebab penerbit punya pernyataan bisnis masing-masing---bahkan bisa tak malu-malu mengkhianati pernyataan itu. Contoh: ada penerbit yang berafiliasi dengan Islam malah menerbitkan buku tentang seorang Yahudi yang dianggap menghancurkan dunia Islam. Kenapa penerbit ini mau menerbitkannya? Karena dia ingin memetik keuntungan dari buku itu.

Naskah yang bisa menarik perhatian penerbit biasanya punya ciri sebagai berikut:
1/ Ditulis dengan rapi. Ini syarat mutlak. Selera editor biasanya langsung rusak bila melihat naskah yang terlalu banyak salah eja. Bila seleranya rusak, dia akan lebih kesulitan lagi menemukan permata dalam naskah itu. Wah, bukankah memperbaiki dan memoles kesalahan naskah itu tugas editor? Benar. Tapi penulis harus menolong diri sendiri dulu. Penulis dilarang membebankan persoalan elementer ini pada editor. Di sinilah pentingnya penulis harus berusaha mengetik secara disiplin dan akurat, kalau bisa tanpa kesalahan satu pun.

2/ Subjek (isi) tulisan itu jelas. Penulis mestinya mengusung ide tertentu yang fokus. Ia mau bicara apa? Bagaimana cara dia menyampaikan pemikiran? Kalau bertele-tele, banyak menyertakan hal irelevan, malah membuat kabur persoalan, editor bisa langsung menolak naskah itu atau mencorat-coretnya. Kalau cara penyampaiannya kurang greget, sementara ide ceritanya biasa, naskah itu akan mudah diabaikan. Sebaliknya, meski ide ceritanya biasa, namun disampaikan secara unik, atraktif, dengan sudut pandang menarik, kemungkinan besar naskah itu masih tetap bisa memikat. Isi naskah merupakan perhatian utama editor, sebab pada dasarnya itulah yang akan ia kemas menjadi buku yang bisa dijual, bisa ditawarkan kepada calon pembaca.

Jonathan Karp, seorang editor berpengalaman di Amerika Serikat, menyatakan: "Kami akan mati-matian berusaha menerbitkan buku yang luar biasa, karya penulis yang memiliki perspektif unik, otoritasnya diakui, dan mampu menarik perhatian orang. Karya yang bisa menjelaskan mengenai budaya kita. Ia mesti bisa menerangi, menginspirasi, memancing emosi pembaca, sekaligus menghibur. Pendapat, otoritas, maupun subjek buku itu harus tunggal, istimewa, luar biasa."

Noor H. Dee, editor di LPPH, berpendapat bahwa sebuah naskah pantas diterbitkan bila memiliki nilai kebaruan dan keunikan. Pembaca juga harus bisa mendapatkan manfaat dari naskah tersebut. "Saya lebih memilih naskah yang sedang hip (digemari) di pasaran, sebab trend pasar juga jadi pertimbangan saya," demikian ujarnya.

3/ Punya nilai lebih atau keunggulan yang bisa ditonjolkan. Ini berguna bila subjek bahasan penulis serupa dengan penulis lain, atau topik itu sudah dibahas banyak buku lain. Apa yang ditawarkan naskah ini, misalnya apa rahasia yang belum terungkap penulis lain, temuan baru, efektivitas, bahkan hal-hal sepele yang mungkin bisa diunggulkan sebagai nilai jual.

Contoh kasus: Isi Outliers (Malcolm Gladwell) kalau dilihat-lihat sangat klise, berisi pandangan manusia tentang kesuksesan. Buku motivasional atau how-to sudah membicarakannya dari banyak sisi. Tapi kenapa Outliers tetap bisa menonjol secara luar biasa dan jadi bestseller gila-gilaan? Bisa jadi karena dua hal: (1) teknik penulisannya hebat dan lincah sekali. (2) cara berpikir Gladwell unik dan cara dia menarik kesimpulan mengejutkan.

Carol Meyer dalam The Writer's Survival Manual menyebut ada tujuh faktor yang sering jadi pertimbangan editor dalam meloloskan naskah, yaitu:
1/ Apa naskah ini cocok dengan buku-buku terbitan sebelumnya? Apa penerbit pernah sukses dengan buku seperti ini? Kalau tidak, apa ada celah baru yang masuk akal untuk menerbitkan naskah ini? Bagaimana menjualnya?

2/ Apa subjek buku itu akan bisa dia edit dengan nyaman? Kalau harus outsource, apa biayanya terjangkau?

3/ Apa editor punya waktu untuk mengeditnya?

4/ Apa naskah itu ditulis dengan baik?

5/ Bagaimana kompetisi naskah sejenis di pasar?

6/ Apa subjek naskah itu sedang populer, membuka subjek baru, atau punya kemungkinan melahirkan trend baru?

7/ Apa penerbit sanggup membiayai ongkos produksinya?

****

Tak ada yang suci di dunia penerbitan. Sebuah naskah bisa terbit karena belasan alasan dan kondisinya macam-macam. Apalagi naskah apa pun bisa dipoles dan direvisi. Bahkan kerap terjadi naskah yang sebenarnya belum layak pun bisa dipaksa terbit bila ada pihak yang menginginkan atau mau membiayainya. Ingatlah buku-buku buruk yang pernah kita baca. Standarnya ialah asal naskah itu memenuhi syarat tertentu, masuk kategori cukup (tidak memalukan bila diterbitkan), bisa diupayakan, ada sesuatu yang ingin dikejar, maka naskah itu niscaya bakal terbit.

Sederhananya, bila editor menilai bahwa naskah yang dibacanya sudah cukup bagus, cukup yakin bahwa naskah itu punya nilai jual, ia akan meloloskan dan mengusulkan untuk diterbitkan. Kalau naskah disiapkan dengan baik, itu sudah cukup untuk menjadi bahan buku yang memadai. Perkara bestseller, siapa yang tahu. Banyak buku bestseller kualitas isinya biasa saja. Ada buku yang isinya bermutu tapi tak laku. Secara umum, Dari dulu buku bestseller itu tipikalnya sama: penulisannya populer, isinya mudah dipahami, cukup "ringan" waktu dibaca, menggugah (inspirasional), memberi wawasan yang segar, simpel, berorientasi pasar, bisa memenuhi selera umum seluas mungkin.

Kalau Anda mau menulis buku yang berpeluang jadi bestseller, menulislah secara populer dan informal. Pelajarilah cara menulis yang efektif-efisien. Belajarlah dari buku laris, bergurulah pada penulis, instruktur menulis, atau penerbit yang tergila-gila pada buku bestseller.

Salah satu faktor bestseller ialah karena buku itu ditulis oleh seorang ahli di bidang tertentu dan dia mampu menggunakan keahlian atau wawasannya sebagai basis untuk meyakinkan pembaca, bukan untuk pamer pengetahuan atau justru menonjol-nonjolkan betapa tinggi ilmunya. Alasan ini mungkin masih kabur. Konkretnya: carilah naskah karya seorang ahli di bidang tertentu, ditulis secara populer, banyak memiliki insight, dan segar, mungkin ia bakal mudah jadi buku bestseller.

Fakta ada banyak naskah yang awalnya ditolak puluhan editor, gagal diterbitkan penerbit tertentu, namun begitu diterima dan diterbitkan pihak lain ternyata mendapat pengakuan hebat di mana-mana, dikritik habis-habisan, atau akhirnya jadi bestseller mestinya membuka mata dan menyemangati penulis bahwa naskah yang baik itu pasti layak diterbitkan dan punya nilai jual. Karena itu teruslah menulis dan berkarya.

Keep your hand moving.[]

Anwar Holid bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis. Buku barunya yang akan terbit ialah Keep Your Hand Moving (GPU, Juli 2010). Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@yahoo.com | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141