Showing posts with label esai personal. Show all posts
Showing posts with label esai personal. Show all posts

Tuesday, February 27, 2024

Keutamaan The Message Of The Quran

Oleh: Anwar Holid

 

Foto: Wartax.


Pada awal Januari 2024 aku baru sempat mulai baca buku The Message Of The Quran karya Muhammad Asad (Leopold Weiss) seiring aku meneruskan ngaji Al-Qur’an masuk ke juz dua puluhan dan kini mulai baca juz 26. The Message Of The Quran merupakan salah satu buku paling tebal (1396 hal.) dan paling mahal yang pernah aku beli — itu pun aku pesan lewat ordal Mizan. Meski dulu waktu menerima semangat membuka-buka dan sempat membaca review Ulil Abshar Abdalla atas buku ini, ternyata buku ini akhirnya cukup lama cuma jadi pajangan yang jarang ditelisik dalam-dalam.

 

Waktu mulai cukup intens membaca The Message Of The Quran, aku langsung kagum dengan kejernihan dan kekuatan makna tafsir Al-Qur’an yang diungkapkan penulis. Terjemahan Al-Qur’an di buku ini memberi dimensi dan pencerahan baru dari pengetahuan yang selama ini aku baca dari terjemahan Al-Qur’an standar Departemen Agama, baik berupa tafsir terjemahan di samping ayat bahasa Arabnya maupun terjemahan kata per kata. Tentu pemahaman baru tersebut muncul berkat kualitas terjemahan yang tersampaikan dengan baik dan memuaskan. Sering Muhammad Asad menggabungkan beberapa ayat jadi satu paragraf, sehingga membuat pesan Al-Qur’an menjadi terasa lebih utuh dan lebih jelas dipahami bagi pembaca awam. Ini berbeda dengan penyajian Al-Qur'an standar Departemen Agama yang menampilkan terjemahan ayat demi ayat, sehingga kadang-kadang muncul pikiran bahwa isi ayat Al-Qur'an bisa sangat sendiri-sendiri dan terpisah dari inti surat secara keseluruhan.

 

Yang sangat menakjubkan dari Muhammad Asad ialah keluasan wawasan ilmu, pengetahuan, pertimbangan (moderasi), termasuk kedalaman bahasanya. Kualitas Asad ini tecermin dengan sempurna dari catatan kaki bukunya. Di catatan kaki ini beliau mengungkapkan secara luas sekali khazanah keilmuan, baik dari segi sejarah, kejelian memilih makna, serta komentar dan memberi  informasi berharga untuk memahami setiap ayat Al-Qur'an. Secara khusus dia melampirkan dan membahas empat hal pelik yang selama ini sangat penting untuk dipahami setiap pembaca Al-Qur'an, yaitu simbolisme dan alegori (majasi) dalam Al-Qur'an, al-muqaththa'at (huruf-huruf terpisah, seperti alif lam mim), istilah dan konsep jin, terakhir mengenai isra' mi'raj.

 

**

Seorang teman di WAG mengomentari The Message Of The Quran: Ini juga terjemahan favorit saya. Tapi, belakangan setelah lebih banyak belajar, saya mulai agak kritis membaca terjemahan Muhammad Asad ini. Yang perlu diingat adalah bahwa Muhammad Asad menafsirkan, bukan sekadar menerjemahkan. Sebagian besar terjemahan ayatnya sudah melalui proses penafsiran.

 

Untuk yang terbiasa dengan bacaan “sekuler”, terjemahan Asad ini sangat nyaman dibaca karena banyak bagian-bagian Al-Qur’an yang sifatnya di luar nalar diterjemahkan menjadi lebih rasional. Misalnya Al-Mulk ayat 5 yang umumnya diterjemahkan sebagai bercerita tentang bintang-bintang sebagai pelempar setan, oleh Asad ditafsirkan sebagai bintang-bintang sebagai bahan tebakan/ramalan oleh pengikut setan (ahli nujum).

 

Sebaliknya, terjemahan Asad ini mungkin tidak cocok bagi pengikut tasawuf. Setelah membaca-baca Futuhat al Makkiyah, saya baru paham bahwa Ibnu Arabi menerjemahkan ayat-ayat Al-Qur'an secara literal, tapi dengan takwil yang masuk entah ke akal atau ke hati.

 

**

Sekadar komentar, banyak pasase di The Message Of The Quran merupakan rangkaian panjang kalimat yang beranak-pinak dan berkoma-koma, sehingga berisiko bisa melelahkan pembacaan. memang dengan pembacaan yang hati-hati kalimat sangat panjang itu tidak membingungkan atau terasa janggal, hanya saja terasa kurang efektif.

 

Mungkin aku tidak akan bisa segera menamatkan buku ini, namun aku merasa bisa menikmatinya secara optimal tiap kali membacanya.

**
Note:

Sekilas tentang Muhammad Asad (Leopold Weiss): Muhammad Asad lahir pada 2 Juli 1900 di Galicia,  sekarang bagian dari kota Lviv, Ukraina — dulu bagian dari Kekaisaran Austro-Hongaria). Dia studi di bidang filsafat dan sejarah seni, sempat menjadi asisten perintis film (Dr. Murnau) dan genius teater (Max Reinhardt), di Berlin. Pada 1922, Asad menjadi reporter harian Frankfurter Allgemeine Zeitung, kemudian menjadi koresponden untuk negara Timur Dekat. Berkat kesan mendalam dari pengembaraannya di negara-negara Islam Timur Tengah dan Asia Tengah, dia memeluk Islam pada usia 26 tahun. Pada 1952, Asad ditunjuk mewakili Republik Islam Pakistan di Markas Besar PBB di New York sebagai Duta Besar Berkuasa Penuh. Asad wafat pada usia 92 tahun di Granada, Spanyol. Ketika menulis The Message of the Quran, dia sampai perlu tinggal bertahun-tahun dengan suku Badui Arabia demi memperoleh wawasan unik tentang semantik bahasa Al-Qur'an. Orang-orang Arab Badui memang masih banyak menggunakan bahasa Arab seperti yang dipergunakan dalam Al-Qur'an. Beberapa karyanya yang lain: The Road to Mecca, Islam at the Crossroads, The Principles of State and Government in Islam, dan Shahih Al-Bukhârî: The Early Years of Islam. Sumber: Mizanstore.[]

Tuesday, October 04, 2022

Gowes dan Khatam Al-Qur'an

Oleh: Anwar Holid

 

Pada Desember 2021 aku menargetkan khatam Al-Qur'an pada Mei 2022 (akhir Ramadhan 1443 H). Waktu itu aku indekos di Paseban, Jakarta Pusat. Indekos di situ merupakan pengalaman mengesankan, karena kosan itu memberi layanan sarapan dan makan malam, cuci-setrika, ditambah Wi-Fi (bagi yang mau). Di kosan itu hidupku simpel, tak kerepotan mencuci, setrika, bebersih di luar kamar, cari makanan, masak, dan lain-lain. Aku bisa mengisi waktu luang melakukan yang aku inginkan, seperti olahraga ringan dan baca Al-Qur'an, baik pagi sebelum berangkat kerja atau petang setelah kerja. Di kosan ini aku sempat khatam Al-Qur'an meneruskan daras sebelumnya.

                Baru sebentar ngekos di Paseban tempat kerjaku pindah kantor ke Bintaro, Tangerang Selatan. Di sini aku menempati kamar belakang kantor. Tinggal di kantor yang paling bikin sibuk ialah harus cuci-setrika sendiri dan cari makanan. Kalau mau londri harus ke luar kompleks kantor. Warung paling dekat kantor sekitar 1 km bolak-balik. Tak lama kemudian aku dapat rekomendasi katering. Jadi buat makan siang dan malam tak repot lagi.

                Bintaro adalah kawasan elite. Lingkungannya makmur, maju, tertata rapi, dan nyaman. Jalan-jalan besar beraspal mulus. Pinggiran kawasannya pun bisa dibilang rapi dan bagus, tapi masih banyak sampah berserakan di pinggir jalan dan sebagian ruas jalannya bocel-bocel. Jalan yang bagus dan tidak sangat padat lalu lintas waktu pagi membuat hobi gowesku tersalurkan dengan baik di kawasan ini. Bagi komunitas goweser, Bintaro terkenal dengan Bintaro Loop, yaitu gowes bolak-balik sepanjang Jalan Boulevard Bintaro sekitar 25 km. Rute Bintaro Loop nyambung ke kawasan elite lain di sekitar Tangerang Selatan, seperti Graha Raya, Alam Sutera, BSD, dan Mozia yang memberi kenyamanan lebih bagi pesepeda, terutama pengguna sepeda balap.

                Begitu tinggal di Bintaro hobi gowesku jadi terasa optimal. Hampir setiap pagi aku gowes sekitar satu sampai satu setengah jam. Setelah salat subuh dan beres-beres biasanya aku langsung siap-siap gowes. Aku lebih suka gowes di pinggir kawasan utama Bintaro daripada ke Bintaro Loop. Sebabnya jelas: aku tidak bisa ngebut. Kecepatan rata-rataku di bawah 20 km / jam. Lagi pula gowes ke pinggir kawasan Bintaro lebih berkelok-kelok, variatif, dan jarang berpapasan dengan mobil ngebut. Saking rutin, sejak di Bintaro aku beberapa kali berhasil memenuhi tantangan Strava gowes 800 km atau paling sering 400 km per bulan. Tanpa disadari rutinitas dan disiplin ternyata bisa menghasilkan kejutan.



                Kebiasaan gowes pagi di Bintaro segera menghapus kebiasaanku mengaji habis subuh waktu di Paseban. Akibatnya kemajuan ngajiku tersendat. Memang habis magrib aku berusaha rutin ngaji, tapi biasanya sebentar, hanya sampai menjelang salat isya tiba. Sementara sebelum magrib aku pun kadang-kadang gowes sore setelah kerja atau memilih segera ke Masjid Raya Bintaro Jaya (MRBJ) untuk membaca surat-surat tertentu sesuai keinginan sampai azan berkumandang, tidak meneruskan bacaan sebelumnya. Surat yang suka aku baca di antaranya Ar-Rahman, Al-Mulk, Al-Kahfi, dan Yasin.

                Kebiasaan baru membaca surat-surat tertentu ini mungkin dipengaruhi oleh informasi bahwa surat tersebut memberi berkah, fadhilah atau kemuliaan tertentu bagi pembacanya. Kurang jelas kenapa aku jadi terpengaruh dan tertarik oleh iming-iming berkah. Dari dulu aku kurang tergerak oleh iming-iming semacam itu. Mungkin aku kurang beramal baik, akhirnya jadi ngarep betul pada limpahan berkah. Mungkin ada yang berubah dalam diriku. Mungkin anjuran dari pengajian yang kadang-kadang aku hadiri. Mungkin dari posting wag yang aku ikuti. Mungkin dari lini masa yang melintas di media sosial.

                Karena lebih semangat dan disiplin gowes daripada rutin ngaji, khatam Al-Qur'an baru kelar pada Muharram 1444 H, padahal targetnya akhir Ramadhan 1443 H. Selain gowes, yang bikin aku tersendat melanjutkan baca Al-Qur'an ialah mengerjakan urusan sehari-hari, seperti cuci setrika, cari sarapan, dan beres-beres. Rasanya lama sekali upaya menamatkan Al-Qur'an periode kali ini. Terasa betul gowes lebih prioritas daripada upaya memahami kedalaman Al-Qur'an. Pasti karena gowes lebih mudah dan menyenangkan dilakukan daripada baca Al-Qur'an. Ironik dan mengenaskan. Seorang muslim bisa menjawab tantangan gowes 400 km per bulan, tapi kesulitan menamatkan beberapa juz Al-Qur'an dalam sebulan. Sungguh terlalu. Waktu sampai Juz Amma baru hadir rasa lega dalam diriku. Alhamdulillah, sekarang aku pelan-pelan jalan menyelesaikan juz-juz awal mengulang dan berusaha menamatkan Al-Qur'an.[]

Anwar Holid, tinggal di Bintaro, Tangerang Selatan. Blog: halamanganjil.blogspot.com. Twitter: @nwrhld. IG: @anwarholid.

Thursday, May 12, 2022

Mudik Fisik dan Spiritual

Oleh: Anwar Holid

 

Waktu kecil aku tak tahu apa itu mudik. Yang aku tahu ialah mau ketemu saudara sepupu. Karena tinggal bareng uwak, aku bisa Lebaran di Bandung, Tasik, Kuningan, atau Cijulang, Pangandaran. Tergantung mayoritas keluarga orangtua mau ngumpul di mana. Tak mesti ke Lampung, tempat tinggal orangtuaku. Jadi pas Lebaran aku belum tentu ketemu orangtua. Tergantung mereka mau kumpul bareng keluarga di Jawa atau dengan keluarga ibu di Lampung. Yang pasti, Lebaran = liburan. Suasana menyenangkan karena banyak main, ngabuburit, jalan-jajan, ketemu saudara, baik yang seumuran atau lebih tua. Dikasih hadiah. Puncaknya dapat angpau pas Lebaran.

Lebaran bareng saudara mematrikan bahwa kita merupakan bagian dari keluarga besar. Meski mungkin sebagian saudara tidak akrab, itulah keluarga sedarah kita, yang kita andalkan atau mendampingi di saat tertentu, misalnya saat kawinan, butuh bantuan, dan kematian.

 

Jalan Melaris, Lampung Timur.

Baru setelah dewasa dan (pernah) nikah, aku merasa perlu mudik. Baik ke orangtua atau mertua. Kalau tak mudik dianggap aneh. Padahal menurutku tak mudik sebenarnya baik-baik saja. Kita kan sudah punya keluarga sendiri, ngapain repot kumpul bareng keluarga lain?? Tapi ya jelas mudik punya manfaat, nilai, dan budaya sendiri, termasuk berdampak ekonomi besar. Mudik itu seru dan menyenangkan bagi anak-anak (keturunan baru), sebagaimana dulu aku juga gembira diajak mudik.

Cuma jujur ada yang aku kurang suka dari mudik. Ribet, desak-desakan, bawa gembolan, harga-harga mahal, tuslah — mungkin juga muntah, calo, kecopetan, termasuk kecelakaan mematikan. Orang bisa kelelahan dan tidur di terminal buat mudik. Di masa lalu cerita soal mudik kerap lebih dramatik, ketika moda transportasi masih belum tertata dan maju. Orang bisa berhari-hari di perjalanan sebelum tiba kelelahan sekaligus lega. Tahun lalu ada berita orang rela menyelundup di bagasi bus demi bisa mudik waktu pemerintah melarang mudik di puncak pandemi Covid-19. Apa coba poin dari mudik seperti itu?? Kangen yang membludak ke orang-orang tercinta, hingga tak tertahankan lagi? Atau karena sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi di perantauan, kehilangan usaha dan harapan, jadi lebih baik mudik saja? Aku pernah berdiri di bus ekonomi dari Merak ke Bandung, saking penuh dan malas menunggu lebih lama lagi — itu pun belum tentu dapat kursi. Itu bukan pengalaman menyenangkan waktu mudik dan arus balik. Yang juga ganjil waktu mudik ialah rasa canggung ketemu orang-orang lama yang dulu dekat, tapi karena tak pernah kontak lagi jadinya bingung mau ngobrol apa setelah ketemu, selain sekadar update status.

 

Apa mudik seperti ini yang Anda inginkan?? (Foto  dari internet.)

Dulu sebelum era sosial media tiap mudik aku bawa beberapa buku. Biasanya pilih yang tebal, karena kegiatan selama mudik juga minim. Mudik memberi waktu luang untuk bisa menghabiskan sejumlah buku yang tak sempat didalami karena tersita rutinitas dan kesibukan lain. Kegiatan yang paling sering ialah mengunjungi sanak famili, menguatkan lagi tali silaturahmi. Puncaknya berupa pertemuan keluarga besar satu bani atau arisan.

Mudik terakhir sebelum pandemi (2019) aku hanya bawa satu buku tebal, sisanya banyak baca sosial media dan ikut nyemplung. Yang mengesankan malah aku menyortir biji kopi mentah (green beans) jualan ibuku. Itu biji kopi murahan, banyak yang belah. Menyortir kopi dengan tangan butuh kesabaran dan ketelitian, sementara hasilnya sedikit. Mendapat biji kopi yang baik dan layak konsumsi butuh waktu lama. Harus dipilih, disangray, dibubukkan lebih dulu, baru kita dapat kafein dan aromanya. Kopi butuh proses panjang sebelum akhirnya diseduh atau diolah jadi minuman favorit.

Di era teknologi informasi mudik terasa lebih tergesa-gesa datangnya. Tiket untuk perjalanan masa libur panjang sudah diperebutkan jauh sebelumnya. Bikin harga jadi mahal. Memang orang tidak berdesak-desakan antre di depan loket, tapi keluhan kehabisan tiket tetap ada atau dia terpaksa bayar lebih mahal untuk mendapatkannya. Mirip dengan kondisi lama.

Dari dulu aspek yang kerap muncul saat mudik ialah pamer alias flexing. Mungkin orang pamer dengan harta, bawaan, dan kendaraan. Tapi curiga bahwa seseorang pamer menurutku problematik. Orang bisa bawa banyak barang untuk dibagi-bagi atau disumbangkan ke kerabat dan orang yang berhak. Orang bawa kendaraan mewah karena memang mampu dan demi kenyamanan perjalanan. Ia berhak, layak atas keberhasilannya, dibawa ke kampung tanpa maksud pamer. Mungkin pamer baru terasa kalau sikap orang itu sombong dan terus-menerus membanggakan pencapaiannya.

Rumah Tetangga.
 

Karena berbagai sebab sebagian orang tak bisa mudik. Mungkin dia kena musibah, kurang uang, atau terhalang karena terikat kontrak yang melarang mudik. Tenaga kerja Indonesia ada yang baru boleh mudik setelah dua atau lima tahun kerja di negara-negara Arab. Belum lagi biaya pasti mahal. Bayangkan kita sendiri yang mengalaminya. Mungkin terlalu berat buat ditanggung. 

Sebenarnya makna apa yang kita dapat saat mudik? Apa jeda dan reda dari rutinitas panjang? Apa kerinduan dan kelegaan bisa bareng orang-orang yang tulus kita cintai dan hormati? Atau pengingat betapa seseorang pasti punya tempat asal, meski belum tentu bakal jadi kampung terakhirnya. Waktu Nabi Muhammad mendatangi kota Mekkah setelah meninggalkannya 10 tahun, beliau tidak bermaksud kembali untuk mudik, melainkan 'membebaskan.' Beliau juga tidak memutuskan tinggal lagi di sana, tapi kembali ke Madinah yang telah menerima dengan ramah dan menjadikannya sebagai kampung halaman baru hingga meninggal dunia.

Mudik bisa jadi bermakna ruhaniah (spiritual) yang tak butuh hal-hal fisikal. Mudik seperti ini bertujuan menenangkan diri, mundur dari segala yang bersifat duniawi, upaya mendekatkan diri pada Allah dan mencapai kesempurnaan diri. Saking kangen, teman fowesku Agus Kurniawan bilang begini: 'Aku kadang rindu mudik ke asal ruh-ku. Mungkin luar biasa bisa melakukan perjalanan ruhani kayak Rasulullah, Buddha Gautama, atau Santo Agustinus.' Bernas!!![]

Anwar Holid aka Wartax, tinggal di Tangerang Selatan. Blog: halamanganjil.blogspot.com. Twitter: @nwrhld. IG: @anwarholid.

Monday, October 04, 2021

Kisah Tutupnya Warteg di Tegallega

Oleh: Anwar Holid 


Warteg langgananku di samping lapangan Tegallega, Bandung sudah sekitar dua bulan tutup. Waktu beberapa kali aku datangi sehabis kerja, warung ini tutup terus tanpa ada pengumuman di dindingnya. Biasanya kalau mereka libur ada pengumuman kapan mereka akan buka lagi. Aku tanya juru parkir yang mangkal di situ kenapa warung nasi ini tutup saja, mereka jawab, 'Duka a, teu teurang,' — entah mas, gak tahu.


Karena tutup lama, aku sangka mereka habis kontrak dan tidak memperpanjang, atau kena imbas pandemi Covid-19 — entah pelanggan jadi sangat turun, peraturan yang menyulitkan pedagang dan pembeli, atau amit-amit mereka terpapar penyakit mengerikan ini sampai berhenti beroperasi. Kadang-kadang aku sengaja lewat warteg itu sekadar buat ngecek apa mereka beneran tutup atau buka lagi.


Kadang-kadang pas makan di situ aku ngobrol dengan pemiliknya, sepasang suami-istri. Si istri perhatian sama rasa makanan dan nutrisi, sementara si suami suka mendengarkan khutbah di YouTube — meski mereka tetap mengumandangkan dangdut koplo agar suasana terus ceria. Mereka membolehkan aku bawa nasi, jadi aku cuma beli sayur dan lauk. Aku juga sering makan tanpa nasi — kebiasaan yang suka dianggap aneh oleh pelayannya, namun tidak oleh si istri.


Setahun lalu deretan toko persis di samping warteg itu terbakar ludes. Yang menakjubkan warteg itu tidak terjilat api, meski waktu kejadian mereka pun panik menyelamatkan diri dan mengeluarkan barang-barang. Betapa mereka bersyukur lolos dari kejadian mengerikan itu. 


Pas tadi pagi lewat sana, aku lihat warteg itu ternyata buka. Langsung saja aku mampir. Awalnya aku mau cari keringat mengitari lapangan Tegallega. Tapi pas masuk tak ada wajah yang aku kenal. Apa mereka aplusan?? (Mereka tak pernah melakukannya selama ini.) Aku tanya mbak yang melayani aku.

'Mbak mengganti yang lama??'

'Iya.'

'Memang mas dan mbaknya ke mana??'

'Kecelakaan mas. Masnya patah kaki, pinggangnya hancur.'

Haduhhh... lemas aku dengarnya.

'Kecelakaan apa??' tanyaku prihatin. Aku duga tabrakan dan semacamnya.

'Masnya kan bantu pasang lampu di rumah mertua, gak tau gimana... dia jatooohhh.'

'Aduhhh.... ketimpa tangga juga??'

'Gak tau kalo itu.'

'Mbak ini sodaranya?'

'Iya mas. Keponakannya orangtua si mbak.'

'Sekarang gimana kondisi masnya?'

'Masih belum bisa jalan. Berdiri aja harus dibantu. Dirawat istrinya.'

'Sekarang di Tegal?'

'Iya mas.... tadinya dari sini sempat diobati ke rumah sakit di Solo, terus dibawa pulang ke kampung.'

Foto dari internet.

Aku ngeri membayangkan kecelakaan itu. Musibah dan takdir, siapa yang tahu?? Dulu mereka lolos dari bencana, sekarang harus menerima kenyataan gawat. Aku sarapan di situ tetap tanpa beli nasi. Kepala jadi rada berat dengar musibah itu. Aku lihat stiker paguyuban persatuan pengusaha warteg Bandung. Semboyannya dalam bahasa jawa: _sedulur selawase,_ saudara selamanya. Semoga mereka kompak membantu rekan mereka yang lagi tertimpa musibah. Apa takdir dan peristiwa itu semacam koin yang salah satu sisinya bisa terlempar begitu saja, meski kita begitu hati-hati melakukannya?? Aku kecelakaan sepeda, gaji dikurangi atau telat dibayar, orang di-phk, honor dipotong, kerja keras tak dibayar, dipalak preman, dibohongi calon investor, ditipu orang yang bilang mau nyumbang, atau dirampok dengan kekerasan. Entah dari mana terlintas selarik lagu Ebiet G. Ade: 

anugerah dan bencana adalah kehendak-Nya 

kita mesti tabah menjalani 

hanya cambuk kecil agar kita sadar 

adalah Dia di atas segalanya...


'Apa mbak sering hubungan sama mas dan mbaknya?' tanyaku sambil bayar.

'Kadang-kadang aja mas.' 

'Semoga masnya cepat pulih dan sehat.'

'Iya mas. Makasih. Nanti kalau nanti aku kasih tahu ke mereka, dari siapa ya?'

'Bilang saja dari pelanggan yang bawa nasi sendiri,' jawabku.

Mbaknya Tertawa.[]

Anwar Holid, kerja sebagai editor dan penulis. Blog: http://halamanganjil.blogspot.com. Twitter: @nwrhld. IG: @anwarholid.


Thursday, June 10, 2021


Pindah Klub dan Tempat Kerja
Oleh: Anwar Holid


 

Pindah klub atau tempat kerja kerap tak seoptimis sebagaimana diharapkan dari awal. Yang terjadi suka kompleks dan butuh adaptasi. Cristiano Ronaldo pindah dari Real Madrid ke Juventus dengan harapan bisa membantu klub menjuarai Liga Champions, yang terjadi mereka malah terpuruk baik di liga domestik dan antar-klub negara Eropa. Gianluigi Buffon pindah dari Juventus dan balik lagi ke sana namun tetap tak kunjung mampu meraih ambisi bersama. Antoine Greizmann pindah ke Barcelona dengan harapan jadi tandem maut buat Messi, tapi yang terjadi kerap kekecewaan. Pelatih dan rekan setim seperti ragu atas kemampuannya. Hingga kini dia tidak lebih gahar dari kemampuannya ketika masih di Atletico Madrid. Luis Suarez kecewa berat dicampakkan Barca, namun dapat energi baru begitu bergabung dengan Atletico Madrid dan dapat kepercayaan dari manajer Diego Simeone.

Waktu Manchester United merekrut Teddy Sheringham, banyak orang sangsi atas keyakinan Alex Ferguson karena Teddy seorang striker tua. Tapi Teddy penasaran bagaimana rasanya jadi juara liga. Itu yang membuatnya meninggalkan Tottenham Hotspurs dan menjalani petualangan baru. Di Manchester United Teddy sukses merasakan gelar treble.

Di dalam klub atau perusahaan selalu ada dinamika. Meski tidak selalu fokus pada seseorang yang dinilai paling menonjol, pemain bintang biasanya kerap jadi bahan omongan. Di Atletico Madrid, Joao Felix awalnya dianggap sebagai transfer gagal, tapi di musim 2020/21 perlahan-lahan ia dinilai memuaskan seiring mautnya kerja sama dengan Luis Suarez. Sebagai striker muda dia dianggap mau belajar pada striker berpengalaman. Barangkali tahun depan dia bisa lebih baik menjalani karirnya dan membuat rekor baru, misalnya dengan menjuarai Liga Champions.

Inter Milan menjuarai Liga Serie A musim 2020/21 berkat banyak pemain buangan yang dianggap gagal di klub sebelumnya atau pemain veteran yang ingin mencari petualangan baru. Di sana ada mantan pemain Manchester United: Young, Lukaku, Sanchez, Darmian; mantan Manchester City (Kolarov); Tottenham Hotspurs (Eriksen); Real Madrid (Hakimi); Barca/Juventus (Vidal); juga Bayern Munich (Perisic). Tokoh utama di balik kejayaan Inter Milan musim ini ialah manajer Antonio Conte. Dia dinilai berhasil membangkitkan potensi pemain seperti Romelu Lukaku jadi bermental lebih kuat dan memenangi laga-laga penting.

Motivasi orang pindah klub atau perusahaan sangat beragam. Ada yang karena kecewa sama bosnya, ingin penghasilan lebih besar (biasanya diawali oleh kekecewaan terhadap perusahaan), harapan baru, peran baru, penyegaran karir, kejengkelan tak tertanggungkan, kemarahan... bahkan karena dipecat. Ada yang pindah baik-baik dan memecahkan rekor transfer, ada yang pindah karena terpaksa — seperti David Beckham mendadak pindah ke Real Madrid setelah insiden dilempar sepatu oleh manajer Alex Ferguson.

Ada faktor penerimaan, kecocokan, juga atmosfer di tempat baru. Ada orang yang awalnya sangat optimis pindah, tapi segera menyesal karena mendapati tempat barunya lebih menyedihkan. Justru di tempat lama ia merasa dapat pelajaran mengesankan. Kalau seperti itu, jelas terasa menyesal pindah. Tapi mustahil mau balik lagi. Akibatnya dia berpikir siap-siap pindah ke tempat baru dengan membawa-bawa kemangkelan.

Nicolas Anelka pindah ke Real Madrid dengan harapan besar, namun di klub baru itu dia mengalami kenyataan buruk karena dari awal diperlakukan menjengkelkan, ada penolakan diam-diam sejumlah pemain atas kehadirannya. ‘Real Madrid memperlakukan aku seperti anjing!’ kata dia geram. Akibatnya dia segera sadar betapa mestinya tidak perlu meninggalkan Arsenal, klub yang membentuknya jadi bintang. Di sana dia dapat dukungan dari manajer tepercaya dan teman seklub. Setelah setahun yang sulit di Real Madrid, dengan segera Anelka terus berpindah-pindah klub dalam waktu singkat, namun ia dinilai kehilangan bakat dan kemampuan terbaiknya. Dia sungguh berbeda dibanding Karim Berzema yang betah bertahan dan bisa bersaing terus lebih dari satu dekade di Real Madrid.

Mayoritas orang pindah ke tempat baru karena ingin memperbaiki diri. Memperbaiki diri tidak selalu terkait dengan penghasilan atau uang. Ada orang rela pindah dengan penghasilan lebih rendah, tapi hati dan hidupnya jadi lebih tenang karena bisa berhenti melakukan praktik yang haram dan jahat. Dia merasa lebih berkah. Orang ganti profesi baru dengan pertimbangan bisa lebih baik dan bahagia menjalani hidup pilihannya.

Pindah kerja ke tempat baru mungkin saja merupakan peningkatan karir, pencapaian baru, atau peluang berbuat lebih baik. Tapi tak ada jaminan buat itu. Mungkin segala sesuatunya sudah dipertimbangkan sebelum pindah, tapi hal-hal di luar bayangan tetap bisa terjadi. Sering ada drama, adaptasi, dan risiko di tempat baru. Lepas dari berbagai faktor itu, pindah klub atau tempat kerja baru membuktikan betapa hidup memang terus bergulir dan berganti peran. Bisa jadi peran itu di satu titik berlangsung lama — misalnya jadi pekerja, jadi manajer, jadi petani — lantas berganti dengan cepat, misalnya dipilih sekadar sebagai selingan hidup. Jadi ya terus jalani saja.[]


Anwar Holid — editor dan penulis, tinggal di Bandung. Blog: halamanganjil.blogspot.com. Twitter: @nwrhld. IG: @anwarholid.

Note: foto dari internet.


Tuesday, October 13, 2020

nama yang paling sering terdengar dalam quran

oleh: anwar holid

 

selama baca quran periode kali ini (dari akhir ramadhan bulan mei 2020), baru aku sadar nama (nabi) musa ternyata banyak beterbaran di berbagai ayat, bahkan di juz amma. aku ngebatin: kenapa ya nama beliau kok sering terdengar??🤔 berarti kisah, peran, dan hikmahnya penting banget bagi kehidupan manusia. rasanya nama "musa" lebih sering terdengar dibanding "muhammad." cmiiw.



dugaanku terkonfirmasi wikipedia. nama musa disinggung lebih banyak dibanding siapapun dalam quran, riwayat kehidupannya dikisahkan lebih banyak dibanding nabi-nabi lainnya. ia diceritakan sejak menjelang kelahiran dan begitu lahir dialirkan ke sungai nil. peristiwa ini agak mirip dengan isa yang diceritakan sejak dalam kandungan maryam. ini mengisyaratkan hubungan musa dengan islam (kaum muslim) dekat. lebih spesifik: mungkin hubungan orang israel dan kristen dengan muslim tuh sebenarnya erat. minimal ajaran keduanya sama-sama bersumber dari nabi ibrahim.

ada banyak peristiwa dalam periode kehidupan musa, di antaranya:
* membela kaumnya yang tertindas (israel).


* berani melawan tirani, yaitu kekuasaan paling absolut yang pernah dilakukan penguasa.
 

* hijrah/kabur untuk menyelamatkan diri dari kekuasaan jahat, menikah, belajar memimpin/bermasyarakat kepada mertua (syu'aib/jethro).


* balik lagi ke tempat asal (mesir) bersama harun untuk membebaskan kaumnya.


* perlawanannya kepada firaun/tiran melibatkan sihir.🤔


* kaum israel tuh bandel/suka melawan nabi, mungkin setipe dengan kaum yang dihadapi nabi muhammad.


* beberapa kali mengembara lama baik ke gurun atau gunung — mungkin karena di jazirah arab gak ada hutan. berhubungan dengan allah (!!), menerima hukum allah (10 perintah allah). 


* dalam salah satu pengembaraannya beliau bertemu khidr (kisah ini gak disebut di injil).

 

mungkin pembaca mau menambah pentingnya sosok nabi musa bagi sejarah manusia??[]

note: gambar diambil dari internet.

Thursday, August 06, 2020

TIGEBROS KU QUEEN

Mengapa Jadi ‘Kolektor’ Queen??

Oleh: Yudhi Purwa

 

Pagi itu saya ditodong Anwar Holid lewat WAG Queen Fans Jabar: “Gimana sih awal mula suka Queen dan memutuskan jadi kolektornya?”  Wah, saya jadi langsung diam dan mikir: “Dulu gimana ceritanya ya?”

Seperti halnya semua orang, saya pikir pengaruh awal Queen selalu dimulai dari orang terdekat, dalam hal ini terutama keluarga. Yang saya ingat, waktu masih SD dulu (sekitar 1980) ada tape deck di rumah dan paman sempat mutar album Jazz, terutama Bicycle Race. Jadi itu yang teringet samar-samar hingga kini. Kemudian disambung waktu ke rumah saudara menggunakan mobil, diputarlah album Greatest Hits di tape mobil selama perjalanan pulang-pergi. Alhasil seperjalanan itu mulai teracuni karena terus-terusan dengar Flash, "Don't Stop Me Now", "We Are the Champions", dan lain-lain.

Tanpa sadar pengalaman itu terpatri. Pas saat SMP (sekitar 1985) saya bergaul sama teman-teman yang juga suka Queen. FYI, saat itu sebetulnya wabah glam rock sudah mulai melanda. Era itu musimnya Van Halen, Bon Jovi, Europe, dan lain-lain yang lagi digilai teenagers macam kami inidi samping wabah genre techno semacam Duran-Duran, Alphaville, A-ha, dan lain-lain.  Jadi, kalau kami saat itu suka band-band ‘oldies’ semacam Queen, The Beatles, The Rolling Stones, Deep Purple, dan lain-lain kadang-kadang suka dilirik aneh karena dianggap ‘dinosaurus’ he he he... Tapi untung waktu itu saya bergaul dengan teman-teman yang cukup terbuka selera musiknya, yang menggasak semua genre music tanpa kecuali, alias ‘omnivora’! Ha ha ha.... Kami juga jadi sering saling pamer band/lagu fave, saling tukar juga pinjam-meminjam kaset, walaupun lebih banyak gak dibalikin!…😊

Balik lagi ke kesan awal... setelah hanya mengingat-ingat masa kecil dan numpang dengar kaset teman, akhirnya pas SMP itu pula saya memutuskan beli kaset Queen pertama: Live in Rio, produksi Billboard. Kalo gak salah harganya masih Rp.1.250,- dibeli di toko kaset dekat sekolah (SMPN 2, Jl. Sumatera). Karena baru punya 1, ya itu kaset diputar bolak-balik dan jadi paling senang dengar “It’s A Hard Life”.

 

Memorabilia Queen koleksi Yudhi Purwa. Foto: Yudhi Purwa


Saat itu selain kaset sebagian dari kami juga senang hunting poster, kalender, hingga majalah bekas, biasanya di daerah Cikapundung, Alun-Alun Bandung, Dewi Sartika, hingga Cicadas. Sampai-sampai saya pernah waktu itu malem-malam uang yang tersisa di saku hanya tersisa cukup untuk ongkos pulang  naik DAMRI saja, ha ha ha... maklum cekak.  Duitnya habis buat beli majalah Hai yang ada artikel Queen-nya. Pokoknya, sekecil apa pun berita yang memuat foto atau artikel Queen pasti segera dibeli, dibaca, dan dikliping dalam album/bundel khusus. Sampai sekarang bundel-bundel itu masih saya simpen rapi.  Istilahnya, mata ini jadi selalu awas bin terlatih kalau buka-buka majalah, koran, atau apa pun. Sampai saya juga sempatkan memfoto kopi artikel-artikel Queen dari majalah agar bisa digunting-gunting. Atau, pinjem sampul CD punya  teman buat difoto kopi dan dikliping (waktu itu CD masih belum terbeli…).  Saya ingat pasti: pekerjaan mengkliping sudah jadi candu buat saya, walaupun sangat menyita dan menghabiskan waktu, tenaga, dan kesabaran. Itu juga yang mungkin buat saya jadi sedikit ‘nerd’... karena lebih senang mengeram diri di kamar dibanding beraktivitas di luar seperti teman-teman seumuran.

Mohon diingat, waktu itu akses ke internet masih terbatas banget. Boro-boro internet, komputer dan laptop aja masih jauh dari bayangan, dan kalaupun ada juga gak mampu terbeli. Jadi, surfing dan download saat itu masih sangat-sangat jarang dilakukan. Andalan sumber berita musik kami hanya majalah, dan untungnya saat itu banyak majalah musik yang bagus: Aktuil, Vista, Hai, hingga tabloid Citra Musik. Juga sejumlah majalah musik impor seken yang kadang-kadang nyasar di lapak tukang majalah bekas langganan. Untuk mengakali bahan kliping, biasanya saya suka kerja sama sama teman dan saling titip: saya akan gunting dan simpenkan kalau nemu artikel/foto fave dia, demikian juga sebaliknya. Begitu saling ketemu baru kami saling barter. What a lovely friendships.... 

Balik lagi ke soal kaset.… Habis beli kaset pertama tadi, karena keranjingan, saya putuskan beli kaset-kaset berikutnya. Kali ini produksi Aquarius seri album 2LPs in 1:  A Night At The Opera A Day At The Races, kemudian The Works The Game, disambung produk lainnya: The Best, Hot Space, A Kind Of Magic. Saya juga memberi terbitan lama produksi Perina, Ultra Dynamic, dan lain-lain.  Baru kemudian akhirnya asya memutuskan beli produksi Team Records seri album (totalnya ada 9 kaset). Ironisnya, hingga sekarang seri ini kok masih belum komplet juga: minus no.6 (Live Killers) dan no. 9 (A Kind Of Magic). Hiks…

Keranjingan mengoleksi berlanjut hingga zaman kaset lisensi, kalau gak salah pas akhir SMP mau ke SMA (1989-1990). Setiap album Queen yang ke luar pasti selalu digasak. Apalagi setelah mulai kenal dan gaul sama anak-anak ‘old skool of rock’ di Pasar Loak Cihapit, pusatnya jual-beli kaset seken di Bandung saat itu. Walaupun masih cekak dan serba terbatas, saya selalu nabung agar bisa terus beli dan mengumpulkan semua kaset Queen, album apa pun, terbitan apa pun. Sampai-sampai teman di Cihapit selalu memanggil saya “Yudhi Queen” he he he... Saat itu memang kami suka saling memanggil sesuai nama band/artis fave, semisal Ipunk Rush, Arie Dewa, Sofyan Blackmore, dan lain-lain.  Saat itu sekalipun ada di tengah-tengah komunitas kolektor fanatik di Cihapit, tetap saja ada yang geleng-geleng gak habis pikir, kok ya saya masih terus beli kaset/rilisan fisik Queen sampai sekarang, ha ha..ha... Alasan saya sih macam-macam: karena covernya beda, buat cadangan (dobelan atau tripelan), perlu isinya aja, dan lain-lain alasan yang mungkin tetap ‘gak masuk di akal sehat’…😊

Jadi boleh dibilang ‘racun’ paling dahsyat ini memang saat saya terjun di Cihapit Old Skool of Rockitu, dari 1990 sampai sekarang —apalagi ditambah kondisi kantong yang semakin membaik (alhamdulillah…). Koleksi saya juga akhirnya semakin merambah luas ke materi rilisan fisik lainnya: LD, CD, DVD, PH (vinyl), buku, majalah impor, dan lain-lain.  CD pertama yang saya miliki adalah The Miracledari toko kaset Palaguna dibeliin pacar karena saya ulang tahun... huhuyyy…😊  Vinyl pertama yang saya beli adalah pas mulai kerja. Seingat saya berturut-turut membeli 4 album awal. Baru kemudian disambung membeli LD, DVD, dan buku-buku tentang Queen.

Puncak ‘kegilaan’ saya sebagai kolektor (termasuk memorabilia Queen) adalah saat keranjingan action figures di 2005, dan punya rumah serta 1 kamar khusus untuk koleksi. Saat itu saya putuskan mulai lebih fokus dan rapikan semua memorabilia Queen di satu tempat, dari action figures Freddie, poster, majalah impor, buku, sampai yang kecil-kecil hingga pin, lego, perangko, T-Shirt, dan lain-lain.  Bahkan kalau tidak puas, kadang-kadang saya membuat sendiri (memesan) pin, kalender, poster, kartu, dan lain-lain.  Saya juga sering minta tolong teman membuatkan desain kaos, jaket, dan lain-lain biar terkesan jadi eksklusif karena cuma saya yang punya. Karena kegilaan ini pula, teman-teman sudah saling tahu betapa saya ‘really addicted’ ha ha ha....

Lama-kelamaan baik teman maupun keluarga semua mafhum bahwa saya memang fans fanatik Queen. Bahkan almarhum Bapak pun bikin saya masih terkenang hingga sekarang. Beliau sebetulnya paling anti lihat saya suka music rock, bahkan pernah tiba-tiba mematikan video konser Queen yang sedang saya tonton. Tapi, sehari setelah wafat Freddie, pagi itu dia begitu saja kasih saya uang sambil bilang, “Nih, sana pergi cari koran-koran yang muat berita idolamu itu!” What a memorable scene. Thanks Dad

Kalau ditanya item koleksi Queen apa yang paling berkesan? Mungkin saya akan jawab: perangko Freddie! Saya dapet itu gak sengaja pas hunting bareng pacar di Kantor Pos Besar Alun-Alun Bandung, saat ada pameran filateli (saya dan dia sempat keranjingan filateli pas masa kuliah). Jadi, itu gak sengaja kami dapat pas lagi korek-korek tumpukan perangko bekas, dan.… “GOTCHA!” What a great gift…

Sebetulnya koleksi saya sih masih kalah jauh dibanding kolektor lain yang lebih eksklusif, lengkap, serta original. Sebagai contoh, saya tidak punya patung dada Freddie yang jadi merchandise kota Montreux, Swiss. Saya tidak punya t-shirt Queen orisinal, permainan monopoli Queen, dan exclusive item lain. Vinyl dan singels-singels Queen koleksi saya juga masih jauh dari lengkap, namun saya tidak ngoyo kejar-kejar item ini (mungkin karena faktor harga ya, he he he...)

IMHO, tentu kita kembalikan ini semua ke hobi dan selera masing-masing saja ya. As long as it makes you happy..... jalani saja. Sekalipun banyak orang menganggap kita aneh, misalnya berkomentar ‘kok kayak gitu aja capek-capek dikumpulin?’, saya sih cuek dan senang-senang saja. Yang jelas selain amat sangat bahagia menikmati koleksi, hal terpenting dari setiap item Queen yang saya kumpulkan semua menyimpan cerita-cerita yang amat berkesan. Kadang-kadang saya kayak orang aneh saja bengong-bengong sendiri di depan koleksi. 😊

Tanpa terasa, jika dihitung dari awal mulai teracunitahun 1980-an hingga sekarang, berarti sudah sekitar 40-an tahun saya tidak tergoyahkan dengan Queen. Berarti Queen sudah ngagebroskeun (menjerumuskan) saya hampir sepanjang hidup, baik dalam hal selera musik maupun semangat sebagai kolektor kecil-kecilan.

Saya pribadi bersyukur atas hal ini: karena saya punya kesukaan yang utamanya untuk stress-release, juga dihiasi indahnya kenangan di baliknya. Ini juga akhirnya mengajari saya melihat ke belakang: ternyata ada sebegitu banyak dan besar perubahan di sekeliling kita, dan sejumlah di antaranya mempengaruhi dan membentuk diri saya, hingga saya seperti sekarang. Kehangatan keluarga, persahabatan, perburuan, kesabaran, pengalaman, dan lain-lain mungkin sebetulnya merupakan nilai paling inti dari koleksi kita ini. Kenangan manis yang menghiasinya tentu tak mudah kita lupakan begitu saja.

“…Those were the days of our lives…, the bad things in life were so few…”

Yudhi Purwa, 25062020