Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

Thursday, May 12, 2022

Mudik Fisik dan Spiritual

Oleh: Anwar Holid

 

Waktu kecil aku tak tahu apa itu mudik. Yang aku tahu ialah mau ketemu saudara sepupu. Karena tinggal bareng uwak, aku bisa Lebaran di Bandung, Tasik, Kuningan, atau Cijulang, Pangandaran. Tergantung mayoritas keluarga orangtua mau ngumpul di mana. Tak mesti ke Lampung, tempat tinggal orangtuaku. Jadi pas Lebaran aku belum tentu ketemu orangtua. Tergantung mereka mau kumpul bareng keluarga di Jawa atau dengan keluarga ibu di Lampung. Yang pasti, Lebaran = liburan. Suasana menyenangkan karena banyak main, ngabuburit, jalan-jajan, ketemu saudara, baik yang seumuran atau lebih tua. Dikasih hadiah. Puncaknya dapat angpau pas Lebaran.

Lebaran bareng saudara mematrikan bahwa kita merupakan bagian dari keluarga besar. Meski mungkin sebagian saudara tidak akrab, itulah keluarga sedarah kita, yang kita andalkan atau mendampingi di saat tertentu, misalnya saat kawinan, butuh bantuan, dan kematian.

 

Jalan Melaris, Lampung Timur.

Baru setelah dewasa dan (pernah) nikah, aku merasa perlu mudik. Baik ke orangtua atau mertua. Kalau tak mudik dianggap aneh. Padahal menurutku tak mudik sebenarnya baik-baik saja. Kita kan sudah punya keluarga sendiri, ngapain repot kumpul bareng keluarga lain?? Tapi ya jelas mudik punya manfaat, nilai, dan budaya sendiri, termasuk berdampak ekonomi besar. Mudik itu seru dan menyenangkan bagi anak-anak (keturunan baru), sebagaimana dulu aku juga gembira diajak mudik.

Cuma jujur ada yang aku kurang suka dari mudik. Ribet, desak-desakan, bawa gembolan, harga-harga mahal, tuslah — mungkin juga muntah, calo, kecopetan, termasuk kecelakaan mematikan. Orang bisa kelelahan dan tidur di terminal buat mudik. Di masa lalu cerita soal mudik kerap lebih dramatik, ketika moda transportasi masih belum tertata dan maju. Orang bisa berhari-hari di perjalanan sebelum tiba kelelahan sekaligus lega. Tahun lalu ada berita orang rela menyelundup di bagasi bus demi bisa mudik waktu pemerintah melarang mudik di puncak pandemi Covid-19. Apa coba poin dari mudik seperti itu?? Kangen yang membludak ke orang-orang tercinta, hingga tak tertahankan lagi? Atau karena sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi di perantauan, kehilangan usaha dan harapan, jadi lebih baik mudik saja? Aku pernah berdiri di bus ekonomi dari Merak ke Bandung, saking penuh dan malas menunggu lebih lama lagi — itu pun belum tentu dapat kursi. Itu bukan pengalaman menyenangkan waktu mudik dan arus balik. Yang juga ganjil waktu mudik ialah rasa canggung ketemu orang-orang lama yang dulu dekat, tapi karena tak pernah kontak lagi jadinya bingung mau ngobrol apa setelah ketemu, selain sekadar update status.

 

Apa mudik seperti ini yang Anda inginkan?? (Foto  dari internet.)

Dulu sebelum era sosial media tiap mudik aku bawa beberapa buku. Biasanya pilih yang tebal, karena kegiatan selama mudik juga minim. Mudik memberi waktu luang untuk bisa menghabiskan sejumlah buku yang tak sempat didalami karena tersita rutinitas dan kesibukan lain. Kegiatan yang paling sering ialah mengunjungi sanak famili, menguatkan lagi tali silaturahmi. Puncaknya berupa pertemuan keluarga besar satu bani atau arisan.

Mudik terakhir sebelum pandemi (2019) aku hanya bawa satu buku tebal, sisanya banyak baca sosial media dan ikut nyemplung. Yang mengesankan malah aku menyortir biji kopi mentah (green beans) jualan ibuku. Itu biji kopi murahan, banyak yang belah. Menyortir kopi dengan tangan butuh kesabaran dan ketelitian, sementara hasilnya sedikit. Mendapat biji kopi yang baik dan layak konsumsi butuh waktu lama. Harus dipilih, disangray, dibubukkan lebih dulu, baru kita dapat kafein dan aromanya. Kopi butuh proses panjang sebelum akhirnya diseduh atau diolah jadi minuman favorit.

Di era teknologi informasi mudik terasa lebih tergesa-gesa datangnya. Tiket untuk perjalanan masa libur panjang sudah diperebutkan jauh sebelumnya. Bikin harga jadi mahal. Memang orang tidak berdesak-desakan antre di depan loket, tapi keluhan kehabisan tiket tetap ada atau dia terpaksa bayar lebih mahal untuk mendapatkannya. Mirip dengan kondisi lama.

Dari dulu aspek yang kerap muncul saat mudik ialah pamer alias flexing. Mungkin orang pamer dengan harta, bawaan, dan kendaraan. Tapi curiga bahwa seseorang pamer menurutku problematik. Orang bisa bawa banyak barang untuk dibagi-bagi atau disumbangkan ke kerabat dan orang yang berhak. Orang bawa kendaraan mewah karena memang mampu dan demi kenyamanan perjalanan. Ia berhak, layak atas keberhasilannya, dibawa ke kampung tanpa maksud pamer. Mungkin pamer baru terasa kalau sikap orang itu sombong dan terus-menerus membanggakan pencapaiannya.

Rumah Tetangga.
 

Karena berbagai sebab sebagian orang tak bisa mudik. Mungkin dia kena musibah, kurang uang, atau terhalang karena terikat kontrak yang melarang mudik. Tenaga kerja Indonesia ada yang baru boleh mudik setelah dua atau lima tahun kerja di negara-negara Arab. Belum lagi biaya pasti mahal. Bayangkan kita sendiri yang mengalaminya. Mungkin terlalu berat buat ditanggung. 

Sebenarnya makna apa yang kita dapat saat mudik? Apa jeda dan reda dari rutinitas panjang? Apa kerinduan dan kelegaan bisa bareng orang-orang yang tulus kita cintai dan hormati? Atau pengingat betapa seseorang pasti punya tempat asal, meski belum tentu bakal jadi kampung terakhirnya. Waktu Nabi Muhammad mendatangi kota Mekkah setelah meninggalkannya 10 tahun, beliau tidak bermaksud kembali untuk mudik, melainkan 'membebaskan.' Beliau juga tidak memutuskan tinggal lagi di sana, tapi kembali ke Madinah yang telah menerima dengan ramah dan menjadikannya sebagai kampung halaman baru hingga meninggal dunia.

Mudik bisa jadi bermakna ruhaniah (spiritual) yang tak butuh hal-hal fisikal. Mudik seperti ini bertujuan menenangkan diri, mundur dari segala yang bersifat duniawi, upaya mendekatkan diri pada Allah dan mencapai kesempurnaan diri. Saking kangen, teman fowesku Agus Kurniawan bilang begini: 'Aku kadang rindu mudik ke asal ruh-ku. Mungkin luar biasa bisa melakukan perjalanan ruhani kayak Rasulullah, Buddha Gautama, atau Santo Agustinus.' Bernas!!![]

Anwar Holid aka Wartax, tinggal di Tangerang Selatan. Blog: halamanganjil.blogspot.com. Twitter: @nwrhld. IG: @anwarholid.

Friday, October 02, 2020


buku dan kenangan masa kecil untuk memperbaiki bacaan quran yang jelek

pedoman ilmu tajwid lengkap
penulis: acep iim abdurohman
penerbit: diponegoro, 2003
tebal : 209 hlm.


bacaan quranku jelek.☹️ aku pernah kirim rekaman ngaji 10 ayat pertama surat tha ha ke seorang guru ngaji dan teman yang fasih baca quran agar mengomentari bacaanku. ustad itu bilang singkat: 'masih banyak yang harus diperbaiki.' sementara temanku bilang, 'ada progres dari yang lalu.' dia juga kasih tau bagian mana saja yang perlu diperbaiki.

sudah lama aku niat pengen memperbaiki kemampuan baca quran, tapi belum terlaksana rutin dan disiplin. demi memperbaikinya, bertahun-tahun lalu aku sengaja belajar lagi baca quran metode iqro, mirip yang aku alami waktu bocah. tapi rupanya kemampuan ngajiku masih jelek. aku berusaha lebih rajin baca quran, meski progresnya kabur karena gak ada yang memperhatikan dan membimbing — atau aku memang abai mempraktikkan cara baca quran yang benar.

beberapa orang menyarankan agar aku mendengarkan murottal sambil memperhatikan huruf dan ucapannya. kadang-kadang saran ini aku lakukan. tapi aku rasakan murottal masih terlalu cepat. ini berarti kemampuanku mengenali huruf hijaiyah dan lafaznya terbilang rendah.

aku prihatin dengan kemampuan baca quranku. bayangkan, berapa kali aku pernah khatam quran dengan menggembol banyak kesalahan?? tamat baca, tapi berlepotan. lebih masygul lagi sering aku baca quran tanpa meresapi artinya.☹️ benar kata kritik, ada banyak muslim bisa baca quran, tapi hampa oleh artinya. firman suci itu jadi terasa sia-sia. tapi lebih mengenaskan bila ada muslim buta baca quran, apalagi jika dia sudah dewasa. kesedihannya dobel. mungkin waktu kecil dia gak belajar ngaji, sementara waktu dewasa tak bersedia mengorbankan tenaga, waktu, dan biaya untuk menguasainya. masih ada begitu banyak orang dewasa muslim buta baca quran. kita sebagai sesama muslim bisa menanggung dosa muslim yang buta baca quran, apalagi jika tak ada yang mengajarinya.

buku ini aku beli dengan harapan bisa memperbaiki baca quran. aku sudah blank dengan istilah-istilah tajwid. pelajaran itu sudah nyaris aus oleh waktu dan ketidakdisiplinan. aku baca quran mengandalkan kemampuan ingatan masa kecil. sekadar bisa. buku ini bukan saja mampu menyegarkan ingatan pada mengaji, melainkan juga mengayakan ilmunya. beneran bagus buku ini. isinya membahas lima topik utama dalam kajian tajwid, yaitu makharijul huruf, shifatul huruf, ahkamul huruf, ahkamul maddi wal qashr, ahkamul waqfi wal ibtida,’ ditambah gharib wa musykilat. disertai contoh dari al-quran. memang lengkap untuk kebutuhan menguasai baca quran.

baca quran ada kaidahnya. huruf dan kalimat punya hak, sifat, dan hukum tertentu. kalau fokus pada istilah-istilahnya, mungkin orang malah mumet duluan, repot. jadi perhatikan prinsip, keterangan, dan cara bacanya. dengan bantuan kenangan masa kecil, jadi terbuka lagi ilmunya. tapi belajar tanpa guru kurang sempurna. rasanya seperti meraba-raba. tak ada yang mengajari praktik persisnya bagaimana. tinggal ke depan aku lebih giat belajar baca quran dan berguru.[]

 

Friday, June 05, 2020

berjuang membaca quran
~ anwar holid

di pengujung ramadhan 2020 (1441 h) aku tamat baca quran yang aku mulai dari bulan februari 2020. kaum muslim menilai khatam quran merupakan suatu pencapaian, makanya patut disyukuri. tapi bagi orang muslim dewasa, tamat baca quran sebenarnya biasa banget. banyak muslim bisa tamat baca quran berkali-kali dalam setahun, atau bahkan sekali sebulan. aku gak bisa melakukannya.😔 itu artinya baca quranku sangat lelet, kurang banyak, sering mengulang, kurang disiplin dan rutin -- atau lebih tepatnya: masih berjuang membaca quran.

tahun ini aku membarengi baca quran dengan berusaha disiplin baca terjemahan setiap kali selesai baca ayat arabnya. buatku ini istimewa, sebab belum pernah berhasil melakukan sebelumnya. tanpa baca terjemahannya, buatku quran cuma terdengar akrab tapi gak 'bunyi', gak aku pahami, bahkan gak ada artinya. aku ingin ngerti bacaanku, meski niat itu tidak 💯 % berhasil. banyak yang gak aku pahami dari quran, barangkali karena bacaanku sepotong-sepotong dan pengetahuanku tentang quran juga terbatas.

setiap tamat baca quran, aku selalu teringat nenekku dari bapak. dulu aku pernah sampai nangis-nangis belajar baca quran baik dari uwakku atau nenekku. nenekku suka ngageunggeureuhkeun (memperingatkan) aku agar menaruh quran di kepala tiap kali membawanya -- bukan dijinjing atau dipegang begitu saja. baginya, itu adalah bentuk penghormatan terhadap sebuah kitab suci. quran yang aku baca sekarang ialah quran yang dari kecil aku pegang dan baca pelan-pelan atas bimbingan uwak atau nenekku.

baca terjemahan quran itu mencengangkan. aku jadi  bisa merasa tahu dan meraba apa maksud ayat-ayat itu. tapi, baca terjemahan quran juga suka bikin gemetar, terutama soal dosa, ancaman, siksaan, wabah, dan neraka.  sebagian isi quran itu ngeri dan di luar bayangan manusia biasa. orang masuk ke perut ikan raksasa, bapak mau menyembelih anaknya, pejuang keadilan sosial melawan rezim jahanam, praktik sihir, orang saleh miskin, tewas, satu kaum ditelan bumi, seseorang moksa entah bagaimana caranya. gak terbayangkan hal-hal itu bakal terjadi di dunia ini -- bahkan di #onthespot sekalipun. membayangkan betapa ada seseorang yang langsung menerima ayat suci juga merupakan ketakjuban lain.

membaca quran bikin aku sadar ada kosakata yang ternyata terus hadir dalam kehidupan manusia sampai sekarang. contoh quran itu sendiri. 'sihir' membuatku ngebatin: aku gak tau persis itu apa, gak pernah mengalami, gak tahu bentuknya, tapi jelas merupakan hal besar. apa aku alergi pada sesuatu yang asing seperti sihir hingga seumur hidup menghindari, tak pernah mau atau menyelami ilmunya, bahkan secara bawah sadar ketakutan terhadapnya?? kenapa sebagai muslim aku tidak pernah diperkenalkan pada sihir secara pantas?? kalau sihir di zaman dulu bisa dipraktikkan dalam gerakan sosial dan menumbangkan rezim, seperti apakah bentuknya di zaman sekarang???

kosaka-kosakata dalam quran begitu terpelihara. ia hidup, ditafsirkan, ditekankan, disebarkan, dicomot, bahkan kerap menjadi slogan yang menggelorakan. ia bisa misterius. ia menyertai kehidupan manusia. bukan saja kepada orang muslim, melainkan pada siapapun yang membacanya.

puasa ramadhan 2020 berlangsung di tengah wabah global covid-19 yang memaksa banyak perusahaan dan orang mengurangi waktu kerja dan menambah waktu libur. ini membuatku banyak menyempatkan membuka quran. tanpa libur mustahil aku bisa mencicil baca quran selama ramadhan, terutama sebelum buka dan sesudah subuh.

baca quranku masih buruk. atau mungkin malah memprihatinkan.☹️ aku belum belajar meningkatkan kemampuan bacanya, meski sudah dapat saran misalnya di youtube. dengan umur  setua ini sementara bacaan quranku jelek, alangkah malu dan menyesalnya aku jika dibandingkan dengan bocah-bocah yang sedang berlomba menjadi juara hafiz quran.😩😢 aku dulu belajar ngaji di surau dekat rumah, diterangi lampu minyak, dan kami membawa sebotol minyak tanah untuk penerangan surau.

ada fakta menyedihkan, ternyata masih banyak mukallaf  (umat islam yang sudah baligh) yang buta huruf (gak bisa baca) quran. aku pernah menemukan kasusnya di wag khusus muslim. akmal nasery basral bahkan menyatakan jumlahnya secara nasional antara 55 %-60 %. secara garis besar dia bilang dari 5  orang mukallaf  perbandingannya  adalah: 1 bisa baca lancar, 1 bisa baca penuh perjuangan, 3 tidak bisa baca.
😔

sejak beberapa tahun lalu aku niat belajar lebih baik baca quran, tapi belum terlaksana. secara otodidak juga belum.☹️ konpensasinya aku berusaha lebih disiplin membacanya. seorang kenalan yang rajin menamatkan quran bilang begini, 'coba sebelum mulai biasakan berdoa 'ya allah fasihkan aku membaca quran' -- insya allah dilancarkan dan dimudahkan oleh allah.' mungkin dengan begitu kita jadi lebih baik memperhatikan kualitas bacaan sendiri. jujur saja targetku setelah ini sama sekali bukan tergesa-gesa khatam quran, tapi lebih baik meningkatkan kualitas membaca dan memaknainya.[] [halaman ganjil; wartax]

nb: tulisan ini sengaja mengabaikan puebi.

Wednesday, January 15, 2014


[Resensi Buku]

Islam, Budaya, dan Pendidikan

Peresensi: Imam Jahrudin Priyanto
Media: Pikiran Rakyat, Rabu, 8 Januari 2014

Sebagai ilmuwan, Profesor A. Chaedar Alwasilah sangat rajin menuangkan hasil pemikirannya lewat tulisan, baik di media nasional berbahasa Indonesia seperti Pikiran Rakyat maupun media berbahasa Inggris seperti The Jakarta Post. Menghiasi tahun 2014 ini dia meluncurkan buku berisi kumpulan tulisan berbahasa Inggris untuk edisi internasional, terutama ditujukan kepada pembaca luar negeri.

Buku berjudul Islam, Culture, and Education: Essay on Contemporary Indonesia ini secara resmi diluncurkan di Gedung Pascasarjana Universita Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, pada Senin, 23 Desember 2013. Pembahas bukunya ialah Deddy Mulyana (Dekan Fikom Unpad) dan Don Faust (Northern Michigan University, AS). Pada Oktober 2013, buku ini juga telah diikutsertakan pada Frankfurt Book Fair, Jerman, yang merupakan pameran buku terbesar di dunia.
___________________________________________________________
INFO BUKU

Judul: Islam, Culture, and Education - Essay on Contemporary Indonesia
Penulis: A. Chaedar Alwasilah
Format: Hard cover; 437 + xxvi hal.
Penerbit: Rosda International, 2014
ISBN: 978-979-692-453-0
Harga: Rp.107.000,- (dalam negeri); US$19,90 (internasional)

Pemesanan: (022) 5200287 atau pemasaran@rosda.co.id
___________________________________________________________

Terdiri dari 78 bab mengenai berbagai topik, buku ini dibagi dalam empat bagian utama, yaitu Down to Earth with Islam, Education, Language Education, dan Culture. Dalam konteks Islam, Chaedar antara lain membahas Pancasila, haji, radikalisme, Ramadan, dan Idulfitri.  Untuk pendidikan, Chaedar membahas pengajaran, kurikulum, pragmatisme, dan kiprah guru. Dalam konteks  kebudayaan, Chaedar antara lain mengupas birokrasi, holiganisme, surat kabar komunitas, korupsi di kalangan akademisi, dan debat presiden. 

Don Faust menilai para pembaca buku ini di berbagai negara akan menjadi saksi betapa pentingnya hasil pemikiran Chaedar. Sementara Lauren Zentz (seorang linguis dari University of Houston, AS) dalam kesaksiannya menulis, Chaedar menyajikan kritik penting yang cerdik (Zentz memilih kata astute ‘cerdik’) menyangkut dunia pendidikan dan pengajaran bahasa di  Indonesia. Disajikan secara jernih dalam bahasa Inggris, buku ini akan menjadi koleksi ilmiah berharga bagi para pencinta ilmu. (Imam JP/”PR”)

Link terkait:
* Reportase launching buku Islam, Culture, and Education: http://bit.ly/19c5j4O
* Info awal buku ini: http://bit.ly/1cVgGzD

Wednesday, January 08, 2014

The Gateway to Indonesia
--Anwar Holid

International observers are curious about Indonesia with regard to Islam vis a vis other religions, culture and its rich manifestations, as well as education that modernizes the population. As a multicultural and multireligious archipelago from Sumatra to Papua, Indonesia has distinctive features to examine. As the world’s fourth largest nation with 250 million people and largest population of Muslims of any country in the world, Indonesia is a melting pot where different cultures transformed into a modern Indonesian culture, making it so exciting to be enjoyed and reviewed.

In his latest book: Islam, Culture, and Education, A. Chaedar Alwasilah takes readers on an illuminating yet critical journey through religion, culture, and education to investigate how Indonesia stands out differently. In a down-to-earth manner, he is recurring issues such as radicalism, religious harmony and pluralism, mudik (Idulfitri exodus), interethnic conflict, bureaucracy, Malay culture, general election, corruption, as well as his pet subjects of writing, ethnic literature, EFL teaching, Indonesian language teaching, language democratization, liberal education and multicultural education are brought to public consciousness.

A. Chaedar Alwasilah---a professor at University of Education, Bandung, West Java---is one of well-known and respected scholar in Indonesia, especially as an educator with more than 30 years of teaching experience at the university level. Obtained his doctorate from Indiana University, US, he is currently leads the Liberal Studies Task Force Committee for the Indonesian Board of Higher Education. He also a prolific author. He is a regular columnist to local and national newspapers such as Pikiran Rakyat and The Jakarta Post. His books include Pokoknya Kualitatif (2002), Pokoknya Menulis (2004), Filsafat Bahasa dan Pendidikan (2007), Pokoknya Action Research (2011), and Pokoknya Rekayasa Bahasa (2012).

This book is not only useful for academics and researchers of Indonesian studies, but could also be of extensive guide for everyone who will visit Indonesia.
___________________________________________________________
BOOK INFO

Islam, Culture, and Education - Essay on Contemporary Indonesia
Author: A. Chaedar Alwasilah
Hardcover; 437 + xxvi pp.
Publisher: Rosda International, 2014
ISBN: 978-979-692-453-0
Prices: Rp.107.000,- (domestic market); US$19,90 (international)

Purchasing: (062 022) 5200287 or pemasaran@rosda.co.id
___________________________________________________________

A. Chaedar Alwasilah and his book.
Some of early comments of the book:

Dr. Alwasilah is unmistakably the kind of intellectual his nation direly needs. He is as articulate in writing about issues on multiculturalism, democracy, Islam, political literacy, and literature as he is with his pet subjects of the English language and writing.
--Harry Bhaskara, Associate Editor The Jakarta Post

For anyone trying to come to some understanding of the problems which beset the Indonesian education system, this collection of essays is a good place to start. This book rehearsing for the reader what is actually occurring in schools and universities throughout the country year in year out, provides that synoptic view of the situation that allows one better to understand the situation on the ground in all its complexity.
--C.W. Watson, Em. Professor, School of Anthropology and Conservation University of Kent, UK

Both the Indonesian and non-Indonesian reader will find amply witnessed the importance of Professor Alwasilah work and will relish and benefit from a resulting essential interaction of close observation, local wisdom, and help for Indonesia.
--Don Faust, Ph.D. and Judith Puncochar, Ph.D., Northern Michigan University, US

Dr. Alwasilah reveals himself as a sage of the common people, a humane social philosophy that respects individual growth and diverse cultures while emphasizing higher levels of connectedness among all people.
--Sharon L. Pugh, Associate Professor of Language Education, Indiana University, US

Sure this book will provide insight into an Indonesian educational context that is unique while simultaneously sharing many of its obstacles and goals toward improvement with other national contexts around the world.
--Lauren Zentz, Assistant Professor of Applied Linguistics University of Houston, US

Related Sites:
http://www.rosda.co.id
Chaedar’s profile at The Jakarta Post: http://bit.ly/18y1rYx

Tuesday, January 07, 2014

Pintu Gerbang untuk Memasuki Indonesia
--Anwar Holid

Menurut Anda orang asing paling penasaran soal apa tentang Indonesia?

Sebagian menjawab orang luar negeri paling tercengang oleh khazanah budaya Indonesia, keragaman seni, juga sumber daya alamnya yang luar biasa. Selain itu banyak dari mereka juga ingin tahu lebih dalam soal Islam serta berbagai tradisi khas yang terkadang cuma satu-satunya ada di dunia. Mereka ingin tahu seperti apa Islam di negeri kepulauan ini, apa spirit dan wujudnya berbeda dengan yang di Timur Tengah? Orang asing juga meneliti khazanah sastra sekaligus takjub dan ternganga oleh beragamnya warisan budaya dari Sumatra hingga Papua.

Indonesia adalah tempat pertemuan berbagai budaya sampai akhirnya berubah khas, membuatnya jadi menarik untuk dinikmati dan dikaji. Di sanalah letak keunikan Indonesian studies.

A. Chaedar Alwasilah sengaja menulis Islam, Culture, and Education dalam bahasa Inggris selain untuk menerangkan Indonesia kepada bangsa lain dari kacamata pribumi, juga meluruskan pandangan keliru mereka terhadap Indonesia. Contoh soal pesantren. Sebagian orang asing berprasangka pesantren adalah tempat pembibitan kaum radikal Islam; padahal banyak negarawan besar Indonesia lahir dari sini, seperti Abdurrahman Wahid, almarhum mantan presiden Indonesia dan ketua Nahdatul Ulama. Pesantren juga melahirkan sistem pendidikan dan tradisi budaya yang khas.

Terutama dikenal sebagai pakar pendidikan dan aktif di ranah budaya dan sastra, guru besar di FPBS Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung ini mengomentari dan berpendirian tegas mengenai berbagai persoalan terkini bangsa Indonesia, seperti radikalisme dan pluralisme agama, kebijakan pendidikan, birokrasi, politik, korupsi, literasi, juga berbagai kekhasan Indonesia, seperti mudik dan pengembangan sastra daerah (ethnic literature).

Lewat buku ini Chaedar tampak ingin mengantarkan pembaca asing pada perjalanan mencerahkan sekaligus kritis terhadap agama, budaya, dan pendidikan Indonesia. Isu sensitif seperti keharmonisan beragama, konflik antaretnik, juga budaya Melayu dibahas sesuai kenyataan, disertai solusi maupun komentar bagaimana sebaiknya kita bersikap.
___________________________________________________________
INFO BUKU

Judul: Islam, Culture, and Education - Essay on Contemporary Indonesia
Penulis: A. Chaedar Alwasilah
Format: Hard cover; 437 + xxvi hal.
Penerbit: Rosda International, 2014
ISBN: 978-979-692-453-0
Harga: Rp.107.000,- (dalam negeri); US$19,90 (internasional)

Pemesanan: Telepon (022) 5200287 atau pemasaran@rosda.co.id
___________________________________________________________

Sesuai kredibilitas penulisnya, buku ini secara solid membahas situasi pendidikan dan dunia perguruan tinggi, pengajaran bahasa dan sastra, termasuk sastra daerah dan Inggris, pendidikan multibudaya, pendidikan karakter, demokratisasi bahasa, juga literasi dalam cara yang mudah dipahami dan patut kita perhatikan bersama.

Buku ini sangat bermanfaat bagi akademisi dan peneliti Indonesian studies, namun sekaligus dapat berfungsi sebagai pintu gerbang yang luas dan jernih bagi setiap orang asing yang hendak memasuki Indonesia.[]

Link terkait:
http://www.rosda.co.id

Tuesday, August 09, 2011

Lima Biji Kurma, Segelas Teh Panas, 
dan Sebungkus Nasi Padang
---Anwar Holid

Tadinya aku sangka akan rada-rada sedih karena harus buka sendirian, tidak bareng keluarga batihku. Tapi ternyata di hari pertama puasa Ramadhan 2011 ini aku mengalami kejadian menyenangkan bersama orang-orang tak kukenal yang buka bersama.

Karena pekerjaan, puasa tahun 2011 ini praktis akan banyak aku lalui jauh dari keluarga. Terpisah dari istri dan kedua anakku. Di sahur pertama saja aku harus pergi pada jam 03.00 dan meninggalkan mereka masih dalam keadaan terlelap. Apalagi anak bungsuku lagi sakit---gejalanya diare. Keadaan itu membuat aku tambah berat melangkah meninggalkan rumah. Sebenarnya waktu diperiksa dokter, dia tampak makin baikan, bahkan dokter kesulitan mendiagnosis dia sebenarnya sakit apa. Awalnya dokter yakin bahwa dia sakit tiphus; tapi setelah memeriksa darahnya, dokter sendiri kebingungan. "Enggak jelas nih dia sakit apa. Semoga baik-baik saja. Teruskan saja perawatannya," kata dia kepada kami sambil menyerahkan resep.

Hari pertama puasa pun berlangsung kurang nyaman. Aku ngantuk habis pada jam-jam pertama kerja. Di kantor bosku bertanya, "Apa kabar?" Aku jawab jujur saja, "Ngantuk berat mas!" Dia tertawa, "Kurang tidur ya?" Dia paham bahwa aku menempuh perjalanan yang lama untuk sampai ke tempat kerja. Sorenya aku harus datang ke pool sebuah travel agar dapat nomor antrean awal, karena mereka tidak membolehkan orang pesan nomor antrean via telepon.

Setelah melewati jalan yang dipenuhi penjual menu buka puasa, aku sampai ke tempat travel beberapa puluh menit menjelang buka. Karena merasa istimewa dengan hari pertama puasa dan sekali-kali ingin makan lebih mewah dari biasa, tadinya aku sudah niat mau buka di sebuah restoran mi terkenal yang ada di dekat situ, tapi begitu ada di dekatnya aku langsung membatin. "Perlu gitu aku buka di tempat itu? Mungkin lebih baik kalo aku berhemat." Tapi membayangkan alternatif makan sendirian di restoran fast food yang ada di depan situ rasanya juga hanya akan menambah kesepianku. Aku memutuskan cari pusat jajanan pekerja di dekat-dekat sana. Semoga di sana banyak pilihan. Lingkungan penduduk di sekitar pusat perkantoran selalu membentuk pusat kuliner bagi kebutuhan banyak pekerja.


Akhirnya aku ikuti rombongan karyawan yang bertolak ke belakang gedung Teater Jakarta XXI. Benar, di situ banyak warung makan. Mulai dari mi hingga warung nasi padang. Tapi yang membuatku lebih mengejutkan ialah ternyata di situ pun ada masjid. "Santai aja deh kalo gitu. Aku makan sehabis magrib aja."

Begitu melangkah ke tempat wudhu di bagian sayap kanan masjid itu, aku melihat petugas masjid lagi menyiapkan makanan untuk buka di dua lajur karpet panjang. Orang-orang sudah berjajar bersila di depan karpet itu. Kebanyakan para pekerja yang mengenakan seragam t-shirt hitam dengan tulisan SALE mencolok. "Ah kebetulan," aku pikir. "Aku mau minta izin buka di sini aja," kataku sebelum wudhu. Begitu selesai wudhu, aku hampiri seorang petugas. "Pak, ikut buka di sini ya?" "Ayo, silakan! Ini memang untuk jamaah kok," jawab dia antusias. Ya sudah, akhirnya aku duduk di salah satu paket makanan. Ada lima biji kurma, segelas teh panas, dan sebungkus nasi. Ini sudah lebih dari cukup untuk buka puasa.

Begitu terdengar azan dari dalam masjid, kami buka bareng. Aku pikir orang-orang akan seragam hanya minum dan makan kurma, lantas segera masuk ke dalam masjid untuk shalat berjamaah. Ternyata tidak. Ternyata banyak sekali yang begitu buka langsung menarik karet pengikat nasi bungkus dan segera menyantap isinya. Aku pikir mereka mungkin sudah sangat kelaparan. Karena enggak kelaparan, aku ikut shalat magrib dulu. Setelah itu baru makan dengan santai.

Aku makan di tempat tadi berbuka. Tinggal satu-dua orang yang makan di situ. Begitu membuka bungkusan... surprise! Isinya nasi padang dengan semur daging, sayur nangka, dan sambel. Ini sudah melebihi harapanku. Petugas tadi menghampiriku. Kini dia beres-beres bekas makan orang. "Mau tambah mas, atau mau dibawa pulang aja?" tawar dia. Aku tertawa. "Makasih pak, ini sudah cukup kok." Rupanya masih ada beberapa bungkus yang tersisa. Dia menawarkan pada orang-orang yang baru datang mau shalat.

Masjid apa nih? batinku setelah mau pulang. Minimal aku ingin memastikan ingat namanya karena membuat hari pertama puasaku jadi mengesankan dan gembira, bebas dari kesepian dan jauh dari nelangsa. Aku lihat-lihat sebentar papan pengumuman. Masjid Al-Hikmah Sarinah Thamrin. Di plang besar jalan masuknya ada info bahwa masjid ini didirikan pada 1968 oleh para pekerja di gedung Sarinah. Sebelum benar-benar meninggalkan masjid ini, aku memandangi bangunan, halaman, juga menaranya. Aku bersyukur sempat memasuki masjid ini, shalat di dalamnya, bahkan mendapat rezeki dari sana.[] 8/9/11

* Gambar dapat dari Internet

Anwar Holid, a natural born muslim. Blogger @ http://halamanganjil..blogspot.com. Kontak:
wartax@yahoo.com

Link terkait:
http://alhikmahthamrin.blogspot.com - sejarah dan pengurus masjid Al-Hikmah Sarinah Thamrin.

Tuesday, September 21, 2010


[ESAI]

FPI: Give Islam a Bad Name
---Anwar Holid

Aku jijik pada FPI (Front Pembela Islam) tapi kesulitan mencari alasan tegas kenapa aku harus punya perasaan seperti itu pada mereka. Ini seperti kalau kamu punya saudara bandel, ngejago, suka nakut-nakutin orang lain, suka malak, main kekerasan, intoleran, bahkan mungkin bertindak kriminal (karena suka main hakim sendiri, merusakkan milik orang lain secara semena-mena), tapi kamu malas menyerahkannya kepada pihak berwajib persis karena kamu ada ikatan darah dengan dia. Menurut sebuah dalil, orang seiman itu bersaudara. Meski aku bingung konteksnya apa, perasaan ini membuat kita dilematik dan menambah jengkel.

Jangankan kaum non-Muslim, banyak sesama Muslim yang jengah pada FPI. JIL (Jaringan Islam Liberal) juga KoranTempo pernah usul agar otoritas hukum Indonesia membubarkan FPI. Aku sendiri di Facebook pernah ikut grup 'BUBARKAN FPI!' yang anggotanya puluhan ribu orang, tapi sayang mereka inefektif, sampai akhirnya aku ke luar dari sana karena rasanya itu grup yang omdo. Aku setuju dengan Saut Situmorang yang bilang bahwa FPI itu kependekan dari Fasis Pura-pura Islam. Aku menilai bukan seperti itu jalan Islam yang patut aku tempuh. Aku memohon agar MUI (Majelis Ulama Indonesia) mengharamkan FPI, meski sejak lama aku menganggap MUI juga kerap mengharamkan sesuatu yang konyol.

Perlukah Islam dibela oleh organisasi seperti FPI? Menurutku tidak. Tindakan mereka menurutku malah bikin malu agama Islam, karena justru memperlihatkan sekelompok umat Islam yang intoleran terhadap kaum lain persis di tanah terbuka bernama Indonesia, apalagi dari dulu tempat itu sudah lama terkenal sebagai tempat pertemuan yang cukup damai. Terlebih-lebih mayoritas penduduk di tempat ini beragama Islam. Bagaimana mungkin Islam bisa menjadi rahmat bagi tempat ini bila ada eksponen Islam yang suka berbuat onar terhadap perbedaan-perbedaan di dunia ini? Belum juga jadi penguasa, FPI sudah memperlihatkan mental sok kuasa dan otoriter. Terbayang betapa mengerikan bila organisasi seperti ini membesar dan benar-benar berkuasa atau berhasil menakut-nakuti semua lawan yang berseberangan pendapat maupun sikap dengan mereka. FPI betul-betul gagal memperlihatkan sifat yang wajib didahulukan oleh Islam, yaitu menjadi agama yang memberi rahmat bagi SELURUH alam. Jangankan seluruh alam, untuk tempat secuil bernama Indonesia saja mereka sulit menghormati hukum yang berlaku ataupun iman orang lain. Jangankan pada agama-agama yang mungkin tidak serumpun, pada agama yang memiliki akar sama pada Ibrahim saja mereka sulit bekerja sama. Dari moral ini kita bisa menduga betapa pemahaman sebagian umat Islam pada agama serumpun itu rendah sekali. Sebagai umat Muslim, FPI gagal menunjukkan kasih pada orang lain. Bagi seorang muslim, ini kehilangan mengerikan. Aku pikir FPI buta mata hatinya bahwa dalam Al-Quran surat Al-Anbiya 107 memerintahkan agar seorang Muslim harus mewujudkan kasih sayang kepada seluruh alam, termasuk kepada non-Muslim. Bagaimana mungkin FPI bakal mampu memaafkan dan berdamai dengan umat beragama lain?

Bagaimana mungkin FPI bakal bisa meneladani tokoh Islam yang memberi kesempatan pada lawan untuk menjalankan ibadah sesuai imannya bila mereka merasa bahwa orang non-Muslim harus mendapat izin untuk beribadah maupun mendirikan rumah ibadah? Ini konyol. Memangnya tanah ini tanah mereka? Bukankah ini tanah Tuhan? Tidakkah FPI tahu bahwa tempat seperti Ka’bah saja dahulu kala diziarahi orang beragama secara bebas, bahkan oleh orang musyrik sekalipun. Pernahkah dahulu di zaman Muhammad hidup orang non-Muslim minta izin kepada dia untuk mendirikan rumah ibadah atau waktu mau melakukan ibadah? Rasanya tidak pernah. Rasanya beragama itu harus bebas-bebas saja. Jangankan menyerang, umat Islam itu bahkan dilarang menghina umat beragama lain---begitulah yang tertulis dalam Al-Quran surat Al-An'am: 108. FPI jelas sulit bersabar atas perbedaan dan terbukti telah berkali-kali gagal menyeru dan berdiskusi dengan baik pada pihak lain---padahal itu semua merupakan sifat utama bagi umat Islam. FPI justru mewarisi sifat mental yang buruk, seperti mudah marah dan tersinggung, juga mau menang sendiri.

FPI adalah contoh organized religion yang miskin spiritualitas. Mereka memakan sendiri spiritualitasnya sampai habis dan tak menyisakannya pada umat manusia lain. Mereka hanya membagikan cara beragama yang kaku. Mereka menutup ruang kebebasan beragama dan intoleran pada agama dan umat beragama lain, padahal kebebasan beragama merupakan isu yang sangat penting dalam Islam.

Sebagai seorang Muslim aku merasa malas dan malu sekali harus mengakui punya saudara bernama FPI. Mereka memperburuk citra Islam sebagai agama yang kini tengah dianggap bermasalah dan disalahanggapi di banyak tempat. Kalau seperti itu, aku jadi lebih suka berteman dengan orang non-Muslim yang terbukti secara moral dan tindakan jauh lebih mulia, suka berbuat baik, bersedia membantu, meskipun mereka tampak sekuler. Aku enggak butuh yel-yel Allah hu akbar untuk menakut-nakuti orang lain atau melempari tempat ibadah umat beragama lain. Aku lebih suka memberi salam untuk menghormati sesama manusia.[]

Anwar Holid bekerja sebagai penulis & editor. Salah satu bukunya ialah Seeking Truth Finding Islam (2009). Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.

KONTAK: wartax@yahoo.com | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141.

Note: Foto karya Ricky Yudhistira (http://www.facebook.com/sisyphuswashappy), diambil dari Internet.