Showing posts with label Editor. Show all posts
Showing posts with label Editor. Show all posts

Wednesday, January 18, 2017

Hidup Terlalu Berharga buat Mendengar Album Jelek
--Anwar Holid

Setelah Boombox Usai Menyalak
Penulis: Herry Sutresna
Penerbit: Elevation Books, Jakarta
Halaman: 229
Tahun terbit: 2016

Buku kumpulan tulisan Herry Sutresna ini sepintas kelihatan kurang solid. Meski semua tentang musik, isinya campur aduk membahas banyak hal. Buku ini tidak seperti kopi espresso single origin dengan kepekatan tertentu. Ia lebih seperti cappuccino yang cukup ringan, tapi menawarkan keragaman rasa dengan kadar kepahitan dan kedalaman tertentu.

Meski bisa dibuka dari bab mana saja, buku ini tetap menawarkan kesatuan yang unik. Apa itu? Yaitu usaha keras untuk terus mengaitkan musik dengan aktivisme sosial-politik. Dari sini kita bisa bertanya: sebenarnya tujuan utama bermusik itu apa? Bukankah banyak orang mengira tujuan utama bermusik ialah hiburan atau katarsis bagi pencipta dan pendengarnya?

Herry tidak melulu menyampaikan kuliah singkat hip hop yang memang kerap langsung dihubungkan dengan dirinya, melainkan juga soal punk, hard core, thrash metal, grind core, sampai post rock. Dia  bilang: hip hop sudah barang tentu cinta pertama saya, namun punk rock memberi kontribusi utama dalam memasok kewarasan (hal. 80). Dia tidak cuma penuh semangat menceritakan Public Enemy, Run DMC, Beastie Boys, atau Jay Z dan Kanye West yang populer, tapi juga hati-hati saat membahas John Cage, Godflesh, Refused, dan Godspeed You! Black Emperor yang segmented. Dia memperhatikan ada apa dengan musik, dari sana membahas siapa yang berjasa menghasilkannya.

Bagi Herry, musik sebagai hiburan sudah selesai. Ya, pertama sekali dia memang membahas musik yang menyenangkan dan menggerakkan dirinya, tapi harus punya nilai tambah dan menawarkan sesuatu. Mau ngapain kita setelah asyik menikmati musik? Herry dengan tegas mengungkapkan kesukaannya sebagai fandom, berupa esai personal yang memuja dan tak berjarak dengan yang disukainya, namun ekspresif, tak segan menghajar, dan terasa dalam. Terasa betul keluasan dan penguasaannya atas subjek yang dia bahas, sampai membeberkan detil yang kerap terasa sulit diangkat sebagai bahan tulisan.

Jadi musik harus punya muatan dan tugas yang lebih hebat dari sekadar hiburan, pelipur lara, maupun pembersih jiwa. Apa itu? Ia harus bisa memantik dan menggerakkan kesadaran sosial-politik, mulai dari kalangan dekat musisi dan produser, lantas kalau bisa secara besar-besaran, melampaui ruang dan waktu asalnya. Jika sudah seperti itu, baru musik terasa punya kekuatan dahsyat yang menggelorakan, baik sebagai penanda zaman atau ikut membantu meruntuhkan rezim.
Foto diolah dari Internet.

Musik memang komoditas, benda mati yang diperjual-belikan, tapi ia berarti karena mesti punya isi. Dengan begitu musik bukan hanya cara untuk bersenang-senang, berusaha meraih popularitas dan kaya, menggandakan kapital, menggerakkan industri, tapi lebih condong sebagai pernyataan, mencanangkan idealisme, menyampaikan keyakinan, mengkritik kejumudan. Musik seperti itu tidak bakal kosong, tapi sejak awal diperhitungkan, penuh muatan. Tinggal bagaimana musisi dan barisan pendukungnya (produser, teknisi, label, dan lain-lain) mengemas agar bisa menghasilkan musik yang kuat. Belum tentu musik ideal bermuatan kritik jeblok penjualannya atau tidak sesuai selera pasar. Belum tentu juga musik kodian langsung meledak, membuat orang mengambil album dan membelinya, apa lagi menginspirasi dan menggerakkan pendengarnya. Bisa jadi album yang diciptakan buat bersenang-senang berbalut kedalaman menangkap dan mengungkapkan gelegak ekspresi, malah menjadi semangat generasi, mendobrak, dan tak ragu lagi dinilai sebagai adikarya.

Buku ini merupakan buah dari pengalaman Herry sebagai pendengar musik yang rakus dan serius, bahkan terlibat di dalamnya. Di dalamnya berisi opini, membahas band, resensi, obituari, sampai desainer cover album. Kita bisa membayangkan bagaimana musik menyertainya ketika terancam mati saat ikut demonstrasi di zaman reformasi, apa lagu atau album yang pantas direkomendasikan, bagaimana album menjadi penting dan sebuah genre bisa lahir. Lebih dari itu, ia menuturkan bagaimana musik bisa membentuk diri dan menentukan sikap dalam kehidupannya. Sikap dan tulisannya bernyali. Ketegasan sangat berguna saat menilai, misalnya terhadap suatu album. Penilaian harus independen. Katanya: Segila apa pun sebuah album diresensi bagus oleh media, tak akan mengubah fakta bahwa ia album yang buruk. Sebaliknya, siapapun yang tak menyukai album buruk tak lantas menggenggam nilai kebenaran estetik absolut yang harus diikuti khalayak (hal. 91). Mungkin karena itu pula Herry sengaja menyingkirkan Rage Against the Machine menjadi tidak penting. Sayang juga ia terbilang jarang membahas skena musik Indonesia.

Terbit dengan semangat copyleft, patut disesalkan bahwa kualitas cetakan buku ini mengkhawatirkan. Ini terasa sekali dalam ilustrasi, padahal ia hadir di setiap bab dengan porsi cukup banyak. Selebihnya, buku ini intens dan cermat. Tulisan Herry lugas, hidup, penuh passion, penting untuk bertukar pikiran, membongkar wawasan, dan bersifat referensial. Dia kuat memposisikan diri, dan karena itu membuat bukunya sangat pantas direkomendasikan.[]


Anwar Holid, bekerja sebagai editor dan penulis, tinggal di Bandung.

Tuesday, January 10, 2017

Editor, Orang Gila, dan Sebuah Kamus
Kisah Seru di Balik Kelahiran Oxford English Dictionary
---Anwar Holid

The Professor and The Madman
Judul asli: The Professor and the Madman: A Tale of Murder, Insanity, and the Making of the Oxford English Dictionary
Penulis: Simon Winchester
Penerjemah: Bern Hidayat
Penerbit: Serambi, Januari 2007
Halaman: 341
ISBN: 979-1112-53-3

Ada ungkapan tentang buku, yaitu Habent sua fata libelli. Artinya: buku punya nasibnya sendiri-sendiri. Setiap buku punya cerita masing-masing kenapa ia mesti hadir dan akhirnya dibaca orang yang sempat melakukannya. Memang mustahil bila semua buku yang ada di dunia ini sempat dibaca semua orang, meski itu buku paling terkenal dan paling laris sekalipun. Tapi sudah banyak buku berisi cerita tentang sebuah buku tertentu maupun berbagai buku lain. Kini juga mulai biasa muncul buku beranotasi tentang suatu buku yang dianggap menarik untuk 'ditemani.' Namun kesan yang umum muncul ialah 'buku tentang buku lain' biasanya dianggap lebih inferior ketimbang buku yang dibahas. Contoh: buku tentang Al-Quran biasanya dinilai lebih rendah dibanding Al-Quran itu sendiri. Jadi lebih baik orang juga langsung bersentuhan dengan subjek bahasannya. Jarang ada buku tentang buku yang benar-benar kuat dan mandiri, atau malah sama menarik dengan buku yang dibahas.

The Professor and The Madman dengan sangat menarik dan rinci menceritakan tentang pembuatan Oxford English Dictionary, sebuah kamus legendaris luar biasa tebal yang biasa disebut dengan OED. Lebih dari itu, buku ini menemukan banyak kisah seru di balik para editor dan kontributor (relawan), institusi literer, yang puluhan tahun bahu-membahu hendak menciptakan kamus paling hebat sedunia. Inti kisah paling menarik itu ialah antara James Murray, editor kepala proyek OED tersebut, dengan Dr. William Chester Minor, kontributor yang boleh dibilang paling penting dalam penyusunan OED, sebab ternyata sejak pertama jadi relawan OED dia adalah pasien Rumah Sakit Jiwa Kriminal Broadmoor. Dia memang menghuni RS itu setelah melakukan pembunuhan atas George Merret, seorang penduduk Lambeth Marsh, kawasan kumuh pinggiran London. Minor mulai membantu mencarikan kutipan-kutipan untuk OED sekitar 1880, dan terus bekerja secara sistematik dalam sel sekaligus perpustakaannya, biarpun dia didera skizofrenia yang di ujung hidupnya begitu parah.

Bagaimana ceritanya dua orang yang bak bumi dan langit ini bisa bekerja sama, sampai akhirnya bertemu? Inilah yang diceritakan Simon Winchester dengan sangat menarik. Winchester bertindak sebagai detektif yang berusaha melakukan reka ulang atas semua peristiwa penting, baik terhadap pembunuhan, upaya awal pembuatan kamus besar, biografi Murray dan Minor---dengan hasil menakjubkan. Lebih menarik lagi karena kisah itu terjadi pada zaman Victoria, yang tentu saja harus direka ulang dengan ketelitian luar biasa, hati-hati, meskipun tetap imajinatif dan merangsang rasa penasaran.

Winchester mesti bergumul dengan tumpukan arsip bulukan, penelusuran literatur, membaca rujukan kuno, bahkan berhadap-hadapan dengan berbagai institusi congkak karena menganggap arsip yang dibutuhkan Winchester itu masuk kategori rahasia dan tertutup bagi siapapun. Untunglah Tuhan memberkatinya, hingga dia mengalami sejumlah kejadian mengejutkan, misal mendadak mendapat kiriman arsip yang persis dia butuhkan, atau mendapat bantuan orang-orang yang menghargai niat baiknya. Berbekal semua bahan itu dia mengira-ngira dengan jeli seperti apa kejadian dramatik itu berlangsung, dan akhirnya tersusunlah buku yang mirip sebagai novel sejarah.

Buku Winchester ini masuk kategori nonfiksi, karena dia menulis berdasar fakta, bertumpuk-tumpuk data dan analisis, sementara hukum nonfiksi ialah dilarang bohong. Dia menulis selentur novel berkualitas tinggi, menghadirkan rangkaian kisah begitu lancar, tanpa sandungan sama sekali. Edisi Indonesia buku ini citranya agak dibelokkan sebagai novel, mungkin dengan harapan agar calon pembaca tertarik pada cerita pembunuhan dan kegilaan, dibandingkan pembuatan sebuah kamus. Tindakan Serambi mirip yang dilakukan GPU tatkala menerbitkan Angsa-Angsa Liar (Jung Chang), yang dikategorikan "fiksi dewasa."

Persoalannya dalam konteks Indonesia ialah: siapa mau peduli tentang OED? Ini tantangan amat berat bagi sebuah buku yang memilih subjek tentang hal yang terasa asing di masyarakat Indonesia. Mungkin hanya sebagian kecil orang Indonesia yang bisa dengan baik membayangkan OED dalam kepalanya. Mereka boleh jadi mahasiswa sastra Inggris, penggila buku, atau malah lembaga dengan koleksi pustaka mengagumkan. Maka klaim bahwa OED jadi acuan para hakim, pembuat undang-undang, cendekiawan, filsuf, dan pengarang itu mengacu pada peradaban Barat, terutama Inggris dan AS. Dengan iming-iming apa pun, rasanya sulit memancing rasa penasaran orang Indonesia umum terhadap OED. Mungkin buku Winchester ini baru menarik perhatian terutama sekali bagi para penggila buku dan jurnalis. Dunia tulis-menulis biasanya mudah dipancing dengan kisah menakjubkan tentang buku dan literer. Di dunia perbukuan, OED merupakan salah satu kisah agung yang bakal membuat pikiran siapa pun terkagum-kagum. Mereka yang tertarik dengan bahasa, kepenulisan, penerbitan, pastilah ingin tahu tentang hal itu.

OED merupakan proyek ambisius sebuah bahasa negara yang karena saking besar, di luar dugaan ternyata banyak juga melahirkan banyak penulis tersohor. J.R.R. Tolkien, penulis The Lord of the Rings, aslinya seorang filologis dari Universitas Oxford dan pernah jadi pegawai OED bagian riset etimologi (ilmu bahasa yang mencari asal-usul kata.) Julian Barnes, novelis kontemporer Inggris, juga pernah jadi pegawai OED, meski dia mengaku benci kerja di sana.

Selain mampu menggali kedalaman batin Murray maupun Minor, Winchester juga membongkar mitos tentang kedua tokoh tersebut, selain tentu saja memposisikan betapa penting arti OED bagi bangsa Inggris. Sebelum OED lahir pun bangsa Inggris telah memiliki tradisi dan warisan sastra yang kaya. Munculnya kamus itu menguatkan bahasa Inggris di bidang ilmiah dan sosial-politik.

Simon Winchester sendiri merupakan penulis nonfiksi sarat pengabdian. Karir kepenulisannya diawali sebagai koresponden luar negeri untuk koran The Guardian, sebelum akhirnya menulis sejumlah buku dan jadi kontributor media seperti National Geographic, Smithsonian Magazine, dan resensi buku di The New York Times---koran yang melahirkan standar buku bestseller. Walau telah menulis beberapa buku sebelumnya, The Professor and The Madman merupakan sukses utama pertamanya. Judul ini digunakan untuk edisi AS dan internasional, sementara aslinya di Inggris berjudul The Surgeon of Crowthorne (Ahli Bedah dari Crowthorne.) Crowthorne adalah county tempat RSJ Broadmoor berada. Kemudian dia menulis sekuel buku itu, yaitu The Meaning of Everything: The Story of the Oxford English Dictionary. Berkat pengabdian di dunia jurnalisme dan literatur, Ratu Elizabeth II menganugerahi dia gelar OBE (Order of the British Empire), penghargaan tertinggi bagi warga sipil kerajaan Inggris.[]

Note: Ilustrasi dari Internet

---Anwar Holid, bekerja sebagai penyunting, penulis, dan publisis. Tinggal di Bandung.

Thursday, November 17, 2016


MENGAMPLAS TULISAN
--Anwar Holid

Beberapa waktu lalu aku mengisi workshop menyunting (editing) tulisan. Sebenarnya aku lebih suka berbagi dengan peserta. Aku yakin mereka pun pasti memiliki pengalaman, ilmu, dan keyakinan yang perlu aku serap. Jadi alih-alih berceramah, aku berusaha memancing agar peserta giat berpendapat.

Menyunting merupakan bagian penting dari penerbitan dan industri penerbitan (seperti buku, media massa, dan content provider) membutuhkan penyunting andal. Nyatanya masih banyak pertanyaan mengenai penyuntingan, bahkan bagi orang yang telah lama menggeluti penerbitan dan tulis-menulis sekalipun. Ada saja kasus menarik dalam penyuntingan, misalnya kekecewaan penulis atas kinerja penyunting, deadline yang harus dihadapi penyunting, bahkan risiko kerugian yang harus ditanggung penerbit.

Photo by Wartax, aka Anwar Holid


Berikut ini beberapa poin yang mencuat dari workshop itu.

* Apa itu menyunting tulisan?
Menyunting merupakan langkah ke-2 setelah menulis selesai tercurahkan. Saat menyunting kita memutuskan apa yang terbaik untuk sebuah tulisan.

Pada intinya menyunting tulisan ialah memeriksa dan menyiapkan tulisan hingga layak terbit atau enak dibaca. Yang paling harus diperhatikan dalam persiapan itu ialah isi dan bahasa (cara menyampaikannya). Dalam persiapan itu kita melakukan sejumlah hal, di antaranya ialah memeriksa subjek (gagasan) tulisan, kejelasan akurasi data (informasi), dan keluwesan cara menuturkan/menyampaikannya.

* Apa guna menyunting tulisan?
Fungsi paling penting dari menyunting ialah menghindari kesalahan ketika terbit. Jika kesalahan ditemukan setelah terbit dan dikritik pembaca, hal itu merepotkan penulis, editor, dan media bersangkutan. Kredibilitasnya jadi turun. Dalam kasus yang parah karena kesalahannya fatal, media/penulis harus membuat ralat (errata), bisa dituntut, penulis maupun editor dipecat, media kehilangan kepercayaan pembaca, pasar, dan pelanggan (pengiklan). Jika sudah begitu, penulis dan media bisa mati, karena ia tidak dipercaya lagi.

Menyunting memungkinkan penulis menangkap gagasan terbaiknya, menjaga agar tulisannya fokus, tahu persis agar pesan di dalamnya tersampaikan dengan baik, bagaimana cara penulis mengungkapkan gagasan dan menjelajahi subjeknya.

* Apa saja yang perlu diperhatikan kala menyunting tulisan?
- Kejujuran (integritas).
Penulis dilarang menyampaikan kebohongan (hoax), memelintir fakta, menyesatkan pembaca atas sesuatu. Meski wajar bila penulis punya sudut pandang (perspektif) lain terhadap suatu subjek dan hal itu membuat tulisannya berbeda atau bertentangan dengan tulisan/penulis lain, tapi itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menyampaikan kebohongan. Perpektif lain mestinya memberi pengayaan terhadap suatu fakta, agar melahirkan pemahaman yang lebih utuh pada pembaca.

Selama integritas penulis terjaga dan berani bertanggung jawab, penulis boleh mengungkapkannya.

- Kejernihan menyampaikan gagasan.
Kejernihan menuturkan gagasan dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya ialah
keringkasan (tidak bertele-tele, langsung), kepaduan tulisan (koherensi) sehingga menghasilkan tulisan yang utuh, tidak jomplang, konsistensi, kejujuran, dan sebisa mungkin bersih dari kesalahan menulis (baik salah tulis atau tanda baca).

- Menyampaikan gagasan secara halus dan persuasif.
Kemampuan ini dipengaruhi oleh kepekaan terhadap bahasa dan kata. Penulis mesti awas pada efek bahasa, dan kemungkinan penerimaan pembaca terhadap cara ungkap yang disampaikannya. Tulisan mempengaruhi orang. Pilihan kata (diksi) punya efek dan makna tertentu. Tulisan bisa menyejukkan dan memanaskan pembaca. Tulisan akan sia-sia bila efeknya malah menggagalkan misi penulis yang sebenarnya.

* Apa peran penyunting (editor), khususnya bagi seorang penulis, dan umumnya bagi dunia literasi?
- Peran terpenting penyunting ialah menjaga tulisan agar fokus, jernih, tidak bikin pening ketika dibaca. 
Penyunting mesti menghindarkan segala hal yang bisa membuat tulisan jadi jelek. Ia berhati-hati atau menggunakan perspektif yang lebih luas agar sebuah tulisan jadi pembeda, punya daya tawar dan nilai lebih, segar, juga mengungkapkan informasi berharga yang luput tersampaikan di tulisan lain.

Dalam konteks lebih luas, menyunting membuat pembaca jadi lebih waras.[]

Anwar Holid kini bekerja sebagai editor di Penerbit Rosda, Bandung.

Monday, December 16, 2013

6 Pertanyaan tentang Editor dan Penerbitan
--Anwar Holid


Beberapa minggu lalu aku dapat email dari kawan yang baru lulus kuliah. Dia suka baca buku, terutama fiksi, bacaannya luas, aktif di komunitas menulis, tulisannya pun sudah pernah dipublikasikan. Karena itu ia terpikir berkarir di dunia penerbitan atau berniat bikin penerbit. Dia mengajukan enam pertanyaan, yang aku bilang bagus sekali bila dibagi buat banyak orang.

Saya ingin jadi editor buku fiksi karena senang baca novel. Apa itu merupakan alasan yang salah?
Jelas enggak salah kamu pengen jadi editor fiksi karena suka baca novel. Banyak orang jadi editor semata-mata karena mereka suka buku, apa pun jenis/genrenya. Dulu ada senior (beliau sudah meninggal) jadi editor karena sejak kecil suka baca majalah Si Kuncung, mengirim tulisan ke majalah itu, dan akhirnya bergaul dengan para penulis sampai berkarir di dunia penerbitan seperti keinginannya, aktif di asosiasi penerbitan, sampai akhirnya membuat usaha penerbitan (artinya jadi pengusaha) dengan kesuksesan tertentu.

Seperti apa pekerjaan editor itu?

Sederhananya: kamu menyiapkan naskah hingga siap dilayout dan diproduksi jadi buku.
Editor ialah seorang pengawal buku itu. Dia melayani penerbit dan penulis, menjembatani keduanya. Di perusahaan penerbitan, definisi editor jadi rada kompleks karena ada jenis atau tingkatan, misalnya editor kepala, kepala penerbitan, asisten editor, atau cuma 'editor'. Tugas mereka rada beda satu sama lain. Di Indonesia, editor kepala barangkali semacam acquisition editor; mereka cari naskah, cari dan menghubungi penulis, menyeleksi kelayakan naskah, menawari calon penulis untuk menulis sesuai kebutuhan penerbit, mencari desainer cover atau buku, dan bisa jadi sangat jarang mengedit/menyunting naskah. Mereka mungkin sudah bosan melakukannya atau baru terpaksa menyunting lagi kalau ada target dan bantu target produksi buku. Penerbit Indonesia di akhir dekade pertama tahun 2000-an banyak mengalami transisi semacam ini. Artinya mereka tidak lagi terkungkung menyunting naskah, melainkan merencanakan penerbitan, bahkan bernegosiasi dengan pihak lain untuk menerbitkan buku atau mencari celah agar terbitannya langsung laku.

Asisten editor tugasnya antara lain membantu editor seperti proof reading, buat indeks (yang juga bisa dibuat oleh penulis), menyiapkan detil kelengkapan naskah, sampai diberi kepercayaan penuh menyunting buku (biasanya mereka memang disiapkan jadi editor).

Editor (saja) adalah posisi standar. Ia menyunting naskah dan menanganinya sampai layak terbit; yang diurus biasanya terkait bahasa dan isi naskah. Bisa jadi mereka tidak berhubungan penulis, karena hal semacam itu ditangani editor kepala atau administrasi perusahaan.

Contoh sebagai editor freelance, tugas standarku ialah menyunting naskah, menyiapkannya biar sudah siap dilayout atau didesain jadi buku oleh penerbit. Tugas tambahanku biasanya diminta kasih ide/usul bagaimana cara mendesain calon buku itu jadi lebih punya nilai lebih, menarik, dan bisa memikat calon pembaca/pembeli sekuat mungkin. Misalnya aku kasih ide soal format, keterangan soal higlight naskah, sebaiknya ada ilustrasi di bagian tertentu atau tambahan dan pengurangan lainnya. Ide itu diolah lebih lanjut desainer buku. Editor freelance tidak bisa mengintervensi buku itu nanti akan disajikan/didesain seperti apa; tapi ia bisa memberi saran barangkali naskah itu bagusnya diolah bagaimana biar jadi buku yang menarik.

Bagaimana sifat-sifat orang yang cocok menjadi editor?

Orang yang cocok jadi editor pertama-tama mutlak dia harus suka buku, suka baca, suka bahasa, suka sastra, suka menulis, tertarik seni, kreatif---punya selera tertentu terhadap keindahan, visi bagaimana sebaiknya menyajikan naskah, mengemas buku, juga menggagas proyek perbukuan. Soal ini aku yakin akan berkembang seiring waktu dan pengalaman.

Orang yang terbiasa dengan buku, bergumul dengan penulisan kreatif, peduli bahasa, biasanya bisa menjadi editor yang bagus. Sebagian besar kenalanku yang jadi editor tidak belajar bahasa secara khusus (misalnya sekolah di jurusan editing atau sastra); tapi mereka punya kepekaan yang hebat terhadap bahasa, terbiasa berlatih menulis efektif, suka pada cara sesuatu disampaikan. Latar belakang mereka bisa fisika, astronomi, agama, geologi, apa pun; tapi ketertarikan terhadap buku, sastra, seni akan membuat mereka jadi editor yang punya nilai lebih.

Sifat tambahan buat orang yang cocok jadi editor menurutku harus luwes/fleksibel, rapi, suka detil, tertib. Luwes ini untuk berhadapan dengan orang maupun naskah, untuk bernegosiasi, berkompromi, dan lain-lain. Menurutku sendiri, aku kurang luwes dalam menghadapi orang atau situasi tertentu. Editor, apalagi editor naskah, harus rapi, tertib, dan suka detil, karena ia harus bertanggung jawab mengurus hal-hal kecil, mulai dari salah eja, kelengkapan naskah (yang bisa sangat sepele), dan menatanya hingga rapi dan siap cetak. Tak ada harapan bagi editor yang luput memeriksa bahwa KATA PERTAMA di buku yang disuntingnya sudah salah. Lebih parah lagi kalau judul/subjudulnya salah eja. Gawat. Aku cukup belajar banyak untuk jadi lebih teliti, termasuk dengan diperingatkan bos, diberi tahu sesama editor, atau pembaca buku yang aku edit.
Foto dari Internet.

Saya ingin bekerja di penerbitan karena ingin tahu bagaimana buku terbit, dipasarkan, dan menumpuk di gudang ketika tidak laku. Saya bercita-cita punya penerbitan. Apa ini masih merupakan alasan yang salah? Pekerjaan apa yang cocok bagi saya di penerbitan?

Menurutku memiliki penerbitan dan jadi editor cukup berbeda jauh. Memiliki penerbitan ialah jadi pengusaha di industri buku atau dunia penerbitan; sementara jadi editor ialah salah satu sisi/bidang di dunia penerbitan. Memang sebagian pengusaha penerbitan berawal dari editor, suka buku, atau manajer penerbitan yang beralih dari editor; tapi bisa jadi jalurnya beda. Ada pengusaha/pemilik penerbitan yang tidak bisa menyunting buku, tapi dia jago mencari celah atau proyek buku yang menguntungkan, misalnya cari order dari pemerintah, instansi, atau perusahaan yang mau buat buku. Contoh: Haidar Bagir (salah satu pendiri/pemilik dan CEO Mizan) berawal dari suka nulis/baca sejak mahasiswa, dia jadi editor di penerbit Salman, terus mendirikan Mizan. Di Mizan dia juga masih suka menulis buku.

Menurutku, untuk jadi pengusaha penerbitan modal utamanya ialah keberanian, jiwa enterpreneurship, modal, berisiko untung/rugi besar. Sementara jadi editor adalah karir yang bisa ditempuh berjenjang. Editor lebih merupakan 'profesi.'

Sekadar memberi tahu, sebagian editor setelah beberapa tahun kerja di penerbitan bisa beralih ke bagian marketing, promosi, sales, bahkan distribusi. Bisa jadi karir dan jabatan mereka akan lebih menanjak di sana. Mereka berhenti berhubungan dengan naskah, tapi mereka masih berhubungan dengan buku, atau malah memberi masukan dan bocoran naskah seperti apa yang harus diterbitkan penerbit. Bisa jadi, di perusahaan penerbitan, nanti kamu akan menyaksikan bahwa pegawai yang paling makmur ialah di bagian marketing, distribusi, keuangan, sementara layouter yang menyiapkan buku dari awal terkaget-kaget betapa karir mereka tertinggal. Ada kenalan seniorku yang lebih sukses kerja di bagian marketing, setelah awalnya pindah sebagai editor.

Sebagai bayangan, sebagian editor di penerbit yang berkembang besar setelah jadi kepala editor bisa beralih tugas menangani perusahaan yang lain banget produknya (misalnya film). Harus diakui tidak semua editor yang pernah sukses di penerbitan atau berpengalaman mengelola anak buah (editor junior) dijamin kembali berhasil setelah mendapat mandat mengelola perusahaan baru. Artinya mengembangkan perusahaan itu butuh kemampuan lain.

Kalau niat mau punya penerbitan, mending kamu rajin cari naskah yang potensial di pasar, kontak editor (bisa juga diedit sendiri, atau kalau nekat gak usah diedit), terbitkan. Jual. Banyak pemilik penerbitan basisnya penjual buku, ia tahu ada sebuah buku bisa laris gila-gilaan atau tahu ada channel proyek penerbitan dengan pihak/instansi tertentu. Tapi kalau kamu mau 'punya gengsi' dengan perusahaan atau terbitanmu, ingin image bahwa terbitanmu bermutu, mencerahkan, kamu harus sewa editor atau menjadi editor agar buku itu lebih artistik, punya nilai lebih, bukan sekadar barang kodian. Ha ha ha... aku kayak jago teori dunia penerbitan, padahal belum bisa buat penerbitan---sesuatu yang ada di urutan paling rendah dalam skala prioritasku di dunia penerbitan.

Di penerbitan, entah awalnya jadi editor atau masuk di bagian yang kamu sukai, misalnya promosi atau marketing, kamu bisa pindah ke bagian lain yang lebih prospektif atau cocok sesuai kemampuan dan potensi terbaikmu. Tinggal kamu perhatikan saja kemampuan dan minat utamamu. Contoh, ada kenalan yang sejak awal kerja di penerbit kerja di bagian event (pameran, bazaar, lomba, dan lain-lain). Dia tidak pernah terlibat di dunia editing. Dia sangat sukses di situ; semua event besar di penerbitnya dia urus acaranya. Di penerbit lain ada karyawan yang awalnya sukses di bagian keuangan, pernah jadi karyawan teladan, entah karena restrukturisasi perusahaan atau performa pribadi, lantas pindah-pindah ke bagian lain, termasuk ke bagian editing, sampai akhirnya ke luar. Aku sendiri merasa karirku berjalan biasa saja, tapi aku belum pernah pindah ke bagian marketing, percetakan, atau sales. Paling aku punya sedikit pengalaman di bagian promosi, publisitas, dan literary agent.

Bagaimana suasana kerja di penerbitan? Apa dari bekerja di penerbitan seseorang memperoleh kecakapan yang bisa digunakan di luar bidang penerbitan? Apa dari bekerja di penerbian seseorang punya teman yang bertahan dalam jangka waktu lama?

Pernah mengalami situasi kerja freelance dan tetap sebagai pekerja (karyawan), kesimpulanku ialah kerja pada dasarnya sama dan semua punya tantangan atau keunggulan maupun kekurangan masing-masing. Orang bisa sukses dan gagal baik sebagai karyawan tetap atau pekerja freelance. Aku selalu salut pada orang yang bisa mendirikan perusahaan. Meski aku sering dengar pengusaha itu tega, suka licik, enggak mau rugi sepeser pun, dan aku pernah dengar serta lihat buktinya, satu hal sih mendirikan perusahaan itu susah dan berat. Aku lihat sendiri beberapa kawanku jatuh-bangun mendirikan perusahaan, ditinggalkan ratusan karyawan, termasuk diancam masuk penjara dan pengadilan. Jadi karyawan mungkin lebih simpel; namun risiko dan pendapatannya pun lebih sedikit. Sebagian besar pasti buat pengusaha dan pemodal.

Kerja pada dasarnya soal kepercayaan, kinerja yang bagus, dan tidak mengecewakan orang lain. Ada yang yakin bahwa kerja itu soal melayani, service, memuaskan customer.

Perusahaan dan personal punya tabiat masing-masing, yang penting ialah kompromi atau 'main cantik' selama kerja. Ada motto: What’s best for you is often best for the company in the long run.

Dulu, waktu berhenti kerja pertama kali, di hari terakhir itu aku gemetar dan nangis, karena aku tahu persis kerja di sana adalah a dream come true, satu-satunya penerbit yang ingin aku masuki. Di penerbit, bisa jadi kita bekerja dengan para visioner, cerdas, antusias, dan kita hormati. Tapi jangan bodoh sampai tidak sadar bahwa bekerja di perusahaan itu penuh tekanan, ada target yang harus dipenuhi, kecemburuan profesional, juga kompromi dengan orang lain dalam organisasi. Aku dulu gagal sadar ada apa di balik kejadian kenapa beberapa seniorku pada ke luar setelah aku kerja di sana. Setelah dua tahun, aku baru ketemu batunya, yaitu gagal kompromi dengan perusahaan, persisnya dengan manajer sendiri, yang tentu punya target yang harus beres bareng anak buahnya (yaitu aku dan kawan-kawan). Parahnya aku juga tidak punya loyalitas korps. Lama setelah itu aku merasa bahwa di dunia kerja loyalitas lebih utama daripada kinerja. Kalo kamu setia pada bos apa pun kondisinya, insyaallah secara posisi kamu aman. Aku bahkan pernah lihat seorang karyawan yang jadi tangan kanan sampai dianggap sebagai adik/sodara oleh bosnya.

Kita bisa kerja entah karena rekomendasi, lulus tes, dan punya kualifikasi. Di dunia penerbitan, kita juga bergaul, ada komunitas, punya asosiasi, berkawan. Banyak kawan lama di dunia penerbitan yang bertahan hingga kini dan aku salut dengan kinerjanya. Aku pernah konflik berat dengan kawan dekat, yang malah ribut gara-gara uang dan berbeda pandangan soal cara bekerja---tapi untunglah seiring waktu dan kesadaran hubungan kami baik lagi. Sebagai pekerja freelance, aku pernah nyaris putus asa menagih honor dari kawan lama yang kasih order atau salah paham dengan editor lain yang aku ajak kerja sama. Kerewelan sebagai peresensi membuat aku dimusuhi seorang editor yang bukunya aku kritik sampai mengorbankan pertemanan.

Kekurangan terbesar kerja freelance yang kadang-kadang bikin putus justru rasa sepi karena enggak ada feedback dari orang lain, terutama customer/klien, apa kerja kita bagus atau buruk. Gila, customer itu sibuk semua; parahnya mereka suka kasih order di kala mepet. Reaksi feedback mereka cuma bisa ditebak dari kasih order berikutnya kalau puas atau berhenti kasih order kalau kecewa. Di dunia freelance, aku bisa dapat order sebanyak mungkin, tapi kalau enggak beres juga apa artinya? Nama sendiri yang hancur. Sebaliknya, ada orang memilih kerja freelance karena menawarkan hal yang tidak dimiliki karyawan, misalnya fleksibilitas.

Apa yang menyebabkan seseorang tidak betah bekerja di penerbitan?

Banyak hal bisa bikin seseorang tidak betah kerja di penerbit. Yang pertama ialah gajinya kecil. Sejak dulu semua orang di dunia penerbitan/perbukuan selalu bilang bahwa perputaran uang atau modal di dunia buku itu lambat dan nilainya kecil, misalnya jika dibandingkan industri konstruksi. Coba kamu hitung berapa banyak penulis yang semata-mata mencari nafkah dari menulis. Banyak penulis mengaku mereka mengalami 'split personality' karena harus ngantor atau kerja sampingan lain yang tidak terkait penulisan.

Aku ingat para seniorku ke luar karena bilang gajinya kecil dan kurang buat hidup. Sampai sekarang orang masih berpendapat begitu dan aku masih dengar bahwa gajinya kurang. Orang juga bisa ke luar karena ingin dapat posisi lebih tinggi (misalnya punya anak buah) atau fasilitas lebih, yang sulit mereka dapat dari perusahaan awal. Orang juga bisa pindah kerja karena ingin dianggap penting/berpengaruh atau dipecat dan terpaksa pindah karena wanprestasi. Ada pekerja berhenti kerja karena gagal kompromi dengan bos atau rekan kerja, meski ia masih punya prestasi, kemampuan, atau daya tawar yang mungkin bisa dikembangkan di perusahaan lain.

Tipe perusahaan beda-beda dan itu membuat perilaku, etos, budaya perusahaan, dan karyawan beda. Ada perusahaan yang dikelola terbuka, milik keluarga, atau semau-maunya (situasional). Modalnya juga lain-lain; ada dari investasi seseorang, utang bank, atau pinjaman mertua. Ada orang yang bisa balik lagi setelah mereka berhenti, ada pekerja tipe kutu loncat demi menaikkan karir. Banyak orang bisa betah kerja sangat lama dan membangun karir di perusahaan yang bisa jadi sulit kita bayangkan, lepas bahwa mereka juga memendam ketidaksukaan terhadap sistem yang dibangun pendirinya. Apa pun jenisnya, perusahaan yang baik pasti berusaha mengelola dan mengembangkan dengan berbagai sistem yang dianggap cocok, misalnya menerapkan standar tertentu maupun ISO.

Contoh perusahaan keluarga. Bisa jadi mengelola kepentingan keluarga pemilik dan pendiri malah lebih sulit lagi dibanding mengelola roda bisnis dan perusahaan, karena di situ ada emosi, kekerabatan, share modal, ikatan darah, bahkan status. Bagi yang tidak cocok atau tidak puas, kondisi itu bisa mudah membuat seseorang ke luar. Intinya, semua perusahaan dan pekerja ingin maju dan berkembang. Mereka mencari berbagai cara ke arah sana.

OK, semoga komentarku berguna dan bisa kasih pandangan alasan seseorang untuk jadi editor dan berkarir di industri perbukuan.[]

Anwar Holid, aka Wartax, penulis buku Keep Your Hand Moving.

Saturday, December 14, 2013


Tanpa Pengalaman, Apa Aku Bisa Jadi Editor?
--Anwar Holid

Seorang sarjana baru yang tertarik pada buku, sangat suka baca, dan cinta dunia tulis-menulis ingin jadi editor, tapi dia kecewa lamarannya ditolak terus karena selalu ada syarat "berpengalaman jadi editor minimal satu tahun." Kalau tidak diberi kesempatan jadi editor atau minimal jadi asistennya, tentu selamanya ia tidak akan pernah punya pengalaman itu dan bakal gagal jadi editor. Apa yang harus dia lakukan? Dia kirim surat dan minta saranku.

Berikut ini versi surat yang sudah aku edit:

Banyak temanku yang jadi editor bukan karena latar belakang pendidikan editing, bahasa, atau penerbitan, melainkan semata-mata karena kepekaan dan cita rasa berbahasa, juga passion mereka di dunia tulis-menulis. Baik senior dan kawan sebayaku yang jadi editor dulu ada yang kuliah di jurusan astronomi, fisika, teknik industri, sosiologi, agama islam, seni rupa, dan lain-lain. Aku sendiri memang dilatih jadi editor. Intinya, latar belakang pendidikan bukan halangan untuk jadi editor, malah menjadi kekayaan yang bisa mengembangkan karir mereka.

Menurut kami, bekal utama jadi editor adalah kecintaan terhadap tulisan, dunia buku, kepekaan menilai naskah, kemampuan mengolah bahasa dan menyajikannya dengan hebat, enak, serta keinginan menerbitkan sesuatu yang bermanfaat. Pendapat ini diamini banyak orang. Sebagian orang mengaku "kecebur" di dunia buku, tapi toh menikmati karirnya dan bisa melesat, baik sebagai eksekutif/manajer penerbitan, pengusaha penerbitan, juga media yang terkait dengan dunia buku.

Soal butuh pengalaman (minimal satu tahun) jadi editor, aku pikir bisa diatasi dengan beberapa cara. Kalau kamu pernah gabung dengan pers kampus atau organisasi/klub terkait dengan dunia kepenulisan (misalnya jurnalistik, media, dan penerbitan), pengalaman itu pantas disebutkan dalam CV, bahwa kamu punya kualifikasi untuk dicoba menerima order penyuntingan  atau bahkan magang di sebuah penerbit. Kalau memungkinkan, coba datangi sebuah penerbit dan yakinkan bahwa kamu mampu menyuntingg dengan baik, sesuai standar mereka, atau bahkan punya ide lain yang keren untuk membuat naskah jadi punya nilai lebih dan berharga di pasaran. Kalau mau nekat, bilang saja kamu bersedia magang jadi editor cukup dibayar dengan makan siang, asal kamu bisa belajar langsung seperti apa sebenarnya editor itu! Kalau sungguh-sungguh dan punya passion aku yakin keinginanmu akan terwujud.

Kalau diminta contoh naskah yang kamu sunting, cari saja contoh tulisan dari manapun terutama yang menurutmu jelek, terus kamu sunting/perbaiki sesuai keyakinanmu. Kalau keyakinanmu benar dan hasilnya OK, aku yakin penerbit akan percaya bahwa kemampuan menyunting dan menulismu, juga rasa bahasamu OK. Kalau belum bisa praktik menyunting, coba belajar langsung ke senior, kenalan, yang bisa dipercaya untuk praktik menyunting. Mungkin dosen pembimbing, penulis, dan wartawan yang ada di kotamu. Sekarang banyak orang menulis di blog; coba ambil yang menurutmu pantas disunting, dan ajukan hasil suntinganmu sebagai bukti bahwa tulisan itu bisa jauh lebih baik dan punya dampak. Kalau susah mengirim CV atau contoh editan lewat Internet, kirim saja via kantor pos biasa. Jangan sungkan.

Contoh, ada orang diterima jadi editor bukan karena kemampuan menulisnya OK, tapi karena kemampuan bahasa Inggrisnya terbilang sempurna. Orang seperti ini bisa jadi editor naskah terjemahan yang hebat, jadi literary agent, juga negosiator perjanjian bisnis. Pada dasarnye kemampuan menyunting/editing itu bisa dipelajari dan seiring waktu biasanya makin membaik.

Kalau perlu cari buku panduan menulis dan menyunting di toko buku. Ada cukup banyak buku tentang dunia penulisan dan industri penerbitan di berbagai genre. Sebagian isi blogku berisi topik industri penerbitan dan dunia penyuntingan.

Ada banyak cara untuk membantu seseorang yang semangat mau masuk dunia penerbitan atau ingin jadi editor. Sebagian editor atau penulis senang saling belajar, suka sharing tentang dunia yang mereka hadapi, baik ilmu, informasi, seluk beluk, persoalan, termasuk kebusukan-kebusukannya. Di Facebook ada beberapa grup editor dan pecinta buku/sastra seperti Apresiasi Sastra, Penerjemah-Editor, Forum Editor, dan sejenis itu. Coba gabung dan belajar banyak dari sana, sebab ada saja informasi lowongan kerja yang pantas dicoba.

Barangkali kamu bisa mulai karir jadi editor di penerbit kecil. Kalau kinerjamu bagus dan perusahaan berjalan dengan baik, penerbit itu akan besar, dan kamu juga pasti bisa berkembang. Otomatis karirmu meningkat dengan sendirinya. Kamu enggak perlu kerja di perusahaan yang kelihatan lebih besar, tapi cuma membuat kamu jadi sekrup yang kurang berarti karena sulit mengembangkan bakat dan idealismemu. Sebagian penerbit yang dulu kecil bisa menggeliat, terus berkembang, dan akhirnya menjadi ancaman penerbit lama yang sudah besar. Reputasi editor di penerbit seperti itu pasti diperhitungkan.
Foto dari Internet.

Ini beberapa hal yang bisa dieksplor sebagai bekal jadi editor:
* Apa keunggulan atau kemampuan khusus dirimu sehingga bakal membuatmu bisa menjadi editor yang istimewa? Misalnya: berbahasa Inggris OK banget, nilai TOEFL 900, menguasai fotografi, punya blog yang keren, dan lain-lain.

* Sebesar apa ketertarikan kamu pada dunia buku, penulisan, penerbitan? Apa passionmu? Buku apa yang paling kamu sukai? Bidang apa yang paling kamu minati dan tekuni? Misalnya: agama, kajian sosial, sastra, filsafat, seni, kuliner, musik. Banyak orang yakin passion atau kecintaan bisa membuat seseorang punya energi penuh untuk menjalani pilihan hidupnya.

Banyak orang bilang mereka menjadi editor, kerja di dunia penerbitan, jadi penulis, pengusaha di industri buku, karena cinta, karena punya passion besar di bidang itu. Passion bisa menajamkan 'mata hati', insting, juga keberanian seorang editor dalam menilai dan memutuskan naskah yang berharga untuk diterbitkan, termasuk memberi wawasan, imajinasi, dan kreativitas waktu mengemas naskah bakal jadi buku seperti apa.

Di luar itu, aku mau memberi tahu sejak awal, editor itu di satu sisi cuma bagian karir yang bisa berkembang ke berbagai hal. Kalau kamu sukses jadi editor, entah di penerbit atau dari kerja freelance, mungkin kamu akan menjadi kepala penerbitan, dan tugas kamu tidak lagi jadi editor/menyunting naskah, tapi mencari naskah dan menemukan penulis yang potensial untuk diterbitkan, atau diminta untuk menghasilkan jenis buku tertentu sesuai kebutuhan pasar atau menciptakan pasar buku baru. Bisa jadi kamu ditawari banyak pelanggan (customer, klien) untuk menangani, membuat, dan menerbitkan buku tertentu atau pekerjaan terkait dunia penerbitan. Sebaliknya, kalau kamu bosan jadi editor atau mendapati kenyataan bahwa menjadi editor tidak menjanjikan secara karir dan finansial, mungkin kamu akan pindah kerja menjadi tenaga marketing, promosi, juga penjual buku. Hidup bisa berubah dan begitu juga cara manusia menghadapi dinamikanya.

Semoga jawabanku membantu dan bisa sedikit memberi solusi. Keep your hand moving, keep up the good work.[]

Anwar Holid, aka Wartax, berkarir di dunia penerbitan/penerbitan sejak 1996. Penulis buku Keep Your Hand Moving.

Saturday, June 09, 2012


Pelajaran Euro Cup 2012 untuk Proofreader, Penulis, Editor, dan Penerjemah 
--Anwar Holid
 

Berikut ini kota-kota di negara Polandia dan Ukraina tempat berlangsungnya pertandingan Piala Eropa 2012. Perhatikan ejaannya:
* Warsawa
* Gdansk
* Poznan
* Wroclaw
* Lviv
* Kiev
* Kharkiv atau Kharkov
* Donetsk

Yang istimewa dari nama-nama itu tentu penulisannya yang rada sulit buat kita orang Indonesia. Yang paling mudah mungkin menulis Poznan dan Kiev. Tapi coba tilik Gdansk. Banyak orang salah menulis sebagai Gdanks atau Gdank. Orang Indonesia entah kenapa lebih suka mengeja nama Kharkiv, meski Barat lebih suka mengeja sebagai Kharkov.

Di Ukraina ada sebuah kota bernama Chernobyl, yang pada tahun 1986 jadi heboh sekaligus mengerikan karena di sana terjadi bencana ledakan reaktor nuklir akibat kebocoran. Sementara tim nasional sepak bola Polandia punya kiper yang barangkali namanya sangat sulit buat penulis Indonesia, karena itu disarankan untuk hati-hati mengejanya huruf demi huruf, yaitu: Wojciech Szczesny. Ejaan nama itu jauh lebih sulit bila dibandingkan misalnya dengan Friedrich Nietzsche yang sudah kerap ditulis salah dengan berbagai variasi, atau Bastian Schweinsteiger, gelandang serang Jerman.

Selamat bekerja sekaligus begadang demi nonton pertandingan sepak bola.[]


Anwar Holid, penulis buku Keep Your Hand Moving (GPU, 2010). Bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis.