Tuesday, April 21, 2009





Arvan Pradiansyah: Tujuan Pendidikan itu Kebahagiaan
---Anwar Holid


Arvan Pradiansyah dan Andrea Hirata mengisi talkshow tentang kemuliaan mengajar berdasar pengalaman mereka dalam menempuh pendidikan.

JAKARTA - Atas kebaikan Arvan Pradiansyah, saya bisa menyaksikan talkshow The Nobility of Teaching: Mukjizat Menulis dan Menjadi Guru yang Bahagia di Hall Senayan City, Jakarta. Acara yang dipadati nyaris dua ribu guru dari sekolah-sekolah di Jakarta Pusat ini menghadirkan dua penulis penuh motivasi, Arvan Pradiansyah sendiri, dan Andrea Hirata, penulis tetralogi Laskar Pelangi. Soraya Haque memandu acara tersebut. Saya baru tahu bahwa gedung semegah Senayan City ternyata memiliki aula yang bisa diubah untuk acara-acara edukatif.

Dibanding Andrea Hirata yang rentang pembicaraannya bolak-balik tentang sekolah dan penulisan, Arvan Pradiansyah lebih banyak terarah pada apa itu kebahagiaan dan seperti apa menjadi guru yang bahagia itu. The 7 Laws of Happiness, buku ke empat Arvan, sudah cukup untuk mengantarkannya semakin dikenal sebagai pembicara publik, ahli SDM, dan penulis buku motivasi bertema manajemen kepemimpinan (leadership) dan manajemen kehidupan (life management).

"Tujuan pendidikan itu kebahagiaan. Ia harusnya bisa melahirkan murid yang bermakna," papar Arvan mengomentari kondisi dunia pendidikan zaman sekarang yang penuh tantangan, apalagi bagi guru. Managing Director Institute for Leadership & Life Management (ILM) ini berpendapat bahwa syarat menjadi guru yang bahagia ialah guru tersebut harus mencintai pekerjaannya. Agar bisa seperti itu, dia mesti punya sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri. Guru pun mesti bisa belajar dari banyak tanda dan berbagai pihak. Baginya, setiap orang itu diutus Tuhan untuk membawa hikmah, pembelajaran. Orang itu bisa hadir baik untuk mengajarkan maupun menyelaraskan emosi seseorang lainnya.

Pengajaran yang mulia juga berarti bahwa guru menikmati proses menjadi guru. Ini merupakan bentuk dari hukum bahagia pertama, yaitu sabar, dalam pengertian menyatukan pikiran dan badan pada di satu tempat. Karena begitu guru bisa mencurahkan jiwa dan raganya demi murid, demi kelangsungan proses pendidikan sebaik mungkin. Konsep ini tampak mudah diucapkan, sebab persoalan dunia pendidikan memang kompleks. Sikap percaya diri dan bermimpi besar menjadi faktor penting dalam karir guru. "Bila mimpi lebih besar, kesulitan biasanya jadi tampak kecil," persuasinya.



Ini tecermin dari sesi tanya jawab. Perubahan zaman berikut orientasi dan kondisi sosial memaksa orang rela berkorban atau berkompromi demi mendapatkan pengajaran sebaik mungkin, namun itu pun bukannya tanpa jebakan. Secara retorik, Arvan ditanya balik: Bagaimana cara dia memotivasi diri sendiri. Arvan menyebut, salah satunya ialah dengan diet pikiran, yaitu menyaring informasi-informasi yang dikehendaki saja yang boleh masuk dalam pikiran, terutama informasi positif, agar dampaknya pun optimis dan menghasilkan kebaikan. Arvan yakin bahwa kebagiaan diawali dari memilih pikiran yang bahagia.

Meski kini tak lagi mengajar di ruang kelas akademik, Arvan malah melebarkan jangkauan pengajarannya, yaitu di ruang publik, di dunia profesional, dalam pelatihan dan konsultasi yang dia adakan. Dahulu dia sempat mengajar di almamaternya, FISIP UI, selama 13 tahun. Menjelang Pemilu 2009 ini dia menerbitkan buku kepemimpinan berjudul cukup provokatif, Kalau Mau Bahagia, Jangan Jadi Politisi! (Mizan, 130 hal.)
Talkshow ini merupakan kerja sama penerbit Mizan bersama Pemerintah Kota Jakarta Pusat, Telkom Divre II, dan Sampoerna Foundation, difasilitasi Senayan City. Acara diawali ceramah kunci oleh Walikota Jakarta Pusat Sylviana Murni, yang juga memberi kenang-kenangan buku karyanya sendiri.[]
Copyright © 2009 oleh Anwar Holid
KONTAK: wartax@yahoo.com Tel.: (022) 2037348 HP: 085721511193 Panorama II No. 26 B Bandung 40141
Situs terkait:
Hubungi Arvan Pradiansyah via http://www.facebook.com/

Tuesday, April 14, 2009



[HALAMAN GANJIL]

Apa yang Paling Penting dalam Perkawinan?
--Anwar Holid


Suatu hari, aku pernah tanya seorang kawan: apa yang paling penting dalam perkawinan? Dia jawab: kebersamaan. Entah kenapa, aku langsung tertawa mendengar jawaban itu. "Memang, menurut kamu apa?" balas dia."Menurutku, penghasilan, mendapatkan nafkah."

Entah kenapa aku cukup yakin dengan jawaban itu. Boleh jadi dalam bayanganku waktu itu ialah aku teringat acara fauna di televisi. Acara itu menayangkan seekor serigala jantan membawa mangsa untuk keluarganya. Mangsa itu dia cengkeram kuat-kuat dengan mulutnya, lantas dia persembahkan pada anak-anak dan pasangannya. Setelah itu dia memperhatikan mereka berebut makanan yang dia bawa. Terdengar narasi: Pasangan dan anak-anak serigala itu senang bahwa dia pulang dengan selamat; tapi ia tahu mereka jauh lebih mengharapkan makanan yang dia bawa daripada kehadiran dirinya sendiri.

Terdengar ironik?

Meskipun cukup yakin bahwa yang paling penting dalam perkawinan ialah penghasilan, aku pada dasarnya sulit memutlakkan jawaban itu. Boleh jadi sebagian orang akan bilang bahwa yang paling penting dalam perkawinan itu ialah cinta, kasih sayang. Ha ha, dalam rumah tangga kasih sayang menurutku sudah jadi terlalu basi. Cinta dan kasih sayang sudah harus selesai sejak jauh-jauh hari sebelum pasangan menikah dan membangun rumah tangga. Tanpa itu, rumah tangga dan perkawinan berarti sia-sia.

Dulu, rasanya heroik dan menakjubkan kalau kita mendengar bahwa ada orang yang bisa hidup dengan cinta. Bisakah orang hidup dengan cinta? Nggak. Orang hanya bisa hidup dengan makanan. Tapi entah kenapa kita kok merasa agak yakin bahwa cinta bisa menyelesaikan segala-galanya. Boleh jadi memang begitu, sebenarnya, terutama orang yang terbutakan oleh cinta. Perhatikanlah perceraian suami-istri atau perpisahan sepasang kekasih, terlebih bila perpisahan itu disertai keributan, termasuk sekalian dengan kekerasan dan kemarahan yang kadang-kadang terlalu sulit dipadamkan. Kalau kita menyaksikan hal seperti itu, entahlah ada di mana cinta yang pernah tumbuh di dalam diri mereka berdua itu. Cinta jadi terasa sebagai omong kosong. Dari perceraian, ribut-ribut, cekcok, dan pertengkaran, kita tahu bahwa cinta adakalanya gagal berfungsi untuk menyelesaikan segala-galanya, dan yang tersisa hanyalah rasa sebal, jengkel, atau kenangan yang terlalu manis untuk dilupakan.

Di dalam perkawinan, cinta melebur ke dalam segala sesuatu, hingga ia menyelimuti atau membentengi kehidupan pasangan; tapi karena itu pula ia menjadi gaib, dan kadang kala bila sedang diperlukan ternyata ia tak segera menampakkan diri. Akibatnya, pasangan jadi kehilangan kesabaran dan menuduh dia tak lagi punya cinta. Perhatikanlah konsultasi perkawinan di media massa. Dari sana kita belajar bahwa persoalan perkawinan bisa diakibatkan hal yang sangat sederhana (misalnya kebiasaan pasangan yang ternyata lama-lama sulit diterima) maupun hal yang berat (misalnya pasangan melakukan tindak kriminal, selingkuh, berbohong, berubah orientasi seksual, atau sakit jiwa.) Kita tahu dalam perkawinan bobot masalah "sederhana" dan "berat" ternyata sama saja. Masalah adalah masalah, dan ia harus diperhatikan, sebab kalau tidak akibatnya bisa fatal.
Begitu juga dengan penghasilan. Bisakah Anda mencari contoh pasangan yang kehidupan perkawinannya baik-baik saja meski tanpa penghasilan atau tak punya nafkah? Mungkin itu akan bisa mematahkan pendapat awal. Tapi mungkin sedikit lain soalnya bila pasangan itu punya warisan atau diberi kekayaan yang terus tersedia cukup meskipun dia sekadar menghabiskan dan tak perlu kerja. Tapi dengan perilaku begitu pun bisa jadi pasangannya mengeluh, sebab kerjanya hanya "menghabiskan harta orangtua" dan terkesan malas-malasan. Boleh jadi pasangan tanpa mata pencaharian itu merupakan aib. Bayangkanlah Anda melamar seorang gadis dalam keadaan nganggur atau bila suatu hari yang akan datang anak gadis Anda dipinang pemuda pengangguran. Beranikah Anda mengizinkan anak gadis Anda kepada pemuda itu? Sehina apa pun pekerjaan Anda, Anda menolak bila mereka meremehkan pekerjaan Anda. Pekerjaan itu sesuatu yang mulia.


Demi penghasilan, sepasang suami-istri rela berpisah, mau menjalani jadi weekend husband/wife, atau bahkan merantau ke luar negeri. Dulu, aku sendiri pernah menjadi seorang weekend husband. Bila weekend husband/wife sudah dianggap lazim dalam kehidupan modern, kini tanyalah pasangan yang hanya ketemu sebulan sekali, tiga bulan sekali, atau bahkan setahun sekali. Jelas karena tidak mengalami, rasanya aku sulit berempati kepada pasangan yang hanya ketemu sebulan, tiga bulan, atau setahun sekali. Buat apa dong mereka dulu memutuskan menikah? Bukankah mereka menikah untuk "bersatu", berdekat-dekatan? Wajarkah pasangan mengorbankan kebersamaan demi mendapat nafkah, meskipun aku menyatakan penghasilan merupakan hal paling penting dalam perkawinan? Rasanya absurd. Tapi sekali lagi, bayangkanlah bila tanpa itu semua mereka tak punya penghasilan, atau itulah satu-satunya cara mereka mendapat nafkah. Kalau sudah begitu, apa boleh buat. Kita hanya bisa maklum dan ikut berdoa supaya mereka selamat. Daripada bersatu tanpa penghasilan?

Orang menempuh berbagai mode untuk mendapat nafkah. Ada yang normal dan abnormal. Ada kalanya seseorang tak tahu persis apa pekerjaan pasangannya; tapi selama ada penghasilan, aku berani bertaruh itu akan baik-baik saja. Tanyalah pada istri para kriminal, koruptor, atau pembunuh bayaran. Mereka tentu bakal terkejut bila dibenturkan pada fakta bahwa nafkah yang selama ini mereka terima ternyata hasil dari kejahatan atau uang haram, lantas mereka bersikap tak mau tahu atau malah ingin cuci tangan secepatnya. Tapi selama tak tahu, mereka akan baik-baik saja, dan yakin sebagaimana pasangan normal lain, nafkah itu berasal dari cara yang baik.

Bila menyangkut penghasilan, orang bisa begitu emosional dan irasional. Kita sulit mengira-ngira sampai sejauh apa orang merasa bangga, baik-baik saja, terpaksa, atau rela menjalani profesinya. Boleh jadi orang bangga dengan profesi sebagai pembunuh bayaran. Siapa tahu. Bintang porno di AS bangga kok dengan profesinya. Apa sebab? Karena mereka juga bayar pajak, berpartisipasi dalam pembangunan sosial. Itu mulia. Kita yang tak mengalami mungkin bisa menertawakan atau menganggap hina kerja sebagai bandar judi, pembuat narkoba, direktur klub malam, tukang sampah, mucikari, atau bandar narkoba. Tapi kalau penghasilannya melimpah ruah, Anda mau apa? Pendapatan itu nyata. Lihatlah di jalanan, lihatlah di tempat kerja, di lapangan. Begitu menyangkut pendapatan, nyawa taruhannya. Kadang-kadang orang masih merasa kurang dengan sekadar mengandalkan kekuatan fisik. Perhatikanlah cara kerja debt collector atau tukang sita.

Pasangan pengangguran tentu sulit diterima. Jangankan penganggur, pasangan dengan penghasilan setara, tampak kurang motivasi, atau kurang berkenan saja bisa bermasalah. Dunia adalah tempat yang sulit dan keras. Nggak ada tempat buat pemalas, atau kalau tidak berubahlah jadi orang ikhlas, yang bisa bersyukur dan menerima segala keadaan. Kita dituntut menghasilkan nafkah dengan memanfaatkan segala kemampuan dan kesempatan yang memungkinkan. Dengan itulah kita memelihara perkawinan, kebersamaan, menjalankan roda kehidupan, memastikan bahwa dua puluh empat ke depan---atau beberapa tahun ke depan---keadaan cukup bisa dipastikan kesejahteraannya.

Tapi kenapa pasangan dengan nafkah berkecukupan pun kehidupan perkawinan mereka bisa hancur-hancuran? Tentu ada faktor lain entah apa lagi. Aku juga bukan ahli perkawinan. Itu menunjukkan walaubagaimanapun penghasilan ternyata bukan satu-satunya faktor paling penting dalam perkawinan. Jadi apa dong? Mungkin ada jawaban lain, yaitu keikhlasan.
Sementara keikhlasan butuh permbicaraan baru lagi.[]


Anwar Holid telah menikah, dikaruniai dua anak.
KONTAK: wartax@yahoo.com  |
Panorama II No. 26 B Bandung 40141


Rumah Buku, The Coolest Library in Town
--Anwar Holid

Pada Jumat, 3 April 2009 Ariani Darmawan (Rani) mengirim pesan lewat Facebook, yang langsung dihantarkan oleh kantor pos Yahoo! Mail:

Subject: Merayakan 6 tahun Rumah Buku / Kineruku: Teman-teman Menghias Rumah Buku
Sekali lagi, teman-teman terdekat Rumah Buku,

Kami mengundang kamyu2 untuk datang ke perayaan ultah kami ke-6, Sabtu jam 3 sore. Ditunggu.. tiada kesan tanpa kehadiran kalian semua...

Rabu sebelumnya, 1 April, aku mampir ke Rumah Buku karena ada perlu dengan Budi Warsito, seorang script writer yang kerja juga di Kineruku, lini produk Rumah Buku yang fokus mengerjakan perfilman. Sayang dia nggak datang-datang. Beruntung aku ketemu Rani, yang pagi-pagi itu sudah sibuk di sana, dan menyapaku, "Eh, Sabtu ini Ruku ulang tahun loh. Dateng ya nanti bareng Fenfen dan anak-anak..." Setelah itu aku dia kasih seporsi mi ayam. Lantas aku lihat-lihat cd baru di sana, yang entah kenapa banyak berupa album Cocteau Twins.

Selalu ada yang menarik di Rumah Buku. Baik itu cd, film, aktivitas, kopi, dan tentu saja buku-bukunya. Enam tahun lalu aku datang ke sini beberapa bulan setelah mereka buka, betul-betul terobsesi ingin melihat Ulysses dan Finnegan's Wake (James Joyce)--dua novel yang sampai hari ini hanya berani aku lihat-lihat dan pegang-pegang, atau coba baca halaman pertamanya, kemudian aku taruh lagi. Setelah itu, aku rasanya selalu tertarik untuk ke sana lagi, setiap ada kesempatan, sesering mungkin. Bahkan pernah dalam satu kesempatan, waktu mengerjakan profil Shirin Ebadi untuk buku tipis terbitan Mizan, aku begadang dan tidur di Rumah Buku. Bersama teman-teman, kami juga bikin Textour, yang namanya dilontarkan oleh Rani juga, meski kini inaktif.

Setelah enam tahun, Rumah Buku paling banyak diisi oleh aktivitas Kineruku. Wajar, karena Rani seorang sutradara dan dosen film. Di antara filmnya yang menurutku sangat menarik ialah Anak Naga Beranak Naga dan Sugiharti Halim, dua buah film pendek tentang identitas etnis Cina Indonesia yang disampaikan dengan kuat sekali. Film pertama bersubjek musik gambang kromong, kedua lebih ke hubungan personal. Menurutku, pada dasarnya yang aktif di Kineruku bertipe seniman, dengan rentang di ranah seni lukis, fotografi, desain, dan penulisan. Rani, misalnya, dia juga seorang editor. Dia mengedit terjemahan Marguerite Duras dan Italo Calvino, dua dari sekian banyak penulis favoritnya, yang koleksi karyanya boleh dibilang lengkap tersedia di Rumah Buku.




Koleksi Rumah Buku memang luar biasa dan terpilih, dan itu jadi magnet luar biasa bagi pangsa di dunia sastra, kritik, film, desain, seni, arsitektur, komunikasi, media, sejarah dan pemikiran. Buku unik, baik yang didesain menakjubkan dengan teknologi tertentu, sangat langka, klasik dan legendaris, dinilai sangat berpengaruh, ada di sini. Begitu juga koleksi film dan musiknya. Miles Davis, Pat Metheny, Keith Jarrett, Youssou N'Dour, SimakDialog, King Crimson, Feist, Arcade Fire, Jack Johnson, Tibor Szemzo, Ravi Shankar, bertaburan. Pantas karena itu beberapa bulan lalu Rolling Stone Indonesia menyebut Rumah Buku sebagai "the coolest library in town."



Di acara Teman-teman Menghias Rumah Buku ini ada found object personal-bersejarah bagi Rani dan Rumah Buku, lukisan yang dikerjakan amat halus karya Judith, fotografi oleh Meicy, woodcut, juga desain arsitektural atas seekor babi.


Rumah Buku merupakan salah satu tempat terbaik di Bandung. Aku selalu ingin lama-lama di sini, untuk menulis, mengedit, menyelesaikan proyek, bertemu dengan kawan. Mungkin karena ia cukup dekat dengan rumahku. Aku juga kerap mendapat kebaikan dari Rani bersama para pegiat lainnya. Bahkan voucher pinjaman hadiah Rani belum aku habiskan jatahnya.

"Dulu, rasanya kita sering banget ke sini ya," kata Fenfen waktu kami jalan ke sana. Memang. Di ulang tahun ke enam itu kami bertemu teman-teman yang merasa terikat dengan tempat ini--para pembaca, penulis, sutradara, peneliti, kurator, kritikus, dosen, seniman, pedagang, penyanyi, arsitek. Merekalah yang menghiasi dan meramaikan Rumah Buku, meminjam koleksinya, mengambil manfaat. Meskipun ada juga pengunjung jahat, karena mereka mencuri fasilitas atau koleksi Rumah Buku, termasuk mencuri milik pengunjung lain.



Selamat ulang tahun Rumah Buku, semoga terus jaya. Keep up the good work![]

Copyright © 2008 oleh Anwar Holid

ANWAR HOLID, anggota Rumah Buku no. A030. Bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis.
KONTAK: wartax@yahoo.com Tel.: (022) 2037348 HP: 085721511193 Panorama II No. 26 B Bandung 40141

Situs terkait:
RUMAH BUKU & KINERUKU
Jl. Hegarmanah 52 Bandung 40141
Ph/F: 022.2039615