Showing posts with label Info. Show all posts
Showing posts with label Info. Show all posts
Wednesday, June 19, 2013
Italo Calvino
--Anwar Holid
Bisa dibilang, Kineruku adalah satu-satunya perpustakaan di Bandung yang memiliki koleksi buku Italo Calvino sangat lengkap. Silakan Anda tumbangkan sendiri klaim ini. Kineruku bahkan mengoleksi sejumlah karya nonfiksi Italo Calvino, terutama terkait esai-esai sastra, pembacaan (reading), juga industri penerbitan.
Italo Calvino merupakan salah satu sastrawan paling penting dunia abad XX dari Italia. Meski beliau tidak (sempat) menerima Hadiah Nobel, reputasinya sebagai penulis yang cerdas (witty), suka bereksperimen dengan sangat imajinatif, fantastik, sureal, saintifik, dan metafisikal, sekaligus realis diakui semua kalangan peminat dan kritikus sastra. Kemampuannya memainkan sudut pandang, mencampur realitas dan imajinasi sungguh mencengangkan, juga keunikannya menggunakan struktur yang inovatif. Pencapaian itulah yang membuat semua pembaca sastra sepakat mengakui Italo Calvino sebagai penulis magic realism (realisme magis) yang sangat menarik, membuat karyanya menjadi rujukan wajib dalam sastra postmodern masa kini.
Ambil contoh buku cerpennya Difficult Loves (Gli Amori Difficuli). Meski terasa sekali peristiwanya nyata (realis)---yaitu tentang orang-orang yang jatuh cinta---tetapi penuturannya fantastik, melalui permainan pikiran yang begitu imajinatif, menggemaskan, dan prasangka yang kerap berakhir mengejutkan. Akan terasa betapa pikiran manusia itu rumit, sekaligus emosional, individualistik, hidup dalam dunia dan anggapan sendiri.
Karya fiksi Calvino lain bisa sangat lain. Tiga yang dianggap sangat istimewa dan direkomendasikan ialah If on a Winter's Night a Traveler, The Baron in The Trees, dan Invisible Cities. Novel pertama bukan sekadar novel inovatif tentang rasa penasaran dan ketergodaan seorang pembaca kenapa buku yang dia beli cacat, tapi juga merupakan usaha menyatukan pazel suatu teka-teki dengan struktur cerita berlapis dan bisa ditafsirkan macam-macam. Novel kedua bercerita tentang seorang bangsawan yang karena kejadian tertentu memilih menolak menginjakkan kaki lagi ke tanah dan hidup di atas pohon. Sementara novel ketiga tentang kota-kota sureal lengkap dengan ciri khas, konsep, dan arsitekturnya di sebuah wilayah kekuasaan kaisar Kubilai Khan yang dilalui Marco Polo. Apakah kota-kota itu sungguh ada menjadi pertanyaan seru yang patut dijawab oleh mereka yang senang dengan benturan antara realitas dan imajinasi.
Bagaimana Italo Calvino bisa seimajinatif dan "seserius" bermain-main itu? Semasa Perang Dunia II Calvino bergabung dengan gerakan perlawanan Italia, setelah perang dan lulus kuliah di jurusan sastra dia jadi editor majalah berhaluan kiri. Pada akhir tahun 1960-an ia menjadi anggota Oulipo, sebuah kolektif sastra di Prancis beranggotakan sejumlah penulis, ilmuwan, dan dari latar belakang lain yang berniat mencari bentuk struktur dan pola baru penulisan. Pengalamannya yang kaya dan penjelajahannya yang ajaib membuatnya mampu menghasilkan karya-karya ganjil namun masuk akalnya tetap terjaga.
Nah, sekarang silakan pinjam atau baca karya-karya Italo Calvino setiap kali Anda, pembaca, datang ke Kineruku.
Bibliografi Italo Calvino di Kineruku:
* The Path to the Nest of Spiders
* The Cloven Viscount
* The Baron in the Trees
* The Nonexistent Knight
* The Castle of Crossed Destinies
* Invisible Cities
* If on a winter's night a traveler
* Mr. Palomar
* The Crow Comes Last
* Marcovaldo
* Cosmicomics
* t zero
* Difficult Loves
* Under the Jaguar Sun
* Italian Folktales
* Un re in ascolto
* Six Memos for the Next Millennium
* Our Ancestors
* The Complete Cosmicomics
Gambar dicopy dari Internet.
Sunday, June 09, 2013
Batik: Kekayaan Lokal Bernilai Global
--Anwar Holid
Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) meluncurkan buku Batik Jawa Barat Jilid 3 di Grand Hotel Panghegar Bandung pada Jumat, 7 Juni 2013. Buku tersebut merupakan karya bersama S. Ken Atik, Komarudin Kudiya, Herman Jusuf, Djalu Djatmiko, dan Zaini Rais, memuat perluasan sekaligus melengkapi berbagai inovasi dan motif batik di provinsi Jawa Barat yang telah diterbitkan pada dua jilid sebelumnya. Penerbitan didukung oleh Indonesia Power, Kementerian Perdagangan dan Industri Kreatif, juga Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah.
Ketua Umum YBJB Sendy Yusuf menyatakan batik merupakan kekayaan lokal Indonesia bernilai global. Selain tetap dipelihara, kita bangsa Indonesia harus berusaha mengembangkannya agar dapat diwariskan dan diteruskan kepada generasi selanjutnya. Salah satu yang dilakukan YBJB ialah dengan membangun sentra batik baru di berbagai daerah Jawa Barat, melakukan inovasi motif, dan usaha mengenalkannya ke pasar dan publik lewat penerbitan buku.
Dicetak full color di atas kertas art paper, buku Batik Jawa Barat Jilid 3 berformat sederhana. Isi utamanya ialah motif batik dari 23 kabupaten dan kota se-Jawa Barat. Dari sana kita bisa merasakan ada geliat industri batik, terutama yang "dikawal" dan "dibidani" YBJB di daerah-daerah baru pembatikan seperti Bekasi, Bogor, Majalengka, Sukabumi, Cimahi, dan kabupaten Bandung Barat. Beberapa kali secara khusus dua kementerian mengapresiasi kinerja YBJB terutama Komarudin Kudiya, pendiri Batik Komar. Dia disebut tidak pernah bosan memberi ide-ide segar untuk perbaikan mutu batik Indonesia, khususnya Jawa Barat, yang bukan hanya membuat (memproduksi) dan menjual, melainkan juga mendedikasikan hidup dan membagi ilmu demi batik.
Motif batik Jawa Barat sungguh kaya dan indah. Inspirasinya baik berdasar pada motif tradisional, legenda masyarakat setempat, seni-budaya dan kekhasan lokal, hingga yang abstrak, ekspresionisme, dan mengangkat tema-tema urban. Batik Bekasi mengangkat legenda Si Pitung, Kabupaten Bandung Barat mengangkat kekhasan daerahnya seperti Lembang, kembang herbras, stroberi, legenda Tangkuban Parahu, dan landmark Observatorium Boscha. Hanya sayang motif tersebut tidak diperkaya informasi apa pun, baik soal penciptanya maupun ada apa di balik gambar-gambar itu. Barangkali melalui motif itu YBJB bermaksud sekadar memanjakan mata dan menyerahkan penafsiran sepenuhnya kepada pembaca sebagaimana kata pepatah "gambar itu bernilai ribuan kata." Kekurangan lain, ada sejumlah foto motif batik tampak kabur (tidak tajam) dan hasilnya kurang memuaskan, sehingga karakter visual, daya tarik dan simbolnya tidak terungkap dengan baik.
Peluncuran buku ditandai juga dengan pemberian batik motif rereng Wakil Gubernur Dede Yusuf (DY) karya Ketua Harian YBJB Komarudin Kudiya, dimeriahkan main angklung bersama seluruh hadirin dan pameran busana.[]
Anwar Holid, seminggu sekali berusaha pakai batik.
Link terkait:
http://balareabatikjabar.org
--Anwar Holid
Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) meluncurkan buku Batik Jawa Barat Jilid 3 di Grand Hotel Panghegar Bandung pada Jumat, 7 Juni 2013. Buku tersebut merupakan karya bersama S. Ken Atik, Komarudin Kudiya, Herman Jusuf, Djalu Djatmiko, dan Zaini Rais, memuat perluasan sekaligus melengkapi berbagai inovasi dan motif batik di provinsi Jawa Barat yang telah diterbitkan pada dua jilid sebelumnya. Penerbitan didukung oleh Indonesia Power, Kementerian Perdagangan dan Industri Kreatif, juga Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah.
Ketua Umum YBJB Sendy Yusuf menyatakan batik merupakan kekayaan lokal Indonesia bernilai global. Selain tetap dipelihara, kita bangsa Indonesia harus berusaha mengembangkannya agar dapat diwariskan dan diteruskan kepada generasi selanjutnya. Salah satu yang dilakukan YBJB ialah dengan membangun sentra batik baru di berbagai daerah Jawa Barat, melakukan inovasi motif, dan usaha mengenalkannya ke pasar dan publik lewat penerbitan buku.
![]() |
| Tim penulis Batik Jawa Barat Jilid 3 bersama Ketua Umum YBJB Sendy Yusuf (ke-5 dari kiri). |
Dicetak full color di atas kertas art paper, buku Batik Jawa Barat Jilid 3 berformat sederhana. Isi utamanya ialah motif batik dari 23 kabupaten dan kota se-Jawa Barat. Dari sana kita bisa merasakan ada geliat industri batik, terutama yang "dikawal" dan "dibidani" YBJB di daerah-daerah baru pembatikan seperti Bekasi, Bogor, Majalengka, Sukabumi, Cimahi, dan kabupaten Bandung Barat. Beberapa kali secara khusus dua kementerian mengapresiasi kinerja YBJB terutama Komarudin Kudiya, pendiri Batik Komar. Dia disebut tidak pernah bosan memberi ide-ide segar untuk perbaikan mutu batik Indonesia, khususnya Jawa Barat, yang bukan hanya membuat (memproduksi) dan menjual, melainkan juga mendedikasikan hidup dan membagi ilmu demi batik.
Motif batik Jawa Barat sungguh kaya dan indah. Inspirasinya baik berdasar pada motif tradisional, legenda masyarakat setempat, seni-budaya dan kekhasan lokal, hingga yang abstrak, ekspresionisme, dan mengangkat tema-tema urban. Batik Bekasi mengangkat legenda Si Pitung, Kabupaten Bandung Barat mengangkat kekhasan daerahnya seperti Lembang, kembang herbras, stroberi, legenda Tangkuban Parahu, dan landmark Observatorium Boscha. Hanya sayang motif tersebut tidak diperkaya informasi apa pun, baik soal penciptanya maupun ada apa di balik gambar-gambar itu. Barangkali melalui motif itu YBJB bermaksud sekadar memanjakan mata dan menyerahkan penafsiran sepenuhnya kepada pembaca sebagaimana kata pepatah "gambar itu bernilai ribuan kata." Kekurangan lain, ada sejumlah foto motif batik tampak kabur (tidak tajam) dan hasilnya kurang memuaskan, sehingga karakter visual, daya tarik dan simbolnya tidak terungkap dengan baik.
![]() |
| Dede Yusuf memamerkan motif batik rereng DY karya Komarudin Kudiya (kiri). |
Peluncuran buku ditandai juga dengan pemberian batik motif rereng Wakil Gubernur Dede Yusuf (DY) karya Ketua Harian YBJB Komarudin Kudiya, dimeriahkan main angklung bersama seluruh hadirin dan pameran busana.[]
Anwar Holid, seminggu sekali berusaha pakai batik.
Link terkait:
http://balareabatikjabar.org
Tuesday, June 04, 2013
Mencari Ide Segar tentang Menulis
Sharing menulis dengan Pengajar Muda
--Anwar Holid
--Anwar Holid
Indonesia Mengajar sangat pandai menemukan siapa yang tergila di antara pemuda gila di Indonesia untuk dipilih sebagai Pengajar Muda.
--Siti Nurul Adhimiyati, calon Pengajar Muda angkatan VI
Atas undangan Awe dan Shally aku melakukan sharing kepenulisan bareng calon Pengajar Muda Indonesia Mengajar angkatan VI. Sharing ini sebenarnya ironik karena persis saat itu aku belum bisa menyelesaikan order menulis sebagian sejarah Masjid Salman ITB. Tapi rasa penasaran pada gerakan Indonesia Mengajar membuatku lebih semangat dan mengalahkan rasa malu.
Aku menilai Indonesia Mengajar membuat profesi guru jadi hip. Kawanku cerita ada seorang temannya yang terpilih ikut program tersebut dan pengalaman setahun mengajar di sebuah SD terpencil di berbagai belahan bumi Indonesia itu "sangat sulit diceritakan dan dilupakan." Nah, mungkin soal "sulit diceritakan dan dilupakan" inilah sharing menulis jadi diperlukan sebagai salah satu pembekalan peserta. Biar pengalaman mengajar yang seru itu bisa kembali menggugah anak muda semakin banyak dan ujungnya membuat pendidikan di Indonesia merata, membuat cerah para generasi penerus. Menulis dan menceritakan bisa jadi rada pelik karena yang sepatutnya diceritakan adalah berproses dan berinteraksi dengan orang dan lingkungan setempat, tentang murid, sekolah, sistem pengajaran, bukan soal pengajar yang kesulitan atau terkesan ini-itu atau bahkan tebersit rasa sombong seolah-olah telah melakukan hal heroik. "It's not about me, it's about them," demikian slogan Indonesia Mengajar.
Publisitas Indonesia Mengajar juga sangat baik. Mereka berhasil menerbitkan empat buku dan pembaca antusias menyambut buku mereka. Terbaru, Bayu Adi Persada menulis Anak-Anak Angin dari pengalamannya mengajar di desa Bibinoi, Halmahera Selatan. Indonesia Mengajar juga melahirkan inisiatif "Kelas Inspirasi" yang kini muncul di berbagai kota.
Berkat seleksi ketat, sejak awal aku yakin kemampuan menulis para peserta pasti sudah baik. Benar saja. Waktu lihat corat-coret kerjaan mereka di ruang pelatihan, aku menemukan tulisan To Kill a Mocking Bird, The Name of The Rose, The Kite Runner, tanda mereka akrab dengan bacaan. Lebih kentara lagi ketika sharing. Ada peserta terbiasa melahap baik karya George Orwell, Roland Barthes, J. M. Coetzee, Robert T. Kiyosaki, dan tentu saja penulis Indonesia seperti Pramoedya Ananta Toer dan Goenawan Mohamad. Ada yang sudah mempublikasikan tulisan di media massa terbitan Jakarta maupun lokal, juga pernah bersentuhan dengan ilmu kepenulisan. Ini bukti dari keyakinanku betapa di workshop menulis biasanya ada orang yang sudah terbiasa menulis, bahkan jago, cuma enggan menunjukkan diri.
Alih-alih merasa jadi instruktur, aku lebih suka menyemangati mereka agar lebih mau membagi dan belajar ilmu kepenulisan antarpeserta dan memberi berbagai detil aspek penulisan, misalnya soal koherensi, konteks, apa yang menarik ditulis, ciri tulisan bagus dan jelek, ejaan dan tanda baca---yang biasa dialami penulis muda.
Latihan dan praktik menulis sebenarnya sama saja dari dulu. Belajar baik dari tulisan yang sudah ada dan dari para senior berpengalaman, kita akan tahu pada dasarnya menulis ialah upaya tiada henti memperbaiki kualitas tulisan sendiri. Tantangan kita ialah berusaha terus mencari dan menemukan ide-ide segar tentang menulis. Di luar sana ada banyak orang punya pengalaman menarik untuk ditulis, bahkan kadang-kadang mereka punya pendekatan lain dan khas soal menulis. Itu sebabnya penulis baru terus muncul tak peduli berapa umurnya dan mereka punya cerita sendiri bagaimana sampai bisa melahirkan tulisan.
Soal motivasi menulis misalnya. Penulis pasti mau dan berusaha bisa menyelesaikan tulisan bila menganggap bahwa menulis sangat penting, mendesak, ada maksud yang ingin diungkapkan atau dilampiaskan. Kenapa harus menulis? Agar maksud pikiran tersampaikan secara jernih, informasi terdokumentasi, pengalaman tergali, dan kita bisa belajar serta memperbaiki. Ada semacam knowledge management dari sesuatu yang kita tulis. Kita juga perlu bisa menulis dengan baik karena orang suka berbagi pengalaman dan cerita, apa lagi yang seru.

Manusia juga menulis karena kegiatan ini membedakannya dari binatang. Banyak bangsa melahirkan tulisan yang belum terpecahkan hingga sekarang, sementara tidak ada peninggalan risalah berupa tulisan dari binatang.
Apa yang sebaiknya ditulis? Semua hal yang dianggap penting oleh penulis berharga ditulis, meski bisa jadi buat orang lain terasa remeh. Hal paling dekat, menyentuh, dramatik, dan paling dikuasai penulis jelas patut ditulis, termasuk mimpi (visi), idealisme, juga tawaran pemikiran yang lain/beda. Banyak penulis semangat menuliskan pengalaman, pengamatan, dan pendalaman (refleksi) atas kehidupannya sendiri sampai membuatnya terkemuka. Dalam hal ini hasil kerja dan perjalanan sebagai Pengajar Muda jelas merupakan bekal berharga yang bisa dibagi bila mampu mengungkapkannya dengan baik.
Bagaimana biar menulis jadi kebutuhan? Penulis harus punya alasan kuat (motif) untuk menulis dan jujur dengan motif itu. Kalau ia ingin ingin dapat uang dari tulisannya, akui saja. Kalau ia mau mengungkapkan atau melampiaskan sesuatu, teguhlah pada pendirian itu. Sebagian orang ingin punya karir di dunia kepenulisan dan cuma ingin dikenal, meski menulis tidak membuatnya jadi hartawan.
Jika sudah kebelet, tidak ada cara lain: KEEP YOUR HAND MOVING! Langsung tulis. Terus biasakan menulis. Jangan kuatir soal aturan menulis! “Jika tidak cepat ditulis, rasa malas akan menyerang, dan kesan dari sebuah tempat akan cepat menguap,” begitu kata Yudasmoro, seorang travel writer. Biasakan menulis dan buat notes, baik sebagai jurnal pribadi atau memasangnya di blog dan sosial media. Sekarang ada banyak sekali media menulis. Yang perlu kita jaga adalah konsistensi, gairah (passion), dan kedalaman terhadap dunia menulis.
Inti tulisan ialah ada hal (subjek) yang disampaikan. Yang terpenting dalam tulisan adalah isi. Mau apa penulis dengan pesan yang mau disampaikannya? Pesan harus jelas, ungkapkan dengan jernih, biar sampai ke pembaca dengan terang. Sesimpel itu. Sisanya, baik soal teknik penulisan, cara bertutur, sudut pandang, kepaduan antar kalimat dan paragraf, ejaan, bisa dipelajari lebih lanjut dan disempurnakan lewat latihan dan disiplin. Penulis yang mau belajar akan tahu di mana letak kesalahannya dan pada gilirannya lama-lama ia bahkan punya idealisme (keyakinan) sendiri soal menulis.
Nanti waktu bingung mau meningkatkan mutu, orang akan berpikir: apa yang mau ditulis? Saat itulah ia harus rakus bacaan. “Menulis itu 95 % membaca dan 5 % skill,” demikian tegas Taufiq Rahman, jurnalis The Jakarta Post dan co-founder jakartabeat.net. Penulis mesti banyak membaca agar ada input, dapat informasi lain, baru, beda, atau menjelajah pemikiran dan berbagai hal biar ada interaksi dengan pemikiran sendiri, bisa melahirkan ide baru. Alfathri Adlin, seorang editor, melontarkan adagium KEEP YOUR MIND THINKING untuk menekankan betapa isi kepala memang sangat penting.
Penulis harus berani mengungkapkan pendapat yang menurut pemikirannya benar dan berlatih menyampaikan pendapat itu dengan baik. Bahkan ada kasus penulis harus berani mati dan mengorbankan segala-galanya demi mempertahankan karya. Jika menulis benar-benar penting buatmu, tentu cukup pantas kamu rela mengorbankan diri agar bisa maju terus bersamanya, begitu kata Jurgen Wolff.
Setiap penulis hebat punya disiplin. Dalam proses, penulis pasti menghadapi banyak kendala. Hanya penulis sendiri yang mampu mengatasinya, orang lain dan faktor luar hanya membantu menyelesaikan. Mike Price yakin: “Lebih banyak orang punya bakat daripada disiplin. Itu sebabnya disiplin dibayar lebih tinggi.”[]
Anwar Holid, kadang-kadang didaulat jadi guru penulisan.
Link terkait:
http://indonesiamengajar.org
Sunday, May 19, 2013
Rosda: Contoh bagi Penerbitan Indonesia
--Anwar Holid"Saya bangga pada Rosda. Karena itu banggalah pada Rosda, karena pemimpinnya adalah seorang tokoh penerbitan Indonesia," kata senior Ikapi (Ikatan Penerbit Indonesia) Setia Darma Madjid memberi kesaksian di syukuran dan ulang tahun ke 52 penerbit Remaja Rosdakarya, gedung Wahana Bakti Pos, Bandung pada 18 Mei 2013. Setia Darma merujuk pada Rozali Usman, pendiri Rosda, yang pernah menjadi Ketua Ikapi Pusat selama dua periode. Rozali Usman mendirikan Rosda pada 15 Mei 1961. Dalam ucapan selamatnya, Ketua Ikapi Pusat Lucya Andam Dewi menegaskan, "Rosda menjadi contoh untuk usaha sejenis di Indonesia."
Hari itu juga menandai kesiapan penerbit Rosda memasuki zaman digital. Rosda meluncurkan e-Rosda, layanan toko buku dan penerbitan digital (ebook store mobile apps). E-Rosda memungkinkan penerbit ini menjangkau siapapun yang terkoneksi, menerbitkan lebih banyak buku, termasuk buku yang sudah tidak terbit, dan memberi peluang kerja sama lebih besar kepada penulis dan penerbit lain yang mau menjual maupun mendistribusikan bukunya secara digital.
.jpg)
Wakil Direktur Utama Rosda Rosidayati Rozalina tampak antusias dengan langkah itu. Rosda menggandeng Techbator untuk memastikan keamanan, keterjangkauan, dan kemudahan layanan e-Rosda. Platformnya disesuaikan dengan kondisi teknologi dan ketersediaan gadget di Indonesia. "Kami berkomitmen melindungi penerbit, penulis, dan industrinya," kata Erlan Primansyah dari Techbator. Layanan ini diharapkan bisa menumbuhkan ekosistem industri buku berbasis teknologi terdepan. "Industri buku adalah tulang punggung perkembangan dan kemajuan bangsa Indonesia."
Berawal dari buku pelajaran dan sekolah, penerbit Rosda menonjol di pangsa pasar buku pendidikan dan perguruan tinggi, terutama komunikasi, agama Islam, bahasa, dan sosial-politik. Dengan mayoritas bukunya ditulis oleh para guru besar, dosen, dan pakar di bidangnya, kalangan dunia akademik dan pendidik merupakan pelanggan utama buku Rosda, begitu juga mahasiwa. Mahasiswa merupakan pengguna Internet yang aktif, akrab dengan gadget, tapi sukanya belanja dengan harga murah.
Layanan e-Rosda memungkinkan pelanggan bisa membeli buku per bab, diupdate bila naskah direvisi penerbit, bahkan kalau mau menyewa isinya. Langkah ini dianggap sebagai solusi segar menghadapi pembajakan. Ada puluhan judul buku Rosda dibajak dan bersama sejumlah penerbit lain hingga kini kesulitan menyetop kejahatan tersebut karena terhalang kompleksitas masalahnya.
Lewat berbagai tanggapannya, sejumlah penulis yang langgeng bekerja sama dengan Rosda mengamini dan mendukung langkah baru Rosda tersebut. Bung Smas, penulis novel anak-anak kawakan, mengungkapkan punya banyak kisah dan mendalam dengan Rosda, sampai susah disebut satu per satu. "Rosda adalah tempat saya bekerja sama paling lama dengan sebuah penerbit," katanya. Bahrudin Supardi, penulis buku biografi dan cerita anak-anak, menilai e-Rosda merupakan solusi praktis untuk mengembalikan minat baca generasi muda.[]
Anwar Holid bekerja sebagai editor, penulis, juga publisis.
Link terkait:
www.rosda.co.id
www.twitter.com/remajarosdakarya
Monday, May 06, 2013
![]() |
| Dari ki-ka: Erlan Primansyah, Rosidayati Rozalina, Zamzami |
Mengembangkan Ekosistem Industri Buku Indonesia
---Anwar Holid
Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, pada 2 Mei 2013 penerbit Remaja Rosdakarya melakukan sosialisasi e-book untuk penulis sekaligus melakukan rilis ebook di Google Play. Mayoritas dihadiri rekanan penerbit yang sudah berusia 52 tahun itu, para penulis dalam berbagai tanggapannya menyambut antusias rencana tersebut. Bukan saja karena mereka berpeluang mendapat tambahan royalti dari penjualan ebook, melainkan karena dunia ebook membuka banyak kesempatan, termasuk menghidupkan lagi buku yang "mati", out of print, maupun mendapatkan kembali buku penting yang dibutuhkan.
Direktur Utama Rosdakarya Rosidayati Rozalina menyatakan bahwa ebook tak terhindarkan bagi penerbit. Tiap tahun pasar ebook membuktikan gejala terus meningkat, teknologi informasi semakin canggih, dan jumlah penggunanya membuka pangsa pasar yang terus membesar. Karena itu pada 2013 ini Rosda memutuskan memasuki babak baru, yaitu menerbitkan dan membuka toko buku digital lewat layanan e-Rosda. Layanan ini akan secara resmi diluncurkan pada 18 Mei 2013 saat penerbit Rosda merayakan ulang tahun ke-52.
Ebook tidak butuh kertas, tapi tetap butuh biaya untuk mendevelopnya, termasukjasa tambahan lain seperti membuat enkripsi, animasi, survey, dan metadata. Keamanan ebook, dari isi hingga proses jual-belinya, menjadi faktor sangat penting baik bagi penerbit dan pembaca, apa lagi di Indonesia yang tingkat pembajakannya tinggi, termasuk di dunia cyber.
Erlan Primansyah dari Techbator yang menjadi mitra utama Rosda dalam bisnis ini menjelaskan pihaknya ingin mengembangkan ekosistem perbukuan, mau diapakan ebook ini, keterjangkauan, kemudahan, serta bagaimana membangun industrinya agar sesuai dengan platform dan kondisi teknologi di Indonesia yang tergolong belum sangat maju bila dibandingkan banyak negara lain. Dia yakin ke depan para penerbit Indonesia yang masuk dunia ebook bukan berebut market share, melainkan membesarkannya, karena pasar dan penggunanya terus tumbuh. Sejumlah penerbit umum dan perguruan tinggi disebut-sebut juga telah siap memasuki kancah ini. Berdasar survey, Erlan menegaskan ebook bukanlah substitusi, melainkan komplementer untuk print book.

Direktur Penerbitan Rosda Zamzami Djahuri menginformasikan bahwa ebook bisa membuka pasar internasional bagi penulis Indonesia. Dia menyebut ada 80.000 perpustakaan di dunia yang tertarik membeli ebook, kalau menarik. Belum lagi kemungkinan terjadi jual-beli copyrights. Fakta ini diamini Aan Merdeka Permana, seorang penulis fiksi-sejarah asal Bandung. Beliau menyebutkan buku-bukunya suka dibeli oleh perpustakaan luar negeri, terutama Belanda. Sementara dia juga berniat menerbitkan lagi karya-karyanya yang sudah kembali hak ciptanya dan suka dicari-cari orang karena tidak tersedia lagi di toko buku biasa.
Pasar ebook memang tampak masih labil. Tipikalnya harga ebook bisa 30 % lebih murah dari print book. Tapi banyak pula pembaca yang suka gratis dulu, baru setelah yakin menarik, mereka mau beli. Namun dalam kasus tertentu ketika tidak ada versi print booknya, harga ebook malah bisa lebih mahal. Fakta membuktikan begitu sebuah judul ebook laris, versi printnya pasti dicari-cari pembaca dan segera akan muncul, baik lewat penerbitan biasa maupuan print on demand (POD). Untuk penulis, pihak Rosda menawarkan royalti antara 14 - 19 %, lebih besar dari royalti biasa antara 8 - 10 %.
Didirikan oleh Rozali Usman pada tahun 1961, penerbit Rosda menonjol di dunia buku pendidikan dan perguruan tinggi, terutama komunikasi, agama Islam, bahasa, dan sosial-politik. Mayoritas bukunya ditulis oleh guru besar dan terkemuka di bidangnya, antar lain Jalaluddin Rakhmat, Deddy Mulyana, A. Chaedar Alwasilah, dan Ahmad Tafsir.[]
Link terkait:
www.rosda.co.id
Thursday, June 07, 2012
Skizofrenia, Metafora Kondisi Masyarakat Kita
--Anwar HolidMereka Bilang Aku Gila: Memoar Seorang Penderita Skizofrenia
Judul sumber: The Day the Voices Stopped: Memoar of Madness and Hope
Penulis: Ken Steele dan Claire Berman
Penerjemah: Rahmani Astuti
Penerbit: Qanita Mizan, 2004
Tebal: 436 halaman
ISBN: 979-3269-16-2
YASRAF AMIR PILIANG---penulis prolifik dari Bandung---pernah bercerita bertemu seseorang yang tahu dirinya mengajar di Institut Teknologi Bandung. "Dulu saya juga pernah mau masuk ITB," kata orang itu kepadanya, "cuma gagal karena rambut." Katanya sambil menunjuk kepala, menyentuh rambut. Yasraf tersenyum. Bagaimana mungkin seseorang gagal masuk perguruan tinggi karena rambut? Atau Anda masih ingat John Nash dalam A Beautiful Mind yang dimainkan sangat menyentuh oleh Russel Crowe? Ketika berpesta kebun bersama rekan-rekannya, disebabkan oleh pantulan cahaya melalui gelas dan kaca pada dasi seorang temannya, dia berkata, "Mungkin ada penjelasan matematika kenapa dasimu jelek." Tentu saja temannya tersinggung.
Tapi demikianlah, seorang skizofrenia melihat hal berbeda dari orang normal, bahkan dalam banyak kasus melihat hal yang tak ada. Mereka mengalami sesuatu yang berbeda, baik mental maupun fisiologis, dan itu menyebakan kesulitan hidup dalam dunia umum. Mereka berpikir secara tak lazim, gerak-geriknya aneh, gagal berkomunikasi, hidup dalam dunia sendiri, yang parah disertai sejumlah simptom seperti delusi dan halusinasi---namun sama sekali tak sadar bahwa fungsi mentalnya terganggu. Dalam kasus Nash, dia merasa memiliki teman sekamar dan sepupunya, terus diikuti oleh agen Departemen Pertahanan. Mereka terus ada bahkan sampai ketika Nash pulih dari sakitnya, "Hanya aku memilih tak mengakuinya," begitu kata Nash untuk mengakhiri ajakan masuk ke dalam "dunia lain" itu.
Pengalaman Ken Steele dalam buku ini juga khas seorang penderita skizofrenia. Sejak remaja dia mendengar suara yang menitah menghabisi nyawanya karena dirinya dianggap tak berharga, terus-menerus menghina dan menyalahkan diri, kerap hidup dalam khayalan sendiri. Dia gagal berkomunikasi dengan keluarga dan lingkungan, akibatnya dia melarikan diri ke kota besar---namun langkah itu ternyata menuju pada malapetaka mengerikan, hidup di jalanan, dipaksa menjadi pelacur, tanpa rumah, pekerjaan, kawan. Puncaknya, tak tahan akan desakan suara-suara itu, dia akhirnya terjun dari sebuah gedung, untung nyawanya masih terselamatkan oleh polisi dan petugas kesehatan. Mujur negara seperti Amerika Serikat cukup mampu menjamin keselamatan dan kesehatan warganya, memberi layanan memadai kepada orang yang membutuhkan, Ken Steele diberi obat, diterapi perlahan-lahan, berkali-kali---bahkan ketika mencoba kabur sekalipun---sampai akhirnya sembuh meskipun harus terus mengonsumsi obat. Sisa hidupnya yang waras dia persembahkan untuk kembali menolong orang seperti dirinya, terutama kalangan lebih miskin, yang kadang-kadang jaminan sosialnya ditolak rumah sakit karena berbagai alasan, menerbitkan jurnal dunia skizofrenia dan penderitanya, menjadi relawan kegiatan kemanusiaan, aktif mengupayakan agar undang-undang bagi penderita skizofrenia bisa diterima menjadi hukum wilayah, dan berkampanye agar mereka lebih diperhatikan dewan perwakilan. Di balik deritanya, Ken Steel terus berusaha menjadi orang produktif, membantu dan melayani orang lain. Penuturan Steele yang ditulis Claire Berman dalam Mereka Bilang Aku Gila ini cukup memberi gambaran utuh bagaimana adanya penderita skizofrenia.
ORANG KEBANYAKAN memang lazim menyebut skizofrenia sama dengan gila---dalam beberapa hal memang mirip. Namun detailnya berbeda. Di zaman dahulu istilah yang mendekati skizofrenia adalah psikosis. Definisi skizofrenia paling tepat dijelaskan dalam psikoanalisis. Salah satunya adalah menurut Jacques Lacan---seorang ahli psikoanalisis paling terkemuka di akhir abad ke-20---sebagaimana ditulis Yasraf dalam Hipersemiotika: "putusnya rantai pertandaan, yaitu rangkaian sintagmatis penanda yang bertautan dan membentuk satu ungkapan atau makna." Menurut Lacan, skizofrenia menganggap kata sama seperti benda sebagai referensi, dengan pengertian, sebuah kata tidak lagi merepresentasikan sesuatu sebagai referensi, melainkan referensi itu sendiri menjadi kata. Itu sebabnya kenapa bagi seorang penderita skizofrenia, rambut tak berbeda dengan otak atau kepintaran, pasar dengan pasir. Mereka tak bisa membedakan mana yang nalar dan tak masuk akal, juga tidak memiliki konsep waktu. Lebih dari kebanyakan sakit mental lain, skizofrenia memiliki efek melemahkan hidup penderitanya. Sangat umum penderita skizofrenia memiliki kesulitan membedakan pengalaman nyata dan tak nyata. Dalam kondisi normal pun orang fiktif dalam hidup John Nash itu tak lenyap juga, mereka berbaur dengan orang nyata dalam pandangannya. Maka satu-satunya cara adalah dengan bertanya kepada orang lain, "Apa kamu lihat orang di samping saya ini?" Lebih buruk karena orang fiktif ini lebih sering mengintimidasi atau mengancam penderita skizofrenia daripada menjadi pelindung atau menyenangkannya. Hingga saat ini belum ada obat antipsikotik untuk mengatasi skizofrenia sampai sembuh total, namun sejumlah obat bisa menenangkan penderita, meski kadang-kadang dampak sampingnya besar sekali. Tanpa pengobatan, fantasi itu bisa kembali mengambil alih.
Entah karena ditulis oleh Claire Berman yang normal, atau Ken Steele memiliki kemampuan jurnalisme yang bagus dan dituturkan setelah dia normal, memoar ini tidak sesukar yang akan disangka calon pembaca. Penuturan Steele terstruktur baik dan cara menulis Berman pun lancar. Sangat berbeda dengan Dunia di Balik Kaca (Donna Williams)---meski sama-sama hidup dalam dunia sendiri---yang hingga halaman 100 lebih masih kabur dan sukar dipahami, buku ini terasa normal saja. Berman memilih menyusun buku ini ketika Steele mulai disika suara-suara asing, menyisipkan pengalaman, penderitaan dan kegetiran hidup, upaya penyembuhan, diakhiri setelah normal dia berkampanye untuk sesamanya. Suara-suara asing itu setiap saat menjadi ancaman hidup, unsur menakutkan, berusaha menghancurkan mental Steele setiap kali melakukan hal buruk, salah tempat, atau gagal mengikuti kemauan suara asing tersebut.
Buku ini mungkin bukan yang sangat memikat menceritakan derita skizofrenia; biografi John Nash dalam A Beautiful Mind karya Sylvia Nasar jauh lebih mengharukan, luar biasa, mampu menguras emosi. Tapi untuk khalayak pembaca kita, buku Ken Steele ini boleh mendampingi film itu, karena buku karya Nasar tidak tersedia di toko buku kita. Skizofrenia masih cukup asing, kerap disalahpahami, dan sukar disadari oleh orang di sekeliling penderita, seperti orangtua, keluarga, tetangga, dan kawan sebaya. Orang lain yang menyaksikan seseorang tiba-tiba tertawa, mendebat hebat sendirian, ketakutan berlebihan atau berkelakuan membahayakan mungkin hanya bisa menertawakan atau menganggap dia tak waras---padahal pengalaman itu real bagi dirinya.
MENARIK BAHWA Qanita menerbitkan sejumlah memoar, biografi, dan autobiografi yang dekat realitasnya dengan kehidupan masa kini, memberi referensi pengalaman yang benar-benar autentik dari sudut pandang "orang dalam." Setelah menerbitkan anak tanpa kasih sayang, penderita autisme, tragedi pendakian Everest, kini penderita skizofrenia, barangkali di masa mendatang Qanita bisa menerbitkan buku tentang penderita ODHA (orang dengan HIV aktif), indigo, seorang psycho, atau pengidap kanker. Sebagian besar pembaca memoar berharap pada kejujuran penutur, kedekatan emosi, kedalaman perasaan, atau membayangkan andai peristiwa itu juga dia alami---karena kemungkinannya itu bisa terjadi di antara orang kebanyakan.Alasan itu cukup membuat memoar mudah diserap pasar. Mereka Bilang Aku Gila adalah produk lanjutan sejenis buku lain: tragedi atau penyakit yang dialami manusia modern, dan moralnya adalah usaha manusia untuk tak kenal lelah mengatasinya, berserah diri pada takdir, tabah menerima cobaan---seberat apa pun, dan karena ditulis “orang dalam” dijamin bisa menyentuh rasa kasih setiap orang.
Penyakit dan tagedi manusia modern sangat beragam, berbeda bentuknya dibandingkan malapetakan masa lalu. Kini tak ada lagi orang meninggal karena tuberkolosis (TBC) atau lepra, namun penderita sakit modern seperti AIDS dan skizofrenia bertambah banyak dan tipenya macam-macam. Maka benar kata Susan Sontag---filosof budaya Amerika---bahwa sakit merupakan metafora sebuah zaman. Metafora sakit masa kini di antaranya AIDS, kanker, juga skizofrenia. Kata Sontag, "Sakit adalah sisi gelap hidup, kewarganegaraan yang lebih sukar. Semua orang yang lahir memegang dua kewarganegaraan: kerajaan sehat dan kerajaan sakit. Meski kita semua lebih suka hanya menggunakan paspor yang sehat, cepat atau lambat kita wajib memperkenalkan diri sebagai warga negara kerajaan lain itu, setidaknya karena terserang. Sakit sudah selalu digunakan sebagai metafora untuk menekankan tuduhan bahwa sebuah masyarakat korup atau zalim. Metafora penyakit tradisional terutama adalah cara menjadi berapi-api, sebaliknya metafora modern relatif lebih menunjuk ketidakpuasan."
Bagi pembaca awam buku seperti ini bisa memberi pengaruh emosi, kasih sayang; namun bagi pembaca lanjut---seperti Yasraf Amir Piliang tadi---skizofrenia dapat digunakan menjelaskan fenomena lebih luas, di antaranya fenomena bahasa (Jacques Lacan), fenomena sosial ekonomi, sosial politik (Gilles Deleuze dan Felix Guattari), dan fenomena estetika (Fredric Jameson). Dalam kasus Steele misalnya, dia cukup beruntung karena ada negara yang bisa membantu menyelamat kehidupannya; sementara berjuta-juta penderita yang sama terlantar, diabaikan, disingkirkan masyarakat dan negara, dianggap itu penyakit yang tak bisa diapa-apakan. Bila ditarik ke sistem institusi sosial kita, akan terasa betapa buruk layanan kesehatannya, sangat egois karena tak mau peduli, bukan merupakan prioritas perjuangan banyak kalangan. Maka kerja keras Steele memulihkan kesehatan mental, mengusahakan agar penderita skizofrenia memperoleh hak sewajarnya bisa dijadikan bukti bahwa penyakit itu kini merupakan sesuatu yang tak bisa dipisahkan dari semua orang, merupakan ciri masyarakat kontemporer.[]
Anwar Holid, penulis buku Keep Your Hand Moving (GPU, 2010). Bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis.
Monday, April 09, 2012
Dari Blog Jadi Buku Best-Seller
Acara: Gathering Blogger Mizan 2012
Bandung, Sabtu, 7 April 2012
Tempat: The Amaroossa Hotel, Bandung
Penerbit Mizan mengadakan Gathering Blogger Mizan 2012 diikuti lima puluhan blogger dari berbagai kota di Indonesia. Gathering itu bertema From Blog to Best-Seller Book, tujuannya berusaha mendekatkan penerbit Mizan dengan bakat-bakat baru di dunia penulisan untuk diterbitkan dan meramaikan industri buku.
"Blog mereka punya potensi menjadi buku," demikian kata Yuliani Liputo, ketua panitia acara. Mizan menyeleksi para blogger terutama berdasarkan frekuensi update, jumlah pengunjung, dan komentar atas tulisan mereka. Tema blog beragam, mulai dari kuliner, pelesir dan perjalanan (travelling), mode, pendidikan, humor, fiksi, termasuk diari. Penerbit Mizan percaya, dengan kerja sama dan sedikit sentuhan editorial, isi blog mereka bisa menjadi buku yang menarik dan bisa meraih pembaca lebih luas. Dari sana, jalan menjadi penulis yang sukses pun menjadi terbuka.
Sebagian blogger memang belum terbiasa berhubungan dengan penerbit, bahkan ada yang mengaku tidak tahu persis apa daya tarik utama blog mereka bagi pembaca. Yang mereka tahu ialah mereka rata-rata menulis karena suka (hobi) dan mencintai subjek yang sering mereka tulis. Dari situ tulisan mereka kerap dibaca orang, baik oleh kawan dekat maupun pengunjung yang lama-lama akhirnya berteman juga.
Pengalaman Muhammad Assad, blogger yang jadi narasumber acara itu, tampaknya tipikal di dunia blog. Dia baru berani memutuskan menawarkan isi blognya ke penerbit setelah didorong oleh kawan-kawan yang suka membaca dan mengomentari tulisannya. Dari sana terbit buku Notes From Qatar yang jadi best-seller. Dengan penerbit Mizan dia berencana menerbitkan buku Good Morning Qatar.
Narasumber lain di gathering itu ialah Pidi Baiq, penulis Drunken Monster dan Drunken Mama. Dia menyatakan hal terpenting dalam kreativitasnya ialah nyali. Itu sebabnya dia menulis saja tanpa teori. "Seandainya semua orang mengabaikan teori, maka semua orang bisa berkarya," kata dia penuh semangat.
Sosial media telah terbukti menarik banyak penerbit sebagai sumber naskah buku. Sudah banyak buku best-seller dari berbagai genre yang awalnya muncul di blog. Blogger maupun penulis pemula yang cerdik memanfaatkan semua kelebihan jejaring sosial media untuk berinteraksi, mempublikasi tulisan, menyebar info, juga memperbanyak teman dan pengaruh. Media sosial juga semakin mengerucut dan terhubung, mudah digunakan. Para blogger merasa bahwa blog merupakan media menulis yang paling simpel dan jujur.
Memang kebanyakan tulisan yang diterbitkan dari blog bertema kesenangan (leisure), populer, dan keseharian, tapi potensi dari sana mampu mengguncang industri buku dan mempengaruhi banyak pembaca. Penerbit Mizan berharap kegiatan seperti ini mampu menghubungkan blogger lebih akrab dengan penerbit, baik dari segi keredaksian maupun promosi.[]
Anwar Holid, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.
Situs terkait:
www.mizan.com
FB: Penerbit Mizan
t: @penerbitmizan
Acara: Gathering Blogger Mizan 2012
Bandung, Sabtu, 7 April 2012
Tempat: The Amaroossa Hotel, Bandung
Penerbit Mizan mengadakan Gathering Blogger Mizan 2012 diikuti lima puluhan blogger dari berbagai kota di Indonesia. Gathering itu bertema From Blog to Best-Seller Book, tujuannya berusaha mendekatkan penerbit Mizan dengan bakat-bakat baru di dunia penulisan untuk diterbitkan dan meramaikan industri buku.
"Blog mereka punya potensi menjadi buku," demikian kata Yuliani Liputo, ketua panitia acara. Mizan menyeleksi para blogger terutama berdasarkan frekuensi update, jumlah pengunjung, dan komentar atas tulisan mereka. Tema blog beragam, mulai dari kuliner, pelesir dan perjalanan (travelling), mode, pendidikan, humor, fiksi, termasuk diari. Penerbit Mizan percaya, dengan kerja sama dan sedikit sentuhan editorial, isi blog mereka bisa menjadi buku yang menarik dan bisa meraih pembaca lebih luas. Dari sana, jalan menjadi penulis yang sukses pun menjadi terbuka.
Sebagian blogger memang belum terbiasa berhubungan dengan penerbit, bahkan ada yang mengaku tidak tahu persis apa daya tarik utama blog mereka bagi pembaca. Yang mereka tahu ialah mereka rata-rata menulis karena suka (hobi) dan mencintai subjek yang sering mereka tulis. Dari situ tulisan mereka kerap dibaca orang, baik oleh kawan dekat maupun pengunjung yang lama-lama akhirnya berteman juga.
Pengalaman Muhammad Assad, blogger yang jadi narasumber acara itu, tampaknya tipikal di dunia blog. Dia baru berani memutuskan menawarkan isi blognya ke penerbit setelah didorong oleh kawan-kawan yang suka membaca dan mengomentari tulisannya. Dari sana terbit buku Notes From Qatar yang jadi best-seller. Dengan penerbit Mizan dia berencana menerbitkan buku Good Morning Qatar.
Narasumber lain di gathering itu ialah Pidi Baiq, penulis Drunken Monster dan Drunken Mama. Dia menyatakan hal terpenting dalam kreativitasnya ialah nyali. Itu sebabnya dia menulis saja tanpa teori. "Seandainya semua orang mengabaikan teori, maka semua orang bisa berkarya," kata dia penuh semangat.
Sosial media telah terbukti menarik banyak penerbit sebagai sumber naskah buku. Sudah banyak buku best-seller dari berbagai genre yang awalnya muncul di blog. Blogger maupun penulis pemula yang cerdik memanfaatkan semua kelebihan jejaring sosial media untuk berinteraksi, mempublikasi tulisan, menyebar info, juga memperbanyak teman dan pengaruh. Media sosial juga semakin mengerucut dan terhubung, mudah digunakan. Para blogger merasa bahwa blog merupakan media menulis yang paling simpel dan jujur.
Memang kebanyakan tulisan yang diterbitkan dari blog bertema kesenangan (leisure), populer, dan keseharian, tapi potensi dari sana mampu mengguncang industri buku dan mempengaruhi banyak pembaca. Penerbit Mizan berharap kegiatan seperti ini mampu menghubungkan blogger lebih akrab dengan penerbit, baik dari segi keredaksian maupun promosi.[]
Anwar Holid, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.
Situs terkait:
www.mizan.com
FB: Penerbit Mizan
t: @penerbitmizan
Subscribe to:
Posts (Atom)








.jpg)



