Showing posts with label Penerbit Rosda. Show all posts
Showing posts with label Penerbit Rosda. Show all posts

Monday, June 19, 2017


Komentar Atas Buku Suara dari Marjin 
Oleh: Satria Dharma


Suara dari Marjin: Literasi sebagai Praktik Sosial
Penulis: Sofie Dewayani & Pratiwi Retnaningdyah
Penerbit: PT Remaja Rosdakarya, Bandung
Halaman: 229
Tahun terbit: Mei 2017
Harga: Rp78.500
ISBN: 978-602-446-048-8


Apa itu literasi dan mengapa harus ‘dibumikan’? Literasi selama ini memang boleh dikata hanya berupa definisi canggih yang belum benar-benar membumi.  Ia hanya dikunyah-kunyah dan dirumus-rumuskan oleh para akademisi di menara gadingnya.

Tentu saja kegiatan literasi telah ada sebelumnya dan itu bisa dijejaki pada zaman-zaman sebelumnya. Tapi itu masih merupakan inisiatif-inisiatif perorangan yang sangat elitis, belum merupakan sebuah gerakan, apalagi berlandaskan semangat keagamaan atau spiritual seperti dalam Islam.

Bangsa mana saja yang memiliki budaya literasi tinggi akan menjadi bangsa maju dan berkembang, sebaliknya bangsa yang meninggalkannya akan tertinggal. Literasi menjadi tonggak kebangkitan peradaban, baik di dunia Barat maupun di dunia Islam. Jadi upaya membangun bangsa sejatinya ialah membangun kembali budaya literasi umat atau bangsa ini agar kejayaan dapat kita raih kembali.

Rod Welford, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Queensland, Australia, telah memberi perhatian khusus untuk literasi. Ia berkata :“Literacy is at the heart of a student’s ability to learn and succeed in school and beyond. It is essential we give every student from Prep to Year 12 the best chance to master literacy so they can meet the challenges of 21st century life.”

Literasi adalah inti atau jantungnya kemampuan siswa untuk belajar dan berhasil dalam sekolah dan sesudahnya. Tanpa kemampuan literasi yang memadai, siswa tidak akan dapat menghadapi tantangan-tantangan Abad Ke-21. Intinya, kemampuan literasi adalah modal utama bagi generasi muda untuk memenangkan tantangan abad 21. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Queensland telah mengeluarkan buku Literacy the Key to Learning: Framework for Action untuk digunakan sebagai acuan pendidikan mereka pada tahun 2006-2008.

Bagaimana dengan pendidikan literasi di Indonesia?

Rendahnya reading literacy bangsa kita saat ini dan di masa depan akan membuat rendahnya daya saing bangsa dalam persaingan global. “70 persen anak Indonesia sulit hidup di Abad Ke-21,” demikian kata Prof. Iwan Pranoto. Peringkat siswa kita di tes PISA terus berada di bawah sejak tahun 2000 sampai sekarang.

Alhamdulillah, sejak turunnya Permendikbud 23/2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti yang mencantumkan adanya kewajiban bagi sekolah untuk membudayakan membaca melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS), maraklah kegiatan literasi di berbagai daerah, utamanya di sekolah-sekolah. Gerakan Literasi Sekolah ini bak oasis bagi hilangnya budaya membaca dan menulis bagi siswa di sekolah selama ini.

Sejak gerakan Gerakan Literasi Sekolah diluncurkan, berbagai daerah seolah berlomba untuk menunjukkan gairah membaca dan menulis siswa dan guru. Contoh, sejak dideklarasikan sebagai Provinsi Literasi setahun lalu, DKI Jakarta berhasil mendorong siswanya untuk membaca sebanyak satu juta buku. Di Surabaya program Tantangan Membaca Surabaya 2015 berhasil memotivasi 39.000 lebih siswa membaca 20 buku per orang. Siswa di SMAN 5 Surabaya berhasil membaca 1.851 buku hanya dalam dua bulan. Berbagai sekolah berhasil mendorong siswanya untuk menulis dan menerbitkan karya tulis dalam bentuk buku. Untuk guru program SAGUSABU (Satu Guru Satu Buku) yang digawangi oleh Media Guru dan SAGUSABU yang dilaksanakan oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) berhasil mendorong ribuan guru untuk mulai menulis dan menerbitkan buku mereka sendiri. Literasi telah dibumikan kembali setelah selama ini menghilang dan tidak pernah dipahami urgensinya.

Buku Suara dari Marjin ini unik dan menarik karena ditulis oleh dua orang doktor di bidang bahasa yang sama-sama menggawangi program Gerakan Literasi Sekolah. Tentu saja mereka berdua sangat otoritatif untuk berbicara tentang literasi dan bagaimana membumikannya karena sama-sama berprofesi sebagai dosen yang mengajarkan kemampuan literasi. Yang lebih unik adalah bahwa buku ini berangkat dari penulisan ulang disertasi mereka ketika mengambil program doktor. Sofie di University of Illinois at Urbana-Champaign, Amerika Serikat, Pratiwi di University of Melbourne, Australia. Yang membuatnya sangat menarik adalah bahwa penulisan ulang disertasi ini dilakukan dengan gaya bahasa populer yang membuatnya seperti sebuah novel saja laiknya. 

Buku ini sangat penting untuk dibaca oleh para pengambil kebijakan pendidikan, pelaku pendidikan, maupun para aktivis yang bergerak di bidang pendidikan, baik di sekolah maupun masyarakat. Pemahaman akan konsep literasi yang kontekstual dan autentik dari para pemangku kepentingan di bidang pendidikan akan mampu memberikan arahan dalam upaya untuk memberdayakan masyarakat dalam kegiatan literasi. Apa yang telah dilakukan pemerintah melalu berbagai programnya akan diperkuat dan diperkaya oleh praktik literasi lokal yang mengakar pada praktik budaya dan jati diri bangsa.

Satria Dharma, Penggagas Gerakan Literasi Sekolah – IGI (Ikatan Guru Indonesia).

Monday, September 15, 2014

OKTOBER SUDAH DEKAT!!!
--Anwar Holid


Persis di hari ulang tahun ke-41 aku bersama sebelas kawan lain selesai ikut fase pertama workshop marketing internasional penerbitan yang diadakan oleh Goethe-Institut Jakarta, IKAPI, dan Frankfurt Book Fair (FBF). Workshop ini diikuti 10 penerbit dengan beragam kondisi, ada penerbit pemula, penerbit terbesar di Indonesia, penerbit spesialis, buku anak-anak, anggota IKAPI maupun belum.

Di workshop ini aku membatin: SEBESAR APA PASSIONMU PADA PENERBITAN atau PERBUKUAN? Barangkali karena aku mulai mendapati sebagian kenalanku berhenti berbisnis di dunia buku, mulai masuk dunia lain, meski aku masih selalu mendapati para senior ternyata tetap semangat, bahkan aku pikir tambah ahli dan terus bersedia membagi ilmu.

Aku masih semangat menghasilkan buku baik dan hebat, ingin mengenalkan karya yang aku nilai berharga, memang pantas dijual; tapi jujur saja jalan ke arah sana kadang-kadang sulit, bahkan bisa dipersulit oleh orang-orang yang aku pikir mestinya mendukung niat baikku. Niat baik tidak selamanya ditanggapi positif bila aku gagal menerangkan apa untungnya menerbitkan naskah yang aku pikir hebat, bermanfaat, dan bakal menguntungkan.

Jelas secara finansial aku tidak jadi miliarder karena konsisten kerja di dunia penerbitan. Tapi kondisi itu tidak pernah membuat patah semangat. Aku hanya suka malu setiap kali gagal belajar dari kesalahan, tidak bekerja lebih baik, dan kesulitan menuntaskan tanggung jawab dengan baik.

Selama berkarir di penerbitan, aku lihat banyak senior terus semangat dan berdedikasi, entah dia orang Indonesia atau asing. Sementara pelaku baru terus tumbuh, punya idealisme dan inovasi; meski di antara mereka mungkin saja ada yang kutu loncat, kerja pakai pola high risk, hit and run. Kiprah pelaku muda kerap membuat aku salut dan kreativitasnya mengejutkanku, membuat kagum dan memaksa aku untuk terus belajar dan menambah wawasan.

Guru utama workshop ini ialah Sebastian Posth, pebisnis penerbitan Jerman yang terutama bergerak di ebook, olah data, namun tetap peduli dengan keberlangsungan buku cetak. Salah satu maksud workshop ini ialah membantu persiapan kami sebagai wakil penerbit Indonesia untuk menawarkan dan menjual rights buku di FBF pada 7-12 Oktober 2014.

Sejak berangkat workshop aku tidak mengakses email dan media sosial. Jadi aku buta yang terjadi dengan akunku dan berita di luar sana. Sekitar seminggu lalu dadaku sakit lagi, membuatku demam di malam hari, kehilangan nafsu makan, batuk-batuk, dan pening; memaksaku berhenti main WE9, dengar musik, dan baca-baca majalah atau buku di malam hari karena maunya istirahat lebih lama. Beruntung, kondisiku jauh lebih membaik selama ikut workshop, jelas itu karena tunjangan konsumsinya OK banget.

Seorang senior yang juga ikut workshop bilang, 'War, kamu sekarang tambah jarang nulis ya?' Pertanyaan ini membuatku sedih sekaligus terharu. Sedih karena memang itu faktanya; terharu karena ada orang dekat yang menyadari bahwa aku juga suka menulis untuk menyuarakan sesuatu.

Seingetku, aku jawab begini: 'Kalo nulis iya, tapi kalo ngasih komentar kayaknya tambah sering.' Ha ha ha... Kayaknya sekarang aku lebih baik bekerja atau melakukan sesuatu daripada menulis.' Yah, jujur saja. Aku malu bila banyak menulis seolah-olah peduli atau bisa ini-itu menyelesaikan banyak hal besar, padahal pekerjaan utamaku belum beres. Aku sudah diperingati klien untuk fokus mengerjakan tugas utama, yaitu membereskan pekerjaan yang tidak bisa dilakukan orang lain. Aku ikut workshop karena ada target, bukan untuk sekadar bersenang-senang menikmati bagian dari passion duniaku.

Jujur saja, ikut workshop sebenarnya menunda banyak pekerjaanku membantu persiapan Penerbit Rosda menghadapi FBF 2014 yang sudah tinggal hitungan hari. Setiap kali mengingat ini jantungku terpacu lebih cepat dan tekanan kepalaku langsung naik. Begitu banyak yang harus aku lakukan, waktu makin sempit, sementara energiku sendiri tidak dalam kondisi maksimal. Namun penyesalan terbesarku selama workshop ialah kemampuan Englishku yang sama sekali tidak membaik, sehingga menghalangiku menyampaikan pikiran dengan jernih kepada orang-orang yang buta bahasa Indonesia. Penyesalan ini jauh lebih besar daripada aku lupa bawa kamera gara-gara masih sakit waktu berangkat saat fajar menuju workshop.

Peserta, panitia, dan narasumber workshop. Pria bule di tengah ialah Sebastian Posth.


Hal utama yang ingin aku sampaikan selama menyaksikan persiapan Indonesia dalam FBF 2014 ialah betapa dukungan pemerintah (barangkali dalam hal ini ialah ‘Komite Nasional FBF’) terhadap kehadiran penulis di FBF sangat minim. Untuk kasus Penerbit Rosda saja, kami menawari beberapa penulis untuk datang dan buat acara di FBF, tapi semua menolak karena tidak ada biaya. Padahal selama sharing session kita tahu ada dana penerjemahan yang tidak terserap dengan baik tapi katanya sama sekali tidak bisa diubah alokasinya karena berbagai alasan, salah satunya ialah takut terjerat hukum. Buat apa ada uang kalo tidak bisa dibelanjakan untuk kepentingan bersama?

Hal menyedihkan lain ialah ada banyak penerbit dan penulis yang terabaikan dari hingar-bingar persiapan Indonesia jadi Guest of Honor (GoH) Frankfurt Book Fair 2015. Katakanlah penerbit dan penulis nonmainstream atau independen, padahal mereka menurutku pantas diajak berperan serta. Aku berharap semoga representasi buku dan penulis Indonesia yang ada di GoH cukup berimbang. Harusnya ada penulis dari kalangan FLP/Islam, ada pemberontak macam Saut Situmorang, penulis buruh, dari Indonesia Timur, Indonesia diaspora, dan lain-lain. Setahuku hal itu belum terakomodasi.

Kita tahu ada penulis dan penerbit yang bisa terbang ke Frankfurt, sementara lainnya tidak, bahkan mungkin dapat akses informasi pun tidak. Tentu kita bisa tanya kenapa mereka terpilih atau bisa memperhatikan seperti apa relasi mereka dengan klik pada kelompok tertentu atau ikatan patronnya bagaimana. Contoh, penulis A bisa diundang di FBF karena dinilai pantas jadi wakil Indonesia. Tapi dari kliknya kita juga bisa lihat ia bisa hadir karena bukunya sudah diterjemahkan dalam English, dan direktur penerbit itu dekat dengan para penentu kebijakan di Komite Nasional. Jelas ada kepentingan yang main di sana.

Contoh lain: mungkinkah kita membangkitkan minat sebagian pelaku industri penerbitan agar antusias bahwa Indonesia jadi GOH FBF 2015, bila terhadap Ubud Writers and Readers Festival saja sinis?

Pelajaran utama dari fase pertama workshop ini ialah bagaimana cara meyakinkan orang agar percaya bahwa produk yang aku bawa pantas mereka beli. Kondisi ini tambah sulit kalo kemampuan komunikasiku buruk. Ini yang paling mengkhawatirkanku. Komunikasi yang buruk pasti sulit mengangkat nilai jual produk yang sangat unggul sekalipun. Claudia Kaiser dari FBF siap bantu membuatkan website agar kami bisa menghadirkan dan mengenalkan buku yang mau ditawarkan rightsnya secara lebih baik dan meyakinkan.

Kira-kira itulah yang ingin aku lampiaskan. Di dalam, PR-ku untuk Penerbit Rosda juga masih numpuk dan harus diselesaikan.[] Jakarta, 9 September 2014

Monday, April 28, 2014

Empat Malam di Kuala Lumpur
--Anwar Holid

Seri Pacific Hotel, KL adalah hotel termewah yang pernah aku inapi, bahkan rasanya mengalahkan Hotel Indonesia yang pernah aku inapi bareng Fenfen beberapa bulan setelah kami nikah. Satu hal yang sangat khas di hotel bertingkat tiga puluh ini ialah seluruh ruangannya harum serai wangi, sangat menyegarkan. Bahkan sabun, shampo, dan conditionernya pun beraroma serai.  Kata resepsionis, selain buat aroma terapi, bau itu berfungsi sebagai pengusir nyamuk.

Di hotel ini aku nginep sekamar dengan Toni Kurnia, senior di Penerbit Rosda; di kamar lain ada pak Zam, bosku di penerbit yang sudah berdiri lebih dari setengah abad lalu. Kami ada di sini ikut KLTCC---Kuala Lumpur Trade & Copyright Centre, 22-24 April 2014, yang dinilai sebagai pasar rights penerbitan terbesar di Asia Tenggara. Penerbit Rosda ingin memelihara hubungan baik dengan sejumlah penerbit dan distributor yang telah membeli rights maupun mendistribusikan bukunya, meneruskan bisnis, menambah rekanan, dan mau menjual rights lebih banyak. Aku belajar dari pak Zam dan Toni cara menjalin rekanan dan berusaha mendapat deal. Ke depan Penerbit Rosda berharap aku yang menangani jual-beli rights, termasuk menerbitkan buku English. Rosda di bawah pimpinan ibu Rosidayati ingin melangkah ke beberapa ranah baru yang diharapkan bisa menjawab persoalan perubahan perilaku dan pasar di industri penerbitan, seperti e-book, berkembangnya gadget, dan makin kaburnya batas geografis.

Ngaku saja, yang aku pikirkan sejak sebelum kepergian ialah rasa malu andai gagal dapat deal dari penerbit yang coba kami hubungi, terlebih bila nanti ditindaklanjuti usai acara. Rosda mengeluarkan cukup banyak uang untuk menerbangkan kami ke sini, bahkan membiayai pembuatan pasporku. Tapi memang sulit mendapat deal langsung di tempat. Tawaran terbaik yang pernah aku dapat dari menjual rights ialah co-publishing/edition dari penerbit India. Sementara aku bukanlah seorang penjual alamiah. Mungkin aku seorang negosiator penerbitan, tapi tingkat keberhasilanku tidak menonjol.

Beberapa waktu lalu aku dikritik bahwa cara kerjaku "ngacak". Aku berusaha memperhatikan ini sebagai masukan. Satu hal, aku ingin mencapai progres, kalau bisa signifikan, sehingga ingin bergerak cepat, memajukan naskah, dan menerbitkan buku. Aku gemas kalau progres terhadang oleh hal yang tidak perlu. Progres penerbitan bisa terhalang oleh berbagai hal, salah satunya dari wanprestasi seseorang. Sudah cukup aku pernah dibilang sok perfeksionis atas buku, padahal ingin fleksibel, praktis, mengurangi kerewelan yang malah bisa menghambat progres, dan lebih bersikap mawas diri. Ini susah, apalagi bila caraku menerangkan sesuatu jelek dan sulit dipahami orang. Lebih buruk lagi kalau seseorang malas membantu rekan kerjanya. Kadang-kadang aku merasa ada seseorang tak berniat baik pada orang lain; tapi aku malu mengaku bahwa kinerjaku ada kala sangat buruk dan mengecewakan orang lain. Ini memalukan aku sendiri. Di satu sisi aku mengkritik, padahal tudingan mestinya ditembakkan ke diriku lebih dulu. Aku kesulitan memperbaiki diri sendiri secara konsisten. Aku berbuat salah, tapi sangat susah belajar dari sana. Aku ingin memperbaiki diri namun sangat sulit membuktikan bahwa aku sudah insyaf. Kedengarannya bolak-balik. Aku berusaha memperbaiki karir, tapi perjalanan ke sana ada saja halangannya. Aku berusaha memberi, melakukan, melayani, bekerja sama; meyakinkan orang lain bahwa aku beriktikad baik, konsisten, bisa diandalkan. Tapi ada saja kurangnya. Buruk-buruknya aku suka menyalahkan diri sendiri atas wanprestasiku.

Sejauh ini aku senang dan semangat kerja di Rosda. Aku merasa dapat peran pas dan menantang, yang dalam beberapa hal tidak aku lakukan selama karir dan dari dulu ingin aku maksimalkan. Tapi apa arti semangat kalau tiada hasilnya? Aku tahu persis beda kerja freelance dan terikat. Terlebih ada saja hal yang bisa membuat aku seperti mau patah semangat, entah prasangka buruk atau miskomunikasi. Rasanya aku ingin banyak menyumbang saran, tapi kadang-kadang kuatir itu cuma sok tahu. Penerbit Rosda punya karakter, etos, budaya, dan cara bisnis tertentu yang telah membuat mereka sukses sejauh ini. Tinggal aku hormati dan beradaptasi. Cuma rasanya dalam beberapa hal masih saja ada sesuatu yang membuat aku gemas ingin bilang ini-itu karena tampak sebagai titik lemah. Satu hal: aku pantang menjelek-jelekkan perusahaan atau pelanggan yang memberiku kesempatan dan nafkah. Aku akan mengutarakan sebagai niat baik demi perbaikan.

Dari dulu aku berniat meninggalkan kebaikan atau kenangan baik pada siapapun yang bekerja sama denganku. Aku mau bermanfaat. Aku pikir aku punya bakat dan dianugerahi kemampuan. Aku juga suka belajar. Aku suka mendalami hal baru yang jadi hasratku dan berharap itu bermanfaat, bisa dikembangkan. Tapi di situ juga letak jebakan buatku sendiri, terutama bila aku malah salah memutuskan karena keterbatasan dan kekhilafan. Semoga aku benar-benar belajar.[]

KL, 23 April 2014

Wednesday, January 08, 2014

The Gateway to Indonesia
--Anwar Holid

International observers are curious about Indonesia with regard to Islam vis a vis other religions, culture and its rich manifestations, as well as education that modernizes the population. As a multicultural and multireligious archipelago from Sumatra to Papua, Indonesia has distinctive features to examine. As the world’s fourth largest nation with 250 million people and largest population of Muslims of any country in the world, Indonesia is a melting pot where different cultures transformed into a modern Indonesian culture, making it so exciting to be enjoyed and reviewed.

In his latest book: Islam, Culture, and Education, A. Chaedar Alwasilah takes readers on an illuminating yet critical journey through religion, culture, and education to investigate how Indonesia stands out differently. In a down-to-earth manner, he is recurring issues such as radicalism, religious harmony and pluralism, mudik (Idulfitri exodus), interethnic conflict, bureaucracy, Malay culture, general election, corruption, as well as his pet subjects of writing, ethnic literature, EFL teaching, Indonesian language teaching, language democratization, liberal education and multicultural education are brought to public consciousness.

A. Chaedar Alwasilah---a professor at University of Education, Bandung, West Java---is one of well-known and respected scholar in Indonesia, especially as an educator with more than 30 years of teaching experience at the university level. Obtained his doctorate from Indiana University, US, he is currently leads the Liberal Studies Task Force Committee for the Indonesian Board of Higher Education. He also a prolific author. He is a regular columnist to local and national newspapers such as Pikiran Rakyat and The Jakarta Post. His books include Pokoknya Kualitatif (2002), Pokoknya Menulis (2004), Filsafat Bahasa dan Pendidikan (2007), Pokoknya Action Research (2011), and Pokoknya Rekayasa Bahasa (2012).

This book is not only useful for academics and researchers of Indonesian studies, but could also be of extensive guide for everyone who will visit Indonesia.
___________________________________________________________
BOOK INFO

Islam, Culture, and Education - Essay on Contemporary Indonesia
Author: A. Chaedar Alwasilah
Hardcover; 437 + xxvi pp.
Publisher: Rosda International, 2014
ISBN: 978-979-692-453-0
Prices: Rp.107.000,- (domestic market); US$19,90 (international)

Purchasing: (062 022) 5200287 or pemasaran@rosda.co.id
___________________________________________________________

A. Chaedar Alwasilah and his book.
Some of early comments of the book:

Dr. Alwasilah is unmistakably the kind of intellectual his nation direly needs. He is as articulate in writing about issues on multiculturalism, democracy, Islam, political literacy, and literature as he is with his pet subjects of the English language and writing.
--Harry Bhaskara, Associate Editor The Jakarta Post

For anyone trying to come to some understanding of the problems which beset the Indonesian education system, this collection of essays is a good place to start. This book rehearsing for the reader what is actually occurring in schools and universities throughout the country year in year out, provides that synoptic view of the situation that allows one better to understand the situation on the ground in all its complexity.
--C.W. Watson, Em. Professor, School of Anthropology and Conservation University of Kent, UK

Both the Indonesian and non-Indonesian reader will find amply witnessed the importance of Professor Alwasilah work and will relish and benefit from a resulting essential interaction of close observation, local wisdom, and help for Indonesia.
--Don Faust, Ph.D. and Judith Puncochar, Ph.D., Northern Michigan University, US

Dr. Alwasilah reveals himself as a sage of the common people, a humane social philosophy that respects individual growth and diverse cultures while emphasizing higher levels of connectedness among all people.
--Sharon L. Pugh, Associate Professor of Language Education, Indiana University, US

Sure this book will provide insight into an Indonesian educational context that is unique while simultaneously sharing many of its obstacles and goals toward improvement with other national contexts around the world.
--Lauren Zentz, Assistant Professor of Applied Linguistics University of Houston, US

Related Sites:
http://www.rosda.co.id
Chaedar’s profile at The Jakarta Post: http://bit.ly/18y1rYx

Tuesday, January 07, 2014

Pintu Gerbang untuk Memasuki Indonesia
--Anwar Holid

Menurut Anda orang asing paling penasaran soal apa tentang Indonesia?

Sebagian menjawab orang luar negeri paling tercengang oleh khazanah budaya Indonesia, keragaman seni, juga sumber daya alamnya yang luar biasa. Selain itu banyak dari mereka juga ingin tahu lebih dalam soal Islam serta berbagai tradisi khas yang terkadang cuma satu-satunya ada di dunia. Mereka ingin tahu seperti apa Islam di negeri kepulauan ini, apa spirit dan wujudnya berbeda dengan yang di Timur Tengah? Orang asing juga meneliti khazanah sastra sekaligus takjub dan ternganga oleh beragamnya warisan budaya dari Sumatra hingga Papua.

Indonesia adalah tempat pertemuan berbagai budaya sampai akhirnya berubah khas, membuatnya jadi menarik untuk dinikmati dan dikaji. Di sanalah letak keunikan Indonesian studies.

A. Chaedar Alwasilah sengaja menulis Islam, Culture, and Education dalam bahasa Inggris selain untuk menerangkan Indonesia kepada bangsa lain dari kacamata pribumi, juga meluruskan pandangan keliru mereka terhadap Indonesia. Contoh soal pesantren. Sebagian orang asing berprasangka pesantren adalah tempat pembibitan kaum radikal Islam; padahal banyak negarawan besar Indonesia lahir dari sini, seperti Abdurrahman Wahid, almarhum mantan presiden Indonesia dan ketua Nahdatul Ulama. Pesantren juga melahirkan sistem pendidikan dan tradisi budaya yang khas.

Terutama dikenal sebagai pakar pendidikan dan aktif di ranah budaya dan sastra, guru besar di FPBS Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung ini mengomentari dan berpendirian tegas mengenai berbagai persoalan terkini bangsa Indonesia, seperti radikalisme dan pluralisme agama, kebijakan pendidikan, birokrasi, politik, korupsi, literasi, juga berbagai kekhasan Indonesia, seperti mudik dan pengembangan sastra daerah (ethnic literature).

Lewat buku ini Chaedar tampak ingin mengantarkan pembaca asing pada perjalanan mencerahkan sekaligus kritis terhadap agama, budaya, dan pendidikan Indonesia. Isu sensitif seperti keharmonisan beragama, konflik antaretnik, juga budaya Melayu dibahas sesuai kenyataan, disertai solusi maupun komentar bagaimana sebaiknya kita bersikap.
___________________________________________________________
INFO BUKU

Judul: Islam, Culture, and Education - Essay on Contemporary Indonesia
Penulis: A. Chaedar Alwasilah
Format: Hard cover; 437 + xxvi hal.
Penerbit: Rosda International, 2014
ISBN: 978-979-692-453-0
Harga: Rp.107.000,- (dalam negeri); US$19,90 (internasional)

Pemesanan: Telepon (022) 5200287 atau pemasaran@rosda.co.id
___________________________________________________________

Sesuai kredibilitas penulisnya, buku ini secara solid membahas situasi pendidikan dan dunia perguruan tinggi, pengajaran bahasa dan sastra, termasuk sastra daerah dan Inggris, pendidikan multibudaya, pendidikan karakter, demokratisasi bahasa, juga literasi dalam cara yang mudah dipahami dan patut kita perhatikan bersama.

Buku ini sangat bermanfaat bagi akademisi dan peneliti Indonesian studies, namun sekaligus dapat berfungsi sebagai pintu gerbang yang luas dan jernih bagi setiap orang asing yang hendak memasuki Indonesia.[]

Link terkait:
http://www.rosda.co.id

Monday, May 06, 2013

Dari ki-ka: Erlan Primansyah, Rosidayati Rozalina, Zamzami

Mengembangkan Ekosistem Industri Buku Indonesia 
---Anwar Holid

Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, pada 2 Mei 2013 penerbit Remaja Rosdakarya melakukan sosialisasi e-book untuk penulis sekaligus melakukan rilis ebook di Google Play. Mayoritas dihadiri rekanan penerbit yang sudah berusia 52 tahun itu, para penulis dalam berbagai tanggapannya menyambut antusias rencana tersebut. Bukan saja karena mereka berpeluang mendapat tambahan royalti dari penjualan ebook, melainkan karena dunia ebook membuka banyak kesempatan, termasuk menghidupkan lagi buku yang "mati", out of print, maupun mendapatkan kembali buku penting yang dibutuhkan.

Direktur Utama Rosdakarya Rosidayati Rozalina menyatakan bahwa ebook tak terhindarkan bagi penerbit. Tiap tahun pasar ebook membuktikan gejala terus meningkat, teknologi informasi semakin canggih, dan jumlah penggunanya membuka pangsa pasar yang terus membesar. Karena itu pada 2013 ini Rosda memutuskan memasuki babak baru, yaitu menerbitkan dan membuka toko buku digital lewat layanan e-Rosda. Layanan ini akan secara resmi diluncurkan pada 18 Mei 2013 saat penerbit Rosda merayakan ulang tahun ke-52.

Ebook tidak butuh kertas, tapi tetap butuh biaya untuk mendevelopnya, termasukjasa tambahan lain seperti membuat enkripsi, animasi, survey, dan metadata. Keamanan ebook, dari isi hingga proses jual-belinya, menjadi faktor sangat penting baik bagi penerbit dan pembaca, apa lagi di Indonesia yang tingkat pembajakannya tinggi, termasuk di dunia cyber.

Erlan Primansyah dari Techbator yang menjadi mitra utama Rosda dalam bisnis ini menjelaskan pihaknya ingin mengembangkan ekosistem perbukuan, mau diapakan ebook ini, keterjangkauan, kemudahan, serta bagaimana membangun industrinya agar sesuai dengan platform dan kondisi teknologi di Indonesia yang tergolong belum sangat maju bila dibandingkan banyak negara lain. Dia yakin ke depan para penerbit Indonesia yang masuk dunia ebook bukan berebut market share, melainkan membesarkannya, karena pasar dan penggunanya terus tumbuh. Sejumlah penerbit umum dan perguruan tinggi disebut-sebut juga telah siap memasuki kancah ini. Berdasar survey, Erlan menegaskan ebook bukanlah substitusi, melainkan komplementer untuk print book.


Direktur Penerbitan Rosda Zamzami Djahuri menginformasikan bahwa ebook bisa membuka pasar internasional bagi penulis Indonesia. Dia menyebut ada 80.000 perpustakaan di dunia yang tertarik membeli ebook, kalau menarik. Belum lagi kemungkinan terjadi jual-beli copyrights. Fakta ini diamini Aan Merdeka Permana, seorang penulis fiksi-sejarah asal Bandung. Beliau menyebutkan buku-bukunya suka dibeli oleh perpustakaan luar negeri, terutama Belanda. Sementara dia juga berniat menerbitkan lagi karya-karyanya yang sudah kembali hak ciptanya dan suka dicari-cari orang karena tidak tersedia lagi di toko buku biasa.

Pasar ebook memang tampak masih labil. Tipikalnya harga ebook bisa 30 % lebih murah dari print book. Tapi banyak pula pembaca yang suka gratis dulu, baru setelah yakin menarik, mereka mau beli. Namun dalam kasus tertentu ketika tidak ada versi print booknya, harga ebook malah bisa lebih mahal. Fakta membuktikan begitu sebuah judul ebook laris, versi printnya pasti dicari-cari pembaca dan segera akan muncul, baik lewat penerbitan biasa maupuan print on demand (POD). Untuk penulis, pihak Rosda menawarkan royalti antara 14 - 19 %, lebih besar dari royalti biasa antara 8 - 10 %.

Didirikan oleh Rozali Usman pada tahun 1961, penerbit Rosda menonjol di dunia buku pendidikan dan perguruan tinggi, terutama komunikasi, agama Islam, bahasa, dan sosial-politik. Mayoritas bukunya ditulis oleh guru besar dan terkemuka di bidangnya, antar lain Jalaluddin Rakhmat, Deddy Mulyana, A. Chaedar Alwasilah, dan Ahmad Tafsir.[]

Link terkait:
www.rosda.co.id