Dari Blog Jadi Buku Best-Seller
Acara: Gathering Blogger Mizan 2012
Bandung, Sabtu, 7 April 2012
Tempat: The Amaroossa Hotel, Bandung
Penerbit Mizan mengadakan Gathering Blogger Mizan 2012 diikuti lima puluhan blogger dari berbagai kota di Indonesia. Gathering itu bertema From Blog to Best-Seller Book, tujuannya berusaha mendekatkan penerbit Mizan dengan bakat-bakat baru di dunia penulisan untuk diterbitkan dan meramaikan industri buku.
"Blog mereka punya potensi menjadi buku," demikian kata Yuliani Liputo, ketua panitia acara. Mizan menyeleksi para blogger terutama berdasarkan frekuensi update, jumlah pengunjung, dan komentar atas tulisan mereka. Tema blog beragam, mulai dari kuliner, pelesir dan perjalanan (travelling), mode, pendidikan, humor, fiksi, termasuk diari. Penerbit Mizan percaya, dengan kerja sama dan sedikit sentuhan editorial, isi blog mereka bisa menjadi buku yang menarik dan bisa meraih pembaca lebih luas. Dari sana, jalan menjadi penulis yang sukses pun menjadi terbuka.
Sebagian blogger memang belum terbiasa berhubungan dengan penerbit, bahkan ada yang mengaku tidak tahu persis apa daya tarik utama blog mereka bagi pembaca. Yang mereka tahu ialah mereka rata-rata menulis karena suka (hobi) dan mencintai subjek yang sering mereka tulis. Dari situ tulisan mereka kerap dibaca orang, baik oleh kawan dekat maupun pengunjung yang lama-lama akhirnya berteman juga.
Pengalaman Muhammad Assad, blogger yang jadi narasumber acara itu, tampaknya tipikal di dunia blog. Dia baru berani memutuskan menawarkan isi blognya ke penerbit setelah didorong oleh kawan-kawan yang suka membaca dan mengomentari tulisannya. Dari sana terbit buku Notes From Qatar yang jadi best-seller. Dengan penerbit Mizan dia berencana menerbitkan buku Good Morning Qatar.
Narasumber lain di gathering itu ialah Pidi Baiq, penulis Drunken Monster dan Drunken Mama. Dia menyatakan hal terpenting dalam kreativitasnya ialah nyali. Itu sebabnya dia menulis saja tanpa teori. "Seandainya semua orang mengabaikan teori, maka semua orang bisa berkarya," kata dia penuh semangat.
Sosial media telah terbukti menarik banyak penerbit sebagai sumber naskah buku. Sudah banyak buku best-seller dari berbagai genre yang awalnya muncul di blog. Blogger maupun penulis pemula yang cerdik memanfaatkan semua kelebihan jejaring sosial media untuk berinteraksi, mempublikasi tulisan, menyebar info, juga memperbanyak teman dan pengaruh. Media sosial juga semakin mengerucut dan terhubung, mudah digunakan. Para blogger merasa bahwa blog merupakan media menulis yang paling simpel dan jujur.
Memang kebanyakan tulisan yang diterbitkan dari blog bertema kesenangan (leisure), populer, dan keseharian, tapi potensi dari sana mampu mengguncang industri buku dan mempengaruhi banyak pembaca. Penerbit Mizan berharap kegiatan seperti ini mampu menghubungkan blogger lebih akrab dengan penerbit, baik dari segi keredaksian maupun promosi.[]
Anwar Holid, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.
Situs terkait:
www.mizan.com
FB: Penerbit Mizan
t: @penerbitmizan
Showing posts with label Mizan. Show all posts
Showing posts with label Mizan. Show all posts
Monday, April 09, 2012
Thursday, May 20, 2010
Kompetensi Seorang Editor
---Anwar Holid
Saya memulai karir di dunia perbukuan sebagai 'asisten editor' di Mizan. Editor yang saya layani terutama ialah Hernowo, Yuliani Liputo, Rachmat Taufiq Hidayat, Taufan Hidayat, Sari Meutia, dan Tholib Anis. Tugas utama saya kira-kira mencakup copyediting, proofreading, membuat indeks, mengawasi cetak coba, dan melayani segala kebutuhan editor. Sesekali saya juga mendapat kepercayaan untuk bertugas sebagai editor---sebab itulah niat utama saya bekerja di industri buku. Kadang-kadang saya diminta mendampingi atau menemui penulis, meski belum benar-benar bekerja sama dengan mereka. Tapi minimal kami berinteraksi.
Pada periode itu salah satu yang paling saya ingat ialah Hernowo---manajer kami---tampaknya sedang memasuki masa transisi dalam karirnya. Gejalanya ialah hampir setelah rapat mingguan dia memberi tulisan untuk kami baca, baik berhubungan langsung dengan penerbitan maupun manajemen. Kami suka heran, ada apa nih mas Her kok agak berubah, yaitu sering mengutarakan pikiran-pikirannya agar kami baca. Saya waktu itu masih anak bawang di dunia kantor, jadi meskipun tulisan itu saya baca, ada kalanya langsung saya taruh di laci setelah sekali baca.
Sebenarya hampir semua editor di Mizan juga suka menulis. Yuliani berkali-kali mempublikasikan tulisan di Kompas, bahkan menimbulkan polemik. Sari Meutia, Rachmat Taufiq Hidayat, Taufan Hidayat juga suka menulis di media lain. Tulisan saya pernah dimuat Gatra dan Republika.
Suatu hari ketika datang ke Mizan lagi untuk mengerjakan order, di showroom saya membuka-buka Mengikat Makna (2001) karya Hernowo. Saya kaget dan berteriak dalam hati, "Loh, ini kan tulisan-tulisan mas Her yang dulu dia bagi-bagikan ke kami!" Rupanya dia secara padu dan menarik mampu mengolah perca tulisan yang dulu kami anggap sebagai buah kegelisahan menjadi buku tentang bacaan dan penulisan paling fenomenal di Indonesia. Berani taruhan, sejak itulah namanya menjadi terkemuka tidak hanya sebagai editor sebuah penerbit yang khas, melainkan menjadi diri sendiri. Saya pikir, Mengikat Makna merupakan buah dari pengalaman dan pembelajarannya bertahun-tahun menjadi editor senior di Mizan. Itu menakjubkan.
Karena gagal membangun karir di Mizan, saya berusaha belajar menjadi 'editor sesungguhnya' secara serabutan, baik lewat ngantor maupun dengan menjadi editor freelance, termasuk buat para penulis perorangan. Selalu ada pembelajaran menarik setiap kali berinteraksi dengan sesama penulis dan editor. Saya kembali belajar dari Hernowo waktu naskah saya akan diterbitkan MLC, meskipun akhirnya gagal. MLC ialah imprint Mizan yang dulu banyak menerbitkan buku pembelajaran, penulisan, dan perbukuan.
Inilah rangkaian nasihat selama kami berinteraksi hendak menerbitkan buku:
1/ Yang lebih penting ialah lebih dulu "menemukan" diri sendiri--- penulis mau apa dengan naskahnya, fokus atau kabur subjek yang dia jelajahi, bagaimana cara dia mengungkapkan gagasan, apa harapannya terhadap naskah, dan kelengkapan lainnya.
2/ Yang sebaiknya memberi karakter pada naskah ialah penulis sendiri, bukan orang lain. Idealnya yang memastikan sebuah buku mau diposisikan seperti apa bukan editor, penerbit, atau orang di luar penulis.
3/ Lontarkan saja apa sebenarnya keinginan penulis atau bayangan buku seperti apa yang penulis harapkan? Apakah buku ini misalnya bisa seperti buku Hernowo (Mengikat Makna) atau buku Sofia Mansoor-Niksolihin (Pengantar Penerbitan)?
4/ Jadikan tulisan itu untuk membantu penulis menemukan diri, mulai dari keinginan, harapan, karakter, apa pun. Bila menemukan sesuatu, penulis nanti akan menemukan "konsep", "judul" atau apalah yang mewakili diri penulis berkaitan dengan naskahnya. Ini akan membuat naskah jadi dahsyat.
5/ Selain menyusun naskah secara normatif---Eric Jensen menyebutnya sebagai "makna yang dirumuskan" (reference meaning)---idealnya penulis berusaha menyentuh "makna yang dihayati" (sense meaning). Tujuannya untuk mendapatkan makna terdalam sebuah naskah dan menghindari menangani naskah secara kering dan normatif.
Saya juga mendapat masukan dari Ahmad Baiquni ketika menerbitkan buku di Mizania. Dialah editor kedua buku saya. Dari Baiquni saya belajar tentang cara menyampaikan gagasan secara halus dan persuasif. Ini bisa jadi dipengaruhi oleh kepekaan Baiquni yang hebat terhadap bahasa dan kata. Dia awas terhadap efek bahasa dan kemungkinan penerimaan pembaca terhadap cara ungkap. Apa sebuah kalimat akan membuat telinga orang jadi panas atau membuat hatinya sejuk? Tentu sia-sia bila kita menulis sebuah buku tentang agama, namun efeknya malah membuat orang jadi antipati terhadap agama tersebut. Misinya gagal.
Menyimpulkan dari belajar gaya serabutan itu, menurut saya, kompetensi yang paling dibutuhkan seorang editor antara lain:
1/ Peka bahasa, luwes menulis, jernih mengungkapkan gagasan. Kompetensi ini sangat kualitatif, tapi efeknya gampang dilihat, misal dari enak-tidaknya buku dibaca, jelas-tidaknya gagasan dalam sebuah buku. Kompetensi ini sudah saya saksikan sejak awal meniti karir. Editor yang hebat pastilah pandai menulis---tak peduli apa dia pernah menerbitkan buku atau tidak. Kompetensi ini akan melanggengkan karir seorang editor. Ini otomatis menggugurkan adagium bahwa editor ialah penulis gagal. Bahkan bisa jadi sebaliknya, editor ialah penulis yang sedang mengasah pena kepenulisannya.
2/ Menangkap gagasan terbaik dari penulis dan memberi saran untuk menciptakan visi tentang sebuah buku. Dalam hal ini mari kita belajar dari Jonathan Karp, pendiri sekaligus Editor in Chief di penerbit TWELVE. Yang paling menonjol dari TWELVE ialah cara Karp menangani penulis dan naskah satu demi satu secara eksklusif untuk menghasilkan buku yang benar-benar bermakna dan mengubah masyarakatnya---Amerika Serikat. Kinerja dia membuktikan idealismenya. Dalam perjalanan karirnya, Karp mengaku sangat terkesan pada Kate Medina, editor yang dia asistensi di Random House sebelum mendirikan TWELVE. Inilah yang dia pelajari dari Medina:
Saya memperhatikan cara dia mendekonstruksi novel, atau manuskrip apa pun, dan memandang naskah itu secara menyeluruh (holistically): dari sisi struktural, tematik, dan seterusnya. Dia bisa memandang gambaran besar dan detailnya sekaligus. Dengan cara positif, dia bisa menyetir penulis, untuk menciptakan karya yang lebih baik dan hidup. Yang dia lakukan terutama ialah membuat novel itu jadi lebih jernih. Dan karena telah mengetikkan lusinan memo selama bertahun-tahun, saya mulai belajar disiplin menjadi seorang editor. Saya memperhatikan apa karakter-karakter itu terdengar nyata. Apa cara berceritanya bergerak dengan tepat. Apa bahasa punya dampak tertentu atau tidak. Rasanya seperti mendengar suara seseorang di dalam kepalamu. Saya mengenakan headphone itu dan mendengarkan dia melaksanakan pengobatan editorialnya. Itu betul-betul membentuk diri saya.
Sebenarnya ada banyak alasan kenapa Kate Medina jadi editor hebat. Saya kebetulan bisa menguping semua percakapan dia via telepon, dan saya persis ingat sangat terkesan oleh kenyataan bahwa dia tak pernah menyaringkan suaranya dan selalu ramah pada semua orang. Waktu itu saya masih seorang lelaki pemarah berumur dua puluh limaan. Saya ingat pernah masuk ruangannya dan berkata kepadanya, "Kate, kamu tidak pernah berteriak." Balasnya, "Yah, aku menemukan selalu ada cara yang baik untuk menghadapi sesuatu." Itu betul-betul mengubah saya. Saya menyaksikan profesionalismenya, caranya yang sangat positif dan membangun dalam menghadapi orang. Saya juga memahami visinya.
Sebenarnya ada banyak alasan kenapa Kate Medina jadi editor hebat. Saya kebetulan bisa menguping semua percakapan dia via telepon, dan saya persis ingat sangat terkesan oleh kenyataan bahwa dia tak pernah menyaringkan suaranya dan selalu ramah pada semua orang. Waktu itu saya masih seorang lelaki pemarah berumur dua puluh limaan. Saya ingat pernah masuk ruangannya dan berkata kepadanya, "Kate, kamu tidak pernah berteriak." Balasnya, "Yah, aku menemukan selalu ada cara yang baik untuk menghadapi sesuatu." Itu betul-betul mengubah saya. Saya menyaksikan profesionalismenya, caranya yang sangat positif dan membangun dalam menghadapi orang. Saya juga memahami visinya.
Kita melihat editor memberi manfaat kepada penulis. Perhatikanlah para penulis yang tulus berterima kasih pada editor, itu bukti bahwa sebagai orang luar, editor bisa memberi masukan berharga baik pada naskah dan gagasan penulis. Editor dan penulis merupakan tim; editor idealnya bisa memberi pendapat pada naskah dan memberi masukan untuk keperluan penulis, apalagi demi kepentingan bersama. Dari dulu saya yakin bahwa bila idenya menarik, sebuah naskah sebenarnya bisa dinegosiasikan buat diterbitkan, meski kita tahu pertaruhan penerbit banyak dan mereka menuntut editornya untuk bekerja lebih hebat mendatangkan keuntungan.
3/ Belajar terus dari sesama penulis dan editor. Kemungkinan ini terbuka luas sekali, apalagi interaksi antarindividu sekarang bisa terjadi begitu mudah. Pelajaran bisa dipetik di mana-mana. Kita bisa belajar apa saja, mulai dari penulisan hingga marketing. Saya mendapat manual editing dari Yuliani, tahu Karp dari Sari Meutia, tahu cara editor fiksi menilai naskah dari Hetih Rusli, masih sering membaca tulisan Hernowo, dan tahu makna menciptakan buku beserta proses penulisannya dari sejumlah penulis.
4/ Editor harus berani mengungkapkan apa yang menurut pemikirannya benar, tapi harus mampu menyampaikan pendapatnya dengan baik. Perhatikan cara editor menghadapi penulis dengan baik. Kematangan Kate Medina bisa menjadi teladan. Atau editor harus menguasai EQ dengan baik. Keberanian frontal hanya akan menciptakan musuh dan membuat sebagian orang antipati, ini bisa menjadi bumerang. Sebab sebagian editor lain kurang tahan kritik, begitu juga dengan penulis. Kalau sudah begini, bisa menimbulkan konflik. Pelajarilah cara menyampaikan kritik yang baik, sepahit apa pun itu. Meski maksudnya baik, jangan sampai kritik jadi ajang menjelek-jelekkan.
Contoh: Saya berpendapat ejaan kata untuk pekerjaan itu ialah 'karir', bukan 'karier', sebab 'karier' artinya 'pengangkut' atau dalam konteks biologi ialah gen pembawa sifat cacat.
5/ Berusaha menikmati dan menyelami segala jenis buku. Betul spesialisasi tampaknya penting, tapi saya pikir menikmati segala jenis buku akan memperkaya khazanah dan makin mengasah kemampuan berbahasa seorang editor, ujung-ujungnya akan membuat dirinya awas betapa cara bertutur, menyampaikan, dan mengungkapkan gagasan itu dinamik dan terus berkembang. Setelah sejak awal saya tertarik fiksi dan agama, akhir-akhir ini saya tertarik dengan buku-buku nonfiksi seputar kreativitas dan manajerial. Ternyata banyak sekali buku kreativitas yang sangat bermakna, misal Whatever You Think, Think The Opposite karya Paul Arden. Kita bisa belajar menulis provokatif dari buku seperti itu, membolak-balikkan logika, dan menantang kejumudan berpikir.
Terkait dengan itu semua, editor harus terus melatih kompetensi yang relevan dengan pekerjaannya, baik menguasai perangkat penulis, menganalisis naskah, mulai dari kreativitas hingga referensi, apalagi membaca dan menulis. Karena terus berhubungan dengan teks dan gagasan, editor mestinya menikmati permainan bahasa, mengotak-atik, bereksperimen, mencoba berbagai kemungkinan. Kalau setiap editor punya semangat belajar dan berlatih, saya yakin industri perbukuan akan terus dinamik, dan generasi baru editor hebat akan terus lahir.[]
Anwar Holid kini bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis. Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.
KONTAK: wartax@yahoo.com | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141
PS: Pointer dari esai ini saya presentasikan di pertemuan Writing for Editors, penerbit Mizan, Bandung, 19 Mei 2010.
Monday, April 27, 2009

Pergolakan Spiritual Empat Orang Mualaf
--Anwar Holid
SEEKING TRUTH FINDING ISLAM: Kisah Empat Mualaf yang Menjadi Duta Islam di Barat
Penulis: Anwar Holid
Penerbit: Mizania, 2009
Halaman: 184
Harga: Rp.29.000.00
ISBN: 978-602-8236-30-0
Kategori: Biografi
"Setiap tahun, sekitar 25.000 orang menjadi Muslim di Amerika Serikat. Pasca 11 September, jumlah orang yang bersyahadat 4 kali lipat." Demikian dari New York Times.
Jalan hidup manusia sulit ditebak. Dari awal yang amat jauh dari agama, orang bisa menjadi perindu Tuhan dan mencari jalan untuk menghampiri-Nya. Kisah hidup para mualaf--yakni orang yang masuk Islam--memberi kita banyak pelajaran tentang hal ini.
Buku ini menyajikan empat mualaf di Dunia Barat yang mampu menjadi "duta" Islam melalui pengabdian kepada masyarakat dan teladan tentang sikap hidup Muslim sejati. Dengan demikian, mereka juga "berjihad" memerangi prasangka terhadap Muslim dan agama Islam yang marak di Dunia Barat pada masa sekarang.
Keempat mualaf itu adalah:
* Yusuf Islam (Cat Stevens): mantan superstar rock dunia yang mengundurkan diri dari dunia musik untuk mempelajari Islam, dan kini aktif berdakwah melalui kegiatan pendidikan dan sosial.
* Ingrid Mattson: cendekiawati pemimpin ISNA (Islamic Society of North America)--organisasi Muslim terbesar di Amerika--yang sempat menjadi ateis sebelum akhirnya terpesona oleh Al-Quran.
* Keith Ellison: Aktivis HAM dan Muslim pertama yang menjadi anggota Kongres AS.
* Hamza Yusuf Hanson: ulama asli kelahiran AS yang mendalami khazanah ilmu-ilmu Islam klasik dan kini giat mengampanyekan Islam damai ke publik Barat.

SEEKING TRUTH FINDING ISLAM: Kisah Empat Mualaf yang Menjadi Duta Islam di Barat
Penulis: Anwar Holid
Penerbit: Mizania, 2009
Halaman: 184
Harga: Rp.29.000.00
ISBN: 978-602-8236-30-0
Kategori: Biografi
"Setiap tahun, sekitar 25.000 orang menjadi Muslim di Amerika Serikat. Pasca 11 September, jumlah orang yang bersyahadat 4 kali lipat." Demikian dari New York Times.
Jalan hidup manusia sulit ditebak. Dari awal yang amat jauh dari agama, orang bisa menjadi perindu Tuhan dan mencari jalan untuk menghampiri-Nya. Kisah hidup para mualaf--yakni orang yang masuk Islam--memberi kita banyak pelajaran tentang hal ini.
Buku ini menyajikan empat mualaf di Dunia Barat yang mampu menjadi "duta" Islam melalui pengabdian kepada masyarakat dan teladan tentang sikap hidup Muslim sejati. Dengan demikian, mereka juga "berjihad" memerangi prasangka terhadap Muslim dan agama Islam yang marak di Dunia Barat pada masa sekarang.
Keempat mualaf itu adalah:
* Yusuf Islam (Cat Stevens): mantan superstar rock dunia yang mengundurkan diri dari dunia musik untuk mempelajari Islam, dan kini aktif berdakwah melalui kegiatan pendidikan dan sosial.
* Ingrid Mattson: cendekiawati pemimpin ISNA (Islamic Society of North America)--organisasi Muslim terbesar di Amerika--yang sempat menjadi ateis sebelum akhirnya terpesona oleh Al-Quran.
* Keith Ellison: Aktivis HAM dan Muslim pertama yang menjadi anggota Kongres AS.
* Hamza Yusuf Hanson: ulama asli kelahiran AS yang mendalami khazanah ilmu-ilmu Islam klasik dan kini giat mengampanyekan Islam damai ke publik Barat.

Seeking Truth Finding Islam merupakan buku kedua saya. Sebagaimana Barack Hussein Obama (2008), buku ini lahir atas prakarsa Ahmad Baiquni (aka Ibeq), editor penerbit Mizan. Waktu awal-awal menyusun, kami sempat mendiskusikan banyak nama yang akan dijadikan profil, menimbang bagaimana kiprah mereka, mengira-ngira citra dan pandangan publik terhadap mereka, dengan harapan bisa menyaring sekitar 6-10 orang.
Berbagai pertimbangan, terutama soal akses informasi dan peran mereka, akhirnya memaksa saya hanya bisa menulis empat orang tersebut. Sebenarnya minimal ada dua orang lagi yang sangat ingin saya tulis perjalanan religiositasnya, yaitu Frithjof Schuon dan Charles le Gai Eaton. Tapi saya kehabisan energi dan pikiran, terus menghentikan niat itu. Lagi pula, siapa yang bakal tertarik kepada Schuon dan Gai Eaton, selain sesama orang spooky?
Untuk menaikkan daya tawar isi buku, saya berusaha maksimal memunculkan drama perjalanan hidup keempat orang ini, terutama sekali pertarungan spiritual dan pergolakan batin sebelum memeluk Islam. Sebagai "tambahan" saya menulis esai cukup panjang tentang berbagai aspek convert ke dalam Islam.
Saya juga sempat menghubungi Ingrid Mattson via email tentang niat menulis profil beliau. Yang menjawab ternyata asistennya. Kami sempat email-emailan beberapa kali. Intinya, beliau bersedia bila harus diwawancarai via email. Tapi niat itu pun gagal terlaksana, sebab sang asisten memberi informasi cukup, sementara di Internet kisah perjalanan keyakinan spiritual Ingrid tersedia cukup banyak.
Dari sisi penulisan, sekali lagi saya mendapat pengalaman berharga tentang hubungan antara penulis dan penyunting (editor). Karena melampiaskan keyakinan dan pikiran tentang agama, pada draft awal yang saya berikan, ternyata saya kerap memunculkan sinisme terhadap agama, sampai menurut Ibeq, bahasa saya cenderung kasar dan malah berpotensi bisa menjelek-jelekkan agama. Ini mengkhawatirkan.
"Bagaimana orang bakal tertarik kepada Islam atau agama lain kalau kamu menulisnya seperti ini?" kata dia waktu kami membicarakan draft pertama. Saya tertawa.
Misi buku ini memang berusaha menunjukkan bahwa agama bisa menjadi alternatif jalan kebaikan di tengah kekacauan dunia. Sementara istilah "convert" ternyata tidak selalu identik dengan pindah ke agama lain, tetapi bisa juga berarti menjalani intensitas yang lebih besar terhadap religiositas daripada semula.
Pelajaran dari sana ialah editor yang jeli dan memiliki sense bahasa kuat bisa diandalkan sebagai kawan untuk menghasilkan karya yang cukup bertanggung jawab. Editor bisa jadi "indra pertama" mewakili publik pembaca sekaligus kepentingan penerbit. Sebagai wakil penerbit, dia akan memperhatikan kesantunan, kejernihan isi, cara berargumen, dan menuturkan yang baik dan kena.
Untuk kepentingan promosi buku ini, pada Senin, 30 Maret lalu saya mampir ke Masjid Laotze, Bandung menjajaki kemungkinan mengadakan diskusi atau bedah buku bertopik tentang mualaf. Sambutan mereka ramah. Sementara jauh-jauh hari sebelumnya, saya sudah berharap hal serupa pada bagian promosi Mizan. Mereka malah usul agar acara seperti itu kalau bisa menghadirkan tokoh mualaf terkemuka dan bisa membicarakan dialog antaragama secara adil, proporsional, dan terbuka.
Membicarakan agama memang sensitif. Jangankan antaragama serumpun seperti agama-agama Ibrahimik (Abrahamic religion) yang pelik, satu agama beda aliran saja bisa runyam. Saya berharap Seeking Truth Finding Islam menyumbang sesuatu bagi kedewasaan beragama, sesederhana apa pun bentuknya.[]
Copyright © 2008 BUKU INCARAN oleh Anwar Holid
Anwar Holid, bekerja sebagai editor, penulis, & publisis; eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.
KONTAK: wartax@yahoo.com Tel.: (022) 2037348 HP: 085721511193 Panorama II No. 26 B Bandung 40141
Situs terkait:
http://www.mizan.com
Berbagai pertimbangan, terutama soal akses informasi dan peran mereka, akhirnya memaksa saya hanya bisa menulis empat orang tersebut. Sebenarnya minimal ada dua orang lagi yang sangat ingin saya tulis perjalanan religiositasnya, yaitu Frithjof Schuon dan Charles le Gai Eaton. Tapi saya kehabisan energi dan pikiran, terus menghentikan niat itu. Lagi pula, siapa yang bakal tertarik kepada Schuon dan Gai Eaton, selain sesama orang spooky?
Untuk menaikkan daya tawar isi buku, saya berusaha maksimal memunculkan drama perjalanan hidup keempat orang ini, terutama sekali pertarungan spiritual dan pergolakan batin sebelum memeluk Islam. Sebagai "tambahan" saya menulis esai cukup panjang tentang berbagai aspek convert ke dalam Islam.
Saya juga sempat menghubungi Ingrid Mattson via email tentang niat menulis profil beliau. Yang menjawab ternyata asistennya. Kami sempat email-emailan beberapa kali. Intinya, beliau bersedia bila harus diwawancarai via email. Tapi niat itu pun gagal terlaksana, sebab sang asisten memberi informasi cukup, sementara di Internet kisah perjalanan keyakinan spiritual Ingrid tersedia cukup banyak.
Dari sisi penulisan, sekali lagi saya mendapat pengalaman berharga tentang hubungan antara penulis dan penyunting (editor). Karena melampiaskan keyakinan dan pikiran tentang agama, pada draft awal yang saya berikan, ternyata saya kerap memunculkan sinisme terhadap agama, sampai menurut Ibeq, bahasa saya cenderung kasar dan malah berpotensi bisa menjelek-jelekkan agama. Ini mengkhawatirkan.
"Bagaimana orang bakal tertarik kepada Islam atau agama lain kalau kamu menulisnya seperti ini?" kata dia waktu kami membicarakan draft pertama. Saya tertawa.
Misi buku ini memang berusaha menunjukkan bahwa agama bisa menjadi alternatif jalan kebaikan di tengah kekacauan dunia. Sementara istilah "convert" ternyata tidak selalu identik dengan pindah ke agama lain, tetapi bisa juga berarti menjalani intensitas yang lebih besar terhadap religiositas daripada semula.
Pelajaran dari sana ialah editor yang jeli dan memiliki sense bahasa kuat bisa diandalkan sebagai kawan untuk menghasilkan karya yang cukup bertanggung jawab. Editor bisa jadi "indra pertama" mewakili publik pembaca sekaligus kepentingan penerbit. Sebagai wakil penerbit, dia akan memperhatikan kesantunan, kejernihan isi, cara berargumen, dan menuturkan yang baik dan kena.
Untuk kepentingan promosi buku ini, pada Senin, 30 Maret lalu saya mampir ke Masjid Laotze, Bandung menjajaki kemungkinan mengadakan diskusi atau bedah buku bertopik tentang mualaf. Sambutan mereka ramah. Sementara jauh-jauh hari sebelumnya, saya sudah berharap hal serupa pada bagian promosi Mizan. Mereka malah usul agar acara seperti itu kalau bisa menghadirkan tokoh mualaf terkemuka dan bisa membicarakan dialog antaragama secara adil, proporsional, dan terbuka.
Membicarakan agama memang sensitif. Jangankan antaragama serumpun seperti agama-agama Ibrahimik (Abrahamic religion) yang pelik, satu agama beda aliran saja bisa runyam. Saya berharap Seeking Truth Finding Islam menyumbang sesuatu bagi kedewasaan beragama, sesederhana apa pun bentuknya.[]
Copyright © 2008 BUKU INCARAN oleh Anwar Holid
Anwar Holid, bekerja sebagai editor, penulis, & publisis; eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.
KONTAK: wartax@yahoo.com Tel.: (022) 2037348 HP: 085721511193 Panorama II No. 26 B Bandung 40141
Situs terkait:
http://www.mizan.com
Saturday, February 28, 2009

The 7 Laws of Happiness for Muslim Family
=============================
Oleh Anwar Holid
All happy families resemble one another, each unhappy family is unhappy in its own way. Demikian kalimat pertama Tolstoy dalam buku Anna Karenina: Semua keluarga bahagia itu mirip satu sama lain, tiap keluarga yang sengsara menderita dengan caranya masing-masing. Punya keluarga bahagia itu bukan saja penting dan fundamental, melainkan juga hak dan idaman setiap orang. Keluarga merupakan unit persaudaraan terkecil yang bisa menentukan perilaku, adat, dan moral setiap orang. Ia menjadi tempat interaksi intim antara suami-istri, orangtua-anak, saudara kandung-saudara tiri, saudara dekat-saudara jauh.
Lepas bahwa secara alamiah orang ingin membangun keluarga bahagia, selalu saja ada sandungan yang kerap gagal dihadapi baik oleh pasangan paling mesra dan setia sekalipun. Perceraian kadangkala harus terjadi, pertengkaran meledak, sakit hati sulit diobati, anak terlantar, suami meninggalkan istri, istri selingkuh, anak hidup dalam tekanan, anak kabur, orang tua merasa diabaikan, pasangan merasa kurang dukungan, kebutuhan hidup mengejar-ngejar tiada ampun, suami merasa kecapaian mencari nafkah, bantuan istri dianggap kurang. Masalah keluarga ialah masalah kehidupan yang senantiasa perlu dinegosiasikan setiap waktu.
Adakah rahasia menciptakan keluarga bahagia?
Arvan Pradiansyah, penulis The 7 Laws of Happiness (Kaifa, 423 h.) akan mencoba berbagi dan sama-sama mencari formula, adakah syarat di dalam keluarga bahagia. Kali ini pembicara publik dan ahli SDM ini akan ditemani Asma Nadia, salah satu tokoh Forum Lingkar Pena, yang juga telah menghasilkan banyak buku. Mereka akan membahasnya dalam talkshow "The 7 Laws of Happiness for Muslim Family" pada Islamic Book Fair Maret 2009 ini.
Hari, Tanggal: Ahad, 1 Maret 2009
Waktu: 16.00 - 18.00 BBWI
Tempat : Istora Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta, Panggung Utama Islamic Book Fair.
Bagi Arvan acara ini seakan-akan merupakan konsekuensi dari rangkaian roadshow atas bukunya. Tapi boleh jadi talkshow kali ini menawarkan hal istimewa atau pendalaman khusus atas suatu kasus dalam bukunya. Kebahagiaan itu milik semua, meskipun kadang-kadang kita kehilangan hal itu.
"Saya berharap buku ini dapat menjadi sebuah tools yang sederhana namun cukup powerful untuk mempermudah hidup kita (guna meraih kebahagiaan)," kata Arvan pada suatu kesempatan.

The 7 Laws of Happiness sudah berhasil menggugah sejumlah kalangan untuk menerapkannya, termasuk kalangan guru, pekerja, juga pada lingkungan universitas.
Keesokan harinya, pada Senin 2 Maret 2009 Arvan bersama Kaifa akan meneruskan kampanye meraih kebahagiaan di Kantor Divre II TELKOM, Jakarta pukul 10.10 - 12.00 BBWI.
Tertarik membahas bersama? Silakan hadir.[]
Copyright © 2008 BUKU INCARAN oleh Anwar Holid
KONTAK: wartax@yahoo.com Tel.: (022) 2037348 HP: 085721511193 Panorama II No. 26 B Bandung 40141
Copyright © 2009 oleh Anwar Holid
Situs terkait:
Hubungi Arvan Pradiansyah via http://www.facebook.com/
Subscribe to:
Posts (Atom)


