Showing posts with label Kaifa. Show all posts
Showing posts with label Kaifa. Show all posts

Saturday, February 28, 2009





The 7 Laws of Happiness for Muslim Family


=============================


Oleh Anwar Holid


All happy families resemble one another, each unhappy family is unhappy in its own way. Demikian kalimat pertama Tolstoy dalam buku Anna Karenina: Semua keluarga bahagia itu mirip satu sama lain, tiap keluarga yang sengsara menderita dengan caranya masing-masing. Punya keluarga bahagia itu bukan saja penting dan fundamental, melainkan juga hak dan idaman setiap orang. Keluarga merupakan unit persaudaraan terkecil yang bisa menentukan perilaku, adat, dan moral setiap orang. Ia menjadi tempat interaksi intim antara suami-istri, orangtua-anak, saudara kandung-saudara tiri, saudara dekat-saudara jauh.


Lepas bahwa secara alamiah orang ingin membangun keluarga bahagia, selalu saja ada sandungan yang kerap gagal dihadapi baik oleh pasangan paling mesra dan setia sekalipun. Perceraian kadangkala harus terjadi, pertengkaran meledak, sakit hati sulit diobati, anak terlantar, suami meninggalkan istri, istri selingkuh, anak hidup dalam tekanan, anak kabur, orang tua merasa diabaikan, pasangan merasa kurang dukungan, kebutuhan hidup mengejar-ngejar tiada ampun, suami merasa kecapaian mencari nafkah, bantuan istri dianggap kurang. Masalah keluarga ialah masalah kehidupan yang senantiasa perlu dinegosiasikan setiap waktu.


Adakah rahasia menciptakan keluarga bahagia?


Arvan Pradiansyah, penulis The 7 Laws of Happiness (Kaifa, 423 h.) akan mencoba berbagi dan sama-sama mencari formula, adakah syarat di dalam keluarga bahagia. Kali ini pembicara publik dan ahli SDM ini akan ditemani Asma Nadia, salah satu tokoh Forum Lingkar Pena, yang juga telah menghasilkan banyak buku. Mereka akan membahasnya dalam talkshow "The 7 Laws of Happiness for Muslim Family" pada Islamic Book Fair Maret 2009 ini.


Hari, Tanggal: Ahad, 1 Maret 2009
Waktu: 16.00 - 18.00 BBWI
Tempat : Istora Gelora Bung Karno, Senayan Jakarta, Panggung Utama Islamic Book Fair.


Bagi Arvan acara ini seakan-akan merupakan konsekuensi dari rangkaian roadshow atas bukunya. Tapi boleh jadi talkshow kali ini menawarkan hal istimewa atau pendalaman khusus atas suatu kasus dalam bukunya. Kebahagiaan itu milik semua, meskipun kadang-kadang kita kehilangan hal itu.


"Saya berharap buku ini dapat menjadi sebuah tools yang sederhana namun cukup powerful untuk mempermudah hidup kita (guna meraih kebahagiaan)," kata Arvan pada suatu kesempatan.


The 7 Laws of Happiness sudah berhasil menggugah sejumlah kalangan untuk menerapkannya, termasuk kalangan guru, pekerja, juga pada lingkungan universitas.

Keesokan harinya, pada Senin 2 Maret 2009 Arvan bersama Kaifa akan meneruskan kampanye meraih kebahagiaan di Kantor Divre II TELKOM, Jakarta pukul 10.10 - 12.00 BBWI.
Tertarik membahas bersama? Silakan hadir.[]

Copyright © 2008 BUKU INCARAN oleh Anwar Holid
KONTAK: wartax@yahoo.com Tel.: (022) 2037348 HP: 085721511193 Panorama II No. 26 B Bandung 40141

Copyright © 2009 oleh Anwar Holid

Situs terkait:


Hubungi Arvan Pradiansyah via http://www.facebook.com/

Sunday, January 25, 2009



Bekal Hidup Bahagia


DI PENGHUJUNG 2008, persisnya bulan September, Arvan Pradiansyah menerbitkan buku ke empatnya, The 7 Laws of Happiness (Kaifa, 423 h.) Di buku ini Arvan berusaha menguraikan panjang lebar sebuah benang merah yang senantiasa terpancar dalam tiga buku dia sebelumnya, yaitu hubungan manusia dengan kebahagiaan.


Bila kita perhatikan, kebahagiaan memang merupakan persoalan sangat mendasar dan universal bagi umat manusia, yakni betapa kita semua menginginkan kebahagiaan, lahir dan batin. Kita berusaha mendapat bahagia di setiap unsur kehidupan. Sering kita dengar seseorang berkata, "Aku sengsara di sini, makanya aku pindah saja. Aku ingin bahagia." Asal bisa bahagia, rasanya di dunia ini sudah cukup bagi kita semua.


Mengambil risiko bahwa semua orang bisa merasa seakan-akan sudah tahu kebahagiaan dan karena itu abai akan esensinya, Arvan mencoba menemukan makna intinya. Dia bukan saja mendapat wawasan nan melimpah ruah dari bacaan, tradisi agama dan ajaran moral, studi psikologi dan perilaku terbaru, bahkan melengkapinya dengan kisah, ucapan, kasus faktual, bahkan tes yang langsung bisa dipraktikkan.


Boleh jadi Arvan berhasil mengolah pelajaran sebesar itu berkat perjalanan karirnya di bidang human resource development (HRD) dan konsultan manajemen yang sudah panjang. Dia berinteraksi dengan banyak jenis manusia dan menemukan hal menarik dari sifat manusia.
"Saya memang banyak merujuk pemikiran dari psikologi, agama, atau ilmu-ilmu sosial. Namun saya senantiasa menggunakan pendekatan berpikir yang logis, terbuka, dan inklusif; saya tidak suka dengan pendekatan yang irasional dan dogmatis. Saya sadar bahwa setiap agama senantiasa mengandung pencerahan yang luar biasa karena itu saya mengambil kebaikan dari manapun, dari siapapun, dari agama manapun," kata Arvan pada saya.


Karena itu The 7 Laws of Happiness menawarkan universalitas yang kaya. Arvan mengambil sari-sari pemikiran tentang kebahagiaan dan menggunakannya untuk mengungkap sebuah konsep yang komprehensif mengenai model kebahagiaan. Dalam pandangan Arvan, kebahagiaan itu mirip rumah, yang dibangun dengan berbagai unsur. Fondasinya ialah sabar, syukur, dan sederhana---yakni kemampuan menangkap esensi. Bangunannya berupa kasih, memberi, dan memaafkan. Puncaknya ialah pasrah, kemampuan berserah diri dan percaya seratus persen kepada Tuhan. Ketiga tahap tersebut mencakup hubungan seorang individu dengan diri sendiri, orang lain, dan Tuhan.


Yang menarik, sejak awal Arvan secara konsisten menyatakan bahwa satu-satunya cara untuk meraih semua itu ialah dengan memilih pikiran. "Kebahagiaan itu pilihan pikiran. Hanya orang yang dapat mengelola pikirannya yang akan mencapai kebahagiaan. Saya suka dengan ucapan Charles Darwin, 'Tahap tertinggi dalam budaya moral ialah ketika kita sadar bahwa kita seharusnya yang mengendalikan pikiran sendiri.'"


Meski begitu Arvan menolak pendapat yang mengatakan bahwa orang bisa bahagia tanpa membutuhkan benda sama sekali. "Saya kira itu tidak realistis, mengawang-awang, dan tidak membumi. Itu pasti sulit diterapkan. Kebahagiaan itu membutuhkan kepemilikan minimal. Maksudnya, untuk bisa bahagia, kita perlu cukup makan, punya pakaian secukupnya, dan punya tempat bernaung yang sederhana.


BAGAIMANA Arvan mendapat energi menulis kali ini? "Buku tentang cara meraih kesuksesan sudah banyak, tapi buku tentang mencapai kebahagiaan masih sedikit; padahal banyak orang yang sukses ternyata tidak bahagia." Ini memang gejala yang terjadi di mana-mana, apalagi bila kita kaitkan itu dengan situasi krisis dan kesejahteraan.


Apa Arvan berusaha meneorikan kebahagiaan yang sangat kualitatif? "Kebahagiaan itu misteri, ia seperti agama. Sebaiknya jangan pernah dirasionalisasi," begitu kata G.K. Chesterton, penyair Inggris. Pendapat ini boleh ditandingkan dengan komentar Audifax, seorang penulis dari Surabaya, setelah membaca buku Arvan, "The 7 Laws of Happiness sebenarnya merupakan sebuah buku yang serius dan bukan sekadar buku motivasi biasa. Gagasan Arvan memiliki fondasi kuat untuk tumbuh dan berkembang menjadi sebuah pemikiran yang brilian. Bahkan, saya melihat pemikiran Arvan ini bisa dikembangkan lebih jauh ke hal-hal yang aplikatif dan berguna bagi banyak orang. Terlepas dari kelemahan yang ada, buku ini merupakan sebuah buku yang menarik untuk dibaca bukan karena menjual mimpi, melainkan mengajak orang untuk melihat secara mendalam melalui sebuah kajian teoretis yang dibangun secara serius."


Saya yakin buku ini pantas direkomendasikan pada banyak orang, terutama ketika orang sedang dirundung kegelisahan, kesulitan menemukan orientasi hidup, atau merasa hidupnya hampa. Dari sana kita bisa mendapat spirit sikap positif, termasuk semangat berusaha dan mendapat esensi kehidupan. Boleh jadi buku ini merupakan bekal sangat berharga untuk menyegarkan pikiran agar kita senantiasa waras mengarungi waktu dan kehidupan di tahun-tahun mendatang.[]


Anwar Holid, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku Bandung, blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com/


KONTAK: wartax@yahoo.com (022) 2037348 Panorama II No. 26 B, Bandung 40141


Situs terkait:
http://www.ilm.co.id/
http://www.mizan.com/
http://www.republika.co.id/


Hubungi Arvan Pradiansyah via http://www.facebook.com/


Awalnya kolom ini dipublikasi REPUBLIKA, Minggu, 14 Desember 2008, kolom Selisik.

Monday, December 29, 2008


UNDANGAN TALKSHOW THE 7 LAWS OF HAPPINESS

Resolusi Tahun Baru untuk Hidup yang Lebih Bahagia
--Oleh Anwar Holid


Tiga bulan terakhir menjelang tahun 2009 ini kita dihantui oleh bencana "Krisis Finansial Global." Secara mengejutkan, krisis yang berdampak besar-besaran ini justru berasal dari negara adidaya Amerika Serikat. Lepas dari bahwa semua pihak bahu-membahu mengatasi persoalan ini, toh pengaruh buruknya telah terasa oleh kita semua, yang paling terasa ini ialah melonjaknya harga, baik untuk barang kebutuhan pokok dan sekunder.

Bagaimana dengan peralihan menuju tahun 2009 yang sebenarnya hanya selisih sedetik saja tepat ketika tengah malam menjelang 1 Januari 2009 nanti?

Time waits nobody, lantun Freddie Mercury. Waktu meninggalkan siapapun; ia jalan terus. Tinggal orang sibuk dan pontang-panting mengisi kehidupannya, berusaha waras menghadapi berbagai peristiwa, yang kadang-kadang bisa begitu berat, menegangkan, melelahkan, bahkan mengancam keselamatan dan kebahagiaan. Mestikah kita kalah oleh berbagai krisis, apa pun bentuknya? Haruskah kita khawatir pada ketidakpastian dan ancaman, seabstrak apa pun perwujudannya? Dan kalaupun kita memang mesti kalah, bagaimana cara paling pantas menghadapinya? Sebab dalam kehidupan ini ada kala kita harus tertunduk menghadapi bencana, sakit, salah prakiraan, maupun kecewa. Arvan Pradiansyah, seorang konsultan SDM yang juga penulis dan pembicara publik, pernah berkata, "Kalau kamu kalah, jangan sampai kamu kehilangan pelajaran."

Kaifa--penerbit yang fokus pada dunia pembelajaran, motivasi, dan manajemen--menggandeng Arvan Pradiansyah untuk bersama-sama mengajak masyarakat memasuki dan mengisi 2009 ini dengan iktikad yang cukup lain, yaitu agar menjalani hidup yang lebih bahagia. Mereka akan mengadakan talkshow dengan topik "Resolusi Tahun Baru untuk Hidup yang Lebih Bahagia." Acara ini terbuka untuk umum, akan dilaksanakan pada Sabtu, 3 Januari 2009, pukul 14.00 WIB, di toko buku Gramedia Matraman, Jalan Matraman Raya 46-48 Jakarta 13150.

Kaifa menerbitkan buku keempat Arvan Pradiansyah , The 7 Laws of Happiness (423 h.), pada Oktober lalu, dan kini sudah cetak ulang. Dia mengakui sebenarnya ide mengenai isi buku tersebut sudah muncul sejak 2004, namun karena kesibukannya yang begitu padat, membuat naskah buku ini baru selesai ditulis pada pertengahan 2008. Bersama tim dari ILM yang dia pimpin, Arvan malah lebih dulu menyelenggarakan pelatihan "The 7 Laws of Happiness at Work" sejak 2007 untuk karyawan di sejumlah perusahaan.

Alih-alih menganjurkan meraih kesuksesan yang bersifat material, di buku tersebut Arvan mempromosikan agar orang menemukan kebahagiaan yang lebih esensial bagi manusia, meskipun boleh jadi kebahagiaan sangat kualitatif bagi setiap orang. Bagaimana menemukannya? Rahasia itulah yang dia bahas secara cukup komprehensif dalam bukunya. Secara garis besar, ada tujuh rahasia hidup yang bahagia. Tiga unsur pertama berkaitan dengan hubungan seseorang dengan dirinya sendiri; tiga unsur kedua berkaitan dengan hubungan antara seseorang dengan orang lain; satunya lagi ialah berkaitan dengan hubungan seseorang dengan Tuhan.

"Orang yang bahagia ialah orang yang dapat berdamai dengan dirinya, orang lain, dan Tuhan," demikian tegas Arvan.

Tentu kita semua bisa mendiskusikan kebahagiaan ini pada pertemuan tersebut. Boleh jadi makna kebahagian menurut Anda lain dengan maksud teman Anda; adakah benang merah di sana? Arvan sendiri, misalnya, dengan hati-hati membedakan kebahagiaan dan kesenangan. Kesenangan sesaat yang biasanya berjangka pendek kerap dianggap sebagai kebahagiaan. Padahal barangkali ia menipu perasaan orang tersebut. Karena itu, kebahagiaan pun harus memiliki prinsip dasar yang kuat.


Mungkin Anda sudah menulis resolusi untuk 2009 ini sejak awal Desember lalu, menempelkannya di samping meja komputer, di dalam notebook, dalam file dengan kode rahasia, atau baru mencanangkannya setelah liburan ke gunung, pulang kampung, bahkan setelah merasa hidup Anda tak keruan. Mungkin juga kita bertanya-tanya kenapa tahun lalu kita merasa hampa dan sia-sia, padahal telah banyak yang Anda lakukan.

Yang jelas, orang kerap butuh momen untuk berubah dan melakukan hal baru, melanjutkan kehidupan, mengisinya dengan beragam aktivitas yang bermanfaat. Momen itu memungkinkan manusia memikirkan segala hal relevan: merencanakan, memprediksi, menangguhkan, mendahulukan; pada saat bersamaan tahu kemungkinan berhasil dan bisa menerima kegagalan. Karena berencana, manusia belajar menentukan prioritas; apa yang penting, mendesak, ditunda, juga malah dihapus. Kalau cukup yakin bahwa dengan berjanji dan melaksanakannya hidup kita bakal lebih baik, berarti, setiap saat, dengan segala perubahannya, ketika itulah resolusi itu harus dilaksanakan sekarang, dengan kemampuan maksimal kita.[]

Konfirmasi undangan: Lina (021) 75910212; Rista (022) 7834310/sms 081320711171.

Oleh Anwar Holid

Copyright ゥ 2008 BUKU INCARAN oleh Anwar Holid

Informasi lebih banyak:
http://www.ilm.co.id
http://www.mizan.com

Kontak dengan Mizan dan Arvan Pradiansyah di http://www.facebook.com

Monday, October 27, 2008




"Kunci kebahagiaan itu ada dalam pikiran," Kata Arvan Pradiansyah
-------------------------------------------------------------

Di buku terbarunya, Arvan Pradiansyah membicarakan prinsip meraih kebahagiaan.


JAKARTA - "Buku tentang cara meraih kesuksesan sudah banyak, tapi buku tentang mencapai kebahagiaan masih sedikit; padahal banyak orang yang sukses ternyata tidak bahagia," demikian kata Arvan Pradiansyah di awal talkshow The 7 Laws of Happiness yang diadakan di MP Book Point, Jumat, 24 Oktober 2008. Talkshow dipandu oleh Mutia Shahab dan acara tersebut akan ditayangkan Jak TV.

The 7 Laws of Happiness (Kaifa, 2008) sudah berada di rak-rak toko buku sejak awal Oktober. Pada 27 September 2008 lalu, buku tersebut pertama kali didiskusikan lewat teleconference di Islamic Center, Kompleks Graha Hijau 2 dan Masjid Villa Cendana. Sejak terbit, sejumlah orang telah mengomentari buku keempat Arvan tersebut, di antaranya ialah Hernowo, penulis Mengikat Makna yang terkemuka sebagai ahli kepenulisan dan editor senior. Hernowo menyatakan: "Buku terbaru Arvan ini memiliki ragam-bahasa-tulis yang indah-menenteramkan. Kita akan setuju dengan apa yang dikatakannya: Jadi, kunci kemenangan sebenarnya ada di dalam pikiran kita dan sangat bergantung pada pikiran yang kita pilih. Sebaliknya, jika memilih pikiran positif, kita akan senantiasa diliputi rasa bahagia."

Di Facebook, situs jaringan sosial, Sari Meutia menulis: Saya baru mulai membaca buku The 7 Laws of Happiness, dan saya mulai dari bab Gratefulness dan Patience karena saya rasa bersyukur dan sabar ini sesuatu yang mudah kita ucapkan, tapi sulit sekali dilaksanakan. Terima kasih atas pencerahan yang saya dapatkan dari buku bapak. Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca karena urutan penulisannya, pemuatan kutipan yang sangat mencerahkan, dan fontnya yang menyenangkan untuk dibaca, bahkan untuk orang-orang berusia lanjut. Sementara itu Mirza Dewi Yanti berkomentar: Saya sudah baca buku The 7 Laws of Happiness. Saya beruntung membacanya karena isi di buku ini adalah rangkuman dari kepingan-kepingan temuan saya dari beberapa pendapat orang-orang yang saya hormati.

Arvan Pradiansyah dikenal sebagai fasilitator pengembangan SDM, pembicara publik, host talk show, dan kolumnis. Dia menggunakan latar belakang keahliannya di bidang SDM untuk menghasilkan kolom dan buku-buku inspirasional, dengan rentang subjek mulai dari kepemimpinan, manajeman, profesionalisme, sampai manajemen kehidupan. Tiga buku pertamanya terserap pasar dengan baik dan semua sudah cetak ulang, bahkan Cherish Every Moment (2007) kini bisa diakses melalui Amazon.com. Di kalangan pendengarnya, Arvan kerap dijuluki sebagai "Your personal inspirator."

Di talkshow tersebut Arvan menyatakan bahwa dia berniat menebarkan tujuh vitamin kehidupan yang bahagia ke dalam pikiran pembaca. "Kunci kebahagiaan ada dalam pikiran. Pikiran orang yang bahagia akan menghasilkan kebaikan." Dia menyarankan agar orang lebih banyak mengonsumsi "makanan positif" masuk dalam pikiran, karena studi membuktikan kebanyakan orang justru sakit psikis (jiwa) karena pikirannya terganggu. Orang yang berpikir positif cenderung mampu melakukan hal-hal yang terbaik dalam kehidupannya.

Pendapat ini sejalan dengan studi psikologi positif yang dikembangkan Martin E.P. Seligman, terutama dalam buku Authentic Happiness (2002). Pada akhir tahun itu pula Arvan menyatakan bahwa ide tentang The 7 Laws of Happiness sudah muncul. Dia mengembangkan konsep itu pada 2004; namun kesibukan yang begitu padat, termasuk kehilangan data naskah di hard disk, membuat buku ini baru selesai pada pertengahan 2008.

"Fondasi kebahagiaan itu sabar," tegas dia, sambil mengoreksi bahwa sabar di sini bukan mengelus dada, melainkan terus mencari jalan lain agar berhasil menyatukan pikiran, badan, dan jiwa dalam satu tindakan. Setelah sabar, ada enam lagi hukum kebahagiaan, yang puncaknya ialah surrender, yakni berserah diri (pasrah) kepada Tuhan.

Begitu talkshow selesai, Arvan dikerubungi para pendengar yang ingin lebih lanjut membicarakan pemikirannya. Sebagian pengunjung membeli The 7 Laws of Happiness dan meminta tanda tangannya. "Buku ini untuk kado saudara saya yang akan menikah," kata seorang perempuan yang sekaligus membeli dua kopi buku tersebut.[]


Oleh Anwar Holid

Copyright © 2008 BUKU INCARAN

Situs terkait:
http://www.ilm.co.id
http://www.mizan.com