Tuesday, June 08, 2010
[halaman ganjil]
Membayangkan Kita Sebagai Orang Lain
---Anwar Holid
Sambil dicukur, kami ngobrol soal sepakbola dan Piala Dunia 2010 yang akan berlangsung dalam beberapa hari lagi. Tukang cukur ini gemar nonton pertandingan liga dunia dan Indonesia. Bacaannya Top Skor dan Tribun Jabar, yang punya banyak halaman berita bola. Dua koran itu bertumpuk-tumpuk di ruang kerjanya. Sudah beberapa kali dalam pertemuan kami dia membayang-bayangkan betapa gaji pesepakbola itu fantastik dan kesejahteraan mereka terjamin.
"Ah, semua pekerjaan punya risiko kok," kataku diplomatis.
Sebenarnya aku malas bicara lagi soal pendapatan, persis karena pendapatanku juga kecil dan aku takut sekali lagi dianggap mengeluh atau mengadu, dan lama-lama menumbuhkan iri hati dibandingkan kondisi orang lain yang lebih sejahtera.
"Banyak kok pemain bola yang hidupnya sengsara. Kayak kemarin, Aaron Ramsey (pemain Arsenal) patah kaki waktu bertanding. Banyak pemain bola yang cedera sampai akhirnya karirnya tamat dan itu membuat dia frustrasi sampai mau bikin bunuh diri. Kayak empat tahun lalu Alessio Tacchinardi (pemain Juventus) coba bunuh diri waktu Piala Dunia di Jerman. Kehidupan Paul Gascoigne kayaknya juga awut-awutan, meskipun jelas dia punya duit lebih banyak dari kita."
Obrolan ini membuat aku jadi berpikir tentang pekerjaanku yang belum beres karena gagal melaksanakan Hukum Pareto. Hukum itu sederhananya begini: untuk sejumlah kejadian, kira-kira 80 % dari dampak itu berasal dari 20 % upaya. Ada 20 % aktivitas yang bisa berdampak terhadap 80 % keluaran yang bisa dihasilkan seseorang. 20 % aktivitas ini justru bernilai paling tinggi dalam pekerjaan, dan biasanya merupakan tugas paling sulit dan menantang. Sedangkan 80 % pekerjaan biasanya hanya bernilai 20 % dari keluaran seseorang, yang biasanya berupa tugas ringan dan mudah. Orang cenderung mengerjakan yang mudah, padahal tugas itu insignifikan. Menurut Prinsip Pareto, orang harus disiplin dan memfokuskan energi untuk mengerjakan hal yang lebih penting dan bernilai paling tinggi. Aku masih kesulitan melaksanakan dua puluh persen pekerjaan yang justru bisa memberi dampak delapan puluh persen bagi kesejahteraan keluargaku. Aku lagi berusaha fokus ke sana.
Poinnya ialah aku malas membanding-bandingkan kehidupanku dengan orang lain, meskipun kemungkinan untuk membandingkan itu begitu terbuka. Beberapa orang menganggap kehidupan sebagai penulis enak, padahal aku punya banyak utang kerjaan dan merasa masih kesulitan meningkatkan karir secara signifikan. Sedangkan kebutuhan dan kewajiban membayar tagihan mustahil dihadang. Aku merasa pikiranku lagi kosong. Dalam kondisi seperti itu, membayangkan bahwa kita adalah orang lain sungguh-sungguh menyenangkan. Padahal itu justru sangat meracuni. Seperti beberapa minggu lalu ketika aku ngobrol dengan seorang sopir yang kerja sebagai tenaga outsource di sebuah perusahaan.
"Kerja di sini enak, driver juga enggak dianggap sebagai driver," katanya. Entah kenapa dia selalu bilang "driver" sebagai ganti "sopir" untuk profesinya. Mestinya dengan pengakuan itu dia baik-baik saja disebut "sopir." Mungkin buat dia menjadi driver itu lebih berderajat dari sopir. Mungkin driver itu bekerja di perusahaan bonafide, sementara sopir ialah sopir angkot atau sopir truk rombengan.
"Oh, begitu ya," aku berusaha menahan kecamuk batin yang mau bermunculan akibat mendengar kata-katanya. Dalam hati aku bilang, kalau kamu menolak dianggap sebagai driver, lantas kamu ingin dianggap sebagai apa? Pemilik mobil? tanyaku sinis. Manajer sepakbola atau head hunter? Apa lagi sebutan paling pantas bagi seorang driver kecuali seratus persen dipanggil sebagai driver? Bukankah itu bentuk penghargaan tertinggi untuk karirnya? Tentu absurd kalau bilang profesiku penulis tapi lebih ingin dianggap sebagai fotografer. Aku bahkan bukan seorang scriptwriter atau wartawan, meski kegiatannya sama-sama menulis. Kita bisa dikenali persis karena yang kita lakukan. Aku ingin dikenal sebagai penulis, penyunting, publisis, orang yang antusias terhadap perbukuan---bukan sebagai editor-in-chief atau motivator, misalnya. Lain halnya kalau minggu ke depan aku benar-benar jadi editor-in-chief dan tengah memotivasi orang satu stadion.
Setelah ngobrol dengan sopir, tukang cukur, direktur utama sebuah perusahaan, juga para mantan manajer, muncul pertanyaan-pertanyaan naif dalam kepalaku:
Apa satpam sebuah showroom toko mobil punya mobil sendiri?
Apa tukang parkir bank punya rekening di bank tempatnya kerja?
Apa sopir seorang rektor bisa menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi?
Apa office boy sebuah penerbit pernah terpikir untuk membeli buku-buku eksklusif keluaran perusahaannya?
Apa karyawan pabrik pupuk pernah terpikir untuk jadi petani yang suka kesulitan membeli harga pupuk?
Apa pekerja Apple mendapat fasilitas iPad gratis?
Apa semua pemain bola bisa ikut Piala Dunia?
Apa para penulis kelihatan mulia?
Belum tentu. Belum tentu hidup seorang direktur utama menyenangkan, meskipun dalam beberapa hal mungkin kita ingin seperti mereka. Apa kita mau jadi direktur utama yang akhirnya dipecat lantas diseret ke pengadilan, harus mempertanggungjawabkan hal yang mungkin bukan kesalahan kita, dan ujung-ujungnya di penjara? Baru-baru ini ada seorang komisaris utama perusahaan besar dicokok ke pengadilan dan hakim menyatakan ia bersalah. Hukumannya penjara dan denda. Beberapa gubernur telah di penjara karena terbukti korup ketika berkuasa. Kita mau menjadi seperti mereka? Jelas tidak. Dari baca-baca majalah atau buku, aku berani bilang banyak kehidupan rockstar yang sengsara, meskipun namanya menjulang dan bisa menjual album gila-gilaan. Mestinya kita tahu setiap orang punya kesulitan dan kejayaan sendiri-sendiri. Setiap profesi punya tantangan dan risiko. Kamu enggak tahu kapan kehidupan akan jaya atau nyungsep. Apa hebat kalau kamu bikin album hanya untuk menebus narkoba? Apa bagus kalau aku nulis hanya untuk mabuk-mabukan? Apa hebatnya seorang walikota kalau ia ternyata berlangganan pelacur? Kita hanya mau sisi hebat orang lain, tapi menolak wujud rudinnya. Padahal sebuah koin punya dua sisi, kehidupan punya yin dan yang. Kita maunya cuma sebelah, padahal ia harus diterima secara utuh. Jadinya mirip orang paling kaya berkat kolusi-korupsi-menipu, sementara utangnya yang sebesar gunung dikemplang maupun dimanipulasi. Tapi, bantah seorang kawan, meski banyak utang, faktanya toh ia punya banyak kekayaan. Orang malas melihat neraca, aslinya seperti apa. Memang. Inilah yang sering bikin aku nelangsa.
Mungkin kesengsaraan menjadi diri sendiri ini yang membuat seseorang suka membayangkan enaknya jadi orang lain. Padahal jangankan orang lain, jadi diri sendiri saja repot bukan main. Tepat. Menasihati diri sendiri, mengubah diri sendiri itu susah. Sementara mengomentari atau memberi tahu orang lain itu luar biasa mudah. Tinggal ngecap. Tinggal kuat berdebat. Sementara untuk jadi diri sendiri, orang kadang-kadang frustrasi, kesulitan memahami diri sendiri dan juga kejadian terdekatnya, merasa depresi, harus berdarah-darah. Risiko hidup-mati ditanggung sendiri.
Selesai ngobrol dengan tukang cukur dan orang berprofesi lain, aku berharap pikiran untuk membayangkan diri sebagai orang lain menguap perlahan-lahan. Gantinya aku makin sibuk dengan diri sendiri, berusaha fokus pada kerja dan prioritas yang sudah aku susun dan ternyata belum selesai. Alamak![]6/2/2010
Anwar Holid pernah menggunakan account lain untuk merasakan kepribadian lain. Dia bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis. Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.
KONTAK: wartax@yahoo.com | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141.
Sunday, May 30, 2010
Malcolm Gladwell yang Penasaran
---Anwar Holid
What the Dog Saw, dan Petualangan-Petualangan Lainnya
Judul asli: What the Dog Saw and Other Adventures
Penulis: Malcolm Gladwell
Penerjemah: Zia Anshor
Penerbit: GPU, 2010
Tebal: 480 hal.; Ukuran: 13.5 x 20 cm
ISBN: 978-979-22-5249-1
Harga: Rp.80.000,-
"Keingintahuan mengenai apa yang ada di balik pekerjaan harian orang lain adalah salah satu dorongan paling mendasar pada manusia, dan dorongan itulah yang menyebabkan buku yang sekarang Anda pegang ini ditulis," demikian kata Malcolm Gladwell di pengantar What the Dog Saw (GPU, 2010, 461 hal.) Dia terus memelihara dan mengembangkan rasa ingin tahu terhadap sembilan belas macam kepenasaran dengan matang. Rata-rata menghasilkan esai yang sangat panjang untuk ukuran artikel bernada investigatif demi mengorek suatu subjek, kemudian menuliskannya dengan sangat lincah dan menggigit. Semua pembaca buku Gladwell sudah tahu betapa kuat ciri khas tulisannya, dan betapa tulisan itu membuat ketagihan.
Petualangan Gladwell demi menelusuri suatu fenomena di dalam What the Dog Saw bisa dibaca dari mana saja. Kita akan segera tahu betapa rasa penasaran manusia itu memang meluap-luap, tak terbendung bahkan oleh teka-teki atau misteri paling gelap sekalipun. Buku ini menyajikan lebih banyak lagi menu tentang betapa manusia dan drama kehidupannya bisa melahirkan peristiwa yang kerap terlalu sulit untuk saling diprediksi. Manusia bergerak lebih cepat dari prasangka ataupun prakiraan orang lain; mereka suka membuat kecele orang yang mencoba menangkap gelagatnya. Betul manusia bisa menganalisis, menebak, dan memprediksi, tapi hasrat dan antisipasi lebih cepat lagi bergerak menanggapi analisis.
Rasa penasaran ada yang sederhana dan rumit. Kalau perempuan ingin mengecat rambut dengan warna tertentu, bisa jadi itu teka-teki sederhana; sementara kalau kita ingin tahu bagaimana polisi dan detasemen khusus menentukan target operasi terorisme, mungkin itu misteri yang hebat dan mendebarkan. Tapi sama saja: keduanya butuh jawaban, dan orang seperti Gladwell dengan segala cara berusaha menjelaskannya. Upayanya jelas telah sukses membuat jutaan orang suka, meski tidak semua. Sebagian orang menilai Gladwell terlalu simplisistik (menggampangkan) dan mengabaikan faktor penting lain dalam berbagai fenomena yang rumit; dan itu membuat mereka menilai tulisannya sebagai pseudosains. Tapi yang jelas kehebatannya meyakinkan orang banyak sulit ditandingi. Wajar bila media massa seperti Time, Newsweek, juga GQ menobatkan Gladwell sebagai penulis yang dewasa ini paling mempengaruhi cara orang berpikir.
Gladwell memilah What the Dog Saw dalam tiga bagian. Urutan paling menariknya justru dari belakang. Di bagian ketiga dia membahas tentang kepribadian, sifat, dan kecerdasan manusia. Dia membicarakan kenapa sebagian orang sudah genius sejak muda, namun sebagian lain justru baru panas setelah berusia matang? Apa beda kesuksesan teori relativitas dan keberhasilan perusahaan semacam Microsoft? Bagaimana polisi mengembangkan teori kejahatan dan menangkap tersangka terorisme padahal ciri penjahat sangat kabur dan mudah sekali berubah? Kenapa seseorang bisa panik dan akhirnya kalap? Dan kisah-kisah yang lebih menyangkut indra, emosi, dan pikiran daripada sesuatu yang fisikal.
Di bagian kedua dia mengembangkan teori, prediksi, dan diagnosis. Misal seperti ini: kenapa perusahaan yang sangat terbuka, dikelola dengan baik, diisi orang-orang cerdas kelas satu, berkembang pesat, punya kapital luar biasa, sahamnya diminati investor, punya semua kriteria unggul, memenuhi standar kehebatan macam-macam, toh akhirnya bangkrut dan gagal diselamatkan? Kenapa badan intelijen yang punya analisis tiada terperi tetap gagal menemukan Osama bin Laden? Semuanya paradoks rumit yang bisa melahirkan kisah penelusuran menarik.
Di bagian pertama dia menulis tentang "genius minor", yaitu orang hebat yang perannya dianggap sepele, seperti pawang anjing, produsen pewarna rambut, atau raja saus tomat. Padahal kerja dan temuan mereka hebat juga. Gladwell membuat mereka jadi setara dengan penemu penting kelas dunia. Bayangkanlah bila orang Indonesia tak kenal sambal, bagaimana rasanya. Tapi kenapa kita tidak tergerak untuk menelusuri, siapa yang pertama-tama membuat ramuannya?
Meski begitu, isi ketiga bagian buku ini masih terasa inkonsisten. Sebab di bagian pertama kita bisa menemukan tulisan tentang Nassim Nicholas Thaleb yang terkenal berkat The Black Swan, yaitu teori probabilitas untuk menerangkan falsifikasi. Dia jelas bukan tipe "genius minor." Sementara di bagian kedua dan ketiga kita bisa menemukan topik agak ringan, seperti contek-mencontek karya yang bercampur dengan ilham atau hasil riset dan bagaimana seekor anjing menentukan ada kejahatan di depan matanya.
Keunggulan Gladwell tampaknya berporos pada dua hal: (1) cara berpikirnya unik dan cara dia menarik kesimpulan mengejutkan; (2) cara penulisannya hebat dan lincah sekali. Dalam hal teknik penulisan, bergabungnya dia sebagai staf penulis The New Yorker punya andil besar, sebab majalah ini sudah terkenal berkat gaya dan cita rasa sastranya. Dalam hal cara berpikir, dia cerdas, meskipun bukannya tanpa cela.
Sepintas, isi buku-buku Gladwell tampak klise. Sebagian orang bingung apa beda blink dengan ilham, intuisi, atau wisdom dari pengalaman yang diasah terus hingga membuat orang peka? Dalam Outliers, banyak orang masih bingung apa hubungan tanggal lahir dengan kesuksesan. Tapi toh mereka tetap semangat membaca tulisannya.
Gladwell tahu cara menuliskan petualangan-petualangan pemikirannya. Dia mampu menyabet topik yang awalnya berserakan dan kabur menjadi tajam dan membangkitkan rasa penasaran. Dia bergerak dari satu narasumber ke penyelidikan lain, berusaha langsung mengalami fakta-fakta yang mungkin terbayangkan, lantas melakukan studi literatur dan menemukan pasase yang tepat. Gladwell berkata, "Bila mau menulis buku, Anda perlu punya lebih dari sekadar cerita yang menarik. Anda harus punya hasrat untuk menceritakan kisah itu. Dalam beberapa hal Anda bahkan secara personal perlu mengupayakannya bila memang berguna bagi tulisan."
Banyak buku motivasional atau bisnis sudah membicarakan subjek yang dibahas Gladwell. Tapi kenapa buku dia tetap bisa menonjol dan bestseller gila-gilaan? Bisa jadi karena ini: (1) Argumen Gladwell kuat dan cara berpikirnya menarik; (2) Gladwell bisa merangkai fakta trivial (sepele, sering diabaikan atau dianggap rendah) ke dalam logika besar dengan cara pop-ilmiah menjadi mudah dipahami; (3) Gladwell bisa membuat koneksi antara hal klise dengan teori yang awalnya orang bingung penerapannya bagaimana dalam keseharian atau kasus khusus. Istilah teoretis yang dia munculkan juga catchy.[]
Anwar Holid ialah editor, penulis, dan publisis. Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.
KONTAK: wartax@yahoo.com | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141
Thursday, May 20, 2010
Kompetensi Seorang Editor
---Anwar Holid
Saya memulai karir di dunia perbukuan sebagai 'asisten editor' di Mizan. Editor yang saya layani terutama ialah Hernowo, Yuliani Liputo, Rachmat Taufiq Hidayat, Taufan Hidayat, Sari Meutia, dan Tholib Anis. Tugas utama saya kira-kira mencakup copyediting, proofreading, membuat indeks, mengawasi cetak coba, dan melayani segala kebutuhan editor. Sesekali saya juga mendapat kepercayaan untuk bertugas sebagai editor---sebab itulah niat utama saya bekerja di industri buku. Kadang-kadang saya diminta mendampingi atau menemui penulis, meski belum benar-benar bekerja sama dengan mereka. Tapi minimal kami berinteraksi.
Pada periode itu salah satu yang paling saya ingat ialah Hernowo---manajer kami---tampaknya sedang memasuki masa transisi dalam karirnya. Gejalanya ialah hampir setelah rapat mingguan dia memberi tulisan untuk kami baca, baik berhubungan langsung dengan penerbitan maupun manajemen. Kami suka heran, ada apa nih mas Her kok agak berubah, yaitu sering mengutarakan pikiran-pikirannya agar kami baca. Saya waktu itu masih anak bawang di dunia kantor, jadi meskipun tulisan itu saya baca, ada kalanya langsung saya taruh di laci setelah sekali baca.
Sebenarya hampir semua editor di Mizan juga suka menulis. Yuliani berkali-kali mempublikasikan tulisan di Kompas, bahkan menimbulkan polemik. Sari Meutia, Rachmat Taufiq Hidayat, Taufan Hidayat juga suka menulis di media lain. Tulisan saya pernah dimuat Gatra dan Republika.
Suatu hari ketika datang ke Mizan lagi untuk mengerjakan order, di showroom saya membuka-buka Mengikat Makna (2001) karya Hernowo. Saya kaget dan berteriak dalam hati, "Loh, ini kan tulisan-tulisan mas Her yang dulu dia bagi-bagikan ke kami!" Rupanya dia secara padu dan menarik mampu mengolah perca tulisan yang dulu kami anggap sebagai buah kegelisahan menjadi buku tentang bacaan dan penulisan paling fenomenal di Indonesia. Berani taruhan, sejak itulah namanya menjadi terkemuka tidak hanya sebagai editor sebuah penerbit yang khas, melainkan menjadi diri sendiri. Saya pikir, Mengikat Makna merupakan buah dari pengalaman dan pembelajarannya bertahun-tahun menjadi editor senior di Mizan. Itu menakjubkan.
Karena gagal membangun karir di Mizan, saya berusaha belajar menjadi 'editor sesungguhnya' secara serabutan, baik lewat ngantor maupun dengan menjadi editor freelance, termasuk buat para penulis perorangan. Selalu ada pembelajaran menarik setiap kali berinteraksi dengan sesama penulis dan editor. Saya kembali belajar dari Hernowo waktu naskah saya akan diterbitkan MLC, meskipun akhirnya gagal. MLC ialah imprint Mizan yang dulu banyak menerbitkan buku pembelajaran, penulisan, dan perbukuan.
Inilah rangkaian nasihat selama kami berinteraksi hendak menerbitkan buku:
1/ Yang lebih penting ialah lebih dulu "menemukan" diri sendiri--- penulis mau apa dengan naskahnya, fokus atau kabur subjek yang dia jelajahi, bagaimana cara dia mengungkapkan gagasan, apa harapannya terhadap naskah, dan kelengkapan lainnya.
2/ Yang sebaiknya memberi karakter pada naskah ialah penulis sendiri, bukan orang lain. Idealnya yang memastikan sebuah buku mau diposisikan seperti apa bukan editor, penerbit, atau orang di luar penulis.
3/ Lontarkan saja apa sebenarnya keinginan penulis atau bayangan buku seperti apa yang penulis harapkan? Apakah buku ini misalnya bisa seperti buku Hernowo (Mengikat Makna) atau buku Sofia Mansoor-Niksolihin (Pengantar Penerbitan)?
4/ Jadikan tulisan itu untuk membantu penulis menemukan diri, mulai dari keinginan, harapan, karakter, apa pun. Bila menemukan sesuatu, penulis nanti akan menemukan "konsep", "judul" atau apalah yang mewakili diri penulis berkaitan dengan naskahnya. Ini akan membuat naskah jadi dahsyat.
5/ Selain menyusun naskah secara normatif---Eric Jensen menyebutnya sebagai "makna yang dirumuskan" (reference meaning)---idealnya penulis berusaha menyentuh "makna yang dihayati" (sense meaning). Tujuannya untuk mendapatkan makna terdalam sebuah naskah dan menghindari menangani naskah secara kering dan normatif.
Saya juga mendapat masukan dari Ahmad Baiquni ketika menerbitkan buku di Mizania. Dialah editor kedua buku saya. Dari Baiquni saya belajar tentang cara menyampaikan gagasan secara halus dan persuasif. Ini bisa jadi dipengaruhi oleh kepekaan Baiquni yang hebat terhadap bahasa dan kata. Dia awas terhadap efek bahasa dan kemungkinan penerimaan pembaca terhadap cara ungkap. Apa sebuah kalimat akan membuat telinga orang jadi panas atau membuat hatinya sejuk? Tentu sia-sia bila kita menulis sebuah buku tentang agama, namun efeknya malah membuat orang jadi antipati terhadap agama tersebut. Misinya gagal.
Menyimpulkan dari belajar gaya serabutan itu, menurut saya, kompetensi yang paling dibutuhkan seorang editor antara lain:
1/ Peka bahasa, luwes menulis, jernih mengungkapkan gagasan. Kompetensi ini sangat kualitatif, tapi efeknya gampang dilihat, misal dari enak-tidaknya buku dibaca, jelas-tidaknya gagasan dalam sebuah buku. Kompetensi ini sudah saya saksikan sejak awal meniti karir. Editor yang hebat pastilah pandai menulis---tak peduli apa dia pernah menerbitkan buku atau tidak. Kompetensi ini akan melanggengkan karir seorang editor. Ini otomatis menggugurkan adagium bahwa editor ialah penulis gagal. Bahkan bisa jadi sebaliknya, editor ialah penulis yang sedang mengasah pena kepenulisannya.
2/ Menangkap gagasan terbaik dari penulis dan memberi saran untuk menciptakan visi tentang sebuah buku. Dalam hal ini mari kita belajar dari Jonathan Karp, pendiri sekaligus Editor in Chief di penerbit TWELVE. Yang paling menonjol dari TWELVE ialah cara Karp menangani penulis dan naskah satu demi satu secara eksklusif untuk menghasilkan buku yang benar-benar bermakna dan mengubah masyarakatnya---Amerika Serikat. Kinerja dia membuktikan idealismenya. Dalam perjalanan karirnya, Karp mengaku sangat terkesan pada Kate Medina, editor yang dia asistensi di Random House sebelum mendirikan TWELVE. Inilah yang dia pelajari dari Medina:
Saya memperhatikan cara dia mendekonstruksi novel, atau manuskrip apa pun, dan memandang naskah itu secara menyeluruh (holistically): dari sisi struktural, tematik, dan seterusnya. Dia bisa memandang gambaran besar dan detailnya sekaligus. Dengan cara positif, dia bisa menyetir penulis, untuk menciptakan karya yang lebih baik dan hidup. Yang dia lakukan terutama ialah membuat novel itu jadi lebih jernih. Dan karena telah mengetikkan lusinan memo selama bertahun-tahun, saya mulai belajar disiplin menjadi seorang editor. Saya memperhatikan apa karakter-karakter itu terdengar nyata. Apa cara berceritanya bergerak dengan tepat. Apa bahasa punya dampak tertentu atau tidak. Rasanya seperti mendengar suara seseorang di dalam kepalamu. Saya mengenakan headphone itu dan mendengarkan dia melaksanakan pengobatan editorialnya. Itu betul-betul membentuk diri saya.
Sebenarnya ada banyak alasan kenapa Kate Medina jadi editor hebat. Saya kebetulan bisa menguping semua percakapan dia via telepon, dan saya persis ingat sangat terkesan oleh kenyataan bahwa dia tak pernah menyaringkan suaranya dan selalu ramah pada semua orang. Waktu itu saya masih seorang lelaki pemarah berumur dua puluh limaan. Saya ingat pernah masuk ruangannya dan berkata kepadanya, "Kate, kamu tidak pernah berteriak." Balasnya, "Yah, aku menemukan selalu ada cara yang baik untuk menghadapi sesuatu." Itu betul-betul mengubah saya. Saya menyaksikan profesionalismenya, caranya yang sangat positif dan membangun dalam menghadapi orang. Saya juga memahami visinya.
Sebenarnya ada banyak alasan kenapa Kate Medina jadi editor hebat. Saya kebetulan bisa menguping semua percakapan dia via telepon, dan saya persis ingat sangat terkesan oleh kenyataan bahwa dia tak pernah menyaringkan suaranya dan selalu ramah pada semua orang. Waktu itu saya masih seorang lelaki pemarah berumur dua puluh limaan. Saya ingat pernah masuk ruangannya dan berkata kepadanya, "Kate, kamu tidak pernah berteriak." Balasnya, "Yah, aku menemukan selalu ada cara yang baik untuk menghadapi sesuatu." Itu betul-betul mengubah saya. Saya menyaksikan profesionalismenya, caranya yang sangat positif dan membangun dalam menghadapi orang. Saya juga memahami visinya.
Kita melihat editor memberi manfaat kepada penulis. Perhatikanlah para penulis yang tulus berterima kasih pada editor, itu bukti bahwa sebagai orang luar, editor bisa memberi masukan berharga baik pada naskah dan gagasan penulis. Editor dan penulis merupakan tim; editor idealnya bisa memberi pendapat pada naskah dan memberi masukan untuk keperluan penulis, apalagi demi kepentingan bersama. Dari dulu saya yakin bahwa bila idenya menarik, sebuah naskah sebenarnya bisa dinegosiasikan buat diterbitkan, meski kita tahu pertaruhan penerbit banyak dan mereka menuntut editornya untuk bekerja lebih hebat mendatangkan keuntungan.
3/ Belajar terus dari sesama penulis dan editor. Kemungkinan ini terbuka luas sekali, apalagi interaksi antarindividu sekarang bisa terjadi begitu mudah. Pelajaran bisa dipetik di mana-mana. Kita bisa belajar apa saja, mulai dari penulisan hingga marketing. Saya mendapat manual editing dari Yuliani, tahu Karp dari Sari Meutia, tahu cara editor fiksi menilai naskah dari Hetih Rusli, masih sering membaca tulisan Hernowo, dan tahu makna menciptakan buku beserta proses penulisannya dari sejumlah penulis.
4/ Editor harus berani mengungkapkan apa yang menurut pemikirannya benar, tapi harus mampu menyampaikan pendapatnya dengan baik. Perhatikan cara editor menghadapi penulis dengan baik. Kematangan Kate Medina bisa menjadi teladan. Atau editor harus menguasai EQ dengan baik. Keberanian frontal hanya akan menciptakan musuh dan membuat sebagian orang antipati, ini bisa menjadi bumerang. Sebab sebagian editor lain kurang tahan kritik, begitu juga dengan penulis. Kalau sudah begini, bisa menimbulkan konflik. Pelajarilah cara menyampaikan kritik yang baik, sepahit apa pun itu. Meski maksudnya baik, jangan sampai kritik jadi ajang menjelek-jelekkan.
Contoh: Saya berpendapat ejaan kata untuk pekerjaan itu ialah 'karir', bukan 'karier', sebab 'karier' artinya 'pengangkut' atau dalam konteks biologi ialah gen pembawa sifat cacat.
5/ Berusaha menikmati dan menyelami segala jenis buku. Betul spesialisasi tampaknya penting, tapi saya pikir menikmati segala jenis buku akan memperkaya khazanah dan makin mengasah kemampuan berbahasa seorang editor, ujung-ujungnya akan membuat dirinya awas betapa cara bertutur, menyampaikan, dan mengungkapkan gagasan itu dinamik dan terus berkembang. Setelah sejak awal saya tertarik fiksi dan agama, akhir-akhir ini saya tertarik dengan buku-buku nonfiksi seputar kreativitas dan manajerial. Ternyata banyak sekali buku kreativitas yang sangat bermakna, misal Whatever You Think, Think The Opposite karya Paul Arden. Kita bisa belajar menulis provokatif dari buku seperti itu, membolak-balikkan logika, dan menantang kejumudan berpikir.
Terkait dengan itu semua, editor harus terus melatih kompetensi yang relevan dengan pekerjaannya, baik menguasai perangkat penulis, menganalisis naskah, mulai dari kreativitas hingga referensi, apalagi membaca dan menulis. Karena terus berhubungan dengan teks dan gagasan, editor mestinya menikmati permainan bahasa, mengotak-atik, bereksperimen, mencoba berbagai kemungkinan. Kalau setiap editor punya semangat belajar dan berlatih, saya yakin industri perbukuan akan terus dinamik, dan generasi baru editor hebat akan terus lahir.[]
Anwar Holid kini bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis. Blogger @ http://halamanganjil.blogspot.com.
KONTAK: wartax@yahoo.com | HP: 085721511193 | Panorama II No. 26 B Bandung 40141
PS: Pointer dari esai ini saya presentasikan di pertemuan Writing for Editors, penerbit Mizan, Bandung, 19 Mei 2010.
Subscribe to:
Posts (Atom)



