Tuesday, October 11, 2005

[HALAMAN GANJIL]

Memberi Seribu Perak dan Menganggap itu Kebaikan
-----------------------------------------------------------------

>> Anwar Holid alias Wartax

Sebenarnya aku sungkan waktu tebersit ingin menuliskan ini. Kesannya aku ingin mengumumkan 'kebaikan' yang barangkali aku lakukan; padahal sebaliknya, aku menuliskan justru karena jarang melakukannya, yaitu menyumbang. Aku merasa itu cukup luar biasa buatku sendiri.

Jumatan pertama Ramadhan 1426 H (7/10/05 M) lalu tanpa ada isyarat apa pun sebelumnya tiba-tiba aku memasukkan seribu rupiah ke dalam kotak kencleng masjid. Setelah mengoper kotak, tiba-tiba dari kepalaku terbetik pikiran, 'Semoga itu bisa menyelamatkan aku di hari akhir nanti.'

Ha ha ha... Wartax yang malang! Ngasih seribu perak dan kamu berharap itu bisa menyelamatkan dari siksa karena ribuan dosa yang pernah sengaja kamu buat? Seketika itu juga aku malu dengan pikiran yang muncul, juga dengan seribu perak tersebut.

Sejujurnya aku merasa jarang sekali menyumbang. Tidak ketika sedang Jumatan atau ketika bertemu dengan pengemis. Seingatku, terakhir kali aku beramal adalah beberapa minggu sebelum puasa. Waktu itu aku sedang beli makanan di sebuah kantin, untuk makan siang Lalang. Sambil menunggu karena pelayan sedang sibuk melayani pesanan, aku menoleh-noleh. Di dalam sepasang remaja sedang makan bersama. Di luar, persis di pinggir kantin itu, di pinggir selokan, aku melihat seorang tukang beling (pemulung) sedang duduk di aspal membuka bungkusan gorengan, entah berapa isinya. Tangannya bersarung kotor sekali. Tukang beling itu tentu saja biasa saja; ia dekil, pakaiannya berlepotan kotoran, mengenakan kupluk, membawa karung plastik besar berisi sampah yang masih bisa dia jual. Mungkin dia bau, kalau aku mendekat. Aku tiba-tiba menggumam dalam hati, 'Astaga, aku akan beli makanan enak-enak, orang-orang di sini juga sedang makan dengan lahap; sementara di balik ini, ada tukang beling hanya bisa makan gorengan kecoklat-coklatan.' Aku segera iba. Sesaat kemudian aku keluar dan menemui dia, tanpa awalan memberi dua ribu perak, 'Ini pak, untuk tambah beli nasi.' Tukang beling itu sedikit kaget, tapi dia masih sempat bilang terima kasih dan menganggukkan kepala. Dia ternyata tidak bau, meski memang terlihat kotor sekali. Aku segera menghindarinya, kembali masuk kantin, memesan ini-itu.

Sebenarnya apa yang akan terjadi dengan sedikit sumbangan itu? Apa aku tengah menyelamatkan sesuatu? Menyelamatkan alam semesta atau mempertahankan bahwa kebaikan masih ada? Pantaskah bila aku boleh berharap dari perbuatan yang amat kecil itu?

Akhir-akhir ini, karena nyaris tiap hari mengantar Ilalang sekolah, aku hampir selalu berpapasan dengan dua pemulung kecil yang lewat di jalan Hegarmanah. Jalan Hegarmanah adalah jalan yang di sepanjang sisinya penuh dengan rumah besar dan indah, sebagian sangat mewah, dengan benteng tinggi, kukuh, membatasi. Para pemulung berharap dari tempat sampah masing-masing rumah itu mereka masih dapat sisa rezeki, sesuatu yang masih berharga untuk mereka peras lagi nilai ekonominya. Sulit sekali aku membayangkan hidup dari sisa-sisa sesuatu yang telah dibuang orang lain. Dua pemulung itu masih seusia anak SD; belum remaja atau dewasa muda. Aku berani bertaruh kedua anak itu pasti tidak sekolah; mereka pergi dengan etos seorang pekerja, dengan peralatan lengkap, merokok. Aku sering gentar memandang mereka, sebab pikiranku kelu setiap melihat mereka sebentar saja. Tak tega. Seandainya aku dipaksa mengalami hidup seperti mereka. Seandainya Ilalang harus menjalani hidup seperti mereka. Seandainya aku adalah bagian dari mereka. Aku tak berani meneruskan andai-andai; takut benar-benar terjadi. Setiap kali melihat orang seperti itu aku langsung merasa sangat bersyukur, kaya, seakan-akan tak kekurangan apa pun. Padahal aku takut menghadapi kenyataan seperti itu. Kadang-kadang timbul dalam hatiku keinginan untuk memberi seribu-dua ribu pada mereka, tapi hingga kini itu belum aku lakukan. Bukan apa-apa, aku langsung merasa kecut sekali bila harus berhadapan dengan mereka. Aku merasa, akulah yang kalah dalam hidup ini. Aku kerap khawatir oleh banyak hal, tapi ternyata ada orang yang benar-benar hidup dalam kenyataan itu. Mereka tak bisa menolak, dikurung, bergumul, bahkan mungkin disekap di sana sejak lahir. Dalam pikiranku, apalah arti pemberianku itu dibanding dengan kenyataan yang mereka alami, dengan hidup mereka sendiri. Apakah itu akan mengubah sesuatu? Menghadapi hal seperti itu, akulah yang merasa papa. Seolah-olah uang itu adalah sogokan agar aku tak sampai jadi semiskin itu. Seolah-olah dalam bawah sadar aku ingin selamat dari bencana-bencana yang diizinkan terjadi. Tapi harus diakui, pengalaman hidupku terbatas sekali.

Hidup memang penuh pilihan, peluang, kesempatan, perubahan; tapi tetap aku memilih satu saja, yang paling nyaman yang bisa aku dapatkan; dengan harapan jangan sampai retak. Keinginan naif sebenarnya, melihat fakta bahwa hidup begitu kompleks, sekaligus sederhana dan keras. Kita selalu ingin menghindari yang tak diinginkan; tapi kalau sudah terjadi, mau apa lagi? Ditolak juga tetap terjadi. Lebih baik menerima. Kita selalu bersiap-siap menolak bala, tapi kalau memang benar-benar terjadi, yang paling baik memang menerima itu sebagai kenyataan. Kejahatan, penyakit, bencana, kemiskinan, kesalahan, pembunuhan, perampokan, ketidakadilan, penipuan, pemerasan, kerusuhan, perampokan, kebakaran, dan sebagainya adalah kenyataan juga, yang memang diizinkan terjadi di dunia.

Sesekali, kalau memungkinkan, ketika punya uang sedikit lebih dari biasa, kami memutuskan memberi sebagian kecil dari itu untuk tetangga dekat, sepasang kakek-nenek yang tampaknya lebih kerap tak punya uang, atau tetangga yang keadaannya kami nilai lebih jarang beli buah-buahan atau susu untuk anak-anaknya. Tapi, dipikir-pikir, pemberian itu sebenarnya apalah artinya; tepatnya terlalu sedikit dibandingkan yang barangkali seharusnya diberikan. Rasanya kami masih terlalu pelit untuk sedikit lebih pemurah, tapi hanya segitulah kerelaan kami. Sesekali, Ubing memberi nasi padang pada pemulung di tempat sampah wilayah kami. Kalau aku kemudian merasa telah menyebar kebaikan, rasanya itu berlebihan, kecuali baru sangat sedikit saja. Toh kami juga dibaiki oleh siapa pun, baik oleh orang-orang dekat maupun orang jauh, termasuk yang datangnya di luar dugaan kami. Mungkin baik diakui, bahwa kami hidup dari bantuan dan kebaikan orang lain. Sisanya adalah drama hidup itu sendiri.

Sebenarnya kita berharap apa dari niat berbuat baik itu? Yang paling bawah sadar dan purba, barangkali karena kita ingin dibalas oleh kebaikan juga. Beda dengan keburukan atau kejahatan; waktu melakukannya, kita tak ingin mendapat balasan hal serupa; tapi ada sisi lain yang terpenuhi, mungkin puas melampiaskan dendam, mungkin merasa berhak melakukan hal itu, merasa pantas. Rasanya memang keterlaluan kalau aku kembali berharap lebih karena merasa telah menyumbang seribu perak untuk masjid tadi. Untuk aku sendiri, seribu perak sama nilainya dengan tiga buah gorengan. Itu bahkan tak cukup untuk ongkos pulang-pergi aku kerja. Mengerikan. Dengan itu pun aku masih ingin balasan. Memalukan sekali. Memberi seribu perak dan menganggap itu sebuah kebaikan. Tapi setidak-tidaknya kalau itu ada nilainya, cukuplah buat aku.

Tapi kebaikan juga kerap diselimuti rahasia; baik kebaikan yang kita terima atau (sedikit) kebaikan yang sempat kita lakukan. Kadang-kadang aku merasa tidak pantas menerima kebaikan, tapi toh tetap tak aku tolak. Misalnya aku dikirimi buku, diberi uang, dibayar lebih, diberi bonus, dibaiki orang, diberi keringanan, dikirimi makanan, diberi diskon, dimaafkan, diramahi. Kualitas apa yang membuat aku tampaknya pantas menerima semua itu? Jawabannya mungkin justru lebih pada kualitas kemanusiaan mereka yang berbuat kebaikan padaku itu. Barangkali mereka beranggapan aku adalah semacam lahan untuk ditanami kebaikan.

Kebaikan tampaknya memang sengaja diciptakan untuk mempertahankan kesucian, membersihkan orang dari sesuatu yang bukan haknya. Maka agama memiliki sistem zakat atau sedekah dan masyarakat memiliki sistem sumbangan, yang salah satu tujuannya adalah membagi kebaikan atau kesejahteraan secara lebih rata. Waktu masih kecil, aku selalu dizakatkan oleh orangtua; sekarang, karena sudah punya penghasilan, setidak-tidaknya aku berzakat fitrah. Bahkan penghasilan kita pun sudah dipotong pajak oleh pihak yang menyebut dirinya 'pemerintah.' Atau kita ditarik retribusi. Coba sekali-kali gugat, ke mana itu larinya pajak, retribusi, sumbangan, zakat, bila begitu banyak ketimpangan ternyata gagal dibenahi dan kita terus saja mengeluh dan apatis terhadap janji upaya perbaikan. Apa pajak, sumbangan, amal, retribusi itu pernah singgah ke pemulung itu? Lari ke keluarga yang benar-benar miskin? Diberikan pada orang yang menganggur dan putus asa cari kerja? Disalurkan pada anak putus sekolah? Pada janda-ditinggal-suami-berzina yang kehabisan energi karena mengurus anak-anaknya? Diberikan tanpa syarat kepada keluarga miskin yang paling miskin? Yang kadang-kadang kita dengar malah sebaliknya: pajak dikorup, retribusi disikat, sumbangan diambil sendiri, zakat ditumpuk-tumpuk, sedekah dicolong. Dan kita tidak punya mekanisme ampuh untuk menghalangi itu semua. Tanyalah berapa yang diberi 'pemerintah' kepada keluarga miskin untuk menghibur mereka menghadapi kenaikan BBM dan biaya hidup. Seratus ribu per bulan; jumlah itu buat kita nilainya mungkin sama dengan sekali makan di restoran mewah (aku pernah menghabiskan sekitar seratus ribu sekali makan---lain waktu akan aku ceritakan kalau sempat), habis buat sekali beli pulsa. Tapi kataku tadi: biarlah itu terjadi. Sebab kejahatan juga bagian dari manusia. Manusia bisa sangat buas, kejam, jahat, mengerikan, brutal; mereka punya kualitas untuk itu. Mereka tega.

Tentu ada sisi baik dari sumbangan, zakat, sedekah. Selain melatih kerelaan, tanpa diduga merupakan jalan penyucian, baik secara fisik dan psikis, moral dan praktis. Kisah seorang pelacur yang akhirnya diberkahi waktu mati karena ikhlas memberi minum anjing kehausan sudah begitu legendaris. Mungkin seseorang tak akan pernah tahu amal baik mana yang akan menyelamatkan dia dari malapetaka. Tapi tentu ada baiknya bila seseorang terus khawatir dengan sedikitnya/kecilnya amal baik yang mungkin pernah dia lakukan, jangan sampai akhirnya itu ternyata memang kurang banyak dibandingkan keburukan yang pernah dia lakukan.

Akan jadi apa seribu perak yang aku tiba-tiba sumbangkan itu?

HAH. Seketika aku merasa sangat hina.[] 10/10/05 kontak: wartax@yahoo.com

2 comments:

bisma said...

Menarik untuk melihat bahwa ada sederet masalah yang muncul, dibalik tindakan memberi ini.

Saya suka membaca artikel Anda yang menggabungkan antara opini (dengan pertanyaan-pertanyaan yang cukup menggelitik, tentunya) dengan pijar-pijar emosi yang menghasilkan sebuah karya yang utuh, runtut dan luas.

Selamat dan semoga terus berkarya

Unknown said...

menarik, War...terutama bagian analisa motif kebaikan, yang "purba" itu.. :)