Wednesday, August 06, 2008


Kesuksesan & Keluarga

--Lisa Lukman (1976 - 2008)



Akhir-akhir ini aku sering berpikir apa itu arti sukses. Aku hanya lebih menyadari bahwa banyak orang baik yang tidak sukses, dan banyak orang sukses yang manipulatif.

Aku ingat kisah Lazarus dan orang kaya di Alkitab, mungkin kamu juga tahu tentang kisah itu. Tentang Lazarus si pengemis yang mati dalam kesengsaraan, dan tentang orang kaya (namanya saja tidak disebut) yang setelah mati malah kondisinya mengerikan. Aku berpikir Lazarus tidak pernah merasakan apa itu sukses, tetapi dia malah mendapat kebahagiaan kekal (jelas diasumsikan bahwa Lazarus seorang yang saleh). Aku jadi berpikir, mungkin kebahagiaan sempurna dan keadilan memang tidak ada di dunia ini, itu hanya menjadi tujuan (kata Derrida), tapi tidak akan pernah terwujud.


Bagiku, tidak salah mengejar kekayaan. Sungguh, itu sangat manusiawi. Aku juga mau banget jadi kaya. Tapi masalah yang utama adalah bagaimana kita menyusun prioritas dalam hidup, bukan? Masak hanya untuk kaya kita harus melakukan hal-hal yang tidak kita sukai. Aku lebih setuju, teruslah kamu berjuang, dan nikmati perjuangan kamu. Kalau dari yang kamu lakukan dengan sepenuh hati kamu kamu diberkati dengan materi, bersyukurlah; tapi kalau belum, bertahanlah, dan cari cara lain, tapi jangan pernah serahkan dirimu, jangan pernah serahkan idealismemu. Orang-orang idealisme memang harus menderita, bukan? Kemarin mendengar Benazir Bhutto dibunuh membuatku semakin sadar, alangkah rapuh hidup. Tapi buatku, hidup berdasarkan hati nurani kita adalah kekayaan tertinggi, kebahagiaan paling utama. Tentu saja tidak berarti kita harus buta terhadap realitas, tetapi janganlah terlalu kuatir.

Sudah terlalu banyak orang idealis yang kukenal akhirnya berubah dan alasan utamanya adalah materi. Jujur, aku sedih. Sambil kadang-kadang bertanya juga, kapan giliranku. Semoga saja tidak pernah. Aku baru mengerti apa artinya soliter, berjalan sendiri demi yang memang seseorang yakini. Tidak mudah memang, tapi hidup orang seperti itu akan menjadi monumen buatorang lain.

Lakukanlah apa yang hatimu anggap bagus, dan jangan terlalu kuatir. Burung di udara saja Tuhan pelihara, bunga di padang dihiasi, masakan manusia ditinggalkannya. Ingatlah bahwa keluarga kalian bertahan sampai saat ini melewati banyak hal, jadi takut apa lagi?

Satu hal lagi, keluarga kalian selama ini telah mengajarkan aku apa artinya keramahan dan keberanian membuka diri terhadap orang lain dengan tulus. Aku tahu sering menerima tamu di rumah memiliki banyak efek negatif, tapi kalian tetap mengambil risiko itu. Dalam hal ini, kalian memiliki kekayaan tersendiri yang tidak atau belum kutemui di teman-temanku yanglain. :)
Keep survive ya. Itu kan yang membuat hidup indah. "... and the truth will set you free." (John 8:32).[]


Ditulis via email, 29 Des 2007; diedit seperluanya oleh Anwar Holid.

2 comments:

Andy MSE said...

Tidak berkomentar soal postingannya, tapi urun rembug:
1. Judul post menurut saya ya taruh saja di judul/title, ini akan memudahkan kawan yang memasang RSS di websitenya agar selalu bisa memantau konten terkini. Masa konten terkini selalu untitled? konyol kan? Sangat dipahami bahwa maksud tujuan penulisan judul di body tulisan agar bisa lebih berekspresi terhadap huruf dan warna.
2. Tolong dibuka identitas komentar sehingga tidak harus punya account Google untuk bisa berkomentar, kan banyak juga tuh yang pakai wordpress, live journal, dan lain-lain bahkan pakai nama domain sendiri.
Maaf, dan terimakasih.

[HALAMAN GANJIL] & TEXTOUR said...

Mas Andy, makasih banget masukannya. Aku masih kesulitan menggunakan fasilitas blogger. Nanti aku coba perbaiki begitu ada waktu luang untuk nginternet. :) Aku juga ingin memudahkan semua orang agar bisa komen. Memang setiap provider blog punya kebijakan yang suka bikin ribet pengguna lain.

Makasih masukannya!