Monday, December 24, 2012

Kisah yang Akan Membuat Orang Percaya pada Tuhan
---Anwar Holid

Kisah Pi

Judul asli: Life of Pi
Penulis: Yann Martel
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: GPU, 2004 (cetak ulang 2012)
Tebal: 448 halaman
Harga: Rp.55.000,-
ISBN: 979-22-1106-3

'SAYA punya cerita yang bakal membuat Anda percaya pada Tuhan,' kata seorang tua pada Yann Martel saat sedang di India mencari sesuatu untuk dijadikan bahan novel. Dia sedang berharap mendapat hal hebat untuk ditulis. Kisah dengan orangtua itu membuatnya bertemu dengan Piscine Molitor Patel, yang sepenggal hidupnya terkatung-katung di Samudra Pasifik selama 227 hari di sebuah sekoci bersama seekor harimau Royal Bengal seberat 225 kg. Waktu itu Pi Patel berusia 16 tahun. Dia bersama keluarganya sedang dalam pelayaran pindah dari India ke Kanada. Samudra Pasifik adalah lautan terluas di dunia, sekitar 165.000.000 km persegi, alamnya ganas, cuaca, gelombangnya tak bisa ditebak; dan 'petualangan' di sana bersama binatang buas tentu sebuah kisah sulit dipercaya.

Bagaimana bila kisah Pi semata-mata kebetulan dan tidak ada bukti Tuhan pernah ikut campur tangan? Barangkali kita masih ingat film Life is Beautiful; seorang ayah harus memandang bahwa kamp Nazi tempatnya disekap kerja paksa tak lebih merupakan lapangan main petak umpet bersama anaknya, tempat mereka bersenang-senang. Bagaimana orang harus mau menjungkir-balikkan realitas dan idealitas itulah yang dibutuhkan ketika menghadapi situasi absurd yang mustahil bisa dicerap nalar normal. Pi---dalam kekalutan menghadapi situasi terburuk, semangat mencintai Tuhan, mengasihi sesama makhluk dan mempertahankan nyawa---menganggap hidup dengan harimau di tengah lautan adalah pertunjukan sirkus paling hebat sedunia, tempat seorang pawang disoraki seluruh penonton karena berhasil mengalahkan segala rintangan, meski berdebar-debar takut tiba-tiba diserang.

Di situlah taruhannya. Orang diuji oleh keyakinannya. Orang religius seperti Pi diuji sepanjang waktu akan keyakinannya, apa Tuhan betul-betul sebagaimana diimaninya: Dia penuh kasih seperti Yesus, perkasa seperti dewa Hindu, personal seperti kata imam. Di puncak putus asa Pi pernah ragu, benarkah Tuhan bersama dia yang terkena bencana, diancam kematian, ketakutan, ketika harapan dan keyakinan nyaris tak ada gunanya. Saat berteriak-teriak minta tolong, kehabisan energi, tak seorang pun pernah mendengarnya, masihkah iman pantas dipertahankan atau Tuhan layak diseru? Dalam keadaan seperti itu rasanya Tuhan bukan merupakan hal penting.

Terlunta-lunta di lautan mahaluas, nyaris tanpa kemungkinan selamat sudah merupakan bencana mengerikan yang tak akan berani dibayangkan siapa pun; apalagi ditambah binatang buas yang kapan pun bisa memangsa, tak peduli orang bermaksud menyelamatkannya; sebab binatang tak punya akal, dan keduanya tak punya cara berkomunikasi. Satu yang sangat alamiah dalam buku ini ialah interaksi lama dengan binatang buas tidak membuatnya jadi manusiawi. Binatang tetap liar, berbahaya, memiliki dunia dan nasibnya sendiri---termasuk tak tahu cara berterima kasih. Wajar saat digesek perlahan-lahan oleh penderitaan, cobaan, tanpa harapan, di tepi kematian, keyakinan orang beriman melemah sedikit; tapi begitu muncul harapan, iman kembali menguat, dan Tuhan hadir sebagai cahaya yang bersinar di dalam hati. Sangat wajar bila dalam keadaan tanpa harapan dan putus asa, diterjang penderitaan terus-menerus, seseorang berpaling pada Tuhan.

Di samudra inilah Pi mengalami peristiwa paling buruk yang bisa dibayangkan orang, menghadapi titik terendah kehidupan. Dia bukan saja dicabut dari kenyamanan sebagai anak keluarga kaya, terpelajar, harmonis, terkemuka; kemudian dihempaskan pada kenyataan seluruh keluarganya lenyap, yang tersisa dia sendiri, bersama kenangan, pikiran, ketakutan. Tanpa aba-aba dia diceburkan pada bahaya dan kepapaan sekaligus; bahaya di tengah alam yang tak tahu apa-apa selain instink dan keseimbangan; kepapaan bahwa satu-satunya hal tersisa yang layak diberikan seseorang kepada makhluk di dekatnya adalah kasih sayang.

'KITA TAK TAHU apakah Tuhan ada,' begitu tulis André Comte-Sponville, filsuf kontemporer Prancis dalam bukunya, The Little Book of Philosophy. 'Itu sebabnya kita harus bertanya apakah percaya Dia ada atau tidak. Tuhan lebih merupakan misteri daripada konsep, lebih merupakan pertanyaan daripada fakta, lebih merupakan taruhan daripada pengalaman, lebih merupakan harapan daripada pikiran.' Tegasnya: Seseorang yang bilang 'Aku tahu bahwa Tuhan tidak ada' adalah orang bodoh, bukan ateis; tapi yang bilang 'Aku tahu bahwa Tuhan ada' adalah orang bodoh yang beriman.

Religiositas dan Tuhan adalah ‘kawan lama’ sastra; pertemuan keduanya kadang-kadang merupakan pergumulan tak terhindarkan. Confessions karya St. Augustine, misalnya, merupakan salah satu karya klasik sumber khazanah agama dan sastra sekaligus. Indonesia juga terus-menerus melahirkan penulis religius dan pada saat bersamaan mampu mencapai titik estetika mumpuni. Amir Hamzah, Y.B. Mangunwijaya, Kuntowijoyo, A.A. Navis, adalah satu-dua contoh penulis yang sama sekali tak membedakan apa mereka sedang berekspresi dalam ketaatannya sebagai pemeluk teguh atau tengah mencurahkan ekspresi sastra. Cerpen 'Robohnya Surau Kami' (A.A. Navis) merupakan contoh bagaimana agama, religiositas, ketuhanan, diungkap dalam karya sastra dengan cara yang sangat bagus.

Bila merupakan kelebihan, dalam sastra subjek Tuhan atau religiositas biasanya lebih mungkin diungkapkan secara indah, ekspresif, sering personal. Tuhan yang agung, sempurna, kadang-kadang terasa tiada bila dihadapkan kemalangan, dengan doa-doa tak terjawab. Tuhan kadang-kadang begitu jauh, tak terjangkau, namun pada saatnya dia begitu dekat, tak berjarak dengan jiwa seseorang. Di situlah ketika manusia terombang-ambing antara harapan dan keputusasaan Tuhan kerap mengambil peran sebagaimana dipahami kaum beriman. Kata Ludwig Wittgenstein, 'Percaya pada Tuhan artinya sadar bahwa hidup memiliki makna.'

MARTEL menceritakan kisah Pi ini dengan mempesona, tampaknya bahkan berpotensi memaksa pembaca tak mampu menutup buku kecuali bila halaman berakhir. Dia bertutur lugas, memikat, detail luar biasa, studi zoologinya kaya, sisi humornya mengejutkan; semua unsur itu membuat keterbacaan buku ini tinggi, bisa dinikmati siapa saja, tak terkecuali pembaca remaja pecinta Harry Potter. Martel nyaris habis-habisan mengeksplorasi genre realisme magis yang kerap dinisbatkan menjadi ciri utama sastra poskolonial. Dia menggunakan banyak sekali unsur poskolonial, mulai dari tokoh, seting, subject matter, konflik, dan sudut pandang. Realisme magis---genre sastra yang memadukan unsur fantastik dengan narasi realistik, dan secara bersamaan mengabstraksi akar persoalan sosial---memungkinkan Martel menghadirkan peristiwa supranatural dan mampu menyediakan beragam interpretasi multifaset. Bagaimana kesalehan yang aneh membuat Pi pernah mengalami beberapa kali 'penglihatan' (visions), disalami seluruh isi alam sebagai manifestasi kesatuan kosmos; di saat lain karena ditindas putus asa berkepanjangan dia pun mengalami halusinasi, delusi, berkali-kali panik, hingga nyaris kehilangan akal sehat, termasuk 'berbincang-bincang' dengan harimau menjelang dirinya sama sekali tak bisa berbuat apa-apa.

Di bagian pertama pembaca berkenalan dengan Pi yang mengesankan, saleh, luar biasa. Pi beda sendiri dalam keluarganya. Melakukan ritual tiga agama sekaligus pasti menimbulkan kontroversi dan kebingungan. Berseting di India, yang sangat tepat dipilih karena memiliki akar agama begitu tua, dalam kepolosan seorang remaja mempertanyakan keagungan Tuhan, Pi membentur-benturkan pandangan tentang absolutisme agama. Jika Tuhan yang menciptakan agama, kenapa kita tak boleh mengambil semua jalan-Nya? Dengan komentar terkesan sembarangan, tapi sukar disanggah, dia bicara toleransi agama, bahkan terhadap kaum ateis. Dia minta dibaptis, tapi juga minta sajadah untuk shalat, tetap melakukan puja. Semua itu membuat bingung keluarga, apalagi ketiga guru agamanya. Ditanya kenapa tidak memilih salah satunya, Pi menjawab: 'Semua agama itu baik adanya. Aku cuma ingin mengasihi Tuhan.' Dia mengutip diktum Gandhi, dengan begitu para otoritas agama pun terdiam.

Kemampuan Martel menggali psikologi terdalam manusia, pada saat bersamaan terus mempertahankan ketegangan upaya penyelamatan, cara bertahan di lautan, relasi paksaan dua makhluk di tempat tak sempurna, ternyata menghasilkan efek dramatik luar biasa. Demikian dramatik hingga orang kerap hanya mampu terkesan oleh unsur kegilaan fantastiknya, namun sangat sulit mau percaya. Bagi Pi sendiri pengalaman itu adalah semacam penggenapan kasih Tuhan untuknya. Kata dia, 'Tuhan juga sulit dipercaya, coba tanyakan pada siapa pun yang mempercayainya. Kenapa Anda tidak bisa menerima hal-hal yang sulit dipercaya?'  (hal.417). Pi rupanya tahu Tuhan bekerja secara rahasia.

Menamatkan bagian keduanya adalah membaca sebuah cerita tentang keberanian dan ketabahan yang sangat menakjubkan dalam menghadapi situasi yang luar biasa sulit dan tragis---demikian komentar salah satu pendengarnya. Apa kisah itu benar-benar bisa membuat seseorang percaya pada Tuhan? Tidak selinear itu; tapi setidaknya pembaca dijamin akan mendapat banyak hal berharga dari peristiwa yang menghancurkan ego manusia, kemudian bangkit lagi, hadir lebih utuh dan sadar.

KARIR kepenulisan Yann Martel sendiri berubah cukup drastik karena buku ini. Dulu dia masih termasuk obscure writer yang tak diperhatikan kritik atau pembaca manapun. Namanya bahkan tidak masuk di antara 225 penulis dalam daftar The Salon.Com Reader's Guide to Contemporary Authors yang otoritatif. Berbeda dengan dua buku awalnya---kumpulan cerita Facts Behind the Helsinki Roccamatios (1993) dan novel Self (1996)---yang cepat kandas di pasar, Life of Pi merupakan bestseller di negara-negara Persemakmuran, mendapat beragam penghargaan, yang paling terkemuka ialah The Man Booker Prize pada 2002. Novel ini menyebabkan namanya segera menyeruak sebagai penulis utama, diwawancarai media literer terkemuka, hidup nomadennya disingkap banyak orang, ditanya dari mana pandangan Pi berasal.

Pada akhir November 2012 20th Century Fox merilis film berdasarkan novel ini disutradarai Ang Lee; sementara penulis Kanada kelahiran 25 Juni 1963 tersebut menghasilkan tiga buku baru setelah menelurkan novel yang sangat sulit dilupakan ini.[]

Anwar Holid, penulis dan editor.

Resensi ini awalnya dimuat Kompas, Minggu, 06 Februari 2005.

Link terkait:
http://www.gramediapustakautama.com/buku-detail/86399/Kisah-Pi
http://en.wikipedia.org/wiki/Yann_Martel

Saturday, December 22, 2012

Tiga Film Bila Hidupmu Dalam Tekanan 
---Anwar Holid

Mengejutkan banget betapa film yang bisa membuat aku menangis berkali-kali sampai nyeri ke hati bukanlah Life of Pi yang aku tonton bareng Ilalang (12 th) di bioskop keren sambil pakai kacamata 3D dan cemilan gurih, tapi dua film yang aku kopi dari warnet waktu mengirim kerjaan. Film pertama ialah That’s What I Am, ke dua yaitu It's Kind of a Funny Story. Dua film ini aku dapatkan kurang dari satu jam dengan biaya Rp.2.500,- Sementara waktu nonton Life of Pi aku mengeluarkan hampir Rp.100.000,- untuk semua ongkos termasuk menyumbang PMI dan bayar angkot.

Yah, aku harus jujur bilang bahwa Life of Pi juga film yang bagus, keren, dramatik, termasuk sedikit bisa bikin senyum. Tapi ia tidak membuatku menangis atau terharu lebih dalam, meskipun efek-efek visualisasinya menakjubkan. Tiga scene yang paling mengesankan buatku ialah waktu Pi ada di tengah lautan membayangkan bahwa dirinya bersama seluruh alam semesta ini ditelan Krisna, waktu dia di tengah malam ditemani kelap-kelip ubur-ubur dan dilewati ikan-ikan yang pindah, juga perpisahannya yang berakhir antiklimaks dengan Richard Parker padahal tentu saja dia berharap kejadian ini akan berlangsung mengharukan setelah melewati badai hidup bareng sedahsyat dan selama itu. Satu hal, Life of Pi menurutku 'terlalu berusaha' untuk dramatik, sampai aku merasa apa harus segitunya membuat orang agar terpesona oleh efek dan kejutan-kejutan yang tampak artifisial?

Hal itu tidak terjadi pada That’s What I Am dan It's Kind of a Funny Story. Aku mengira, si pendownload awalnya terpesona oleh (500) Days of Summer karena dua film ini juga merupakan drama coming-of-age. Cuma sedikit bedanya ialah kadar komedi di dua film ini lebih kurang dibandingkan film terakhir.




That’s What I Am berkali-kali membuat dadaku nyeri sampai akhirnya memerihkan mata dan membuatku menangis berkali-kali. Dari dulu aku cukup yakin bahwa film yang begitu saja bisa membuatku menangis pasti film hebat. Waktu nangis aku teringat perpisahan dengan guru-guru praktik SD yang entah kenapa bikin aku mewek di akhir acara dan sepanjang jalan pulang. Begitu juga waktu aku berpisah dengan guru praktik di SMP, barangkali menyadari bahwa aku bakal sulit lagi ketemu orang yang aku hormati dan seakan-akan bisa mengerti aku. Perasaan bahwa kita terlibat begitu emosional dengan seseorang, apalagi dia berpengaruh dalam hidup kita.

That’s What I Am terjadi di SMP di California, Amerika Serikat, berlatar pertengahan tahun 1960-an, sebagian warganya percaya takhayul dan prasangka, masih dihantui ancaman komunisme, padahal negara bagian ini baru mencatat sejarah memiliki kepala sekolah perempuan pertama. SMP ini punya guru teladan dan favorit murid, Mr. Simon. Dia mengajar sastra. Mr. Simon memasangkan Andy Nichol dengan Big G untuk mengerjakan tugas menulis akhir semester. Big G adalah salah satu siswa yang dianggap paling aneh, kerap jadi bahan celaan, bahkan serangan fisik, meski badannya paling bongsor.

Masalah jadi tambah rumit ketika Andy mulai tertarik pada Mary Clear, gadis paling cantik sesekolah, yang sayangnya pernah pacaran dengan Ricky Brown, jagoan di sekolah itu. Saat itu muncul isu bahwa Mr. Simon seorang homoseksual, membuat sebagian orangtua siap-siap mengusirnya karena menganggap homoseksual enggak pantas jadi guru, bisa menularkan bahaya, membawa pengaruh buruk. Andy tertekan dan kalut dengan situasi yang dihadapinya. Pertemanannya dengan Big G memunculkan banyak masalah bagi Andy, ketertarikannya pada Mary Clear membuat dia diancam Ricky Brown, kedekatan dan hormatnya pada Mr. Simon membuatnya bertanya homoseksual itu apa.

Masa itu adalah masa ketika masyarakat belum bisa menerima seseorang membuat pengakuan bahwa dirinya seorang homoseksual, lain sama sekali di zaman sekarang ketika orang dengan berani, mudah mengakui orientasi seksualnya, atau dengan percaya diri bilang, 'Aku gay dan aku bangga mengakuinya.' Masyarakat juga belum tahu pasti, tapi mereka berani berprasangka, menghakimi, dan lebih dari itu: siap bertindak atas nama massa. Di masa-masa galau itu Andy dan Big G berhasil menuntaskan tugas karangan berjudul "Toleransi." Berkat Mr. Simon  dan Big G-lah akhirnya Andy menemukan diri dan berani menyatakan siapa dirinya sesungguhnya.


Secara keseluruhan It's Kind of a Funny Story lebih lucu dan segar dibanding That’s What I Am yang bawaannya menekan dan kurang humor, meski mayoritas ceritanya di rumah sakit jiwa. Film ini menceritakan Craig, anak SMU yang stres, depresi, dan hidupnya merasa kacau menghadapi berbagai 'beban' sehari-hari mulai dari tugas sekolah, orang di rumah, ancaman masa depan, seksualitas, ketertarikan pada wanita, bingung terhadap banyak hal yang tidak dimengerti, dan kalut oleh pilihan hidup. Stres ini bisa membuatnya muntah tanpa sebab secara berlebihan, menyebabkannya ingin bunuh diri.

Beruntung dia memenuhi panggilan hot line layanan publik, yang mengantarnya masuk rumah sakit jiwa. Anak SMU masuk rumah sakit jiwa? Padahal dia punya orangtua yang manis, bertanggung jawab, keluarga harmonis. Craig seperti mengidap sindrom sakit "orang biasa." Gejalanya ialah dia merasa dirinya biasa saja, kuatir bila dirinya nanti tersingkir sebagai orang biasa. Orang biasa adalah orang yang menghabiskan hidupnya seperti kebanyakan orang. Dia punya karir, kehidupan sosialnya bagus, hidup normal, tapi dia tidak menonjol dibandingkan orang lain. Craig bingung kenapa dirinya bisa masuk sekolah favorit, padahal siswa-siswa lain punya keistimewaan terhadap bidang tertentu. Dia panik enggak bisa baca peta pada umur 5 tahun, sementara mendapati fakta bahwa pada umur segitu Mozart sudah bisa menciptakan komposisi. Dia kesulitan mengungkapkan minat dan bakat seni pada kedua orangtuanya. Persoalan terbesarnya barangkali karena dia tidak bisa menyatakan dirinya seperti apa dan dunia terdekatnya malah memgaburkan pada pencarian terhada makna.

Dari satu sisi mungkin kita bisa mengecam bahwa Craig tidak pantas sakit jiwa atau dia terlalu manja. Tapi ayolah, siapa yang pantas bilang bahwa satu masalah itu ringan atau terlalu serius bagi seseorang. Orang bisa gila karena cinta, sebagaimana orang bisa stres karena kerja, gagal memahami Tuhan, terlalu ekstrem berpendirian, penghasilan minim, enggak punya jodoh, perannya dilecehkan, menganggur, gagal memahami hidup, disalahpahami orang-orang terdekat, mengalami disfungsi seksual, karir berantakan, ditipu klien, takut mengutarakan kejujuran, merasa sengsara, kesulitan mengekspresikan perasaan, tidak bahagia, tidak bisa membelanjakan uang, atau dihantui agama maupun ideologi, bingung dengan orientasi seks, atau ingin bunuh diri karena enggak dapat perhatian dari orangtua. Masalah orang beda-beda dan tidak setiap orang punya daya tahan maupun keyakinan bahwa dirinya bisa menanggung masalah dan beban dirinya. Poinnya adalah: Jangan menyepelekan masalah orang lain, siapa tahu itu adalah masalah terberat dia dan dia bingung menyelesaikannya.

Di rumah sakit jiwa inilah Craig mendapat terapi hingga stresnya berangsur-angsur berkurang. Dia belajar bahwa sebagian orang punya beban atau kasus jauh lebih berat dan berbahaya. Lebih membahagiakan lagi dia bisa menyalurkan tekanan batinnya lewat seni dan kehadirannya secara signifikan mempengaruhi sesama pasien. Begitu ke luar dari rumah sakit jiwa dia tahu apa yang akan dilakukan dalam hidupnya.

Adegan paling menyenangkan buatku dalam film ini ialah waktu Craig secara lip-synch menyanyikan "Under Pressure" dari Queen dan David Bowie. Pas banget dengan situasi filmnya, meski aku tahu opini ini dipengaruhi bahwa aku seorang #1 fan Queen.

Ke tiga film ini secara halus memperlihatkan sebenarnya masalah dalam hidup seseorang membuat dirinya tumbuh dan dewasa lebih matang. Yang dibutuhkan manusia bisa jadi cuma rasa syukur bahwa dirinya bisa mengambil sesuatu dari masalah, baik lega hidup itu punya makna atau kedekatan dengan Tuhan. Begitu orang lolos dari bencana masalah, jiwanya mengerti. Masalahnya, sebagian orang dilecehkan, tidak punya kesempatan, aksesnya ditutup, tidak punya kepercayaan diri bahwa dirinya pantas menyelesaikan masalah dan bingung mencari solusi dalam menjalani hidup. Masalah seseorang barangkali sangat serius, menguatirkan, membuatnya nyaris putus asa, tapi sedikit keyakinan dan keberanian bisa menyelamatkan hidup.[]

Anwar Holid, bekerja sebagai editor dan penulis.

Link terkait:
Life of Pi  
That’s What I Am
It's Kind of a Funny Story

Wednesday, November 28, 2012



Menulis dan Jejaring Sosial 
---Anwar Holid

Apa zaman sekarang membuat manusia jadi lebih sabar?

Perhatikan orang-orang yang sedang antre, menunggu sesuatu, atau tengah melakukan aktivitas lain untuk membunuh kebosanan. Rasanya kini lebih jarang terdengar keluhan atas berbagai hal. Itu karena kini nyaris hampir setiap orang---bahkan anak SD sekalipun---ditemani perkakas elektronik mungil entah berupa handphone, smartphone, dan tentu saja yang paling trend: tablet. Salah satu aktivitas yang bisa membuat mereka tenang ternyata ialah membaca dan menulis menggunakan fasilitas yang tersedia di sana. Bisa jadi mereka berkomentar, menulis sesuatu di jejaring sosial, mengirim pesan, chatting, blogging, bahkan benar-benar menulis untuk keperluan khusus lain---misalnya bikin publisitas untuk viral marketing. Tentu saja ini merupakan dampak menggembirakan bagi dunia tulis-menulis.

Hernadi Tanzil, seorang peresensi yang mengukuhkan reputasinya dari dunia maya, berkomentar: "Fenomena baca dan tulis semenjak ada Facebook, blog, dan Twitter saya rasa memang meningkat. Apalagi di era blog. Semua berlomba menulis apa yang ada di benar mereka. Hanya saja kehadiran Facebook dan Twitter agak sedikit menggeser aktivitas menulis karena orang jadi malas menulis secara utuh dan terstruktur, mereka jadi lebih tergerak untuk menulis status-status singkat dan membaca status-status singkat yang ditulis orang."

Apa jaringan sosial berpengaruh hebat pada kebiasaan menulis dan pemahaman orang? Apalagi kini jaringan sosial bersinergi dengan kemajuan alat-alat komunikasi. Tampaknya begitu.

Pada akhir 2009 Chauncey Mabe melaporkan penelitian lima tahun yang dilakukan Stanford University betapa teknologi digital---terutama jejaring sosial---membuat para remaja menjadi penulis yang lebih baik. Kenapa? Temuan mereka mengungkap fakta simpel: Anda mustahil berperan serta di semua fasilitas itu tanpa kemampuan menulis dan berpikir. Anda pikir status di Facebook, Twitter, maupun Yahoo! sembarangan saja muncul? Tidak. Ia lahir karena alasan tertentu.

Mari perhatikan sekilas saja. Seorang pengguna Facebook bisa saja mula-mula menulis status, kemudian mengomentari status ataupun tulisan kawannya. Selain itu dia membaca berbagai hal, entah notes, email, iklan, dan berita. Untuk keperluan khusus, bisa jadi dia meloncat-loncat dari satu forum ke link-link eksternal menuju situs lain. Dalam sekali buka, entah berapa halaman yang bisa dijelajahi seseorang sekaligus. Kunjungan itu bisa jadi tanpa terasa dan secara amat alamiah memaksa orang meningkatkan kemampuan baca-tulis dan memahami media lain, misalnya audio-visual.

Kita menyaksikan betapa teknologi dan manusia saling mempengaruhi, meski bisa jadi itu semua masih lebih didorong oleh kapitalisme dan kesenangan daripada demi memenuhi kebutuhan manusia secara esensial. Kita lihat betapa setiap saat media massa dan industri teknologi betul-betul merayakan perkembangan tersebut, baik dalam upaya saling integrasi maupun berkompetisi demi mencapai yang terbaik dan paling menarik---entah melalui desain maupun performa perangkat tersebut.



Antusias dan Menyegarkan
Adenita, penulis novel 9 Matahari, menyambut antusias dinamika dunia baca-tulis yang ditopang kemajuan teknologi. Tulis dia di notes Facebook: "Saya meyakini, booming dunia penulisan ini bukan euforia. Ini bukan hanya perubahan perilaku, tapi merupakan perubahan budaya. Meski belum menyeluruh, setidaknya membawa perubahan dari budaya menonton (watching society) menjadi budaya baca (reading society). Dan kemudian naik lagi kepada perubahan budaya menulis (active society). Akhirnya, nikmati semua kemewahan fasilitas komunikasi yang terbentang dihadapan mata. Jangan hanya menjadi saksi ’booming’nya dunia penulisan. Tinggalkan jejakmu dalam tulisan, karena siapapun bisa jadi penulis.. "

Kompas, misalnya, menilai perkembangan tulis-menulis di dunia maya sebagai sesuatu yang menyegarkan, baik dari segi penjelajahan teknik penulisan maupun mode produksi. Pada perkembangan selanjutnya, tentu saja efek positifnya ialah karya-karya dari sana bisa diterbitkan---baik secara tradisional melalui penerbit umum maupun lewat cara tertentu mulai dari self-publishing, POD (print on demand), maupun penerbitan digital yang sekali lagi bisa dibaca lewat berbagai produk teknologi informasi canggih.

Setelah fenomena isi blog menjadi buku, segera menyusul buku berisi status-status Twitter yang dianggap witty (cerdas, nendang, mencerahkan). Bahkan  di kalangan motivator, terbit buku-buku berisi sms yang awalnya mereka sebar lewat kerja sama dengan provider. Mendadak saya sadar ternyata industri buku bisa berkembang untuk terus mencari bentuk baru. Lebih menggembirakan lagi, genre-genre yang beberapa tahun lalu dianggap musiman---seperti chicklit, teenlit, fast book---kini mulai matang untuk membentuk pasar yang besar dan menjanjikan secara finansial. Penerbit sendiri makin berusaha mendekatkan produknya kepada publik, juga melalui berbagai cara dan memanfaatkan semua media yang ada.

Bagaimana dengan nasib penulisnya sendiri? Di sisi yang paling mencolok, Indonesia memasuki era best-seller terbaik yang belum pernah dialami sebelumnya ketika kini penjualan sebuah judul buku bisa mencapai ratusan ribu kopi. Meski masih merupakan fenomena musiman, tetap saja bagi pegiat dunia penerbitan seperti saya, perkembangan itu membesarkan hati. Sudah cukup lama saya kerap merasakan ada sebagian penulis dan penerbit yang begitu obsesif (tergila-gila) untuk menciptakan buku best-seller, dan kini kecenderungan seperti makin menguat.

Baru-baru ini saya mendapati fakta bahwa satu kelompok penerbitan mengurangi standar oplah cetakan demi menyiasati tuntutan produktivitas judul dan kompetisi di pasar, meski kita bisa langsung menebak dampak buruknya terhadap kualitas terbitan. Penulis dan penerbit terus bahu-membahu mengisi kebutuhan pasar dan berusaha terus kreatif menciptakan peluang produk. Saya pikir, sekaranglah zaman ketika menulis bisa dijadikan pegangan profesi, sebab peluangnya terbuka lebar, apalagi bagi penulis yang disiplin, adaptif, dan produktif. Di tengah arus distribusi dan pasar buku yang sangat kompetitif seperti sekarang, penulis profesional juga dituntut untuk bisa menulis cepat dan produktif. Tantangan itu biasanya berbanding terbalik dengan penulis yang mengandalkan mode "menulis sebagai alat ekspresi."

Ada satu strategi penulisan yang mungkin belum banyak ditempuh sejumlah orang, yaitu menulis buku untuk "personal branding." Istilah ini diajukan oleh Wandi S. Brata, Direktur Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Istilah ini dia ajukan bagi penulis yang menghasilkan buku lebih sebagai alat untuk menguatkan reputasi atau membangun citra bahwa dirinya ialah ahli di bidang yang dia tulis. Penulis ini mengembangkan bisnis utama dari bidang dia bangun lewat buku, dan mendapatkan penghasilan yang jauh lebih besar daripada lewat royalti. Fakta membuktikan, dengan menulis seseorang bisa lebih mudah dikenal dan dipercayai publik untuk memberi training daripada mereka yang belum menulis buku.

Gambaran sederhana atas situasi kehidupan tulis-menulis sekarang ini menurut saya menggembirakan. Saya cukup yakin bahwa meski bisa jadi di tahap awal teknologi hanya digunakan untuk bersenang-senang---misalnya untuk mendengar lagu dan nonton video---teknologi berperan mendekatkan masyarakat pada minat baca dan kebiasaan menulis. Dalam beberapa kali interaksi secara selintas via sms, email, dan blog, saya mendapati betapa ekspresi anak yang baru beranjak dewasa ternyata bisa sangat matang, eksploratif, minatnya pada dunia tulis-menulis antusias sekali. Minat ini secara mudah bisa juga terwadahi di dunia maya, misal dalam komunitas menulis maya, kursus menulis online, bahkan bahkan situs yang benar-benar berdedikasi pada dunia tulis-menulis secara umum.

Saya menduga di zaman Internet dan kemajuan teknologi sekarang justru akses pada pusat informasi begitu terbuka dan persis ada di ujung jari masing-masing pemegang perkakas teknologi, apa pun bentuknya. Memang risiko plagiarisme (mengaku milik orang lain sebagai milik penulis bersangkutan, juga copy-and-paste secara vulgar dan tanpa pengakuan) pun bisa begitu mudah terjadi; tapi saya pikir dengan tambahan ajaran moral, kejujuran, maupun kreativitas, pengaruh buruk itu bisa terus dilawan.[]

Anwar Holid, penulis Keep Your Hand Moving (GPU, 2010).

Gambar dari Internet.

Link terkait:
http://bukuygkubaca.blogspot.com
http://www.kotakadenita.com

Tuesday, November 20, 2012

Karya Saya Harus Memunculkan Emosi yang Kuat 
---Wawancara dengan Maradilla Syachridar

Meski sebagian orang bilang pertanyaan soal proses kreatif itu so yesterday, sudah ketinggalan sepuluh tahun lalu, ternyata orang seperti aku masih saja penasaran tentang hal itu. Mungkin karena aku yakin bahwa berkarya merupakan kerja keras, usaha mewujudkan sesuatu yang awalnya cuma ada dalam imajinasi menjadi nyata, bisa diraba dan dihayati. Dalam menulis, kerja keras itu ialah perjuangan terus-menerus seseorang menghajar halaman kosong.

Aku bertemu Maradilla Syachridar di Kineruku, Bandung, perpustakaan yang rutin aku jadikan tempat kerja. Maradilla telah menghasilkan tiga novel, yaitu Ketika Daun Bercerita, Turiya, dan Ruang Temu. Dia juga berkontribusi di buku Perkara Mengirim Senja, Menuju(h), dan Memoritmo yang baru terbit pada tengah November 2012. Aktivitas lain Maradilla ialah menjadi additional player Homogenic, band berbasis di Bandung, kota tempatnya tumbuh.

Berikut wawancara dengan dia.


Seperti apa rasanya jadi penulis seperti kamu?
Ada beban tersendiri, karena saya pribadi merasa bakat saya dalam menulis itu sebenarnya biasa saja, namun karena saya banyak membaca karya yang hebat, usaha untuk menjadi penulis yang lebih baik dari hari ini terus-terusan tertanam di kepala saya.

Apa saja buku favorit yang sangat menginspirasi kamu menulis?
1Q84 (Haruki Murakami), Olenka (Budi Darma), Fraction of the Whole (Steve Toltz).

Apa sih motivasi terbesar kamu menulis?
Ketika melihat karya dalam bentuk apa pun yang begitu bagus dan kuat, itu bisa mendorong saya untuk terus menulis.

Mengapa menulis itu penting menurut kamu?
Karena menulis menjadi salah satu proses saya untuk berkomunikasi dengan orang lain dan diri saya sendiri. Saya adalah tipe orang yang perasa namun suka dipendam, sehingga saya membutuhkan media untuk mengabadikan pemikiran dan sisi lain saya yang tidak tampak di permukaan.

Apa menulis merupakan aktivitas terpenting dalam hidup kamu? Aktivitas apa yang kira-kira bisa mengalihkan perhatian kamu dari menulis?
Ya, saya memiliki aktivitas lain selain menulis, namun menulis menjadi begitu penting dalam hidup saya, sama seperti saya menganggap berumah-tangga juga sangat penting. Jadi, ada tarik-menarik antara aktivitas menulis dan melakukan pekerjaan rumah tangga yang bisa menjadi saling mengalihkan.

Apa uang (penghasilan) bisa menjadi alasan sangat besar bagi kamu untuk menulis?
Dulu awalnya salah satu alasan besar menerbitkan buku adalah ingin memiliki penghasilan sendiri dengan cara yang menyenangkan (sesuai passion), tapi sekarang alasannya lebih dari sekadar penghasilan.

Apa ide penting buat kamu dalam berkarya?
Ya. Ide itu asal-muasal bagaimana sebuah karya bisa lahir.

Bagaimana dan di mana kamu bisa mencari atau mendapatkan ide?
Dari kehidupan sehari-hari, dari sarung bantal yang harus dicuci hingga perkataan orang lain yang terlontar begitu saja.

Saat mulai menulis, apa kamu merencanakan dulu dalam draft, mencatat poin per poin ide, membuat story line (alur cerita), atau malah langsung segera menulis mengandalkan insting dan kekuatan pertama?
Langsung segera menulis saja dalam bentuk potongan-potongan, lalu materi tulisan yang baru ditulis tersebut bisa dibongkar pasang, disimpan di mana saja dalam sebuah naskah.

Bagaimana cara kamu mengolah ide, tema, draft, mengatur kepaduan paragraf, memilih kata (diksi), sampai ke editing, revisi, dan minta pendapat pembaca awal?
- Ide: ditulis di buku kecil (notes), lalu dikembangkan menjadi paragraf.
- Tema: tema biasanya datang setelah ide muncul, lalu mulai mencari bahan atau referensi sebagai penguat tema tersebut.
- Draft: draft biasanya terpisah-pisah (berbentuk potongan). Saya biasa masukkan dalam satu folder karena memang tidak berurutan.
- Mengatur kepaduan paragraf biasanya dilakukan setelah draft pertama selesai (potongan-potongan ide sudah disusun, lalu mulai memasukkan jembatan-jembatan paragraf yang pas dan bisa mengubungkan antara tulisan satu dengan yang lainnya).
- Memilih kata (diksi): setelah membuat kalimat, mulai dicari kata mana yang pas untuk melengkapi kalimat tersebut, bisa dilihat juga dari kamus padanan kata.
- Editing: editing biasanya dilakukan berkali-kali setelah draft pertama jadi. Bisa jadi draft pertama dengan draft yang selanjutnya perbedaannya besar.
- Revisi biasanya saya lakukan setelah draft terakhir selesai. Saya biasa meminta tolong kepada editor yang lebih memahami struktur kalimat yang baik dari saya.
- Minta respons atau pendapat dari pembaca pertama (terdekat) biasa diberikan hanya pada beberapa orang, soalnya semakin banyak orang yang dimintai respons (buat saya) semakin merepotkan dalam hal editing.

Seperti apa pola kerja kamu untuk menyelesaikan satu karya tertentu, apa lagi kalau karya itu berat, panjang, dan butuh energi besar untuk menyelesaikannya?
Tidak ada yang unik untuk menyelesaikannya. Hanya saya menyempatkan diri setiap hari selama sekian waktu untuk menulis, di manapun dan kapanpun. Tidak jarang juga sebelum melanjutkan menulis saya mendengarkan lagu dan bersepeda.

Buat karya sendiri, seperti apa yang menurut kamu sudah selesai atau sempurna, sehingga pantas dipublikasi atau dijual?
Sudah selesai ketika saya sudah menyusun dari prolog hingga epilog. Sudah sempurna setelah saya mengeditnya beberapa kali termasuk memperlihatkannya ke orang lain.

Berapa kali kamu menyunting dan merevisi karya sendiri sebelum akhirnya memutuskan bahwa itu karya yang sudah matang?
Yang pasti lebih dari tiga kali. Bahkan saya bisa mengendapkannya dulu dalam beberapa waktu sebelum diedit lagi.

Apa kamu melakukan riset untuk menulis?
Karena menganggap riset itu penting, saya biasa melakukannya dari buku, Internet, narasumber. Saya bahkan tidak keberatan jika harus ke luar kota untuk riset tersebut.

Apa kamu menetapkan standar mutu tertentu terhadap karya sendiri?
0h ya. Pertama, karya saya harus semakin mudah dipahami. Kedua, harus riset. Ketiga, harus memunculkan perasaan atau emosi yang kuat, setidaknya untuk saya pribadi.

Kondisi seperti apa yang buat kamu kondusif untuk menulis?
Kondisi yang tidak sumpek. Saya tidak terbiasa mengetik di meja yang penuh tumpukan buku maupun kertas, ruangan yang sempit, atau orang terlalu banyak. Saya selalu butuh meja yang rapi dan suasana nyaman, meski bukan berarti selalu tenang.

Kejadian apa yang bisa memaksa atau membuat kamu tertarik segera menulis?
Kejadian yang di luar kebiasaan sehari-hari, subjeknya bisa apa saja. Percakapan dengan orang-orang juga selalu menjadi hal yang menarik perhatian saya untuk ditulis.

Apa yang kamu lakukan bila suntuk menulis padahal sedang berusaha menyelesaikan proyek tulisan?
Meninggalkan tulisan tersebut dan mengerjakan tulisan lain, atau membaca buku, pergi makan bersama orang yang bisa diajak diskusi.

Bagaimana cara kamu menghubungi penerbit waktu berusaha mempublikasikan karya?
Untuk karya pertama saya yang diterbitkan, secara konvensional saya mengirimkan naskahnya ke penerbit dan menunggu untuk diterima atau ditolak. Alhamdulillah langsung diterima. Karya-karya yang selanjutnya prosesnya bermacam-macam. Ada yang ditawari penerbit langsung untuk dipublikasikan atau saya yang menghubungi editornya langsung untuk pengajuan naskah.

Apa tanggapan kamu atas kritik pada tulisanmu, bahkan yang buruk atau menganggap rendah karya kamu?
Mengamini jika memang masuk akal. Saya harus semakin memahami kekurangan saya dan terus mencoba untuk memperbaikinya sesuai dengan karakter penulisan saya.


Apa kamu merasa perlu mendapat motivasi atau semangat dari orang lain untuk berkarya?
Dari orang lain mungkin saya hanya butuh dukungan. Motivasi untuk menulis selalu kuat walau hanya dari diri sendiri.

Ada tambahan lagi?
Saya merasa proses menulis bagi saya dapat menjadi alasan untuk melakukan hal lain. Misalnya dengan menulis saya jadi tertarik untuk bermusik (karena saya membuat lirik) atau bahkan kembali menari balet, karena siapa tahu suatu saat saya dapat membuat sebuah performance art yang menggabungkan semua bidang yang saya dalami.[]

Foto dari Internet.

Link terkait:
http://halamanganjil.blogspot.com/2011/06/membangun-dan-meruntuhkan-mimpi-anwar.html
http://www.brainmelosa.blogspot.com
http://www.maradilla.com
Twitter: @maradilla

Monday, November 19, 2012

Jadilah Serigala Lapar di Antara Domba yang Tersesat
---Anwar Holid

Bincang buku Lokasi Tidak Ditemukan menjadi konferensi para pemadat musik.


Taufiq Rahman, Ismail Reza, Budi Warsito (ki-ka).
"Sebenarnya alasan saya menerbitkan buku ini ialah agar bisa jalan-jalan," kata Taufiq Rahman dengan nada serius, tetapi orang-orang malah tertawa. "Waktu tur buku Like This, saya berkesempatan bertemu banyak pegiat scene musik di berbagai kota dan saya tahu ada banyak orang baik di sana." Kali ini buku debutnya Lokasi Tidak Ditemukan: Mencari Rock And Roll Sampai 15.000 Kilometer diperbincangkan secara intim dan blak-blakan pada Minggu, 18 November 2012 di Kineruku, Bandung. Di tempat yang dianggap sebagai "the coolest library in town" ini Taufiq kembali bertemu puluhan orang fans musik rock’n’roll. Salah satunya Ismail Reza, seorang penggila musik yang cukup familiar di Bandung. Dia menanggapi buku itu sekaligus mengorek lebih dalam isi kepala Taufiq. Di antara hadirin tampak Ucok Homicide, Anto Arief dari 70's Orgasm Club, juga Harlan Boer yang baru saja merilis EP Sakit Generik. Taufik mengaku, para pegiat scene musik lokal itulah yang sangat berjasa membantunya menyebarkan ide dan berbagi antusiasme musik di situs yang dia dirikan bersama Philips Vermonte, Jakartabeat.net.

Lokasi Tidak Ditemukan menarik bukan saja karena membukakan mata untuk mendengar musik-musik penting yang mungkin belum terjelajahi atau terlalu tersingkir oleh musik niaga (mainstream), melainkan juga berusaha memuat banyak pemaknaan sewaktu menikmati musik, baik lewat album, nonton konser, juga menziarahi tempat-tempat legendaris di dunia rock and roll. Taufiq menemukan dan menawarkan banyak hal dari penjelajahan itu. Bertutur ala catatan personal, dia secara jeli berusaha menyusun konteks sosial-politik suatu musik, baik merekatnya dengan penelitian musikolog, data statistik, maupun hipotesis yang kelewat berani. Sikap ini lahir dari keyakinannya bahwa “menulis musik adalah menulis tentang manusia."

Menandaskan hal itu Ismail Reza bilang bahwa menulis musik yang baik mestinya memang harus bisa membuka banyak kemungkinan. "Musik yang baik kalau bisa semakin banyak menghasilkan tafsir baru setiap kali didengar," kata dia. Dia menyatakan bahwa para pemadat musik seperti Taufiq---yang ingin menyatakan bahwa dirinya menemukan musik berharga---harus bisa menjadi serigala lapar di tengah domba-domba tersesat. Misinya ialah dengan ganas dan jujur mengabarkan musik yang bagus kepada khalayak, sebab industri musik dengan segala kepentingannya secara cerdik pula mampu menipu telinga dan otak banyak orang agar mengonsumsi produk musik yang "dianggap bagus" padahal sebenarnya busuk.


Itu membuat perdebatan seperti apa musik yang bagus dan apa kriterianya jadi sangat relatif. Buat Reza jawabannya telak, "Musik yang bagus adalah musik yang gua suka." Orang yang bilang seperti ini harus bisa menjelaskan dan meyakinkan orang lain kenapa musik yang disukainya bagus, layak diapresiasi, dan produk musik lainnya pantas dibuang. Sementara menurut Taufiq musik yang bagus ialah yang punya dampak sosial-politik kuat. Musik seperti itu tidak terbatas hanya karena laku sekian juta kopi atau mendapat habis-habisan dari berbagai media dan komentator terkemuka. Orang yang mau menulis musik selayaknya mengabarkan pada publik setiap kali menemukan musik bagus. Itu yang membuat kini Taufik mengaku sudah meninggalkan musik rock and roll umum---terutama produk Barat, bahkan yang dianggap masterpiece sekalipun---dan memilih melanjutkan penjelajahan ke ranah yang belum banyak tergali, entah dari Arab, Afrika, anak benua India, dan tentu saja Indonesia. "Menulis musik bukan lagi 5W1H, melainkan creative writing," ujarnya. "Kita harus bisa membuat agar subjeknya jadi menarik."

Meski bisa jadi cara bertutur tulisan Taufiq bagi sebagian orang terasa kurang fun, bahkan berisiko dianggap snob dan pretensius, harus diakui banyak pembaca bilang bahwa Taufiq menulis musik dengan passion, dengan gairah tinggi. Kata Ucok, "Saya tahu Taufik tidak suka hip-hop, tapi hanya dia yang mampu mereview album Homicide dengan benar." Itulah yang membuat perjalanan Taufik bersama musik rock seolah-olah tak akan pernah mau berakhir, karena ia terus menemukan "lokasi-lokasi" baru yang menawarkan hal berharga. Dia menolak membuang tinta dan kata untuk musik yang buruk, bahkan kalau perlu coba dilawan dan dihancurkan.[]

Anwar Holid, bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis.

Taufiq Rahman: @rahmantaufiq
Situs terkait dan pemesanan buku: http://www.jakartabeat.net, http://www.kineruku.com

Monday, November 05, 2012


Puber ke Dua Mendengar Musik
---Anwar Holid

Aku praktis berhenti membeli album beberapa tahun sebelum kematian mantan Presiden Suharto di awal tahun 2008. Waktu itu aku menjual sekotak koleksi terakhir kasetku buat beli sembako. Yang tersisa dari koleksiku adalah kaset atau cd yang mungkin tidak punya nilai jual, kebanyakan berupa album tanpa sleeve atau rekaman kopian karena waktu itu aku sangat kesulitan mendapat yang asli atau terlalu malas untuk beli, juga rekaman yang masuk dalam kategori "rare". Setelah penjualan itu, keinginanku untuk membeli rekaman nyaris hilang dengan sendirinya. Memang sesekali aku dihadiahi rekaman cd oleh kawan dan kenalan, atau dalam kesempatan yang sangat jarang aku beli rekaman ketika berada di kota lain. Belinya pun tidak lagi di toko musik, melainkan di toko oleh-oleh---tempat yang dari dulu kuanggap kurang pantas menjual rekaman.

Tapi meski begitu aku tetap antusias mendengar musik, menyimak album, membaca rilisan baru, atau memperhatikan berita musik. Kali ini medianya mayoritas berasal dari Internet. Sebenarnya, ini tampak sebagai kelanjutan dari kebiasaanku mencari musik-musik susah di awal tahun 2000-an, ketika aku punya akses Internet bagus. Terus terang, untuk alasan tertentu sejak itu aku pilih mendengar album via mp3 atau mwa. Ketika itu aku masih punya Walkman dan Discman dan kalau ada niat aku membuat mixtape. Tapi karena Discman boros batere, akhirnya barang itu aku jual. Waktu itu aku pikir bahwa komputer/laptop sudah bisa memuaskan antusiasmeku terhadap musik, dan ternyata keyakinan itu bertahan hingga sekarang. Apalagi sekarang aku juga punya mp3 player.

Kenapa pilih mp3? Alasan utamanya adalah karena murah. Tentu tidak bisa dibilang 100 % gratis, tapi lebih terjangkau dan yang jauh lebih penting download memungkinkan kita mendapatkan musik apa pun dan dari mana pun, bahkan mendapatkan yang tidak bisa dibeli di toko musik biasa dalam negeri. Singles, EP, reissued, remastered, maupun deluxe edition, termasuk rekaman dadakan pemusik yang hanya muncul di negeri tertentu--yang industri musiknya bagus--mustahil didapatkan di negeri ini.

Industri dalam sudut pandang mereka yang berdaya beli kecil memang menyebalkan. Kita dirayu membeli semua produk, padahal bisa jadi tidak semua artis ingin mengomersilkan karya ciptanya. Apalagi tidak setiap orang mampu membeli dan lebih ingin mendapatkan sesuatu dari penciptanya, bukan pengganda atau pemilik hak edarnya. Sejak awal, tampaknya orang lebih peduli pada musisi karena karyanya, alih-alih memilih perusahaan rekaman, meski perusahaan jelas berjasa dalam menyebarkan musik.

Ada musisi yang awalnya cuma ingin karyanya didengar sebanyak mungkin orang tanpa harus dibebani target penjualan. Pikirkan ketika Wilco menyimpan Yankee Hotel Foxtrot di Internet dan menyilakan orang mendownloadnya. Kadang-kadang musisi hanya lebih ingin populer dan berhasil menyampaikan pesan dibandingkan ingin kaya karena berhasil menjual jutaan keping album. Kata seorang musisi pendukung download mp3, "Seperti seks, musik itu lebih bagus kalau gratis." Ambil contoh Coldplay. Rugikah band ini bila nyaris semua lagunya didownload secara ilegal? Mungkin tidak. Mereka bisa jadi justru harus berterima kasih karena memiliki tambahan penggemar. Yang jelas rugi adalah perusahaan pengganda CD karena gagal mendapatkan uang dari jualan, produksi, atau anak asuhnya. Sebagian musisi lebih memprioritaskan orang mendengar dan suka musiknya. Tapi industri dan artis bisa jadi berpandangan berbeda.

Perdebatan antara gratis dan harus beli maupun ilegal vs legal masih berlangsung hingga kini. Tetapi sudah terbukti bahwa internet, teknologi multimedia, dan cyberspace menjadi biang turunnya penjualan fisik industri musik. Tapi bisa jadi karena hal itu pula maka fans sebuah group musik jauh lebih banyak dan beragam. Kalau mau, orang bisa memenuhi cyberspace dengan hasil download atau menyimpan hasilnya agar bisa dibagikan kepada yang tertarik. Biarlah cd, kaset, vinyl, menjadi semacam kebutuhan eksklusif jika seseorang memang ingin mendapatkan barang itu secara fisikal, lebih rinci, bisa diraba-raba, ada aromanya.

Tentu mp3 juga masih belum menjadi segala-galanya, meski cyber bisa menyediakan banyak hal. Daya tawar terpenting teknologi ialah betapa mp3 dan cyberspace memberi kemudahan untuk mendapatkan sesuatu. Di Internet, kita masih harus mencari sejumlah hal yang kerap terpencar, baik artwork (sleeve), lirik, kredit, dan "keutuhan" bahwa file tersebut memang album. Pada rilisan fisik, itu sudah sepaket atau semacam one-stop shopping. Di internet kita harus meluangkan waktu mencari itu semua demi merasakan keutuhan sebuah album dan itu berarti lebih menghabiskan energi, waktu, serta ribet, menghambat banyak hal lain. Buruknya, kadang-kadang kita dikecoh oleh nama file yang salah, dipersulit password menyebalkan, juga kualitas suara yang mengerikan. Kita memang harus memilih dan berendah hati menerima kekurangan. Dari sisi ini, industri rekaman tentu masih bisa bangga bahwa layanan mereka jelas tidak bisa begitu saja dihapus oleh tawaran kemudahan yang sering menipu. "Namanya juga gratisan," begitu gurau seorang kawan.

Di tengah ketidakberdayaanku, aku jelas bersyukur atas penemuan mp3, teknologi p2p, file sharing, serta para penyedia dan penyimpan file. Bayangkan saja, setelah dulu agak putus asa cari album Nusrat Fateh Ali Khan atau Youssou N'Dour di dunia nyata, kini aku bisa mendapatkannya gratis dan dalam jumlah yang justru bisa membuat aku gelagepan karena enggak tahu lagi apa yang mesti diambil saking banyaknya. Walhasil kadang-kadang aku kepayahan juga dengan file-file itu, cuma didengar selintas untuk kemudian tertelantar atau sekalian dihapus permanen. Sebagian orang meledek bahwa mengumpulkan album sebesar 287 gb di komputer jelas lain dengan punya 287 rekaman fisik yang bisa ditilik-tilik.


Secara fisik, aku cukup meminjam rekaman koleksi Kineruku atau dari kawan-kawan yang kerap beredar di situ bila benar-benar merasa perlu. Beberapa kenalanku punya antusiasme jauh lebih ganas terhadap musik, apalagi mereka rela dan mampu belanja rock. Jakartabeat.net berhasil mengumpulkan banyak orang yang mampu menyimak dan menjelajahi musik secara lebih solid. Memang cara mereka mengungkapkan cinta pada musik kadang-kadang nadanya terdengar agak snob, berlebihan, atau over-intelektual, tapi antusiasme, penemuan, penafsiran, maupun pendalaman mereka betul-betul menyegarkan gairahku terhadap musik. Dengan idealisme mereka bekerja keras dan bersenang-senang mendefinisikan lagi jurnalisme musik. Di sana, musik bukan cuma berisi album yang mencoba menelurkan hits, melainkan menjadi pernyataan dan berusaha memiliki makna sosial dan semangat zaman.

Di siang hari aku sekarang jadi pelayan Garasi Opa, toko barang vintage di Kineruku yang salah satu hot itemnya adalah vinyl. Toko ini juga menjual kaset, terutama album lawas yang dinilai legendaris dan dicari-cari pendengar. Hal itu membuat aku jadi kembali sering memegang kaset dan vinyl. Bukan hanya album pop rock Indonesia lama, melainkan juga keroncong, dangdut, orkes melayu, gambang kromong, kasidah, musik daerah, termasuk band-band kabur tapi dinilai penting dalam ceruk pasar tertentu, seperti Blossom Toes, Bonzo Dog Band, Young Marble Giants, The Fugs, juga Kelompok Kampungan. Di Garasi Opa aku jadi bisa mendengar dengan baik album Harry Roesli, Lemon Trees Anno '69, Leo Kristi, Waldjinah, Remy Sylado, Franky & Jane, Yockie Suryoprayogo, Bimbo, dan lain-lain setelah dulu waktu remaja cuma sepintas ikut dengar di kamar kawan yang suka mendengar musik lawas Indonesia . Aku jadi ingat waktu mendengar Kiayi Kanjeng, Uking Sukri, Kua Etnika, Zithermania, Slamet Abdul Sjukur, Suarasama, juga Mukti-Mukti, Keroncong Rindu Order, dan lain-lain yang pendengarnya barangkali terbatas.

Anak muda yang datang ke Garasi Opa suka menanyakan keroncong, gambang kromong, dan entah kenapa hal itu membuatku terharu dan penasaran apa mereka sedang mencari harta karun terpendam musik Indonesia dari masa lalu? Pernah suatu hari aku nyetel album Gesang, seorang pengunjung mendadak bilang, "Mas, aku mau ini dong. Dulu ibu saya sering nyetel musik kayak ini." "Wah maaf," jawabku. "Yang ini belum dilepas oleh bos saya. Hanya untuk didengar dulu." Di tengah sajian musik kodian lewat radio, televisi, dan jaringan supermarket, mendengarkan keroncong, gambang kromong, album seminal, atau musik eksperimental yang dirilis baik untuk ekspresi, eksplorasi nada, pernyataan estetika, kolaborasi ide, maupun bersenang-senang jelas lain nuansanya. Salah satu yang berharga ialah betapa tetap menarik membicarakan relevansi album itu di zaman sekarang. Masih menantang membicarakan jeroan atau visi musik Rhoma Irama, AKA, Gombloh; tapi musik setipe karya Obbie Messakh cuma enak didengar di karaoke atau bus antarkota. Di luar itu, musik mereka mati gaya. Mau dibolak-balik ulang kayak apa juga tetap terdengar kacangan dan merengek. Tapi harus diakui mau mendengar kaset juga ada kendala. Sebagian generasi muda bakan tidak pernah melihat atau punya pemutar kaset. Mereka mendengar lewat hp atau mp3 player dan parahnya mendengar per lagu, bukan menyimak per album.

Meski kini paling banyak menyimpan musik di harddisk, keinginan untuk membuka-buka kaset atau cd terbit lagi, bahkan sengaja merawat lagi agar kondisinya tetap baik. Yang berjamur aku bersihkan satu-satu. Memang sudah pupus niat mewariskan barang itu kelak pada anakku seperti dulu, karena aku sadar mereka membentuk selera dan punya zaman sendiri, cuma aku jadi memelihara yang ada. Tape playerku kembali bersaing dengan Windows Media Player untuk memutar lagu, bahkan menyetel kaset nasyid generasi awal The Zikr milik istriku, ceramah Aa Gym, atau mengumandangkan lagu Sunda karya Doel Sumbang yang akhirnya jadi disukai Ilalang (12 tahun). September lalu aku memboyong puluhan kaset adikku dari rumah orangtuaku di Lampung yang sudah masuk kardus karena tapenya rusak dan tidak diperbaiki. Wah, senang banget! Rasanya aku menemukan lagi jalur bisa yang membuatku sedikit lebih bergairah dan melihat-lihat panorama.

Apa aku pelan-pelan kembali pada kebiasaan lama yang sebenarnya nyaris punah? Entahlah. Cuma beberapa minggu lalu untuk pertama kali aku tersenyum-senyum sendirian di sebuah toko rekaman, menilik berbagai album sampai tangan penuh debu, dan akhirnya memutuskan mengambil Pulau Bali, Keroncong Instrumental Vol. 3 oleh Orkes Keroncong Irama Jakarta. Itulah kaset pertama yang aku beli barangkali setelah lebih dari sepuluh tahun lalu. Rasanya mirip dulu waktu aku pertama kali beli kaset Queen. Gemetaran.[]

Link terkait:
http://halamanganjil.blogspot.com/2008/03/selamat-jalan-kaset-dan-mantan-presiden.html

Thursday, October 25, 2012

Menemukan Sepuluh Detik Pertama yang Menegangkan
---Wawancara dengan Taufiq Rahman

Taufiq Rahman---jurnalis di The Jakarta Post dan co-founder Jakartabeat.net---baru saja menerbitkan buku pertamanya Lokasi Tidak Ditemukan: Mencari Rock and Roll Sampai 15.000 Kilometer. Buku ini memuat catatan personalnya dalam menikmati dan menjelajahi musik, baik melalui album, nonton konser, juga menziarahi tempat-tempat legendaris di dunia rock and roll. Dia menemukan dan menawarkan banyak hal dari penjelajahan itu, termasuk upaya membabat klise yang beredar di kalangan banyak pendengar.

Berikut wawancaraku dengan beliau.

Taufiq Rahman

Anwar Holid (AH): Selamat atas terbitnya buku kamu! Apa ada harapan khusus atas buku ini?

Taufiq Rahman (TR): Sebenarnya sederhana sih. Ketika saya pergi ke toko buku, pilihannya cuma dua, majalah musik franchise (yang agak mahal) atau buku kord gitar. Saya tidak menemukan buku tentang musik yang ditulis dengan gaya bercerita menarik. Bukan berarti saya menganggap tulisan saya menarik dan lebih baik, cuma saya belum pernah lihat tulisan tentang musik dalam Bahasa Indonesia seperti Nick Hornby atau Chuck Klosterman yang membuat pengalaman menikmati musik menjadi personal dan sekaligus ekistensial. Saya lihat memang di blog banyak yang melakukannya, cuma ya masalahnya tidak ada yang berani menerbitkan. Saya juga pertama berpikir, siapa yang mau membaca tulisan saya dalam bentuk buku. Saya memang rajin menulis, tapi saya tidak punya name recognition seperti penulis-penulis besar itu. Tapi kemudian ada beberapa orang mendorong saya dengan mengatakan, “Bung kayaknya perlu ada kumpulan tulisan Anda.” Saya masih ingat pagi-pagi Risky Summerbee mengirim SMS ke saya sehabis membaca tulisan tentang Justin Bieber di Jakartabeat.net dan bilang, “Bung tampaknya perlu ada tulisan the thoughts of Taufiq Rahman.” Saya pikir well, sudah ada satu audience dan kalau Risky saja mau membaca, saya berharap ada beberapa puluh orang yang mau baca. Pagi itu saya langsung kontak Harlan Bin untuk menjadi editor dan menulis kata pengantar. Akhirya dua bulan kemudian buku ini bisa terbit secara independen. Independen karena saya tidak yakin ada penerbit arus utama yang mau menerbitkannya. Saya pernah mencoba pergi ke penerbit konvensional atas saran rekan, cuma respons yang saya dapat tidak terlalu ramah. Ya sudah why not go it alone. Harapannya adalah kalau saya saja bisa menerbitkan buku, mereka yang jauh lebih baik dari saya harus juga menerbitkan dan saya harap akan lebih banyak buku testimonial personal tentang musik akan lebih banyak terbit, biar toko-toko buku besar itu tidak diisi buku motivasional dan kumpulan 140 karakter dari Twitter.

Album/musik seperti apa yang kira-kira bisa memaksamu menulis review?

Terus terang hanya album-album yang penting secara sosial saja yang saya tertarik untuk menulisnya, seperti album Godspeed You! Black Emperor (GY!BE) terakhir. Album itu dengan mudah bisa diletakkan ke dalam suasana yang membungkus sebuah masa dan zaman. Menarik karena saya ingin menulis bahwa di era saturasi media seperti sekarang, ternyata musik GY!BE ternyata lebih ‘bunyi’ ketimbang lagu protes sosial yang literer. Musik semacam itu jarang keluar. Jadi sebagai akibatnya saya jadi tidak terlalu sering menulis tentang musik (Barat). Selain karena kesibukan yang semakin menggila, juga karena saya sudah agak jarang mendengarkan musik dari poros-poros tradisional New York, London, West Coast. Saya mulai mencari musik-musik eksotis seperti Omar Khorsid, Khourosh Yaghmaei, dan Shin Jun Hyun yang tidak hanya monumental tapi juga sangat gawat muatan politiknya. Omar mati ditembak fundamentalis Islam karena main bersama Yehudi Menuhin di Gedung Putih sesaat sebelum Anwar Sadat bernasib sama. Shin Jun Hyung di penjara karena menolak menulis musik untuk diktator Korea Park Cung Hee. Khourosh juga berhenti bermusik setelah rezim Mullah berkuasa. Mereka ini lebih menarik karena berkesenian dalam kondisi yang sulit dan tidak hanya sibuk dengan sex, drugs, dan rock and roll.


Kamu bilang bahwa menulis musik ialah menulis soal manusia, tapi sebagian musisi bilang bahwa musik hanyalah hiburan dan reviewer/kritik suka terlalu mengada-ada atau cenderung 'over-intellectual.' Apa komentarmu tentang hal itu atau kira-kira apa ada kompromi di antara keduanya?

Memang tidak semua musik layak untuk ditulis. Saya tidak anti-intelektual, tapi juga tidak suka dengan review musik yang formalis belaka. Bagi saya overintelektual tidak apa-apa asal tetap menarik dibaca dan menawarkan sesuatu yang baru. Masalah dengan musik adalah---dan ini bisa membuat orang malas menulisnya---karena musik dan menjadi fan bisa mengakibatkan cinta buta dan tidak memberi ruangan untuk menjadi curiga. Kini semua orang mendewakan Radiohead, (menilai) they can do no wrong, dan mengkritik Radiohead bisa dianggap menjadi bidah. Saya rasa tidak pada tempatnya fans menjadi seperti itu dan Radiohead bukan nabi. Orang bisa tidak beragama tapi justru ketika sampai pada musik malah bisa lebih radikal. Come on man, it’s only rock and roll, tidak ada yang suci. Tidak usah menjadi berhala baru. It’s only music, for god sake.


Aku tidak merasakan beda yang sangat jelas antara nada "amarah" dan "telaah" di buku ini, bisa diterangkan lebih jauh? Kenapa kedua hal ini mesti dipisahkan?

Sebenarnya Amarah itu untuk bagian-bagian di mana saya tidak suka dengan conventional wisdom seperti misalnya bahwa The Ramones atau The Sex Pistols adalah yang paling baik. Saya kemudian menawarkan Marquee Moon sebagai penolakan terhadap wisdom of the crowd saja. Biar ada alternatif dari terhadap yang itu-itu saja. Kalau tidak salah ada juga soal Lady Gaga di seksi Amarah. Saya marah karena bagaimana tiruan Madonna yang buruk itu bisa dipedulikan oleh jutaan orang di dunia. Oleh karena itu saya kemudian menulis semacam dekonstruksi terhadap Lady Gaga, sama ketika saya melakukan dekonstruksi industri motivasional. Kemarahan tidak selalu buruk. Kata The Clash, “anger can be power.” :D

Bagian Telaah sesungguhnya agak pretensius sih. Saya cuma memasukkan tulisan di mana saya menjadi sedikit lebih pintar dengan memahami musik dengan tangan dingin. Inginnya seperti Carl Wilson yang memahami Celine Dion dengan Pierre Bourdieu, tapi berhubung saya cuma punya pengetahuan amatir terhadap Pierre Bourdieu dkk, ya mungkin hasilnya tidak terlalu bagus. Cuma kecenderungannya begitu. Kalau menulis musik sudah dengan kerangka pemahaman yang kaku dan teoretis memang jadi agak kering. Bahkan ada saat ketika Jeremy Wallach atau Emma Baulch jadi agak kering ketika membahas musik di Indonesia dengan teori-teori itu.

Sangat menyenangkan/menarik kamu menulis esai soal Suarasama, Lokananta, dangdut dan musik Indonesia; tapi sayang kenapa porsinya di buku ini sangat sedikit dibandingkan musik Barat?

Mungkin ini masalah perjalanan hidup saja. Kecil saya tumbuh dengan Julius Sitanggang, Ida Laila, dan musik yang paling mainstream di Indonesia. Ketika indie scene di Indonesia bergejolak, Puppen, Pure Saturday, dan band-band lokal yang keren itu berkuasa, saya masih di kampung dan tidak punya akses ke informasi tentang mereka. Begitu saya kuliah saya ingin menjadi berbeda dan langsung melakukan leap of faith dengan mencari musik-musik yang asing dari yang paling asing. Mungkin saya mulai dengan POD dan Linkin Park, tapi akhirnya berakhir dengan Pavement, Silver Jews, Neutral Milk Hotel, dan semua itu kemudian menjadi semacam obsesi ketika saya tinggal di Amerika Serikat. Saya bisa mengalami kedekatan fisik dan itulah yang kemudian saya tulis menjadi semacam ziarah. Tidak ada niat berziarah sebenarnya karena saya lakukan perjalanan itu sambil kuliah dan mengurus anak, dan itu yang menjelaskan kenapa judulnya Lokasi Tidak Ditemukan. Karena yang sangat serius merencanakan mencari rock and roll seperti Chuck Klosterman di Killing Yourself To Live saja tidak ketemu, apalagi saya yang cuma sambil lalu. Jadi akhirnya buku itu lebih kepada renungan tentang menikmati dan memahami musik saja. Sangat personal sesungguhnya.

Seberapa terbuka kamu terhadap sebuah genre musik?

Saya mendengarkan apa saja dan dari mana saja (terutama akhir-akhir ini). Saya kini  misalnya mendengarkan One Direction dengan anak perempuan saya setiap mengantar dia ke sekolah dan saya hapal dengan semua lagu itu, Big Time Rush juga. Saya kini mendengarkan Omar Khorsid dan The Abstracts dari Pakistan,  atau Les Dugs-Dugs dari Meksiko, musik dari Shan State Myanmar atau Answer Sheet dari Yogyakarta. Dan sudah mulai meninggalkan musik mainstream Barat terus terang! Radiohead atau Weezer misalnya, saya sudah sama sekali matikan. Mereka sudah membantu saya menjadi dewasa, tugas mereka sudah selesai, dan saya tetap menaruh hormat kepada mereka. Don’t get me started on Guns N Roses :D

Kalau ada musik/album yang "tidak bisa" kamu pahami/nikmati, musik seperti apakah itu?

Emo! Saya tidak bisa paham dengan rengekan vokal dan raungan gitar pada waktu yang bersamaan. Album yang tidak bisa saya pahami sepenuhnya adalah semua musik dari Tame Impala. Saya sudah berulang-ulang dengar, resapi, dibawa tidur, di mobil, di Ipod, tetap tidak bisa saya nikmati. No offense buat fans Tame Impala, tapi mungkin musiknya bukan buat saya. Not my cup of tea.

Menurut kamu, apa yang paling berharga dari sebuah album?

Saya tertarik dengan kerja keras seniman untuk menghasilkan karya seni yang tidak biasa. Dan memang agak jarang muncul musisi yang mencoba membabat hutan dan menemukan sesuatu yang baru. Anda akan tahu album bagus hanya dari 10 detik pertama saja dan menemukan 10 detik pertama ini yang menegangkan. Di sepuluh detik pertama di "We Drift Like Worried Fire" dari GY!BE ‘Allelujah, saya segera tahu ini bukan main-main dan akan menjadi musik paling baik tahun ini. Beda misalnya dengan 10 detik piano intro lagu Adele atau Coldplay, Anda akan segera tahu bahwa ini adalah musik yang diciptakan untuk banyak orang. Nada-nada miring yang sengaja diulik untuk mendapatkan massa sebanyak-banyaknya. Lebih dari bentuk fisik sebuah album, semangat kerja keras seniman dan upayanya untuk menjadi berbeda itu lah yang membuat saya tertarik.

Sebagai penikmat/kritik, menurutmu apa yang ada dalam kepala musisi ketika mereka merekam/merilis album: ingin menyampaikan misi, albumnya laris dan sukses secara finansial, atau tenar?

Tergantung kan. Kalau orang semacam Efrim Menuck atau Benny Soebardja ketika mereka menulis musik di kepala mereka cuma ada satu ide: “Screw the system, I will go my own way.” Sedangkan di benak Chris Martin atau Favourite’s Group, yang ada di kepala mereka mungkin berisi “wah saya harus mencari nada-nada catchy yang akan didengar oleh banyak orang dan menjual banyak album.” Nah di antara kedua jenis musisi ini ada band istimewa semacam Rage Against The Machine dan Gang of Four yang berpikir “musik kita harus bagus sehingga kita bisa menyampaikan pesan akan pentingnya revolusi sosial dan perjuangan kelas." Mereka tidak selalu berhasil memang, tapi musiknya tetap laku kan? Well, ini cuma dugaan saya. Toh saya bukan musisi, bukan produser, bukan pelaku, dan tidak banyak kenal banyak musisi juga.

Btw, bagaimana cara/ritual kamu menikmati sekaligus menyimak sebuah album?

He he he, kayak saya public figure saja ditanya soal begini. Biasa saja sih. Matikan lampung kamar, nyalakan tombol on di turntable, pindah speed ke 33 rpm, letakkan jarum, dan menutup mata. Kadang menangis, kadang senyum bahagia di dalam gelap, dan sebaiknya dilakukan dengan semua smartphone jauh dari jangkauan. Tempat menikmati musik terbaik kedua saya adalah di mobil. Saya sengaja copy ke CD album-album MP3 yang tidak bisa saya peroleh di sini dan saya dapat hanya dari internet dan saya putar di mobil. Kadang-kadangsaya sengaja berkendara lebih jauh sebelum sampai rumah untuk menyelesaikan sebuah CD. Misalnya di CD Omar Khorsid Guitar El Chark ada track ke lima luar biasa indah yang pasti tidak akan saya dengar kalau saya menitipkan mobil di stasiun kereta api dekat rumah. Sebagai akibat saya tidak mau skip langsung ke track ke lima---karena empat track sebelumnya memilki flow yang nyaris sempurna---saya harus berkendara ke dua stasiun agak jauh dari rumah dan menyelesaikan track lima. Untuk ini tentu lebih banyak bahan bakar dan biaya tol yang harus dibayar kan? Tapi pengorbanan itu terbayar oleh kesyahduan menikmati musik surgawi Omar Khorsid. Selain juga karena saya malas berkendara terlalu jauh ke Jakarta. Macet!

Sepertinya ada kecenderungan anggapan bahwa musik bikinan industri yang memenuhi selera massa itu buruk/bernilai rendah, tetapi bukankah selalu ada kemungkinan album pop yang bagus?
Bisa saja ada yang bagus, tapi dalam bermusik niat baiklah yang menentukan. Sebagus apa pun musik dari industri kalau niatnya hanya mencetak hits ya akhirnya cuma hiburan. Saya tentu dengarkan juga sama seperti saya mendengar musik One Direction bersama anak saya, tapi saya tidak akan serius mengharap mendapat apa-apa dari musik itu bukan? Sama seperti kita menonton film Hollywood untuk ditipu oleh CGI dan superhero. Tapi ada saatnya, meski tidak bisa terlalu sering, kita menonton film Iran atau film independen dari Meksiko.

Terakhir: sebenarnya apa sekarang ini Indonesia punya peluang untuk kembali memiliki industri musik berbasis vinyl?

Wah saya tidak tahu kalau soal itu. Saya bukan pelaku soalnya. Tapi saya amati sudah lumayan ramai, meski ini tidak bisa diharapkan menjadi default format. Ini hanya akan menjadi niche, mengingat memang hanya sedikit saja orang yang mencintai musik sampai sebegitu rupa. Tapi tidak apa-apa, semua orang punya pilihan dalam mendengarkan musik. Yang masih mau ke Carrefour atau Ratu Plaza mencari musik Ramadhan silakan, tapi yang mau mencari musik sampai ke pojok-pojok dunia ya silakan maju sendiri.[]

Situs terkait dan pemesanan buku: http://jakartabeat.net
Follow Taufiq Rahman on Twitter: @rahmantaufiq


Monday, June 25, 2012

Ian Astbury (ki.) dan Billy Duffy (ka.), duo motor The Cult.

Pilihan untuk Terus Bergerak
Choice of Weapon 
Studio album karya The Cult
Genre: Rock, Hard Rock
Durasi: 41:38
Rekaman: Maret 2011–Januari 2012 
Rilis: 22 Mei 2012 
Label: Cooking Vinyl
Produser: Chris Goss dan Bob Rock


The Cult adalah salah satu band underrated era 90-an. Setelah sempat bekerja sama dengan produser legendaris Rick Rubin dan Bob Rock untuk menghasilkan dua album rock yang dinilai penting dan berpengaruh---yaitu Electric (1987) dan Sonic Temple (1989)---band ini bisa dibilang hilang dari peredaran terutama karena sepanjang dekade 90-an scene rock dilanda virus Seattle Sound dan grunge. Duo penyangga utama The Cult yaitu Ian Astbury (vokal) dan Billy Duffy (gitar), tampak kesulitan mempertahankan energi, membuat band ini sempat vakum meski terus berusaha bangkit lagi. Di luar itu, persoalan nonteknis seperti gonta-ganti personel, pertikaian dengan label, juga industri musik yang berubah menambah parah kondisi mereka.

Di sela-sela masa surut mengembangkan The Cult, Ian Astbury sempat bergabung dengan The Doors of the 21st Century (Riders on the Storm) yang kontroversial bersama dua personel asli The Doors. Dia juga berkolaborasi dengan band rock eksperimental Boris menghasilkan EP BXI (2010), selain menjadi vokalis tamu untuk album solo Tony Iommi dan Slash.

Tapi energi kreatif Ian Astbury tampak baru terdengar terwadahi sempurna bila ia bekerja sama dengan Billy Duffy. Bagi fans rock/hard rock, gitar Billy Duffy sudah terdengar distingtif dan punya signature kuat. Gitaris tipe guitar god ini menonjol terutama berkat kemampuannya menciptakan orkestrasi gitar ditambah kejelian dalam memaksimalkan lick maupun menggandakan kekuatan riff di sepanjang lagu. Banyak komentator menyebut gayanya sebagai paduan antara Jimmy Page yang melodius dengan Angus Young yang meledak-ledak dan suka mengumbar kejelian memainkan lick. Meski sulit come back secara signifkan dan mungkin tak ditunggu-tunggu, The Cult ternyata tetap berusaha menghasilkan album yang matang setiap kali muncul kembali. Bahkan di luar dugaan, setelah reuni kedua The Cult malah lebih solid, untuk pertama kali bisa tak berganti personel, yaitu bersama Chris Wyse (bass) dan John Tempesta (drums), bahkan ditambah dukungan produser Chris Goss dan Bob Rock. Dengan unit inilah The Cult menghasilkan Born into This (2007) dan album studio ke sembilan mereka Choice of Weapon (2012).

Choice of Weapon adalah tipikal album hard rock yang kuat, matang, dengan kesan  kasar dan garang. The Cult membuka album dengan Honey from a Knife yang bertempo cepat berbalut riff nyaris di sepanjang track berpadu dengan permainan drum nan energetik. Untuk menggalang pendengar baru dan memikat fans, mereka memilih For the Animals dan Lucifer sebagai singel. Kedua lagu ini juga cadas, dinamik, terdengar sangat utuh khas The Cult berkat vokal Astbury yang bertenaga dibarengi permainan gitar Duffy yang kaya sekaligus atraktif. Mereka benar-benar mampu mempertahankan signature musik yang muncul sejak di awal karir mereka dengan baik. Secara keseluruhan Choice of Weapon adalah album straight hard rock yang catchy, mudah menggerakkan fans karena terdengar langsung hajar, bersih dari ornamen musik yang tidak perlu.

Ian Astbury menyatakan mereka menggunakan frasa "Choice of Weapon" karena manusia sebagai individu maupun bagian dari massa---punya pilihan atas senjata masing-masing, baik secara harfiah maupun metafora. 'Pisau, pistol, pena, kata-kata, kamera, seni, juga kreativitas bisa Anda jadikan senjata untuk revolusi budaya,' jelas dia. Senjata berbeda-beda bentuknya, bisa jadi berupa pernyataan verbal dari seorang individu atau simbol yang membangkitkan kekuatan bersama. Bagi The Cult, artinya ialah pilihan untuk jalan terus, lepas dari apakah mereka akan mendapat apresiasi sepantasnya atau tetap dianggap underrated oleh mayoritas orang.

Berbeda dengan kebanyakan band rock yang berbalut seks dan obat-obatan, image The Cult justru lebih dekat dengan isu konservasi atau kembali ke alam, peduli pada suku-suku asli pedalaman, paganisme, elegi terhadap modernisme, termasuk pseudo mistisisme karena terpengaruh musik psikedelik. Choice of Weapon pun melanjutkan tema serupa, dengan tingkat reflektif yang lebih kuat, terasa pada misalnya Life > Death dan Elemental Light.

Bagi fans rock akhir tahun 80 dan 90-an, sungguh mengejutkan betapa sebuah band lawas yang dinilai sayup-sayup ini ternyata malah bisa terdengar semakin intens dan hebat dari sebelum-sebelumnya. Mengenai hal ini, Billy Duffy sesumbar berkata, 'Kami punya fans yang hebat dan mereka pantas mendapat dedikasi terbaik dari kami. Saya rasa Choice of Weapon adalah salah satu rekaman terbaik kami.' Dengan sikap itu The Cult tampak menolak terjebak oleh romantisme istilah masa jaya atau puncak kreativitas yang mereka sempat raih di awal tahun 90-an, melainkan akan terus bergerak sampai pada saatnya disergap kemandekan kreativitas, usia, dan tenaga.[]

Anwar Holid, kontributor Kineruku.com dan jakartabeat.net.

Gambar diambil dari Internet.

Saturday, June 09, 2012


Pelajaran Euro Cup 2012 untuk Proofreader, Penulis, Editor, dan Penerjemah 
--Anwar Holid
 

Berikut ini kota-kota di negara Polandia dan Ukraina tempat berlangsungnya pertandingan Piala Eropa 2012. Perhatikan ejaannya:
* Warsawa
* Gdansk
* Poznan
* Wroclaw
* Lviv
* Kiev
* Kharkiv atau Kharkov
* Donetsk

Yang istimewa dari nama-nama itu tentu penulisannya yang rada sulit buat kita orang Indonesia. Yang paling mudah mungkin menulis Poznan dan Kiev. Tapi coba tilik Gdansk. Banyak orang salah menulis sebagai Gdanks atau Gdank. Orang Indonesia entah kenapa lebih suka mengeja nama Kharkiv, meski Barat lebih suka mengeja sebagai Kharkov.

Di Ukraina ada sebuah kota bernama Chernobyl, yang pada tahun 1986 jadi heboh sekaligus mengerikan karena di sana terjadi bencana ledakan reaktor nuklir akibat kebocoran. Sementara tim nasional sepak bola Polandia punya kiper yang barangkali namanya sangat sulit buat penulis Indonesia, karena itu disarankan untuk hati-hati mengejanya huruf demi huruf, yaitu: Wojciech Szczesny. Ejaan nama itu jauh lebih sulit bila dibandingkan misalnya dengan Friedrich Nietzsche yang sudah kerap ditulis salah dengan berbagai variasi, atau Bastian Schweinsteiger, gelandang serang Jerman.

Selamat bekerja sekaligus begadang demi nonton pertandingan sepak bola.[]


Anwar Holid, penulis buku Keep Your Hand Moving (GPU, 2010). Bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis.

Friday, June 08, 2012


Kisah Mengagumkan Seorang Penderita Autistik
--Anwar Holid

Dunia di Balik Kaca: Kisah Nyata Seorang Gadis Autistik
Judul asli: Nobody Nowhere: The Remarkable Autobigraphy of an Autistic Girl
Penulis: Donna Williams
Penerjemah: Lala Herawati Dharma
Penerbit: Qanita, November 2003
Format: 11,5 x 17 cm
Tebal: 478 halaman


ENDORSEMENT DANIEL GOLEMAN terhadap autobiografi perempuan autistik ini dengan jelas mampu menerangkan betapa buku ini memang layak dibaca dan disimak oleh siapa pun, tak terbatas bagi orangtua yang anaknya menderita atau keluarga yang salah satu anggotanya mengidap penyakit tersebut. Puji Goleman, "Ms. Williams berhasil membuat peta dari sebuah dunia yang paling sulit dijamah; sebuah kesaksian mempesona tentang kecerdasan yang tak lekang oleh derita mental." Buku ini merupakan catatan yang sangat gamblang tentang autisme dari sudut pandang "orang dalam", yakni pengidapnya sendiri. Autisme adalah salah satu kelainan pada anak-anak yang akhir-akhir ini sangat sering mendapat perhatian orangtua dan media massa, justru karena informasi dan terapi penanganannya masih sangat sedikit, sedangkan fenomenanya terus berkembang. Menurut keterangan, autisme bisa terjadi pada 2 hingga 5 dari setiap 10.000 anak, biasanya muncul sebelum usia tiga tahun.

Tanpa endorsement seperti itu tampaknya masih sulit meyakinkan orang bahwa ada pengidap autistik mampu menulis sebuah buku, mencoba menuturkan dunia mentalnya yang berbeda, tertutup, sangat jarang terjelajahi oleh instrumen penyelidikan apa pun. Di buku ini Donna Williams bukan hanya menuturkan kehidupannya sebagai gadis autistik, melainkan berusaha keras mencoba kembali menelusuri perasaan-perasaan, sisi dalam jiwanya, termasuk masuk mencari "jawaban" apa yang sebenarnya dia rasakan sebagai pengidap autistik. Bila tidak menulis buku ini barangkali dia sekadar pengidap autistik yang sama. Seorang pengidap autistik mampu menulis saja sudah merupakan semacam keajaiban yang jarang terjadi, apalagi mampu mengungkapkan kehidupannya dengan cukup baik, nalar, bukan semata-mata demi menimbulkan belas kasihan.

Pengalaman hidup Donna Williams yang tumbuh di Australia ini memang cukup mencengangkan dan mengharukan. Sebagaimana lazim terjadi pada keluarga pada pertengahan tahun 1960-an, tanpa pernah disadari sejak awal oleh orangtuanya, Donna Williams mengidap autisme. Perilaku aneh, hanya bisa hidup sendiri, mudah terganggu, obsesif, ekolalik, spastik, dan sejumlah kekhasan lain tidak membuat orangtuanya curiga sebagai gejala autistik. Mereka tetap menyekolahkan Williams ke sekolah umum, kendati setiap kali mengalami kesulitan, masalah, atau ketidaknyamanan hanya terus-menerus memojokkan kelemahan Donna. Kondisi ini diperparah oleh keadaan keluarga yang aniaya, abai, tak ramah, dan berpenghasilan rendah.

WAJAR BAHWA autisme merupakan kelainan yang masih sukar disadari keberadaannya, sebab baru pertama kali diterangkan oleh psikiatris Amerika Lee Kanner pada 1943. Kelainan ini sangat sering dinisbatkan sebagai keterbelakangan mental, begitu pula yang terjadi pada Donna. Karena gagal, dia kerap dipindah-pindah sekolah, sering diejek, tak punya teman, juga sangat penyendiri. Perlakuan itu membuat Donna makin tenggelam hidup dalam dunia sendiri, sering berkawan dengan karakter imajiner yang muncul dari angan-angan atau sosok pribadi kawannya. Seolah-olah mereka adalah kawan baik teman berbagi segala hal. Bagi gadis penyendiri yang memiliki pengalaman mental sendiri, tak mudah baginya membedakan yang mana karakter imajiner dan real. Dia hidup terasing dalam dunia imajiner sebagai Willie dan Carol, atau kadang-kadang muncul sebagai diri-lain, Donna. Padahal penuturan dalam buku itu disampaikan oleh orang pertama, aku (yakni Donna Williams sejati).

Split personality menjadi empat pribadi berbeda karakter inilah yang sebenarnya menyusahkan pembaca menentukan antara pengalaman dunia real dan imajiner semata-mata. Memang, melalui sejumlah upaya keras terapi, pencarian kesadaran, perkembangan intelek, Donna sendiri akhirnya mampu "menemukan" diri sebagai pribadi utuh lewat karakter-karakter itu; setidaknya mampu membedakan dengan baik. Hingga lebih dari halaman ke-100, di antara penuturan yang terasa membingungkan, kabur, struktur bahasa agak kacau, bahkan kehilangan konsep waktu, Donna sangat kesulitan mencari benang merah atau fokus topik tulisan. Bahkan dia juga kesulitan “menentukan” sejenis apakah kelainan yang diidapnya itu, apakah autisme, skizofrenia, kegilaan, atau spastik. Baru pada pertengahan buku, seiring dengan perkembangan emosi dan intelektualnya, penuturannya mulai lancar, bahkan di bagian akhir tampak Donna memang mampu mengungkapkan alam penderita autistik itu dengan baik sebagaimana pujian Goleman, termasuk memetakan autisme di antara sejumlah kelainan sejenis. Apalagi dia berusaha menerangkan secara khusus sejumlah "bahasa komunikasi" bagi orang autistik; setidaknya bagi dirinya sendiri, yakni di bagian “Catatanku” dan “Epilog.”

Sebagian penderita autistik memiliki kelebihan, Donna Williams adalah salah satunya. Kelebihannya ialah bahwa dia berbakat seni, berminat pada bahasa dan sastra, termasuk menikmati dan menciptakan puisi & seni rupa. Dia mampu mengapresiasi puisi T.S. Eliot dan lukisan Vincent van Gogh. Jika Raymond Babbitt dalam Rain Man mampu menghapal dengan tepat barisan panjang angka matematika, Donna Williams mampu menulis dengan baik alam batinnya yang mirip mimpi. Kemampuan itu dia gunakan seoptimal mungkin untuk memahami "keanehan" yang terjadi dalam jiwanya sendiri, untuk kemudian mencoba mengerti betapa dunianya begitu berbeda dari orang-orang dan lingkungan sekitarnya; dia hanya berharap semata-mata agar orang memperlakukannya sewajarnya. Tulisnya, "Ini merupakan upayaku untuk secara otomatis mengembangkan identitas diri yang lebih stabil, lebih layak ditampilkan, dan lebih diterima masyarakat, di bawah bimbingan seorang manusia yang sama-sama sangat kuhargai; psikiaterku," (hal. 174).

Harapan sederhana ini pun sebenarnya sangat sukar dicapai karena orang autistik memang memiliki gangguan yang menghalangi perkembangan kemampuan seseorang untuk berkomunikasi, berinteraksi dengan orang lain, termasuk memelihara hubungan secara normal dengan dunia luar. Secara alamiah saja dunia mereka berbeda, termasuk cara berkomunikasi, memandang dunia, termasuk kebiasaan atau mengungkapkan perasaan. Perbedaan itu membuat ibunya sendiri menolak dia sejak awal melihat perilakunya yang berbeda dari balita pada umumnya.

TULISAN DONNA sejak awal membuktikan kegagalan menerima dan memperlakukan perbedaan itulah yang membuat hidupnya tambah sukar, terasing. Dia menyatakan, "Ketika aku menulis buku ini, aku percaya bahwa aku dilahirkan dengan keterasingan, dan kalaupun tidak, aku pasti sudah hidup dalam keterasingan ketika perkembangan emosionalku mulai terganggu, yaitu ketika aku berusia tiga tahun," (hal. 447). Padahal dari penuturannya, pembaca bisa merasakan upaya afeksinya kepada orang lain cukup besar.

Seperti dalam banyak memoar biografi maupun autobiografi yang jujur, gamblang, tanpa ingin berpura-pura, atau mendapat belas kasih semata-mata, kisah Donna Willams ini menghadirkan kenyataan yang manusiawi, bahwa tragedi itu ada, bisa terjadi kapan pun, menimpa siapa pun; dan orang dipaksa untuk mampu menerima dan belajar banyak hal dari sejumlah kesukaran itu. Moral utama kisah hidup Donna Williams ini ialah kasih sayang seharusnya menjadi terapi terbaik yang bisa disediakan setiap saat oleh setiap orang, terutama oleh mereka yang "normal" bagi mereka yang "berbeda." Inilah yang gagal diberikan sejak dini terutama oleh ibu Donna sendiri atau orang-orang terdekat di sekelilingnya; padahal hanya kasih tulus yang mampu membuat seseorang terus hidup, bahagia, dan nyaman, bagaimanapun buruk keadaannya. Sekali lagi pembaca diajari biarpun kehidupan bisa berlangsung sangat sukar, menderita, "kelainan" itu bukan akhir segalanya. Jika memiliki setitik keyakinan, iktikad pada kebaikan, dan keinginan keras, orang akan dibimbing untuk mampu mewujudkannya. Donna Williams membuktikan hal tersebut. Meski autistik, dia mampu melakukan sejumlah hal sangat berarti, salah satunya adalah mendirikan Alternative Approaches to Autism Consultancy (AAAC), yang secara khusus didedikasikan bagi penderita autisme seperti dirinya.[]

Anwar Holid, penulis buku Keep Your Hand Moving (GPU, 2010). Bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis.

Thursday, June 07, 2012

Skizofrenia, Metafora Kondisi Masyarakat Kita
--Anwar Holid

Mereka Bilang Aku Gila: Memoar Seorang Penderita SkizofreniaJudul asal: The Day the Voices Stopped: Memoar of Madness and Hope
Penulis: Ken Steele dan Claire Berman
Penerjemah: Rahmani Astuti
Penerbit: Qanita Mizan, 2004
Tebal: 436 halaman
ISBN: 979-3269-16-2


YASRAF AMIR PILIANG---penulis prolifik dari Bandung---pernah bercerita bertemu seseorang yang tahu dirinya mengajar di Institut Teknologi Bandung. "Dulu saya juga pernah mau masuk ITB," kata orang itu kepadanya, "cuma gagal karena rambut." Katanya sambil menunjuk kepala, menyentuh rambut. Yasraf tersenyum. Bagaimana mungkin seseorang gagal masuk perguruan tinggi karena rambut? Atau Anda masih ingat John Nash dalam A Beautiful Mind yang dimainkan sangat menyentuh oleh Russel Crowe? Ketika berpesta kebun bersama rekan-rekannya, disebabkan oleh pantulan cahaya melalui gelas dan kaca pada dasi seorang temannya, dia berkata, "Mungkin ada penjelasan matematika kenapa dasimu jelek." Tentu saja temannya tersinggung.

Tapi demikianlah, seorang skizofrenia melihat hal berbeda dari orang normal, bahkan dalam banyak kasus melihat hal yang tak ada. Mereka mengalami sesuatu yang berbeda, baik mental maupun fisiologis, dan itu menyebakan kesulitan hidup dalam dunia umum. Mereka berpikir secara tak lazim, gerak-geriknya aneh, gagal berkomunikasi, hidup dalam dunia sendiri, yang parah disertai sejumlah simptom seperti delusi dan halusinasi---namun sama sekali tak sadar bahwa fungsi mentalnya terganggu. Dalam kasus Nash, dia merasa memiliki teman sekamar dan sepupunya, terus diikuti oleh agen Departemen Pertahanan. Mereka terus ada bahkan sampai ketika Nash pulih dari sakitnya, "Hanya aku memilih tak mengakuinya," begitu kata Nash untuk mengakhiri ajakan masuk ke dalam "dunia lain" itu.

Pengalaman Ken Steele dalam buku ini juga khas seorang penderita skizofrenia. Sejak remaja dia mendengar suara yang menitah menghabisi nyawanya karena dirinya dianggap tak berharga, terus-menerus menghina dan menyalahkan diri, kerap hidup dalam khayalan sendiri. Dia gagal berkomunikasi dengan keluarga dan lingkungan, akibatnya dia melarikan diri ke kota besar---namun langkah itu ternyata menuju pada malapetaka mengerikan, hidup di jalanan, dipaksa menjadi pelacur, tanpa rumah, pekerjaan, kawan. Puncaknya, tak tahan akan desakan suara-suara itu, dia akhirnya terjun dari sebuah gedung, untung nyawanya masih terselamatkan oleh polisi dan petugas kesehatan. Mujur negara seperti Amerika Serikat cukup mampu menjamin keselamatan dan kesehatan warganya, memberi layanan memadai kepada orang yang membutuhkan, Ken Steele diberi obat, diterapi perlahan-lahan, berkali-kali---bahkan ketika mencoba kabur sekalipun---sampai akhirnya sembuh meskipun harus terus mengonsumsi obat. Sisa hidupnya yang waras dia persembahkan untuk kembali menolong orang seperti dirinya, terutama kalangan lebih miskin, yang kadang-kadang jaminan sosialnya ditolak rumah sakit karena berbagai alasan, menerbitkan jurnal dunia skizofrenia dan penderitanya, menjadi relawan kegiatan kemanusiaan, aktif mengupayakan agar undang-undang bagi penderita skizofrenia bisa diterima menjadi hukum wilayah, dan berkampanye agar mereka lebih diperhatikan dewan perwakilan. Di balik deritanya, Ken Steel terus berusaha menjadi orang produktif, membantu dan melayani orang lain. Penuturan Steele yang ditulis Claire Berman dalam Mereka Bilang Aku Gila ini cukup memberi gambaran utuh bagaimana adanya penderita skizofrenia.

ORANG KEBANYAKAN memang lazim menyebut skizofrenia sama dengan gila---dalam beberapa hal memang mirip. Namun detailnya berbeda. Di zaman dahulu istilah yang mendekati skizofrenia adalah psikosis. Definisi skizofrenia paling tepat dijelaskan dalam psikoanalisis. Salah satunya adalah menurut Jacques Lacan---seorang ahli psikoanalisis paling terkemuka di akhir abad ke-20---sebagaimana ditulis Yasraf dalam Hipersemiotika: "putusnya rantai pertandaan, yaitu rangkaian sintagmatis penanda yang bertautan dan membentuk satu ungkapan atau makna." Menurut Lacan, skizofrenia menganggap kata sama seperti benda sebagai referensi, dengan pengertian, sebuah kata tidak lagi merepresentasikan sesuatu sebagai referensi, melainkan referensi itu sendiri menjadi kata. Itu sebabnya kenapa bagi seorang penderita skizofrenia, rambut tak berbeda dengan otak atau kepintaran, pasar dengan pasir. Mereka tak bisa membedakan mana yang nalar dan tak masuk akal, juga tidak memiliki konsep waktu. Lebih dari kebanyakan sakit mental lain, skizofrenia memiliki efek melemahkan hidup penderitanya. Sangat umum penderita skizofrenia memiliki kesulitan membedakan pengalaman nyata dan tak nyata. Dalam kondisi normal pun orang fiktif dalam hidup John Nash itu tak lenyap juga, mereka berbaur dengan orang nyata dalam pandangannya. Maka satu-satunya cara adalah dengan bertanya kepada orang lain, "Apa kamu lihat orang di samping saya ini?" Lebih buruk karena orang fiktif ini lebih sering mengintimidasi atau mengancam penderita skizofrenia daripada menjadi pelindung atau menyenangkannya. Hingga saat ini belum ada obat antipsikotik untuk mengatasi skizofrenia sampai sembuh total, namun sejumlah obat bisa menenangkan penderita, meski kadang-kadang dampak sampingnya besar sekali. Tanpa pengobatan, fantasi itu bisa kembali mengambil alih.

Entah karena ditulis oleh Claire Berman yang normal, atau Ken Steele memiliki kemampuan jurnalisme yang bagus dan dituturkan setelah dia normal, memoar ini tidak sesukar yang akan disangka calon pembaca. Penuturan Steele terstruktur baik dan cara menulis Berman pun lancar. Sangat berbeda dengan Dunia di Balik Kaca (Donna Williams)---meski sama-sama hidup dalam dunia sendiri---yang hingga halaman 100 lebih masih kabur dan sukar dipahami, buku ini terasa normal saja. Berman memilih menyusun buku ini ketika Steele mulai disika suara-suara asing, menyisipkan pengalaman, penderitaan dan kegetiran hidup, upaya penyembuhan, diakhiri setelah normal dia berkampanye untuk sesamanya. Suara-suara asing itu setiap saat menjadi ancaman hidup, unsur menakutkan, berusaha menghancurkan mental Steele setiap kali melakukan hal buruk, salah tempat, atau gagal mengikuti kemauan suara asing tersebut.

Buku ini mungkin bukan yang sangat memikat menceritakan derita skizofrenia; biografi John Nash dalam A Beautiful Mind karya Sylvia Nasar jauh lebih mengharukan, luar biasa, mampu menguras emosi. Tapi untuk khalayak pembaca kita, buku Ken Steele ini boleh mendampingi film itu, karena buku karya Nasar tidak tersedia di toko buku kita. Skizofrenia masih cukup asing, kerap disalahpahami, dan sukar disadari oleh orang di sekeliling penderita, seperti orangtua, keluarga, tetangga, dan kawan sebaya. Orang lain yang menyaksikan seseorang tiba-tiba tertawa, mendebat hebat sendirian, ketakutan berlebihan atau berkelakuan membahayakan mungkin hanya bisa menertawakan atau menganggap dia tak waras---padahal pengalaman itu real bagi dirinya.

MENARIK BAHWA Qanita menerbitkan sejumlah memoar, biografi, dan autobiografi yang dekat realitasnya dengan kehidupan masa kini, memberi referensi pengalaman yang benar-benar autentik dari sudut pandang "orang dalam." Setelah menerbitkan anak tanpa kasih sayang, penderita autisme, tragedi pendakian Everest, kini penderita skizofrenia, barangkali di masa mendatang Qanita bisa menerbitkan buku tentang penderita ODHA (orang dengan HIV aktif), indigo, seorang psycho, atau pengidap kanker. Sebagian besar pembaca memoar berharap pada kejujuran penutur, kedekatan emosi, kedalaman perasaan, atau membayangkan andai peristiwa itu juga dia alami---karena kemungkinannya itu bisa terjadi di antara orang kebanyakan.Alasan itu cukup membuat memoar mudah diserap pasar. Mereka Bilang Aku Gila adalah produk lanjutan sejenis buku lain: tragedi atau penyakit yang dialami manusia modern, dan moralnya adalah usaha manusia untuk tak kenal lelah mengatasinya, berserah diri pada takdir, tabah menerima cobaan---seberat apa pun, dan karena ditulis “orang dalam” dijamin bisa menyentuh rasa kasih setiap orang.

Penyakit dan tagedi manusia modern sangat beragam, berbeda bentuknya dibandingkan malapetakan masa lalu. Kini tak ada lagi orang meninggal karena tuberkolosis (TBC) atau lepra, namun penderita sakit modern seperti AIDS dan skizofrenia bertambah banyak dan tipenya macam-macam. Maka benar kata Susan Sontag---filosof budaya Amerika---bahwa sakit merupakan metafora sebuah zaman. Metafora sakit masa kini di antaranya AIDS, kanker, juga skizofrenia. Kata Sontag, "Sakit adalah sisi gelap hidup, kewarganegaraan yang lebih sukar. Semua orang yang lahir memegang dua kewarganegaraan: kerajaan sehat dan kerajaan sakit. Meski kita semua lebih suka hanya menggunakan paspor yang sehat, cepat atau lambat kita wajib memperkenalkan diri sebagai warga negara kerajaan lain itu, setidaknya karena terserang. Sakit sudah selalu digunakan sebagai metafora untuk menekankan tuduhan bahwa sebuah masyarakat korup atau zalim. Metafora penyakit tradisional terutama adalah cara menjadi berapi-api, sebaliknya metafora modern relatif lebih menunjuk ketidakpuasan."

Bagi pembaca awam buku seperti ini bisa memberi pengaruh emosi, kasih sayang; namun bagi pembaca lanjut---seperti Yasraf Amir Piliang tadi---skizofrenia dapat digunakan menjelaskan fenomena lebih luas, di antaranya fenomena bahasa (Jacques Lacan), fenomena sosial ekonomi, sosial politik (Gilles Deleuze dan Felix Guattari), dan fenomena estetika (Fredric Jameson). Dalam kasus Steele misalnya, dia cukup beruntung karena ada negara yang bisa membantu menyelamat kehidupannya; sementara berjuta-juta penderita yang sama terlantar, diabaikan, disingkirkan masyarakat dan negara, dianggap itu penyakit yang tak bisa diapa-apakan. Bila ditarik ke sistem institusi sosial kita, akan terasa betapa buruk layanan kesehatannya, sangat egois karena tak mau peduli, bukan merupakan prioritas perjuangan banyak kalangan. Maka kerja keras Steele memulihkan kesehatan mental, mengusahakan agar penderita skizofrenia memperoleh hak sewajarnya bisa dijadikan bukti bahwa penyakit itu kini merupakan sesuatu yang tak bisa dipisahkan dari semua orang, merupakan ciri masyarakat kontemporer.[]

Anwar Holid, penulis buku Keep Your Hand Moving (GPU, 2010). Bekerja sebagai editor, penulis, dan publisis.