Wednesday, June 19, 2013


Italo Calvino 
--Anwar Holid


Bisa dibilang, Kineruku adalah satu-satunya perpustakaan di Bandung yang memiliki koleksi buku Italo Calvino sangat lengkap. Silakan Anda tumbangkan sendiri klaim ini. Kineruku bahkan mengoleksi sejumlah karya nonfiksi Italo Calvino, terutama terkait esai-esai sastra, pembacaan (reading), juga industri penerbitan.

Italo Calvino merupakan salah satu sastrawan paling penting dunia abad XX dari Italia. Meski beliau tidak (sempat) menerima Hadiah Nobel, reputasinya sebagai penulis yang cerdas (witty), suka bereksperimen dengan sangat imajinatif, fantastik, sureal, saintifik, dan metafisikal, sekaligus realis diakui semua kalangan peminat dan kritikus sastra. Kemampuannya memainkan sudut pandang, mencampur realitas dan imajinasi sungguh mencengangkan, juga keunikannya menggunakan struktur yang inovatif. Pencapaian itulah yang membuat semua pembaca sastra sepakat mengakui Italo Calvino sebagai penulis magic realism (realisme magis) yang sangat menarik, membuat karyanya menjadi rujukan wajib dalam sastra postmodern masa kini.

Ambil contoh buku cerpennya Difficult Loves (Gli Amori Difficuli). Meski terasa sekali peristiwanya nyata (realis)---yaitu tentang orang-orang yang jatuh cinta---tetapi penuturannya fantastik, melalui permainan pikiran yang begitu imajinatif, menggemaskan, dan prasangka yang kerap berakhir mengejutkan. Akan terasa betapa pikiran manusia itu rumit, sekaligus emosional, individualistik, hidup dalam dunia dan anggapan sendiri.

Karya fiksi Calvino lain bisa sangat lain. Tiga yang dianggap sangat istimewa dan direkomendasikan ialah If on a Winter's Night a Traveler, The Baron in The Trees, dan Invisible Cities. Novel pertama bukan sekadar novel inovatif tentang rasa penasaran dan ketergodaan seorang pembaca kenapa buku yang dia beli cacat, tapi juga merupakan usaha menyatukan pazel suatu teka-teki dengan struktur cerita berlapis dan bisa ditafsirkan macam-macam. Novel kedua bercerita tentang seorang bangsawan yang karena kejadian tertentu memilih menolak menginjakkan kaki lagi ke tanah dan hidup di atas pohon. Sementara novel ketiga tentang kota-kota sureal lengkap dengan ciri khas, konsep, dan arsitekturnya di sebuah wilayah kekuasaan kaisar Kubilai Khan yang dilalui Marco Polo. Apakah kota-kota itu sungguh ada menjadi pertanyaan seru yang patut dijawab oleh mereka yang senang dengan benturan antara realitas dan imajinasi.

Bagaimana Italo Calvino bisa seimajinatif dan "seserius" bermain-main itu? Semasa Perang Dunia II Calvino bergabung dengan gerakan perlawanan Italia, setelah perang dan lulus kuliah di jurusan sastra dia jadi editor majalah berhaluan kiri. Pada akhir tahun 1960-an ia menjadi anggota Oulipo, sebuah kolektif sastra di Prancis beranggotakan sejumlah penulis, ilmuwan, dan dari latar belakang lain yang berniat mencari bentuk struktur dan pola baru penulisan. Pengalamannya yang kaya dan penjelajahannya yang ajaib membuatnya mampu menghasilkan karya-karya ganjil namun masuk akalnya tetap terjaga.

Nah, sekarang silakan pinjam atau baca karya-karya Italo Calvino setiap kali Anda, pembaca, datang ke Kineruku.

Bibliografi Italo Calvino di Kineruku:  
  * The Path to the Nest of Spiders
  * The Cloven Viscount
  * The Baron in the Trees
  * The Nonexistent Knight
  * The Castle of Crossed Destinies
  * Invisible Cities
  * If on a winter's night a traveler
  * Mr. Palomar
  * The Crow Comes Last
  * Marcovaldo
  * Cosmicomics
  * t zero
  * Difficult Loves
  * Under the Jaguar Sun
  * Italian Folktales
  * Un re in ascolto
  * Six Memos for the Next Millennium
  * Our Ancestors
  * The Complete Cosmicomics 


Gambar dicopy dari Internet.

Monday, June 17, 2013

 
Simbol Renik Kehidupan Manusia
--Anwar Holid

Bersujud Aku dalam Detail Cipta-Mu
Buku fotografi makro karya Teguh Santosa
Penerbit: Jentera Intermedia, 2013
Halaman: 152 halaman
Format:20 X 24 cm
ISBN: 978-602-17829-0-3
Harga: Rp.187.000,-


Sejak ada di rumah, buku ini jadi rebutan dua anakku, bahkan sampai didekap dibawa-bawa ke kasur segala. Shanti (5 th.) sejak awal takjub atas foto-foto serangga berukuran kecil yang terlihat jadi berukuran raksasa dengan detil warna-warni mencengangkan, sementara Ilalang (13 th.) heran bagaimana foto itu diambil, bahkan kurang percaya betapa gambar itu adalah foto asli, bukan hasil olahan komputer. "Kok bisa kayak gitu sih fotonya?" tanya mereka penasaran.

Buku fotografi ini memuat berbagai drama dunia renik dan rendah yang ditangkap kamera Teguh Santosa, terutama berkisar dari embun, serangga, bunga, dan rumput. Di buku ini embun bisa menjadi butir cermin cembung yang memerangkap segala sesuatu yang ada di sekitarnya, mulai dari kilau cahaya, warna, bunga, bahkan danau, candi, rumah, jembatan, dan candi. Embun juga bisa tampak seperti gugusan alam semesta (planetarium), mencerminkan kosmos beserta keteraturan sekaligus kekacauannya yang indah.

Memanfaatkan teknik fotografi makro (macro photography), Teguh Santosa secara cemerlang menghadirkan mimpi atas dunia yang selama ini sulit disaksikan langsung oleh kebanyakan manusia. Ia seperti reporter penuh dedikasi yang mewartakan kejadian lengkap di wilayah tak terjamah, meski sebenarnya drama itu bisa terjadi sangat di dekat kita, baik halaman, kebun, pekarangan tak terurus, genangan air, atau di balik rerumputan dan pepohonan. Drama itu bisa mencengangkan, mencemaskan, menakjubkan, menakutkan, menyilaukan, tapi bisa juga humoris, bikin senyum, penuh harapan. Kita bisa melihat kerja sama, persaingan, pertarungan, perlawanan, pembunuhan, juga interaksi perkawanan makhluk hidup beda jenis.

Bagi para pecinta dan peminat fotografi, karya di buku ini sudah tampak juara, merupakan awal pencapaian yang bagus sekaligus mencengangkan, tapi belum dan bukan segala-galanya. Sebagaimana diamini semua komentator awal buku ini, foto yang secara teknis bagus dan hasilnya sempurna belum berarti apa-apa jika ia tanpa makna, tanpa nilai, tidak membawa dan menawarkan pesan apa-apa. Teguh Santosa berusaha melampaui harapan dan tantangan awal itu dengan menghadirkan berbagai alegori bagi manusia dalam fotonya, misalnya soal poligami, kekuasaan, harmoni, kerja keras, kebanggaan dan prestasi, juga spiritualitas, renungan, dan kedalaman hati.

Dari segi eksplorasi, Teguh tampak belum menjelajah seluruh kemungkinan fotografi makro, misalnya memotret uap yang muncul dari tumbuhan dan serangga atau menangkap objek jatuh dan terbang. Tapi itu bukan kekurangan. Barangkali karya di buku ini masih merupakan "proyek pribadi" yang mengawalinya mencintai fotografi. Di buku ini beliau fokus dulu pada objek rendah yang membuatnya harus merunduk dalam arti sesungguhnya ketika memotret.

Lipatan jilid mengurangi kenyamanan menikmati foto.

Di luar hal teknis, lipatan jilid buku ternyata bisa membuat sejumlah foto berukuran besar jadi kurang enak dilihat. Idealnya foto tampil sempurna per lembar, tidak terhalang oleh apa pun, kecuali ia sengaja disajikan per panel. Ini hanya kekurangan kecil buku ini, selain soal editing tulisan yang kurang cermat. Di luar itu, buku ini sempurna baik untuk dibuka dinikmati lagi dan lagi atau dijadikan koleksi keluarga.[]

Anwar Holid, fotografer amatir.

Link terkait:
http://www.facebook.com/teguhsn4

Sunday, June 09, 2013

Batik: Kekayaan Lokal Bernilai Global
--Anwar Holid

Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) meluncurkan buku Batik Jawa Barat Jilid 3 di Grand Hotel Panghegar Bandung pada Jumat, 7 Juni 2013. Buku tersebut merupakan karya bersama S. Ken Atik, Komarudin Kudiya, Herman Jusuf, Djalu Djatmiko, dan Zaini Rais, memuat perluasan sekaligus melengkapi berbagai inovasi dan motif batik di provinsi Jawa Barat yang telah diterbitkan pada dua jilid sebelumnya. Penerbitan didukung oleh Indonesia Power, Kementerian Perdagangan dan Industri Kreatif, juga Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah. 

Ketua Umum YBJB Sendy Yusuf menyatakan batik merupakan kekayaan lokal Indonesia bernilai global. Selain tetap dipelihara, kita bangsa Indonesia harus berusaha mengembangkannya agar dapat diwariskan dan diteruskan kepada generasi selanjutnya. Salah satu yang dilakukan YBJB ialah dengan membangun sentra batik baru di berbagai daerah Jawa Barat, melakukan inovasi motif, dan usaha mengenalkannya ke pasar dan publik lewat penerbitan buku.
Tim penulis Batik Jawa Barat Jilid 3 bersama Ketua Umum YBJB Sendy Yusuf (ke-5 dari kiri).

Dicetak full color di atas kertas art paper, buku Batik Jawa Barat Jilid 3 berformat sederhana. Isi utamanya ialah motif batik dari 23 kabupaten dan kota se-Jawa Barat. Dari sana kita bisa merasakan ada geliat industri batik, terutama yang "dikawal" dan "dibidani" YBJB di daerah-daerah baru pembatikan seperti Bekasi, Bogor, Majalengka, Sukabumi, Cimahi, dan kabupaten Bandung Barat. Beberapa kali secara khusus dua kementerian mengapresiasi kinerja YBJB terutama Komarudin Kudiya, pendiri Batik Komar. Dia disebut tidak pernah bosan memberi ide-ide segar untuk perbaikan mutu batik Indonesia, khususnya Jawa Barat, yang bukan hanya membuat (memproduksi) dan menjual, melainkan juga mendedikasikan hidup dan membagi ilmu demi batik.

Motif batik Jawa Barat sungguh kaya dan indah. Inspirasinya baik berdasar pada motif tradisional, legenda masyarakat setempat, seni-budaya dan kekhasan lokal, hingga yang abstrak, ekspresionisme, dan mengangkat tema-tema urban. Batik Bekasi mengangkat legenda Si Pitung, Kabupaten Bandung Barat mengangkat kekhasan daerahnya seperti Lembang, kembang herbras, stroberi, legenda Tangkuban Parahu, dan landmark Observatorium Boscha. Hanya sayang motif tersebut tidak diperkaya informasi apa pun, baik soal penciptanya maupun ada apa di balik gambar-gambar itu. Barangkali melalui motif itu YBJB bermaksud sekadar memanjakan mata dan menyerahkan penafsiran sepenuhnya kepada pembaca sebagaimana kata pepatah "gambar itu bernilai ribuan kata." Kekurangan lain, ada sejumlah foto motif batik tampak kabur (tidak tajam) dan hasilnya kurang memuaskan, sehingga karakter visual, daya tarik dan simbolnya tidak terungkap dengan baik.
Dede Yusuf memamerkan motif batik rereng DY karya Komarudin Kudiya (kiri).

Peluncuran buku ditandai juga dengan pemberian batik motif rereng Wakil Gubernur Dede Yusuf (DY) karya Ketua Harian YBJB Komarudin Kudiya, dimeriahkan main angklung bersama seluruh hadirin dan pameran busana.[]

Anwar Holid, seminggu sekali berusaha pakai batik.

Link terkait:
http://balareabatikjabar.org

Wednesday, June 05, 2013

J. M. Coetzee

--Anwar Holid

Ada dua spekulasi soal kepanjangan M dalam nama tengah Coetzee. Yang pertama ialah Michael, kedua Maxwell. Tampaknya pilihan kedua lebih diyakini kebenarannya oleh banyak pihak, meski sulit dapat konfirmasi langsung dari penulisnya, sebab dia sangat tertutup. Coetzee terkenal suka sengaja menghindari publisitas dan dingin terhadap pers. Dia tak hadir dalam dua kali acara resepsi penyerahan Booker Prize untuk dirinya, malah diwakilkan kepada editornya. Maka ketika tahun 2003 dia diumumkan mendapat Hadiah Nobel untuk Sastra panitia sudah sejak jauh hari memastikan bahwa beliau akan hadir di acara penganugerahan sekaligus membacakan pidato penerimaan.

Coetzee merupakan penulis dengan prestasi luar biasa. Yang paling fenomenal dia adalah penulis pertama yang memenangi Booker Prize dua kali dan menerima Hadiah Nobel untuk Sastra. Coetzee tiga kali mendapat Central News Agency (CNA), anugerah sastra paling terkemuka di Afrika Selatan pada 1978, 1980, 1983. Di luar itu dia memenangi penghargaan sastra prestisius lain seperti Lannan Award for Fiction, Jerusalem Prize, dan The Irish Times International Fiction Prize.

Cukup sayang betapa reputasi Coetzee di Indonesia tampaknya kalah pamor dibandingkan penulis Afrika lain, katakanlah dengan Nadine Gordimer, penulis Afrika Selatan pertama yang memenangi Hadiah Nobel untuk Sastra. Salah satu sebab paling mencolok barangkali ialah karena Coetzee dianggap tidak pernah secara terang-terangan mengecam atau bereaksi frontal terhadap politik Apartheid. Padahal kalau ditilik, sebenarnya pesan politik dalam tulisan Coetzee juga memiliki banyak nuansa, diisi sejumlah lapis cerita, meski metaforanya cukup berat untuk langsung dipahami dalam sekali baca. Indonesia pertama kali mengenal karya Coetzee lewat terjemahan Jeritan Hati Nurani (Waiting for the Barbarians), salah satu karya awal dia yang paling direkomendasikan, bahkan kini telah masuk kategori "klasik modern." Setelah itu muncul terjemahan Life and Times of Michael K dan Disgrace.

Life and Times of Michael K (1993) menceritakan Michael K, lelaki polos yang berniat mudik setelah kematian ibunya. Di negeri yang tengah dilanda perang saudara, tatanan sosial rusak, dan kepercayaan pada sesama manusia nyaris punah, kita akan mendapati betapa pandangan K justru menghadirkan sesuatu yang sangat jujur, berani, bahkan mengalahkan keberanian palsu dan sok kuasa seorang tentara desertir.

Disgrace (1999) bisa dikatakan sangat kaya nuansa bagi novel yang terbilang tipis. Novel ini menceritakan seorang dosen sastra kulit putih yang womanizer, tapi pada satu kejadian dia dituntut pengadilan melakukan perundungan seksual pada mahasiswanya sendiri yang berkulit hitam. Di Afrika Selatan, peristiwa ini jelas skandal, muncul ke permukaan publik, sampai membuatnya ditendang dari alma mater dan dipermalukan pers. Novel ini menawarkan kedalaman dan keluasan yang universal dan mendasar. Dari sisi teknik novel ini ditulis sederhana, jelas, plotnya pun cukup cepat; tapi pembaca masih bisa menarik banyak simpul dari setiap peristiwa dan narasi di dalamnya, juga sangat memuaskan dan mudah dicerap dalam sekali baca. Yang sulit dilupakan adalah David Lurie, antihero yang dihadirkan Coetzee nyaris tanpa belas kasih dan simpati. Lurie tampak begitu kasar, bisa membuat pembaca jijik, sampai mengganggu pikiran betapa jenis manusia seperti dia ternyata ada.

Selain novel, keunggulan Coetzee yang juga kerap disanjung ialah kemampuannya menulis novel berbasis memoar (autobiografi yang difiksikan), bahkan dia mengajukan istilah khusus untuk itu, yaitu "autrebiography." Di ranah ini Coetzee telah menulis tiga buku yaitu Boyhood (1997), Youth (2002), dan Summertime (2009) yang merupakan memoir masa kecil, muda, dan dewasa. Ketiga buku ini pada tahun 2011 lalu dia edit dan diterbitkan dalam satu volume berjudul Scenes from Provincial Life.

Selain membangun karir di dunia fiksi, Coetzee juga dikenal kuat sebagai kritikus sastra dan penerjemah karya penulis lain ke dalam bahasa Belanda, Jerman, Prancis, dan Afrikaans, bahasa mayoritas penduduk kulit putih di Afrika Selatan. Salah satu buku kritiknya yang dianggap penting ialah Giving Offense: Essays on Censorship (1996). Dia menjadi profesor sastra dan bahasa di alma maternya Universitas Cape Town, tapi pada tahun 2002 Coetzee pindah ke Australia, dan pada tahun 2006 menjadi warga negara di sana.[]

Ilustrasi didapat dari Internet.

Buku J. M. Coetzee tersedia di Kineruku, Bandung antara lain:
* Waiting for the Barbarians
* Life & Times of Michael K
* Disgrace
* The Master of Petersburg
* Youth
* Elizabeth Costello

Anwar Holid mengedit edisi Indonesia Life & Times of Michael K dan Disgrace.

Tuesday, June 04, 2013

Mencari Ide Segar tentang Menulis

Sharing menulis dengan Pengajar Muda
--Anwar Holid

Indonesia Mengajar sangat pandai menemukan siapa yang tergila di antara pemuda gila di Indonesia untuk dipilih sebagai Pengajar Muda.  
--Siti Nurul Adhimiyati, calon Pengajar Muda angkatan VI


Atas undangan Awe dan Shally aku melakukan sharing kepenulisan bareng calon Pengajar Muda Indonesia Mengajar angkatan VI. Sharing ini sebenarnya ironik karena persis saat itu aku belum bisa menyelesaikan order menulis sebagian sejarah Masjid Salman ITB. Tapi rasa penasaran pada gerakan Indonesia Mengajar membuatku lebih semangat dan mengalahkan rasa malu.

Aku menilai Indonesia Mengajar membuat profesi guru jadi hip. Kawanku cerita ada seorang temannya yang terpilih ikut program tersebut dan pengalaman setahun mengajar di sebuah SD terpencil di berbagai belahan bumi Indonesia itu "sangat sulit diceritakan dan dilupakan." Nah, mungkin soal "sulit diceritakan dan dilupakan" inilah sharing menulis jadi diperlukan sebagai salah satu pembekalan peserta. Biar pengalaman mengajar yang seru itu bisa kembali menggugah anak muda semakin banyak dan ujungnya membuat pendidikan di Indonesia merata, membuat cerah para generasi penerus. Menulis dan menceritakan bisa jadi rada pelik karena yang sepatutnya diceritakan adalah berproses dan berinteraksi dengan orang dan lingkungan setempat, tentang murid, sekolah, sistem pengajaran, bukan soal pengajar yang kesulitan atau terkesan ini-itu atau bahkan tebersit rasa sombong seolah-olah telah melakukan hal heroik. "It's not about me, it's about them," demikian slogan Indonesia Mengajar.

Publisitas Indonesia Mengajar juga sangat baik. Mereka berhasil menerbitkan empat buku dan pembaca antusias menyambut buku mereka. Terbaru, Bayu Adi Persada menulis Anak-Anak Angin dari pengalamannya mengajar di desa Bibinoi, Halmahera Selatan. Indonesia Mengajar juga melahirkan inisiatif "Kelas Inspirasi" yang kini muncul di berbagai kota.

Berkat seleksi ketat, sejak awal aku yakin kemampuan menulis para peserta pasti sudah baik. Benar saja. Waktu lihat corat-coret kerjaan mereka di ruang pelatihan, aku menemukan tulisan To Kill a Mocking Bird, The Name of The Rose, The Kite Runner, tanda mereka akrab dengan bacaan. Lebih kentara lagi ketika sharing. Ada peserta terbiasa melahap baik karya George Orwell, Roland Barthes, J. M. Coetzee, Robert T. Kiyosaki, dan tentu saja penulis Indonesia seperti Pramoedya Ananta Toer dan Goenawan Mohamad. Ada yang sudah mempublikasikan tulisan di media massa terbitan Jakarta maupun lokal, juga pernah bersentuhan dengan ilmu kepenulisan. Ini bukti dari keyakinanku betapa di workshop menulis biasanya ada orang yang sudah terbiasa menulis, bahkan jago, cuma enggan menunjukkan diri.

Alih-alih merasa jadi instruktur, aku lebih suka menyemangati mereka agar lebih mau membagi dan belajar ilmu kepenulisan antarpeserta dan memberi berbagai detil aspek penulisan, misalnya soal koherensi, konteks, apa yang menarik ditulis, ciri tulisan bagus dan jelek, ejaan dan tanda baca---yang biasa dialami penulis muda.

Latihan dan praktik menulis sebenarnya sama saja dari dulu. Belajar baik dari tulisan yang sudah ada dan dari para senior berpengalaman, kita akan tahu pada dasarnya menulis ialah upaya tiada henti memperbaiki kualitas tulisan sendiri. Tantangan kita ialah berusaha terus mencari dan menemukan ide-ide segar tentang menulis. Di luar sana ada banyak orang punya pengalaman menarik untuk ditulis, bahkan kadang-kadang mereka punya pendekatan lain dan khas soal menulis. Itu sebabnya penulis baru terus muncul tak peduli berapa umurnya dan mereka punya cerita sendiri bagaimana sampai bisa melahirkan tulisan.

Soal motivasi menulis misalnya. Penulis pasti mau dan berusaha bisa menyelesaikan tulisan bila menganggap bahwa menulis sangat penting, mendesak, ada maksud yang ingin diungkapkan atau dilampiaskan. Kenapa harus menulis? Agar maksud pikiran tersampaikan secara jernih, informasi terdokumentasi, pengalaman tergali, dan kita bisa belajar serta memperbaiki. Ada semacam knowledge management dari sesuatu yang kita tulis. Kita juga perlu bisa menulis dengan baik karena orang suka berbagi pengalaman dan cerita, apa lagi yang seru.




Manusia juga menulis karena kegiatan ini membedakannya dari binatang. Banyak bangsa melahirkan tulisan yang belum terpecahkan hingga sekarang, sementara tidak ada peninggalan risalah berupa tulisan dari binatang.
Apa yang sebaiknya ditulis? Semua hal yang dianggap penting oleh penulis berharga ditulis, meski bisa jadi buat orang lain terasa remeh. Hal paling dekat, menyentuh, dramatik, dan paling dikuasai penulis jelas patut ditulis, termasuk mimpi (visi), idealisme, juga tawaran pemikiran yang lain/beda. Banyak penulis semangat menuliskan pengalaman, pengamatan, dan pendalaman (refleksi) atas kehidupannya sendiri sampai membuatnya terkemuka. Dalam hal ini hasil kerja dan perjalanan sebagai Pengajar Muda jelas merupakan bekal berharga yang bisa dibagi bila mampu mengungkapkannya dengan baik.

Bagaimana biar menulis jadi kebutuhan? Penulis harus punya alasan kuat (motif) untuk menulis dan jujur dengan motif itu. Kalau ia ingin ingin dapat uang dari tulisannya, akui saja. Kalau ia mau mengungkapkan atau melampiaskan sesuatu, teguhlah pada pendirian itu. Sebagian orang ingin punya karir di dunia kepenulisan dan cuma ingin dikenal, meski menulis tidak membuatnya jadi hartawan.

Jika sudah kebelet, tidak ada cara lain: KEEP YOUR HAND MOVING! Langsung tulis. Terus biasakan menulis. Jangan kuatir soal aturan menulis! “Jika tidak cepat ditulis, rasa malas akan menyerang, dan kesan dari sebuah tempat akan cepat menguap,” begitu kata Yudasmoro, seorang travel writer. Biasakan menulis dan buat notes, baik sebagai jurnal pribadi atau memasangnya di blog dan sosial media. Sekarang ada banyak sekali media menulis. Yang perlu kita jaga adalah konsistensi, gairah (passion), dan kedalaman terhadap dunia menulis.


Inti tulisan ialah ada hal (subjek) yang disampaikan. Yang terpenting dalam tulisan adalah isi. Mau apa penulis dengan pesan yang mau disampaikannya? Pesan harus jelas, ungkapkan dengan jernih, biar sampai ke pembaca dengan terang. Sesimpel itu. Sisanya, baik soal teknik penulisan, cara bertutur, sudut pandang, kepaduan antar kalimat dan paragraf, ejaan, bisa dipelajari lebih lanjut dan disempurnakan lewat latihan dan disiplin. Penulis yang mau belajar akan tahu di mana letak kesalahannya dan pada gilirannya lama-lama ia bahkan punya idealisme (keyakinan) sendiri soal menulis.

Nanti waktu bingung mau meningkatkan mutu, orang akan berpikir: apa yang mau ditulis? Saat itulah ia harus rakus bacaan. “Menulis itu 95 % membaca dan 5 % skill,” demikian tegas Taufiq Rahman, jurnalis The Jakarta Post  dan co-founder jakartabeat.net. Penulis mesti banyak membaca agar ada input, dapat informasi lain, baru, beda, atau menjelajah pemikiran dan berbagai hal biar ada interaksi dengan pemikiran sendiri, bisa melahirkan ide baru. Alfathri Adlin, seorang editor, melontarkan adagium KEEP YOUR MIND THINKING untuk menekankan betapa isi kepala memang  sangat penting.

Penulis harus berani mengungkapkan pendapat yang menurut pemikirannya benar dan berlatih menyampaikan pendapat itu dengan baik. Bahkan ada kasus penulis harus berani mati dan mengorbankan segala-galanya demi mempertahankan karya. Jika menulis benar-benar penting buatmu, tentu cukup pantas kamu rela mengorbankan diri agar bisa maju terus bersamanya, begitu kata Jurgen Wolff.

Setiap penulis hebat punya disiplin. Dalam proses, penulis pasti menghadapi banyak kendala. Hanya penulis sendiri yang mampu mengatasinya, orang lain dan faktor luar hanya membantu menyelesaikan. Mike Price yakin: “Lebih banyak orang punya bakat daripada disiplin. Itu sebabnya disiplin dibayar lebih tinggi.”[]

Anwar Holid, kadang-kadang didaulat jadi guru penulisan.

Link terkait:
http://indonesiamengajar.org

Monday, June 03, 2013

20th Century Photography 
Museum Ludwig Cologne
--Anwar Holid

20th Century Photography Museum Ludwig Cologne 
Penulis: Reinhold Mi├čelbeck, et al.
Penerbit: Taschen, 2008
Halaman: 191 hal.
ISBN: 978-3-8365-0781-3

Buku penting berisi karya ikonik para fotografer paling berpengaruh abad ke-20.

Banyak pendapat menyatakan bahwa penemuan fotografi membebaskan seni lukis dari "kebutuhan" meniru kenyataan (realitas) yang bisa dilihat manusia. Fotografi memungkinkan orang mengambil atau mendapatkan gambar sesuai kenyataan secara cepat, akurat, dan seperti tampak mudah, seolah-olah semua orang bisa melakukannya dengan baik dan menarik. Pada perkembangannya sekarang, terlebih di era digital, fotografi tidak hanya mampu meniru atau "mengabadikan" kenyataan, melainkan juga bisa membuat kenyataan jadi tampak berbeda, memiliki konteks, maksud, kedalaman, sudut pandang, sesuai konsep penciptanya masing-masing.

20th Century Photography Museum Ludwig Cologne merupakan sejenis buku rujukan singkat dari para pionir fotografer terhebat dan paling berpengaruh di abad ke-20 beserta contoh karyanya yang sangat ikonik. Bahkan mungkin bisa dikatakan isinya mencakup semua fotografer penting abad ke-20 yang membentuk perkembangan dunia fotografi menjadi seperti yang kita kenal sekarang. Memuat karya enam puluh dua fotografer mulai dari Ansel Adams hingga Joel Peter Witkin, buku ini dengan sangat pas menghadirkan foto berbagai genre, mulai dari still life, potret, nude, pemandangan, kolase, fotojurnalisme/reportase, studio, fashion/glamour, konseptual, eksperimen, hingga abstrak. Dari sini kita bisa menyaksikan perkembangan fotografi yang merekam berbagai kondisi manusia sejak masa pra Perang Dunia I hingga masa keemasan Hollywood.

Entri para fotografer biasanya dimulai dengan informasi awal perjalanan karir mereka memasuki dunia fotografi, seperti apa pemikiran atau visinya, kenapa karya-karya mereka dianggap penting, ditambah berbagai pencapaian saat mereka yang dinilai memberi sumbangsih luar biasa penting bagi kebudayaan pada umumnya. Harus diingat, di awal masa modern, fotografi dianggap bukan merupakan karya seni, bahkan dinilai sesuatu yang murahan. Barangkali justru karena kemudahannya, fotografi sulit mendapat tempat agar bisa menjadi sesuatu yang istimewa dan bernilai seni tinggi. Berkat para pionir yang ada di buku inilah fotografi menjadi cabang seni yang setara, memiliki ilmu, disiplin, dan perkembangannya sendiri yang mandiri. Contoh Alfred Stieglitz, seorang pionir paling awal yang membawa fotografi jadi subjek penting, justru mengawali karirnya sebagai pelukis. Di masa kini, kita menyaksikan fotografi ternyata bisa berpadu dengan berbagai media atau saling melengkapi sehingga bisa menghasilkan karya-karya yang mencengangkan.

Yang menarik lagi di buku ini ialah mayoritas foto masih berupa hitam-putih (B/W), sepia, atau monokrom. Ini wajar, mengingat teknologi fotografi di masa awalnya belum bisa menangkap warna alamiah sebagaimana yang dilihat manusia. Foto B/W sebenarnya bukan merupakan pilihan fotografer, melainkan karena teknologi foto berwarna belum tercapai. Nah, justru ini makin membuktikan kehebatan fotografer zaman dulu, betapa mereka bisa menghasilkan foto yang benar-benar abadi meski kameranya barangkali biasa. Helmut Newton pernah menyatakan bahwa kamera yang dia gunakan adalah jenis biasa yang sering digunakan orang, perlengkapannya biasa, yang membedakan ialah apa yang ada di dalam kepala seorang fotografer.

Singkat kata, buku ini wajib dibaca atau minimal dibuka-buka semua orang yang tertarik fotografi, baik dirinya seorang fotografer wannabe, fotografer amatir, atau calon seniman fotografer. Dari buku ini minimal seseorang bisa menimba ilmu dan ide agar bisa menjepret foto yang memuaskan fotografernya sendiri, atau bisa juga buku ini dijadikan tolok ukur (benchmark) sudah sehebat apa karya kita.[]

Ilustrasi dari Internet.
Buku ini bisa dipinjam di Kineruku, Bandung.

Anwar Holid, mulai berani mencantumkan 'fotografi' sebagai tambahan hobinya.